See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/371175194 MANAJEMEN PROYEK : Teori & Penerapannya Book · May 2023 CITATIONS READS 10 23,753 11 authors, including: Ronald Belferik Tobing Andiyan Andiyan Pelita Harapan University Universitas Faletehan 4 PUBLICATIONS 16 CITATIONS 140 PUBLICATIONS 473 CITATIONS SEE PROFILE SEE PROFILE Ahmad Syamil Musran Munizu Bina Nusantara (Binus) University, Bandung and Jakarta, Indonesia Hasanuddin University 85 PUBLICATIONS 636 CITATIONS 87 PUBLICATIONS 780 CITATIONS SEE PROFILE All content following this page was uploaded by Ahmad Syamil on 01 June 2023. The user has requested enhancement of the downloaded file. SEE PROFILE MANAJEMEN PROYEK (Teori & Penerapannya) Penulis : Ronald Belferik, S.Kom., M.Kom Ar. Andiyan, ST., MT., IAI Isnaini Zulkarnain, S.T., M.T Prof. Dr. Musran Munizu, SE., M.Si., CIPM., CBOA., CSOPA Jerry Marthin Samosir, S.T., M.M Hery Afriyadi, S.E., S.Kom., M.SI Djudjun Rusmiatmoko, S.T., M.Ars Iwan Adhicandra, S.T., M.Sc Ir. Ahmad Syamil, MBA., PhD Dr. Mohammad Ichsan, Dipl.-Ing., MT Ir. Adi Prasetyo MEng(PM) PMP PRINCE2 IPMA Level-A Penerbit: MANAJEMEN PROYEK (Teori & Penerapannya) Penulis : Ronald Belferik, S.Kom., M.Kom Ar. Andiyan, ST., MT., IAI Isnaini Zulkarnain, S.T., M.T Prof. Dr. Musran Munizu, SE., M.Si., CIPM., CBOA., CSOPA Jerry Marthin Samosir, S.T., M.M Hery Afriyadi, S.E., S.Kom., M.SI Djudjun Rusmiatmoko, S.T., M.Ars Iwan Adhicandra, S.T., M.Sc Ir. Ahmad Syamil, MBA., PhD Dr. Mohammad Ichsan, Dipl.-Ing., MT Ir. Adi Prasetyo MEng(PM) PMP PRINCE2 IPMA Level-A ISBN : 978-623-09-3553-4 Editor: Efitra, S.Kom., M.Kom Sepriano, M.Kom Penyunting : Aisyah Fatihah Amani Desain sampul dan Tata Letak: Yayan Agusdi Penerbit : PT. Sonpedia Publishing Indonesia Redaksi : Jl. Kenali Jaya No 166 Kota Jambi 36129 Tel +6282177858344 Email: sonpediapublishing@gmail.com Website: www.sonpedia.com Anggota IKAPI : 006/JBI/2023 Cetakan Pertama, Mei 2023 Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara Apapun tanpa ijin dari penerbit KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan buku ini dengan baik. Buku ini berjudul “Manajemen Proyek : Teori & Penerapannya”. Tidak lupa kami ucapkan terima kasih bagi semua pihak yang telah membantu dalam penulisan dan penerbitan buku ini. Dalam dunia yang terus berubah dan berkembang ini, proyek menjadi elemen penting dalam mencapai tujuan organisasi. Sebagai manajer proyek, Anda memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa proyek-proyek tersebut berhasil mencapai hasil yang diinginkan. Buku "Manajemen Proyek: Teori & Penerapannya" adalah sebuah buku yang menyajikan pengetahuan dasar dan penerapan praktis dalam manajemen proyek. Buku ini dirancang untuk membantu pembaca memahami prinsip-prinsip fundamental yang terlibat dalam pengelolaan proyek, serta memberikan panduan praktis dalam menghadapi tantangan yang sering muncul dalam lingkungan proyek. Buku ini dimulai dengan memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai pengenalan konsep dasar manajemen proyek, Tahap Perencanaan dan Pelakasanaan Proyek, dan Tahap Pengawasan dan Pengendalian Proyek, serta membahas pentingnya Manajemen Stakeholder dalam Proyek, Manajemen Sumber Daya Manusia dalam Proyek, Manajemen Biaya Proyek, Manajemen Waktu Proyek, Manajemen Kualitas Proyek, Manajemen Risiko Proyek dan juga dilengkapi pembahasan terkait ISO 21502 (Project Management). MANAJEMEN PROYEK ii Buku ini cocok untuk para profesional proyek, mahasiswa, atau siapa pun yang ingin meningkatkan pemahaman dan keterampilan mereka dalam manajemen proyek. Dengan membaca buku ini, pembaca akan memiliki landasan yang kuat untuk merencanakan, melaksanakan, dan mengendalikan proyek dengan efektif, sehingga dapat meningkatkan peluang keberhasilan proyek yang mereka kelola. Terima kasih telah memilih buku ini sebagai sumber pengetahuan Anda. Selamat membaca dan semoga Anda mendapatkan manfaat yang maksimal dari isi buku "Manajemen Proyek: Teori & Penerapannya". Buku ini mungkin masih terdapat kekurangan dan kelemahan. Oleh karena itu, saran dan kritik para pemerhati sungguh penulis harapkan. Semoga buku ini memberikan manfaat dan menambah khasanah ilmu pengetahuan. Deli Serdang, Mei 2023 Tim Penulis MANAJEMEN PROYEK iii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ............................................................................ ii DAFTAR ISI........................................................................................ iv BAGIAN 1 PENGENALAN MANAJEMEN PROYEK .................................. 1 A. PENGANTAR MANAJEMEN ............................................................ 1 B. PROYEK .......................................................................................... 6 C. MANAJEMEN PROYEK.................................................................... 9 BAGIAN 2 TAHAP PERENCANAAN PROYEK ....................................... 14 A. PROJECT INITIATION PHASE (TAHAP INISIASI PROYEK) ............... 14 B. PROJECT PLANNING PHASE (TAHAPAN PERENCANAAN PROYEK) .............................................................................................. 17 C. PROJECT EXECUTION PHASE (TAHAP PELAKSANAAN PROYEK) ... 21 D. PROJECT MONITORING DAN CONTROL PHASE (TAHAP PEMANTAUAN DAN PENGENDALIAN PROYEK) ........................... 22 E. PROJECT CLOSURE PHASE (TAHAP PENUTUPAN PROYEK) .......... 23 BAGIAN 3 TAHAP PELAKSANAAN PROYEK ....................................... 24 A. PENGANTAR TAHAP PELAKSANAAN PROYEK .............................. 24 B. KHUSUS ........................................................................................ 26 BAGIAN 4 TAHAP PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN PROYEK ..... 37 A. PROSES MANAJEMEN PROYEK .................................................... 37 B. PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN PROYEK ............................ 38 C. OBJEK PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN PROYEK ................. 42 D. KARAKTERISTIK PENGENDALIAN PROYEK YANG EFEKTIF ............ 46 BAGIAN 5 MANAJEMEN STAKEHOLDER DALAM PROYEK ................. 48 A. PENGERTIAN STAKEHOLDER PROYEK .......................................... 48 MANAJEMEN PROYEK iv B. IDENTIFIKASI STAKEHOLDER PROYEK .......................................... 51 C. PERENCANAAN PENGELOLAAN STAKEHOLDER PROYEK ............. 54 D. PENGELOLAAN KETERLIBATAN STAKEHOLDER PROYEK .............. 56 E. PEMANTAUAN KETERLIBATAN STAKEHOLDER PROYEK .............. 57 BAGIAN 6 MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA DALAM PROYEK 60 A. PENGERTIAN MANAJEMEN ......................................................... 60 B. PENGERTIAN SUMBER DAYA MANUSIA ...................................... 63 C. PENGERTIAN MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA (MSDM) . 64 D. RUANG LINGKUP MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA (MSDM)........................................................................................ 65 E. UNSUR-UNSUR MANAJEMEN SDM ............................................. 66 F. DEFINISI MANAJEMEN SDM ........................................................ 67 G. TAHAPAN MANAJEMEN SDM ...................................................... 67 BAGIAN 7 MANAJEMEN BIAYA PROYEK........................................... 76 A. PENTINGNYA BIAYA PROYEK ....................................................... 76 C. SOLUSI KETERLAMBATAN PROYEK TERHADAP BIAYA ................. 87 BAGIAN 8 MANAJEMEN WAKTU PROYEK ........................................ 90 A. PENDAHULUAN............................................................................ 90 B. KONSEP DASAR MANAJEMEN WAKTU PROYEK .......................... 91 C. METODE DAN TEKNIK MANAJEMEN WAKTU PROYEK ................ 93 D. PERENCANAAN WAKTU PROYEK ................................................. 95 E. PENGENDALIAN WAKTU PROYEK ................................................ 96 F. TEKNOLOGI DALAM MANAJEMEN WAKTU PROYEK ................... 97 G. STUDI KASUS: MANAJEMEN WAKTU PROYEK YANG EFEKTIF ..... 99 H. KESIMPULAN.............................................................................. 100 MANAJEMEN PROYEK v BAGIAN 9 MANAJEMEN KUALITAS PROYEK .................................... 102 A. PENDAHULUAN.......................................................................... 102 B. PRINSIP-PRINSIP MANAJEMEN KUALITAS PROYEK ................... 102 C. KERANGKA KERJA MANAJEMEN KUALITAS PROYEK ................. 103 D. PENERAPAN MANAJEMEN KUALITAS PROYEK .......................... 104 E. ALAT DAN TEKNIK DALAM MANAJEMEN KUALITAS .................. 105 F. STUDY KASUS: IMPLEMENTASI MANAJEMEN KUALITAS PROYEK PADA PEMBANGUNAN SEBUAH PABRIK ................................... 107 BAGIAN 10 MANAJEMEN RISIKO PROYEK ........................................ 111 A. KETIDAKPASTIAN DI DALAM PROYEK ........................................ 111 B. TAHAPAN UMUM MANAJEMEN RISIKO PROYEK ...................... 112 C. IDENTIFIKASI RISIKO .................................................................. 113 D. ASESMEN (PENILAIAN) RISIKO PROYEK ..................................... 114 E. RESPON TERHADAP RISIKO PROYEK .......................................... 119 F. MONITOR RISIKO PROYEK ......................................................... 120 BAGIAN 11 ISO 21502 ( PROJECT MANAGEMENT ) .......................... 122 MENDORONG TATA KELOLA PROYEK LEBIH BERKUALITAS, EFISIEN, & EFEKTIF .............................................................................................. 122 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................... 130 TENTANG PENULIS ......................................................................... 140 MANAJEMEN PROYEK vi BAGIAN 1 PENGENALAN MANAJEMEN PROYEK A. PENGANTAR MANAJEMEN 1. Pengertian Manajemen Menurut definisi manajemen Ricky W. Griffin, manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Manajemen juga dapat didefinisikan sebagai seni atau ilmu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian sumber daya manusia, keuangan, material, dan informasi untuk mencapai tujuan organisasi. Manajemen melibatkan koordinasi dan pengawasan pekerjaan orang lain untuk memastikan bahwa pekerjaan dilakukan secara efektif dan efisien. 2. Fungsi Manajemen Fungsi-fungsi manajemen telah berkembang dari empat menjadi tujuh, yaitu perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pengendalian, kepemimpinan, kepegawaian, dan komunikasi. a. Perencanaan adalah penyusunan, pemilihan dan penentuan rencana yang menyeluruh untuk semua kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan. Semua sumber daya yang potensial diidentifikasi, diseleksi sesuai dengan permasalahan dan ditentukan mana yang harus diimplementasikan terlebih dahulu. Kegiatan dalam fungsi perencanaan, yaitu : 1. Menetapkan tujuan dan target bisnis. MANAJEMEN PROYEK 1 2. Merumuskan strategi untuk mencapai tujuan dan target bisnis tersebut. 3. Menentukan sumber-sumber daya yang diperlukan. 4. Menetapkan standar/indikator keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target bisnis. b. Organizing adalah proses merancang strategi dan taktik dalam struktur, sistem, dan lingkungan organisasi yang tepat dan fleksibel yang memungkinkan lingkungan organisasi dan semua pemangku kepentingan dalam organisasi bekerja secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan organisasi. Merancang dan mengevaluasi struktur organisasi, terutama jika ada rencana ekspansi. Untuk kepentingan efisiensi dan efektivitas, struktur organisasi harus menyediakan posisi-posisi yang kosong. Struktur organisasi harus jelas dan posisi yang kosong harus diisi. c. Actuating. Dalam dunia bisnis yang kompetitif saat ini, memberikan waktu bagi karyawan untuk belajar dan memahami tugas-tugas mereka sangat penting. Hal ini dapat meningkatkan produktivitas, kualitas pekerjaan, dan kepuasan karyawan. Oleh karena itu, manajer harus memastikan bahwa karyawan baru diberi waktu dan dukungan yang cukup untuk mempelajari tugas-tugas mereka secara menyeluruh sebelum diharapkan untuk mencapai hasil yang maksimal. Dengan memberikan waktu untuk belajar, organisasi dapat menciptakan lingkungan kerja yang positif dan mendukung, di mana karyawan merasa dihargai dan didukung untuk berkembang. Hal ini dapat meningkatkan kinerja organisasi secara keseluruhan dan membantu organisasi mencapai tujuan jangka panjang mereka. d. Controlling adalah proses penting dalam memastikan bahwa tujuan dan sasaran organisasi tercapai. Dengan memverifikasi MANAJEMEN PROYEK 2 hasil kerja terhadap standar dan kesepakatan yang telah ditetapkan, hal ini membantu meminimalkan risiko, memastikan kepatuhan, dan meningkatkan kinerja. Namun, organisasi harus menyadari tantangan dalam menerapkan kontrol yang efektif dan bersiap untuk mengadaptasi mekanisme kontrol mereka, seiring dengan perubahan situasi. Pada akhirnya, kunci keberhasilan terletak pada keseimbangan antara kontrol dan fleksibilitas, serta menumbuhkan budaya perbaikan yang berkelanjutan. e. Leading adalah alat penting untuk memotivasi karyawan dan mendorong kesuksesan organisasi. Kepemimpinan yang efektif membutuhkan pemahaman yang mendalam tentang perilaku manusia, kemampuan komunikasi dan interpersonal yang kuat, serta komitmen untuk memimpin dengan memberi contoh. Dengan berinvestasi dalam pengembangan kepemimpinan dan menciptakan budaya kepemimpinan di dalam organisasi, perusahaan dapat memetik manfaat dari peningkatan moral karyawan, peningkatan produktivitas, serta pertumbuhan dan inovasi yang berkelanjutan. f. Sraffing meliputi penarikan, pelatihan, pengembangan, penempatan, dan orientasi karyawan di lingkungan kerja yang produktif dan menguntungkan. Setiap tahap dari proses sraffing sangat penting bagi perusahaan dan dapat membantu mereka memaksimalkan potensi karyawan mereka. Oleh karena itu, perusahaan harus memastikan bahwa mereka memiliki strategi sraffing yang efektif dan terus-menerus memperbarui dan memperbaiki proses mereka untuk memastikan kesuksesan jangka panjang. g. Communicating, elemen penting dalam manajemen, dan para manajer harus memiliki keterampilan komunikasi yang sangat baik untuk berhasil dalam peran mereka. Dengan memahami MANAJEMEN PROYEK 3 pentingnya komunikasi, jenis-jenis komunikasi yang berbeda, hambatan-hambatan dalam komunikasi yang efektif, dan keterampilan komunikasi yang diperlukan, para manajer dapat berkomunikasi dengan lebih efektif dan mencapai tujuan dan sasaran mereka. 3. Hierarki Manajemen Hirarki manajemen mengacu pada tingkat otoritas dan tanggung jawab dalam sebuah organisasi. Ini adalah cara untuk menyusun struktur organisasi dan memastikan bahwa tugas-tugas diberikan kepada orang yang tepat, dengan keterampilan dan pengalaman yang tepat. Hirarki manajemen dapat dibagi menjadi beberapa tingkatan, manajemen tingkat atas, manajemen tingkat menengah, dan manajemen tingkat bawah. Setiap tingkat memiliki tanggung jawab dan tugasnya masing-masing. a. Keuntungan dari Hierarki Manajemen Salah satu keuntungan utama dari hierarki manajemen adalah memberikan struktur yang jelas bagi organisasi. Hal ini memudahkan karyawan untuk memahami peran dan tanggung jawab mereka, dan memastikan bahwa tugas-tugas diberikan kepada orang yang tepat. Keuntungan lain dari hierarki manajemen adalah memungkinkan komunikasi yang efektif di dalam organisasi. Setiap tingkat manajemen bertanggung jawab untuk berkomunikasi dengan tingkat di atasnya dan di bawahnya, memastikan bahwa semua orang berada di halaman yang sama dan bekerja untuk mencapai tujuan yang sama. b. Kerugian dari Hierarki Manajemen Salah satu kelemahan utama dari hierarki manajemen adalah tidak fleksibel. Struktur yang kaku dapat menyulitkan untuk MANAJEMEN PROYEK 4 merespons dengan cepat terhadap perubahan kondisi pasar atau kebutuhan pelanggan. Kerugian lain dari hirarki manajemen adalah bahwa hal itu dapat menyebabkan kurangnya inovasi dan kreativitas. Karyawan mungkin merasa terkekang oleh aturan dan prosedur yang ketat, dan mungkin merasa tidak nyaman untuk menyarankan ide atau cara baru dalam melakukan sesuatu. 4. Tujuan Manajemen Mempelajari manajemen memiliki tujuan yang sangat penting dalam kehidupan kita. Salah satunya adalah untuk melaksanakan dan mengevaluasi strategi yang kita pilih secara efektif dan efisien. Dalam memilih strategi, kita harus mempertimbangkan berbagai faktor seperti tujuan organisasi, sumber daya yang tersedia, serta kondisi lingkungan internal dan eksternal. Selain itu, mempelajari manajemen juga bermanfaat untuk mengevaluasi kinerja, meninjau dan mengkaji ulang situasi serta melakukan berbagai penyesuaian dan koreksi jika terdapat penyimpangan dalam pelaksanaan strategi. Dengan melakukan evaluasi secara berkala, kita dapat mengetahui sejauh mana strategi yang telah kita pilih berhasil atau tidak, serta menemukan solusi untuk mengatasi masalah yang muncul. 5. Keahlian-Keahlian Manajemen Robert L. Katz, seorang ahli manajemen terkenal, mengembangkan sebuah pendekatan untuk menentukan keterampilan esensial yang dibutuhkan oleh para manajer. Menurutnya, setiap manajer membutuhkan tiga keterampilan dasar: teknis, hubungan antar manusia, dan konseptual. a. Keahlian teknis mengacu pada kemampuan untuk menggunakan pengetahuan atau teknik khusus untuk melakukan tugas-tugas yang berkaitan dengan bidang tertentu. Dalam manajemen, keterampilan teknis sangat penting bagi MANAJEMEN PROYEK 5 seorang manajer untuk memahami proses dan prosedur yang terlibat dalam operasi departemen mereka. b. Keahlian hubungan antar-manusia mengacu pada kemampuan untuk berinteraksi dan berkomunikasi secara efektif dengan orang lain. Dalam manajemen, sangat penting bagi seorang manajer untuk memiliki keterampilan hubungan manusia yang kuat karena mereka perlu memimpin dan memotivasi tim mereka untuk mencapai tujuan yang diinginkan. c. Keahlian konseptual mengacu pada kemampuan untuk berpikir abstrak dan memahami ide-ide dan hubungan yang kompleks. Dalam manajemen, keterampilan konseptual sangat penting bagi seorang manajer untuk mengembangkan strategi jangka panjang, membuat keputusan, dan memecahkan masalah. 6. Prinsip-Prinsip Manajemen Manajemen memiliki 14 prinsip, yaitu: Pembagian kerja, Kekuasaan dan Tanggung Jawab, Disiplin, Kesatuan Perintah, Kesatuan Arah, Mengutamakan Kepentingan Umum di atas Kepentingan Pribadi, Remuneration of Personnel, Pusat Wewenang, Hierarki, Order, Keadilan, Inisiatif, Asas Kesatuan dan Kestabilan Jabatan. B. PROYEK 1. Pengertian Proyek Proyek adalah usaha atau bisnis yang sifatnya sementara dari waktu awal pekerjaan ditetapkan. Meskipun sementara dalam proses pengerjaannya, hasil yang dihasilkan oleh proyek dapat berdampak jangka panjang bagi perusahaan. 2. Ciri-Ciri Proyek Proyek memiliki ciri-ciri yakni : a. Memiliki tujuan dan kebutuhan yang spesifik b. Memiliki batasan waktu dan ruang lingkup pengerjaan MANAJEMEN PROYEK 6 c. Dilaksanakan secara terencana, terkoordinasi, dan terkontrol d. Mengelola tiga aspek utama yakni biaya, waktu dan sumber daya. 3. Karakteristik Proyek a. Memiliki batasan waktu : Proyek memiliki tenggat waktu yang ditetapkan untuk menyelesaikannya, dan tenggat waktu ini biasanya tidak dapat dinegosiasikan. Batasan waktu dapat menimbulkan tekanan dan stres bagi tim proyek, tetapi juga memberikan rasa urgensi dan fokus. b. Terdapat batasan atau scope : Proyek memiliki serangkaian tujuan dan hasil yang telah ditentukan, dan apa pun yang berada di luar cakupan ini dianggap di luar batas. Batasan ruang lingkup membantu memastikan bahwa proyek tetap fokus dan berada di jalurnya, dan mencegah pergeseran ruang lingkup yang dapat menggagalkan proyek. Mengelola ruang lingkup secara efektif membutuhkan komunikasi yang jelas dengan para pemangku kepentingan, pemahaman menyeluruh tentang persyaratan proyek, dan kemauan untuk membuat keputusan sulit bila diperlukan. Penting untuk diingat bahwa batasan ruang lingkup tidak dimaksudkan untuk menghambat kreativitas atau inovasi, melainkan untuk memastikan bahwa proyek tetap selaras dengan tujuan dan sasarannya. c. Penuh dengan ketidakpastian : Proyek pada dasarnya tidak pasti, karena melibatkan tingkat risiko dan ketidakpastian. Ketidakpastian dapat muncul dari berbagai sumber, seperti perubahan kondisi pasar, masalah teknis yang tidak terduga, atau penundaan yang tidak terduga. Dengan mengatasi ketidakpastian secara langsung, tim proyek dapat meminimalkan dampaknya dan menjaga proyek tetap berada di jalurnya. MANAJEMEN PROYEK 7 d. Menghasilkan Produk yang Unik : Proyek dirancang untuk menghasilkan hasil yang unik yang berbeda dari tugas rutin atau operasi yang sedang berlangsung. Hasil kerja ini dapat berupa berbagai bentuk, seperti produk, layanan, atau sistem baru, atau proses atau metode yang lebih baik. Menciptakan hasil kerja yang unik membutuhkan kombinasi kreativitas, keahlian, dan kolaborasi, serta pemahaman yang mendalam tentang kebutuhan dan preferensi pelanggan. Tim proyek harus dapat menyeimbangkan faktor-faktor ini sambil tetap berada dalam ruang lingkup dan jadwal proyek, untuk menghasilkan hasil kerja berkualitas tinggi yang memenuhi harapan pemangku kepentingan. e. Memiliki Sumber Daya (Manusia dan non Manusia) : Proyek membutuhkan berbagai sumber daya, baik manusia maupun non-manusia, agar berhasil. Sumber daya ini mencakup hal-hal seperti pendanaan, peralatan, material, dan personel, serta keterampilan dan pengetahuan khusus. Dengan menyelaraskan kebutuhan sumber daya dengan tujuan dan sasaran tertentu, tim proyek dapat memastikan bahwa mereka memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara efisien dan memberikan nilai kepada para pemangku kepentingan. f. Memiliki Sasaran atau Tujuan Spesifik : Sasaran atau tujuan harus jelas, terukur, realistis, dan disepakati oleh semua pihak terkait. Memiliki sasaran atau tujuan yang spesifik dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi pengelolaan proyek, termasuk dalam merencanakan aktivitas, mengukur keberhasilan, dan memastikan proyek sesuai dengan harapan pemangku kepentingan. Namun, menetapkan sasaran atau tujuan spesifik juga dapat menjadi tantangan karena adanya ketidakpastian dan kompleksitas dalam lingkungan proyek serta perbedaan antara kebutuhan dan keinginan pemangku kepentingan dengan sumber daya yang tersedia. Untuk MANAJEMEN PROYEK 8 menetapkan tujuan proyek yang efektif, perlu melakukan identifikasi terhadap masalah atau kebutuhan yang ingin diselesaikan melalui proyek tersebut. Kemudian, menentukan target yang ingin dicapai serta batasan-batasannya dan membuat rencana kerja yang terperinci dan jelas, termasuk alokasi sumber daya dan waktu yang dibutuhkan. Terakhir, memastikan seluruh anggota tim memahami dan setuju dengan tujuan proyek yang telah ditetapkan. g. Memiliki Stakeholder: Adapun jenis-jenis Stakeholder yakni : Customer/User, Sponsor, Portofolio Manager, Program Manager, Project Manager, Project Management Office, Project Team, Functional Manager, Operational Management dan Seller/Business Partner. C. MANAJEMEN PROYEK 1. Pengertian Manajemen Proyek Manajemen proyek adalah proses menggabungkan alat, sumber daya, dan teknik untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kegiatan manajemen proyek meliputi perencanaan, organisasi, implementasi dan kontrol. Manajemen proyek melibatkan pengelolaan semua aspek proyek, termasuk perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian. Manajer proyek bertanggung jawab untuk mengawasi dan mengelola seluruh proses, mulai dari konsep awal hingga penyelesaian proyek. Manajemen proyek terdiri dari beberapa fase: perencanaan, pengorganisasian, implementasi, pengawasan dan penutupan. Manajemen proyek mengharuskan manajer proyek untuk memiliki keterampilan dan pengetahuan yang memadai tentang manajemen MANAJEMEN PROYEK 9 proyek, teknik manajemen waktu dan biaya, manajemen risiko, dan kemampuan untuk memimpin dan mengelola tim proyek. 2. Tujuan Manajemen Proyek Tujuan dari manajemen proyek adalah untuk mencapai hasil yang optimal dalam hal waktu, biaya, dan kualitas. Manajemen proyek mencakup berbagai proses, teknik, dan alat yang digunakan untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya dan meminimalkan risiko dalam proyek. a. Mengelola Risiko Manajemen proyek bertujuan untuk mengelola risiko yang mungkin terjadi pada proyek. Risiko dapat berasal dari berbagai faktor, seperti perubahan lingkungan atau kebijakan pemerintah. Dalam mengelola risiko, manajer proyek harus melakukan identifikasi, analisis, dan mitigasi risiko tersebut. Identifikasi risiko dilakukan dengan mengidentifikasi potensi masalah yang dapat terjadi selama proyek berlangsung. Analisis risiko melibatkan penilaian terhadap dampak dan kemungkinan terjadinya risiko tersebut. Mitigasi risiko melibatkan pengembangan strategi untuk mengurangi dampak dan kemungkinan terjadinya risiko tersebut. b. Memaksimalkan Potensi Tim Hal ini dapat dilakukan dengan memastikan bahwa setiap anggota tim memiliki peran yang jelas dan tanggung jawab yang terdefinisi dengan baik. Selain itu, manajer proyek harus memastikan bahwa tim memiliki sumber daya yang cukup untuk menyelesaikan tugas mereka. Peningkatan keterampilan dan komunikasi antar anggota tim juga dapat membantu memaksimalkan potensi tim. Manajer proyek harus memfasilitasi pelatihan dan pengembangan keterampilan anggota tim serta memastikan bahwa komunikasi antara anggota tim berjalan lancar. MANAJEMEN PROYEK 10 c. Menciptakan Perencanaan yang tepat Perencanaan yang tepat harus mencakup tujuan proyek, jadwal pelaksanaan, anggaran, dan sumber daya yang dibutuhkan. Perencanaan yang tepat dapat membantu memastikan bahwa proyek berjalan sesuai rencana dan dapat diselesaikan tepat waktu. Dalam menciptakan perencanaan yang tepat, manajer proyek harus mempertimbangkan faktor-faktor eksternal yang dapat mempengaruhi proyek, seperti perubahan kebijakan pemerintah atau kondisi pasar yang tidak stabil. Manajer proyek juga harus memastikan bahwa perencanaan yang dibuat realistis dan dapat diimplementasikan oleh tim proyek. d. Memanfaatkan Peluang Manajemen proyek juga bertujuan untuk memanfaatkan peluang yang mungkin muncul selama proyek berlangsung. Peluang dapat muncul dari berbagai faktor, seperti perkembangan teknologi baru atau perubahan kebijakan pemerintah. Dalam memanfaatkan peluang, manajer proyek harus melakukan identifikasi dan evaluasi terhadap peluang tersebut. Setelah peluang diidentifikasi dan dievaluasi, manajer proyek harus mengembangkan strategi untuk memanfaatkan peluang tersebut. Strategi yang dikembangkan harus realistis dan dapat diimplementasikan oleh tim proyek. Memanfaatkan peluang dapat membantu meningkatkan nilai proyek dan memberikan keuntungan bagi organisasi yang terlibat dalam proyek. e. Mengelola Integrasi Manajemen proyek juga bertujuan untuk mengelola integrasi antara berbagai aspek proyek, seperti sumber daya, jadwal, dan risiko. Integrasi yang baik dapat membantu memastikan bahwa proyek berjalan sesuai rencana dan dapat diselesaikan MANAJEMEN PROYEK 11 tepat waktu. Dalam mengelola integrasi, manajer proyek harus memastikan bahwa semua aspek proyek saling terkait dan berjalan seiring satu sama lain. Manajer proyek juga harus memastikan bahwa integrasi yang dilakukan tidak mengabaikan aspek penting lainnya, seperti kualitas produk atau layanan yang dihasilkan. Integrasi yang baik dapat membantu meningkatkan efisiensi dan efektivitas proyek serta memberikan manfaat bagi organisasi yang terlibat dalam proyek. 