4. Diferensial Parsial Turunan suatu fungsi f(x) terhadap variabel x dilambangkan dengan notasi df ( x ) dx Berangkat dari pengertian limit, maka defenisi turunan f(x) terhadap x dapat diperoleh dari: df ( x ) f x x f ( x ) lim x 0 dx x Untuk fungsi yang mempunyai dua atau lebih variabel, misalnya z = f(x,y) yang menggambarkan suatu permukaan dalam sistem koordinat kartesian, turunan terhadap salah satu variabel dapat dilakukan dengan menganggap variabel lainnya konstan. Misalkan pada suatu permukaan yang dinyatakan dengan fungsi f(x; y) bila diambil x konstan, maka akan didapat kurva yang merupakan hasil perpotongan permukaan f(x,y) dengan bidang x konstan tersebut. Turunan atau diferensial seperti ini dinamakan diferensial parsial (turunan sebagian). Notasi yang digunakan untuk menuliskan turunan parsial dari fungsi f(x,y) terhadap variabel y (dengan menganggap x konstan) adalah f y 1 Jika diferensial biasa didenisikan dengan limit, maka untuk turunan parsial defenisinya adalah f ( x , y ) f x x, y f ( x, y ) lim x 0 x x f ( x , y ) f x, y y f ( x, y ) lim x 0 y y Turunan kedua juga dapat diperoleh untuk fungsi multivariabel tersebut, misalnya untuk fungsi f(x,y) dapat diperoleh turunan-turunan berikut: f 2 f , 2 x x x f 2 f , x y xy 2 f 3 f x xy x 2 y dan sebagainya Notasi lain yang sering digunakan untuk menuliskan turunan parsial adalah fx untuk menyatakan Contoh 1. Hitunglah fx, fy, dan fyx dari fungsi f x z f x, y x 3 y e xy f z 2 f 2z 2 xy f yx z yx f 21 3 x 2 e xy xye xy , f x z x f1 3 x y ye , xy xy x x 2 4.1 Deret Pangkat Multivariabel Untuk fungsi multivariabel, hal yang serupa juga dapat dilakukan yaitu menguraikannya menjadi deret pangkat. Tinjau suatu fungsi multivariabel, misalnya yang dinyatakan dengan f(x,y) = sin x cos y. Uraian deret pangkat (MacLaurin) untuk f(x,y) tersebut dapat diperoleh dengan mengalikan dua deret pangkat masing-masing untuk sin x dan cos y sebagai berikut x3 y2 x 3 xy 2 f x, y sin x cos y x 1 x 3 ! 2 ! 3 ! 2 ! Atau misalnya suatu fungsi lain yaitu ln(1 + x – y) yang dinyatakan sbb: 2 3 x y x y ln 1 x y x y 2 3 x2 y 2 x3 y3 2 2 x y xy x y xy 2 2 3 3 3 Terlihat bahwa secara umum akan diperoleh suku-suku yang jumlah pangkat variabel x dan y masing-masing 0, 1, 2, 3 … Sehingga uraian deret MacLaurin untuk fungsi dua variabel secara umum berbentuk f ( x, y ) c00 c10 x c01 y c20 x 2 c11 xy c02 y 2 c30 x 3 c21 x 2 y c12 xy 2 c03 y 3 dengan semua c adalah konstanta. Sedangkan uraian deret pangkat dalam variabel x dan y untuk suatu fungsi sembarang di sekitar titik (a; b) (uraian deret Taylor) secara umum dapat dinyatakan sebagai berikut f ( x, y ) c00 c10 ( x a ) c01 ( y b ) c20 ( x a ) 2 c11 ( x a )( y b ) c02 ( y b ) 2 c30 ( x a ) 3 c21 ( x a ) 2 ( y b ) c12 ( x a )( y b ) 2 c03 ( y b ) 3 Koefisien c00 dapat diperoleh dari f(a,b). Selanjutnya bila deret tersebut diturunkan terhadap x, dan kemudian dihitung nilainya pada x = a dan y = b 4 maka akan diperoleh koefisien c10 f ( x , y ) c10 2c20 ( x a ) c11 ( y b ) x 1 f 1 c10 f x (a, b) 2 x x a , y b 2 fx Sedangkan bila f(x,y) diturunkan terhadap y dan dihitung nilainya pada x = a dan y = b maka akan diperoleh koefisien c01 f ( x , y ) fx c01 c11 ( x a ) 2c02 ( y b ) y c01 1 f 1 f y (a, b) 2 y x a , y b 2 Dengan proses yang sama akan dapat diperoleh koesien-koesien yang lainnya, yaitu 1 c20 f xx ( a , b ), 2 1 c11 f xy ( a , b ), 2 1 c02 f yy ( a , b ) dst 2 5 Secara umum akan dapat diperoleh bentuk uraian deret pangkat (deret Taylor) di sekitar titik (a,b) untuk fungsi dua variabel adalah sebagai berikut n 1 f ( x, y ) x a y b f ( a , b ) x y n 0 n! 4.2 Diferensial Total Jika z = f(x,y), maka diferensial total dari z dinyatakan dengan z f x, y dz z z dx dy x y dz menyatakan perubahan variabel z dalam arah bidang singgung ketika x berubah sebesar dx dan y berubah sebesar dy. Untuk fungsi yang memiliki variabel lebih banyak, cara yang sama juga dapat dilakukan. Jika u = f(x,y,z,…), maka diferensial total dari u adalah u f x, y , z , du f f f dx dy dz x y z 6 Contoh 1. Tentukan diferensial total dari fungsi f(x,y) = y exp(x + y). Turunan parsial fungsi tersebut adalah f exp( x y ) y exp( x y ) y f y exp( x y ) x dengan demikian f f df dx dy y exp( x y ) dx exp( x y ) y exp( x y ) dy x y Sedangkan turunan total (total derivative) atau sering juga disebut sebagai turunan (derivative) suatu fungsi f(x,y) terhadap variabel x dan y dapat diperoleh sebagai berikut df ( x, y ) f f dy dx x y x df ( x, y ) f dx f dy y y y 7 Contoh 2. Tentukanlah turunan total fungsi f ( x, y ) x 3 xy 2 terhadap variable x jika y = arcsin x Turunan total terhadap variabel x dapat diperoleh sebagai berikut df f dx f dy f f dy dx x dx y x x y x karena f ( x, y ) x 2 3 xy dan y arc sin x, maka f f 2 x 3 y, 3x x y Jadi dan dy x 1 1 x 2 , df 3x 2 x 3 y dx 1 x2 8 4.3 Hubungan Resiprok dan Siklik Misalkan x adalah fungsi yang terdiri dari dua variabel yaitu y dan z sehingga dinyatakan sebagai x(y,z). Diferensial dx dapat diperoleh sebagai berikut Umumnya berarti dapat pula dinyatakan bahwa y adalah fungsi yang terdiri dari dua variabel yaitu x dan y. Dengan demikian diferensial dy dinyatakan sebagai berikut x x dy dx dz z y y z y y dy dx dz x z z x Bila dy pada persamaan pertama diganti dengan persamaan kedua maka x x x y x y dy dx dz dx dz dz z y z x z y y z y z x z x y x y x dx dz .......... .......... .........( **) y z z x z y y z x z 9 Jika ditinjau untuk keadaan z konstan yang berarti dz = 0 maka persamaan tersebut di atas menjadi x y x y dx dx 0 1 y x y x z z z z sehingga akan diperoleh suatu hubungan resiprok (kebalikan), yaitu: x y 1 y x z z Hal penting lainnya yang dapat diperoleh adalah bila x konstan yang berarti dx = 0, maka dari persamaan (**) akan diperoleh x y x 0 y z z x y z selanjutnya bila persamaan tersebut di atas dikalikan dengan z x y x y z x z 0 y z x z x x y y y z x y z x z y z x z x x y y y z 10 Kemudian dengan menggunakan hubungan resiprok yang telah diperoleh se belumnya, maka z x 1 x y z y sehingga x y z 1 y z z x x y x z 1 dan selanjutnya diperoleh z y x y yang dikenal dengan hubungan siklik. 4.4 Aturan Rantai Dalam persoalan diferensial biasa, jika f merupakan fungsi dari x sedangkan x merupakan fungsi dari variabel t, maka laju perubahan fungsi s terhadap variabel t dapat diperoleh dengan aturan rantai, yaitu df df dx dt dx dt Hal yang sama juga dapat dilakukan untuk fungsi multivariabel. Misalkan z = f(x(t), y(t)), maka dapat dinyatakan 11 dz z dx z dy dt x dt y dt Misalkan suatu fungsi multivariabel z = f(x,y) dengan x dan y masingmasing adalah fungsi dengan dua variabel yaitu s dan t. Hal ini berarti z adalah fungsi dari s dan t sehingga dapat diperoleh turunan parsial z terhadap s dan juga terhadap t. Turunan parsialnya dapat dinyatakan sebagai berikut z z x z y , s x s y s z z x z y .......( 2*) t x t y t Contoh 1. Misalnya suatu fungsi z = xy dengan x = sin(s + t) dan y = s - t, maka z z y, x, x y x x y y cos st , cos st , 1 dan 1 s t s t sehingga diperoleh z y cos( s t ) x (1) s t cos( s t ) x s z y cos( s t ) x 1 s t cos( s t ) x t 12 Contoh 2. Hitunglah u u , jika u x 2 2 xy y ln z , x s t 2 , y s t 2 , z 2t , s t dengan menggunakan turunan parsial terhadap s dan t maka u u x u y u z s x s y s z s u 2 x 2 y, x u u x u y u z t x t y t z t u u y x y z 2 x ln z , , 1, 1, 0 y z z s s s x y z 2t , 2t , 2 t t t u y 2 x 2 y 1 2 x ln z 1 0 4 x 2 y ln z s z u 2y y 2 x 2 y 2t 2 x ln z 2t 2 4 yt 2 ln z s z z 13 Dengan cara yang lain jika kita perhatikan soal di atas maka u = f(x,y,z) maka turunan total u adalah u y u u du dx dy dz 2 x 2 y dx 2 x ln z dy dz z x z y x x y y dx ds dt ds 2tdt , dy ds dt ds 2tdt , s t s t z dz dt 2dt t Jadi du 2 x 2 y ds 2tdt 2 x ln z ds 2tdt y 2dt z y 2 x 2 y 2 x ln z ds 4 xt 4 yt 4 xt 2t ln z dt z 2y 4 x 2 y ln z ds 4 yt 2t ln z dt . z u 4 x 2 y ln z , s u 2y 4 yt 2t ln z . t z 14 Persamaan (2*) dapat juga dituliskan dalam notasi matriks. Jika u = f(x,y,z), x(s,t), y(s,t), z(s,t), maka dapat dituliskan u s u u t x u y x s u y z s z s Contoh 3. Hitunglah dz/dt jika diberikan Dari persamaan di atas diperoleh x t y t z t z x y , x 2 y 2 t 2 , x sin t ye y z z dz dx dy dx dy x y Sekarang kita memerlukan dx dan dy yang dinyatakan dalam dt. Untuk itu kita diferensialkan kedua persamaan yang lain 2 xdx 2 ydy 2tdt , y y sin tdx x cos tdt ye e dy 15 Yang dapat disusun kembali menjadi y xdx ydy tdt , x dx t dt y y sin t y 1e dy x cos t sin tdx y 1e dy x cos tdt Kedua persamaan simultan ini diselesaikan dengan kaidah determinan tdt y x cos tdt y 1e y t y 1e y xy cos t dx dt , y x y x y 1e y sin t sin t y 1e y dan x tdt sin t x cos tdt x 2 cos t t sin t dy dt , y x y x y 1e y sin t sin t y 1e y 16 Setelah dx dan dy kita dapatkan, selanjutnya kita substitusi ke persamaan dz t y 1e y xy cos t x 2 cos t t sin t dt dz y y x y 1e y sin t x y 1e y sin t yang kita dapat tulis kembali t y 1e y xy cos t x 2 cos t t sin t dt dz y x y 1e y sin t atau t y 1e y xy cos t x 2 cos t t sin t dz y dt x y 1e y sin t 17 4.5 Diferensial Implisit Diferensial (turunan) untuk fungsi yang dinyatakan secara eksplisit, misalnya y = f(x) = x2 +2x dapat diperoleh dengan mudah. Namun terkadang suatu fungsi dinyatakan dalam bentuk yang tidak eksplisit seperti itu. Misalnya saja fungsi yang dinyatakan dalam bentuk x3 - 3xy + y3 = 2. Dalam kasus ini, fungsi tersebut tidak dapat dinyatakan dalam bentuk fungsi suatu variable sehingga untuk mencari turunannya (dy/dx) diperlukan cara lain yang disebut turunan impisit (implicit diferential ). Prosesnya dapat dilakukan dengan menurunkan masing-masing suku terhadap x sebagai berikut d 3 d 3 xy d y 3 d 2 x dx dx dx dx dx dy 2 dx 2 dy 3x 3x 3y 0 3y dx dx dx dx dy dy 3 x 2 3 y x 2 y 2 3x 3 y 3x 3 y 0 2 dx dx 3 x 3 y x y 2 2 18 Contoh 1. Tentukan dx d 2 x , 2 dt dt x ex t Dari fungsi Jika fungsi persamaan tersebut didiferensialkan terhadap t maka akan diperoleh dx x dx dx 1 e 1 dt dt dt 1 e x Selanjutnya persamaan di atas difeferensialkan kembali terhadap t 2 dx x dx d x d x dx ating again e 1 differenti 2 e x 2 e x 0 dt dt dt dt dt 2 2 x dx 2 dt e d 2x dx d x ex x x 1 e e 2 3 2 x dt dt 1 e dt 1 ex 2 2 19 dy dx Contoh 2. Tentukan dari fungsi ye xy sin x Jika fungsi persamaan tersebut didiferensialkan terhadapx maka akan diperoleh d d dy xy d xy dx xy ye sin x e y e cos x dx dx dx dx dx dy dx dy e xy y ye xy xe xy cos x dx dx dx dy xy dy cos x y 2 e xy xy 2 xy e xye y e cos x xy dx dx e xye xy 20 2.6 Aplikasi Diferensial Parsial 2.6.1 Persoalan Maksimun dan minimun Untuk menguji titik-titik maksimun dan minimun dari fungsi dua variabel (misal x dan y), dapat dilakukan dengan cara sbb: f f 0 Jika x y di titik (a, b) maka 2 (a, b) merupakan titik minimun fungsi jika : 2 f 2 f 2 f 2 f 2 f 0, 0 dan 2 2 2 2 x y x y x y (a, b) merupakan titik maksimun fungsi jika : f f f f f 0 , 0 dan 2 2 2 y 2 x x y x y 2 2 2 2 2 2 (a, b) bukan merupakan titik maksimun atau minimun fungsi jika : 2 f 2 f 2 f 2 2 x y x y 2 2 f 2 f 2 f 2 f 0, yakni dan berlawanan tan da21 termasuk jika 2 2 2 2 x y x y Contoh 1. Cari titik-titik maksimun dan minimun dari fungsi berikut : f(x, y) = x2 + y2 + 2x – 4y + 10 Pertama kita buat f 2 x 2 0, x f 2 y 4 0, y Dari kedua persamaan ini didapat x = -1 dan y = 2, jadi titik (a, b) = (-1, 2) Sekarang kita cek titik (-1, 2) merupakan titik maksimun atau minimun f(x,y) 2 f 2 x 2 2, 2 ( 1, 2 ) x ( 1, 2 ) x 2 f dan 2 2 y 4 2 y ( 1, 2 ) y ( 1, 2 ) 2 f 2 f 2 2 2 2 4, x y 2 f f 2 x 2 ( 1, 2) 0 dan 0 xy ( 1, 2 ) y xy 2 2 22 sehingga f f 2 0 dan 2 0 x y 2 2 f f dan x y x y 2 2 2 Dengan demikian titik (-1,2) merupakan titik minimun dari fungsi f(x, y) = x2 + y2 + 2x – 4y + 10 Unuk mencari nilai maksimun dan minimun suatu fungsi dua variable bebas, f(x, y) di mana x dan y dihubungkan suatu persamaan kendala Փ(x, y) = konstanta, dengan menggunakan metode pengali Lagrange sbb: 1. 2. 3. 4. Tentukan fungsi f(x, y) yang akan diminumunkan atau dimaksimalkan dan tentukan pula persamaan kendala Bentuk fungsi baru seperti F(x, y) = f(x, y) + 𝞴Փ(x, y) Cari turunan parsial dari F terhadap x dan terhadap y lalu set nilainya masing-masing sama dengan nol, yaitu 𝜕F/𝜕x = 0 dan 𝜕F/𝜕y = 0. Pecahkan kedua persamaan yang diperoleh pada langkah ke-3 Bersamasama dengan persamaan kendala untuk mencari x, y, 𝞴, lalu tentukan solusi akhir yang diminta 23 Contoh 2. Tentukan jarak terpendek dari titik awal koordinat (0, 0) ke kurva y = 1 – x2 pada bidang (x, y) Penyelesaian Pertama kita tentukan f(x, y) dan Փ(x, y) Minimalisasi jarak (d) yang dapat dinyatakan d = √(x2 + y2) atau supaya lebih muda f(x, y) = (x2 + y2) . Oleh karena masalah kita dibatasi oleh kurva y = 1 – x2 maka persamaan tersebut adalah sebagai kendalanya, yaitu Փ(x, y) = y + x2 = 1 . Selanjutnya buat fungsi baru F ( x, y ) f ( x, y ) ( x, y ) F ( x, y ) x 2 y 2 ( y x 2 ) Kemudian kita cari dua turunan parsial dari F dan kita set nilainya masing-masing sama dengan nol : F 2 x 2 x 0, x F 2 y 0, y 24 Terakhir memecahkan kedua persamaan terakhir bersama-sama persamaan kendalauntukmencari nilai x, y, 𝞴. Dari persamaan F 2 x 2 x 2 x (1 ) 0 x 0, 1 x Untuk x =0, dari persamaan kendala didapat y 1 x 2 1 (0) 2 1 titik ( x, y ) (0, 1) Untuk persamaan 𝞴 = -1, maka dari persamaan F 1 2 y 0 atau y y 2 dari persamaan kendala didapat 1 1 1 x 1 y 1 x 2 2 2 2 1 1 sehingga titik ( x, y ) ( 2, ) 2 2 2 25 Dengan demikian penyelesaian ini menghasilkan tiga buah titik. Dari ketiga titik ini yang jaraknya minimun dari asal (0, 0) adalah Titik (0, 1) 1 1 Titik ( 2, ) 2 2 1 1 ( 2, ) 2 2 d x 2 y 2 0 2 12 1 d 1 1 1 2 2 x y 2 3 2 2 2 d 1 1 1 2 2 x y 2 3 2 2 2 2 2 2 2 Jadi jarak yang terpendek adalah dari titik asal kurva kurva y = 1 – x2 adalah 1 1 1 3 yaitu dari titik (0, 0) ke titik ( 2, ) 2 2 2 26 Contoh 3. Tentukan luas segi empat terbesar yang sisi-sisinya sejajar dengan sumbu-sumbu koordinat, dan dibatasi elips: x2 y2 2 1 2 a b Untuk menyelesaikan soal ini, kita tinjau titik (x, y) merupakan titik sudut pada kuadrat pertama dimana segi empat menyentuh elips, maka titik (x, y) memenuhi persamaan ellips dan luas segi empat adalah A = 4xy (terdapat empat kuadran). Masalah kita adalah memaksimunkan f(x, y) = A = 4xy, dihubrngkan dengan persamaan ellips (persamaan kendala) Dengan metode pengali Lagrange kita tuliskan F ( x, y ) f ( x, y ) ( x, y ) x2 y2 F ( x, y ) 4 xy ( 2 2 ) a b 27 Kemudian kita cari dua turunan parsial dari F(x,y) dan kita set nilainya masing-masing sama dengan nol : F 2 x F 2 y 4 y 2 0 , dan 4x 2 0 x a y b Persamaan pertama kita kalikan dengan x dan persamaan kedua dengan y, lalu keduanya kita jumlahkan, maka kita peroleh 2 x 2 2 y 2 4 xy 0 4 xy 2 0 2 a b x2 y2 x2 y2 8 xy 2 2 2 0, tetapi 2 2 1 maka b a b a 8 xy 2 0 atau 4 xy Jika kita substitusikan 𝞴=-4xy ke persamaan (𝜕F/ 𝜕x)= 0, diperoleh 2x2 y 4y 0 2 a 28 atau bila kita bagi kedua ruas persamaan ini dengan y, akan diperoleh 2x2 4 2 0 , atau a x a 2 Dengan cara yang sama, kita substitusikan 𝞴=-4xy ke persamaan (𝜕 F/ 𝜕y)= 0, diperoleh y b 2 Sehingga luas segi empat maksimun adalah a b 4 ab A 4 xy 4 2 ab 2 2 2 29 Contoh 4. Tentukan jarak minimun dari titik asal (0, 0, 0) ke garis yang merupakan bidang xy = 6 dan bidang 7x + 24z =0 Dari soal di atas, yang akan diminimunkan adalah jarak d = √(x2 + y2 + z2), maka kita pilih f(x, y, z) = x2 + y2 + z2, , sedangkan kendalanya adalah dua persamaan yaitu : Փ1 = xy =6 dan Փ2 = 7x + 24z =0, sehingga fungsi baru sbb: F f 11 2 2 x 2 y 2 z 2 1 xy 2 7 x 24 z Selanjutnya kita cari tiga turunan parsial dari F dan kita set sama dengan nol. F F F 2 x 1 y 7 2 0, 2 y 1 x 0, 2 z 24 2 0. x y z Ketiga persamaan ini dipecahkan secara bersama-samaakan menghasilkan Dari persamaan 2y + 𝞴1 = 0 dan persamaan xy =6 1 2y 2 6 12 2. x x x x 30 Dari persamaan 2z + 24𝞴2 = 0 dan persamaan 2x + 24z = 0 2 z 1 7x 7x . 12 12 24 288 Jika 𝞴1 dan 𝞴2 disubstitusi ke persamaan (𝜕F/ 𝜕x) = 0 dan mengingat xy = 6, di dapat 49 x 72 12 6 7x 2 x 2 7 0 , 2 x 3 0, 288 x x x 288 Jika ruas kiri dan kanan persamaan di atas dikali dengan x3 didapat x 12 / 5. Jika hasil x disubstitusi ke xy = 6 diperoleh y 5 / 2, Dan sekali lagi x disubstitusi ke 7x + 24 z = 0 diperoleh z 7 / 10 Jarak minimun dari titik asal ke garis perpotongan bidang xy =6 dan bidang 7x – 24z = 0 2 d x y z 2 2 2 2 12 5 7 15 2 0 2 d 5 / 2. 31 2.5.2 Persoalan Batas Turunan parsial sama dengan nol hanya memberikan titik yang bersifat ekstremum dalam suatu daerah. Namun perlu diingat jika daerah yang ditinjau terbatas, maka bisa jadi terdapat nilai maksimum atau minimum pada daerah batas ataupun titik ujung. Untuk itu perlu diuji kemungkinan adanya nilai ekstremum pada bidang batas ataupun titik batas. Contoh 1. Temperatur pada suatu lempeng yang dibatasi oleh garis x = ±1 dan y = ± 1 dinyatakan dengan persamaan T = 2x2 - 3y2 - 2x + 10. Tentukan temperatur tertinggi dan terendah pada lempeng tersebut. Titik ekstrimum di dalam daerah dapat diperoleh dengan T 4 x 2 0, x 1 / 2 , x T 6y 0 y 0 y Dengan demikian titik ekstremum dalam lempeng tersebut adalah ( ½, 0). Temperatur pada titik ini dapat dihitung menggunakan persamaan T(x; y), yaitu 32 2 1 1 T 2 30 2 10 9,5 2 2 Kemudian perlu dianalisa temperatur di batas-batas lempeng. Untuk x = 1, maka persamaan temperatur memberikan T ( x 1, y ) 2 3 y 2 2 10 10 3 y 2 menghasilkan fungsi dengan variabel hanya y. Titik ekstremumfungsi T(y) ini dapat dicari dengan cara dT 6 y 0, y 0 dy Jadi diperoleh (1; 0). Selanjutnya T(1, 0) = 2 - 0 - 2 + 10 = 10 Langkah yang sama juga dilakukan untuk batas lainnya: Pada x = -1, ⇒ (dT/dy) = 0, ⇒ y = 0 ⇒ T(-1, 0) = 14 Pada y = ±1, ⇒ (dT/dx) = 0, ⇒ x = 1/2 ⇒ T(1/2, ±1) = 6,5 Dengan demikian diperoleh bahwa temperatur tertinggi adalah 14 di (-1, 0) sedangkan temperatur terendah adalah 6,5 di ( ½, ±1). 33 4.8 Pengubahan Variabel Salah satu penggunaan penting dari diferensial parsial adalah dalam hal pe ngubahan variabel (misalnya dari sistem koordinat kartesian ke sistem koordinat silinder). Tinjau suatu persamaan diferensial parsial yang dikenal sebagai persamaan gelombang yaitu 2 F 1 2T 2 2 2 x v t Terlihat bahwa persamaan diferensial parsial tersebut mempunyai variabel x dan t. Kemudian akan dilakukan pengubahan variabel dengan variabel baru r dan s, dengan r = x + vt dan s = x - vt. Dengan menggunakan konsep diferensial parsial dan aturan rantai, maka dapat dinyatakan F F r F s F F ( )F x r x s x r s r s F F r F s F F v v v( ) F t r t s t r s r s 34 Kemudian turunan kedua juga dapat diperoleh 2F F F F 2F 2F 2F ( ) ( )( ) 2 2 2 2 x x x r s r s r r s s 2 2F F F F 2F 2F 2 F ( ) v ( )v ( )v ( 2 2 ) t 2 t t r s r s r r s s 2 Dengan demikian, dalam variabel yang baru, persamaan gelombang tersebut dapat dituliskan dalam bentuk 2F 1 2F 2F 2 4 0 2 2 x v t r s Terlihat bahwa dalam variabel baru tersebut persamaan gelombang menjadi bentuk yang lebih sederhana dan lebih mudah diselesaikan (dicari solusinya). Contoh 1. Carilah solusi persamaan diferensial 2z 2z 2z 5 6 2 0 2 x xx y Dengan menggunakan substitusi variabel s = y + 2x dan t = y + 3x. 35 Persamaan diferensial tersebut menunjukkan bahwa z adalah fungsi dari x dan y. Dengan menggunakan variabel baru s dan t, maka artinya secara implisit z menjadi fungsi dari s dan t. Turunan parsial fungsi z terhadap variabel x dan y dapat dinyatakan dalam bentuk s z s z t z z 2 3 x s x t x s t s z s z t z z y s y t y s t Kemudian turunan kedua juga dapat diperoleh 2z z 2z 2z 2z ( ) 4 2 9 2 12 x 2 x x s t s t 2z z 2z 2z 2z ( ) 2 2 2 2 y y y s t s t 2z z 2z 2z 2z ( ) 2 2 3 2 5 xy x y s t s t Dengan menggunakan bentuk diferensial parsial tersebut di atas, maka persamaan diferensial yang dimaksud dapat dituliskan kembali dalam bentuk 36 yang sederhana yaitu 2z s 0 atau ( )0 s t s t yang berarti solusi persamaan diferensial tersebut adalah z = f(s) + g(t) = f(y+2x) + g(y+3x), dengan f dan g adalah fungsi sembarang. 37
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )