Uploaded by esrahanasmr

Energi Terbarukan Finlandia: Potensi dan Tantangan

advertisement
Energi Baru Terbarukan Finlandia
A. Pendahuluan
Sejarah panjang Finlandia dalam pengelolaan sumber daya alam, terutama hutan
yang luas, telah memberikan fondasi yang kuat bagi pengembangan energi terbarukan.
Negara ini tidak hanya fokus pada keberlanjutan lingkungan tetapi juga pada inovasi
teknologi, menjadikannya salah satu pemimpin global dalam teknologi energi
terbarukan. Dari proyek-proyek biomassa yang memanfaatkan limbah industri kehutanan
hingga pengembangan ladang angin lepas pantai yang dirancang untuk bertahan dalam
kondisi es laut, Finlandia terus berusaha untuk mengurangi emisi karbon dan
memperkuat ketahanan energi nasional.
Finlandia dikenal sebagai salah satu negara terkemuka di dunia dalam produksi dan
pemanfaatan energi terbarukan. Bioenergi adalah sumber energi terbarukan yang paling
signifikan, terhitung sekitar seperlima dari total konsumsi energi di Finlandia. Untuk
mengekang perubahan iklim, produksi energi terbarukan harus ditingkatkan dari tingkat
saat ini, juga di Finlandia. Ini membutuhkan peningkatan tajam dalam penggunaan
bioenergi pada khususnya.
Finlandia adalah negara yang berada di garis depan dalam upaya global untuk
mengatasi perubahan iklim melalui transisi ke energi terbarukan. Sebagai negara yang
memiliki sumber daya alam melimpah dan teknologi canggih, Finlandia telah
menetapkan target ambisius untuk mencapai netralitas karbon pada tahun 2035.
Kebijakan ini didukung oleh berbagai inisiatif dan investasi besar dalam pengembangan
energi angin, biomassa, tenaga surya, dan hidroelektrik.
Namun, meskipun memiliki potensi besar, Finlandia juga menghadapi tantangan,
termasuk kondisi cuaca ekstrem yang dapat mempengaruhi produksi energi terbarukan
dan kebutuhan akan investasi yang signifikan untuk pengembangan infrastruktur. Dalam
diskusi ini, kami akan mengeksplorasi bagaimana Finlandia dapat memanfaatkan
kekuatan dan peluang yang dimilikinya untuk mengatasi tantangan ini, serta peran yang
dapat dimainkan oleh negara-negara lain dan organisasi internasional dalam mendukung
transisi Finlandia menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.
B. Potensi Energi Terbarukan di Finlandia
Finlandia, dengan kondisi geografis dan iklimnya yang unik, memiliki potensi yang
sangat besar dalam pengembangan energi baru terbarukan. Berikut adalah beberapa
sumber daya EBT utama yang dimiliki negara ini:
1. Energi Hidroelektrik
Energi hidroelektrik adalah salah satu bentuk energi baru terbarukan (EBT)
yang memainkan peran penting dalam penyediaan listrik di Finlandia. Dengan
banyaknya sungai dan danau yang besar, Finlandia telah memanfaatkan potensi
airnya untuk menghasilkan energi yang bersih dan berkelanjutan.
Finlandia dikenal sebagai "Tanah Seribu Danau" dengan lebih dari 180.000
danau dan ribuan sungai yang mengalir di seluruh negeri. Kondisi geografis ini
memberikan Finlandia potensi besar untuk memanfaatkan energi hidroelektrik.
Sungai-sungai besar seperti Kemijoki, Oulujoki, dan Vuoksi merupakan pusat
utama bagi pembangkit listrik tenaga air di Finlandia.
Energi hidroelektrik menyumbang sekitar 15-20% dari total produksi listrik
di Finlandia. Negara ini memiliki lebih dari 200 pembangkit listrik tenaga air
dengan kapasitas terpasang sekitar 3.200 MW.
Pembangkit listrik tenaga air di Finlandia menggunakan metode run-ofriver dan reservoir. Run-of-river tidak memerlukan penampungan besar dan
memanfaatkan aliran alami sungai, sedangkan pembangkit dengan reservoir
menggunakan bendungan untuk mengontrol dan menyimpan air untuk
pembangkitan listrik yang teratur.
Salah satu keunggulan energi hidroelektrik adalah kemampuannya untuk
berfungsi sebagai "buffer" atau penyeimbang dalam sistem energi. Pembangkit
listrik tenaga air dapat dengan cepat menyesuaikan outputnya untuk memenuhi
fluktuasi dalam permintaan listrik, terutama ketika ada lonjakan kebutuhan
energi atau ketika sumber energi lain tidak tersedia. Ini sangat penting di
Finlandia, di mana permintaan energi bisa sangat bervariasi tergantung pada
musim, dengan kebutuhan yang lebih tinggi selama musim dingin.
Energi hidroelektrik adalah sumber energi terbarukan yang tidak
menghasilkan emisi gas rumah kaca selama operasinya. Ini berkontribusi
langsung terhadap pengurangan emisi karbon Finlandia dan mendukung upaya
negara ini untuk mencapai target iklimnya.
2. Energi Angin
Energi angin merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang
berkembang pesat di Finlandia, terutama di wilayah pesisir dan lepas pantai.
Ladang angin lepas pantai Tahkoluoto, misalnya, adalah ladang angin pertama di
dunia yang dirancang khusus untuk bertahan dalam kondisi es laut, menunjukkan
inovasi teknologi Finlandia. Potensi pengembangan energi angin di Finlandia
sangat besar, dengan kondisi angin yang stabil di sepanjang pantai dan
kepulauan yang tersebar.
Finlandia memiliki sejumlah ladang angin onshore yang tersebar di
berbagai wilayah, terutama di daerah utara dan barat negara tersebut. Kapasitas
terpasang energi angin onshore telah meningkat signifikan selama beberapa
tahun terakhir. Faktor kapasitas turbin angin onshore di Finlandia cukup tinggi
karena kondisi angin yang konsisten, meskipun sedikit lebih rendah
dibandingkan ladang angin offshore. Beberapa ladang angin onshore di Finlandia
yang signifikan meliputi:
1) Ladang Angin Kalajoki, di wilayah barat Finlandia. Ladang angin
ini memiliki puluhan turbin dengan total kapasitas mencapai ratusan
megawatt (MW), menjadikannya salah satu ladang angin terbesar di
Finlandia.
2) Ladang Angin Luhanka, di wilayah Finlandia tengah. Ladang angin
ini memiliki kapasitas lebih kecil dibandingkan beberapa proyek
besar lainnya, tetapi tetap menjadi kontributor penting bagi jaringan
listrik lokal. Lokasi ini dikenal dengan lanskap pedesaan dan
merupakan contoh bagaimana ladang angin dapat diintegrasikan
dengan
lingkungan
pedesaan
Finlandia
tanpa
mengganggu
komunitas lokal.
3) Ladang Angin Piiparinmäki, terletak di perbatasan antara Kainuu
dan Pohjois-Pohjanmaa. Piiparinmäki adalah salah satu ladang
angin onshore terbesar di Finlandia, dengan kapasitas total lebih dari
200 MW. salah satu proyek angin terbesar di Finlandia dan
memanfaatkan teknologi canggih untuk memaksimalkan efisiensi
turbin angin di area dengan potensi angin yang sangat baik.
4) Ladang Angin Tohkoja, di wilayah barat laut Finlandia. Ladang
angin ini juga memiliki kapasitas yang signifikan, dengan puluhan
turbin yang menghasilkan energi terbarukan untuk jaringan listrik
