A. Kelas Sosial dan Status 1. Pengertian Kelas Sosial 2. Struktur Kelas Sosial 3. Status Sosial dan Konsumsi 4. Ketimpangan Sosial, Kemiskinan dan Keadilan Sosial Sekelompok individu dengan tingkat prestise dan status sosial yang sama cenderung menghargai orang lain yang memiliki keyakinan, sikap, dan nilai yang serupa, yang mereka ekspresikan melalui pemikiran dan perilaku mereka. Orang-orang dalam kelas sosial yang sama biasanya memiliki kedudukan sosial yang hampir setara dalam masyarakat, bekerja dalam bidang pekerjaan yang serupa, serta menunjukkan gaya hidup yang sejalan berdasarkan tingkat pendapatan dan preferensi mereka. Dalam kajian sosiologi, masyarakat sering kali dibagi berdasarkan akses terhadap sumber daya sosial dan ekonomi, yang dalam beberapa kasus melibatkan kekuasaan politik dan dalam kasus lain berkaitan dengan perbedaan ekonomi semata. Karl Marx, seorang teoritikus ekonomi abad ke-19, berpendapat bahwa posisi individu dalam masyarakat ditentukan oleh hubungan mereka terhadap alat produksi. Mereka yang memiliki sumber daya mengendalikan alat produksi dan memanfaatkan tenaga kerja orang lain untuk mempertahankan keistimewaan mereka, sementara mereka yang tidak memiliki sumber daya harus mengandalkan tenaga kerja mereka sendiri untuk bertahan hidup, sehingga mereka lebih diuntungkan jika sistem sosial mengalami perubahan (Hoyer, 2024). Kelas sosial adalah strata yang relatef tetap dalam masyarakat dalam masyarakat yang berbeda status, kekayaan, Pendidikan, pemilikan dan nilai. Aspek sosiobudaya lainnya yang ikut mmenentukan presepsi dan perilaku beli konsumen adalah aspek kelas sosial. Perilaku beli konsumen sangat dipengaruhi oleh kelas sosial yang ditempatkan kosnumen atau kelas sosial yang didamkankan oleh konsumen, jadi bukan oleh segi pendapatan saja. 5. Status Sosial dan Konsumsi Konsumsi berdasarkan status sosial adalah konsep yang membantu kita memahami persepsi status sosial dalam masyarakat. Status sosial ini merujuk pada penilaian kita tentang di mana posisi kita dalam masyarakat, yang sering kali kita nilai dengan membandingkan diri kita dan kepemilikan kita dengan orang lain, atau dengan kondisi kita di masa lalu. Sebagai contoh, ketika konsumen membandingkan situasi keuangan mereka dengan orang lain, mereka bisa merasakan kekurangan secara finansial atau perasaan bahwa mereka tidak memiliki cukup uang dibandingkan dengan rekan-rekan mereka. Karena ini merupakan penilaian relatif, seseorang yang "kaya" tetapi tidak terlalu "berada" secara ironis bisa merasa lebih rendah dibandingkan orang yang secara objektif berpendapatan sederhana tetapi dianggap sukses di antara teman-temannya. Penelitian menunjukkan bahwa perasaan rendah diri dan emosi tidak menyenangkan yang dipicu oleh kekurangan finansial memotivasi konsumen untuk mencari barang langka daripada barang yang melimpah. Ini merupakan bentuk strategi koping yang membantu mereka mengimbangi perasaan inferioritas sosial. Proses ini juga mencerminkan "kecemasan status" yang kerap dialami oleh mereka yang baru saja naik status sosial (nouveaux riches), di mana mereka merasa perlu menunjukkan status mereka melalui kepemilikan barang yang dianggap simbolis dalam kelas sosial yang lebih tinggi. Kelas sosial memengaruhi perilaku konsumen dalam konsumsi melalui empat cara utama: melalui (1) konsumsi yang mencolok (memperoleh dan memamerkan barang untuk menunjukkan kedudukan kelas) atau kesederhanaan sukarela (secara sadar memilih gaya hidup yang kurang material); (2) simbol status (barang yang menandakan kedudukan sosial); (3) konsumsi kompensasi (membeli untuk mengimbangi beberapa kekurangan pribadi); dan (4) makna uang. Kepada Siapa Kita Membandingkan Diri Kita? Tentu saja, jawaban yang kita dapatkan ketika kita ingin tahu bagaimana kita dibandingkan dengan orang lain sangat bergantung pada siapa kita membandingkan diri kita—dan ini juga berlaku untuk kelas sosial. Ketika kita melakukan perbandingan ke atas, kita membandingkan diri kita dengan kelompok referensi sosial yang aspiratif, tetapi ketika kita melakukan perbandingan ke bawah, kita melihat mereka yang kurang beruntung daripada kita. Ungkapan populer "keeping up with the Joneses" merujuk pada keinginan untuk membandingkan standar hidup Anda dengan tetangga Anda— dan melampauinya jika Anda bisa. Jadi, ini bukan hanya tentang apa yang Anda beli, miliki, atau gunakan, tetapi lebih tentang bagaimana posisi Anda relatif terhadap tetangga, teman, atau rekan kerja Anda. Kita melihat perbandingan ini bekerja ketika kita melihat program loyalitas yang selalu populer (misalnya, ketika maskapai penerbangan memberikan status khusus berdasarkan jumlah mil yang Anda terbangkan). Dalam sebuah studi, subjek diberi "status emas" baik dalam program di mana emas adalah satu-satunya tingkat khusus atau dalam program di mana juga ada tingkat perak. Meskipun kedua kelompok tersebut adalah "emas," mereka yang berada dalam program. Makna "Kemewahan" Tas dan jam tangan mewah. Rumah mewah. Resor mewah. Spa mewah. Kita menggunakan kata itu sepanjang waktu, tetapi apa