Uploaded by kankdian

Biografi KH Abdul Kodir Rozy: Inspirasi dan Teladan Ulama

advertisement
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur hanya kita haturkan ke hadlirat Allah SWT,
kemudian sholawat serta salam semoga terlimpah-curahkan kepada Nabi
Muhammmad SAW beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya.
Dengan penuh rasa rendah hati, penulis menyusun buku sederhana ini
yang mengisahkan perjalanan hidup seorang ulama yang faqih, bijaksana,
dan berhasil menebarkan dakwahnya dengan penuh hikmah di tengah
keluarga maupun masyarakat luas. Buku ini, yang berjudul Riwayat Hidup
Guru Mursyid Kita Tercinta, Mama KH Abdul Kodir Rozy, merupakan tahap
kedua dalam proses penerbitannya dan akan terus disempurnakan di masa
mendatang. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan buku ini
masih jauh dari kata sempurna.
Penerbitan buku ini tidak lepas dari dukungan keluarga besar
Syaikhuna, para asatidz, serta sahabat-sahabat di Pondok Pesantren AlBarkah, Cianjur. Dengan kehadiran buku ini, penulis berharap dapat
memberikan inspirasi, menumbuhkan semangat belajar, serta memperluas
wawasan berpikir bagi para santri, alumni, dan masyarakat umum.
Semoga karya ini dapat meningkatkan kecintaan kita kepada para
ulama dan menjadi teladan dari perjalanan hidup mereka, khususnya
perjalanan hidup Guru Mursyid kita yang mulia, Al-Mukarrom Mama KH
Abdul Kodir Rozy. Harapan terbesar penulis adalah agar buku ini menjadi
wasilah untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat dan berkah. Aamiin ya
Rabbal ‘Alamin.
Batam, Shafar 1432 H
Januari 2011
Penulis
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 1
SAMBUTAN KETUA MAJELIS ULAMA INDONESIA
KABUPATEN CIANJUR
Dengan rasa syukur Alhamdulillah saya sampaikan dan gembira atas
hasil karya tulis Saudara Rusli Abdul Wahid tentang riwayat hidup Al
Mukarrom KH Abdul Kodir Rozy. Pada saat gencar-gencarnya pembangunan
yang dilaksanakan oleh bangsa Indonesia dimana bangsa kita tidak saja
mencita-citakan kehidupan materi tapi juga sedang menengahkan nilainilai kekayaan rohani yang bersumber pada keimanan dan ketaqwaan
kepada Allah SWT, maka dengan diterbitkannnya riwayat hidup beliau (KH
Abdul Kodir Rozy) para pencari ilmu agama Islam khususnya bagi para
santri santriyat bisa meneladaninya.
Menurut pandangan Islam sedikitnya ada empat program yang harus
dilaksanakan oleh umat Islam :
Pertama : Menggandrungi kebahagiaan akhirat yang langgeng dengan
beramal sholeh.
Kedua
: Tidak melupakan urusan kehidupan dunia karena dunia itu
tempat bercocok tanam untuk akhirat.
Ketiga
: Berbuat sosial kepada sesama.
Keempat : Tidak melakukan sesuatu perbuatan yang menjadikan bencana
bagi dirinya dan bagi sesamanya.
Kesemuanya ini telah digambarkan dalam riwayat Al Mukarrom KH
Abdul Kodir Rozy yang saya mengenal beliau sudah lebih dari 30 tahun dan
saya selalu mengagumi sikap-sikap beliau dalam menghadapi segala
permasalahan baik masalah dunia maupun masalah agama, semua bisa
diselesaikan dengan baik. Hal ini menunjukkan betapa luasnya ilmu beliau
meskipun pendidikan formal beliau tidak begitu tinggi. Demikianlah
sekedar sambutan saya, terimakasih.
Ketua MUI Kabupaten Cianjur
KH R Abdul Halim
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 2
SEJARAH KELAHIRAN DAN NASAB KETURUNAN
Di sebuah lereng Gunung Gede yang menghijau bak permadani alam,
dengan udara sejuk yang menusuk lembut ke dalam sukma, terbentang
kebun-kebun teh yang tersusun rapi, menghadirkan pemandangan yang
memesona mata. Di tengah keheningan dan kesejukan itu, tersembunyi
sebuah
kampung
kecil
yang
memancarkan
aura
kedamaian
dan
kesejahteraan. Kampung ini, jauh dari hiruk-pikuk kota, dihuni oleh
masyarakat yang hidup bersahaja dengan mayoritas menggantungkan
penghidupan mereka sebagai petani. Adat istiadat Sunda yang kental
menambah keunikan daerah ini, memperkuat nuansa harmoni antara
manusia, alam, dan nilai-nilai islami yang mereka junjung tinggi.
Pada masa penjajahan Belanda, ketika darah para pejuang mengalir
demi mempertahankan agama dan tanah air, Allah menakdirkan lahirnya
seorang bayi yang kelak menjadi cikal bakal warotsatul anbiya—pewaris
perjuangan para nabi. Tepat pada hari Jumat, 15 September 1935 Masehi,
bertepatan dengan 29 Jumadil Akhir 1354 Hijriyah, di Kampung Cibadak
Pasantren, Desa Sukanagalih, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur,
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 3
seorang cahaya lahir ke dunia. Bayi itu diberi nama Abdul Kodir Rozy, yang
kelak dikenal sebagai Guru Mursyid kita, Mama KH Abdul Kodir Rozy. Beliau
adalah putra kelima dari sembilan bersaudara, buah hati dari pasangan H.
Fakhrur Rozy bin KH Muhammad Yunus dan Hj. Hindun binti Abdurrahman.
Di antara sembilan bersaudara yang terlahir dalam keluarga sederhana
ini, beliau adalah putra pertama yang tumbuh hingga dewasa. Dalam tradisi
Sunda, anak sulung yang menjadi harapan keluarga dikenal dengan
sebutan cikal bugang—sosok yang sering kali dipandang sebagai tonggak
harapan dan penerus cita-cita kedua orang tua. Keberadaan beliau
membawa kebahagiaan dan juga tanggung jawab besar bagi keluarganya.
Sebagai cikal bugang, beliau mendapatkan perhatian khusus dari
kedua orang tuanya, yang tak henti-hentinya berikhtiar demi masa depan
yang cerah baginya. Saat ibunda beliau mengandung, ayahandanya, H.
Fakhrur Rozy, dengan penuh kasih dan pengharapan, sering membawa
istrinya menemui para ulama terkemuka. Dengan hati yang dipenuhi doa,
mereka memohon keberkahan kepada Allah, agar janin yang dikandung itu
lahir dengan selamat, diberkahi panjang usia, dan kelak menjadi anak yang
saleh.
Momen-momen penuh harap itu menjadi gambaran betapa besar
kecintaan dan ketulusan doa kedua orang tuanya. Mereka sadar,
membesarkan seorang anak adalah amanah yang agung, dan doa menjadi
senjata terkuat dalam membentuk kehidupan yang penuh berkah.
Perjuangan ini menjadi fondasi awal dari perjalanan hidup beliau yang kelak
tumbuh sebagai pribadi yang menginspirasi banyak orang.
Setelah sembilan bulan mengandung dengan penuh harapan dan doa,
tibalah momen yang dinanti-nantikan. Seorang bayi laki-laki lahir ke dunia,
membawa kebahagiaan yang tiada tara bagi kedua orang tuanya. Tangisan
pertama sang bayi seakan menjadi simfoni syukur yang menggema di hati
mereka, sebuah jawaban atas doa-doa yang tak henti dipanjatkan selama
ini.
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 4
Silsilah Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy
Sayyidina Muhammad Rosulillah Shollallaahu 'Alaihi Wasallam
Siti Fatimah Az Zahro
Sayyidina Husain As Sibthi
Sayyidina Ali Zainal Abidin
Sayyidina Muhammad Al Baqir
Sayyidina Dja'far Asshodiq
Sayyidina Muhammad Abu 'Isa
Sayyidina 'Isa Annaqieb
Sayyidina Ahmad bin 'Isa Almuhajir
Sayyidina Abdillah (Ubaidillah)
Sayyidina 'Alawi
Sayyidina Ali Khola' Qotsam
Sayyidina Muhammad Shohibul Mirbath
Sayyidina 'Alawi
Sayyidina Abdulmalik
Sayyidina Abdulloh Khon Syahansyah
Sayyidina Ahmad Syah Jalal
Sayyidina Jamaluddin Al Akbar
Sayyidina Nurul 'Alam Ali
Sayyidina Umdatuddin
Sayyidina Syarif Hidayatulloh
Pangeran Fatah
Pangeran Seda Blimbing
Pangeran Panjunan
Pangeran Pamale Karan
(Pangeran Santeri)
Pangeran Geusan Ulun
Pangeran Rangga Gede
Pangeran Rangga Gempol
(Panembahan Sumedang)
Pangeran Dipati Tanumadja
Pangeran Embah Aom
Haji Abdusyakur
Haji Abdulwahhab
Haji Ishaq
Muhammad Abdurrohman
Haji Hindoen
KH Abdul Kodir Rozy
Pangeran Pasarean
(Adipati Cirebon)
Pangeran Adipati Cirebon II
Panembahan Ratu Cirebon
Pangeran Adipati Tanudiarsa
(Bupati Kuningan)
Pangeran Bapang
(Kuningan)
Pangeran Natamanggala
Pangeran Kartadiredja
Pangeran Kartadiredja II
Raden Zainal Abidin
Nyai Raden Salamah
Kiayi Raden Haji Abdussalam
Maulana Hasanudin
Maulana Abunnashri
Maulana Muhammad
Maulana Abulmafakhir Mahmud
Maulana Abul Ma'ali Ahmad
Maulana Abulfathi Abdulfattah
Maulana Abunnashri
Maulana Abdulqohhar
Maulana Ratu A'isyah
Maulana Seikh Abdullah Riva'i
Maulana R Hasan Mangkupradja
(Dalem Sepuh Cianjur)
Dengan penuh rasa syukur kepada Allah SWT, keluarga besar
menyelenggarakan acara tasyakuran yang sarat akan keberkahan. Para
ulama, kiyai, ustadz, serta tokoh-tokoh masyarakat setempat diundang
untuk menghadiri acara ini. Dipimpin oleh Almarhum KH Masduki, suasana
malam itu dipenuhi lantunan doa dan harapan, memohon kepada Allah agar
sang bayi tumbuh menjadi pribadi yang saleh, penuh berkah, dan
memberikan manfaat bagi umat.
