Uploaded by askarasniar

Faktor Hamil di Luar Nikah: Studi Kasus Remaja di Rohua

advertisement
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB HAMIL DI LUAR NIKAH
(Studi Kasus Pada Remaja Di Dusun Rohua)
SKRIPSI
OLEH :
ASNIAR
NIM : 202139035
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PATTIMURA AMBON
2025
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Remaja merupakan masa transisi, yang ditandai dengan peralihan dari masa
anak-anak menuju masa dewasa (Santrock, 2003). Masa ini merupakan masa ketika
remaja menjajaki alternatif dan mencoba berbagai pilihan sebagai bagian dari
perkembangan identitas. Masa remaja pula merupakan masa ketika seseorang memiliki
rasa ingin tahu yang tinggi tentang berbagai hal, Dengan kondisi tersebut masa remaja
dapat dikategorikan masa yang cukup rawan sebab rasa keingintahuan tersebut jika
tidak dikontrol dengan baik dapat mendorong pada hal yang buruk. (Alifa dkk, 2021).
Belum lagi di era digitalisasi seperti sekarang ini didukung oleh teknologi yang
semakin canggih setiap induvidu dapat mengakses berbagai informasi dari berbagai
belahan dunia dengan mudah. Salah satunya adalah keinginan untuk mencoba hal-hal
baru yang dilarang berdasarkan norma atau nilai yang dimiliki, namun mereka
penasaran untuk mengetahui dan mencobanya. Sebagian besar masyarakat masih
memiliki paradigma pendidikan seks adalah sesuatu yang vulgar dan sepatutnya remaja
harus
belajar
dari
lingkungannya.
Pandangan
masyarakat
pada
umumnya
mengungkapkan bahwa rata-rata bagi orang tua, membicarakan seks dan seksualitas
adalah sesuatu pemahaman yang baru. (Alifa dkk, 2021)
Jika kondisi ini tidak dikontrol dengan baik, maka akan memunculkan banyak
masalah. Azmi (2015) mengungkapkan kondisi yang dapat muncul seperti membolos,
tawuran, tindak criminal, mengkonsumsi miras, tawuran, pecandu NAPZA dan
melakukan hubungan seks diluar nikah.
Setiap tahun, di wilayah berkembang diperkirakan 21 juta anak perempuan usia
15-19 tahun mengalami kehamilan, diantaranya terdapat kehamilan yang tidak
diinginkan sebesar 10 juta, dan sekitar 12 juta di antaranya melahirkan. Setidaknya
777.000 kelahiran terjadi pada remaja perempuan di bawah 15 tahun, dengan jumlah
kelahiran terbesar terjadi di Asia Timur (95.153) dan Afrika Barat (70.423) (Ningrum
dkk,2021).
Sebanyak 80% perempuan yang hamil di luar nikah menjadi korban oleh pria
yang tidak mau bertanggung jawab dan memilih untuk kabur (Rofiah,N. 2014)
sehingga mengakibatkan perempuan yang hamil di luar nikah tersebut mengalami
depresi berat karena harus menanggung malu atas perbuatannya yang kemudian dapat
memicu untuk melakukan tindakan aborsi atas kehamilannya karena tidak sanggup
menanggung beban sendirian (Apriliyansi, M. 2006). Angka aborsi di dunia sudah
mencapai 60 juta bayi pertahun dan Negara Indonesia termasuk kedalam 4 besar dunia.
Hal tersebut menunjukkan masalah ini sudah sangat cukup serius di Indonesia. Angka
aborsi di Indonesia menurut data BKKBN sudah mencapai 2,4 juta per tahun dan setiap
tahun cenderung meningkat. Kasus aborsi ini marak terjadi di usia-usia remaja, di
Indonesia sendiri 1,2 juta kasus aborsi dilakukan oleh mahasiswa dan 900 ribu kasus
aborsi per tahun dilakukan oleh pelajar dan sangat memungkinkan terus meningkat.
bahkan resiko kematian yang tinggi dibandingkan dengan ibu yang berusia lebih
matang. (Alifa dkk, 2021).
Menurut Aprilia dkk (2024) terjadinya
pernikahan
usia
anak
di Desa
Setanggor, paling banyak disebabkan karena faktor indvidu. Sesuai dengan
hasil penelitian yang sudah dilakukan peneliti, menunjukkan beberapa ungkapan
oleh subyek penelitian, yang menyampaikan bahwa alasan atau penyebab melakukan
pernikahan pada usia anak dikarenakan keinginannya sendiri, artinya tidak ada paksaan
dari siapapun termasuk orang tuanya. Anak tersebut melakukan pernikahan usia
anak karena murni kehendaknya sendiri, dan bahkan jika tidak disetujui untuk
menikah maka anak tersebut akan mengancam orang tuanya untuk bunuh diri
Remaja yang hamil di luar nikah khususnya di Indonesia semakin meningkat.
Terbukti dengan adanya 34.000 permohonan dispensasi kawin yang diajukan kepada
Pengadilan Agama pada Januari hingga Juni 2020, yang 97%-nya dikabulkan
(katadata.co.id, 12 Oktober 2021). Dari 700 dispensasi kawin yang dikabulkan, 80%
disebabkan karena kehamilan diluar nikah.Pergaulan bebas yang menyebabkan hamil
di luar nikah ini menjadi trend pada remaja masa kini yang disebut MBA (Married by
Accident) . Semakin maraknya hal tersebut membuat nilai dan norma yang dijunjung
tinggi oleh masyarakat pun sedikit demi sedikit semakin memudar. (Alifa dkk. 2021).
Fenomena remaja di Dusun Rohua yang di peroleh dari hasil observasi bahwa
kecendurungan remaja menikah di kisaran usia 15-17 tahun. Hal ini sejalan dengan
wawancara yang dilakukan kepada beberapa penduduk di Dusun Rohua tanggal 12
Maret 2024, diungkapkan bahwa induvidu yang menikah diusia muda diakibatkan
hamil di luar nikah namun ada juga yang menikah karna keinginan sendiri. Orang tua
sendiri selama ini selalu mendukung apa saja keputusan remaja. Ini ditunjukkan dengan
kesediaan atau ijin mereka untuk anaknya menikah. Pergaulan bebas anak remaja dan
lawan jenis nya juga tidak ada larangan dari orang tua mereka, sehingga setiap tahun
nya angka remaja menikah akibat hamil diluar nikah di dusun Rohua semakin
meningkat.
Sampai saat ini belum mengetahui secara pasti faktor apa yang membuat remaja
di Dusun Rohua memutuskan untuk menikah muda. Oleh sebab itu penulis tertarik
untuk meneliti agar penelitian ini berupaya mengungkapkan alasan-alasan yang
mendorong anak dan remaja untuk melakukan pernikahan di usia muda sehingga
meskipun banyak Upaya menghentikannya, pernikahan muda tetap berlansung di
banyak tempat terutama di Dusun Rohua.
Faktor peran teman sebaya yang mempengaruhi terjadinya kehamilan remaja
didapatkan 26,7% artikel menyatakan bahwa teman sebaya dapat memberikan
pengaruh terhadap terjadinya kehamilan remaja. Remaja yang medapatkan pengaruh
negatif dari teman sebayanya, seperti pengaruh untuk berhubungan seksual dan
memiliki teman yang tinggal bersama pacarnya memiliki risiko lebih tinggi terhadap
terjadinya kehamilan, dibandingkan dengan remaja yang teman sebayanya
memberikan pengaruh positif (Ahinkorah et al., 2019), (Meriyani et al., 2016), dan
(Sukhumal et al., 2020). Hal ini didukung oleh penelitian Ochen et al. (2019) yang
menyebutkan bahwa tekanan teman sebaya yang intens akan meningkatkan
kemungkinan kehamilan remaja. Sikap dan perilaku seksual remaja terkait kesehatan
reproduksi dapat dipengaruhi oleh teman sebayanya. Jika remaja sudah bergabung
dalam pergaulan yang cenderung memiliki sikap dan perilaku seksual terkait kesehatan
reproduksi yang buruk, maka secara tidak langsung remaja akan ikut memiliki sikap
dan perilaku yang buruk pula. (Desy dkk, 2021).
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil tidak ada hubungan yang antara
media fornografi dengan pernikahan usia dini. Media massa, internet, dan sosial media,
sudah dengan amat gamblang memperbincangkan mengenai hubungan yang bebas
mereka dengan lawan jenis. Seks menjadi makanan sehari-hari dalam media. Akses
internet yang begitu gampang diraih. Handphone pintar yang begitu murah dan
terjangkau, telah membuat informasi mengenai kebebasan dalam berelasi tersebar
kemana-mana dengan mudah. Anak-anak muda yang baru saja memasuki masa puber
dan belum benar-benar matang piker, dengan amat mudah mengakses informasi itu
tanpa disertai penjelasan yang kritis dan mendidik paada seputar masalah seks dan
seksualitas (Nurhikmah dkk, 2021).
Kehamilan remaja adalah kehamilan yang berlaku pada wanita yang berusia 1119 tahun. Kehamilan remaja merupakan kehamilan yang terjadi pada wanita di bawah
usia 20 tahun, kehamilan ini terjadi akibat perilaku seksual baik disengaja maupun tidak
disengaja. Kehamilan usia kurang dari 20 tahun meningkatkan resiko komplikasi
medis, baik pada ibu maupun pada anak. Kehamilan di usia yang sangat muda ini
berkolerasi dengan ansgka kematian dan kesakitan ibu. Disebutkan bahwa anak
perempuan berusia 10-14 tahun beresiko lima kali lipat meninggal saat hamil maupun
bersalin dibandingkan kelompok usia 20-35 tahun, sementara risiko ini meningkatkan
dua kali lipat pada kelompok usia 15-19 tahun. Angka Kematian Ibu (AKI) Usia
dibawah 16 tahun di negara-negara dengan pendapatan menengah dan rendah bahkan
lebih tinggi hingga enam kali lipat (Yoga dkk, 2023).
Kehamilan remaja dapat menimbulkan efek pada kesehatan reproduksi dan seksual
perempuan. Kehamilan remaja mempunyai konsekuensi kesehatan yang besar untuk
ibu remaja serta bayinya. Secara fisik, banyak remaja perempuan usia 15–19 tahun di
seluruh dunia yang belum siap akan kehamilan atau persalinan, sehingga lebih rentan
terhadap komplikasi yang merupakan penyebab kematian. Selain memberikan dampak
fisik, kehamilan remaja juga memiliki dampak terhadap psikologis maupun sosial.
Salah satu konsekuensi sosial bagi remaja hamil terutama yang belum menikah dapat
mencakup stigma, penolakan atau kekerasan oleh pasangan, orang tua, tetangga dan
teman sebaya, serta terjadinya putus sekolah (Dalam Desy Nurrista dkk, 2021).
Kehamilan usia dini dapat mempengaruhi semua aspek kehidupan remaja,
termasuk kesehatan fisik, psikologis, dan sosial. Mediastuti (2014) menyatakan bahwa,
kehamilan pada usia dini dapat terjadi akibat pergaulan bebas. Hal ini menyebabkan
pendidikan ibu yang masih remaja tidak sepenuhnya dapat tercapai, sehingga
mempengaruhi cara mereka mendidik anak. Orang tua yang masih berusia remaja juga
memiliki harapan lebih rendah terhadap karir dan cenderung kurang puas dengan
kemajuan mereka. (Wahyuningsi dkk,2024).
Pada kasus pernikahan usia dini biasanya memiliki faktor penyebab yaitu
pengaruh pergaulan, kurangnya budaya akan bahaya pernikahan usia dini, faktor sosial
ekonomi, kebudayaan, kurangnya budaya agama dan masih banyak lagi. Di sini peran
orang tua sebagai keluarga sangat penting untuk mengarahkan anak ke arah yang lebih
baik serta peran tokoh agama pun dibutuhkan untuk lebih memberikan edukasi tentang
pernikahan dini serta memberikan pemahaman agar para remaja memiliki keyakinan
agar hidup lebih terarah (Dalam Prihartini dan Rosidah, 2021).
Dalam kehidupan bermasyarakat tentunya sering ditemukan kejadian dan
masalah yang tidak di duga dan Masyarakat pun kadang bersikap acuh tak acuh dan
bahkan memilih tidak peduli untuk mengatasinya, tapi pada hakikatnya dalam
mengatasi masalah yang ada di lingkup lingkungan masyarakat peran anggota
masyarakat sangat penting untuk memecahkan dan memberikan solusi pada masalah
tersebut (Dalam Prihartini dan Rosidah, 2021). Berdasarkan fenomena yang terjadi
maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Faktor-faktor
Penyebab Hamil Di Luar Nikah (Studi Kasus Pada Remaja Di Dusun Rohua)” .
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dapat dirumuskan apa sajakah faktor-faktor penyebab
hamil di luar nikah pada remaja di Dusun Rohua?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor penyebab hamil luar nikah
pada remaja di Dusun Rohua
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat Teoritis
Diharapkan penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran,
memperluas wawasan yang lebih mendalam mengenai faktor-faktor penyebab hamil
lua bagi peneliti selanjutnya yang melakukan penelitian yang berkaitan dengan faktorfaktor penyebab hamil luar nikah pada remaja di Dusun Rohua.
1.3 Manfaat Praktis
a. Bagi Remaja
Remaja dapat menerapkan perilaku yang positif sehingga mengurangi
dampak negative yang mungkin timbul karena perilaku dan pergaulan yang salah.
b. Bagi Orang Tua
Menambah wawasan bagi orang tua dapat membantu melatih dan
meningkatkan kemampuan control diri pada remaja semenjak dini.
c. Bagi Masyarakat
Menambah wawasan bagi Masyarakat Dusun Rohua tentang faktor-faktor
penyebab hamil luar nikah pada remaja.
d. Bagi Peneliti
Untuk menambah wawasan peneliti tentang tentang faktor-faktor penyebab
hamil luar nikah pada remaja.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Deskripsi Teoritis
2.1.1
Remaja
Remaja adalah fase perkembangan manusia yang terjadi antara masa
kanak-kanak dan dewasa, biasanya dimulai dari usia 10 hingga 19 tahun (Li & Ye,
2023). Definisi ini diterima secara luas oleh berbagai organisasi kesehatan,
termasuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Masa remaja adalah periode yang
ditandai dengan perubahan fisik, emosional, dan sosial yang signifikan. Menurut
Santrock, remaja adalah masa transisi yang kompleks yang melibatkan proses
biologis, kognitif, dan sosioemosional yang intens (Ramadhani, 2024).
Secara biologis, masa remaja dimulai dengan pubertas, yaitu serangkaian
perubahan fisik yang membuat individu mampu bereproduksi secara seksual
(Santrock, 2015). Pubertas biasanya ditandai dengan pertumbuhan cepat,
perkembangan ciri-ciri seksual sekunder seperti pertumbuhan payudara pada
perempuan dan suara yang lebih dalam pada laki-laki. Hurlock menyatakan bahwa
perubahan fisik ini dapat mempengaruhi persepsi diri remaja dan interaksinya
dengan orang lain (Ramadhani, 2024).
Perubahan kognitif selama masa remaja juga signifikan. Menurut teori
perkembangan kognitif Piaget, remaja berada dalam tahap operasional formal, di
mana mereka mulai mampu berpikir secara abstrak, logis, dan sistematis (Dr. Paul,
2000). Mereka dapat mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan hipotetis
dan berpikir tentang konsep-konsep yang tidak langsung mereka alami.
Perkembangan ini memungkinkan remaja untuk mulai mempertanyakan nilainilai dan norma-norma yang mereka terima dari lingkungan mereka (Ramadhani,
2024).
Dalam perspektif sosioemosional, remaja mulai mengembangkan
hubungan yang lebih dewasa dengan teman sebaya dan orang tua. Mereka mencari
otonomi yang lebih besar dan mulai membentuk identitas sosial yang lebih jelas.
Menurut Bronfenbrenner (1979), lingkungan ekologi individu, termasuk keluarga,
sekolah, dan komunitas, berperan penting dalam perkembangan sosioemosional
remaja. Interaksi dengan berbagai lingkungan ini membantu membentuk identitas
dan perilaku sosial remaja mereka (Ramadhani, 2024).
Di Indonesia, fenomena remaja juga dipengaruhi oleh konteks budaya dan
sosial yang unik. Nilai-nilai keluarga dan agama sangat mempengaruhi
perkembangan remaja. Sebuah studi oleh (Benga Olla et al., 2018) menunjukkan
bahwa remaja di Indonesia sering kali mengalami tekanan dari keluarga untuk
mematuhi norma-norma tradisional, yang bisa bertentangan dengan keinginan
mereka untuk otonomi dan ekspresi diri (Ramadhani, 2024).
Dalam bidang pendidikan, remaja menghadapi tantangan akademik yang
semakin kompleks. Menurut Vygotsky, perkembangan kognitif remaja sangat
dipengaruhi oleh interaksi sosial dan pembelajaran yang terjadi dalam konteks
budaya mereka (Shaw & Starr, 2019). Di sekolah, remaja mulai menghadapi
kurikulum yang lebih menuntut dan harus mengembangkan strategi belajar yang
lebih efektif untuk mencapai keberhasilan akademik diri (Ramadhani, 2024).
Remaja juga menghadapi risiko kesehatan yang unik. Perilaku berisiko
seperti penggunaan narkoba, perilaku seksual yang tidak aman, dan perilaku
makan yang tidak sehat sering kali meningkat selama masa remaja. WHO (2014)
menyatakan bahwa intervensi kesehatan yang ditargetkan pada remaja sangat
penting untuk mengurangi risiko ini dan mendukung perkembangan yang sehat
(Herlina & Nurmaliza, 2018).
Perubahan teknologi dan media sosial juga memberikan pengaruh besar
pada remaja masa kini. Penggunaan media sosial yang intens dapat mempengaruhi
kesehatan mental remaja, baik secara positif maupun negative (Dangsha &
Indiramma, 2022). Media sosial dapat menyediakan dukungan sosial dan platform
untuk ekspresi diri, tetapi juga bisa menyebabkan perasaan kecemasan dan depresi
akibat tekanan sosial dan cyberbullying (Li & Ye, 2023).
Dalam kesimpulannya, memahami masa remaja memerlukan pendekatan
multidisiplin yang mencakup aspek biologis, kognitif, emosional, dan sosial.
Setiap remaja mengalami perkembangan ini dalam konteks unik yang dipengaruhi
oleh faktor-faktor budaya, sosial, dan lingkungan. Kajian ilmiah tentang remaja
membantu kita memahami kompleksitas masa transisi ini dan merancang
intervensi yang efektif untuk mendukung perkembangan mereka menuju
kedewasaan yang sehat dan produktif diri (Ramadhani, 2024).
2.1.2 Tahap Perkembangan Remaja
Secara umum masa remaja, menurut Santrock (Santrock, 2015) yakni :
1. Remaja Awal (Early Adolesecence)
Remaja awal, yang mencakup rentang usia sekitar 10 hingga 14 tahun,
adalah periode perkembangan yang ditandai oleh perubahan cepat dalam
berbagai aspek kehidupan seorang individu. Pada tahap ini, remaja mengalami
transformasi signifikan dalam bidang fisik, kognitif, emosional, dan sosial.
Pemahaman tentang karakteristik dan tantangan perkembangan pada masa
remaja awal sangat penting untuk memberikan dukungan yang sesuai bagi
mereka. Adapun Karakteristiknya adalh sebagai berikut :
a) Perkembangan Fisik
Pada masa remaja awal, perubahan fisik terjadi dengan cepat akibat
pubertas. Perubahan ini mencakup pertumbuhan tinggi badan yang pesat,
perubahan berat badan, perkembangan otot, dan munculnya karakteristik
seksual sekunder seperti pertumbuhan rambut di beberapa bagian tubuh dan
perubahan suara pada anak laki-laki. Perempuan umumnya mengalami
menstruasi pertama (menarche) pada periode ini, sementara laki-laki mulai
mengalami mimpi basah (nocturnal emissions). Perubahan fisik ini sering
kali membuat remaja merasa canggung dan tidak nyaman dengan tubuh
mereka yang berubah, sehingga penting untuk memberikan edukasi yang
tepat mengenai pubertas untuk mengurangi kecemasan dan kebingungan.
otoritas.
b) Perkembangan Kognitif
Pada tahap ini, kemampuan berpikir abstrak dan logis mulai berkembang,
meskipun
belum
sepenuhnya
matang.
Remaja
mulai
mampu
mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak langsung
tampak dan membuat perencanaan untuk masa depan. Mereka juga mulai
lebih kritis terhadap informasi yang mereka terima dan mampu memikirkan
perspektif orang lain. Namun, proses berpikir mereka masih sering kali
dipengaruhi oleh egosentrisme, yang membuat mereka merasa bahwa
pengalaman dan pandangan mereka adalah pusat perhatian semua orang.
c) Perkembangan Emosional
Perkembangan emosional pada remaja awal sangat dinamis. Mereka sering
kali mengalami fluktuasi emosi yang intens akibat perubahan hormonal
yang terjadi selama pubertas. Perasaan seperti kegembiraan, kemarahan,
kecemasan, dan kesedihan dapat dirasakan dengan intensitas yang lebih
besar. Remaja pada tahap ini juga mulai mengembangkan konsep diri dan
harga diri mereka, yang dipengaruhi oleh interaksi dengan teman sebaya dan
keluarga. Penting bagi remaja untuk menerima dukungan emosional yang
konsisten dari lingkungan sekitar untuk membantu mereka mengelola
perubahan emosi ini dengan sehat.
d) Perkembangan Sosial
Perubahan sosial juga sangat menonjol pada masa remaja awal. Remaja
mulai lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman sebaya dan mencari
persetujuan serta penerimaan dari kelompok teman sebaya. Hubungan
dengan teman sebaya menjadi semakin penting dan berpengaruh terhadap
pembentukan identitas sosial mereka. Pada saat yang sama, mereka
mungkin mulai menjauh dari orang tua dalam upaya untuk mencari
kemandirian. Konflik dengan orang tua bisa meningkat selama periode ini,
tetapi penting untuk tetap menjaga komunikasi yang terbuka dan positif.
2. Remaja Madya (Middle Adolescence)
Remaja madya, yang umumnya terjadi pada usia 15 hingga 17
tahun, merupakan periode perkembangan yang kompleks dan dinamis. Pada
tahap ini, remaja mengalami perkembangan signifikan dalam aspek fisik,
kognitif, emosional, dan sosial. Pemahaman tentang tahap perkembangan
remaja madya sangat penting untuk membantu mereka mengatasi tantangan
dan mengoptimalkan potensi mereka.
G. Stanley Hall (dalam Suryana et al., 2022) juga menjeaskan
karakteristik remaja sebagai berikut :
a) Perkembangan Fisik
Pertumbuhan tinggi badan mencapai puncaknya pada tahap ini,
dengan
pertumbuhan
yang
lebih
cepat
pada
perempuan
dibandingkan laki-laki. Laki-laki biasanya mengalami percepatan
pertumbuhan setelah perempuan. Perkembangan karakteristik
seksual sekunder berlanjut. Pada laki-laki, terjadi pertumbuhan
rambut wajah, suara menjadi lebih berat, dan perkembangan otot
yang lebih jelas. Pada perempuan, perkembangan payudara selesai,
dan siklus menstruasi menjadi lebih teratur.
b) Perkembangan Kognitif
Remaja mulai mampu berpikir tentang konsep-konsep abstrak
seperti keadilan, cinta, dan kebebasan. Mereka mampu merumuskan
hipotesis, merencanakan secara sistematis, dan mengevaluasi hasil
dari berbagai perspektif. Kemampuan untuk berpikir tentang
pemikiran
mereka
sendiri
(metakognisi)
berkembang,
memungkinkan mereka untuk lebih sadar akan proses kognitif
mereka sendiri. Serta remaja sering mengembangkan pandangan
dunia yang idealis dan mulai mengeksplorasi berbagai identitas dan
nilai-nilai yang beragam.
c) Perkembangan Emosional
Remaja menjadi lebih sadar akan perasaan dan emosi mereka sendiri
serta lebih peka terhadap bagaimana mereka dipersepsikan oleh
orang lain. Remaja mulai bergerak menuju otonomi emosional dari
orang tua mereka dan lebih bergantung pada diri sendiri atau teman
sebaya untuk dukungan emosional.
d) Perkmebangan Sosial
Teman sebaya menjadi sangat penting dalam kehidupan remaja,
menawarkan dukungan emosional dan sosial serta berperan dalam
pembentukan identitas. Banyak remaja mulai terlibat dalam
hubungan romantis yang serius, yang memainkan peran penting
dalam perkembangan emosional dan sosial mereka.
3. Remaja Akhir (Late Adolescence)
Pada remaja akhir, yang umumnya terjadi antara usia 18 hingga
awal 20-an, perkembangan fisik utama sudah mencapai puncaknya. Remaja
pada tahap ini biasanya telah mencapai tinggi badan maksimal dan
menyelesaikan pubertas mereka. Perbedaan seksual antara laki-laki dan
perempuan semakin jelas, dengan peningkatan perkembangan otot dan
distribusi lemak yang lebih stabil. Kesehatan fisik dan kesejahteraan secara
umum dipengaruhi oleh gaya hidup dan pola makan yang sehat.
Jean Piaget menunjukkan bahwa remaja akhir memasuki tahap
"Operational Formal," di mana mereka mampu berpikir secara abstrak dan
logis (Dr. Paul, 2000). Remaja pada tahap ini mampu merumuskan
hipotesis, memecahkan masalah yang kompleks, dan mempertimbangkan
konsekuensi dari tindakan mereka dengan lebih matang (Dr. Paul, 2000).
Kapasitas kognitif mereka semakin menyerupai orang dewasa, meskipun
perkembangan ini terus berlanjut hingga awal usia dewasa.
Perkembangan emosional pada remaja akhir sering kali dipengaruhi
oleh stabilitas identitas yang semakin matang. Erik Erikson menekankan
pentingnya tahap "Identity vs. Role Confusion," di mana remaja berusaha
untuk mengkonsolidasikan identitas pribadi mereka. Remaja pada tahap ini
sering kali mengalami perubahan emosional yang intens, termasuk gejolak
identitas dan perasaan cinta dan pertemanan yang lebih dalam.
Kemudian dalam segi sosialisasi dalam remaja akhir sering kali
mencakup eksplorasi yang lebih dalam dalam hubungan romantis dan
persahabatan yang stabil. Mereka mulai mengeksplorasi kemandirian dan
mempersiapkan diri untuk masuk ke dunia dewasa. Hubungan dengan
keluarga dan teman sebaya tetap penting, tetapi mereka juga mulai
mengembangkan hubungan dengan orang-orang di luar lingkaran sosial inti
mereka.
2.2 Kesiapan Menjadi Ibu
2.2.1 Definisi Kesiapan
Menurut Kamus Psikologi, kesiapan (readiness) adalah sebuah titik
kematangan untuk menerima dan mempraktekkan tingkah laku tertentu. Kesiapan
adalah keseluruhan konsisi seseorang ayng membuarnya siap untuk memberikan
respon dalam cara tertenti terhadap situasi (Wulandari et al., 2019). Penyesuaian
kondisi pada suatu saat akan berpengaruh atau cenderung dalam memberikan respons.
Pengertian lainnya adalah kesiapan merupakan suatu tindakan yang
dilakukan seseorang utnuk merancang sesuatu. Seorang ahli bernama Cronbach
memberikan pengertian tentang kesiapan sebagai segenap sifat atau kekuatan yang
membuat ia dapat bereaksi dengan cara tertentu.
Kesiapan merupakan konsep yang melibatkan persiapan mental, fisik, dan
emosional seseorang untuk menghadapi atau menjalani suatu situasi atau tugas tertentu
(Faridah Hanum, 2016). Definisi kesiapan dapat bervariasi tergantung pada
konteksnya, namun secara umum, kesiapan mengacu pada kondisi atau keadaan di
mana seseorang memiliki kemampuan, pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang
diperlukan untuk mengatasi tantangan atau melakukan tindakan dengan efektif dan
efisien.
Terdapat penelitian mendalam mengenai kesiapan menjadi ibu yang
menggabungkan wawancara dengan lebih dari 160 perempuan muda berpenghasilan
rendah di delapan lingkungan miskin di Philadelphia. Perempuan miskin di Amerika
memilih untuk memiliki anak di luar nikah, meskipun mereka sering kali menyadari
tantangan ekonomi dan sosial yang akan dihadapi. Penelitian ini menemukan bahwa,
bagi banyak perempuan ini, menjadi ibu merupakan salah satu cara utama untuk
menemukan makna dan tujuan hidup. Mereka melihat memiliki anak sebagai sumber
kebahagiaan, pengakuan, dan rasa identitas yang sulit diperoleh melalui pernikahan
atau pekerjaan di lingkungan mereka (Edin & Kefalas, 2011).
Sehingga, dalam hal ini peneliti menyimpulkan bahwa kesiapan adalah
faktor penting dalam mencapai keberhasilan dan kesejahteraan pribadi. Individu yang
siap secara mental, fisik, dan emosional cenderung lebih mampu mengatasi tantangan,
mengambil peluang, dan menjalani kehidupan dengan lebih baik. Meningkatkan
kesiapan melalui pendidikan, pelatihan, dan pengalaman dapat membantu individu
untuk berkembang dan mencapai potensi mereka secara maksimal dalam berbagai
aspek kehidupan mereka .
2.2.2 Prinsip-prinsip Kesiapan
Adapun prinsip-prinsip kesiapan menurut Slamento terbagi menjadi 4 yakni
(Slameto, 2010):
1. Semua aspek perkembangan berinteraksi.
2. Kematangan jasmani dan rohani dalah perlu untuk memperolah manfaat.
3. Pengalaman-pengalaman mempunyai pengaruh yang positif terhadap
kesiapan.
4. Kesiapan dasar untuk ekgiatan tertentu terbentuk dalam periode tertentu
selama masa pembentukan dalam masa perkembangan.
Sedangkan menurut Soemanto (dalam Vika, 2014), prinsip-prinsip kesiapan terbagi
menjadi 4 juga yakni :
1. Semua aspek pertumbuhan berinterkasi dan bersama membentuk kesiapan.
2. Pengalaman seseorang ikut mempengaruhi pertumbuhan fisiologis
individu.
3. Pengalaman mempunyai efek kumulatif falam perkebangan fungsi-fungsi
kepribadian individu, baik yang jasmani maupun yang Rohani
4. Apabila kesiapan untuk melaksanakn kegiatan tertentu baik pada diri
seseorang, maka saat-saat tertentu dalam kehidupan seseorang merupakan
masa formatif bagi perkembangan pribadinya.
2.2.3 Macam-macam Kesiapan
Berikut ini macam-macam kesiapan menurut Kuswahyuni (dalam Vika, 2014) :
1. Kesiapan Mental
Kesiapan mental mengacu pada kondisi atau keadaan psikologis seseorang
yang memungkinkan mereka untuk menghadapi, menyesuaikan diri, dan mengatasi
berbagai tantangan, stres, atau situasi yang kompleks dalam kehidupan. Ini
melibatkan beberapa aspek penting :
a. Ketangguhan Mental, kemampuan untuk tetap tenang, fokus, dan
beradaptasi di bawah tekanan atau dalam situasi yang menantang.
b. Kesadaran emosional, kemampuan mengenali dan memahami emosi
mereka.
c. Kemampuan
pemecalahan
masalah,
yakni
kemampuan
untuk
menganalisis situasi, merumuskan strategi dan menemukan solusi.
d. Kemampuan adaptasi.
e. Pemahaman diri yakni memahami baik tentang kekuatan dan kelemahan
diri sendiri
2. Kesiapan Diri
Kesiapan diri mengacu pada kondisi atau keadaan di mana seseorang
memiliki persiapan yang memadai baik secara fisik, mental, emosional, maupun sosial
untuk menghadapi atau menjalani berbagai situasi, tugas, atau peran dalam kehidupan.
3. Kesiapan Belajar
Kesiapan belajar merujuk pada kondisi atau persiapan yang memungkinkan
seseorang untuk secara efektif dan efisien mengambil bagian dalam proses
pembelajaran.
4. Kesiapan Kecerdasan
Kesiapan kecerdasan mengacu pada kesiapan seseorang dalam mengelola
dan menggunakan kecerdasan mereka secara efektif untuk menghadapi berbagai situasi
dan tugas yang kompleks dalam kehidupan. Ini melibatkan pemahaman dan penerapan
berbagai jenis kecerdasan, seperti kecerdasan intelektual, emosional, sosial, dan
spiritual, sesuai dengan tuntutan dan konteks yang dihadapi.
2.2.4 Aspek-Aspek Kesiapan
Menurut Slameto (Slameto, 2010) bahwa ada dua aspek pada kesiapan,
yakni ; 1) Kematangan (maturation) yang dimana ini adalah sebuah prosesn yang
menimbulkan adanya tingkah laku sebagai akibat dari pertumbuhan dan juga
perkembangan, 2) Kecerdasan, kecerdasan merujuk pada kemampuan seseorang untuk
memahami, memproses informasi, menyelesaikan masalah, dan beradaptasi dengan
lingkungan secara efektif. Konsep ini mencakup berbagai bentuk kemampuan kognitif
dan mental yang memungkinkan individu untuk belajar, berpikir, dan berinteraksi
dengan dunia di sekitar mereka.
Sedangkan menurut Yusuf (dalam Nurul & Palila, 2018) terdapat 3 aspek
mengenai kesiapan, diantaranya sebagai berikut :
a. Pemahaman, yakni pemahaman terhadap pengalaman yang terjadi pada dirinya.
Ketika seseorang mengerti dan memahami akan kejadian yang ia alami, hal ini
dapat membantu dirinya untuk merasa siap dalam menghadapi hal-hal yang akan
terjadi.
b. Penghayatan. Yakni kondisi dimana seseorang merasa siap akan segala hal yang
akan terjadi secara alami. Penghayatan merujuk pada proses atau kegiatan dalam
mengalami atau memahami sesuatu dengan mendalam, penuh perasaan, dan
reflektif. Ini melibatkan respon yang emosional, spiritual, atau intelektual yang
mendalam terhadap pengalaman atau konsep tertentu.
c. Kesediaan. Dimana ini merupakan tindakan secara lagsung terhadap kesempatan
yang hadir, sehingga menjadi bagian dari pengalaman hidupnya. Kesediaan juga
merujuk pada keadaan atau sikap seseorang yang terbuka, siap, atau rela untuk
melakukan atau menerima sesuatu. Ini mencakup kesiapan atau ketersediaan untuk
beradaptasi, bekerja sama, atau mengambil bagian dalam suatu aktivitas atau situasi
tertentu.
Selain itu, Teori Maternal Role Attainment (MRA) yang dikembangkan
oleh Ramona Thieme Mercer mengidentifikasi beberapa aspek penting yang
mempengaruhi kesiapan seorang wanita untuk menjadi ibu. Kesiapan ini tidak
hanya dilihat dari sudut pandang fisik, tetapi juga dari sisi psikologis, sosial, dan
emosional (Mercer, 1995). Berikut adalah beberapa aspek utama kesiapan menjadi
ibu :
a. Kesiapan Psikologis
Kesiapan psikologis melibatkan bagaimana seorang wanita melihat dan menerima
dirinya dalam peran baru sebagai ibu. Ini mencakup penerimaan identitas keibuan
sebagai bagian dari identitas diri yang lebih luas. Kesiapan ini juga terkait dengan
seberapa baik wanita tersebut mempersiapkan diri secara mental untuk menghadapi
tantangan dan tanggung jawab sebagai ibu.
b. Kesiapan Emosional
Kesiapan emosional mengacu pada kemampuan wanita untuk mengelola emosi
mereka selama dan setelah kehamilan. Ini mencakup kemampuan untuk mengatasi
stres, kecemasan, dan perubahan suasana hati yang mungkin muncul selama transisi
menuju peran sebagai ibu.
c. Kesiapan Sosial
Dukungan dari keluarga, pasangan, teman, dan lingkungan sosial lainnya sangat
penting dalam kesiapan menjadi ibu. Wanita yang memiliki jaringan dukungan
yang kuat cenderung lebih siap untuk menghadapi peran keibuan karena mereka
merasa didukung dan tidak sendirian dalam perjalanan ini.
d. Kesiapan Fisik
Kesiapan fisik mengacu pada kesehatan dan kesejahteraan wanita selama
kehamilan dan setelah melahirkan. Ini mencakup perawatan prenatal, nutrisi yang
baik, dan kesehatan fisik secara keseluruhan yang memungkinkan wanita untuk
menghadapi persalinan dan merawat bayi.
e. Kesiapan Kognitif
Kesiapan kognitif melibatkan pengetahuan yang dimiliki seorang wanita tentang
kehamilan, persalinan, dan peran sebagai ibu. Ini mencakup pemahaman tentang
perkembangan bayi, kebutuhan nutrisi, serta teknik-teknik pengasuhan dan
perawatan bayi.
f. Kesiapan Lingkungan
Kesiapan lingkungan mencakup kesiapan tempat tinggal dan lingkungan fisik yang
mendukung bagi ibu dan bayi. Lingkungan yang stabil dan aman sangat penting
untuk memastikan bahwa kebutuhan fisik dan emosional ibu dan bayi dapat
terpenuhi.
2.2.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesiapan
Mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan, Djamarah (dalam
Ikromi, 2017) membaginya kedalam 3 hal yakni :
a. Kesiapan fisik, misalnya tubuh yang sehat dan bugar. Kesiapan fisik mengacu
pada kondisi atau keadaan tubuh seseorang yang memungkinkan mereka untuk
melakukan aktivitas atau tugas tertentu dengan efektif dan efisien.
b. Kesiapan psikis. Misalnya ada hasrat dalam memiliki bayi. Kesiapan psikis
adalah kondisi atau keadaan mental seseorang yang memungkinkan mereka
untuk menghadapi tantangan, stres, atau situasi yang kompleks dengan baik.
c. Kesiapan materi. Misalkan secara finansial sudah matang. Kesiapan materi
mengacu pada kondisi atau keadaan seseorang yang memungkinkan mereka
untuk memiliki pengetahuan, keterampilan, atau persiapan yang diperlukan untuk
menghadapi tugas atau situasi tertentu secara efektif.
Adapun menurut Slameto (Slameto, 2010) faktor yang mempengaruhi
kesiapan terbagi menjadi 2 yakni ; 1) Perlengkapan dan pertumbuhan fisiologis
dan 2) Motivasi, yang menyangkut kebutuhan, minat serta tujuan individu untuk
mempertahakan serta mengembangkan diri.
2.3 Kehamilan
2.3.1
Definisi Kehamilan
Kehamilan adalah periode penting dalam kehidupan seorang wanita di
mana ia membawa dan mengembangkan janin dalam rahimnya. Proses ini dimulai
ketika sel sperma dari pria membuahi sel telur wanita, yang kemudian berimplantasi
di dinding rahim dan berkembang menjadi embrio (Béhague, 2018). Kehamilan
biasanya berlangsung sekitar 40 minggu, dibagi menjadi tiga trimester utama, di
mana setiap trimester memiliki ciri khasnya sendiri dalam perkembangan janin dan
perubahan fisik pada ibu (dalam sherly Ramadhani, 2024).
Pada trimester pertama, tubuh wanita mengalami sejumlah perubahan
signifikan karena mulai mempersiapkan diri untuk mendukung kehidupan baru
(Béhague, 2018). Sel telur yang telah dibuahi berkembang menjadi embrio dan
kemudian janin. Proses ini didukung oleh perubahan hormon, seperti peningkatan
kadar hormon estrogen dan progesteron, yang membantu mempertahankan
kehamilan dan mempersiapkan tubuh untuk mengalami pertumbuhan janin yang
pesat (dalam sherly Ramadhani, 2024).
Trimester kedua sering disebut sebagai masa-masa kehamilan yang lebih
nyaman bagi banyak wanita, di mana mual dan kelelahan yang sering terjadi pada
trimester pertama dapat mereda. Janin terus berkembang dengan cepat, organ-organ
utama mulai terbentuk, dan pada pertengahan trimester kedua, ibu biasanya dapat
merasakan gerakan pertama janin, yang sering kali menjadi momen yang paling
dinantikan dalam kehamilan (dalam sherly Ramadhani, 2024).
Trimester ketiga adalah periode di mana janin terus tumbuh dan
berkembang secara intensif, sementara tubuh ibu mengalami penyesuaian akhir
untuk persalinan yang akan datang. Janin mulai mempersiapkan diri untuk lahir
dengan memposisikan dirinya untuk kelahiran normal. Pada saat ini, ibu mungkin
merasakan ketidaknyamanan karena ukuran janin yang semakin besar, tekanan di
area panggul, dan peningkatan frekuensi kontraksi Braxton-Hicks yang
mempersiapkan rahim untuk persalinan (dalam sherly Ramadhani, 2024).
Selama kehamilan, perawatan prenatal yang teratur sangat penting untuk
memantau kesehatan ibu dan perkembangan janin. Ini melibatkan kunjungan rutin
ke dokter atau bidan untuk memantau tekanan darah, berat badan, serta untuk
melakukan tes pencitraan seperti USG untuk memeriksa pertumbuhan dan
perkembangan janin. Pemeriksaan darah juga dilakukan untuk memastikan bahwa
ibu dan janin tetap sehat sepanjang kehamilan.
Secara emosional dan psikologis, kehamilan sering kali dianggap sebagai
periode yang penuh harapan dan antisipasi bagi keluarga yang menunggu. Banyak
ibu merasa terhubung secara emosional dengan janin mereka saat mereka
merasakan gerakan, mendengarkan detak jantung janin, dan merencanakan masa
depan dengan kehadiran bayi yang akan datang. Hal ini juga dapat menjadi waktu
untuk mempersiapkan lingkungan rumah tangga dan mentalitas orang tua yang
baru.
Dalam hal ini, peneliti dapat menyimpulkan bahwa kehamilan adalah
kondisi fisiologis di mana seorang wanita membawa dan mengembangkan janin di
dalam rahimnya setelah pembuahan sel telur oleh sel sperma. Proses ini dimulai
ketika sel sperma membuahi sel telur dalam saluran tuba falopi wanita, yang
kemudian bergerak menuju rahim dan menanamkan diri di dinding rahim untuk
tumbuh dan berkembang menjadi embrio, dan kemudian janin. Kehamilan
berlangsung sekitar 40 minggu atau sekitar 9 bulan, dihitung dari hari pertama
siklus menstruasi terakhir wanita tersebut.
2.3.2 Definisi Hamil diluar Nikah
Kejadian hamil diluar nikah atau yang disebut dengan kehamilann pranikah adalah sebuah fenomena yang kerap terjadi dilingkungan sekitar. Hamil
pranikah merujuk pada kondisi kehamilan yang terjadi sebelum atau tanpa adanya
ikatan pernikahan formal antara pasangan yang terlibat (Wulandari et al., 2019). Ini
adalah situasi di mana seorang wanita mengalami kehamilan saat tidak memiliki
status pernikahan sah menurut hukum atau norma sosial yang berlaku di
masyarakatnya (Ramadhani, 2024).
Secara sosial dan budaya, kehamilan pranikah sering kali dianggap sebagai
hal yang sensitif atau kontroversial karena melibatkan konteks moral, etika, dan
nilai-nilai sosial yang berbeda-beda di berbagai masyarakat. Dalam beberapa
budaya, kehamilan di luar nikah dapat menimbulkan stigma sosial terhadap
individu atau keluarga yang terlibat, sementara dalam budaya lain, mungkin lebih
diterima atau tidak mendapat penilaian moral yang sama ketatnya.
Secara hukum, konsekuensi kehamilan pranikah juga dapat berbeda-beda
tergantung pada yurisdiksi tempat kejadian. Beberapa negara atau wilayah mungkin
memiliki undang-undang yang mengatur hak-hak dan tanggung jawab hukum
terkait dengan kehamilan pranikah, termasuk hak ibu terhadap dukungan medis,
sosial, dan keuangan, serta hak-hak anak yang lahir dari hubungan tersebut
(Ramadhani, 2024).
Secara psikologis, kehamilan pranikah bisa menjadi tantangan emosional
bagi individu yang terlibat. Ini dapat mencakup stres dan kecemasan terkait dengan
reaksi masyarakat atau keluarga, pertimbangan tentang masa depan anak yang akan
lahir, dan pertimbangan mengenai dukungan dan kesiapan finansial untuk
mendukung keluarga yang baru terbentuk (Erfina et al., 2019).
Dalam konteks pendidikan dan kesehatan reproduksi, kehamilan pranikah
juga menyoroti pentingnya edukasi seksual yang komprehensif, akses terhadap
layanan kesehatan reproduksi, dan upaya untuk mencegah kehamilan yang tidak
diinginkan melalui penggunaan metode kontrasepsi yang efektif. Pendidikan
tentang konsekuensi dari aktivitas seksual tanpa perlindungan, termasuk risiko
kehamilan pranikah dan infeksi menular seksual, penting untuk membantu individu
membuat keputusan yang sadar dan bertanggung jawab dalam kehidupan mereka.
2.3.3 Faktor Penyebab Hamil Diluar Nikah
Pada umumnya, penyebab terjadiny kehamilan diluar nikah menururt Dwi
Rukma Santi (dalam Sherly Ramadhani, 2024) adalah sebagai berikut :
1. Gaya hidup dan perilaku seks bebas.
Pada dasarnya gaya hidup seks bebas mencakup pola perilaku seksual di
mana individu atau pasangan secara terbuka atau aktif mengambil bagian dalam
hubungan seksual tanpa komitmen atau pembatasan moral, etis, atau agama
tertentu. Ini sering kali terkait dengan penerimaan terhadap variasi dalam
ekspresi seksual, eksplorasi diri, dan pengejaran kepuasan pribadi tanpa adanya
pertimbangan untuk konservasi atau norma sosial yang konservatif.
2. Kurangnya informasi tentang kesehatan reproduksi
Kurangnya informasi tentang kesehatan reproduksi merujuk pada keadaan
di mana individu atau masyarakat secara umum memiliki akses terbatas atau
pengetahuan yang tidak memadai mengenai aspek-aspek penting terkait dengan
reproduksi manusia. Ini mencakup berbagai hal, seperti anatomi reproduksi, siklus
menstruasi, kontrasepsi, hubungan seksual yang sehat, dan pencegahan infeksi
menular seksual (IMS), serta masalah kehamilan dan persalinan.
3. Sosial budaya juga mempengaruhi kehamilan diluar nikah.
Dalam banyak budaya, norma sosial yang kuat dan nilai-nilai yang berakar
dalam agama atau tradisi dapat menimbulkan stigma terhadap kehamilan
pranikah. Hal ini dapat mengarah pada tekanan sosial, diskriminasi, atau bahkan
penolakan dari keluarga, teman, atau masyarakat yang lebih luas terhadap individu
yang terlibat. Dampaknya bisa meliputi isolasi sosial, stres psikologis, dan
kesulitan dalam mendapatkan dukungan yang diperlukan selama periode
kehamilan dan setelahnya.
4.
Keadaam ekonomi yang tidak mencukupi
Dalam konteks kehamilan, keadaan ekonomi yang tidak mencukupi dapat
memiliki dampak yang signifikan. Seorang wanita yang menghadapi kehamilan
mungkin menghadapi kesulitan dalam memperoleh perawatan kesehatan prenatal
yang memadai, seperti kunjungan rutin ke dokter atau bidan, vitamin prenatal, atau
tes pencitraan yang diperlukan untuk memantau kesehatan janin. Kurangnya akses
ini dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan perkembangan janin, serta
meningkatkan risiko komplikasi selama kehamilan dan persalinan.
Kemudian, Ismawarti (Ismawarti, 2017) juga menjelaskan mengenai faktor
yang mempengaruhi kehamilan yang tidak diinginkan pada remaja, diantaranya
adalah :
a. Rendahnya pengetahuan mengenenai kesehatan reproduksi dan mencegah
terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan.
b. Sikap permisif dalam pergaulan sehinnga memicu terjadinya kehamilan yang
tidak diinginkan.
c. Mudahnya akses pornografi.
d. Pengaruh teman dekat dalam pergaulan seks bebas.
Sehingga dalam hal ini, peneliti menyimpulkan bahwa faktor yang
mempengaruhi kehamilan tidak diinginkan menyoroti kompleksitas dari faktorfaktor sosial, budaya, ekonomi, dan pendidikan yang berperan dalam situasi ini.
Tidak adanya akses terhadap informasi kesehatan reproduksi yang memadai,
kurangnya pendidikan seksual yang komprehensif, serta norma sosial yang
memengaruhi persepsi terhadap seksualitas dapat menyebabkan praktik seksual
tanpa perlindungan yang berisiko tinggi. Selain itu, kondisi ekonomi yang tidak
mencukupi sering kali membatasi akses terhadap kontrasepsi dan perawatan
kesehatan reproduksi yang diperlukan, meningkatkan risiko kehamilan tidak
diinginkan.
2.3.4 Dampak dari Kehamilan Diluar Nikah
Kehamilan diluar nikah dapat memiliki dampak yang signifikan secara
fisik, emosional, sosial, dan ekonomi bagi individu yang terlibat serta lingkungan
sekitarnya. Berikut adalah beberapa dampak utama dari kehamilan diluar nikah
berdasarkan keterangan dari Romana Tari (dalam Sherly Ramadhani, 2024) :
1. Dampak fisik
Kehamilan yang tidak direncanakan dapat meningkatkan risiko komplikasi
kesehatan bagi ibu dan janin. Ini termasuk risiko tinggi terhadap penyakit
seperti preeklamsia, anemia, dan persalinan prematur. Kondisi ini bisa
diperparah oleh akses terbatas atau tidak ada terhadap perawatan prenatal yang
adekuat.
2. Dampak emosional
Wanita yang menghadapi kehamilan diluar nikah sering mengalami stres,
cemas, dan tekanan emosional yang tinggi. Stigma sosial dan perasaan bersalah
yang terkait dengan situasi ini dapat mempengaruhi kesejahteraan emosional
mereka secara signifikan. Dampak psikologis ini juga dapat mempengaruhi
hubungan interpersonal dan kesehatan mental secara keseluruhan.
3. Dampak social
Kehamilan diluar nikah dapat memicu reaksi negatif dari keluarga, teman,
atau masyarakat luas, terutama dalam masyarakat yang nilai-nilai tradisional
atau agama yang kuat. Stigma sosial ini dapat mengarah pada isolasi sosial,
diskriminasi, atau penolakan terhadap individu yang terlibat, yang berpotensi
memperburuk situasi kesejahteraan sosial mereka.
4. Dampak ekonomi
Keadaan ekonomi yang tidak stabil atau kurang mencukupi dapat membuat
sulit bagi individu atau pasangan yang terlibat untuk menyediakan kebutuhan
dasar, seperti makanan, perumahan yang layak, dan perawatan medis yang
diperlukan selama kehamilan dan setelahnya. Biaya yang terkait dengan
perawatan prenatal, persalinan, dan perawatan bayi juga dapat menjadi beban
ekonomi yang berat.
Dilanjutkan dengan Indah Permata Sari (dalam Sherly Ramadhani, 2024)
yang mengatakan bahwa adanya beragam dampak yang dihasilkan akibat hamil
diluar nikah, diantaranya :
a. Masalah kesehatan reproduksi
Kesehatan reproduksi sangat pebting bagi remaja yang kelak akan menikah dan
menjadi orang tua. Di kalanga remaja telah terjadi beragam revolusi hubunga
seksual yang menjurus kea rah liberalisasi dan berakibat itmbulnya berbagai
penyakit menular seksual yang dapat merugikan dirinya seprti HIV/AIDS.
b. Masalah psikologis
Remaja yang hamil di luar nikah menghadapi berbagai masalah tekanan
psikologis yakni ketakutan, kecewa, dan rendah diri. Perasaan bersalah
membuat meraka tidak berani berterus terang pada orang tua. Yang dimana ini
akan menimbulkan rasa frustasi dan akan mengarah pada tindakan yang
melanggar norma yakni usaha melakukan aborsi terhadap kandungannya.
c. Masalah sosial
Remaja yang hamil dan tidak menikah sering sekali mendapat gunjingan dari
tetangga. Masyarakrat di Indonesia masih belum dapat menerima kondisi yang
demikian.
2.4 Penelitian Relevan
Penelitian terdahulu merupakan penelitian yang telah dilakukan oleh
peneliti sebelumnya.Penelitian terdahulu bisa berupa buku, skripsi, tesis dan
sebagainya. Penelitian terdahulu yang dicantumkan memiliki keterkaitan dengan
penelitian yang akan dilakukan. Baik itu dari segi tema maupun metode. Untuk itu,
tinjauan kritis terhadap hasil kajian terdahulu perlu dilakukan dalam bagian ini
sehingga dapat ditentukan di mana posisi penelitian yang akan dilakukan berbeda. Hal
ini sebagai bentuk antisipasi dari adanya plagiasi.
Berdasarkan penelusuran referensi yang dilakukan oleh penulis, terdapat
beberapa penelitian terdahulu yang berkorelasi dengan penelitian penulis diantaranya
sebagai berikut:
Penelitian Pertama,Wiwiyanti pada tahun 2017 dalam skripsi berjudul
"Pernikahan Dini Akibat Hamil di Luar Nikah Ditinjau dari Tradisi dan Kompilasi
Hukum Islam (KHI)," pernikahan dini akibat kehamilan di luar nikah dipandang
berbeda berdasarkan tradisi masyarakat dan KHI. Menurut tradisi, pernikahan harus
segera dilaksanakan jika seorang wanita hamil di luar nikah untuk menghindari dampak
sosial negatif di lingkungan sekitarnya. Sementara itu, menurut KHI, pernikahan dini
akibat hamil di luar nikah diperbolehkan, tetapi harus melalui pengadilan dengan
pengajuan dispensasi.
Beberapa faktor penyebab terjadinya pernikahan dini akibat kehamilan di
luar nikah antara lain kurangnya pengetahuan atau pemahaman terhadap agama,
pergaulan bebas, kurangnya pengawasan orang tua, penyalahgunaan teknologi, faktor
pendidikan, hubungan biologis sebelum menikah, faktor ekonomi, serta pengaruh adat
dan budaya.
Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan diteliti adalah samasama meneliti tentang pernikahan dini akibat hamil diluar nikah. Perbedaannya ialah
penelitian ini ditinjau dari tradisi dan kompilasi hukum Islam.
Penelitian kedua, Irma Seknun pada 2019 dengan judul skripsi Fenomena
Hamil di Luar Nikah Pada Usia Dini dan Respon Orang Tua (Studi Kasus di Desa
Mastur Kecamatan Kei Kecil Timur Kabupaten Maluku Tenggara).
Penyebab kehamilan pranikah di kalangan remaja di Desa Mastur dapat
dikelompokkan menjadi tiga faktor utama: faktor perilaku, faktor keluarga, dan faktor
lingkungan., faktor Perilaku Kehamilan pranikah di Desa Mastur seringkali dipicu oleh
perilaku pacaran yang terlalu bebas dan rasa ingin tahu tentang hubungan seksual.
Faktor-faktor keluarga yang berkontribusi meliputi perceraian orang tua, kurangnya
perhatian dari orang tua, sikap permisif dari orang tua, dan minimnya pendidikan
agama Islam dalam keluarga. Faktor Lingkungan yang mendorong pergaulan bebas dan
adanya peluang untuk melakukan hubungan seksual juga menjadi faktor yang
mendukung terjadinya kehamilan pranikah.Orang tua dan masyarakat Desa Mastur
umumnya menanggapi fenomena kehamilan di luar nikah sebagai sebuah aib dan
bencana, terutama bagi keluarga inti. Hal ini dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam
dan nilai moral, karena dapat merugikan perempuan serta mencoreng kehormatan dan
nama baik orang tua.
Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian yang akan diteliti ialah
terletak pada objek penelitiannya yaitu Fenomena pernikahan dini akibat hamil diluar
nikah. Sedangkan perbedaannya yaitu pada penelitian oleh Irma Seknun ini
menekankan pada respon orang tua terhadap fenomena pernikahan dini akibat hamil
diluar nikah sedangkan pada penelitian yang akan diteliti berfokus pada bagaimana
fenomena pernikahan anak akibat hamil diluar nikah.
Penelitian ketiga, M. Ridho pada 2021 dengan judul skripsi Pandangan
Tokoh Masyarakat Tentang Pernikahan Dini Akibat Hamil di Luar Nikah Ditinjau dari
Hukum Islam (Studi Kasus di Desa Tanjung Katung Kecamatan Maro Sebo Kabupaten
Muaro Jambi) Berdasarkan hasil penelitian, faktor-faktor yang menyebabkan
terjadinya pernikahan dini akibat hamil di luar nikah mencakup faktor keluarga atau
orang tua, faktor ekonomi, faktor pendidikan, pengaruh media massa, faktor MBA
(Marriage By Accident), serta faktor psikologis remaja. Kehamilan dan pernikahan di
usia dini sering kali dimulai dari perkenalan, yang kemudian berkembang menjadi
pacaran. Pertemuan yang sering dan kesempatan untuk berduaan memunculkan hasrat
untuk melakukan hubungan yang dilarang, yang seringkali didorong oleh ajakan
pasangan.
Pandangan tokoh masyarakat di Desa Tanjung Katung menunjukkan bahwa
pemahaman para pelaku zina mengenai konsep pernikahan dalam Islam masih sangat
minim, bahkan dalam hal-hal mendasar. Pernikahan di bawah umur memiliki banyak
dampak negatif pada pelakunya, termasuk depresi, kecemasan, ketakutan, dan stres,
yang merupakan beberapa dampak dari pernikahan dini di Desa Tanjung Katung.
Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang diteliti oleh penulis adalah
sama-sama meneliti tentang faktor-faktor penyebab hamil diluar nikah. Adapun
perbedaannya terletak pada pokok permasalahannya, peneliti terdahulu masalah pokok
penelitiannya adalah pandangan tokoh masyarakat tentang pernikahan dini akibat
hamil diluar nikah.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis dan Pendekatan Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif.
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena
tentang yang dialami subjek penelitian secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam
bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dengan
memanfaatkan berbagai metode alamiah (Moleong, 2014). Artinya data yang
dikumpulkan bukan berupa angka, melainkan data tersebut berasal dari masalah
wawancara, observasi serta dokumentasi.
Menurut Denzin dan Lincoln, menyatakan bahwa penelitian kualitatif lebih
ditujukan untuk mencapai pemahaman mendalam mengenai organisasi atau peristiwa
khusus daripada mendeskripsikan bagian permukaan dari sampel besar dari sebuah
populasi. Penelitian ini juga bertujuan untuk meneyediakan penjelasan tersirat mengenai
struktur, tatanan dan pola yang luas terdapat dalam suatu kelompok partisipan.
Penelitian kualitatif juga disebut etno-metodologi atau penelitian lapangan. Penelitian
ini juga mengahasilkan data mengenai kelompok manusia dalam latar atau latar sosial
(dalam Herdiansyah, 2014).
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif. Menurut
Anggito dan Setiawan (2018) Langkah ini peneliti harus mendeskripsikan suatu obyek,
fenomena, atau setting sosial yang akan dituangkan dalam tulisan yang bersifat naratif
arti dalam penulisannya data dan fakta yang dihimpun berbentuk kata atau gambar
daripada angka. Dalam penulisan laporan penelitian kualitatif berisi kutipan-kutipan
data (fakta) yang diungkap di lapangan untuk memberikan dukungan terhadap apa yang
disajikan. Adapun menurut Whitney (dalam Nazir, 2013) bahwa metode deskriptif
adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Penelitian deskriptif mempelajari
masalah-masalah dalam masyarakat serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat dan
situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan, kegiatan-kegiatan, sikapsikap,
pandangan-pandangan, serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruhpengaruh dari suatu fenomena.
Pertimbangan penulis menggunakan penelitian ini adalah ketertarikan peneliti
sendiri terhadap penelitian kualitatif, karena penelitian kualitatif menurut Koentjoro
adalah penelitian yang bertujuan memahami realitas sosial, yaitu melihat dunia dari apa
adanya, bukan dunia yang seharusnya, maka seorang peneliti kualitatif harus orang yang
memiliki sifat open minded. Karenanya melakukan penelitian kualitatif dengan baik dan
benar berarti telah memiliki jendela untuk memahami dunia psikologi dan realitas sosial
(dalam Herdiansyah, 2014). Hal ini yang mendorong peneliti menggunakan penelitian
kualitatif dengan metode deskriptif agar bisa menggali data secara mendalam.
3.2 Batasan Istilah
Batasan istilah dibutuhkan untuk mengarahkan dan sebagai patokan untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Adapun batasan istilah pada
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Dinamika dalam perspektif psikologi, dinamika dapat diartikan sebagai usaha,
gairah semangat untuk membangun diri menjadi lebih baik untuk meningkatkan
taraf hidup seseorang.
2. Resiliensi adalah kemampuan yang aa dalam diri induviu untuk Kembali pulih
dari suatu keadaan yang menekan dan mampu beradaptasi dan bertahan dari
kondisi yang mengancam.
3. Dinamika risiliensi adalah adanya kekuatan, usaha, gairah dan semangat untuk
Kembali pulih daro suatu keadaan yang menekan dan mampu beradaptasi dan
bertahan dari kondisi yang menekan untuk meningkatkan taraf kehidupan
seseorang.
3.3 Unit Analisis Data
Menurut Ihalauw mendefinisikan unit analisis adalah sumber yang dijadikan
untuk memperoleh data yang menggambarkan analisis yang akan diteliti (Widyandani,
2014). Sedangkan, menurut Hamidi mendefinisikan bahwa unit analisis adalah unit
tertentu yang dianggap sebagai obyek penyelidikan (Khotimah, 2017). Dengan
demikian, bergantung pada fokus masalah, unit analisis penelitian dapat berupa
individu, kelompok, organisasi, objek, wilayah, dan waktu tertentu.
Unit analisis adalah bagian dari datal yang dianalisis dalam; ;penelitian. Unit
analisis dapat berupa kata, kalimat, paragraf, atau dokumen dalam penelitian kualitatif
(Bungin, 2013). Pemilihan unit analisis yang tepat juga sangat penting untuk
memastikan kredibilitas hasil penelitian. Miles dan Huberman (2014) mengatakan
bahwa dalam memilih unit analisis, peneliti harus mempertimbangkan kriteria seperti
signifikansi, relevansi, keunikan, dan kemudahan untuk diakses.
3.4 Setting Penelitian
Setting pada penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode
pendekatannya yaitu studi kasus. Penelitian kualitatif dalam buku Metode Penelitian
Kualitatif menurut Rukin (2019) adalah riset yang bersifat deskriptif dan cenderung
menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Penonjolan proses penelitian dan
pemanfaatan landasan teori dilakukan agar fokus penelitian sesuai dengan fakta
dilapangan. Pendekatan kualitatif menekankan pada makna, penalaran, definisi, suatu
situasi tertentu dalam konteks tertentu, serta lebih banyak meneliti dengan hal hal yang
berhubungan dengan kehidupan sehari hari. Penelitian kualitatif menghasilkan data
deskriptif berupa ucapan, tulisan, dan perilaku orang orang yang diamati. Melalui
penelitian kualitatif peneliti dapat mengenali subjek dan merasakan pengalaman mereka
dalam kehidupan sehari hari.
Studi kasusatau 'case-study', adalah bagian dari metode kualitatif yang hendak
mendalami suatu kasus tertentu secara lebih mendalam dengan melibatkan
pengumpulan beraneka sumber informasi. Creswell ( Raco, 2018) mendefinisikan studi
kasus sebagai suatu eksplorasi dari sistem-sistem yang terkait (bounded system) atau
kasus. Menurut Bimo Walgito ( Gunawan, 2013 ) Studi kasus adalah metode yang
ditujukan untuk menyelidiki dan mempelajari peristiwa dan fenomena terkait individu.
Individu yang dijadikan objek penelitian tersebut nantinya akan diselidiki lebih lanjut.
Hasil penyelidikan bisa berbentuk beberapa laporan, salah satunya seperti biografi atau
riwayat hidup.
Menurut Bimo Walgito, dalam melakukan studi kasus, dibutuhkan banyak
informasi dan akurasi data agar diperoleh hasil data yang sesuai, mendalam dan akurat.
Jenis penelitian ini digunakan untuk meneliti bagaimana pola asuh orangtua tunggal
serta bagaimana pengaruhnya terhadap rasa percaya diri remaja. Pengambilan data yang
dilakukan akan menggunakan metode purposive sampling dimana metode ini adalah
cara yang digunakan untuk menentukan sampel dengan cara menetapkan ciri-ciri sampel
yang sesuai dengan kebutuhan penelitian.
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Data tentang faktor-faktor penyebab hamil luar nikah akan diteliti dengan
menggunakan wawancara berdasarkan pedoman wawancara yang telah dibuat untuk
partisipan maupun informan. Wawancara juga menggunakan pedoman wawancara
sebagai dasar validasi. Selain itu dalam analisis data peneliti juga menggunakan teknik
yang diajukan oleh Miles dan Huberman ( Arikunto , 2010 ) yaitu sebagai berikut :
1. Data Collection ( pengumpulan data )
Data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi
dicatat dalam catatan lapangan yang terdiri dari dua aspek, yaitu deskripsi dan
refleksi. Catatan deskripsi merupakan catatan alami yang berisi tentang apa yang
dilihat, didengar, dirasakan, disaksikan dan dialami sendiri oleh peneliti tanpa
adanya pendapat dan penafsiran dari peneliti tentang fenomena yang dijumpai.
Catatan refleksi yaitu catatan yang memuat kesan, komentar, dan tafsiran peneliti
tentang teman yang dijumpai dan merupakan bahan rencana pengumpulan data
untuk tahap berikutnya.
2. Data Reduction (reduksi data )
Reduksi data merupakan proses seleksi, pemfokusan, penyederhanaan dan
abstraksi. Cara mereduksi data adalah dengan melakukan seleksi membuat
ringkasan atau uraian singkat, menggolong-golongkan ke dalam pola pola dengan
membuat transkip penelitian untuk mempertegas, memperpendek membuat focus,
membuang bagian yang tidak penting dan mengatur agar dapat ditarik kesimpulan.
3. Data Display (penyajian data )
Penyajian data yaitu sekumpulan informasi tersusun sehingga memberikan
kemungkinan penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan agar sajian data
tidak menyimpang dari pokok permasalahan maka sajian data dapat diwujudkan
dalam bentuk matriks, grafis, jaringan atau bagan sebagai wadah panduan informasi
tentang apayang terjadi. Data disajikan sesuai dengan apa yang diteliti.
4. Conclusions/ Verifying ( Penarikan Kesimpulan)
Penarikan kesimpulan adalah usaha untuk mencari atau memahami makna,
keteraturan pola pola penjelasan, alur sebab akibat proposisi. Kesimpulan yang
ditarik segera diverifikasi dengan cara melihat dan mempertanyakan kembali
sambil melihat catatan lapangan agar memperoleh pemahaman yang lebih tepat,
selain itu juga dapat dilakukan dengan mendiskusikan. Hal tersebut dilakukan agar
data yang diperoleh dan penafsiran terhadap data tersebut memiliki validitas
sehingga kesimpulan yang ditarik menjadi kokoh.
3.6 Analisis Data
Sugiyono (2010) yang dimaksud dengan teknik analisis data adalah proses mencari
data, menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara dan
dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori , menjabarkan dalam
unit unit, melakukan sintesis dan lain lain. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan
teknik Triangulasi data untuk membenarkan dan menghilangkan keraguan serta
memfokuskan masalah pada penelitian ini.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan triangulasi teknik dan triangulasi data.
Triangulasi teknik dimana peneliti melakukan perpaduan teknik yaitu wawancara
observasi serta dokumentasi agar mendapatkan keabsahan data. Serta triangulasi sumber
yang berarti peneliti akan mendapatkan data dengan menggali dari beberapa sumber seperti
keluarga, teman, saudara, tetangga sekitar, serta tidak menutup kemungkinan orang orang
yang juga belum disebutkan diatas. Alasan menggunakan triangulasi adalah bahwa tidak
ada metode pengumpulan data tunggal yang sangat cocok dan dapat benar-benar sempurna.
Penggunaan triangulasi sangat membantu, tetapi sekaligus juga sangat mahal. Dalam
banyak penelitian kualitatif, peneliti umumnya menggunakan teknik triangulasi dalam arti
menggunakan interview dan observasi.
3.7 Keabsahan Data
Dalam penelitian kualitatif temuan atau data dapat dinyatakan valid apabila tidak
ada perbedaan antara yang dilaporkan peneliti dengan apa yang sesungguhnya terjadi pada
objek yang diteliti. Kemudian arti reabilitas dalam penelitian kualitatif ialah suatu realitas
itu bersifat majemuk/ganda, dinamis/selalu berubah, sehingga tidak ada yang konsisten,
dan berulang seperti semula (Sugiyono, 2017).
Setiap penelitian membutuhkan uji keabsahan data untuk mengetahui validitas dan
reliabilitas. Pengujian keabsahan data yang akan peneliti lakukan adalah uji kredibilitas.
Uji kredibilitas yang peneliti lakukan dalam penelitian ini adalah trianggulasi dan member
check.
3.7.1 Triangulasi
Trianggulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan
sesuatu yang lain diluar untuk keperluan pengecekan atau hasil akhir yang diperoleh dalam
bentuk diskusi analitik. Peneliti perlu melakukan trianggulasi yaitu pengecekan data dari
berbagai sumber dengan cara dan waktu.
Dalam penelitian ini menggunakan data triangulation, yaitu penggunaan lebih dari
satu metode pengumpulan data dalam kasus tunggal. Metode pengumpulan data yang pada
umumnya dilakukan dalam penelitian kualitatif, yaitu wawancara, observasi, FGD,
dokumentasi, dan lain sebainya (Herdiansyah, 2014).
3.7.2 Member Check
Member check adalah proses pengecekan data yang diperoleh peneliti kepada
pemberi data. Tujuan Member check adalah untuk mengetahui seberapa jauh data yang
diperoleh sesuai apa yang diberikan oleh pemberi data. Apabila data yang ditemukan
disepakati oleh para pemberi data berarti datanya tersebut valid, sehingga semakin
kredibel/ dipercay a (Sugiyono, 2017).
DAFTAR PUSTAKA
Azmi, N. (2015). Potensi Emosi Remaja dan Pengembangannya. Sosial Horizon:Jurnal
Pendidikan Sosial, 2(1), 36-46
Setyantoro, W.A., & Hanggara, G.S. (2023). Permasalahan Remaja Pengunjung dalam Kajian
Psikologis. Seminar Nasional Pendidikan dan Pembelajaran.
Download