Institusionalisasi Etika Bisnis Modul pembelajaran ini disusun untuk memenuhi tugas Etika Administrasi Dosen Pengampu : Lusy Deasyana Rahma Devita. SAB., MAB. Disusun : Cynthia Anugrah Sitorus 245030207111198 Harry Aditya Akbar 245030200111120 Jeanifer Maureen Yudhistira 245030201111087 Kemas Muhammad Nabiel 245030207111201 Muhamad Rifky Radja Wibisono 245030207111187 Qeyra Lintang Widiasta 245030207111185 Rachma Chairinna Adnindzi MD 245030201111088 PROGRAM STUDI ADMINISTRASI BISNIS FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2024 DAFTAR ISI DAFTAR ISI...................................................................................................................................1 MATERI .........................................................................................................................................2 MENGELOLA RESIKO ETIKA MELALUI PROGRAM YANG DIWAJIBKAN DAN SUKARELA ..............................................................................................................................2 1.1 Resiko Etika ...................................................................................................................3 1.2 Manajemen Resiko Etika dan Peluang ..........................................................................4 1.2.1 Mengidentifikasi dan Menilai Risiko Etika ..........................................................4 1.2.2 Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dan Kewarganegaraan Korporat .................5 1.2.3 Etika di Tempat Kerja ...........................................................................................5 1.2.4 Manajemen Krisis .................................................................................................7 1.3 ELEMEN DALAM BUDAYA ETIK ...........................................................................7 1.3.1 Nilai dan Prinsip Etika yang Jelas ........................................................................7 1.3.2 Sistem dan Struktur untuk Mendukung Etika .......................................................8 1.3.3 Lingkungan Kerja yang Mendukung Perilaku Etis ...............................................8 PERSYARATAN YANG DIWAJIBKAN UNTUK KEPATUHAN HUKUM .......................9 2.1 Hukum yang mengatur persaingan ..............................................................................10 2.1.1 Undang-Undang Yang Mengatur Persaingan Di Amerika Serikat .....................11 2.1.2 Undang-Undang Yang Mengatur Persaingan Di Indonesia................................12 2.2 Hukum Yang Melindungi Konsumen ..........................................................................13 2.2.1 Undang-Undang Yang Melindungi Konsumen Di Amerika Serikat ..................14 2.2.2 Undang-Undang Yang Melindungi Konsumen Di Indonesia .............................15 2.3 Hukum Yang Mendorong Keadilan dan Keamanan ....................................................16 2.3.1 Undang Undang Yang Mendorong Keamanan dan Keamanan Di Amerika ......17 2.3.2 Undang Undang Yang Mendorong Keamanan dan Keamanan Di Indonesia ....17 2.4 Hukum Perlindungan Lingkungan ...............................................................................18 1 2.4.1 Undang-Undang Perlindungan Lingkungan Di Amerika Serikat .......................19 2.4.2 Undang-Undang Perlindungan Lingkungan Di Indonesia ..................................20 PENGAWAS DAN PEMANGKU KEPENTINGAN .............................................................22 3.1 Akuntan ........................................................................................................................22 3.2 Penilaian Risiko ...........................................................................................................23 UNDANG UNDANG SARBANES-OXLEY .........................................................................26 4.1 Ketentuan Utama Undang-Undang Sarbanes-Oxley ...................................................27 4.2 Manfaat Undang-Undang Sarbanes-Oxley ..................................................................28 UNDANG-UNDANG YANG MENDORONG PERILAKU ETIS ........................................31 5.1 Persentase Karyawan ...................................................................................................31 5.2 Undang-Undang di Indonesia ......................................................................................32 5.3 Teori Deontologi/Non Konsekuensialis (Kewajiban) ..................................................32 5.4 Etika Teleologis/Konsekuensialis ................................................................................33 PEDOMAN PENJATUHAN HUKUMAN FEDERAL UNTUK ORGANISASI..................34 6.1 Prinsip Dasar dan Langkah-langkah Implementasi FSGO .........................................34 6.2 Peran Dewan Direksi dalam Program Kepatuhan .......................................................36 6.3 Pengaruh Amandemen FSGO terhadap Pelatihan dan Kepatuhan ..............................37 6.4 Memo Thompson dan Implikasinya bagi Organisasi ..................................................37 6.5 Studi Kasus: Implementasi FSGO dalam Dunia Nyata ...............................................38 PRAKTIK INTI YANG SANGAT TEPAT ............................................................................39 7.1 Praktik Inti dalam Etika Perusahaan ............................................................................39 7.2 Filantropi Perusahaan...................................................................................................40 7.3 Filantropi Strategis .......................................................................................................41 7. 4 Studi Kasus McDonald’s ............................................................................................42 REFERENCES .............................................................................................................................44 2 MATERI MENGELOLA RESIKO ETIKA MELALUI PROGRAM YANG DIWAJIBKAN DAN SUKARELA Untuk memahami tentang institusionalisasi etika bisnis, kita harus tahu bahwa praktik organisasi yang efektif itu perlu memenuhi 3 syarat yaitu hukum, sukarela dan praktik inti. Tujuannya untuk menciptakan budaya etis yang dapat secara efektif mengelola resiko pelanggaran. Institusionalisasi ini berkaitan dengan kekuatan hukum dan sosial yang akan memberikan sebuah penghargaan dan juga hukuman bagi organisasi berdasarkan evaluasi stakeholders terhadap perilaku tertentu. Resiko etika merupakan suatu kemungkinan dilanggarnya etika yang disebabkan oleh ketidakmampuan perusahaan dalam memenuhi harapan stakeholders. Hal inilah yang membuat suatu perusahaan wajib menjalankan manajemen resiko etika. Manajemen resiko etika adalah tata kelola yang menjunjung kode etik sehingga dapat meminimalisir resiko etika. a. Sukarela (voluntary) Mengacu pada kebijakan, praktik, atau inisiatif yang diambil oleh perusahaan itu sendiri tanpa adanya kewajiban hukum atau peraturan eksternal. Contohnya seperti Kantor Google yang memiliki berbagai macam fasilitas gratis yang dapat dipakai oleh karyawannya. Hal ini ditunjukan dari adanya lapangan olahraga, cafe, pantry, gym, kolam renang, area kerja yang fleksibel, nap pods (ruang tidur siang), laundry, perpustakaan, ruang fokus dan lainlain. Fasilitas-fasilitas ini dirancang untuk menciptakan suasana kerja yang nyaman, mendukung kreativitas, serta menjaga kesejahteraan fisik dan mental karyawan, yang sejalan dengan budaya kerja Google yang inovatif dan berorientasi pada karyawan. Google memiliki kode etik yang jelas dan program kepatuhan yang dirancang untuk memastikan bahwa karyawan bertindak sesuai dengan nilai dan standar perusahaan. Melalui program sukarela ini, Google mencoba mengatasi tantangan etis secara sistematis dan mendorong perilaku etis yang berkelanjutan, yang pada akhirnya mendukung tujuan perusahaan dalam memberikan dampak positif pada masyarakat dan memperkuat reputasinya di mata publik. b. Praktik Inti (core practice) Merupakan praktik-praktik atau standar etika yang ditanamkan dalam budaya perusahaan secara proaktif. Bukan karena diwajibkan oleh hukum, melainkan diterapkan sebagai 3 bagian dari nilai-nilai perusahaan untuk membentuk perilaku yang etis dan profesional. Misalnya: penghargaan bagi karyawan yang berintegritas. c. Batasan yang telah ditentukan (mandated boundaries) Aturan atau regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah, otoritas, atau badan pengawas yang wajib dipatuhi oleh organisasi. Biasanya berbentuk undang-undang dan kebijakan, Contohnya: peraturan anti-korupsi. 1.1 Resiko Etika Resiko etika merupakan suatu kemungkinan dilanggarnya etika yang disebabkan oleh ketidakmampuan perusahaan atau institusi dalam memenuhi harapan stakeholder. Supaya suatu organisasi atau perusahaan tetap dapat bertahan hidup, perusahaan dan professional wajib menjalankan manajemen resiko etika. Secara singkat, pengertian manajemen resiko etika adalah tata kelola yang menjunjung kode etik sehingga dapat meminimalisasi ketidakmampuan perusahaan dalam memenuhi harapan stakeholder. Ragam resiko etika dalam kaitannya dengan stakeholder. 1.2 Manajemen Resiko Etika dan Peluang 1.2.1 Mengidentifikasi dan Menilai Risiko Etika ● Resiko etika dan peluang dalam penilaian resiko perusahaan Pengakuan atas kebutuhan adanya akuntabilitas korporat kepada pemangku kepentingan membawa pengakuan simpulan yang dibutuhkan sistem tata kelola modern untuk merefleksikan betapa pentingnya memenuhi kepentingan pemangku kepentingan. Kepuasan pemangku kepentingan, pada gilirannya, didasarkan pada rasa hormat yang ditunjukan oleh perusahaan untuk kepentingan tiap kelompok pemangku kepentingan yang perusahaan ingin dapatkan dukungannya guna mencapai tujuan strategis. Dalam konteks ini perhatian pada risiko etika dan peluang sangat penting untuk menghindari potensi kerugian dukungan untuk tujuan perusahaan, dan untuk menemukan peluang meraih dukungan yang lebih besar. Hal ini memerlukan kerangka kerja yang lebih luas untuk penilaian risiko dari apa yang kebanyakan perusahaan telah terapkan. 4 ● Keterbatasan dari pendekatan Enterprise Risk Management (ERM) tradisional Penelaahan wajib pengendaliaan internal melibatkan perbandingan korporasi dengan kerangka sistem pengendalian internal yang berlaku seperti yang dikembangkan untuk Enterprise Risk Management (ERM) oleh Committee of Sponsoring Organization (COSO) Komisi Treadway. Etika dan budaya perusahaan yang etis terlihat memainkan peran penting dalam menentukan lingkungan pengendalian dan dengan demikian menciptakan efektif ERM berorientasi sistem pengendaliaan intern dan perilaku yang mempengaruhi hasil. Oleh karena itu, kajian berorientasi COSO ERM akan memeriksa nada diatas, kode etik, kesadaran karyawan, tekanan untuk memenuhi tujuan tidak realistis atau tidak tepat, kesediaan manajemen untuk menggantikan control yang sudah ada, kepatuhan terhadap kode dalam penilaian kinerja, pemantauan efektivitas sistem pengendalian internal, program whistle-blowing, dan tindakan perbaikan sebagai respon terhadap pelanggaran kode. 1.2.2 Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dan Kewarganegaraan Korporat Korporasi telah dianggap secara hukum bertanggung jawab hanya untuk pemegang saham atau pemilik, tetapi dalam kenyataannya mereka juga secara strategis bertanggung jawab kepada berbagai pemangku kepentingan yang lebih luas jika mereka ingin menggalang dukungan yang diperlukan untuk pencapaian strategis. Sejauh ini, pergeseran paradigma sedang berlangsung dari akuntabilitas kepada pemegang saham menjadi pertanggungjawaban kepada pemangku kepentingan. Akibatnya organisasi semakin tertarik pada apa pemangku kepentingan harapkan dari mereka, dan bagaimana mereka bekerja dan dianggap bekerja sesuai harapan untuk meningkatkan dukungan pemangku kepentingan. Ada juga investor, direksi, eksekutif, dan karyawan yang, dari perspektif altruistik, tertarik pada kinerja organisasi mereka mengenai hal-hal non-keuangan. Kedua kelompok orang dari perspektif instrumental dan orang-orang dari perspektif altruistik tertarik dalam rencana dan kinerja tanggung jawab sosial perusahaan dari suatu organisasi atau sebagaimana beberapa orang memilih untuk memfigurkannya dalam istilah warga 5 organisasi. Adapun label yang dipakai-CSR atau tanggung jawab perusahaan keduanya merujuk pada sejauh mana organisasi mempertimbangkan kepentingan pemangku kepentingan dan mengambil tindakan yang menghormati kepentingankepentingan itu. 1.2.3 Etika di Tempat Kerja Semakin tingginya tingkat kesadaran sosial dan tekanan dari kelompokkelompok aktivis yang telah didokumentasikan di tempat lain memiliki dampak signifikan pada kedua operasi internal dan eksternal organisasi. ● Hak Karyawan Beberapa hak yang berubah menjadi dilindungi oleh undang-undang baru, sementara yang lain dipengaruhi oleh kasus-kasus hukum umum, kontrak sertifikat buruh, dan praktik perusahaan yang telah sensitif terhadap tekanan pemangku kepentingan ● Privasi dan Martabat Hak pribadi lebih penting daripada atasan kecuali dapat ditunjukkan bahwa dalam keadaan tertentu kepentingan atasan adalah wajar, sah, dan bisa diterima secara moral. ● Perilaku yang adil Diskriminasi dianggap tidak etis dan dianggap ilegal jika ia melibatkan usia, ras, gender, dan preferensi seksual. Selain itu umumnya orang berpendapat bahwa harus ada peluang yang sama untuk pekerjaan, dan upah yang sama untuk pekerjaan yang sama, khususnya bagi perempuan dan minoritas. ● Lingkungan Kerja Sehat dan Aman Keseimbangan antara hak-hak pekerja dan pemilik telah bergeser ke titik yang dianggap etis bagi para pekerja untuk mengharapkan bahwa kesehatan dan keselamatan tidak akan masuk akal jika dikompromikan. Mereka harus tahu apa risiko yang dihadapi, dan banyak yurisdiksi telah menciptakan hukum berhak tahu untuk memastikan bahwa organisasi membuat informasi tentang bahan, proses berbahaya, dan perawatan terkait, siap diakses. 6 ● Kemampuan untuk Menjalankan Suara Nurani Seseorang Argumen bahwa pekerja hanya melakukan apa yang diperintahkan untuk melakukan tidak lagi menyediakan perlindungan bagi pekerja di banyak wilayah yuridiksi, sehingga pekerja harus menjalankan suara hati nurani sendiri. ● Kepercayaan dan Maknanya Etika organisasi secara langsung berkaitan dengan bagaimana para pemimpin dirasakan, apakah ada kepercayaan yang cukup bagi karyawan untuk berbagi ide tanpa takut kehilangan pekerjaan atau rasa hormat dari rekan kerja dan manajer mereka, dan apakah mereka percaya bahwa organisasi layak mendapatkan loyalitas dan kerja keras. ● Keseluruhan Manfaat Cara karyawan memandang perlakuan perusahaan terhadap mereka menemukan apa yang mereka pikirkan tentang program etika perusahaan. Jika perusahaan ingin karyawannya mengamati nilai etika perusahaan dan tingkat kepercayaan, maka perusahaan harus memilih karyawan yang tepat tidak sekedar etis untuk menjalankan program etika perusahaan dan mencapai tujuan strategis. ● Kecurangan Kejahatan Kerah Putih Eksekutif diharapkan untuk dapat memastikan bahwa mengambil langkah rasional yang diperlukan untuk membimbing, mempengaruhi, dan mengendalikan, karyawan yang cenderung terlibat, dan auditor eksternal diharapkan bisa waspada mengenali potensi masalah. ● Sebuah Kerangka Kerja untuk Memahami Para Penipu Akuntan investigasi dan forensic menggunakan kerangka kerja yang membantu mengidentifikasi penipu potensial dan situasi yang memiliki potensi untuk kecurangan. Faktor yang mempengaruhi kecurangan : motivasi, rasionalisasi dan peluang 7 1.2.4 Manajemen Krisis Suatu krisis memiliki potensi untuk memiliki dampak krisis signifikan pada reputasi perusahaan dan pejabatnya, dan pada kemampuan perusahaan untuk mencapai tujuannya dan kemampuannya untuk bertahan. Dengan belajar krisis harus dikelola untuk meminimalkan kerugian. Penilaian, perencanaan, dan manajemen krisis harus merupakan bagian dari program manajemen risiko modern 1.3 ELEMEN DALAM BUDAYA ETIK 1.3.1 Nilai dan Prinsip Etika yang Jelas ● Kode Etik Setiap organisasi yang ingin membangun budaya etika harus memiliki kode etik atau pedoman yang jelas. Kode ini berfungsi sebagai panduan yang menetapkan nilai dan prinsip yang dijunjung tinggi oleh organisasi, seperti kejujuran, transparansi, dan tanggung jawab. ● Kepemimpinan Etis Pimpinan atau manajer dalam organisasi harus berperan sebagai teladan dalam mempraktikkan etika, karena perilaku mereka akan menjadi contoh bagi karyawan lainnya. Pemimpin yang berperilaku etis mendorong karyawan untuk mengikuti dan menjaga standar etika. ● Visi dan Misi yang Beretika Budaya etika juga terkait erat dengan visi dan misi perusahaan yang harus mencerminkan komitmen organisasi terhadap etika, misalnya dengan menjadikan kepentingan pelanggan, tanggung jawab sosial, atau kelestarian lingkungan sebagai bagian dari tujuan jangka panjang. 1.3.2 Sistem dan Struktur untuk Mendukung Etika ● Sistem Pengawasan dan Kepatuhan Untuk mendorong perilaku etis, organisasi perlu menyediakan mekanisme pengawasan dan kepatuhan yang efektif, termasuk pengendalian internal yang memadai untuk mendeteksi dan mencegah pelanggaran etika. 8 ● Kanal Pelaporan yang Aman (Whistleblowing) Memberikan ruang bagi karyawan untuk melaporkan perilaku tidak etis tanpa rasa takut akan pembalasan atau konsekuensi. Kanal pelaporan ini memungkinkan organisasi untuk mendeteksi masalah etika lebih awal dan menanganinya sebelum berdampak lebih besar. ● Program Pelatihan Etika Pelatihan berkala mengenai etika dan kepatuhan membantu karyawan memahami nilai, prinsip, dan aturan yang berlaku, serta cara menerapkannya dalam situasi kerja sehari-hari. Program ini juga memperkuat kesadaran karyawan tentang pentingnya menjaga etika. 1.3.3 Lingkungan Kerja yang Mendukung Perilaku Etis ● Kultur Kerja yang Terbuka dan Transparan Budaya etika didukung oleh komunikasi yang transparan di mana setiap anggota tim merasa nyaman untuk menyampaikan ide, masalah, atau tantangan etis yang mereka hadapi. Lingkungan terbuka memungkinkan diskusi etis dan pengambilan keputusan yang lebih baik. ● Penghargaan dan Sanksi yang Adil Untuk mendorong budaya etis, organisasi perlu mengakui perilaku etis karyawan, seperti dengan penghargaan atau promosi. Sebaliknya, perilaku yang tidak etis harus ditindak dengan sanksi yang sesuai dan konsisten. Penghargaan dan sanksi ini menunjukkan komitmen organisasi terhadap perilaku etis. ● Komitmen terhadap Tanggung Jawab Sosial Organisasi yang memiliki budaya etika seringkali memiliki komitmen terhadap tanggung jawab sosial, seperti mendukung kegiatan filantropi, peduli lingkungan, dan ikut berkontribusi pada masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa organisasi bukan hanya mengejar keuntungan, tetapi juga menjaga keseimbangan antara bisnis dan kepentingan sosial. 9 PERSYARATAN YANG DIWAJIBKAN UNTUK KEPATUHAN HUKUM Hukum dan peraturan ditetapkan oleh pemerintah untuk menetapkan standar minimum bagi perilaku yang bertanggung jawab-kodifikasi masyarakat tentang apa yang benar dan salah. Hukum yang mengatur perilaku bisnis disahkan karena pemangku kepentingan tertentu percaya bahwa bisnis tidak dapat dipercaya untuk melakukan apa yang benar di bidang tertentu, seperti keselamatan konsumen dan perlindungan lingkungan karena kebijakan publik bersifat dinamis dan sering berubah sebagai respons terhadap penyalahgunaan bisnis dan tuntutan konsumen akan keselamatan dan kesetaraan, banyak hukum telah disahkan untuk menyelesaikan masalah dan isu tertentu. Namun, pendapat masyarakat, sebagaimana diungkapkan dalam undang-undang, dapat berubah seiring waktu, dan pengadilan atau badan legislatif negara bagian yang berbeda dapat mengambil pandangan yang berbeda. Misalnya, inti dari sebagian besar undang-undang bisnis dapat disimpulkan sebagai berikut; Setiap praktik diizinkan yang tidak secara substansial mengurangi atau mengurangi persaingan atau merugikan konsumen atau masyarakat. Namun, pengadilan berbeda dalam interpretasi mereka tentang apa yang merupakan pengurangan persaingan yang "substansial". Hukum dapat membantu pebisnis menentukan apa yang diyakini masyarakat pada waktu tertentu, tetapi apa yang secara hukum salah hari ini dapat dianggap dapat diterima besok, dan sebaliknya. Hukum dikategorikan menjadi dua sebagai hukum pidana dan hukum perdata. Hukum pidana bertujuan mencegah tindak kejahatan, dan menghukum pelaku kejahatan sebagai bentuk keadilan guna menjaga ketertiban masyarakat. Contoh dari hukum pidana sendiri ialah pelarangan pencurian, penipuan, atau pelanggaran perdagangan sekuritas, selain itu hukum pidana juga mengenakan denda atau hukuman penjara sebagai hukuman atas pelanggaran hukum. Hukum perdata sendiri didefinisikan bagian dari sistem hukum yang mengatur hubungan antara individu atau bentuk hukum yang saling berinteraksi dalam masyarakat, mengatur pula hak dan kewajiban seorang individu maupun organisasi (termasuk bisnis). Hukum bukan sebagai acuan untuk membedakan apakah suatu hal dinilai etis atau tidak etis, melainkan untuk membatasi, menentukan dasar kesesuaian kegiatan atau situasi tertentu. Dalam konteks bisnis hukum menetapkan aturan dasar untuk kegiatan bisnis agar sesuai norma dan bertanggung jawab. Undang-undang yang mengatur perilaku bisnis dibagi menjadi lima kelompok: 1. Peraturan dalam persaing 2. Perlindungan konsumen 10 3. Keadilan dan keamanan 4. Perlindungan hak asasi manusia, serta lingkungan alam 5. Insentif untuk mendorong program kepatuhan organisasi terhadap hukum untuk mencegah pelanggaran 2.1 Hukum yang mengatur persaingan Membahas mengenai dampak persaingan terhadap tanggung jawab sosial dari persaingan antar bisnis untuk mendapatkan pelanggan dan keuntungan. Persaingan yang buruk dan tidak adil akan berdampak negatif terhadap keberlangsungan kehidupan perusahaan, dalam perihal ini seorang manajer akan melihat mengenai persaingan apa yang dapat diterima dan tidak dapat diterima. Pihak usaha tentu akan berupaya memastikan keberlangsungan hidup perusahaan mereka akan tetap aman. Ukuran sebuah usaha dapat mempengaruhi persaingan, terutama memberi tekanan terhadap usaha lain yang lebih kecil, misal saja usaha yang lebih besar akan memberikan dampak yang memaksa usaha yang lebih kecil untuk menurunkan harga dagangan agar dapat bersaing dan menarik konsumen. Hal ini dikarenakan usaha yang lebih kecil pastinya akan kalah saing dalam bidang popularitas atau fasilitas, sehingga akan lebih banyak konsumen yang berbelanja di usaha yang lebih besar. Dalam kasus ini sebagai contoh Indomaret atau Hypermart yang lebih dikenal akan menjadi saingan berat bagi swalayan atau toko kelontong yang berada di dekat. Perusahaan-perusahaan yang besar ini sangat memungkinkan untuk beroperasi dengan biaya yang lebih rendah sehingga membuat perusahaan kecil lainnya kesulitan dalam bersaing. Beberapa strategi persaingan juga memungkinkan yang lebih besar untuk melemahkan, bahkan menghancurkan pesaing, hal ini akan membuat tingkat persaingan rendah dan akhirnya akan mengurangi pilihan konsumen. Perilaku spionase perusahaan memungkinkan dilakukan sebagai usaha monopoli, tindakan ini mengambil informasi secara ilegal dari perusahaan melalui peretasan komputer, pencurian, intimidasi, memilah sampah, dan melalui peniruan identitas anggota organisasi. Perkiraan menunjukkan spionase perusahaan dapat merugikan perusahaan hampir $50 miliar setiap tahunnya. Informasi yang tidak sah yang dikumpulkan meliputi paten dalam pengembangan, kekayaan intelektual, strategi penetapan harga, informasi pelanggan, operasi manufaktur dan teknologi yang unik, serta rencana pemasaran, penelitian dan pengembangan, dan rencana masa depan untuk perluasan pasar dan pelanggan. Menentukan jumlah kerugian yang akurat sulit dilakukan karena sebagian besar perusahaan tidak melaporkan kerugian tersebut 11 karena takut publisitas akan merusak harga saham mereka atau mendorong pembobolan lebih lanjut. Contoh terakhir ialah pemotongan harga secara berkelanjutan, penetapan harga yang diskriminatif dan perang harga. Di berbagai negara seperti Amerika dan Indonesia telah terdapat undang-undang yang mengatur mengenai larangan praktek monopoli dan persaingan usaha yang tidak sehat. 2.1.1 Undang-Undang Yang Mengatur Persaingan Di Amerika Serikat Sherman Antitrust Act, 1890 Melarang Monopoli. Clayton Act, 1914 Melarang diskriminasi harga, transaksi eksklusif, dan membatasi persaingan. Federal Trade Commision Act, 1914 Membentuk Komisi Perdagangan Federal (FTC) untuk membantu menegakkan hukum anti-monopoli. Robinson-Patmat Act, 1936 Melarang diskriminasi harga antara pengecer dan grosir. Wheeler-Lea Act, 1938 Melarang tindakan tidak adil dan menipu tanpa memandang apakah kompetisi dirugikan. McCarran-Ferguson Act, 1944 Mengecualikan industri asuransi dari undangundang anti-monopoli. 2.1.2 Undang-Undang Yang Mengatur Persaingan Di Indonesia Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1999) UU No. 5 Tahun 1999, Bab 3, Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan Pasal 4, ayat 1 pelaku usaha lain untuk secara bersama-sama 12 melakukan penguasaan produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat. UU No. 5 Tahun 1999 Bab 3, Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan Pasal 5, ayat 1 pelaku usaha pesaingnya untuk menetapkan harga atas suatu barang dan atau jasa yang harus dibayar oleh konsumen atau pelanggan pada pasar bersangkutan yang sama. UU No. 5 Tahun 1999 Bab 3, Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian, dengan Pasal 11, ayat 1 pelaku usaha pesaingnya, yang bermaksud untuk mempengaruhi harga dengan mengatur produksi dan atau pemasaran suatu barang dan atau jasa, yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat. UU No. 5 Tahun 1999 Bab 4, Pelaku usaha dilarang melakukan penguasaan atas Pasal 17, ayat 1 produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat. UU No. 5 Tahun 1999 Bab 4, Pelaku usaha dilarang bersekongkol dengan pihak Pasal 22, ayat 1 lain untuk mengatur dan atau menentukan pemenang tender sehingga dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat UU No. 5 Tahun 1999 Bab 5, Pelaku usaha dilarang menggunakan posisi dominan Pasal 25, ayat 1 baik secara langsung maupun tidak langsung untuk : A. Menetapkan syarat-syarat perdagangan dengan tujuan untuk mencegah dan atau menghalangi konsumen memperoleh barang 13 dan atau jasa yang bersaing, baik dari segi harga maupun kualitas B. Membatasi pasar dan pengembangan teknologi C. Menghambat pelaku usaha lain yang berpotensi menjadi pesaing untuk memasuki pasar bersangkutan. 2.2 Hukum Yang Melindungi Konsumen Undang-undang yang melindungi konsumen memberikan standar terhadap informasi yang dicantumkan dalam label sebuah produk, sebagaimana telah diatur Berdasarkan Peraturan BPOM Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan, Peraturan BPOM Nomor 16 Tahun 2020 tentang Pencantuman Informasi Nilai Gizi untuk Pangan Olahan yang diproduksi oleh UMKM dan Peraturan BPOM No 22 Tahun 2019 tentang Informasi Nilai Gizi pada Label Pangan Olahan. Tujuan pelabelan ini guna melindungi dan memenuhi hak konsumen untuk mengetahui kandungan apa saja yang terkandung dalam produk sehingga memberi rasa aman dan nyaman. Kelompok besar orang dengan kerentanan tertentu telah diberikan tingkat perlindungan hukum khusus dibanding dengan masyarakat pada umumnya. Dalam hal ini dapat dilihat dari aplikasi peraturan kandungan yang terkandung dan batasan konsumsi oleh anak-anak atau orang tua lanjut usia sebagai kriteria yang ditetapkan melalui usia, namun ada hal lain yang perlu dipedulikan seperti alergi. Ada pula batasan usia dalam penggunaan situs,aplikasi, atau sosial media dengan berbagai langkah verifikasi, penyaringan, dan pembatasan privasi. Batasan dibuat guna melindungi konsumen, selain itu sebagai tanggung jawab sebuah perusahaan. Usia dapat dijadikan batasan untuk menghindari ketidakbijakan pengguna dan mencegah terjadinya kasus predator daring hingga peretasan data pribadi. Banyak platform media sosial menetapkan usia minimal 13 tahun bagi penggunanya, mengikuti regulasi seperti COPPA (Children's Online Privacy Protection Act). Undang-undang ini melarang pengumpulan data pribadi anak-anak di bawah usia 13 tahun tanpa persetujuan orang tua, menjaga privasi dan keamanan mereka dari ancaman. 14 2.2.1 Undang-Undang Yang Melindungi Konsumen Di Amerika Serikat Pure Food and Drug Act, 1906 Melarang pemalsuan dan kesalahan pelabelan makanan dan obat-obatan yang dijual di perusahaan antarnegara. Federal Hazardous Substances Mengontrol Labeling Act, 1960 pelabelan zat berbahaya untuk penggunaan rumah tangga. Consumer Product Safety Act, Membentuk komisi keamanan produk konsumen 1972 untuk menetapkan standar dan peraturan bagi keselamatan produk konsumen. Fair Credit Billing Act, 1947 Memerlukan catatan kredit konsumen yang akurat dan terkini. Toy Safety Act, 1984 Memberikan pemerintah kewenangan menarik mainan berbahaya dengan cepat. Do Not Call Implementation Act, Memerintahkan FCC dan FTC untuk berkoordinasi 2003 agar peraturan mereka konsisten terkait praktik panggilan telemarketing termasuk Do Not Call Registry dan daftar lainnya, serta pembatalan panggilan. 2.2.2 Undang-Undang Yang Melindungi Konsumen Di Indonesia Perlindungan Konsumen Undang-Undang RI Nomor 8 Tahun 1999) UU No. 8 Tahun 1999, Bab 3, Pasal 4 dan Pasal Tentang hak dan kewajiban konsumen. 5 15 UU No. 8 Tahun 1999, Bab 3, Pasal 6 dan Pasal Tentang hak dan kewajiban pelaku 7 usaha. UU No. 8 Tahun 1999, Bab 4, Pasal 9 Pelaku usaha dilarang menawarkan, mempromosikan, mengiklan suatu barang dan/atau jasa secara tidak benar, dan/atau seolah-olah. UU No. 8 Tahun 1999, Bab 4, Pasal 17 Pelaku usaha periklanan dilarang memproduksi iklan yang mengelabui konsumen atau mengeksploitasi kejadian. UU No. 8 Tahun 1999, Bab 7, Pasal 29, ayat 1 Pemerintah bertanggung jawab atas pembinaan penyelenggaraan perlindungan konsumen yang menjamin diperolehnya hak konsumen dan pelaku usaha serta dilaksanakannya kewajiban konsumen dan pelaku usaha. UU No. 8 Tahun 1999, Bab 7, Pasal 30, ayat 1 Pengawasan terhadap penyelenggaraan perlindungan penerapan konsumen ketentuan serta peraturan perundang-undangannya diselenggarakan oleh pemerintah, masyarakat, dan lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat. 2.3 Hukum Yang Mendorong Keadilan dan Keamanan UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003 berhubungan dengan UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja yang mengamanatkan beberapa poin. Pertama, Pasal 5 memaparkan ”Setiap 16 tenaga kerja memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan”. Undang-undang ini mencangkup hak-hak kaum minoritas, perempuan, orang lanjut usia, penyandang disabilitas. Banyak pula kebijakan guna menjamin keamanan pekerja dan larangan diskriminasi pekerja dengan penilaian atas ras, jenis kelamin, agama, warna kulit, dan asal kebangsaan. Peraturan ini mendukung bisnis membuat kebijakan yang adil dan membuka kesempatan kerja seluas-luasnya dari berbagai pihak. Sebuah perusahaan juga bertanggung jawab atas kesehatan dan keamanan kerja sehingga mengurangi resiko kecelakaan kerja, bahkan di beberapa perusahaan memberi anggotanya sebuah asuransi K3. Administrasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (OSHA), yang menegakkan undang-undang tersebut, melakukan inspeksi mendadak secara berkala untuk memastikan bahwa perusahaan menjaga lingkungan kerja yang aman. Bahkan dengan disahkannya dan ditegakkannya undang-undang keselamatan, banyak karyawan masih bekerja di lingkungan yang tidak sehat atau berbahaya. Pakar keselamatan menduga bahwa perusahaan tidak melaporkan kecelakaan industri untuk menghindari inspeksi dan regulasi negara bagian dan federal. Penekanan saat ini pada peningkatan produktivitas telah dikutip sebagai alasan utama meningkatnya jumlah kecelakaan tersebut. Tekanan kompetitif juga diyakini menjadi penyebab meningkatnya cedera manufaktur. Pergantian yang lebih besar dalam organisasi karena perampingan berarti bahwa karyawan mungkin memiliki lebih banyak tanggung jawab dan lebih sedikit pengalaman dalam posisi mereka saat ini, sehingga meningkatkan potensi kecelakaan. Industri penerbangan telah menjadi contoh utama dari masa ekonomi yang sulit yang mengakibatkan karyawan yang bekerja berlebihan dan kurang terlatih. 2.3.1 Undang Undang Yang Mendorong Keamanan dan Keamanan Di Amerika Equal Pay Act of 1963 Melarang diskriminasi gaji berdasarkan jenis kelamin. Equal Pay of Act 1963 Melarang diskriminasi berdasarkan jenis kelamin dalam hal (amended) upah atau serupa. Laki-laki dan perempuan yang bekerja pada pekerjaan yang sama. Title VII of the Civil Melarang diskriminasi dalam pekerjaan atas ras, warna Rights Act of 1964 kulit, agama, atau asal negara. (amended in 1972) 17 Occupational Safety and Dirancang untuk memastikan kondisi kerja yang sehat dan Health Act, 1970 aman bagi semua karyawan. Title IX of Education Melarang diskriminasi berdasarkan jenis kelamin dalam Amendments of 1972 program atau kegiatan pendidikan yang menerima dana bantuan federal. Vietnam Era Veterans Melarang diskriminasi terhadap veteran penyandang cacat Readjustment Act, 1978 dari perang vietnam. 2.3.2 Undang Undang Yang Mendorong Keamanan dan Keamanan Di Indonesia UU Ketenagakerjaan Pasal Setiap 87, ayat 1 perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan. UU RI No. 13 Tahun 2003 Setiap tenaga kerja mempunyai hak dan kesempatan ketenagakerjaan, Bab Pasal 5 3, yang sama untuk memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak tanpa membedakan jenis kelamin, suku, ras, agama, dan aliran politik sesuai dengan minat dan kemampuan tenaga kerja yang bersangkutan, termasuk perlakuan yang sama terhadap para penyandang cacat. UU RI No. 13 Tahun 2003 Pengusaha harus memberikan hak dan kewajiban ketenagakerjaan, Bab Pasal 6 3, pekerja/buruh tanpa membedakan jenis kelamin, suku, ras, agama, warna kulit, dan aliran politik. UU RI No. 13 Tahun 2003 Perencanaan tenaga kerja disusun atas dasar informasi ketenagakerjaan, Bab 4, ketenagakerjaan Pasal 8 18 PERMEN RI No. 50 Tahun kebijakan nasional tentang SMK3 pengendalian risiko 2012 Sistem Tentang Penerapan yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya Manajemen tempat kerja. yang aman, efisien dan produktif. Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Bab 2, Pasal 4, ayat 1 UU RI No. 13 Tahun 2020 menjamin setiap warga negara memperoleh pekerjaan, Cipta Kerja, Bab 2, Pasal 3, serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan ayat 2 layak dalam hubungan kerja; 2.4 Hukum Perlindungan Lingkungan Bisnis menimbulkan dampak baik terhadap keberlangsungan hidup manusia maupun lingkungan. Kekhawatiran ini muncul pada tahun 1960-an. Keberlanjutan menjadi kata kunci dalam beberapa tahun terakhir, hingga muncullah konsep Sustainable Development Goods (SDGs) yang mengusung pembangunan berkelanjutan. Komisi dunia PBB untuk lingkungan dan pembangunan berkelanjutan berarti “memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. ”Tiga puluh lima persen orang tertarik dengan topik pembangunan berkelanjutan sehingga mulainya muncul permintaan tinggi terhadap tenaga terbarukan, kendaraan ramah lingkungan seperti electric vehicle yang membuat industri berbondong-bondong dalam persaingan ini. Namun nyatanya dalam perkembangan kendaraan ramah lingkungan tetap banyak dampak yang ditimbulkan layaknya limbah yang jauh berbahaya bagi alam dan lingkungan. Biaya produksi dan kecelakaan kerja yang terjadi saat pengembangan/pembuatan membuat harga yang diberikan tidak sesuai dengan dampak yang diperoleh. Masih banyak pula industri yang tidak bertanggung jawab dan acuh terhadap dampak yang ditimbulkannya terhadap lingkungan, bahkan terdapat limbah yang terkonsumsi oleh manusia yang dapat memicu berbagai penyakit. SDGs ini terus dikembangkan dan mulai diterapkan sebagai harapan umat manusia agar dapat membuat lingkungan eco-friendly demi keselarasan hidup manusia dengan alam. Peraturan dan undang-undang yang diterapkan dapat menjadi salah satu peluang mendukung upaya pembangunan berkelanjutan. 19 2.4.1 Undang-Undang Perlindungan Lingkungan Di Amerika Serikat Clean Air Act, 1970 Menetapkan standar kualitas udara, memerlukan rencana negara yang disetujui untuk penerapan standar tersebut. National Environmental Policy Menetapkan tujuan kebijakan yang luas untuk Act, 1970 semua lembaga federal dan menciptakan Dewan Kualitas Lingkungan sebagai lembaga pemantau. Federal Water Pollution Control Dirancang untuk mencegah, mengurangi, atau Act, 1972 menghilangkan polusi air. Toxic Substances Control Act, Memerlukan pengujian dan membatasi penggunaan 1976 zat kimia tertentu, untuk melindungi kesehatan manusia dan lingkungan. Pollution Prevention Act, 1990 Memusatkan perhatian industri, pemerintah, dan publik pada pengurangan jumlah polusi melalui perubahan yang hemat biaya dalam produksi, operasi, dan penggunaan bahan baku. Food Quality Protection Act, Mengubah Undang-Undang Insektisida, Fungisida 1996 dan Rodentisida Federal Undang-Undang dan Undang-Undang Kosmetik Makanan Federal, Obat-Obatan Persyaratannya dan termasuk standar keselamatan baru yang masuk akal kepastian tidak adanya bahaya yang harus diterapkan pada semua pestisida digunakan pada makanan. 20 2.4.2 Undang-Undang Perlindungan Lingkungan Di Indonesia UU RI No. 32 Tahun 2009 Bab 5, Pasal 13, ayat Pengendalian pencemaran dan/atau 1 lingkungan hidup kerusakan dilaksanakan dalam rangka pelestarian fungsi lingkungan hidup. UU RI No. 32 Tahun 2009 Bab 5, Pasal 22, Setiap usaha dan/atau kegiatan yang ayat 1 berdampak penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki amdal. UU RI No. 32 Tahun 2009 Bab 2, Pasal 3, Perlindungan dan pengelolaan ayat 1 lingkungan hidup. PERPRES No. 111 Tahun 2022 Pasal 1 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan I Sustainable Development Goals (SDGs) yang selanjutnya disingkat TPB adalah agenda pembangunan global untuk mengakhiri kemiskinan, meningkatkan kesejahteraan, dan melindungi planet, melalui pencapaian 17 (tujuh belas) tujuan sampai Tahun 2030. UU RI No. 32 Tahun 2009 Bab 2, Pasal 4, Perlindungan ayat 1 dan pengelolaan lingkungan hidup meliputi: Perencanaan, Pemanfaatan, Pengendalian, Pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum. PERPRES No. 111 Tahun 2022 Pasal 2 menjaga peningkatan ekonomi kesejahteraan masyarakat berkesinambungan, keberlanjutan 21 kehidupan secara menjaga sosial masyarakat, menjaga kualitas lingkungan hidup serta pembangunan yang inklusif; dan terlaksananya tata kelola yang mampu menjaga peningkatan kualitas kehidupan dari satu generasi ke generasi berikutnya 22 PENGAWAS DAN PEMANGKU KEPENTINGAN Kepercayaan adalah perekat yang menyatukan bisnis dan para pemangku kepentingan. Kepercayaan menciptakan keyakinan dan membantu menjalin hubungan ketergantungan antara bisnis dan pemangku kepentingan sebagai tingan. Kepercayaan juga memungkinkan bisnis untuk saling bergantung satu sama lain saat mereka melakukan transaksi atau pertukaran nilai. Etika membantu menciptakan kepercayaan yang mendasar antara dua pihak dalam suatu transaksi. Ada banyak orang yang harus dipercaya dan dipercaya agar bisnis dapat berjalan dengan baik. Kadangkadang pihak-pihak ini disebut gatekeeper. Gatekeepers adalah individu atau kelompok yang mengontrol akses ke pengambil keputusan dalam suatu organisasi. Mereka berfungsi sebagai perantara yang menentukan siapa yang dapat berkomunikasi dengan pengambil keputusan dan informasi apa yang dapat diakses. Gatekeeper tidak hanya mencakup akuntan, yang sangat penting untuk mengesahkan keakuratan informasi keuangan, tetapi juga pengacara, lembaga pemeringkat keuangan, dan bahkan layanan pelaporan keuangan. Semua kelompok ini sangat penting dalam menyediakan informasi yang memungkinkan para pemangku kepentingan untuk mendapatkan pemahaman tentang posisi keuangan suatu organisasi. Sebagian besar gatekeeper ini beroperasi dengan kode etik profesional dan menghadapi konsekuensi hukum, atau bahkan pemecatan, jika mereka gagal beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip perilaku yang telah disepakati. Oleh karena itu, ada kebutuhan yang kuat bagi penjaga gerbang untuk mempertahankan standar etika dan kemandirian dengan menggunakan metode dan prosedur standar yang dapat diaudit oleh penjaga gerbang lain, sistem regulasi, dan investor. 3.1 Akuntan Akuntan mengukur dan mengungkapkan informasi keuangan, dengan jaminan keakuratan, kepada publik. Manajer, investor, otoritas pajak, dan pemangku kepentingan lainnya yang membuat keputusan alokasi sumber daya adalah kelompok yang menggunakan informasi yang disediakan oleh akuntan. Akuntan mengasumsikan prinsip-prinsip dasar tertentu tentang klien mereka. Salah satu asumsinya adalah bahwa perusahaan adalah entitas yang terpisah dan berbeda 23 dari pemiliknya, dan akan terus beroperasi seperti itu di masa depan. Asumsi lainnya adalah bahwa sistem moneter yang stabil (seperti dolar) tersedia dan semua informasi yang diperlukan mengenai bisnis tersedia dan disajikan dengan cara yang dapat dimengerti. Akuntan memiliki seperangkat aturan mereka sendiri, salah satunya adalah, jika ada pilihan antara metode akuntansi yang samasama dapat diterima, mereka harus menggunakan metode yang paling kecil kemungkinannya untuk melebih-lebihkan atau salah saji. Selama krisis keuangan 2008-2009, banyak orang kehilangan kepercayaan terhadap akuntan dan auditor karena beberapa orang membuat keputusan yang tidak bermoral. Beberapa akuntan belum mematuhi tanggung jawab mereka kepada para pemangku kepentingan. Sebagai contoh, Arthur Andersen pernah menjadi pembawa standar integritas. Namun di Andersen, pertumbuhan menjadi prioritas, dan penekanannya pada perekrutan dan mempertahankan klien-klien besar telah mengorbankan kualitas dan audit yang independen. Perusahaan menghubungkan bisnis konsultannya dalam hubungan kerja sama dengan bagian auditnya, yang mengorbankan independensi auditor nya, sebuah kualitas yang sangat penting bagi pelaksanaan audit yang kredibel. Fokus perusahaan pada pertumbuhan menghasilkan perubahan mendasar dalam budaya perusahaan, di mana mendapatkan bisnis konsultasi yang menguntungkan dianggap lebih penting daripada menyediakan jasa audit yang objektif. Situasi ini menimbulkan konflik kepentingan, dan menimbulkan masalah ketika para partner harus memutuskan bagaimana memperlakukan praktik akuntansi yang meragukan yang ditemukan di beberapa klien terbesar Andersen. Pada akhirnya, Arthur Andersen dibubarkan karena keterkaitannya dengan skandal Enron. Para penjaga gerbang seperti pengacara, lembaga pemeringkat keuangan, dan bahkan jasa pelaporan keuangan harus memiliki standar etika yang tinggi. Kelompok-kelompok ini harus dipercaya oleh semua pemangku kepentingan, dan sebagian besar beroperasi dengan kode etik profesional. 3.2 Penilaian Risiko Kelompok pengawas penting lainnya dalam krisis keuangan adalah para penilai risiko produk keuangan. Tiga perusahaan teratas di dunia yang secara independen menilai risiko keuangan adalah Standard & Poor's, Moody's, dan Fitch. Mereka menilai risiko dan 24 mengekspresikannya melalui huruf mulai dari “AAA,” yang merupakan nilai tertinggi, hingga “C,” yang merupakan sampah. Layanan pemeringkatan yang berbeda menggunakan nilai huruf yang sama, tetapi menggunakan berbagai kombinasi huruf besar dan huruf kecil untuk membedakannya. Pada awal tahun 2003, para analis keuangan dan tiga perusahaan pemeringkat global menduga bahwa ada beberapa masalah besar dengan cara model mereka menilai risiko. Pada tahun 2005, Standard & Poor's menyadari bahwa algoritmanya dalam memperkirakan risiko yang terkait dengan paket utang memiliki kelemahan. Akibatnya, mereka meminta masukan untuk memperbaiki persamaannya. Pada tahun 2006-2007, banyak regulator pemerintah dan pihak-pihak lain mulai menyadari apa yang telah diketahui oleh lembaga-lembaga pemeringkat selama bertahun-tahun. Peringkat mereka tidak terlalu akurat. Sebuah laporan menyatakan bahwa peringkat tinggi yang diberikan kepada utang didasarkan pada data historis yang tidak memadai dan perusahaan-perusahaan melakukan jual-beli peringkat di antara perusahaan-perusahaan untuk mendapatkan peringkat terbaik. Ditemukan bahwa bank-bank investasi termasuk di antara beberapa pelanggar terburuk, yang membayar untuk mendapatkan peringkat sehingga menyebabkan konflik kepentingan. Jumlah pendapatan yang diterima oleh ketiga perusahaan ini setiap tahunnya adalah sekitar $5 miliar. Penyelidikan lebih lanjut menemukan banyak masalah yang mengganggu. Pertama, Moody's, S&P's, dan Fitch telah melanggar kode etik yang mengharuskan para analis hanya mempertimbangkan faktor kredit, bukan “potensi dampaknya terhadap Moody's, atau emiten, investor, atau pelaku pasar lainnya.” Selain itu, perusahaan-perusahaan ini juga kewalahan dengan peningkatan volume dan kecanggihan sekuritas yang diminta untuk ditinjau. Akhirnya, para analis, yang dihadapkan pada waktu yang lebih sedikit untuk melakukan uji tuntas yang diharapkan dari mereka, mulai mengambil jalan pintas. Ketua SEC Mary Schapiro percaya bahwa SEC harus mengambil langkah-langkah yang lebih drastis untuk menerapkan pengawasan terhadap perusahaan-perusahaan pemeringkat kreditsebuah kelompok yang sebagian besar disalahkan karena tidak menangkap aktivitas berisiko di sektor keuangan lebih cepat. Sebagian dari masalahnya, menurut Schapiro, adalah bahwa perusahaan-perusahaan pemeringkat kredit dibayar oleh sekuritas yang mereka ranking. Hal ini 25 menciptakan masalah konflik kepentingan, dan dapat mempengaruhi keandalan peringkat. Tidak ada organisasi yang terbebas dari kritik mengenai seberapa transparannya organisasi tersebut. Sementara perusahaan-perusahaan keuangan besar telah menerima sebagian besar kemarahan atas pengambilan risiko dan gaji eksekutif, bahkan organisasi nirlaba pun sekarang sedang diteliti dengan lebih cermat. 26 UNDANG UNDANG SARBANES-OXLEY Pada tahun 2002, sebagai tanggapan atas skandal akuntansi perusahaan yang meluas, Kongres meloloskan Undang-Undang Sarbanes-Oxley pada 30 Juli 2002 untuk menetapkan sistem pengawasan federal atas praktik akuntansi perusahaan. Selain menjadikan pelaporan keuangan yang curang sebagai tindak pidana dan memperberat hukuman atas penipuan perusahaan, undangundang tersebut mengharuskan perusahaan untuk menetapkan kode etik pelaporan keuangan dan mengembangkan transparansi yang lebih besar dalam pelaporan keuangan kepada investor dan pemangku kepentingan lainnya. Didukung oleh Partai Republik dan Demokrat, Undang-Undang Sarbanes-Oxley diberlakukan untuk memulihkan kepercayaan pemangku kepentingan setelah penipuan akuntansi di Enron, Tyco International, Adelphia, WorldCom, dan ratusan perusahaan lain yang mengakibatkan investor dan karyawan kehilangan banyak tabungan mereka. Selama investigasi yang dilakukan, publik mengetahui bahwa ratusan perusahaan tidak melaporkan hasil keuangan mereka secara akurat. Banyak pemangku kepentingan mulai percaya bahwa firma akuntansi, pengacara, eksekutif puncak, dan dewan direksi telah mengembangkan budaya penipuan untuk memastikan persetujuan investor dan mendapatkan keunggulan kompetitif. Banyak dewan gagal memberikan pengawasan yang tepat atas keputusan pejabat tinggi perusahaan mereka. Di Adelphia Communications, misalnya, keluarga Rigas mengumpulkan $3,1 miliar dalam bentuk pinjaman di luar neraca yang didukung oleh perusahaan. Dennis Kozlowski, CEO Tyco, dituduh menggunakan dana perusahaan secara tidak benar untuk penggunaan pribadi serta praktik akuntansi yang curang. Di Kmart, CEO Charles Conaway diduga mempekerjakan eksekutif dan konsultan yang tidak memenuhi syarat dengan biaya yang berlebihan. Dewan direksi Kmart juga menyetujui pinjaman sebesar $24 juta kepada sejumlah eksekutif, hanya sebulan sebelum pengecer tersebut mengajukan untuk perlindungan kebangkrutan Bab 11. Conaway dan para eksekutif lainnya telah meninggalkan perusahaan atau dipecat. Pinjaman jenis ini sekarang ilegal berdasarkan UndangUndang Sarbanes-Oxley. Akibat kemarahan publik atas skandal akuntansi, Undang-Undang Sarbanes-Oxley memperoleh dukungan hampir bulat tidak hanya di Kongres tetapi juga oleh badan-badan regulasi pemerintah, presiden, dan masyarakat umum. Ketika Presiden George W. Bush menandatangani 27 Undang-Undang Sarbanes-Oxley menjadi undang-undang, ia menekankan perlunya standar baru perilaku etis dalam bisnis, khususnya di antara para manajer puncak dan dewan direksi yang bertanggung jawab untuk mengawasi keputusan dan aktivitas bisnis. Inti dari Undang-Undang Sarbanes-Oxley adalah Dewan Pengawas Akuntansi Perusahaan Publik, yang memantau firma akuntansi yang mengaudit perusahaan publik dan menetapkan standar dan aturan bagi auditor di firma akuntansi. Undang-undang tersebut memberikan dewan kewenangan investigasi dan disiplin atas auditor dan analis sekuritas yang menerbitkan laporan tentang kinerja dan kesehatan perusahaan. Undang-undang tersebut berupaya menghilangkan konflik kepentingan dengan melarang firma akuntansi dari menyediakan layanan audit dan konsultasi kepada perusahaan klien yang sama tanpa izin khusus dari komite audit perusahaan klien; hal ini juga membatasi durasi auditor waktu utama dapat melayani klien tertentu. 4.1 Ketentuan Utama Undang-Undang Sarbanes-Oxley 1 Mengharuskan pembentukan Dewan Pengawas Akuntansi Perusahaan Publik yang bertanggung jawab atas peraturan yang dikelola oleh SEC. 2 Mengharuskan CEO dan CFO untuk menyatakan bahwa laporan keuangan perusahaan mereka adalah benar dan tanpa pernyataan yang menyesatkan. 3 Mengharuskan komite audit dewan direksi perusahaan terdiri dari anggota independen yang tidak memiliki kepentingan material dalam perusahaan. 4 Melarang perusahaan memberikan atau menawarkan pinjaman kepada pejabat dan anggota dewan direksi. 5 Mensyaratkan kode etik untuk pejabat keuangan senior; kode etik harus didaftarkan ke SEC. 6 Melarang kantor akuntan memberikan jasa audit dan konsultasi kepada klien yang sama tanpa persetujuan komite audit perusahaan klien. 7 Mengharuskan pengacara perusahaan untuk melaporkan kesalahan kepada manajer puncak 28 dan, jika perlu, kepada dewan direksi; jika manajer dan direktur gagal menanggapi laporan kesalahan, pengacara harus berhenti mewakili perusahaan. 8 Mengamanatkan “perlindungan whistle-blower” bagi orang-orang yang mengungkapkan kesalahan kepada pihak berwenang. 9 Mengharuskan analis sekuritas keuangan untuk menyatakan bahwa rekomendasi mereka didasarkan pada laporan yang objektif. 10 Mengharuskan manajer reksa dana untuk mengungkapkan bagaimana mereka memberikan suara kepada wakil pemegang saham, memberikan informasi kepada investor tentang bagaimana saham mereka mempengaruhi keputusan. 11 Menetapkan hukuman sepuluh tahun untuk penipuan melalui surat/kawat. 12 Melarang dua auditor senior untuk bekerja pada sebuah perusahaan. 4.2 Manfaat Undang-Undang Sarbanes-Oxley 1 Akuntabilitas yang lebih besar dari para manajer puncak dan dewan direksi kepada para karyawan, investor, komunitas, dan masyarakat. 2 Kepercayaan investor yang diperbaharui. 3 Penjelasan yang jelas oleh para CEO tentang mengapa paket kompensasi mereka adalah demi kepentingan terbaik perusahaan; hilangnya beberapa tunjangan tradisional bagi manajemen senior seperti pinjaman perusahaan; pengungkapan yang lebih besar oleh para eksekutif tentang perdagangan saham mereka sendiri. 4 Perlindungan yang lebih besar terhadap program pensiun karyawan. 5 Informasi yang lebih baik dari analis saham dan lembaga pemeringkat. 29 6 Hukuman yang lebih besar untuk dan pertanggungjawaban manajer senior, auditor, dan anggota dewan. Undang-undang Sarbanes-Oxley mengharuskan perusahaan untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar atas keputusan mereka dan memberikan kepemimpinan berdasarkan prinsip-prinsip etika. Sebagai contoh, undang-undang ini mengharuskan manajer puncak untuk menyatakan bahwa laporan keuangan perusahaan mereka lengkap dan akurat, sehingga CEO dan CFO bertanggung jawab secara pribadi atas kredibilitas dan keakuratan laporan keuangan perusahaan mereka. Ketentuan serupa juga diwajibkan bagi dewan direksi perusahaan, terutama komite audit, dan pejabat keuangan senior sekarang tunduk pada kode etik yang membahas bidang risiko spesifik mereka. Selain itu, undang-undang ini mengubah hubungan pengacara-klien dengan mewajibkan pengacara untuk melaporkan kesalahan kepada manajer puncak dan/atau dewan direksi. Undang-undang ini juga memberikan perlindungan bagi karyawan “whistleblowing” yang mungkin melaporkan aktivitas ilegal kepada pihak berwenang. Ketentuan-ketentuan ini memberikan pengendalian internal untuk membuat para manajer menyadari dan bertanggung jawab atas masalah-masalah hukum dan etika. Di sisi lain, Undang-Undang Sarbanes-Oxley telah menimbulkan sejumlah kekhawatiran. Undang-undang yang rumit ini dapat membebani para eksekutif; peraturan dan ketentuannya sudah mencapai ribuan halaman. Beberapa orang juga percaya bahwa undang-undang tersebut tidak akan cukup untuk menghentikan para eksekutif yang ingin berbohong, mencuri, memanipulasi, atau menipu. Mereka percaya bahwa komitmen yang mendalam terhadap integritas manajerial, bukannya aturan dan regulasi tambahan, adalah kunci untuk menyelesaikan krisis bisnis saat ini. Selain itu, undang-undang baru ini telah menyebabkan banyak perusahaan menyajikan kembali laporan keuangan mereka untuk menghindari hukuman. Perusahaanperusahaan publik besar menghabiskan ribuan jam dan rata-rata $4,4 juta setiap tahunnya untuk memastikan bahwa ada seseorang yang mengawasi personil akuntansi utama di setiap langkah dari setiap proses bisnis, menurut Financial Executives International. Pasal 404 adalah ketentuan inti dari undang-undang reformasi perusahaan tahun 2002. Jumlah perusahaan yang mengungkapkan 30 celah serius dalam pengendalian akuntansi internal mereka melonjak menjadi lebih dari 586 di tahun 2005 dibandingkan dengan 313 di tahun 2004. 31 UNDANG-UNDANG YANG MENDORONG PERILAKU ETIS Hukum yang mendorong perilaku etis dibentuk untuk mengatasi pelanggaran yang dilakukan oleh pelaku bisnis ketika mereka melampaui batas standar etika, baik disengaja maupun tidak. Beberapa undang-undang, seperti Federal Sentencing Guidelines for Organizations (FSGO) dan Sarbanes-Oxley Act, dirancang untuk mengurangi tindakan tidak etis dan mendukung program yang meningkatkan etika bisnis. ● 1991: FSGO diperkenalkan untuk memberikan insentif bagi organisasi untuk mencegah, mendeteksi, dan melaporkan pelanggaran dengan membangun program etika yang efektif. ● 2004: Ada amandemen yang menekankan pentingnya budaya organisasi yang etis dan melibatkan pimpinan untuk mengidentifikasi risiko, memberikan pelatihan, dan membentuk mekanisme pelaporan. ● 2007-2008: Penekanan lebih lanjut diberikan pada pencegahan pelanggaran melalui penerapan program kepatuhan dan etika yang mencakup semua anggota organisasi. 5.1 Persentase Karyawan Grafik menunjukkan persentase karyawan yang tidak melaporkan pelanggaran. Walaupun ada peningkatan dalam pelaporan, sejumlah besar karyawan masih enggan melaporkan pelanggaran yang mereka lihat. 32 5.2 Undang-Undang di Indonesia UU Nomor 31 Tahun 1999 Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan peran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pencegahan tindak korupsi dalam perusahaan. UU Nomor 8 Tahun 1999 Undang-undang Konsumen. Perlindungan Penanganan Tindakan terhadap misleading advertising atau penipuan. UU No. 40 Tahun 2007 Undang-undang perseroan terbatas dan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Hubungan pelaporan keuangan yang jujur dengan perilaku etis. UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak menjamin Asasi praktik Manusia dalam kerja yang adil. Membahas isu seperti pekerja anak, kerja paksa, dan diskriminasi. UU No. 27 Tahun 2022 Perlindungan Data Pribadi. Berperan dalam menjaga privasi konsumen dan mencegah penyalahgunaan data. 5.3 Teori Deontologi/Non Konsekuensialis (Kewajiban) Deontologi berasal dari bahasa Yunani deon (kewajiban) dan logos (ilmu). Dalam teori ini penilaian bukan dari penerimaan karena memberi dampak positif atau ditolak karena bersifat negatif. Deontologi dinilai melalui dasar motivasi sang pembuat keputusan berdasarkan kewajiban dan hal yang ia pahami sebagai kewajiban. Kewajiban bersifat mutlak, disinilah tujuan dari dibentuknya undang-undang yang mendorong perilaku etis, diciptakan agar sang pembuat 33 keputusan memahami apa yang menjadi kewajibannya. Karena dalam pengambilan keputusan akan dipengaruhi moral, maka moral akan dapat diarahkan dengan undang-undang yang ada. 5.4 Etika Teleologis/Konsekuensialis Teori Teleologis merupakan penilaian tindakan apakah hal tersebut merupakan hal buruk atau benar, etis atau tidak etis melalui hasil atau konsekuensi yang dihasilkan bersifat positif atau tidak. Hasil positif yang dimaksud ialah kebahagiaan, kesenangan, keberhasilan, keuntungan, kecantikan, pengetahuan, dan lainnya. Sedangkan hasil negatif meliputi ketidakbahagiaan, kesedihan, kegagalan, kerugian, keterpurukan, dan kebodohan. Penilaian etis atau tidaknya dinilai oleh hasil yang ditimbulkan dari keputusan yang diambil, tujuan dari undang-undang yang mendorong perilaku etis, juga dilihat dari untuk teleologis ini. 34 PEDOMAN PENJATUHAN HUKUMAN FEDERAL UNTUK ORGANISASI Pada tahun 1991, Kongres Amerika Serikat mengesahkan Federal Sentencing Guidelines for Organizations (FSGO), sebuah pedoman yang ditujukan untuk memberikan insentif kepada organisasi untuk mengembangkan dan menerapkan program kepatuhan yang dapat mendorong perilaku etis dan kepatuhan hukum. Pedoman ini diterapkan pada semua jenis pelanggaran hukum yang dilakukan oleh karyawan dalam kaitannya dengan pekerjaan mereka, termasuk kejahatan kelas A. FSGO bertujuan untuk menciptakan budaya kepatuhan yang lebih baik di dalam organisasi dengan memberikan keringanan hukuman bagi organisasi yang sudah menunjukkan upaya preventif untuk mencegah pelanggaran. FSGO juga memperkenalkan konsep bahwa perusahaan yang dapat membuktikan telah melakukan upaya yang serius dalam mengembangkan dan menjalankan program kepatuhan hukum yang efektif, dapat menerima hukuman yang lebih ringan jika salah satu karyawannya melakukan pelanggaran hukum. Secara keseluruhan, tujuan dari FSGO adalah untuk mencegah terjadinya pelanggaran hukum melalui penerapan nilai-nilai etika dalam organisasi dan memastikan bahwa organisasi yang terlibat dalam pelanggaran dapat mempertanggungjawabkan tindakannya dengan cara yang sesuai dengan pedoman yang berlaku. 6.1 Prinsip Dasar dan Langkah-langkah Implementasi FSGO FSGO menetapkan tujuh langkah utama yang harus diterapkan oleh perusahaan untuk membuktikan bahwa mereka telah melakukan upaya yang cukup dalam mencegah pelanggaran hukum dan etika di dalam organisasi. Setiap langkah ini diharapkan dapat membantu perusahaan untuk mengidentifikasi risiko pelanggaran dan mengembangkan prosedur yang memadai untuk menghindari terjadinya pelanggaran tersebut. A. Mengembangkan dan Menyebarkan Kode Etik Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengembangkan dan menyebarkan kode etik yang jelas dan komprehensif kepada seluruh anggota organisasi. Kode etik ini berfungsi untuk memberikan pedoman kepada karyawan tentang standar perilaku yang diharapkan serta mengidentifikasi area-area yang rentan terhadap potensi pelanggaran 35 hukum. Kode etik yang baik tidak hanya mendefinisikan perilaku yang tidak dapat diterima, tetapi juga menawarkan cara-cara untuk melaporkan perilaku yang tidak etis. B. Pengawasan oleh Manajemen Tingkat Tinggi Langkah kedua adalah memastikan bahwa program kepatuhan ini diawasi oleh manajemen tingkat tinggi yang memiliki pengetahuan dan pengaruh untuk memastikan keberhasilan implementasi. Orang-orang yang memegang posisi tinggi dalam organisasi, seperti pejabat etika, penasihat umum, atau wakil presiden HRD, harus bertanggung jawab langsung terhadap keberhasilan program kepatuhan. Hal ini memastikan bahwa program kepatuhan memiliki prioritas yang cukup tinggi dan mendapat perhatian serius dari pimpinan organisasi. C. Penempatan Orang yang Tepat dalam Posisi yang Tepat Organisasi juga harus memastikan bahwa individu yang memiliki kecenderungan untuk melakukan pelanggaran tidak ditempatkan dalam posisi yang memungkinkan mereka untuk melakukan pelanggaran lebih lanjut. Seleksi karyawan yang tepat dan pengawasan yang ketat terhadap karyawan yang memegang posisi penting adalah langkah penting dalam mengurangi risiko pelanggaran hukum. D. Sistem Pelatihan Etika dan Prosedur Kepatuhan Langkah berikutnya adalah memastikan bahwa organisasi memiliki sistem komunikasi yang efektif untuk menyebarkan standar dan prosedur kepatuhan. Salah satu bentuk yang paling umum dari komunikasi ini adalah melalui pelatihan etika yang wajib diikuti oleh seluruh karyawan. Pelatihan ini bertujuan untuk memastikan bahwa semua karyawan memahami kode etik dan cara-cara melaporkan pelanggaran yang mungkin terjadi di dalam organisasi. E. Sistem Pelaporan yang Aman dan Efektif Untuk mendeteksi pelanggaran lebih dini, organisasi harus memiliki sistem yang memungkinkan karyawan untuk melaporkan pelanggaran atau kecurigaan terhadap pelanggaran hukum atau etika tanpa rasa takut akan adanya pembalasan. Hal ini bisa 36 mencakup penggunaan hotline anonim, atau membentuk seorang ombudsman yang dapat dihubungi oleh karyawan untuk melaporkan masalah secara rahasia. F. Tindakan Disipliner yang Tepat dan Adil Jika pelanggaran terdeteksi, organisasi harus mengambil tindakan disipliner yang sesuai dan adil terhadap individu yang terlibat dalam pelanggaran tersebut. Prosedur disipliner yang konsisten dan transparan sangat penting untuk menunjukkan bahwa organisasi tidak mentolerir pelanggaran dan bahwa hukuman akan dijatuhkan tanpa pandang bulu. G. Perbaikan Berkelanjutan dalam Program Kepatuhan Langkah terakhir adalah bahwa program kepatuhan tidak boleh bersifat statis. Organisasi harus berkomitmen untuk melakukan perbaikan berkelanjutan pada program kepatuhan mereka berdasarkan temuan-temuan baru atau masalah yang muncul seiring berjalannya waktu. Hal ini dapat mencakup revisi kode etik, penambahan pelatihan bagi karyawan, atau modifikasi prosedur internal yang lebih efektif untuk mendeteksi pelanggaran. 6.2 Peran Dewan Direksi dalam Program Kepatuhan Amandemen yang dilakukan terhadap FSGO pada tahun 2004 menegaskan bahwa dewan direksi memiliki peran yang sangat penting dalam memastikan bahwa organisasi mematuhi pedoman yang ada. Dewan direksi harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang isi dan implementasi program kepatuhan yang diterapkan dalam organisasi. Dewan harus memberikan sumber daya yang cukup dan memberikan dukungan yang diperlukan kepada manajer untuk memastikan keberhasilan program tersebut. Dewan direksi bertanggung jawab untuk memastikan bahwa ada pengawasan yang memadai terhadap pelaksanaan program kepatuhan dan bahwa ada mekanisme untuk memonitor dan mengevaluasi efektivitas program tersebut. Dewan direksi juga harus memastikan bahwa perusahaan memiliki sistem yang memungkinkan karyawan untuk melaporkan pelanggaran tanpa takut akan pembalasan. 37 6.3 Pengaruh Amandemen FSGO terhadap Pelatihan dan Kepatuhan Amandemen FSGO pada tahun 2007-2008 mengharuskan organisasi untuk memperluas pelatihan etika mereka kepada seluruh anggota organisasi, tidak hanya pada karyawan biasa, tetapi juga pada pimpinan dan dewan direksi. Pelatihan ini wajib dilakukan secara menyeluruh dan mencakup aspek pengawasan serta implementasi kebijakan kepatuhan secara praktis. Pelatihan yang dilakukan tidak hanya terbatas pada pembagian kode etik, tetapi juga mencakup pelatihan mendalam mengenai bagaimana mendeteksi, mencegah, dan menangani pelanggaran yang mungkin terjadi di dalam organisasi. Amandemen ini juga memperkenalkan kewajiban pelatihan untuk semua kontraktor pemerintah yang bekerja dengan perusahaan yang memiliki kontrak dengan pemerintah. 6.4 Memo Thompson dan Implikasinya bagi Organisasi Memo Thompson, yang diterbitkan oleh Departemen Kehakiman AS pada tahun 2003, mengingatkan pentingnya program kepatuhan yang efektif untuk mendeteksi dan mencegah pelanggaran hukum dan etika di dalam organisasi. Memo ini mengungkapkan bahwa organisasi yang tidak memiliki program kepatuhan yang efektif tidak akan mendapat keringanan hukuman dalam proses penuntutan mereka. Memo Thompson juga memberikan panduan kepada jaksa penuntut umum untuk mempertimbangkan efektivitas program kepatuhan sebelum mengambil keputusan apakah akan melanjutkan dakwaan terhadap organisasi yang terlibat dalam pelanggaran hukum. 6.5 Studi Kasus: Implementasi FSGO dalam Dunia Nyata Untuk memahami bagaimana pedoman FSGO diterapkan dalam praktek, mari kita lihat beberapa studi kasus tentang perusahaan yang menghadapi tuduhan pelanggaran hukum. Dalam banyak kasus, perusahaan yang memiliki program kepatuhan yang lemah atau bahkan tidak ada sama sekali menghadapi sanksi yang lebih berat, sedangkan perusahaan yang dapat menunjukkan 38 upaya yang serius dalam mengembangkan dan menjalankan program kepatuhan etika dan hukum sering kali mendapatkan keringanan dalam bentuk pengurangan hukuman. Contoh yang dapat diambil adalah perusahaan XYZ yang terlibat dalam praktik korupsi. Setelah pelanggaran terdeteksi, perusahaan ini dapat menunjukkan bahwa mereka telah menjalankan program kepatuhan yang komprehensif, termasuk pelatihan etika untuk karyawan dan sistem pelaporan yang efektif. Sebagai hasilnya, pengadilan memberikan pengurangan hukuman terhadap perusahaan tersebut. PRAKTIK INTI YANG SANGAT TEPAT Dalam bab ini, akan dibahas tentang pentingnya praktik inti dalam kepatuhan etika perusahaan, serta bagaimana filantropi perusahaan berperan dalam tanggung jawab sosial. Praktik inti menekankan pengembangan struktur organisasi yang kuat untuk mendukung integrasi 39 keuangan dan non-keuangan. Sementara itu, filantropi strategis menghubungkan tujuan sosial dengan strategi bisnis yang dapat memberikan manfaat baik bagi perusahaan maupun masyarakat. 7.1 Praktik Inti dalam Etika Perusahaan FSGO (Federal Sentencing Guidelines for Organizations) dan Undang-Undang SarbanesOxley memberikan insentif bagi perusahaan untuk mengembangkan praktik inti yang memastikan kepatuhan etis dan hukum. Fokusnya adalah pada pengembangan praktik struktural yang kuat untuk membangun integritas perusahaan. Meskipun Sarbanes-Oxley terutama mengatur kinerja keuangan, banyak masalah etis yang terkait dengan aspek non-keuangan, seperti pemasaran, manajemen sumber daya manusia, dan hubungan pelanggan. ● Indikator Kinerja Non-Keuangan Seiring berkembangnya kepatuhan etis, organisasi mulai mengukur aspek kinerja non-keuangan yang penting untuk keberlanjutan. Integrity Institute, misalnya, mengembangkan model terpadu yang menstandarisasi pengukuran aspek-aspek seperti komunikasi, tanggung jawab sosial, budaya perusahaan, dan persepsi pemangku kepentingan. Tabel berikut memperlihatkan beberapa indikator kinerja non-keuangan yang digunakan oleh Integrity Institute untuk mengukur dan memprediksi keberlanjutan organisasi: Indikator Kinerja Non-Keuangan Komunikasi Penjelasan Kualitas komunikasi internal dan eksternal perusahaan. Tanggung Jawab Sejauh mana perusahaan terlibat kegiatan yang mendukung dalam kesejahteraan masyarakat. Kepemimpinan Efektivitas manajemen dalam menjalankan 40 perusahaan secara etis dan profesional. Budaya Perusahaan Norma, nilai, dan kepercayaan yang dianut dalam perusahaan. Risiko Identifikasi dan mitigasi risiko hukum dan etika. Tata Kelola Perusahaan Struktur dan proses yang mengatur bagaimana perusahaan dijalankan dan dikontrol. 7.2 Filantropi Perusahaan ● Definisi dan Manfaat Filantropi Filantropi adalah tindakan sukarela yang dilakukan perusahaan untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat. Ada empat manfaat utama dari filantropi perusahaan: A. Meningkatkan Kualitas Hidup: Filantropi membantu meningkatkan kualitas hidup di komunitas, yang menjadikan tempat tersebut lebih menarik untuk bisnis dan kehidupan sehari-hari B. Mengurangi Keterlibatan Pemerintah: Dengan memberikan bantuan kepada masyarakat, perusahaan dapat membantu mengurangi peran pemerintah dalam beberapa hal C. Mengembangkan Keterampilan Kepemimpinan: Karyawan yang terlibat dalam kegiatan filantropi sering kali mengembangkan keterampilan kepemimpinan dan pengembangan diri D. Menciptakan Budaya Etis: Filantropi membantu membangun budaya etis di perusahaan, yang berperan penting dalam mencegah pelanggaran 41 Gambar 7.2.1 Contoh Filantropi Wells Fargo Employee Volunteering Pada gambar di atas, karyawan Wells Fargo terlibat dalam kegiatan filantropi dengan bekerja di bank makanan lokal sebagai bagian dari upaya perusahaan untuk mendukung komunitas sekitar. 7.3 Filantropi Strategis ● Definisi Filantropi Strategis Filantropi strategis adalah penggunaan kompetensi inti dan sumber daya perusahaan untuk mendukung masyarakat secara sinergis, yang pada akhirnya juga memberikan manfaat bagi perusahaan. Contohnya adalah perusahaan seperti Bisto dan Home Depot yang mengarahkan program filantropi mereka untuk mendukung isu-isu yang selaras dengan tujuan bisnis mereka. Tabel berikut menunjukkan beberapa contoh filantropi strategis yang dilakukan oleh perusahaan besar: Perusahaan Inisiatif Filantropi 42 Strategi Bisnis Home Depot Mendukung perumahan Fokus terjangkau pada meningkatkan komunitas di sekitar lokasi toko. Bisto Kampanye "ahh nights" Mendorong kebiasaan keluarga bersama, makan memperkuat citra keluarga. Wal-Mart Donasi untuk pengembangan Membangun hubungan jangka anak panjang dengan pelanggan lokal. 7. 4 Studi Kasus McDonald’s Sebagai contoh nyata dari praktik inti dan filantropi strategis, McDonald’s menghadapi kritik terkait panduan nutrisinya. Untuk membangun kembali kepercayaan dan loyalitas pelanggan, McDonald’s memperkenalkan langkah-langkah baru, seperti menambahkan informasi nutrisi pada kemasan produk dan memperkenalkan menu yang lebih sehat untuk anak-anak. Inisiatif ini menunjukkan bagaimana perusahaan besar dapat mengubah praktik intinya untuk mengatasi tantangan etis dan meningkatkan tanggung jawab sosial mereka. 43 Gambar 7.4.1 Model Filantropi Strategis Gambar di atas menunjukkan bagaimana filantropi strategis menggabungkan tujuan sosial dengan nilai bisnis untuk menciptakan keuntungan bagi perusahaan dan masyarakat. 44 RANGKUMAN Institusionalisasi etika bisnis melibatkan penerapan hukum, norma, dan program yang membantu organisasi membangun budaya etis. Hal ini mencakup aturan yang diwajibkan secara hukum serta praktik sukarela yang mendorong pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Pemerintah, melalui hukum dan regulasi, menetapkan standar minimum perilaku yang dianggap etis, seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Sarbanes–Oxley (2002). Undang-undang ini muncul akibat skandal akuntansi perusahaan besar dan bertujuan meningkatkan akuntabilitas perusahaan terhadap keputusan mereka. Selain itu, Pedoman Pemberian Hukuman Federal untuk Organisasi (FSGO), yang pertama kali diperkenalkan pada 1991 dan diperbarui pada 2004, mendorong perusahaan untuk mengembangkan program yang memastikan kepatuhan terhadap etika dan hukum. Pedoman ini berlaku bagi semua jenis pelanggaran yang terkait pekerjaan, memastikan perusahaan memiliki sistem yang efektif untuk mendukung budaya etis. Selain itu, tanggung jawab sosial perusahaan melalui filantropi juga menjadi bagian penting dari etika bisnis. Filantropi melibatkan kontribusi perusahaan kepada komunitas lokal dan masyarakat luas, yang memberikan manfaat seperti meningkatkan kualitas hidup, mengurangi ketergantungan pada pemerintah, mengembangkan kepemimpinan karyawan, dan membangun moral staf. Banyak perusahaan mendukung pendidikan, seni, isu lingkungan, serta membantu kelompok kurang beruntung melalui donasi ke organisasi amal lokal maupun nasional. Dengan demikian, filantropi tidak hanya memberikan dampak positif bagi masyarakat, tetapi juga memperkuat hubungan perusahaan dengan komunitas dan memperkuat reputasi mereka sebagai organisasi yang peduli. 45 REFERENCES Auli, S.H., R. C. (2022, August 23). Begini Aturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja bagi Tenaga Kerja | Klinik Hukumonline. Hukumonline. Retrieved November 16, 2024, from https://www.hukumonline.com/klinik/a/aturan-keselamatan-dan-kesehatan-kerjalt6304aeb999d89/ Gautier, A. (2020, February 14). Building a philanthropic strategy. ESSEC Knowledge. Retrieved November 15, 2024, from https://knowledge.essec.edu/en/society/buildingphilanthropic-strategy.html Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia. (2024, November 16). MEWUJUDKAN KESEMPATAN DAN KESETARAAN BAGI PARA PEKERJA. https://majalahsenta.kemnaker.go.id/artikel/mewujudkan-kesempatan-dan-kesetaraanbagi-parapekerja#:~:text=UU%20Ketenagakerjaan%20No.%2013%20Tahun,tanpa%20diskrimina si%20untuk%20memperoleh%20pekerjaan%E2%80%9D. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 - Pusat Data Hukumonline. (n.d.). Hukumonline. Retrieved November 16, 2024, from https://www.hukumonline.com/pusatdata/detail/lt5fa0c347b9d4e/?utm_source=website& utm_medium=internal_link_klinik&utm_campaign=UU_Cipta_Kerja Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 - Pusat Data Hukumonline. (n.d.). Hukumonline. Retrieved November 16, 2024, from https://www.hukumonline.com/pusatdata/detail/13146/undangundang-nomor-13-tahun2003/document/?utm_source=website&utm_medium=internal_link_klinik&utm_campai gn=UU_Ketenagakerjaan UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NO.21 TAHUN 1999. (n.d.). Peraturan BPK. Retrieved November 16, 2024, from https://peraturan.bpk.go.id/Download/33826/UU%20Nomor%2021%20Tahun%201999.p df UU NO 5 Tahun 1999 edit 2007. (n.d.). KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA. Retrieved November 15, 2024, from https://www.kppu.go.id/docs/UU/UU_No.5.pdf 46 UU No. 8 Tahun 1999. (1999). UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REP. Retrieved November 16, 2024, from https://gatrik.esdm.go.id/assets/uploads/download_index/files/e39ab-uu-nomor-8-tahun1999.pdf Wells Fargo Works to Create a Community of Care. (2024, September 24). United Way of Greater Charlotte. Retrieved November 15, 2024, from https://unitedwaygreaterclt.org/blog/community-partners/wells-fargo-works-to-create-acommunity-of-care/ Weruin, U. U. (2019, October 30). Jurnal Muara Ilmu Ekonomi dan Bisnis. TEORI-TEORI ETIKA DAN SUMBANGAN PEMIKIRAN PARA FILSUF BAGI ETIKA BISNIS, 03(ISSN 2579-6224), 313-322. Retrieved November https://journal.untar.ac.id/index.php/jmieb/article/view/3384 47 23, 2024, from