3. Kesuksesan Manajemen Proyek Secara sederhana, manajemen proyek yang sukses membutuhkan waktu dan dapat didekati dari berbagai sudut pandang. Dimensidimensi ini meliputi: a. Efisiensi. Manajemen proyek membuat pekerjaan menjadi lebih efisien, dengan lebih sedikit aktivitas yang berulang, dll. b. Dampak terhadap pelanggan. Sebuah proyek dianggap berhasil jika klien merasa puas dan merekomendasikan tim untuk pekerjaan berikutnya. c. Dampak pada tim. Tim menjadi lebih produktif dan tidak terlalu lelah saat mengerjakan proyek. d. Bisnis dan kesuksesan. Organisasi menjadi entitas yang diakui dengan keterampilan dan kompetensi berdasarkan pengalaman dan kesempatan untuk terlibat dalam proyekproyek sebelumnya. e. Persiapan untuk masa depan. Organisasi akan memiliki visi dan misi yang independen berdasarkan pengalaman proyek. 4. Karakteristik Manajemen Proyek Ada beberapa karakteristik penting dalam manajemen proyek, di antaranya adalah tujuan yang jelas, waktu yang terbatas, sumber daya yang terbatas, dan risiko yang harus dikelola. Semua MANAJEMEN PROYEK 12 karakteristik ini harus dikelola dengan baik agar proyek dapat berhasil. Selain itu, manajemen proyek juga harus fleksibel dan adaptif terhadap perubahan. Karena proyek seringkali melibatkan banyak pihak dan faktor yang tidak terduga, maka kemampuan untuk beradaptasi dan merespon perubahan menjadi sangat penting dalam manajemen proyek. MANAJEMEN PROYEK 13 BAGIAN 2 TAHAP PERENCANAAN PROYEK A. PROJECT INITIATION PHASE (TAHAP INISIASI PROYEK) Pada tahap ini, sebuah proyek secara resmi dimulai, diberi nama, dan dideskripsikan. Karenanya, Anda harus membuat sebuah catatan besar yang berisikan informasi rinci seperti ruang lingkup proyek, tujuan, penunjukkan project manager, besaran anggaran, jadwal kerja, dan lain-lain. Selain itu, Anda juga harus mengidentifikasi stakeholder penting yang terlibat dalam proyek ini(Apriliani 2020). Piagam proyek adalah dokumen penting yang terdiri dari rincian seperti kendala proyek, tujuan, penunjukan manajer proyek, anggaran, jadwal waktu yang diharapkan, dll(Apriliani 2020). Setelah Anda memiliki tujuan proyek dan ruang lingkup proyek, identifikasi pemangku kepentingan proyek utama – orang-orang yang akan terlibat dalam proyek. Buat daftar pemangku kepentingan dengan peran, penunjukan, persyaratan komunikasi, dan pengaruh(Apriliani 2020). Tahap inisiasi proyek adalah tahap pertama mengubah ide abstrak menjadi tujuan yang bermakna. Pada tahap ini, Anda perlu mengembangkan kasus bisnis dan mendefinisikan proyek pada tingkat yang luas. Untuk melakukan itu, Anda harus menentukan kebutuhan proyek dan membuat piagam proyek(Apriliani 2020). Ini merupakan fase awal dari manajemen proyek, di mana dalam fase ini Project Manager akan menganalisis secara luas terkait proyek tersebut dan mencari tahu apakah proyek ini layak untuk ditindaklanjuti atau tidak(Junaedi 2022). Di tahap ini setidaknya ada MANAJEMEN PROYEK 14 dua alat evaluasi yang digunakan oleh Project Manager mencakup(Josephine Samuel 2021): 1. Dokumen kasus bisnis, di dalam dokumen ini berisi tentang kebutuhan proyek dan mencakup potensi manfaat finansial yang bisa didapatkan dari proyek itu. 2. Studi kelayakan, isinya seputar tentang evaluasi tujuan proyek, jadwal waktu proyek dan biaya proyek. Semua isi studi kelayakan ini dilakukan untuk mencari tahu apakah proyek itu layak atau tidak. Tahap ini adalah tahap permulaan siklus hidup manajemen proyek untuk memahami tujuan, prioritas, tenggat waktu, dan risiko proyek. Aktifitas utama yang akan dilakukan adalah bertemu dengan klien dan pemangku kepentingan untuk memahami tujuan, motivasi, dan harapan mereka untuk proyek tersebut(Josephine Samuel 2021). Piagam proyek: Ini adalah dokumen definitif yang menjelaskan proyek dan rincian utama yang diperlukan untuk mencapai tujuannya. Ini dapat mencakup potensi risiko, manfaat, kendala, dan pemangku kepentingan utama(Apriliani 2020). Langkah-langkah manajemen proyek utama untuk tahap inisiasi meliputi(Josephine Samuel 2021): 1. Mengidentifikasi tujuan dan hasil proyek 2. Menguraikan risiko, ketergantungan, kendala, dan prioritas proyek. 3. Menetapkan ruang lingkup proyek berdasarkan tenggat waktu dan sumber daya yang tersedia. 4. Mengirimkan proposal proyek untuk persetujuan. Inisiasi proyek (project initiation) adalah tahap awal (pertama kalinya)suatu proyek dimulai. Dalam artian memberikan gambaran global suatu proyek dalam bentuk definisi proyek yang berisi ruang lingkup proyek, tujuan proyek, waktu pengerjaan proyek, biaya proyek dan informasi umum lainnya(Noviana 2021).Sementara MANAJEMEN PROYEK 15 tujuan proyek yang jelas ditetapkan pada fase ini, piagam proyek tidak berisi detail teknis apa pun yang terjadi pada tahap perencanaan(Apriliani 2020). Alat dan dokumen yang digunakan dalam tahap inisiasi dapat meliputi: Proposal proyek: Proposal proyek mendefinisikan proyek dan menguraikan tanggal, persyaratan, dan tujuan utama(Apriliani 2020). 1. Tujuan project initiation Tujuan dari project initiation diantaranya adalah(Anggaardiyon 2017): a. Menentukan tujuan proyek secara rinci. b. Mengidentifikasi faktor-faktor penentu keberhasilan (critical success factor) untuk pelaksanaan proyek. c. Menentukan ruang lingkup proyek, jadwal proyek, kebutuhan sumber daya proyek secara garis besar, asumsi proyek, serta batasan-batasan proyek sebagai acuan dalam membuat perencanaan manajemen proyek (project management plan). d. Menentukan kriteria keberhasilan proyek. 2. Mekanisme Project Initiation a. Pemilik proyek (project owner) memberi penugasan (assigment) kepada manajer proyek (project manager) dan tim proyek (project team). b. Manajer proyek dan tim proyek secara bersama-sama membuat defnisi proyek (project definition) dan disetujui oleh pemilik proyek. c. Definisi proyek yang telah dibuat, selanjutnya akan dijadikan sebagai acuan atau landasan dalam pembuatan perencanaan manajemen proyek(project management plan). MANAJEMEN PROYEK 16 B. PROJECT PLANNING PHASE (TAHAPAN PERENCANAAN PROYEK) Setelah proposal proyek disetujui, sekarang saatnya untuk melanjutkan ke tahap perencanaan proyek dari siklus hidup proyek yaitu untuk menguraikan tugas dan garis waktu yang diperlukan untuk melaksanakan proyek(Josephine Samuel 2021). Tahap perencanaan proyek adalah saat Anda membuat rencana proyek yang komprehensif, yang melibatkan(Josephine Samuel 2021): 1. Mengubah proposal menjadi serangkaian list tugas yang dapat ditindaklanjuti dan menjadwalkannya dalam project roadmap. 2. Mendokumentasikan proses atau alur kerja yang akan digunakan tim Anda (dapat menggunakan infografis proses untuk ini). 3. Membuat tujuan jangka pendek yang dapat diukur dari tujuan proyek tingkat tinggi. 4. Mengatasi potensi masalah yang dapat menghambat roadmap Anda. Bila proyek itu sudah memperoleh lampu hijau untuk dikerjakan, maka ini waktunya bagi tim untuk membuat perencanaan proyek. Tak hanya seputar rencana proyek, terkadang dalam beberapa hal seperti tujuan proyek juga turut disempurnakan(Junaedi 2022). Di tahapan manajemen proyek inilah diperlukan rencana yang kuat agar bisa memandu tim menyelesaikan proyek tepat waktu sesuai dengan anggaran yang ada(Junaedi 2022). Ingat, rencana yang buruk hanya akan memperburuk hasil yang diinginkan. Maka rencana proyek yang baik adalah rencana rinci yang di dalamnya berisi biaya proyek, kualitas proyek, dan jadwal yang realistis(Junaedi 2022). MANAJEMEN PROYEK 17 Lebih dari itu, rencana proyek juga berisi ukuran kinerja yang jelas terkait peran dan tugas setiap orang dalam proyek tersebut. Berikut beberapa isi poin lainnya yang terdapat dalam rencana proyek: 1. Ruang lingkup berisi tentang kebutuhan bisnis, tujuan, hasil, manfaat proyek. Ruang lingkup ini bisa berubah seiring proyek itu berjalan, tetapi harus berdasarkan persetujuan dari Project Manager. 2. Rincian jadwal pekerjaan, adalah representasi ruang lingkup proyek yang dikelola oleh tim. 3. Milestones, mengidentifikasi sasaran yang harus dipenuhi di seluruh proyek dan dituliskan dalam bagan Gantt. 4. Bagan Gantt, adalah alat yang digunakan untuk memvisualisasikan waktu pengerjaan dari proyekmu. 5. Communication plan digunakan bila proyek itu melibatkan pemangku kepentingan yang datangnya dari luar. 6. Risk Management plan adalah mengidentifikasi segala risiko yang bisa terjadi dalam proyek tersebut biasanya berhubungan dengan waktu dan biaya yang tidak realistis, kurangnya tim yang berkomitmen, pemotongan anggaran dan sebagainya. Proses perencanaan mencakup tentang penetapan sasaran, pendefinisian proyek dan pembentukan organisasi tim, adapun dalam mengerjakan beberapa proyek sekaligus (umumnya pada perusahaan besar), cara yang efektif untuk menugaskan tenaga kerja dan sumber daya fisik adalah melalui organisasi proyek dengan spsesikasi(Anggaardiyon 2017) : 1. Pekerjaan dapat didefinisikan dengan sasaran dan target waktu khusus. 2. Pekerjaaan unik atau tidak biasa dalam organisasi yang ada. Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini antara lain membuat struktur rincian kerja, menetapkan jadwal, tenggat waktu pengerjaan tugas, membuat milestone atau gantt chart, memperkirakan dan mencadangkan sumber daya, mencatat tanggal MANAJEMEN PROYEK 18 pengiriman penting, hingga membangun pola komunikasi yang baik dengan para stakeholder(Apriliani 2020). Selama tahap ini, akan ada kemungkinan perubahan ruang lingkup proyek yang sudah ditentukan di tahap sebelumnya. Namun, project manager harus menyetujui lebih dulu perubahan itu. Dalam tahap ini pula, project manager juga bertanggung jawab untuk memberikan visualisasi struktur rincian kerja dengan berbagai divisi berbeda secara jelas kepada seluruh tim(Apriliani 2020). Tahap perencanaan proyek membutuhkan ketekunan penuh karena menjabarkan peta jalan proyek. Kecuali Anda menggunakan metodologi manajemen proyek modern seperti manajemen proyek Agile, fase kedua dari manajemen proyek diperkirakan akan memakan waktu hampir setengah dari keseluruhan rentang waktu proyek(Apriliani 2020). Pada fase ini, tugas utama adalah mengidentifikasi persyaratan teknis, mengembangkan jadwal proyek yang terperinci, membuat rencana komunikasi, dan menyiapkan tujuan atau hasil(Apriliani 2020). Ada beberapa metode untuk menetapkan tujuan proyek tetapi S.M.A.R.T. dan C.L.E.A.R. adalah yang paling populer(Apriliani 2020). S.M.A.R.T Tujuan: Kriteria ‘SMART’ memastikan bahwa tujuan yang Anda tetapkan untuk proyek Anda dianalisis secara kritis. Ini adalah metode mapan yang mengurangi risiko dan memungkinkan manajer proyek untuk membuat tujuan yang jelas dan dapat dicapai(Apriliani 2020). CLEAR. Tujuan: Metode ‘CLEAR’ dalam menetapkan tujuan dirancang untuk memenuhi sifat dinamis dari tempat kerja modern. Bisnis yang bergerak cepat saat ini membutuhkan fleksibilitas dan MANAJEMEN PROYEK 19 hasil langsung dan CLEAR dapat membantu pengembang warga dengan itu(Apriliani 2020). Selama tahap perencanaan, ruang lingkup proyek ditentukan. Ada kemungkinan untuk mengubah ruang lingkup proyek, tetapi manajer proyek harus menyetujui perubahan tersebut. Manajer proyek juga mengembangkan struktur rincian kerja (WBS), yang dengan jelas memvisualisasikan seluruh proyek di bagian yang berbeda untuk manajemen tim(Apriliani 2020). Garis waktu proyek yang terperinci dengan setiap hasil kerja adalah elemen penting lainnya dari tahap perencanaan. Dengan menggunakan garis waktu itu, manajer proyek dapat mengembangkan rencana komunikasi proyek dan jadwal komunikasi dengan pemangku kepentingan terkait(Apriliani 2020). Mitigasi risiko adalah aspek penting lain dari manajemen proyek yang merupakan bagian dari tahap perencanaan. Manajer proyek bertanggung jawab untuk mengekstrapolasi data masa lalu untuk mengidentifikasi potensi risiko manajemen proyek dan mengembangkan strategi untuk meminimalkannya(Apriliani 2020). Elemen penting yang sering diabaikan oleh para profesional adalah rencana manajemen perubahan yang efektif. Sebagai manajer proyek, Anda harus siap untuk memasukkan beberapa perubahan dalam proyek untuk menghindari kemacetan dan penundaan proyek(Apriliani 2020). Dengan tidak adanya rencana manajemen perubahan kerja, scope creep terjadi dan menyebabkan masalah besar bagi tim proyek di tahap akhir proyek. Jadi, yang terbaik adalah mengurangi kemungkinan perubahan yang tidak terduga sebanyak mungkin(Apriliani 2020). Alat yang mungkin Anda gunakan dalam fase ini meliputi: MANAJEMEN PROYEK 20 Gantt chart: Bagan batang horizontal di mana anggota dapat melihat tugas apa yang harus diselesaikan dalam urutan apa, dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk masing-masing tugas. Risk register: Bagan yang mencantumkan risiko yang terkait dengan proyek, bersama dengan kemungkinan, dampak potensial, tingkat risiko, dan rencana mitigasinya. C. PROJECT EXECUTION PHASE (TAHAP PELAKSANAAN PROYEK) Tahapan manajemen proyek selanjutnya yang perlu kamu tahu adalah eksekusi proyek. Ini menjadi tonggak pertama proyek mulai dikerjakan oleh tim. Di mana ketua tim memandu tim agar fokus pada tugas dan peran mereka(Junaedi 2022). Pastikan pula dari awal bahwa tim kamu memahami persis seperti apa proyek itu dan mengapa mereka harus peduli serta antusias dalam mengerjakan proyek tersebut(Junaedi 2022). Oleh sebab itu, penting bagi ketua tim untuk memberikan tanggung jawab dari proyek tersebut kepada orang yang tepat dan mengevaluasi kinerjanya sehingga goals dari proyek tersebut dapat tercapai(Junaedi 2022). Selanjutnya, disinilah sebagian besar pekerjaan proyek berlangsung, yaitu untuk mengubah rencana menjadi tindakan serta pantau kinerja proyek secara terus-menerus(Josephine Samuel 2021). Sebagai manajer proyek, tanggung jawab utama Anda dalam tahap pelaksanaan proyek adalah(Josephine Samuel 2021): 1. Pantau dan kendalikan proses eksekusi, tinjau kualitas hasil tim 2. Sesuaikan dan perbarui tugas, sasaran, dan tenggat waktu untuk memenuhi kondisi yang berubah MANAJEMEN PROYEK 21 3. Berkomunikasi antara tim Anda dan pemangku kepentingan proyek. Pada tahap inilah proses pengerjaan proyek benar-benar berjalan. Sebagai project manager, tugas Anda dalam tahap ini adalah memastikan alur kerja tetap efisien dengan memantau kerja tim dengan cermat. Selain itu anda juga harus secara konsisten memelihara komunikasi kolaboratif yang baik dengan stakeholder dan memastikan bahwa proyek berjalan dengan baik. Untuk mempermudah pekerjaan Anda di tahap ini, bantuan aplikasi manajemen proyek akan sangat meringkas waktu dan tenaga anda untuk memantau jalannya proyek secara real time(Apriliani 2020). Tahap pelaksanaan proyek adalah di mana tim Anda melakukan pekerjaan yang sebenarnya. Sebagai manajer proyek, tugas Anda adalah membuat alur kerja yang efisien dan memantau kemajuan tim Anda dengan cermat(Apriliani 2020). Tanggung jawab lain dari manajer proyek, selama fase ini adalah untuk secara konsisten menjaga kolaborasi yang efektif antara pemangku kepentingan proyek. Ini memastikan bahwa semua orang tetap pada halaman yang sama dan proyek berjalan lancar tanpa masalah(Apriliani 2020). D. PROJECT MONITORING DAN CONTROL PHASE (TAHAP PEMANTAUAN DAN PENGENDALIAN PROYEK) Tahap monitoring ini berjalan bersamaan dengan tahap executing untuk memastikan bahwa tujuan dan hasil proyek yang diinginkan terpenuhi. Oleh karena itu, anda harus memastikan tim bekerja dengan menetapkan Critical Success Factors (CSF) dan Key Performance Indicators (KPI). Dalam tahap ini, anda juga harus memantau pekerjaan yang berjalan dan biaya yang dikeluarkan MANAJEMEN PROYEK 22 secara kuantitatif. Hal ini untuk memastikan bahwa pengerjaan proyek sesuai dengan anggaran yang ditetapkan(Apriliani 2020). Dalam proses manajemen proyek, fase ketiga dan keempat tidak berurutan. Fase pemantauan dan pengendalian proyek berjalan bersamaan dengan pelaksanaan proyek, sehingga memastikan bahwa tujuan dan hasil proyek terpenuhi(Apriliani 2020). Selama fase pemantauan manajemen proyek, manajer juga bertanggung jawab untuk melacak secara kuantitatif upaya dan biaya selama proses tersebut. Monitoring ini tidak hanya memastikan bahwa proyek tetap dalam anggaran tetapi juga penting untuk proyek masa depan(Apriliani 2020). E. PROJECT CLOSURE PHASE (TAHAP PENUTUPAN PROYEK) Penutupan proyek merupakan akhir dari tahapan manajemen proyek, artinya proyek yang ditangani ini telah rampung dan disetujui dengan standar yang diinginkan(Junaedi 2022).Dengan selesainya penutupan proyek ini, maka Project Manager akan kembali menghadapi proyek-proyek baru yang lainnya(Junaedi 2022).Meski begitu, proyek yang telah selesai ini akan dievaluasi pula secara keseluruhan. Hasilnya, bisa jadi proyek memiliki kualitas yang tinggi dan diselesaikan sebelum waktunya(Junaedi 2022). Hanya saja, keadaan seperti ini biasanya jarang terjadi. Seringkali evaluasi proyek menemukan permasalahan karena waktu yang mangkrak dan masalah lain yang menyertainya(Junaedi 2022). Dalam tahap penutupan proyek dari proses manajemen proyek, berikut adalah aktivitas yang dilakukan(Josephine Samuel 2021): 1. Serahkan kiriman 2. Bebaskan anggota tim dan sumber daya proyek 3. Analisis kinerja proyek dalam retrospektif proyek MANAJEMEN PROYEK 23 BAGIAN 3 TAHAP PELAKSANAAN PROYEK A. PENGANTAR TAHAP PELAKSANAAN PROYEK Siklus dan tahapan proyek merupakan hal yang harus dipahami dalam proses pelaksanaan proyek. Dengan memahami siklus dan tahapan proyek, maka proyek dapat direncanakan, dijadwalkan dan dikelola sesuai dengan siklus dan tahapan tersebut sehingga dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien untuk mencapai sasaran dan tujuan proyek serta memanfaatkan sumber daya. Siklus hidup proyek adalah metode yang digunakan untuk menggambarkan proyek yang direncanakan, diarahkan, dan dipantau dari pelaksanaan proyek hingga pencapaian tujuan akhir proyek.. Ada 5 (lima) fase dalam siklus hidup proyek yaitu inisiasi, perencanaan, pra-implementasi, implementasi dan pengakhiran. Gambar 3.1. Siklus Hidup Proyek MANAJEMEN PROYEK 24 Berikut uraian 5 (lima) siklus hidup proyek. 1. Tahap inisiasi Tahap awal operasi proyek, ketika pelaksanaan proyek telah disetujui. Langkah ini memecahkan masalah. Bisakah beberapa solusi ditentukan untuk memecahkan masalah? Setelah solusi ditentukan, seorang manajer proyek ditunjuk untuk memimpin tim proyek. 2. Tahap Perencanaan Setelah ruang lingkup proyek ditentukan dan tim proyek dibentuk, kegiatan proyek dimulai pada tahap perencanaan. Pada fase ini, dokumen desain terperinci disiapkan untuk memandu tim proyek selama kegiatan proyek. Tindakan yang diambil dalam fase ini meliputi mendokumentasikan rencana proyek, rencana sumber daya, rencana keuangan, rencana risiko, rencana lisensi, rencana komunikasi, rencana pembelian, perjanjian pemasok. 3. Tahap Pra Pelaksanaan Membuat rencana sesuai spesifikasi dan kriteria, menyiapkan perkiraan bill of quantity, menyiapkan perkiraan biaya, menyiapkan jadwal pelaksanaan dan berkomunikasi dengan penyedia jasa industri konstruksi. 4. Tahap Pelaksanaan Berkat definisi proyek yang jelas dan terperinci, kegiatan proyek dapat beralih ke tahap implementasi atau eksekusi. Pada tahap ini, sebelum pelaksanaan proyek, dilakukan persiapan yang harus dilakukan oleh manajer proyek untuk mempersiapkan pelaksanaan proyek di lokasi, menganalisa kondisi existing atau tujuan proyek dilaksanakan. Semua tindakan yang ditentukan dalam dokumentasi rencana proyek dilakukan. Selama kegiatan proyek, beberapa proses administrasi harus dilakukan untuk memantau dan mengontrol penyelesaian diantaranya pengiriman material sebagai hasil akhir proyek. MANAJEMEN PROYEK 25 5. Tahap Pengakhiran Pada fase ini, hasil proyek dan dokumentasinya disampaikan kepada klien, kontak dengan pemasok diakhiri, tim proyek dibubarkan dan laporan penyelesaian kegiatan proyek diberikan kepada semua peserta. Langkah terakhir yang harus diambil pada tahap ini adalah melakukan audit pasca implementasi untuk menentukan tingkat keberhasilan proyek dan mencatatnya hasil kinerja proyek. Pada tahap ini, hasil dan dokumentasi proyek dipresentasikan kepada klien, kontak dengan pemasok dihapus, tim proyek dibubarkan, dan laporan penyelesaian kegiatan proyek diberikan kepada semua peserta. Langkah terakhir yang akan dilakukan pada fase ini adalah audit pasca implementasi untuk mengetahui tingkat keberhasilan proyek dan mencatat hasil kinerja proyek. B. KHUSUS Tahapan pelaksanaan proyek adalah serangkaian aktivitas atau langkah-langkah yang harus dilakukan secara sistematis dan berurutan untuk mencapai tujuan proyek yang telah ditentukan. Tahapan pelaksanaan proyek biasanya meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, monitoring, evaluasi, dan penyelesaian proyek. Setiap tahapan memiliki tujuan yang spesifik dan aktivitas yang berbeda untuk mencapai tujuan tersebut. Tahapan pelaksanaan proyek ini membantu memastikan bahwa proyek berjalan efektif, dalam batas waktu dan anggaran yang telah ditentukan, serta memenuhi persyaratan dan kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan. 1. Tahapan Pelaksanaan Proyek Konstruksi a. Tahap konstruksi pra kontrak merupakan tahap awal pelaksanaan proyek konstruksi. Fase ini dimulai dengan koordinasi konsep proyek dan sebelum kontrak MANAJEMEN PROYEK 26 ditandatangani. Hal yang perlu diperhatikan pada tahap ini, antara lain menentukan kegiatan dan biaya yang akan dikeluarkan pemilik proyek, memahami kebutuhan dan kemampuan pemilik proyek, serta menyewa konsultan desain, konsultan manajemen konstruksi, dan terkadang konsultan survey. Selain itu, dokumen kontrak dan tender dari kontraktor juga disiapkan dalam tahap ini. Tahap pra kontrak ini sangat penting untuk memastikan proyek konstruksi dapat dilaksanakan secara efisien dan efektif serta sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan pemilik proyek. Tahap Pra Kontrak; 1. Persiapan Pengadaan 2. Pemilihan Penyedia Jasa b. Fase penandatanganan kontrak konstruksi merupakan fase penting dalam pelaksanaan proyek konstruksi. Tahapan ini meliputi penyiapan dokumen kontrak, penandatanganan kontrak oleh para pihak setelah keputusan penetapan pemasok barang/jasa telah dibuat dan pemasok telah memberikan jaminan kinerja kepada pengguna barang/ jasa. yang nilai dan penanggungnya memenuhi ketentuan. Selain itu, tahapan ini juga meliputi mobilisasi paling lambat 30 hari setelah sesuai kesepakatan pada kontrak kerja, antara lain membawa perlengkapan, memberikan fasilitas sesuai dokumen kontrak, mendatangkan personel/tenaga ahli dan mendatangkan sumber daya. Tahapan penandatanganan kontrak konstruksi sangat penting untuk memastikan proyek konstruksi dapat terlaksana dengan efektif dan efisien serta sesuai dengan kesepakatan yang dibuat. Tahap ini meliputi penyiapan dokumen kontrak, penandatanganan kontrak dan mobilisasi. Tahap Penandatanganan Kontrak; 1. Penyusunan Dokumen Kontrak 2. Penandatanganan Kontrak MANAJEMEN PROYEK 27 c. Fase kontrak pasca konstruksi adalah fase setelah kontrak ditandatangani dan pelaksanaan proyek dimulai. Pada fase ini, pemenuhan kewajiban hukum kontraktual, penyediaan layanan hingga akhir kontrak, masa pemeliharaan, jaminan cacat tersembunyi atau fase garansi harus diperhatikan. Selain itu, interpretasi, penyelesaian sengketa dan tanggung jawab atas kerusakan juga dilakukan pada tahap ini. Tahap setelah penandatanganan kontrak sangat penting untuk memastikan proyek konstruksi dapat dilaksanakan dengan efektif dan efisien serta sesuai dengan kesepakatan yang dibuat. Fase ini mencakup pemenuhan persyaratan hukum kontrak, kinerja, waktu pemeliharaan, garansi untuk masa pemeliharaan atau fase garansi, interpretasi, penyelesaian sengketa, dan tanggung jawab atas kerusakan. Tahap Pasca Penandatanganan Kontrak; a. Persiapan Pelaksanaan Kontrak b. Pelaksanaan Kontrak 1. Mobilisasi 2. Pemeriksaan bersama 3. Tinjauan desain 4. Pembayaran uang muka 5. Buku harian dan laporan harian, mingguan, dan bulanan 6. Pengendalian pelaksanaan pekerjaan 7. Pengukuran prestasi pekerjaan 8. Pembayaran prestasi pekerjaan 9. Perubahan kegiatan pekerjaan 10.Denda dan ganti rugi 11. Penyesuaian/eskalasi harga 12.Keadaan kahar/force majeure 13.Penghentian dan pemutusan kontrak 14.Perpanjangan waktu 15.Kerja sama dengan sub kontraktor 16.Kompensasi MANAJEMEN PROYEK 28 17.Perselisihan 18.Serah terima pekerjaan 19.Laporan hasil penilaian pelaksanaan program mutu c. Serah Terima Pekerjaan d. Evaluasi Produk Konsultan / Desain e. Pemanfaatan Produk d. Dari tahapan Pasca Penandatanganan Kontrak yang terpenting adalah poin 2) item b) Pemeriksaan Bersama. Ada dua tahap awal yang dapat digunakan salah satunya dalam kegiatan pemeriksaan Bersama untuk menjamin pelaksanaan konstruksi sesuai waktu, Biaya dan mutu atau kesesuaian spesifikasi teknis yang diajukan dalam penawaran atau kontrak, yaitu; 1. MC 0 (Mobilisasi Awal) merupakan kegiatan awal pelaksanaan proyek konstruksi, yang meliputi penyiapan dan pengadaan sumber daya manusia, peralatan dan material yang diperlukan untuk memulai proyek. Kegiatan MC 0 dilakukan sebagai bagian dari persiapan konstruksi proyek konstruksi. Pada pelaksanaan proyek perlu diperhatikan penetapan strategi dalam pelaksanaan pekerjaan proyek agar dapat mencapai keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa merusak kualitas bangunan yang dikerjakan. Selain itu, pengawasan dan pengendalian yang baik juga diperlukan agar pengerjaan proyek tidak sesat. Akuntansi keuangan juga harus dipelihara dengan baik untuk memastikan keakuratan laporan keuangan dan menghindari kerugian. Tahapan proyek konstruksi meliputi perencanaan proyek, desain dan perencanaan, pemilihan metode pelaksanaan yang tepat, persiapan kontrak konstruksi, konstruksi dan penyelesaian proyek. Kegiatan MC 0 dilakukan sebagai bagian dari tahap persiapan pra konstruksi untuk memastikan semua sumber daya yang MANAJEMEN PROYEK 29 diperlukan untuk meluncurkan proyek tersedia dan beroperasi. 2. Kickoff meeting merupakan pertemuan resmi di awal proyek pembangunan. Pertemuan ini dihadiri oleh para pihak proyek, baik pemilik proyek maupun pelaksana proyek serta pihak-pihak potensial lainnya. Pada kickoff meeting, jadwal pertemuan harus dipresentasikan kepada para peserta sebelum pertemuan agar anggota tim dapat terbiasa dengan pertemuan tersebut. Kick-off meeting berlangsung sebagai bagian dari persiapan proyek konstruksi. Pra-konstruksi melibatkan beberapa langkah, termasuk perencanaan dan desain proyek, pemilihan metode implementasi yang tepat, dan persiapan kontrak konstruksi. Kick-off meeting diadakan untuk memastikan bahwa semua pemangku kepentingan proyek memiliki pemahaman yang sama tentang tujuan, waktu dan tanggung jawab masing-masing proyek konstruksi. 2. Tahap Penentuan Metode Pelaksanaan Proyek Tahap penentuan metode pelaksanaan proyek konstruksi merupakan tahap awal dalam pelaksanaan proyek konstruksi. Tahap ini meliputi pemilihan alternatif metode kerja dengan menentukan perencanaan dan pelaksanaan konstruksi yang tepat. Penentuan metode pelaksanaan konstruksi sangat terkait erat dengan kondisi lapangan, juga tergantung pada jenis konstruksi yang akan dibangun. Selain itu, pada tahap ini juga dilakukan tahap perencanaan dan perancangan, serta pengumpulan informasi area pekerjaan sehingga dapat menerapkan metode pelaksanaan yang tepat. Saat menentukan metode pelaksanaan proyek konstruksi, beberapa faktor harus dipertimbangkan meliputi spesifikasi pekerjaan, kondisi lapangan dimana proyek konstruksi dilakukan, jenis konstruksi, waktu penyelesaian proyek, dan sumber daya yang tersedia. Selain itu, biaya, keamanan, kualitas dan lingkungan juga harus diperhatikan. Tahapan MANAJEMEN PROYEK 30 menentukan metode pelaksanaan yang tepat, dalam satu item pekerjaan harus memuat; a. Spesifikasi teknis item pekerjaan b. Item pekerjaan c. Volume pekerjaan d. Bahan yang digunakan e. Alat yang digunakan f. Personal yang digunakan (Ahli dan Terampil) g. Jadwal pekerjaan (durasi pelaksanaan peritem pekerjaan) h. Uraian pekerjaan berdasarkan poin 1 s.d 7, sehingga uraian metode dapat menggambarkan tahapan metode pelaksanaan detail terperinci diajukan metode secara manual (tenaga manusia) atau mekanis (menggunakan alat bantu/ berat) dan atau gabungan antara metode manual + mekanis. Ini berlaku untuk setiap item pekerjaan yang ditawar sesuai dokumen lelang proyek. 3. Tahap Perubahan Lingkup Kerja Dan Klaim Berdasarkan pertimbangan efisiensi, ekonomis dan kelengkapan hasil, pengguna produk dapat melakukan perubahan sesuai kesepakatan dengan rekanan, sepanjang tidak menurunkan kualitas, dengan mempertimbangkan ketersediaan anggaran. dan paling tinggi 10% (sepuluh persen) dari biaya kontrak. Merujuk sesuai Keppres Nomor 80 Tahun 2003. Masalah yang umum dihadapi dalam penyelenggaraan proyek kecuali change order (CO, perubahan lingkup) juga back chard dan klaim. Persamaan antara klaim dan CO adalah keduanya terjadi setelah kontrak ditandatangani. Perbedaannya adalah, dalam klaim subjek yang menjadi persoalan telah terjadi (after the fact), sedangkan dalam change meskipun lingkupnya telah diketahui tetapi belum terjadi. MANAJEMEN PROYEK 31 a. Change Order 1. Pengertian Yang dimaksud dengan change order (CO) adalah perubahan lingkup proyek setelah kontrak ditandatangani. Hal ini mengindikasikan seolah-olah kurang baiknya perencanaan dan kurang tepatnya usaha mengantisipasi berbagai faktor dan permasalahan teknis maupun komersial. Perubahan lingkup proyek dimungkinkan oleh berbagai sebab, diantaranya yang sering terjadi adalah: a. adanya informasi baru mengenai spesifikasi atau kriteria desain engineering. Pemilik bermaksud memasukkan hal tersebut karena ingin mengikuti kemajuan teknologi. b. diminta oleh calon organisasi operasi pada saat akhir proyek sewaktu prakomisi. c. perubahan karena terungkapnya kondisi baru yang berbeda dengan hasil- hasil pengkajian terdahulu.Kurang jelasnya pasal-pasal kontrak, sehingga menimbulkan interpretasi yang berlainan antara kontraktor dan pemilik. d. Keinginan mempercepat jadwal. Adanya kondisi baru mengenai kebutuhan untuk mempercepat penggunaan hasil proyek. Di dunia usaha misalnya adanya kebutuhan untuk segera masuk pasar. 2. Proses Change Order Perubahan ruang lingkup pekerjaan memerlukan persiapan yang matang, dimulai dengan apakah perubahan itu perlu dan bagaimana perubahan itu akan mempengaruhi biaya dan jadwal. Kebutuhan untuk mengubah ruang lingkup pekerjaan dapat berasal dari pemilik atau kontraktor/mitra. Semakin jauh kemajuan proyek, semakin besar dampaknya terhadap jadwal dan biaya dibandingkan dengan perubahan sebelumnya. Pemecahan ini membutuhkan MANAJEMEN PROYEK 32 pemikiran bersama konsultan. antara pemilik, kontraktor dan Langkah-langkah Proses Change Order meliputi: a. Evaluasi mendalam tentang perlunya perubahan lingkup kerja. b. Mengkaji dampak yang diakibatkan oleh adanya perubahan lingkup kerja dalam aspek biaya dan jadwal. c. Persetujuan. d. Mengadakan kegiatan tindak lanjut berupa pengawasan dan laporan khusus untuk meyakinkan bahwa perubahan lingkup kerja dijalankan dengan baik. 3. Adendum Untuk memperhitungkan perubahan ruang lingkup pekerjaan, kontrak biasanya mencakup perubahan ruang lingkup pekerjaan. Pengguna dapat mengubah ruang lingkup umum kapan saja dengan instruksi tertulis kepada rekanan. Jika perubahan tersebut mengakibatkan perubahan harga kontrak atau jadwal pengiriman atau keduanya, maka harus dilakukan amandemen kontrak (contract amandemen). b. Klaim Klaim dapat dianggap sebagai klaim atas uang atau penggantian biaya atau klaim program non-kontraktual. Dalam lingkungan proyek, persyaratan tidak asing, tetapi dapat berasal dari pemilik, penyedia layanan, atau pemasok. Meskipun terdapat pasal dalam kontrak yang mengatur tata cara penyelesaian tuntutan melalui arbitrase atau pengadilan, hal ini jarang dicari dan lebih diutamakan penyelesaian melalui perundingan. MANAJEMEN PROYEK 33 Kesamaan antara klaim dan PPK adalah keduanya muncul setelah kontrak ditandatangani. Perbedaannya terletak pada pernyataan bahwa subjek terjadi (setelah fakta), sedangkan pada perubahannya, meskipun diketahui luasnya, tetapi tidak terjadi. 1. Penyebab Penyebab timbulnya klaim yang sering terjadi adalah sebagai berikut: a. Material atau peralatan yang cacat. b. Hasil Kerja di bawah standar. c. Perubahan Peraturan yang tidak diduga. d. Pasal-pasal kontrak yang tidak jelas. e. Kondisi lapangan yang berbeda. 2. Proses Menangani Klaim Proses menangani klaim oleh pemilik ditekankan kepada mengkaji alasan klaim yang diajukan, dan bila terdapat cukup alasan, besarnya kompensasi yang akan diberikan didasarkan atas: a. Mencari fakta yang sesungguhnya telah terjadi. b. Mengkaji hubungan klaim dengan kontrak. c. Memperkirakan biaya kompensasi. d. Negosiasi. Mencari fakta apa yang sesungguhnya telah terjadi akan dipermudah bila proyek mempunyai catatan terinci tentang kemajuan kegiatan selama implementasi fisik. Dari sini digali fakta apa yang telah terjadi, kemudian menghubungkannya dengan pasal-pasal di dalam kontrak, betulkah pekerjaan tersebut di luar lingkup kerja yang tercantum dalam kontrak. Adapun perkiraan kompensasi sebagai dasar negosiasi didekati dengan menganalisis biaya tambahan yang timbul, seandainya lingkup pekerjaan yang diklaim MANAJEMEN PROYEK 34 tersebut dikerjakan secara normal. Disini tidak diperhitungkan pengeluaran tambahan overhead atau bunga. Tentu saja akan menjadi lain pertimbangannya, kalau klaim tersebut meliputi pekerjaan dengan biaya yang besar dan memakan waktu lama. Setelah dicapai kesepakatan oleh kedua belah pihak kemudian diterbitkan surat- surat atau dokumen seperti proses change order. 4. Tahap Pelaporan/ Pengakhiran a. Pengertian Laporan kinerja yang paling umum adalah laporan status atau laporan kemajuan. Frekuensi, konten, dan format laporan bervariasi dari organisasi ke organisasi, tetapi semuanya dirancang untuk memastikan bahwa setiap orang yang terlibat dalam proyek memahami kemajuan proyek. Laporan berkala merupakan bagian dari upaya untuk secara terus menerus dan terus menerus memonitor dan mengontrol berbagai aspek pelaksanaan proyek, harian, mingguan, bulanan, final. Secara umum, laporan harus singkat, berisi fakta yang relevan, menyajikan fakta dan tepat waktu. Laporan sebagai salah satu alat manjemen yang mempunyai fungsi-fungsi sebagai berikut: 1. Pertanggungjawaban (Accountability) 2. Pengawasan (Control) 3. Penyampaian informasi 4. Alat/bahan pengambil keputusan b. Metode Penyajian Pada rapat berkala untuk memantau dan mengendalikan proyek, metode penyajian yang dapat segera mengetengahkan status pekerjaan adalah dengan grafik kecenderungan (trending MANAJEMEN PROYEK 35 curves). Pada grafik kecenderungan dapat diikuti arah kemajuan suatu kegiatan dari sesuai jadwal pada kontrak kerja. Dengan grafik ini akan terlihat varian prestasi atau varian kinerja antara perencanaan dan kenyataan implementasinya. Juga dapat dipakai untuk memperkirakan proyeksi keadaan akhir proyek bila kecenderungan yang terungkap pada saat pelaporan tidak mengalami perubahan. Laporan merupakan laporan keseluruhan kegiatan baik hasil lapangan maupun analisisnya serta rekomendasi untuk kegiatan berikutnya. MANAJEMEN PROYEK 36 BAGIAN 4 TAHAP PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN PROYEK A. PROSES MANAJEMEN PROYEK Proyek berkaitan dengan kegiatan yang dilakukan untuk menciptakan produk spesifik yang memiliki awal dan akhir yang pasti. Proyek akan berakhir ketika tujuan proyek telah tercapai atau ketika proyek dihentikan karena tujuannya tidak dapat dipenuhi, atau ketika kebutuhan untuk proyek tidak ada lagi. Sebuah proyek dapat dihentikan jika klien yang antara lain terdiri atas pelanggan, sponsor, investor, individual/ organisasi pemberi proyek ingin menghentikan proyek (Heizer et al., 2020). Manajemen proyek berkaitan dengan pengelolaan kegiatan proyek secara efektif dan efisien melalui penerapan pengetahuan, keterampilan, alat, dan sejumlah teknik untuk memenuhi persyaratan proyek. Proses manajemen proyek terdiri atas lima tahap yaitu: (1) memulai proyek (initiating), (2) merencanakan (planning), (3) melaksanakan (executing), (4) pengawasan dan pengendalian (monitoring and controlling), dan (5) menutup/ mengakhiri proyek (closing). Penerapan proses manajemen proyek bersifat iteratif, dan banyak proses yang berulang selama proyek berlangsung. Sifat integratif dari manajemen proyek membutuhkan proses pengawasan dan pengendalian yang terhubung dengan proses-proses lainnya (Project Management Institute, 2013). Secara skematis, proses manajemen proyek disajikan pada gambar berikut. MANAJEMEN PROYEK 37 Gambar 4.1. Proses Manajemen Proyek Menurut Suharto (1999), proses manajemen proyek terdiri atas tiga tahapan, yakni: (1) Tahap perencanaan, (2) Tahap implementasi, dan (3) Tahap pengendalian. Proses manajemen proyek diawali dengan kegiatan perencanaan, kemudian dilanjutkan dengan implementasi yang dikuti dengan langkah-langkah pengendalian, dan diakhiri dengan tindakan pembetulan atau koreksi jika diperlukan. Oleh karena itu, keterkaitan antara kegiatan perencanaan, implementasi, dan pengendalian dalam suatu penyelenggaraan proyek sangatlah erat dan utuh. B. PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN PROYEK Pengawasan dan pengendalian proyek adalah proses kegiatan dalam melacak, meninjau, dan melaporkan kemajuan proyek untuk memenuhi tujuan yang ditetapkan dalam rencana manajemen proyek. Manfaat utama dari proses ini adalah memungkinkan pemangku kepentingan untuk memahami keadaan proyek yang sedang berjalan saat ini, langkah-langkah yang akan diambil, anggaran, jadwal, dan ruang lingkup pekerjaan. Kegiatan pengawasan merupakan aspek manajemen proyek yang dilakukan selama proyek berlangsung. Kegiatan ini meliputi MANAJEMEN PROYEK 38 pengumpulan data, pengukuran, dan pendistribusian informasi tentang capaian kinerja proyek, dan proses perbaikan. Pengawasan berkelanjutan dapat memberi tim manajemen proyek suatu wawasan tentang kesehatan proyek dan hasil identifikasi area yang mungkin memerlukan perhatian khusus. Sementara itu, kegiatan pengendalian mencakup penentuan tindakan perbaikan, pencegahan, atau perencanaan ulang, dan tindak lanjut rencana tindakan untuk menentukan apakah tindakan yang diambil dapat menyelesaikan masalah kinerja proyek. Proses pengendalian dalam manajemen proyek terdiri dari beberapa langkah kegiatan strategis yang dilakukan secara sistematis, yakni: 1. Menentukan sasaran; sasaran pokok proyek adalah menghasilkan produk atau instalasi dengan batasan lingkup anggaran, jadwal, dan mutu yang telah ditentukan. Sasaran ini dihasilkan dari satu perencanaan dasar dan menjadi salah satu faktor pertimbangan utama dalam mengambil keputusan untuk melakukan investasi atau membangun proyek, sehingga sasaran-sasaran tersebut merupakan tonggak tujuan dari kegiatan pengendalian. 2. Menentukan standar dan kriteria sebagai patokan dalam rangka mencapai sasaran; dalam usaha mencapai sasaran secara efektif dan efisien, maka perlu disusun suatu standar, kriteria atau spesifikasi yang dipakai sebagai tolok ukur untuk membandingkan dan menganalisis hasil pekerjaan. Standar, kriteria, dan patokan yang dipilih dan ditentukan harus bersifat kuantitatif, demikian pula metode pengukuran dan perhitungannya harus dapat memberikan indikasi terhadap pencapaian sasaran. Oleh karena itu, terdapat bermacam macam standar dan kriteria, di antaranya adalah sebagai berikut: (1) berupa satuan uang, seperti anggaran per satuan unit pekerjaan (SRK), anggaran pekerjaan per-unit/jam, penyewaan alat per-unit/jam, biaya angkutan per-ton/km, (2) berupa jadwal, misalnya waktu yang ditentukan untuk mencapai milestone proyek, (3) berupa unit pekerjaan yang berhasil MANAJEMEN PROYEK 39 diselesaikan, dan (4) berupa standar mutu, kriteria, dan spesifikasi, misalnya yang berhubungan dengan kualitas material dan hasil uji coba peralatan proyek. 3. Merancang/menyusun sistem informasi, pemantauan, dan pelaporan hasil pelaksanaan pekerjaan; satu hal yang perlu ditekankan dalam proses pengendalian proyek adalah perlunya suatu sistem informasi dan pengumpulan data yang mampu memberikan keterangan yang tepat, cepat, dan akurat. Suatu perangkat sistem informasi manajemen proyek biasanya digunakan oleh pengelola proyek. Project management information system (SIMP) merupakan suatu sistem aplikasi komputer yang dapat mengumpulkan, menganalisis, menyimpan data, dan memprosesnya menjadi informasi yang diperlukan oleh manajemen. Data dan informasi yang dihasilkan akan sangat membantu proses pengendalian proyek. 4. Mengumpulkan data informasi hasil implementasi; pada akhir suatu kurun waktu yang telah ditentukan, diadakan pelaporan dan pemeriksaan, pengukuran dan pengumpulan data serta informasi hasil pelaksanaan pekerjaan. Agar memperoleh gambaran yang realistis, pelaporan sejauh mungkin didasarkan atas pengukuran penyelesaian fisik pekerjaan, misalnya dalam meter pipa yang telah terpasang, banyaknya gambar konstruksi yang telah diselesaikan, meter kubik pengerukan pelabuhan yang telah terlaksana, dan lain sebagainya. 5. Mengkaji dan menganalisis hasil pekerjaan terhadap standar, kriteria, dan sasaran yang telah ditentukan. Pada bagian ini diadakan analisis atas indikator yang diperoleh dan mencoba membandingkan dengan kriteria dan standar yang ditentukan. Hasil analisis ini penting karena akan digunakan sebagai landasan dan dasar tindakan pembetulan. Oleh karena itu, metode yang MANAJEMEN PROYEK 40 digunakan harus tepat dan peka terhadap adanya kemungkinan penyimpangan dalam pelaksanaan proyek. 6. Mengadakan tindakan pembetulan; apabila hasil analisis menunjukkan adanya indikasi penyimpangan yang cukup berarti, maka perlu diadakan langkah-langkah pembetulan. Tindakan pembetulan dapat berupa: (1) re-alokasi sumberdaya, misalnya memindahkan peralatan, tenaga kerja dan kegiatan pembangunan fasilitas pembantu untuk dipusatkan ke kegiatan konstruksi instalasi dalam rangka mengejar jadwal produksi, (2) menambah tenaga kerja dan pengawasan serta biaya dari kontinjensi, (c) mengubah metode, cara, dan prosedur kerja, atau mengganti peralatan yang digunakan. Hasil analisis dan pembetulan akan berguna sebagai umpan balik perencanaan pekerjaan selanjutnya dalam rangka mengusahakan tetap tercapainya sasaran proyek sebagaimana telah ditetapkan sebelumnya (Suharto, 1999). Menurut Santosa (2008), secara umum ada tiga langkah pokok dalam proses pengendalian proyek, yaitu: 1. Menentukan standar kinerja proyek yang akan dikendalikan. Standar ini bisa berupa spesifikasi teknis, biaya yang dianggarkan, jadwal, dan kebutuhan sumberdaya termasuk sumber daya manusia. 2. Membandingkan antara kinerja aktual dan ukuran kinerja standar hasil pekerjaan dan pengeluaran yang sudah terjadi dibandingkan dengan jadwal, biaya dan spesifikasi kinerja yang telah direncanakan. 3. Melakukan tindakan koreksi atau pembetulan, jika kinerja aktual secara signifikan menyimpang dari apa-apa yang direncanakan, maka tindakan koreksi perlu dilakukan. Tindakan koreksi bisa berupa perubahan pekerjaan, standar dan rencana diubah atau penambahan sumberdaya yang digunakan dalam proyek. MANAJEMEN PROYEK 41 Pengawasan dan pengendalian proyek harus dilakukan secara terpadu agar memperoleh kinerja yang lebih baik. Melalui konsep integrated change control maka proses perubahan dapat mengurangi risiko proyek yang sering muncul dari perubahan yang dilakukan karena tidak mempertimbangkan rencana dan tujuan proyek secara keseluruhan. Secara skematis, diagram alir proses integrated change control terdiri atas inputs, peralatan dan teknik, dan outputs sebagaimana dapat disajikan pada gambar berikut. Gambar 4.2. Pengendalian Perubahan Terintegrasi (Inputs, Tools, and Output) C. OBJEK PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN PROYEK Secara umum obyek kegiatan pengawasan, dan pengendalian proyek terdiri atas empat area, yaitu: (1) pengendalian lingkup kegiatan, (2) pengendalian biaya, (3) pengendalian jadwal, dan (4) pengendalian mutu. Pengendalian lingkup fokus pada masalah terpenuhinya "deliverable" sesuai dengan definisi dan integritas lingkup pekerjaaan proyek yang telah dicantumkan dalam kontrak. Bila terjadi perubahan lingkup yang tidak dapat dihindari, maka pengendalian perlu dilaksanakan sesuai prosedur yang berlaku. Pengendalian biaya fokus pada faktor kuantitas dan harga satuan komponen biaya. Demikian pula mengenai pemilihan waktu (timing) suatu ikatan pembelian (commitment), karena faktor-faktor tersebut sering MANAJEMEN PROYEK 42 menjadi sumber terjadinya varians biaya. Adapun komponen biaya tersebut antara lain terdiri dari biaya kantor pusat, pengadaan material dan peralatan, dan biaya lapangan dengan kegiatan utama. Pengendalian jadwal fokus pada: (1) Bagi pemilik proyek, tercapainya sasaran seperti tercantum pada jadwal induk, dan (2) Bagi kontraktor, tercapainya sasaran seperti yang tercantum pada kontrak. Pengendalian mutu meliputi kegiatan yang berkaitan dengan pemantauan apakah proses dan hasil kerja tertentu proyek tersebut memenuhi standar mutu, serta identifikasi sejumlah cara untuk mencegah terjadinya hasil yang tidak memuaskan (Suharto, 1999; Ervianto, 2009). Selanjutnya, Project Management Institute (PMI) mengemukakan delapan area pengawasan dan pengendalian dalam manajemen proyek yaitu: (1) Pengendalian lingkup (scope control), (2) Pengendalian jadwal (schedule control), (3) Pengendalian biaya (cost control), (4) Pengendalian mutu (quality control), (5) Pengendalian komunikasi (communication control), (6) Pengendalian risiko (risk control), (7) Pengendalian pengadaan (control procurement), dan (8) Pengendalian hubungan pemangku kepentingan (stakeholders engagement control). 1. Pengendalian lingkup (scope control); Pengendalian lingkup adalah proses pemantauan status proyek dan ruang lingkup serta pengelolaan perubahan ruang lingkup dasar proyek. Manfaat utama dari proses ini adalah memungkinkan ruang lingkup dasar proyek dipertahankan secara keseluruhan. Pengendalian ini juga digunakan untuk mengelola perubahan aktual ketika terjadi, dan terintegrasi dengan proses kontrol lainnya dalam proyek. Perubahan tidak bisa dihindari dalam suatu proyek, oleh karena itu beberapa jenis proses pengendalian terhadap perubahan ruang lingkup proyek menjadi sesuatu yang wajib dilakukan pada setiap proyek. MANAJEMEN PROYEK 43 2. Pengendalian jadwal (schedule control); Pengendalian jadwal adalah proses pemantauan status kegiatan proyek untuk memperbarui kemajuan proyek dan mengelola perubahan pada baseline jadwal untuk mencapai tujuan sesuai dengan rencana. Manfaat utama dari proses ini adalah menyediakan sarana untuk mengenali penyimpangan dari rencana dan mengambil tindakan korektif, dan pencegahan agar proyek berjalan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Pengendalian jadwal sebagai bagian dari pengendalian perubahan yang terintegrasi berkaitan dengan beberapa kegiatan penting yaitu: (1) menentukan status terkini dari jadwal proyek, (2) mempengaruhi faktor yang membuat perubahan jadwal, (3) menentukan apakah jadwal proyek telah berubah, dan (4) mengelola perubahan aktual saat terjadi. 3. Pengendalian biaya (cost control); Pengendalian biaya adalah proses pemantauan status proyek untuk memperbarui biaya proyek dan mengelola perubahan biaya dasar. Manfaat utama dari proses ini adalah untuk menyediakan sarana untuk mengenali varians atau penyimpangan dari rencana untuk mengambil tindakan korektif dan meminimalkan risiko. 4. Pengendalian mutu (quality control); Pengendalian mutu adalah proses pemantauan dan pencatatan mutu hasil pelaksanaan kegiatan, mutu kinerja dan merekomendasikan perubahan yang diperlukan. Manfaat utama dari proses ini meliputi: (1) mengidentifikasi penyebab kualitas proses atau produk yang buruk, dan merekomendasikan dan/atau mengambil tindakan untuk menghilangkannya; dan (2) memvalidasi bahwa hasil proyek dan pekerjaan telah memenuhi persyaratan yang mutu yang telah ditentukan oleh pemangku kepentingan, atau pemberi proyek. 5. Pengendalian komunikasi (communication control); Pengendalian komunikasi adalah proses pemantauan dan pengendalian MANAJEMEN PROYEK 44 komunikasi pada keseluruhan siklus hidup proyek untuk memastikan kebutuhan informasi dari pemangku kepentingan proyek terpenuhi. Manfaat utama dari proses ini adalah memastikan aliran informasi yang optimal di antara semua pemangku kepentingan, dan tersedia setiap saat. 6. Pengendalian risiko (risk control); Pengendalian risiko adalah proses penerapan rencana respons terhadap risiko, pelacakan risiko yang teridentifikasi, pemantauan residu risiko, identifikasi risiko baru, dan evaluasi efektivitas proses risiko di seluruh proyek. Manfaat utama dari proses ini adalah meningkatkan efisiensi pendekatan risiko sepanjang siklus hidup proyek untuk terus menerus mengoptimalkan respons terhadap risiko proyek. 7. Pengendalian pengadaan (procurements control); Pengendalian pengadaan adalah proses mengelola hubungan pengadaan, memantau kinerja kontrak, dan membuat perubahan dan koreksi pada kontrak pengadaan yang sesuai. Manfaat utama dari proses ini adalah memastikan bahwa kinerja penjual dan pembeli memenuhi persyaratan pengadaan sesuai dengan ketentuan hukum perjanjian. 8. Pengendalian pelibatan pemangku kepentingan (stakeholders engagement control); Pengendalian pelibatan pemangku kepentingan dalam proyek adalah proses pemantauan hubungan pelaksana proyek dengan pemangku kepentingan proyek secara keseluruhan dan proses penyesuaian strategi dan rencana untuk melibatkan pemangku kepentingan dalam kegiatan proyek. Manfaat utama dari proses ini adalah mempertahankan dan meningkatkan efisiensi serta efektivitas kegiatan hubungan dengan pemangku kepentingan sejalan dengan perkembangan kegiatan pelaksanaan proyek, termasuk keterikatannya dengan lingkungan, dimana kegiatan proyek dilaksanakan. MANAJEMEN PROYEK 45 D. KARAKTERISTIK PENGENDALIAN PROYEK YANG EFEKTIF Kegiatan pengawasan dan pengendalian proyek yang efektif mempunyai karakteristik sebagai berikut: 1. Pengendalian harus tepat waktu dan peka terhadap penyimpangan; dimana metode atau cara yang digunakan harus cukup peka. Sehingga dapat diketahui adanya penyimpangan selagi masih awal kegiatan. Dengan demikian, dapat diadakan koreksi secara cepat dan tepat sebelum persoalan berkembang menjadi besar sehingga sulit untuk diadakan perbaikan kemudian. 2. Pengendalian harus dalam bentuk tindakan yang diadakan secara tepat dan benar; dimana untuk maksud ini diperlukan kemampuan dan kecakapan menganalisis indikator secara akurat dan objektif yang terpusat pada masalah atau titik persoalan yang sifatnya strategis, yang dilihat dari segi penyelenggaraan proyek. Oleh karena itu, diperlukan kecakapan memilih titik atau masalah yang strategis agar penggunaan waktu dan tenaga dapat lebih efisien. 3. Pengendalian harus mampu menyajikan dan mengkomunikasikan masalah dan penemuan, sehingga dapat menarik perhatian pihak manajemen maupun pelaksana proyek yang bersangkutan, agar tindakan koreksi yang diperlukan segera dapat dilaksanakan. 4. Pengendalian tidak lebih dari yang apa yang diperlukan. Biaya yang dipakai untuk kegiatan pengendalian tidak boleh melampaui manfaat atau hasil dari kegiatan tersebut. Diakui bahwa banyak hal yang sulit untuk mengukur hasil pengendaliannya secara kuantitatif, tetapi yang ingin ditekankan di sini adalah bahwa dalam merencanakan suatu pengendalian perlu dikaji dan dibandingkan dengan hasil yang akan diperoleh. 5. Pengendalian harus dapat memberikan petunjuk berupa prakiraan hasil pekerjaan yang akan datang, jika pada saat pengecekan tidak MANAJEMEN PROYEK 46 mengalami perubahan. Petunjuk ini sangat diperlukan bagi pengelola proyek untuk menentukan langkah penyelenggaraan berikutnya. Selanjutnya, pengawasan dan pengendalian akan lengkap bila dapat memberikan usulan tindakan-tindakan pembetulan yang diperlukan dengan melibatkan biaya dan tenaga yang minimal, atau dengan kata lain kegiatan pengawasan dan pengendalian proyek menggunakan sumber daya yang optimal (Suharto, 1999). MANAJEMEN PROYEK 47 BAGIAN 5 MANAJEMEN STAKEHOLDER DALAM PROYEK A. PENGERTIAN STAKEHOLDER PROYEK Kemampuan mengelola stakeholder proyek sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan proyek, karena stakeholder proyek sangat mempengaruhi jalannya pengerjaan aktivitas dan proses administrasi proyek itu sendiri. Keterlibatan stakeholder secara umum dimulai dari proses pendefinisian ruang lingkup proyek, manajemen waktu pelaksanaan proyek, manajemen risiko proyek sampai dengan penerimaan hasil atau produk dari proyek itu sendiri. Seorang Manajer Proyek dan anggota proyek diharapkan dapat berkomunikasi dengan baik dengan para stakeholder proyek sehingga bisa memenuhi semua ekspektasi dan kebutuhan stakeholder terhadap proyek itu sendiri. Stakeholder dalam suatu proyek adalah pihak-pihak (baik perorangan, group maupun secara kelembagaan atau organisasi) yang akan mempengaruhi, dipengaruhi atau menganggap dirinya bisa mempengaruhi atau dipengaruhi secara langsung atau tidak langsung oleh keberadaan suatu proyek. Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa individu, group individu atau organisasi ini dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh aktivitas, keputusan ataupun hasil dari pelaksanaan proyek yang dimaksud. Untuk lebih mudah, kita dapat melihat ilustrasikan stakeholder dalam gambar berikut ini: MANAJEMEN PROYEK 48 Stakeholder Proyek Customer Business Partner Proyek Manajer Fungsional PMO Operation Mgmt Sponsor and Steering Committee Proyek Tim Proyek Manajer Proyek Anggota Tim Proyek Anggota Tim Proyek lainnya Program Portfolio Gambar 5.1. List Stakeholder Proyek Di dalam proyek itu sendiri, terdapat tim proyek dan sponsor proyek yang merupakan komponen-komponen utama dari stakeholder proyek itu sendiri. Tim proyek terdiri dari manajer proyek itu sendiri, anggota tim proyek yaitu orang-orang yang akan dikontrol/dimanajemen oleh manajer proyek dalam eksekusi proyek dari awal hingga akhir, dan anggota tim proyek lainnya yang tidak dikontrol/di-manajemen oleh manajer proyek tapi berkontribusi secara langsung untuk eksekusi aktivitas-aktivitas proyek seperti misalnya tim procurement/purchasing. Sponsor proyek adalah pihak yang memberikan otorisasi keberadaan proyek itu sendiri dan biasanya juga adalah pihak yang memberikan pendanaan terhadap proyek itu sendiri. Steering Committee Proyek biasanya terdiri dari sponsor proyek dan para petinggi organisasi dimana proyek itu dilaksanakan. Biasanya steering committee ini terdiri dari para direktur atau pimpinan dari organisasi/perusahaan yang akan mengeksekusi proyek tersebut. Selain pihak-pihak di dalam eksekusi proyek itu sendiri, terdapat pihak-pihak lain, seperti yang ditunjukkan pada gambar sebelumnya, sebagai berikut: 1. Customer/Pelanggan adalah pihak yang akan menggunakan produk atau hasil dari proyek yang dimaksud. Jika proyek adalah MANAJEMEN PROYEK 49 proyek internal, makan pelanggan yang dimaksud disini adalah para pengguna (user) dari produk atau hasil proyek itu sendiri. 2. Business Partner adalah pihak luar yang menjadi partner pihak pelaksana proyek dalam menjalan proyek. Misalnya adalah pihak eksternal (yang biasanya dilakukan melalui proses procurement) untuk melaksanakan satu atau lebih aktivas dari proyek itu. Bisanya hubungan nya adalah hubungan B2B (Business to Business). 3. Manajer Fungsional adalah manajer atau pihak internal lain di dalam organisasi yang sama dengan pelaksana proyek tapi tidak merupakan bagian dari tim pelaksana proyek yang dibutuhkan perannya untuk keberlangsungan pelaksanaan proyek dengan baik. Misalnya manajer “General Affair” yang akan membantu memfasilitasi penggunaan/peminjaman mobil untuk tim proyek. 4. PMO (Project Management Office) adalah suatu bagian dari organisasi atau perusahaan yang berfungsi untuk membantu tim proyek dalam pelaksanaan proyek, mulai dari pembuatan aturan main pelaksanaan proyek, penyediaan template-template dokumen proyek, pelatihan-pelatihan mengenai manajemen proyek sampai dengan membantu proses eskalasi yang dibutuhkan oleh tim proyek ke manajemen. 5. Operation Management (Manajemen Operasi) adalah bagian operasional dari organisasi/perusahaan yang menjalankan fungsi operasional perusahaan yang biasanya bersifat rutin dan dilakukan dengan proses pelaksanaan yang sama secara berulangulang. Dalam pelaksanaan proyek yang sifatnya internal, pihak operasional lah yang biasanya menjadi pengguna dari hasil atau produk dari proyek yang dilaksanakan. 6. Program dan Portofolio Perusahaan. Program adalah kumpulan dari beberapa proyek yang saling berhubungan dan akan MANAJEMEN PROYEK 50 memberikan keuntungan tertentu kepada perusahaan. Sementara Portfolio adalah gabungan dari program, project dan aktivitas operasional dari perusahaan yang merupakan perwujudan dari usaha perusahaan atau organisasi secara keseluruhan untuk mencapai tujuannya. Pihak-pihak yang termasuk di program dan portfolio ini biasanya adalah level Senior Vice President dan Direktur Perusahaan. Tentu masih banyak lagi stakeholder-stakeholder yang mungkin tidak bisa terdefinisikan di kategori-kategori di atas, tapi secara umum kita bisa identifikasi seperti di atas sesuai dengan pengertian dari stakeholder itu sendiri, yaitu pihak-pihak (baik perorangan, group maupun secara kelembagaan atau organisasi) yang akan mempengaruhi, dipengaruhi atau menganggap dirinya bisa mempengaruhi atau dipengaruhi secara langsung atau tidak langsung oleh keberadaan suatu proyek. B. IDENTIFIKASI STAKEHOLDER PROYEK Salah satu langkah yang paling penting dalam mengelola stakeholder proyek adalah mengidentifikasi semua stakeholder yang ada di dalam satu proyek. Identifikasi ini biasanya dilakukan di awal proyek (bahkan sebelum kita melakukan perencanaan eksekusi proyek itu sendiri) untuk memastikan kita bisa mengakomodasi semua kepentingan stakeholder terhadap proyek yang akan kita eksekusi. Proses identifikasi stakeholder proyek dilakukan dengan mengidentifikasi semua perorangan, grup atau organisasi yang bisa mempengaruhi dan terpengaruhi oleh keberadaan proyek yang akan kita eksekusi. Setelah kita mengidentifikasi para stakeholder yang dimaksud kita perlu untuk juga mengidentifikasi kebutuhan, ekspektasi, pengaruh yang dapat diberikan dan potensi dampak dari masing-masing stakeholder terhadap proyek. MANAJEMEN PROYEK 51 Setelah kita identifikasi, para stakeholder ini sangat perlu untuk kita kelompokkan untuk mempermudah proses pengelolaannya kemudian. Salah satu metode pengelompokan yang paling jamak dilakukan di hampir semua jenis proyek baik kecil atau besar, baik industri konstruksi, IT, atau pun yang lainnya adalah dengan menggunakan metode Power/Interest Grid, yang ditunjukkan pada gambar dibawah: Gambar 5.2. Pengelompokan Stakeholder proyek berdasarkan tingkat pengaruh dan ketertarikan terhadap proyek 1. Kemampuan Mempengaruhi. Stakeholder mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi proyek, baik dari sisi kekuasaan (posisi dalam organisasi), pengetahuan (terhadap ruang lingkup pekerjaan) dan proses administrasi (terhadap pencairan dana, persetujuan penerimaan hasil atau produk proyek) dan sebagainya. Pengalaman penulis dalam menjalan proyek selama lebih dari 15 tahun, banyak stakeholder yang mungkin secara kekuasaan tidak begitu kuat, tapi secara pengetahuan (karena dianggap mengetahui ruang MANAJEMEN PROYEK 52 lingkup pekerjaan) cukup baik, secara tidak langsung punya pengaruh yang kuat terhadap keberhasilan proyek itu sendiri. 2. Ketertarikan Terhadap Proyek. Setiap stakeholder punya tingkat ketertarikan terhadap proyek yang akan dieksekusi. Hal ini bisa diakibatkan karena keberhasilan proyek atau produk/hasil proyek bisa mempengaruhi pekerjaan atau tanggung jawab stakeholder yang dimaksud. Bisa juga diakibatkan ketertarikan stakeholder secara pribadi terhadap proyek walaupun tidak mempengaruhi secara signifikan terhadap pekerjaan stakeholder tersebut. Untuk stakeholder yang mempunyai pengaruh dan ketertarikan yang cukup tinggi, maka stakeholder dengan kelompok ini harus benarbenar dilibatkan secara aktif dalam proses pelaksanaan proyek, karena mereka bisa dengan mudah mempengaruhi proses pelaksanaan proyek itu sendiri. Untuk stakeholder yang mempunyai pengaruh cukup tinggi tapi tidak menunjukkan ketertarikan terhadap proyek itu sendiri, tetap harus kita berikan kepuasan, dengan tetap menjaga kepuasannya terhadap pelaksanaan proyek. Hal ini bisa dilakukan dengan secara berkala melakukan komunikasi mengenai perkembangan proyek dan menanyakan apakah ada hal-hal yang mungkin ingin disampaikan dari stakeholder yang dimaksud. Untuk stakeholder yang mempunyai ketertarikan yang tinggi terhadap proyek walau cenderung tidak bisa mempengaruhi proyek dengan mudah, tetap harus kita kelola dengan baik dengan cara tetap memberikan informasi perkembangan proyek secara berkala, sehingga stakeholder yang dimaksud bisa mengikuti perkembangan pelaksanaan proyek secara terus menerus. MANAJEMEN PROYEK 53 Untuk stakeholder yang tidak mempunyai ketertarikan dan cenderung tidak bisa mempengaruhi proyek dengan mudah, tetap kita harus awasi dengan baik. Pengalaman penulis, seiring dengan pelaksanaan proyek, satu stakeholder bisa berpindah dari satu kelompok ke kelompok yang lain. Hal ini bisa diakibatkan adanya perubahan posisi dalam organisasi atau bisa jadi karena kita baru benar-benar mengidentifikasi pengaruh atau ketertarikan stakeholder yang dimaksud belakangan atau tidak pada saat proses perencanaan proyek tersebut. C. PERENCANAAN PENGELOLAAN STAKEHOLDER PROYEK Setelah proses identifikasi stakeholder dilakukan, yang kemudian kita bisa mengelompokkan para stakeholder berdasarkan tingkat pengaruh dan ketertarikannya terhadap proyek, langkah selanjutnya adalah perencanaan pengelolaan stakeholder proyek yang dimaksud. Sangat perlu untuk proyek mengidentifikasi kapan dan sejauh mana keterlibatan dari masing-masing stakeholder dalam proses pelaksanaan proyek, sehingga para stakeholder merasa puas dan tidak merasa ditinggalkan dalam pelaksanaan proyek terutama untuk stakeholder yang mempunyai tingkat pengaruh dan ketertarikan yang tinggi terhadap proyek. Pengintegrasian stakeholder yang sudah teridentifikasi dan yang mungkin akan teridentifikasi terhadap semua aktivitas proyek akan mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan proyek. Dengan integrasi ini, diharapkan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk menjaga keterlibatan stakeholder terhadap proyek dapat tetap dijaga. Misalnya, seorang stakeholder yang merupakan direktur keuangan organisasi, akan sangat perlu diinformasikan dan dilibatkan untuk setiap transaksi keuangan yang diperlukan dalam pelaksanaan proyek. Contoh lainnya, tim procurement/purchasing, perlu MANAJEMEN PROYEK 54 terinformasi kapan proses procurement terhadap jasa atau barang yang diperlukan proyek harus dimulai dan kapan jasa atau barang yang dimaksud dapat diperoleh oleh tim proyek. Rencana pengelolaan stakeholder proyek ini nantinya akan diintegrasikan (dimasukkan) ke dalam rencana proyek secara keseluruhan terutama dibagian rencana komunikasi proyek (terkait dengan proses penginformasian perkembangan pelaksanaan proyek) dan manajemen resiko proyek (untuk membantu proses eskalasi jika ada resiko atau masalah dalam proyek yang tidak bisa diselesaikan di level proyek). Tingkat detail informasi yang akan diinformasikan ke masing-masing kelompok stakeholder akan berbeda-beda, dan bisa juga didasarkan terhadap posisi dari stakeholder yang dimaksud. Sebagai contoh untuk stakeholder dengan posisi direktur, tentu informasi yang akan diinformasikan tidak se-detail informasi yang akan disampaikan ke stakeholder dengan posisi sebagai manajer. Rencana manajemen stakeholder ini tentunya akan harus terus diupdate secara terus menerus selama pelaksanaan proyek. Ada beberapa hal yang bisa menimbulkan kebutuhan pengkinian rencana manajemen stakeholder proyek, yaitu: 1. Di saat mulainya salah satu fase proyek. 2. Adanya perubahan struktur organisasi (baik di pelaksana proyek atau di sisi user proyek), atau adanya perubahan di industri dimana proyek itu dikerjakan. 3. Adanya stakeholder baru yang diidentifikasi seiring dengan pelaksanaan proyek. Bisa juga diakibatkan adanya perubahan personil yang bertanggung jawab terhadap sesuatu di dalam proyek. Misalnya adannya pergantian posisi direktur keuangan dalam suatu organisasi. 4. Adanya resiko atau masalah baru yang diidentifikasi dalam pelaksanaan proyek sehingga diperlukan keterlibatan stakeholder baru dalam mengatasinya. MANAJEMEN PROYEK 55 5. Adanya perubahan pengelompokan stakeholder. Misalnya, seseorang yang sebelumnya tidak begitu tertarik terhadap proyek, kemudian menjadi sangat tertarik dikarenakan stakeholder yang dimaksud baru menyadari dampak proyek terhadap posisi nya di organisasi. Semakin baik perencanaan stakeholder proyek akan memberikan kemampuan terhadap tim proyek dalam menjalankan proyek dengan baik. D. PENGELOLAAN KETERLIBATAN STAKEHOLDER PROYEK Proses pengelolaan keterlibatan stakeholder proyek adalah proses berkomunikasi dan bekerjasama dengan stakeholder untuk memenuhi kebutuhan dan ekspektasi dari masing-masing stakeholder sehingga tim proyek akan mendapatkan dukungan yang diharapkan serta mengurangi kemungkinan adanya resistensi dari masing-masing stakeholder. Proses pengelolaan keterlibatan stakeholder proyek dilakukan dengan: 1. Melibatkan stakeholder proyek pada tingkat yang diperlukan untuk mendapatkan, mengkonfirmasi, dan menjaga komitmen dari masing-masing stakeholder terhadap proses pelaksanaan proyek. 2. Menjaga ekspektasi stakeholder, dengan proses komunikasi perkembangan proyek dan kemungkinan untuk melakukan negosiasi yang diperlukan untuk kesuksesan proyek. 3. Mengidentifikasi kekhawatiran terkait manajemen stakeholder proyek dan mengantisipasi masalah yang mungkin akan timbul jika stakeholder merasa tidak puas terhadap perkembangan proyek. 4. Mengklarifikasi dan menyelesaikan masalah yang muncul dalam proses pelaksanaan proyek. MANAJEMEN PROYEK 56 5. Melakukan eskalasi (jika diperlukan) untuk menyelesaikan masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh tim proyek. Dengan mengelola keterlibatan stakeholder dalam proyek, diharapkan stakeholder dapat dengan jelas mengetahui tujuan, keuntungan proyek dan resiko-resiko yang mungkin terjadi selama pelaksanaan proyek. Semua stakeholder diharapkan dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap keberhasilan pelaksanaan proyek. E. PEMANTAUAN KETERLIBATAN STAKEHOLDER PROYEK Pemantauan keterlibatan stakeholder proyek dilakukan dengan memantau secara terus menerus hubungan tim proyek dengan stakeholder terkait dengan pelaksanaan proyek dan pembuatan strategi untuk tetap menjaga keterlibatan stakeholder proyek selama pelaksanaan proyek berlangsung. Jika diperlukan, kita bisa melakukan perubahan rencana pengelolaan stakeholder proyek untuk memastikan stakeholder proyek tetap dapat dilibatkan secara efektif dan efisien. Tingkat keterlibatan stakeholder proyek dapat dikategorikan menjadi 5 kategori, yaitu: 1. Leading Kondisi dimana stakeholder cukup mengerti tujuan dan potensi dampak dari proyek. Stakeholder secara aktif terlibat dalam eksekusi aktivitas proyek, dan memberikan dukungan yang diperlukan untuk memastikan proyek dapat dilaksanakan dengan baik. 2. Supportive Kondisi dimana stakeholder cukup mengerti tujuan dan potensi dampak dari proyek, tapi hanya akan memberikan dukungan jika diminta saja. MANAJEMEN PROYEK 57 3. Neutral Kondisi dimana stakeholder cukup mengerti tujuan dan potensi dampak dari proyek, tapi tidak mendukung atau resisten terhadap keberhasilan proyek. 4. Resistant Kondisi dimana stakeholder cukup mengerti tujuan dan potensi dampak dari proyek, tapi merasa terancam terhadap keberhasilan proyek karena hasil atau produk proyek bisa mengancam keberadaan stakeholder. 5. Unaware Kondisi dimana stakeholder tidak mengerti tujuan dan potensi dampak dari proyek. Pada perjalannya, akan ditemukan stakeholder yang termasuk di salah satu kategori diatas. Adalah menjadi tanggung jawab dari tim proyek untuk memastikan strategi, rencana dan tindakan-tindakan yang diperlukan agar semua stakeholder yang diperlukan memiliki sikap leading atau supportive. Khusus untuk stakeholder dengan kategori resistant terutama jika stakeholder adalah stakeholder yang punya pengaruh dan ketertarikan tinggi terhadap proyek, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengubah sikap resisten tadi menjadi supportive atau bahkan leading. Langkah-langkah yang dimaksud adalah: 1. Berkomunikasi dengan stakeholder yang dimaksud untuk mengetahui alasan yang menyebabkan stakeholder bersikap resisten terhadap proyek. 2. Memberikan penjelasan yang baik terhadap stakeholder yang dimaksud mengenai tujuan dan keuntungan proyek terhadap organisasi. 3. Mencoba mencari titik tengah untuk tetap mengakomodasi kepentingan stakeholder tanpa mengorbankan kepentingan dan tujuan dari keberadaan proyek itu. MANAJEMEN PROYEK 58 4. Jika langkah ketiga tidak berhasil juga, melakukan proses eskalasi yang diperlukan (jika dimungkinan) terhadap atasan dari stakeholder yang dimaksud, sehingga stakeholder menjadi setidaknya supportive terhadap proyek. Tentu keempat langkah diatas tidak menjamin stakeholder bisa menjadi supportive, dan diperlukan kebijaksanaan dari tim proyek untuk bisa mengatasi masalah yang dimaksud. MANAJEMEN PROYEK 59 BAGIAN 6 MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA DALAM PROYEK A. PENGERTIAN MANAJEMEN Manajemen berasal dari bahasa Inggris management dengan kata kerja to manage, diartikan secara umum sebagai mengurusi. Selanjutnya definisi manajemen berkembang lebih lengkap. Lauren A. Aply seperti yang dikutip Tanthowi menerjemahkan manajemen sebagai “The art of getting done through people” atau seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain (Sulistyorini, 2009) Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu (Malayu, 2005). Secara etimologis kata manajemen berasal dari bahasa Perancis Kuno management, yang berarti seni melaksanakan dan mengatur. Sedangkan secara terminologis para pakar mendefinisikan manajemen secara beragam, diantaranya: Follet yang dikutip oleh Wijayanti (2008:1) mengartikan manajemen sebagai seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Menurut Stoner yang dikutip oleh Wijayanti (2008: 1) manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber dayasumber daya manusia organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Gulick dalam Wijayanti (2008:1) mendefinisikan manajemen sebagai suatu bidang ilmu pengetahuan (science) yang berusaha secara sistematis untuk memahami mengapa dan bagaimana manusia bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan dan membuat sistem ini lebih bermanfaat bagi kemanusiaan. Schein (2008:2) memberi definisi manajemen sebagai profesi. Menurutnya manajemen merupakan suatu profesi yang dituntut MANAJEMEN PROYEK 60 untuk bekerja secara profesional, karakteristiknya adalah para profesional membuat keputusan berdasarkan prinsip-prinsip umum, para profesional mendapatkan status mereka karena mereka mencapai standar prestasi kerja tertentu, dan para profesional harus ditentukan suatu kode etik yang kuat. Menurut Jhon D Millet yang di kutip oleh Susatyo Herlamabang (2016:8) Manajemen adalah proses memimpin dan melancarkan pekerjaan dari orang yang terorganisir secara formal untuk mencapai tujuan. Terry (2005:1) memberi pengertian manajemen yaitu suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang-orang kearah tujuan-tujuan organisasional atau maksud yang nyata. Hal tersebut meliputi pengetahuan tentang apa yang harus dilakukan, menetapkan cara bagaimana melakukannya, memahami bagaimana mereka harus melakukannya dan mengukur efektivitas dari usaha-usaha yang telah dilakukan. Dari beberapa definisi yang tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa manajemen merupakan usaha yang dilakukan secara bersama-sama untuk menentukan dan mencapai tujuan-tujuan organisasi, dengan pelaksanaan fungsi-fungsi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan. Manajemen merupakan sebuah kegiatan; pelaksanaannya disebut manajing dan orang yang melakukannya disebut manajer. Manajemen dibutuhkan setidaknya untuk mencapai tujuan, menjaga keseimbangan di antara tujuan-tujuan yang saling bertentangan, dan untuk mencapai efisiensi dan efektivitas. Menurut Terry (2010) Manajemen terdiri dari berbagai unsur, yakni man, money, method, machine, market, material dan information. Man: Sumber daya manusia; Money: Uang yang diperlukan untuk mencapai tujuan; Method: Cara atau sistem untuk mencapai tujuan; Machine: Mesin atau alat untuk berproduksi; Materia: Bahan-bahan yang diperlukan dalam kegiatan; Market: Pasaran atau tempat untuk melemparkan hasil produksi; Information: Hal-hal yang dapat membantu untuk mencapai tujuan. Menurut Terry (2010: 9), fungsi manajemen dapat dibagi menjadi MANAJEMEN PROYEK 61 empat bagian, yakni planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating (pelaksanaan), dan controlling (pengawasan): 1. Planning (perencanaan) ialah penetapan pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh kelompok untuk mencapai tujuan yang digariskan.Planning mencakup kegiatan pengambilan keputusan, karena termasuk dalam pemilihan alternatif-alternatif keputusan. Diperlukan kemampuan untuk mengadakan visualisasi dan melihat ke depan guna merumuskan suatu pola dari himpunan tindakan untuk masa mendatang. Proses perencanaan berisi langkah-langkah: Menentukan tujuan perencanaan, menentukan tindakan untuk mencapai tujuan, mengembangkan dasar pemikiran kondisi mendatang, mengidentifikasi cara untuk mencapai tujuan dan mengimplementasi rencana tindakan dan mengevaluasi hasilnya 2. Organizing (pengorganisasian) Organizing berasal dari kata organon dalam bahasa Yunani yang berarti alat, yaitu proses pengelompokan kegiatan untuk mencapai tujuan-tujuan dan penugasan setiap kelompok kepada seorang manajer (Terry & Rue, 2010). Pengorganisasian dilakukan untuk menghimpun dan mengatur semua sumber-sumber yang diperlukan, termasuk manusia, sehingga pekerjaan yang dikehendaki dapat dilaksanakan dengan berhasil. Ciri-ciri organisasi sebagai berikut: mempunyai tujuan dan sasaran, mempunyai keterikatan format dan tata tertib yang harus ditaati, adanya kerjasama dari sekelompok orang, dan mempunyai koordinasi tugas dan wewenang. Tujuan organisasi merupakan pernyataan tentang keadaan atau situasi yang tidak terdapat sekarang, tetapi dimaksudkan untuk dicapai pada waktu yang akan datang melalui kegiatan-kegiatan organisasi (Handoko, 2002). 3. Action (pelaksanaan) Pelaksanaan merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa, MANAJEMEN PROYEK 62 hingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan bersama. 4. Controlling (pengawasan) Controlling atau pengawasan adalah penemuan dan penerapan cara dan alat untuk menjamin bahwa rencana telah dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. B. PENGERTIAN SUMBER DAYA MANUSIA Sumber daya manusia (SDM) adalah individu produktif yang bekerja sebagai penggerak suatu organisasi, baik itu di dalam institusi maupun perusahaan yang memiliki fungsi sebagai aset sehingga harus dilatih dan dikembangkan kemampuannya. Pengertian sumber daya manusia makro secara umum terdiri dari dua yaitu SDM makro yaitu jumlah penduduk dalam usia produktif yang ada di sebuah wilayah dan SDM mikro dalam arti sempit yaitu individu yang bekerja pada sebuah institusi atau perusahaan. Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan suatu hal yang sangat penting dan harus dimiliki dalam upaya mencapai tujuan organisasi atau perusahaan. Sumber daya manusia merupakan elemen utama organisasi dibandingkan dengan elemen sumber daya yang lain seperti modal, teknologi, karena manusia itu sendiri yang mengendalikan faktor yang lain. Sumber daya manusia (SDM) adalah salah satu faktor yang sangat penting bahkan tidak dapat dilepaskan dari sebuah organisasi, baik institusi maupun perusahaan. SDM juga merupakan kunci yang menentukan perkembangan perusahaan. Pada hakikatnya, SDM berupa manusia yang dipekerjakan di sebuah organisasi sebagai penggerak, pemikir dan perencana untuk mencapai tujuan organisasi itu. Dewasa ini, perkembangan terbaru memandang karyawan bukan sebagai sumber daya belaka, melainkan lebih berupa modal atau aset MANAJEMEN PROYEK 63 bagi institusi atau organisasi. Karena itu kemudian muncullah istilah baru di luar H.R. (Human Resources), yaitu H.C. atau Human Capital. Di sini SDM dilihat bukan sekadar sebagai aset utama, tetapi aset yang bernilai dan dapat dilipatgandakan, dikembangkan (bandingkan dengan portofolio investasi) dan juga bukan sebaliknya sebagai liability (beban). Di sini perspektif SDM sebagai investasi bagi institusi atau organisasi lebih mengemuka. Pengertian SDM dapat dibagi menjadi dua, yaitu pengertian mikro dan makro. Pengertian SDM secara mikro adalah individu yang bekerja dan menjadi anggota suatu perusahaan atau institusi dan biasa disebut sebagai pegawai, buruh, karyawan, pekerja, tenaga kerja dan lain sebagainya. Sedangkan pengertian SDM secara makro adalah penduduk suatu negara yang sudah memasuki usia angkatan kerja, baik yang belum bekerja maupun yang sudah bekerja. Secara garis besar, pengertian Sumber Daya Manusia adalah individu yang bekerja sebagai penggerak suatu organisasi, baik institusi maupun perusahaan dan berfungsi sebagai aset yang harus dilatih dan dikembangkan kemampuannya. Sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu sumber daya yang terdapat di dalam organisasi, meliputi semua orang yang melakukan aktivitas. Secara umum, sumber daya yang terdapat dalam suatu organisasi bisa dikelompokkan atas dua macam yaitu sumber daya manusia dan sumber daya non manusia, yang termasuk sumber daya non manusia adalah modal, mesin, teknologi, bahan-bahan (material) dan lainlain. C. PENGERTIAN MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA (MSDM) MSDM adalah suatu bidang manajemen yang khusus mempelajari hubungan dan peranan manusia dalam organisasi perusahaan. Manajemen SDM merupakan hal-hal yang mencakup tentang MANAJEMEN PROYEK 64 pembinaan, penggunaan dan perlindungan sumber daya manusia baik yang berada dalam hubungan kerja maupun yang berusaha sendiri (Basir, 2012). Menurut Drs. Malayu S. P Hasibuan dalam bukunya, mendefinisikan MSDM sebagai ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan efisien membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat (Malayu, 2005). Menurut Gauzali, MSDM merupakan kegiatan yang harus dilaksanakan organisasi, agar pengetahuan (knowledge), kemampuan (ability), agar keterampilan (skill) mereka sesuai dengan tuntutan pekerjaan yang mereka lakukan (Kadarisman, 2013). Sedangkan menurut Edwin B. Flippo, MSDM adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian dari pengadaan, pengembangan, kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan, dan pemberhentian karyawan, dengan maksud terwujudnya tujuan perusahaan individu, karyawan, dan masyarakat. MSDM adalah suatu hal yang berkaitan dengan pendayagunaan manusia dalam melakukan suatu pekerjaan untuk mencapai tingkat maksimal atau efektif dan efisien dalam mewujudkan tujuan yang akan dicapai dalam perusahaan, seorang karyawan dan juga masyarakat. D. RUANG LINGKUP MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA (MSDM) Sedarmayanti mengemukakan berkaitan tentang ruang lingkup manajemen sumber daya manusia (SDM) berdasarkan masa pelaksanaannya dan tugas pengembangan, ke dalam beberapa bagian di antaranya sebagai berikut: 1. Pre-Service Training (Pelatihan Pra Tugas). Pelatihan yang diberikan kepada calon karyawan yang akan memulai untuk bekerja, atau karyawan baru yang bersifat pembekalan, agar MANAJEMEN PROYEK 65 mereka dapat melaksanakan tugas yang nantinya dibebankan kepada mereka. 