Uploaded by MUTMAINAHTUN NUFUS MUTMAINAHTUN NUFUS

Makalah Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)

advertisement
MAKALAH USAHA KESEHATAN SEKOLAH
Makalahini disusun untuk memenuhi salah satu tugas
Mata Kuliah Kesehatan dan Gizi AUD
Dosen Pengampu;
………………………….
LOGO
Disusun oleh:
…………………..
……………………………………………
…………………………………………..
2020
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, yang memberi rahmat dan
karunianya, sehingga pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini. Dimana
tugas makalah ini penulis sajikan dalam bentuk baku dan sederhana. Adapun judul tugas
makalah ini adalah “ UNIT KESEHATAN SEKOLAH”
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menambah ilmu pengetahuan kita tentang
Ilmu Kesehatan Masyarakat khususnya dalam ruang lingkup Usaha Kesehatan Sekolah.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kritik
dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnan makalah ini.
Penulis berharap makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Terima
kasih.
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................................................................
DAFTAR ISI .......................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..........................................................................................
B. Maksud dan Tujuan ..................................................................................
C. Rumusan Masalah ....................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi UKS ............................................................................................
B. Sasaran ......................................................................................................
C. Program UKS ...........................................................................................
D. Buku KMS/KIA ........................................................................................
E. Buku DDTK/SDITK.................................................................................
F. Perbaikan Gizi (PMT) ..............................................................................
G. Pemberian Vitamin A................................................................................
H. Pemeriksaan Berkala ................................................................................
I. Pengukuran Berat Badan, Tinggi Badan dan Lingkar Kepala .................
J. Pemeriksaan Kesehatan Anak ..................................................................
K. Kotak P3K.................................................................................................
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ...............................................................................................
B. Saran .........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tujuan pembangunan bidang kesehatan adalah terwujudnya derajat kesehatan
masyarakat yang optimal. Dalam kehidupan sosial yang beragam di masyarakat,
keluarga adalah unit sosial terkecil, oleh karena itu diperlukan upaya untuk
meningkatkan derajat kesehatan keluarga terutama kesehatan ibu dan anak. Masa
anak merupakan waktu yang tepat untuk meletakkan landasan yang kokoh bagi
terwujudnya manusia yang berkualitas.
Anak usia sekolah baik tingkat pra sekolah, Sekolah Dasar, Sekolah
Menengah Pertama dan Sekolah menengah Atas adalah suatu masa usia anak yang
sangat berbeda dengan usia dewasa. Di dalam periode ini didapatkan banyak
permasalahan kesehatan yang sangat menentukan kualitas anak di kemudian hari.
Masalah kesehatan tersebut meliputi kesehatan umum, gangguan perkembangan,
gangguan perilaku dan gangguan belajar. Permasalahan kesehatan tersebut pada
umumnya akan menghambat pencapaian prestasi pada peserta didik di sekolah.
Kesempatan belajar tersebut membutuhkan kondisi fisik prima yaitu tubuh yang
sehat, oleh karena itu diperlukan suatu upaya kesehatan untuk anak sekolah agar anak
dapat tumbuh menjadi manusia yang berkualitas dibutuhkan pendidikan di sekolah,
salah satunya melalui UKS.
Oleh karena itu kami tertarik untuk membahas lebih lanjut mengenai peranan
UKS dalam anak yang sehat.
B. Maksud dan Tujuan
Dalam upaya peningkatan derajat kesehatan siswa tentunya harus dirumuskan
tentang tujuan dari pelaksanaan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) yang ingin dicapai.
Departemen Kesehatan (2006:3) menjelaskan bahwa tujuan umum dari UKS adalah
meningkatkan mutu pendidikan dan prestasi belajar peserta didik dengan
meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat serta derajat kesehatan peserta didik
maupun warga belajar, dan menciptakan lingkungan sehat, sehingga memungkinkan
pertumbuhan dan perkembangan yang harmonis dan optimal dalam rangka
pembentukan manusia Indonesia Seutuhnya.
Menurut Sriawan (2010:25), tujuan pelayanan kesehatan disekolah adalah
untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan melakukan tindakan hidup sehat,
dalam rangka membentuk perilaku hidup sehat. Juga untuk meningkatkan daya tahan
tubuh terhadap penyakit dan mencegah terjadinya penyakit, kelainan dan cacat.
Sedangkan menurut pendapat Drajat Martianto (2005:3) Tujuan UKS adalah
untuk meningkatkan mutu pendidikan dan prestasi belajar peserta didik dengan
meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat dan derajat kesehatan peserta didik
maupun warga belajar serta menciptakan lingkungan yang sehat, sehingga
memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan yang harmonis dan optimal dalam
rangka pembentukan manusia seutuhnya.
Meningkatkan kemampuan dan keterampilan melakukan tindakan hidup sehat
dalam rangka membentuk perilaku hidup sehat serta meningkatnya daya tahan tubuh
peserta didik terhadap penyakit dan mencegah terjadinya penyakit, kelainan, dan
cacat. Menghentikan proses penyakit dan pencegahan akibat penyakit/kelainan,
pengambilan fungsi dan peningkatan kemampuan peserta didik yang cedera/cacat
dapat berfungsi optimal.
Jadi, tujuan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah untuk meningkatkan
mutu pendidikan, prestasi belajar peserta didik, dan produktivitas peserta didik dalam
berprestasi belajar dan meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat serta derajat
kesehatan peserta didik maupun warga belajar dan menciptakan lingkungan yang
sehat, sehingga memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan yang harmonis dan
optimal dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya.
C. Rumusan Masalah
a. Definisi UKS
b. Sasaran
c. Program UKS
d. Buku KMS/KIA
e. Buku DDTK/SDITK
f. Perbaikan Gizi (PMT)
g. Pemberian Vitamin A
h. Pemeriksaan Berkala
i. Pengukuran Berat Badan, Tinggi Badan dan Lingkar Kepala
j. Pemeriksaan Kesehatan Anak
k. Kotak P3K
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi UKS
Hidup sehat seperti yang didefinisikan oleh badan kesehatan perserikatan
bangsa-bangsa (PBB) World Health Organization (WHO) adalah keadaan sejahtera
dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan orang hidup produktif secara sosial
dan ekonomi. Sedangkan kesehatan jiwa adalah keadaan yang memungkinkan
perkembangan fisik, mental, intelektual, emosional, dan sosial yang optimal dari
seseorang. Dalam Undang Undang Nomor 23 Tahun 1992 pasal 45 tentang Kesehatan
ditegaskan bahwa ”Kesehatan Sekolah” diselenggarakan untuk meningkatkan
kemampuan hidup sehat peserta didik dalam lingkungan hidup sehat sehingga peserta
didik dapat belajar, tumbuh dan berkembang secara harmonis dan optimal sehingga
diharapkan dapat menjadikan sumber daya manusia yang berkualitas. Menurut
Sumantri (2007), peserta didik itu harus sehat dan orang tua memperhatikan
lingkungan yang sehat dan makan makanan yang bergizi, sehingga akan tercapai
manusia soleh, berilmu dan sehat (SIS). Dalam proses belajar dan pembelajaran
materi pembelajaran berorientasi pada head, heart dan hand, yaitu berkaitan dengan
pengetahuan, sikap/nilai dan keterampilan. Namun masih diperlukan faktor kesehatan
(health) sehingga peserta didik memiliki 4 H (head, heart, hand dan health).
Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah usaha untuk membina dan
mengembangkan kebiasaan dan perilaku hidup sehat pada peserta didik usia sekolah
yang dilakukan secara menyeluruh (komprehensif) dan terpadu (integrative) melalui
program pendidikan dan penyuluhan kesehatan. UKS adalah bagian dari usaha
kesehatan pokok yang sesuia beban tugas puskesmas yang di tujukan kepada sekolahsekolah. Untuk optimalisasi program UKS perlu ditingkatkan peran serta peserta didik
sebagai subjek dan bukan hanya objek. Dengan UKS ini diharapkan mampu
menanamkan sikap dan perilaku hidup sehat pada dirinya sendiri dan mampu
menolong orang lain. Dari pengertian ini maka UKS dikenal pula dengan child to
child programe. Program dari anak, oleh anak, dan untuk anak untuk menciptakan
anak yang berkualitas.
B. Sasaran
Menurut Mu’rifah (2007:8.4) sasaran dari UKS adalah masyarakat sekolah
yang terdiri dari peserta didik, guru dan petugas sekolah lainnya. Sekolah yang
dimaksud adalah semua sekolah dari tingkat sekolah dasar (SD) sampai tingkat atas
atau SMA.
Drajat Martianto (2005:4) menuturkan: Sasaran pelaksanaan UKS adalah
peserta didik di sekolah/satuan pendidikan luar sekolah, Guru, Pamong Pelajar,
Pengelolaan Pendidikan lainnya, Pengelola Kesehatan, dan masyarakat. Untuk itu
pembinaan dan pengembangan UKS di Sekolah/Satuan Pendidikan Luar Sekolah
dilaksanakan melalui tiga program pokok yang meliputi:
1. Pendidikan Kesehatan.
2. Pelayanan Kesehatan.
3. Pembinaan Lingkungan Kehidupan Sekolah Sehat (Kesehatan Lingkungan di
Sekolah).
C. Program UKS
Jenis kegiatan UKS dikelompokkan menjadi tiga, yaitu kegiatan yang
berkaitan dengan lingkungan hidup, kegiatan yang berkaitan dengan kebersihan diri
dan kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan kesehatan. Bagian-bagian jenis
kegiatan tersebut termasuk dalam program kegiatan UKS sebagai berikut:
No
A.
B.
JENIS KEGIATAN
Lingkungan Hidup
SASARAN
PELAKSANAAN
1. Kebersihan kelas/ruangan
Lingkungan sekolah
2. Kebersihan halaman
Lingkungan sekolah
3. Penataan taman
Lingkungan sekolah
4. Pengaturan sanitasi
Kebersihan Diri
Lingkungan sekolah
1. Pemeriksaan gigi
Kelas I-VI
Diatur sesuai
2. Pemeriksaan rambut
Kelas I-VI
dengan jadwal
3. Pemeriksaan kuku
Kelas I-VI
kegiatan
4. Pemeriksaan mata
Kelas I-VI
pembiasaan
5. Pemeriksaan telinga
Kelas I-VI
6. Pemeriksaan pakaian
Kelas I-VI
7. Pemeriksaan umum
Kelas I-VI
Setiap hari
C.
Pendidikan Kesehatan
1. Penyuluhan dokter kecil
Kelas I-VI
Dilaksanakan
2. Penyuluhan kesehatan
Kelas I-VI
secara berkala dan
3. Penyuluhan UKGS
Kelas I-VI
terprogram oleh
4. Penyuluhan gizi
Kelas I-VI
pembina UKS
5. Penyuluhan dan latihan Kelas I-VI
6. PPPK
Kelas I-VI
Penyuluhan umum
D. Buku KMS/KIA
a. Buku KMS
Kartu Menuju Sehat (KMS) adalah catatan grafik perkembangan anak
yang diukur berdasarkan umur, berat badan, dan jenis kelamin. Dari situlah bisa
diketahui status gizi bayi dan balita Anda. KMS juga menyuguhkan informasi
kelengkapan imunisasi anak dan memantau pemberian ASI eksklusif pada bayi
usia 0-6 bulan. Selain itu, dalam KMS terdapat tips dasar perawatan anak, seperti
pemberian makanan anak, dan perawatan anak bila mengalami diare.
Anda dianjurkan untuk memperbarui data di kartu tersebut setiap bulan
dengan membawa balita Anda ke posyandu untuk ditimbang. Dengan memantau
pertumbuhan anak melalui kartu ini, dokter dapat menentukan apakah seorang
anak tumbuh normal, atau mengalami gangguan pertumbuhan sehingga dapat
didagnosis dan ditangani lebih dini.
KMS terdiri dari 1 lembar (2 halaman bolak-balik) dengan 5 bagian di
dalamnya. Cara mengisi dan membaca Kartu Menuju Sehat dibedakan antara anak
laki-laki dengan anak perempuan. KMS anak laki-laki berwarna biru dan punya
anak perempuan berwarna merah muda.
Kartu Menuju Sehat (KMS) tersedia dalam bentuk fisik yang diberikan
oleh dokter setelah kelahiran anak. Namun kini KMS juga tersedia secara online
yang bisa Anda unduh di Google Play Store (khusus untuk pengguna Android).
Bagaimana cara membaca KMS?
Setelah anak ditimbang beratnya, dokter atau tenaga medis akan
memberikan titik sesuai bulan waktu anak diperiksa. Tugas Anda selanjutnya
adalah memperhatikan lokasi titik tersebut. Jika titik tersebut berada:
Grafik tumbuh kembang anak dalam KMS

Dibawah garis merah menunjukkan anak Anda mengalami kurang gizi
sedang hingga berat. Jika anak Anda berada di zona ini, maka segera bawa
anak Anda ke dokter spesialis anak untuk mendapatkan pemeriksaan
kesehatan lebih lanjut.

Terletak di daerah dua pita warna kuning (di atas garis merah), hal ini
menunjukkan anak tersebut mengalami kurang gizi ringan. Anda tidak
perlu panik. Yang perlu Anda lakukan adalah mengevaluasi pemberian
makanan pada anak Anda.

Dua pita warna hijau muda dan dua warna hijau tua di atas pita kuning,
menunjukkan anak Anda memiliki berat badan cukup atau status gizi baik
atau normal. Meski begitu, berat badan anak tetap perlu ditimbang dan
diawasi agar senantiasa sesuai dengan umurnya.

Empat pita di atas pita warna hijau tua (2 pita warna hijau muda ditambah
2 pita warna kuning), menunjukkan anak Anda memiliki berat badan yang
lebih di atas normal. Jika anak Anda mengalami hal ini, segera
konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang
lebih tepat. Perlu diingat, bahwa anak yang kelebihan berat badan mudah
terkena berbagai penyakit, seperti obesitas atau serangan jantung.
Di samping itu, anda juga perlu melihat perkembangan titiknya setiap
bulan, apakah naik-turun, semakin menanjak, atau malah menurun. Masingmasing perkembangan ini ada artinya
Bila titik pada grafik lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya,
tandanya berat badan anak Anda naik.
Bila titik pada grafik sejajar dengan bulan sebelumnya, maka berat badan
anak Anda sama dengan bulan sebelumnya. Anda harus meningkatkan pemberian
makan, baik mutu dan waktu pemberiannya.
Bila titik pada grafik lebih rendah dari bulan sebelumnya, maka berat
badan anak Anda mengalami penurunan. Hal ini dapat terjadi terutama bila anak
mulai memasuki usia 6 bulan di mana gigi sudah mulai tumbuh. Biasanya bila gigi
akan tumbuh, anak akan mengalami demam ringan dan nafsu makan akan sedikit
menurun. Jika anak tidak mengalami sakit, tetapi berat badannya tetap berkurang,
maka ibu harus segera membawanya ke bidan atau dokter.
Bila titik berat badan pada grafik KMS terputus-putus, ini artinya Anda
kurang rajin menimbang anak. Alangkah baiknya jika penimbangan dilakukan
setiap bulan.
Penjelasan istilah naik atau tidak naik pada berat badan anak
dilambangkan dengan huruf N untuk berat badan naik dan T untuk berat badan
tidak naik. Berat badan naik (N) artinya grafik berat badan mengikuti garis
pertumbuhan atau kenaikan berat badan sama dengan kenaikan berat badan
minimal (KBM) atau lebih. Berat badan tidak naik (T) artinya grafik berat badan
mendatar atau menurun memotong garis pertumbuhan dibawahnya atau kenaikan
berat badan kurang dari KBM
b. Buku KIA
Buku KIA merupakan buku wajib yang harus dimiliki oleh setiap ibu yang baru
hamil s.d anak tumbuh menjadi balita, Manfaat dari buku KIA sendiri adalah :
•
Untuk mengetahui kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, KB, bayi
lahir, bayi dan balita.
•
Untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita.
•
Untuk mengetahui status imunisasi ibu hamil dan bayi.
•
Untuk mengetahui riwayat penyakit bayi dan balita.
•
Untuk syarat pengajuan akte kelahiran ke capil, dan beasiswa, syarat
masuk sekolah (TK, SD, Pertukaran pelajar ke luar negeri)
•
Untuk alat komunikasi, rujukan.
Jika anda sudah tau manfaat BUKU KIA maka anda juga harus tau apa saja isi
yang terkandung dalam buku KIA, berikut ini adalah isi dari buku KIA :
KESEHATAN IBU
Meliputi:
a. IDENTITAS KELUARGA
b. PEMERIKSAAN KEHAMILAN 7 T yang meliputi :
-
TD
-
Timbang BB,
-
TB dan ukur LILA
-
Tetanus Toxoid
-
Tambah Darah
-
Tes Laborat
-
Temu Wicara
KESEHATAN ANAK
Meliputi:
1. Perawatan bayi baru lahir sampai balita.
2. Perawatan sehari-hari balita.
3. Perawatan anak sakit.
4. Cara memberi makan anak-anak
5. Cara merangsang perkembangan anak.
Dari kelima hal diatas dapat dilihat dalam cacatan kesehatan anak dan KMS yang
ada di dalam buku KIA.
E. Buku DDTK/SDITK
a. Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK)
Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK) adalah kegiatan/pemeriksaan
yang bertujuan untuk menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh
kembang pada Balita dan Anak Pra Sekolah. Dengan ditemukannya secara dini
penyimpangan atau masalah tumbuh kembang pada anak, maka intervensi yang
akan dilakukan tentunya akan lebih mudah dan fokus dilaksanakan dan selain itu
tenaga kesehatan juga mempunyai “waktu” yang cukup dalam membuat rencana
tindakan/intervensi yang sesuai.
Bila penyimpangan terlambat diketahui, maka intervensinya tentu akan
lebih sulit dan hal ini akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Ada 3 jenis
deteksi dini tumbuh kembang yang dapat dikerjakan oleh Tenaga Kesehatan di
tingkat puskesmas dan jaringannya, yaitu :
1. Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan, bertujuan untuk mengetahui dan
menemukan
status
gizi
kurang/buruk.
Dilakukan
dengan
cara
menggunakan pengukuran Berat Badan terhadap Tinggi Badan (BB/TB)
dan pengukuran Lingkar Kepala Anak (LKA).
2. Deteksi dini penyimpangan perkembangan, bertujuan untuk mengetahui
gangguan perkembangan anak (keterlambatan), gangguan daya lihat,
gangguan daya dengar. Dilakukan dengan cara skrining atau Pemeriksaan
Perkembangan anak menggunakan Kuisioner Pra Skrining Perkembangan
(KPSP), Tes Daya Dengar (TTD) dan Tes Daya Lihat (TDL).
3. Deteksi dini penyimpangan mental emosional, bertujuan untuk mengetahui
adanya masalah mental emosional, autisme dan gangguan pemusatan
perhatian dan hiperaktivitas. Dilakukan dengan cara Deteksi Dini Masalah
Mental Emosional pada anak pra sekolah dengan menggunakan Kuisioner
Masalah Mental Emosional (KMEE), Deteksi Dini Autis Pada Anak
Prasekolah (menggunakan cheklis deteksi dini autis pada anak umur 18-36
bulan), Deteksi Dini Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas
(GPPH) pada anak pra sekolah (menggunakan Formulir deteksi dini
GPPH).
b. Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK)
Salah satu upaya untuk mendapatkan anak yang seperti diinginkan tersebut
adalah dengan melakukan upaya pemantauan pertumbuhan dan perkembangan
anak atau yang dikenal dengan nama Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh
Kembang (SDIDTK).
Stimulasi adalah kegiatan merangsang kemampuan dasar anak umur 0 – 6
tahun agar anak tumbuh dan berkembang secara optimal. Sitimulasi ini dapat
dilakukan oleh ibu, ayah, pengganti orang tua (pengasuh), anggota keluarga lain,
atau jika si anak telah masuk PAUD maka menjadi tanggung jawab lembaga
untuk membantu pendeteksiannya.
Deteksi adalah kegiatan/pemeriksaan untuk menemukan secara dini
adanya penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan anak pra sekolah.
Intervensi adalah suatu tindakan tertentu pada anak yang mempunyai
perkembangan dan kemampuan menyimpang karena tidak sesuai dengan
umurnya. Penyimpangan perkembangan bisa terjadi pada salah satu atau lebih
kemampuan anak yaitu kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa,
serta sosialisasi dan kemandirian anak.
Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran fisik si anak dari waktu ke
waktu. Dilihat dari tinggi badan, berat badan dan lingkar kepala.
Perkembangan adalah
bertambahnya fungsi tubuh si anak. Meliputi
sensorik (dengar, lihat, raba, rasa, cium), motorik (gerak kasar, halus), kognitif
(pengetahuan, kecerdasan), komunikasi / berbahasa, emosi - sosial serta
kemandirian.
Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) dilakukan
di PAUD
Seperti halnya telah di jelaskan diatas bahwa tugas kita sebagi suatu
lembaga untuk membantu orang tua mendeteksi dan intervensi terhadap tumbuh
kembang anak, khususnya anak didik kita. Sebenarnya ini sudah menjadi
kewajiban
kita
memanatu
perkembangan
anak
secara
berkala,
dan
memasukkannya kedalam program sekolah.
Umur anak dalam pendeteksian (SDIDTK)
Tidak semua umur anak bisa dilakukan pendeteksian. Anak bisa dideteksi
ketika menginjak umur 0 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 9 bulan, 12 bulan, 15 bulan, 18
bulan, 21 bulan, 24 bulan, 30 bulan, 36 bulan, 42 bulan, 48 bulan, 54 bulan, 60
bulan, 66 bulan, dan 72 bulan. Usia ini adalah standar usia yang telah ditetapkan.
Jadawal atau waktu pendeteksian anak yaitu :
Anak umur
0 - 1 tahun = 1 bulan sekali
Anak umur > 1 - 3 tahun = 3 bulan sekali
Anak umur > 3 - 6 tahun = 6 bulan sekali
Jenis Skrining / Deteksi Dini Penyimpangan Tumbuh Kembang
Jenis kegiatan deteksi atau disebut juga skrining, dalam SDIDTK adalah sebagai
berikut :
a. Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan dengan cara mengukur Berat Badan
(BB), Tinggi Badan (TB) dan Lingkar Kepala (LK).
b. Deteksi dini penyimpangan perkembangan yaitu meliputi

Pendeteksian menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan
(KPSP)

Tes Daya Lihat (TDL)

Tes Daya Dengar (TDD)
c. Deteksi dini penyimpangan mental emosional yaitu menggunakan :

Kuesioner Masalah Mental Emosional (KMME)

Check List for Autism in Toddlers (CHAT) atau Cek lis Deteksi Dini
Autis

Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH)
Untuk
lebih
jelasnya
hubungan
antara
umur
anak
dan
jenis
skrining/pendeteksian dini dari penyimpangan tumbuh kembang dapat dilihat pada
gambar berikut :
Jadwal dan jenis skrining deteksi dini penyimpangan tumbuh kembang balita dan
anak prasekolah oleh tenaga kesehatan adalah :
Keterangan :
BB/TB
: Berat Badan terhadap Tinggi Badan
LK
: Lingkaran Kepala
KPSP
: Kuesioner Pra Skrining Perkembangan
TDD
: Tes Daya Dengar
TDL
: Tes Daya Lihat
KMME
: Kuesioner Masalah Mental Emosional
CHAT
: Checklist for Autism in Toddlers
GPPH
: Gangguan Pemusatan Perhatian dan Aktivitas
Tanda *
: Deteksi dilakukan atas indikasi
F. Perbaikan Gizi (PMT)
Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) merupakan alternatif strategi
perbaikan status gizi masyarakat yang umumnya dilakukan untuk kelompok populasi
tertentu, misalnya: kelompok ibu hamil, ibu menyusui,anak Bawah Lima Tahun
(Balita), anak sekolah. Program PMT ini menggunakan pendekatanberbasis pangan.
PMT sebagai sarana pemilihan keadaan gizi, dalam arti kuratif dan
rehabilaitas meerupakan salah satu bentuk kegiatan pemberian zat gizi beruupa
makanan dari kelurga daalam rangka Program UPGK.
PMT sebagai sarana penyuluhan merupakan salah satu cara penyuluhan gizi,
khususnya untuk meningkatkan keadaan gizi anak balita, ibu hamil dan ibu .
Sasaran Program PMT :

Semua anak balita

Ibu hamil trimester III

Ibu menyusui yang anaknya berumur dibawah 150 hari (Depkes-UNICEF, 1980).
PMT sebagai sarana penyuluhan diberikan kepada :

Seluruh bayi umur 6-11 bulan dari keluarga miskin

Seluruh anak umur 12-23 bulan dari keluarga miskin

Seluruh ibu hamil dari keluarga miskin
Pendistribusian PMT dilakukan secara berkala oleh petugas gizi di Puskesmas
Sungai Karias yang bekerja sama dengan bidan di Desa di Lima Desa dan Tiga
Kelurahan di wilayah kerja Puskesmas Sungai Karias, dan pemantauan dilaksanakan
secara berkala juga baik di posyandu atau melalui kunjungan rumah oleh petugas gizi
dan bidan di Desa.
G. Pemberian Vitamin A
Bulan Februari dan Agustus dikenal sebagai Bulan Vitamin A, dimana seluruh
anak yang berusia 6 bulan sampai 59 bulan akan mendapatkan vitamin A gratis di
Posyandu atau Puskesmas. Menurut data WHO, diperkirakan terdapat 250 juta anak
pra-sekolah di seluruh dunia mengalami kekurangan vitamin A. Setiap tahun terdapat
sekitar 250.000 – 500.000 anak mengalami kebutaan dan separuh anak ini kemudian
meninggal dalam jangka waktu 12 bulan akibat kekurangan vitamin A. Di Indonesia
program suplementasi vitamin A aktif dikampanyekan sejak tahun 1970-an dan masih
terus digalakkan hingga saat ini.
Vitamin A atau retinol adalah salah satu vitamin yang larut dalam lemak, di
dalam tubuh disimpan di hati. Vitamin A berfungsi dalam proses pembentukan dan
pertumbuhan sel darah merah, sel limfosit dan antibodi sehingga berperan dalam
sistem kekebalan tubuh. Vitamin A juga bermanfaat bagi kesehatan mata dan kulit,
menjaga kesehatan mukosa saluran pernafasan, berperan dalam proses perkembangan
embrio dan reproduksi. Vitamin A juga merupakan antioksidan kuat yang dapat
menangkal radikal bebas berbahaya bagi tubuh.
Vitamin A pada anak, vitamin A pada ibu nifas, Vitamin A pada penyakit
campak
Suplementasi secara berkala vitamin A dosis tinggi ditujukan untuk memenuhi
kebutuhan terhadap vitamin A, mencegah defisiensi vitamin A, dan untuk
membangun cadangan vitamin A dalam hati. Pemberian 200.000 IU (dosisi tinggi)
kepada anak usia 6-59 bulan akan memberikan pengaruh pencegahan selama 3
hinggga 6 bulan atau bergantung pada ketergantungan vitamin A dalam bahan pangan
dan kecepatan dalam menggunakan vitamin tersebut. Selain itu pemberian vitamin A
pada anak memberikan berbagai manfaat, diantaranya mengurangi angka kesakitan,
mengurangi angka kematian akibat infeksi campak, diare, mencegah rabun senja,
xeroftalmia, kerusakan kornea dan kebutaan, meningkatkan kekebalan tubuh terhadap
serangan infeksi, serta mencegah anemia.
Lantas bagaimana pada bayi dibawah usia 6 bulan, apakah juga diperlukan
suplemen vitamin A ? Sesungguhnya pada bayi yang usianya belum genap 6 bulan,
sumber vitamin A sepenuhnya diperoleh dari ASI, terutama bila ibunya mendapatkan
suplemen vitamin A selama hamil dan setelah melahirkan. Namun jika pemberian
ASInya tidak mencukupi dan selama hamil atau saat masa nifas, ibu tidak
mendapatkan vitamin A, maka bayi dapat diberikan vitamin A dengan dosis 25.000
IU yang diberikan pada interval 2-3 bulan dengan maksimal pemberian 3 dosis,
hingga bayi berumur 6 bulan dan bisa diberikan vitamin A dosis 100.000 IU (kapsul
biru).
Suplementasi vitamin A juga diberikan kepada ibu nifas (ibu yang baru
melahirkan hingga periode 6 minggu setelah melahirkan). Akibat kehilangan sejumlah
darah saat proses persalinan, seorang ibu nifas dapat juga mengalami kekurangan
vitamin A dalam tubuhnya. Sehingga pemberian vitamin A dosis tinggi dengan dosis
200.000 IU (kapsul merah) perlu dilakukan. Disamping itu pula, pemberian kapsul
vitamin A pada ibu setelah melahirkan dapat meningkatkan status vitamin A dan
jumlah kandungan vitamin tersebut dalam ASI. Dosis pemberiannya sebanyak dua
kali, yaitu segera setelah melahirkan sebanyak satu kapsul 200.000 IU, dilanjutkan
satu kapsul pada hari berikutnya minimal 24 jam sesudah kapsul pertama, dan tidak
lebih dari 6 minggu kemudian. Dengan dosis ini maka akan menurunkan angka
kematian pada ibu dan bayi, berkurangnya penyakit infeksi paska persalinan,
mencegah gangguan penglihatan seperti rabun senja, mempercepat proses pemulihan
dan mencegah anemia.
Pemberian vitamin A dosis tinggi selain diberikan pada anak usia dibawah 5
tahun setiap enam bulan, ibu hamil dan ibu nifas, juga diberikan pada keadaan
tertentu seperti pada anak dengan kasus xeroftalmia, campak dan gizi buruk
(marasmus,
kwashiorkor
dan
marasmik
kwashiorkor).
Dosis
pemberiannya
disesuaikan dengan umur anak, diberikan pada hari pertama (saat ditemukan), hari
kedua dan dua atau empat minggu kemudian.
Vitamin A ini diberikan secara gratis dan dapat diperoleh di seluruh sarana
fasilitas kesehatan (rumah sakit, puskesmas, puskesmas
pembantu (Pustu),
polindes/poskesdes, balai pengobatan, praktek dokter/bidan swasta), posyandu,
sekolah Taman Kanak-kanak, Pos PAUD termasuk kelompok bermain, tempat
penitipan anak, dan sebagainya.
H. Pemeriksaan Berkala
Penjaringan kesehatan peserta didik merupakan salah satu indicator standar pelayanan
minimal bidang kesehatan yang menjadi urusan wajib pemerintah daerah.penjaringan
kesehatan bertujuan untuk meningkatkan status kesehatan peserta didik perlu
dilakukan pemeriksaan berkala.kegiatan penjaringan kesehatan dan pemeriksaan
berkala tersebut dilakasanakan melalui wadah usaha sekolah (UKS).
a. Tujuan Umum
Meningkatkan derajat kesehatan peserta didik secara optimal dalam mendukung
proses belajar.
b. Tujuan Khusus

Terdeteksinya secara dini masalah kesehatan peserta didik,sehingga bila
terdapat masalah dapat segera tindaklanjuti

Tersedianya data atau informasi untuk menilai perkembangan kesehatan
peserta didik,maupun untuk dijadikan pertimbangan dalam menyusun program
pembinaan kesehatan disekolah.

Termanfaatkannya data untuk perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan
evaluasi program pembinaan peserta didik
c. Sasaran Teknis
Petunjuk teknik ini diterbitkan untuk dipedomani oleh penanggungjawab program
kesehatan anak usia sekolah di

Dinas Kesehatan provinsi/Kabupaten/Kota

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi/Kota,

Kanwil Agama Provinsi/Kab/Kota,

Puskesmas

Sekolah/Madrasah/Pondok Pesantren.
Selain itu pelaksanaan teknis ini dapat pula digunakan oleh institusi pendidikan
organisasi profesi atau mitra potensial bidang kesehatan lainnya.
d. Kebijakan Pelaksanaan

Penjaringan kesehatan peserta didik merupakan salah satu indicator
standar pelayanan minimal bidang kesehatan yang menjadi urusan wajib
pemerintah daerah.

Untuk meningkatkan status kesehatan peserta didik perlu dilakukan
pemeriksa berkala.

Kegiatan penjaringan kesehatan dan pemerikasaan berkala dilaksanakan
melalui Wadah Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).

Penjaringan kesehatan dilakukan 1 tahun sekali terhadap peserta didik kela
1
SD/SDLB/MI,Kelas
7
SMP/SMPLB/MTS,Dan
kelas
10
SMA/SMK/SMALB/MA Negeri dan Swasta.

Penjaringan kesehatan dilanjutkan dengan pelaksanaan pemeriksaan
berkala.

Pemeriksaaan berkala dilakukan sedikit 1 tahun sekali terhadap seluruh
peserta
didik
SMA/SMK/SMALB/MA.
SD/SDLB/MI,SMP/SMPLB/MTS,dan

Penjaringan kesehatan dan pemeriksaan berkala dapat dilaksanakan
dilakukan dalam sekolah/sekolah Luar Biasa /Madrasah atau diluar
Sekolah/Madrasah menggunakan formulir pemeriksaan baku.

Penjaringan kesehatan dan pemeriksaan berkala dilaksanakan oleh
puskesmas dan sekolah/sekolah luar biasa /Madrasah

Pendanaan kegiatan penjaringan kesehtan dan pemeriksaan berkala
menggunakan APBD ,SWASTA ,MANDIRI dan sumber dana lain sesuai
peraturan yang berlaku.

SASARAN PENJARINGAN KESEHATAN DAN PEMERIKSAAN
BERKALA
Sasaran Penjaringan:

Seluruh peserta didik baru pada tahun ajaran baru kelas
1,7 dan 10
disekolah Madrasah, baik Negeri ataupun Swasta termasuk Sekolah Luar
Biasa(SLB).
Pemeriksaan Berkala:

Peserta didik selain kelas 1,7 dan 10(kelas 2-6)di SD/MI,Kelas 8 dan 9

SMP/MTS serta kelas 11 dan 12 di SMA /SMK/MA) termasuk Sekolah
Luar Biasa (SLB).
e. Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Waktu Pelaksanaan penjaringan terbaik : pada tahun ajaran baru yaitu
antara bulan Juli sampai Desember ,tetapi dalam menghadapi keterbatasan tenaga
kesehatan dipuskesmas makan diberikan kesempatan sepanjang satu tahun ajaran
untuk menjangkau seluruh SD/MI, SMP/M.Ts, SMA/SMK/MA.
I. Pengukuran Berat Badan, Tinggi Badan dan Lingkar Kepala
Antropometri berasal dari kata anthropos yang berarti tubuh dan methros yang
berarti ukuran. Secara sempit, antropometri dapat didefinisikan sebagai ukuran dari
tubuh. Dilihat dari sudut pandang ilmu gizi, antropometri didefinisikan sebagai
pengukuran dimensi tubuh (tulang, otot dan jaringan adiposa) dan komposisi tubuh
dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.1 Contoh dari dimensi tubuh antara lain
berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, tebal lemak di bawah kulit, dan rentang
tangan.
Parameter dalam antropometri adalah ukuran tunggal yang diukur untuk
mendapatkan data antropometri. Parameter ini misalnya, umur, tinggi badan, berat
badan, lingkar lengan atas, dan lain-lain. Parameter yang sudah diukur dalam
pengukuran antropometri ini kemudian diolah dan dikombinasikan dengan parameter
lain sehingga menghasilkan indeks antropometri. Indeks antropometri misalnya berat
badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), dan masih banyak
lagi. Indeks antropometri inilah yang kemudian akan dicocokkan dengan standar yang
ada dan memiliki makna secara klinis
a. Tinggi Badan
Tinggi badan adalah jarak dari puncak kepala hingga telapak kaki. Parameter ini
merupakan parameter yang menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal dan
tidak sensitif untuk mendeteksi permasalahan gizi pada waktu yang singkat.
Panjang badan diukur dengan infantometer length board untuk anak usia 0-2
tahun, dan untuk anak diatas 2 tahun menggunankan stadiometer.
Pengukuran tinggi badan dengan stadiometer dan infantometer
b. Berat Badan
Berat badan mencerminkan keadaan nutrisi sekarang dan dapat menjadi indikator
yang sensitif terhadap malnutrisi. Pengukuran berat badan paling baik dilakukan
dengan alat beam balance scale untuk usia 0-2 tahun. Adanya penyakit yang
dapat mempengaruhi berat badan seperti ascites, edema, dan splenomegali perlu
diperhatikan agar tidak menyebabkan kesalahan pada interpretasi data.
Timbangan badan dan beam balance scale
Alasan mengapa pengukuran berat badan merupakan pilihan utama:1,4

Parameter yang paling baik, mudah terlihat perubahan dalam waktu
singkat karena perubahan konsumsi makanan dan kesehatan.

Memberikan gambaran status gizi sekarang, jika dilakukan periodik
memberikan gambaran pertumbuhan.

Umum dan luas dipakai di Indonesia.

Ketelitian pengukuran tidak banyak dipengaruhi oleh keterampilan
pengukur.

Digunakan dalam KMS.

BB/TB merupakan indeks yang tidak tergantung umur
c. Lingkar Kepala
Lingkar kepala adalah standar prosedur dalam ilmu kedokteran anak.
Secara praktis, biasanya untuk memeriksa keadaan patologi dari besarnya kepala
atau peningkatan ukuran kepala. Contoh: hidrosefalus dan mikrosefalus.1,5
Lingkar kepala dihubungkan dengan ukuran otak dan tulang tengkorak.
Ukuran otak meningkat secara cepat selama tahun pertama, tetapi besar lingkar
kepala tidak menggambarkan keadaan kesehatan dan gizi. Bagaimanapun ukuran
otak dan lapisan tulang kepala dan tengkorak dapat bervariasi sesuai dengan
keadaan gizi. Dalam antropometri gizi rasio Lingkar kepala dan Lingkar dada
cukup berarti dan menentukan KEP pada anak. Lingkar kepala juga digunakan
sebagai informasi tambahan dalam pengukuran umur
J. Pemeriksaan Kesehatan Anak
Anak usia sekolah merupakan sasaran strategis untuk pelaksanaan program
kesehatan, selain jumlahnya yang besar (25%) di antara jumlah penduduk, mereka
juga merupakan sasaran yang mudah dijangkau karena terorganisir dengan baik. Jika
melihat data Angka Partisipasi Murni tahun 2012 maka diperkirakan jumlah anak
sekolah dasar dan lanjutan mencapai 43 juta jiwa.
Masalah kesehatan yang dialami peserta didik sangat kompleks dan bervariasi.
Pada usia sekolah dasar, permasalahan kesehatan peserta didik umumnya
berhubungan dengan ketidakseimbangan gizi, kesehatan gigi, kelainan refraksi,
kecacingan, dan penyakit menular yang terkait perilaku hidup bersih dan sehat. Pada
peserta didik di tingkat lanjutan Sekolah Menengah Pertama (SMP), Madrasah
Tsanawiyah (MTs), Sekolah Menengah Umum (SMU) dan Madrasah Aliyah (MA)
SLB (Sekolah Luar Biasa) pada umumnya lebih banyak terkait dengan perilaku
berisiko di antaranya kebiasaan merokok, mengkonsumsi minuman beralkohol dan
melakukan hubungan seksual di luar nikah
Sasaran kegiatan penjaringan kesehatan adalah seluruh peserta didik baru pada
tahun ajaran baru kelas 1, 7 dan 10 di sekolah/madrasah, baik negeri atau swasta
termasuk Sekolah Luar Biasa (SLB) Sasaran kegiatan pemeriksaan Berkala adalah
peserta didik selain kelas 1, 7 dan 10 (kelas 2-6 di SD/MI, kelas 8 dan 9 di SMP/MTs
serta kelas 11 dan 12 di SMA/SMK/MA) termasuk Sekolah Luar Biasa (SLB) C.
Tempat penjaringan kesehatan/ permeriksaan berkala dilaksanakan di sekolah.
Pelaksanaan di luar sekolah adalah di Puskesmas, yang mungkin dilakukan bila
disepakati dengan sekolah untuk peserta didik yang tidak hadir pada waktu
pelaksanaan penjaringan kesehatan/ pemeriksaan berkala di sekolah. Waktu
pelaksanaan penjaringan kesehatan yang terbaik adalah pada tahun ajaran baru yaitu
antara bulan Juli sampai Desember, tetapi dalam menghadapi keterbatasan tenaga
kesehatan di puskesmas maka diberikan kesempatan sepanjang satu tahun ajaran
untuk menjangkau seluruh SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA. Tahun ajaran dalam
pelaksanaan penjaringan kesehatan yang dimaksud yaitu dapat dilakukan sepanjang
satu tahun ajaran (Juli sampai dengan Juni) : Bulan Juli sampai dengan Desember
untuk peserta didik baru kelas 1, 7, dan 10 Bulan Januari sampai dengan Juni untuk
peserta didik baru kelas 1, 7, dan 10 yang belum dilakukan penjaringan pada tahun
sebelumnya Pemeriksaan berkala dilakukan 1 kali dalam setahun bagi peserta didik,
yang waktu pelaksanaannya dapat dilakukan sepanjang satu tahun ajaran ( Juli sampai
dengan Juni).
Sarana Dan Pra Sarana Sebelum melaksanakan penjaringan kesehatan dan
pemeriksaan berkala perlu didukung dengan sarana dan prasarana seperti yang dapat
digambarkan pada able berikut : Tabel 2. Sarana dan Pra sarana Penjaringan dan
Pemeriksaan Kesehatan No Sarana Fungsi 1 Ruangan untuk pemeriksaan Tempat
pemeriksaan 2 Meja dan kursi pemeriksaan Tempat pemeriksaan 3 Formulir lembar
persetujuan Bukti persetujuan pemeriksaan 4 Kuesioner Dokumentasi riwayat
kesehatan, status imunisasi, kesehatan mental, intelegensia, perilaku berisiko 5
Formulir Pencatatan Hasil Penjaringan/ Dokumentasi hasil pemeriksaan untuk peserta
didik pemeriksaan berkala/ Buku rapor kesehatanku 6 Formulir rekapitulasi hasil
penjaringan Dokumentasi hasil pemeriksaan untuk puskesmas kesehatan untuk
Puskesmas 7 Formulir Pelaporan Penjaringan Kesehatan dari Puskesmas ke Dinas
Kesehatan Kab/Kota Dokumentasi hasil kegiatan penjaringan kesehatan yang
dilakukan oleh Puskesmas.
K. Kotak P3K
P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan) adalah upaya memberikan pertolongan
pertama secara cepat dan tepat kepada pekerja atau orang lain yang berada di tempat
kerja, yang mengalami sakit atau cidera di tempat kerja.
P3K dilakukan dengan maksud memberikan perawatan darurat pada korban, sebelum
pertolongan yang lebih lengkap diberikan oleh dokter atau petugas kesehatan lainnya.
Adapun tujuan P3K antara lain :

Menyelamatkan nyawa

Meringankan penderitaan korban, seperti meringankan rasa nyeri

Mencegah cedera/penyakit bertambah parah, seperti mencegah perdarahan

Mempertahankan daya tahan korban

Menunjang upaya penyembuhan

Mencarikan pertolongan lebih lanjut
Tindakan P3K
Tindakan pertolongan yang harus dilakukan, meliputi :
a. Menilai situasi
Perhatikan situasi yang terjadi dengan cepat dan aman. Kenali bahaya yang
mengancam diri sendiri, korban dan orang lain. Perhatikan sumber bahaya yang
ada serta jenis pertolongan yang tepat. Tindakan pertolongan dilakukan dengan
tenang. Perhatikan juga akan adanya bahaya susulan.
b. Mengamankan tempat kejadian
Perhatikan faktor penyebab terjadinya kecelakaan. Utamakan keselamatan diri
sendiri. Jauhkan korban dari bahaya dengan cara aman dan memperhatikan
keselamatan diri sendiri (dengan alat pelindung). Singkirkan sumber bahaya
(misalnya putuskan aliran listrik, matikan mesin yang masih beroperasi) dan
hilangkan faktor bahaya (misalnya dengan menghidupkan exhaust fan). Tandai
tempat kejadian sehingga orang lain tahu bahwa di tempat itu ada bahaya.
c. Memberikan pertolongan
Yang pertama dilakukan adalah menilai kondisi korban. Ini dapat dilakukan
dengan cara memeriksa kesadaran, pernapasan, sirkulasi darah dan gangguan
lokal. Kemudian tentukan status korban serta prioritas tindakan memberikan
pertolongan. Pemberian pertolongan sesuai status korban, dapat dilakukan dengan
cara sbb:

Baringkan korban dengan kepala lebih rendah dari tubuhnya

Bila ada tanda henti nafas dan jantung, berikan resusitasi jantung paru

Selimuti korban

Bila luka ringan obati seperlunya

Bila luka berat, segera mencari bantuan medis yang tepat
d. Mencari bantuan
Jika memungkinkan, mencari bantuan orang lain untuk mengamankan tempat
kejadian kecelakaan, menelepon RS/tenaga medis, mengambil alat-alat P3K,
membantu mengatasi perdarahan, atau membantu memindahkan korban.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesehatan merupakan unsur-unsur yang sangat penting bagi anak didik di
sekolah, terutama bagi anak sekolah dasar (SD) kesehatan harus mendapatkan
perhatian yang sungguh-sungguh mengingat siswa sekolah dasar merupakan tonggak
keberhasilan pendidikan selanjutnya. Pendidikan dasar diselenggarakan untuk
mengembangkan sikap dan kemampuan serta memberi pengetahuan dan ketrampilan
dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat serta mempersiapkan peserta
didik yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti pendidikan menegah, (UU sistem
pendidikan nasional RI No.20 tahun 2003).
Usaha kesehatan sekolah (UKS) adalah suatu usaha kesehatan masyarakat
yang ada didalam lingkungan sekolah maupun masyarakat yang ada disekitar
lingkungan sekolah, yang sasaran utamanya adalah peserta didik beserta masyarakat
sekolah lainnya. Pelaksanaan UKS di sekolah juga menuntut kerjasama dari semua
pihak baik guru, siswa, maupun orang tua. Usaha kesehatan sekolah mempunyai 3
(tiga) program, yang dikenal dengan TRIAS UKS, yaitu terdiri dari pendidikan
kesehatan, pelayanan kesehatan dan lingkungan sekolah yang sehat.
B. Saran
1. Meningkatkan kerjasama lintas sektor untuk mendukung kegiatan UKS, termasuk
dalam merancang bentuk dan jadwal kegiatan
2. Optimalisasi peran kader UKS dan dokter cilik
3. Pemerataan pelaksanaan program UKS di setiap sekolah
Download