Cahaya lentera-lentera kecil menerangi sudut-sudut rumah sederhana
mereka, sementara harumnya masakan khas tasyakuran menyatu dengan
semilir angin malam pegunungan yang sejuk. Di tengah kehangatan itu,
setiap ucapan selamat dan doa menjadi bukti nyata betapa kelahiran bayi
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 5
ini adalah kebahagiaan bersama, tak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi
masyarakat sekitar.
Dari uraian di atas kita dapat mengambil pelajaran, antara lain kepada
orang tua hendaklah :
1. Mencatat dengan lengkap tanggal kelahiran anak, baik dengan
menggunakan tahun Masehi dan tahun Hijriyah.
2. Melaksanakan hal-hal kebajikan tatkala ibu sedang mengandung seperti
memperbanyak membaca Al Qur’an, sholawat, sedekah, meminta do’a
kepada para ‘alim ulama dan kebajikan-kebajikan yang lainnnya.
3. Bersyukur kepada Allah SWT atas anak yang diberikan kepadanya
sebagai amanah dari Allah SWT.
MASA PENDIDIKAN BERSAMA ORANG TUA
Pada
masa
mendapatkan
itu
jarang
pendidikan
sekali
langsung
ditemukan
seorang
dari
tua
orang
anak
hingga
yang
mampu
menguasai berbagai kitab dengan pemahaman yang mendalam. Namun,
inilah yang dialami oleh Syaikhuna dalam masa-masa pendidikannya
bersama kedua orang tuanya. Dengan tanggung jawab yang besar dan
cinta yang tulus, mereka membimbing beliau dengan penuh kesabaran dan
keikhlasan.
Hari-hari mereka dipenuhi dengan aktivitas yang bermakna—sang
ayah mendiktekan pelajaran dengan nada tegas namun penuh kasih,
sementara ibunda beliau dengan kelembutannya selalu mendukung proses
belajar itu dengan doa-doa yang tak henti dipanjatkan. Di bawah
bimbingan orang tua yang begitu peduli, Syaikhuna tumbuh menjadi
pribadi yang mencintai ilmu sejak usia dini.
Selama enam belas tahun, kedua orang tua beliau mengabdikan diri
untuk memastikan bahwa pendidikan putranya tidak hanya mencakup
pengetahuan agama, tetapi juga disertai penghayatan nilai-nilai akhlak dan
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 6
moral yang luhur. Mereka percaya, mendidik seorang anak adalah ladang
amal yang akan terus mengalir keberkahannya. Semangat mereka menjadi
fondasi kokoh yang mengarahkan langkah Syaikhuna menuju kehidupan
yang penuh manfaat bagi umat.
Dalam
perjalanan
pendidikannya,
Syaikhuna
hanya
sempat
menempuh pendidikan formal hingga kelas tiga sekolah dasar di Rawa
Belut. Meski tidak menyelesaikan pendidikan SD secara penuh dan hanya
mengikuti ujian persamaan setara SLTP, keterbatasan ini tidak pernah
menjadi penghalang untuk tumbuh sebagai pribadi yang berilmu dan
berakhlak mulia.
Orang tua beliau memahami bahwa pendidikan terbaik bukan hanya
berasal dari bangku sekolah, tetapi juga dari lingkungan yang sarat akan
nilai-nilai luhur. Dengan penuh kasih dan kesabaran, mereka menciptakan
suasana belajar di rumah yang kondusif, dimana nilai agama dan budi
pekerti ditanamkan dengan kuat. Selain itu, mereka dengan penuh
perjuangan mempercayakan pendidikan putra mereka kepada beberapa
pondok
pesantren
terkemuka.
Di
tempat-tempat
itulah
Syaikhuna
mendalami ilmu agama dan mengasah pemahamannya, melebihi apa yang
dapat dicapai dari pendidikan formal semata.
Lingkungan pesantren yang disiplin, disertai bimbingan para ulama
yang
ikhlas,
menjadikan
pengalaman
pendidikan
beliau
istimewa.
Kehidupan sederhana di pesantren, suasana tahajud di malam yang sunyi,
dan semangat belajar yang terus menyala, membentuk karakter beliau
menjadi seorang ulama yang memiliki kedalaman ilmu dan keluhuran budi.
Meski menapaki jalan yang penuh tantangan, keistimewaan perjalanan
pendidikan ini kelak membawa beliau menjadi sosok yang menjadi teladan
bagi banyak orang.
Sejak usia dini, saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Syaikhuna
sudah ditempa dalam disiplin yang tinggi oleh kedua orang tuanya.
Ayahanda beliau mewajibkan mengikuti pengajian kitab kuning dengan
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 7
jadwal yang ketat—lima kali mengaji dalam sehari. Dengan sistem
pendidikan yang penuh kedisiplinan ini, waktu bermain menjadi sesuatu
yang sangat langka bagi beliau. Masa kecilnya diisi dengan lembaranlembaran kitab, hafalan, dan pelajaran yang diajarkan langsung oleh orang
tua beliau.
Namun, kedisiplinan yang diterapkan sering kali bukan tanpa ujian. Di
bawah pengawasan ayahandanya yang penuh kasih namun tegas,
Syaikhuna harus menghadapi berbagai tantangan. Tidak jarang, beliau
mengikuti pelajaran sambil menahan kantuk yang berat, dan terkadang air
mata mengalir di pipinya ketika sanksi diberikan akibat belum menghafal
pelajaran dengan baik. Semua itu menjadi bagian dari proses pendidikan
yang penuh perjuangan.
Meskipun begitu, jiwa beliau yang ikhlas dan tekad yang membara
menjadikan setiap tantangan sebagai peluang untuk belajar dan tumbuh.
Dalam hati kecilnya, tertanam semangat pantang menyerah yang terus
menyala—sebuah
modal
berharga
dalam
perjalanan
tholabul
ilmi.
Syaikhuna mengajarkan kepada kita bahwa kesuksesan besar tidak pernah
terlepas dari pengorbanan dan keteguhan hati. Setiap air mata yang jatuh,
setiap kesulitan yang dihadapi, adalah langkah menuju kemuliaan ilmu
yang kelak menjadikannya cahaya bagi umat.
Alhamdulillah, atas rahmat Allah dan perjuangan yang tak kenal lelah,
Syaikhuna berhasil menguasai seluruh pelajaran yang diajarkan oleh kedua
orang tuanya. Ketekunan beliau yang luar biasa, dipadu dengan kesabaran
dan bimbingan penuh cinta dari Ayah Bundanya, menjadi fondasi kokoh
dalam perjalanan pendidikannya.
Sejak kecil hingga usia enam belas tahun, beliau menjalani proses
belajar yang intens di bawah pengawasan langsung orang tua yang penuh
dedikasi. Hari-hari itu bukanlah perjalanan yang mudah—dihadapi dengan
disiplin ketat, ujian kesabaran, dan tantangan yang terkadang menguras
emosi. Namun, setiap pelajaran yang diterima, setiap lembar kitab yang
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 8
dipahami, menjadi bukti nyata keteguhan hati dan tekad yang tak
tergoyahkan.
Kesuksesan Syaikhuna tidak hanya lahir dari kecerdasan alami, tetapi
juga dari kesadaran mendalam akan pentingnya ilmu sebagai jalan menuju
kedekatan dengan Allah. Didikan orang tua yang tegas namun penuh kasih
sayang menanamkan nilai-nilai luhur dalam dirinya—bahwa perjuangan,
pengorbanan, dan kesungguhan adalah kunci untuk meraih keberkahan
dalam ilmu.
Kisah ini menjadi inspirasi bagi kita semua, bahwa dengan semangat
yang kuat, kesabaran yang mendalam, dan dukungan keluarga yang tulus,
tidak ada hal yang mustahil untuk dicapai. Syaikhuna telah menunjukkan
bahwa ilmu yang bermanfaat lahir dari perjuangan yang penuh makna.
Sejak usia belia, Syaikhuna telah diperkenalkan pada khazanah ilmu
yang luas melalui bimbingan langsung dari kedua orang tuanya. Di bawah
perhatian mereka yang penuh cinta dan disiplin, beliau mempelajari
berbagai kitab yang menjadi landasan utama dalam memahami ajaran
agama. Kitab-kitab tersebut meliputi:
1. Al-Qur’an bit Tajwid
2. Safinatun Naja
3. Tijanud Darori
4. Jurumiyyah
5. Riyadlul Badli’ah
6. Jauharut Tauhid
7. Kholid Azhari
8. Fathul Qorib dan Fathul Mu’in
9. Bidayatul Hidayah.
10. Irsyadul ‘Ibad dan Minjahul Abidin
Kitab-kitab ini tidak hanya menjadi dasar keilmuan beliau, tetapi juga
membentuk
karakter
dan
pandangan
hidupnya
sejak
dini.
Melalui
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 9
pemahaman mendalam terhadap kitab-kitab ini, Syaikhuna memantapkan
langkah untuk melanjutkan kajian keilmuan di berbagai pondok pesantren
terkemuka.
Kisah beliau mengajarkan kepada kita bahwa perjalanan menuntut
ilmu adalah sebuah investasi yang memerlukan kesabaran, tekad, dan
bimbingan yang tulus. Kitab-kitab tersebut bukan sekadar bahan bacaan,
tetapi menjadi jalan bagi beliau untuk mengenal hakikat kehidupan,
mendekatkan diri kepada Allah, dan menebar manfaat bagi umat.
Jika kita melihat dari kitab-kitab yang dipelajari mulai dari kecil, beliau
memang lebih banyak mempelajari kitab-kitab fiqih, sehingga tidak raguragu lagi kalau kita mengatakan bahwa beliau adalah seorang ulama yang
faqih. Kecerdasan pemikirannya memang diakui oleh semua lapisan
masyarakat, khususnya di kalangan masyarakat pesantren.
Kesimpulan
yang
tak
terbantahkan
adalah
bahwa
perjalanan
Syaikhuna untuk menjadi seorang ulama telah dirintis dengan penuh
kesungguhan oleh kedua orang tuanya sejak usia dini. Pengkaderan ini
tidak hanya terhenti pada bimbingan langsung mereka, tetapi juga
diperkaya oleh kontribusi dari keluarga besar beliau. Saudara-saudara dari
ayah dan ibunda beliau, yang banyak dikenal sebagai kyai atau ajengan
terkemuka, turut memberikan warna dan kedalaman pada pendidikan yang
beliau terima.
Ayahanda beliau dengan disiplin yang tinggi membimbingnya dalam
memahami kitab-kitab kuning, membuka cakrawala keilmuan agama yang
luas dan mendalam. Di sisi lain, sang ibunda memainkan peran yang tak
kalah penting, menanamkan pondasi keimanan melalui pengajaran ilmu
tauhid, seni membaca Al-Qur'an, dan Tarikhul Islamiyyah. Pendidikan dari
ibunda ini tidak hanya berupa pemahaman, tetapi juga penghayatan yang
mendalam, diiringi dengan hafalan-hafalan yang menjadi bekal spiritual
beliau.
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 10
Kolaborasi
unik
antara
ayah
dan
ibu
dalam
mendidik
beliau
mencerminkan keharmonisan dalam membentuk karakter ulama yang
tidak hanya kokoh dalam keilmuan, tetapi juga halus dalam budi pekerti.
Setiap pengajaran yang mereka berikan menjadi pilar penting dalam
membentuk kepribadian Syaikhuna sebagai ulama yang penuh hikmah,
siap menjadi lentera bagi umat.
Kisah pendidikan beliau mengajarkan kepada kita bahwa mendidik
generasi
masa
depan
adalah
tanggung
jawab
yang
memerlukan
keselarasan antara ilmu dan iman. Dengan kerja sama dan dedikasi orang
tua yang luar biasa, sebuah generasi pewaris ilmu para nabi dapat lahir,
menjadi panutan bagi umat dan pembimbing bagi kehidupan yang penuh
keberkahan.
Hikmah yang dapat kita petik dari uraian di atas begitu dalam, dan
mengandung pelajaran berharga yang dapat kita jadikan teladan dalam
kehidupan. Di antaranya adalah:
1. Pendidikan yang dimulai sejak dini – Pendidikan hendaknya
dimulai sejak usia tiga tahun, dengan cara yang lembut dan penuh
kesadaran. Pada masa ini, anak-anak perlu dikenalkan dengan tandatanda kebesaran Tuhan, pelajaran fiqih ibadah, dan dasar-dasar
akhlak yang baik. Orang tua menjadi guru pertama bagi anak-anak
mereka, yang meletakkan dasar bagi pembentukan karakter dan
keimanan. Keberhasilan atau kegagalan dalam mendidik anak sangat
dipengaruhi oleh perhatian dan peran aktif kedua orang tua, yang
menjadi teladan utama dalam kehidupan mereka.
2. Pentingnya
belajar
sejak
usia
dini
–
Sebuah
pepatah
mengatakan, "Belajar di masa kecil seperti mengukir di atas batu,
sementara belajar di masa tua seperti mengukir di atas air."
Maksudnya, pendidikan yang diberikan di usia dini akan lebih mudah
meresap dan tertanam dalam jiwa, seperti ukiran di atas batu yang
tidak mudah pudar. Sedangkan pendidikan yang baru dimulai di usia
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 11
tua, meskipun mungkin bermanfaat, akan lebih sulit untuk diserap
dan dipahami, seperti ukiran yang terbuat di atas air yang mudah
hilang.
Kisah Syaikhuna mengajarkan kepada kita bahwa pendidikan adalah
investasi terbaik yang dapat diberikan oleh orang tua kepada anak-anak
mereka. Dengan tekad dan kesungguhan hati, mendidik sejak dini tidak
hanya membentuk kecerdasan, tetapi juga membangun fondasi moral yang
kuat, yang kelak akan menjadi bekal hidup di dunia dan akhirat.
MASA PENDIDIKAN DI PONDOK PESANTREN
Setelah menempuh pendidikan selama enam belas tahun di bawah
bimbingan
kedua
memperdalam
ilmu
orang
agama
tuanya,
dengan
Syaikhuna
memutuskan
melanjutkan
untuk
pendidikannya
ke
beberapa pondok pesantren terkemuka. Pada masa itu, hati beliau dipenuhi
dengan rasa haus akan ilmu yang tak terhingga—sebuah semangat yang
membara untuk memahami lebih dalam kitab-kitab kuning dan menguasai
ilmu agama secara komprehensif.
Keinginan beliau untuk menguasai ilmu tidak hanya tampak dari
ketekunannya dalam belajar, tetapi juga dari kesungguhannya dalam
muthola'ah (membaca dan mempelajari) pelajaran yang disampaikan oleh
para guru. Bahkan, seringkali waktu berlalu tanpa terasa, hingga larut
malam, beliau tetap tekun membaca, menghafal, dan merenungkan setiap
pelajaran yang diberikan.
Sifat beliau yang tak kenal lelah dalam mencari ilmu ini adalah teladan
yang sangat berharga bagi kita semua. Menuntut ilmu bukan hanya soal
waktu dan tenaga, tetapi soal dedikasi dan kecintaan yang tulus terhadap
ilmu itu sendiri. Dengan semangat yang tak pernah pudar, Syaikhuna
mengajarkan kita bahwa perjalanan ilmu adalah perjalanan yang harus
ditempuh dengan hati yang penuh ketekunan dan kesabaran, tidak
mengenal waktu, dan selalu mengutamakan keinginan untuk menggapai
hakikat kebenaran.
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 12
Pada suatu ketika, Syaikhuna memiliki tekad yang kuat untuk
melanjutkan pendidikan di pondok pesantren yang terkemuka di Jawa,
namun sang ayah dengan penuh kebijaksanaan hanya memerintahkan agar
beliau tetap belajar di tanah kelahirannya, Bumi Pasundan. Keputusan ini,
meskipun tampak membatasi, justru membentuk jalan yang lebih tepat
bagi perjalanan ilmu beliau.
Syaikhuna melanjutkan pencariannya akan ilmu di beberapa pondok
pesantren yang sangat berpengaruh dalam membentuk karakter dan
keilmuannya. Di antara pondok pesantren tempat beliau menimba ilmu
adalah:
1. Pondok Pesantren Gentur (Warungkondang), yang dipimpin
oleh KH Abdul Qodir, di mana Syaikhuna mulai bergabung pada
tanggal 27 Mei 1951. Di pondok pesantren ini, dalam waktu kurang
dari satu tahun, beliau berhasil menguasai beberapa kitab besar yang
menjadi
dasar
ilmu
agama,
di
antaranya
Alfiyah,
Sulamul
Munawwaroq, Waladiyah, Rosyidiyah, Fathul Wahab, dan lainnya.
Pencapaian ini menunjukkan dedikasi dan kecintaan beliau terhadap
ilmu yang begitu mendalam.
2. Pondok Pesantren Al Munawwariyah di Cilaku, pada tahun 1952,
yang dipimpin oleh Syaikhuna Al ‘Alim Al Mukarrom KH Ahmad
Munawwar bin KH Muhammad Rois As Silagi. Beliau adalah ulama
yang faqih dan sangat dihormati, serta dikenal sebagai guru besar
yang sangat berpengaruh. Di pondok pesantren ini, Syaikhuna
mendapatkan bimbingan langsung dari salah satu ulama terkemuka
yang menjadi panutan beliau, dan bahkan beliau menyebutkan
dengan penuh kekaguman bahwa Mama Munawwar adalah salah satu
guru yang ilmu dan bimbingannya sangat beliau hargai.
Kisah perjalanan pendidikan Syaikhuna ini mengajarkan kita bahwa
ilmu itu tidak terbatas oleh jarak atau tempat, tetapi tergantung pada tekad
dan semangat seorang pencari ilmu. Pondok pesantren tempat beliau
belajar menjadi saksi bisu atas perjuangannya dalam menuntut ilmu
dengan penuh kesungguhan, ketekunan, dan rasa hormat kepada guruManaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 13
guru beliau. Dari setiap lembaga yang beliau masuki, tidak hanya ilmu yang
beliau dapatkan, tetapi juga adab dan akhlak yang senantiasa menjadi
pegangan beliau dalam mengarungi hidup.
Selama menuntut ilmu di Pondok Pesantren Cilaku, jiwa kepemimpinan
Syaikhuna mulai tampak dengan jelas. Kepribadiannya yang matang dan
penuh tanggung jawab membuat beliau terpilih menjadi Rois (Lurah)
pondok pada saat itu. Ini bukan hanya sebuah jabatan, tetapi juga sebuah
amanah besar yang beliau emban dengan penuh ketulusan.
Tugas memimpin teman-teman di pondok bukanlah hal yang mudah,
namun Syaikhuna menjadikannya sebagai pengalaman yang sangat
berharga.
Dengan
kebijaksanaan
dan
kesabaran,
beliau
mampu
mengarahkan teman-temannya dalam berbagai situasi, baik yang penuh
tantangan maupun yang memerlukan ketegasan. Suka dan duka dalam
memimpin di pondok pesantren ini bukan hanya menempa diri beliau
menjadi seorang pemimpin yang bijaksana, tetapi juga mengajarkan nilainilai penting dalam kepemimpinan: ketulusan, tanggung jawab, dan
pengorbanan demi kebaikan bersama.
Kepemimpinan Syaikhuna di pondok menjadi contoh nyata bagi kita
semua bahwa seorang pemimpin sejati bukan hanya dilihat dari kekuasaan
yang dimiliki, tetapi dari kemampuan untuk menginspirasi, menuntun, dan
membawa perubahan positif bagi orang-orang di sekitarnya. Syaikhuna
mengajarkan kita bahwa kepemimpinan yang baik dimulai dari pengabdian,
keikhlasan, dan kemampuan untuk menjadikan setiap pengalaman—baik
suka maupun duka—sebagai pelajaran berharga untuk masa depan.
Menuntut ilmu di pondok pesantren bukanlah perkara mudah.
Membutuhkan
ketekunan
yang
tiada
henti,
kesabaran
yang
tak
tergoyahkan, dan kemampuan untuk meninggalkan segala godaan dunia
yang dapat menodai hati. Sebab, hanya dengan hati yang bersih dan
pikiran yang suci, ilmu yang kita pelajari akan bermanfaat, tidak hanya
untuk diri sendiri, tetapi juga untuk umat.
Begitu pula dengan Syaikhuna, yang dengan keteladanan luar biasa,
menempatkan dirinya sebagai seorang santri sejati. Beliau bukanlah santri
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 14
yang malas atau setengah hati, tetapi seorang yang sepenuh jiwa dan raga
mengabdi pada ilmu. Kepribadiannya yang kuat, serta tekad yang
membaja, menjadi fondasi yang kokoh dalam proses belajarnya. Beliau
tidak sekadar belajar untuk memahami kitab, tetapi untuk mengamalkan
setiap butir ilmu yang diperoleh dengan penuh tanggung jawab.
Syaikhuna menunjukkan kepada kita bahwa untuk benar-benar
menuntut ilmu, kita harus memiliki disiplin yang tinggi dan tekad yang
bulat. Beliau adalah teladan sejati bagi kita semua dalam menjalani
kehidupan ini—menjadi pribadi yang tidak hanya pandai, tetapi juga
bijaksana dan penuh kebermanfaatan. Dari beliau, kita belajar bahwa
kesungguhan dalam belajar adalah jalan untuk mencapai kemuliaan dan
kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat.
Selama lima tahun menetap di Pondok Pesantren Al Munawwariyyah
Cilaku, Syaikhuna mengarungi lautan ilmu dengan penuh kesungguhan.
Beliau menimba banyak pengetahuan dari berbagai kitab yang menjadi
pokok kajian utama di pondok tersebut. Di antaranya adalah:
1. Alfiyah bin Aqil
2. Yaqula
3. Sudzurudz Dzahab
4. Tarshif
5. Tafsir Jalalain
6. Tafsir Munir
7. Jam’ul Jawami
8. Jauhar Maknun
9. Samarqondi
10. Al Iqna’
11. Fathul Wahab
12. Rohbiah
13. Minhajuth Tholibin
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 15
Setiap lembaran kitab yang beliau pelajari membawa beliau lebih
dekat kepada pemahaman yang lebih dalam tentang agama dan
kehidupan. Di pondok pesantren Cilaku inilah, Syaikhuna merasa bahwa
ilmu yang beliau terima sudah cukup memadai, memberi bekal yang kuat
untuk menapaki jalan kehidupan.
Namun, semangat beliau untuk terus menuntut ilmu tidak pernah
padam. Meskipun setelah itu beliau tidak lagi menetap di pondok
pesantren, Syaikhuna tetap kembali ke Cilaku sesekali untuk melanjutkan
belajar. Ini menunjukkan bahwa bagi beliau, belajar adalah perjalanan
tanpa henti—sebuah pencarian yang tak mengenal batas waktu dan
tempat.
Keistimewaan Syaikhuna terletak pada keteguhan hatinya untuk terus
memperdalam ilmu, meski telah mendapat cukup banyak bekal. Beliau
mengajarkan kepada kita bahwa ilmu itu bukan hanya soal banyaknya kitab
yang dibaca, tetapi juga tentang komitmen yang tak tergoyahkan untuk
selalu belajar dan mengamalkan apa yang dipelajari. Sebuah teladan yang
seharusnya menginspirasi kita semua dalam menempuh jalan ilmu yang
tak pernah berakhir.
Pada tanggal 28 Maret 1957, Syaikhuna melangkah ke jenjang
kehidupan baru dengan penuh berkah, menikahi seorang wanita yang kelak
menjadi pendamping setia dalam perjuangannya, Almarhumah Hj Zulaikha
binti H Yayan Dahlan.
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 16
Syaikhuna dan Hj. Ea Zulaikha
Perjalanan panjang di dunia pesantren pun ia tinggalkan, namun
semangat menuntut ilmu dan berkhidmat kepada masyarakat tetap
membara dalam hatinya. Beliau pun menetap di Bojongmeron, Cianjur,
menyusun langkah demi langkah untuk mewujudkan visi mulia yang
diwariskan orangtuanya.
Pada tahun 1958, dengan penuh rasa tanggung jawab dan amanah,
Syaikhuna menerima tugas besar dari kedua orangtuanya, yaitu mengurus
sebuah masjid yang pada saat itu belum memiliki nama—yang kelak akan
dikenal sebagai Masjid Al Barkah. Tidak hanya sekadar mengelola, beliau
menaruh hati dan jiwa untuk membangun, sedikit demi sedikit, Pondok
Pesantren Al Barkah yang kini menjadi salah satu pusat pengajaran yang
dihormati banyak orang.
Kehidupan Syaikhuna tidak hanya berhenti pada dedikasi kepada ilmu,
tetapi juga pada pelaksanaan kewajiban agama yang sempurna. Pada
tahun 1982, bersama istrinya yang tercinta, beliau menunaikan Rukun
Islam yang kelima—menjalankan ibadah haji di Tanah Suci. Sebuah
perjalanan spiritual yang penuh makna, yang juga menguatkan tekad
beliau dalam melanjutkan dakwah. Tak hanya itu, dalam perjalanan
hidupnya, beliau juga beberapa kali menunaikan ibadah umroh, di
antaranya pada tahun 1994 dan 1997, tepatnya pada bulan suci Ramadhan.
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 17
Ibadah-ibadah ini menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya
kesungguhan
dalam
menjalani
setiap
langkah
kehidupan,
selalu
mendekatkan diri kepada Allah, serta terus berusaha untuk memberi
manfaat bagi umat.
Guru-guru
Syaikhuna
yang
telah
membimbing
dan
mewarnai
perjalanan ilmu beliau sejak usia dini hingga enam belas tahun adalah
sosok-sosok yang luar biasa, yang tak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga
menanamkan nilai-nilai kehidupan yang mendalam. Di antara mereka
adalah:
1. Hj Hindun binti Abdurrahman (Ibu Kandung), yang sejak pertama
kali mengandung, sudah membekali Syaikhuna dengan didikan
spiritual yang kokoh.
2. KH Fakhrur Rozy bin KH M Yunus (Ayah Kandung), seorang ulama
yang memberi keteladanan dan ilmu yang tiada henti, sebagai
pondasi utama dalam perjalanan hidup beliau.
3. KH Mansur
4. KH Cholid
5. KH Masduki
6. KH Ahmad Dimyati
Selanjutnya, di Pondok Pesantren Gentur, beliau berkesempatan
untuk mendapatkan bimbingan dari para ulama besar seperti:
1. KH Abdul Qodir
2. KH Rahmatullah
Di Pondok Pesantren Al Munawwariyyah Cilaku, Syaikhuna
belajar di bawah bimbingan langsung KH Ahmad Munawwar bin KH M
Rois As Silagi, seorang guru yang sangat beliau kagumi keilmuannya,
yang juga memberikan pengaruh besar dalam perjalanan intelektual beliau.
Selain itu, banyak lagi guru-guru beliau yang memberikan sentuhan
ilmu dalam perjalanan hidupnya, antara lain:
1. KH Majdudin
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 18
2. KH R Abdullah bin Nuh
3. KH Ahmad Suja’i
4. KH Dahlan
5. KH Habib Ali Hasan Az Zufri
6. Ustadz Acep Ibrahim
Dari para guru yang mulia ini, Syaikhuna mengaji dan mempelajari
berbagai kitab penting yang menjadi fondasi pemahaman ilmu beliau, di
antaranya:
1. Ihya Ulumuddin
2. Ana Muslim
3. Mizan Kubro
4. Nubdzatul Mujmal
5. Al Mustashfa
6. Lughoh ‘Arabiyah
7. Tajwid
Setiap guru memberikan pijakan yang kokoh bagi Syaikhuna, tidak
hanya dalam bidang ilmu, tetapi juga dalam perjalanan hidup sebagai
seorang hamba Allah yang berilmu dan bermanfaat bagi umat. Dari para
guru ini, Syaikhuna belajar lebih dari sekadar teori, tetapi juga keteladanan
dalam menjalankan ilmu dan berakhlak mulia, yang patut kita teladani
dalam kehidupan sehari-hari.