2. In Service Training (Pelatihan dalam Tugas). Pelatihan dalam tugas yang dilakukan untuk karyawan yang sedang bertugas dalam organisasi dengan tujuan meningkatkan kemampuan dalam melaksanakan pekerjaan. 3. Post Service Training (Pelatihan Purna/Pasca Tugas). Pelatihan yang dilaksanakan organisasi untuk membantu dan mempersiapkan karyawan dalam menghadapi pensiun. E. UNSUR-UNSUR MANAJEMEN SDM Tenaga kerja manusia pada dasarnya dibedakan atas tiga bagian, antara lain: 1. Pengusaha Pengusaha adalah setiap orang yang menginvestasikan modalnya untuk memperoleh pendapatan dan besarnya pendapatan itu tidak menentu tergantung pada laba yang dicapai perusahaan tersebut. 2. Karyawan Karyawan merupakan kekayaan utama suatu perusahaan, karena tanpa keikutsertaan mereka, aktivitas perusahaan tidak akan terjadi. Karyawan berperan aktif dalam menetapkan rencana, sistem, proses, dan tujuan yang ingin dicapai. Olehnya itu, karyawan diartikan sebagai penjual jasa (pikiran dan tenaga) dan mendapat kompensasi sesuai dengan perjanjian. 3. Pemimpin Pemimpin adalah seseorang yang mempergunakan wewenang dan kepemimpinannya untuk mengarahkan orang lain serta bertanggung jawab atas pekerjaan orang tersebut dalam mencapai suatu tujuan. Kepemimpinan adalah gaya seorang pemimpin mempengaruhi bawahannya, agar mau bekerja sama dan bekerja efektif sesuai dengan perintahnya. MANAJEMEN PROYEK 66 Faktor yang dapat mendukung manajer dalam memimpin para bawahannya antara lain sebagai berikut: 1. Para karyawan mempunyai kebutuhan yang sama, yaitu kebutuhan makan, hidup berkelompok, kebutuhan sosial, kebutuhan kerja sama, dan kebutuhan memperoleh kepuasan kerja. 2. Orang-orang yang bekerja sama dan hidup berkelompok karena adanya keterbatasan. 3. Orang-orang mau bekerja sama karena keinginan untuk mempertahankan hidup, berkuasa, mendapat pujian, dan pengakuan. F. DEFINISI MANAJEMEN SDM Manajemen Sumber Daya Manusia dalam proyek adalah proses mengorganisasikan dan mengelola atau menempatkan orang-orang yang terlibat dalam proyek, sehingga orang tersebut dapat dimanfaatkan potensinya secara efektif dan efisien. Sumber daya manusia dalam sebuah proyek antara lain termasuk sponsor, pelanggan, anggota tim proyek, staf pendukung (jika ada), supplier, dsb. G. TAHAPAN MANAJEMEN SDM 1. Perencanaan Sumber Daya Manusia Mengidentifikasi dan mendokumentasikan perananan seseorang dalam proyek, tanggung jawabnya dan bagaimana relasi pelaporan orang tersebut dengan orang-orang lain dalam proyek. 2. Akuisisi Tim Proyek Usaha untuk mendapatkan sumber daya manusia sesuai kebutuhan untuk menyelesaikan proyek MANAJEMEN PROYEK 67 3. Membangun Tim Proyek Meningkatkan kompetensi dan interaksi anggota tim proyek, baik secara individual maupun secara berkelompok untuk meningkatkan kinerja proyek. 4. Mengelola Tim Proyek Memantau kinerja tim proyek dengan memberikan masukan atau motivasi, solusi ataupun sekedar koordinasi dalam rangka meningkatkan kinerja proyek. Tinjauan Umum Manajemen Sumber Daya Manusia Gambar 6.1 Tinjauan Umum Manajemen Sumber Daya Manusia MANAJEMEN PROYEK 68 Perencanaan SDM Pada tahap ini yang perlu direncanakan antara lain : 1. Tanggung jawab masing-masing tim 2. Kapan dibutuhkan 3. Identifikasi apakah dibutuhkan training utk orang tsb 4. Rencana remunerasi dan reward 5. Cara menilai kinerja seseorang 6. Kriteria bagaimana menghentikan seseorang Roles & Responsibilities Informasi yang terkandung di dalamnya: 1. Peran anggota tim proyek, misalnya programmer, analis, dsb 2. Otoritas tiap anggota tim sesuai perannya 3. Tanggung jawab anggota tim sesuai perannya 4. Kompetensi yang dibutuhkan sesuai peran yang dimaksud Project Organization Charts Gambar 6.2 Project Organization Charts Merupakan bagan yang menggambarkan posisi tim proyek dan relasi pertanggungjawaban (berupa laporan,koordinasi atau kerja sama) tugasnya baik secara formal maupun informal. MANAJEMEN PROYEK 69 Work Definition & Assignment Process Gambar 6.3 Work Definition & Assignment Process OBS & RAM 1. Organizational Breakdown Structure (OBS)adalah bagan organisasi yang menggambarkan relasi antara unit-unit organisasi yang akan bertanggung jawab/mengerjakan paket-paket kerja tertentu. 2. Responsibility Assignment Matrix (RAM) adalah matriks yang memetakan pekerjaan-pekerjaan sesuai WBS pada orang/individu yang akan mengerjakannya sesuai OBS Contoh RAM Gambar 6.4 Contoh RAM MANAJEMEN PROYEK 70 RAM berkaitan Stakeholders Gambar 6.5 RAM berkaitan Stakeholders Contoh RACI Gambar 6.6 Contoh RACI dengan: R = tanggung jawab, hanya satu R per tugas A = akuntabilitas C = konsultasi I = informasi MANAJEMEN PROYEK 71 Staffing Management Plan 1. Staffing Management Plan adalah rencana yang menggambarkan kapan dan bagaimana seseorang akan ditambahkan atau dihentikan dari tim proyek. 2. Informasi yang terkandung di dalamnya antara lain : Resource Histogram, cara akuisisi anggota tim, timetable, kriteria penghentian anggota tim, kebutuhan pelatihan/training, remunerasi & reward, kesesuaian dengan aturan peraturan ketenagakerjaan, keamanan. Contoh Resource Histogram Gambar 6.7 Contoh Resource Histogram Summary 1. Organizational Chart 2. OBS 3. RAM/RACI 4. Staffing Management Plan (Resource Histogram) MANAJEMEN PROYEK 72 Akuisisi Tim Proyek 1. Resource Assignment 2. Resource Loading 3. Resource Leveling Resource Loading & Leveling 1. Resource Loading mengacu pada jumlah sumber daya manusia yang ada berkaitan dengan jadwal pekerjaan proyek pada periode tertentu. 2. Resource Histogram dapat digunakan untuk memahami resource loading. 3. Overallocation menunjukkan adanya kebutuhan penambahan sumber daya, krn jumlah sumber daya yang ada tidak memadai sesuai dengan beban kerja yang ada. Sample Histogram Showing an Overallocated Individual Gambar 6.8 Sample Histogram Showing an Overallocated Individual MANAJEMEN PROYEK 73 Resource Leveling 1. Resource leveling adalah teknik untuk menyelesaikan masalah konflik kebutuhan sumber daya dengan menunda suatu pekerjaan. 2. Tujuan utama dari resource leveling adalah agar pendistribusian sumber daya lebih merata dan mereduksi overallocation. Contoh Resource Leveling Gambar 6.9 Contoh Resource Leveling Membangun Tim Proyek 1. Tujuan Utama dari membangun tim proyek adalah agar tiap orang yang berada dalam tim dapat bekerja sama dengan efektif demi meningkatkan kinerja proyek. 2. Pelatihan. 3. Kegiatan Team Building. 4. Reward & Pengakuan Sistem. Meyers-Briggs Type Indicator (MBTI) 1. MBTI adalah alat untuk menentukan kecenderungan personality seseorang. 2. Keempat dimensi dalam MBTI adalah: a. Extrovert/Introvert (E/I) MANAJEMEN PROYEK 74 b. Sensation/Intuition (S/N) c. Thinking/Feeling (T/F) d. Judgment/Perception (J/P) Dimensi Psikologi MBTI 1. Extrovert/Introvert(E/I) menunjukkan apakah seseorang memiliki motivasi pribadi yang kuat (I) atau butuh dorongan orang lain (E) 2. Sensation/Intuition(S/N) menggambarkan bagaimana seseorang memperoleh informasi. Tipe S adalah orang yang perlu fakta, detail, realita dan ini menggambarkan tipe S adalah orang yang praktis (praktikal). Tipe N adalah orang yang imajinatif, memiliki intuisi yang kuat, menggambarkan seseorang yang inovatif dan konseptual. 3. Thinking/Feeling (T/F) Dimensi ini berkaitan dengan cara mengambil keputusan. Tipe T adalah orang yang objektif dan logis, sedang tipe F adalah orang yang subjektif dan personal. 4. Judgement/Perception (J/P) Dimensi yang berkaitan dengan sikap seseorang terhadap stuktur. J cenderung sangat terstruktur, sedang P cenderung terbuka dan lebih fleksibel. MANAJEMEN PROYEK 75 BAGIAN 7 MANAJEMEN BIAYA PROYEK A. PENTINGNYA BIAYA PROYEK Ada hal yang penting pada manajemen biaya proyek, yaitu : cermati sumber daya, perencanaan biaya yang teliti, penganggaran biaya yang baik, dan biaya yang harus dikendalikan secara proporsional (Soemardi, 2010). Di dalam proyek pekerjaan bangunan terdapat hal penting yaitu : biaya, mutu dan waktu (Kiswati; Chasanah 2019). Biaya proyek pada konstruksi merupakan biaya yang dibutuhkan sebelum dan saat pelaksanaan suatu proyek hingga selesei sesuai dengan tujuan dan rencana awal. Pekerjaan konstruksi yang dikerjakan oleh pelaksana bisa dibilang berhasil apabila sudah memenuhi standar kualitas, waktu pelaksanaan, dan biaya sesuai dengan perencanaan yang sudah diperhitungkan (Kerzner, 2006). Dalam proses pelaksanaan proyek tentunya ada beberapa hal yang terjadi diluar perencanaan, misalnya keterlambatan pekerjaan yang sedang dilakukan sehingga terjadi penambahan biaya pembangunan. Hal tersebut jangan sering terjadi dalam pelaksanaan proyek karena akan berakibat kehilangan pekerjaan yang dilakukan atau yang disebut putus kontrak dan bahkan akan kehilangan peluang proyek kedepannya. Dalam proses pengerjaan proyek tentunya kualitas merupakan hal yang penting untuk dicapai, ada 3 hal yang mempengaruhi hal tersebut (Soemardi, 2010) : 1. Scope (Ruang lingkup) Untuk menghasilkan hasil akhir proyek yang berkualitas batasan aktivitas harus terkontrol dengan baik, sehingga tidak terlalu melebar dari konteks aktivitas yang sudah direncanakan sejak awal. MANAJEMEN PROYEK 76 2. Time (Waktu) Agar proyek tercapai tepat waktu sesuai jadwal di perencanaan hal yang penting adalah memantau dan mengendalikan waktu selama proses pekerjaan 3. Cost (Biaya) Anggaran atau biaya agar tetap stabil dan konsisten selama proses pekerjaan tentunya tetap perlu adanya batasan-batasan dalam pengelolaannya agar biaya bisa tepat guna. Terseleseikannya suatu proyek dengan cepat dapat ditambahkannya anggaran dan mengurangi ruang lingkup, demikian juga peningkatan ruang lingkup perlu adanya peningkatan yang seimbang antara anggaran dan waktu yang seimbang, memotong anggaran dengan cara tanpa menyesuaikan jadwal dan ruang lingkup hal ini akan menurunkan kualitas hasil akhir sebuah proyek. Gambar 7.1. Segi Tiga Manajemen Proyek Efisiensi proyek agar dapat dicapai dengan melakukan sistem standar dan metode dengan baik, seperti : penggunaan alat pekerjaan yang baik dan efektif, aktivitas tenaga kerja yang tepat sasaran (Rani, Fuadi, 2016). Pengendalian proyek merupakan hal yang berpengaruh pada proses pembiayaan proyek, sehingga perlu ada nya metodologi yang baik dalam pengumpulan data fisik dan non fisik, Analisa dan pendistribusian jadwal, keuangan dan ruang lingkup pekerjaan untuk mensupport manajemen biaya proyek yang terukur. Manfaat pengendalian proyek (Soeharto, 1999). : MANAJEMEN PROYEK 77 1. Manfaat pemantauan terhadap pekerjaan dengan baik. 2. Manfaat manajerial, akan mempermudah untuk mengetatui dan memantau item pekerjaan yang kurang baik. Waktu dan biaya merupakan 2 hal yang merupakan faktor yang berguna untuk pengendalian kinerja. Terdapat tiga hal dalam pengendalian proyek dengan konsep nilai hasil yang meliputi (Marhaendra; Qomariyah, 2013) : 1. Perkembangan proyek (progres) yang dicapai sesuai dengan kesepakatan di dokumen kontrak yang disepakati antara pelaksana pekerjaan dan owner. 2. Biaya yang akan dibandingkan dengan rencana anggaran. 3. Kualitas hasil pekerjaan terhadap spesifikasi teknis yang terdapat dalam dokumen rencana kerja dan syarat – syarat. Kosep nilai hasil merupakan metode yang dapat mengukur waktu dengan biaya kemungkinan terjadi penyimpangan saat proses pekerjaan. Sedangkan pengendalian sumber daya berguna untuk menentukan standar sesuai dengan perencanaan (Soeharto, 1999). B. PERHITUNGAN BIAYA PROYEK Hal utama yang perlu dicermati dalam manajemen biaya proyek yaitu : perhitungan sumber daya, penyusunan biaya, anggaran biaya, dan pengendalian biaya (Soemadi, 1998). Manajemen memiliki 5 unsur (Asnuddin, 2018) yaitu : man power, money, methods, materials, mechines. Dalam proyek money atau biaya merupakan hal penting sehingga perlu manajemen biaya proyek yang benar, rapi dan terarah yang dapat terbagi menjadi 3 (Soeharto, 1999) : 1. Cost Estimate (Perkiraan biaya) 2. Cost Budget (Anggaran Biaya) 3. Cost Control (Pengendalian Biaya) MANAJEMEN PROYEK 78 Estimasi biaya pada proyek adalah perkiraan tentang biaya proyek yang akan digunakan, terdapat beberapa unsur (Rani; Fuadi, 2016) : bahan material, tenaga kerja, peralatan, over head, profit. Manfaat dibuatkannya estimate biaya adalah : bagi pemilik atau owner dapat mengetahui tingkat kelayakan pekerjaan, Menyusun anggaran yang akan disiapkan, bagi kontraktor atau pelaksana sebagai bahan dasar untuk menentukan nilai tender ataupun nilai penawaran yang akan diajukan ke owner atau pemilik pekerjaan. Dalam pelaksanaan proyek suatu pekerjaan konstrusi terdapat hal yang penting yaitu biaya, yang dapat terbagi menjadi 2 yaitu : 1. Biaya langsung (Direct Cost) Merupakan biaya yang berhubungan dengan volume pekerjaan, misalnya: biaya material dan upah tenaga (Johan, et.al, 1998). Biaya langsung termasuk biaya tidak tetap karena biaya ini setiap bulannya dapat berupah, biasanya diimbangi dengan progress kemajuan pekerjaan. Yang tergolong biaya langsung (Malik, 2012) adalah: Biaya material, biaya upah tenaga kerja, biaya peralatan. 2. Biaya tidak langsung (Indirect Cost) Adalah biaya yang tidak ada hubungannya dengan pelaksanaan pekerjaan secara langsung dengan volume pekerjaan, misalnya : gaji atau honor pegawai kantor baik tetap maupun tidak tetap, anggaran manajemen proyek, biaya sewa kantor, biaya perawatan, over head, biaya tidak terduga alat kerja dan lain – lain (Johan, 1998). Dalam proses perencanaan pembangunan tentunya ada dokumen Rekapitulasi biaya proyek pada pembangunan gedung, pembangunan jalan dan jembatan, pembangunan bendungan, area terbuka taman dan lain – lain. Mengetahui seberapa besar biaya dalam persiapan pembangunan dalam sebuah proyek merupakan hal penting yang harus dicermati (Virginia, 2021). Perhitunagn biaya berdasarkan pada gambar kerja dan spesifikasi MANAJEMEN PROYEK 79 material bangunan (Soedrajat, 1984). Dalam perhitungan anggraan biaya suatu bangunan yang disebut Rekapitulasi rencana anggaran biaya (RAB) harus diperhitungkan secara teliti, yang dibuat oleh perencana agar saat bangunan tersebut dilaksanakan dapat selesei dengan baik. Pengertian Rencana Anggaran Biaya (Niron, 1992) : 1. Rencana adalah sekumpulan ide dan tata cara pelaksanaan secara detail. 2. Anggaran, merupakan perhitungan biaya yang menyesuaikan gambar kerja atau bestek. 3. Biaya adalah seberapa besar pengeluaran yang berkaitan dengan borongan sesuai rencana kerja dan syarat – syarat. Rencana anggaran biaya dipergunakan untuk menghitung berapa biaya suatu bangunan dapat didirikan dalam waktu dan lokasi yang sudah ditentukan, yang dibuat oleh estimator perencana, sehingga dibuat sebelum pelaksanaan proyek dibangun. Cara perhitungan rencana anggaran biaya dapat dibagi 2 (Sastroatmadja, 1984) yaitu : Anggaran biaya kasar, yang dihitung berdasarkan luasan dikalikan harga satuan per meter persegi dan anggaran biaya detail atau rinci yang dihitung harga satuan material digabungkan dengan harga satuan upah dikalikan dengan volume. Manfaat RAB bagi owner dapat berguna sebagai acuan untuk ditawarkan kepada pelaksana pembangunan atau kontraktor gedung dalam pembangunannya. Dalam perhitungan RAB terdapat dua hal penting yang terdapat di dalamnya yaitu harga bahan dan harga upah, tentunya setiap masing – masing daerah berbeda nilainya, dengan mencacu pada 5 hal untuk menghitung harga satuan pekerjaan (HPS) yaitu : dokumen gambar bestek atau gambar kerja, dokumen rencana kerja dan syarat – syarat (RKS), daftar harga upah dan material, daftar Analisa pekerjaan, dan data backup volume pada item bangunan (Pebi; Saihul, 2022). Pada dasarnya perhitungan RAB = Volume pekerjaan x harga satuan pekerjaan MANAJEMEN PROYEK 80 (HSP) (Remita, 2022). Harga satuan pekerjaan adalah hasil penjumlahan dari perhitungan harga bahan dan harga upah pekerja yang berdasarkan analisa (Soedrajat, 1984). Harga bahan dapat diperoleh dari Pemda setempat dan survey di pasaran dikumpulkan dalam data yang dinamakan harga satuan bahan. Harga upah tenaga kerja didapatkan dari hasil survey ataupun dari data Pemda setempat dikumpulkan dalam data yang dinamakan harga satuan upah. Setiap kota atau kabupaten memiliki standar harga satuan bahan dan upah yang berbeda – beda. Dalam perhitungan harga satuan pekerjaan dapat menggunakan menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) atau Burgerlijke Openbare Werken (BOW) (Ashworth, 1988). Yang biasa dipakai di Indonesia saat ini analisa SNI. BOW merupakan sistem koefisien analisa pada jaman penjajahan Belanda, SNI merupakan pembaharuan dari BOW. Gambar 7.2. Estimasi anggaran berdasarkan luasan MANAJEMEN PROYEK 81 Pada Gambar 7.2, menjelaskan bahwa perhitungan biaya anggaran kasar yang berdasarkan luasan lantai dikalikan harga satuan per M2 berdasarkan aturan daerah setempat, pekerjaan dibagi menjadi 2 yaitu : pekerjaan standar dan pekerjaan non standar. Selanjutnya hasil hitungan direkapitulasi, dapat dilihat pada gambar dibawah ini. Gambar 7.3. Rekapitulasi estimasi anggaran berdasarkan luasan MANAJEMEN PROYEK 82 SNI dikeluarkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman. Cara mendasar perhitungan SNI adalah menggunakan daftar harga satuan bahan dan upah diperoleh dengan cara perkalian antara indeks atau koefisien terhadap harga baham dan upah tenaga. Harga satuan upah tenaga kerja dan bahan juga terdapat harga satuan alat pekerjaan yang mempengaruhi perhitungan RAB, lihat diagram dibawah ini: Gambar 7.4. Proses harga satuan pekerjaan Diagram diatas menerangkan tentang bagaimana mendapatkan harga satuan pada pekerjaan proyek sehingga harga satuan bahan, harga satuan tenaga, dan harga satuan alat terlebih dahulu diketahui selanjutnya dikalikan dengan nilai koefisien sehingga menghasilkan rumus : 1. Upah tenaga = harga satuan upah x nilai koefisen upah 2. Bahan = harga satuan bahan x nilai koefisien bahan 3. Peralatan = harga satuan alat x nilai koefisien alat Sehingga didapatkan Harga Satuan Pekerjaan = nilai upah tenaga + nilai bahan + peralatan. Untuk mempermudah dalam pembuatan RAB dapat dikelompokkan setiap item pekerjaanya agar mudah MANAJEMEN PROYEK 83 untuk dipantau dalam progress pekerjaan saat dilaksanakan (Budi, 2013), misalkan pekerjaan pasir dan tanah meliputi : galian tanah pondasi, urugan tanah pondasi, urugan pasir bawah pondasi, urugan pasir bawah lantai. Rencana anggran total yang disebut dengan rekapitulasi adalah penggabungan dari seluruh anggaran sub total dan sudah jumlahkan besar pajak, asuransi ataupun faktor biaya lainnya. Setelah proyek dilelang dan sdah ditentukan kontraktor pemenang yang akan mengerjakan munculah Rencana Anggaran Pelaksanaan (RAP) yang dibuat oleh kontraktor yang dijadikan sebagai panduan proses pekerjaan (Sastroatmadja, 1984). Tujuan dari RAP adalah : 1. Merekap data biaya kebutuhan yang diperlukan. 2. Membuat cash flow yang benar dan tepat untuk mengontrol pelaksanaan proyek yang dikerjakan. 3. Mengalokasikan dana uang diperlukan dlaam plaksanaan pekerjaan. Dalam pembuatan RAP perlu mengelompokan biaya seperti : overhead kantor, overhead proyek, biaya material bangunan, biaya peralatan ataupun mesin yang digunakan, harga upah, biaya sub kontraktor ataupun supplier, rencana target keuntungan kantor. MANAJEMEN PROYEK 84 Gambar 7.5. Daftar harga bahan dan upah Gambar diatas merupakan data daftar harga bahan dan upah per hari. Untuk setiap daerah Kota atau Kabupaten nilai berbeda – beda. MANAJEMEN PROYEK 85 Gambar 7.6. Daftar analisa Pada gambar diatas merupakan daftar analisa yang dihitung dari upah tenaga dan bahan dikalikan koefisen masing – masing selanjutnya muncul jumlah harga. Dalam hal ini juga ada nilai overhead dan profit dihitung di akhir perhitungan. Gambar 7.7. Perhitungan RAB Gambar diatas menjelaskan bahwa setelah harga satuan pekerjaan diperoleh maka dikalikan dengan volume untuk menghasilkan jumlah harga dan dijumlahkan semua seingga muncul sub jumlah pekerjaan. Setiap sub pekerjaan kegiatan sudah ditemukan sehingga di jumlahkan semua untuk menemukan nilai Rencana Anggaran Biaya yang dapay di rekapitulasi. MANAJEMEN PROYEK 86 Gambar 7.8. Rekapitulasi RAB Gambar diatas merupakan rekapitulasi RAB yang merupakan hasil akhir perhitungan, data ini didapatkan dari perhitungan Rencana Anggaran Biaya yang dihitung sebelumnya. C. SOLUSI KETERLAMBATAN PROYEK TERHADAP BIAYA Keterlambatan proyek hampir sering terjadi pada pekerjaan, sehingga perlu adanya solusi bagaimana potensi keterlambatan proyek dapat diminimalisir sehingga dapat berkurang bahkan pekerjaan dapat selesei lebih cepat dari waktu yang ditentukan tanpa mempengaruhi biaya dan kualitas secara signifikan. Untuk mengatasi keterlambatan proyek dengan cara mempercepat pelaksanaan pekerjaan pada kegiatan pada lintasan kritis atau bagian pekerjaan penting yang memiliki nilai progres besar, sehingga waktu bisa dicapai Kembali sesuai rencana, namun hal tersebut membutuhkan biaya lebih (Alifen, 1999). Diperlukan metode untuk menyeleseikan keterlambatan dalam pekerjaan proyek dengan mengerjakan bagian parallel atau tumpeng tindih yang disebut fast-track (Soeharto, 2021). MANAJEMEN PROYEK 87 Contohnya sebelum perencanaan dan pelaksanaan pembangunan parik kawasan industri, sebelumnya sudah dilakukan perencanaan dan pelaksanaan kontrak tender pengerukan, urugan, dan perataan lahannya. Metode fast-track merupakan cara penyeleseian proyek lebih cepat dari waktu normal yang direncanakan dengan menerapkan cara yang beebeda, inovasi dan memanfaatkan waktu yang efektif dari kegiatan pekerjaan secara keseluruhan (Easthan, 2002). Penerapan biaya pekerjaan proyek setelah melakukan metode fast-track, yang dihitung pada lintasan kritis dan lintasan tidak kritis seperti biaya normal. Pada pelaksanaan aktivitas lintasan kritis dilakukan secara paralel, tidak ada penambahan tenaga kerja, demikikian juga pada penggunaan bahan dan harga sesuai perhitungan normal, anggaran tenaga juga tidak ada perubahan sesuai perencanaan awal, tetapi terjadi perubahan pada biaya tidak langsung sehingga waktu pembangunan dapat selesei lebih cepat dan biaya lebih hemat secara keseluruhan. Banyak fenomena pekerjaan proyek yang terlambat dalam penyeleseiannya bahkan ada proyek yang berhenti karena banyak hal yang mempengaruhinya. Solusi dalam mengejar keterlambatan pekerjaan proyek perlu dilakukan karena jika hal itu terjadi akan banyak hal yang akan terkena dampak, salah satunya akan terkena denda permil dari nilai kontrak perhari atau ada perhitungan lain dari waktu selesei pekerjaan yang sudah disepakati yang tertera dalam dokumen kontrak. Untuk mengurangi potensi keterlambatan pekerjaan yang dilakukan meningkatkan Produktivitas yang berhubunga dengan sumber daya untuk menghasilkan barang dan jasa. Produktivitas berkaitan dengan efisiensi pemanfaatan input untuk memproduksi output secara baik. Beberapa pengertian produktivitas (Yamit, 2005) : 1. Organiazation For Econimics and Development (OECD), menyatakan bahwa produktivitas yaitu output dibagi elemen produksi yang digunakan. MANAJEMEN PROYEK 88 2. International Labour Organization (ILO), produktivitas yaitu perbandingan antara elemen produksi yang dihasilkan, elemen tersebut yaitu : tenaga kerja, modal, tanah, organisasi. Indeks Produktivitas = (A) (B) Keterangan, (A), Jumlah jam orang yang sesungguhnya digunakan untuk menyeleseikan pekerjaan, (B), Jumlah jam orang yang diperlukan untuk menyeleseikan pekerjaan sesuai standar. Sesuai dengan rumus diatas ratio produktivitas merupakan nilai yang dapat diukur dalam proses konstruksi yaitu : biaya tenaga, biaya material, biaya alat. Berhasil dan tidaknya suatu proyek konstruksi bergantung pada evektivitas dalam penggunaan sumber daya (Wulfram, 2004). MANAJEMEN PROYEK 89 BAGIAN 8 MANAJEMEN WAKTU PROYEK A. PENDAHULUAN 1. Definisi Manajemen Waktu Proyek Manajemen waktu proyek adalah proses perencanaan, penjadwalan, pemantauan, pengendalian, dan penyesuaian aktivitas dalam proyek untuk memastikan pencapaian tujuan proyek tepat waktu. Proses ini melibatkan identifikasi kegiatan yang harus dilakukan, estimasi durasi kegiatan, pengalokasian sumber daya yang diperlukan, dan pelacakan kemajuan proyek terhadap jadwal yang ditetapkan. 2. Pentingnya Manajemen Waktu dalam Proyek Manajemen waktu proyek sangat penting karena memiliki dampak langsung pada kesuksesan proyek. Manfaat utama dari manajemen waktu yang baik dalam proyek meliputi: a. Meningkatkan efisiensi dan produktivitas tim. b. Mengurangi risiko keterlambatan dan biaya yang tidak perlu. c. Membantu dalam koordinasi yang lebih baik antara anggota tim dan pemangku kepentingan. d. Meningkatkan kepuasan klien dan reputasi perusahaan. e. Memberikan landasan yang kuat untuk pengambilan keputusan dan evaluasi kinerja proyek. 3. Tujuan Manajemen Waktu Proyek Tujuan utama manajemen waktu proyek adalah untuk memastikan proyek selesai tepat waktu, sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Berikut adalah beberapa tujuan khusus dari manajemen waktu proyek: a. Mengidentifikasi kegiatan dan tugas yang diperlukan untuk mencapai tujuan proyek. MANAJEMEN PROYEK 90 b. Mengestimasi durasi kegiatan dan menentukan urutan yang paling efisien untuk melaksanakannya. c. Mengembangkan jadwal proyek yang realistis dan komprehensif, yang mencakup semua kegiatan, batasan waktu, dan sumber daya yang diperlukan. d. Mengalokasikan sumber daya yang sesuai untuk kegiatan yang direncanakan. e. Memantau kemajuan proyek dan mengambil tindakan korektif jika diperlukan untuk mengendalikan penyimpangan jadwal. f. Melaporkan kemajuan proyek kepada pemangku kepentingan dan melakukan penyesuaian jadwal jika diperlukan. B. KONSEP DASAR MANAJEMEN WAKTU PROYEK 1. Sumber Daya Manusia Sumber daya manusia merujuk pada individu atau tim yang terlibat dalam pelaksanaan proyek. Pengelolaan sumber daya manusia yang efektif melibatkan perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian sumber daya manusia untuk mencapai tujuan proyek tepat waktu. Hal ini termasuk penugasan tugas, koordinasi antara anggota tim, dan memastikan keterampilan dan kemampuan yang sesuai untuk menyelesaikan pekerjaan. 2. Estimasi Durasi Estimasi durasi adalah proses menentukan jumlah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan setiap kegiatan dalam proyek. Estimasi yang akurat sangat penting untuk mengembangkan jadwal proyek yang realistis dan mencapai tujuan tepat waktu. Beberapa teknik yang dapat digunakan untuk mengestimasi durasi kegiatan meliputi: a. Estimasi berbasis analogi: Membandingkan kegiatan saat ini dengan kegiatan serupa yang telah diselesaikan di masa lalu. MANAJEMEN PROYEK 91 b. Estimasi parametrik: Menggunakan hubungan matematis antara variabel untuk menghitung durasi kegiatan. c. Estimasi berbasis ekspert: Berkonsultasi dengan ahli yang berpengalaman dalam kegiatan yang bersangkutan untuk mendapatkan perkiraan durasi. d. Estimasi tiga titik: Menggunakan tiga perkiraan (optimis, pesimis, dan paling mungkin) untuk menghitung durasi kegiatan berdasarkan tingkat ketidakpastian. 3. Jadwal Proyek Jadwal proyek adalah representasi visual atau dokumen yang mencakup semua kegiatan, durasi, dan urutan pekerjaan yang harus diselesaikan dalam proyek. Jadwal proyek yang efektif mencakup informasi tentang batasan waktu, sumber daya yang diperlukan, dan kemajuan proyek. Beberapa alat yang umum digunakan untuk membuat dan mengelola jadwal proyek meliputi Gantt Chart, Critical Path Method (CPM), dan Program Evaluation and Review Technique (PERT). 4. Batasan Waktu Batasan waktu adalah batas atau tenggat waktu yang diberikan untuk menyelesaikan kegiatan, fase, atau proyek secara keseluruhan. Mengidentifikasi batasan waktu yang realistis dan memperhitungkannya dalam jadwal proyek sangat penting untuk memastikan tujuan proyek tercapai tepat waktu. Batasan waktu dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal (seperti hukum, peraturan, atau persyaratan kontrak) atau internal (seperti ketersediaan sumber daya atau koordinasi antara anggota tim). Manajemen waktu proyek yang efektif melibatkan pengelolaan batasan waktu ini untuk menghindari keterlambatan dan memastikan kesuksesan proyek. MANAJEMEN PROYEK 92 C. METODE DAN TEKNIK MANAJEMEN WAKTU PROYEK 1. Work Breakdown Structure (WBS) Work Breakdown Structure (WBS) adalah alat yang digunakan untuk menguraikan proyek menjadi komponen yang lebih kecil dan mudah dikelola. WBS menciptakan hierarki kegiatan, tugas, dan sub-tugas yang memungkinkan tim proyek untuk mengidentifikasi dan mengorganisir pekerjaan yang harus dilakukan. WBS membantu dalam perencanaan waktu proyek dengan menyediakan kerangka kerja untuk estimasi durasi, penjadwalan, dan alokasi sumber daya. 2. Critical Path Method (CPM) Critical Path Method (CPM) adalah teknik yang digunakan untuk mengidentifikasi urutan kegiatan yang paling kritis dalam proyek, yang menentukan durasi total proyek. Jalan kritis adalah rangkaian kegiatan yang tidak dapat ditunda tanpa menunda proyek secara keseluruhan. Dengan mengetahui jalan kritis, manajer proyek dapat fokus pada pengelolaan waktu dan sumber daya untuk kegiatan yang paling kritis, memastikan proyek selesai tepat waktu. 3. Program Evaluation and Review Technique (PERT) Program Evaluation and Review Technique (PERT) adalah metode yang digunakan untuk mengestimasi durasi proyek dengan mempertimbangkan ketidakpastian dalam estimasi waktu. PERT menggunakan tiga perkiraan waktu (optimis, pesimis, dan paling mungkin) untuk setiap kegiatan dan menghitung durasi proyek yang diharapkan berdasarkan probabilitas. PERT membantu manajer proyek dalam perencanaan waktu dengan memberikan perkiraan yang lebih realistis tentang durasi proyek dan mengidentifikasi area berisiko tinggi yang memerlukan perhatian khusus. 4. Gantt Chart Gantt Chart adalah alat visual yang digunakan untuk menampilkan jadwal proyek dalam format bar chart. Gantt Chart menunjukkan durasi, urutan, dan hubungan antara kegiatan, serta kemajuan MANAJEMEN PROYEK 93 proyek seiring berjalannya waktu. Gantt Chart memudahkan komunikasi jadwal proyek kepada anggota tim dan pemangku kepentingan, serta membantu manajer proyek dalam pemantauan dan pengendalian waktu proyek. 5. Agile Project Management Agile Project Management adalah pendekatan manajemen proyek yang menekankan fleksibilitas, kolaborasi, dan adaptasi cepat terhadap perubahan. Agile menggunakan iterasi atau siklus kerja singkat (biasanya antara 2-4 minggu) yang disebut sprint, di mana tim proyek mengembangkan dan menguji fitur dalam waktu yang singkat. Dalam konteks manajemen waktu proyek, Agile membantu tim dalam mengelola waktu dengan lebih efisien melalui perencanaan dan peninjauan yang berulang, penyesuaian jadwal yang cepat berdasarkan umpan balik, dan pemantauan kemajuan secara terus-menerus. Beberapa manfaat manajemen waktu dengan menggunakan metode Agile meliputi: a. Lebih cepat dalam mengidentifikasi dan mengatasi hambatan waktu, karena tim secara teratur meninjau kemajuan dan mengambil tindakan korektif. b. Fleksibilitas dalam mengakomodasi perubahan kebutuhan dan prioritas, yang memungkinkan penyesuaian jadwal proyek secara efisien. c. Peningkatan komunikasi dan kolaborasi antara anggota tim, yang membantu dalam koordinasi dan pengelolaan waktu. d. Transparansi yang lebih besar dalam kemajuan proyek dan estimasi waktu, karena tim melacak dan melaporkan kemajuan mereka secara teratur. Dengan menggabungkan teknik dan metode manajemen waktu proyek seperti WBS, CPM, PERT, Gantt Chart, dan Agile Project Management, manajer proyek dapat menciptakan strategi yang efektif untuk mengatur waktu proyek dan memastikan proyek selesai sesuai jadwal yang ditetapkan. MANAJEMEN PROYEK 94 D. PERENCANAAN WAKTU PROYEK 1. Identifikasi Kegiatan Identifikasi kegiatan adalah langkah awal dalam perencanaan waktu proyek. Proses ini melibatkan penguraian proyek menjadi kegiatan yang spesifik, tugas, dan sub-tugas yang harus diselesaikan untuk mencapai tujuan proyek. Work Breakdown Structure (WBS) adalah alat yang efektif untuk membantu mengidentifikasi kegiatan yang diperlukan dalam proyek. 2. Penyusunan Rencana Kerja Setelah mengidentifikasi kegiatan yang diperlukan, rencana kerja harus disusun untuk menggambarkan urutan kegiatan dan keterkaitan antara kegiatan yang berbeda. Rencana kerja mencakup informasi tentang kegiatan, tanggung jawab, batasan waktu, dan hasil yang diharapkan. Penyusunan rencana kerja yang efektif memudahkan penjadwalan, pengendalian, dan pelaporan kemajuan proyek. 3. Estimasi Durasi Kegiatan Estimasi durasi kegiatan melibatkan penentuan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan setiap kegiatan dalam proyek. Estimasi yang akurat sangat penting untuk mengembangkan jadwal proyek yang realistis. Beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengestimasi durasi kegiatan meliputi estimasi berbasis analogi, estimasi parametrik, estimasi berbasis ekspert, dan estimasi tiga titik. 4. Penjadwalan Kegiatan Setelah estimasi durasi kegiatan, langkah selanjutnya adalah penjadwalan kegiatan. Penjadwalan melibatkan pengaturan urutan kegiatan dan mengalokasikan waktu yang tepat untuk setiap kegiatan dalam proyek. Beberapa teknik yang dapat digunakan untuk penjadwalan kegiatan meliputi Critical Path Method (CPM), Program Evaluation and Review Technique (PERT), dan Gantt Chart. MANAJEMEN PROYEK 95 5. Alokasi Sumber Daya Alokasi sumber daya merupakan proses mengalokasikan sumber daya yang diperlukan (seperti sumber daya manusia, peralatan, dan bahan) untuk setiap kegiatan dalam proyek. Alokasi sumber daya yang efisien memastikan bahwa kegiatan dapat diselesaikan sesuai dengan jadwal yang ditetapkan dan sumber daya tidak terbuang siasia. Dalam perencanaan waktu proyek, manajer proyek harus mempertimbangkan ketersediaan sumber daya, prioritas proyek, dan batasan waktu untuk mengalokasikan sumber daya dengan cara yang paling efisien. E. PENGENDALIAN WAKTU PROYEK 1. Pemantauan Kemajuan Proyek Pemantauan kemajuan proyek adalah proses sistematis dan berkelanjutan untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan proyek dan membandingkannya dengan rencana awal. Pemantauan ini melibatkan penilaian terhadap durasi kegiatan yang sebenarnya, kemajuan pekerjaan, dan penggunaan sumber daya. Pemantauan kemajuan proyek membantu manajer proyek dalam mengidentifikasi masalah waktu, mengambil tindakan korektif, dan memastikan proyek tetap di jalur yang benar. 2. Mengidentifikasi Penyimpangan Waktu Mengidentifikasi penyimpangan waktu melibatkan analisis perbedaan antara jadwal proyek yang direncanakan dan kinerja waktu yang sebenarnya. Penyimpangan waktu dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti perubahan lingkungan proyek, kesalahan dalam estimasi waktu, atau masalah dalam eksekusi proyek. Dengan mengidentifikasi penyimpangan waktu, manajer proyek dapat mengambil tindakan korektif yang diperlukan untuk mengendalikan waktu proyek dan memastikan kesuksesan proyek. MANAJEMEN PROYEK 96 3. Penyesuaian Jadwal Jika terjadi penyimpangan waktu, penyesuaian jadwal mungkin diperlukan untuk memastikan proyek tetap tepat waktu. Penyesuaian jadwal dapat mencakup pengurangan durasi kegiatan, realokasi sumber daya, atau perubahan prioritas proyek. Dalam konteks Agile Project Management, penyesuaian jadwal dapat melibatkan peninjauan dan perubahan sprint backlog atau prioritas fitur yang sedang dikembangkan. 4. Laporan Kemajuan Proyek Laporan kemajuan proyek adalah dokumentasi resmi yang mencerminkan status dan kemajuan proyek dalam hal waktu, biaya, dan sumber daya. Laporan ini biasanya disusun oleh manajer proyek dan disampaikan kepada pemangku kepentingan proyek secara berkala. Laporan kemajuan proyek mencakup informasi tentang jadwal proyek yang direncanakan, kinerja waktu yang sebenarnya, penyimpangan waktu, dan tindakan korektif yang diambil. Laporan ini membantu dalam menjaga transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan waktu proyek, serta memungkinkan pemangku kepentingan untuk mengambil keputusan yang tepat waktu. F. TEKNOLOGI DALAM MANAJEMEN WAKTU PROYEK 1. Perangkat Lunak Manajemen Proyek Perangkat lunak manajemen proyek adalah aplikasi yang dirancang untuk membantu manajer proyek dalam merencanakan, mengorganisasi, dan mengendalikan waktu proyek. Beberapa perangkat lunak manajemen proyek yang populer meliputi Microsoft Project, Trello, Asana, dan Basecamp. Fitur umum yang disediakan oleh perangkat lunak ini meliputi pembuatan Work Breakdown Structure (WBS), penjadwalan, estimasi waktu, pelacakan kemajuan, dan alokasi sumber daya. MANAJEMEN PROYEK 97 2. Aplikasi Pelacak Waktu Aplikasi pelacak waktu adalah alat yang memungkinkan anggota tim untuk merekam waktu yang dihabiskan untuk kegiatan proyek. Aplikasi ini membantu manajer proyek dalam mengukur produktivitas, mengidentifikasi kegiatan yang memakan waktu, dan mengoptimalkan alokasi waktu dan sumber daya. Beberapa aplikasi pelacak waktu yang populer meliputi Toggl, Harvest, dan Time Doctor. 3. Sistem Informasi Proyek Sistem informasi proyek adalah platform yang mengintegrasikan berbagai alat, teknologi, dan data yang digunakan dalam manajemen proyek. Sistem ini menyediakan informasi real-time tentang status proyek, termasuk kemajuan waktu, biaya, dan sumber daya. Sistem informasi proyek memungkinkan manajer proyek untuk membuat keputusan yang lebih cepat dan lebih baik, serta mempermudah komunikasi dan kolaborasi antara anggota tim. 4. Integrasi Teknologi dalam Proses Manajemen Waktu Integrasi teknologi dalam proses manajemen waktu melibatkan penggunaan alat dan perangkat lunak yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan waktu proyek. Teknologi dapat membantu dalam perencanaan waktu proyek, pemantauan kemajuan, identifikasi penyimpangan, penyesuaian jadwal, dan pelaporan kemajuan. Dengan mengintegrasikan teknologi dalam manajemen waktu proyek, organisasi dapat mencapai penghematan waktu dan biaya yang signifikan, serta meningkatkan kualitas dan keberhasilan proyek. MANAJEMEN PROYEK 98 G. STUDI KASUS: MANAJEMEN WAKTU PROYEK YANG EFEKTIF 1. Pengantar Studi Kasus Proyek ABC merupakan sebuah proyek pengembangan perangkat lunak yang melibatkan 20 anggota tim dan memiliki durasi 12 bulan. Manajer proyek, Maria, diberi tanggung jawab untuk mengelola waktu proyek dan memastikan pengiriman tepat waktu. Studi kasus ini akan mengeksplorasi bagaimana Maria mengimplementasikan manajemen waktu proyek yang efektif dan hasil serta pelajaran yang diperoleh dari proyek ini. 2. Implementasi Manajemen Waktu Proyek Maria mulai dengan mengidentifikasi kegiatan proyek dan menyusun Work Breakdown Structure (WBS). Selanjutnya, dia menetapkan durasi estimasi untuk setiap kegiatan dan mengembangkan jadwal proyek dengan menggunakan teknik Critical Path Method (CPM). Maria juga memutuskan untuk mengadopsi pendekatan Agile dalam proyek ini, dengan mengorganisir pekerjaan dalam sprint dua minggu. Selama proyek berlangsung, Maria menggunakan perangkat lunak manajemen proyek untuk memantau kemajuan dan mengidentifikasi penyimpangan waktu. Dia juga mendorong komunikasi terbuka dan kolaborasi antara anggota tim, yang membantu mengidentifikasi hambatan dan mencari solusi. Ketika proyek mengalami keterlambatan karena perubahan kebutuhan, Maria dengan cepat menyesuaikan jadwal proyek dan mengalokasikan sumber daya yang diperlukan untuk mengatasi perubahan tersebut. Dia juga menggunakan aplikasi pelacak waktu untuk memastikan bahwa anggota tim tetap fokus pada prioritas proyek dan mengoptimalkan penggunaan waktu mereka. 3. Hasil dan Pelajaran yang Diperoleh MANAJEMEN PROYEK 99 Proyek ABC berhasil diselesaikan dalam waktu yang direncanakan dan dengan kualitas yang memenuhi ekspektasi klien. Beberapa pelajaran yang diperoleh dari studi kasus ini meliputi: Pentingnya perencanaan waktu proyek yang menyeluruh dan realistis, termasuk identifikasi kegiatan, estimasi durasi, dan penjadwalan. Manfaat pendekatan Agile dalam manajemen waktu proyek, terutama dalam hal fleksibilitas, adaptabilitas, dan komunikasi yang efektif. Keuntungan menggunakan teknologi, seperti perangkat lunak manajemen proyek dan aplikasi pelacak waktu, untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan waktu proyek. Pentingnya komunikasi terbuka dan kolaborasi antara anggota tim untuk mengatasi hambatan waktu dan mencapai tujuan proyek. Dengan menerapkan prinsip-prinsip manajemen waktu proyek yang efektif dan memanfaatkan teknologi yang tepat, Maria berhasil mengendalikan waktu proyek dan mencapai kesuksesan dalam proyek ABC. H. KESIMPULAN 1. Rekapitulasi Manajemen Waktu Proyek Manajemen waktu proyek melibatkan perencanaan, pengendalian, dan pengelolaan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek secara efisien dan efektif. Proses ini mencakup identifikasi kegiatan, estimasi durasi, penjadwalan, alokasi sumber daya, pemantauan kemajuan, dan penyesuaian jadwal. Beberapa metode dan teknik yang digunakan dalam manajemen waktu proyek meliputi Work Breakdown Structure (WBS), Critical Path Method (CPM), Program Evaluation and Review Technique (PERT), Gantt MANAJEMEN PROYEK 100 Chart, dan Agile Project Management. Teknologi, seperti perangkat lunak manajemen proyek, aplikasi pelacak waktu, dan sistem informasi proyek, juga dapat mendukung pengelolaan waktu proyek yang efektif. 2. Manfaat Manajemen Waktu Proyek yang Efektif Manajemen waktu proyek yang efektif memiliki beberapa manfaat, termasuk: a. Pengiriman proyek tepat waktu, yang meningkatkan kepuasan klien dan reputasi organisasi. b. Penggunaan sumber daya yang lebih efisien, yang menghasilkan penghematan biaya dan peningkatan produktivitas. c. Kemampuan untuk mengantisipasi dan mengatasi hambatan waktu, yang memungkinkan proyek tetap di jalur yang benar. d. Peningkatan komunikasi dan kolaborasi antara anggota tim, yang berkontribusi pada kesuksesan proyek secara keseluruhan. 3. Tantangan dan Solusi dalam Manajemen Waktu Proyek Beberapa tantangan umum dalam manajemen waktu proyek meliputi perubahan lingkungan proyek, kesalahan dalam estimasi waktu, dan masalah dalam eksekusi proyek. Untuk mengatasi tantangan ini, solusi yang dapat diterapkan meliputi: a. Melakukan perencanaan waktu proyek yang menyeluruh dan realistis, dengan mempertimbangkan kemungkinan perubahan dan risiko. b. Mengadopsi pendekatan yang fleksibel, seperti Agile Project Management, yang memungkinkan penyesuaian jadwal dan prioritas proyek secara efisien. c. Menggunakan teknologi yang tepat untuk mendukung pengelolaan waktu proyek, seperti perangkat lunak manajemen proyek dan aplikasi pelacak waktu. d. Mendorong komunikasi terbuka dan kolaborasi antara anggota tim, untuk mengidentifikasi dan mengatasi hambatan waktu secara efektif. MANAJEMEN PROYEK 101 BAGIAN 9 MANAJEMEN KUALITAS PROYEK A. PENDAHULUAN Manajemen Kualitas Proyek adalah suatu pendekatan sistematis untuk mengelola kualitas dalam sebuah proyek, dimana kualitas dipahami sebagai kesesuaian produk atau layanan yang dihasilkan dengan persyaratan yang ditetapkan oleh stakeholders. Dalam Manajemen Kualitas Proyek, kualitas dipandang sebagai aspek penting yang harus dikelola secara terintegrasi dengan sumber daya, waktu, biaya, dan risiko proyek secara keseluruhan. Tujuan umum dari Manajemen Kualitas Proyek adalah untuk memastikan bahwa produk atau layanan yang dihasilkan sesuai dengan persyaratan dan kebutuhan stakeholders serta memenuhi standar kualitas yang ditetapkan. Tujuan spesifik dari setiap proses Manajemen Kualitas Proyek meliputi: (1) menentukan kriteria kualitas proyek, (2) menentukan metode pengukuran kualitas proyek, (3) menentukan sumber daya untuk pengendalian kualitas proyek, (4) mengevaluasi proses-proses proyek, (5) melakukan perbaikan proses, (6) melakukan pengukuran kualitas proyek, dan (7) mengimplementasikan perbaikan kualitas proyek. B. PRINSIP-PRINSIP MANAJEMEN KUALITAS PROYEK Prinsip-prinsip Manajemen Kualitas Proyek adalah panduan umum yang digunakan untuk mengembangkan sistem Manajemen Kualitas Proyek yang efektif. Prinsip-prinsip tersebut meliputi: (1) fokus pada pelanggan, (2) kepemimpinan, (3) keterlibatan semua pihak yang terkait, (4) pendekatan sistematis untuk manajemen, (5) peningkatan berkelanjutan, (6) pengambilan keputusan berdasarkan data, (7) MANAJEMEN PROYEK 102 hubungan saling menguntungkan pengelolaan risiko. dengan supplier, dan (8) Manajemen Kualitas Proyek sangat penting dalam memastikan bahwa produk atau layanan yang dihasilkan sesuai dengan persyaratan dan kebutuhan stakeholders, sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi mereka. Selain itu, Manajemen Kualitas Proyek juga membantu mengurangi risiko kegagalan proyek, menekan biaya perbaikan, meningkatkan efisiensi proses, dan meningkatkan kepuasan pelanggan. C. KERANGKA KERJA MANAJEMEN KUALITAS PROYEK Ada 3 hal yang perlu dilakukan: 1. Plan Quality Management Plan Quality Management adalah proses untuk menentukan kebijakan dan prosedur untuk Manajemen Kualitas Proyek, serta menentukan metode dan standar untuk pengukuran dan penilaian kualitas. Hasil dari proses ini adalah rencana Manajemen Kualitas Proyek, yang berisi informasi tentang kriteria kualitas, metode pengukuran kualitas, sumber daya yang dibutuhkan, dan jadwal kegiatan Manajemen Kualitas Proyek. 2. Perform Quality Assurance Perform Quality Assurance adalah proses untuk memastikan bahwa kebijakan dan prosedur yang ditetapkan dalam rencana Manajemen Kualitas Proyek diikuti dengan baik dan sesuai dengan persyaratan atau spesifikasi yang ditetapkan. Perform Quality Assurance melibatkan pengumpulan data dan informasi untuk mengevaluasi proses dan produk atau layanan yang dihasilkan, serta melakukan perbaikan proses secara terus-menerus. MANAJEMEN PROYEK 103 3. Control Quality Control Quality adalah proses untuk memantau dan mengendalikan kualitas produk atau layanan yang dihasilkan, serta memastikan bahwa produk atau layanan tersebut sesuai dengan persyaratan atau spesifikasi yang ditetapkan. Control Quality melibatkan penggunaan alat dan teknik yang tepat, serta pemantauan terus-menerus terhadap proses dan produk atau layanan yang dihasilkan. Jika terdapat ketidaksesuaian antara produk atau layanan yang dihasilkan dengan persyaratan atau spesifikasi yang ditetapkan, maka harus dilakukan tindakan perbaikan yang sesuai. D. PENERAPAN MANAJEMEN KUALITAS PROYEK Penerapan Manajemen Kualitas Proyek memerlukan upaya yang berkesinambungan dan terus-menerus untuk memastikan bahwa kualitas produk atau layanan yang dihasilkan sesuai dengan persyaratan atau spesifikasi yang ditetapkan. Beberapa faktor penting dalam penerapan Manajemen Kualitas Proyek antara lain: 1. Komunikasi yang Efektif Komunikasi yang efektif antara Project Manager, tim proyek, dan stakeholder lainnya sangat penting untuk memastikan bahwa semua pihak memahami kebijakan dan prosedur yang ditetapkan dalam rencana Manajemen Kualitas Proyek. Komunikasi yang efektif juga dapat membantu memastikan bahwa feedback dari stakeholder dapat diterima dan dipertimbangkan dalam perbaikan proses. 2. Penggunaan Alat dan Teknik yang Tepat Penggunaan alat dan teknik yang tepat dapat membantu meningkatkan efektivitas dan efisiensi Manajemen Kualitas Proyek. Alat dan teknik yang dapat digunakan antara lain: MANAJEMEN PROYEK 104 histogram, diagram pareto, peta kendali, diagram sebab-akibat, dan teknik sampling statistik. 3. Pelatihan dan Pengembangan Tim Proyek Pelatihan dan pengembangan tim proyek sangat penting untuk memastikan bahwa mereka memahami dan mampu mengimplementasikan kebijakan dan prosedur yang ditetapkan dalam rencana Manajemen Kualitas Proyek. Pelatihan dan pengembangan tim proyek juga dapat membantu meningkatkan motivasi dan kinerja mereka dalam memenuhi persyaratan kualitas proyek. 4. Pemantauan dan Evaluasi Pemantauan dan evaluasi secara terus-menerus terhadap proses dan produk atau layanan yang dihasilkan dapat membantu mengidentifikasi ketidaksesuaian dan kesempatan untuk meningkatkan kualitas proyek. Pemantauan dan evaluasi dilakukan melalui pengukuran kualitas, audit kualitas, dan analisis data. E. ALAT DAN TEKNIK DALAM MANAJEMEN KUALITAS Banyak alat dan teknik dalam manajemen kualitas yang dipakai seperti Flow Diagram, Checklist, Control Chart, Pareto Chart, dan Ishikawa Diagram. Contoh beberapa alat dan teknik lainnya adalah: 1. Benchmarking Benchmarking adalah Teknik untuk membandingkan kinerja proyek dengan standar terbaik dalam industri atau dengan proyek serupa yang telah dilakukan sebelumnya. Dengan melakukan benchmarking, tim proyek dapat mempelajari praktik terbaik dan mengidentifikasi area perbaikan untuk memastikan bahwa produk atau layanan yang dihasilkan sesuai dengan persyaratan kualitas yang telah ditetapkan. MANAJEMEN PROYEK 105 2. Analisis Pemasok Analisis Pemasok adalah teknik mengevaluasi kemampuan pemasok dalam memenuhi persyaratan kualitas yang telah ditetapkan. Dengan melakukan analisis pemasok, tim proyek dapat memastikan bahwa produk atau layanan yang diberikan oleh pemasok memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan. 3. Perencanaan Penerimaan Perencanaan Penerimaan digunakan untuk menentukan kriteria penerimaan untuk produk atau layanan yang dihasilkan. Dengan menetapkan kriteria penerimaan, tim proyek dapat memastikan bahwa produk atau layanan yang dihasilkan memenuhi persyaratan kualitas yang telah ditetapkan sebelumnya. 4. Inspeksi Inspeksi adalah teknik untuk mengevaluasi produk atau layanan yang dihasilkan dengan cara memeriksa secara langsung. Dengan melakukan inspeksi, tim proyek dapat mengidentifikasi cacat atau kekurangan pada produk atau layanan yang dihasilkan dan melakukan tindakan perbaikan yang diperlukan. 5. Testing Testing adalah teknik yang ditujukan untuk menguji produk atau layanan yang dihasilkan untuk memastikan bahwa produk atau layanan tersebut memenuhi persyaratan kualitas yang telah ditetapkan. Dengan melakukan testing, tim proyek dapat mengidentifikasi masalah dan melakukan perbaikan sebelum produk atau layanan tersebut dirilis kepada pengguna akhir. 6. Analisis Data Analisis Data adalah teknik evaluasi data kualitas yang telah dikumpulkan selama proyek. Dengan melakukan analisis data, tim proyek dapat mengidentifikasi tren dan pola dalam data, serta melakukan tindakan perbaikan yang diperlukan untuk MANAJEMEN PROYEK 106 memastikan bahwa produk atau layanan yang dihasilkan memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan. 7. Teknik Peer Review Teknik Peer Review adalah teknik yang digunakan untuk mengevaluasi produk atau layanan yang dihasilkan dengan cara melibatkan anggota tim proyek dan ahli lain untuk melakukan review terhadap produk atau layanan tersebut. Dengan menggunakan Teknik Peer Review, tim proyek dapat memastikan bahwa produk atau layanan yang dihasilkan memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan dan melakukan perbaikan yang diperlukan sebelum produk atau layanan tersebut dirilis kepada pengguna akhir. F. STUDY KASUS: IMPLEMENTASI MANAJEMEN KUALITAS PROYEK PADA PEMBANGUNAN SEBUAH PABRIK 1. Deskripsi Proyek Pembangunan Pabrik Proyek pembangunan pabrik ini untuk sebuah perusahaan manufaktur besar dan membutuhkan waktu sekitar 3 tahun termasuk untuk pembebasan lahan. Anggaran untuk pabrik dan peralatan saja (diluar biaya pembebasan lahan) adalah sekitar 800 milyar rupiah. 2. Implementasi Manajemen Kualitas Proyek a. Plan Quality Management Pada fase perencanaan kualitas, tim proyek melakukan identifikasi kriteria kualitas pabrik, di antaranya adalah kekuatan struktur pabrik, kualitas material yang digunakan, kualitas pengerjaan, serta kualitas sistem mekanikal dan elektrikal yang dipasang. Selain itu, metode pengukuran kualitas yang digunakan adalah dengan melakukan inspeksi dan pengujian material, pengujian kekuatan struktur, serta monitoring kinerja sistem mekanikal dan elektrikal. Sumber MANAJEMEN PROYEK 107 daya yang disiapkan untuk pengendalian kualitas proyek adalah tenaga ahli di bidang konstruksi, penggunaan teknologi untuk monitoring kualitas, serta penggunaan material berkualitas tinggi. b. Perform Quality Assurance Pada fase pelaksanaan kualitas, dilakukan perform quality assurance dengan mengimplementasikan rencana kualitas yang telah disusun pada fase perencanaan. Tim proyek melakukan inspeksi berkala pada setiap tahapan pembangunan, termasuk pengujian material, pengujian kekuatan struktur, serta monitoring kinerja sistem mekanikal dan elektrikal. Selain itu, tim proyek juga melibatkan pihak ketiga untuk melakukan pengujian independen guna memastikan hasil yang akurat dan objektif. c. Control Quality Pada fase pengendalian kualitas, dilakukan control quality dengan menggunakan alat dan teknik seperti control chart, Pareto chart, dan Ishikawa diagram untuk memonitor performa kualitas proyek secara terus-menerus. Tim proyek juga melakukan identifikasi variance terhadap kriteria kualitas dan melakukan perbaikan kualitas proyek apabila ditemukan ketidaksesuaian dengan standar kualitas yang telah ditetapkan. 