Analisis Perbandingan Ekspor Impor Migas dan Nonmigas Indonesia pada
Tahun 2023-2024
Aqnhatul Shabrina Suherman - 2410111284
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang sedang mencoba
membangun negaranya sendiri. Untuk mencapai tujuan tersebut, Indonesia melakukan
kerjasama dengan negara-negara lain untuk membangun perekonomiannya dengan cara
melakukan perdagangan Internasional. Kegiatan perdagangan Internasional khususnya yaitu
ekspor dan impor merupakan salah satu faktor penting sebagai pendukung pertumbuhan
ekonomi dan memiliki dampak terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). Ekspor
merupakan pengiriman dan penjualan barang-barang maupun jasa yang diproduksi di dalam
negeri ke luar negeri.
Menurut Amir (2003:1), ekspor adalah proses menjual barang yang kita miliki kepada
bangsa lain atau negara asing dengan harapan mendapatkan pembayaran dalam valuta
asing. Sedangkan Impor adalah aktivitas pembelian serta memasukkan barang dari luar
negeri ke dalam negeri. Impor memiliki pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi
suatu negara. Berdasarkan teori Heckscher-Ohlin dalam (Appleyard et al., 2008), sebuah
negara cenderung mengimpor barang atau produk yang memanfaatkan faktor produksi yang
kurang tersedia atau langka di negara tersebut. Aktivitas ini dianggap lebih menguntungkan
bagi negara tersebut dibandingkan memproduksi sendiri barang tersebut secara tidak efisien.
Menurut Suanrdhini dan Geoltom dalam (Promono Haradi, 2008), jumlah cadangan devisa
suatu negara dipengaruhi oleh kekuatan ekspor dan impor, baik di sektor migas maupun
nonmigas. Jika nilai ekspor lebih besar daripada impor, cadangan devisa akan meningkat.
Sebaliknya, jika impor lebih besar daripada ekspor, cadangan devisa akan menurun.
Cadangan devisa ini diharapkan dapat mendukung perbaikan dan pembangunan
perekonomian Indonesia agar lebih maju dan mampu bersaing dengan negara lain.
Migas dan nonmigas adalah dua kategori utama dalam sektor ekspor Indonesia yang
memiliki peran penting dalam perekonomian negara. Migas merujuk pada komoditas minyak
dan gas bumi. Ini termasuk produk seperti minyak mentah, gas alam, dan produk olahan dari
minyak dan gas. Sedangkan nonmigas mencakup semua komoditas yang bukan berasal dari
minyak dan gas. Ini termasuk sektor-sektor seperti pertanian, industri pengolahan, dan jasa.
Kedua sektor ini saling melengkapi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Meskipun ekspor migas seringkali memberikan pendapatan besar secara langsung, sektor
nonmigas lebih stabil dan berpotensi untuk menciptakan lapangan kerja serta meningkatkan
daya saing ekonomi nasional. Setelah mengetahui penjelasan mengenai ekspor impor migas
dan nonmigas perlu dilakukan analis lebih lanjut terhadap pertumbuhan ekspor impor
tersebut. Dari analisis tersebut dapat diketahui tentang keadaan pertumbuhan ekspor impor
1
migas dan nonmigas Indonesia yang terjadi pada saat ini. Berikut adalah data nilai ekspor
impor migas dan nonmigas indonesia pada Januari 2023–Oktober 2024:
Tabel 1. Nilai Ekspor Migas dan Nonmigas Indonesia, Januari 2023–Oktober 2024
Sumber: BPS, sekunder
Jika dilihat dari tabel tersebut, dapat dicermati bahwa ekspor Indonesia pada Oktober
2024 meningkat sebesar 10,69 persen dibandingkan September 2024, naik dari US$22.055,5
juta menjadi US$24.413,5 juta. Jika dibandingkan dengan Oktober 2023, ekspor juga
mengalami kenaikan sebesar 10,25 persen. Peningkatan ekspor pada Oktober 2024 ini
terutama didorong oleh naiknya ekspor nonmigas sebesar 10,35 persen, dari US$20.904,6
juta menjadi US$23.068,3 juta. Selain itu, ekspor migas turut meningkat 16,88 persen, dari
US$1.150,9 juta menjadi US$1.345,2 juta. Kenaikan ekspor migas ini didorong oleh
meningkatnya ekspor hasil minyak sebesar 28,55 persen menjadi US$401,1 juta dan ekspor
gas alam yang naik 23,45 persen menjadi US$791,5 juta. Namun, ekspor minyak mentah
mengalami penurunan sebesar 22,82 persen menjadi US$152,6 juta. Secara kumulatif, nilai
ekspor Indonesia pada periode Januari–Oktober 2024 mencapai US$217,24 miliar, meningkat
1,33 persen dibandingkan periode yang sama pada 2023. Untuk ekspor kumulatif nonmigas,
nilainya mencapai US$204,21 miliar, naik 1,48 persen.
Tabel 2. Nilai Impor Migas dan Nonmigas Indonesia, Januari 2023–Oktober 2024
Sumber: BPS, sekunder
2
Pada Oktober 2024, nilai impor Indonesia mencapai US$21.938,3 juta, meningkat
sebesar US$3.113,7 juta (16,54 persen) dibandingkan dengan September 2024. Kenaikan ini
disebabkan oleh peningkatan impor migas sebesar US$1.137,4 juta (44,98 persen) dan
nonmigas sebesar US$1.976,3 juta (12,13 persen). Kenaikan impor migas terutama
disebabkan oleh bertambahnya impor minyak mentah sebesar US$464,0 juta (61,87 persen)
dan hasil minyak sebesar US$673,4 juta (37,86 persen). Jika dibandingkan dengan periode
yang sama pada tahun sebelumnya, nilai impor selama Januari–Oktober 2024 mengalami
kenaikan sebesar US$9.613,3 juta (5,25 persen). Peningkatan ini terjadi akibat bertambahnya
impor migas sebesar US$1.438,6 juta (4,97 persen) dan nonmigas sebesar US$8.174,7 juta
(5,30 persen). Kenaikan impor migas terutama dipengaruhi oleh meningkatnya impor hasil
minyak sebesar US$1.633,3 juta (8,24 persen), meskipun impor minyak mentah menurun
sebesar US$194,7 ribu (2,13 persen).
Gambar 1. Jumlah Nilai Ekspor-Impor Indonesia, Oktober 2023–Oktober 2024
Sumber: BPS, diolah
Dengan demikian, berdasarkan grafik perbandingan jumlah (migas dan nonmigas)
ekspor dan impor Indonesia pada Oktober 2023–Oktober 2024, dapat disimpulkan bahwa nilai
ekspor secara konsisten lebih tinggi dibandingkan impor selama periode tersebut. Kedua nilai
menunjukkan fluktuasi, tetapi pada Oktober 2024, baik ekspor maupun impor mencapai
puncaknya, dengan selisih yang tetap menunjukkan surplus perdagangan bagi Indonesia.
Razak, M., Jaya M. I. I., (2014), Pengaruh Ekspor Migas dan Non Migas Terhadap Produk
Domestik Bruto Indonesia. Akmen; Jurnal Akutansi dan Manajemen
Badan Pusat Statistik, (2024), Perkembangan Ekspor dan Impor Indonesia Oktober 2024.
Jakarta: BPS RI
Asyaria K., Budiantoro R. A., Herianingrum S., (2020). Analisis Neraca Perdagangan Migas
dan Non Migas Terhadap Volatilitas Cadangan Devisa Di Indonesia, 1975-2016.
Surabaya: Jurnal Manajemen Dan Bisnis Indonesia.
3