sebenarnya artinya? SRI Consulting Business Intelligence membagi konsumen menjadi tiga kelompok berdasarkan sikap mereka terhadap merek-merek mewah: Mewah itu fungsional: Konsumen ini menggunakan uang mereka untuk membeli barang-barang yang akan bertahan lama dan memiliki nilai yang abadi. Mereka melakukan penelitian pra-pembelian yang mendalam dan membuat keputusan logis daripada pilihan emosional atau impulsif. Mewah adalah hadiah: Konsumen ini cenderung lebih muda dari kelompok pertama tetapi lebih tua dari kelompok ketiga. Mereka menggunakan barangbarang mewah untuk mengatakan, "Saya telah berhasil." Keinginan untuk sukses dan menunjukkan kesuksesan mereka kepada orang lain memotivasi konsumen ini untuk membeli barang-barang mewah yang mencolok, seperti mobil mewah dan rumah di komunitas eksklusif. Mewah adalah kesenangan: Kelompok ini adalah yang terkecil dari ketiga kelompok dan cenderung mencakup konsumen yang lebih muda dan sedikit lebih banyak pria dibandingkan dengan dua kelompok lainnya. Bagi konsumen ini, tujuan memiliki barang mewah adalah untuk sangat berlebihan dan memanjakan diri. Konsumsi berdasarkan status sosial merupakan konsep yang membantu dalam memahami bagaimana individu mempersepsikan posisi mereka dalam struktur sosial masyarakat. Status sosial tidak hanya berhubungan dengan pendapatan atau kekayaan semata, tetapi juga dengan bagaimana seseorang membandingkan dirinya dengan individu lain atau dengan kondisi masa lalunya. Menurut Solomon (2020), status sosial merupakan konstruksi sosial yang tercermin dalam konsumsi individu, di mana mereka sering kali menggunakan barang dan jasa sebagai simbol status yang menandakan kedudukan sosial mereka. Sebagai contoh, ketika seseorang membandingkan situasi keuangannya dengan orang lain, ia mungkin mengalami perasaan kekurangan secara finansial. Bahkan, seseorang yang tergolong kaya secara absolut dapat merasa kurang mampu jika berada di lingkungan yang lebih makmur. Hal ini sesuai dengan temuan Mandel et al. (2017) yang menunjukkan bahwa persepsi relatif terhadap kekayaan dapat memengaruhi perilaku konsumsi seseorang. Seseorang dengan pendapatan yang lebih tinggi namun hidup di lingkungan dengan standar kemewahan yang lebih tinggi dapat merasa kurang berada dibandingkan individu dengan pendapatan lebih rendah tetapi memiliki lingkup sosial yang lebih sederhana. Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa perasaan rendah diri akibat kekurangan finansial dapat mendorong konsumen untuk mencari barang langka daripada barang yang lebih umum di pasaran (Ordabayeva & Chandon, 2011). Strategi ini merupakan bentuk koping psikologis yang membantu individu mengatasi perasaan inferioritas sosial dengan memperoleh barang yang memiliki nilai simbolis dalam hierarki sosial. Fenomena ini juga terkait dengan "kecemasan status" yang sering dialami oleh individu yang baru saja mengalami mobilitas sosial ke atas (nouveaux riches), di mana mereka merasa perlu membuktikan status barunya melalui konsumsi barang-barang prestisius (Veblen, 1899). Kelas sosial memengaruhi perilaku konsumsi dalam beberapa cara utama. Pertama, melalui konsumsi yang mencolok (conspicuous consumption), yaitu kecenderungan individu untuk memperoleh dan memamerkan barang mewah sebagai simbol status sosial (Trigg, 2001). Kedua, melalui simbol status, di mana barang-barang tertentu dianggap sebagai representasi kedudukan sosial seseorang. Ketiga, melalui konsumsi kompensasi, yaitu perilaku membeli barang untuk mengatasi perasaan kurang atau kekurangan dalam aspek kehidupan lainnya (Rucker & Galinsky, 2008). Terakhir, makna uang juga berperan dalam konsumsi, di mana individu mengasosiasikan uang dengan berbagai aspek psikologis dan sosial yang memengaruhi keputusan pembelian mereka (Richins, 1994). Dengan demikian, konsumsi bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga cerminan identitas sosial dan posisi seseorang dalam masyarakat. Daftar Pustaka: Mandel, N., Rucker, D. D., Levav, J., & Galinsky, A. D. (2017). The compensatory consumer behavior model: How self-discrepancies drive consumer behavior. Journal of Consumer Psychology, 27(1), 133-146. https://doi.org/10.1016/j.jcps.2016.05.003 Ordabayeva, N., & Chandon, P. (2011). Getting ahead of the Joneses: When equality increases conspicuous consumption among bottom-tier consumers. Journal of Consumer Research, 38(1), 27-41. https://doi.org/10.1086/658165 Richins, M. L. (1994). Special possessions and the expression of material values. Journal of Consumer Research, 21(3), 522-533. https://doi.org/10.1086/209415 Rucker, D. D., & Galinsky, A. D. (2008). Desire to acquire: Powerlessness and compensatory consumption. Journal of Consumer Research, 35(2), 257-267. https://doi.org/10.1086/588569 Solomon, M. R. (2020). Consumer behavior: Buying, having, and being (13th ed.). Pearson. Trigg, A. B. (2001). Veblen, Bourdieu, and conspicuous consumption. Journal of Economic Issues, 35(1), 99-115. https://doi.org/10.1080/00213624.2001.11506342 Veblen, T. (1899). The theory of the leisure class. Macmillan.