3. Hasil dan Dampak Implementasi Manajemen Kualitas Proyek Dalam implementasi manajemen kualitas proyek pada pembangunan pabrik, terdapat beberapa hasil dan dampak yang positif yang berhasil dicapai oleh tim proyek. Beberapa di antaranya adalah: a. Meningkatkan kualitas konstruksi pabrik: Implementasi manajemen kualitas proyek pada pembangunan pabrik berhasil meningkatkan kualitas konstruksi secara signifikan. Hal ini terlihat dari hasil pengujian material, pengujian kekuatan MANAJEMEN PROYEK 108 struktur, dan monitoring kinerja sistem mekanikal dan elektrikal yang berhasil memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan. b. Menjamin keamanan dan keselamatan: Dengan meningkatnya kualitas konstruksi, maka hal ini juga berdampak pada peningkatan keamanan dan keselamatan bagi para penghuni pabrik. Dengan demikian, implementasi manajemen kualitas proyek pada pembangunan pabrik berhasil memberikan dampak positif pada aspek keselamatan dan kesehatan kerja. c. Meningkatkan kepercayaan stakeholders: Keberhasilan implementasi manajemen kualitas proyek pada pembangunan pabrik juga berdampak positif pada peningkatan kepercayaan stakeholders, seperti pemilik proyek, kontraktor, dan pengguna gedung. Hal ini berpotensi untuk memperluas peluang bisnis di masa yang akan datang. Manajemen kualitas proyek sangat penting untuk memastikan kesuksesan proyek. Dengan mengimplementasikan manajemen kualitas proyek, akan terjadi pengendalian yang lebih baik terhadap kualitas produk atau layanan yang dihasilkan oleh proyek. Hal ini akan meminimalkan risiko kegagalan proyek dan meningkatkan kepuasan pelanggan. Materi bab manajemen kualitas proyek juga relevan dengan manajemen proyek secara umum, karena kualitas menjadi salah satu aspek yang perlu dikelola dalam manajemen proyek. Untuk mengimplementasikan manajemen kualitas proyek pada proyek selanjutnya, diperlukan pemahaman yang kuat tentang prinsip-prinsip, kerangka kerja, alat dan teknik, serta proses penerapan manajemen kualitas proyek. Selain itu, perlu dilakukan analisis risiko untuk mengidentifikasi potensi masalah kualitas dan cara mengatasinya. Terakhir, pemilihan tim yang terampil dan terlatih dalam manajemen kualitas proyek juga menjadi faktor kunci MANAJEMEN PROYEK 109 dalam keberhasilan implementasi manajemen kualitas proyek pada proyek selanjutnya. Sebagai pemimpin proyek, Project Manager memainkan peran penting dalam Manajemen Kualitas Proyek. Tugas Project Manager dalam Manajemen Kualitas Proyek meliputi: (1) membuat rencana Manajemen Kualitas Proyek, (2) memastikan bahwa kriteria kualitas proyek ditetapkan dengan jelas dan sesuai, (3) memastikan bahwa metode pengukuran kualitas proyek yang digunakan akurat dan efektif, (4) memastikan bahwa sumber daya yang diperlukan untuk pengendalian kualitas proyek tersedia, (5) memimpin evaluasi dan perbaikan proses, (6) memantau dan mengontrol kualitas proyek secara terus-menerus, dan (7) memastikan implementasi perbaikan kualitas proyek. MANAJEMEN PROYEK 110 BAGIAN 10 MANAJEMEN RISIKO PROYEK A. KETIDAKPASTIAN DI DALAM PROYEK Saat ini kebutuhan akan pengelolaan proyek dengan efektif menjadi tuntutan bagi organisasi yang semakin terus meningkat. Hal ini disebabkan adanya nilai yang diharapkan dari hasil proyek yang dilakukan oleh mereka. Di dalam standar yang dibuat Project Management Institute, salah satu dari organisasi profesi manajemen proyek global, didefinisikan bahwa adanya beberapa karakteristik yang dimiliki oleh proyek dan salah satunya adalah ketidakpastian. Tingkat ketidakpastian di dalam pengelolaan proyek relatif lebih tinggi dibandingkan dengan pengelolaan operasional. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya proyek cenderung menghasilkan sesuatu yang baru (unik). Salah satu aplikasi pengelolaan proyek terlihat di dalam proses pengembangan produk baru. Dikarenakan proses tersebut mengembangkan produk yang baru, maka prosesnya cenderung baru. Proses yang baru memiliki tingkat ketidakpastian yang lebih tinggi, karena proses ini cenderung tidak atau kurang memiliki referensi terdahulu. Semakin tinggi tingkat ketidakpastian proyek, semakin tinggi juga potensi tingkat kesulitan yang akan dihadapi oleh organisasi yang mengelolanya, dimana nantinya akan berdampak kepada objektif dari proyek tersebut seperti lingkup, biaya, waktu, kualitas dan/atau elemen proyek lainnya. Dalam ranah keilmuan manajemen, ketidakpastian dapat dikelola jika diketahuinya informasi-informasi pendukung di awal, dimana pengelolaanya lebih cenderung berbasis risiko. Penerapan ini dapat dilakukan jika diketahuinya informasi pendukung walaupun masih memiliki probabilitas. Risiko dapat didefinisikan sebagai sebuah kejadian (event) yang memiliki probabilitas dan berdampak MANAJEMEN PROYEK 111 terhadap tujuan dari sasaran yang akan dituju dari organisasi (Hopkin, 2017). Dalam konteks proyek, maka dampaknya terkait dengan tujuan dari proyek tersebut. Walaupun risiko lebih dipersepsikan dalam konteks negatif, namun risiko bisa saja berdampak positif, tergantung perspektif, dimana hal ini lebih dilihat menjadi sebuah kesempatan (opportunity). Pengelolaan risiko yang efektif akan mengurangi dampak negatif dan memperbesar peluang untuk mendapatkan dampak positif jika risiko tersebut terjadi. B. TAHAPAN UMUM MANAJEMEN RISIKO PROYEK Untuk dapat mengelola risiko proyek dengan efektif, ada beberapa proses atau tahapan yang umum dilakukan. Project Management Institute (Project Management Institute, 2017) merumuskan beberapa langkah/tahapan sebagai berikut : 1. Perencanaan Manajemen Risiko. Dalam tahapan ini pada dasarnya organisasi proyek menentukan strategi yang akan diambil, misalnya metode, pendekatan atau struktur risiko, strategi respon terhadap risiko, definisi dan skoring dari probabilitas dan dampak risiko, dan seterusnya 2. Identifikasi risiko. Pada tahapan ini, manajer proyek beserta timnya melakukan identifikasi semua risiko yang relevan. Semua risiko yang teridentifikasi akan dikumpulkan dalam daftar risiko yang kemudian akan dianalisis/ases. 3. Asesmen Risiko. Risiko yang sudah diidentifikasi akan dinilai baik secara kualitatif maupun kuantitatif dengan tujuan untuk mengukur tingkat risiko yang harus diemban oleh organisasi risiko. 4. Respon terhadap risiko proyek. Tingkat risiko yang sudah diketahui akan direspon dengan beberapa cara tergantung dari tingkat kepekaan dan strategi risiko dalam organisasi proyek. 5. Monitor risiko. Salah satu elemen penting di dalam pengelolaan risiko. Ketidakpastian senantiasa berada di dalam pengelolaan MANAJEMEN PROYEK 112 proyek, oleh karena itu risiko harus selalu dimonitor sepanjang perjalanan proyek. Masing-masing tahapan di atas merupakan pendekatan umum, sehingga cara maupun teknik yang dipakai mungkin saja berbeda di tiap organisasi. Tahapan tersebut akan dijelaskan secara detail di subbab untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap agar dapat memahami pengelolaan risiko yang efektif lebih. C. IDENTIFIKASI RISIKO Pengelolaan risiko proyek yang efektif diawali dengan mengetahui risiko apa saja yang akan berpotensi untuk terjadi di dalam proyek tersebut. Identifikasi risiko bisa dilakukan dengan beberapa cara misalnya dengan tidak langsung dengan menggunakan desktop study yaitu melihat data-data yang relevan seperti lessons learned dari proyek-proyek sebelumnya, publikasi ilmiah, buku teks, laporanlaporan dari Lembaga resmi, sumber resmi relevan lainnya. Cara lainnya bisa dilakukan adalah mengambil dengan data langsung seperti brainstorming, interview, focus group discussion, delphie technique atau juga dengan menggunakan pakar yang memiliki pengalaman dengan proyek yang serupa. Teknik ini dapat digunakan jika memang minimnya atau kurang ter update nya data-data pendukung yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi risiko tersebut. Semua risiko yang sudah teridentifikasi dikumpulkan di dalam sebuah dokumen yang disebut dengan Risk Register, dimana data-data tersebut akan digunakan sebagai basis untuk melakukan asesmen untuk mengetahui tingkat risiko proyek. Risk Register merupakan dokumen yang dinamis, karena dapat berubah di dalam perjalanan sebuah proyek. MANAJEMEN PROYEK 113 D. ASESMEN (PENILAIAN) RISIKO PROYEK Langkah penting selanjutnya dalam pengelolaan risiko adalah asesmen. Tahapan ini bertujuan untuk mengetahui tingkat risiko dalam proyek. Tingkat risiko ini akan menjadi acuan untuk menetapkan respon terhadap risiko yang akan diambil jika risiko tersebut akhirnya terjadi. Tingkatan risiko akan selalu dibandingkan dengan selera (risk appetite) dan toleransi risiko (risk tolerance). Gambar 10.1. Contoh sikap dan selera risiko beserta batas toleransi risiko Ada dua pendekatan utama di dalam asesmen risiko yang pertama adalah dengan cara kualitatif dan yang kedua dengan kuantitatif. Pendekatan kualitatif bertujuan untuk mengetahui tingkat risiko secara singkat dan memudahkan untuk membuat prioritas atas risiko tersebut. Tingkat risiko ini umumnya didefinisikan sebagai severitas atau tingkat keparahan risiko yang merupakan produk dari skor probabilitas dan dampak dari risiko. Biasanya definisi dari skor probabilitas ditetapkan seperti yang dituangkan dalam Gambar 1. Warna yang ada di dalam matriks tersebut memberikan gambaran MANAJEMEN PROYEK 114 tingkat severitas dari risiko. Makin kecil tingkat dampak dan probabilitas, maka warnanya cenderung hijau. Jika tingkatnya menengah makan akan berwarna jingga dan jika tingkat risiko tinggi maka akan cenderung ada di area yang berwarna merah. Setiap tingkat dari dampak maupun risiko harus didefinisikan oleh organisasi dan dijadikan acuan dalam melakukan asesmen tersebut. Gambar 10.2. Contoh Matriks Probabilitas dan Dampak Risiko Pendekatan kedua dalam melakukan asesmen risiko ini adalah dengan menggunakan kuantitatif. Metode ini dipakai jika, organisasi merasakan penting untuk mengkuantifikasi dari risiko tersebut dengan menggunakan nilai ekonomi (misalnya nilai risiko dalam mata uang tertentu). Pada dasarnya cara penilaian resikonya sama, hanya saja metode ini tidak menggunakan skor, melainkan nilai ekonomi dan tingkat kemungkinan risiko dengan menggunakan persentase layaknya angka probabilitas (p) dimana 0<p<1 (Project Management Institute, 2019). Metode ini sering digunakan dalam ilmu pengambilan keputusan (Decision Science), dimana hasil MANAJEMEN PROYEK 115 perhitungannya sering disebut sebagai Expected Monetary Value (EMV) yang merupakan produk perkalian antara nilai ekonomi dengan probabilitas. Metode perhitungan estimasi yang sering digunakan dalam analisis ini adalah Program Evaluation Review Technique (PERT) yang merupakan teknik yang digagas oleh Booz Allen and Hamilton dalam membantu mengkalkulasi estimasi dalam sebuah proyek di Departement of Defense Amerika Serikat di tahun 1960-an (Ballesteros-Pérez, 2017; Hartley & Wortham, 1966; Hu, 2011). Yang penting dari analisis kuantitatif ini adalah untuk mempertajam tingkat severitas dari risiko dengan melakukan analisis dengan menggunakan teknik simulasi Monte Carlo. Dengan menggunakan perangkat lunak tertentu seperti @Risk dari www.palisade.com, simulasi risiko dapat dilakukan dengan menentukan sebaran/distribusi dari kemungkinan terjadinya risiko, misalnya dalam hal ini dengan menggunakan sebaran segitiga (triangle distribution) seperti yang dituangkan dalam Gambar 10.3. Gambar 10.3. Contoh distribusi probabilitas segitiga dengan menggunakan perangkat lunak @Risk Setelah ditetapkan distribusi probabilitas, maka perangkat lunak tersebut dapat menghitung distribusi fungsi secara kumulatif (cumulative distributed function) yang memberikan gambaran MANAJEMEN PROYEK 116 tingkat probabilitas dan dampak dari risiko tersebut seperti yang dituangkan di dalam Gambar 10.4 Gambar 10.4. Contoh Diagram Fungsi Distribusi dengan @Risk Dengan dihasilkannya Diagram diatas, maka manajer proyek misalnya dengan mudah dapat melihat estimasi durasi sebuah aktivitas dengan tingkat probabilitasnya. Gambar 3 menjelaskan bahwa estimasi awal manajer proyek adalah 80 hari, namun ternyata hasil analisis memberikan gambaran bahwa tingkat keyakinannya hanya sebesar 30%. Jika manajer proyek merasakan perlu untuk menambah tingkat keyakinannya menjadi 80%, maka durasi aktivitasnya menjadi 87.23 hari. Dampak dari analisis di atas, memberikan gambaran perlunya pencadangan (buffer) durasi dari aktivitas tersebut sebesar 87.23 – 80 hari = 7.23 hari. Jika memang risiko tersebut terjadi, maka manajer proyek sudah siap dengan cadangan durasi tersebut (Kwon & Kang, 2019). Penggambaran atas penilaian risiko secara kuantitatif, juga sering menggunakan teknik yang berbeda yaitu dengan analisis sensitivitas dengan menggunakan diagram Tornado seperti yang dituangkan dalam Gambar 10.5. MANAJEMEN PROYEK 117 Gambar 10.5. Contoh hasil analisis risiko dengan Diagram Tornado Teknik ini pada dasarnya sama dengan EMV, namun penyajian diagramnya saja yang berbeda. Diagram Tornado memberikan gambaran secara singkat dan mudah kepada manajer proyek untuk memberikan prioritas terhadap risiko-risiko sesuai dengan urutan tingkatan nilai risikonya. Dengan kata lain, makin berada di atas, maka resikonya akan makin besar. Hal lain yang bisa dilihat adalah bentangan nilai EMV nya dari nilai rata-rata (mean) dengan simpangannya. Diagram ini juga bisa memberikan gambaran tingkat toleransi risiko proyek dari sebuah organisasi. Jika misalnya nilai EMV nya cukup tinggi dan diluar dari toleransi risiko organisasi, maka mungkin saja, jika organisasi tersebut mengambil langkah menggeser/memindahkan risiko tersebut ke pihak lain yang secara detail akan dijelaskan di dalam poin E. Walaupun kalkulasinya terlihat kompleks, penggunaan analisis kuantitatif dalam asesmen risiko proyek tidaklah bersifat mutlak. Biasanya langkah analisis kuantitatif diambil setelah organisasi merasa MANAJEMEN PROYEK 118 penting untuk menghitung nilai ekonomi risikonya dan biasanya untuk menjadi hitungan pembanding atas nilai premi asuransi yang harus dibayarkan, jika langkah transfer risiko yang akan diambil dalam merespon risiko yang diidentifikasi. E. RESPON TERHADAP RISIKO PROYEK Respon risiko proyek merupakan antisipasi atas risiko proyek yang merujuk kepada sikap dan toleransi risiko proyek dari sebuah organisasi. Pada umumnya respon risiko proyek lebih banyak mengacu kepada risiko negatif (ancaman), dibandingkan dengan risiko positif (kesempatan). Buku ini membahas respon atas kedua domain risiko tersebut. Respon dari risiko negatif pada umumnya sebagai berikut: 1. Menghindar (Avoid): Respon seperti ini merupakan strategi yang relatif mudah. Organisasi cenderung tidak mau untuk menerima dampak dari risiko tersebut karena sudah di luar dari batas toleransi risiko mereka. Dalam konteks risiko yang positif, maka respon ini menjadi eksploitasi, karena pihak yang mengalaminya berharap mendapatkan peluang yang lebih besar. 2. Mitigasi (Mitigation): Respon ini pada dasarnya menekan tingkat risiko dengan agar dapat berada dalam jangkauan toleransi risiko yang dapat diterima oleh organisasi proyek. Tingkat resiko dapat ditekan dengan cara mereduksi probabilitas dan/atau dampak dari risiko tersebut. Strategi ini memerlukan upaya yang lebih besar dari sekedar menghindar, baik dari internal maupun dari eksternal. Dalam konteks risiko yang positif, maka organisasi cenderung untuk melakukan penajaman (enhancement) terhadap risiko tersebut, karena mereka ingin memperbesar peluang atau dampak dari risiko positifnya. 3. Mengalihkan (Transfer): Strategi respon risiko ini mengalihkan dampak dari kejadian risiko ke pihak yang lain, karena mereka MANAJEMEN PROYEK 119 tidak mau/dapat mengemban dampak tersebut. Contoh konkrit dari sebuah pengalihan adalah asuransi. 4. Menerima (Accept): Respon risiko seperti ini merupakan cara yang diambil, karena dampak dari risiko tersebut masih dalam batas toleransi organisasi/individu. Dalam konteks risiko yang positif, hal yang sama juga akan dilakukan, karena mereka melihat peluang yang mereka cari masuk dalam batas toleransi mereka. F. MONITOR RISIKO PROYEK Proses pengelolaan risiko ini bertujuan untuk mengawasi risiko baik yang sudah direncanakan maupun yang tidak. Tentunya kita masih ingat bahwa salah satu karakteristik dari proyek adalah tingginya tingkat ketidakpastian, terutama pada pengembangan produk produk yang relativ baru yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. Jika sebuah resiko terjadi, dimana resiko tersebut sudah direncanakan sebelumnya, maka manajer proyek harus memastikan apakah: 1. Risiko yang terjadi sesuai dengan tingkat severitas (tingkat probabilitas dan dampak) yang direncanakan. 2. Risiko tersebut direspon sesuai dengan rencana penanganan risiko, misalnya dengan menggunakan dana cadangan untuk penanganan risiko proyek (contingency reserve) 3. Hasil dari respon tersebut sesuai dengan rencananya (Misalnya tidak terjadi resiko residu dan/atau risiko turunan (secondary risk). Namun bisa saja di dalam perjalan sebuah proyek terjadi resiko yang tidak pernah diduga/direncanakan sebelumnya. Jika hal ini terjadi, maka penanganan resiko tersebut bisa jadi bersifat sementara atau sering juga disebut dengan workaround, artinya organisasi berusaha melakukan segala upaya agar risiko tersebut tidak berdampak lebih besar lagi terhadap proyek dan/atau organisasinya. Penanganan ini biasanya juga menggunakan dana cadangan risiko (management MANAJEMEN PROYEK 120 reserve) yang memang direncanakan untuk hal-hal yang bersifat tidak terduga. Dengan demikian, pada dasarnya ke empat proses di atas merupakan sebuah proses yang iteratif (berulang), karena dalam perjalanannya, proyek tersebut memiliki kemungkinan untuk berhadapan dengan risiko yang tidak terduga. Artinya, organisasi akan terus melakukan identifikasi risiko proyek, melakukan asesmen risiko proyek dan merespon risiko proyek tersebut dalam siklus sebuah proyek. Jika proyek sudah selesai, risiko proyek bisa saja beralih menjadi risiko operasional karena risiko tersebut senantiasa melekat pada produk dari proyek tersebut. Maka dengan demikian, akan terjadi estafet pengelolaan risiko tersebut dari manajer proyek kepada orang maupun institusi yang akan menjalankan/menggunakan produk dari proyek tersebut, sampai siklus produk tersebut berakhir dan tidak digunakan lagi oleh penggunanya. MANAJEMEN PROYEK 121 BAGIAN 11 ISO 21502 ( PROJECT MANAGEMENT ) MENDORONG TATA KELOLA PROYEK LEBIH BERKUALITAS, EFISIEN, & EFEKTIF ISO 21500 (kemudian menjadi ISO 21502), secara resmi diterbitkan oleh International Organization for Standardisasi (ISO) pada bulan September 2012, merupakan sebuah pedoman untuk penerapan manajemen proyek secara komprehensif. Panduan Ini menyajikan kerangka acuan umum dan standar proses secara menyeluruh untuk semua standar dan konsep manajemen proyek. Standar internasional dengan tegas memposisikan proyek dalam konteks program dan portofolio proyek. Kita memaklumi bahwa hamper seluruh proyek, khususnya yang memiliki kompleksitas tinggi tak akan terlepas dari peran sebuah manajemen proyek (project management). Manajemen proyek akan membantu tim dalam merencanakan, mengelola, dan melaksanakan pekerjaan untuk memenuhi persyaratan proyek, efisien, efektif, dan tepat waktu. Para pelaksana proyek sudah pasti ingin menerapkan manajemen proyek secara baik demi keberhasilan seluruh pekerjaannya baik dari sisi biaya, waktu, dan manfaat sesuai dengan yang ditetapkan oleh pemilik proyek (owner), konsultan, kontraktor, vendor, dan stakeholder lainnya. Oleh sebab itu, bagi sebuah kontraktor, manajemen proyek merupakan hal yang sudah mafhum. Akan tetapi, yang seringkali menjadi pertanyaan adalah apakah manajemen proyek yang diterapkan sudah sesuai dengan standar yang berlaku, bahkan diakui secara internasional? MANAJEMEN PROYEK 122 Manajemen proyek merupakan upaya yang menggabungkan pengetahuan, keterampilan, alat, dan teknik khusus untuk memberikan sesuatu yang bernilai terhadap orang lain. Manajemen proyek juga terkait dengan proses memimpin tim untuk mencapai tujuan, yaitu menyelesaikan proyek dalam jangka waktu tertentu yang sudah disepakati bersama, misalnya oleh pemilik proyek (owner), konsultan, kontraktor, vendor, dan pihak lainnya. Di sisi lain, manajemen proyek juga memiliki standar-standar yang harus diperhatikan dan diatur dalam berbagai kebijakan salah satunya International Standardization Organization (ISO), organisasi internasional yang berwenang dalam menciptakan ketentuan atau standar untuk diterapkan di seluruh dunia. Misalnya, ISO 45001:2018 yang mengatur tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), ISO 9001:2015 Sistem Manajemen Mutu, ISO 21502:2020 Guidance on Project Management (Panduan Manajemen Proyek), dan masih banyak standar ISO/IEC lainnya. ISO 21502:2020 tentang Pedoman Manajemen Proyek yang baru telah dirilis belum lama ini, menggantikan ISO 21500, merilis nomor yang sama untuk standar baru menjadi seri ISO “3P” (Project, Program and Portfolio Management). ISO 21502 memberikan panduan umum tentang konsep dan proses manajemen proyek, program dan portofolio yang penting untuk keberhasilan realisasi Proyek. ISO 21502 ini diterima secara global sebagai standar kualitas manajemen yang digunakan sebagai acuan dasar untuk penerapan manajemen proyek, program dan portofolio berdasarkan praktik yang terbaik dan konsisten berdasarkan berbagai pengalaman yang ada. Seri ISO yang merupakan bagian dari seri ISO 21502 juga mencakup: 1. ISO 21503, Manajemen proyek, program dan portofolio – Panduan manajemen program. 2. ISO 21504, Manajemen proyek, program dan portofolio – Panduan manajemen portofolio. MANAJEMEN PROYEK 123 3. ISO 21505, Manajemen proyek, program, dan portofolio – Panduan tata kelola. 4. ISO/TR 21506, Manajemen proyek, program, dan portofolio – Kosakata. 5. ISO 21508, Earned Value dalam manajemen proyek dan program. 6. ISO 21511 Work Breakdown Structure untuk manajemen proyek dan program. Seri ISO 21500 dikembangkan oleh komite teknis ISO ISO/TC 258, Manajemen proyek, program dan portofolio, yang sekretariatnya dipegang oleh ANSI, anggota ISO untuk Amerika Serikat. Melalui standar ini diharapkan agar kinerja pelaksanaan proyek menjadi lebih baik dalam hal biaya yang lebih rendah dan waktu pekerjaan lebih pendek, serta kualitas yang terjaga. Termasuk dalam hal ini adalah menjamin manfaat proyek yang maksimal bagi pemangku kepentingan khususnya pemilik proyek. ISO 21502 ini akan menjadi panduan menuju peningkatan kinerja proyek yang signifikan dalam memenuhi nilai kinerjanya yaitu proyek diselesaikan dalam batasan anggaran dan waktu dengan memastikan gangguan minimal, serta memperoleh nilai manfaat yang besar. ISO 21502 ini juga akan memungkinkan organisasi untuk memenuhi semua persyaratan manajemen proyek dan meminimalisir kemungkinan kegagalan proyek. Dimulai pada tahun 2006, ISO menyadari akan adanya kebutuhan organisasi atas diperlukannya panduan manajemen proyek yang diakui secara global dan untuk mengembangkan panduan ini sehingga dibentuk tim ahli manajemen proyek internasional untuk mengembangkan pedoman manajemen proyek yang bisa diterima secara global. Pengembangan dimulai dari awal dengan mengintegrasikan pengetahuan dan metodologi manajemen proyek dari seluruh dunia, seperti dari PMI (Project Management Institute) yang memiliki panduan manajemen proyek bernama PMBOK MANAJEMEN PROYEK 124 (Project Management Body of Knowledge), IPMA (International Project Management Association) yang memiliki panduan manajemen proyek bernama ICB (Individual Competence Baseline) dan PRINCE2 (PRojects IN Controlled Environments). Semua pekerjaan ini menghasilkan dokumen awal panduan manajemen proyek yang relatif ringkas dan berdampak besar bagi panduan pada profesi manajemen proyek dan semua pemangku kepentingannya untuk bisa berbicara dengan bahasa yang sama dan bekerja dengan konsep dasar yang sama di bawah naungan standar ISO. Pedoman internasional untuk manajemen proyek, ISO 21500, dirilis pada tahun 2012 dan sejak itu banyak dibicarakan oleh komunitas manajemen proyek internasional. Baik Individu maupun perusahaan telah mempertimbangkan materi pelajaran untuk menggabungkan dan / atau beradaptasi dengan pedoman dalam ISO 21500 dan banyak pengalaman telah diperoleh sebagai hasilnya. Kedatangan ISO 21500 merupakan salah satu tonggak utama bagi profesi manajemen proyek. Ini adalah pedoman berbasis standar global pertama untuk manajemen proyek, dan karena itu akan membentuk dasar untuk standar manajemen proyek saat ini dan masa depan. Pada dasarnya, dokumen yang bertindak sebagai titik awal untuk pengembangan lebih lanjut dari profesi manajemen proyek Beberapa perubahan dari ISO 21500 menjadi ISO 21502 diantaranya definisi manajemen proyek, telah berubah menjadi "Manajemen proyek mengintegrasikan praktik untuk mengarahkan, memulai, merencanakan, memantau, mengendalikan dan menutup proyek, mengelola sumber daya yang ditugaskan untuk proyek dan memotivasi orang-orang yang terlibat dalam proyek untuk mencapai tujuan proyek. Tujuan manajemen proyek harus dilakukan penentuan melalui serangkaian proses dan metode yang harus dirancang sebagai suatu sistem terpadu dan harus mencakup praktik yang diperlukan untuk proyek tertentu ". ISO 21502 sekarang menjadi standar berdasarkan apa yang disebut "praktik" daripada MANAJEMEN PROYEK 125 “proses” yang di ISO 21500 sebelumnya (secara signifikan dipengaruhi oleh proses di PMBoK). Definisi "praktik" menunjukkan konsep yang lebih abstrak dan kurang preskriptif daripada "proses" yang mirip pendekatan direktif. Gambar 11.1 Tata kelola manajemen proyek terintegrasi menurut ISO 21502 Standar Standar internasional ISO 21502 ini terdiri dari empat klausa utama, masing-masing membahas: 1. Konsep manajemen proyek 2. Persyaratan untuk memformalkan manajemen proyek 3. Tata kelola manajemen proyek terintegrasi 4. Tata kelola untuk mengelola proyek. Klausul ISO 21502 yang versi terakhir dan terpanjang ini menjelaskan praktik manajemen proyek, yang sebagaimana disebutkan menggantikan proses dalam edisi sebelumnya. Dengan perencanaanyang harus lebih ditekankan di antara praktik manajemen proyek MANAJEMEN PROYEK 126 terpadu -, praktik yang dilaporkan di sini adalah 17, dibandingkan dengan 10 bidang subjek ISO 21500 sebelumnya. Komposisi semua praktik digambarkan dalam gambar di atas, di mana "praktik untuk manajemen proyek" membentuk mahkota di sekitar manajemen proyek terintegrasi. Gambar bunga ini bisa menjadi kandidat sebagai simbol standar baru. Gambar 11.2. Skema Praktek Manajemen Proyek yang Terintegrasi di ISO21502 Praktek manajemen proyek yang terintegrasi adalah inti dari ISO 21502. Pendekatan integrasi mencakup empat tingkat organisasi, yaitu: 1. organisasi sponsor 2. sponsor proyek 3. manajer proyek 4. pemimpin paket pekerjaan. Pada tingkat pertama memainkan peran lebih kepada portofolio manajemen terutama pada saat aktivitas pre-project. Beberapa hal yang menjadi lingkup ini adalah pemilihan dan seleksi proyek yang dianggap memberikan manfaat bagi organisasi. Justifikasi pemilihan proyek tertuang dalam dokumen business case yang menjadi dasar MANAJEMEN PROYEK 127 pelaksanan proyek. Kegiatan lainnya adalah pengawasan pada saat implementasi proyek lalu dilanjutkan dengan kegiatan pasca proyek yaitu untuk mengevaluasi pencapaian perolehan manfaat dari proyek tersebut. Organisasi sponsor mewakili tingkat pengambilan keputusan tertinggi dimana keputusan investasi dibuat, serta tempat untuk puncak pelaporan, audit, penjaminan, dan puncak eskalasi proyek. Pada tingkat kedua yaitu sponsor proyek, yang mengarahkan dan mengawasi proyek dalam skala yang lebih mendalam, terkadang menjadi steering committee dari proyek tersebut dimana manajer proyek akan melakukan pelaporan. Pada tingkat ketiga, yaitu manajer proyek dengan tugas pokok mengendalikan dan menjalankan proyek setiap harinya, mencakup mobilisasi tim proyek, tata kelola proyek, perencanaan proyek, pelaksanaan proyek hingga proyek selesai dan di serah terimakan. Pada tingkat keempat, yaitu penanggung jawab paket pekerjaan yang bertugas menyelesaikan paket pekerjaan secara tuntas sesuai lingkup paket pekerjaannya. ISO 21502 telah diakui oleh sebagian besar organisasi internasional yang mewakili dan berkontribusi pada profesi manajemen proyek. Hal ini sudah terbukti oleh misalnya edisi terbaru PMBOK dari PMI maupun ICB dari IPMA sudah selaras dengan struktur dan konten yang ada di ISO 21502. Selain itu, ISO 21502 didasarkan juga pada hasil pengalaman penerapan manajemen proyek terbaik di lapangan sehingga bisa menjadi pembelajaran bagi pengembangan ilmu dan konsep manajemen proyek di dunia. ISO 21502 menjadikan sebuah pengakuan bahwa tata kelola manajemen proyek sudah sesuai dengan standar internasional. Standar yang menunjukkan bahwa organisasi tersebut memiliki sistem tata kelola dan struktur MANAJEMEN PROYEK 128 manajemen proyek yang dirancang dengan baik, lebih bergantung kepada sistem ketimbang individu, konsisten dalam penerapan dan bukan manajemen proyek yang bersifat ad hoc atau reaktif, tetapi cenderung pada pendekatan yang yang lebih berorientasi proaktif dan terorganisir dengan baik. Pada akhirnya dengan memiliki tata kelola manajemen proyek yang konsisten ini maka kemungkinan besar akan dihasilkan kinerja yang lebih tepat waktu, tepat biaya, kualitas baik & tepat manfaat. Dengan memperoleh sertifikasi ISO 21502 adalah pembuktian bahwa sebuah organisasi mampu merencanakan, mengelola, dan memantau kemajuan proyek secara memadai, pada saat yang sama membekali tim proyeknya dengan keterampilan dasar untuk mengalokasikan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas dan memenuhi tenggat waktu dengan tepat. 