PENGALAMAN DALAM BERDAKWAH
Bakat berdakwah yang terpendam dalam diri Syaikhuna mulai terlihat
sejak masa remaja, dimulai dari pengajian dan ceramah yang beliau
sampaikan di hadapan para santri. Dengan penuh semangat dan
kesungguhan, beliau mengasah kemampuan dakwahnya dari lingkungan
yang paling dekat, yakni santri-santri di pondok pesantren. Namun,
semangat beliau tidak berhenti di sana. Pada usia dua puluh tahun, beliau
mulai menyebarkan ilmu dan pencerahan kepada masyarakat umum. Dari
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 19
sanalah, langkah dakwah beliau mulai berkembang luas, menjangkau
berbagai daerah di Kabupaten Cianjur, menyentuh hati dan pikiran banyak
orang yang haus akan ilmu dan tuntunan.
Rutininas Dakwah Syaikhuna dengan para Kiayi dan Ajengan
di Kabupaten Cianjur
Syaikhuna sering mengungkapkan bahwa dalam dakwah, beliau
memiliki tiga idola yang menjadi acuan dalam setiap langkahnya:
1. Mama KH Ahmad Munawwar, dijadikan idola karena beliau
sangat ahli dalam mengupas dan menguraikan masalah-masalah
agama dengan terperinci. Hal ini menjadikan beliau sebagai sosok
‘ulama yang ilmu keagamaannya sangat mendalam.
2. Mama KH R Abdullah bin Nuh, dijadikan idola karena beliau
mampu menyampaikan bahasa yang sangat baik kepada mustami’
dengan tutur kata yang sopan dan halus juga dihiasi sastra sehingga
mustami’ merasakan terbawa cerita yang disampaikannya.
3. Habib Ali Hasan Az Zufri, dijadikan idola karena beliau mampu
berdakwah dengan sedikit humor, sehingga mustami’ tidak merasa
jenuh dalam mendengarkan ceramah.
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 20
Jika melihat ketiga idola Syaikhuna dalam berdakwah, rasanya
memang sudah cukup lengkap untuk menjadikan contoh dan bekal dalam
berdakwah yang ideal di tengah-tengah umat.
Pengalaman berdakwah Syaikhuna cukup panjang, akan tetapi disini
penulis hanya mengungkapkan secara garis besar saja, kemudian
dilengkapi dengan cara dan metode berdakwah yang baik sesuai dengan
pengajaran beliau kepada kami.
Kajian Kitab Syaikhuna dengan para Kiayi dan Ajengan
di Kabupaten Cianjur
Adapun pengalaman berdakwah Syaikhuna di mancanegara antara lain
: Belanda, Mesir, dan Arab Saudi. Sedangkan pengalaman berdakwah di
tanah air adalah Irian Jaya, Jakarta, Padang Panjang, Batam, dan beberapa
wilayah di Jawa Barat.
Adapun metode dakwah yang baik untuk jaman sekarang menurut
Syaikhuna antara lain :
1. Menguasai materi dakwah dengan sempurna dan mampu
mendramatisirkannya.
Bagi beliau, dakwah bukan sekadar menyampaikan ilmu, tetapi
menjadikannya hidup dan menggugah hati para pendengar, sehingga
setiap
kata
yang
diucapkan
mampu
menyentuh
jiwa
dan
menggerakkan hati yang mendengarnya.
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 21
2. Menggunakan bahasa yang sopan dan setingkat dengan
keadaan mustami’ (pendengar).
Beliau
selalu
berdakwah
berusaha
mudah
agar
dipahami
bahasa
dan
yang
tidak
digunakan
menyakiti
dalam
perasaan
pendengar. Dakwah yang baik adalah dakwah yang menyapa, bukan
memarahi. Beliau selalu menjaga agar setiap kata yang keluar dari
lisannya membangun, bukan menghancurkan.
3. Mampu mengungkapkan masalah-masalah yang berkenaan
dengan mustami’.
Syaikhuna sangat peka terhadap kondisi pendengarnya. Beliau tahu
kapan dan bagaimana cara menyampaikan materi dakwah yang
relevan dengan kehidupan mereka. Beliau tidak hanya berbicara
tentang hal-hal yang tinggi dan abstrak, tetapi juga menyesuaikan
diri dengan realitas hidup masyarakat yang menjadi sasaran dakwah.
4. Tidak monoton dalam berdakwah.
Syaikhuna selalu berusaha agar dakwahnya tidak terjebak dalam
rutinitas yang membosankan. Dengan cara yang kreatif, beliau
mampu membuat setiap ceramah menjadi segar dan menarik,
sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh
berbagai kalangan.
5. Yang paling penting adalah niat yang tulus dan ikhlas karena
Allah SWT.
Bagi beliau, dakwah bukanlah panggung untuk menunjukkan
kebolehan atau mencari pujian, melainkan sebuah ibadah yang harus
dilaksanakan dengan penuh keikhlasan dan tujuan semata-mata
untuk mendapatkan ridha Allah. Niat yang tulus menjadi kunci utama
dalam menjalankan dakwah yang benar.
Melalui kata-kata dan tindakan beliau, Syaikhuna telah menunjukkan
kepada kita bagaimana dakwah yang efektif dan menginspirasi. Beliau
mengajarkan kita bahwa dalam berdakwah, niat yang baik, pemahaman
materi yang dalam, dan kesadaran akan kondisi pendengar adalah hal yang
tidak boleh terlewatkan. Sebuah teladan yang seharusnya kita terapkan
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 22
dalam
kehidupan
kita,
baik
dalam
berdakwah
maupun
dalam
menyampaikan kebaikan di setiap kesempatan.
Metode dakwah yang beliau ajarkan tidak hanya berbicara tentang
menyampaikan
amar
ma’ruf
nahi
munkar,
tetapi
juga
bagaimana
menjadikan dakwah itu hidup dalam hati para pendengarnya. Syaikhuna
menjelaskan tentang sebuah teori yang sangat berharga, yang terdapat
dalam kitab Fawaidul Makkiyah. Teori ini dikenal dengan nama Malaka,
yang mengacu pada kemampuan akal dalam menangkap dan mengolah
ilmu. Beliau menyebutkan tiga aspek dari teori Malaka yang harus dimiliki
oleh seorang Da’i agar dakwahnya benar-benar berdaya:
1. Malakatul Istishol, yang berarti kemampuan untuk menangkap
segala yang ditulis dan dibaca oleh orang lain. Seorang Da’i yang
memiliki kemampuan ini dapat menyerap ilmu dengan cepat dan
luas, menguasai bahan dakwahnya dengan baik, dan menyampaikan
pesan secara tepat.
2. Malakatul Istikhoroj, artinya kemampuan untuk memahami segala
makna yang tersirat. Seorang Da’i tidak hanya membaca kata-kata
yang tampak di permukaan, tetapi juga mampu menggali dan
memahami makna yang terkandung di dalamnya, baik yang tersurat
maupun yang tersirat. Ini adalah kemampuan untuk mendalami ilmu
dengan lebih dalam dan memahaminya secara kontekstual.
3. Malakatul
Istihdlor,
mengembangkan
segala
yang
berarti
yang
telah
kemampuan
dipelajari
dan
untuk
mampu
memfatwakannya. Seorang Da’i yang memiliki kemampuan ini tidak
hanya
menguasai
ilmu
yang
diajarkan,
tetapi
juga
mampu
mengembangkannya, memberikan fatwa yang sesuai dengan situasi,
dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Apabila teori Malaka ini terkumpul dalam diri seorang Da’i, maka
sempurnalah
kedudukannya
sebagai
seorang
Mubaligh
yang
dapat
diandalkan untuk menyampaikan dakwah dengan baik. Dalam setiap
kesempatan, Syaikhuna selalu mengingatkan untuk memohon pertolongan
kepada
Allah
agar
diberi
kemudahan
dalam
berdakwah.
Beliau
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 23
mengajarkan doa yang selalu beliau baca sebelum berdiri untuk ceramah,
sebuah doa yang sarat dengan pengharapan dan keikhlasan:
َ ْ
‫س يِ ِنإ َّ مل َّه للا‬
‫َ َ َ ُكل َ َّ َا‬
‫س ِِّ َ نِا‬
‫َُْا َِِّ ِن َا‬
‫كُ ِ َا‬
‫َىمَا ََُ َ َِ ِ َا‬
ُ ََّ ُ َّ ‫س‬
َّ ‫ْا َُ َك‬
َ َ ُ‫س َّ ُ ََّ ُك‬
‫َّس َُ ُ ا‬
‫ك ََ ِا‬
‫ش َ َ ُا‬
‫ْ ُر ِكص ُ َ ُح َك َا‬
‫ى َِِّّ ُ َ نِا‬
‫َّ ِ َََّ َا‬
‫ن َّ ل‬
‫كَّ ِإ َُُ َّ َ ِ ن‬
ِ َ
َ ِ ‫ََُّاََّ َُُ َ ُل َع َم ِإ‬
َ ‫ك َاك‬
ِ‫إ‬
‫ََّ َاا‬
‫َّ لكَّ ِ َِ نَا َ َ ُك َ َال ََّ ِِّ َك ُ ََُِ َا‬
ِ ‫س ِِّ ِاه َى‬
"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan hak NabiMu yang terpilih (Al-Musthofa), Rasul-Mu yang diridhoi (Al-Murtadlo), dan
kepercayaan-Mu atas wahyu dari langit, agar Engkau melapangkan dadaku,
memudahkan lisanku, dan menjadikanku seorang yang berbicara dengan
kebenaran, mengetahui ilmu, serta mengamalkannya, dengan rahmat-Mu,
wahai Dzat yang Maha Penyayang dari segala yang penyayang."
AKTIVITAS DI TENGAH-TENGAH MASYARAKAT
Sebagai
seorang
ulama
yang
dihadirkan
untuk
memberikan
pencerahan bagi umat, Syaikhuna menjadi sosok yang sangat dibutuhkan
oleh
berbagai
kalangan—baik
oleh
pemerintah,
para
kyai,
santri,
mahasiswa, maupun masyarakat pada umumnya. Aktivitas keseharian
beliau sungguh padat, tidak hanya terfokus pada dakwah dan ilmu, tetapi
juga pada berbagai peran sosial yang begitu penting dalam kehidupan
masyarakat.
Perjalanan karir beliau tidak dimulai dengan ambisi atau cita-cita
pribadi, melainkan lebih kepada panggilan untuk melayani masyarakat.
Setelah menyelesaikan pendidikan di pondok pesantren, beliau menetap di
Bojongmeron, sebuah kampung yang menjadi saksi perjalanan hidup dan
dedikasi beliau. Kehidupan beliau yang sederhana dimulai dengan
berdagang kecil-kecilan, hingga akhirnya pada tanggal 2 Januari 1967,
beliau mendapat amanah yang tak terduga—menjadi lurah. Jabatan ini
bukanlah suatu hal yang beliau inginkan, melainkan sebuah panggilan dari
pemerintah yang melihat keteladanan beliau dalam berbuat baik untuk
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 24
masyarakat, serta desakan kuat dari masyarakat yang ingin beliau
memimpin dengan bijak.
Dengan rasa tanggung jawab yang tinggi, beliau menerima amanah
ini, meski tidak ada dalam bayangannya untuk menjadi lurah. Selama lebih
dari dua dekade—tepatnya 21 tahun, beliau mengemban tugas tersebut,
menjalani masa jabatan hingga 14 April 1988. Selama itu, beliau
memimpin dengan penuh hikmah, tidak sekadar sebagai seorang lurah,
namun juga sebagai seorang ulama yang senantiasa memberi contoh
dalam setiap langkah kehidupan. Kepemimpinan beliau bukan hanya
berbasis pada struktur jabatan, tetapi lebih kepada nilai-nilai integritas,
kesabaran, dan pengabdian yang mendalam pada masyarakat.
Bagi kita, perjalanan beliau mengajarkan bahwa pemimpin sejati
adalah mereka yang berkomitmen untuk melayani, meski dengan jalan
yang tidak direncanakan. Pemimpin bukanlah yang mencari gelar atau
kedudukan, melainkan yang siap mengemban tanggung jawab dengan
tulus dan penuh kasih. Semoga kita bisa meneladani semangat pengabdian
beliau dalam menjalani peran kita masing-masing di tengah-tengah
masyarakat.
Meskipun
Syaikhuna
telah
menerima
amanah
sebagai
lurah,
ayahandanya, yang sejak awal mengharapkan beliau menjadi seorang kyai
yang berkhidmat di tengah masyarakat sebagai ulama, tidak dapat
menahan perasaan sedih. Keinginan ayahandanya yang tulus agar beliau
menjadi seorang pemimpin spiritual—seorang kyai yang membimbing umat
dengan ilmu dan akhlak—tetap menghiasi setiap doanya. Namun,
meskipun hatinya berat, beliau tetap melaksanakan tugasnya dengan
penuh tanggung jawab, sama seperti yang beliau lakukan dahulu dalam
perjalanan hidup yang penuh pengorbanan.
Dengan
kehendak
Allah
SWT,
setelah
lebih
dari
dua
dekade
mengemban tugas sebagai lurah, Syaikhuna akhirnya berhenti dari jabatan
tersebut. Namun, justru pada saat inilah kehidupan beliau memasuki babak
baru yang penuh dengan makna. Beban jabatan yang dahulu menyita
banyak waktunya kini memberi ruang lebih besar untuk fokus pada
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 25
pembinaan umat. Di tengah-tengah masyarakat, beliau semakin aktif
mengajarkan ilmu, memberi bimbingan, dan memperkuat fondasi spiritual
umat. Tidak hanya itu, beliau juga lebih intens dalam membangun dan
mengembangkan Pondok Pesantren Al Barkah, yang menjadi pusat
pendidikan dan pembelajaran bagi banyak orang yang mencari ilmu.
Dengan melepaskan jabatan sebagai lurah, beliau justru menemukan
cara yang lebih tulus dan penuh pengabdian untuk melayani umat.
Keputusan ini tidak hanya mengubah arah hidup beliau, tetapi juga
memberikan
dampak
yang
lebih
besar
pada
lingkungan
sekitar,
menghidupkan semangat pembelajaran, dan mempererat ikatan antara
ilmu dan masyarakat.
Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa terkadang takdir membawa
kita pada jalan yang berbeda dari yang kita rencanakan. Namun, setiap
jalan yang diambil dengan niat baik dan tekad untuk melayani pasti akan
mendatangkan berkah yang lebih besar. Seperti Syaikhuna, kita dapat
belajar untuk menerima takdir dengan ikhlas, terus berkarya di tempat
yang paling bermanfaat bagi umat, dan mengabdi pada Allah dengan cara
yang paling mulia.
Pondok Pesantren Al Barkah tidak lahir dalam semalam; lebih
merupakan hasil dari perjuangan panjang yang penuh dengan tantangan.
Pada tahun 1963, dengan segala keterbatasan, pondok pesantren ini
berdiri. Saat itu, madrasah yang ada hanya sebuah bangunan sederhana
dengan jumlah santri yang masih terbilang sedikit—hanya sekitar 40 orang.
Namun, di balik angka kecil tersebut tersembunyi sebuah cita-cita besar
yang terus digalang dengan tekad dan keinginan tulus untuk melahirkan
generasi penerus yang berilmu, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi
umat.
Perjalanan
mendirikan
Al
Barkah
bukanlah
tanpa
hambatan.
Syaikhuna menghadapi berbagai rintangan, mulai dari keterbatasan
fasilitas hingga tantangan dalam membangun kepercayaan masyarakat.
Namun, berkat kesabaran, kegigihan, dan doa yang tak pernah putus,
bersama dengan bantuan dari para sahabat setia—Ustadz H. Azari Hasyim,
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 26
Ustadz Ibih Qosim, Ustadz Acep Sudjana, serta dukungan dari para donatur
dermawan seperti Bapak H. Hudaya Karim—Al Barkah akhirnya bisa berdiri
dengan kokoh. Pondok pesantren ini tidak hanya menjadi tempat untuk
belajar, tetapi juga menjadi pusat pemberdayaan umat yang terus
berkembang, meski dengan langkah yang perlahan namun pasti.
Pondok Pesantren Al Barkah kini bukan hanya sekadar bangunan fisik,
tetapi simbol dari ketekunan dan pengorbanan yang luar biasa. Ia adalah
karya bersama yang lahir dari niat ikhlas untuk mendidik dan membimbing
umat. Setiap batu-bata yang terpasang, setiap langkah yang diambil,
adalah bagian dari perjuangan tanpa henti untuk memberi manfaat lebih
luas bagi umat. Kisah pendirian Al Barkah mengajarkan kita bahwa
meskipun kita memulai dengan keterbatasan, dengan tekad, kerja keras,
dan dukungan yang tulus, kita bisa menciptakan perubahan yang besar,
yang manfaatnya terasa bagi banyak orang.
Dari perjalanan ini, kita diajak untuk meneladani semangat Syaikhuna
yang tidak pernah mengenal kata menyerah, serta keikhlasan yang
mendorongnya untuk terus berjuang demi umat. Pondok Pesantren Al
Barkah adalah bukti nyata bahwa dengan niat baik, perjuangan tanpa lelah,
dan kerjasama yang solid, segala sesuatu yang kita cita-citakan bisa
terwujud, meskipun perjalanan itu penuh liku.
Syaikhuna sangat berharap agar Pondok Pesantren Al Barkah, di masa
depan, tidak hanya terus berkembang, tetapi juga tetap teguh pada akar
tradisi yang telah membentuknya. Dengan harapan yang tulus, beliau
berkeinginan agar pesantren ini tetap mengedepankan sistem dan metode
pembelajaran salafiyah yang sudah terbukti keberhasilannya. Motto Pondok
Pesantren Al Barkah yang terus dipegang teguh adalah:
َّ ُْ ِ ُ َ َّ‫َّْ ِصِااَّ ُاَ ِر ِلاا َىمَاا‬
‫لا‬
ُ َ َّْ
‫ااَُّْ َ َُاَّااَّ ل‬
َ ‫ْمَصِاا َِِّّ ُ َل ِر ِر‬
"Mempertahankan hal lama yang masih baik, dan mengambil hal baru
yang lebih baik."
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 27
Motto ini bukan sekadar kalimat, tetapi refleksi dari semangat
Syaikhuna yang ingin mempertahankan nilai-nilai luhur yang ada sembari
terus membuka diri untuk kemajuan yang bermanfaat. Beliau tidak pernah
berhenti berinovasi dalam upaya membawa pondok pesantren ini menuju
masa depan yang lebih gemilang, tanpa mengorbankan fondasi spiritual
yang telah tertanam dalam setiap ajaran.
Untuk mewujudkan cita-cita mulia tersebut, Pondok Pesantren Al
Barkah memiliki berbagai tujuan yang sangat visioner, di antaranya:
a. Meningkatkan pelayanan yang lebih baik kepada umat, dengan
membuka ruang yang lebih luas bagi siapa saja yang ingin menuntut
ilmu, tanpa terkecuali.
b. Menampung pelajar-pelajar dari luar kota, memberikan kesempatan
bagi siapa saja yang ingin mengkaji agama secara mendalam, serta
menumbuhkan
semangat
intelektual
dan
keislaman
yang
mencerahkan.
Pondok
Pesantren
Al
Barkah,
sebagai
lembaga
yang
terus
berkembang, mendapat dukungan dari para ulama dan pengajar yang luar
biasa, di antaranya:
1. KH Mahmud Rozy (almarhum)
2. KH Ir. Iman Muqoddas (almarhum)
3. KH Ibih Qosim (almarhum)
4. Hj. Yoyoh Sobiroh (almarhumah)
5. Ust. Deni Majdudin, S.Pd.I. (almarhum)
6. Ust. Ari Fakhridin, S.Pd.I. (almarhum)
7. Ati Fahriati, S.Pd.
8. Hj. Nining Azizah
9. Ust. Budi Muhammad
10. Ust. Aldi Fakhrurrozy
11. Dan sejumlah asatidz lainnya yang turut berperan besar dalam
memberikan pencerahan kepada santri.
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 28
Selain itu, Syaikhuna juga aktif dalam berbagai organisasi Islam yang
berperan penting dalam perkembangan dakwah dan pendidikan Islam di
Kabupaten Cianjur, antara lain:
1.
Ketua Komisi Fatwa dan Hukum MUI Kabupaten Cianjur.
2.
Rois Syuriah NU Kabupaten Cianjur.
3.
Ketua Dewan Pakar ICMI Kabupaten Cianjur.
4.
Pengasuh dan Mursyid Pengajian Ihyaul Ihya.
5.
Ketua DKM Masjid Jami Al Barkah.
6.
Guru Besar di Pondok Pesantren Al Ihya Bogor.
7.
Dosen di STAIS Al I’anah, sekaligus salah satu pendiri STAIS.
8.
Ketua BAZ Kabupaten Cianjur.
9.
Rektor STAINU Cianjur.
10. Anggota DPRD Kabupaten Cianjur selama dua periode.
Keberagaman peran yang diemban Syaikhuna ini mencerminkan
betapa beliau tidak hanya menjadi tokoh penting dalam lingkup pondok
pesantren, tetapi juga figur sentral dalam membentuk arah kebijakan
keagamaan dan sosial di masyarakat. Semua pencapaian ini, meskipun
terkesan luar biasa, sejatinya merupakan buah dari kerja keras, ketulusan,
dan niat beliau yang senantiasa diarahkan untuk kebaikan umat. Setiap
langkah beliau adalah contoh hidup dari dedikasi yang tulus untuk
memperbaiki dunia dengan ilmu dan amal yang bermanfaat.
Semangat beliau dalam berdakwah dan mengabdi kepada masyarakat
mengingatkan kita akan pentingnya menyeimbangkan antara ilmu dan
amal, antara tradisi dan inovasi, serta antara kepentingan pribadi dan
kepentingan umat. Pondok Pesantren Al Barkah dan segala aktivitas yang
dilakukannya adalah warisan hidup yang harus kita jaga, kita teladani, dan
kita lanjutkan demi generasi yang lebih baik.
Selain segala aktivitas yang telah disebutkan sebelumnya, Syaikhuna
juga tidak pernah lelah mengisi pengajian di berbagai instansi, baik
pemerintahan
maupun
swasta.
Beliau
menyempatkan
diri
untuk
memberikan ceramah di kalangan alim ulama di kecamatan Ciranjang,
Karangtengah, Mande, Cianjur, Cipanas, dan daerah lainnya. Meskipun
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 29
jadwalnya yang sangat padat, Syaikhuna tetap tidak melupakan tanggung
jawabnya di pondok pesantren, terutama dalam membimbing para santri
dan keluarganya dengan penuh kasih sayang dan dedikasi.
Yang lebih menggugah hati kita adalah kenyataan bahwa pengaruh
beliau tidak berhenti pada dirinya sendiri. Banyak alumni Pondok Pesantren
Al Barkah yang kini telah sukses mendirikan pondok pesantren, majelis
taklim, dan lembaga-lembaga pendidikan di berbagai penjuru tanah air,
seperti Batam, Bandung, Sukabumi, Cipanas, Medan, dan banyak wilayah
lainnya. Beberapa di antaranya bahkan memilih nama yang berbeda dalam
menamai lembaganya, namun tujuan mulia untuk meneruskan ajaran dan
semangat yang ditanamkan oleh Syaikhuna tetaplah sama.
Semoga, di masa depan, semakin banyak alumni Al Barkah yang
menyebarkan cahaya ilmu dengan mendirikan lebih banyak pondok
pesantren dan lembaga pendidikan lainnya, sehingga warisan ilmu dan
keberkahan
yang
Syaikhuna
tinggalkan
dapat
terus
tumbuh
dan
berkembang, membawa manfaat bagi umat dan bangsa.
Di tengah kesibukannya yang padat, Syaikhuna tak pernah melupakan
pentingnya menyebarkan ilmu melalui tulisan. Beliau banyak menulis dan
menerjemahkan berbagai kitab ke dalam bahasa Sunda dan Indonesia
untuk mempermudah masyarakat dalam memahami ajaran Islam. Karyakarya beliau tidak hanya menjadi pedoman bagi para santri, tetapi juga
bagi umat secara luas. Berikut adalah sebagian dari karya-karya beliau
yang patut kita jadikan warisan berharga:
1. Terjemah Tanwirul Hija’
2. Terjemah Aqidatul Awwam
3. Terjemah Nadzom Burdah
4. Terjemah Jauharutt Tauhid
5. Asmaul Husna
6. Fiqih Zakat
7. Fiqih Haji
8. Bimbingan Ziarah
9. Bimbingan Mengurus Mayit
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 30
10. Arrisalah fi Adilatimasaili Zakat
11. Khutbah Jum’at (2 Jilid)
12. Fiqih Mua’amalah
13. Adabul Abidin
14. Terjemah Fi Zhilalil Ka’bah
15. Tajhizul Janaizil Muslim
16. Babun Nikah
17. Masuknya Islam di Jawa Barat
18. Ahlus Sunnah Wal Jama’ah
Karya-karya beliau tidak hanya menyebarkan ilmu, tetapi juga menjadi
jembatan bagi umat untuk memahami ajaran Islam dengan cara yang lebih
mendalam dan aplikatif. Semoga kita semua dapat meneladani semangat
beliau dalam menuntut ilmu dan berbagi kebaikan dengan sesama.
KEBERHASILAN DALAM MEMBIMBING PENGAJIAN
IHYA UL IHYA
Sejak pertama kali memulai bimbingan Pengajian Ihyaul Ihya pada 1
Juli 1970, Syaikhuna telah menunjukkan dedikasi yang luar biasa dalam
membimbing umat, dengan istiqomah yang tak tergoyahkan. Pengajian
yang pada awalnya hanya diikuti oleh segelintir orang di satu tempat, kini
berkembang menjadi sebuah wadah ilmu yang menyatukan berbagai
lapisan masyarakat, baik dari Cianjur Kota maupun sekitarnya.
Perjalanan panjang ini bukan sekadar tentang jumlah orang yang
hadir, namun lebih kepada kualitas ukhuwah yang terjalin, semangat
keilmuan yang tumbuh, dan kesadaran spiritual yang semakin meluas.
Ihyaul Ihya telah menjelma menjadi darah daging bagi masyarakat Cianjur,
memberikan cahaya pengetahuan dan pencerahan bagi jiwa yang dahaga
akan kebenaran. Pengajian ini bukan hanya sekadar rutinitas, namun telah
menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat, yang tak
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 31
hanya memenuhi kebutuhan ilmu, namun juga mempererat tali silaturahim
antar sesama.
Pengajian Ihya Ul Ihya Syaikhuna dengan para Kiayi dan Ajengan
di Pondok Pesantren Al Barkah Kabupaten Cianjur
Banyak yang menilai pengajian ini sebagai salah satu contoh sukses di
tengah zaman yang terus berkembang. Keberhasilan tersebut tidak
terlepas dari keteladanan dan semangat yang ditanamkan oleh Syaikhuna,
yang selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi umat, tanpa mengenal
lelah. Sebuah pengajian yang tak hanya menanamkan ilmu, tetapi juga
membentuk karakter dan memperkuat iman, menjadikannya salah satu
pengajian yang patut dicontoh oleh generasi sekarang.
Keberadaan Syaikhuna dalam pengajian Ihyaul Ihya bukan hanya
sebagai pengajar, melainkan juga sebagai mursyid yang memandu hatihati jamaah menuju cahaya spiritual. Dengan kedalaman ilmunya,
terutama melalui kitab-kitab monumental seperti Ihya Ulumuddin, Qolyubi,
dan Hikam, beliau berhasil menanamkan rasa cinta yang mendalam
terhadap ilmu, sehingga jamaah merasa terikat erat dan terus setia
mengikuti setiap kajian yang disampaikan.
Pengajian ini, yang memiliki kekhasan dalam memadukan ajaran
Tasawuf dan Fiqih, telah memperoleh pengakuan luas dari para ulama di
Cianjur. Tak jarang, mereka memuji kemampuan Syaikhuna dalam
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 32
menyampaikan
mendalam,
ilmu
bahkan
dengan
ada
cara
yang
yang
begitu
berpendapat
sederhana
bahwa
beliau
namun
mampu
mengungkapkan ajaran-ajaran tinggi dalam kitab Ihya dengan bahasa
Sunda
yang
begitu
memikat,
hingga
membuat
setiap
kata
yang
disampaikan dapat diterima dengan mudah oleh seluruh jamaah, tanpa ada
yang tertinggal.
Dalam mengasuh pengajian yang penuh berkah ini, Syaikhuna tak
sendiri. Beliau dibantu oleh para asatidz yang sangat mendukung
kelancaran kajian, di antaranya:
1. KH R Hasan (almarhum)
2. H Jailani (almarhum)
3. KH Aam Abdussalam (almarhum)
4. KH Mahmud Rozy (almarhum)
5. KH Ibih Qosim (almarhum)
6. K Teten Kamaluddin Azhuri (almarhum)
7. KH. Muh. Zaenal Abidin (almarhum)
8. Ust. Ma’mun Abdullah (almarhum)
9. K Deni Majduddin (almarhum)
10. KH Muhammad Zainuddin
11. KH M Deni Ramdani
12. K Adi Surya
13. K Budi Muhammad
14. K Aldi Fakhrurrozy
Kehadiran mereka tidak hanya memperkaya pengajian ini, namun juga
memberikan kontribusi besar dalam menciptakan suasana ilmiah yang
penuh
kedamaian
dan
pemahaman
mendalam
terhadap
agama.
Keberhasilan ini merupakan buah dari kerjasama yang harmonis antara
guru dan jamaah yang saling mendukung untuk terus berbenah dan
berkembang dalam ilmu dan amal.
Almarhum Mama KH Abdullah bin Nuh, seorang ulama besar yang
penuh kebijaksanaan, saat mendengarkan penjelasan Syaikhuna dalam
pengajian kitab Ihya Ulumuddin, terkesan dengan kedalaman ilmu dan
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 33
metode penyampaian yang begitu memikat hati. Beliau merasakan bahwa
cara Syaikhuna mengungkapkan ilmu dapat menyentuh jiwa setiap
pendengarnya, membuatnya tertarik untuk lebih mendalami setiap kata
yang diucapkan.
Dengan rasa penuh penghargaan, Mama memberikan saran yang bijak
kepada Syaikhuna, agar pengajian tersebut tidak hanya tetap berlangsung
di satu tempat, melainkan juga berpindah-pindah dari satu tempat ke
tempat lain. Saran ini datang bukan hanya dari pertimbangan pragmatis,
tetapi juga dari visi yang jauh ke depan, agar semakin banyak umat yang
dapat merasakan manfaat dari pengajian yang penuh berkah ini.
KH R. Abdul Halim, Ketua MUI Kabupaten Cianjur, yang telah
menjalin persahabatan lebih dari 30 tahun dengan Syaikhuna, menyatakan
dengan tegas bahwa keilmuan Syaikhuna di wilayah Cianjur tidak perlu
diragukan lagi. Beliau telah terbukti menjadi rujukan utama, diamanahi
untuk mengajar dan membimbing para ulama di berbagai daerah. Dengan
penuh penghargaan, KH Abdul Halim mengungkapkan bahwa selama
bertahun-tahun bergaul dengan Syaikhuna, beliau tidak pernah mengalami
kesulitan dalam memberikan jawaban atau menerjemahkan persoalan,
baik itu berkaitan dengan hukum agama maupun sejarah.
"Yang paling saya kagumi," kata KH Abdul Halim, "adalah sikap tegas
dan jelas beliau dalam menetapkan sesuatu. Kejelasan tersebut bukan
hanya karena kefasihan dalam ilmu, tetapi juga karena keyakinan yang
sangat kuat terhadap kebenaran yang beliau miliki."
Syaikhuna, dengan penuh dedikasi, melaksanakan pengajian Ihya
Ulumuddin setiap pagi, dengan jadwal yang telah teratur dan terencana,
seperti halnya air
yang mengalir tanpa henti. Pengajian tersebut
dilaksanakan secara bergilir di beberapa tempat yang telah ditetapkan:

Hari Jum’at: di Pondok Pesantren Al Barkah

Hari Minggu: di Pondok Pesantren Al Muthmainnah, Bojongherang

Hari Selasa: di Masjid Agung Kaum
Selain itu, pengajian ini juga berlangsung secara bergilir dari masjid
ke masjid dan musholla ke musholla di seluruh Cianjur, dimulai pukul 06.00
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 34
hingga 07.00 WIB. Pengajian yang penuh berkah ini tidak hanya mengkaji
kitab Ihya Ulumuddin, tetapi juga kitab-kitab fiqih lainnya seperti Fathul
Mu’in, Qolyubi, Hikam, dan berbagai karya ilmiah lainnya.
Setiap pengajian selalu dihadiri oleh jamaah yang setia, dengan
jumlah peserta yang mencapai lebih dari 300 orang, bahkan kadang
melebihi itu. Semua itu menunjukkan betapa dahaganya masyarakat
Cianjur akan ilmu yang berkualitas dan mendalam. Mari kita berdoa agar
pengajian ini terus berjalan dengan lancar dan semakin banyak jamaah
yang mendapatkan manfaat dari ilmu yang diajarkan.
BEBERAPA NASEHAT KEPADA PARA SANTRI
Setiap kali Syaikhuna memberikan pelajaran kepada para santrinya,
kata-kata beliau selalu penuh dengan mutiara hikmah yang dapat
menembus hati dan menyentuh jiwa. Nasehat-nasehat beliau bukan hanya
sekadar petuah, tetapi juga bekal berharga yang akan terus mengarahkan
langkah hidup kita. Berikut adalah beberapa nasehat beliau yang menjadi
pegangan dan bisa kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari:
1. Usia terbaik untuk belajar adalah antara tujuh belas hingga
tiga puluh tahun. Di sinilah waktu yang paling subur untuk
menggali ilmu dan menanamkan fondasi yang kokoh bagi masa
depan.
2. Apa pun yang kamu dengar dalam pelajaran (ilmu), catatlah.
Menulis adalah kunci untuk mengingat dan mendalami ilmu yang
diperoleh.
3. Dosa itu adalah penghalang bagi kita untuk mendapatkan
ilmu agama dengan baik. Jauhkanlah diri dari dosa agar hati tetap
lapang untuk menerima ilmu.
4. Tidak cukup hanya seorang kyai untuk memimpin pesantren
di zaman ini. Pesantren juga membutuhkan bantuan dari arsitek,
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 35
pengusaha, dan pemikir yang mahir untuk berkembang dan
bertahan.
5. Lestarikanlah pesantren Al Barkah hingga akhir zaman. Ini
adalah warisan yang harus dijaga dan diteruskan kepada generasi
berikutnya.
6. Berdakwah yang baik adalah menyampaikan agama dengan
prinsip yang kuat, berdasarkan Ahlussunnah wal Jama’ah, sambil
menyesuaikan materi dengan kebutuhan jamaah.
7. Berbaktilah kepada orang tuamu, karena di kemudian hari
anakmu akan berbakti kepadamu. Apa yang kita tanamkan, itu pula
yang akan kita petik.
8. Jika orang lain beribadah dengan fisik dan harta, maka
beribadahlah kamu dengan ilmu. Ilmu adalah amalan yang tidak
pernah habis, bahkan semakin dilaksanakan, semakin bertambah
keberkahannya.
9. Ingatlah perkataan Imam Kholil bin Ahmad mengenai empat
tipe manusia dalam ilmu:
o
Yang berilmu tetapi tidak sadar, seperti orang yang tidur,
maka bangunkanlah dia.
o
Yang berilmu dan sadar, tetapi merasa tidak berilmu, maka
didiklah dia.
o
Yang berilmu dan sadar berilmu, jadikanlah dia gurumu.
o
Yang tidak berilmu tetapi merasa berilmu, maka jauhilah
dia, karena ia adalah orang yang jahil.
10. Ketahuilah bahwa Ahlussunnah terdiri dari tiga kelompok:

Ahlul Hadits, yaitu para sahabat dan tabi’in.

Ahlul Wijdan, yaitu Aulia (Mukasyafin).
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 36

Ahlul Kalam, yaitu mereka yang mempelajari sifat-sifat Allah,
seperti sifat 20 atau sifat 13.
11. Ingatlah bahwa hidup ini dapat dipermudah dan diperkaya
dengan tiga hal:

Teknologi akan membuat hidup kita lebih mudah.

Seni akan membuat hidup lebih indah.

Agama akan menjadikan hidup kita sebagai ibadah.
12. Berbuatlah
kebaikan
selama
masih
memungkinkan,
dan
tetaplah beramal ma’ruf nahi munkar, meskipun kita belum melihat
hasilnya.
Setiap
amal
yang
dilakukan
dengan
ikhlas
akan
memberikan dampak yang baik di masa depan.
Dengan nasehat-nasehat tersebut, Syaikhuna mengajarkan kita untuk
hidup dengan penuh kesadaran, ilmu, dan kebijaksanaan. Nasehat beliau
adalah cahaya yang menerangi jalan kehidupan, dan semoga kita bisa
meneladani semangat beliau dalam mengamalkan ilmu, berbakti, dan
berbuat kebaikan bagi umat.
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 37
Runtuyan Syaihuna Mama KH Abdul Kodir Rozy
Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 38
Download