SURAT KEPUTUSAN PENGURUS PUSAT IKATAN OKUPASI TERAPIS INDONESIA NOMOR : 134/SKep/IOTI.PUSAT/V/2021 TENTANG PERUBAHAN KODE ETIK OKUPASI TERAPIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KETUA IKATAN OKUPASI TERAPIS INDONESIA (IOTI) MENIMBANG: 1. Bahwa diperlukan panduan bagi anggota terhadap etika tindakan dalam perannya sebagai profesional dan atau relawan, 2. Bahwa Okupasi Terapis perlu memahami prinsip dan standar perilaku yang berlaku untuk anggotaIOTI. 3. Bahwa Kode Etik Okupasi Terapis Indonesia yang ada saat ini perlu disempurnakan mengikuti dinamika yang berkembang sesuai dengan dinamika kemajuan ilmu pengetahuan teknologi okupasi terapi dan dinamika etik global yang ada. 4. Bahwa Kode Etik sebagaimana disebutkan di butir 3 di atas dalam perubahannya perlu ditetapkan melalui surat keputusan. MENGINGAT: 1. Bahwa dalam menjalankan praktek pelayanan OkupasiTerapi, diperlukan jaminan atas hak-hak Okupasi terapis 2. Bahwa untuk memenuhi persyaratan hak Okupasi Terapis dalam memberikan pelayanan, maka Ikatan Okupasi Terapis Indonesia (IOTI) perlu menetapkan kode etik bagi Okupasi Terapis. 3. Undang Undang No.36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan, Pasal 57 Butir (f). 4. SK Ketua Umum IOTI No. 132/SKep/IOTI.PUSAT/V/2021 tentang Penetapan AD/ART IOTI Tahun 2021 MEMUTUSKAN MENETAPKAN Kesatu : Mencabut SK Ketua Umum IOTI Nomor 092/Skep/IOTI.PUSAT/I/2020 tentang Perubahan Kode Etik Okupasi Terapis Kedua : Menetapkan Perubahan Kode Etik Okupasi Terapis Ketiga : Keputusan ini berlaku sejak ditetapkan, dengan catatan apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya Ditetapkan di : Surakarta Tanggal : 1 Mei 2021 Ketua Umum Ikatan Okupasi Terapis Indonesia, Tri Budi Santoso, Ph.D Lampiran SK Ketua IOTI Nomor 134/SKep/IOTI.PUSAT/V/2021 KODE ETIK OKUPASI TERAPIS MUKADDIMAH Kode Etik Okupasi Terapi Ikatan Okupasi Terapis Indonesia (IOTI) dirancang untuk mencerminkan sifat dinamis dari profesi okupasi terapis, pengembangan kesehatan berbasis lingkungan dan teknologi dalam lingkup penelitian, pendidikan, dan pelatihan. Anggota IOTI berkomitmen untuk mempromosikan sistem inklusi, partisipasi, keamanan, dan kesejahteraan untuk individu, kelompok, keluarga, organisasi, masyarakat, dan atau populasi di berbagai tahap kehidupan dan tingkat kesehatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan okupasi mereka. Kode etik ini merupakan dokumen resmi IOTI dan pernyataan publik yang disesuaikan untuk mengatasi masalah etis yang paling umum dari profesi okupasi terapi. Pada era globalisasi saat ini informasi digital tidak terbatasi dan perkembangan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan demikian pesat terjadi. Hal ini membawa implikasi kepada berkurangnya penjagaan nilai kemanusiaan di dalam kehidupan dan penghormatan terhadap martabat manusia. Ajakan orientasi panggilan nurani demi tujuan terbaik dan keselamatan pasien sebagai bagian dari komunitas atau masyarakat, diterapkan secara legeartis ilmu pengetahuan dan teknonolgi mutakhir yang senantiasa dinamis dan berkembang, disatukan dalam norma profesi. Norma etika praktik okupasi terapi yang dibakukan berfungsi sebagai ciri dan cara pedoman okupasi terapi dalam bersikap, bertindak dan berperilaku profesional sehingga mudah dipahami, diikuti dan dijadikan tolok ukur tanggung jawab pelayanan profesi yang seringkali mendahului kebebasan profesi itu sendiri.Nilai etika yang berdimensi “apa yang seyogyanya", apalagi jenis yang melambangkan keluhuran profesi, senantiasa akan menjadi pencerah dan pembingkai“apa yang senyatanya” dari dimensi teleologik penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian dalam setiap penyempurnaan norma etikaakan mempertimbangkan kaidah-kaidah dasar moral ataupun prinsip/kaidah dasar bioetika, antara lain seperti berbuat baik (beneficence), tidak merugikan (non maleficence), menghargai otonomi pasien (autonomy), dan berlaku adil ( justice). Tujuan Kode Etik Okupasi Terapi : 1. Menjadi pedoman untuk memandu anggota terhadap etika tindakan dalam perannya sebagai profesional dan atau relawan,dan 2. Menjadi prinsip dan standar perilaku yang berlaku untuk anggotaIOTI. Kode etik ini memberikan panduan dan menentukan parameter dalam pengambilan keputusan, etika bertindak sesuai prinsip dan standar perilaku serta merupakan manifestasi dari karakter moral dan refleksi sadar sebagai komitmen yang saling menguntungkan, memiliki dasar etika dan ilmu pengetahuan, mencerminkan perilaku benar dan baik, serta tindakan yang berani dan tepat. Mengenali dan menyelesaikan masalah etika adalah proses sistematis yang mencakup analisis dinamika kompleks dari sebuah situasi, pertimbangan terhadap konsekuensi, pengambilan keputusan yang beralasan, pengambilan tindakan, dan perenungan hasil. Okupasi terapis, termasuk mahasiswa di program okupasi terapi, diharapkan untuk mematuhi prinsip dan standar perilaku dalam Kode Etikini. Proses untuk menangani pelanggaran etika oleh anggota IOTI diuraikan dalam Prosedur Penegakan Kode Etik sesuai kaidah dan perundangan yang berlaku. Meskipun Kode Etik dapat digunakan dalam hubungannya dengan peraturan hukum yang memandu standar praktek okupasi terapis, Kode Etik ini dimaksudkan untuk menjadi dokumen yang berdiri bebas, membimbing dimensi etika perilaku profesional, tanggung jawab profesi, dan dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan okupasi terapi. Core Values Nilai-nilai yang menjadi inti pelayanan Okupasi Terapi adalah: 1. Altruisme, menunjukkan kepedulian terhadap kesejahteraan oranglain. 2. Equality, kesetaraan merupakan perlakuan terhadap semua orang tanpa memihak dan bebas daribias. 3. Freedom, kebebasan menggambarkan bahwa pilihan pribadi adalah hal yang terpenting dalam profesi di mana nilai-nilai dan keinginan klien menjadi perhatian dalamintervensi. 4. Justice, keadilan mengungkapkan keadaan di mana masyarakat beragam adalah inklusif; beragam komunitas diatur dan disusun sedemikian rupa sehingga semua anggota dapat berfungsi, berkembang, dan hidup yanglayak. 5. Dignity, bermartabat memperlakukan klien dengan hormat dalam semuainteraksi. 6. Truth, kebenaran menunjukkan bahwa dalam segala situasi, okupasi terapis harus memberikan informasi yang akurat secara lisan dan atautertulis. 7. Prudence, bijaksana di mana okupasi terapis menggunakan pemikiran klinis dan etis, penilaian yang baik, dan refleksi untuk membuat keputusan dalam perannya sebagai profesional dan ataurelawan. Tujuh Nilai Inti ini memberikan landasan untuk membimbing okupasi terapis dalam interaksi mereka dengan orang lain. Prinsip dan Standar Perilaku Prinsip dan Standar Perilaku yang dilaksanakan untuk perilaku profesional okupasi terapis meliputi: 1. Beneficence, Kemurahan Hati Okupasi terapis harus menunjukkan kepedulian terhadap kesejahteraan dan keselamatan klien. Kemurahan hati mencakup semua bentuk tindakan yang dimaksudkan untuk menguntungkan klien yang digambarkan dengan sifat senang membantu. Contoh dari kemurahan hati termasuk dalam hal melindungi dan membela hak-hak klien, mencegah potensi bahaya yang mungkin terjadi kepada klien, meminimalkan kondisi yang mungkin akan menyebabkan kerugian bagiklien. Standar perilaku okupasi terapis untuk prinsip beneficience adalah: a. Memberikan evaluasi yang tepat dan rencana intervensi untuk klien okupasi terapi sesuai dengan kebutuhanmereka. b. Mengevaluasi dan menerima penilaian tentang layanan yang diberikan pada waktu yang tepat untuk menentukan apakah tujuan telah tercapai dan apakah rencana intervensi harusdirevisi. c. Melakukan evaluasi, perencanaan, teknik intervensi, penilaian, dan peralatan terapi yang berbasis bukti, terkini dan dalam lingkup praktek okupasiterapi. d. Pastikan bahwa semua tugas didelegasikan kepada okupasi terapis lainnya sesuai dengan mandat, kualifikasi, pengalaman, kompetensi dan ruang lingkup praktek okupasi terapi sehubungan dengan pelayanan, pengawasan, pendidikan lapangan, danpenelitian. e. Memberikan layanan okupasi terapi, termasuk pendidikan dan pelatihan, yang berada dalam tingkat masing-masing praktisi kompetensi dan ruang lingkup praktek okupasiterapi. f. Mengambil langkah-langkah (misalnya: melanjutkan pendidikan, penelitian, pengawasan, pelatihan) untuk memastikan kemampuan, berhati-hati dalam pengambilan keputusan, dan menimbang potensi bahaya ketika standar umumnya tidak ada dalam area praktek okupasiterapi. g. Menjaga kompetensi melalui partisipasi berkelanjutan dalam pendidikan yang relevan dengan area praktek okupasiterapi. h. Hentikan layanan okupasi terapi dengan klien atau pihak yang bertanggung jawab pada saat jasa okupasi terapi tidak lagi salingmenguntungkan. i. Merujuk kepada profesi lain ketika terindikasikan kebutuhan klien yang tidak sesuai dengan layanan okupasiterapi. j. Melakukan penelitian sesuai dengan pedoman etik yang berlaku saat ini dan standar untuk perlindungan peserta penelitian, termasuk penentuan potensi risiko dan manfaat. 2. Nonmaleficence Okupasi terapis diharapkan mampu menahan diri dari tindakan yang membahayakan klien. Nonmaleficence "mewajibkan kita untuk menjauhkan diri dari hal yang menyebabkan kerugian bagi orang lain". Prinsipnonmaleficencejuga mencakup kewajiban untuk tidak memaksakan layanan dalam bentuk aktivitas yang memiliki potensi bahaya baik disengaja maupun tidak disengaja. Misalnya, dalam praktek okupasi terapi, terjadi situasi di mana klien mungkin akan merasa sakit atau tidak nyaman dari intervensi okupasi terapi sehingga penjelasan yang berbasis bukti mutlak disampaikan terhadap klien sebelum memulai intervensi. Standar perilaku okupasi terapis untuk prinsip nonmaleficence adalah: a. Hindari menimbulkan kerugian atau cedera kepada klien, siswa, peserta penelitian. b. Hindari meninggalkan klien dengan cara memfasilitasi transisi yang tepat ketika tidak mampu menyediakan layanan okupasi terapi dengan alasanapapun. c. Kenali dan mengambil tindakan yang tepat untuk memperbaiki masalah pribadi dan keterbatasan yang mungkin membahayakan klien, rekan kerja, siswa, peserta penelitian. d. Hindari pengaruh yang tidak semestinya yang dapat mengganggu latihan, keamanan dan kompetensi penyediaan layanan terapi, pendidikan, ataupenelitian. e. Menjelaskan gangguan dalam praktek okupasi terapi dan bila perlu memberikan laporan kepada pihak yangberwenang. f. Hindari hubungan ganda, konflik kepentingan, dan situasi di mana seorang praktisi, pendidik, siswa, peneliti, atau klien tidak dapat mempertahankan batas- batas profesional yang jelas atau bersifatobjektif. g. Hindari terlibat dalam aktivitas seksual dengan klien, termasuk keluarga klien atau orang penting lainnya, siswa, peserta penelitian dan atau rekan kerja, sementara terjadi hubungan profesional dalam pelayanan okupasiterapi. h. Hindari mengorbankan hak atau kesejahteraan orang lain berdasarkan arahan yang sewenang-wenang (misalnya, memberi harapan produktivitas yang tidak realistis, pemalsuan dokumentasi, coding tidak akurat) dengan melatih penilaian profesional dan analisiskritis. i. Hindari mengeksploitasi segala hubungan dalam posisinya sebagai okupasi terapis klinis, pendidik, atau peneliti lebih jauh secara fisik, emosional, finansial, politik, atau kepentingan bisnis seseorang dengan mengorbankan klien, siswa, peserta penelitian dan atau rekan kerja. j. Hindari barter untuk layanan ketika ada potensi eksploitasi dan konflik kepentingan. 3. Otonomi, Okupasi terapis harus menghormati hak individu untuk menentukan nasib sendiri, privasi, kerahasiaan, dan persetujuan. Prinsip Otonomi mengungkapkan konsep bahwa praktisi memiliki kewajiban untuk memperlakukan klien sesuai dengan keinginan klien, dalam batas-batas standar, dan untuk melindungi informasi rahasia klien. Standar perilaku okupasi terapis untuk prinsip otonomi adalah: a Menghormati dan menghargai keinginan klien dalam menerimapelayanan. b Sepenuhnya mengungkapkan manfaat, risiko, dan potensi hasil intervensi; personil yang akan memberikan intervensi; dan alternatif yang masuk akal untuk intervensi yangdiusulkan. c Mendapatkan persetujuan setelah mengungkapkan informasi yang tepat dan menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh klien atau peserta penelitian untuk memastikan kesediaan dalam menerimalayanan. d Membangun hubungan kolaboratif dengan klien dan pemangku kepentingan, untuk menentukan pengambilan keputusanbersama. e Menghormati hak klien untuk menolak layanan okupasi terapi sementara atau permanen, bahkan ketika penolakan yang memiliki potensi untuk klien untuk menghasilkan hasil yangburuk. f Menahan diri dari ancaman, memaksa, atau menipu mempromosikan kepatuhan dengan rekomendasi okupasiterapi. g Hormati hak peserta penelitian untuk menarik diri dari studi penelitian tanpa hukuman. h Menjaga kerahasiaan dari semua komunikasi lisan, tertulis, elektronik, augmentatif, dan nonverbal, sesuai dengan hukum yang berlaku, termasuk semua aspek hukum privasi dan pengecualiandengannya. i Menunjukkan perilaku bertanggung jawab dan kebijaksanaan ketika terlibat dalam jejaring sosial, termasuk namun tidak terbatas pada menahan diri dari posting informasikesehatan. j Memfasilitasi pemahaman dan hambatan komunikasi (misalnya, afasia, perbedaan bahasa, melek huruf, budaya) dengan klien (atau pihak yang bertanggung jawab), siswa, atau peserta penelitian. 4. Keadilan Okupasi terapis akan menyampaikan keadilan dan objektivitas dalam penyediaan layanan okupasi terapi.Prinsip keadilan berkaitan dengan perlakuan yang adil, merata, dan tepat orang. Okupasi terapis harus menjalin hubungan secara hormat, adil, dan tidak memihak individu dan atau kelompok yang sedang berinteraksi. Mereka juga harus menghormati hukum dan standar yang berlaku yang berkaitan dengan profesionalitas. Sebagai okupasi terapis, mampu bekerja untuk mewujudkan kondisi lingkungan di mana semua individu memiliki kesempatan yang adil untuk mencapai keterlibatan dalam aktivitas sebagai komponen penting dalam pencapaian kualitas hidup. Standar perilaku okupasi terapis untuk prinsip keadilan adalah: a Menanggapi permintaan untuk layanan okupasi terapi (misalnya, rujukan) secara tepat waktu yang ditentukan oleh hukum, peraturan, ataukebijakan. b Membantu mereka yang membutuhkan layanan okupasi terapi untuk memperoleh akses melalui sarana yangtersedia. c Menjelaskan hambatan dalam akses ke layanan okupasi terapi dengan menawarkan atau merujuk klien untuk mendapatkan bantuan keuangan, layanan amal dan asuransi kesehatan dalam parameter kebijakanorganisasi. d Advokasi untuk perubahan sistem dan kebijakan yang diskriminatif atau tidak adil yang membatasi atau mencegah akses ke layanan okupasiterapi. e Menjaga kesadaran hukum terhadap kebijakan dan peraturan organisasi yang berlaku untuk profesi okupasiterapi. f Mejaga mandat yang diperlukan untuk layanan okupasi terapi yang mereka berikan di bidang klinis, akademik, penelitian dan atau bidanglainnya. g Memberikan pengawasan yang tepat sesuai dengan hukum, peraturan, kebijakan, prosedur, standar, dan pedomanorganisasi. h Mendapatkan semua persetujuan yang diperlukan sebelum memulai kegiatan penelitian. i Menahan diri dari menerima hadiah yang mungkin akan mempengaruhi hubungan terapeutik atau memiliki potensi untuk mengaburkan batas-batasprofesional. j Memberikan laporan kepada pihak yang berwenang setiap tindakan dalam praktek, pendidikan, dan penelitian yang tidak etis atauilegal. k Berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam merumuskan kebijakan dan prosedur sesuai dengan standar hukum, peraturan, dan etika serta bekerja untuk menyelesaikan setiap konflik atauinkonsistensi. l Memberikan tarif dan biaya dengan cara yang adil, wajar, dan sepadan dengan layanan yangdiberikan. m Memastikan kepatuhan dengan hukum dan mendorong transparansi ketika berpartisipasi dalam perjanjian bisnis sebagai pemilik, pemegang saham, mitra dan ataukaryawan. n Memastikan dokumentasi sesuai dengan hukum yang berlaku, pedoman, dan peraturan organisasi. o Menahan diri dari berpartisipasi dalam tindakan apapun yang mengakibatkan akses tidak sah ke konten pendidikan atau ujian (termasuk namun tidak terbatas pada berbagi pertanyaan tes, penggunaan yang tidak sah atau akses ke konten atau kode, atau menjual akses atau otorisasikode). 5. Kejujuran Okupasi terapis akan memberikan informasi lengkap, akurat, dan objektif ketika mewakili profesi. Prinsip kejujuran mengacu pada penyampaian informasi yang komprehensif, akurat, dan objektif. Dalam berkomunikasi dengan orang lain, okupasi terapis secara implisit berjanji untuk jujur dan tidak menipu. Ketika memasuki hubungan terapeutik atau penelitian, klien atau peserta penelitian memiliki hak untuk memperoleh informasi yang akurat. Konsep kejujuran harus seimbang secara etika, keyakinan budaya, dan kebijakan organisasi. Kebenaran akhirnya dinilai sebagai sarana untuk membangun kepercayaan dan memperkuat hubungan profesional. Oleh karena itu, kepatuhan terhadap prinsip kejujuran juga memerlukan analisis mendalam tentang bagaimana penyampaian informasi dapat mempengaruhi hasil. Standar perilaku okupasi terapis untuk prinsip kejujuran adalah: a Mewakili kredensial, kualifikasi, pendidikan, pengalaman, pelatihan, peran, tugas, kompetensi, kontribusi, dan temuan akurat dalam segala bentukkomunikasi. b Menahan diri dari menggunakan atau berpartisipasi dalam penggunaan segala bentuk komunikasi yang berisi kepalsuan, menipu, menyesatkan, atau klaim yang tidakadil. c Membuat dokumentasi dan laporan secara akurat dan tepat waktu serta sesuai dengan peraturan yang berlaku berkaitan dengan kegiatan profesional atau akademis. d Mengidentifikasi dan menyampaikan mengenai efek samping yang membahayakan keselamatanklien. e Memastikan bahwa semua pemasaran dan periklanan adalah benar dan akurat, serta hati-hati dalam penyajiannya untuk menghindari informasi yang dapat menyesatkan klien, peserta penelitian, ataupublik. f Menjelaskan jenis dan durasi layanan okupasi terapi secara akurat dalam kontrak profesional, termasuk tugas dan tanggung jawab dari semua pihak yangterlibat. g Bertindak jujur, adil, akurat, hormat, dan tepat waktu dalam mengumpulkan dan melaporkan informasi berdasarkan fakta mengenai kinerja karyawan dan kinerja siswa. h Berikan kredit dan pengakuan bila menggunakan ide-ide dan karya orang lain secara tertulis, lisan, atau media elektronik (yaitu, tidakmenjiplak). i Menyampaikan informasi yang akurat mengenai persyaratan pendidikan dan kebijakan akademik dan prosedur terhadap program okupasi terapi atau lembaga pendidikan. j Menjaga privasi dan kebenaran ketika menggunakan telekomunikasi di pelayanan okupasi terapi. 6. Fidelity,Kesetiaan Okupasi terapis akan memperlakukan klien, kolega, dan profesional lainnya dengan rasa hormat, keadilan, kebijaksanaan, dan integritas. Dalam profesi kesehatan, komitmen ini mengacu pada janji-janji yang dibuat antara penyedia dan klien atau pasien berdasarkan harapan, bekerjasama dengan klien dalam waktu sesuai kebutuhan, dan sesuai dengan kode etik. Janji-janji ini dapat tersirat atau eksplisit. Mengungkapkan informasi yang berpotensi memiliki makna dalam pengambilan keputusan adalah salah satu kewajiban dari kontrak moral antara okupasi terapis dan klien. Hubungan profesional sangat dipengaruhi oleh kompleksitas lingkungan di mana okupasi terapis bekerja. Praktisi, pendidik, dan peneliti harus konsisten menyeimbangkan tugas mereka untuk klien, siswa, peserta penelitian, dan profesional lainnya serta organisasi yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan dan praktek profesional. Standar perilaku okupasi terapis untuk prinsip kesetiaan adalah: a Preserve, menghormati, dan melindungi informasi pribadi tentang karyawan, rekan kerja, dan siswa kecuali diamanatkan oleh undang-undang atau diizinkan secararelevan. b Menjelaskan kompetensi, etika, atau gangguan praktek yang membahayakan keselamatan atau kesejahteraan orang lain dan atau efektivitastim. c Hindari konflik kepentingan atau konflik komitmen dalam pekerjaan, peran relawan, ataupenelitian. d Hindari menggunakan posisi seseorang (karyawan atau relawan) atau pengetahuan yang didapat dari posisi yang sedemikian rupa untuk menimbulkan konfliknyata. e Menahan diri dari eksploitasi sumber daya ini untuk keuntunganpribadi. f Menahan diri dari pelecehan secara verbal, fisik, emosional, atau seksual terhadap klien dan atau rekankerja. g Menahan diri dari komunikasi yang menghina, mengintimidasi, atau tidak sopan ketika berpartisipasi dalam dialogprofesional. h Menunjukkan tindakan kolaboratif dan komunikatif sebagai anggota tim interprofessional untuk memfasilitasi kualitas pelayanan dan keamanan untuk klien i Menghormati praktek, kompetensi, peran, dan tanggung jawab profesi sendiri dan orang lain untuk mewujudkan lingkungan kolaboratif reflektif dari tim interprofessional. j Gunakan resolusi konflik dan sumber daya internal dan alternatif penyelesaian sengketa yang diperlukan untuk menyelesaikan konflik organisasi dan interpersonal, serta pelanggaran etikakelembagaan. k Mematuhi kebijakan, prosedur, dan protokol ketika melayani atau bertindak atas nama organisasi profesional atauinstitusi. l Menahan diri dari tindakan-tindakan yang mengurangi kepercayaan publik terhadap profesi okupasiterapi. m Mengidentifikasi diri ketika nilai-nilai pribadi, budaya, atau agama memberikan pengaruh negatif, hubungan profesional yang tidak harmonis yang memungkinkan timbulnya konflik hatinurani. Untuk mewujudkan keluhuran ilmu okupasi terapi dan kesungguhan di dalam menjaga perilaku Okupasi Terapis sebagaimana dimaksud di atas, kami (para okupasi terapis) membakukan nilai-nilai tanggung jawab profesional profesi okupasi terapis dalam suatu Kode Etik Okupasi Terapi Indonesia, yang diuraikan dalam pasal-pasal sebagai berikut : BAB I KEWAJIBAN UMUM Pasal 1 Setiap Okupasi Terapis wajib menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah dan atau janji Okupasi Terapis. Pasal 2 Seorang Okupasi Terapis wajib selalu melakukan pengambilan keputusan profesional secara independen, dan mempertahankan perilaku profesional dalam ukuran yang tertinggi. Pasal 3 Dalam melakukan pekerjaannya, seorang Okupasi Terapis tidak boleh dipengaruhi oleh sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi. Pasal 4 Tiap perbuatan atau nasihat Okupasi Terapis yang mungkin melemahkan daya tahan psikis maupun fisik, wajib memperoleh persetujuan pasien/ keluarganya dan hanya diberikan untuk kepentingan dan kebaikan pasien tersebut. Pasal 5 Seorang Okupasi Terapis wajib dalam setiap praktiknya, memberikan pelayanan secara kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya, disertai rasa kasih sayang (compassion) dan penghormatan atas martabat manusia. Pasal 6 Seorang Okupasi Terapis wajib bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan sejawatnya. Pasal 7 Seorang Okupasi Terapis wajib menghormati hak-hak- pasien, teman sejawatnya, dan tenaga kesehatan lainnya, serta wajib menjaga kepercayaan pasien. Pasal 8 Setiap Okupasi Terapis wajib senantiasa mengingat kewajiban dirinya melindungi hidup makhluk insani. Pasal 9 Dalam melakukan pekerjaannya seorang Okupasi Terapis wajib memperhatikan keseluruhan aspek pelayanan kesehatan (promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif), baik fisik maupun psiko-sosial-kultural pasiennya serta berusaha menjadi pendidik dan pengabdi sejati masyarakat. Pasal 10 Setiap Okupasi Terapis dalam bekerjasama dengan para pejabat lintas sektoral di bidang kesehatan, bidang lainnya dan masyarakat, wajib saling menghormati. BAB II KEWAJIBAN OKUPASI TERAPIS TERHADAP PASIEN Pasal 11 Seorang Okupasi Terapis wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan seluruh keilmuan dan ketrampilannya untuk kepentingan pasien, yang ketika ia tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau memberi layanan terapi, atas persetujuan pasien/ keluarganya, ia wajib merujuk pasien kepada pihak yang mempunyai keahlian untuk itu. Pasal 12 Setiap Okupasi Terapis wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia. Pasal 13 Setiap Okupasi Terapis wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu wujud tugas perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain bersedia dan mampu memberikannya. BAB III KEWAJIBAN OKUPASI TERAPIS TERHADAP TEMAN SEJAWAT Pasal 14 Setiap Okupasi Terapis memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan. Pasal 15 Setiap Okupasi Terapis tidak boleh mengambil alih pasien dari teman sejawat, kecuali dengan persetujuan keduanya atau berdasarkan prosedur yang etis. BAB IV KEWAJIBAN OKUPASI TERAPIS TERHADAP DIRI SENDIRI Pasal 16 Setiap Okupasi Terapis wajib selalu memelihara kesehatannya, supaya dapat bekerja dengan baik. Pasal 17 Setiap Okupasi Terapis wajib senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi okupasi terapi / kesehatan. BAB V PELAKSANAAN KODE ETIK Pasal 18 1. Setiap Okupasi Terapis wajib tunduk dan mematuhi Kode Etik Okupasi Terapis ini. 2. Pengawasan atas pelaksanaan Kode Etik Okupasi Terapis ini dilakukan oleh Majelis Etik BAB VI MAJELIS ETIK Bagian Pertama KETENTUAN UMUM Pasal 19 1. Majelis Etik berwenang memeriksa dan mengadili perkara pelanggaran Kode Etik yang dilakukan oleh Okupasi Terapis 2. Pemeriksaan suatu pengaduan dapat dilakukan melalui Majelis Etik Pusat. 3. Majelis Etik Pusat memeriksa pengaduan pada tingkat pertama dan terakhir 4. Segala biaya yang dikeluarkan dibebankan kepada: a. Dewan Pengurus Pusat dimana teradu sebagai anggota. b. Pengadu/Teradu. Bagian Kedua PENGADUAN Pasal 20 1. Pengaduan dapat diajukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dan merasa dirugikan, yaitu: a. Klien/Pasien b. Teman sejawat Okupasi Terapis c. Anggota Masyarakat. d. Dewan Pengurus Pusat/Cabang/Daerah dari organisasi profesi dimana Teradu menjadi anggota. 2. Selain untuk kepentingan organisasi, Dewan Pengurus Pusat atau Dewan Pengurus Cabang/Daerah dapat juga bertindak sebagai pengadu dalam hal yang menyangkut kepentingan hukum dan kepentingan umum dan yang dipersamakan untuk itu. 3. Pengaduan yang dapat diajukan hanyalah yang mengenai pelanggaran terhadap Kode Etik Okupasi Terapis Bagian Ketiga TATA CARA PENGADUAN Pasal 21 1. Pengaduan terhadap Okupasi Terapis sebagai teradu yang dianggap melanggar Kode Etik Okupasi Terapis harus disampaikan secara tertulis disertai dengan alasan-alasannya kepada Dewan Pengurus Cabang/Daerah atau Dewan Pengurus Pusat dimana teradu menjadi anggota. 2. Bilamana di suatu tempat tidak ada Dewan Pengurus Cabang/Daerah, pengaduan disampaikan kepada Majelis Etik Pusat atau Dewan Pengurus Pusat. 3. Bilamana pengaduan disampaikan kepada Dewan Pengurus Cabang/Daerah, maka Dewan Pengurus Cabang/Daerah meneruskannya kepada Majelis Etik Pusat yang berwenang untuk memeriksa pengaduan itu. Bagian Keempat PEMERIKSAAN TINGKAT PERTAMA DAN TERAKHIR OLEH MAJELIS ETIK PUSAT 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Pasal 22 Majelis Etik Pusat setelah menerima pengaduan tertulis yang disertai surat-surat bukti yang dianggap perlu, menyampaikan surat pemberitahuan selambat lambatnya dalam waktu 14 (empat belas) hari dengan surat kilat khusus/tercatat kepada teradu tentang adanya pengaduan dengan menyampaikan salinan/copy surat pengaduan tersebut. Selambat-lambatnya dalam waktu 21 (dua puluh satu) hari pihak teradu harus memberikan jawabannya secara tertulis kepada Majelis Etik Pusat yang bersangkutan, disertai suratsurat bukti yang dianggap perlu. Jika dalam waktu 14 (empat belas) hari tersebut teradu tidak memberikan jawaban tertulis, Majelis Etik Pusat menyampaikan pemberitahuan kedua dengan peringatan bahwa apabila dalam waktu 7 (tujuh) hari sejak tanggal surat peringatan tersebut ia tetap tidak memberikan jawaban tertulis, maka ia dianggap telah melepaskan hak jawabnya. Dalam hal teradu tidak menyampaikan jawaban sebagaimana diatur di atas dan dianggap telah melepaskan hak jawabnya, Majelis Etik Pusat dapat segera menjatuhkan putusan tanpa kehadiran pihak-pihak yang bersangkutan. Dalam hal jawaban yang diadukan telah diterima, maka Majelis Etik Pusat dalam waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari menetapkan hari sidang dan menyampaikan panggilan secara patut kepada pengadu dan kepada teradu untuk hadir dipersidangan yang sudah ditetapkan tersebut. Panggilan-panggilan tersebut harus sudah diterima oleh yang bersangkutan paling lambat 3 (tiga) hari sebelum hari sidang yang ditentukan. Pengadu dan yang teradu: a. Harus hadir secara pribadi dan tidak dapat menguasakan kepada orang lain b. Berhak untuk mengajukan saksi-saksi dan bukti-bukti. Pada sidang pertama yang dihadiri kedua belah pihak: a. Majelis Etik Pusat akan menjelaskan tata cara pemeriksaan yang berlaku; b. Perdamaian hanya dimungkinkan bagi pengaduan yang bersifat perdata atau hanya untuk kepentingan pengadu dan teradu dan tidak mempunyai kaitan langsung dengan kepentingan organisasi atau umum, dimana pengadu akan mencabut kembali pengaduannya atau dibuatkan akta perdamaian yang dijadikan dasar keputusan oleh Majelis Pusat yang langsung mempunyai kekuatan hukum yang pasti. c. Kedua belah pihak diminta mengemukakan alasan-alasan pengaduannya atau pembelaannya secara bergiliran, sedangkan surat-surat bukti akan diperiksa dan saksisaksi akan didengar oleh Majelis Etik Pusat. 9. Apabila pada sidang yang pertama kalinya salah satu tidak hadir: a. Sidang ditunda sampai dengan sidang berikutnya paling lambat 14 (empat belas) hari dengan memanggil pihak yang tidak hadir secara patut b. Apabila pengadu yang telah dipanggil sampai 2 (dua) kali tidak hadir tanpa alasan yang sah, pengaduan dinyatakan gugur lagi atas dasar yang sama kecuali Majelis Etik Pusat berpendapat bahwa materi pengaduan berkaitan dengan kepentingan umum atau kepentingan organisasi c. Apabila teradu telah dipanggil sampai 2 (dua) kali tidak datang tanpa alasan yang sah, pemeriksaan diteruskan tanpa hadirnya teradu. d. Majelis Etik Pusat berwenang untuk memberikan keputusan di luar hadirnya yang teradu, yang mempunyai kekuatan yang sama seperti keputusan biasa. Bagian Kelima SIDANG MAJELIS ETIK 1. 2. 3. 4. 5. Pasal 23 Majelis Etik Pusat bersidang dengan Majelis yang terdiri sekurang kurangnya atas 3 (tiga) orang anggota yang salah satu merangkap sebagai Ketua Majelis, tetapi harus selalu berjumlah ganjil. Majelis dapat terdiri dari Majelis Etik Pusat Majelis dipilih dalam rapat Majelis Etik yang khusus dilakukan untuk itu yang dipimpin oleh Ketua Majelis Etik Pusat atau jika ia berhalangan oleh anggota Majelis Etik lainnya yang tertua, Setiap dilakukan persidangan, Majelis Majelis Etik diwajibkan membuat atau menyuruh membuat berita acara persidangan yang disahkan dan ditandatangani oleh Ketua Majelis yang menyidangkan perkara itu. Sidang-sidang dilakukan secara tertutup, sedangkan keputusan diucapkan dalam sidang terbuka. Bagian Keenam CARA PENGAMBILAN KEPUTUSAN Pasal 24 1. Setelah memeriksa dan mempertimbangkan pengaduan, pembelaan, surat-surat bukti dan keterangan saksi-saksi maka Majelis Majelis Etik mengambil Keputusan yang dapat berupa: a. Menyatakan pengaduan dari pengadu tidak dapat diterima; b. Menerima pengaduan dari pengadu dan mengadili serta menjatuhkan sanksi-sanksi kepada teradu; c. Menolak pengaduan dari pengadu. 2. Keputusan harus memuat pertimbangan-pertimbangan yang menjadi dasarnya dan menunjuk pada pasal-pasal Kode Etik yang dilanggar. 3. Majelis Majelis Etik mengambil keputusan dengan suara terbanyak dan mengucapkannya dalam sidang terbuka dengan atau tanpa dihadiri oleh pihak-pihak yang bersangkutan, setelah sebelumnya memberitahukan hari, tanggal dan waktu persidangan tersebut kepada pihak-pihak yang bersangkutan. 4. Anggota Majelis yang kalah dalam pengambilan suara berhak membuat catatan keberatan yang dilampirkan didalam berkas perkara. 5. Keputusan ditandatangani oleh Ketua dan semua Anggota Majelis, yang apabila berhalangan untuk menandatangani keputusan, hal mana disebut dalam keputusan yang bersangkutan. Bagian Ketujuh SANKSI-SANKSI 1. 2. 3. 4. Pasal 25 Hukuman yang diberikan dalam keputusan dapat berupa: a. Peringatan biasa. b. Peringatan keras. c. Pemberhentian sementara untuk waktu tertentu. d. Pemecatan dari keanggotaan organisasi profesi. Hukuman yang diberikan dalam keputusan dapat berupa: a. Peringatan biasa bilamana sifat pelanggarannya tidak berat. b. Peringatan keras bilamana sifat pelanggarannya berat atau karena mengulangi kembali melanggar kode etik dan atau tidak mengindahkan sanksi peringatan yang pernah diberikan. c. Pemberhentian sementara untuk waktu tertentu bilamana sifat pelanggarannya berat, tidak mengindahkan dan tidak menghormati ketentuan kode etik atau bilamana setelah mendapat sanksi berupa peringatan keras masih mengulangi melakukan pelanggaran kode etik. d. Pemecatan dari keanggotaan organisasi profesi bilamana dilakukan pelanggaran kode etik dengan maksud dan tujuan merusak citra serta martabat kehormatan profesi Okupasi Terapi yang wajib dijunjung tinggi sebagai profesi yang mulia dan terhormat. Pemberian sanksi pemberhentian sementara untuk waktu tertentu harus diikuti larangan untuk menjalankan profesi Okupasi Terapi Terhadap mereka yang dijatuhi sanksi pemberhentian sementara untuk waktu tertentu dan atau pemecatan dari keanggotaan organisasi profesi disampaikan kepada Dewan Pengurus Pusat Organisasi untuk diketahui dan dicatat dalam daftar Terapis Okupasi. Bagian Kedelapan PEMERIKSAAN TINGKAT BANDING MAJELIS ETIK Pasal 26 1. Apabila pengadu atau teradu tidak puas dengan keputusan Majelis Etik, ia berhak mengajukan permohonan banding atas keputusan tersebut kepada Majelis Etik Pusat. 2. Pengajuan permohonan banding beserta Memori Banding yang sifatnya wajib, harus disampaikan melalui Majelis Etik dalam waktu 21 (dua puluh satu) hari sejak tanggal yang bersangkutan menerima salinan keputusan. 3. Majelis Etik Pusat setelah menerima Memori Banding yang bersangkutan selaku pembanding selambat-lambatnya dalam waktu 14 (empat belas) hari sejak penerimaannya, mengirimkan salinannya melalui surat kilat khusus/tercatat kepada pihak lainnya selaku terbanding. 4. Pihak terbanding dapat mengajukan Kontra Memori Banding selambat-lambatnya dalam waktu 21 (dua puluh satu) hari sejak penerimaan Memori Banding. 5. Jika jangka waktu yang ditentukan terbanding tidak menyampaikan Kontra Memori Banding ia dianggap telah melepaskan haknya untuk itu. 6. Pengajuan permohonan banding menyebabkan ditundanya pelaksanaan keputusan Majelis Etik Pusat. 7. Majelis Etik Pusat memutus dengan susunan Majelis yang terdiri sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang anggota atau lebih tetapi harus berjumlah ganjil yang salah satu merangkap Ketua Majelis. 8. Majelis dapat terdiri dari Majelis Etik 9. Majelis dipilih dalam rapat Majelis Etik Pusat yang khusus diadakan untuk itu yang dipimpin oleh Ketua Majelis Etik Pusat atau jika ia berhalangan oleh anggota Majelis lainnya yang tertua. 10. Majelis Etik Pusat memutus berdasar bahan-bahan yang ada dalam berkas perkara, tetapi jika dianggap perlu dapat meminta bahan tambahan dari pihak-pihak yang bersangkutan atau memanggil mereka langsung atas biaya sendiri. Bagian Kesembilan KEPUTUSAN MAJELIS ETIK DAN PENYAMPAIAN SALINAN KEPUTUSAN Pasal 27 1. Keputusan Majelis Etik Pusat mempunyai kekuatan tetap sejak diucapkan dalam sidang terbuka dengan atau tanpa dihadiri para pihak dimana hari, tanggal dan waktunya telah diberitahukan sebelumnya kepada pihak-pihak yang bersangkutan. 2. Keputusan Majelis Etik Pusat adalah final dan mengikat yang tidak dapat diganggu gugat dalam forum manapun, termasuk dalam MUNAS. 3. Dalam waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari setelah keputusan diucapkan, salinan keputusan Majelis Etik Pusat harus disampaikan kepada: a. Anggota yang diadukan/teradu b. Pengadu c. Dewan Pengurus Cabang/Daerah d. Majelis Etik Pusat e. Dewan Pengurus Pusat; f. Instansi-instansi yang dianggap perlu. 4. Apabila seseorang telah dipecat, maka Majelis Etik Pusat meminta kepada Dewan Pengurus Pusat/Organisasi profesi untuk memecat orang yang bersangkutan dari keanggotaan organisasi profesi. Bagian Kesepuluh KETENTUAN LAIN TENTANG MAJELIS ETIK Pasal 28 Majelis Etik berwenang menyempurnakan hal-hal yang telah diatur tentang Majelis Etik dalam Kode Etik ini dan atau menentukan hal-hal yang belum diatur didalamnya dengan kewajiban melaporkannya kepada Dewan Pengurus Pusat Organisasi agar di umumkan dan diketahui oleh setiap anggota dari masing-masing organisasi. BAB VII KODE ETIK & MAJELIS ETIK Pasal 29 Kode Etik ini adalah peraturan tentang Kode Etik dan Ketentuan Tentang Majelis Etik bagi mereka yang menjalankan profesi Terapi Okupasi, sebagai satu-satunya Peraturan Kode Etik yang diberlakukan dan berlaku di Indonesia. Pasal 30 Perkara-perkara pelanggaran kode etik yang belum diperiksa dan belum diputus atau belum berkekuatan hukum yang tetap atau dalam pemeriksaan tingkat banding akan diperiksa dan diputus berdasarkan Kode Etik Terapi Okupasi ini. BAB VIII PENUTUP Pasal 31 (1) Kode Etik Terapi Okupasi ini berlaku sejak tanggal berlakunya Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 Tentang Tenaga Kesehatan dan Permenkes Nomor 76 Tahun 2014 Tentang Standar Pelayanan Terapi Okupasi. (2) Hal – hal yang belum diatur dalam Kode etik ini, akan diatur kemudian, sepanjang tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar. (3) Kode Etik ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. Ditetapkan di : Surakarta Tanggal : 1 Mei 2021 Ketua Umum Ikatan Okupasi Terapis Indonesia, Tri Budi Santoso, Ph.D