Uploaded by alfri saifuddin

Makalah Ust Yasir URGENSI AQIDAH DALAM KEHIDUPAN MUSLIM

advertisement
URGENSI AQIDAH DALAM KEHIDUPAN MUSLIM
DIAJUKAN KEPADA:
Ust. DR. Makhful, M.Ag.
NAMA MAHASISWA: YASIR ABDUL RAHMAN
NO. MAHASISWA: 2220601030
PROGRAM MAGISTER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS PASCASARJANA
UNIVERSITAS MUHAMADIYAH PURWOKERTO
2023
1. PENDAHULUAN
Salah satu ciri khas dari Agama Islam ialah peletakan aspek Aqidah dalam
bagian pertama dan menentukan dalam keislaman seseorang. Aqidah dijadikan
Allah SWT sebagai pengikat bagi setiap orang yang menyatakan dirinya muslim
agar konsekuen dan konsisten dengan ikrar syahadat yang diucapkannya berkalikali dalam sehari untuk cinta, tunduk, patuh, setia dan rela dikuasai sepenuhnya
oleh satu Tuhan yang benar yaitu Allah SWT, dan menolak semua bentuk
penuhanan kepada selain Allah SWT. Ketundukan yang murni (Ikhlas) akan diberi
balasan berupa surga di akhirat, dan kemerdekaan serta kebebasan hakiki di
dunia karena tidak berada dalam kungkungan tuhan-tuhan kecil dalam segala
macam wujudnya yang memberi kesempitan hidup.
Ketundukan seseorang akan dibuktikan dan diimplementasikan dengan
cara menjalani syariat (seperangkat aturan Ilahiyyah dalam ibadah dan
mu’amalah), yang merupakan jalan tunggal menuju kembali ke rumah orang tua
seluruh ummat manusia Adam yaitu Surga. Namun Syariat juga merupakan jalan
indah yang menyebabkan manusia mendapatkan kedamaian, ketentraman dan
kebahagiaan dunia, karena syariat dibuat oleh Allah yang memiliki segala
kemuliaan dan kasih sayang kepada makhluk-Nya. Dengan landasan syariat
tersebut manusia akan mencapai tujuan akhir kehidupan berupa akhlaqul
karimah, sebagai puncak penghambaan diri.
Sebagai titik tolak dari berIslam, maka akidah menentukan keIslaman
seseorang dengan segala amaliyahnya bisa diterima atau tidak. Karena
melaksakan syariat tanpa dilandasi dengan dalil Qur’ani dan Hadits, terkategori
sebagai pelanggaran akidah. Apalagi bila seorang Muslim kemudian melakukan
kesyirikan besar, maka semua ibadahnya akan tertolak. Sementara seseorang
yang tidak terkontaminasi akidahnya dengan kesyirikan, akan tetap mendapatkan
bagian dari surga, meski dengan memperhitungkan dosa-dosa selain syirik yang
dilakukan, sehingga ada kalanya harus disiksa terlebih dahulu karena dosadosanya tersebut.
Berpijak dari argumentasi diatas maka memahami akidah yang benar
secara lengkap dalam berIslam memiliki urgensi yang sangat besar, karena akidah
berkenaan dengan komitmen ketundukan seorang muslim untuk mengikuti
agama Allah SWT secara murni. Ketundukan itu merupakan kesepakatannya
dengan Allah SWT yang perlu pembuktian dengan mengamalkan syariat-Nya.
Sementara itu fakta empiris menunjukkan bahwa akidah merupakan
bagian dari ajaran Islam yang banyak tidak diketahui dengan baik oleh kaum
muslimin saat ini, kecuali pada aspek formalnya saja. Malahan tidak sedikit yang
hanya tahu akidah melalui pewarisan informasi secara turun menurun yang
kadang menyimpang jauh dari ajaran Islam yang sebenarnya. Padahal akidah
pada akhirnya merupakan pertaruhan nasib seorang Muslim kelak di akhirat.
Artikel ini akan membahas urgensi akidah bagi seorang Muslim, sehingga harus
diilmui dengan baik agar bisa selamat di dunia dan akhirat.
2. DEFINISI AKIDAH
Akidah berasal dari Bahasa Arab al-‘aqdu yang berarti ikatan, at-tautsiqu
yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-ihkamu yang artinya
mengokohkan (menetapkan), dan ar-rabthu biquwwah yang berarti mengikat
dengan kuat. Prof. Hasbi Ash-shiddieqy mengemukakan bahwa Aqidah menurut
bahasa ialah: “Sesuatu yang dipegang teguh dan terhunjam kuat didalam lubuk
jiwa dan tak dapat beralih daripadanya”. Menurut Abu Bakar Jabir al-Jazairy
akidah adalah “sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum oleh
manusia berdasarkan akal, wahyu, dan fitrah”. Kebenaran itu dipatrikan di dalam
hati dan diyakini kesahihan dan keberadaannya secara pasti, dan ditolak segala
sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu.
Dengan demikian melalui keyakinannya seseorang yang berakidah akan
mengurbankan segala yang dimilikinya untuk sesuatu yang diyakininya sebagai
suatu kebenaran. Dalam agama Islam seseorang dianggap telah berakidah saat
seorang muslim mengikatkan dirinya dengan Islam melalui ucapan dua kalimah
syahadat dan mengamalkan segala konsekuensi dari berakidah tersebut seperti
mengerjakan syariat Islam dengan penuh kesadaran secara konsisten.
Perjuangan Rasulullah dan para sahabat dalam dakwah Islamiyyah di era
Makkah membuktikan akan makna akidah di atas. Sahabat Yasir dan Istrinya
harus mati disiksa dalam mempertahankan akidahnya. Juga Bilal bin Rabah yang
disiksa hingga nyaris tewas oleh Tuannya sendiri karena tidak henti mengucapkan
kalimat “ahad”. Demikian pula tekanan demi tekanan yang sangat kejam di era
Makkah terus berlanjut dengan pertempuran demi pertempuran di era Madinah
antara kaum muslimin dengan tradisionalis Quraisy tidak lain adalah dalam
rangka membela akidah yang sangat kuat yang dishare bersama oleh Rasulullah
SAW beserta kaum muslimin. Bahkan dakwah akidah terus berlanjut di
penghujung era Rasulullah SAW hingga para khulafaur Rasyidin, tabi’in dan tabit
tabi’in hingga ke negeri-negeri Eropa, Afrika dan Asia.
3. URGENSI BERAKIDAH BAGI SEORANG MUSLIM
Urgensi berakidah bisa dijelaskan oleh sumber akidah yang utama yakni
Al-Quran dan Hadits. Allah SWT berfirman:
‫وما خلقت الجن واالنس اال ليعبدون‬
Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada ku
(QS. 51 Adz-Dzariyat 56)
Dari dalil tersebut didapat informasi bahwa kepasrahan diri kepada Allah SWT
dengan menghambakan diri bersifat mutlak untuk bisa mendapatkan jaminan
keselamatan abadi dari pemilik dunia dan akhirat. Hal itu tersirat dari tujuan
penciptaan manusia yang dijelaskan oleh Allah SWT. Dalam surat al-A’raf 172
Allah SWT bahkan mengingatkan manusia akan janji mereka saat mereka masih
berada di alam arwah bahwa mereka mengakui akan ketuhanan Allah SWT,
sebagai pengingat, agar manusia yang kafir kelak tidak membela diri dengan
mengatakan tidak mengetahui hal tersebut.
Sebaliknya, kesyirikan adalah hal yang paling dibencinya, karena kesyirikan
akan membelokkan manusia dari jalan yang benar menuju Allah SWT. Oleh
sebab itu Allah SWT dan Rasulnya berbicara banyak tentang kesyirikan, dan
berlepas dirinya Allah SWT dari segala bentuk kesyirikan. Dalam sebuah hadits
qudsi Allah SWT berfirman:
ُّ ‫ار َك َوتَعَالَى أَنَا أ َ ْغنَى ال‬
‫قَا َل ه‬
‫ع َمالً أ َ ْش َر َك فِي ِه َم ِعى‬
ِ ‫ش َر َك‬
َ ‫ع ِم َل‬
َ ‫ع ِن الش ِْر ِك َم ْن‬
َ ‫اء‬
َ َ‫َّللاُ تَب‬
ُ‫غي ِْرى ت ََر ْكتُهُ َو ِش ْر َكه‬
َ
“Allah Tabaraka wa SWT berfirman: “Aku tidaklah butuh adanya tandingantandingan. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal dalam keadaan
menyekutukan Aku dengan selain Aku, maka Aku akan meninggalkan dia dan
perbuatan syiriknya itu.’” (HR. Muslim)
Kesyirikan menyebabkan manusia tertipu dan tunduk kepada thaghut (yang
dituhankan selain Allah SWT) yang akan merendahkan martabatnya di dunia dan
mengantarkannya kepada kebinasaan. Kesyirikan bahkan mengantarkan manusia
kepada kegelapan dan kebodohan, setelah mereka mendapatkan ilmu dan
kebebasan dari Allah SWT yang sangat mengasihinya melalui para utusan.
4. URGENSI AKIDAH: AJARAN POKOK PARA NABI
Akidah yang dimanifestasikan dalam Tauhid merupakan ajaran pertama
dan utama yang menjadi standar pokok dakwah semua Rasul. Ajaran ini selalu
berbicara tentang keesaan Allah SWT, dalam uluhiyyah, rububiyyah dan namanama serta sifatnya. Tidak ada Rasul yang diutus kecuali mendakwahkan Tauhid,
sebagaimana firman Allah SWT:
‫َّللا َواجْ تَنِبُوا ه‬
ً ‫س‬
ُ ‫الطا‬
‫وت فَ ِم ْن ُه ْم َم ْن َهدَى ه‬
َ ‫غ‬
ُ‫َّللا‬
ُ ‫َو َلقَ ْد َب َعثْنَا فِي ُك ِل أ ُ هم ٍة َر‬
َ ‫وال أ َ ِن ا ُ ْعبُدُوا ه‬
ُ ‫ض فَا ْن‬
ْ ‫َو ِم ْن ُه ْم َم ْن َحقه‬
َ‫عاقِبَةُ ْال ُم َك ِذبِين‬
ِ ‫ِيروا فِي ْاْل َ ْر‬
ُ ‫علَ ْي ِه الض َهاللَةُ فَس‬
َ َ‫ْف َكان‬
َ ‫ت‬
َ ‫ظ ُروا َكي‬
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk
menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara
umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di
antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah
kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang
mendustakan (rasul-rasul). (QS. An-Nahl (16) : 36)
Konsekuensi dari siapa saja yang menerima dakwah Tauhid maka harus
menyambutnya. Siapa yang menolak atau menerima tidak sepenuh hati akan
menanggung akibatnya kelak di hari akhir, karena para Rasul berdakwah atas
mandat dari Allah SWT. Mereka berdakwah tidak memungut imbalan dari
ummatnya. Sebaliknya mereka mengurbankan segala demi tegaknya agama Allah
SWT di muka bumi. Namun tugas para Rasul hanyalah menyampaikan, Adapun
hidayah adalah milik Allah SWT dan para Rasul tidak bertanggung jawab atas
penolakan ummatnya. Rasul tidak jarang kehilangan keluarganya yang tidak
mendapatkan hidayah Allah SWT, sebagaimana Nuh AS yang kehilangan anak dan
istrinya, serta Rasulullah SAW yang kehilang Pamannya Abu Thalib yang selalu
membelanya.
5. URGENSI AKIDAH: PONDASI KEISLAMAN SESEORANG
Jika Islam dengan seluruh aspek dan bagian ajarannya secara lengkap
diibaratkan sebagai sebuah gedung, maka akidah menempati kedudukan yang
paling penting, yakni sebagai pondasinya. Rasulullah SAW telah mengisyaratkan
perumpamaan Islam sebagai gedung dengan sabdanya:
،ِ‫صالَة‬
َ :‫علَى خ َْم ٍس‬
ُ ‫ش َهادَةِ أ َ ْن الَ إِلَهَ إِاله هللاُ َوأ َ هن ُم َح همدًا َر‬
‫ َوإِقَ ِام ال ه‬،ِ‫س ْو ُل هللا‬
َ ‫اإل ْسالَ ُم‬
ِ ‫ي‬
َ ِ‫بُن‬
ْ
‫َو ِإ ْيت َِاء ه‬
‫ي َو ُم ْس ِلم‬
َ ‫ص ْو ِم َر َم‬
َ ‫ َو‬،ِ‫ َو َحجِ البَ ْيت‬،ِ‫الز َكاة‬
ُّ ‫َار‬
ِ ‫ضانَ ) َر َواهُ البُخ‬
Dari Abdullah bin Umar ra dia berkata: ”Rasulullah SAW bersabda: ”Islam itu
dibangun di atas lima dasar: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan
yang berhak disembah kecuali Allah SWT dan Muhammad adalah utusan Allah,
menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa di bulan
Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).
Oleh sebab itu akidah memiliki peran yang sangat menentukan,
sebagaimana gedung megah yang berlantai banyak, yang memerlukan pondasi
sangat kuat untuk bisa terus tegak berdiri. Juga ibarat pohon yang besar dan
tinggi yang akan sangat bergantung kepada kokohnya akar yang menopangnya.
Segala amal ibadah yang dilakukan tanpa didahului dengan ikrar dua kalimat
syahadat atau berlandaskan akidah yang salah atau telah dibatalkan sendiri oleh
seorang muslim akan terhapus secara otomatis. Oleh sebab itu bila seseorang
berharap menjadi muslim yang baik maka mustahil bisa terwujud kalau hanya
berbekal pemahaman dan internalisasi akidah yang ala kadarnya. Dakwah Nabi di
Makkah selama lebih dari separuh masa kenabian, hampir semuanya berisi
ajaran penanaman akidah, yang menyiratkan betapa totalitas dalam berakidah
sangat penting bagi penanaman syariat dan akhlak Islam.
Ketidaksiapan sasaran dakwah dalam urusan akidah biasanya akan
menjadi penghambat utama mereka dalam menerima ajaran Islam karena berarti
komitmen belum terbangun. Tidak jarang didapati seseorang masuk Islam karena
hendaka menikahi seorang wanita muslimah, maka setelah pernikahan terjadi
yang bersangkutan kembali ke agama asalnya atau tetap dalam Islam tetapi tanpa
ada kesadaran untuk melaksakan syariat Islam dalam kesehariannya.
Diantara sebab pelanggaran akidah yang intensif dilakukan oleh seorang
Muslim yang rajin beribadah adalah disebabkan oleh rendahnya pemahaman
tentang akidah, khususnya pada bagian yang berkaitan dengan pembatal
syahadat. Contoh yang populer di masyarakat ialah saat akan membagi waris, ada
kecenderungan wanita yang lemah dalam akidah akan meminta agar dalam
pembagian mendasarkan kepada hukum nasional atau adat karena lebih
menguntungkan bagi mereka.
Kalau digunakan hukum Islam maka anak
perempuan hanya mendapatkan separuh dari hak laki-laki. Contoh lainnya ialah
mudahnya kaum muslimin dalam mengizinkan kawin campur anak-anak mereka,
dan mereka hadir di tempat ibadah orang kafir.
6. URGENSI AKIDAH: SYARAT DITERIMANYA AMAL IBADAH
Allah SWT berfirman dalam surat al-Mulk ayat 2:
ُ ‫ع َم ًال ۚ َو ُه َو ْٱل َع ِز‬
‫ور‬
َ ‫ٱلهذِى َخلَقَ ْٱل َم ْو‬
ُ ُ‫يز ْٱلغَف‬
َ ‫س ُن‬
َ ْ‫ت َو ْٱل َحيَ ٰوة َ ِليَ ْبلُ َو ُك ْم أَيُّ ُك ْم أَح‬
Artinya: Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di
antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha
Pengampun.
Imam Al-Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah menafsirkan firman Allah "ayyukum
ahsanu ‘amalaa" di dalam ayat di atas sebagai berikut: 'Ahsanul amal (amal yang
terbaik) adalah yang paling ikhlas dalam melakukannya (diniatkan hanya untuk
Allah SWT)) dan yang paling benar (sesuai tuntunan sunnah). Karena suatu amal
tidak akan diterima sebagai amal shalih di sisi Allah jika hanya bermodalkan ikhlas
saja tapi tidak benar, atau hanya benar saja tapi tidak ikhlas. Jadi harus terpenuhi
kedua syarat sekaligus'. Allah SWT berfirman:
‫ت ِمن ذَ َك ٍر أ َ ْو أُنث َ ٰى َو ُه َو ُمؤْ ِمن فَأُو ٰلَئِ َك يَ ْد ُخلُونَ ٱ ْل َجنهةَ َو َال‬
ِ ‫ص ِل ٰ َح‬
‫َو َمن يَ ْع َم ْل ِمنَ ٱل ٰ ه‬
ْ ‫ي‬
‫يرا‬
ً ‫ُظلَ ُمونَ نَ ِق‬
Artinya: Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki
maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke
dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.
Dalam ilmu akidah, keikhlasan berati aqidah yang lurus, iman yang tulus
dan tauhid yang murni, sehingga tanpa iman dan tauhid tidak ada keikhlasan.
Dengan demikian bisa dimengerti mengapa surat ke-112 dalam al-Quran disebut
dengan surat al-ikhlash karena di dalamnya terkandung asas-asas aqidah (tauhid)
yang berarti hanya mengesakan Allah semata (memurnikan tauhid) dalam tujuan
ibadah.
7. URGENSI AKIDAH: AKIDAH ADALAH MOTIVATOR DAN SEBAB BERIBADAH
Prinsip dasar dalam tauhid ialah bahwa Allah satu-satunya dzat yang
berhak atas kecintaan, ketaatan, dan ketundukan hamba, sehingga semua
kecintaan dan ketundukan kepada makhluk hanya bernilai ibadah dan dianggap
benar bila dalam rangka mempersembahkannya untuk Allah. Inilah mengapa
kecintaan kepada orangtua, misalnya, diwajibkan Allah SWT kepada manusia
sehingga bila melakukannya karena Allah maka berpahala. Jadi kecintaan kepada
makhluk bersyarat. Bila kedua orangtua mengajak untuk mendurhakai Allah maka
wajib ditolak, karena tujuan cinta dan tunduk yang sebenarnya ialah Allah SWT,
sehingga kemaksiyatan kepada Allah wajib ditolak.
Aqidah merupakan ruh dan sumber motivasi dan inspirasi dalam beramal,
beribadah, dan bahkan kehidupan. Dengan menjadikan Allah sebagai inspirator
maka setiap muslim mestinya menjadi orang yang paling bersemangat dalam
berkarya, beramal, beribadah dan berjuang. Sebaliknya, siapa yang mudah
menyerah dan berputus asa dalam menghadapi kehidupan, pastilah muslim yang
lemah imannya. Seorang mukmin sejati akan memahami bahwa bertawakkal
kepada Allah harus diawali dengan usaha yang keras. Usaha yang keras
merupakan kewajiban sedang keberhasilan adalah hak Allah yang menentukan.
7. URGENSI AQIDAH: AQIDAH YANG BENAR MERUPAKAN SHIBGHAH (CELUPAN)
Setiap muslim diwajibkan mengambil celupan Allah SWT dalam menjalani
kehidupan di dunia ini, sehingga setiap muslim akan bisa menampakkan identitas
dirinya yang sangat berbeda dengan orang kafir. Muslim sangat berbeda dalam
memilih makanan dan minuman, pakaian, gaya hidup, bermu’amalah, berpolitik,
berhukum, dan semua aspek kehidupan Islami lainnya yang merupakan ciri khas
model manusia bermutu dalam Islam. Oleh sebab seorang muslim telah berikrar
untuk hanya menuhankan Allah SWT, wajib baginya menerima celupan Allah agar
mudah bagi dirinya untuk berpola hidup yang indah sebagaimana model
kehidupan Rasulullah SAW.
‫س ُن ِمنَ ه‬
‫ص ْبغَةَ ه‬
َ‫عا ِبدُون‬
َ ُ‫ص ْبغَةً ۚ َونَحْ ُن لَه‬
ِ ِ‫َّللا‬
ِ
َ ْ‫َّللاِ ۚ َو َم ْن أَح‬
“Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah?
Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah (QS Al-Baqarah: 138)
Aqidah Laa ilaaha illallah hakikatnya merupakan revolusi dalam diri dan
kehidupan. Sehingga dengan ikrar dua kalimah syahadah, semestinya seluruh
aspek kepribadian dan kehidupan seseorang berubah total sesuai tuntutan dan
konsekuensi ikrar syahadat tauhid tersebut. Umar bin Khattab RA berubah sama
sekali cara hidup dan cara pandang terhadap kehidupan setelah mengikrarkan
kalimat syahadat, dari status sebagai musuh Allah SWT dengan kepribadian
bengis dan terbiasa dalam kemaksiatan, menjadi pribadi yang sangat takut
kepada Allah SWT dan menjadi pembela agama-Nya yang terdepan. Saat menjadi
khalifah bahkan Umar setiap malam menghabiskan waktunya dengan meronda
untuk mengetahui keadaan Masyarakat, sehingga didapati beberapa kejadian
luar biasa yang tertulis dalam Sejarah.
8. URGENSI AQIDAH: AKIDAH MERUPAKAN PERISAI TERBAIK
AKidah Islam yang benar dan kokoh merupakan perisai terbaik yang
melindungi seorang muslim atas tiga hal, yakni:
a. Banyak beredarnya syubhat (pemikiran-pemikiran menyimpang) seputar
akidah. Hal ini akan terus terjadi sepanjang masa, sebagai bagian dari
ujian. Ummat-ummat terdahulu juga selalu terfitnah dengan syubhat yang
sangat merusak akidah ummat, khususnya yang terkait dengan syirik dan
bid’ah. Bahkan masalah ini selalu menjadi perseteruan antar kelompok
maupun dalam satu kelompok hingga di era modern ini. Kelompok
penyebar syubhat selalu mendapatkan “kemudahan” untuk mendapatkan
pengikut, sebagai ujian bagi yang beriman.
b. Dahsyat dan beragamnya pengaruh syahwat (godaan hawa nafsu) dalam
kehidupan jahiliyah kuno dan modern. Syubhat dan syahwat selalu
menjadi dua senjata andalan utama setan dalam permusuhan besarnya
menghadapi hamba-hamba Allah yang beriman. Dua hal tersebut selalu
menarik perhatian banyak orang, terlebih masalah syahwat. Kehidupan
bebas tanpa kendali selalu menarik perhatian banyak Masyarakat.
c. Berragam ujian dan cobaan yang dijanjikan oleh Allah SWT sehingga
telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari
kehidupan sesuai
sunnatullah. Allah SWT berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 155:
‫َوبَش ِِر‬
‫ت‬
َ ِ‫َولَنَ ْبلُ َونه ُكم ب‬
ِ ‫ص ِمنَ ْٱْل َ ْم ٰ َو ِل َو ْٱْلَنفُ ِس َوٱلث ه َم ٰ َر‬
ِ ‫ش ْىءٍ ِمنَ ْٱلخ َْو‬
ٍ ‫ف َو ْٱل ُجوعِ َونَ ْق‬
َ‫ص ِب ِرين‬
‫ٱل ٰ ه‬
Artinya: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan
sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.
Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
Dengan akidah yang kokoh seorang muslim akan sanggup menjaga dirinya
dengan melakukan tazkiyatun nufus (pensucian jiwa) dengan berbagai
ibadah, amal shaleh (sedekah dan wakaf), hidup berjamaah dan selalu
berusaha berada di lingkungan yang baik.
9.
URGENSI AKIDAH: AKIDAH MENJADI BENTENG DALAM GHAZWUL FIKRI
Hanya akidah yang kokoh yang sanggup menghadapi serangan pemikiran
yang giat dilancarkan musuh, khususnya dari kalangan Yahudi dan Barat. Namun
akidah yang dimaksud bukan hanya dari seorang muslim saja, melainkan dari
sekelompok muslim yang dengan ilmunya giat melakukan dakwah ke dalam, dan
counter
secara intensif kepada lawan dengan ilmu yang memadai. Hal ini
disebabkan
ghazwul fikri dilakukan oleh semua musuh Islam dari semua
penjuru, baik pemikiran (sekularisme, hedonisme, sinkritisme, pluralisme,
feminisme dan sebagainya) tontonan yang merusak akhlak, makanan, budaya,
games, gadget dan masih banyak ragam serangan yang melenakan (liberalisasi
pola hidup).
Jadi serangan yang akan merusak sibghah Allah terjadi besar-besaran dan
di banyak sektor dan sangat rapi, terrencana, halus, bertahap serta para pelaku
mendapatkan stimulan yang sangat menarik dari Yayasan-yayasan Yahudi dan
Barat dengan dana yang “tak terbatas”. Oleh sebab itu gangguan ini sangat
efektif. Apalagi masih sangat banyak masyarakat yang belum terpapar dengan
akidah lurus, sehingga banyak sekali kemaksiyatan yang kemudian berganti judul
menjadi toleransi, kebhinekaan dan kesetaraan. Padahal tiga kata tersebut secara
hakikat dan realitas hanya ada dalam Islam.
10. URGENSI AKIDAH: PENGUATAN AKIDAH YANG LURUS
Upaya pembekalan dan penguatan akidah ini bagi setiap muslim dan
muslimah, jadi semakin urgen jika mengingat, memperhatikan dan mencermati
betapa bahaya dan maraknya fenomena penyimpangan aqidah di tengah
masyarakat saat ini. Kesyirikan seperti perdukunan, peramalan, sihir dan bahkan
pengobatan dalam berbagai bentuknya masih digemari masyarakat dan banyak
dicontohkan oleh para pejabat, tokoh masyarakat, dan public figuresi dan
menjadi salah satu lahan dan komoditi bisnis terlaris. Sebagian besar penyedia
jasa dan konsumen justru dari kalangan muslim sendiri yang lemah iman dan
telah tercemar dengan filsafat menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.
Para pelaku bisnis ini Sebagian besar berkedok agama, yakni dengan
menggunakan doa-doa dan amalan-amalan yang biasa dilakukan oleh seorang
muslim, dan melabeli dirinya dengan ustadz, kyai, ajengan, orang pinter dan
sebagainya yang sangat menyesatkan. Syubhat semacam ini menjadi pembenar
bagi muslim lemah untuk berkunjung dan meminta sesuatu kepada bangsa jin
melalui perantara para dukun
11. SIMPULAN
Akidah merupakan prinsip dasar yang pertama dan utama dalam Islam.
Tidak mungkin seseorang masuk Islam tanpa mengucapkan ikrar keterikatan dua
kalimat syahadat. Dua kalimat inilah yang menjadi prasyarat ketundukannya
dalam melaksanakan seluruh ajaran Islam, dengan suka rela dan penuh kecintaan
kepada Allah SWT.
Siapa pun yang telah berakidah Islam, maka ketundukannya hanya
diberikan kepada Allah. Ketundukan kepada makhluk hanya dilakukan dalam
rangka mentaati Allah SWT. Ketundukan yang sekilas mengungkung namun
hakikatnya menjadi kalimat pembebas manusia dari penjajahan makhluk dan
dirinya sendiri untuk melakukan segala perkara yang akan merusak hidupnya di
dunia dan menyengsarakan masa depannya di akhirat.
Dengan berakidah, seorang muslim akan bisa membentengi dirinya dari
segala macam fitnah makhluk di dunia ini dan menjadikannya kuat dan kokoh
dalam komitmen sucinya dengan sang Pemberi hidup dan pemilik negeri akhirat.
Akidah juga membuat kehidupan seseorang menjadi indah, penuh kasih sayang
dan damai terhadap siapa pun kecuali yang mengganggunya dalam rangka
mentaati Allah SWT.
Download