nasional. Ladang angin Tohkoja menonjol karena lokasinya yang
strategis di wilayah dengan angin kencang dan stabil, yang
membuatnya sangat efisien dalam produksi energi.
5) Ladang Angin Santavuori, di wilayah Seinäjoki, Finlandia barat.
Ladang ini terdiri dari beberapa turbin angin dan memiliki kapasitas
yang cukup untuk mendukung jaringan listrik regional. salah satu
ladang angin yang lebih kecil, namun tetap penting karena
membantu mendiversifikasi sumber energi terbarukan di wilayah
tersebut.
Selain itu, ada juga Ladang angin offshore (lepas pantai), Proyek-proyek ini
memanfaatkan potensi angin yang lebih kuat dan stabil di laut, terutama di
perairan Laut Baltik dan Teluk Bothnia. Ladang angin offshore yang signifikan
di Finlandia yakni Ladang Angin Tahkoluoto, Terletak di lepas pantai Pori, di
Teluk Bothnia, bagian barat daya Finlandia. Tahkoluoto memiliki kapasitas
sekitar 40 MW, dengan 10 turbin angin yang dipasang di lokasi. Tahkoluoto
adalah ladang angin offshore pertama di dunia yang dirancang khusus untuk
beroperasi dalam kondisi es laut, yang merupakan tantangan signifikan di
perairan Finlandia. Ladang ini beroperasi sejak 2017 dan merupakan proyek
percontohan yang menunjukkan potensi besar untuk pengembangan ladang
angin lepas pantai di wilayah dengan kondisi es laut. Ladang ini menggunakan
teknologi canggih untuk memastikan stabilitas turbin dalam kondisi cuaca yang
keras dan suhu rendah, serta desain fondasi yang mampu menahan tekanan dari
es laut.
3. Energi Biomassa
Energi biomassa adalah salah satu sumber energi baru terbarukan (EBT)
yang sangat penting di Finlandia. Negara ini memiliki hutan yang luas, yang
mencakup sekitar 75% dari total luas daratannya, sehingga biomassa, terutama
dari limbah kehutanan dan industri kayu, menjadi salah satu pilar utama dalam
sistem energi terbarukan Finlandia. Biomassa memainkan peran kunci dalam
transisi Finlandia menuju penggunaan energi yang lebih berkelanjutan dan
berperan penting dalam pencapaian target netralitas karbon negara tersebut.
Sebagai negara dengan luas hutan yang signifikan, Finlandia memiliki
potensi biomassa yang besar. Biomassa, yang sebagian besar berasal dari limbah
kayu dan produk sampingan dari industri kehutanan, telah menjadi sumber
energi terbarukan yang penting di Finlandia. Penggunaan biomassa untuk
pembangkitan listrik dan pemanasan distrik telah membantu mengurangi
ketergantungan pada bahan bakar fosil dan memperkuat ekonomi lokal.
Sumber Biomassa di Finlandia:
1) Limbah Kehutanan, Sebagian besar biomassa di Finlandia berasal dari
limbah kayu yang dihasilkan oleh industri kehutanan. Ini termasuk sisasisa kayu dari penebangan hutan, dahan, batang yang tidak dapat
digunakan, dan potongan kayu dari pengolahan kayu. Selain kayu
limbah, residu kehutanan seperti ranting, daun, dan akar juga
dimanfaatkan sebagai sumber biomassa.
2) Industri Pengolahan Kayu, Industri pengolahan kayu di Finlandia
menghasilkan limbah yang meliputi serbuk gergaji, serpihan kayu, dan
kulit kayu, yang semuanya dapat digunakan sebagai biomassa untuk
pembangkitan energi. Selain itu industri kertas dan pulp juga
menghasilkan limbah organik yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber
energi biomassa.
3) Pertanian dan Agroindustri, Selain kehutanan, limbah pertanian seperti
jerami, batang jagung, dan sisa-sisa tanaman lainnya juga dapat
digunakan sebagai bahan baku biomassa. Selain itu, limbah dari industri
makanan dan minuman, serta produksi biogas dari kotoran hewan, juga
berkontribusi terhadap pasokan biomassa di Finlandia.
Penggunaan Energi Biomassa
1) Pembangkitan Listrik dan Pemanasan, Biomassa digunakan dalam
pembangkit listrik berbasis biomassa, di mana bahan bakar biomassa
dibakar untuk menghasilkan uap, yang kemudian menggerakkan turbin
untuk menghasilkan listrik. Selain itu, Finlandia terkenal dengan sistem
pemanasan distrik yang luas, di mana biomassa digunakan sebagai
sumber utama untuk menyediakan panas bagi kota-kota dan komunitas
melalui
jaringan
pemanas
sentral.
Ini
membantu
mengurangi
ketergantungan pada bahan bakar fosil untuk pemanasan di musim
dingin yang panjang dan dingin.
2) Co-firing, Dalam beberapa pembangkit listrik, biomassa dicampur
dengan batubara atau bahan bakar fosil lainnya untuk mengurangi emisi
karbon. Teknik ini dikenal sebagai "co-firing" dan memungkinkan
transisi yang lebih mulus dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan.
3) Produksi Bahan Bakar Bio, Finlandia juga mengembangkan teknologi
untuk mengubah biomassa menjadi biofuel cair, seperti bioetanol dan
biodiesel, yang dapat digunakan sebagai bahan bakar transportasi. Selain
itu, melalui proses fermentasi anaerob, biomassa organik dapat diubah
menjadi biogas, yang digunakan untuk pembangkitan listrik, pemanasan,
atau bahan bakar kendaraan.
Biomassa dianggap sebagai sumber energi yang berkelanjutan karena
berasal dari bahan organik yang dapat diperbarui secara alami. Penggunaan
biomassa juga membantu mengurangi limbah kehutanan dan pertanian, serta
mengurangi emisi gas rumah kaca dibandingkan dengan bahan bakar fosil.
4. Energi Surya
Finlandia memiliki intensitas sinar matahari yang rendah, terutama selama
musim dingin, penggunaan energi surya terus berkembang. Panel surya telah
dipasang di berbagai bangunan publik dan komersial, dan teknologi fotovoltaik
terus ditingkatkan untuk memaksimalkan efisiensi di kondisi cahaya rendah.
Energi surya memainkan peran penting, terutama selama musim panas ketika
siang hari lebih panjang.
Energi surya adalah salah satu bentuk energi baru terbarukan (EBT) yang
sedang berkembang di Finlandia. Meskipun negara ini berada di bagian utara
Eropa, yang berarti musim dingin yang panjang dan cahaya matahari yang
terbatas selama beberapa bulan, Finlandia tetap melihat potensi besar dalam
energi surya sebagai bagian dari transisi menuju sumber energi yang lebih bersih
dan berkelanjutan.
Penggunaan energi surya membantu Finlandia dalam mencapai target
iklimnya, terutama dalam mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Selain itu, menambahkan energi surya ke dalam campuran energi nasional
membantu diversifikasi sumber energi Finlandia, meningkatkan ketahanan
energi, dan mengurangi risiko yang terkait dengan fluktuasi harga bahan bakar
fosil atau ketidakpastian pasokan energi.
C. Data Statistik Konsumsi Energi di Finlandia
1. Konsumsi Energi Finlandia pada Tahun 2022:
Gambar 1. Pangsa sumber energi terbarukn dari totl konsumsi energi di Finlandia adalah
41,8% pada tahun 2022. Bahan bakar fosil dan gambut menyumbang 33,7% dari total
konsumsi, dan energi nuklir sebesar 20,4%. Pada tahun 2022, impor neto adalah 3,5%
dari total konsumsi energi.
Gambar 2. Pada tahun 2020-an, sumber energi terbarukan melampaui bahan bakar fosil
dalam total produksi energi Finlandia. Pada tahun 2022, perbedaan antara pangsa energi
terbarukan dan pangsa bahan bakar fosil tumbuh hingga 8 poin persentase.
Gambar 3. Pada tahun 2022, pangsa industri dalam konsumsi energi final Finlandia
adalah 44,8% . Sebagai perbandingan dengan Uni Eropa, pangsa tersebut cukup tinggi.
Pemanasan menyumbang 27,1% dan transportasi menyumbang 15,5% dari konsumsi
energi final.
Gambar 4. Di Finlandia, 89% listrik bebas bahan bakar fosil pada tahun 2022.
Kapasitas tenaga angin Finlandia telah meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir
dan pada tahun 2022, produksi tenaga angin mencakup 14,1% dari produksi listrik
Finlandia.
2. Data Tahun 2023
D. Finlandia menduduki peringkat No. 1 di dunia dalam pembangunan berkelanjutan
Pada tahun 2022, Finlandia menduduki peringkat teratas dalam pemeringkatan
global dan Eropa tahunan yang melacak kemajuan dalam Tujuan Pembangunan
Berkelanjutan. Secara global, Finlandia menduduki peringkat pertama dari 163 negara
selama dua tahun berturut-turut.
Dari 17 SDG, Finlandia telah mencapai sasarannya terkait pengentasan kemiskinan,
energi bersih dan terjangkau, serta pendidikan berkualitas tinggi. Finlandia berhasil
dalam hal keberlanjutan sosial, dan hampir mencapai sasaran terkait pengurangan
kesenjangan, peningkatan kesetaraan gender, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi,
serta perdamaian dan supremasi hukum.
Masih ada beberapa tujuan terkait keberlanjutan ekologi yang perlu dikerjakan Finlandia.
Ini termasuk perjuangan melawan perubahan iklim, kebutuhan akan pola konsumsi dan
produksi yang lebih berkelanjutan, dan penghentian hilangnya keanekaragaman hayati.
Untuk menganalisis tantangan ini secara lebih rinci dan mencari pendekatan baru untuk
mengatasinya, Pemerintah mereformasi Peta Jalan Keberlanjutannya pada tahun 2022
E. Kebijakan Energi Terbarukan di Finlandia
Kebijakan energi dan iklim Finlandia difokuskan pada pencapaian netralitas karbon
pada tahun 2035 dengan tetap memastikan keamanan energi, mengurangi ketergantungan
impor energi, mendorong ekonomi berkelanjutan, dan melindungi keanekaragaman
hayati. Undang-Undang Perubahan Iklim Finlandia diperbarui pada bulan Juli 2022
dengan kewajiban hukum untuk mencapai netralitas karbon pada tahun 2035. Untuk
mendukung kewajiban ini, Undang-Undang tersebut menetapkan target yang mengikat
untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK), tidak termasuk penggunaan lahan,
perubahan penggunaan lahan, dan kehutanan (LULUCF) sebesar 60% pada tahun 2030,
80% pada tahun 2040, dan 90-95% pada tahun 2050. Undang-Undang tersebut juga
mengharuskan pengembangan beberapa dokumen yang mendefinisikan langkah-langkah
khusus untuk mencapai target tersebut.
Berkat reaktor nuklirnya dan produksi energi terbarukan dalam negeri yang besar
(terutama biomassa padat kehutanan serta pembangkitan dari tenaga air dan angin),
Finlandia memiliki salah satu tingkat ketergantungan terendah pada bahan bakar fosil di
antara negara-negara anggota IEA. Pada tahun 2021, bahan bakar fosil mencakup 36%
dari total pasokan energi Finlandia (TES), pangsa terendah kedua di antara negaranegara IEA dan jauh lebih rendah dari rata-rata IEA sebesar 70%. Finlandia tidak
memiliki produksi bahan bakar fosil dalam negeri dan semua pasokan minyak mentah,
gas alam, dan batu bara diimpor. Intensitas energi ekonomi dan konsumsi energi per
kapita keduanya sangat tinggi karena sektor industri berat negara tersebut yang relatif
besar dan tingginya permintaan pemanas dari iklimnya yang dingin.
Strategi Iklim dan Energi Nasional (NCES) adalah dokumen utama yang
mendefinisikan langkah-langkah yang akan ditempuh Finlandia untuk memenuhi target
energi dan iklim Uni Eropa (UE) 2030 dan mencapai netralitas karbon pada tahun 2035.
Finlandia berencana untuk mencapai netralitas karbon dengan mempertahankan porsi
energi nuklir yang tinggi, meningkatkan pembangkitan listrik dan produksi panas dari
energi terbarukan, meningkatkan efisiensi energi, dan melakukan elektrifikasi terhadap
sebagian besar permintaan energi di seluruh perekonomian. Ada juga dorongan untuk
pengembangan, komersialisasi, dan pengurangan biaya teknologi energi baru dan yang
sedang berkembang untuk mendorong transisi energi di sektor-sektor yang sulit
dikurangi dan penggunaan akhir, terutama industri dan transportasi berat. Bioenergi
memainkan peran kunci dalam kebijakan iklim dan energi Finlandia. Biomassa
kehutanan adalah sumber utama listrik dan panas, dan biofuel memainkan peran sentral
dalam mendukung transisi energi di sektor transportasi. Rencana Finlandia untuk
mencapai netralitas karbon juga bergantung pada peningkatan penghilangan karbon dari
LULUCF untuk mengimbangi emisi yang tersisa.
Finlandia telah membuat kemajuan penting dalam bergerak menuju netralitas
karbon. Negara ini telah memasang reaktor nuklir baru pertama di Eropa dalam lebih
dari 15 tahun, yang mulai beroperasi penuh pada 16 April 2023, dan telah mengalami
pertumbuhan yang kuat dalam pembangkitan tenaga angin darat. Namun, masih ada
tantangan penting yang harus dihadapi. Bahan bakar fosil yang diimpor masih
menyumbang lebih dari sepertiga pasokan energi Finlandia dan beberapa bidang
ekonomi, seperti transportasi dan kegiatan industri utama, masih bergantung padanya.
Selain itu, meskipun LULUCF secara historis telah mengimbangi sejumlah besar emisi
GRK, telah terjadi tren penurunan dalam penghapusan karbon dari LULUCF sejak 2010.
Pada tahun 2021, untuk pertama kalinya, sektor tata guna lahan menjadi sumber bersih
emisi GRK.
Finlandia telah menjadi salah satu pelopor dalam pengembangan energi terbarukan
di Eropa. Komitmen kuat terhadap lingkungan dan keberlanjutan telah mendorong
pemerintah Finlandia untuk merancang kebijakan yang mendukung transisi menuju
energi bersih.
Kebijakan Ebergi Baru Terbarukan di Finlandia:
1. Renewable Energy Act
Undang-undang ini memberikan dukungan keuangan untuk produksi listrik
yang dihasilkan dari sumber energi terbarukan seperti angin, biomassa, biogas,
dan tenaga air. Ini termasuk skema feed-in tariff, yang menjamin harga tetap bagi
produsen energi terbarukan untuk setiap kWh listrik yang dihasilkan dan dijual ke
jaringan listrik nasional.
Pokok-Pokok Isi Kebijakan Renewable Energy Act:

Feed-in Tariff (Tarif Masukan), tujuannya ialah menjamin pendapatan
yang stabil bagi produsen listrik dari sumber energi terbarukan dengan
menetapkan harga tetap untuk setiap kilowatt-jam (kWh) listrik yang
dihasilkan dan dijual ke jaringan listrik nasional. Produsen listrik yang
memenuhi syarat menerima pembayaran tetap per kWh yang diproduksi
selama periode tertentu, biasanya dalam jangka waktu 12 hingga 20 tahun,
tergantung pada teknologi yang digunakan.

Tarif Premium, Produsen listrik dari sumber energi terbarukan juga dapat
menerima tarif premium di atas harga pasar jika mereka menjual listrik
mereka secara langsung ke pasar listrik tanpa kontrak jangka panjang.
Dengan tujuan mendorong kompetisi di pasar listrik dan memastikan
bahwa energi terbarukan dapat bersaing secara ekonomi dengan energi
fosil.

Dukungan Investasi, Subsidi langsung untuk proyek-proyek pembangunan
instalasi energi terbarukan, seperti ladang angin atau pembangkit listrik
biomassa. Tujuannya ialah mengurangi biaya awal yang tinggi yang
seringkali menjadi penghalang bagi investasi di sektor energi terbarukan.

Persyaratan Keberlanjutan, Untuk menerima dukungan di bawah undangundang ini, produsen harus memenuhi persyaratan keberlanjutan tertentu,
terutama bagi mereka yang menggunakan biomassa sebagai bahan bakar.
Ini termasuk kriteria keberlanjutan yang ketat terkait dengan asal-usul
bahan baku dan dampaknya terhadap lingkungan. Dan Pemerintah akan
melakukan pengawasan dan audit terhadap kepatuhan terhadap standar
keberlanjutan ini.

Target Produksi, Undang-undang ini juga menetapkan target produksi
listrik dari energi terbarukan yang harus dicapai oleh Finlandia setiap
tahun sebagai bagian dari komitmen terhadap kebijakan energi Uni Eropa.

Sertifikasi dan Pelaporan, Undang-undang ini memungkinkan penerbitan
sertifikat energi terbarukan untuk setiap unit listrik yang diproduksi dari
sumber terbarukan. Sertifikat ini dapat diperdagangkan, mendorong lebih
banyak investasi di sektor energi terbarukan. Selain itu, Produsen energi
terbarukan diwajibkan untuk melaporkan produksi mereka secara berkala,
yang kemudian digunakan untuk mengukur keberhasilan implementasi
kebijakan dan menyesuaikan tarif serta dukungan jika diperlukan.
2. Strategi Energi Nasional 2035
Pemerintah Finlandia telah menetapkan strategi energi nasional yang
mencakup rencana untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan
beralih sepenuhnya ke sumber energi terbarukan pada tahun 2035. Strategi ini
mencakup langkah-langkah untuk meningkatkan kapasitas energi angin,
bioenergi, dan tenaga surya, serta pengembangan teknologi penyimpanan energi
dan jaringan listrik pintar.
Pokok-Pokok Isi Strategi Energi Nasional 2035:

Target Ambisius Netralitas Karbon, Dimana Finlandia menargetkan
bahwa mencapai netralitas karbon pada tahun 2035, yang berarti emisi gas
rumah kaca akan seimbang dengan penyerapan atau offset yang dihasilkan
dari berbagai inisiatif pengurangan emisi. Selain itu, meningkatkan pangsa
energi terbarukan dalam total konsumsi energi hingga lebih dari 50% pada
tahun 2030, dengan target yang lebih tinggi pada tahun 2035.

Pengembangan Infrastruktur Energi Terbarukan, Memperluas kapasitas
pembangkit listrik dari energi angin dan tenaga surya melalui insentif
investasi,
perizinan
yang
dipermudah,
dan
dukungan teknologi.
Meningkatkan penggunaan bioenergi, terutama dari biomassa, biogas, dan
biofuel, dengan memastikan keberlanjutan sumber daya dan pengelolaan
hutan yang bertanggung jawab. Dan Mendorong pengembangan dan
adopsi hidrogen hijau sebagai sumber energi baru yang dapat digunakan
dalam sektor industri dan transportasi.

Efisiensi Energi, Meningkatkan efisiensi energi di semua sektor, termasuk
industri, transportasi, dan bangunan, melalui adopsi teknologi canggih dan
praktik manajemen energi yang lebih baik. Adanya renovasi dan
pembaharuan bangunan, dimana ada program untuk meningkatkan
efisiensi energi di gedung-gedung, baik komersial maupun perumahan,
termasuk melalui isolasi yang lebih baik, pemanas yang efisien, dan
peningkatan penggunaan energi terbarukan di bangunan.

Dekarbonisasi Sektor Transportasi, Mempercepat elektrifikasi sektor
transportasi dengan mendorong penggunaan kendaraan listrik (EV),
pengembangan infrastruktur pengisian daya, dan dukungan fiskal untuk
pembelian kendaraan ramah lingkungan. Dan Meningkatkan investasi
dalam transportasi publik yang berbasis energi terbarukan, seperti bus
listrik dan kereta api yang menggunakan listrik dari sumber energi bersih.

Peningkatan Teknologi dan Inovasi, Meningkatkan investasi dalam R&D
untuk teknologi energi bersih, termasuk teknologi penyimpanan energi,
smart grid, dan solusi inovatif lainnya untuk mendukung transisi energi.
Dan Menerapkan teknologi digital untuk meningkatkan efisiensi dan
manajemen sistem energi, termasuk penggunaan sensor, analitik data, dan
jaringan listrik pintar (smart grid).

Partisipasi
dan
Keterlibatan
Masyarakat,
Mendorong
partisipasi
masyarakat dan komunitas lokal dalam proyek energi terbarukan, seperti
koperasi energi dan proyek energi skala kecil yang dikelola oleh
komunitas. Dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya
transisi energi melalui kampanye pendidikan dan program dukungan
untuk pengurangan jejak karbon individu dan rumah tangga.

Komitmen Internasional, Yang mana Finlandia berkomitmen untuk
menjadi pemimpin global dalam kebijakan energi dan iklim, bekerja sama
dengan
Uni
Eropa
dan organisasi
internasional
lainnya
untuk
mempercepat aksi iklim global. Dan mendorong ekspor teknologi energi
bersih dan solusi efisiensi energi Finlandia ke pasar internasional sebagai
bagian dari kontribusi global terhadap mitigasi perubahan iklim.
3. Skema Insentif untuk Investasi Energi Angin.
Skema Insentif untuk Investasi Energi Angin di Finlandia adalah bagian dari
upaya pemerintah untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan,
khususnya energi angin. Skema ini dirancang untuk menarik investor dan
mengurangi hambatan finansial dalam pengembangan proyek energi angin, baik
di darat (onshore) maupun di lepas pantai (offshore).
Pokok-pokok isi dari skema insentif untuk Investasi Energi Angin:

Feed-in Tariff (FiT) dan Tarif Premium. Pad Feed-in Tariff (FiT), Skema
ini menyediakan pembayaran tetap untuk setiap kilowatt-jam (kWh) listrik
yang dihasilkan dari turbin angin. Harga tetap ini membantu memastikan
pendapatan yang stabil bagi pengembang proyek energi angin, sehingga
mengurangi risiko finansial. Selain FiT, Finlandia menawarkan tarif
premium bagi proyek-proyek yang menjual listrik ke pasar energi. Tarif
ini memberikan tambahan harga di atas harga pasar untuk listrik yang
dihasilkan, mendorong lebih banyak partisipasi di pasar listrik.

Dukungan Investasi dan Hibah. Pemerintah Finlandia menyediakan
subsidi langsung untuk investasi awal dalam proyek-proyek energi angin.
Subsidi ini mencakup sebagian dari biaya pembangunan dan instalasi
turbin angin, termasuk infrastruktur pendukung seperti jaringan transmisi.
Selain itu, Untuk proyek yang melibatkan pengembangan teknologi baru
atau peningkatan efisiensi, pemerintah menyediakan hibah untuk
penelitian dan pengembangan (R&D). Hibah ini dapat digunakan untuk
inovasi teknologi angin, termasuk peningkatan desain turbin dan efisiensi
operasional.

Pengurangan Pajak. Instalasi turbin angin dapat menerima pengurangan
pajak properti, yang secara signifikan mengurangi biaya operasional
jangka panjang bagi investor. Hal ini berlaku baik untuk proyek-proyek
onshore maupun offshore. Selain itu, Kredit pajak diberikan untuk
investasi dalam teknologi dan infrastruktur energi angin, yang dapat
digunakan untuk mengurangi beban pajak penghasilan perusahaan yang
terlibat dalam proyek ini.

Perizinan. Finlandia telah menyederhanakan dan mempercepat proses
perizinan untuk proyek energi angin. Ini termasuk izin lingkungan dan
konstruksi yang lebih cepat
serta pengurangan birokrasi,
yang
memungkinkan proyek untuk dimulai lebih cepat. Selain itu, Pemerintah
telah mengidentifikasi dan menetapkan zona-zona khusus yang ideal
untuk pengembangan ladang angin, baik di darat maupun di lepas pantai.
Ini memudahkan investor dalam memilih lokasi yang sesuai dan
memastikan minimnya konflik dengan penggunaan lahan lainnya.

Kolaborasi Publik-Swasta. Pemerintah mendorong kemitraan publikswasta (PPP) untuk proyek energi angin, di mana risiko dan manfaat dapat
dibagi antara pemerintah dan sektor swasta. Model ini memberikan
jaminan tambahan bagi investor dengan melibatkan pemerintah sebagai
mitra dalam proyek. Lembaga keuangan publik di Finlandia, seperti
Finnvera (agensi kredit ekspor), menawarkan dukungan finansial berupa
pinjaman dengan bunga rendah dan jaminan kredit untuk proyek-proyek
energi angin.

Dukungan untuk Komunitas Lokal. Proyek energi angin di Finlandia
sering kali mencakup komponen yang memberikan manfaat langsung
kepada komunitas lokal, seperti pengembangan infrastruktur lokal,
peningkatan ekonomi lokal, dan peluang pekerjaan. Selain itu, Pemerintah
mendukung proyek-proyek di mana komunitas lokal dapat memiliki
saham atau menerima bagian dari pendapatan dari ladang angin,
menciptakan insentif untuk mendukung pengembangan energi angin di
daerah mereka.
4. Program Pengembangan Bioekonomi.
Finlandia mempromosikan penggunaan biomassa sebagai sumber energi
melalui program bioekonomi nasional. Program ini mencakup kebijakan yang
mendukung peningkatan produksi dan penggunaan bioenergi, seperti subsidi
untuk pembangkit listrik tenaga biomassa dan insentif untuk penggunaan limbah
hutan sebagai bahan baku energi.
Program Pengembangan Bioekonomi di Finlandia adalah inisiatif strategis
yang bertujuan untuk memanfaatkan sumber daya biologis dan proses
bioteknologi dalam upaya menciptakan ekonomi yang lebih berkelanjutan, ramah
lingkungan, dan inovatif. Program ini memfokuskan pada penggunaan biomassa,
limbah organik, dan produk turunan biologis untuk menghasilkan energi, bahan
bakar, bahan kimia, dan produk lainnya, sekaligus mendorong pertumbuhan
ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
Pokok-Pokok Isi Program Pengembangan Bioekonomi di Finlandia:

Peningkatan Pemanfaatan Biomassa. Program ini mempromosikan
penggunaan biomassa dari hutan, pertanian, dan limbah industri sebagai
bahan baku utama. Finlandia memiliki sumber daya hutan yang
melimpah, dan program ini berfokus pada pemanfaatan kayu dan residu
hutan secara berkelanjutan untuk menghasilkan energi dan produk biobased lainnya. Semua aktivitas yang melibatkan pemanfaatan biomassa
harus memenuhi standar keberlanjutan yang ketat, memastikan bahwa
eksploitasi
sumber
daya
alam
tidak
merusak
ekosistem
atau
keanekaragaman hayati.

Pengembangan Bioenergi dan Bahan Bakar Bio. Program ini mendukung
produksi bioenergi, seperti biogas dan biofuel, yang dihasilkan dari
limbah organik dan biomassa. Ini termasuk dukungan untuk pembangkit
listrik tenaga biomassa dan pabrik biofuel. Fokus juga diberikan pada
pengembangan biofuel generasi kedua dan ketiga, yang dibuat dari bahan
baku non-pangan, seperti lignoselulosa, untuk mengurangi persaingan
dengan produksi pangan.

Inovasi dalam Bioteknologi. Pemerintah Finlandia berinvestasi dalam
R&D untuk mengembangkan teknologi bioteknologi baru yang dapat
meningkatkan
efisiensi
proses
produksi
bio,
seperti
fermentasi,
pengolahan enzimatik, dan pemanfaatan mikroorganisme. Program ini
mendorong pengembangan produk berbasis bio, seperti bioplastik, bahan
kimia ramah lingkungan, dan material komposit yang dapat menggantikan
bahan berbasis fosil dalam industri manufaktur dan kimia.

Dukungan Finansial dan Insentif. Pemerintah menyediakan subsidi dan
hibah untuk proyek-proyek bioekonomi, termasuk investasi awal,
penelitian, dan pengembangan teknologi baru. Program ini menawarkan
kredit pajak untuk perusahaan yang berinvestasi dalam teknologi dan
proyek bioekonomi, mendorong sektor swasta untuk berpartisipasi dalam
pengembangan ekonomi berbasis bio.

Pendidikan dan Pelatiha. Program ini mencakup inisiatif pendidikan dan
pelatihan untuk meningkatkan keterampilan tenaga kerja dalam sektor
bioekonomi,
termasuk
pelatihan
teknis
di
bidang
bioteknologi,
manajemen sumber daya alam, dan pengelolaan lingkungan. Mendorong
kolaborasi antara universitas, lembaga penelitian, dan industri untuk
menciptakan program pendidikan yang relevan dengan kebutuhan
bioekonomi.

Keberlanjutan dan Lingkungan. Salah satu fokus utama adalah
pengelolaan limbah secara efisien untuk mengurangi dampak lingkungan
dan memanfaatkan limbah organik sebagai sumber bahan baku bio.
Program ini memastikan bahwa pengembangan bioekonomi tidak
mengorbankan kelestarian ekosistem, dengan menerapkan praktik-praktik
pengelolaan hutan yang berkelanjutan dan meminimalkan dampak
lingkungan dari kegiatan produksi.

Ekspor Teknologi dan Produk. Program ini mendorong ekspor teknologi
bioekonomi dan produk bio-based Finlandia ke pasar internasional, serta
memperkuat posisi Finlandia sebagai pemimpin global dalam bioekonomi.
5. Skema Sertifikat Energi Terbarukan (Renewable Energy Certificate Scheme).
Finlandia memiliki sistem sertifikasi untuk energi terbarukan, di mana
produsen energi terbarukan dapat menjual sertifikat yang menunjukkan bahwa
energi yang mereka hasilkan berasal dari sumber terbarukan. Sertifikat ini dapat
diperdagangkan, sehingga menciptakan pasar untuk energi hijau dan mendorong
lebih banyak investasi di sektor ini. Skema ini telah menjadi mekanisme yang
populer di banyak negara, termasuk Finlandia, untuk mendorong pengembangan
dan pemanfaatan energi terbarukan.
Ketika pembangkit listrik menghasilkan energi dari sumber terbarukan
(seperti angin, matahari, atau air), mereka mendapatkan sertifikat yang sesuai
dengan jumlah energi yang dihasilkan. Perusahaan listrik (utility) diwajibkan
untuk membeli sejumlah tertentu REC untuk membuktikan bahwa sebagian dari
listrik yang mereka jual berasal dari sumber terbarukan.
Sertifikat ini dapat diperdagangkan di pasar sertifikat, di mana produsen
energi terbarukan dapat menjualnya kepada konsumen atau perusahaan yang
ingin memenuhi kewajiban energi terbarukan atau target keberlanjutan mereka.
Kebijakan utama energi dan iklim:
Efisiensi energi merupakan pilar strategi Finlandia untuk mencapai netralitas karbon
pada tahun 2035, menurunkan tagihan energi, melindungi konsumen yang rentan, dan
meningkatkan keamanan energi. Karena industri menyumbang lebih dari setengah
permintaan energi, perjanjian efisiensi energi dengan rencana aksi khusus untuk sektor
industri diharapkan dapat mencapai jumlah penghematan tertinggi dari tahun 2021
hingga 2030. Di sektor bangunan, peralihan bahan bakar dari minyak ke solusi pemanas
yang lebih efisien mendorong peningkatan efisiensi pemanas. Finlandia adalah pemimpin
dunia dalam penjualan pompa panas. Pemanasan distrik (DH) memainkan peran penting
di negara ini, dan pasokannya beralih dari bahan bakar fosil menuju bioenergi dan panas
buangan. Finlandia juga merupakan pemimpin dunia dalam pengembangan solusi
penyimpanan termal, yang memberikan fleksibilitas pada jaringan DH tetapi juga pada
sektor kelistrikan, berkat integrasi sektor. Di sektor transportasi, kinerja mobil
penumpang telah meningkat dan jumlah kendaraan listrik (EV) meningkat sekitar dua
kali lipat setiap tahun dari tahun 2012 hingga 2021. Ke depannya, Finlandia bermaksud
untuk tidak meningkatkan permintaan energi dari sektor industri sambil meningkatkan
nilai tambahnya, meningkatkan porsi pemanas ruangan dari sumber non-pembakaran
secara signifikan, dan melakukan elektrifikasi armada transportasi dengan target yang
ambisius untuk tahun 2030.
NCES Finlandia dan dokumen kebijakan utama lainnya menunjukkan bahwa
peningkatan yang kuat dalam energi terbarukan diperlukan untuk memenuhi tujuan
netralitas iklim 2035. Sebagian besar pertumbuhan dalam pembangkitan listrik
terbarukan diharapkan berasal dari pembangkitan angin di darat, bersama dengan
pengembangan pertanian lepas pantai skala besar pertama di Finlandia. Tenaga surya
fotovoltaik, yang sejauh ini hanya merupakan sumber pembangkitan yang kecil, juga
diharapkan akan meningkat pesat penggunaannya. Bahan bakar kayu diharapkan akan
memainkan peran utama dalam mengurangi permintaan bahan bakar fosil dalam waktu
dekat, tetapi dalam jangka panjang, pemerintah ingin beralih ke sistem pemanas dan
pendingin yang berbasis pada teknologi non-pembakaran (pompa panas, pemulihan
panas buang, dan panas bumi). Peningkatan penggunaan energi terbarukan oleh
kendaraan penumpang terutama didorong oleh kewajiban biofuel dan, pada tingkat yang
lebih kecil, adopsi kendaraan listrik. Pemerintah melihat hidrogen rendah emisi dan
bahan bakar berbasis hidrogen sebagai solusi yang lebih baik daripada elektrifikasi
langsung untuk transportasi jalan raya berat, transportasi laut, dan penerbangan. Ada juga
dorongan penting untuk meningkatkan produksi biometana untuk digunakan dalam
transportasi dan pemanasan.
Kebijakan energi dan iklim Finlandia difokuskan pada pencapaian netralitas karbon
pada tahun 2035 dengan tetap memastikan keamanan energi, mengurangi ketergantungan
impor energi, mendorong ekonomi berkelanjutan, dan melindungi keanekaragaman
hayati. Undang-Undang Perubahan Iklim Finlandia diperbarui pada bulan Juli 2022
dengan kewajiban hukum untuk mencapai netralitas karbon pada tahun 2035. Untuk
mendukung kewajiban ini, Undang-Undang tersebut menetapkan target yang mengikat
untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK), tidak termasuk penggunaan lahan,
perubahan penggunaan lahan, dan kehutanan (LULUCF) sebesar 60% pada tahun 2030,
80% pada tahun 2040, dan 90-95% pada tahun 2050. Undang-Undang tersebut juga
mengharuskan pengembangan beberapa dokumen yang mendefinisikan langkah-langkah
khusus untuk mencapai target tersebut.
Finlandia telah membuat kemajuan penting dalam bergerak menuju netralitas
karbon. Negara ini telah memasang reaktor nuklir baru pertama di Eropa dalam lebih dari
15 tahun, yang mulai beroperasi penuh pada 16 April 2023, dan telah mengalami
pertumbuhan yang kuat dalam pembangkitan tenaga angin darat. Namun, masih ada
tantangan penting yang harus dihadapi. Bahan bakar fosil yang diimpor masih
menyumbang lebih dari sepertiga pasokan energi Finlandia dan beberapa bidang
ekonomi, seperti transportasi dan kegiatan industri utama, masih bergantung padanya.
Selain itu, meskipun LULUCF secara historis telah mengimbangi sejumlah besar emisi
GRK, telah terjadi tren penurunan dalam penghapusan karbon dari LULUCF sejak 2010.
Pada tahun 2021, untuk pertama kalinya, sektor tata guna lahan menjadi sumber bersih
emisi GRK.
F. Peran dalam kerja sama internasional
1. Kerjasama Finlandia-Indonesia Mengenai Energi Terbarukan (Biomassa) Tahun
2011-2014
Program Kerjasama dengan Pemerintah Finlandia di bidang energi dan
lingkungan melalui Program Energy and Environment Partnership with Indonesia
(EEP Indonesia), adalah sebuah program kerjasama yang didanai oleh
Kementerian Luar Negeri Finlandia (MFA) dan bekerja sama dengan Direktorat
Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (DJEBTKE),
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Republik Indonesia.
Finlandia
menandatangani
kerjasama
bilateral
dalam
rangka
mempromosikan energi baru terbarukan, efisiensi energi, dan investasi teknologi
bersih di Indonesia.Perjanjian ditandatangani oleh Direktur Jenderal Energi Baru
Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE), Luluk Sumiarso dengan
Duta Besar Finlandia Kai Sauer. Program kerjasama ini disebut Energy and
Environment Partnership (EEP) yang bertujuan mengurangi emisi gas rumah
kaca dan mengurangi dampak perubahan iklim dengan menyediakan energi yang
modern, dapat diakses, dan dapat diandalkan di daerah pedesaan serta dalam
penggunaannya di sektor industri.
Finlandia mengajukan kerjasama dengan menghibahkan 4 juta Euro di
bidang PLT biomassa di Prop. Kalteng dan Riau, dan Korea Selatan juga
bekerjasama di bidang PLT biomassa di Gorontalo. Jepang (NEDO) tertarik
membangun pabrik bioetahunanol dari tetes di Mojokerto, Jatim. Rusia dan
Australia tertarik mengembangkan PLT biomassa (jerami+sekam padi) di Sergai,
Sumut, sedangkan China tertarik menggunakan limbah cangkang kelapa
sawit.Rusia juga tertarik mengembangkan EBT lainnya termasuk nuklir &
batubara. Estonia tertarik mengembangkan pasir minyak dan biomassa. Denmark
mendukung program efisiensi dan konservasi energi di Indonesia dengan
memberikan dana US$10juta untuk program 4 tahun.
2. Peran IEA Mengatasi Krisis Energi
IEA didirikan pada tahun 1974 untuk memastikan keamanan pasokan
minyak. Keamanan energi tetap menjadi inti dari misi kami, tetapi IEA sekarang
memiliki mandat yang lebih luas untuk fokus pada serangkaian masalah energi,
termasuk perubahan iklim dan pengurangan karbon, ketersediaan dan efisiensi
energi, investasi dan inovasi, serta memastikan sistem energi yang andal,
terjangkau dan berkelanjutan.
Anggota pendiri IEA adalah Austria, Belgia, Kanada, Denmark, Jerman,
Irlandia, Italia, Jepang, Luksemburg, Belanda, Norwegia, Spanyol, Swedia,
Swiss, Turki, Inggris, dan Amerika Serikat. Yunani (1976), Selandia Baru (1977),
Australia (1979), Portugal (1981), Finlandia (1992), Prancis (1992), Hungaria
(1997), Republik Ceko (2001), Republik Korea (2002) diikuti. ., Republik
Slovakia (2007), Polandia (2008), Estonia (2014) dan Meksiko (2018) dan
Lituania (2022).
Sebagai salah satu anggota IEA, peran Finlandia dalam upaya kolektif IEA
untuk mengatasi dampak dari krisis energi ini:
1) Diversifikasi Sumber Energi
Finlandia, bersama dengan negara-negara anggota IEA lainnya,
berupaya keras untuk mengurangi ketergantungan pada impor energi
dari Rusia. Ini termasuk mencari sumber alternatif energi, seperti
impor gas alam cair (LNG) dari negara-negara lain, serta
peningkatan penggunaan energi terbarukan. Selain itu, Finlandia
berinvestasi dalam infrastruktur energi baru yang memungkinkan
diversifikasi sumber energi. Ini termasuk pengembangan terminal
LNG dan koneksi jaringan listrik yang lebih baik dengan negaranegara tetangga.
2) Peningkatan Kapasitas Energi Terbarukan
Dalam konteks krisis energi, Finlandia meningkatkan investasi
dalam energi terbarukan seperti angin, surya, dan bioenergi untuk
mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan meningkatkan
ketahanan energi nasional. Selain itu, Finlandia bekerja sama
dengan
IEA
dalam
program-program
yang
mendukung
pengembangan energi terbarukan dan teknologi penyimpanan
energi, yang penting untuk memastikan pasokan energi yang stabil
dan berkelanjutan.
3) Partisipasi dalam Upaya Kolektif IEA
Sebagai anggota IEA, Finlandia berpartisipasi dalam koordinasi
tindakan darurat yang dilakukan oleh IEA untuk menstabilkan pasar
energi global, termasuk rilis cadangan minyak strategis untuk
menyeimbangkan pasar dan mencegah lonjakan harga yang
berlebihan. Selain itu, Finlandia berperan dalam berbagi informasi
dan strategi dengan negara-negara anggota IEA lainnya, termasuk
best practices dalam pengelolaan krisis energi dan peningkatan
efisiensi energi.
4) Pengembangan Teknologi Energi Baru
Finlandia mendorong pengembangan dan adopsi teknologi baru
yang dapat membantu mengatasi krisis energi. Ini termasuk
teknologi untuk meningkatkan efisiensi energi, pengurangan emisi,
dan pengembangan infrastruktur energi bersih. Dan Finlandia
mendukung penelitian dan pengembangan global di sektor energi,
termasuk inisiatif IEA yang bertujuan untuk mempercepat inovasi
dalam energi bersih dan efisiensi energi.
3. Anggota Aktif Organisasi Internasional
1) International Renewable Energy Agency (IRENA). Finlandia adalah
anggota aktif IRENA, sebuah organisasi yang berfokus pada
pengembangan energi terbarukan di seluruh dunia. Finlandia
berpartisipasi dalam proyek-proyek IRENA, berbagi teknologi dan
pengalaman
dalam
pengembangan
energi
terbarukan,
mendukung upaya global untuk transisi ke energi bersih.
serta
2) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Finlandia adalah anggota PBB
sejak 1955 dan aktif dalam berbagai badan dan program PBB,
termasuk Dewan Keamanan (sebagai anggota tidak tetap), Program
Pembangunan PBB (UNDP), dan Komisi Hak Asasi Manusia.
Finlandia
terlibat
dalam
misi
perdamaian,
pengembangan
keberlanjutan, dan upaya pengurangan kemiskinan di seluruh dunia.
3) Uni Eropa (UE). Finlandia menjadi anggota Uni Eropa sejak 1995
dan aktif dalam pembuatan kebijakan UE, termasuk dalam isu-isu
ekonomi, lingkungan, hak asasi manusia, dan kebijakan luar negeri.
Sebagai anggota UE, Finlandia mempengaruhi kebijakan di bidang
energi terbarukan, perubahan iklim, dan keamanan regional. Sebagai
anggota Uni Eropa, Finlandia bekerja sama dalam pengembangan
kebijakan energi dan iklim yang ambisius, termasuk target energi
terbarukan dan pengurangan emisi karbon. Finlandia berkontribusi
dalam pengembangan dan implementasi European Green Deal, yang
bertujuan untuk membuat Eropa netral karbon pada tahun 2050.
Finlandia berpartisipasi dalam program penelitian dan inovasi Uni
Eropa seperti Horizon 2020 dan Horizon Europe, yang mendukung
pengembangan teknologi energi terbarukan, efisiensi energi, dan
inovasi dalam transisi energi.
4) Organisasi Perjanjian Atlantik Utara (NATO). Pada 2023, Finlandia
menjadi
anggota
penuh
NATO.
Sebelumnya,
negara
ini
berpartisipasi dalam program "Partnership for Peace" dan bekerja
sama dengan NATO dalam keamanan dan pertahanan. Finlandia
berkontribusi dalam pertahanan kolektif, terutama di kawasan Baltik
dan Arktik, serta dalam operasi perdamaian internasional.
5) Organisasi Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (OECD).
Sebagai anggota OECD, Finlandia terlibat dalam diskusi dan
penelitian mengenai kebijakan ekonomi, pendidikan, dan inovasi.
Finlandia berperan dalam pengembangan kebijakan ekonomi yang
mendukung inklusi sosial dan pertumbuhan berkelanjutan.
6) Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Finlandia adalah anggota
WTO dan terlibat dalam negosiasi perdagangan internasional.
Finlandia mempromosikan perdagangan bebas yang adil dan
mendukung reformasi dalam sistem perdagangan internasional.
7) Dewan Nordik. Sebagai bagian dari Dewan Nordik, Finlandia
bekerja sama dengan negara-negara Nordik lainnya dalam isu-isu
regional seperti energi, lingkungan, dan keamanan. Finlandia
berperan dalam pengembangan kebijakan regional yang mendukung
keberlanjutan dan integrasi energi terbarukan di kawasan Nordik.
Finlandia bekerja sama dengan negara-negara Nordik lainnya
(Swedia, Norwegia, Denmark, Islandia) dalam pengembangan
energi terbarukan dan integrasi pasar energi regional. Inisiatif ini
termasuk pengembangan jaringan listrik yang terintegrasi untuk
memaksimalkan penggunaan energi terbarukan di kawasan tersebut.
Finlandia terlibat dalam Nordic Energy Research, sebuah platform
kerja sama penelitian energi di kawasan Nordik, yang mendukung
proyek-proyek energi terbarukan dan solusi energi berkelanjutan.
4. Kerja Sama Bilateral
1) Kolaborasi dengan Rusia. Finlandia memiliki kerja sama dengan Rusia
dalam
pengembangan
energi
terbarukan,
khususnya
di
wilayah
perbatasan. Kolaborasi ini mencakup proyek-proyek untuk meningkatkan
efisiensi energi dan pengembangan energi terbarukan di wilayah yang
berbatasan dengan Rusia.
2) Kerja Sama dengan China. Finlandia juga menjalin kerja sama dengan
China untuk pengembangan teknologi energi bersih dan terbarukan,
termasuk dalam bidang bioenergi dan teknologi penyimpanan energi.
G. Tantangan dan Solusi
Tantangan :
1. Finlandia mengalami keterbatasan dalam potensi energi surya karena musim
dingin yang panjang dan jumlah sinar matahari yang rendah selama beberapa
bulan.
2. Proyek energi terbarukan skala besar, seperti ladang angin, dapat memiliki
dampak lingkungan lokal, termasuk pada habitat dan ekosistem.
3. Pengembangan infrastruktur energi terbarukan seringkali memerlukan investasi
awal yang tinggi, yang bisa menjadi hambatan untuk implementasi lebih lanjut.
4. Teknologi energi terbarukan seringkali memiliki biaya investasi awal yang tinggi,
meskipun biaya operasionalnya lebih rendah dalam jangka panjang.
Solusi :
1. Meskipun energi surya kurang optimal selama musim dingin, solusi seperti
integrasi sistem penyimpanan energi dan penggunaan teknologi solar thermal
dapat memaksimalkan potensi energi surya selama bulan-bulan dengan sinar
matahari. Selain itu, pengembangan teknologi energi terbarukan lainnya seperti
energi angin dan biomassa dapat menutupi kekurangan energi surya.
2. Melakukan studi dampak lingkungan yang komprehensif sebelum memulai
proyek dan menerapkan langkah-langkah mitigasi untuk meminimalkan dampak
negatif. Pengembangan proyek yang lebih kecil dan terdistribusi juga bisa
menjadi alternatif untuk mengurangi dampak lingkungan.
3. Finlandia dapat mencari cara untuk mengurangi biaya investasi awal melalui
insentif pemerintah, subsidi, dan skema pembiayaan inovatif seperti proyek
kerjasama publik-swasta. Pengembangan teknologi yang lebih efisien dan biaya
rendah juga dapat membantu menurunkan biaya investasi.
4. Finlandia dapat mencari cara untuk mengurangi biaya investasi awal melalui
insentif pemerintah, subsidi, dan skema pembiayaan inovatif seperti proyek
kerjasama publik-swasta. Pengembangan teknologi yang lebih efisien dan biaya
rendah juga dapat membantu menurunkan biaya investasi.
5. Mengembangkan rencana darurat untuk mencapai target emisi nol bersih tahun
2035 jika sektor LULUCF gagal menyediakan penyerap karbon yang dibutuhkan.
6. Pastikan bahwa tindakan sementara yang diambil dalam menanggapi guncangan
harga energi tidak merusak sinyal untuk keputusan dan investasi energi bersih
jangka panjang.
7. Mendukung peningkatan penyebaran penyimpanan energi untuk mempercepat
integrasi energi terbarukan dan meningkatkan ketahanan dan fleksibilitas jaringan
listrik dan jaringan pemanas.
8. -Mempercepat penggunaan kendaraan listrik dengan rencana yang jelas untuk
memperluas infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik. Mendukung
peningkatan tingkat perputaran kendaraan dengan mengutamakan kendaraan
listrik sekaligus mendorong lebih sedikit penggunaan dan kepemilikan kendaraan
pribadi dengan meningkatkan infrastruktur untuk transportasi umum, berjalan
kaki, dan bersepeda.
9.
Siapkan peta jalan tenaga angin lepas pantai yang menetapkan aturan yang jelas
dan target serta jadwal yang ambisius untuk penerapannya. Insentif harus
dipertimbangkan jika diperlukan.
10. -Menilai apakah tindakan tambahan diperlukan untuk mengurangi konsumsi
minyak lebih lanjut guna mencapai target tahun 2030 untuk mengurangi emisi
transportasi sebesar 50% dibandingkan tahun 2005.
H. Partisipasi Citizen Group terhadap EBT di Finlandia
1. Masyarakat Adat
Partisipasi
masyarakat
adat,
khususnya
masyarakat
Sámi,
dalam
pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di Finlandia merupakan aspek
penting dari upaya negara tersebut untuk mencapai tujuan energi bersih dan
berkelanjutan. Masyarakat Sámi memiliki hubungan erat dengan lingkungan
alam dan sangat bergantung pada sumber daya alam untuk mempertahankan gaya
hidup tradisional mereka. Berikut adalah cara partisipasi masyarakat adat Sámi
dalam EBT di Finlandia:

Konsultasi dan Pengambilan Keputusan. Pemerintah Finlandia
memiliki kewajiban untuk berkonsultasi dengan masyarakat Sámi
terkait proyek-proyek EBT yang berpotensi mempengaruhi tanah
tradisional mereka. Proses ini bertujuan untuk memastikan bahwa
proyek tersebut tidak merugikan kehidupan, budaya, dan lingkungan
masyarakat Sámi. Masyarakat Sámi terlibat dalam diskusi dan
pengambilan keputusan mengenai pengembangan proyek EBT. Ini
termasuk evaluasi dampak lingkungan yang mempertimbangkan
kepentingan dan hak-hak masyarakat adat.

Pelestarian Budaya dan Lingkungan. Masyarakat Sámi menekankan
pentingnya menjaga keseimbangan ekologi di wilayah mereka.
Pengembangan
EBT
harus
dilakukan
dengan
cara
yang
mempertimbangkan kelestarian lingkungan serta tidak mengganggu
aktivitas tradisional seperti penggembalaan rusa dan perikanan.
Sámi mendorong pendekatan berkelanjutan dalam pengembangan
EBT,
yang
sejalan
dengan
prinsip-prinsip
mereka
untuk
melestarikan alam dan budaya mereka.

Inisiatif Energi Terbarukan Berbasis Komunitas. Beberapa inisiatif
EBT di wilayah Sámi melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat
adat dalam perencanaan dan pengelolaan proyek. Ini termasuk
proyek energi angin atau bioenergi yang dirancang untuk memenuhi
kebutuhan lokal sambil melindungi lingkungan. Partisipasi dalam
proyek EBT berbasis komunitas memungkinkan masyarakat Sámi
untuk mendapatkan manfaat ekonomi langsung, seperti lapangan
kerja dan pendapatan, sekaligus mempertahankan kendali atas
penggunaan tanah mereka.

Kerja Sama dan Advokasi. Masyarakat Sámi bekerja sama dengan
pemerintah dan perusahaan energi untuk memastikan bahwa proyek
EBT dikembangkan dengan cara yang adil dan berkelanjutan. Kerja
sama ini mencakup negosiasi yang mempertimbangkan dampak
sosial, ekonomi, dan lingkungan. Selain upaya di tingkat nasional,
masyarakat
Sámi
juga
berpartisipasi
dalam
forum-forum
internasional untuk mengadvokasi hak-hak mereka dalam konteks
perubahan iklim dan pengembangan energi terbarukan.
2. NGO
Greenpeace Finlandia, WWF Finlandia, dan Friends of the Earth adalah tiga
NGO yang memainkan peran penting dalam pengembangan energi baru
terbarukan (EBT) di Finlandia. Meskipun mereka memiliki tujuan umum yang
sama dalam mempromosikan energi bersih dan berkelanjutan, pendekatan dan
fokus mereka dapat berbeda. Berikut adalah perbedaan dan persamaan dalam
peran mereka:

Greenpeace Finlandia. Greenpeace dikenal karena pendekatan
langsung dan proaktif mereka dalam kampanye lingkungan,
termasuk aksi langsung dan demonstrasi untuk menekan perubahan
kebijakan dan industri. Greenpeace sering mengaitkan kampanye
mereka dengan isu-isu global dan mendukung transisi energi
terbarukan sebagai bagian dari perjuangan lebih luas melawan
perubahan iklim.

WWF Finlandia. WWF sering bekerja dalam kerangka kemitraan
dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah, industri, dan
komunitas lokal, untuk mengembangkan solusi energi yang
berkelanjutan.
WWF
menekankan
pentingnya
keberlanjutan
ekosistem dalam pengembangan energi terbarukan, memastikan
bahwa proyek energi tidak hanya bersih tetapi juga tidak merusak
habitat dan spesies lokal.

Friends of the Earth Finlandia. Friends of the Earth sering
menggabungkan
isu
lingkungan
dengan
keadilan
sosial,
menekankan bagaimana transisi energi harus adil dan inklusif bagi
semua lapisan masyarakat. Mereka lebih banyak memfokuskan pada
bagaimana kebijakan energi dan proyek energi terbarukan dapat
mempengaruhi masyarakat lokal, termasuk dampak sosial dan
ekonomi dari transisi energi.
Referensi:

International Energy Agency (IEA). (2022). Finland 2022: Energy Policy Review.

Statistics Finland. (2023). Energy Production and Consumption in Finland.

Astria R.Tobing. 2014. Kerjasama Finlandia-Indonesia Mengenai Energi Terbarukan
(Biomassa) Tahun 2011-2014. Jom FISIP Volume 1 No. 2 Oktober 2014

Nurhidayat Mahmuddin, Agussalim Burhanuddin.2024. Peran IEA (International Energy
Agency) Dalam Mengatasi Krisis Energi Sebagai Dampak Perang Rusia-Ukraina.
POLITEIA: Jurnal Ilmu Politik, Vol.16, No.01 (2024) 38-43

State Treasury Republic of Finland. 2022. Debt Management Annual Review 2022
Download