0 Hal terpenting dari penerapan ISO 21502 ini akan menjadi acuan dalam memberikan pengetahuan dan panduan bagaimana sebuah organisasi mendokumentasikan hasil proyek secara produktif. Kepemilikan sertifikasi ini membuktikan bahwa bahwa organisasi tersebut memiliki keterampilan yang diperlukan untuk mengerjakan proyek secara profesional dan mengelola tim secara efektif. Sementara beberapa perusahaan di indonesia yang sudah berhasil mengantongi ISO 21502 ini di antaranya PT Tripatra Engineers And Constructors, PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk., dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk. Semua lembaga/institusi baik pemerintahan, BUMN, maupun swasta perlu didorong untuk mengantongi sertifikat ISO 21502:2020 tentang Panduan Manajemen Proyek demi menghasilkan proyek yang berkualitas secara keseluruhan dan mencapai tujuan, yaitu menyelesaikan proyek dalam jangka waktu tertentu yang sudah disepakati bersama, misalnya oleh pemilik proyek (owner), konsultan, kontraktor, vendor, dan pihak lainnya. MANAJEMEN PROYEK 129 DAFTAR PUSTAKA A Guide to the Project Management Body of Knowledge (PMBOK® Guide), 6th Edition. (2017). Newtown Square, PA: Project Management Institute, Inc. Agus Suryanto, Anan Nugorho, “Manajemen Proyek Teknologi Informasi”Cetakan Pertama, 2020 : Penerbit Deepublish Ahmed, S., & Shuaib, Q. (2019). A review of quality management in construction projects. Journal of Civil Engineering and Management, 25(7), 663-675. AL KHUSAERI, M.W., 2022. Studi Saluran Drainase Jl. Purwobinangun Rt. 15 Menuju Yonzipur Kel. Makroman Kec. Sambutan. Kurva Mahasiswa, 12(2), pp.12-20. Alifen. (1999). Analisis What if Sebagai Metode Antisipasi Keterlambatan Durasi Proyek. Surabaya : Universitas Kristen Petra Anggaardiyon. 2017. “Inisiasi Proyek Project Initiation Adalah Tahap Awal.” Coursehero.Com. Retrieved April 29, 2023 (https://www.coursehero.com/file/p5d03eu/Inisiasi-proyekproject-initiation-adalah-tahap-awal-pertama-kalinyasuatu/?cv=1). Apriliani, Meidiana. 2020. “Awas Salah, Ini 5 Tahapan Manajemen Proyek Yang Harus Dilalui!” Tomps.Id. Retrieved April 29, 2023 (https://www.tomps.id/awas-salah-ini-5-tahapanmanajemen-proyek-yang-harus-dilalui/?cv=1). Ashworth, Allan. (1988). Perencanaan Biaya Bangunan. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama MANAJEMEN PROYEK 130 Asnuddin. (2018). Penerapan Manajemen Konstruksi pada Tahap Controling Proyek (Studi Kasus Bangunan Laboratorium Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado). Jurnal Sipil Statik. Vol. 6, No. 11 Basir Barthos, Manajemen Sumber Daya Manusia (Suatu Pendekatan Makro), (Cet. IX; Jakarta: Bumi Aksara, 2012). Budi, Setia (2013). Rencana Anggaran Biaya Berbasis Database. Universitas Pendidikan Indonesia Cohn, M., & Ford, D. (2003). Introducing an Agile Process to an Organization. Computer, 36(6), 74-78. Darmali, A. and Waty, M., 2022. analisis peranan konsultan manajemen konstruksi dalam mencegah keterlambatan waktu konstruksi. JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil, pp.141-152. Dr. Ridi Ferdiana, “Dasar-Dasar Manajemen Proyek Teknologi Informasi”, Cetakan Pertama, 2016 : Teknosain Easthan. (2002). The Fast Track Manual, European Construction Institute. United Kingdom Endang Setyawati, Ruby Santamoko, Agus Leo Handoko, Priski Setiawan, "Manajemen Proyek Sistem Informasi", 2021 : Penerbit Insan Cendekia Mandiri Ervianto, W. I. (2009). Manajemen Proyek Konstruksi, Yogyakarta: Andi Publishing Gray, Clifford E. And Erick W. Larson Project Management: The Managerial Process.. The McGraw-Hill, 2006. Harsono, S., & Fauzi, M. (2019). Manajemen Proyek Terintegrasi: Project Management Body of Knowledge (PMBOK) Guide 6th Edition. Penerbit Andi. MANAJEMEN PROYEK 131 Heagney, J. (2016). Fundamentals of project management (5th ed.). Amacom. Heagney, J. (2016). Fundamentals of Project Management, 5th Edition. New York, NY: AMACOM. Heizer J., Render B., and Munson C. (2020). Operations Management: Sustainability and Supply Chain Management, 13th Edition. United Kingdom: Pearson Education Limited. Heldman, K. (2018). PMP: Project Management Professional Exam Study Guide, 9th Edition. Hoboken, NJ: John Wiley & Sons, Inc. Highsmith, J. (2009). Agile Project Management: Creating Innovative Products, 2nd Edition. Boston, MA: AddisonWesley. Hill, Gerard M.. The Complete Project Management Office Handbook. Auerbach Publications, 2004 IPMA. Individual Competence Baseline: For project, program, & portofolio management version 4.0. Switzerland 2015. ISO 21500:2012, Project, programme and portfolio management – Guidance on project management, International Standardization Organization ISO 21502:2020, Project, programme and portfolio management – Guidance on project management, International Standardization Organization ISO 21502:2021, Project, programme and portfolio management – Concepts and Context, International Standardization Organization (underway publication, as of February 4th, 2021) MANAJEMEN PROYEK 132 Johan, Johny ; Benjamin Prasetyo. (1998). Trade Off Waktu dan Biaya pada proyek Studi Kasus pada Proyek Kantor Bank Metro. Jurnal Teknik Sipil F.T Untar, No.3, Tahun IV, November, 2012 Josephine Samuel. 2021. “4 Tahapan Project Life Cyle.” Sis.Binus.Ac.Id. Retrieved April 29, 2023 (https://sis.binus.ac.id/2021/04/30/4-tahapan-project-lifecyle/). Junaedi, Nur Lella. 2022. “Tahapan Dalam Manajemen Proyek Yang Harus Diketahui.” Ekrut.Com. Retrieved April 29, 2023 (https://www.ekrut.com/media/tahapan-dalam-manajemenproyek?cv=1). Kartini, I., Abdullah, S.E., Juli Riauwati, S.E., Yoeliastuti, S.P., Tannady, H., Khasanah, S.P., Kom, M., Hade Chandra Batubara, S.E., Haryati La Kamisi, S.P., Wendy Liana, M.T. and Purbaningsih, Y., 2022. Manajemen Proyek. Cendikia Mulia Mandiri. Kerzner, H. (2006). Project Management; Asystem Approach to Planning, Scheduling and Control. Van Nostrand Reinhald Kerzner, H. (2017). Project Management: A Systems Approach to Planning, Scheduling, and Controlling, 12th Edition. Hoboken, NJ: John Wiley & Sons, Inc. Kerzner, H. (2017). Project management: A systems approach to planning, scheduling, and controlling. John Wiley & Sons. Kerzner, Harold R.. Project Management: A System Approach to Planning, Scheduling, and Controlling. John Wiley & Sons Inc, New Jersey 2013. MANAJEMEN PROYEK 133 Kiswati, Chasanah. (2019). Analisis konsultan manajemen konstruksi terhadap penerapan manajemen waktu pada pembangunan rumah sakit di Jawa Tengah. Neo Teknika, vol. 5 Koropit, D. and Moniaga, F., 2022. Metode Pelaksanaan Konstruksi Dalam Proyek Pembangunan Balai Kesehatan Ibu Dan Anak (BKIA) Rsud Provinsi Sulawesi Utara. Jurnal Ilmiah Realtech, 18(2), pp.43-48. Larson, E. W., & Gray, C. F. (2018). Project Management: The Managerial Process, 7th Edition. New York, NY: McGraw-Hill Education. Lestari, I.G.A.A.I., Diputera, I.G.A., Kurniari, K. and Prasetya, I.W.W., 2022. Analisis Perbandingan Metode Pelaksanaan pada Pekerjaan Pasangan Dinding Batako dan Bata Ringan. Jurnal Ilmiah Kurva Teknik, 11(1), pp.25-30. Lewis, J. P. (2007). Fundamentals of Project Management, 4th Edition. New York, NY: AMACOM. Lock, D. (2017). Project Management, 11th Edition. London, UK: Kogan Page Limited. M. Kadarisman, Manajemen Pengembangan Smber Daya Manusia, (Cet. II; Jakarta: Rajawali Pers, 2013). Mahendra, Qomariyah. (2013). Analisa Nilai Hasil Terhadap Biaya Pada Proyek Konstruksi Studi Kasus Pada Proyek Pembangunan Hotel EastParc Yogyakarta. E-Jurnal Matriks Teknik Sipil, Vol. 21, No. 33 Malayu S.P. Hasibuan, Manajemen Sumber Daya Manusia (Edisi Revisi) (Cet. VII; Jakarta: PT Bumi Aksara, 2005). MANAJEMEN PROYEK 134 Malik, A. (2012). Pengantar Bisnis Jasa Pelaksana Konstruksi. Togyakarta : Andi Martinelli, R. J., & Milosevic, D. Z. (2016). Project Management Toolbox: Tools and Techniques for the Practicing Project Manager, 2nd Edition. Hoboken, NJ: John Wiley & Sons, Inc. Meredith, J. R., & Mantel Jr, S. J. (2018). Project management: A managerial approach. John Wiley & Sons. Mulcahy, R. (2018). PMP Exam Prep, 9th Edition. Minneapolis, MN: RMC Publications, Inc. Niron (1992). Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan Rencana Anggaran Biaya Bangunan. Jakarta : CV. Asona Noviana, Martia Nur. 2021. “Manajemen Proyek: Pengertian, Ruang Lingkup Dan Proses.” Depokpos. Retrieved April 29, 2023 (https://www.depokpos.com/2021/11/manajemen-proyekpengertian-ruang-lingkup-dan-proses/?cv=1). Nugroho, R., Hardjomuljadi, S. and Amin, M., 2022. Dampak Pendemi Covid-19 Atas Timbulnya Klaim Waktu Dan Biaya Pada Proyek-Proyek Pembangkit Listrik Di Indonesia. Konstruksia, 14(1), pp.18-32. Nusantara, B.P., 2022. Evaluasi penerapan contract change order sebagai solusi permasalahan perubahan lingkup kontrak (studi kasus: Proyek Simpang Susun Balaraja Timur Pada Tol JakartaMerak, Kabupaten Tangerang). Pebi, Saihul. (2022). Analisis Manajemen Konstruksi Pada Jembatan Cikesual. Jurnal Konstruksi dan Infrastruktur. Vol. 10, No.1 Permen PU No 04/PRT/M/2009 tentang Sistem Manajemen Mutu Departemen Pekerjaan Umum. MANAJEMEN PROYEK 135 Pinto, J. K. (2015). Project management: Achieving competitive advantage (4th ed.). Pearson. PMI. A Guide to The Project Management Body of Knowledge (PMBOK® Guide) Sixth Edition. Project Management Institute, Inc, Pennsylvania USA 2017. PRINCE2. Managing Successful Projects with PRINCE2, Axelos UK 2017th Edition Pritchard, C. L., & PMP, P. R. (2014). Risk Management: Concepts and Guidance, 5th Edition. New York, NY: Auerbach Publications. Prof. Dr. Laurance A. Manullang, DA, “Teori Dan Aplikasi Manajemen Komprehensif Integralistik Edisi Revisi”, 2014 : Mitra Wacana Media) Project Management Institute (PMI). (2021). A guide to the project management body of knowledge (PMBOK® Guide) (7th ed.). PMI Publications. Project Management Institute. (2013). A Guide to the Project Management Body of Knowledge (PMBOK® Guide) – Fifth Edition Project Management Institute. (2017). A guide to the project management body of knowledge (PMBOK® guide) (6th ed.). Project Management Institute. Project Management Institute. 2021. A Guide to the Project Management Body of Knowledge (PMBOK Guide) - Seventh Edition and The Standard for Project Management. Pennsylvania: Independent Publishers Group. MANAJEMEN PROYEK 136 Project Management Institute. 2022. Process Group: A Practice Guide. Pennsylvania: Independent Publishers Group. Rani, Fuadi. (2016). Efisiensi dan Efektivitas Pelaksanaan Struktur Kolom Antara Metode Precast Dengan Konvensional. Jurnal Teknik Sipil. Vol. 5, No. 3 Remita. (2022). Analisis Rencana Anggaran Biaya Pada Penggantian Jembatab Wai-Wei Kabupaten Seram Bagian Barat. Simetrik, Vol.12, No.1 Santosa, B. (2008). Manajemen Proyek Konsep dan Implementasi, Yogyakarta: Graha Ilmu Sastroatmadja, Soedrajat, A.,Ir. (1984). Analisa Anggaran Biaya Pelaksanaan. Bandung : Nova Schwalbe, K. (2020). Information Technology Project Management, 9th Edition. Boston, MA: Cengage Learning. Soedrajat. (1984). Analisa Anggaran Biaya Pelaksanaan. Bandung : Nova Soeharto, I. (1999). Manajemen Proyek dari Konseptual sampai Operasional, Jakarta: Erlangga Soeharto. (1999). Manajemen Proyek (dari Konseptual sampai Operasional), Jilid I, Edidi 2. Jakarta : Erlangga Soemardi. (2010). Assessing the Role and Competence of Mandor in Indonesian Construction Industry, Second International Conference on Construction in Developing Countries (ICCIDCII). 29 April 2014 Stephen P. Robbins & Mary Coulterm, “Manajemen” edisi kesepuluh jilid 1, 2010 : Penerbit Erlangga MANAJEMEN PROYEK 137 Subeki Ridhotullah, M.M., & Mohammad Jauhar, S.Pd., “Pengantar Manajemen”, 2015 : Prestasi Pustaka Jakarta Sulistyorini, Manajemen Pendidikan Islam (Cet. I; Yogyakarta: Penerbit Teras, 2009). Taneo, F., 2022. Analisis Metode Pelaksanaan Underconstruction Jembatan (Studi Kasus Rehabilitasi Jalan dan Pembangunan Jembatan Siangan-Lokasrana) (Doctoral dissertation, Universitas Mahasaraswati Denpasar). Undang - Undang No. 2 Tahun 2017Tentang Jasa Konstruksi Peraturan Pemerintah No. 30 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi Verzuh, E. (2015). The Fast Forward MBA in Project Management, 5th Edition. Hoboken, NJ: John Wiley & Sons, Inc. Virginia, (2021). Analisis Rencana Anggaran Biaya pada Proyek Pembangunan Rumah Susun Papua 1 di Distrik Muara Tami Kota Jayapura Provinsi Papua. Jurnal Sipil Statik, Vol. 8 No.4 Wardani, A.M.C., Wijaya, I.M.H. and Yanti, N., 2022. Metoda Pelaksanaan Konstruksi Pada Jalan Tol Bali Mandara. Widya Teknik, 18(01), pp.37-43. Wulfram. (2004). Teori Aplikasi Manajemen Proyek Konstruksi. Yogyakarta : Andi Wysocki, R. K. (2019). Effective Project Management: Traditional, Agile, Extreme, Hybrid, 8th Edition. Hoboken, NJ: John Wiley & Sons, Inc. Yamit, Zulian. (2005). Manajemen Kualitas Produk dan Jasa. Yogyakarta : Ekonisia MANAJEMEN PROYEK 138 Yulis Maulida Berniz, S.E., M.M., “Ilmu Manajemen Sebuah Pengantar Bagi Dosen dan Mahasiswa” 2022 : Penerbit Deepublish MANAJEMEN PROYEK 139 TENTANG PENULIS Ronald Belferik, S.Kom., M.Kom. Seorang Penulis dan Dosen Prodi Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak Politeknik Wilmar Bisnis Indonesia. Lahir di Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang, 05 April 1987 Sumatera Utara. Penulis merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara dari pasangan bapak Maringan Lumban Tobing dan Ibu Emelya Br. Sidauruk. ia menamatkan pendidikan program Sarjana (S1) di Universitas Mikroskil prodi Sistem Informasi dan menyelesaikan program Pasca Sarjana (S2) di Universitas Sumatera Utara prodi Teknik Informatika. Ar. Andiyan, ST., MT., IAI. Lahir di Bandung 35 tahun yang lalu. S1 Teknik Arsitektur dilanjut S2 Magister Teknik Sipil Pendidikan ini menekuni bidang ilmu Arsitektur pada Sub bidang Desain Arsitektur, Teknologi Bangunan, Green Architecture, Urban Design, Manajamen Konstruksi. Dosen dan Kaprodi di Prodi Arsitektur FST Universitas Faletehan, ia juga tengah berkiprah sebagai praktisi di bidang Konsultan Arsitektur dan Engineering tahun 2006 sekaligus CEO/Founder PT.Fyra Karya Abadi sebagai Direktur Utaman, Serta aktif di organisasi profesi Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) berlisensi STRA Madya serta sebagai Wakil III ATAKI Jawa Barat, Wakil ketua III INTAKINDO Jawa barat. Menjadi Chief Editor pada Jurnal Arsitektur Archicentre serta Editor Jurnal Internasional, MANAJEMEN PROYEK 140 Reviewer Jurnal Internasional Bereputasi Q1-Q4 Publisher Elsevier,Springer Nature & Hindawi, 5 Associate Editor,1 Jurnal Manager,13 Editor Jurnal,31 Reviewer Jurnal masing-masing ada yang terakreditasi Sinta 3,4 dan 5 dan Nasional tidak terakreditasi serta aktif menulis buku di genre Teknik khususnya arsitektur, mulai referensi, bookchapter, dan buku populer lainnya. Andiyan dapat dihubungi melalui e-mail: andiyanarch@gmail.com || IG: @andiyanarch Ir. Isnaini Zulkarnain, S.T., M.T. Seorang Penulis dan Dosen Prodi Teknik Sipil Fakultas Sains Dan Teknologi Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur. Lahir di Samarinda, 03 Desember 1981. Penulis merupakan anak kedua dari dua bersaudara dari pasangan bapak Abd Mubin, S.Pd., M.Psi. dan Almarhumah Ibu Normaniah. Riwayat pendidikan program Sarjana (S1) di Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil dan menyelesaikan program Pasca Sarjana (S2) di Universitas Brawijaya prodi Teknik Sipil konsentrasi di bidang Manajemen Konstruksi serta menempuh Program Profesi Insinyur (Ir) di Universitas Mulawarman. Email. Iz890@umkt.ac.id MANAJEMEN PROYEK 141 Prof. Dr. Musran Munizu, SE., M.Si., CIPM., CBOA., CSOPA Dilahirkan di Kelurahan Baadia, Kota BauBau, Provinsi Sulawesi Tenggara pada 9 September 1975. Sejak 1 Desember 2000 menjadi dosen tetap pada Fakultas Ekonomi Unhas, dengan mengampuh beberapa mata kuliah seperti Manajemen dan Organisasi, Manajemen Operasional, Manajemen Strategik, Manajemen Rantai Pasokan, dan Metode Kuantitatif. Selain mengajar, penulis juga aktif pada beberapa organisasi profesi dan keilmuan antara lain: Asosiasi Ilmuwan Manajemen Indonesia (AIMI), Asosiasi Profesor Indonesia (API), Forum Manajemen Indonesia (FMI), dan American Academy of Project Management (AAPM). Menyelesaikan pendidikan dasar pada SDN 2 Bone-Bone, 1987; Sekolah menengah pertama pada SMPN Betoambari, 1990; dan sekolah menengah atas pada SMAN 2 Bau-Bau, 1993. Memperoleh gelar Sarjana Ekonomi (SE.) pada Jurusan Manajemen Fak. Ekonomi UNHALU, 1998; Gelar Magister Sains (M.Si) diperoleh dari Program Studi Ilmu Manajemen PPs. Universitas Airlangga, Surabaya, 2002; Gelar Doktor (Dr.) diperoleh dari Program Doktor Ilmu Manajemen (PDIM) Universitas Brawijaya, Malang, 2012. Memperoleh sertifikat CIPM (certified international project manager) dari American Academy of Project Management (AAPM), 2016. Sejak 1 Juli 2019 sebagai Guru Besar/Profesor di bidang Manajemen Operasional pada FEB-UNHAS. Pernah diberi beberapa amanah jabatan seperti Ketua Program KKNProfesi Fakultas Ekonomi Unhas, Kepala Bagian Akademik pada Program Non Reguler FE-Unhas, Sekretaris Departemen Manajemen FEB-Unhas, Plt. KaProdi MM-FEB Unhas, Direktur PPs. Universitas Cokroaminoto Makassar, dan Ketua Program Doktor Manajemen FEB-Unhas. Aktif sebagai editor dan reviewer pada beberapa jurnal baik skala nasional maupun internasional. Menghasilkan beberapa MANAJEMEN PROYEK 142 buku dan artikel yang telah dipublikasikan pada level nasional dan internasional. Selain itu aktif sebagai reviewer beasiswa LPDP, BPI, asesor Serdos/ BKD, dan LAMEMBA. Jerry Marthin Samosir, S.T, M.M Seorang Penulis dan Praktisi Project Management, dan saat ini. bekerja di Cisco Systems. Lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara pada tanggal 6 Maret 1981. Penulis merupakan anak pertama dari empat bersaudara dari pasangan Bapak Budiman Risomas Samosir dan Ibu Bunga Sitanggang. Ia menamatkan Pendidikan program Sarjana (S1) di Universitas Sumatera Utara prodi Teknik Elektro dan menyelesaikan program Pasca Sarjana (S2) di Universitas Bina Nusantara (Binus) prodi Business Management. Hery Afriyadi. SE., S.Kom., M.SI Sseorang Penulis dan Dosen Prodi Sistem Informasi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Lahir di desa Jambi, 15 April 1971di Jambi. Penulis merupakan anak ketiga dari empat bersaudara dari pasangan bapak Misro dan Alm.Hj. Siti Aminah ia menamatkan pendidikan program Sarjana (S1) Stikom Dinamika Bangsa Jambi prodi Sistem Informasi dan menyelesaikan program Pasca Sarjana (S2) di Stikom Dinamika Bangsa Jambi prodi konsentrasi di bidang Sistem Informasi. Alamat website : www.Hery Afriyadi.uinjambi.ac.id MANAJEMEN PROYEK 143 Djudjun Rusmiatmoko, S.T., M.Ars Seorang Penulis dan Dosen Progdi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas 17 Agustus 1945 Semarang. Lahir di Kota Semarang, 02 Oktober 1981 Jawa Tengah. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan bapak Rusmanto, SE dan Ibu Musini. ia menamatkan pendidikan Program Sarjana (S1) di Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Fakultas Teknik Progdi Arsitektur dan menyelesaikan program Pasca Sarjana (S2) di Universitas Diponegoro Semarang Program Magister Arsitektur. Iwan Adhicandra, S.T., M.Sc Seorang Penulis dan Dosen di Prodi Informatika, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer, Universitas Bakrie, Jakarta. Lahir di Jakarta, 1 Desember 1974. Ia menamatkan pendidikan program Sarjana (S1) di Universitas Trisakti, Jakarta, Prodi Teknik Elektro konsentrasi di bidang Teknik Telekomunikasi, dan menyelesaikan program Pasca Sarjana (S2) di University of Sheffield, Inggris, Prodi Teknik Elektro konsentrasi di bidang Komunikasi Data. Ia adalah Senior Member di Institute of Electrical and Electronic Engineers (SMIEEE). MANAJEMEN PROYEK 144 Dr. Ir. Ahmad Syamil, M.BA Ahmad Syamil meraih gelar Insinyur Teknik Mesin dari ITB dan MBA dari University of Houston, Houston, Texas, USA. Kemudian dia mendapatkan beasiswa dari USA untuk menyabet gelar PhD dari University of Toledo, Toledo, Ohio, USA. Disertasi PhD nya adalah finalis lomba disertasi terbaik yang diselenggarakan oleh Academy of International Business (AIB) dengan peserta dari seluruh dunia. Dia pernah hidup di USA selama 25 tahun dan jabatan terakhirnya adalah Associate Professor di Arkansas State University, USA. Di Binus, Ahmad Syamil pernah menjadi Dekan Magister Management Program di Binus Business School (BBS) Jakarta serta Dekan International Undergraduate Program (IUP) BBS Jakarta. Ia aktif publikasi di jurnal-journal internasional dan presentasi di konferensi-konferensi ternama. Selain itu juga, dia menjadi trainer di perusahaan-perusahaan terkemuka di Indonesia. Dia memiliki banyak sertifikasi profesional internasional termasuk dari American Society for Quality (ASQ), American Production and Inventory Management (APICS) / Association for Supply Chain Management (ASCM), dan Project Management Office – Global Alliance (PMO – GA). Ahmad Syamil sudah diinterrview dan dipublikasikan oleh banyak media termasuk Voice of America (VOA), Radio Republik Indonesia (RRI), majalah Tempo, koran Tribun (dimiliki oleh Kompas Gramedia), Pikiran Rakyat (Bandung), majalah SWA, majalah Warta Ekonomi, dll. Email: asyamil@binus.edu ; asyamil@gmail.com LinkedIn: https://www.linkedin.com/in/asyamil/ MANAJEMEN PROYEK 145 Dr. Mohammad Ichsan, Dipl.-Ing.,MT Dr. Mohammad Ichsan adalah praktisi, peneliti dan dosen di bidang manajemen proyek pada Binus Business School (Terakreditasi AACSB), Universitas Bina Nusantara. Ichsan telah banyak menerbitkan publikasi ilmiah di beberapa jurnal bereputasi di bidang Project Management. Ia menamatkan Pendidikan S1 Teknik Elektro (Diplom Ingenieur) dari Hochschule Darmstadt, Republik Federal Jerman dan gelar Magister Tekniknya didapatkan dari Universitas Indonesia di program kekhususan Manajemen Proyek dengan predikat cum laude. Pada tahun 2018, Ichsan menamatkan program doktor nya di bidang strategic project management. Dr. Ichsan juga memiliki beberapa kualifikasi di bidang project management seperti PMP dan PMI-SP dari Project Management Institute, serta PMO-CP dari PMO Global Alliance. Ia juga anggota aktif dari organisasi profesi global Project Management Institute dan pernah menjadi Region 15 Mentor PMI yang membawahi chapter beberapa negara di Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Indonesia serta Vietnam. Pada saat buku ini ditulis, Dr. Ichsan masih aktif sebagai salah satu anggota Board Volunteer Advisory Committee dari Project Management Institute. Alamat website : www.linkedin.com/in/mohammadichsan MANAJEMEN PROYEK 146 Ir Adi Prasetyo MEng(PM) MPU PMP PRINCE2 IPMA Level-A Adi Prasetyo adalah seorang praktisi di dunia Manajemen Proyek dengan 30 tahun pengalaman kerja. Berkecimpung sebagai seorang Profesional Manajemen Proyek yang menangani beberapa proyek di industri Konstruksi EPC, Pertambangan, Perminyakan & Gas, Sistem Informasi, serta Telekomunikasi. Berpengalaman menangani beberapa proyek PSN (Proyek Strategis Nasional) diantaranya Asian Games 2018, Smelter Alumina, Kereta Cepat Jakarta Bandung, LRT (Light Rail Transit) Jabodebek. Selain itu juga tercatat sebagai Dosen Manajemen Proyek di Magister Teknologi informasi - Universitas Indonesia. Memiliki latar belakang pendidikan terakhir Doctor in Research Management dari Binus Business School, Master of Engineering in Project Management dari RMIT University Australia serta memiliki sertifikasi manajemen proyek internasional yaitu PMP® (Project Management Professional) dari PMI (Project Management Institute) USA, PRINCE2® Practicioner (PRoject IN Controlled Environments) dan IPMA Level-A dari IPMA (International Project Management Association) serta sertifikasi nasional MPU (Manajer Proyek Utama) dari IAMPI (Ikatan Ahli Manajemen Proyek Indonesia). Penulis tercatat sebagai anggota Tim Asesor Nasional untuk Sertifikasi Manajemen Proyek IAMPI, serta Asesor Internasional untuk Sertifikasi IPMA (International Project Management Association). Saat ini juga aktif di berbagai organisasi profesi manajemen proyek yaitu selaku President dari PRINCE2 Indonesia Association (prince2.id), IAMPI (Ikatan Ahli Manajemen Proyek Indonesia) selaku pendiri organisasi dan juga dewan pengurus pusat, serta aktif di APFPM (Asia Pacific Federation of Project Management) sebagai anggota komite. Adi Prasetyo pernah MANAJEMEN PROYEK 147 menjabat sebagai President PMI (Project Management Institute) Chapter Indonesia tahun 2004 – 2008. MANAJEMEN PROYEK 148 Penerbit : PT. Sonpedia Publishing Indonesia Redaksi : Jl. Kenali Jaya No 166 Kota Jambi 36129 Tel +6282177858344 Email: Sonpediapublishing@gmail.com Website: www.buku.sonpedia.com View publication stats
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )