PERPADUAN KONSEP PENDIDIKAN ISLAM DAN METODE MONTESSORI UNTUK MEMBANGUN KARAKTER ISLAMI PADA ANAK USIA DINI DI KOTA DEPOK PROPOSAL TESIS Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Pendidikan (M. Pd) di Institut Nida El-Adabi Bogor Oleh Intan Chaerunnisa, S.Pd NIM : 23.51.01.0011 INSTITUT NIDA EL ADABI Jurusan Magister Pendidikan Agama Islam BOGOR 2024/2025 KATA PENGANTAR Assalamualaikum wr.wb Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkaan rahmat, karunia, hidayah dan inayah-Nya sehingga penulis dapat menyusun proposal tesis ini dengan judul “Perpaduan Konsep Pendidikan Islam dan Metode Montessori Untuk Membangun Karakter Islami Pada Anak Usia Dini di Kota Depok”. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang selalu menjadi teladan terbaik sepanjang masa, dan kita nantikan syafa’atnya di hari akhir kelak. Adapun tujuan dari penulisan proposal tesis ini adalah untuk memenuhi syarat dalam mendapatkan gelar Magister Pendidikan Agama Islam (M.Pd) pada Program Studi Pasca Sarjana Institut Nida El-Adabi Bogor. Dalam proses penulisan proposal tesis ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak sehingga penulisan proposal tesis ini dapat terselesaikan. Oleh karena itu, penulis mengucapkan banyak terimakasih yang sebesar – besarnya dan penghargaan setinggi- tingginya kepada: 1. Bapak Drs. H. Ramlan Rosyad, M.Si. selaku Ketua Institut Nida ElAdabi Bogor 2. Bapak Dr. Hasiolan, S.Q., MA.g selaku Ketua Program Studi Pasca Sarjana Institut Nida El-Adabi Bogor & Dosen Pembimbing Satu 3. Pembimbing Dua I 4. Ibunda tercinta Siti Barokah dan Bapak Solidin (Rahimakumullah) yang dengan gigih dan jerih payahnya membangunkan segenap jiwa dan raga, mendidik, dan membesarkan penulis dengan baik demi keberhasilan di masa depan agar menjadi orang yang bermanfaat untuk agama, bangsa dan negara. 5. Suami tercinta Syamsudin yang selalu memberikan semangat dan motivasi untuk menyelesaikan perkuliahan magister, serta putraputraku yang tercinta, Muhammad Alfatih Syahmi dan Faqih Fairuiza Ramadhan yang selalu menjadi inspirasi, semangat dan harapanku. 6. Seluruh Mahasisiwa/i Pasca Sarjana Institut Nida el Adabi, khususnya sahabat-sahabat Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam angkatan 2023. Akhirnya penulis menyadari bahwa penulisan proposal tesis ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu saran beserta kritikan yang membangun sangat diharapkan. Semoga karya ini dapat bermanfaat bagi semua. Depok, 30 Desember 2024 Intan Chaerunnisa, S.Pd II DAFAR ISI COVER KATA PENGANTAR ......................................................................... I DAFTAR ISI .....................................................................................III ABSTRAK .......................................................................................... V BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ........................................................... 1 B. Identifikasi Masalah.................................................................. 8 C. Pembatasan Masalah............................................................... 10 D. Rumusan Masalah ................................................................... 10 E. Tujuan Penelitian ......................................................................... 11 F. Manfaat Penelitian .................................................................. 11 G. Sistematika Penulisan .................................................................. 12 BAB II LANDASAN TEORI A. Konsep Pendidikan Islam .................................................... 14 1. Pengertian Pendidikan Islam ............................................. 14 2. Sumber Pendidikan Islam ...................................................... 16 3. Tujuan Pendidikan Islam ....................................................... 19 4. Prinsip Pendidikan Islam ....................................................... 20 5. Pendidikan Islam Bagi Anak Usia Dini ................................. 22 B. Metode Montessori 1. Biografi Maria Montessori ................................................ 25 2. Prinsip Metode Montessori ............................................... 27 3. Kelebihan dan Kelemahan Metode Montessori ................ 28 III C. Karakter Islami Anak Usia Dini 1. Pengertian Karakter Islami ................................................ 29 2. Nilai-Nilai Karakter Islami ............................................... 30 3. Pengertian Anak Usia Dini................................................ 37 D. Penelitian Yang Relevan....................................................... 37 E. Kerangka Pemikiran ............................................................ 40 BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian ..................................................................... 43 B. Waktu Penelitian ..................................................................... 43 C. Metode Penelitian ................................................................... 44 D. Populasi dan Sampel ............................................................... 45 E. Teknik Pengumpulan Data ...................................................... 47 F. Teknis Pengolahan dan Analisa Data ...................................... 48 DAFTAR PUSTAKA ................................................................ 50 IV ABSTRAK Nama NIM Jurusan Judul : Intan Chaerunnisa : 23.51.01.0011 : Magister Pendidikan Agama Islam Institut Nida el Adabi : “Perpaduan Konsep Pendidikan Islam dan Metode Montessori untuk Membangun Karakter Islami Pada Anak Usia Dini di Kota Depok” Penelitian ini membahas tentang perpaduan konsep pendidikan islam dan Metode Montessori untuk membangun karakter islami anak usia dini di Kota Depok. Fokus penelitian ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis perpaduan konsep pendidikan islam dan Metode Montessori pada anak usia dini di Kota Depok, khusus lembaga PAUD RA Nurul Huda, Al Ghani Montessori dan Granada Preschool & Kindergarten. Metode Montessori merupakan salah satu metode modern dalam pembangunan karakter anak usia dini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif studi kasus. Adapun yang menjadi sumber data adalah siswa, orang tua, guru, dan kepala sekolah yang terlibat langsung dalam proses pendidikan. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perpaduan konsep pendidikan islam dan Metode Montessori untuk membangun karakter islami anak usia dini di Kota Depok, terutama lembaga PAUD Granada Preschool & Kindergarten sudah dilakukan dengan baik, dari mulai perencanaan pembelajaran, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa perpaduan konsep pendidikan islam dan Metode Montessori dapat membangun karakter islami anak usia dini lebih efektif. Kata kunci: Perpaduan, Konsep Pendidikan Islam, Metode Montessori, Karakter Islami, Anak Usia Dini V BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan karakter pada anak usia dini merupakan investasi dalam menyiapkan generasi yang unggul di masa depan. Periode emas (golden age) dalam perkembangan anak adalah fase kritis di mana fondasi kepribadian, nilai moral, serta kemampuan sosial-emosional mulai terbentuk dengan kuat. Pengalaman yang dialami anak selama masa ini memiliki dampak signifikan terhadap perkembangan mereka di kemudian hari. Oleh karena itu, upaya membangun pendidikan karakter sejak dini menjadi prioritas utama bagi pendidik, orang tua, dan masyarakat. Dalam era globalisasi dengan arus informasi yang begitu cepat, anak-anak dihadapkan pada berbagai tantangan yang menuntut penguatan nilai moral dan karakter yang kokoh. Mantan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, dalam arahannya menegaskan pentingnya lima langkah strategis untuk menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul pada periode 2019-2024. Salah satu langkah tersebut adalah memperkuat pendidikan karakter dan pengamalan nilai-nilai Pancasila secara berkesinambungan. Pendidikan karakter harus terus diajarkan dan dikembangkan kepada peserta didik, mencakup nilai-nilai kasih sayang, keteladanan, moralitas, perilaku yang baik, serta semangat kebhinekaan. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS), khususnya Pasal 1 Ayat 1, yang menegaskan bahwa guru memiliki peran penting dalam 1 melaksanakan pembelajaran yang mendorong peserta didik secara aktif untuk mengembangkan potensinya. Potensi tersebut mencakup penguatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pendidikan karakter dalam Islam berlandaskan pada ajaran AlQur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Islam memberikan penekanan khusus pada pentingnya memiliki akhlak yang baik serta perilaku yang mulia. Istilah "akhlak" berasal dari kata "khulq," yang mengacu pada sifat, karakter, atau perilaku seseorang. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21) Ayat ini menegaskan bahwa Rasulullah SAW adalah teladan utama dalam hal karakter. Islam sangat menganjurkan umatnya untuk meneladani akhlak mulia Rasulullah, seperti sifat kejujuran, kelembutan hati, keadilan, dan kasih sayang Pendidikan karakter dalam perspektif Islam berfokus pada pendidikan akhlak, yaitu proses pendidikan yang bertujuan membimbing peserta didik agar mampu bersikap dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai karakter Islami. Dengan demikian, inti dari pendidikan Islam adalah membentuk karakter peserta didik agar memiliki kepribadian yang mulia. Pendidikan karakter adalah tujuan utama dalam pendidikan Islam, dan pembentukan karakter di kalangan umat Islam tidak terlepas dari proses pendidikan Islam itu sendiri. Jika pendidikan Islam dilaksanakan dengan 2 baik dan mencapai tujuannya, umat Islam akan menjadi individu-individu yang berkarakter. Di Indonesia, yang mayoritas penduduknya beragama Islam, pendidikan karakter sangat bergantung pada pendidikan Islam. Jika pendidikan Islam berhasil mencetak umat Islam Indonesia yang memiliki karakter mulia, maka Indonesia akan berhasil membangun karakter bangsanya. Sebaliknya, jika pendidikan Islam tidak terlaksana dengan baik dan menghasilkan umat Islam Indonesia yang hanya memprioritaskan kuantitas tanpa memperhatikan kualitas, khususnya dalam hal karakter, maka Indonesia akan gagal membangun karakter bangsanya. Dengan demikian, apabila umat Islam benar-benar memahami ajaran Islam dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, akan tercipta tatanan masyarakat yang berkarakter. Kenyataannya pendidikan karakter masih digabung dalam mata pelajaran agama dan diserahkan sepenuhnya pada guru agama. Namun, pendidikan karakter hingga saat ini belum memberikan hasil yang optimal. Hal ini terlihat dari berbagai fenomena sosial yang terjadi, seperti bullying, korupsi, pergaulan bebas, kerusakan lingkungan, kekerasan, kerusuhan, ketidakadilan hukum, serta konflik sosial lainnya. Tingkat kasus bullying di dunia pendidikan Indonesia masih tinggi. Indonesia menjadi negara penyumbang kasus bullying tertinggi nomor lima di dunia dari 78 negara dilansir dari data survey Programme for International Student Assessment (PISA). Berdasarkan studi PISA 42% pelajar di Indonesia berkisar berumur 15 tahun mengalami tindak kekerasan dan perundungan dalam kurun waktu satu bulan, 14% mengalami terancam, 15% mengalami terintimidasi, 18% mengalami kekerasan fisik seperti pemukulan serta dorongan, 19% mengalami kasus penculikan dan 22% 3 pelajar di Indonesia mengalami tindak perundungan melalui hinaan (Yusnata, 2023). Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Aris Adi Leksono menyatakan, data pengaduan KPAI menunjukkan kekerasan anak pada awal 2024 sudah mencapai 141 kasus. Dari seluruh aduan itu, 35 persen di antaranya terjadi di lingkungan sekolah atau satuan pendidikan. Beberapa Kasus bullying di pemberitaan media online: Tempo.co, seorang kakek dari anak usia dini yang bersekolah di Taman Kanak-Kanak (TK) Binus School Serpong melaporkan seorang bocah berusia empat tahun. Bocah tersebut diduga melakukan bullying terhadap cucu dari Rena Mulyana secara berulang (www.tempo.co). Kompas.com, Seorang siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, jadi korban perundungan oleh temannya sendiri (www.kompas.com). Tempo.co, ayah korban melaporan dugaan bully ke Kepolisian Resor (Polres) Metro Depok pada Kamis, 3 Oktober 2024. Laporan itu adalah imbas dari dugaan bully yang diperkirakan terjadi saat upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di SMP N 8 Depok, Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis, pada Selasa, 1 Oktober 2024 (www.tempo.co). Tingginya angka kekerasan terhadap anak di lingkungan pendidikan menjadi perhatian serius bagi semua pihak, termasuk peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, serta warga satuan pendidikan. Mengingat satuan pendidikan adalah tempat kedua bagi anak untuk menghabiskan waktu, maka tempat ini haruslah aman dan nyaman bagi mereka. Untuk mencegah dan menangani kekerasan pada anak di lingkungan pendidikan, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendikbudristek) telah mengeluarkan Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan (PPKSP). 4 Perilaku bullying dapat terjadi karena pelaku memiliki kepuasan saat menyakiti orang yang dianggap lebih lemah dan ingin mendapatkan perhatian dari orang sekitarnya, kemudian faktor lainnya adalah pelaku memiliki dendam, iri atau pun ingin menaikan rasa percaya diri pelaku (Yanti et al., 2021). Kebanyakan kasus, perundungan dapat terjadi dikarenakan pihak si korban terlalu lemah, hal ini memperlihatkan bahwa kualitas secara psikis dan fisik menyebabkan mereka menjadi target sasaran (Kurniati et. all, 2020). Dampak yang ditimbulkan juga sangat buruk, mental korban tertekan bahkan bisa trauma seumur hidup. Korban bullying mengalami gangguan fisik dan psikologi serta kehilangan kepercayaan diri. Tidak hanya sampai di situ, dampak psikologis yang muncul pada korban bullying dapat berupa depresi, menjadi individu yang penakut, tidak bersemangat pergi sekolah, menangis, ketakutan, cemas, pendiam, tidak konsentrasi dan lain-lain (N. M. D. S. Sari et al., 2024). Selain bullying, korupsi di Indonesia merupakan fenomena sosial yang masih tinggi di Indonesia. Korupsi merupakan salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh banyak negara, termasuk Indonesa. Praktek korupsi yang merajalela tidak hanya merugikan secara ekonomi, tetapi juga merusak tatanan sosial dan moral masyarakat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Perilaku Anti Korupsi (IPAK) Indonesia tahun 2024 sebesar 3,85 pada skala 0 sampai 5. Angka ini lebih rendah dibandingkan capaian tahun 2023 sebesar 3,92. Jika nilai indeks semakin mendekati 5 menunjukkan bahwa masyarakat berperilaku semakin anti korupsi. Sebaliknya, jika nilai IPAK yang semakin mendekati 0 menunjukkan bahwa masyarakat berperilaku semakin mendekati 0 menunjukkan bahwa masyarakat berperilaku semakin permisif terhadap korupsi. Pada tahun 2024, 5 nilai indeks persepsi sebesar 3,85 menurun sebesar 0,07 poin dibandingkan indeks persepsi tahun 2023 (3,92). Meskipun telah memiliki pendidikan tinggi, beberapa pejabat masih melakukan tindakan korupsi yang menunjukkan adanya kelemahan dalam pendidikan karakter yang mereka miliki. Pencegahan korupsi harus dimulai sejak dini untuk membangun karakter yang kuat dan berintegrasi pada anakanak. Pendidikan karakter religius sejak dini merupakan fondasi penting dalam membentuk individu yang berintegritas dan beretika. Nilai-nilai religius seperti kejujuran, tanggung jawab, dan rasa syukur yang diajarkan dalam agama menjadi benteng kuat terhadap perilaku koruptif. Untuk mewujudkan bangsa yang berbudaya melalui penguatan nilai-nilai seperti religiusitas, kejujuran, toleransi, disiplin, kerja keras, kreativitas, kemandirian, demokrasi, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, penghargaan terhadap prestasi, komunikasi yang baik, kedamaian, kegemaran membaca, kepedulian terhadap lingkungan dan sosial, serta tanggung jawab, pemerintah menganggap penting untuk memperkuat pendidikan karakter. Sebagai langkah nyata, Presiden mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) menyatakan bahwa PPK adalah gerakan pendidikan yang berada di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter anak melalui harmonisasi antara olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga. Gerakan ini melibatkan kerjasama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). 6 Perpres di atas mendorong munculnya banyak sekolah-sekolah yang mencanangkan pendidikan karakter pada anak usia dini. Selain itu, lembaga pemerintah dan aparat juga aktif melaksanakan gerakan revolusi mental untuk menanamkan nilai-nilai karakter tersebut. Keberhasilan pemerintah dalam menyelenggarakan PAUD dapat dilihat dari Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD. Pada tahun 2024, APK PAUD di Indonesia mencapai 36,03 % (BPS, 2024). Artinya, di antara 100 anak usia 3-6 tahun di Indonesia, baru sekitar 36 anak yang bersekolah pada tahapan PAUD. Angka ini ternyata mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya 36,36 % (BPS, 2023). Peneliti mengamati bahwa penerapan pendidikan karakter di salah satu PAUD di Kota Depok belum dilakukan secara konsisten, sehingga hasilnya belum optimal. Penanaman pendidikan karakter perlu dilaksanakan secara konsisten agar benar-benar dapat dipahami dan diterapkan oleh anakanak. Dalam proses pembentukan karakter sehari-hari di PAUD tersebut, pengajaran hanya sebatas memberikan nasehat tentang baik dan buruk tanpa disertai contoh atau teladan dari guru. Kurangnya sikap disiplin guru, yang terlihat dari keterlambatan datang ke sekolah dan ketidakpatuhan terhadap tata tertib, serta kurangnya tanggung jawab dalam mengawasi, membimbing, dan mengarahkan siswa selama pembelajaran. Oleh karena itu, pendidikan karakter sangat penting diterapkan dalam proses belajar mengajar, di samping penggunaan strategi, metode, dan model pembelajaran, dengan pemberian teladan yang baik dari kompetensi kepribadian guru sebagai salah satu cara yang berperan dalam pembentukan karakter anak usia dini. Secara umum, penerapan Pendidikan Islam di lembaga PAUD di Indonesia memiliki kesamaan, yaitu mengenalkan dasar-dasar ajaran Islam 7 dalam konsep pembelajaran anak. Namun, dalam praktiknya, banyak lembaga PAUD yang hanya mengandalkan metode pengerjaan dan pengumpulan tugas. Hal ini menyebabkan anak-anak terbebani dengan tugas yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan usia mereka. Dalam perkembangan pendidikan anak usia dini, salah satu metode yang saat ini sangat populer di kalangan masyarakat adalah Metode Montessori. Metode ini menekankan pada kebebasan atau freedom, di mana anak diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi lingkungan sekitarnya menggunakan material Montessori yang disesuaikan dengan tahapan usia mereka. Ketika Metode Montessori dipadukan dengan konsep pendidikan Islam, diharapkan dapat lebih maksimal dalam membentuk karakter islami pada anak usia dini. Terlepas dari alasan-alasan tersebut, peneliti menemukan beberapa lembaga PAUD yang sudah menerapkan Pendidikan Islam, Metode Montessori, dan perpaduan keduanya dalam pembangunan karakter anak sejak usia dini di Kota Depok. RA Nurul Huda, Al Ghani Montessori, dan Granada Preschool & Kindergarten adalah beberapa yang cukup banyak diminati oleh masyarakat sebagai tempat untuk belajar anak usia dini. Penelitian ini melibatkan berbagai pihak di lembaga tersebut serta orang tua untuk memperoleh informasi mengenai implementasi pendidikan karakter di RA Nurul Huda, Al Ghani Montessori, dan Granada Preschool & Kindergarten. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di atas, penulis mengidentifikasi beberapa permasalahan yang perlu menjadi fokus 8 penelitian, yaitu: 1. Penerapan pendidikan karakter di sekolah belum memberikan hasil yang optimal. Pendidikan karakter masih digabung dalam mata pelajaran agama dan diserahkan sepenuhnya pada guru agama. 2. Tingginya kasus bullying yang melibatkan anak di dunia pendidikan. Data survey Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi penyumbang kasus bullying tertinggi nomor lima di dunia. Demikian pula, data pengaduan KPAI menunjukkan kekekerasan anak pada awal 2024 sudah mencapai 141 kasus. 3. Kasus korupsi yang masih merajalela di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Perilaku Anti Korupsi (IPAK) Indonesia tahun 2024 sebesar 3,85 pada skala 0 sampai 5. Nilai ini menurun 0.07 poin dibandingkan tahun 2023 (3.92). Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat berprilaku semakin permisif terhadap korupsi. 4. Kurangnya kompetensi kepribadian guru dalam pendidikan karakter anak usia dini. Penulis mengamati di salah satu PAUD di Kota Depok: Guru terlambat datang ke sekolah, tidak patuh tata tertib, rasa tanggung jawab saat pembelajaran di kelas. 5. Metode pembelajaran yang kurang efektif dalam pembangunan karakter anak usia dini. Banyak lembaga PAUD hanya mengandalkan metode pengerjaan dan pengumpulan tugas. Hal ini menyebabkan anak-anak terbebani dengan tugas yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan usia mereka. 9 C. Pembatasan Masalah Berdasarkan uraian permasalahan dalam identifikasi masalah di atas, tidak semua akan diteliti. Penelitian ini akan difokuskan pada pembangunan karakter islami anak usia dini di lembaga PAUD yang ada di Kota Depok. Penelitian akan berpusat pada penerapan Pendidikan Islam dan Metode Montessori di RA Nurul Huda, Al Ghani Montessori, dan Granada Preschool & Kindergarten. Penelitian membatasi pengkajian pada aspek penerapan, tantangan, dan persepsi orang tua dan guru terhadap perpaduan konsep pendidikan islam dan Metode Montessori. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus dengan mengkaji, mengekplorasi dan menganalisis perpaduan konsep Pendidikan Islami dan Metode Montessori dalam membangun karakter islami anak di RA Nurul Huda, Al Ghani Montessori, dan Granada Preschool & Kindergarten. D. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah diuraikan, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana perpaduan konsep pendidikan islam dengan metode Montessori pada anak usia dini di kota Depok? 2. Bagaimana pengaruh pendidikan islam dengan metode Montessori dalam membentuk karakter islami pada anak usa dini di kota Depok? 3. Bagaimana kelebihan dan kekurangan perpaduan konsep pendidikan islam dengan metode montessori dalam membangun karakter islami pada anak usia dini di kota Depok? 10 E. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis perpaduan konsep pendidikan islam dan Metode Montessori pada anak usia dini di Kota Depok. Adapun tujuan penelitan ini adalah: 1. Mengidentifikasi dan mengkaji perpaduan konsep pendidikan islam dengan Metode Montessori pada anak usia dini di Kota Depok. 2. Menganalisis pengaruh pendidikan islam dengan Metode Montessori dalam membentuk karakter islami pada anak usia dini di kota Depok. 3. Mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan perpaduan konsep pendidikan islam dengan Metode Montessori dalam membangun karakter islami pada anak usia dini di Kota Depok. F. Manfaat Penelitian Harapan penulis dari hasil penelitian ini adalah agar dapat memberikan kontribusi positif, baik bagi penulis secara pribadi maupun bagi pihak-pihak terkait dalam penelitian ini, serta secara umum bagi siapa saja yang membaca tesis ini 1. Kegunaan secara teoritis Kegunaan dari penelitian adalah untuk memperkaya khazanah kajian ilmiah di bidang pendidikan anak usia dini, khususnya yang berkaitan dengan konsep pendidikan Islam dan Metode Montessori dalam pembangunan karakter islami anak. 2. Kegunaan praktis Bagi penulis, penelitian ini untuk menambah pemahaman tentang Pendidikan Islam dan Metode Montessori dalam membangun karakter anak. 11 Bagi para pembaca, penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi untuk menambah pengetahuan tentang perpaduan konsep pendidikan Islam dengan Metode Montessori dalam membangun karakter anak. G. Sistematika Penulisan Untuk memastikan penelitian ini tersusun secara terstruktur dan mudah dipahami, laporan penelitian ini disusun berdasarkan sistematika penulisan yang terdiri dari beberapa bab utama. Setiap bab dirancang agar saling melengkapi, sehingga memberikan gambaran yang utuh mengenai penelitian ini. Adapun sistematika penulisannya adalah sebagai berikut: BAB I Pendahuluan, bab ini menguraikan tentang latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, serta sistematika penulisannya sebagai penduan penyusunan tesis. BAB II Landasan Teori, bab ini membahas dasar-dasar teori yang relevan dengan penelitian, meliputi: Konsep Pendidikan Islam, Metode Montessori, dan Karakter Islami Anak Usia Dini. Penelitian terdahulu juga turut disajikan sebagai pembanding, disertai juga dengan kerangka berfikir yang menjadi landasan penelitian ini. BAB III Metode Penelitian, bab ini menjelaskan metode penelitian yang digunakan, meliputi: pendekatan dan jenis penelitian, lokasi dan subjek penelitian, variabel penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, validititas & reliabilitas data, dan prosedur pelaksanaan penelitian yang dirancang secara sistematis. BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan, bab ini memaparkan hasil penelitian yang disajikan dalam tiga poin utama, yaitu: deskripsi lokasi 12 penelitian, deskripsi subjek penelitian, dan implementasi konsep pendidikan islam dan Metode Montessori. Pembahasan hasil penelitian meliputi: Interpretasi hasil penelitian dan diskusi temuan utama. BAB V Penutup, bab terakhir merangkum temuan penelitian dalam bentuk kesimpulan disertai dengan saran. 13 BAB II LANDASAN TEORETIS A. Konsep Pendidikan Islam 1. Pengertian Pendidikan Islam Secara etimologi, pendidikan Islam lebih sering dikenal dengan istilah tarbiyah, ta'lim, ta’dib, riyadhah, irsyadah, dan tadris. Setiap istilah tersebut memiliki makna khas yang unik ketika disebut sendiri atau bersama-sama. Namun, ketika salah satu istilah digunakan, maknanya dapat mencakup keseluruhan. Oleh karena itu, berbagai buku tentang pendidikan Islam sering menggunakan istilah-istilah tersebut secara bergantian untuk merepresentasikan konsep pendidikan Islam (Abdul Mujib dan Jusuf Muzakkir, 2008). Para ahli memiliki pandangan yang berbeda mengenai pengertian Pendidikan Islam, menyesuaikan dengan perspektif dan pendekatan masingmasing. Berikut adalah pendapat beberapa ahli (H. Ramayulis, 2008): a. Drs. Ahmad D. Marimba berpendapat bahwa Pendidikan Islam didefinisikan sebagai bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum Islam untuk membentuk kepribadian utama sesuai ukuranukuran Islam. b. Drs. Burlian Somad berpendapat bahwa Pendidikan Islam bertujuan membentuk individu yang bercorak diri tertinggi menurut ukuran AlQur'an. Dua ciri khasnya: Tujuannya adalah membentuk individu yang mulia sesuai ajaran Allah. Isinya adalah ajaran Allah yang terkandung dalam Al-Qur'an dan 14 dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam praktik seharihari. c. Prof. Dr. Hasan Langgulung berpendapat bahwa Pendidikan Islam memiliki empat fungsi utama: Menyiapkan generasi muda untuk memegang peranan dalam masyarakat di masa depan. Memindahkan ilmu pengetahuan dari generasi tua ke generasi muda. Memindahkan nilai-nilai untuk menjaga kesatuan masyarakat. Mendidik anak agar mampu beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat. d. Ahmad Tafsir berpendapat bahwa Pendidikan Islam adalah proses transformasi dan internalisasi ilmu pengetahuan serta nilai-nilai pada diri anak didik melalui penumbuhan potensi fitrah mereka. Lima prinsip utama yang ditekankan adalah: Proses transformasi dan internalisasi. Ilmu pengetahuan dan nilai-nilai. Penumbuhan pada diri anak didik. Pengembangan potensi fitrah. Mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup. Dari berbagai definisi yang telah disampaikan para ahli di atas sesuai perspektif masing-masing, dapat dipahami bahwa Pendidikan Islam pada hakikatnya adalah suatu usaha manusia yang menyentuh seluruh aspek kehidupan, mencakup pembentukan jasmani dan rohani secara utuh sesuai ajaran Islam. 15 2. Sumber Pendidikan Islam Sumber dapat diartikan sebagai tempat untuk memperoleh, merujuk, atau menjadi acuan. Adapun yang dimaksud dengan sumber pendidikan Islam adalah tempat yang menjadi rujukan, pedoman, dan acuan dalam pelaksanaan pendidikan Islam. Sumber pendidikan Islam memegang peranan yang sangat penting sebagai landasan, panduan, dan pegangan utama bagi keberlangsungan pendidikan Islam. Selain itu, sumber ini juga menjadi pedoman bagi umat Islam agar memiliki keyakinan yang kuat dan tidak mudah terpengaruh oleh pandangan lain yang menyimpang. a. Al Qur’an Al-Qur’an dijadikan sumber utama dan pertama dalam pendidikan Islam karena memiliki nilai mutlak sebagai wahyu Allah SWT. Allah, sebagai pencipta manusia, juga berperan sebagai pendidik mereka, di mana isi pendidikan secara umum telah tercantum dalam firman-Nya. Tidak ada satu pun persoalan, termasuk yang berkaitan dengan pendidikan, yang tidak dijangkau oleh Al-Qur’an (Abdul Mujib dan Jusuf Muzakkir, 2008). Al Qur’an merupakan sumber yang paling lengkap dalam pendidikan, karena didalamya terdapat banyak ilmu pendidikan baik pendidikan kemasyarakatan (social), moral (akhlak), spiritual (kerohanian), material (kejasmanian), dan alam semesta. Al Qur'an memiliki eksistensi yang tidak akan luntur hingga hari kiamat nanti. Bagi pelaksanaan pendidikan Al Qur’an dijadikan sebagai pedoman normatif-teoritis, karena perlu ditafsirkan lebih lanjut bagi operasional pendidikan. Al Qur’an dijadikan sebagai kitab dasar dalam menuntun manusia bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Allah SWT telah berfirman dalam surat al-An’am ayat 38, yaitu: 16 Artinya: Tidak ada seekor hewan pun (yang berada) di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam kitab, kemudian kepada Tuhannya mereka dikumpulkan. Dan surat An-Nahl ayat 89: Artinya: (Ingatlah) hari (ketika) Kami menghadirkan seorang saksi (rasul) kepada setiap umat dari (kalangan) mereka sendiri dan Kami mendatangkan engkau (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas mereka. Kami turunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu sebagai petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang muslim. Menurut Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir (2012), kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa pendidikan Islam cukup bersumber pada sumber otentik, yakni Al-Qur’an. Al-Qur’an berfungsi sebagai pedoman normatif dan teoritis dalam pelaksanaan pendidikan Islam. Firman-firman yang terdapat dalam Al-Qur’an merupakan dassollen yang perlu diterjemahkan menjadi dassein oleh para ahli pendidikan, sehingga dapat dirumuskan menjadi konsep pendidikan Islam yang mampu mencapai 17 tujuan pendidikan yang sejati. b. As Sunnah As Sunnah adalah sumber hukum Islam kedua setelah Al-Qur'an. Ia berfungsi sebagai penguat dan penjelas terhadap berbagai persoalan, baik yang telah termaktub dalam Al-Qur'an maupun yang muncul dalam kehidupan umat Muslim. As-Sunnah diartikan sebagai sesuatu yang disandarkan (udhifa) kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan maupun ketetapan (taqrir)-nya. Adapun pengertian As-Sunnah menurut para ahli Hadits adalah sesuatu yang didapatkan dari Nabi Muhammad SAW yang terdiri dari ucapan, perbuatan, persetujuan, sifat fisik, atau budi, atau biografi, baik pada masa sebelum kenabian ataupun sesudahnya (Haris, 2013). Sunnah sebagai sumber pendidikan Islam dapat dipahami dari hasil analisis sebagai berikut (Abdul Rozak, 2018). Pertama, Nabi Muhammad SAW menegaskan perannya sebagai guru dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la. Ketika melihat dua kelompok di masjid (satu kelompok sedang beribadah dan satu kelompok lainnya sedang berdiskusi), beliau memilih bergabung dengan kelompok yang mengkaji masalah, seraya menyatakan: Tuhan telah mengutus aku sebagai guru (ba’atsani rabbi mu’alliman). Kedua, Nabi Muhammad SAW tidak hanya memiliki kompetensi ilmu yang luas di berbagai bidang seperti agama, sosial, politik, dan hukum, tetapi juga kepribadian yang terpuji, keterampilan mengajar yang prima, dan kemampuan sosial, menjadikannya seorang pendidik profesional. Ketiga, Perhatian besar Nabi Muhammad SAW terhadap pendidikan terlihat dari upayanya mendirikan pusat-pusat pembelajaran, seperti di 18 Darul Arqam di Mekkah dan di Suffah di Madinah, yang menjadi tempat bagi umat untuk mendapatkan ilmu dan pendidikan. Keempat, keberhasilan Nabi Muhammad SAW dalam mengubah masyarakat jahiliah menjadi beradab dan bermoral erat kaitannya dengan pendekatan pendidikan yang beliau terapkan. Kelima, banyak Hadits Nabi yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan pendidikan, seperti kewajiban menuntut ilmu, pendidikan sepanjang hayat, pentingnya metode pengajaran yang sesuai dengan fitrah manusia, serta dukungan terhadap pengembangan fasilitas pendidikan melalui zakat, infak, dan wakaf. Kandungan ini mencerminkan konsep pendidikan Islam yang mencakup kewajiban belajar, pendidikan inklusif, kurikulum terpadu, dan penghargaan terhadap ilmu dan guru. 3. Tujuan Pendidikan Islam Dalam bahasa Arab, istilah yang digunakan untuk merujuk pada tujuan, sasaran, atau maksud adalah ghayat, ahdaf, atau maqasid. Sementara itu, dalam bahasa Inggris, istilah yang sepadan adalah “goal,” “purpose,” “objective,” atau “aim.” Secara umum, semua istilah ini memiliki arti yang serupa, yaitu suatu tindakan yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu, atau pencapaian yang ingin diraih melalui upaya atau aktivitas yang dilakukan (Ramayulis, 2008). Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, tepatnya dalam Bab II Pasal 3, tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang dapat memberikan manfaat dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan tersebut mencakup pengembangan potensi 19 peserta didik agar mereka menjadi individu yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berpengetahuan, terampil, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Ahmad D. Marimba, sebagaimana dijelaskan oleh Nur Uhbiyati, membagi tujuan pendidikan Islam menjadi dua: tujuan sementara dan tujuan akhir. a. Tujuan Sementara Tujuan sementara adalah sasaran yang harus dicapai dalam pendidikan Islam, meliputi penguasaan kecakapan jasmaniah, membaca, menulis, ilmu sosial, kesusilaan, kedewasaan jasmani dan rohani, serta keseimbangan hidup sesuai nilai Islam. b. Tujuan Akhir Tujuan akhir adalah pembentukan kepribadian Muslim yang mencerminkan ajaran Islam secara utuh. Kepribadian ini meliputi (Nur Uhbiyati, 1996): Aspek kejasmanian: perilaku fisik yang terlihat. Aspek kejiwaan: cara berpikir, sikap, dan minat. Aspek kerohanian luhur: filsafat hidup dan nilai spiritual yang menjadi dasar kepribadian individu. 4. Prinsip Pendidikan Islam Pada hakikatnya, prinsip-prinsip pendidikan Islam merupakan representasi dari seluruh komponen yang menyatu dalam pendidikan Islam, mencakup aspek spiritual, intelektual, emosional, dan sosial, yang bertujuan untuk membentuk manusia seutuhnya sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam. 20 Ramayulis, dalam karyanya “Ilmu Pendidikan Islam” (Ramayulis, 2008) menyampaikan bahwa prinsip-prinsip pendidikan Islam meliputi: a. Pendidikan Islam sebagai implikasi dari karakteristik manusia menurut Islam Dalam Islam, karakteristik yang membedakan manusia dari makhluk lain mencakup: 1. Fitrah/Agama Manusia memiliki fitrah, yaitu pengakuan terhadap Allah sebagai Tuhan yang disembah. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-A’raf: 172. Aktualisasi fitrah ini diwujudkan dalam bentuk ibadah, yang menjadi tujuan utama penciptaan manusia sebagaimana disebutkan dalam QS. Az-Zariyat: 56. 2. Kesatuan antara roh dan jasad Manusia tersusun dari dua unsur, yaitu jasad dan roh. Dari sisi jasad, manusia memiliki kemiripan dengan hewan dalam hal dorongan mempertahankan diri. Namun, roh memuat unsur akal dan qalb yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Dalam pendidikan Islam, baik akal maupun qalb dikembangkan, sesuai firman Allah dalam QS. As-Sajdah: 7-8. 3. Kebebasan berkehendak Manusia diberi kebebasan dalam berbagai aspek, seperti beragama, berpendapat, dan berkreasi, sebagaimana tercantum dalam QS. AlBaqarah: 256. b. Pendidikan Islam bersifat integral dan terpadu Islam tidak memisahkan ilmu pengetahuan umum dengan ilmu agama. Semua ilmu memiliki nilai asalkan mendorong peningkatan iman, takwa, 21 dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. c. Pendidikan Islam menekankan keseimbangan Islam mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat, jasmani dan rohani, serta kepentingan individu dan masyarakat, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Qashash: 77. d. Pendidikan Islam bersifat universal Pendidikan Islam mencakup seluruh aspek kehidupan, bertujuan untuk mengembangkan semua dimensi kepribadian manusia (fisik, akal, agama, akhlak, dan sosial) secara harmonis, sehingga membawa kebahagiaan dunia dan akhirat. e. Pendidikan Islam bersifat dinamis Pendidikan Islam terus berkembang sesuai perubahan sosial, asalkan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. 5. Pendidikan Islam Bagi Anak Usia Dini Islam telah menyediakan prinsip-prinsip dasar dan metodologi yang jelas untuk mencapai tujuan pembentukan dan pembimbingan anak manusia, dengan menggali sisi-sisi teladan dan aspek kepribadian yang dapat dikembangkan sepanjang berbagai tahap kehidupan yang akan dijalani. Adalah kewajiban orang tua untuk mendidik anak-anaknya, seperti dikutip dalam Al-Qur’an Surat At-Tahrim ayat 6: Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; 22 penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. Pendidikan anak dalam Islam sebaiknya dimulai sejak usia dini. Seperti yang diajarkan dalam hadis Rasulullah SAW: "Suruhlah anakanakmu sholat ketika mereka berumur tujuh tahun, jika mereka belum melakukannya." Pendidikan yang dimulai sejak awal ini akan membentuk kebiasaan yang mendalam dalam diri anak, yang akan memperkuat kesadaran mereka ketika mencapai usia baligh. Oleh karena itu, baik orang tua maupun guru memiliki tanggung jawab besar terhadap pendidikan anak di hadapan Allah SWT. Penting bagi mereka untuk memahami metode yang tepat dalam mendidik anak, agar dapat melaksanakan tanggung jawab tersebut dengan sebaik-baiknya. Berbagai pakar pendidikan telah mengemukakan berbagai metode untuk mendidik anak, dengan tujuan agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh anak. Tanggung jawab besar para pendidik, baik orang tua maupun guru, sangat dibutuhkan dalam memilih dan menerapkan metode yang tepat untuk pendidikan anak. Berikut adalah beberapa metode yang dapat diterapkan dalam mendidik anak: a. Metode Teladan Metode ini melibatkan pendidik yang memberi contoh teladan yang baik, yang kemudian akan diikuti dan dilaksanakan oleh anak. Teladan dari pendidik sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter anak (Didin Jamaluddin, 2006). Allah SWT telah menunjukkan bahwa Rasul yang diutus untuk menyampaikan wahyu adalah sosok yang memiliki sifat-sifat mulia 23 dalam segala aspek, baik spiritual, moral, maupun intelektual (Abdullah Nashih Ulwan, 2007). b. Metode Pembiasaan Islam mengajarkan bahwa anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, yaitu suci dan bersih dari dosa, yang berlangsung hingga mereka mencapai baligh. Fitrah ini mencakup kecenderungan alami untuk bertauhid, beragama dengan benar, beriman, dan beramal saleh. Orang tua sebagai lingkungan utama memiliki peran besar dalam membentuk arahan hidup anak, apakah sesuai dengan fitrah atau justru sebaliknya. c. Metode Praktik Metode ini mengajarkan pentingnya tindakan langsung. Islam mengingatkan bahwa hanya berbicara tanpa melaksanakan tindakan atau menganjurkan kebaikan tanpa menjalankannya adalah suatu kesalahan. Dalam hal ini, metode praktik sangat menarik perhatian anak karena melibatkan banyak indra, seperti penglihatan, pendengaran, dan minat anak terhadap apa yang diperagakan (Didin Jamaluddin, 2006). d. Metode Cerita Salah satu cara efektif untuk mengajarkan anak adalah dengan bercerita. Anak-anak, terutama yang berusia antara 3-12 tahun, sangat menyukai cerita. Seperti yang dijelaskan oleh 'Abdu Al'aziz Al-Majid, anakanak dari usia mengenal kata hingga masa sekolah dasar dan menengah senang mendengarkan cerita. Tidak hanya anak-anak, orang dewasa pun sering tertarik pada cerita, meski isi cerita yang didengar berbeda. e. Metode Hukuman Bagi anak yang memiliki perilaku sangat agresif atau sulit dikendalikan, seperti sering melawan atau mengganggu, metode hukuman 24 bisa diterapkan. Dalam ajaran Islam, hukuman dapat diterima sebagai cara terakhir, ketika metode lain sudah tidak efektif, untuk mendisiplinkan anak secara proporsional (Didin Jamaluddin, 2006). B. Metode Montessori 1. Biografi Maria Montessori Maria Montessori, seorang perempuan asal Italia, lahir pada 31 Agustus 1870 di Chiaravalle, sebuah kota di provinsi Ancona, Italia Utara. Ayahnya, Alessandro Montessori, adalah seorang tentara yang mendukung persatuan Italia, dengan pemikiran yang sangat tradisional dan militan. Sementara itu, ibunya, Renilde Stoppani, berasal dari keluarga terpandang yang kaya serta berpendidikan tinggi. Menurut Kramer, sebagaimana dikutip oleh Agustina Prasetyo Magini, Renilde Stoppani dijuluki sebagai “wanita dalam era transisi” (Agustina Prasetyo Magini, 2013). Alessandro Montessori, ayah Maria Montessori, adalah seorang pejabat sipil yang menjadikan keluarga Montessori termasuk dalam golongan ekonomi cukup mapan. Sebagai bagian dari kelas menengah borjuis Eropa, Alessandro juga merupakan veteran perang persatuan Italia tahun 1848, dan tetap memegang jabatannya hingga akhir hayat. Istri Alessandro, Renilde Stoppani, adalah keponakan dari Bapa Antonio, seorang pendeta, ilmuwan alam, dan geolog terkenal. Meskipun berasal dari kelas menengah, Renilde memiliki pandangan progresif yang berbeda dengan tradisi suaminya. Ia mendukung Maria untuk menentang norma-norma adat dan tradisi yang berlaku, meskipun awalnya Alessandro menentang langkah tersebut, sebelum akhirnya merestuinya. Sejak kecil, Maria diajarkan oleh ibunya untuk merenda dan 25 membuat barang-barang yang kemudian diberikan kepada orang-orang miskin, pengalaman yang membentuk rasa kepedulian sosialnya. Ibunya juga mewajibkan Maria membantu membersihkan lantai, sebuah pengalaman yang kelak menjadi dasar konsep pembelajaran “kehidupan sehari-hari” dalam metode pendidikan yang dikembangkannya (Agustina Prasetyo Magini, 2013). Pada masa itu, meskipun Italia telah menjadi negara yang berdaulat, budaya masyarakatnya masih dipengaruhi oleh tradisi Romawi kuno. Italia sebagai negara baru tetap konservatif dalam struktur sosial, gender, dan peran-peran sosial yang diwariskan turun-temurun. Konsep La famiglia (keluarga) sangat dijunjung tinggi, menjadi pusat loyalitas dan komitmen sosial. Status seseorang, terutama pria, sering ditentukan oleh latar belakang keluarga dan status sosialnya. Namun, nasib wanita sangat berbeda. Perempuan Italia saat itu lebih banyak terikat oleh adat dan tradisi yang mengharuskan mereka menjadi istri atau ibu rumah tangga. Akses pendidikan tinggi sangat terbatas, terutama bagi mereka dari kelas sosioekonomi rendah, yang umumnya bekerja sebagai buruh atau pembantu rumah tangga. Anak perempuan dari keluarga kelas menengah bawah sedikit lebih beruntung, dengan kesempatan menjadi guru sekolah dasar atau perawat. Sementara itu, perempuan dari kalangan atas dapat mengakses pendidikan tinggi, mempelajari seni, musik, atau sastra. Namun, Maria Montessori tidak terpengaruh oleh hambatan adat istiadat tersebut. Ia bertekad mengubah pandangan bahwa hak pria dan wanita harus setara, dan status sosial tidak seharusnya menjadi penghalang untuk meraih cita-cita. Berbagai tantangan yang dihadapinya justru memperkuat tekadnya. Maria akhirnya berhasil mengukir sejarah sebagai 26 perempuan Italia pertama yang meraih gelar dokter. Pencapaiannya menjadi bukti bahwa tekad dan dedikasi mampu mengatasi segala rintangan (Gerald Lee Gutek, 2013). 2. Prinsip Metode Montessori Model pembelajaran Montessori mempersiapkan anak-anak dengan sangat baik. Lima prinsip dasar yang mencerminkan filosofi pendidikan Montessori diterapkan dalam berbagai program, yaitu menghormati anak, menyerap pikiran anak, periode sensitif, lingkungan yang siap, dan pendidikan mandiri (Auto Education) (Anita Yus, 2014). a. Menghormati Anak Menghormati anak adalah prinsip dasar yang mendasari pendekatan Montessori, di mana guru memberikan penghargaan terhadap segala hal yang diinginkan anak. b. Menyerap Pikiran Anak Montessori percaya bahwa anak-anak memiliki kemampuan untuk mendidik diri mereka sendiri. Mereka membangun pengetahuan melalui pengalaman yang diperoleh langsung dari lingkungan sekitar. c. Periode Sensitif Periode sensitif merujuk pada waktu tertentu ketika anak-anak lebih terbuka untuk belajar keterampilan atau perilaku tertentu dengan lebih mudah. d. Lingkungan yang Siap Lingkungan yang siap adalah tempat di mana anak-anak belajar dengan melakukan aktivitas secara mandiri. Lingkungan ini menyediakan berbagai bahan pembelajaran yang teratur dan tersedia untuk anak-anak, 27 yang memungkinkan mereka untuk berinteraksi dengan baik. e. Auto Education (Pendidikan Mandiri) Montessori menekankan bahwa anak-anak dapat mendidik diri mereka sendiri. Dengan memberikan kebebasan dan lingkungan yang mendukung, anak-anak dapat secara aktif terlibat dalam proses belajar dan mengembangkan diri mereka. Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Montessori menekankan pada pembelajaran berbasis pengalaman, dengan peran guru sebagai fasilitator yang menyediakan alat dan sumber belajar. Lingkungan belajar harus didesain dengan cermat, anak dibimbing dalam sesi pembelajaran individual, serta penekanan pada pendidikan kedamaian. 3. Kelebihan dan Kelemahan Metode Montessori Berikut adalah kelebihan dan kekurangan dari Model motensorri (Faiza Faridy, 2015). Kelebihan: 1. Konsep-konsep pendekatan Montessori dapat diberikan pada anak dari berbagai latar belakang dan kondisi yang beragam. 2. Berhasil menghasilkan konsep dan material/alat pendidikan yang sistematis dan operasional sesuai dengan tahapan perkembangan dan kemampuan anak. 3. Memiliki laboratorium sekolah dan sistem penyelenggaraan yang terkontrol terhadap seluruh sistem pendidikan Montessori. 4. Mengeluarkan panduan-panduan tentang sistem pembelajaran di sekolah Montessori. 5. Menggabungkan anak dari berbagai usia yang berbeda akan 28 membentuk sikap menghargai, menghormati, imitasi sikap, dan saling membantu pada anak. Kelemahan: 1. Terlalu bersifat perseorangan, sehingga memerlukan rasio perbandingan antara guru dan murid yang kecil. 2. Memerlukan media pembelajaran yang sangat beragam serta harga material yang sangat mahal, sulit terjangkau oleh sekolah-sekolah umum. 3. Pelatihan penyelenggaraan konsep pendidikan Montessori sangat mahal bagi guru-guru di sekolah umum. 4. Pendekatan ini menggabungkan anak yang beragam usia dalam pembelajarannya, ini akan menyulitkan guru dalam menilai perkembangan anak yang tiap usia berbeda tahap perkembangannya. C. Karakter Islami Anak Usia Dini 1. Pengertian Karakter Islami Menurut Wijaya dan Halaluddin (Rohana, 2019), karakter didefinisikan serupa dengan pendidikan nilai, pendidikan moral, pendidikan agama, atau pendidikan karakter. Sementara itu, Samrin (Rohana, 2016) mengemukakan bahwa karakter adalah nilai-nilai kepribadian individu yang meliputi semua aktivitas individu, baik yang berkaitan dengan Tuhan, dirinya sendiri, hubungan antar individu, maupun lingkungan, yang tercermin dalam pikiran, ucapan, dan tindakan yang sesuai dengan norma hukum yang berlaku. Maka dapat disimpulkan bahwa karakter berkaitan dengan pendidikan yang mempengaruhi sikap manusia serta aktivitas 29 sehari-hari yang dijalankan sesuai dengan norma dan aturan yang ada di sekitarnya. Bagi umat Islam, pendidikan karakter yang relevan adalah pendidikan karakter Islam. Karakter islami disebut juga akhlakul Ghaniah yaitu; akhlak kepada Allah dan RasulNya, akhlak diri dan keluarga, dan akhlak masyarakat dengan mua’amalah. Jadi, seseorang harus memiliki akhlak untuk membentuk karakter dalam diri agar menghasilkan karakter yang baik lahir dan bathin sesuai syariat Islam dalam menjalani perintahperintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya (Syafri, 2014). 2. Nilai-Nilai Karakter Islami Nilai-nilai karakter berdasarkan pandangan Islam yang dapat diimplementasikan dalam kurikulum di sekolah (Najib dkk, 2016), yaitu: a. Menjaga Kehormatan Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya darahmu, hartamu, dan kehormatanmu haram atas kamu" (HR. Bukhari). Islam telah mengatur segala aspek kehidupan dengan sangat rinci, termasuk menjaga kehormatan sebagai salah satu cara untuk mencapai keselamatan di dunia dan akhirat. b. Rajin Bekerja Mencari Rezeki Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada seseorang yang memakan makanan yang lebih baik dari makanan hasil usaha tangannya sendiri. Sesungguhnya Nabi Allah Daud AS memakan makanan dari hasil usahanya sendiri" (HR. Bukhari). Hadis ini menegaskan pentingnya bekerja keras untuk memperoleh rezeki yang halal dan menjauhi cara-cara yang curang. c. Bersilaturahmi, Menyambung Komunikasi 30 Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa ingin diluaskan rezekinya dan diperpanjang umurnya hendaklah ia bersilaturahmi” (HR. Bukhari dan Muslim dari Anas). d. Berkomunikasi dengan Baik dan Menebar Salam QS An Nahl ayat 125 artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan dengan bijaksana dan pelajaran yang baik, berdiskusilah kamu dengan mereka menurut cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya, dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” e. Jujur, Tidak Curang, Menepati Janji, dan Amanah QS Al Muthaffifin ayat 1 artinya: “Celakalah bagi orang-orang yang curang. Tanda-tanda orang munafik ada tiga macam. Jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia ingkar, jika dipercaya ia berkhianat”. Jika ingin hidup selamat di dunia dan akhirat, hendaknya umat Islam berlaku jujur, menepati janji, dan tidak curang dalam kehidupannya. f. Berbuat adil, tolong menolong, saling mengasihi, dan saling menyayangi QS An Nahl ayat 90 artinya: “Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat adil, berbuat baik, dan memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”. Rasulullah SAW juga bersabda: “Engkau perhatikan orang mukmin dalam saling kasih mengasihi, sayang menyayangi, dan saling tolong-menolong, itu seperti satu tubuh. Jika salah satu tubuh ada yang sakit, maka seluruh anggota tubuh lain terdorong untuk membantunya dengan tidak tidur dan demam” 31 (HR. Bukhari). g. Sabar dan Optimis Allah SWT berfirman: "Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebaikan" (QS. Hud: 115). Ayat ini menunjukkan pentingnya sikap sabar dan optimis dalam menghadapi setiap ujian kehidupan. h. Bekerja Keras dan Mencari Rezeki yang Halal Allah SWT berfirman: "Mereka yang bekerja giat untuk Kami, sungguh Kami akan memberi petunjuk kepada mereka jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang berbuat kebaikan" (QS. Al-Ankabut: 69). Rasulullah SAW juga bersabda: "Jika seseorang di antara kamu membawa tali dan pergi ke bukit untuk mencari kayu bakar, kemudian memikulnya ke pasar untuk dijual, maka itu lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain" (HR. Bukhari dan Muslim). i. Berbakti kepada Orang Tua Allah SWT berfirman: "Dan Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya..." (QS. Al-Ankabut: 8). Sebagai seorang anak, kewajiban untuk berbakti kepada orang tua sangatlah utama. Anak yang sholeh senantiasa mendoakan kedua orang tuanya karena ridha Allah bergantung pada ridha orang tua. j. Pemaaf dan Dermawan Rasulullah SAW bersabda: "Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya, kecuali kemuliaan. Serta tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Allah akan meninggikan derajatnya" (HR. Muslim). 32 k. Berempati dan Berbela Rasa Rasulullah SAW bersabda: "Orang mukmin yang satu dengan yang lain bagai satu bangunan yang bagian-bagiannya saling mengokohkan" (HR. Bukhari). Hadis ini mengajarkan bahwa umat Islam hendaknya memiliki empati dan rasa peduli yang tinggi. Ketika satu orang mengalami kesusahan, maka yang lain juga turut merasakannya. l. Berkata benar, tidak berdusta Allah SWT berfirman: “Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakannya apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (QS. AS-Shaf: 3). Sudah menjadi kewajiban seorang Muslim untuk senantiasa menjaga perkataan yang senantiasa jujur atau tidak berbohong. Apa yang ada di hati, pikiran, dan tindakan harus selaras, itulah hakekat jujur sebenarnya. m. Selalu bersyukur Allah SWT berfirman: “Allah tidak akan mengadzabmu jika kamu bersyukur dan beriman. Dan Allah Maha mensyukuri, Maha Mengetahui. (QS. An-Nisa: 147). Rasulullah SAW juga bersabda: “Tidak termasuk bersyukur kepada Allah orang yang tidak bersyukur kepada manusia/menghargai dan membalas kebaikannya” (HR. Tirmizi). n. Tidak Sombong Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu memalingkan muka karena (sombong), dan janganlah berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang sombong dan membanggakan diri” (QS. An-Nisa: 147). Rasulullah SAW juga bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sedikit rasa takabur” (HR. Muslim). 33 o. Berbudi pekerti yang luhur Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik budi pekertinya” (HR. Bukhari dan Muslim). p. Berbuat baik dalam segala hal Allah SWT berfirman: “Barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah dalam keadaan berbuat baik, maka ia akan mendapatkan ganjaran dari Tuhannya, dan tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati” (QS. Al-Baqarah: 112) q. Haus mencari ilmu dan berjiwa curious Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu” (QS. Fathir: 28). Orang-orang yang mencari ilmu sangat mulia dalam Islam, dan akan mendapatkan balasan pahala yang besar serta setiap langkah para penuntut ilmu akan dibalas kemudahan menuju surga-Nya Allah SWT. r. Punya rasa malu dan iman Iman terdiri dari banyak cabang, bahkan sampai tujuh puluh cabang, salah satu di antara iman yang paling utama adalah kalimat “Laa Ilaaha Illallah.” Sementara itu, bentuk iman yang paling mudah adalah menyingkirkan duri atau sesuatu yang dapat membahayakan orang lain di jalan. Malu juga merupakan salah satu cabang dari iman (HR. Muslim). s. Berlaku hemat Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang pemboros itu adalah saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya” (QS. Al-Isra: 27). Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Al-Qur`an, 34 bahwasannya Allah sangat mengecam siapapun yang berlaku boros. Hidup hemat merupakan perbuatan yang dianjurkan agama dan akan mendatangkan manfaat di dalam kehidupan. t. Berkata yang baik atau diam Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam” (HR. Bukhari dan Muslim). u. Berbuat Jujur, Tidak Korupsi Allah SWT berfirman: “Janganlah kamu makan harta sesamamu dengan cara yang tidak benar, dan janganlah kamu menyuap dengan harta itu kepada hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 188). Berlaku jujur sangat penting dalam kehidupan, karena jujur merupakan akhlak mulia yang harus tertanam di dalam diri seorang Muslim. Jangan sesekali mengambil milik orang lain, dan barang siapa yang mengambil yang bukan miliknya, maka akan mendapatkan ancaman dari Allah SWT berupa siksaan yang pedih di neraka. v. Konsisten atau istiqomah Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata “Tuhan kami adalah Allah” dan beristiqomah (konsisten), maka tiada ketakutan bagi mereka, dan mereka tidak pula bersedih hati” (QS. AlAhqaf: 13). Ayat ini menjelaskan keadaan orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah, yaitu orang-orang yang mengakui dengan lisan dan mengatakan, "Tuhan kami adalah Allah," kemudian ia istiqomah, yakni tetap dalam pengakuan itu, tidak dicampuri sedikit pun dengan perbuatan35 perbuatan syirik. w. Teguh Hati, Tidak Berputus Asa Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang kafir” (QS. Yusuf: 87). Ulama tafsir, Ibnu Katsir menjelaskan, ayat di atas juga berisi tentang larangan untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT. x. Bertanggung jawab Allah SWT berfirman: “Apakah manusia itu akan dibiarkan begitu saja tanpa pertanggungjawaban?” (QS. Al-Qiyamah: 36). Ayat di atas menjelaskan bahwa manusia yang durhaka, menganggap bahwa hidup hanya di dunia, setelah itu selesai. Ayat ini mengecam hal tersebut, begitulah siklus kehidupan manusia yang diberi tugas dan tanggung jawab. Dan pastilah akan dibangkitkan untuk diminta pertanggungjawaban. y. Cinta damai Allah SWT berfirman: “Jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah agar ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antar-kembalilah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui” (QS. At-Taubah: 6). Ayat ini mengajarkan bahwa dalam Islam, seorang Muslim memiliki kewajiban untuk memberikan perlindungan kepada siapa saja yang meminta perlindungan, termasuk kepada kaum musyrikin yang meminta keamanan. 36 3. Pengertian Anak Usia Dini Anak usia dini adalah individu yang memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri sesuai dengan tahapan perkembangan usianya. Periode usia dini, yaitu dari 0 hingga 6 tahun, dikenal sebagai masa keemasan (golden age) yang sangat penting. Pada masa ini, stimulasi di berbagai aspek perkembangan berperan krusial dalam mendukung tugas perkembangan anak di tahap selanjutnya (Trianto, 2011). Anak usia 0-6 tahun berada pada tahap perkembangan yang sangat penting untuk pendidikan, termasuk pendidikan karakter. Pada rentang usia ini, kecerdasan anak sangat bergantung pada alat indera mereka, sehingga mereka cenderung berpikir konkret dan belum mampu memahami konsep abstrak. Oleh karena itu, pendidikan karakter, yang mencakup pembinaan iman, nilai moral, dan perilaku positif, perlu dimulai sejak dini di lingkungan keluarga. Pendidikan ini harus disesuaikan dengan tahap pertumbuhan dan perkembangan anak yang berlangsung secara alami, sehingga nilai-nilai kebaikan dapat tertanam kuat sebagai dasar pembentukan karakter di masa depan. D. PENELITIAN YANG RELEVAN Penelitian ini membahas “Perpaduan Konsep Pendidikan Islam dan Metode Montessori Dalam Membangun Karakter Islami Anak Usia Dini di Kota Depok”. Beberapa penelitian yang relevan dengan judul penelitian ini adalah: 1. Sri Wulandari (2021) melakukan penelitian dengan judul “Perpaduan Pendidikan Agama Islam dan Konsep Montessori Dalam Pembentukan Karakter Mandiri Anak di TK Budi Mulia Pandeansari ”. Penelitian ini 37 membahas tentang implementasi perpaduan pendidikan agama islam dan konsep montessori di TK Budi Mulia Pandeansari meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran. Penelitian ini memiliki kesamaan membahas tentang perpaduan konsep pendidikan islam dan Metode Montessori dalam pembentukan karakter pada anak usia dini. Fokus penelitian ini tidak hanya tentang perpaduan pendidikan islam dan Metode Montessori, tapi juga membahas tentang pendidikan islam, Metode Montessori dalam membangun karakter islami anak usia dini. 2. Zahrotun Nisa (2021) melakukan penelitian dengan judul “Konsep Pendidikan Karakter Anak Usia Dini Prespektif Montessori dan Relevansinya dengan Pendidikan Islami”. Penelitian ini menggunakan pendekatan library research fokus tentang teori pendidikan karakater anak usia dini, teori Metode Montessori, dan relevansinya terhadap pendidikan Islam. Penelitian ini memiliki kesamaan membahas tentang Metode Montessori dalam pembentukan karakter pada anak usia dini dan kaitannya dengan pendidikan Islam. Perbedaan dengan penelitian ini adalah pendekatan penelitian yang digunakan, penelitian ini akan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus untuk mengidentifikasi konsep Pendidikan Islam dan Metode Montessori dalam membangun karakter islami anak usia dini. 3. Alvin Ma’viyah (2020) melakukan penelitian dengan judul “Implementasi Pendidikan Karakter Dalam Pembentukan Sosial Emosional Anak Usia Dini Di Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu Wahdatul Ummah Metro Pusat”. Penelitian tersebut membahas tentang implementasi pendidikan karakter melalui pendidikan agama Islam di TK Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu Wahdatul Ummah Metro Pusat. 38 Persamaan dengan penelitian ini adalah sama-sama membahas tentang pendidikan Islam dalam membangun karakter islami anak usia dini. Metode Montessori dan perpaduan pendidikan islam & Metode Montessori yang akan dibahas dalam penelitian ini tidak menjadi fokus dalam penelitian tersebut. Berdasarkan penjelasan penelitian terdahulu yang relevan di atas, menunjukkan bahwa penelitian ini berbeda dengan penelitian yang sudah ada. Berikut persamaan dan perbedaan dengan penelitian di atas: Table 2.1 Penelitian Terdahulu yang Relevan No. Nama Peneliti (tahun) Judul Penelitian Persamaan Perbedaan Perpaduan Pendidikan Agama Islam dan Konsep Montessori Sri Dalam 1 Wulandari Pembentukan (2021) Karakter Mandiri Anak di TK Budi Mulia Pandeansari Sama-sama membahas tentang perpaduan konsep pendidikan islam dan Metode Montessori dalam pembentukan karakter pada anak usia dini. Fokus penelitian ini tidak hanya tentang perpaduan pendidikan islam dan Metode Montessori, tapi juga membahas tentang pendidikan islam, Metode Montessori dalam membangun karakter islami anak usia dini. Konsep Pendidikan Karakter Anak Usia Dini Prespektif Montessori dan Relevansinya dengan Sama-sama membahas tentang Metode Montessori dalam pembentukan karakter pada anak usia dini dan kaitannya dengan pendidikan Islam. Pendekatan penelitian yang digunakan yang digunakan dalam penelitian ini ada pendekatan kualtitatif dengan metode studi kasus. Zahrotun 2 Nisa (2021) 39 Alvin 3 Ma’viyah (2020) Pendidikan Islami Implementasi Pendidikan Karakter Dalam Pembentukan Sosial Emosional Anak Usia Dini Di Taman KanakKanak Islam Terpadu Wahdatul Ummah Metro Pusat sama-sama membahas tentang pendidikan Islam dalam membangun karakter islami anak usia dini. Fokus penelitian tentang Metode Montessori, dan perpaduan keduanya dalam membangun karakter islami anak usia dini E. KERANGKA PEMIKIRAN Tingginya kasus bullying, korupsi, dan berbagai fenomena sosial lainnya menunjukkan kurang optimalnya penerapan pendidikan karakter sejak usia dini. Hal ini menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan, khususnya pada lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang berperan sebagai wadah pertama dalam membentuk karakter anak. Sayangnya, masih banyak lembaga PAUD yang menggunakan metode pembelajaran yang kurang sesuai dengan tahap perkembangan anak, sehingga nilai-nilai karakter tidak dapat ditanamkan secara efektif. Untuk mengatasi tantangan tersebut, pendidikan Islam memiliki peran penting dalam pembangunan karakter anak usia dini. Pendidikan Islam tidak hanya mengajarkan aspek spiritual, tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral, etika, dan akhlak mulia yang menjadi fondasi bagi perkembangan karakter anak. Melalui pendekatan yang sesuai dengan perkembangan anak, pendidikan Islam dapat 40 menanamkan nilai-nilai keimanan, ketaqwaan, kejujuran, tanggung jawab, dan empati sejak usia dini. Metode Montessori merupakan salah satu metode modern yang dirancang sesuai dengan perkembangan alami anak, terutama pada usia dini. Pendekatan ini didasarkan pada prinsip bahwa setiap anak memiliki potensi unik yang dapat berkembang optimal jika diberikan lingkungan belajar yang mendukung, bebas tekanan, dan sesuai dengan tahap perkembangan mereka. Maka, peneliti berpendapat bahwa konsep Pendidikan Islam dapat dipadukan dengan Metode Montessori untuk mendukung pembangunan karakter islami anak usia dini. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis perpaduan konsep Pendidikan Islam dan Metode Montessori pada anak usia dini di Kota Depok, khususnya di lembaga PAUD RA Nurul Huda, Al Ghani Montessori, dan Granada Preschool & Kindergarten. Peneliti merumuskan kerangka teori bahwa perpaduan konsep pendidikan agama islam dan metode montessori untuk membangun karakter islami anak pada usia dini di Kota Depok dalam skema berikut ini. Gambar 2.1 Bagan Kerangka Konseptual 41 Fenomena: Kurangnya optimalnya penerapan pendidikan karakter sejak usia dini mengakibatkan masih tingginya kasus bullying, korupsi, dan kasus fenomena sosial lainnya Perpaduan Konsep Pendidikan Islam & Metode Montessori Asumsi Judul: Perpaduan Konsep Pendidikan Islam dan Metode Montessori Dalam Membangun Karakter Islami Anak Usia Dini di Kota Depok Karakter Islami Anak Usia Dini Rujukan Teori: - Teori Pendidikan Islam - Teori Metode Montessori - Teori Karakter Islami Anak Usia Dini Metode Kualitatif (Studi Kasus): mengidentifikasi dan menganalisis perpaduan konsep Pendidikan Islam dan Metode Montessori pada anak usia dini di Kota Depok, khususnya di lembaga PAUD Granada Preschool & Kindergarten, Al Ghani Montessori, dan RA Nurul Huda. 42 Output Analisis: Simpulan Outcome Analisis: Rekomendasi BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di RA Nurul Huda, Al Ghani Montessori, dan Granada Preschool & Kindergarten yang ada di Kota Depok. Alasan peneliti menjadikannya sebagai lokasi penelitian karena: 1. RA Nurul Huda dipilih karena PAUD tersebut sudah menerapkan pendidikan islami sebagai metode pembelajarannya, namun belum menerapkan Metode Montessori. 2. Al Ghani Montessori dipilih karena PAUD tersebut sudah menerapkan Metode Montessori sebagai metode pembelajarannya, namun belum menerapkan Pendidikan Islam. 3. Granada Preschool & Kindergarten dipilih karena PAUD tersebut sudah menerapkan pendidikan islam dan Metode Montessori sebagai metode pembelajarannya. Selain itu, ketiga lokasi lembaga PAUD tersebut juga sangat mudah untuk dijangkau, sehingga memudahkan bagi peneliti untuk mengumpulkan data sesuai kebutuhan rencana penyusunan thesis nantinya. B. Waktu Penelitian Penelitian ini direncanakan berlangsung selama enam bulan, mulai Januari 2025 hingga Juni 2025. Pada bulan pertama, Januari 2025, kegiatan difokuskan pada tahap persiapan, meliputi pengajuan proposal, penyusunan instrumen penelitian, dan pengurusan perizinan kepada lembaga-lembaga terkait, seperti PAUD RA Nurul Huda, Al Ghani Montessori, dan Granada Preschool & Kindergarten yang berlokasi di Kota Depok. 43 Tahap pengumpulan data direncanakan berlangsung dari Februari hingga April 2025. Data akan dikumpulkan melalui metode observasi, wawancara mendalam dengan kepala sekolah, guru, siswa, dan orang tua, serta dokumentasi terkait perpaduan konsep pendidikan Islam dan metode Montessori di lokasi penelitian. Pada Mei 2025, analisis awal data akan dilakukan untuk mengidentifikasi pola dan tema utama dari hasil yang diperoleh. Temuan tersebut kemudian akan disusun sebagai dasar pembahasan. Selama tahap ini, draft hasil penelitian akan disusun, dianalisis sesuai kerangka teori, dan direvisi berdasarkan masukan dari pembimbing. Bulan terakhir, Juni 2025, akan difokuskan pada finalisasi penulisan tesis, penyelesaian revisi akhir, serta persiapan untuk sidang atau seminar hasil penelitian sesuai jadwal yang ditetapkan oleh institusi. Rencana waktu ini bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kondisi di lapangan, terutama terkait akses ke lokasi penelitian dan ketersediaan narasumber. C. Metode Penelitian Berdasarkan objek yang peneliti ambil, maka jenis penelitian ini tergolong penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Menurut Sugiono, metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci. (Sugiono, 2012). Sedangkan, metode studi kasus umumnya diterapkan untuk menggali pemahaman mendalam tentang fenomena yang kompleks, baik pada tingkat individu, kelompok, organisasi, maupun komunitas dalam konteks tertentu (Assyakurrohim et al., 2022). Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif dengan metode studi 44 kasus untuk mengidentifikasi dan menganalisis perpaduan konsep Pendidikan Islam dan Metode Montessori pada anak usia dini di Kota Depok, khususnya di lembaga PAUD RA Nurul Huda, Al Ghani Montessori, dan Granada Preschool & Kindergarten. Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai konsep pendidikan islam dan Metode Montessori yang diterapkan di lembaga PAUD terkait dengan pembangunan karakter islami anak usia dini. Metode studi kasus diterapkan untuk menitikberatkan penelitian pada 3 lembaga PAUD yang ada di Kota Depok, yaitu: RA Nurul Huda, Al Ghani Montessori, dan Granada Preschool & Kindergarten. Hal ini untuk menggali data secara mendalam mengenai kondisi faktual serta berbagai faktor yang memengaruhi pembangunan karakter islami anak usia dini. D. Populasi dan Sampel 1. Populasi Menurut Sugiyono (2018), populasi adalah wilayah yang terdiri atas objek atau subjek dengan kualitas dan karakteristik tertentu yang ditentukan oleh peneliti untuk diteliti dan dibuat kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini terdiri dari tiga lembaga PAUD yang berlokasi di Kota Depok, yaitu: RA Nurul Huda, Al Ghani Montessori, dan Granada Preschool & Kindergarten. Adapun pihak yang terkait dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, guru, siswa, dan orang tua yang berperan langsung dalam proses pendidikan. Penelitian ini difokuskan pada pihak yang terlibat dengan penerapan konsep pendidikan islam dan Metode Montessori di lembaga PAUD tersebut. 45 2. Sampel Sugiyono (2016) menyatakan bahwa sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Selain itu, Sugiyono (2017) menjelaskan bahwa sampel merupakan bagian dari populasi yang dijadikan sumber data dalam penelitian. Sumber data (subjek) penelitian ini adalah semua pihak yang telibat secara langsung dalam penerapan konsep pendidikan islam dan Metode Montessori di lembaga PAUD tersebut, yaitu: a. Siswa Siswa dijadikan subjek utama dalam penelitian ini karena mereka secara langsung merasakan dampak dari penerapan konsep pendidikan islam dan Metode Montessori di lembaga PAUD. Informasi akan dikumpulkan melalui observasi selama kegiatan belajar mengajar di sekolah untuk memahami proses pembelajaran pendidikan islami dan Metode Montessori, serta pengaruhnya terhadap pembangunan karakter islami. b. Orang Tua Siswa Orang tua siswa, dalam penelitian ini dipilih ibu sebagai subjek penelitian karena ibu siswa memiliki peran penting dalam mendukung pendidikan anak di luar lingkungan sekolah. Melalui wawancara dengan para ibu, peneliti dapat memperoleh wawasan mendalam mengenai keefektifan konsep pendidikan islam dan Metode Montessori di luar lingkungan sekolah terkait dengan pembangunan karakter islami anak. c. Guru Guru dipilih sebagai subjek penelitian karena mereka berperan langsung dalam pelaksanaan pendidikan islam dan Metode Montessori di lembaga PAUD. Melalui wawancara, peneliti akan mendalami bagaimana guru mengimplementasikan konsep pendidikan islam dan Metode Montessori dalam pembangunan karakter islami anak. 46 d. Kepala Sekolah Kepala sekolah memiliki peran penting dalam merumuskan kebijakan dan menerapkan program pendidikan di lembaga PAUD. Melalui wawancara dengan kepala sekolah, peneliti dapat memperoleh pemahaman mengenai kebijakan yang mendukung konsep pendidikan islam dan Metode Montessori guna membangun karakter islami anak. E. Teknik Pengumpulan Data Sesuai dengan desain penelitian kualitatif dan sumber data yang digunakan, maka teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi dokumentasi, observasi dan wawancara. Untuk mengumpulkan data dalam kegiatan penelitian diperlukan cara-cara atau teknik pengumpulan data tertentu, sehingga proses penelitian dapat berjalan lancar. Teknik pengumpulan data adalah langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data Selanjutnya, untuk memperoleh data yang obyektif. Maka dalam penelitian penulis menggunakan beberapa teknik pengumpulan data yang dianggap representatif dalam mendukung terselenggaranya penelitian antara lain: 1. Observasi Teknik observasi merupakan metode pengumpulan data dengan melakukan pengamatan terhadap objek yang diteliti. Teknik observasi yang digunakan adalah teknik observasi secara langsung. Dalam hal ini peneliti terlibat langsung dengan kegiatan mengumpulkan data di sekolah, memperhatikan kegiatan belajar mengajar, dan interaksi antara guru dan siswa. 2. Wawancara Wawancara adalah suatu metode dalam pengumpulan data untuk mendapatkan informasi secara langsung dengan mengungkap pertanyaan47 pertanyaan pada informan. Jadi wawancara dapat diartikan sebagai kegiatan tanya jawab yang dilakukan dua orang atau lebih dengan bertatap muka. Dalam hal ini penulis akan melakukan wawancara dengan orang tua, guru, dan kepala sekolah yang berada di RA Nurul Huda, Al Ghani Montessori, dan Granada Preschool & Kindergarten. 3. Dokumentasi Dokumentasi adalah salah satu teknik pengumpulan data yang menggunakan dokumen sebagai sumber penelitian. Dokumen penting yang menunjang kelengkapan data dan kondisi objektif RA Nurul Huda, Al Ghani Montessori, dan Granada Preschool & Kindergarten seperti letak geografis, kegiatan pembelajaran, sarana dan prasarana, serta dokumentasi berupa foto wawancara bersama informan. F. Teknik Pengolahan dan Analisa Data Teknik analisis data yang digunakaan pada penelitian ini adalah teknik analisis data kualitatif. Setelah pengumpulan data dilaksanakan, maka selanjutnya peneliti melakukan analisis data sebagai berikut: 1. Reduksi Data Reduksi data berarti merangkum memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya serta membuang yang tidak perlu. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas (Sugiyono, 2013). Dalam proses mereduksi data, peneliti akan memilih dan menyaring data yang diperoleh untuk menyajikan gambaran penelitian secara lebih jelas. Reduksi data dimulai dengan menetapkan fokus penelitian pada perpaduan konsep pendidikan islam dan Metode Montessori dalam membangun karakter islami anak usia dini. Karena ini merupakan pengalaman pertama peneliti dalam 48 melakukan penelitian kualitatif, proses ini akan dilakukan dengan bimbingan dari pembimbing untuk memastikan data yang dihasilkan sesuai dengan tujuan penelitian. 2. Penyajian Data Setelah data direduksi, langkah berikutnya adalah menyajikan data. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data biasanya dilakukan dalam bentuk uraian singkat yang terstruktur untuk memudahkan pemahaman dan analisis lebih lanjut (Sugiyono, 2013). Penyajian data dilakukan dengan tujuan agar peneliti lebih mudah untuk memahami permasalahan yang terkait dalam penelitian. Data akan disajikan dalam format yang mudah dipahami untuk menggambarkan perpaduan konsep pendidikan islam dan Metode Montessori di lembaga PAUD. Peneliti akan memaparkan konsep pendidikan islam, Metode Montessori, dan pengaruhnya terhadap pembangunan karakter islami anak usia dini. 3. Penarikan Kesimpulan Apabila reduksi dan penyajian data telah dilakukan, maka langkah terakhir yang dilakukan adalah mengambil kesimpulan. Pengambilan kesimpulan merupakan suatu proses dimana peneliti menginterpretasikan data dari awal pengumpulan disertai pembuatan pola dan uraian atau penjelasan. Penulis menyimpulkan data sesuai dengan pertanyaan penelitian. Peneliti akan mengidentifikasi dan menganalisis perpaduan konsep Pendidikan Islam dan Metode Montessori di lembaga PAUD RA Nurul Huda, Al Ghani Montessori, dan Granada Preschool & Kindergarten dalam membangun karakter islami anak usia dini. 49 DAFTAR PUSTAKA Abidah, Anik. 2020. Implementasi Metode Islamic Montessori dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran di TK Islamic Montessori Al Hamidiyah Depok. (Tesis, Fakultas Pendidikan, Institut PTIQ Jakarta: Jakarta). Adilah, Nida dan A. Yri Alam F. 2023. Metode Montessori untuk Mengembangkan Karakter Kemandirian AUD dalam Perspektif Islam. Jurnal Al Amin: Jurnal Kajian Ilmu dan Budaya Islam, 6 (1), 93-102. Darda, Abu. Sintya Kartika Prameswari, dan Fathimah Kamilatun Nisa. 2023. Analisis Metode Islamic Montessori for Multiple Intelligences Pada Anak Generasi Alpha dalam Pengembangan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jurnal At Turots: Jurnal Pendidikan Islam, 5 (2), 47-49. Darnis, Syefriani. 2023. Pengembangan Model Pembelajaran Islami Montessori untuk Area Pendidikan Agama Anak Prasekolah. (Disertasi, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah: Jakarta). Febrianti, Eti. 2023. Penerapan Metode Montessori dalam Mengembangkan Kemampuan Motorik Anak di Paud Islam Terpadu Bina Insan Palu. (Skripsi, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Universitas Islam Negeri Datokarama: Palu). Hamsa, Huzaimah Aspuri. 2020. Implementasi Metode Montessori dalam Membentuk Karakter Kemandirian Pada Anak Usia Dini di Brainy Bunch International Islamic Montessori School Malaysia. (Skripsi, Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia: Yogyakarta). Hidayat, Luthfi. 2021. Metode Pendidikan Anak Montessori dalam Perspektif Pendidikan Islam. (Skripsi, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah: Jakarta). Indyati, Febrina. Dadan Suryana dan Asdi Wirman. 2020. Pengaruh Pembelajaran Metode Montessori terhadap Pendidikan Agama Islam Anak Usia Dini. Journal Pendidikan Tambusai, 4 (3), 3267-3280. 50 Khulusinniyah dan Zahrotul Masrurah. 2021. Implementasi Metode Montessori Untuk Mengembangkan Kemandirian Anak Di Ra Miftahul Ulum Manggisan Jember. Journal Atthufula: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 1 (2), 47-52. Kusnawati, Nency Ucik. Anwar Sa’dullah dan Eko Setiawan. 2021. Penerapan Islamic Montessori Activity pada Kegiatan Pembelajaran Anak Usia Dini di RA Tunas Mulia Dua Desa Pandanlandung Kecamatan Wagir Kabupaten Malang. Journal Dewantara: Jurnal Ilmiah Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 3 (1), 8-19. Loka, Ita dan Aan Listiana. 2023. Analisis Metode Montessori dalam Mengembangkan Karakter Mandiri Pada Anak Usia Dini. Journal Ceria, 6 (3), 316-332. Putri, Meilizza Ayunda Dwiyanti Putri. 2019. Pandangan Montessori dalam Perkembangan Moral Agama Anak Usia Dini di Taman Kanak-Kanak Alam. (Skripsi, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Raden Intan Lampung: Lampung). Rahmah, Fitri Alfiyani. Umi Masturoh dan Siti Mufarochah. 2022. Penanaman Nilai Agama dan Moral Pada Anak Usia 5-6 Tahun Melalui Metode Montessori di RA Nurul Huda Kemuning. Journal Au Lada: Jurnal Pendidikan dan Perkembangan Anak, IV (1), 1-9. Sari, Alwardah Wulan. 2022. Metode Pembelajaran Anak Usia Dini Menurut Maria Montessori dan Ki Hajar Dewantara. (Skripsi, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau: Pekanbaru). Wahyuningsih, Endah Tri. Muhammad Zainal Abidin dan Hesti Putri Setianingsih. 2022. Analisis Kurikulum Montessori dan Kurikulum Anak. Journal Stimulus: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 2 (2), 75-92. Wijiati, Muridian. Nelly Marhayati dan Buyung Surahman. 2023. Pendidikan Karakter Maria Montesori dalam Tinjauan Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Journal Insan Cendekia: Jurnal Studi Islam, Sosial dan Pendidikan, 2 (1), 13-26. Wulandari, Dewi Asri. Saifuddin dan Jajang Aisyul Muzakki. 2018. 51 Implementasi Pendekatan Metode Montessori dalam Membentuk Karakter Mandiri Pada Anak Usia Dini. Journal Awlady: Jurnal Pendidikan Anak, 4 (2), 1-19. Wulandari, Sri. 2021. Perpaduan Pendidikan Agama Islam dan Konsep Montessori dalam Pembentukan Karakter Mandiri Anak di TK Budi Mulia Dua Pandeansari. (Skripsi, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga: Yogyakarta). Yuliani, Ana. 2021. Implementasi Prinsip Montessori dalam Pendidikan Keislaman Pada Anak Usia Dini. Journal Jasika: Jurnal Studi Islam dan Kemuhammadiyahan, 1(2), 198-206. Zahrotun, Nisa. 2021. Konsep Pendidikan Karakter Anak Usia Dini Perspektif Montessori dan Relevansinya dengan Pendidikan Islam. (Skripsi, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Jakarta: Jakarta). 52
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )