Tanya Jawab Prepare Sidang 1. Sebutkan definisi masing – masing variabel Green Perceived Value • Patterson and Spreng (1997) mendefinisikan Green Perceived Value sebagai penilaian keseluruhan dari konsumen atas manfaat murni suatu produk atau jasa terkait apa yang diterima dan diberikan berdasarkan keinginan terhadap lingkungan konsumen, harapan yang berkelanjutan, dan kebutuhan ramah lingkungan. • Green Perceived Value adalah penilaian secara kognitif konsumen mengenai seberapa besar manfaat produk atau jasa yang ramah lingkungan dengan didasarkan pada persepsinya mengenai manfaat yang diperoleh dan hal apa yang dikorbankan (Han 2021). • Menurut Ma and Chang (2022), Green Perceived Value adalah kondisi dimana konsumen merasakan konsep dan harapan dari kelestarian lingkungan berdasarkan produk dan jasa yang diterima atau dibayar. Green Trust • Chen (2010) mendefinisikan Green Trust sebagai kesediaan untuk bergantung pada suatu produk, jasa, atau merek yang didasarkan oleh keyakinan atau ekspektasi yang dihasilkan dari kredibilitas, kebajikan, kemampuan mengenai kinerja lingkungan. • Menurut Schurr and Ozanne (1985), konsep dari Green Trust adalah suatu harapan atau keyakinan yang dimiliki oleh pelanggan bahwa produk atau jasa yang digunakan adalah sesuatu yang memiliki kredibilitas demi memenuhi apa yang menjadi kebutuhan lingkungan pelanggan. • Menurut Hang et al. (2022), Green Trust merupakan suatu keinginan individu karena menyukai produk yang melibihi keinginan yang diharapkan dalam hal kredibilitas dan kinerja produk dalam suatu lingkungan yang dirasakan sebagai konsumen. Green Satisfaction • Menurut Chen (2010), Green Satisfaction didefinisikan sebagai tingkat yang dilakukan dalam memenuhi konsumsi yang menyenangkan dengan tujuan memuaskan keinginan dari lingkungan pelanggan, harapan yang berkelanjutan, dan juga kebutuhan dalam hal ramah lingkungan. • Dwikuncoro and Ratajczak (2019) berpendapat bahwa Green Satisfaction merupakan sesuatu yang dirasakan oleh pelanggan dalam memenuhi keinginan, tujuan dan kebutuhan pelanggan terkait hal-hal yang berhubungan oleh kepedulian perusahaan terhadap keramahan lingkungan. • Menurut Román-Augusto et al. (2022), menyatakan bahwa Green Satisfaction adalah tingkatan pemenuhan yang menyenangkan mengenai bagaimana konsumsi dengan tujuan apa yang diinginkan dan diharapkan untuk lingkungan dan kesehatan pelanggan dapat terpenuhi. Green Word-of-Mouth • • • Söderlund (1998) mendefinisikan Green Word-of-Mouth sebagai suatu hal yang menggambarkan seberapa jauh pelanggan akan berpendapat kepada teman, kerabat, dan kolega dalam menyampaikan pesan lingkungan yang positif dari suatu produk atau merek. Román-Augusto et al. (2022) mendefinisikan Green Word-of-Mouth sebagai sejauh mana pelanggan memberi pengaruh kepada teman, keluaraga atau kerabat terkait pesan positif lingkungan dari produk dan akhirnya mempengaruhi mereka untuk sering membeli green product. Chaniotakis (2009), Lymperopoulos (2009), serta Anderson (1998) dalam Mehdikhani and Valmohammadi (2022), menyatakan bahwa Green Word-ofMouth adalah komunikasi verbal antara konsumen atau orang lain yang berperan seperti saluran untuk menghubungkan dengan saluran sosial, penyedia produk atau jasa, ahli, teman, dan kerabat dalam menyempaikan pengalaman positif atau negatif terkait keluhan maupun desas-desus yang dialami. Green Purchase Intention • Menurut Guerreiro and Pacheco (2021), menjelaskan bahwa Green Purchasing Intention merujuk pada peluang saat konsumen akan membeli produk tertentu yang bersumber dari konsekuensi permasalahan lingkungan dan mewakili sejauh mana konsumen bersedia untuk membeli suatu produk atau jasa yang dianggap termasuk ramah lingkungan, tetapi tidak menjamin semua pelanggan akan membeli green product. • Menurut Han dan Tian (2005) dalam Lu et al. (2022), bahwa Purchase Intention merupakan sebuah kemungkinan bagi konsumen dalam membeli suatu produk, sedangkan Green Purchase Intention merupakan kemungkinan saat konsumen membeli produk tertentu karena pertimbangan dari persepi lingkungan mereka, dan mewakili sejauh mana kesiapan konsumen dalam membeli produk atau jasa yang memiliki reputasi ramah lingkungan. • Netemeyer et al. (2005) dan Morrison (1979) dalam Chen and Chang (2012) mendefinisikan bahwa Purchase Intention adalah segala bentuk kemungkinan yang dimiliki setiap konsumen dalam membeli produk atau merek tertentu yang merupakan hasil dari apa yang dibutuhkan konsumen terhadap lingkungannya. 2. Logika Thinking dari penelitianmu 3. Jelaskan keterkaitannya antar variable Green Perceived Value terhadap Green Trust Menurut Zeithaml (1988); Zhuang et al., (2010) dalam Chen and Chang (2012), menyatakan bahwa Perceived Value selain penting dalam mempertahankan hubungan pelanggan dalam jangka panjang, tetapi juga memainkan peran krusial dalam memberikan pengaruh terhadap purchase intention. Dengan adanya hubungan jangka panjang berarti perusahaan telah menjalin kepercayaan dengan konsumen. Sehingga, perceived value memberikan pengaruh yang penting dalam menentukan kepercayaan pelanggan (C. Kim et al. 2008). Green Perceived Value terhadap Green Satisfaction Menurut Prebensen and Rosengren (2016), biasanya konsumen akan memperoleh nilai pengalaman ketika konsumen telah melalui eksperimen terhadap produk atau jasa, berdasarkan manfaat apa yang membedakannya dengan produk substitusi. Menurut Pan et al. (2021), bahwa positive perceived value memberikan kepuasan maksimal terhadap produk yang dibeli. Selain itu, dalam teori Value Belief Norm, mengungkapkan bahwa nilai yang dirasakan oleh konsumen memiliki hubungan yang positif dengan kepuasan pelanggan. Green Satisfaction terhadap Green Trust Green satisfaction cenderung meningkatkan green trust karena adanya pengalaman yang memberikan kepuasan konsumen dengan keyakinan bahwa produk hijau aman dan menjaga keberlangsungan lingkungan dan bumi (Wang et al. 2018). Sehingga, bagaimana kepercayaan yang dirasakan oleh konsumen dipengaruhi oleh bagaimana kepuasan yang dirasakan konsumen (Horppu et al. 2008). Green Trust terhadap Green Word-of-Mouth Menurut Guerreiro and Pacheco (2021), kepercayaan merek dapat mempengaruhi bagaimana hubungan yang terjalin dengan konsumen dan perilaku yang dihasilkan konsumen terhadap suatu merek. Menurut Sichtmann (2007), bahwa saat konsumen memiliki kepercayaan terhadap merek tertentu, risiko dalam memberikan testimoni yang buruk dan mengecewakan berkurang, maka berdampak pada konsumen untuk lebih cenderung merekomendasikan dan mengatakan hal-hal baik mengenai merek yang dirujuk kepada orang lain. Green Trust terhadap Green Purchase Intention Green Trust memberikan pengaruh terhadap Green Purchase Intention disebabkan oleh pelanggan yang menghubungan dengan bagaimana melakukan bisnis etis yang terpercaya, serta melepaskan atau menghindari dirinya dari aktivitas etis yang dianggap tidak pasti atau meragukan (Leonidou et al. 2013). Menurut Lam et al. (2016); Suhartanto et al. (2021); Guerreiro and Pacheco (2021) bahwa elemen penting dari Green Marketing adalah Green Trust yang disebabkan kemampuannya dalam memberi pengaruh terhadap Green Purchase Intention konsumen yang ditargetkan sebagai kunci yang bisa mempengaruhi perilaku konsumen terhadap produk ramah lingkungan. Green Satisfaction terhadap Green Word-of-Mouth Menurut Laroche et al. (2005), bahwa pengalaman terkait kepuasan yang diperoleh dari suatu produk akan merangsang timbulnya word of mouth positif yang berkaitan dengan produk yang digunakan. Menurut Wu et al. (2017), bahwa dalam perspektif lingkungan dan keramahan lingkungan, pengalaman dari green satisfaction mengacu pada kepuasan dari pengalaman yang diperoleh melalui green attribute setelah produk digunakan. Green Satisfaction terhadap Green Purchase Intention Menurut Chang and Fong (2010), penggunaan produk ramah lingkungan membuat konsumen sangat puas dan hal ini mengembangkan adanya rasa loyalitas yang berdampak terhadap green purchase di masa yang akan datang. Sehingga, green satisfaction sebagai hasil yang berasal dan diterima melalui kinerja asosiasi yang diharapkan yaitu sebelum pembelian green product dengan kinerja nyata yang dirasakan (Asgharian et al. 2012). Green Word-of-Mouth terhadap Green Purchase Intention Y. S. Chen et al. (2015), perusahaan banyak menggunakan strategi komunikasi dengan word of mouth untuk dapat memberikan pengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen. Selain itu, ketika pembeli potensial mendengar umpan balik positif mengenai suatu produk dari orang lain, maka memungkinkan pembeli dalam melakukan pembelian juga meningkat (GÖDEKMERDAN ÖNDER and DENİZ ÇAKIROĞLU 2023). Dengan demikian, green word-of-mouth sangat berdampak manfaatnya bagi perusahaan ketika pembeli potensial menerima respon atau umpan balik positif terhadap suatu produk berdasarkan informasi dari orang lain dan memungkinkan peningkatan pembelian dari konsumen (GÖDEKMERDAN ÖNDER and DENİZ ÇAKIROĞLU 2023). 4. Jelaskan grand theory yang dipakai. Dan apa alasannya menggunakan itu? • Menurut Ajzen and Fishbein (1980) dalam Román-Augusto et al. (2022), TPB (Theory of Planned Behaviour) adalah teori terkait perilaku yang menyatakan bahwa individu bertindak agak rasional, membuat keputusan berdasarkan informasi, dan mempertimbangkan implikasi tindakan mereka sebelum atau tidak terlibat dalam bertindak. • Menurut Freeman et al. (2020) dalam Langrafe et al. (2020) berpendapat bahwa dalam pendekatannya, semua individu atau kelompok yang berkepentingan dalam organisasi mendapat pertimbangan dalam manajemen strategis dari organisasi yang dikelola untuk tujuan dapat menciptakan nilai bagi pihak-pihak yang berkaitan dengan organisasi. Alasan menggunakan TPB karena motif seseorang dalam melakukan berbagai kegiatan pro lingkungan disebabkan berbagai faktor, seperti uang, waktu, tenaga dan sebagainya. Sehingga, teori ini untuk mendukung keputusan pembelian dari green product. Sedangkan, stakeholder theory karena teori ini tidak hanya berpengaruh terhadap pihak internal, tetapi juga pemasok, pelanggan, dan pesaing. Sehingga, berkaitan dengan manajemen strategis Perusahaan. 5. Measurement/indikator -statement kuesioner masing2 variabel. No. Variabel 1. Green Perceveid Value (X1) 2. Green Trust (X2) 3. Green Satisfaction (X3) 4. Green Word-ofMouth (X4) 5. Green Purchase Intention (Y) Indikator Pertanyaan 1. Produk memberikan lebih banyak manfaat daripada biaya untuk mendapatkannya. 2. Produk lebih ramah lingkungan dan sadar kesehatan daripada produk yang lebih konvensional. 3. Produk lebih bermanfaat bagi kesehatan dan lingkungan dibandingkan produk konvensional. 1. Saya yakin produk memiliki reputasi yang baik karena membantu kesehatan dan lingkungan. 2. Saya percaya bahwa produk dapat diandalkan. 3. Saya percaya merek menjual produk organik dan ramah lingkungan. 4. Saya percaya bahwa produk memenuhi janjinya menjaga kesehatan dan lingkungan. 1. Menggunakan produk membuat saya merasa nyaman dan puas. 2. Menurut saya merupakan keputusan bijak untuk membeli produk. 3. Secara keseluruhan, saya puas dengan produk. 1. Karena citra ramah lingkungan dan sehat, produk direkomendasikan oleh orang lain. 2. Karena manfaat lingkungan dan kesehatannya, produk direkomendasikan secara positif oleh orang lain. 3. Karena ramah lingkungan dan sehat, produk memiliki reputasi yang baik. 4. Karena manfaat lingkungan dan kesehatannya, produk menerima tanggapan positif dari masyarakat. 1. Karena kepedulian terhadap lingkungan dan kesehatan, saya akan mencoba membeli produk. 2. Saya bermaksud membeli produk karena kinerja ekologis dan kesehatannya. 3. Saya senang membeli produk karena menghargai lingkungan dan kesehatan. 4. Saya bermaksud membeli produk karena dampak lingkungan dan manfaat kesehatan. 5. Saya akan terus memperbarui informasi tentang manfaat menggunakan produk. 6. Saya akan membeli produk ketika saya perlu membeli barang yang sehat. Skala Likert Likert Likert Likert Likert 6. Jelaskan perbedaan Indikator dan kuesioner ? Kuesioner adalah instrument yang digunakan sebagai metode untuk mengumpulkan data yang berisi pertanyaan-pertanyaan tertulis dan dijawab oleh responden. Indikator (variabel manifes) itu variabel proksi yang diukur secara langsung (parameter) yang memuat data-data yang belum diolah, kalo kuesioner itu alat untuk mengukurnya. 7. Alasan memilih objek Penelitian terkait objek masih belum banyak dilakukan. Selain itu, dengan berkembangnya isu ramah lingkungan saat ini, ingin mengetahui apakah konsumen aware dengan green campaign yang dilakukan objek dan melihat objek sebagai produk ramah lingkungan. 8. Alasan memilih scope penelitian Wilayah DKI Jakarta adalah ibukota yang mana banyak perantauan, tetapi memiliki karakteristik yang sama. Selain itu, Innisfree memiliki outlet terbanyak di wilayah Jakarta, sehingga asumsinya banyak penggunanya yg berdomisili di wilayah Jakarta. 9. Kriteria respondent. 1. Responden merupakan generasi Z dan Millenial 2. Responden berusia 18-41 tahun 3. Responden berdomisili di wilayah Jakarta 4. Membeli produk Innisfree dalam sebulan terakhir. 5. Pengguna produk Innisfree 6. Mengetahui produk Innisfree dari sosial media. 10. Tahapan riset 11. Gap Penelitian Penelitian terdahulu dilakukan di Lima Peru, Teknik pengambilan sampel convenience sampling, jumlah responden 208, dan hasil penelitiannya berpengaruh semua. Sedangkan, untuk penelitian ini penelitian dilakukan di Jakarta, Teknik pengambilan sampel purposive sampling, jumlah responden 215, dan hasil penelitiannya 3 tidak berpengaruh (Ada theoretical gap). 12. Metodelogi dalam penelitian Rancangan Penelitian Penelitian Deskriptif dan Kausalitas Populasi Pembeli dan pengguna produk skincare yang berada di wilayah Jakarta Sampel 1. Responden merupakan generasi Z dan Millenial 2. Responden berusia 18-41 tahun 3. Responden berdomisili di wilayah Jakarta 4. Membeli produk Innisfree dalam sebulan terakhir. 5. Pengguna produk Innisfree 6. Mengetahui produk Innisfree dari sosial media. Metode Statistik SEM dengan SmartPLS 3.0 Tools Teknik Pengambilan Sampel Nonprobability sampling dengan metode Purposive Sampling Jumlah Responden 215 responden 13. Fenomena Penelitian Indonesia luas wilayahnya 1,904,569 km dan berpengaruh terhadap persebaran penduduknya. Salah satu wilayah yang pertumbuhannya pesat adalah DKI Jakarta yang mencapai 10,64 juta jiwa. Berdasarkan rentang usia, populasi DKI Jakarta di dominasi gen z dan milenial. Berdasarkan survey, komposisi penduduk Indonesia juga didominasi gen z dan milenial. Survey PwC menunjukkan bahwa gen z dan milenial lebih tertarik membeli produk eco friendly. Indonesia juga udah banyak kampanye ramah lingkungan terhadap berbagai produk. Dari survey internasional juga didapatkan bahwa 80 persen konsumen lebih menghormati Perusahaan yang mengadopsi eco-friendly karena itu menjadi salah satu sarana untuk melakukan kegiatan ramah lingkungan. Merek kecantikan juga terpapar, dimana salah satu tren kecantikan di 2023 adalah penggunaan produk natural berbahan organik dan eco-friendly. Faktor yang mempengaruhi tren kecantikan di Indonesia juga salah satunya Korean wave atau hallyu. Berdasarkan penelitian SBM ITB bahwa Korean wave ini berpengaruh terhadap penjualan skincare. Salah satu merek yang positioningnya sebagai natural brand dan aspek dari Korean wave adalah Innisfree. Dimana bahan-bahan yang digunakan adalah bahan organik yang berasal dari Pulau Jeju. Sebagai natural brand, Innisfree memiliki 2 green campaign yaitu, Play Green Campaign (mengajak konsumen menggunakan produk eco-friendly) dan Green Forest Campaign (didedikasikan untuk menjaga alam dan kelestarian hutan). 14. Cara Penyebaran kuesioner. Cara penyebaran dilakukan melalui 2 cara, yaitu pertama menyebarkan ke orangorang terdekat (teman dan keluarga) dan melalui media sosial. Untuk media sosial menggunakan 2 platform, yaitu Instagram dengan cara menghubungi orang-orang yang komen dan tag foto official account Innisfree dan X (twitter) dengan menaruh link kuesioner di akun fanbase global ambassador Innisfree. 15. Keterkaitan Variabel dan objek Seperti yang dijelaskan kim et al. (2008) bahwa Green perceived value yang tercipta dan tersampaikan pada konsumen Innisfree dapat menjadi faktor yang menentukan green trust dan ini juga berpengaruh pada green satisfaction bagi konsumen Innisfree ketika konsumen innisfree merasakan perbedaannya dengan produk substitusi lainnya seperti yang disampaikan prebensen dan rosengren (2016). Dengan adanya penggunaan bahan-bahan organik, kampanye ramah lingkungan, dan pemasaran yang dilakukan, maka meningkatkan keyakinan konsumen untuk menggunakan produk yang akhirnya menciptakan kepuasan dalam menghadapi isu ramah lingkungan (wang et al. 2018). Selain green satisfaction yang muncul atas pengalaman baik dari penggunaan produk, maka dapat menimbulkan juga green trust dari konsumen Innisfree. Hal ini berdasarkan dari pengalaman positif konsumen dalam penggunaan produk atau mengikuti kampanye yang dilakukan Innisfree yang pada akhirnya menimbulkan rasa aman bagi konsumen. Lalu, dari green trust ini membuat konsumen pada akhirnya akan melakukan green word-of-mouth yang didasarkan untuk membagikan pengalaman positifnya terkait kinerja positif dari produk Innisfree kepada orang lain atau orang-orang terdekatnya (sichtmann 2007). Selain itu, karena konsumen memiliki tingkat kepuasan yang tinggi karena kinerja Innisfree memenuhi ekspektasi dari konsumen, maka timbulnya green satisfaction juga akan membuat konsumen melakukan green word-of-mouth dengan kredibilitas untuk merekomendasikannya kepada orang lain (laroche et al. 2005). Green trust dari konsumen Innisfree yang memenuhi ekspektasi dan membuat konsumen menghindari aktivitas etis yang tidak pasti akan berdampak pula pada green purchase intention (leonidou et al. 2013). Hal ini karena sudah tidak adanya keraguan dan keyakinan konsumen yang menganggap bahwa produk Innisfree dapat mempengaruhi perilaku konsumen terhadap keramahan lingkungan. Definisi • Penelitian deskriptif adalah penelitian yang merancang tentang pengumpulan data dengan menggambarkan karakteristik objek (seperti orang, organisasi, produk, atau merek), peristiwa atau pun situasi. Sekaran and Bougie (2020, 56) • Penelitian kausal menggambarkan apakah variabel menyebabkan perubahan pada variabel lain atau tidak, ketika peneliti tertarik menggambarkan faktor apa saja yang menyebabkan masalah tersebut (Sekaran and Bougie 2020, 57). • Convenience Sampling adalah pengambilan sampel dimana anggota populasi bersedia untuk menyediakan sampel yang dibutuhkan. Namun, tidak menjamin sampel yang dipilih cukup merepresentatifkan. • Purposive Sampling adalah pengambilan sampel yang terbatas pada tipe orang tertentu karena hanya mereka yang memiliki karakteristik yang dibutuhkan atau memenuhi kriteria yang ditetapkan (Sekaran and Bougie 2020, 233). • Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas berbagai objek (keseluruhan kelompok, orang, atau peristiwa yang menarik untuk diteliti) (Kumpulan dari sampel) (Sekaran and Bougie 2020, 222). • Valid adalah derajat ketepatan antara data yang diperoleh dengan keadaan yang sesungguhnya. • Reliabel adalah derajat konsistensi data yang diperoleh dalam interval waktu tertentu. • Data berdistribusi normal, datanya punya skala bervariasi dari keseluruhan indikator. Kalo tidak berdistribusi normal berarti datanya ada yang skalanya sama semua yang artinya tidak representatif. • R2 Squares adalah yang mewakili varians yang dijelaskan masing” konstruksi endogen dan merupakan ukuran kekuatan penjelas model. R-Square menjelaskan pengaruh dari variabel laten eksogen tertentu terhadap variabel laten endogen untuk mengetahui pengaruh substantive. Sedangkan R2 square adjusted digunakan untuk mengatasi keterbatasan yang mana metriknya cenderung meningkat seiring banyaknya variabel penjelas dalam model dan dianggap sebagai ukuran yang lebih konservatif. • Mediating (Intervening) Variable adalah variabel yang muncul sebagai fungsi dari variabel independent dan membantu menjelaskan pengaruh variabel independent dan dependent. • • • Moderating Variable adalah variabel yang memiliki hubungan kontingen dengan variabel lainnya. Artinya, hubungan yang diteorikan antar variabel akan tetap baik, namun tidak sebaliknya. Variabel Laten adalah variabel yang tidak dapat diukur secara langsung. Schiffman and Wisenblit (2015, 284) mendefinisikan bahwa Green Marketing adalah kegiatan memproduksi dan mempromosikan produk yang dapat digunakan kembali dan ramah lingkungan, dengan pemasar memberi informasi produk mengenai penggunaan energi terbarukan, bersih, dan berkelanjutan, serta bahan daur ulang dan tidak menimbulkan polusi. Alasan pake PLS: 1. Ikutin Jurnal utama 2. Data tidak terdistribusi normal 3. Tujuan penelitiannya adalah untuk memprediksi pengaruh antar variabel laten 4. Kerangka penelitian kompleks 5. Bagus buat ngukur variabel laten karena dalam marketing banyak variabel seperti itu 6. Bisa menguji sejumlah variabel secara serempak
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )