Analisis Piutang Pajak & Hutang Pajak (dalam pengujian SPT) Azas Pembayaran Pajak 1. Pelunasan pajak mengikuti azas Convenience of Payment yaitu: Saat membayar pajak hendaknya ditentukan pada saat yang tidak akan menyulitkan Wajib Pajak, yaitu pada saat Wajib Pajak menerima penghasilan. Sistem “PAYE = Pay as You Earn” Pajak dipotong/dibayar secara berangsur-angsur selama setahun sehingga tidak terasa bagi Wajib Pajak bahwa pajaknya telah lunas. 2. Pembayaran pajak dapat dilakukan melalui: a. Pemotongan pajak oleh pihak lain; b. Pemungutan pajak oleh pihak lain; c. Angsuran/dibayar sendiri Wajib Pajak. Akun Perkiraan Piutang/Hutang Pajak pada Neraca HARTA = HUTANG + EKUITAS NERACA NERACA/LAPORAN POSISI KEUANGAN Harta (Piutang Pajak) = Debit – Neraca Hutang (Hutang Pajak) = Kredit – Neraca Modal/Ekuitas = Kredit – Neraca Laporan LABA RUGI PENGHASILAN = BIAYA + LABA Penghasilan Biaya = Kredit = Debit Catatan: Neraca dan Laporan Laba Rugi sebagai Lampiran SPT PPh Badan/Orang Pribadi Contoh Akun Neraca – Aktiva Ini contoh Akun Neraca Pada sisi Aktiva Neraca terdapat perkiraaan Pajak Dibayar Dimuka, yang disebut juga Piutang Pajak. Angka-angka pada Piutang Pajak dapat mengindikasikan adanya penghasilan (penjualan barang kepada pemungut pajak mis. Bendahara, penghasilan atas jasa) ataupun adanya pembelian barang kena pajak, mis. impor barang. Contoh Akun NeracaLiabilitas Ini contoh Akun Neraca Pada sisi Pasiva Neraca terdapat perkiraaan Liabilitas, yang disebut juga Utang Pajak. Angka-angka pada Utang Pajak dapat mengindikasikan adanya penghasilan/ penjualan barang tertentu dan wajib pajak penjual diwajibkan memungut pajak penghasilan pasal 22, ataupun adanya pembelian barang kena pajak dan wajib pajak pembeli diwajibkan memungut pajak penghasilan pasal 22 mis. pembelian barang hasil pertanian/perkebunan. Pelunasan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 20 Undang-Undang Pajak Penghasilan, menyatakan bahwa: 1) Pajak yang diperkirakan akan terutang dalam suatu tahun pajak, dilunasi oleh Wajib Pajak dalam tahun pajak berjalan melalui pemotongan dan pemungutan pajak oleh pihak lain, serta pembayaran pajak oleh Wajib Pajak sendiri. 2) Pelunasan pajak dilakukan untuk setiap bulan atau masa lain yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. 3) Pelunasan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan angsuran pajak yang boleh dikreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang terutang untuk tahun pajak yang bersangkutan, kecuali untuk penghasilan yang pengenaan pajaknya bersifat final. Pelunasan pajak melalui pemotongan dan pemungutan pajak oleh pihak lain, serta pembayaran pajak oleh Wajib Pajak sendiri, akan tercatat pada Saldo di Neraca baik Saldo Piutang Pajak/ Uang Muka Pajak maupun saldo Hutang Pajak. Pelunasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Pasal 15A ayat 1 - UU Pajak Pertambahan Nilai: Penyetoran Pajak Pertambahan Nilai oleh Pengusaha Kena Pajak harus dilakukan paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa Pajak dan sebelum Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai disampaikan. Pelunasan pajak melalui pemungutan PPN oleh penjual ( PPN Keluaran) atau oleh pemungut PPN sebagai pembeli (PPN Masukan) akan tercatat pada Saldo di Neraca baik Saldo Piutang Pajak/ Uang Muka Pajak maupun saldo Hutang Pajak. Pemotongan/ Pemungutan Pajak pada Tahun Berjalan muncul pada Neraca/Laporan Posisi Keuangan • Wajib Pajak yang pajaknya dipotong / dipungut oleh pihak lain akan muncul pada Neraca/Laporan Posisi Keuangan Wajib Pajak yang dipotong/dipungut sebagai Piutang Pajak. • Wajib Pajak yang melakukan pemotongan / pemungutan pajak penghasilan terhadap Wajib Pajak lain pada Tahun Berjalan akan muncul pada Neraca/Laporan Posisi Keuangan Wajib Pajak pemotong/pemungut sebagai Hutang Pajak. Pelunasan PPh 1.WP Dalam Negeri & 2.Bentuk Usaha Tetap (BUT) Pelunasan PPh PPh Pasal 25 Pembayaran Sendiri Pasal 4 (2) PPh Final Pasal 15 PPh Pasal 21 Pasal 19 PPh Pasal 22 Pemotongan/ Pemungutan oleh Pihak Lain WP Luar Negeri Non BUT PPh Pasal 29 Pemotongan PPh Pasal 26 PPh Pasal 23 PPh Pasal 24 Pasal 4 (2) PPh Final Pasal 15 Iktisar Akun Pajak pada Neraca/Laporan Laba Rugi Jenis Pajak Posisi di Neraca/ Laba Rugi Saldo di Neraca Jumlah di Laba Rugi Bertindak Sebagai Neraca Hutang Pajak - Pemotong/Membayar Gaji SPT PPh Badan/ OP- Biaya Gaji , SPT PPh Ps 21- Objek PPh Ps 21 Neraca Piutang Pajak - Dipotong/Terima Ph Gaji SPT PPh OP – Penghasilan Neraca Hutang Pajak - Pemungut/Pembelian Barang SPT PPh Badan – Biaya Pembelian (mis. Hasil pertanian/perkebunan) Neraca Piutang Pajak - Setor sendiri/Impor Barang SPT PPh Badan - Pembelian Impor Neraca Hutang Pajak - Pemungut/Penjualan Barang SPT PPh Badan - Penjualan Semen Kertas, Farmasi, Otomotif, Baja. Neraca Piutang Pajak - Dipungut/Pembelian Barang SPT PPh Badan- Penjualan ke Pemungut mis ke Bendaharawan Neraca Hutang Pajak - Pemotong/Membayar Biaya SPT PPh Badan/OP - Biaya Jasa Neraca Piutang Pajak - Dipotong/Terima Penghasilan SPT PPh Badan- Penghasilan Jasa 5.PPh Pasal 24 di Luar Negeri Neraca Piutang Pajak - Dipotong/Terima Penghasilan Dividen,Bunga, Royalti dari LN SPT PPh Badan/OP: Penghasilan dari Luar Negeri 6.PPh Pasal 25 Tiap Masa Neraca Piutang Pajak - Setor Sendiri SPT PPh Badan/OP: Kredit Pajak Penghasilan 1.PPh Psal 21/26 2.PPh Pasal 22 – sebagai Pembeli 3.PPh Pasal 22 – sebagai Penjual 4.PPh pasal 23 Dapat Menguji Sumber Lain (menguji SPT) Iktisar Akun Pajak pada Neraca/Laporan Laba Rugi Jenis Pajak Posisi di Neraca/ Laba Rugi Saldo di Neraca Jumlah di Laba Rugi 7.PPh Pasal 25 –Desember Neraca Hutang Pajak - Bertindak Sebagai Dapat Menguji Sumber Lain (menguji SPT) Setor Sendiri SPT PPh Badan/OP: Bukti Setor Pajak 8.PPN Keluaran Pemungut/Penjualan/ Penghasilan Jasa SPT PPh Badan/OP: Penghasilan 9.PPN Masukan Dapat dikreditkan Dipungut/Pembelian/ Pembayaran Jasa SPT PPh Badan/OP: Pembelian, Biaya Jasa Dipungut / atas Pembelian Barang SPT PPH Badan/OP: Biaya 10. PPN Masukan Tidak Dapat Dikreditkan Laba Rugi 11. PPh Pasal 28 A akhir tahun Neraca Piutang Pajak - setor sendiri SPT PPH Badan/OP: Kredit PPh 12. PPh Pasal 29 akhir tahun Neraca Hutang Pajak - setor sendiri Neraca Laba Rugi - Laba Rugi - 13. PPh Final Biaya Biaya Pemotong/Membayar Biaya Penghasila Dipotong/Menerima n Penghasilan SPT PPH Badan/OP: Biaya SPT PPH Badan/OP: Penghasilan Final Akun PPh Pot Put dan PPN pada Neraca sebagai alat uji Penghasilan, Biaya dan Aset Akun PPh Pot Put dan PPN pada DEBET Neraca Jenis Pajak Posisi di Neraca/ Laba Rugi Saldo di Neraca Jumlah di Laba Rugi Bertindak Sebagai Dapat Menguji Sumber Lain (menguji SPT) 1.PPh Psal 21/26 Neraca Piutang Pajak - Dipotong/Terima Ph Gaji SPT PPh OP – Penghasilan 2.PPh Pasal 22 – sebagai Pembeli Neraca Piutang Pajak - Setor sendiri/Impor Barang SPT PPh Badan - Pembelian Impor 3.PPh Pasal 22 – sebagai Penjual Neraca Piutang Pajak - Dipungut/Pembelian Barang SPT PPh Badan- Penjualan ke Pemungut mis ke Bendaharawan 4.PPh pasal 23 Neraca Piutang Pajak - Dipotong/Terima Penghasilan SPT PPh Badan- Penghasilan Jasa 5.PPh Pasal 24 di Luar Negeri Neraca Piutang Pajak - Dipotong/Terima Penghasilan Dividen,Bunga, Royalti dari LN SPT PPh Badan/OP: Penghasilan dari Luar Negeri 6.PPh Pasal 25 Tiap Masa Neraca Piutang Pajak - Setor Sendiri SPT PPh Badan/OP: Kredit Pajak Penghasilan Akun PPh Pot Put yang bukan PPh Final pada DEBET Neraca (PPh Psl 22,23,24,25) akan hilang pada akhir tahun setelah diperhitungkan dengan PPh Badan Terhutang pada akhir tahun (sebagai kredit PPh Badan Terhutang). Akun PPh Pot Put pada DEBET Neraca sebagai Alat Uji Rumus Jumlah Tambahan Piutang PPh Pot Put satu tahun: Saldo Akhir PPh Pot Put :A Ditambah: Telah dikreditkan dg PPh Bdn : B Yg tersedia : A+B Kurang: Saldo Awal PPh Pot Put :C Jumlah Tambahan Piutang : D Tindak lanjut: 1. Jumlah Tambahan Piutang PPh Pot Put setahun (D) di Gross Up untuk mendapatkan jumlah Penghasilan atau Biaya. 2. Setelah Gross Up lakukan Ekualisasi dengan Penghasilan atau Biaya. Jurnal PPh Badan Terhutang Terhadap Akun PPh Pot Put pada DEBET Neraca Jurnal PPh Badan terhutang diperhitungkan dengan Kredit PPh Badan: PPh Badan Terhutang PPh Pasal 22 PPh Pasal 23 PPh Pasal 24 PPh Pasal 25 PPh Pasal 29 XXX XXX XXX XXX XXX XXX (jika PPh Badan Kurang Bayar) ATAU PPh Badan Terhutang PPh Pasal 28 A PPh Pasal 22 PPh Pasal 23 PPh Pasal 24 PPh Pasal 25 XXX XXX Jika PPH Badan Lebih Bayar) XXX XXX XXX XXX Akun PPh Pot Put pada DEBET Neraca sebagai Alat Uji Contoh: PT ABC - usaha jasa konsultasi. Jurnal PPh Badan akhir tahun: PPh Badan Terhutang 1.500.000.000 PPh Pasal 22 Impor 150.000.000 PPh Pasal 23 (jasa 850.000.000 PPh Pasal 24 100.000.000 PPh Pasal 25 100.000.000 PPh Pasal 29 300.000.000 PPh Badan Kurang Bayar) Akun PPh Pot Put sebagai alat Uji: 1. Pengujian Pembelian Impor dengan cara Gross Up PPh Psl 22 Impor: Rp.150.000.000 ; 2,5% = Rp.6.000.000.000. Kesimpulan: terdapat pembelian Impor senilai Rp.6milyar. 2. Pengujian Penghasilan Jasa Konsultasi/ Peredaran Usaha dengan cara: Gross Up PPh psl 23 (jasa) : Rp.850.000.000: 2%= Rp.42.500.000.000. Kesimpulan: terdapat Penghasilan Jasa Konsultasi sebesar Rp.42.500.000.000. Akun PPh Pot Put dan PPN pada KREDIT Neraca Jenis Pajak Posisi di Neraca/ Laba Rugi Saldo di Neraca Jumlah di Laba Rugi Neraca Hutang Pajak - Pemotong/Membayar Gaji SPT PPh Badan/ OP- Biaya Gaji , SPT PPh Ps 21- Objek PPh Ps 21 2.PPh Pasal 22 – sebagai Pembeli Neraca Hutang Pajak - Pemungut/Pembelian Barang SPT PPh Badan – Biaya Pembelian (mis. Hasil pertanian/perkebunan) 3.PPh Pasal 22 – sebagai Penjual Neraca Hutang Pajak - Pemungut/Penjualan Barang SPT PPh Badan - Penjualan Semen Kertas, Farmasi, Otomotif, Baja. 4.PPh pasal 23 Neraca Hutang Pajak - Pemotong/Membayar Biaya SPT PPh Badan/OP - Biaya Jasa 1.PPh Psal 21/26 Bertindak Sebagai Dapat Menguji Sumber Lain (menguji SPT) • Akun PPh Pot Put pada KREDIT Neraca akan hilang JIKA TELAH DIBAYAR / DILUNASI Wajib Pajak. • Dalam pengujian akun PPh Pot Put pada Kredit Neraca, harus memperhitungkan jumlah yang telah dibayar. Akun PPh Pot Put pada KREDIT Neraca sebagai Alat Uji Rumus Jumlah Tambahan Hutang PPh Pot Put satu tahun: Saldo Akhir hutang PPh Pot Put :A Ditambah: Jumlah Pembayaran Pajak PPh PPh Pot Put :B (data pembayaran dari MPN) Jumlah Hutang PPh Pot Put :A+B Dikurang: Saldo Awal hutang PPh Pot Put :C Jumlah Tambahan Hutang PPh Pot Put 1 thn :D Tindak lanjut: 1. Jumlah Tambahan Hutang PPh Pot Put setahun (D) di Gross Up untuk mendapatkan jumlah Penghasilan atau Biaya. 2. Setelah Gross Up lakukan Ekualisasi dengan Penghasilan atau Biaya. Contoh Akun PPh Pot Put pada KREDIT Neraca sebagai Alat Uji PT Semen (pabrikan semen) pada 2023 menjual semen ke PT Distributor Semen Rp. 150.000.000. (tidak termasuk PPN). Pada saat penjualan, PT. Semen akan memungut PPh Pasal 22. Jumlah PPh Psl 22 terhutang: 0,25% X Rp.150.000.000= Rp 375.000. a. Jurnal saat penjualan semen oleh PT Semen. D. Piutang Usaha Rp.166.875.000 K. Utang Pajak - PPh Pasal 22 Rp. 375.000 K. PPN Keluaran Rp. 16.500.000 K. Penjualan Rp. 150.000.000 Analisis Neraca pada PT Semen sebagai pemungut PPh Psl 22: Pada Neraca 2023 PT Semen sebagai pemungut, akan tampak Utang Pajak - PPh Pasal 22 yang dipungut PT Semen sebesar Rp.375. 000. Jika Utang Pajak PPh Pasal 22 telah dibayar WP Rp. 200.000. Saldo hutang PPh Psl 22 menjadi Rp.175.000. Data pembayaran utang PPh psl 22 akan terlihat pada MPN. Pengujian terbalik untuk mengetahui Penjualan Semen: Saldo utang PPh pasal 22 Rp.175.000 Pembayaran PPh Psl 22 (dari MPN) Rp.200.000 Total hutang PPh Psl 22 Rp.375.000 Gross Up PPh Psl 22: Rp.375.000 : 0,25% = Rp.150.000.000. Jumlah Penjualan semen sebesar Rp.150.000.00 Timbulnya Akun PPh Pot Put dan PPN pada DEBET & KREDIT Neraca PELUNASAN PAJAK dalam TAHUN BERJALAN sebagai KREDIT PPH Pasal 20 UU Pajak Penghasilan a. Pemotongan pajak oleh pihak lain dalam hal diperoleh penghasilan oleh Wajib Pajak dari pekerjaan, jasa atau kegiatan sehubungan dengan hubungan kerja dengan Pemberi Kerja (objek PPh Pasal 21), b. Pemungutan pajak atas penghasilan dari penyerahan barang (objek PPh Pasal 22), c. Pemotongan pajak atas Penghasilan dari modal, jasa dan kegiatan tertentu (objek PPh Pasal 23), d. Pembayaran oleh WP sendiri atas angsuran pajak dalam tahun pajak berjalan yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak untuk setiap bulan (PPh Ps.25). Poin a -- d merupakan angsuran pembayaran pajak yang diperhitungkan dengan (dapat mengurangkan) PPH Badan atau PPh Orang Pribadi yang terutang untuk tahun pajak yang bersangkutan), kecuali untuk PPN, PPh bersifat Final. PPh Pasal 21/26 Objek Pemotongan PPh Pasal 21: Penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak Orang Pribadi dalam negeri / luar negeri sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan yang berasal dari dalam negeri. Contoh: gaji, tunjangan, honorarium, bonus, dll. Contoh: PT ABC pada Desember 2023 membayar gaji karyawan Rp.1 milyar, serta memotong PPh Pasal 21 Rp.50.000.000. Jurnal: D. Biaya Gaji Rp.1.000.000.000 K. Hutang PPh Pasal 21 Rp. 50.000.000 K. Kas/Bank Rp. 950.000.000 Analisis Neraca PT ABC sebagai pemotong pajak: Pada Neraca 31 Desember 2023 PT ABC akan tampak Hutang PPh Pasal 21 sebesar Rp.50.000.000. Dalam analisis Neraca, Hutang PPh Pasal 21 ini dapat menguji: 1. Besarnya Biaya Gaji bulan Desember pada SPT PPh PT ABC tahun 2023 2. Besarnya Objek PPh Pasal 21 bulan Desember pada SPT PPh Pasal 21 form 1721. PPh Pasal 22 Objek Pemungutan PPh Pasal 22: (PMK 48/PMK.010/2023) 1. Pembayaran atas penyerahan/pembelian barang oleh bendahara pemerintah 2. Pembayaran atas penyerahan/pembelian barang oleh badan usaha tertentu (BUMN) 3. Kegiatan usaha di bidang impor atau kegiatan usaha di bidang lain 4. Penjualan hasil produksi di dalam negeri oleh badan usaha yang bergerak dalam bidang usaha industri semen, kertas, baja, otomotif, dan farmasi kepada distributor dalam negeri. 5. Penjualan kendaraan bermotor di dalam negeri oleh Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM), Agen Pemegang Merek (APM), dan importir umum kendaraan bermotor kepada Pembeli kendaraan bermotor di dalam negeri, tidak termasuk alat berat. 6. Penjualan bahan bakar minyak, bahan bakar gas, dan pelumas oleh Produsen atau importir bahan bakar minyak, bahan bakar gas, dan pelumas kepada pembeli bahan bakar minyak, bahan bakar gas, dan pelumas. 7. Pembelian Hasil Kehutanan, Perkebunan, Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Oleh Industri Atau Eksportir oleh Badan usaha Industri atau eksportir yang melakukan pembelian hasil kehutanan, perkebunan, pertanian, peternakan, dan perikanan yang belum melalui proses industri manufaktur, untuk keperluan industri atau ekspornya dari Penjual bahan-bahan berupa hasil kehutanan, perkebunan, pertanian, peternakan, dan perikanan yang belum melalui proses industri manufaktur. PPh Pasal 22 (lanjutan) Objek Pemungutan PPh Pasal 22: (PMK 48/PMK.010/2023) 8. Ekspor Komoditas Tambang Batubara, Mineral Logam, Dan Mineral Bukan Logam 9. Pembelian Komoditas Tambang Batubara, Mineral Logam, Dan Mineral Bukan Logam oleh Badan usaha yang melakukan pembelian komoditas tambang batubara, mineral logam, dan mineral bukan logam dari Badan atau orang pribadi pemegang izin usaha pertambangan 10. Penjualan / Penyerahan Emas Perhiasan, Emas Batangan, Perhiasan Yang Bahan Seluruhnya Bukan Dari Emas, Batu Permata Dan/Atau Batu Lainnya Yang Sejenis, Serta Jasa Yang Terkait Dengan Emas Perhiasan, Emas Batangan, Perhiasan Yang Bahan Seluruhnya Bukan Dari Emas, Dan/ Atau Batu Permata Dan/ Atau Batu Lainnya Yang Sejenis, Yang Dilakukan Oleh Pabrikan Emas Perhiasan, Pedagang Emas Perhiasan, Dan/Atau Pengusaha Emas Batangan 11. Penjualan barang yang tergolong sangat mewah oleh Wajib Pajak Badan yang melakukan penjualan barang yang tergolong sangat mewah PPh Pasal 22 Contoh 1: PT ABC bln Desember 2023 menjual mesin genset ke Rumah Sakit Pemerintah Rp. 100.000.000. (tidak termasuk PPN) Bendahara RS Pemerintah akan memungut PPh Pasal 22 saat membayar. Jumlah PPh Psl 22 : 1,5% X Rp.100.000.000= Rp 1.500.000. Jurnal PT ABC Saat penyerahan Barang oleh PT ABC: Jurnal PT ABC Saat pembayaran oleh bendahara RS D. Piutang Usaha Rp.111.000.000. K. PPN ke Pemungut Rp. 11.000.000 K. Penjualan Rp.100.000.000 D. Kas/Bank Rp. 98.500.000 D. Uang Muka PPh Pasal 22 Rp. 1.500.000 D. PPN ke Pemungut Rp. 11.000.000 K. Piutang Usaha Rp. 111.000.000 Analisis Neraca pada PT ABC sebagai pihak yang dipungut PPh dan dipungut PPN oleh Bendahara RS: Pada Neraca 31 Desember 2023 PT ABC, akan tampak Uang Muka Pajak/Piutang Pajak PPh Pasal 22 sebesar Rp.1.500. 000. Dalam analisis Neraca, piutang pajak ini dapat menguji: Besarnya penghasilan atas penjualan ke Rumah Sakit Pemerintah pada SPT PPh PT ABC tahun 2023, diuji dengan cara gross up PPh Psl 22 pada Neraca: Rp.1.500.000 / 1,5% = Rp.100.000.000. PPh Pasal 22 contoh Contoh 2: PT Semen (pabrikan semen) pada 2023 menjual semen ke PT Distributor Semen Rp. 150.000.000. (tidak termasuk PPN) Pada saat penjualan, PT. Semen akan memungut PPh Pasal 22. Jumlah PPh Psl 22 terhutang: 0,25% X Rp.150.000.000= Rp 375.000. a. Jurnal saat penjualan semen oleh PT Semen. D. Piutang Usaha Rp.166.875.000 K. Utang Pajak - PPh Pasal 22 Rp. 375.000 K. PPN Keluaran Rp. 16.500.000 K. Penjualan Rp. 150.000.000 Analisis Neraca pada PT Semen sebagai pemungut PPh dan sebagai pemungut PPN Keluaran: 1. Pada Neraca 2023 PT Semen sebagai pemungut, akan tampak Utang Pajak - PPh Pasal 22 yang dipungut PT Semen sebesar Rp.375. 000. Dalam analisis Neraca, utang pajak PPh Pasal 22 ini dapat menguji: Besarnya penghasilan PT Semen pada SPT PPh PT Semen tahun 2023, diuji dengan cara gross up Utang Pajak- PPh Psl 22 pada Neraca: Rp.375.000 / 0,25% = Rp.150.000.000. 2. Pada Neraca 2023 PT Semen, akan tampak Utang Pajak – PPN Keluaran yang dipungut PT Semen sebesar Rp.16.500.000 Dalam analisis Neraca, PPN Keluaran ini dapat menguji: Besarnya penghasilan PT Semen pada SPT PPh PT Semen tahun 2023, diuji dengan cara gross up PPN Keluaran pada Neraca: Rp.16.500.000 / 11% = Rp.150.000.000. PPh Pasal 22 contoh b. Jurnal saat pembelian semen oleh PT Distributor D. Pembelian/Persediaan Rp.150.000.000 D. Uang Muka/ Piutang PPh Pasal 22 Rp. 375.000 D. PPN Masukan Rp. 16.500.000 K. Hutang Usaha Rp. 166.875.000 Analisis Neraca pada PT Distributor sebagai pihak yang dipungut PPh dan dipungut PPN Masukan oleh PT Semen: 1. Pada Neraca 2023 PT Distributor, akan tampak Piutang PPh Pasal 22 sebesar Rp.375. 000. Dalam analisis Neraca, piutang PPh Psl 22 ini dapat menguji: Besarnya pembelian PT Distributor pada SPT PPh PT Distributor tahun 2023, diuji dengan cara gross up Piutang PPh Psl 22 pada Neraca: Rp.375.000 / 0,25% = Rp.150.000.000. 2. Pada Neraca 2023 PT Distributor, akan tampak Piutang PPN Masukan sebesar Rp.16.500.000. Dalam analisis Neraca, PPN Masukan ini dapat menguji: Besarnya pembelian PT Distributor pada SPT PPh PT Distributor tahun 2023, diuji dengan cara gross up PPN Masukan pada Neraca: Rp.16.500.000 / 11% = Rp.150.000.000. PPh Pasal 22 contoh Contoh 3: PT ABC mengimpor Mesin dari Singapura. Nilai CIF US 15.000,- Bea Masuk 10% dari CIF. Kurs 1 US Rp.14.500,- Kurs Tengah BI Rp. 15.000. Pajak pajak impor dibayar via bank. US$ KursMK Kurs BI CIF 15.000 14.500 15000 B. Masuk 1.500 14.500 DPP 16.500 PPh Psl 22 tarif 2,50% PPN Impor tarif 11% Nilai Kurs MK 217.500.000 21.750.000 239.250.000 5.981.250 26.317.500 Nilai Komersial Kurs BI 225.000.000 21.750.000 246.750.000 Jurnal saat Impor Barang: Mesin 246.750.000 (nilai komersial CIF + BM) PPN Impor 26.317.500 PPh Psl 22 5.981.250 Kas 54.048.750 (BM+PPN Impor+PPh Psl 22) Hutang Usaha 225.000.000 Analisis Neraca pada PT ABC 1. Pada Neraca PT ABC Distributor, akan tampak : a. Piutang PPN Impor Rp.26.317.500; b. Piutang PPh Pasal 22 sebesar Rp.5.918.250 Dalam analisis Neraca, piutang PPN Impor dan piutang PPh Psl 22 ini dapat menguji: Besarnya pembelian Impor PT ABC dengan cara di gross up. PPh Pasal 23 Objek Pemotongan PPh Pasal 23: Penghasilan yang diterima atau diperoleh olah Wajib Pajak Dalam Negeri dan BUT sehubungan dengan modal, jasa, dan kegiatan yang berasal dari dalam negeri berupa: a. Bunga, dividen, royalti b. Hadiah, penghargaan, bonus, dan sejenisnya selain yang telah dipotong PPh Pasal 21 c. sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta selain harta yang berwujud tanah dan/atau bangunan d. imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, dan jasa konsultan selain yang telah dipotong PPh Pasal 21 e. Imbalan jasa lain selain yang telah dipotong PPh Pasal 21 sebagaimana diatur berdasarkan PMK (PMK 69/PMK.03/2022). PPh Pasal 23 Contoh: Pada tahun 2023, PT. Jasa membayar biaya jasa perbaikan mesin kepada PT CSU (selaku Pengusaha Kena Pajak) Rp.50.000.000. a. Jurnal oleh PT Jasa saat pembayaran biaya jasa perbaikan oleh PT Jasa sebagai pemotong PPh: D. Biaya jasa perbaikan Rp.50.000.000 D. PPN Masukan Rp. 5.500.000 K. Utang PPh pasal 23 Rp. 1.000.000 K. Kas/Bank Rp. 54.500.000 Analisis Neraca pada PT Jasa yang membayar Biaya sebagai pemotong PPh, juga sebagai pihak yang dipungut PPN Masukan oleh PT CSU: 1. Pada Neraca 2023 PT Jasa, akan tampak Utang Pajak - PPh Pasal 23 yang dipotong sebesar Rp.1.000.000. Dalam analisis Neraca, Utang Pajak - PPh Pasal 23 ini dapat menguji: Besarnya Biaya Jasa Perbaikan PT. Jasa pada SPT PPh PT Jasa tahun 2023, diuji dengan cara gross up Utang Pajak- PPh Psl 23 pada Neraca: Rp.1.000.000 /2% = Rp.50.000.000. 2. Pada Neraca 2023 PT Jasa, akan tampak Piutang Pajak – PPN Masukan yang dipungut PT CSU sebesar Rp.5.500.000 Dalam analisis Neraca, Piutang Pajak – PPN Masukan ini dapat menguji: Besarnya Biaya Jasa perbaikan PT Jasa pada SPT PPh PT Jasa tahun 2023, diuji dengan cara gross up PPN Masukan pada Neraca: Rp.5.500.000 / 11% = Rp.50.000.000. PPh Pasal 23 b. Jurnal saat penerimaan penghasilan jasa perbaikan oleh PT CSU: D. Kas/Bank Rp.54.500.000 D. Piutang PPh Pasal 23 Rp. 1.000.000 K. Utang- PPN Keluaran Rp. 5.500.000 K. Penghasilan Rp. 50.000.000 Analisis Neraca pada PT CSU yang menerima penghasilan (pihak yang dipotong PPh), juga sebagai Pemungut PPN Keluaran: 1. Pada Neraca 2023 PT CSU, akan tampak Piutang PPh Pasal 23 sebesar Rp.1.000.000. Dalam analisis Neraca, Piutang PPh Pasal 23 ini dapat menguji: Besarnya Penghasilan Jasa Perbaikan PT CSU pada SPT PPh PT CSU tahun 2023, diuji dengan cara gross up Piutang Pajak- PPh Psl 23 pada Neraca: Rp.1.000.000 /2% = Rp.50.000.000. 2. Pada Neraca 2023 PT CSU, akan tampak Piutang Pajak – PPN Keluaran yang dipungut dari PT Jasa sebesar Rp.5.500.000 Dalam analisis Neraca, Piutang Pajak – PPN Keluaran ini dapat menguji: Besarnya Penghasilan Jasa Perbaikan PT CSU pada SPT PPh PT CSU tahun 2023, diuji dengan cara gross up PPN Keluaran pada Neraca: Rp.5.500.000 / 11% = Rp. 50.000.000. PPh Pasal 24 atas Penghasilan dari Luar Negeri PPh a Pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri atas penghasilan dari luar negeri yang diterima atau diperoleh WP Dalam Negeri boleh dikreditkan terhadap pajak yang terutang berdasarkan Undangundang PPh dalam tahun pajak yang sama. PPh Pasal 24 Ketentuan mengenai pelaksanaan pengkreditan pajak dan batas maksimal pengkreditan pajak atas penghasilan dari luar negeri, diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK No. 192/PMK.03/2018). Contoh: Di tahun 2023, PT Cerdas memperoleh pendapatan neto dari dari usahanya di negara X (luar negeri) sebesar Rp 100 juta. Tarif pajak di negara X = 15%. Penghasilan dalam negeri PT Cerdas senilai Rp 400 juta. Penghitungan PPh Badan PT Cerdas: a. Penghasilan DN Rp. 400.000.000. b. Penghasilan LN Rp. 100.000.000 Total Penghasilan Rp. 500.000.000 • PPh Badan terutang thn 2023 tarif Psl 17 UU PPh: 22% x Rp.500.000.000= Rp.110.000.000. • PPh Pasal 24 yang dapat diperhitungkan sebagai kredit pajak, maksimum: (Penghasilan Neto dari Luar Negeri/Total Penghasilan) x Total PPh Terutang 100.000.000/Rp.500.000.000 x Rp.110.000.000 = Rp.22.000.000. • PPh dipotong di luar negeri (negara X): 15% x Rp. 100.000.000 = Rp.15.000.000. • Karena jumlah PPh terutang di negara X (Rp.15.000.000) lebih kecil dari perhitungan PPh pasal 24 maksimum yang dapat diperhitungkan sebagai kredit pajak penghasilan (Rp.22.000.000), maka kredit PPh Psl 24 yang dapat dikreditkan adalah sebesar yang dipotong di negara X = Rp.15.000.000. PPh Pasal 24 atas Penghasilan dari Luar Negeri PPh a Analisis Analisis Neraca pada PT Cerdas: • Pada Neraca 2023 PT Cerdas , akan tampak Piutang Pajak - PPh Pasal 24 sebesar Rp.15.000.000. Dalam analisis Neraca, Piutang Pajak - PPh Pasal 24 ini dapat menguji: Besarnya Penghasilan dari Luar Negeri pada SPT PPh PT Cerdas tahun 2023, diuji dengan cara gross up Piutang Pajak- PPh Psl 24 pada Neraca: Rp.15.000.000 /15% = Rp100.000.000. • Namun karena jumlah PPh terutang di negara X (Rp.15.000.000) lebih kecil dari perhitungan PPh pasal 24 maksimum yang dapat diperhitungkan sebagai kredit pajak penghasilan (Rp.22.000.000), maka kredit PPh Psl 24 yang dapat dikreditkan adalah sebesar yang dipotong di negara X = Rp.15.000.000. PPh Final Tidak ada definisi tentang Pajak Penghasilan Final dalam Undang-Undang PPh. Namun dalam prakteknya, PPh Final adalah Pajak Penghasilan yang selesai (final) jika telah dibayar / disetorkan ke negara. Arti selesai adalah tidak dapat diperhitungkan dengan Pajak Penghasilan lain (sebagai Kredit pajak). Objek Pemotongan PPh final: 1. Penghasilan yang dikenakan PPh yang bersifat final Pasal 4 ayat (2) UU PPh dan Peraturan Pemerintah berupa: a. penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan lainnya, bunga obligasi dan surat utang negara, dan bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggota koperasi orang pribadi; b. penghasilan berupa hadiah undian c. penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya, transaksi derivatif yang diperdagangkan di bursa, dan transaksi penjualan saham atau pengalihan penyertaan modal pada perusahaan pasangannya yang diterima oleh perusahaan modal ventura d. penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan, usaha jasa konstruksi, usaha real estate, dan persewaan tanah dan bangunan e. penghasilan tertentu lainnya 2. Penghasilan Wajib Pajak tertentu yang dikenakan PPh berdasarkan Pasal 15 UU PPh yang ditetapkan Menteri Keuangan seperti perusahaan pelayaran dan penerbangan, kecuali penerbangan dalam negeri. Kasus 5
0
You can add this document to your study collection(s)
Sign in Available only to authorized usersYou can add this document to your saved list
Sign in Available only to authorized users(For complaints, use another form )