Fakultas : Ekonomi dan Bisnis Mata Kuliah : Motivasi dan Kepuasan Kerja - A Dosen Pengampu : Ayu Aprilianti, S.Psi., M.Si. Imbuh Sulistyarini, S.E., M.Ak. Anggota : Taufan Fadhillah (2206065650) Nebuchadnezar (2206066060) Zimraan Xavier Baldasaree (2206034286) Elyana Mahardhika Biring (2206041171) Ahmad Dzaky Harliansyah (2206041921) Studi Kasus - Week 1 MOTIVASI & KEPUASAN KERJA-A KULIAH I Tontonlah 2 video yang pada link youtube ini : https://www.youtube.com/watch?v=znwyTtfuWqs&t=44s https://www.youtube.com/watch?v=iuCiRAocNRw&t=152s https://www.youtube.com/watch?v=XZZ83v2haFM&t=221s https://www.youtube.com/watch?v=In2iFYfRTIY&t=16s Pertanyaan 1) Diskusikan dengan kelompok Anda strategi dari Bank Mandiri dan Bank Indonesia dalam mengelola karyawannya dengan menggunakan berbagai pendekatan teori motivasi yang telah Anda pelajari. 2) Apakah menurut Anda strategi tersebut akan efektif? 3) Apakah perbedaan strategi yang digunakan oleh Bank Mandiri dan Bank Indonesia? Mengapa terdapat perbedaan? 4) Sebagai generasi Z, faktor-faktor apa sajakah yang akan memotivasi Anda untuk bekerja dengan baik dan penuh semangat (engaged) No.1 Teori Motivasi dalam Pengelolaan Karyawan Teori motivasi yang akan digunakan untuk menganalisis strategi pengelolaan karyawan Bank Mandiri dan Bank Indonesia antara lain teori kebutuhan oleh Abraham Maslow dan teori dua faktor oleh Herzberg. Analisis Teori Hierarki Kebutuhan (Maslow) ● Bank Mandiri Teori hierarki kebutuhan maslow menjelaskan motivasi individu dalam bentuk hirarki berdasarkan tingkat kebutuhannya, dengan urutan yang dimulai dari kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan, dan aktualisasi diri. Mengacu pada video referensi yang telah ditonton sebelumnya, baik Bank Mandiri maupun Bank Indonesia mengelola karyawan mereka dengan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dalam teori hierarki maslow tersebut untuk memotivasi karyawan. Hal tersebut dapat dilihat dari strategi Bank Mandiri yang mengutamakan 3 hal penting untuk mempertahankan SDM mereka, antara lain: 1. Impact Bank Mandiri memastikan bahwa pekerjaan karyawan akan memberikan dampak yang besar, dimulai dari dampak pada diri sendiri dengan memenuhi kebutuhan fisiologis karyawan, memberikan keamanan melalui tunjangan-tunjangan yang ditawarkan sampai dampak yang bisa dirasakan oleh keluarga karyawan, lingkungan pertemanan dan rekan kerja karyawan sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan sosial. 2. Grow Selain impact, Bank Mandiri juga menawarkan karyawan untuk studi lebih lanjut yang biaya sepenuhnya ditanggung oleh perusahaan, baik biaya kuliahnya sampai uang sakunya. Dengan program tersebut, karyawan Bank Mandiri bisa terus mengembangkan diri mereka dan sejalan dengan teori kebutuhan Maslow, karyawan bisa memenuhi kebutuhan penghargaan sampai aktualisasi diri mereka. 3. Connect Koneksi yang ditawarkan dengan bekerja di Bank Mandiri juga bisa memenuhi kebutuhan karyawan dari kebutuhan sosial sampai aktualisasi diri, dimulai dari pertemanan dengan rekan kerja yang memenuhi kebutuhan sosial mereka, rasa dihargai oleh rekan kerja, atasan, sampai dengan klien sebagai hasil dari pekerjaan yang telah dilakukan, hingga pencapaian pada target yang telah ditetapkan klien, tim, dan atasan sehingga bisa memenuhi kebutuhan aktualisasi diri mereka. ● Bank Indonesia Berdasarkan kedua video referensi terkait strategi BI (Bank Indonesia) tersebut, dapat disimpulkan bahwa BI sangat mengutamakan pemenuhan kebutuhan penghargaan (self-esteem) dan aktualisasi diri (self actualization), di mana BI menekankan peran mereka yang menjaga stabilitas perekonomian negara. Karyawan-karyawan yang bekerja di BI akan sangat dihargai pekerjaannya yang telah memajukan negara dan membantu jutaan rakyat Indonesia. Di luar itu, karyawan juga akan mencapai aktualisasi diri mereka karena dampak positif yang telah mereka berikan pada perekonomian negara. Meskipun BI menekankan pemenuhan kebutuhan penghargaan dan aktualisasi diri, bukan berarti BI melupakan kebutuhan mendasar dari fisiologis sampai kebutuhan sosialnya. Pada video referensi “Berkarir di Bank Indonesia” maupun “Berkarir di Bank Indonesia: Bersama Menjaga Stabilitas Ekonomi Negeri”, karyawan BI bisa memiliki work life balance di mana tidak hanya bekerja, tapi kehidupan mereka di luar pekerjaan seperti kebutuhan hobi dan religi masing-masing karyawan dapat pula terpenuhi, sehingga terpenuhinya kebutuhan rasa aman dan kebutuhan sosial karyawan, begitu pula dengan pemenuhan kebutuhan fisiologis yang memadai. Analisis Teori Dua Faktor (Herzberg) Teori dua faktor Herzberg mengatakan bahwa terdapat 2 faktor motivasi seorang individu, yaitu Hygiene Factor dan Motivators. Faktor higiene adalah faktor kebutuhan mendasar dan pemenuhan faktor higiene akan mengurangi ketidakpuasan pekerja, sedangkan motivator adalah faktor yang memberikan rasa pencapaian, pengakuan, dan tanggung jawab, yang mana pemenuhan faktor motivator tersebut dapat meningkatkan kepuasan pekerja sehingga hasil maupun kinerja pekerjaan juga akan meningkat. Berdasarkan keempat video referensi, baik Bank Mandiri maupun Bank Indonesia sangat mengutamakan faktor motivator untuk mengelola SDM mereka, di mana Bank Mandiri terus mendorong perkembangan individu, pekerjaan yang meaningful, dan bekerja dengan memiliki purpose. Sedangkan untuk faktor higiene, Bank Mandiri menempatkan leader pada setiap karyawan menggunakan pendekatan yang personal, sehingga lingkungan kerja di Bank Mandiri bisa lebih nyaman dan terasa seperti keluarga. Tetapi strategi Bank Indonesia sangat menekankan motivator dalam bentuk purpose yang memajukan Negara Indonesia, karena pekerjaan yang dilakukan oleh Bank Indonesia akan berdampak langsung pada perekonomian negara. Faktor higiene yang ditawarkan Bank Indonesia adalah work life balance, sehingga karyawannya bisa bekerja dengan nyaman dan tenang karena mereka masih bisa memenuhi keinginan dan kebutuhan mereka di luar pekerjaan. Analisis Teori X & Y McGregor Teori McGregor membagi gaya manajemen menjadi dua: 1. Teori X: Mengasumsikan bahwa karyawan cenderung malas dan perlu diawasi ketat. 2. Teori Y: Menganggap bahwa karyawan memiliki motivasi intrinsik dan akan bekerja dengan baik jika diberi kepercayaan. ● Bank Mandiri 1. Menggunakan pendekatan kombinasi X & Y. Untuk karyawan di divisi operasional, pengawasan ketat (X) diterapkan agar sesuai dengan regulasi perbankan. 2. Untuk tim inovasi digital seperti Mandiri Easy Plus, pendekatan Teori Y diterapkan dengan memberikan kebebasan dalam bereksperimen dan menciptakan solusi baru. ● Bank Indonesia 1. Lebih dominan menggunakan Teori Y, karena pegawai diberikan otonomi dalam merancang kebijakan ekonomi dan moneter. 2. Pegawai yang menunjukkan kompetensi diberikan kesempatan pendidikan lanjutan dan peran strategis tanpa perlu pengawasan ketat. Analisis Teori Achievement Motivation (McClelland) Teori ini membagi motivasi kerja menjadi tiga kebutuhan utama: 1. Need for Achievement (N-Ach): Motivasi untuk mencapai tujuan dan berprestasi. 2. Need for Power (N-Pow): Keinginan untuk memimpin dan mempengaruhi orang lain. 3. Need for Affiliation (N-Aff): Kebutuhan untuk memiliki hubungan sosial yang baik. ● Bank Mandiri 1. N-Ach: Mendorong karyawan untuk berinovasi dalam pengembangan produk digital, seperti Mandiri Easy Plus. 2. N-Pow: Memberikan kesempatan bagi karyawan berprestasi untuk naik jabatan ke posisi kepemimpinan. 3. N-Aff: Budaya kerja kolaboratif antara tim teknologi dan perbankan untuk mempercepat inovasi. ● Bank Indonesia 1. N-Ach: Menyediakan beasiswa S2 & S3 bagi pegawai agar terus berkembang di bidang ekonomi dan kebijakan moneter. 2. N-Pow: Pegawai yang berkinerja tinggi diberikan tanggung jawab lebih besar dalam perumusan kebijakan. 3. N-Aff: Lingkungan kerja yang mendukung keberagaman, termasuk program spiritual dan keseimbangan kerja-hidup. No.2 Efektivitas Strategi Bank Mandiri dan Bank Indonesia Baik Bank Mandiri maupun Bank Indonesia (BI) mempunyai strategi memotivasi SDM yang berbeda, namun keduanya sama-sama efektif dalam konteks masing-masing. Di video ODP Bank Mandiri, mereka mencari individu dengan motivasi high achiever & ambitious. Sedangkan, dalam video “berkarir di Bank Indonesia”, BI menargetkan individu dengan jiwa patriotisme yang tinggi. Hal ini dapat dikaji kelebihan dan kekurangan dari masing-masing video yang baik Bank Mandiri maupun Bank Indonesia. ● Analisis Bank Mandiri Dalam menerapkan strategi dalam memotivasi SDM, di video Bank Mandiri menunjukan fokus utama dimana Bank Mandiri memberikan manfaat kepada karyawannya untuk mengembangkan kemampuan individu mereka melalui kesempatan belajar dan berkarir sekaligus berkontribusi membangun Indonesia. Selain itu, Bank Mandiri juga menekankan hubungan yang informal dalam tim sehingga menciptakan suasana kerja yang nyaman. Selain itu, Bank Mandiri mempunyai program Beyond KPI yang mencakup behavior, culture, purpose, motivasi, dan teamwork, mengimplikasikan pendekatan holistik dalam pengelolaan SDM mereka. Berdasarkan teori motivasi intrinsik dan ekstrinsik oleh Frederick Herzberg, Bank Mandiri menggabungkan dua aspek. Pertama fokus kepada kebanggaan bekerja di institusi dan fokus kepada kontribusi nasional(Intrinsik) dan pengembangan karir, promosi, dan pengakuan seperti “world best employer”. Strategi motivasi Bank Mandiri jika dikaji menggunakan teori hierarki kebutuhan oleh Maslow. Dapat dilihat melalui penekanan meaningful purpose seperti memberi impact tidak hanya kepada diri sendiri, tetapi kepada masyarakat dan negara(aktualisasi diri) dan terhubungnya antar tim sehingga terpenuhinya hubungan sosial satu sama lain(sosial). ● Analisis Bank Indonesia Berbeda dengan Bank Mandiri yang mempunyai lingkungan kompetitif untuk memotivasi pertumbuhan karyawannya, Bank Indonesia menekankan kepada keseimbangan kerja serta komunitas yang baik. Selain itu BI menanamkan pekerjaan sebagai bagian dari kontribusi terhadap ekonomi nasional. Selain itu, BI mendukung pengembangan profesional melalui beasiswa S2 sembari menjaga work-life balance dengan komunitas yang terjaga. Pendekatan motivasi yang diterapkan oleh Bank Indonesia (BI) dapat dianalisis menggunakan teori motivasi intrinsik, ekstrinsik. Dari perspektif teori motivasi intrinsik, BI menekankan makna dan tujuan yang lebih besar dalam pekerjaan, di mana setiap pegawai diberikan pemahaman bahwa kontribusi mereka berperan langsung dalam menjaga stabilitas ekonomi dan kemajuan bangsa. Menggunakan teori maslow, Bank Indonesia memenuhi berbagai tingkatan kebutuhan pegawai. Pada tingkat dasar (physiological needs), BI memberikan gaji dan fasilitas yang kompetitif. Stabilitas kerja di BI, serta berbagai jaminan sosial dan kesejahteraan pegawai, menciptakan rasa aman bagi karyawan (safety needs). Selanjutnya, pada tingkat social needs, BI mendukung interaksi sosial melalui komunitas hobi, kegiatan keagamaan, dan budaya kerja yang inklusif. Sementara itu, kebutuhan akan self esteem dipenuhi melalui kesempatan mendapatkan sertifikasi, beasiswa, dan kesempatan belajar di lembaga lain. Terakhir, BI sangat kuat dalam memenuhi self-actualization needs, di mana pegawai diberikan peluang untuk berkembang menjadi profesional yang unggul dan berkontribusi langsung terhadap stabilitas ekonomi nasional. Jika menargetkan kepada generasi yang lebih muda seperti generasi Z, video ODP Bank Mandiri cenderung lebih efektif. Generasi Z yang dikenal sebagai generasi yang mengutamakan fleksibilitas, pengakuan, serta pertumbuhan pribadi cocok dengan pendekatan Bank Mandiri dimana berfokus pada growth, impact, dan connection yang relevan karena menawarkan peluang pengembangan karir yang cepat, lingkungan kerja yang kolaboratif, serta budaya kerja yang lebih fleksibel dan inklusif (My Mandiri My Home). Selain itu, Generasi Z cenderung menyukai perusahaan yang tidak hanya berfokus kepada angka(beyond KPI), tetapi menghargai inovasi, kolaborasi, serta keberagaman. No.3 Perbedaan Strategi Bank Indonesia dan Bank Mandiri Bank Indonesia (BI) dan Bank Mandiri, dua institusi penting di Indonesia, memiliki pendekatan yang berbeda dalam memotivasi dan mengembangkan sumber daya manusia (SDM) mereka. Perbedaan ini mencerminkan fokus dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masing-masing lembaga. Di BI, motivasi pegawai berakar pada penekanan kontribusi mereka terhadap perekonomian Indonesia. Setiap pegawai BI, dari level staf hingga pimpinan, memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas nilai rupiah, mengawasi perbankan, dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Slogan "Di setiap makna Indonesia" bukan sekadar jargon, namun cerminan nyata bahwa setiap tindakan dan keputusan pegawai BI berdampak pada kemajuan bangsa. BI menanamkan pemahaman mendalam bahwa pekerjaan mereka adalah bagian dari upaya yang lebih besar untuk membangun Indonesia yang maju dan sejahtera. Untuk mendukung motivasi ini, BI menyediakan berbagai program pengembangan profesional, seperti PCPM (Pendidikan Calon Pegawai Muda), Campus Hiring, beasiswa S2/S3, dan pendidikan sertifikasi. Selain itu, BI juga memperhatikan keseimbangan hidup pegawai dengan mendukung berbagai komunitas hobi, passion, dan ibadah. Sementara itu, Bank Mandiri, sebagai bank komersial terkemuka, memotivasi pegawainya melalui kesempatan pengembangan talenta dan karir yang luas. Bank Mandiri meyakini bahwa investasi pada pengembangan SDM adalah kunci keberhasilan perusahaan. Mereka menyediakan berbagai program pelatihan, mentoring, dan coaching untuk membantu pegawai meningkatkan kompetensi dan mencapai potensi maksimal mereka. Selain itu, Bank Mandiri juga memberikan kesempatan bagi pegawai untuk mengembangkan karir melalui jalur promosi dan penugasan di berbagai unit kerja. Nilai-nilai utama Bank Mandiri, yaitu Impact, Grow, dan Connect, menjadi panduan dalam pengelolaan SDM. Bank Mandiri tidak hanya fokus pada KPI (Key Performance Indicators) keuangan, tetapi juga pada behavior, budaya, purpose, motivasi, dan kerja sama tim. Lingkungan kerja yang nyaman dan inklusif ("My Mandiri My Home") juga menjadi faktor penting dalam memotivasi pegawai. ● Teori Hierarki Kebutuhan Maslow: ○ BI dan Bank Mandiri, keduanya memperhatikan berbagai tingkatan kebutuhan karyawan, dari kebutuhan dasar (gaji dan fasilitas) hingga kebutuhan aktualisasi diri. ○ BI menekankan pada kebutuhan aktualisasi diri melalui kontribusi pada negara, memberikan makna yang lebih tinggi pada pekerjaan. ○ Bank Mandiri juga memperhatikan kebutuhan sosial (Connect) dan penghargaan (pengakuan sebagai World Best Employer), selain kebutuhan aktualisasi diri melalui pengembangan karir. ● Teori ERG (Existence, Relatedness, Growth) Alderfer: ○ Teori ini menyederhanakan hierarki Maslow menjadi tiga kategori: eksistensi, keterkaitan, dan pertumbuhan. ○ BI dan Bank Mandiri sama-sama memenuhi kebutuhan eksistensi (gaji, fasilitas), keterkaitan (hubungan kerja, komunitas), dan pertumbuhan (pengembangan karir, beasiswa). ○ BI mungkin lebih kuat dalam memenuhi kebutuhan keterkaitan melalui penekanan pada kontribusi tim dan rasa memiliki terhadap negara. ○ Bank Mandiri lebih menonjol dalam memenuhi kebutuhan pertumbuhan melalui program pengembangan talenta dan jalur karir yang jelas. ● Teori Motivasi Intrinsik dan Ekstrinsik: ○ BI cenderung menekankan motivasi intrinsik melalui penekanan pada makna dan tujuan yang lebih besar (kontribusi pada negara). Pegawai termotivasi karena merasa pekerjaan mereka penting dan berdampak positif bagi masyarakat. Akan tetapi, BI juga memotivasi pegawainya dengan motivasi ekstrinsik melalui beasiswa, dan pengembangan karir menjadi profesional dan ahli. ○ Bank Mandiri juga memperhatikan motivasi intrinsik melalui penekanan pada meaningful & purpose, namun Bank Mandiri cenderung lebih menekankan motivasi ekstrinsik (misalnya, melalui program pengembangan talenta dan pengakuan). Pegawai termotivasi oleh peluang untuk berkembang dan mencapai kesuksesan karir. ● Teori Penetapan Tujuan (Goal Setting Theory): ○ Teori ini menyatakan bahwa tujuan yang jelas dan menantang dapat meningkatkan motivasi dan kinerja. ○ Baik BI maupun Bank Mandiri menetapkan tujuan kinerja bagi setiap pegawai, baik yang terkait dengan target individu maupun kontribusi terhadap tujuan organisasi yang lebih besar. ○ Bank Mandiri mungkin lebih spesifik dalam menetapkan tujuan individu dan memberikan umpan balik secara teratur untuk membantu pegawai mencapai tujuan mereka. Sebagai kesimpulan, BI dan Bank Mandiri memiliki strategi SDM yang kuat dan efektif, meskipun dengan pendekatan yang berbeda. BI menekankan pada kontribusi pegawai terhadap perekonomian Indonesia, sementara Bank Mandiri fokus pada pengembangan talenta dan karir. Keduanya berhasil menciptakan lingkungan kerja yang positif dan memberdayakan, sehingga mampu menarik dan mempertahankan talenta terbaik di Indonesia. No.4 Faktor-Faktor yang Memotivasi Generasi Z untuk Bekerja dengan Baik dan Penuh Semangat Generasi Z (lahir antara 1995–2012) memiliki karakteristik unik dalam dunia kerja yang membedakan mereka dari generasi sebelumnya. Mereka tumbuh di era digital, terbiasa dengan teknologi, serta memiliki ekspektasi tinggi terhadap keseimbangan kehidupan kerja, inklusivitas, dan keberlanjutan. Untuk menjaga tingkat keterlibatan (engagement) mereka di tempat kerja, organisasi perlu memahami faktor-faktor yang memotivasi generasi ini. Faktor-faktor utama yang mempengaruhi semangat kerja dan produktivitas Generasi Z adalah sebagai berikut. 1. Budaya dan Lingkungan Kerja yang Flexible dan Mendukung Generasi Z sangat menghargai fleksibilitas dalam bekerja, baik dalam hal jam kerja maupun lokasi kerja. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang mengutamakan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan profesional, sehingga mereka lebih memilih pekerjaan yang memungkinkan mereka memiliki kontrol atas waktu dan tempat bekerja. Fleksibilitas ini tidak hanya berdampak pada kesejahteraan mereka tetapi juga meningkatkan produktivitas dan efisiensi kerja. Banyak dari mereka lebih nyaman bekerja dalam sistem hybrid atau remote, yang memungkinkan mereka untuk menyesuaikan ritme kerja dengan gaya hidup mereka. Menurut survei Deloitte Global 2023 Gen Z & Millennial Survey, 75% dari Generasi Z menganggap keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi sebagai faktor utama dalam memilih pekerjaan. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan yang menyediakan opsi kerja fleksibel memiliki daya tarik yang lebih besar bagi generasi ini. Selain itu, lingkungan kerja yang fleksibel memungkinkan mereka untuk lebih fokus pada hasil kerja dibandingkan sekadar jumlah jam yang dihabiskan di kantor, menciptakan sistem kerja yang lebih efektif dan berbasis kinerja. 2. Makna dan Tujuan dalam Pekerjaan Selain fleksibilitas, Generasi Z juga sangat mempertimbangkan makna dan tujuan dalam pekerjaan yang mereka lakukan. Mereka tidak sekadar mencari pekerjaan untuk mendapatkan gaji, tetapi juga ingin bekerja di perusahaan yang memiliki dampak sosial, keberlanjutan, serta nilai-nilai yang selaras dengan keyakinan mereka. Bagi mereka, pekerjaan bukan hanya tentang mencari nafkah, tetapi juga tentang bagaimana mereka bisa berkontribusi terhadap masyarakat dan lingkungan. Mereka lebih tertarik bekerja di organisasi yang memiliki visi dan misi yang jelas, terutama yang berfokus pada tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), praktik bisnis yang berkelanjutan, dan inovasi yang membawa dampak positif bagi dunia. Studi McKinsey & Company (2022) menunjukkan bahwa 70% dari Generasi Z menginginkan pekerjaan yang memberi mereka rasa tujuan. Dengan kata lain, mereka ingin merasa bahwa pekerjaan mereka memiliki makna yang lebih besar dan dapat memberikan dampak nyata, baik bagi diri mereka sendiri maupun komunitas di sekitar mereka. Oleh karena itu, perusahaan yang mampu mengkomunikasikan visi dan dampak sosial mereka dengan baik akan lebih menarik bagi Generasi Z dibandingkan perusahaan yang hanya berfokus pada keuntungan bisnis semata. 3. Keseimbangan Kehidupan Kerja dan Kesehatan Mental Kesehatan mental menjadi salah satu prioritas utama bagi Generasi Z dalam memilih pekerjaan dan tetap termotivasi di tempat kerja. Mereka lebih sadar akan pentingnya kesejahteraan mental dibandingkan generasi sebelumnya dan tidak ragu untuk mencari pekerjaan yang memberikan dukungan terhadap kesehatan mental mereka. Banyak dari mereka menghindari budaya kerja yang toksik, lingkungan yang penuh tekanan, atau ekspektasi kerja yang tidak realistis yang dapat berdampak negatif pada keseimbangan hidup mereka. Generasi Z cenderung lebih memilih perusahaan yang memiliki kebijakan yang jelas terkait kesejahteraan karyawan, seperti akses ke layanan konseling, cuti kesehatan mental, dan program keseimbangan kehidupan kerja yang mendukung. Menurut American Psychological Association (APA) 2023, 58% dari Generasi Z mempertimbangkan kesehatan mental sebagai faktor utama dalam keputusan kerja mereka. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak hanya mengejar gaji atau jenjang karier, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana pekerjaan dapat mempengaruhi kualitas hidup mereka secara keseluruhan. Organisasi yang mengutamakan kesehatan mental karyawannya akan memiliki tingkat retensi yang lebih baik, karena Generasi Z akan lebih loyal terhadap perusahaan yang benar-benar peduli terhadap kesejahteraan mereka. 4. Gaji dan Benefit yang Kompetitif Meskipun Generasi Z sangat menghargai fleksibilitas, keseimbangan kerja, dan makna dalam pekerjaan, faktor finansial tetap menjadi aspek yang sangat penting dalam motivasi mereka untuk bekerja. Dengan meningkatnya biaya hidup, terutama bagi mereka yang tinggal di kota besar, gaji yang kompetitif menjadi pertimbangan utama dalam memilih pekerjaan. Mereka ingin mendapatkan kompensasi yang adil sesuai dengan keterampilan, pengalaman, dan kontribusi yang mereka berikan kepada perusahaan. Selain itu, benefit tambahan seperti asuransi kesehatan, tunjangan transportasi, program pensiun, dan bonus kinerja juga menjadi aspek yang diperhitungkan dalam memilih tempat kerja. Menurut Pew Research Center (2022), Generasi Z lebih cenderung memilih pekerjaan dengan kompensasi finansial yang adil dibandingkan manfaat non-moneter. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun mereka mengutamakan fleksibilitas dan keseimbangan hidup, mereka tetap memiliki harapan tinggi terhadap kestabilan finansial yang dapat mendukung kehidupan mereka. Perusahaan yang ingin menarik dan mempertahankan talenta dari Generasi Z perlu memastikan bahwa mereka menawarkan gaji yang kompetitif serta berbagai benefit yang mendukung kesejahteraan karyawan, karena aspek ini sangat berpengaruh terhadap loyalitas dan keterlibatan mereka dalam jangka panjang. 5. Teknologi dan Inovasi di Tempat Kerja Sebagai generasi yang tumbuh di era digital, Generasi Z sangat mahir dalam menggunakan berbagai teknologi dan cenderung lebih nyaman bekerja di lingkungan yang mendukung inovasi. Mereka lebih termotivasi untuk bekerja di perusahaan yang menggunakan teknologi modern untuk meningkatkan efisiensi dan kolaborasi. Generasi ini menginginkan akses ke perangkat lunak terbaru, kecerdasan buatan (AI), otomatisasi, serta alat komunikasi yang memungkinkan mereka bekerja lebih efektif. Penggunaan teknologi dalam dunia kerja bukan hanya sekadar alat bantu, tetapi juga bagian dari budaya kerja yang mereka harapkan. Menurut Kementerian Keuangan Republik Indonesia (Kemenkeu), Generasi Z unggul dalam lingkungan kerja yang cepat berubah karena mereka tumbuh dengan teknologi dan mahir dalam berkolaborasi secara virtual. Hal ini menjadikan mereka lebih fleksibel dalam bekerja dan mudah beradaptasi dengan perubahan teknologi yang terjadi di dunia kerja modern 6. Kesempatan Pengembangan dan Pembelajaran Berkelanjutan Generasi Z memiliki keinginan yang kuat untuk terus belajar dan berkembang dalam karier mereka. Mereka mencari perusahaan yang menyediakan peluang untuk meningkatkan keterampilan melalui berbagai program seperti pelatihan, seminar, dan mentorship. Kesempatan untuk berpartisipasi dalam proyek-proyek baru juga menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka. Menurut laporan Deloitte Indonesia Perspectives, sebanyak 70% dari karyawan milenial mengharapkan perusahaan memfasilitasi mereka untuk belajar hal-hal baru. Selain itu, survei PwC Asia Pasifik Hopes and Fears 2023 menunjukkan bahwa karyawan di tingkat senior dan generasi muda, termasuk Gen Z, lebih cenderung mencari peluang pengembangan keterampilan dalam organisasi mereka. Dengan adanya peluang pengembangan ini, mereka tidak hanya merasa termotivasi tetapi juga menunjukkan loyalitas yang lebih tinggi terhadap perusahaan yang berinvestasi dalam pengembangan keterampilan mereka. 7. Gaya Kepemimpinan yang Terbuka dan Mendukung Generasi Z memiliki ekspektasi tinggi terhadap gaya kepemimpinan yang mereka temui di tempat kerja. Mereka menginginkan pemimpin yang tidak hanya berperan sebagai atasan, tetapi juga sebagai mentor yang dapat membimbing dan memberikan arahan dengan cara yang lebih kolaboratif. Transparansi dalam komunikasi, keterbukaan dalam menerima umpan balik, serta perhatian terhadap kesejahteraan dan perkembangan karier mereka adalah aspek yang sangat mereka hargai dalam kepemimpinan. Generasi Z cenderung lebih nyaman dalam budaya kerja yang horizontal, di mana setiap orang memiliki kesempatan untuk berbicara dan menyampaikan pendapat tanpa takut terhadap hierarki yang kaku. Mereka juga lebih menghargai pemimpin yang bersifat suportif dan memberikan kesempatan kepada karyawan untuk mengembangkan diri melalui pelatihan, proyek kolaboratif, atau mentoring. Menurut Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan, gaya kepemimpinan yang adaptif, suportif, dan apresiatif sangat cocok dengan kaum Milenial dan Gen Z. Mereka lebih menyukai pemimpin yang mampu menyesuaikan diri dengan berbagai kondisi dan situasi, serta memberikan penghargaan terhadap kontribusi karyawan. Referensi American Psychological Association. (2023). The state of mental health in the workplace. Retrieved from https://www.apa.org Deloitte. (2023). Global 2023 https://www2.deloitte.com Gen Z & Millennial Survey. Retrieved from Deloitte Indonesia. (2023). Indonesia Perspectives: Learning and Development Trends for Millennials and Gen Z Employees. Retrieved from https://www2.deloitte.com/id Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2023). Kepemimpinan yang Adaptif dan Efektif pada Gen Y dan Z. Retrieved from https://www.djkn.kemenkeu.go.id Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2023). Budaya kerja Gen Z: Membangun lingkungan kerja yang lebih fleksibel dan berarti. Retrieved from https://djpb.kemenkeu.go.id McKinsey & Company. (2022). The great attrition: Why employees are leaving and how companies can win them back. Retrieved from https://www.mckinsey.com Pew Research Center. (2022). Young workers’ perspectives on job compensation and benefits. Retrieved from https://www.pewresearch.org PwC. (2023). Asia Pacific Hopes and Fears Survey 2023. Retrieved from https://www.pwc.com
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )