KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur hanya kita haturkan ke hadlirat Allah SWT, kemudian sholawat serta salam semoga terlimpah-curahkan kepada Nabi Muhammmad SAW beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya. Dengan penuh rasa rendah hati, penulis menyusun buku sederhana ini yang mengisahkan perjalanan hidup seorang ulama yang faqih, bijaksana, dan berhasil menebarkan dakwahnya dengan penuh hikmah di tengah keluarga maupun masyarakat luas. Buku ini, yang berjudul Riwayat Hidup Guru Mursyid Kita Tercinta, Mama KH Abdul Kodir Rozy, merupakan tahap kedua dalam proses penerbitannya dan akan terus disempurnakan di masa mendatang. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan buku ini masih jauh dari kata sempurna. Penerbitan buku ini tidak lepas dari dukungan keluarga besar Syaikhuna, para asatidz, serta sahabat-sahabat di Pondok Pesantren AlBarkah, Cianjur. Dengan kehadiran buku ini, penulis berharap dapat memberikan inspirasi, menumbuhkan semangat belajar, serta memperluas wawasan berpikir bagi para santri, alumni, dan masyarakat umum. Semoga karya ini dapat meningkatkan kecintaan kita kepada para ulama dan menjadi teladan dari perjalanan hidup mereka, khususnya perjalanan hidup Guru Mursyid kita yang mulia, Al-Mukarrom Mama KH Abdul Kodir Rozy. Harapan terbesar penulis adalah agar buku ini menjadi wasilah untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat dan berkah. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin. Batam, Shafar 1432 H Januari 2011 Penulis Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 1 SAMBUTAN KETUA MAJELIS ULAMA INDONESIA KABUPATEN CIANJUR Dengan rasa syukur Alhamdulillah saya sampaikan dan gembira atas hasil karya tulis Saudara Rusli Abdul Wahid tentang riwayat hidup Al Mukarrom KH Abdul Kodir Rozy. Pada saat gencar-gencarnya pembangunan yang dilaksanakan oleh bangsa Indonesia dimana bangsa kita tidak saja mencita-citakan kehidupan materi tapi juga sedang menengahkan nilainilai kekayaan rohani yang bersumber pada keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, maka dengan diterbitkannnya riwayat hidup beliau (KH Abdul Kodir Rozy) para pencari ilmu agama Islam khususnya bagi para santri santriyat bisa meneladaninya. Menurut pandangan Islam sedikitnya ada empat program yang harus dilaksanakan oleh umat Islam : Pertama : Menggandrungi kebahagiaan akhirat yang langgeng dengan beramal sholeh. Kedua : Tidak melupakan urusan kehidupan dunia karena dunia itu tempat bercocok tanam untuk akhirat. Ketiga : Berbuat sosial kepada sesama. Keempat : Tidak melakukan sesuatu perbuatan yang menjadikan bencana bagi dirinya dan bagi sesamanya. Kesemuanya ini telah digambarkan dalam riwayat Al Mukarrom KH Abdul Kodir Rozy yang saya mengenal beliau sudah lebih dari 30 tahun dan saya selalu mengagumi sikap-sikap beliau dalam menghadapi segala permasalahan baik masalah dunia maupun masalah agama, semua bisa diselesaikan dengan baik. Hal ini menunjukkan betapa luasnya ilmu beliau meskipun pendidikan formal beliau tidak begitu tinggi. Demikianlah sekedar sambutan saya, terimakasih. Ketua MUI Kabupaten Cianjur KH R Abdul Halim Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 2 SEJARAH KELAHIRAN DAN NASAB KETURUNAN Di sebuah lereng Gunung Gede yang menghijau bak permadani alam, dengan udara sejuk yang menusuk lembut ke dalam sukma, terbentang kebun-kebun teh yang tersusun rapi, menghadirkan pemandangan yang memesona mata. Di tengah keheningan dan kesejukan itu, tersembunyi sebuah kampung kecil yang memancarkan aura kedamaian dan kesejahteraan. Kampung ini, jauh dari hiruk-pikuk kota, dihuni oleh masyarakat yang hidup bersahaja dengan mayoritas menggantungkan penghidupan mereka sebagai petani. Adat istiadat Sunda yang kental menambah keunikan daerah ini, memperkuat nuansa harmoni antara manusia, alam, dan nilai-nilai islami yang mereka junjung tinggi. Pada masa penjajahan Belanda, ketika darah para pejuang mengalir demi mempertahankan agama dan tanah air, Allah menakdirkan lahirnya seorang bayi yang kelak menjadi cikal bakal warotsatul anbiya—pewaris perjuangan para nabi. Tepat pada hari Jumat, 15 September 1935 Masehi, bertepatan dengan 29 Jumadil Akhir 1354 Hijriyah, di Kampung Cibadak Pasantren, Desa Sukanagalih, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 3 seorang cahaya lahir ke dunia. Bayi itu diberi nama Abdul Kodir Rozy, yang kelak dikenal sebagai Guru Mursyid kita, Mama KH Abdul Kodir Rozy. Beliau adalah putra kelima dari sembilan bersaudara, buah hati dari pasangan H. Fakhrur Rozy bin KH Muhammad Yunus dan Hj. Hindun binti Abdurrahman. Di antara sembilan bersaudara yang terlahir dalam keluarga sederhana ini, beliau adalah putra pertama yang tumbuh hingga dewasa. Dalam tradisi Sunda, anak sulung yang menjadi harapan keluarga dikenal dengan sebutan cikal bugang—sosok yang sering kali dipandang sebagai tonggak harapan dan penerus cita-cita kedua orang tua. Keberadaan beliau membawa kebahagiaan dan juga tanggung jawab besar bagi keluarganya. Sebagai cikal bugang, beliau mendapatkan perhatian khusus dari kedua orang tuanya, yang tak henti-hentinya berikhtiar demi masa depan yang cerah baginya. Saat ibunda beliau mengandung, ayahandanya, H. Fakhrur Rozy, dengan penuh kasih dan pengharapan, sering membawa istrinya menemui para ulama terkemuka. Dengan hati yang dipenuhi doa, mereka memohon keberkahan kepada Allah, agar janin yang dikandung itu lahir dengan selamat, diberkahi panjang usia, dan kelak menjadi anak yang saleh. Momen-momen penuh harap itu menjadi gambaran betapa besar kecintaan dan ketulusan doa kedua orang tuanya. Mereka sadar, membesarkan seorang anak adalah amanah yang agung, dan doa menjadi senjata terkuat dalam membentuk kehidupan yang penuh berkah. Perjuangan ini menjadi fondasi awal dari perjalanan hidup beliau yang kelak tumbuh sebagai pribadi yang menginspirasi banyak orang. Setelah sembilan bulan mengandung dengan penuh harapan dan doa, tibalah momen yang dinanti-nantikan. Seorang bayi laki-laki lahir ke dunia, membawa kebahagiaan yang tiada tara bagi kedua orang tuanya. Tangisan pertama sang bayi seakan menjadi simfoni syukur yang menggema di hati mereka, sebuah jawaban atas doa-doa yang tak henti dipanjatkan selama ini. Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 4 Silsilah Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy Sayyidina Muhammad Rosulillah Shollallaahu 'Alaihi Wasallam Siti Fatimah Az Zahro Sayyidina Husain As Sibthi Sayyidina Ali Zainal Abidin Sayyidina Muhammad Al Baqir Sayyidina Dja'far Asshodiq Sayyidina Muhammad Abu 'Isa Sayyidina 'Isa Annaqieb Sayyidina Ahmad bin 'Isa Almuhajir Sayyidina Abdillah (Ubaidillah) Sayyidina 'Alawi Sayyidina Ali Khola' Qotsam Sayyidina Muhammad Shohibul Mirbath Sayyidina 'Alawi Sayyidina Abdulmalik Sayyidina Abdulloh Khon Syahansyah Sayyidina Ahmad Syah Jalal Sayyidina Jamaluddin Al Akbar Sayyidina Nurul 'Alam Ali Sayyidina Umdatuddin Sayyidina Syarif Hidayatulloh Pangeran Fatah Pangeran Seda Blimbing Pangeran Panjunan Pangeran Pamale Karan (Pangeran Santeri) Pangeran Geusan Ulun Pangeran Rangga Gede Pangeran Rangga Gempol (Panembahan Sumedang) Pangeran Dipati Tanumadja Pangeran Embah Aom Haji Abdusyakur Haji Abdulwahhab Haji Ishaq Muhammad Abdurrohman Haji Hindoen KH Abdul Kodir Rozy Pangeran Pasarean (Adipati Cirebon) Pangeran Adipati Cirebon II Panembahan Ratu Cirebon Pangeran Adipati Tanudiarsa (Bupati Kuningan) Pangeran Bapang (Kuningan) Pangeran Natamanggala Pangeran Kartadiredja Pangeran Kartadiredja II Raden Zainal Abidin Nyai Raden Salamah Kiayi Raden Haji Abdussalam Maulana Hasanudin Maulana Abunnashri Maulana Muhammad Maulana Abulmafakhir Mahmud Maulana Abul Ma'ali Ahmad Maulana Abulfathi Abdulfattah Maulana Abunnashri Maulana Abdulqohhar Maulana Ratu A'isyah Maulana Seikh Abdullah Riva'i Maulana R Hasan Mangkupradja (Dalem Sepuh Cianjur) Dengan penuh rasa syukur kepada Allah SWT, keluarga besar menyelenggarakan acara tasyakuran yang sarat akan keberkahan. Para ulama, kiyai, ustadz, serta tokoh-tokoh masyarakat setempat diundang untuk menghadiri acara ini. Dipimpin oleh Almarhum KH Masduki, suasana malam itu dipenuhi lantunan doa dan harapan, memohon kepada Allah agar sang bayi tumbuh menjadi pribadi yang saleh, penuh berkah, dan memberikan manfaat bagi umat. Cahaya lentera-lentera kecil menerangi sudut-sudut rumah sederhana mereka, sementara harumnya masakan khas tasyakuran menyatu dengan semilir angin malam pegunungan yang sejuk. Di tengah kehangatan itu, setiap ucapan selamat dan doa menjadi bukti nyata betapa kelahiran bayi Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 5 ini adalah kebahagiaan bersama, tak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi masyarakat sekitar. Dari uraian di atas kita dapat mengambil pelajaran, antara lain kepada orang tua hendaklah : 1. Mencatat dengan lengkap tanggal kelahiran anak, baik dengan menggunakan tahun Masehi dan tahun Hijriyah. 2. Melaksanakan hal-hal kebajikan tatkala ibu sedang mengandung seperti memperbanyak membaca Al Qur’an, sholawat, sedekah, meminta do’a kepada para ‘alim ulama dan kebajikan-kebajikan yang lainnnya. 3. Bersyukur kepada Allah SWT atas anak yang diberikan kepadanya sebagai amanah dari Allah SWT. MASA PENDIDIKAN BERSAMA ORANG TUA Pada masa mendapatkan itu jarang pendidikan sekali langsung ditemukan seorang dari tua orang anak hingga yang mampu menguasai berbagai kitab dengan pemahaman yang mendalam. Namun, inilah yang dialami oleh Syaikhuna dalam masa-masa pendidikannya bersama kedua orang tuanya. Dengan tanggung jawab yang besar dan cinta yang tulus, mereka membimbing beliau dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Hari-hari mereka dipenuhi dengan aktivitas yang bermakna—sang ayah mendiktekan pelajaran dengan nada tegas namun penuh kasih, sementara ibunda beliau dengan kelembutannya selalu mendukung proses belajar itu dengan doa-doa yang tak henti dipanjatkan. Di bawah bimbingan orang tua yang begitu peduli, Syaikhuna tumbuh menjadi pribadi yang mencintai ilmu sejak usia dini. Selama enam belas tahun, kedua orang tua beliau mengabdikan diri untuk memastikan bahwa pendidikan putranya tidak hanya mencakup pengetahuan agama, tetapi juga disertai penghayatan nilai-nilai akhlak dan Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 6 moral yang luhur. Mereka percaya, mendidik seorang anak adalah ladang amal yang akan terus mengalir keberkahannya. Semangat mereka menjadi fondasi kokoh yang mengarahkan langkah Syaikhuna menuju kehidupan yang penuh manfaat bagi umat. Dalam perjalanan pendidikannya, Syaikhuna hanya sempat menempuh pendidikan formal hingga kelas tiga sekolah dasar di Rawa Belut. Meski tidak menyelesaikan pendidikan SD secara penuh dan hanya mengikuti ujian persamaan setara SLTP, keterbatasan ini tidak pernah menjadi penghalang untuk tumbuh sebagai pribadi yang berilmu dan berakhlak mulia. Orang tua beliau memahami bahwa pendidikan terbaik bukan hanya berasal dari bangku sekolah, tetapi juga dari lingkungan yang sarat akan nilai-nilai luhur. Dengan penuh kasih dan kesabaran, mereka menciptakan suasana belajar di rumah yang kondusif, dimana nilai agama dan budi pekerti ditanamkan dengan kuat. Selain itu, mereka dengan penuh perjuangan mempercayakan pendidikan putra mereka kepada beberapa pondok pesantren terkemuka. Di tempat-tempat itulah Syaikhuna mendalami ilmu agama dan mengasah pemahamannya, melebihi apa yang dapat dicapai dari pendidikan formal semata. Lingkungan pesantren yang disiplin, disertai bimbingan para ulama yang ikhlas, menjadikan pengalaman pendidikan beliau istimewa. Kehidupan sederhana di pesantren, suasana tahajud di malam yang sunyi, dan semangat belajar yang terus menyala, membentuk karakter beliau menjadi seorang ulama yang memiliki kedalaman ilmu dan keluhuran budi. Meski menapaki jalan yang penuh tantangan, keistimewaan perjalanan pendidikan ini kelak membawa beliau menjadi sosok yang menjadi teladan bagi banyak orang. Sejak usia dini, saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Syaikhuna sudah ditempa dalam disiplin yang tinggi oleh kedua orang tuanya. Ayahanda beliau mewajibkan mengikuti pengajian kitab kuning dengan Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 7 jadwal yang ketat—lima kali mengaji dalam sehari. Dengan sistem pendidikan yang penuh kedisiplinan ini, waktu bermain menjadi sesuatu yang sangat langka bagi beliau. Masa kecilnya diisi dengan lembaranlembaran kitab, hafalan, dan pelajaran yang diajarkan langsung oleh orang tua beliau. Namun, kedisiplinan yang diterapkan sering kali bukan tanpa ujian. Di bawah pengawasan ayahandanya yang penuh kasih namun tegas, Syaikhuna harus menghadapi berbagai tantangan. Tidak jarang, beliau mengikuti pelajaran sambil menahan kantuk yang berat, dan terkadang air mata mengalir di pipinya ketika sanksi diberikan akibat belum menghafal pelajaran dengan baik. Semua itu menjadi bagian dari proses pendidikan yang penuh perjuangan. Meskipun begitu, jiwa beliau yang ikhlas dan tekad yang membara menjadikan setiap tantangan sebagai peluang untuk belajar dan tumbuh. Dalam hati kecilnya, tertanam semangat pantang menyerah yang terus menyala—sebuah modal berharga dalam perjalanan tholabul ilmi. Syaikhuna mengajarkan kepada kita bahwa kesuksesan besar tidak pernah terlepas dari pengorbanan dan keteguhan hati. Setiap air mata yang jatuh, setiap kesulitan yang dihadapi, adalah langkah menuju kemuliaan ilmu yang kelak menjadikannya cahaya bagi umat. Alhamdulillah, atas rahmat Allah dan perjuangan yang tak kenal lelah, Syaikhuna berhasil menguasai seluruh pelajaran yang diajarkan oleh kedua orang tuanya. Ketekunan beliau yang luar biasa, dipadu dengan kesabaran dan bimbingan penuh cinta dari Ayah Bundanya, menjadi fondasi kokoh dalam perjalanan pendidikannya. Sejak kecil hingga usia enam belas tahun, beliau menjalani proses belajar yang intens di bawah pengawasan langsung orang tua yang penuh dedikasi. Hari-hari itu bukanlah perjalanan yang mudah—dihadapi dengan disiplin ketat, ujian kesabaran, dan tantangan yang terkadang menguras emosi. Namun, setiap pelajaran yang diterima, setiap lembar kitab yang Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 8 dipahami, menjadi bukti nyata keteguhan hati dan tekad yang tak tergoyahkan. Kesuksesan Syaikhuna tidak hanya lahir dari kecerdasan alami, tetapi juga dari kesadaran mendalam akan pentingnya ilmu sebagai jalan menuju kedekatan dengan Allah. Didikan orang tua yang tegas namun penuh kasih sayang menanamkan nilai-nilai luhur dalam dirinya—bahwa perjuangan, pengorbanan, dan kesungguhan adalah kunci untuk meraih keberkahan dalam ilmu. Kisah ini menjadi inspirasi bagi kita semua, bahwa dengan semangat yang kuat, kesabaran yang mendalam, dan dukungan keluarga yang tulus, tidak ada hal yang mustahil untuk dicapai. Syaikhuna telah menunjukkan bahwa ilmu yang bermanfaat lahir dari perjuangan yang penuh makna. Sejak usia belia, Syaikhuna telah diperkenalkan pada khazanah ilmu yang luas melalui bimbingan langsung dari kedua orang tuanya. Di bawah perhatian mereka yang penuh cinta dan disiplin, beliau mempelajari berbagai kitab yang menjadi landasan utama dalam memahami ajaran agama. Kitab-kitab tersebut meliputi: 1. Al-Qur’an bit Tajwid 2. Safinatun Naja 3. Tijanud Darori 4. Jurumiyyah 5. Riyadlul Badli’ah 6. Jauharut Tauhid 7. Kholid Azhari 8. Fathul Qorib dan Fathul Mu’in 9. Bidayatul Hidayah. 10. Irsyadul ‘Ibad dan Minjahul Abidin Kitab-kitab ini tidak hanya menjadi dasar keilmuan beliau, tetapi juga membentuk karakter dan pandangan hidupnya sejak dini. Melalui Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 9 pemahaman mendalam terhadap kitab-kitab ini, Syaikhuna memantapkan langkah untuk melanjutkan kajian keilmuan di berbagai pondok pesantren terkemuka. Kisah beliau mengajarkan kepada kita bahwa perjalanan menuntut ilmu adalah sebuah investasi yang memerlukan kesabaran, tekad, dan bimbingan yang tulus. Kitab-kitab tersebut bukan sekadar bahan bacaan, tetapi menjadi jalan bagi beliau untuk mengenal hakikat kehidupan, mendekatkan diri kepada Allah, dan menebar manfaat bagi umat. Jika kita melihat dari kitab-kitab yang dipelajari mulai dari kecil, beliau memang lebih banyak mempelajari kitab-kitab fiqih, sehingga tidak raguragu lagi kalau kita mengatakan bahwa beliau adalah seorang ulama yang faqih. Kecerdasan pemikirannya memang diakui oleh semua lapisan masyarakat, khususnya di kalangan masyarakat pesantren. Kesimpulan yang tak terbantahkan adalah bahwa perjalanan Syaikhuna untuk menjadi seorang ulama telah dirintis dengan penuh kesungguhan oleh kedua orang tuanya sejak usia dini. Pengkaderan ini tidak hanya terhenti pada bimbingan langsung mereka, tetapi juga diperkaya oleh kontribusi dari keluarga besar beliau. Saudara-saudara dari ayah dan ibunda beliau, yang banyak dikenal sebagai kyai atau ajengan terkemuka, turut memberikan warna dan kedalaman pada pendidikan yang beliau terima. Ayahanda beliau dengan disiplin yang tinggi membimbingnya dalam memahami kitab-kitab kuning, membuka cakrawala keilmuan agama yang luas dan mendalam. Di sisi lain, sang ibunda memainkan peran yang tak kalah penting, menanamkan pondasi keimanan melalui pengajaran ilmu tauhid, seni membaca Al-Qur'an, dan Tarikhul Islamiyyah. Pendidikan dari ibunda ini tidak hanya berupa pemahaman, tetapi juga penghayatan yang mendalam, diiringi dengan hafalan-hafalan yang menjadi bekal spiritual beliau. Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 10 Kolaborasi unik antara ayah dan ibu dalam mendidik beliau mencerminkan keharmonisan dalam membentuk karakter ulama yang tidak hanya kokoh dalam keilmuan, tetapi juga halus dalam budi pekerti. Setiap pengajaran yang mereka berikan menjadi pilar penting dalam membentuk kepribadian Syaikhuna sebagai ulama yang penuh hikmah, siap menjadi lentera bagi umat. Kisah pendidikan beliau mengajarkan kepada kita bahwa mendidik generasi masa depan adalah tanggung jawab yang memerlukan keselarasan antara ilmu dan iman. Dengan kerja sama dan dedikasi orang tua yang luar biasa, sebuah generasi pewaris ilmu para nabi dapat lahir, menjadi panutan bagi umat dan pembimbing bagi kehidupan yang penuh keberkahan. Hikmah yang dapat kita petik dari uraian di atas begitu dalam, dan mengandung pelajaran berharga yang dapat kita jadikan teladan dalam kehidupan. Di antaranya adalah: 1. Pendidikan yang dimulai sejak dini – Pendidikan hendaknya dimulai sejak usia tiga tahun, dengan cara yang lembut dan penuh kesadaran. Pada masa ini, anak-anak perlu dikenalkan dengan tandatanda kebesaran Tuhan, pelajaran fiqih ibadah, dan dasar-dasar akhlak yang baik. Orang tua menjadi guru pertama bagi anak-anak mereka, yang meletakkan dasar bagi pembentukan karakter dan keimanan. Keberhasilan atau kegagalan dalam mendidik anak sangat dipengaruhi oleh perhatian dan peran aktif kedua orang tua, yang menjadi teladan utama dalam kehidupan mereka. 2. Pentingnya belajar sejak usia dini – Sebuah pepatah mengatakan, "Belajar di masa kecil seperti mengukir di atas batu, sementara belajar di masa tua seperti mengukir di atas air." Maksudnya, pendidikan yang diberikan di usia dini akan lebih mudah meresap dan tertanam dalam jiwa, seperti ukiran di atas batu yang tidak mudah pudar. Sedangkan pendidikan yang baru dimulai di usia Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 11 tua, meskipun mungkin bermanfaat, akan lebih sulit untuk diserap dan dipahami, seperti ukiran yang terbuat di atas air yang mudah hilang. Kisah Syaikhuna mengajarkan kepada kita bahwa pendidikan adalah investasi terbaik yang dapat diberikan oleh orang tua kepada anak-anak mereka. Dengan tekad dan kesungguhan hati, mendidik sejak dini tidak hanya membentuk kecerdasan, tetapi juga membangun fondasi moral yang kuat, yang kelak akan menjadi bekal hidup di dunia dan akhirat. MASA PENDIDIKAN DI PONDOK PESANTREN Setelah menempuh pendidikan selama enam belas tahun di bawah bimbingan kedua memperdalam ilmu orang agama tuanya, dengan Syaikhuna memutuskan melanjutkan untuk pendidikannya ke beberapa pondok pesantren terkemuka. Pada masa itu, hati beliau dipenuhi dengan rasa haus akan ilmu yang tak terhingga—sebuah semangat yang membara untuk memahami lebih dalam kitab-kitab kuning dan menguasai ilmu agama secara komprehensif. Keinginan beliau untuk menguasai ilmu tidak hanya tampak dari ketekunannya dalam belajar, tetapi juga dari kesungguhannya dalam muthola'ah (membaca dan mempelajari) pelajaran yang disampaikan oleh para guru. Bahkan, seringkali waktu berlalu tanpa terasa, hingga larut malam, beliau tetap tekun membaca, menghafal, dan merenungkan setiap pelajaran yang diberikan. Sifat beliau yang tak kenal lelah dalam mencari ilmu ini adalah teladan yang sangat berharga bagi kita semua. Menuntut ilmu bukan hanya soal waktu dan tenaga, tetapi soal dedikasi dan kecintaan yang tulus terhadap ilmu itu sendiri. Dengan semangat yang tak pernah pudar, Syaikhuna mengajarkan kita bahwa perjalanan ilmu adalah perjalanan yang harus ditempuh dengan hati yang penuh ketekunan dan kesabaran, tidak mengenal waktu, dan selalu mengutamakan keinginan untuk menggapai hakikat kebenaran. Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 12 Pada suatu ketika, Syaikhuna memiliki tekad yang kuat untuk melanjutkan pendidikan di pondok pesantren yang terkemuka di Jawa, namun sang ayah dengan penuh kebijaksanaan hanya memerintahkan agar beliau tetap belajar di tanah kelahirannya, Bumi Pasundan. Keputusan ini, meskipun tampak membatasi, justru membentuk jalan yang lebih tepat bagi perjalanan ilmu beliau. Syaikhuna melanjutkan pencariannya akan ilmu di beberapa pondok pesantren yang sangat berpengaruh dalam membentuk karakter dan keilmuannya. Di antara pondok pesantren tempat beliau menimba ilmu adalah: 1. Pondok Pesantren Gentur (Warungkondang), yang dipimpin oleh KH Abdul Qodir, di mana Syaikhuna mulai bergabung pada tanggal 27 Mei 1951. Di pondok pesantren ini, dalam waktu kurang dari satu tahun, beliau berhasil menguasai beberapa kitab besar yang menjadi dasar ilmu agama, di antaranya Alfiyah, Sulamul Munawwaroq, Waladiyah, Rosyidiyah, Fathul Wahab, dan lainnya. Pencapaian ini menunjukkan dedikasi dan kecintaan beliau terhadap ilmu yang begitu mendalam. 2. Pondok Pesantren Al Munawwariyah di Cilaku, pada tahun 1952, yang dipimpin oleh Syaikhuna Al ‘Alim Al Mukarrom KH Ahmad Munawwar bin KH Muhammad Rois As Silagi. Beliau adalah ulama yang faqih dan sangat dihormati, serta dikenal sebagai guru besar yang sangat berpengaruh. Di pondok pesantren ini, Syaikhuna mendapatkan bimbingan langsung dari salah satu ulama terkemuka yang menjadi panutan beliau, dan bahkan beliau menyebutkan dengan penuh kekaguman bahwa Mama Munawwar adalah salah satu guru yang ilmu dan bimbingannya sangat beliau hargai. Kisah perjalanan pendidikan Syaikhuna ini mengajarkan kita bahwa ilmu itu tidak terbatas oleh jarak atau tempat, tetapi tergantung pada tekad dan semangat seorang pencari ilmu. Pondok pesantren tempat beliau belajar menjadi saksi bisu atas perjuangannya dalam menuntut ilmu dengan penuh kesungguhan, ketekunan, dan rasa hormat kepada guruManaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 13 guru beliau. Dari setiap lembaga yang beliau masuki, tidak hanya ilmu yang beliau dapatkan, tetapi juga adab dan akhlak yang senantiasa menjadi pegangan beliau dalam mengarungi hidup. Selama menuntut ilmu di Pondok Pesantren Cilaku, jiwa kepemimpinan Syaikhuna mulai tampak dengan jelas. Kepribadiannya yang matang dan penuh tanggung jawab membuat beliau terpilih menjadi Rois (Lurah) pondok pada saat itu. Ini bukan hanya sebuah jabatan, tetapi juga sebuah amanah besar yang beliau emban dengan penuh ketulusan. Tugas memimpin teman-teman di pondok bukanlah hal yang mudah, namun Syaikhuna menjadikannya sebagai pengalaman yang sangat berharga. Dengan kebijaksanaan dan kesabaran, beliau mampu mengarahkan teman-temannya dalam berbagai situasi, baik yang penuh tantangan maupun yang memerlukan ketegasan. Suka dan duka dalam memimpin di pondok pesantren ini bukan hanya menempa diri beliau menjadi seorang pemimpin yang bijaksana, tetapi juga mengajarkan nilainilai penting dalam kepemimpinan: ketulusan, tanggung jawab, dan pengorbanan demi kebaikan bersama. Kepemimpinan Syaikhuna di pondok menjadi contoh nyata bagi kita semua bahwa seorang pemimpin sejati bukan hanya dilihat dari kekuasaan yang dimiliki, tetapi dari kemampuan untuk menginspirasi, menuntun, dan membawa perubahan positif bagi orang-orang di sekitarnya. Syaikhuna mengajarkan kita bahwa kepemimpinan yang baik dimulai dari pengabdian, keikhlasan, dan kemampuan untuk menjadikan setiap pengalaman—baik suka maupun duka—sebagai pelajaran berharga untuk masa depan. Menuntut ilmu di pondok pesantren bukanlah perkara mudah. Membutuhkan ketekunan yang tiada henti, kesabaran yang tak tergoyahkan, dan kemampuan untuk meninggalkan segala godaan dunia yang dapat menodai hati. Sebab, hanya dengan hati yang bersih dan pikiran yang suci, ilmu yang kita pelajari akan bermanfaat, tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk umat. Begitu pula dengan Syaikhuna, yang dengan keteladanan luar biasa, menempatkan dirinya sebagai seorang santri sejati. Beliau bukanlah santri Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 14 yang malas atau setengah hati, tetapi seorang yang sepenuh jiwa dan raga mengabdi pada ilmu. Kepribadiannya yang kuat, serta tekad yang membaja, menjadi fondasi yang kokoh dalam proses belajarnya. Beliau tidak sekadar belajar untuk memahami kitab, tetapi untuk mengamalkan setiap butir ilmu yang diperoleh dengan penuh tanggung jawab. Syaikhuna menunjukkan kepada kita bahwa untuk benar-benar menuntut ilmu, kita harus memiliki disiplin yang tinggi dan tekad yang bulat. Beliau adalah teladan sejati bagi kita semua dalam menjalani kehidupan ini—menjadi pribadi yang tidak hanya pandai, tetapi juga bijaksana dan penuh kebermanfaatan. Dari beliau, kita belajar bahwa kesungguhan dalam belajar adalah jalan untuk mencapai kemuliaan dan kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat. Selama lima tahun menetap di Pondok Pesantren Al Munawwariyyah Cilaku, Syaikhuna mengarungi lautan ilmu dengan penuh kesungguhan. Beliau menimba banyak pengetahuan dari berbagai kitab yang menjadi pokok kajian utama di pondok tersebut. Di antaranya adalah: 1. Alfiyah bin Aqil 2. Yaqula 3. Sudzurudz Dzahab 4. Tarshif 5. Tafsir Jalalain 6. Tafsir Munir 7. Jam’ul Jawami 8. Jauhar Maknun 9. Samarqondi 10. Al Iqna’ 11. Fathul Wahab 12. Rohbiah 13. Minhajuth Tholibin Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 15 Setiap lembaran kitab yang beliau pelajari membawa beliau lebih dekat kepada pemahaman yang lebih dalam tentang agama dan kehidupan. Di pondok pesantren Cilaku inilah, Syaikhuna merasa bahwa ilmu yang beliau terima sudah cukup memadai, memberi bekal yang kuat untuk menapaki jalan kehidupan. Namun, semangat beliau untuk terus menuntut ilmu tidak pernah padam. Meskipun setelah itu beliau tidak lagi menetap di pondok pesantren, Syaikhuna tetap kembali ke Cilaku sesekali untuk melanjutkan belajar. Ini menunjukkan bahwa bagi beliau, belajar adalah perjalanan tanpa henti—sebuah pencarian yang tak mengenal batas waktu dan tempat. Keistimewaan Syaikhuna terletak pada keteguhan hatinya untuk terus memperdalam ilmu, meski telah mendapat cukup banyak bekal. Beliau mengajarkan kepada kita bahwa ilmu itu bukan hanya soal banyaknya kitab yang dibaca, tetapi juga tentang komitmen yang tak tergoyahkan untuk selalu belajar dan mengamalkan apa yang dipelajari. Sebuah teladan yang seharusnya menginspirasi kita semua dalam menempuh jalan ilmu yang tak pernah berakhir. Pada tanggal 28 Maret 1957, Syaikhuna melangkah ke jenjang kehidupan baru dengan penuh berkah, menikahi seorang wanita yang kelak menjadi pendamping setia dalam perjuangannya, Almarhumah Hj Zulaikha binti H Yayan Dahlan. Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 16 Syaikhuna dan Hj. Ea Zulaikha Perjalanan panjang di dunia pesantren pun ia tinggalkan, namun semangat menuntut ilmu dan berkhidmat kepada masyarakat tetap membara dalam hatinya. Beliau pun menetap di Bojongmeron, Cianjur, menyusun langkah demi langkah untuk mewujudkan visi mulia yang diwariskan orangtuanya. Pada tahun 1958, dengan penuh rasa tanggung jawab dan amanah, Syaikhuna menerima tugas besar dari kedua orangtuanya, yaitu mengurus sebuah masjid yang pada saat itu belum memiliki nama—yang kelak akan dikenal sebagai Masjid Al Barkah. Tidak hanya sekadar mengelola, beliau menaruh hati dan jiwa untuk membangun, sedikit demi sedikit, Pondok Pesantren Al Barkah yang kini menjadi salah satu pusat pengajaran yang dihormati banyak orang. Kehidupan Syaikhuna tidak hanya berhenti pada dedikasi kepada ilmu, tetapi juga pada pelaksanaan kewajiban agama yang sempurna. Pada tahun 1982, bersama istrinya yang tercinta, beliau menunaikan Rukun Islam yang kelima—menjalankan ibadah haji di Tanah Suci. Sebuah perjalanan spiritual yang penuh makna, yang juga menguatkan tekad beliau dalam melanjutkan dakwah. Tak hanya itu, dalam perjalanan hidupnya, beliau juga beberapa kali menunaikan ibadah umroh, di antaranya pada tahun 1994 dan 1997, tepatnya pada bulan suci Ramadhan. Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 17 Ibadah-ibadah ini menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya kesungguhan dalam menjalani setiap langkah kehidupan, selalu mendekatkan diri kepada Allah, serta terus berusaha untuk memberi manfaat bagi umat. Guru-guru Syaikhuna yang telah membimbing dan mewarnai perjalanan ilmu beliau sejak usia dini hingga enam belas tahun adalah sosok-sosok yang luar biasa, yang tak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan yang mendalam. Di antara mereka adalah: 1. Hj Hindun binti Abdurrahman (Ibu Kandung), yang sejak pertama kali mengandung, sudah membekali Syaikhuna dengan didikan spiritual yang kokoh. 2. KH Fakhrur Rozy bin KH M Yunus (Ayah Kandung), seorang ulama yang memberi keteladanan dan ilmu yang tiada henti, sebagai pondasi utama dalam perjalanan hidup beliau. 3. KH Mansur 4. KH Cholid 5. KH Masduki 6. KH Ahmad Dimyati Selanjutnya, di Pondok Pesantren Gentur, beliau berkesempatan untuk mendapatkan bimbingan dari para ulama besar seperti: 1. KH Abdul Qodir 2. KH Rahmatullah Di Pondok Pesantren Al Munawwariyyah Cilaku, Syaikhuna belajar di bawah bimbingan langsung KH Ahmad Munawwar bin KH M Rois As Silagi, seorang guru yang sangat beliau kagumi keilmuannya, yang juga memberikan pengaruh besar dalam perjalanan intelektual beliau. Selain itu, banyak lagi guru-guru beliau yang memberikan sentuhan ilmu dalam perjalanan hidupnya, antara lain: 1. KH Majdudin Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 18 2. KH R Abdullah bin Nuh 3. KH Ahmad Suja’i 4. KH Dahlan 5. KH Habib Ali Hasan Az Zufri 6. Ustadz Acep Ibrahim Dari para guru yang mulia ini, Syaikhuna mengaji dan mempelajari berbagai kitab penting yang menjadi fondasi pemahaman ilmu beliau, di antaranya: 1. Ihya Ulumuddin 2. Ana Muslim 3. Mizan Kubro 4. Nubdzatul Mujmal 5. Al Mustashfa 6. Lughoh ‘Arabiyah 7. Tajwid Setiap guru memberikan pijakan yang kokoh bagi Syaikhuna, tidak hanya dalam bidang ilmu, tetapi juga dalam perjalanan hidup sebagai seorang hamba Allah yang berilmu dan bermanfaat bagi umat. Dari para guru ini, Syaikhuna belajar lebih dari sekadar teori, tetapi juga keteladanan dalam menjalankan ilmu dan berakhlak mulia, yang patut kita teladani dalam kehidupan sehari-hari. PENGALAMAN DALAM BERDAKWAH Bakat berdakwah yang terpendam dalam diri Syaikhuna mulai terlihat sejak masa remaja, dimulai dari pengajian dan ceramah yang beliau sampaikan di hadapan para santri. Dengan penuh semangat dan kesungguhan, beliau mengasah kemampuan dakwahnya dari lingkungan yang paling dekat, yakni santri-santri di pondok pesantren. Namun, semangat beliau tidak berhenti di sana. Pada usia dua puluh tahun, beliau mulai menyebarkan ilmu dan pencerahan kepada masyarakat umum. Dari Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 19 sanalah, langkah dakwah beliau mulai berkembang luas, menjangkau berbagai daerah di Kabupaten Cianjur, menyentuh hati dan pikiran banyak orang yang haus akan ilmu dan tuntunan. Rutininas Dakwah Syaikhuna dengan para Kiayi dan Ajengan di Kabupaten Cianjur Syaikhuna sering mengungkapkan bahwa dalam dakwah, beliau memiliki tiga idola yang menjadi acuan dalam setiap langkahnya: 1. Mama KH Ahmad Munawwar, dijadikan idola karena beliau sangat ahli dalam mengupas dan menguraikan masalah-masalah agama dengan terperinci. Hal ini menjadikan beliau sebagai sosok ‘ulama yang ilmu keagamaannya sangat mendalam. 2. Mama KH R Abdullah bin Nuh, dijadikan idola karena beliau mampu menyampaikan bahasa yang sangat baik kepada mustami’ dengan tutur kata yang sopan dan halus juga dihiasi sastra sehingga mustami’ merasakan terbawa cerita yang disampaikannya. 3. Habib Ali Hasan Az Zufri, dijadikan idola karena beliau mampu berdakwah dengan sedikit humor, sehingga mustami’ tidak merasa jenuh dalam mendengarkan ceramah. Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 20 Jika melihat ketiga idola Syaikhuna dalam berdakwah, rasanya memang sudah cukup lengkap untuk menjadikan contoh dan bekal dalam berdakwah yang ideal di tengah-tengah umat. Pengalaman berdakwah Syaikhuna cukup panjang, akan tetapi disini penulis hanya mengungkapkan secara garis besar saja, kemudian dilengkapi dengan cara dan metode berdakwah yang baik sesuai dengan pengajaran beliau kepada kami. Kajian Kitab Syaikhuna dengan para Kiayi dan Ajengan di Kabupaten Cianjur Adapun pengalaman berdakwah Syaikhuna di mancanegara antara lain : Belanda, Mesir, dan Arab Saudi. Sedangkan pengalaman berdakwah di tanah air adalah Irian Jaya, Jakarta, Padang Panjang, Batam, dan beberapa wilayah di Jawa Barat. Adapun metode dakwah yang baik untuk jaman sekarang menurut Syaikhuna antara lain : 1. Menguasai materi dakwah dengan sempurna dan mampu mendramatisirkannya. Bagi beliau, dakwah bukan sekadar menyampaikan ilmu, tetapi menjadikannya hidup dan menggugah hati para pendengar, sehingga setiap kata yang diucapkan mampu menyentuh jiwa dan menggerakkan hati yang mendengarnya. Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 21 2. Menggunakan bahasa yang sopan dan setingkat dengan keadaan mustami’ (pendengar). Beliau selalu berdakwah berusaha mudah agar dipahami bahasa dan yang tidak digunakan menyakiti dalam perasaan pendengar. Dakwah yang baik adalah dakwah yang menyapa, bukan memarahi. Beliau selalu menjaga agar setiap kata yang keluar dari lisannya membangun, bukan menghancurkan. 3. Mampu mengungkapkan masalah-masalah yang berkenaan dengan mustami’. Syaikhuna sangat peka terhadap kondisi pendengarnya. Beliau tahu kapan dan bagaimana cara menyampaikan materi dakwah yang relevan dengan kehidupan mereka. Beliau tidak hanya berbicara tentang hal-hal yang tinggi dan abstrak, tetapi juga menyesuaikan diri dengan realitas hidup masyarakat yang menjadi sasaran dakwah. 4. Tidak monoton dalam berdakwah. Syaikhuna selalu berusaha agar dakwahnya tidak terjebak dalam rutinitas yang membosankan. Dengan cara yang kreatif, beliau mampu membuat setiap ceramah menjadi segar dan menarik, sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh berbagai kalangan. 5. Yang paling penting adalah niat yang tulus dan ikhlas karena Allah SWT. Bagi beliau, dakwah bukanlah panggung untuk menunjukkan kebolehan atau mencari pujian, melainkan sebuah ibadah yang harus dilaksanakan dengan penuh keikhlasan dan tujuan semata-mata untuk mendapatkan ridha Allah. Niat yang tulus menjadi kunci utama dalam menjalankan dakwah yang benar. Melalui kata-kata dan tindakan beliau, Syaikhuna telah menunjukkan kepada kita bagaimana dakwah yang efektif dan menginspirasi. Beliau mengajarkan kita bahwa dalam berdakwah, niat yang baik, pemahaman materi yang dalam, dan kesadaran akan kondisi pendengar adalah hal yang tidak boleh terlewatkan. Sebuah teladan yang seharusnya kita terapkan Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 22 dalam kehidupan kita, baik dalam berdakwah maupun dalam menyampaikan kebaikan di setiap kesempatan. Metode dakwah yang beliau ajarkan tidak hanya berbicara tentang menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar, tetapi juga bagaimana menjadikan dakwah itu hidup dalam hati para pendengarnya. Syaikhuna menjelaskan tentang sebuah teori yang sangat berharga, yang terdapat dalam kitab Fawaidul Makkiyah. Teori ini dikenal dengan nama Malaka, yang mengacu pada kemampuan akal dalam menangkap dan mengolah ilmu. Beliau menyebutkan tiga aspek dari teori Malaka yang harus dimiliki oleh seorang Da’i agar dakwahnya benar-benar berdaya: 1. Malakatul Istishol, yang berarti kemampuan untuk menangkap segala yang ditulis dan dibaca oleh orang lain. Seorang Da’i yang memiliki kemampuan ini dapat menyerap ilmu dengan cepat dan luas, menguasai bahan dakwahnya dengan baik, dan menyampaikan pesan secara tepat. 2. Malakatul Istikhoroj, artinya kemampuan untuk memahami segala makna yang tersirat. Seorang Da’i tidak hanya membaca kata-kata yang tampak di permukaan, tetapi juga mampu menggali dan memahami makna yang terkandung di dalamnya, baik yang tersurat maupun yang tersirat. Ini adalah kemampuan untuk mendalami ilmu dengan lebih dalam dan memahaminya secara kontekstual. 3. Malakatul Istihdlor, mengembangkan segala yang berarti yang telah kemampuan dipelajari dan untuk mampu memfatwakannya. Seorang Da’i yang memiliki kemampuan ini tidak hanya menguasai ilmu yang diajarkan, tetapi juga mampu mengembangkannya, memberikan fatwa yang sesuai dengan situasi, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Apabila teori Malaka ini terkumpul dalam diri seorang Da’i, maka sempurnalah kedudukannya sebagai seorang Mubaligh yang dapat diandalkan untuk menyampaikan dakwah dengan baik. Dalam setiap kesempatan, Syaikhuna selalu mengingatkan untuk memohon pertolongan kepada Allah agar diberi kemudahan dalam berdakwah. Beliau Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 23 mengajarkan doa yang selalu beliau baca sebelum berdiri untuk ceramah, sebuah doa yang sarat dengan pengharapan dan keikhlasan: َ ْ س يِ ِنإ َّ مل َّه للا َ َ َ ُكل َ َّ َا س ِِّ َ نِا َُْا َِِّ ِن َا كُ ِ َا َىمَا ََُ َ َِ ِ َا ُ ََّ ُ َّ س َّ ْا َُ َك َ َ ُس َّ ُ ََّ ُك َّس َُ ُ ا ك ََ ِا ش َ َ ُا ْ ُر ِكص ُ َ ُح َك َا ى َِِّّ ُ َ نِا َّ ِ َََّ َا ن َّ ل كَّ ِإ َُُ َّ َ ِ ن ِ َ َ ِ ََُّاََّ َُُ َ ُل َع َم ِإ َ ك َاك ِإ ََّ َاا َّ لكَّ ِ َِ نَا َ َ ُك َ َال ََّ ِِّ َك ُ ََُِ َا ِ س ِِّ ِاه َى "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan hak NabiMu yang terpilih (Al-Musthofa), Rasul-Mu yang diridhoi (Al-Murtadlo), dan kepercayaan-Mu atas wahyu dari langit, agar Engkau melapangkan dadaku, memudahkan lisanku, dan menjadikanku seorang yang berbicara dengan kebenaran, mengetahui ilmu, serta mengamalkannya, dengan rahmat-Mu, wahai Dzat yang Maha Penyayang dari segala yang penyayang." AKTIVITAS DI TENGAH-TENGAH MASYARAKAT Sebagai seorang ulama yang dihadirkan untuk memberikan pencerahan bagi umat, Syaikhuna menjadi sosok yang sangat dibutuhkan oleh berbagai kalangan—baik oleh pemerintah, para kyai, santri, mahasiswa, maupun masyarakat pada umumnya. Aktivitas keseharian beliau sungguh padat, tidak hanya terfokus pada dakwah dan ilmu, tetapi juga pada berbagai peran sosial yang begitu penting dalam kehidupan masyarakat. Perjalanan karir beliau tidak dimulai dengan ambisi atau cita-cita pribadi, melainkan lebih kepada panggilan untuk melayani masyarakat. Setelah menyelesaikan pendidikan di pondok pesantren, beliau menetap di Bojongmeron, sebuah kampung yang menjadi saksi perjalanan hidup dan dedikasi beliau. Kehidupan beliau yang sederhana dimulai dengan berdagang kecil-kecilan, hingga akhirnya pada tanggal 2 Januari 1967, beliau mendapat amanah yang tak terduga—menjadi lurah. Jabatan ini bukanlah suatu hal yang beliau inginkan, melainkan sebuah panggilan dari pemerintah yang melihat keteladanan beliau dalam berbuat baik untuk Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 24 masyarakat, serta desakan kuat dari masyarakat yang ingin beliau memimpin dengan bijak. Dengan rasa tanggung jawab yang tinggi, beliau menerima amanah ini, meski tidak ada dalam bayangannya untuk menjadi lurah. Selama lebih dari dua dekade—tepatnya 21 tahun, beliau mengemban tugas tersebut, menjalani masa jabatan hingga 14 April 1988. Selama itu, beliau memimpin dengan penuh hikmah, tidak sekadar sebagai seorang lurah, namun juga sebagai seorang ulama yang senantiasa memberi contoh dalam setiap langkah kehidupan. Kepemimpinan beliau bukan hanya berbasis pada struktur jabatan, tetapi lebih kepada nilai-nilai integritas, kesabaran, dan pengabdian yang mendalam pada masyarakat. Bagi kita, perjalanan beliau mengajarkan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang berkomitmen untuk melayani, meski dengan jalan yang tidak direncanakan. Pemimpin bukanlah yang mencari gelar atau kedudukan, melainkan yang siap mengemban tanggung jawab dengan tulus dan penuh kasih. Semoga kita bisa meneladani semangat pengabdian beliau dalam menjalani peran kita masing-masing di tengah-tengah masyarakat. Meskipun Syaikhuna telah menerima amanah sebagai lurah, ayahandanya, yang sejak awal mengharapkan beliau menjadi seorang kyai yang berkhidmat di tengah masyarakat sebagai ulama, tidak dapat menahan perasaan sedih. Keinginan ayahandanya yang tulus agar beliau menjadi seorang pemimpin spiritual—seorang kyai yang membimbing umat dengan ilmu dan akhlak—tetap menghiasi setiap doanya. Namun, meskipun hatinya berat, beliau tetap melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab, sama seperti yang beliau lakukan dahulu dalam perjalanan hidup yang penuh pengorbanan. Dengan kehendak Allah SWT, setelah lebih dari dua dekade mengemban tugas sebagai lurah, Syaikhuna akhirnya berhenti dari jabatan tersebut. Namun, justru pada saat inilah kehidupan beliau memasuki babak baru yang penuh dengan makna. Beban jabatan yang dahulu menyita banyak waktunya kini memberi ruang lebih besar untuk fokus pada Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 25 pembinaan umat. Di tengah-tengah masyarakat, beliau semakin aktif mengajarkan ilmu, memberi bimbingan, dan memperkuat fondasi spiritual umat. Tidak hanya itu, beliau juga lebih intens dalam membangun dan mengembangkan Pondok Pesantren Al Barkah, yang menjadi pusat pendidikan dan pembelajaran bagi banyak orang yang mencari ilmu. Dengan melepaskan jabatan sebagai lurah, beliau justru menemukan cara yang lebih tulus dan penuh pengabdian untuk melayani umat. Keputusan ini tidak hanya mengubah arah hidup beliau, tetapi juga memberikan dampak yang lebih besar pada lingkungan sekitar, menghidupkan semangat pembelajaran, dan mempererat ikatan antara ilmu dan masyarakat. Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa terkadang takdir membawa kita pada jalan yang berbeda dari yang kita rencanakan. Namun, setiap jalan yang diambil dengan niat baik dan tekad untuk melayani pasti akan mendatangkan berkah yang lebih besar. Seperti Syaikhuna, kita dapat belajar untuk menerima takdir dengan ikhlas, terus berkarya di tempat yang paling bermanfaat bagi umat, dan mengabdi pada Allah dengan cara yang paling mulia. Pondok Pesantren Al Barkah tidak lahir dalam semalam; lebih merupakan hasil dari perjuangan panjang yang penuh dengan tantangan. Pada tahun 1963, dengan segala keterbatasan, pondok pesantren ini berdiri. Saat itu, madrasah yang ada hanya sebuah bangunan sederhana dengan jumlah santri yang masih terbilang sedikit—hanya sekitar 40 orang. Namun, di balik angka kecil tersebut tersembunyi sebuah cita-cita besar yang terus digalang dengan tekad dan keinginan tulus untuk melahirkan generasi penerus yang berilmu, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi umat. Perjalanan mendirikan Al Barkah bukanlah tanpa hambatan. Syaikhuna menghadapi berbagai rintangan, mulai dari keterbatasan fasilitas hingga tantangan dalam membangun kepercayaan masyarakat. Namun, berkat kesabaran, kegigihan, dan doa yang tak pernah putus, bersama dengan bantuan dari para sahabat setia—Ustadz H. Azari Hasyim, Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 26 Ustadz Ibih Qosim, Ustadz Acep Sudjana, serta dukungan dari para donatur dermawan seperti Bapak H. Hudaya Karim—Al Barkah akhirnya bisa berdiri dengan kokoh. Pondok pesantren ini tidak hanya menjadi tempat untuk belajar, tetapi juga menjadi pusat pemberdayaan umat yang terus berkembang, meski dengan langkah yang perlahan namun pasti. Pondok Pesantren Al Barkah kini bukan hanya sekadar bangunan fisik, tetapi simbol dari ketekunan dan pengorbanan yang luar biasa. Ia adalah karya bersama yang lahir dari niat ikhlas untuk mendidik dan membimbing umat. Setiap batu-bata yang terpasang, setiap langkah yang diambil, adalah bagian dari perjuangan tanpa henti untuk memberi manfaat lebih luas bagi umat. Kisah pendirian Al Barkah mengajarkan kita bahwa meskipun kita memulai dengan keterbatasan, dengan tekad, kerja keras, dan dukungan yang tulus, kita bisa menciptakan perubahan yang besar, yang manfaatnya terasa bagi banyak orang. Dari perjalanan ini, kita diajak untuk meneladani semangat Syaikhuna yang tidak pernah mengenal kata menyerah, serta keikhlasan yang mendorongnya untuk terus berjuang demi umat. Pondok Pesantren Al Barkah adalah bukti nyata bahwa dengan niat baik, perjuangan tanpa lelah, dan kerjasama yang solid, segala sesuatu yang kita cita-citakan bisa terwujud, meskipun perjalanan itu penuh liku. Syaikhuna sangat berharap agar Pondok Pesantren Al Barkah, di masa depan, tidak hanya terus berkembang, tetapi juga tetap teguh pada akar tradisi yang telah membentuknya. Dengan harapan yang tulus, beliau berkeinginan agar pesantren ini tetap mengedepankan sistem dan metode pembelajaran salafiyah yang sudah terbukti keberhasilannya. Motto Pondok Pesantren Al Barkah yang terus dipegang teguh adalah: َّ ُْ ِ ُ َ ََّّْ ِصِااَّ ُاَ ِر ِلاا َىمَاا لا ُ َ َّْ ااَُّْ َ َُاَّااَّ ل َ ْمَصِاا َِِّّ ُ َل ِر ِر "Mempertahankan hal lama yang masih baik, dan mengambil hal baru yang lebih baik." Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 27 Motto ini bukan sekadar kalimat, tetapi refleksi dari semangat Syaikhuna yang ingin mempertahankan nilai-nilai luhur yang ada sembari terus membuka diri untuk kemajuan yang bermanfaat. Beliau tidak pernah berhenti berinovasi dalam upaya membawa pondok pesantren ini menuju masa depan yang lebih gemilang, tanpa mengorbankan fondasi spiritual yang telah tertanam dalam setiap ajaran. Untuk mewujudkan cita-cita mulia tersebut, Pondok Pesantren Al Barkah memiliki berbagai tujuan yang sangat visioner, di antaranya: a. Meningkatkan pelayanan yang lebih baik kepada umat, dengan membuka ruang yang lebih luas bagi siapa saja yang ingin menuntut ilmu, tanpa terkecuali. b. Menampung pelajar-pelajar dari luar kota, memberikan kesempatan bagi siapa saja yang ingin mengkaji agama secara mendalam, serta menumbuhkan semangat intelektual dan keislaman yang mencerahkan. Pondok Pesantren Al Barkah, sebagai lembaga yang terus berkembang, mendapat dukungan dari para ulama dan pengajar yang luar biasa, di antaranya: 1. KH Mahmud Rozy (almarhum) 2. KH Ir. Iman Muqoddas (almarhum) 3. KH Ibih Qosim (almarhum) 4. Hj. Yoyoh Sobiroh (almarhumah) 5. Ust. Deni Majdudin, S.Pd.I. (almarhum) 6. Ust. Ari Fakhridin, S.Pd.I. (almarhum) 7. Ati Fahriati, S.Pd. 8. Hj. Nining Azizah 9. Ust. Budi Muhammad 10. Ust. Aldi Fakhrurrozy 11. Dan sejumlah asatidz lainnya yang turut berperan besar dalam memberikan pencerahan kepada santri. Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 28 Selain itu, Syaikhuna juga aktif dalam berbagai organisasi Islam yang berperan penting dalam perkembangan dakwah dan pendidikan Islam di Kabupaten Cianjur, antara lain: 1. Ketua Komisi Fatwa dan Hukum MUI Kabupaten Cianjur. 2. Rois Syuriah NU Kabupaten Cianjur. 3. Ketua Dewan Pakar ICMI Kabupaten Cianjur. 4. Pengasuh dan Mursyid Pengajian Ihyaul Ihya. 5. Ketua DKM Masjid Jami Al Barkah. 6. Guru Besar di Pondok Pesantren Al Ihya Bogor. 7. Dosen di STAIS Al I’anah, sekaligus salah satu pendiri STAIS. 8. Ketua BAZ Kabupaten Cianjur. 9. Rektor STAINU Cianjur. 10. Anggota DPRD Kabupaten Cianjur selama dua periode. Keberagaman peran yang diemban Syaikhuna ini mencerminkan betapa beliau tidak hanya menjadi tokoh penting dalam lingkup pondok pesantren, tetapi juga figur sentral dalam membentuk arah kebijakan keagamaan dan sosial di masyarakat. Semua pencapaian ini, meskipun terkesan luar biasa, sejatinya merupakan buah dari kerja keras, ketulusan, dan niat beliau yang senantiasa diarahkan untuk kebaikan umat. Setiap langkah beliau adalah contoh hidup dari dedikasi yang tulus untuk memperbaiki dunia dengan ilmu dan amal yang bermanfaat. Semangat beliau dalam berdakwah dan mengabdi kepada masyarakat mengingatkan kita akan pentingnya menyeimbangkan antara ilmu dan amal, antara tradisi dan inovasi, serta antara kepentingan pribadi dan kepentingan umat. Pondok Pesantren Al Barkah dan segala aktivitas yang dilakukannya adalah warisan hidup yang harus kita jaga, kita teladani, dan kita lanjutkan demi generasi yang lebih baik. Selain segala aktivitas yang telah disebutkan sebelumnya, Syaikhuna juga tidak pernah lelah mengisi pengajian di berbagai instansi, baik pemerintahan maupun swasta. Beliau menyempatkan diri untuk memberikan ceramah di kalangan alim ulama di kecamatan Ciranjang, Karangtengah, Mande, Cianjur, Cipanas, dan daerah lainnya. Meskipun Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 29 jadwalnya yang sangat padat, Syaikhuna tetap tidak melupakan tanggung jawabnya di pondok pesantren, terutama dalam membimbing para santri dan keluarganya dengan penuh kasih sayang dan dedikasi. Yang lebih menggugah hati kita adalah kenyataan bahwa pengaruh beliau tidak berhenti pada dirinya sendiri. Banyak alumni Pondok Pesantren Al Barkah yang kini telah sukses mendirikan pondok pesantren, majelis taklim, dan lembaga-lembaga pendidikan di berbagai penjuru tanah air, seperti Batam, Bandung, Sukabumi, Cipanas, Medan, dan banyak wilayah lainnya. Beberapa di antaranya bahkan memilih nama yang berbeda dalam menamai lembaganya, namun tujuan mulia untuk meneruskan ajaran dan semangat yang ditanamkan oleh Syaikhuna tetaplah sama. Semoga, di masa depan, semakin banyak alumni Al Barkah yang menyebarkan cahaya ilmu dengan mendirikan lebih banyak pondok pesantren dan lembaga pendidikan lainnya, sehingga warisan ilmu dan keberkahan yang Syaikhuna tinggalkan dapat terus tumbuh dan berkembang, membawa manfaat bagi umat dan bangsa. Di tengah kesibukannya yang padat, Syaikhuna tak pernah melupakan pentingnya menyebarkan ilmu melalui tulisan. Beliau banyak menulis dan menerjemahkan berbagai kitab ke dalam bahasa Sunda dan Indonesia untuk mempermudah masyarakat dalam memahami ajaran Islam. Karyakarya beliau tidak hanya menjadi pedoman bagi para santri, tetapi juga bagi umat secara luas. Berikut adalah sebagian dari karya-karya beliau yang patut kita jadikan warisan berharga: 1. Terjemah Tanwirul Hija’ 2. Terjemah Aqidatul Awwam 3. Terjemah Nadzom Burdah 4. Terjemah Jauharutt Tauhid 5. Asmaul Husna 6. Fiqih Zakat 7. Fiqih Haji 8. Bimbingan Ziarah 9. Bimbingan Mengurus Mayit Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 30 10. Arrisalah fi Adilatimasaili Zakat 11. Khutbah Jum’at (2 Jilid) 12. Fiqih Mua’amalah 13. Adabul Abidin 14. Terjemah Fi Zhilalil Ka’bah 15. Tajhizul Janaizil Muslim 16. Babun Nikah 17. Masuknya Islam di Jawa Barat 18. Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Karya-karya beliau tidak hanya menyebarkan ilmu, tetapi juga menjadi jembatan bagi umat untuk memahami ajaran Islam dengan cara yang lebih mendalam dan aplikatif. Semoga kita semua dapat meneladani semangat beliau dalam menuntut ilmu dan berbagi kebaikan dengan sesama. KEBERHASILAN DALAM MEMBIMBING PENGAJIAN IHYA UL IHYA Sejak pertama kali memulai bimbingan Pengajian Ihyaul Ihya pada 1 Juli 1970, Syaikhuna telah menunjukkan dedikasi yang luar biasa dalam membimbing umat, dengan istiqomah yang tak tergoyahkan. Pengajian yang pada awalnya hanya diikuti oleh segelintir orang di satu tempat, kini berkembang menjadi sebuah wadah ilmu yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat, baik dari Cianjur Kota maupun sekitarnya. Perjalanan panjang ini bukan sekadar tentang jumlah orang yang hadir, namun lebih kepada kualitas ukhuwah yang terjalin, semangat keilmuan yang tumbuh, dan kesadaran spiritual yang semakin meluas. Ihyaul Ihya telah menjelma menjadi darah daging bagi masyarakat Cianjur, memberikan cahaya pengetahuan dan pencerahan bagi jiwa yang dahaga akan kebenaran. Pengajian ini bukan hanya sekadar rutinitas, namun telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat, yang tak Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 31 hanya memenuhi kebutuhan ilmu, namun juga mempererat tali silaturahim antar sesama. Pengajian Ihya Ul Ihya Syaikhuna dengan para Kiayi dan Ajengan di Pondok Pesantren Al Barkah Kabupaten Cianjur Banyak yang menilai pengajian ini sebagai salah satu contoh sukses di tengah zaman yang terus berkembang. Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari keteladanan dan semangat yang ditanamkan oleh Syaikhuna, yang selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi umat, tanpa mengenal lelah. Sebuah pengajian yang tak hanya menanamkan ilmu, tetapi juga membentuk karakter dan memperkuat iman, menjadikannya salah satu pengajian yang patut dicontoh oleh generasi sekarang. Keberadaan Syaikhuna dalam pengajian Ihyaul Ihya bukan hanya sebagai pengajar, melainkan juga sebagai mursyid yang memandu hatihati jamaah menuju cahaya spiritual. Dengan kedalaman ilmunya, terutama melalui kitab-kitab monumental seperti Ihya Ulumuddin, Qolyubi, dan Hikam, beliau berhasil menanamkan rasa cinta yang mendalam terhadap ilmu, sehingga jamaah merasa terikat erat dan terus setia mengikuti setiap kajian yang disampaikan. Pengajian ini, yang memiliki kekhasan dalam memadukan ajaran Tasawuf dan Fiqih, telah memperoleh pengakuan luas dari para ulama di Cianjur. Tak jarang, mereka memuji kemampuan Syaikhuna dalam Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 32 menyampaikan mendalam, ilmu bahkan dengan ada cara yang yang begitu berpendapat sederhana bahwa beliau namun mampu mengungkapkan ajaran-ajaran tinggi dalam kitab Ihya dengan bahasa Sunda yang begitu memikat, hingga membuat setiap kata yang disampaikan dapat diterima dengan mudah oleh seluruh jamaah, tanpa ada yang tertinggal. Dalam mengasuh pengajian yang penuh berkah ini, Syaikhuna tak sendiri. Beliau dibantu oleh para asatidz yang sangat mendukung kelancaran kajian, di antaranya: 1. KH R Hasan (almarhum) 2. H Jailani (almarhum) 3. KH Aam Abdussalam (almarhum) 4. KH Mahmud Rozy (almarhum) 5. KH Ibih Qosim (almarhum) 6. K Teten Kamaluddin Azhuri (almarhum) 7. KH. Muh. Zaenal Abidin (almarhum) 8. Ust. Ma’mun Abdullah (almarhum) 9. K Deni Majduddin (almarhum) 10. KH Muhammad Zainuddin 11. KH M Deni Ramdani 12. K Adi Surya 13. K Budi Muhammad 14. K Aldi Fakhrurrozy Kehadiran mereka tidak hanya memperkaya pengajian ini, namun juga memberikan kontribusi besar dalam menciptakan suasana ilmiah yang penuh kedamaian dan pemahaman mendalam terhadap agama. Keberhasilan ini merupakan buah dari kerjasama yang harmonis antara guru dan jamaah yang saling mendukung untuk terus berbenah dan berkembang dalam ilmu dan amal. Almarhum Mama KH Abdullah bin Nuh, seorang ulama besar yang penuh kebijaksanaan, saat mendengarkan penjelasan Syaikhuna dalam pengajian kitab Ihya Ulumuddin, terkesan dengan kedalaman ilmu dan Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 33 metode penyampaian yang begitu memikat hati. Beliau merasakan bahwa cara Syaikhuna mengungkapkan ilmu dapat menyentuh jiwa setiap pendengarnya, membuatnya tertarik untuk lebih mendalami setiap kata yang diucapkan. Dengan rasa penuh penghargaan, Mama memberikan saran yang bijak kepada Syaikhuna, agar pengajian tersebut tidak hanya tetap berlangsung di satu tempat, melainkan juga berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Saran ini datang bukan hanya dari pertimbangan pragmatis, tetapi juga dari visi yang jauh ke depan, agar semakin banyak umat yang dapat merasakan manfaat dari pengajian yang penuh berkah ini. KH R. Abdul Halim, Ketua MUI Kabupaten Cianjur, yang telah menjalin persahabatan lebih dari 30 tahun dengan Syaikhuna, menyatakan dengan tegas bahwa keilmuan Syaikhuna di wilayah Cianjur tidak perlu diragukan lagi. Beliau telah terbukti menjadi rujukan utama, diamanahi untuk mengajar dan membimbing para ulama di berbagai daerah. Dengan penuh penghargaan, KH Abdul Halim mengungkapkan bahwa selama bertahun-tahun bergaul dengan Syaikhuna, beliau tidak pernah mengalami kesulitan dalam memberikan jawaban atau menerjemahkan persoalan, baik itu berkaitan dengan hukum agama maupun sejarah. "Yang paling saya kagumi," kata KH Abdul Halim, "adalah sikap tegas dan jelas beliau dalam menetapkan sesuatu. Kejelasan tersebut bukan hanya karena kefasihan dalam ilmu, tetapi juga karena keyakinan yang sangat kuat terhadap kebenaran yang beliau miliki." Syaikhuna, dengan penuh dedikasi, melaksanakan pengajian Ihya Ulumuddin setiap pagi, dengan jadwal yang telah teratur dan terencana, seperti halnya air yang mengalir tanpa henti. Pengajian tersebut dilaksanakan secara bergilir di beberapa tempat yang telah ditetapkan: Hari Jum’at: di Pondok Pesantren Al Barkah Hari Minggu: di Pondok Pesantren Al Muthmainnah, Bojongherang Hari Selasa: di Masjid Agung Kaum Selain itu, pengajian ini juga berlangsung secara bergilir dari masjid ke masjid dan musholla ke musholla di seluruh Cianjur, dimulai pukul 06.00 Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 34 hingga 07.00 WIB. Pengajian yang penuh berkah ini tidak hanya mengkaji kitab Ihya Ulumuddin, tetapi juga kitab-kitab fiqih lainnya seperti Fathul Mu’in, Qolyubi, Hikam, dan berbagai karya ilmiah lainnya. Setiap pengajian selalu dihadiri oleh jamaah yang setia, dengan jumlah peserta yang mencapai lebih dari 300 orang, bahkan kadang melebihi itu. Semua itu menunjukkan betapa dahaganya masyarakat Cianjur akan ilmu yang berkualitas dan mendalam. Mari kita berdoa agar pengajian ini terus berjalan dengan lancar dan semakin banyak jamaah yang mendapatkan manfaat dari ilmu yang diajarkan. BEBERAPA NASEHAT KEPADA PARA SANTRI Setiap kali Syaikhuna memberikan pelajaran kepada para santrinya, kata-kata beliau selalu penuh dengan mutiara hikmah yang dapat menembus hati dan menyentuh jiwa. Nasehat-nasehat beliau bukan hanya sekadar petuah, tetapi juga bekal berharga yang akan terus mengarahkan langkah hidup kita. Berikut adalah beberapa nasehat beliau yang menjadi pegangan dan bisa kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari: 1. Usia terbaik untuk belajar adalah antara tujuh belas hingga tiga puluh tahun. Di sinilah waktu yang paling subur untuk menggali ilmu dan menanamkan fondasi yang kokoh bagi masa depan. 2. Apa pun yang kamu dengar dalam pelajaran (ilmu), catatlah. Menulis adalah kunci untuk mengingat dan mendalami ilmu yang diperoleh. 3. Dosa itu adalah penghalang bagi kita untuk mendapatkan ilmu agama dengan baik. Jauhkanlah diri dari dosa agar hati tetap lapang untuk menerima ilmu. 4. Tidak cukup hanya seorang kyai untuk memimpin pesantren di zaman ini. Pesantren juga membutuhkan bantuan dari arsitek, Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 35 pengusaha, dan pemikir yang mahir untuk berkembang dan bertahan. 5. Lestarikanlah pesantren Al Barkah hingga akhir zaman. Ini adalah warisan yang harus dijaga dan diteruskan kepada generasi berikutnya. 6. Berdakwah yang baik adalah menyampaikan agama dengan prinsip yang kuat, berdasarkan Ahlussunnah wal Jama’ah, sambil menyesuaikan materi dengan kebutuhan jamaah. 7. Berbaktilah kepada orang tuamu, karena di kemudian hari anakmu akan berbakti kepadamu. Apa yang kita tanamkan, itu pula yang akan kita petik. 8. Jika orang lain beribadah dengan fisik dan harta, maka beribadahlah kamu dengan ilmu. Ilmu adalah amalan yang tidak pernah habis, bahkan semakin dilaksanakan, semakin bertambah keberkahannya. 9. Ingatlah perkataan Imam Kholil bin Ahmad mengenai empat tipe manusia dalam ilmu: o Yang berilmu tetapi tidak sadar, seperti orang yang tidur, maka bangunkanlah dia. o Yang berilmu dan sadar, tetapi merasa tidak berilmu, maka didiklah dia. o Yang berilmu dan sadar berilmu, jadikanlah dia gurumu. o Yang tidak berilmu tetapi merasa berilmu, maka jauhilah dia, karena ia adalah orang yang jahil. 10. Ketahuilah bahwa Ahlussunnah terdiri dari tiga kelompok: Ahlul Hadits, yaitu para sahabat dan tabi’in. Ahlul Wijdan, yaitu Aulia (Mukasyafin). Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 36 Ahlul Kalam, yaitu mereka yang mempelajari sifat-sifat Allah, seperti sifat 20 atau sifat 13. 11. Ingatlah bahwa hidup ini dapat dipermudah dan diperkaya dengan tiga hal: Teknologi akan membuat hidup kita lebih mudah. Seni akan membuat hidup lebih indah. Agama akan menjadikan hidup kita sebagai ibadah. 12. Berbuatlah kebaikan selama masih memungkinkan, dan tetaplah beramal ma’ruf nahi munkar, meskipun kita belum melihat hasilnya. Setiap amal yang dilakukan dengan ikhlas akan memberikan dampak yang baik di masa depan. Dengan nasehat-nasehat tersebut, Syaikhuna mengajarkan kita untuk hidup dengan penuh kesadaran, ilmu, dan kebijaksanaan. Nasehat beliau adalah cahaya yang menerangi jalan kehidupan, dan semoga kita bisa meneladani semangat beliau dalam mengamalkan ilmu, berbakti, dan berbuat kebaikan bagi umat. Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 37 Runtuyan Syaihuna Mama KH Abdul Kodir Rozy Manaqib Syaikhuna Mama KH Abdul Kodir Rozy | 38