MAKALAH Islami Nusantara dan tasawuf, para sufi Nusantara Makalah ini ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah akhlaq dan tasawuf yang diampu oleh: Ahmad Zia Khakim, S.H.M.H. AS Disusun oleh Anggota Kel. 6 Hazza Zufar Al Ghozi 235221055 najwa arsy zahwara 235221065 Olivia Indah Pramudiawati 235221067 PROGRAM STUDI AKUNTANSI SYARIAH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN MAS SAID SURAKARTA 2024 KATA PENGANTAR Puji dan Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan limpahan Rahmat dan berkahnya kepada kita, sehingga dengan izinNya kami dapat menyelesaikan makalah. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi teladan kita Muhammad S.A.W. Kepada keluarganya, sahabatnya, dan mudah- mudahan kepada kita sebagai umatnya sampai akhir zaman. Aamin.. Penulisan makalah ini bertujuan untuk menyelesaikan tugas kelompok mata kuliah Akhlaq dan Tasawuf. Terima kasih kepada bapak dosen terhormat yang telah memberikan tugas ini, terimakasih juga kepada semua pihak yang membantu menulis makalah ini. Kami sangat menyadari bahwa makalah kami masih jauh dari sempurna. Namun, kami berharap makalah ini sangat bermanfaat bagi pembacanya. Jika ada banyak kesalahan dalam penulisan makalah ini, kami mohon maaf. Kami harap semua pihak dapat memberikan saran dan komentar untuk perbaikan makalah ini di masa yang akan datang. Surakarta, 2 Oktober 2024 Kelompok 6 ii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii BAB I ...................................................................................................................... 1 PENDAHULUAN...................................................................................................1 A. Latar Belakang ........................................................................................................ 1 B. Rumusan Masalah ................................................................................................... 1 C. Tujuan Masalah ....................................................................................................... 1 BAB II .................................................................................................................... 2 PEMBAHASAN .................................................................................................... 2 A. Islam masuk dan berkembang di Nusantara………………………………………..…2 B. Peran tasawuf dalam ajaran Islam di Nusantara………………………………………5 C. Tokoh tasawuf di Nusantara …………………..………………………………...…....6 BAB III……………………………………………………………………...…...10 A. Kesimpulan……………………………………………………………....10 B. Saran……………………………………………………………………..10 DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 11 iii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tasawuf atau sufisme adalah aspek spiritual dalam Islam yang menekankan pada pendekatan batiniah kepada Tuhan, kebersihan jiwa, dan cinta kepada Sang Pencipta. Dalam konteks Nusantara, tasawuf memainkan peran penting dalam penyebaran Islam. Para sufi yang datang dari Timur Tengah atau Gujarat tidak hanya memperkenalkan ajaran Islam, tetapi juga membawa pendekatan spiritual yang lekat dengan ajaran tasawuf. Para sufi ini sering menggunakan pendekatan yang lembut dan penuh kearifan, menjalin hubungan dengan masyarakat lokal melalui pendekatan budaya, sehingga proses Islamisasi berjalan secara damai dan bertahap. B. Rumusan Masalah 1. bagaimana islam masuk dan berkerbang di nusantara? 2. apa peran tasawuf dalam ajaran islam di nusantara? 3. siapa saja tokoh tasawuf di nusantara? C. Tujuan Masalah 1. Untuk mengetahui islam masuk dan berkembang di Nusantara. 2. Untuk mengetahui peran tasawuf dalam ajaran islam di Nusantara. 3. Untuk mengetahui tokoh tasawuf di Nusantara. 1 BAB II PEMBAHASAN A. Islam masuk dan berkembang di Nusantara Sejak zaman prasejarah, penduduk Indonesia terkenal sebagai pelayar laut yang ahli. Rute pelayaran antara kepulauan Indonesia dan Asia Tenggara telah ada sejak awal masehi. Wilayah Barat Nusantara dan Malaka merupakan pusat perdagangan penting, terutama untuk rempah-rempah dan hasil bumi. Pedagang Arab, Persia, dan India mulai berdagang di Indonesia sejak abad ke-7 M. Malaka menjadi pusat perdagangan dan pelayaran utama. Kapal-kapal Arab, Persia, dan India berlayar dari Barat ke Timur hingga ke Cina, menggunakan angin musim untuk perjalanan pulang-pergi. Islam mulai berkembang di Indonesia pada abad ke-13 M, dengan komunitas Muslim di Pasai, Perlak, Palembang, dan Jawa. Proses masuknya agama Islam ke nusantara tidak berlangsung secara cepat dan tunggal, melainkan lambatlaun dan sangat beragam. Menurut para sejarawan, teori-teori tentang kedatangan Islam ke Indonesia dapat dibagi menjadi 4 yaitu 1. Teori makkah teori makkah mengatakan bahwa proses masuknya Islam ke Indonesia adalah langsung dari Mekah atau Arab. Proses ini berlangsung pada abad pertama Hijriah atau abad ke-7 M. Tokoh yang memperkenalkan teori ini adalah Haji Abdul Karim Amrullah atau HAMKA, salah seorang ulama sekaligus sastrawan Indonesia. 2. Teori Gujarat Teori Gujarat, mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari Gujarat pada abad ke-7 H atau abad ke-13 M. Tokoh pertama yang mengemukakan teori ini adalah J. Pijnapel pada abad ke-19 M. Menurutnya, orang-orang Arab bermazhab Syafi'i telah bermukim di 2 Gujarat dan Malabar sejak awal Hijriyyah (abad ke 7 Masehi), namun yang menyebarkan Islam ke Indonesia menurut Pijnapel bukanlah dari orang Arab langsung, melainkan pedagang Gujarat yang telah memeluk Islam dan berdagang ke dunia timur, termasuk Indonesia. Teori Gujarat kemudian juga dikembangkan oleh J.P. Moquetta (1912) yang memberikan argumentasi dengan batu nisan Sultan Malik Al-Saleh yang wafat pada tanggal 17 Dzulhijjah 831 H/1297 M di Pasai, Aceh. Menurutnya, batu nisan di Pasai dan makam Maulanan Malik Ibrahim yang wafat tahun 1419 di Gresik, Jawa Timur, memiliki bentuk yang sama dengan nisan yang terdapat di Kambay, Gujarat. Moquetta akhirnya berkesimpulan bahwa batu nisan tersebut diimpor dari Gujarat, atau setidaknya dibuat oleh orang Gujarat atau orang Indonesia yang telah belajar kaligrafi khas Gujarat. 3. Teori Persia Teori Persia, mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari daerah Persia. Pencetus dari teori ini adalah Hoesein Djajadiningrat, sejarawan asal Banten. Dalam memberikan argumentasinya, Hoesein lebih menitik beratkan pada kesamaan budaya dan tradisi yang berkembang antara masyarakat Persia dan Indonesia. Tradisi tersebut antara lain: tradisi merayakan 10 Muharram atau Asyuro sebagai hari suci kaum Syiah atas kematian Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad, seperti yang berkembang dalam tradisi tabut di Pariaman di Sumatera Barat. Alasan lain yang dikemukakan Hoesein yang sejalan dengan teori Moquetta, yaitu ada kesamaan seni kaligrafi pahat pada batu nisan yang dipakai di kuburan Islam awal di Indonesia. 4. Teori Cina Bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia (khususnya di Jawa) berasal dari para perantau Cina. Orang Cina telah berhubungan dengan masyarakat Indonesia jauh sebelum Islam dikenal di Indonesia. Pada masa HinduBuddha, etnis Cina atau Tiongkok telah berbaur dengan penduduk Indonesia terutama melalui kontak dagang. Bahkan, ajaran Islam telah 3 sampai di Cina pada abad ke-7 M, masa di mana agama ini baru berkembang. Proses Islamisasi tidak berhenti sampai berdirinya kerajaan-kerajaan Islam, tetapi terus berlangsung dengan berbagai cara dan saluran-saluran Islamisasi yaitu: 1. Perdagangan Jalur perdagangan merupakan tahap paling awal dalam proses Islamisasi. Tahap ini diperkirakan pada abad ke-7 M yang melibatkan pedagang Arab, Persia,Cina dan India. Melalui proses perdagangan, Islam dibawa oleh para saudagar-saudagar muslim kepada penduduk di Nusantara. 2. Perkawinan Pada jalur ini para saudagar lamakelamaan mulai menetap, baik sementara maupun permanen. Kemudian para saudagar yang memiliki ekonomi dan status sosial yang tinggi menikahi puteri bangsawan sehingga turut mempercepat proses Islamisasi. Kemudian membentuk perkampungan-perkampungan yang dikenal dengan nama Pekojan. 3. Pendidikan Melalui pendidikan dilakukan olah para ulama, kyai, dan guru agama dengan mendirikan pondok pesantren bagi para santri. 4. Politik Kekuasaan raja memiliki peran yang sangat besar dalam proses Islamisasi. Ketika seorang raja memeluk agama Islam, maka secara tidak langsung biasanya rakyat mengikuti jejak rajanya. 5. Kesenian dan Budaya 4 Kesenian merupakan proses Islamisasi yang menarik agar masyarakat memeluk agama Islam dengan cara menyajikan kesenian lokal yang didalamnya disisipkan ajaran-ajaran Islam. Islamisasi dilakukan melalui seni bangunan, seni pahat, atau ukir, tari, musik, dan sastra. Saluran seni yang paling terkenal adalah pertunjukkan wayang dan musik. 6. Tasawuf Tasawuf masuk ke Indonesia pada abad ke-13 M, dan mazhab yang paling berpengaruh adalah Mazhab Syafi’i. Tasawuf merupakan ajaran untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah. Ajaran tasawuf mempunyai persamaan dengan alam pikiran mereka yang sebelumnya menganut agama Hindu, sehingga agama baru itu mudah dimengerti dan diterima. Jalur tasawuf paling berperan membentuk kehidupan sosial bangsa Indonesia. Bukti-bukti mengenai hal ini dapat diketahui dari Sejarah Banten, Babad, Tanah Jawi, dan Hikayat Raja-raja Pasai. B. Peran tasawuf dalam ajaran Islam di Nusantara Tasawuf mempunyai peranan yang sangat penting dalam perkembangan ajaran Islam di nusantara. Ajaran tasawuf atau tasawuf Islam menekankan pada pendekatan spiritual dengan mensucikan pikiran, mengendalikan hawa nafsu, dan mendekatkan diri kepada Allah melalui berbagai amalan spiritual seperti dzikir, wirid, dan meditasi. Berikut beberapa peran utama tasawuf dalam Islam di Nusantara: 1. Menyebarkan Islam melalui pendekatan budaya: ulama sufi seperti Wali Songo dari Jawa mengambil pendekatan tasawuf yang moderat, inklusif, dan toleran dalam menyebarkan ajaran Islam. Mereka memadukan nilai-nilai Islam dengan budaya lokal, termasuk seni, tradisi, dan adat istiadat, sehingga ajaran Islam lebih mudah diterima oleh masyarakat setempat. 2. Membentuk Tradisi Keagamaan Lokal: Tasawuf mempengaruhi banyak praktik keagamaan lokal, termasuk ziarah ke makam para wali, perayaan Maulid Nabi, 5 dan perayaan keagamaan lainnya. Tradisi keagamaan ini menciptakan ikatan sosial yang kuat dalam masyarakat dan memperkuat identitas Islam di kepulauan tersebut. 3. Pendidikan Spiritual dan Akhlak: Ajaran tasawuf menekankan pentingnya pendidikan moral dan spiritual. Pondok pesantren banyak dipengaruhi oleh ajaran sufi dan mengajarkan adab (etika) dan akhlak (perbuatan baik) sebagai bagian dari pendidikan agamanya. Hal ini akan membantu menghasilkan generasi umat Islam yang tidak hanya taat ritual, namun juga memiliki akhlak dan kedalaman spiritual yang baik. 4. Pengaruh terhadap institusi sosial dan politik: Ajaran tasawuf juga berperan dalam membentuk struktur sosial nusantara. Banyak kerajaan dan kesultanan di wilayah tersebut yang mengadopsi ajaran tasawuf sebagai pedoman dalam menjalankan pemerintahan dan masyarakatnya. Raja dan pemimpin sering kali menjalin hubungan dekat dengan ulama sufi yang bertugas sebagai penasihat spiritual. Secara keseluruhan, tasawuf berperan penting dalam pembentukan Islam di nusantara, menjadikan Islam unik melalui perpaduan nilai-nilai spiritual, budaya lokal, dan identitas agama yang kuat. C. Tokoh tasawuf di Nusantara 1. Syeikh Hamzah Fansuri Hamzah Al-Fansuri lahir di Sumatera Utara. Tokoh ini menganut paham wahdah alwujud yang dicetuskan Ibnu Arabi. Ia juga dikenal sebagai penyair pertama yang memperkenalkan syair ke dalam sastra Melayu. Pemikiran Hamzah Al-Fansuri tentang tasawufnya banyak dipengaruhi oleh Ibnu Arabi dalam paham wahdah alwujudnya. ajaran tasawuf Al-Fansuri yang lain, yakni berkaitan dengan hakikat wujud dan penciptaan. Menurutnya, wujud itu hanyalah satu walaupun kelihatan banyak. Ia menggambarkan wujud Tuhan bagaikan lautan dalam yang tidak bergerak, sedangkan alam semesta merupakan gelombang lautan wujud Tuhan. 6 2. Syeikh Abdul Rauf as-Singkili Syaikh Abdur Rauf As-Sinkili adalah tokoh sufi dari Aceh. Ia adalah guru para Sufi Indonesia. As-Sinkili merupakan tokoh ulama Indonesia yang sangat berpengaruh dalam penerapan paham-paham sufi di Indonesia. Tidak hanya itu, ia juga dikenal sebagai seorang ulama pengarang. Cukup banyak karya-karyanya yang sudah ia buat. Baik itu di bidang fiqh, ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu kalam, dan ilmu tasawuf. Ajaran tasawuf yang dikembangkan oleh As-Sinkili sama dengan Syamsuddin dan Nuruddin, yaitu menganut paham satu-satunya wujud hakiki, yaitu Allah. 3. Nuruddin Ar-Raniri Pemikiran Nuruddin Ar-Raniri tentang tasawuf yaitu mengenai ketuhanan, Ar-Raniri berupaya menyatukan paham Mutakallimin dengan paham para sufi yang diwakili oleh Ibn Arabi. Ia berpendapat ungkapan “wujud Allah dan Alam Esa” berarti alam ini merupakan sisi lahir dari hakikat batin yaitu Allah SWT sebagaimana yang dimaksud Ibn Arabi. Tetapi hakikatnya alam ini tidak ada yang ada adalah wujud Allah Yang Esa. Jadi ia berpendapat bahwa alam ini tidak bisa dikatakan berbeda dengan Allah atau bersatu dengan Allah, alam ini merupakan tajalli Allah SWT. 4. Syeikh Yusuf Makasari Syaikh Yusuf Al-Makasari adalah seorang ulama, mufti, pendiri tarekat, pejuang, dan penulis yang berasal dari Makassar. Selama hidupnya, ia dikenal sebagai tokoh penyebar agama Islam yang meiliki peranan yang cukup besar dalam proses Islamisasi di Sulawesi Selatan yang dirintis sebelumnya oleh tiga mubaligh dari Minangkabau. Selain itu ia juga berjasa dalam menyebarluaskan Islam di Banten, Srilanka, dan Afrika Selatan. Al Makasari dikenal dengan karya tulisannya tentang berbagai aspek agama 7 yang jumlahnya kurang lebih sekitar 22 judul dan menyebar di kalangan masyarakat. 5. Al-Ghazali Dalam tasawufnya, Al-Ghazali memilih tasawuf sunni yang berdasarkan Alquran dan As-Sunnah Nabi Muhammad saw. ditambah dengan Ahlu AsSunnah wa Al-Jamaah. Al-Ghazali berpendapat bahwa sosok sufi adalah menempuh jalan kepada Allah Swt., dan perjalanan hidup mereka adalah yang terbaik, jalan mereka adalah jalan yang paling benar, dan moral mereka adalah yang paling bersih. Perjalanan menuju tasawuf menurut Al-Ghazali diawali dengan penyucian hati, serta melepaskan diri dari ketergantungan kepada selain Allah Swt. Beberapa cara untuk merealisasikan dalam bertasawuf menurut Al-Ghazali diantaranya: Takhalli (pengkosongan diri terhadap sifat-sifat tercela), Tahalli (menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji) dan Tajalli (tersingkapnya tabir). 6. Abdush Shamad Al-Falimbani Corak pemikiran tasawuf Abdush Shamad Al-Falimbani dalam karyakaryanya dalam bidang tasawuf yang jumlahnya cukup banyak. Sebagian besar pemikirannya banyak dipengaruhi oleh karya-karya Al-Ghazali. Al-Falimbani juga memiliki pengaruh penting dalam penyebaran Islam dengan pendekatan tasawuf. 7. Hamka Beberapa pemikirannya yang berkenan dengan tasawuf adalah tasawuf pada hakikatnya adalah usaha yang bertujuan memperbaiki budi dan membersihkan batin. Secara garis besar, konsep dasar tasawuf Hamka adalah tasawuf yang berorientasi “ke depan” yang meliputi prinsip tauhid untuk menjaga hubungan dengan 8 Tuhan sekaligus merasa dekat dengan Tuhan. 8. Syeikh Nawawi Al-Bantani Sebagaimana Syaikh Ahmad Khatib Sambas, Nawawi adalah penganut tasawuf Ghazali. Ia menyarankan ke masyarakat untuk mengikuti salah satu tasawuf, seperti Imam Sa’id bin Muhammad Abu Qasim Al-Junaidi. Nawawi menggunakan metafora mengenai syariat ibarat kapal, tarekat ibarat laut, dan hakikat ibarat mutiara yang berada di laut. Al-Bantani juga membahas individu sebagai bagian dari masyarakat. Seseorang memang harus senantiasa berupaya sebaik mungkin untuk mendapat rahmat Tuhan, tetapi tidak dapat mengabaikan kehidupan sosial. 9 BAB III KESIMPULAN Sejak zaman prasejarah, masyarakat Indonesia telah terkenal sebagai pelaut yang terampil. Rute perdagangan antara kepulauan Indonesia dan Asia Tenggara telah ada sejak zaman kuno.Wilayah barat Nusantara dan Malaka merupakan pusat perdagangan penting, terutama rempah-rempah dan hasil pertanian. Proses masuknya Islam ke Nusantara berlangsung secara bertahap dan beragam, beberapa teori menyebutkan adanya pengaruh dari Mekkah, Gujarat, Persia, dan Cina. Islamisasi berlanjut melalui perdagangan, perkawinan, pendidikan, politik, seni, budaya, dan tasawuf, yang membentuk tatanan sosial masyarakat Indonesia. Tasawuf memainkan peran penting dalam pengembangan Islam di wilayah Nusantara dengan menekankan praktik spiritual, pendekatan budaya, tradisi keagamaan lokal, dan pendidikan moral, sehingga membentuk identitas Islam yang unik. Ada beberapa tokoh tasawuf di nusantara, antara lain : Syeikh Hamzah Fansuri, Syeikh Abdul Rauf as-Singkili, Nuruddin Ar-Raniri, Syeikh Yusuf Makasari, Al-Ghazali, Abdush Shamad Al-Falimbani, Hamka, Syeikh Nawawi Al-Bantani. SARAN Pentingnya Pelestarian Budaya: Nilai-nilai tasawuf yang berbaur dengan tradisi lokal telah membantu menciptakan identitas Islam yang unik di Nusantara. Maka, pelestarian budaya dan tradisi keagamaan lokal yang positif dapat terus dilakukan dengan tetap berlandaskan ajaran Islam yang universal. Pendidikan Moral: Tasawuf yang tekanan pendidikan moral dan spiritualitas dapat terus dikembangkan melalui lembaga pendidikan formal 10 dan informal, guna membangun generasi yang berakhlak baik dan memiliki kesadaran spiritual yang tinggi. Penguatan Sejarah Perdagangan dan Tasawuf: Sejarah perdagangan sebagai jalur utama penyebaran Islam perlu terus dipelajari dan dipahami, karena perdagangan internasional telah memainkan peran penting dalam pertukaran budaya dan agama. DAFTAR PUSTAKA Azra, Azyumardi. (2004). "Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII". Jakarta: Kencana. Bruinessen, Martin van. (1994). "Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia". Bandung: Mizan. Ricklefs, M.C. (2013). "Mengislamkan Jawa: Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya dari 1930 sampai Sekarang". Jakarta: Serambi. Simuh. (1985). "Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsita". Jakarta: UI-Press. 11