PENDAHULUAN Matematika dan budaya merupakan dua hal yang saling melengkapi. Matematika dalam budaya akan memberikan pemahaman yang mendalam tentang konsep matematika yang rumit. Etnomatematika merupakan suatu cara yang digunakan untuk mempelajari matematika dengan melibatkan aktivitas atau budaya daerah sekitar sehingga memudahkan seseorang untuk memahami (Sarwoedi, n.d.). Istilah ethnomathematics digunakan untuk mengekspresikan hubungan antara budaya dan matematika. Istilah ini membutuhkan interpretasi yang dinamis karena menggambarkan konsep-konsep yang sendiri tidak kaku atau luar biasa, etno dan matematika(Fitria Ningsih et al., 2020). Etnomatematika disebut bentuk lain dari matematika yang dilakukan secara praktik oleh kelompok tertentu dalam lingkup sosio-kultur-budaya. Pembelajaran matematika membutuhkan suatu pendekatan agar dalam pelaksanaanya memberikan keefektifan (KETERKAITAN BUDAYA DAN ETNOMATEMATIKA, n.d.) Pendidikan matematika berkaitan dengan pendidikan secara umum serta pengajaran dan pembelajaran matematika. Pendidikan matematika sebagai bidang studi dan penelitian terlihat dalam dua arah. Pertama, berkaitan dengan pengajaran dan pembelajaran matematika dan konteks di mana matematika diajarkan dan dipelajari. Kedua, pendidikan matematika membahas masalah-masalah seputar matematika sebagai bagian dari upaya pendidikan masyarakat. (Astuti & Supriyono, 2020). Dalam bidang pendidikan matematika, etnomatematika masih merupakan kajian yang baru dan berpotensi sangat baik untuk dikembangkan menjadi inovasi pembelajaran kontekstual sekaligus mengenalkan budaya Indonesia kepada siswa, sehingga bidang etnomatematika dapat digunakan sebagai pusat proses pembelajaran dan metode pengajaran, walaupun masih relatif baru dalam dunia Pendidikan (Taufik & Gazali, n.d.). Dalam bidang matematika, pesan budaya dapat disampaikan melalui pembelajaran di kelas dengan mengaitkan budaya yang memiliki unsur matematika ke dalam proses pembelajaran. If education aimed at strengthening the cultural values, the educational programs held in schools should always be integrated with the development of local cultural values, including through learning programs in all subjects including mathematics learning (Astuti & Purwoko, 2017). Melalui pembelajaran matematika yang bermakna akan timbul efek terbentuknya individu yang bisa menjadi anggota masyarakat yang mendidik, mengenal, menghargai, dan memahami budaya mereka sendiri. Pendidikan nilai budaya diharapkan bisa membentuk karakter siswa sebagai individu yang menghargai budaya.(Wahyu Sintiya et al., 2021) Berkaitan dengan peningkatan sumber daya manusia melalui bidang pendidikan, maka matematika dianggap sebagai dasar dari sebagian proses pendidikan, dimana matematika dianggap sebagai sumber dari konsep berpikir yang dapat membantu dalam pemecahan masalah yang dihadapi sehari-hari. Matematika adalah bagian dari kebudayaan masyarakat dan matematika serta pembelajaran matematika menjadikan matematika menjadi milik semua orang bahkan matematika lahir dari perjalanan hidup manusia atau disebut dengan hasil dari kebudayaan manusia. Oleh karena itu, manusia dan kebudayaan selalu memiliki ikatan (Dhiki & Bantas, 2021). Sedangkan Matematika akademik adalah materi yang disampaikan di sekolahsekolah yaitu terdiri dari sekumpulan pengetahuan tentang fakta, algoritma, aksioma, dan teorema (Rosa & Orey, 2011) Dengan mengintegrasikan unsur-unsur kebudayaan masyarakat dalam pembelajaran matematika, hal ini akan mendorong siswa untuk mengkontruksi pengalaman belajarnya dan mengaitkan dengan budaya lingkungan sekitar. Budaya secara intrinsik memiliki sistem pengetahuan yang khas, termasuk dalam cara memahami, menafsirkan, dan menerapkan konsep matematika. Dengan demikian, siswa tidak hanya memahami konsep matematika secara teoritis, tetapi juga dapat melihat relevansi dan penerapan konsep tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Ini akan meningkatkan minat dan motivasi mereka dalam belajar, serta memperkuat kecintaan terhadap budaya lokal. Proses pemahaman siswa terhadap konsep matematika dalam konteks budaya mereka, untuk menjadikannya lebih menarik karena terhubung dengan pengalaman nyata, merupakan poin utama yang mendasari rasional etnomatematika. Menurut Ki Hadjar Dewantara, budaya mencakup tiga aspek yaitu Cipta, Rasa dan karsa. Pandangan ini menggambarkan budaya sebagai hasil kreativitas, pengalaman emosional, dan dorongan manusia untuk menciptakan nilai dan makna dalam kehidupan. Budaya merupakan kesatuan yang utuh dan menyeluruh sebagai pola hidup dan interaksi sosial dalam masyarakat, sedangkan pendidikan merupakan kebutuhan mendasar bagi setiap individu dalam masyarakat.(Chairunisa et al., n.d.). Wujud budaya yang berkembang di Indonesia hingga saat ini, khususnya pada masyarakat Jawa yaitu berupa ide atau gagasan, aktivitas manusia, dan hasil karya manusia atau artefak (Koentjaraningrat, 2010). Wujud budaya berupa ide atau gagasan seperti nilai-nilai, norma, dan aturan. Wujud budaya berupa artefak seperti rumah adat, candi, masjid, dan batik dengan beragam motifnya. Wujud budaya berupa aktivitas seperti pertanian, upacara adat, kesenian tradisional, dan permainan tradisional.(Astuti et al., 2023) Kebumen adalah salah satu dari 35 Kabupaten atau Kota di Provinsi Jawa Tengah yang kaya akan ragam budaya yang harus dipertahankan dan dilestarikan. Nilai-nilai yang terkandung dalam budaya juga dapat dikaitkan dalam melaksanakan proses pembelajaran (Budiyono & Astuti, 2017) Lebih lanjut, telah banyak dilakukan eksplorasi berbagai macam kebudayaan di Indonesia yang dikaitkan dengan proses belajar matematika khususnya sebagai sumber belajar ((Riski, Tito, & Krister, 2020); (Putri, 2017); (Marina & Izzati, 2019); (Manapa, 2021); (Sutarto, Ahyansyah, Mawaddah, & Hastuti, 2021); (Rohmaini, Netriwati, Komarudin, Nendra, & Qiftiyah, 2020).; dan (Dhiki & Bantas, 2021) Di kabupaten Kebumen eksplorasi etnomatematika masih seputar artefaknya saja, hal ini dibuktikan dalam penelitian Etnomatematika: Bangun Datar pada Benteng Van Der Wijck Gombong Jawa Tengah(Jawa & Khayat, 2020), (ETNOMATEMATIKA PADA KERAJINAN ANYAMAN PANDAN DI DESA GRENGGENG KEBUMEN SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN MATEMATIKA SKRIPSI, n.d.) padahal banyak aktifitas-aktifitas manusia pada budaya daerah kebumen yang dapat dieksplor dan dikaitkan kedalam konsep matematika. Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan hasil eksplorasi etnomatematika di Kabupaten Kebumen dari wujud budaya yang berupa aktivitas manusia, dan hasil karya manusia atau artefak.