Uploaded by Muh. Wais

Stunting di Sulawesi Barat: Prevalensi & Pencegahan

advertisement
Angka stunting di Sulawesi Barat (Sulbar) menjadi yang tertinggi di Indonesia dengan prevalensi 23.1%
(Ditjen Bina Bangda, 2023). Di tahun 2022 data SSGI menunujukkan Sulbar diperingkat ke-2 dengan
prevalensi 35% sedangkan di tahun 2021 angkanya 33.8% (Laporan TPPS Sulbar, 2024). Artinya
penanganan stunting di Sulbar termasuk kurang progresif. Untuk mengatasi persoalan tersebut negara
membentuk Pepres no. 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting (PPS), dan menetapkan
Sulbar menjadi lokus prioritas PPS. Pada 1 Maret 2022 Gubernur Sulbar membentuk Tim PPS Sulbar.
Ada apa dengan Sulbar?, setertingggal itukah pembanngunan di Sulbar?, sebesar itu ancaman yang akan
dihadapi kedepannya?
Tidak mengherankan sebenarnya, karena data ini sangat relevan dengan kasus keterpurukan lainnya
seperti angka pernikahan dini yang menempatkan Sulbar juga di prevalensi tertinggi dengan angka 17.71%
(BPS, 2021). Begitu juga dengan angka-angak putus sekolah yang tinggi dan tingkat literasi kita yang begitu
rendah.
Di Sulbar, Kabupaten Majene menyumbang angka stunting paling besar pada tahun 2022 dengan
prevalensi 31.07%, tahun 2023 sebesar 35,75%, dan tahun 2024 sebesar 36,47% (Laporan TPPS Sulbar,
2024).
Jadi, memang ada masalah dengan daerah kelahiran kita. Terus ada apa dengan Stunting, mengapa begitu
diperhatikan belakangan ini?
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak usia balita akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi
berulang, sehingga anak lebih pendek untuk usianya, dibandingkan standar normalnya. Singkatnya
kategori stunting diperoleh dengan indikator Tinggi Badan berdasarkan Umur (TB/U) yang menunjukkan
angka lebih rendah (>-2 SD), yang seringkali dilihat dan dilabeli dengan pendek atau kerdil. Pengukuran
Tinggi Badan berdasarkan Umur ini menjadi penilaian evaluasi dampak dari pemenuhan asupan gizi anak
di masa-masa pertumbuhannya.
Stunting sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak yang akan sangat dirasakan berangsur ketika
menjadi dewasa. Diantaranya sistem kekebalan tubuhnya terganggu, pertumbuhan otaknya menjadi tidak
optimal, menjadi SDM yang kurang produktif, yang akhirnya menghambat pertumbuhan ekonomi keluarga
dan bangsa. Karena stunting didapatkan dari kondisi malnutrisi yang kronis maka dampak yang dihasilkan
juga berlangsung lama, dapat dirasakan hingga 3 generasi (nenek, ibu, anak) atau disebut dengan siklus
100 tahun.
Pencegahan stunting sangat diperlukan, agar anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang secara
optimal, memiliki kemampuan emosional dan fisik yang siap untuk beraktifitas sosisal, dan menjadi SDM
yang produktif hingga melahirkan generasi-generasi emas kedepannya. Jika persoalan stunting tidak bisa
kita selesaikan maka Indonesia yang katanya akan memasuki bonus demografi, setelahnya justru akan
menghasilkan generasi yang kurang produktif sehingga bernilai beban kedepannya. Latar belakang ini yang
menjadikan stunting sebagai persoalan strategis nasional, sampai membuahkan program-program yang
kebutuhan dananya sangat besar, karena ketakutan akan dampak buruk yang lebih besar dikemudian hari
jika persoalan stunting tidak diatasi sejak saat ini dengan pola pencegahan.
Setidaknya ada 3 hal utama yang perlu dilakukan sebagai bentuk pencegahan, yaitu perbaikan pola makan,
perbaikan pola asuh serta perbaikan sanitasi dan akses ke air bersih. Stunting sangatlah susah untuk
dipulihkan, untuk itu lebih baik mencegah daripada mengobati. Meskipun kondisi tumbuh kembang anak
sangat tergantung dengan keadaan ibunya, tetapi tanggungjawab pencegahan dan penanganannya
tidaklah hanya dititikberatkan pada ibu semata, pola asuh tumbuh kembang anak sangat tergantung pada
keputusan rumah tangga ibu dan bapak bahakan keterlibatan peran keluarga besar. Begitu juga dengan,
persoalan stunting tidak akan dapat diatasi oleh sektor kesehatan semata, melainkan harus melibatkan
semua sektor dan disetiap tatanan kehidupan masyarakat.
Dalam masa pertumbuhan anak, ada yang di istilahkan dengan periode emas, yaitu 1.000 Hari Pertama
Kelahiran (HPK). HPK yang dimaksud tidaklah dihitung saat anak baru dilahirkan tetapi sejak menjadi janin
dalam kandungan yaitu 9 bulan (270 hari) dan berlanjut 730 hari setelah dilahirkan yaitu sampai berusia
2 tahun. 1.000 HPK meupakan momentum kritis yang menentukan kualitas pertumbuhan anak karena
pada masa tersebut terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang pesat terutama pada otak.
Ada 2 faktor penentu kualitas pertumbuhan anak, yaitu faktor intrinsik (genetic, kelainan kongenital dan
hormonal) dan faktor ekstrinsik (kualitas dan jumlah nutrisi, penyakit kronik, serta gangguan emosional).
Pada stunting yang terhambat bukanlah hanya pertumbuhannya tetapi juga perkembangannya.
Petumbuhan merupakan perubahan ukuran fisik baik dari segi dimensi, proporsi maupun komposisinya
dari waktu ke waktu. Pertumbuhan seorang anak bukan hanya sekadar gambaran perubahan antropometri
(berat badan, tinggi badan, dan ukuran tubuh lainnya) dari waktu ke waktu, tetapi lebih dari itu
memberikan gambaran tentang keadaan keseimbangan antara asupan (intake) dan kebutuhan
(requirement) zat gizi seorang anak utnuk berbagai proses biologisnya, termasuk untuk tumbuh dengan
keseimbangan antara asupan dan kebutuhan zat gizi, ini disebut status gizi. Jadi, Gizi yang baik untuk
pertumbuhan ialah gizi yang seimbang antara asupan dan kebutuhan akan zat-zat gizinya.
Sedangkan perkembangan merupakan bertambahnya kemampuan dan struktur / fungsi tubuh yang lebih
kompleks dalam pola yang teratur, dapat diperkirakan dan diramalkan sebagai proses diferensiasi sel,
jaringan tubuh, organ dan sistemnya yang terorganisasi. Perkembangan anak adalah tahapan yang
berlangsung teratur dan terus menerus maka orang tua harus mampu memberikan kondisi yang
menunjang perkembangan anak termasuk kemampuan kognitif dan efektifnya, sehingga anak bisa tumbuh
dan berkembang secara optimal dalam mengembangkan potensi dan bakatnya. Jenis perkembangan anak
dibagi menjadi 4, yaitu perkembangan kemampuan fisik, perkembangan kemampuan kognitif,
perkembangan kemampuan sosio-emosional, perkembangan kemampuan berbahasa.
Salah satu peran terpenting orang tua dalam memberikan kondisi ideal untuk pertumbuhan dan
perkembangan anak adalah memenuhi kebutuhan zat gizi anak melalui penyediaan asupan makanannya.
Pemberian makanan bergizi lengkap dan seimbang adalah kunci utama tumbuh kembang balita. Agar
kebutuhannya terpenuhi pola pemberian makanan harus terdiri dari makronutrien (seperti karbohidrat,
protein dan lemak) dan mikronutrien (yaitu vitamin dan mineral). Kombinasi unsur makanan ini akan
menunjang tumbuh kembang anak menjadi pribadi yang sehat, aktif dan cerdas (produktif).
Ada 3 fungsi utama makanan bagi tubuh, yaitu sebagai zat tenaga yang terdiri dari karbohidrat dan lemak
(sumbernya dari nasi, roti, singkong, kentang, ubi, daging, minyak dan lain-lain) yang bermanfaat untuk
memberikan tenaga bagi tubuh untuk melakukan aktifitasnya. Yang kedua sebagai zat pembangun yaitu
protein yang terdiri dari protein nabati (tahu, tempe, kacang dan lain-lain) dan protein hewani (susu, telur,
daging, ikan dan lain-lain), yang berguna untuk menambah tinggi dan berat tubuh. Dan yang terakhir
sebagai zat pengatur yaitu vitamin dan mineral (sayur dan buah) yang berfungsi untuk mengatur organorgan tubuh dapat bekerja dengan baik.
Umumnya ada 10 nutrisi penting untuk kesehatan dan tumbuh kembang anak :
-
-
-
-
-
-
Kalsium, yang berfungsi membantu pertumbuhan tulang dan gigi yang kuat, menjaga fungsi oto dan
saraf yang sehat, membantu proses pembekuan darah, serta membantu mengubah makanan
menjadi energi. Makanan yang tinggi kalsium diantaranya susu, keju dan ikan.
Asam lemak esensial, berfungsi untuk mengatur system saraf, membantu pembentukan sel,
memperlancar aliran darah, memperkuat sistem imun, mempertahankan fungsi otak yang mengatur
indra penglihatan serta membantu proses penyerapan nutrisi. Makanan yang tinggi asam lemak
esensial seperti kacang, telur, ikan tuna.
Zat besi, berperan dalam produksi hemoglobin dan myoglobin yang berfungsi dalam menyediakan
pasokan oksigen dalam darah. Makanan yang kaya zat besi seperti daging, kuning telur dan ikan.
Magnesium, berfungsi dalam menjaga tulang tetap kuat, menjaga irama jantung tetap stabil, menjaga
sistem imun, menjaga fungsi saraf dan otot.
Kalium, zat gizi yang bertugas untuk menjaga tekanan darah dengan mengontrol keseimbangan air
dalam tubuh, juga ikut menjaga fungsi otot dan irama jantung, dan dapat mengurangi resiko batu
ginjal dan osteoporosis. Makanan yang kaya zat kalium adalah pisang, tomat dan susu.
Vitamin A, dikenal baik dalam menjaga kesehatan mata dan pertumbuhan tulang, menjaga imun,
serta menunjang pertumbuhan sel-sel serta jaringan dalam tubuh seperti kuku,rambut dan kulit.
Sumber makanannya seperti daging sapi, hati ayam, susu dan buah yang berwarna cerah.
Vitamin C, digunakan untuk proses pembentukan dan perbaikan sel darah merah, tulang dan jaringan.
Menjaga gusi tetap sehat dan meningkatkan sistem imun. Makanannya dapat berupa buah papaya,
nenas dan melon.
Vitamin D, berperan penting dalam penyerapan mineral. Bersumber dari makanan seperti telur, tahu,
tempe, dan ikan.
Vitamin E, diperlukan untuk menangkal radikal bebas, membantu perbaikan DNA dan proses
metabolisme lainnya. Sumber makanannya dari bayam, alpukat, dan biji-bijian.
Zink, mengaktivasi kerja enzim dalam tubuh. Sumber makanannya seperti tomat, brokoli dan bayam.
Selain memperbaiki asupan gizi dengan tujuan memperbaiki pola makan, mendesain pola asuh juga sangat
dibutuhkan yang merupakan buah kesiapan dari kedua orang tua untuk membangun rumah tangga dan
membesarkan anak sebagai penerus yang terbaik. Pola asuh juga tidak cukup hanya diberikan kepada
tugas Ibu sebagai madrasah utama bagi anaknya, tetapi seringkali kita temukan dilapangan persoalan
pengambilan keputusan penting sampai skala terkecilpun dalam keluarga membutuhkan kerjasama
keluarga besar, misalnya keputusan calon ibu untuk melahirkan di fayankes harus tertunda dikarenakan
persetujuan dari calon nenek yang tidak sepakat. Atau seperti pemberian makanan permen kepada balita
oleh tante atau kerabat disekitar. Juga seperti memisahkan anak bermain dengan temannya karena
dianggap memberikan dampak yang buruk bagi pembbelajaran anak. Dan ini menjadi persoalan yang
kompleks dalam masyarakat kita di Majene yang mayoritas hidup rukun dalam keluarga yang besar.
Yang terpenting juga adalah penyediaan akses air bersih dan sanitasi yang layak, yang sangat bergantung
pada kecakapan ekonomi keluarga, untuk itu persoalan ini menjadi sangat sulit. Disebagian besar wilayah
kita persoalan ketersediaan air bersih juga banyak terjadi dengan jenis dan kompleksitas persoalannya
masing-masing. Untuk itu perbaikan sanitasi yang signifikan sangat bergantung pada peran pemerintah
daerah dalam membangun sarana dan prasarana yang layak bagi tumbuh kembang generasi emas anak
bangsa. Olehnya itu semua pihak diharapkan untuk turut serta memutus mata rantai kejadian stunting.
Download