Uploaded by Muhammad Grage Aurell Sanu

3632-3332%3AAndroid%2Fmedia%2Fcom.whatsapp%2FWhatsApp%2FMedia%2FWhatsApp%20Documents%2FRANGKUMAN%20AGAMA%20

advertisement
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
AKADEMI KIMIA ANALISIS
Jilid 2
Disusun oleh:
Hepi Andi Bastoni, MA
0
Pengantar
Alhamdulillah. Shalawat dan salam untuk Rasulullah saw, keluarga, para shahabat
dan orang-orang yang mengikuti ajarannya hingga Hari Akhir nanti.
Sebagai mana di banyak perguruan tinggi umum lainnya, Mata Kuliah Pendidikan
Agama Islam wajib diberikan kepada semua mahasiswa Muslim. Ini adalah hak para
mahasiswa dan kewajiban lembaga penyelenggara pendidikan. Tak terkecuali Kampus
Politeknik Akademi Kimia Analisis yang berdomisili di Bogor.
Karena memang bukan lembaga pendidikan kejuruan keagamaan, maka Mata Kuliah
Agama Islam hanya diberikan kepada mahasiswa dalam satu semester tahun ajaran yang
terdiri dari 14 kali tatap muka. Sebanyak tujuh kali pertemuan sebelum Ujian Tengah
Semester dan tujuh kali pertemuan setelahnya. Setelah itu, tidak ada lagi Mata Kuliah
Pendidikan Agama Islam secara formal.
Dalam kurun waktu yang sangat singkat tersebut, maka tidak mungkin bisa
memberikan materi secara maksimal. Karena itu, materi yang diberikan betul-betul harus
efektif yang mampu merangkum materi secara teori dan praktik. Karena itu, ada tiga target
utama pada perkuliahan Agama Islam ini.
Pertama, mahasiswa diharapkan memiliki pemahaman yang baik tentang Islam dan
mempunyai keyakinan tentang kebenaran ajaran Islam. Hal ini ditandai dengan lurusnya
akidah dan Tauhid mereka. Dengan mengikuti mata kuliah ini, para mahasiswa diharapkan
tidak ada yang tersusupi pemikiran-pemikiran sesat yang mungkin saja merebak di dalam
kampus. Mata kuliah ini dimaksudkan untuk membentengi akidah mahasiswa dengan kuat
dan kokoh.
Kedua, mahasiswa diharapkan memiliki semangat dalam melaksanakan ibadah. Ini
inti terpenting dari mata kuliah ini. Bahwa, beragama tak hanya secara teori tapi juga
dipraktikkan secara nyata dalam keseharian. Utamanya ibadah-ibadah mahdhah yang harus
dilaksanakan setiap hari, seperti shalat lima waktu, shaum di bulan Ramadhan, terlibat
dalam kegiatan pelaksanaan ibadah qurban dan lainnya.
Ketiga, mahasiswa diharapkan memiliki moral dan akhlak yang baik. Sebab, akidah
yang lurus dan ibadah yang baik, akan melahirkan orang-orang yang berakhlak al-karimah.
Bagian ini menjadi penting untuk ditargetkan mengingat betapa kondisi generasi muda hari
ini yang sangat jauh dari akhlak mulia.
Untuk itu, ada program penunjang yaitu mentoring. Progam ini merupakan bagian
dari penugasan pada Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam yang akan mempengaruhi
penilaian akhir. Diharapkan, program mentoring ini bisa menjadi penunjang Mata Kuliah
Agama Islam yang diberikan di kelas. Para mahasiswa yang melakukan mentoring dengan
cara melakukan pertemuan setiap pekan dengan para seniornya, akan bisa menjaga dari
ancamanan kemungkinan merebaknya aliran sesat di kampus mereka, sekaligus untuk saling
mengontrol ibadah harian masing-masing. Selain itu, program mentoring juga bisa
membantu pengkondisian pergaulan mahasiswa. Sehingga tidak ditemukan di antara mereka
yang terjerat Narkoba, pergaulan bebas atau tindak amoral lainnya.
Karenanya, materi yang disampaikan pada proses mentoring semestinya mendukung
materi perkuliahan. Dukungan itu bukan hanya dari sisi penyempurnaan pembahasan materi
kuliah tapi motivasi dan semangat.
Buku ini berasal dari diktat hasil diskusi dengan mahasiswa, catatan-catatan saat
berlangsung proses belajar mengajar dan acuan dari pihak Kampus. Karenanya, seiring
dengan kebutuhan dan perkembangan kondisi, buku ini sangat memungkinkan mengalami
1
revisi atau perbaikan. Untuk itu, saran dan kritik Anda untuk perbaikan karya ini, sangat
dinanti.
Terima kasih kami ucapkan kepada semua pihak yang telah terlibat dalam
penyempurnaan karya ini. Semoga Allah meridhai langkah kita. Amin.
Penyusun,
Hepi Andi Bastoni, MA
2
Materi VIII
AKHLAK, ETIKA DAN MORAL
I. Pengertian Akhlak, Etika dan Moral
a. Akhlak
Ada dua pendekatan yang dapat digunakan untuk mendefinisikan akhlak, yaitu
pendekatan linguistic (kebahasaan), dan pendekatan terminologik (peristilahan).
Dari sudut kebahasaan, akhlak berasal dari bahasa Arab, yaitu isim mashdar (bentuk
infinitive) dari kata akhlaqa, yukhliqu, ikhlaqan yang berarti at-thabi’ah (kelakuan, tabiat,
watak dasar), al-adat (kebiasaan, kelaziman), al-muru’ah (peradaban yang baik) dan al-din
(agama).
Untuk menjelaskan pengertian akhlak dari segi istilah, kita dapat merujuk kepada
berbagai pendapat para pakar di bidang ini.
Ibn Miskawaih (w. 421 H/1030 M) yang dikenal pakar bidang akhlak terkemuka
secara singkat mengatakan: akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang
mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan
pertimbangan.
Imam Al-Ghazali (1015-1111 M) yang dikenal hujjatul Islam (pembela Islam),
mengatakan: akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macammacam perbuatan dengan gamblang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan
pertimbangan.
Definisi-definisi akhlak tersebut secara subtansial tampak saling melengkapi, dan
darinya kita dapat melihat lima ciri yang terdapat dalam perbuatan akhlak, yaitu;
1. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam kuat dalam jiwa
seseorang, sehingga telah menjadi kepribadiaannya.
2. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah dan tanpa
pemikiran. Ini tidak berarti bahwa saat melakukan sesuatu perbuatan, yang
bersangkutan dalam keadaan tidak sadar, hilang ingatan, tidur atau gila.
3. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang
mengerjakannya, tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar. Perbuatan akhlak
adalah perbuatan yang dilakukan atas dasar kemauan, pilihan dan keputusan
yang bersangkutan.
4. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan sesungguhnya,
bukan main-main atau karena bersandiwara.
5. Sejalan dengan cirri yang keempat perbuatan akhlak (khususnya akhlak yang
baik) adalah perbuatan yang dilakukan karena ikhlas semata-mata karena Allah,
bukan karena ingin dipuji orang atau karena ingin mendapatkan suatu pujian.
b. Etika
Dari segi etimologi (ilmu asal usul kata), etika berasal dari bahasa Yunani, ethos
yang berarti watak kesusilaan atau adat. Dalam kamus umum bahasa Indonesia, etika
diartikan ilmu pengetahuan tentang asas akhlak (moral). Dari pengertian kebahasaan ini
terlihat bahwa etika berhubungan dengan upaya menentukan tingkah laku manusia.
Adapun arti etika dari segi istilah, dikemukakan para ahli dengan ungkapan yang
berbeda-beda sesuai sudut pandangnya. Menurut Ahmad Amin, etika adalah ilmu yang
menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh
3
manusia, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia di dalam perbuatan mereka
dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang seharusnya diperbuat.
Dari definisi etika tersebut, dapat diketahui bahwa etika berhubungan dengan
empat hal sebagai berikut.
1. Dilihat dari segi objek pembahasannya, etika berupaya membahas perbuatan
yang dilakukan oleh manusia.
2. Dilihat dari segi sumbernya, etika bersumber pada akal pikiran atau filsafat.
Sebagai hasil pemikiran, maka etika tidak bersifat mutlak, absolut dan tidak pula
universal. Ia terbatas, dapat berubah, memiliki kekurangan, kelebihan dan
sebagainya. Selain itu, etika juga memanfaatkan berbagai ilmu yang membahas
perilaku manusia seperti ilmu antropologi, psikologi, sosiologi, ilmu politik, ilmu
ekonomi dan sebagainya.
3. Dilihat dari segi fungsinya, etika berfungsi sebagai penilai, penentu dan penetap
terhadap sesuatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia, yaitu apakah
perbuatan tersebut akan dinilai baik, buruk, mulia, terhormat, hina dan
sebagainya. Dengan demikian etika lebih berperan sebagai konseptor terhadap
sejumlah perilaku yang dilaksanakan oleh manusia. Etika lebih mengacu kepada
pengkajian sistem nilai-nilai yang ada.
4. Dilihat dari segi sifatnya, etika bersifat relatif yakni dapat berubah-ubah sesuai
dengan tuntutan zaman.
Dengan ciri-cirinya yang demikian itu, maka etika lebih merupakan ilmu
pengetahuan yang berhubungan dengan upaya menentukan perbuatan yang
dilakukan manusia untuk dikatan baik atau buruk. Berbagai pemikiran yang
dikemukakan para filosof barat mengenai perbuatan baik atau buruk dapat
dikelompokkan kepada pemikiran etika, karena berasal dari hasil berfikir. Dengan
demikian etika sifatnya humanistis dan antroposentris yakni bersifat pada pemikiran
manusia dan diarahkan pada manusia. Dengan kata lain etika adalah aturan atau pola
tingkah laku yang dihasulkan oleh akal manusia.
c. Moral
Adapun arti moral dari segi bahasa berasal dari bahasa latin, mores yaitu jamak dari
kata mos yang berarti adat atau kebiasaan. Dalam kamus umum bahasa Indonesia dikatakan
bahwa moral adalah penentuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan.
Selanjutnya moral dalam istilah adalah suatu istilah yang digunakan untuk
menentukan batas-batas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang
secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik atau buruk. Berdasarkan kutipan tersebut
diatas, dapat dipahami bahwa moral adalah istilah yang digunakan untuk memberikan
batasan terhadap aktifitas manusia dengan nilai (ketentuan) baik atau buruk, benar atau
salah.
Jika pengertian etika dan moral tersebut dihubungkan satu dengan lainnya, kita
dapat mengatakan bahwa antara etika dan moral memiki objek yang sama, yaitu sama-sama
membahas tentang perbuatan manusia, selanjutnya ditentukan posisinya apakah baik atau
buruk.
II.
Perbedaan Moral dan Etika
4
Kalau dalam pembicaraan etika, untuk menentukan nilai perbuatan manusia baik
atau buruk menggunakan tolak ukur akal pikiran atau rasio, sedangkan moral tolak ukurnya
yang digunakan adalah norma-norma yang tumbuh dan berkembang dan berlangsung di
masyarakat. Dengan demikian etika lebih bersifat pemikiran filosofis dan berada dalam
konsep-konsep, sedangkan etika berada dalam dataran realitas dan muncul dalam tingkah
laku yang berkembang di masyarakat.
Dengan demikian tolak ukur yang digunakan dalam moral untuk mengukur tingkah
laku manusia adalah adat istiadat, kebiasaan dan lainnya yang berlaku di masyarakat. Etika
dan moral sama artinya tetapi dalam pemakaian sehari-hari ada sedikit perbedaan. Moral
atau moralitas dipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai, sedangkan etika dipakai untuk
pengkajian sistem nilai yang ada.
Kesadaran moral serta pula hubungannya dengan hati nurani yang dalam bahasa
asing disebut conscience, conscientia, gewissen, geweten, dan bahasa arab disebut dengan
qalb, fu’ad. Dalam kesadaran moral mencakup tiga hal. Pertama, perasaan wajib atau
keharusan untuk melakukan tindakan yang bermoral. Kedua, kesadaran moral dapat juga
berwujud rasional dan objektif, yaitu suatu perbuatan yang secara umumk dapat diterima
oleh masyarakat, sebagai hal yang objektif dan dapat diberlakukan secara universal, artinya
dapat disetujui berlaku pada setiap waktu dan tempat bagi setiap orang yang berada dalam
situasi yang sejenis. Ketiga, kesadaran moral dapat pula muncul dalam bentuk kebebasan.
Berdasarkan pada uraian di atas, dapat disimpulkan, moral lebih mengacu kepada
suatu nilai atau sistem hidup yang dilaksanakan atau diberlakukan oleh masyarakat yang
dikenal dengan tradisi. Nilai atau sitem hidup tersebut diyakini oleh masyarakat sebagai
yang akan memberikan harapan munculnya kebahagiaan dan ketentraman. Nilai-nilai
tersebut ada yang berkaitan dengan perasaan wajib, rasional, berlaku umum dan kebebasan.
Jika nilai-nilai tersebut telah mendarah daging dalam diri seseorang, maka akan membentuk
kesadaran moralnya sendiri. Orang yang demikian akan dengan mudah dapat melakukan
suatu perbuatan tanpa harus ada dorongan atau paksaan dari luar.
III. Persamaan dan Perbedaan Etika, Moral, dan Akhlak
a. Persamaan:
• Persamaan ketiganya terletak pada fungsi dan peran, yaitu menentukan hukum atau
nilai dari suatu perbuatan manusia untuk ditetapkan baik atau buruk.
• Secara rinci persamaan tersebut terdapat dalam tiga hal:
1. Objek: yaitu perbuatan manusia
2. Ukuran: yaitu baik dan buruk
3. Tujuan: membentuk kepribadian manusia
b. Perbedaan
1. Sumber atau acuan:
- Etika sumber acuannya adalah akal
- Moral sumbernya norma atau adat istiadat
- Akhlak bersumber dari wahyu
2.
-
Sifat Pemikiran:
Etika bersifat filososfis
Moral bersifat empiris
Akhlak merupakan perpaduan antara wahyu dan akal
5
3.
-
Proses munculnya perbuatan:
Etika muncul ketika ada ide
Moral muncul karena pertimbangan suasana
Akhlak muncul secara spontan atau tanpa pertimbangan
IV.
Akhlak dalam Ajaran Islam
Secara sederhana akhlak Islami dapat diartikan sebagai akhlak yang berdasarkan
ajaran Islam atau akhlak yang bersifat Islami. Kata Islam yang berada di belakang kata akhlak
dalam hal menempati posisi sebagai sifat.
Dengan demikian akhlak Islami adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah,
disengaja, mendarah-daging dan sebenarnya yang didasarkan pada ajaran Islam. Dilihat dari
segi sifatnya yang universal, maka akhlak Islami juga bersifat universal. Namun dalam rangka
menjabarkan akhlak Islami yang universal ini diperlukan bantuan pemikiran akal manusia
dan kesempatan social yang terkandung dalam ajaran etika dan moral.
Dengan kata lain akhlak Islami adalah akhlak yang disamping mengakui adanya nilainilai universal sebagai dasar bentuk akhlak, juga mengakui nilai-nilai bersifat local dan
temporal sebagai penjabaran atas nilai-nilai yang universal itu. Namun demikian, perlu
dipertegas disini, bahwa akhlak dalam ajaran agama tidak dapat disamakan dengan etika
atau moral, walaupun etika dan moral itu diperlukan dalam rangka menjabarkan akhlak yang
berdasarkan agama (akhlak Islami). Hal yang demikian disebabkan karena etika terbatas
pada sopan santun antara sesame manusia saja, serta hanya berkaitan dengan tingkah laku
lahiriah. Jadi ketika etika digunakan untuk menjabarkan akhlak Islami, itu tidak berarti akhlak
Islami dapat dijabarkan sepenuhnya oleh etika atau moral.
Ruang lingkup akhlak Islami adalah sama dengan ruang lingkup ajaran Islam itu
sendiri, khususnya yang berkaitan dengan pola hubungan. Akhlak diniah (agama/Islam)
mencakup berbagai aspek, dimulai dari akhlak terhadap Allah, hingga kepada sesame
makhluk (manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda yang tak bernyawa).
V.
Kesimpulan
Dilihat dari fungsi dan peranannya, dapat dikatakan bahwa etika, moral, susila dan
akhlak sama, yaitu menentukan hukum atau nilai dari suatu perbuatan yang dilakukan
manusia untuk ditentukan baik-buruknya. Kesemua istilah tersebut sama-sama
menghendaki terciptanya keadaan masyarakat yang baik, teratur, aman, damai, dan tentram
sehingga sejahtera batiniah dan lahiriyah.
Perbedaaan antara etika, moral, dan susila dengan akhlak adalah terletak pada
sumber yang dijadikan patokan untuk menentukan baik dan buruk. Jika dalam etika
penilaian baik buruk berdasarkan pendapat akal pikiran, dan pada moral dan susila
berdasarkan kebiasaan yang berlaku umum di masyarakat, maka pada akhlak ukuran yang
digunakan untuk menentukan baik buruk itu adalah al-qur’an dan al-hadis.
Perbedaan lain antara etika, moral dan susila terlihat pula pada sifat dan kawasan
pembahasannya. Jika etika lebih banyak bersifat teoritis, maka pada moral dan susila lebih
banyak bersifat praktis. Etika memandang tingkah laku manusia secara umum, sedangkan
moral dan susila bersifat local dan individual. Etika menjelaskan ukuran baik-buruk,
sedangkan moral dan susila menyatakan ukuran tersebut dalam bentuk perbuatan.
Namun demikian etika, moral, susila dan akhlak tetap saling berhubungan dan
membutuhkan. Uraian tersebut di atas menunjukkan dengan jelas bahwa etika, moral dan
6
susila berasala dari produk rasio dan budaya masyarakat yang secara selektif diakui sebagai
yang bermanfaat dan baik bagi kelangsungan hidup manusia. Sementara akhlak berasal dari
wahyu, yakni ketentuan yang berdasarkan petunjuk Al-Qur’an dan Hadis. Dengan kata lain
jika etika, moral dan susila berasal dari manusia sedangkan akhlak berasal dari Tuhan.
Etika Islam terhadap Diri Sendiri (Menurut Abu Bakar al-Jazairi)
Kebahagiaannya di dunia dan di akhirat sangat ditentukan oleh sejauh mana
pembinaan terhadap dirinya, perbaikan, dan penyucian dirinya. Selain itu, ia meyakini bahwa
kecelakaan dirinya sangat ditentukan oleh sejauh mana kerusakan dirinya. Itu semua karena
dalil-dalil berikut,
Firman Allah, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menjiwa itu, dan
sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS asy-Syams: 9-10)
“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan
menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu
langit dan tidak (pula) mereka masuk syurga, hingga unta masuk ke lubang jarum,
demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.
Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan diatas mereka ada selimut (api neraka),
demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zhalim. Dan orang-orang
yang beriman dan mengerjakan amal shalih, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri
seorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga,
mereka kekal didalamnya,” ( QS Al-A’raaf: 40-42).
“ Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya
menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (Al-‘ashr 1-3).
Sabda Rasulullah saw., dan kalian masuk surga, kecuali orang-orang yang tidak mau.”
Para sahabat bertanya,”Siapa yang tidak mau masuk surga, wahai Rasulullah?” Rasulullah
saw. bersabda,” Barangsiapa taat kepadaku, ia masuk surga. Dan barangsiapa bermaksiat
kepadaku, ia tidak mau ( masuk surga ).” (HR Bukhari).
“Semua manusia beramal, dan menjual dirinya memperbaiki dirinya, atau
membinasakannya.” (HR Muslim).
Muslim meyakini bahwa sesuatu yang bisa membersihkan dirinya, dan menyucikan
ialah iman yang baik dan amal shalih. Ia juga meyakini, bahwa sesuatu yang mengotori
dirinya, dan merusaknya ialah keburukan kekafiran dan kemaksiatan, berdasarkan dalil-dalil
berikut:
Firman Allah Ta’ala, “ Dan dirikanlah sholat itu pada kedua tepi siang (pagi dan
petang) dan pada sebagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan
yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi
orang-orang yang ingat.” (Huud:114)
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu
menutup hati mereka.” (Al-Muthaffifin:14)
Sabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya jika seorang Mukmin mengerjakan dosa, maka
ada noda hitam di hatinya. Jika ia bertaubat, berhenti ( dari dosa tersebut), dan beristigfar,
maka hatinya bersih. Jika dosanya bertambah, bertambah pula noda hitam dihatinya, hingga
menutupi hatinya.” ( HR An-Nasai dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata bahwa hadist ini
adalah shahih).
Noda hitam tersebut tidaklah lain adalah tutupan hati yang disebutkan Allah Ta’ala
dalam surah Al-Muthaffifin di atas.
7
“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan tindaklanjutilah
kesalahan dengan kebaikan niscaya kebaikan tersebut menghapus kesalahan tersebut, serta
bergaulah dengan manusia dengan akhlak baik.” ( At-Tirmidzi dan Al- Hakim).
Oleh karena itulah, oarng muslim tidak henti-hentinya membina dirinya,
menyucikannya, dan membersihkannya. Sebab, ia orang yang paling layak membinanya,
kemudian ia memperbaikinya dengan etika-etika yang membersihkannya, dan
membersihkan kotoran-kotorannya. Ia menjauhkan diri dan apa saja yang mengotorinya,
dan merusaknya seperti keyakinan-keyakinan yang rusak, ucapan-ucapan yang rusak, dan
amal perbuatan yang rusak. Ia melawan dirinya siang malam, mengevaluasi setiap saat,
membawanya kepada perbuatan-perbuatan yang baik, mendorongnya kepada ketaatan,
menjauhkan dari segala keburukan dan kerusakan.
Adab ma’a nafsi ( etika terhadap diri sendiri). Ada empat upaya yang perlu
diperhatikan yakni :
1) Taubat, yakni melepaskan diri dari semua dosa dan perbuatan maksiat, menyesali
semua dosa-dosa di masa lalunya, dan bertekad tidak kembali lagi kepada dosa-dosa
tersebut di sisa umurnya.
2) Muraqabah yakni keyakinan senantiasa ( hati kita ) diawasi (oleh Allah), diketahui (
hati kita oleh Allah) dan diperhatikan hati kita oleh Allah.
3) Muhasabah yakni proses introspeksi diri kita sendiri.
4) Mujahadah yakni upaya kerja keras untuk meraih yang kita cita-citakan.
5) Muaaqabah yakni mengganti kesalahan yang dilakukan dengan amalan lain.
Pengertian Tasawuf
Secara bahasa tasawuf diartikan sebagai sufisme adalah ilmu untuk mengetahui
bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihkan akhlak, membangun diri lahir dan batin,
untuk memperoleh kebahagian yang abadi. Tasawuf adalah ilmu yang membahas
masalah pendekatan diri manusia kepada Tuhan melalui penyucian rohnya.
Hubungan Antara Tasawuf dan Akhlak
Ilmu tasawuf pada umumnya dibagi menjadi tiga :
a. Tasawuf falsafi, yakni tasawuf yang mengunakan pendekatan rasio atau akal
pikiran, tasawuf model ini menggunakan bahan-bahan kajian atau pemikiran
dari para tasawuf, baik menyangkut filsafat tentang Tuhan manusia dan
sebagainya.
b. Tasawuf Akhlaki, yakni tasawuf yang menggunakan pendekatan Akhlak.
Tahapan-tahapannya terdiri dari Takhalli ( mengosongkan diri dari Akhlak yang
buruk), Tahalli ( menghiasinya dengan akhlak yang terpuji), Tajalli (terbukanya
dinding penghalang atau hijab yang membatasi manusia dengan Tuhan,
sehingga Nur Illahi tampak jelas padanya).
c. Tasawuf Amali, yakni tasawuf yang menggunakan pendekatan amaliyah atau
wirid, kemudian hal itu muncul dalam tharikat.
Sebenarnya, tiga macam tasawuf tadi punya tuhuan yang sama yaitu sama-sama
mendekatkan diri kepada Allah dengan cara membersihkan diri dari perbuatan yang
terpuji (Al-Akhlaq Al-Mahmudah), karena itu untuk menuju wilayah tasawuf sesorang
harus mempunyai akhlak yang mulia berdasarkan kesadarannya sendiri.
8
Jadi akhlak merupakan bagian dari tasawuf akhlaki, yang merupakan salah satu
ajaran dari tasawuf, dan yang terpenting dari ajaran tasawuf akhlaki adalah mengisi
qolbu (hati) dengan sifat khauf yaitu merasa khawatir terhadap siksaan Allah.
Kemudian, dilihat dari amalan serta jenis ilmu yang dipelajari dalam tasawuf amali,
ada dua macam hal yang disebut ilmu lahir dan ilmu batin yang terdiri dari empat
kelompok, yaitu syariat, tharikat, hakikat, dan ma’rifat.
9
Materi IX
JENIS–JENIS AKHLAK
1.
AKHLAK MAHMUDAH (AKHLAK TERPUJI)
Akhlak terpuji merupakan terjemahan dari bahasa Arab, akhlaq mahmudah.
Mahmudah merupakan bentuk maf’ul dari kata hamida yang berarti “dipuji”. Akhlak terpuji
disebut pula dengan akhlaqul karimah (akhlak mulia), atau makarim al-akhlaq (akhlaq
mulia), atau akhlaq al-munjiyat (akhlak yang menyelamatkan pelakunya).
Berikut penjelasan akhlak terpuji menurut beberapa ulama:
a. Menurut Imam al-Ghazali, akhlak terpuji merupakan sumber ketaatan dan
kedekatan kepada Allah sehingga mempelajari dan mengamalkannya merupakan
kewajiban setiap muslim.
b. Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah, pangkal akhlak terpuji adalah ketundukan dan
keinginan yang tinggi. Sifat-sifat terpuji, menurutnya berpangkal dari kedua hal itu. Ia
memberikan gambaran tentang bumi yang tunduk pada ketentuan Allah. Ketika air
turun menimpanya, bumi merespons dengan kesuburan dan menumbuhkan tanamtanaman yang indah. Demikian pula manusia tatkala diliputi rasa ketundukan kepada
Allah SWT. Ia akan meresponnya dengan sifat-sifat terpuji.
c. Menurut Imam Abu Dawud, akhlak terpuji merupakan perbuatan-perbuatan yang
disenangi, sedangkan akhlak tercela adalah perbuatan-perbuatan yang harus
dihindari.
A. Jenis Akhlak Mahmudah (Akhlak Terpuji)
Adapun macam-macam akhlak terpuji dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian:
1. Akhlak Terhadap Allah SWT
a) Ikhlas
Sifat ikhlas ialah menumpukan niat bagi setiap ibadah atau kerja yang dilakukan sematamata karena Allah SWT dan diniatkan untuk menjunjung perintah semata-mata serta
membersihkan hati dari riya’, ujub atau pujian manusia.
Firman Allah SWT dalam Al-Quran, “Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan
supaya menyembah Allah SWT dengan mengikhlaskan ibadah kepadanya, lagi tetap teguh di
atas tauhid dan supaya mereka mendirikan sembahyang dan memberi zakat dan yang
demikian itulah agama yang benar,” (QS al-Bayyinah: 5).
Setiap pekerjaan yang dilakukan hendaklah dibersihkan dari tujuan selain taat kepada
Allah. Hendaklah dibersihkan niat dari sebab-sebab yang lain dari sifat-sifat yang keji seperti
riya’, ujub, inginkan kemasyhuran dan lain-lain. Dalam meninggalkan larangan Allah SWT
hendaklah diniatkan untuk taat semata-mata bukan kerana malu kepada makhluk atau
sebagainya.
b) Wara’
Wara’ bisa diartikan bersikap dan berlaku hati-hati terhadap hal-hal yang makruh dan
hal-hal yang syubhat. Hal-hal yang makruh adalah sesuatu yang jika ditinggalkan oleh
seseorang maka ia akan mendapat pahala dan jika dilakukan maka tidak ada dosa atau pun
pahala baginya. Jadi, hal-hal yang makruh adalah sesuatu yang lebih baik untuk ditinggalkan
dari pada dilakukan. Sedangkan, hal-hal yang syubhat adalah segala sesuatu yang belum
10
jelas hukumnya, sesuatu yang belum jelas antara halal dan haramnya, baik yang berupa
makanan, pakaian, tempat, dan lain sebagainya.
Jadi, wara' adalah berhati-hati dalam melakukan segala sesuatu yang berkaitan dengan
hukum Islam. Menghindari hal-hal yang makruh dan menjauhi segala sesuatu yang syubhat.
Berlaku wira'i merupakan rahasia diri agar seseorang terhindar dari sesuatu yang haram.
Orang yang wira'i (berhati-hati) berarti orang yang menjaga dirinya dari sesuatu yang
membuatnya tergoda oleh bujukan setan. Selalu mengingat akan kebesaran Allah dan
menjauhi segala larangan-Nya.
Rasulullah saw menjelaskan tentang pentingnya berlaku wara’ dalam kehidupan seharihari, sebagaimana sabda Nabi saw:
ُّ ‫ن التَّقَى ال‬
‫ن َوقِ َُع‬
ُْ ‫ َو َم‬, ُ‫ض ُِه َو ِد ْينِ ِه‬
ُ ِ ‫ت فَقَُ ُِد ا ْستَب َْرأُ ِل ِع ْر‬
ُِ ‫شب َها‬
ُْ ‫اس فَ َم‬
ُ ِ َّ‫لَ َي ْعلَم َها ِمنَُ الن‬
ُ ُ‫ َوبَ ْينَه َما ام ْورُ م ْشت َ ِب َهات‬. ُ‫ا َ ْل َحالَلُ بَيْنُ َُو ْال َح َرامُ بَيْن‬
ُّ ‫فَى ال‬
‫ن يَقَ َُع فِ ْي ُِه‬
ُْ َ ‫ل ْال ِح َمى ي ْو ِشكُ ا‬
َُ ‫َالرا ِعى َح ْو‬
َُ ‫ت َواقِعُ ْال َح َر‬
ُِ ‫شب َها‬
َّ ‫ك‬, ‫ام‬
Artinya: "(Barang yang) haram dan yang halal sudah sangat jelas, tetapi di antara keduanya
ada barang-barang yang menyerupai (samar-samar), tidak diperhatikan oleh umumnya
manusia maka orang yang memelihara dirinya dari syubhat, berarti bersih agama dan
kehormatannya. Sedangkan yang terjerumus ke dalam syubhat, berarti terjerumus pula
dalam haram, seperti orang menggembala domba di sekeliling tempat larangan, mungkin
lama-lama ia akan melanggar larangan tersebut."
c)
Taubat
Taubat yaitu kembali daripada keburukan kepada kebaikan dengan beberapa syarat yang
tertentu. Firman Allah yang bermaksud, “Dan mohonlah ampun kepada Allah, sesungguhnya
Dia Maha Pengampun lagi Maha Mengasihani,” (QS al-Muzammil: 20).
Syarat-syarat taubat adalah seperti berikut:
1. Meninggalkan maksiat atau perkara dosa tersebut.
2. Menyesal atas maksiat atau dosa yang telah dilakukan.
3. Bercita-cita tidak akan mengulanginya lagi.
4. Mengembalikan hak-hak makhluk yang dizalimi atau dia ambil.
Setiap manusia tidak dapat mengelakkan dirinya daripada tersalah dan terlupa,
melainkan manusia yang Ma’asum (terpelihara daripada dosa) seperti rasul-rasul dan nabinabi. Seseorang itu hendaklah bersungguh-sungguh memelihara diri daripada dosa iaitu
dengan memelihara seluruh anggota daripada melakukan perkara-perkara yang ditegah oleh
agama. Beberapa faedah dan hikmah taubat yaitu:
1. Menghidupkan jiwa yang resah karena dosa
2. Mendekatkan diri kepada Allah SWT
3. Meningkatkan ketaqwaan diri
4. Membenteras tipu daya setan yang selama ini memerangkap manusia
dengan berbuat dosa dan maksiat
5. Memperolehi kemuliaan dan anugerah Allah SWT dalam hidup di dunia
dan akhirat.
d) Zuhud
Zuhud artinya meninggalkan dunia melainkan kadar yang patut. Zuhud yang
sempurna ialah meninggalkan perkara lain selain Allah SWT. Dunia ialah tiap-tiap
perkara yang tidak dituntut oleh syarak dan ianya sebagai tempat bercucuk-tanam
(berbuat kebaikan dan amalan shalih) untuk akhirat yang kekal abadi selama-lamanya.
11
Setiap manusia berkehendak kepada beberapa perkara bagi meneruskan hidup yang
mana manusia berkehendak kepada makanan, pakaian, tempat tinggal dan lain-lain lagi.
Oleh yang demikian, sifat zuhud itu adalah mencari keperluan hidup sekadar yang boleh
membantu ia untuk beribadah kepada Allah SWT.
e) Sabar
Sabar yaitu menahan diri daripada keluh kesah pada sesuatu yang tidak disukai. Sifat
sabar perlu ketika punya untuk menghadapi tiga hal berikut:
1. Menahan diri daripada keluh kesah dan menahan diri daripada mengadu kepada
yang lain daripada Allah ketika berlaku sesuatu bala atau bencana.
2. Menahan diri dalam mengerjakan segala perintah Allah.
3. Menahan diri dalam meninggalkan segala larangan Allah.
Orang yang beriman kepada Allah mengetahui bahawa segala perkara yang berlaku ke atas
drinya adalah kehendak Allah yang tidak dapat dielak lagi. Begitulah juga orang yang taat,
tidak akan merasa susah dalam mengerjakan segala perintah Allah dan meninggalkan
laranganNya.
f)
Syukur
Syukur yaitu mengaku dan memuji Allah atas nikmat yang diberi dan menggunakan
segala nikmat itu untuk berbuat taat kepada Allah. Tiap-tiap nikmat yang diberi oleh Allah
kepada makhluk-Nya adalah dengan limpah kurniaNya semata-mata, seperti nikmat
kesihatan, kekayaan, kepandaian dan sebagainya. Oleh yang demikian, bersyukur dan
berterima kasih atas nikmat-nikmat tersebut merupakan suatu kewajipan kepada Allah.
Setiap nikmat juga hendaklah disyukuri karena orang yang tidak berterima kasih adalah
orang yang tidak mengenang budi. Karena itu, hendaklah digunakan nikmat-nikmat Allah itu
untuk menambahkan ibadah kepada Allah dan sangatlah keji dan hina menggunakan nikmatnikmat itu untuk menderhakai Tuhan yang memberi nikmat.
g) Tawakal
Tawakal yaitu menetapkan hati dan berserah kepada Allah pada segala perkara yang
berlaku serta jazam (putus) pada i`tiqad bahwa Allah yang mengadakan dan memerintahkan
tiap-tiap sesuatu. Berserah kepada Allah pada segala perkara itu hendaklah disertakan
dengan ikhtiar dan usaha kerana Allah menjadikan sesuatu mengikut sebab-sebabnya,
seperti dijadikan pandai kerana belajar, dijadikan kaya kerana rajin berusaha atau berjimat
cermat dan sebagainya.
2.
Akhlak Terhadap Nabi dan Rasul
Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di menjelaskan, “Sungguh, dalam kisah-kisah para
nabi bersama umat mereka ada berbagai pelajaran yang baik bagi orang-orang yang berakal.
Dikisahkan di dalamnya orang yang baik dan buruk. Barang siapa melakukan seperti yang
mereka perbuat, niscaya dia akan mendapatkan balasan sebagaimana yang mereka
dapatkan, kemuliaan (bagi orang yang mengamalkan kebaikan) ataukah kehinaan (bagi
orang yang mengamalkan kejelekan). Mereka juga bisa mendapat pelajaran dari berbagai
sifat Allah yang sempurna dan hikmah yang agung; yang tidak sepantasnya ada yang
diibadahi selain Allah , tidak ada sekutu bagi-Nya.” Berbagai hal gaib yang Allah sebutkan
kepada kita dalam al-Qur’an bukanlah berita yang mengada-ada atau dusta.
12
Di antara pelajaran yang sangat mulia dan berharga adalah akhlak luhur yang telah
disebutkan contohnya oleh kitab-Nya atau sunnah Rasul-Nya. Berikut ini beberapa di
antaranya.
a.
Ikhlas dalam Berdakwah
Dalam surat asy-Syu’ara, Allah mengisahkan dakwah beberapa nabi kepada umat
mereka, seperti Nuh, Hud, Shalih, Luth, dan Syu’aib yang menggambarkan keikhlasan
dakwah para nabi.
Asy-Syaikh as-Sa’di menjelaskan tentang kisah dakwah Nabi Hud kepada kaum ‘Ad di
dalam tafsirnya, “Kabilah ‘Ad mendustakan seorang rasul yang diutus kepada mereka, Hud.
Konsekuensinya, mereka mendustakan para rasul yang lainnya karena dakwahnya sama.
Tatkala saudara mereka, Hud, berkata dengan lemah lembut dan baik, ‘Mengapa kalian tidak
bertakwa kepada Allah sehingga meninggalkan syirik dan peribadahan yang ditujukan
kepada selain-Nya? Sebab, aku adalah rasul yang tepercaya bagi kalian. Allah mengutusku
sebagai bukti kasih sayang dan perhatian-Nya kepada kalian. Aku adalah orang tepercaya
yang kalian telah mengetahui hal itu. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah dan taatlah
kepadaku.’ Maknanya ‘Tunaikanlah hak Allah, yaitu takwa. Tunaikanlah hakku, yaitu
menaatiku semua hal yang aku perintahkan dan yang aku larang. Jadi, ini mengharuskan
kalian untuk mengikuti dan menaatiku’.
Tidak ada satu penghalang pun yang menghalangi kalian untuk beriman. Aku tidak
meminta upah kepada kalian dengan dakwah dan nasihatku ini, yang kalau aku meminta
upah tentu kalian berat menanggung utang. Hanya saja balasan (amalku ini) menjadi
tanggungan Allah, Dzat yang memelihara mereka dengan nikmat-Nya, yang mencurahkan
keutamaan serta kedermawanan-Nya kepada mereka, terkhusus para wali dan nabi.
b. Kasih sayang terhadap umat
Allah berfirman tentang Nabi Muhammad  di dalam kitab-Nya,
َُ‫ل َر ْح َمةُ ِل ْل َعالَ ِمين‬
ُ َّ ‫َاك ِإ‬
َُ ‫س ْلن‬
َ ‫َو َما أ َ ْر‬
“Dan tiadalah Kami mengutusmu kecuali untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (AlAnbiya: 107).
Al-Imam Ibnu Katsir menjelaskan, “Allah mengutus beliau sebagai bukti kasih sayang
(rahmat)-Nya kepada mereka semua. Siapa yang mau menerima rahmat ini dan
mensyukurinya, niscaya dia akan bahagia di dunia dan di akhirat. Namun, siapa yang
menolak dan menentangnya, dia akan rugi di dunia dan di akhirat.”
Di antara contoh yang menunjukkan rahmat para nabi terhadap umatnya adalah
sebagai berikut:
1.
Kasih sayang Nabi Nuh terhadap anaknya
Allah menceritakan dialog mereka,
ُ َ‫سآ ِوي ِإل‬
‫ى‬
َُ ‫ل تَكن َّم َُع ْال َكافِ ِرينَُ )( َقا‬
ُ َ ‫ار َكب َّم َعنَا َو‬
َُّ َ‫َونَادَىُ نوحُ ا ْبنَهُ َو َكانَُ ِفي َم ْع ِزلُ َيا بن‬
ْ ‫ي‬
َ ‫ل‬
ُِ ‫ل بَ ْينَ ُه َما ْال َِم ْو‬
‫ج‬
َِ ‫ّل َمن َر هح َِم ِۚ َو َحا‬
َِ ‫اّلل هإ‬
ِ‫ن أ َ ْم ُِر َه‬
ُْ ‫اص َُم ْاليَ ْو َُم ِم‬
َُ ‫ل‬
َُ ‫اء ُۚ قَا‬
ُِ ‫صم ِني ِمنَُ ْال َم‬
ِ ‫ع‬
َ ‫ل‬
ِ ‫َج َبلُ يَ ْع‬
َِ‫فَ َكانَِ همنَِ ْال ُم ْغ َر هقين‬
Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, “Hai
anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang
yang kafir.” Anaknya menjawab, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat
memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata, “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab
13
Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang
antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orangorang yang ditenggelamkan. (QS
Hud: 42-43).
2.
Kasih sayang Nabi Ibrahim terhadap ayahnya
Allah menceritakan,
ِ‫ّل َي ْس َم ُِع َو َّل‬
َِ ‫ت هل َِم ت َ ْعبُ ِد ُ َما‬
ِ‫ل هِل َ هبي هِه َيا أ َ َب ه‬
َِ ‫صدهيقًا نَ هبيًّا )( هإ ِْذ قَا‬
َِ ‫ب هإب َْرا هه‬
ِ‫َوا ْذ ُك ِْر هفي ْال هكتَا ه‬
‫يم ِۚ هإنَ ِهُ َكانَِ ه‬
‫ش ْيئًا‬
َِ ‫ع‬
َِ ‫ْص ُِر َو‬
َ ‫نك‬
َ ‫ّل يُ ْغ هني‬
‫يُب ه‬
Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam al-Kitab (al- Qur’an) ini.
Sesungguhnya ia seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. Ingatlah ketika ia
berkata kepada bapaknya, “Wahai bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang
tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?” (QS Maryam:
41—42).
3.
Belas kasih sayang Nabi Musa terhadap orang-orang yang lemah. Allah berfirman,
‫ل َما‬
َِ ‫ان ِۚ قَا‬
ِ‫ْن تَذُودَ ه‬
ِ‫اس يَ ْسقُونَِ َو َو َج ِدَ همن دُونه هه ُِم ْام َرأَتَي ه‬
ِ ‫علَ ْي هِه أ ُ َم ِةً همنَِ النَ ه‬
َ َ‫َولَ َما َو َر ِدَ َما َِء َم ْديَنَِ َو َج ِد‬
ْ ‫خ‬
‫سقَىِ لَ ُه َما ث َُِم ت َ َولَىِ هإلَى‬
َِ ‫صد‬
َِ ‫َطبُ ُك َما ِۚ قَالَتَا‬
َ ‫عا ُِء ِۚ َوأَبُونَا‬
ْ ُ‫ّل نَ ْس هقي َحتَىِ ي‬
َ ‫الر‬
َ َ‫شيْخِ َك هبيرِ )( ف‬
‫هر ه‬
ِ‫ن َخيْرِ فَ هقير‬
ِْ ‫ي هم‬
َِ َ‫ت هإل‬
َِ ‫ب هإنهي هل َما أَنزَ ْل‬
ِ‫ل َر ه‬
َِ ‫ل فَقَا‬
ِ‫الظ ه‬
‫ه‬
Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang
yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua
orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata, “Apakah maksudmu
(dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab, “Kami tidak dapat meminumkan
(ternak kami), sebelum penggembalapenggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang
bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya.” Maka Musa memberi minum
ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu
berdoa, “Ya Rabbku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau
turunkan kepadaku.” (QS al- Qashash: 23-24)
c.
Kesabaran
Para nabi adalah suri teladan kita dalam menghadapi berbagai problem, baik yang
berkaitan dengan dunia maupun agama. Allah memerintahkan bersabar sebagaimana
kesabaran para rasul.
ِ‫س هل‬
ُ ‫الر‬
ْ ‫فَا‬
ُّ َِ‫صبَ َِر أُولُو ْال َع ْز هِم همن‬
َ ‫صبه ِْر َك َما‬
“Maka bersabarlah kamu seperti rasul-rasul yang mempunyai keteguhan hati.” (QS al-Ahqaf:
35).
Mereka bersabar saat berbuat taat kepada Allah dan menahan diri dari berbagai hal
yang dilarang-Nya. Berikut ini sebagian contoh yang menggambarkan kesabaran mereka.
a. Kesabaran Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih anak lelaki
satu-satunya saat itu, yang dicintainya, Isma’il ‘Alaihissalam. Demikian pula kesabaran
Nabi Isma’il membantu ayahnya berbuat taat kepada Allah. Allah menceritakan
peristiwa tersebut dalam firman-Nya,
ِ‫ين‬
‫فَلَ َما أ َ ْسلَ َما َوتَلَ ِهُ هل ْل َج هب ه‬
“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya),
(nyatalah kesabaran keduanya).” (QS ash-Shaffat: 103)
14
Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di menjelaskan, “Isma’il menginjak masa dewasa.
Umumnya, usia dewasa lebih disenangi oleh kedua orang tuanya. Sungguh, masa susah
mengasuh dan mengawasi telah berlalu. Telah datang masa sang anak memberi manfaat.
Ibrahim sebagai ayahnya berkata, ‘Sungguh aku melihat dalam mimpiku aku
menyembelihmu.’ Maknanya, adalah Allah memerintahku untuk menyembelihmu (karena
mimpi para nabi adalah wahyu). Pikirkanlah, apa pendapatmu? Karena perintah Allah harus
dilaksanakan, Isma’il menjawab dengan sabar dan mengharapkan pahala serta rela terhadap
perintah Allah, sekaligus dalam rangka berbuat baik kepada ayahnya. Ia katakan, ‘Wahai
ayahanda, tunaikanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Engkau akan mendapati diriku,
insya Allah, termasuk orang-orang yang sabar’.”
b. Kesabaran Nabi Yusuf tatkala menghadapi godaan dan makar istri pembesar. Firman
Allah,
ْ ‫ابِ َوقَا َل‬
ُ‫اّللهِ ِۚ هإنَ ِه‬
َِ ‫ك ِۚ قَا‬
َِ َ‫ْت ل‬
َِ ‫تِ َهي‬
‫عن نَ ْف هس هِه َوغَلَقَ ه‬
َ َ‫ل َم َعا ِذ‬
َ ‫تِ ْاِلَب َْو‬
َ ‫َو َر َاودَتْ ِهُ الَتهي ُه َِو فهي بَ ْي هت َها‬
َ ‫ح‬
َِ‫الظا هل ُمون‬
ُِ ‫ّل يُ ْف هل‬
َِ ُ‫اي ِۚ إهنَ ِه‬
َِ ‫سنَِ َمثْ َو‬
َ ‫َربهي أَ ْح‬
Wanita (istri pembesar) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk
menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata, “Marilah ke
sini.” Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan
aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. (QS Yusuf:
23).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Kesabaran Nabi Yusuf menghadapi godaan
istri pembesar dalam berbagai keadaan itu lebih sempurna daripada kesabarannya
menghadapi makar saudara-saudaranya yang memasukkannya ke dalam sumur, menjualnya
(sebagai budak), dan memisahkannya dengan ayahnya. Sebab, dia tidak mampu mengelak
menghadapi cobaan dari saudar-saudaranya. Jadi, pada keadaan tersebut, seorang hamba
tidak memiliki pilihan selain sikap sabar. Adapun kesabarannya terhadap maksiat adalah
karena pilihan, keridhaan, dan kewajiban memerangi hawa nafsu.
Padahal, banyak faktor yang mendukungnya bermaksiat itu: (1) Syahwat sebagai
seorang pemuda yang lazimnya memiliki nafsu kuat; (2) seorang lajang yang tidak memiliki
tempat untuk menyalurkan syahwatnya; (3) seorang asing di negeri itu; orang asing biasanya
tidak malu melakukan sesuatu yang menyebabkan malu kalau dilakukan di depan teman,
kenalan, dan keluarganya; (4) statusnya sebagai budak; status budak biasanya tidak menjadi
penghalang untuk melakukan perbuatan itu, berbeda halnya dengan orang merdeka; (5) istri
si pembesar adalah wanita yang cantik, berkedudukan, sekaligus sebagai tuannya, dalam
keadaan para pelayan yang lain tidak ada; (6) wanita itu juga yang mengajaknya bermaksiat,
dalam keadaan sangat bernafsu; (7) wanita itu mengancam beliau q dengan penjara dan
hinaan apabila tidak mau menurutinya. Meski demikian, Yusufq memilih bersabar. Beliau
lebih memilih apa yang ada di sisi Allah. (Madarijus Salikin, 2/156).
c.
Kesabaran Nabi Musa dan Harun menghadapi para penguasa yang zalim, seperti Fir’aun,
Qarun, dan Haman. Allah berfirman,
‫ن هعن هدنَا قَالُوا ا ْقتُلُوا‬
ِْ ‫ق هم‬
ِ‫احرِ َكذَابِ )( فَلَ َما َجا َء ُهم به ْال َح ه‬
‫س ه‬
ُ َ‫ع ْونَِ َوهَا َمانَِ َوق‬
َ ‫إلَىِ فه ْر‬
َ ‫ارونَِ فَقَالُوا‬
ِ‫ض ََلل‬
َِ ‫سا َء ُه ِْم ِۚ َو َما َك ْي ِد ُ ْال َكا هف هرينَِ هإ‬
َ ‫ّل هفي‬
َ ‫أ َ ْبنَا َِء الَذهينَِ آ َمنُوا َم َع ِهُ َوا ْست َ ْحيُوا هن‬
Kepada Firaun, Haman, dan Qarun; mereka berkata, “(Ia) adalah seorang ahli sihir yang
pendusta.” Tatkala Musa datang kepada mereka membawa kebenaran dari sisi Kami,
mereka berkata, “Bunuhlah anak-anak orang yang beriman bersamanya dan biarkanlah
15
hidup wanita-wanita mereka.” Tipu daya orang-orang kafir itu tak lain hanyalah sia-sia
(belaka). (QS Ghafir: 24-25).
d. Kesabaran Nabi Ya’qub menghadapi dan menasihati anakanaknya yang berbuat zalim
terhadap saudara mereka, Yusuf. Allah berfirman,
ِ‫س ُك ْم‬
ِْ َ‫س َول‬
ِْ ‫ل َب‬
َِ ‫صا هدقُونَِ )( قَا‬
َِ ‫ل ْالقَ ْريَ ِةَ الَتهي ُكنَا فهي َها َو ْال هع‬
ِ‫َواسْأ َ ه‬
ُ ُ‫ت لَ ُك ِْم أَنف‬
َ ‫ل‬
َ َ‫ير الَتهي أ َ ْقبَ ْلنَا فهي َها ِۚ َوإهنَا ل‬
‫اّللُ أَن يَأ ْ هتيَ هني هب هه ِْم َج هميعًا ِۚ هإنَ ِهُ ُه َِو ْالعَ هلي ُِم ْال َح هِكي ُِم )( َوتَ َولَىِ َع ْن ُه ِْم‬
َِ ‫سى‬
َ ِۚ ِ‫صبْرِ َج هميل‬
َ ‫ع‬
َ َ‫أ َ ْم ًرا ِۚ ف‬
ِ‫ن فَ ُه َِو َك هظيم‬
ِ‫ع ْينَاِهُ همنَِ ْال ُح ْز ه‬
ِْ ‫ف َوا ْب َيض‬
َِ ‫س‬
َِ ‫َوقَا‬
ُ ‫علَىِ يُو‬
َ ‫َت‬
َ ِ‫سفَى‬
َ َ ‫ل َيا أ‬
Tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada di situ, dan kafilah yang kami datang
bersamanya, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar. Ya’qub berkata,
“Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Kesabaran yang
baik itulah (kesabaranku). Semoga Allah mendatangkan mereka semua kepadaku;
sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” Ya’qub berpaling dari
mereka (anak-anaknya) seraya berkata, “Aduhai dukacitaku terhadap Yusuf,” dan kedua
matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya
(terhadap anak-anaknya). (QS Yusuf: 82-84).
d. Rasa Syukur
Allah Yang Maha Bijaksana tidaklah mengaruniakan satu nikmat pun kecuali agar hamba
bersyukur kepada-Nya dan semakin menyempurnakan keimanan serta ketakwaan kepadaNya. Suri teladan kita adalah Nabi Sulaiman dan Rasulullah Muhammad saw. Allah berfirman
tentang Nabi Sulaiman yang meminta kepada para pembesar di kerajaan untuk
mendatangkan singgasana Ratu Saba.
َ ‫ْك‬
ِ‫ك ِۚ فَلَ َما َرآِهُ ُم ْست َ هق ًّرا هعندَِهُ قَا َل‬
َِ ُ‫ط ْرف‬
َِ ‫ل أَن َي ْرت َ ِدَ هإلَي‬
َِ ‫يك هب هِه قَ ْب‬
َِ ‫ب أَنَا آته‬
ِ‫ل الَذهي هعندَِهُ هع ْلمِ همنَِ ْال هكتَا ه‬
َِ ‫قَا‬
‫ن َربهي‬
َِ ‫ش َك َِر فَإهنَ َما يَ ْش ُك ُِر هلنَ ْف هس هِه ِۚ َو َمن َكفَ َِر فَإ ه‬
ِ‫ض ه‬
َ ‫ل َربهي هل َي ْبلُ َو هني أَأ َ ْش ُك ُِر أ َ ِْم أ َ ْكفُ ُِر ِۚ َو َمن‬
ْ َ‫َهذَا همن ف‬
َ
ِ‫غنهيِ َك هريم‬
Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab, “Aku akan membawa
singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Tatkala Sulaiman melihat singgasana
itu terletak di hadapannya, ia pun berkata, “Ini termasuk karunia Rabbku untuk mengujiku,
apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Barang siapa bersyukur,
sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Barang siapa ingkar,
sesungguhnya Rabbku Mahakaya lagi Mahamulia.” (QS an-Naml: 40).
Asy-Syaikh as-Sa’di menjelaskan, “Sulaiman tidak tertipu (menjadi sombong dan angkuh)
dengan kekayaan dan kekuasaannya. Beliau justru sadar bahwa hal itu adalah ujian dari
Rabbnya sehingga khawatir kalau beliau tidak mensyukuri nikmat itu. Kemudian beliau
menjelaskan bahwa rasa syukur hamba itu tidak memberikan manfaat bagi Allah, tetapi bagi
pelakunya.” Ibadah Rasulullah Saw yang sempurna menunjukkan rasa syukurnya yang
sempurna kepada Allah. Dari ‘Aisyah, beliau berkata, “Suatu malam, Nabi Saw berdiri shalat
dengan lama hingga kedua tumitnya pecah-pecah dan berdarah. Aku berkata, ‘Mengapa
engkau melakukan hal ini, wahai Rasulullah? Padahal telah diampuni dosa-dosamu yang
telah lalu dan yang akan datang?’ Beliau Saw menjawab, ‘Tidak pantaskah aku menjadi
seorang hamba yang banyak bersyukur?’” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
e.
Kejujuran
Kejujuran baik dalam hal ucapan, perbuatan, dan keyakinan diperintahkan oleh
Allah dan Rasul-Nya Saw dalam kitab-Nya dan Sunnahnya. Allah memerintahkan,
16
َِ‫صا هد هقين‬
ََِ ‫َيا أَيُّ َها ِالَذهينَِ آ َمنُوا اتَقُوا‬
َ ‫اّلل َو ُكونُوا َم َِع ال‬
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama
orang-orang yang benar.” (at-Taubah: 119)
Rasulullah Saw bersabda yang artinya, “Sesungguhnya kejujuran itu akan menuntun
kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan menuntun ke dalam jannah.” (Muttafaqun alaih dari
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu).
Berikut ini kisah beberapa nabi yang menunjukkan kejujuran mereka.
a.
Kejujuran Isa bin Maryam Allah berfirman,
ِ‫اّلل ِۚ قَا َل‬
ِ‫ُون َه‬
ِ‫ْن همن د ه‬
ِ‫ي هإ َل َهي ه‬
َِ ‫اس ات َ هخذُونهي َوأ ُ هم‬
ِ ‫ت هللنَ ه‬
َِ ‫نت قُ ْل‬
َِ َ ‫سى ابْنَِ َم ْر َي َِم أَأ‬
َِ ‫ل‬
َِ ‫َو هإ ِْذ َقا‬
َ ‫اّللُ َيا هعي‬
‫ع هل ْمت َ ِهُ ِۚ تَ ْعلَ ُِم َما فهي نَ ْف هسي‬
ِ ‫ْس هلي هب َح‬
َِ ‫ل َما لَي‬
َِ ‫ن أَقُو‬
ِْ َ ‫ون هلي أ‬
ُِ ‫َك َما َي ُك‬
َِ ‫س ْب َحان‬
ُ
َ ‫ق ِۚ هإن ُكنتُِ قُ ْلت ُ ِهُ فَقَ ِْد‬
َِ ‫ن ا ْعبُدُوا‬
ِ‫ّل َما أ َ َم ْرتَ هني به هِه أ َ ه‬
َِ ‫ب )( َما قُ ْلتُِ لَ ُه ِْم إه‬
ِ‫ع ََل ُِم ْالغُيُو ه‬
َِ َ ‫ك أ‬
َِ َ‫ك ِۚ إهن‬
َِ ‫ّل أ َ ْعلَ ُِم َما فهي نَ ْف هس‬
َِ ‫َو‬
َ ‫نت‬
َ‫اّلل‬
ِۚ ‫علَِ ْي هه ِْم‬
َِ ‫الر هق‬
َِ َ‫نت أ‬
َِ ‫ش ههيدًا َما د ُْمتُِ هفي هه ِْم ِۚ فَلَ َما تَ َوفَ ْيت َ هني ُك‬
َ ‫علَ ْي هه ِْم‬
َ ‫نت‬
َ ‫يب‬
َ ُِ‫َر هبي َو َربَ ُك ِْم ِۚ َو ُكنت‬
ِ‫ش ههيد‬
ِ‫علَىِ ُك ه‬
َِ َ ‫َوأ‬
َ ِ‫ش ْيء‬
َ ‫ل‬
َ ‫نت‬
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, “Hai Isa putra Maryam, adakah kamu
mengatakan kepada manusia, ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?’.” Isa
menjawab, “Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku
(mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah
mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui
apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui urusan yang gaib.
Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan
kepadaku yaitu, ‘Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu,’ dan aku menjadi saksi terhadap
mereka selama aku berada di antara mereka. Setelah Engkau wafatkan (angkat) aku,
Engkaulah yang mengawasi mereka. Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala
sesuatu’.” (QS al-Maidah: 116-117).
b. Kejujuran Adam dan Hawa. Mereka berdua dilarang oleh Rabbnya makan dari sebuah
pohon. Setelah itu, keduanya sadar dari tipu daya iblis yang menghasut mereka berdua
sehingga melanggar larangan-Nya. Allah mengisahkan pengakuan keduanya,
َ ‫س ْوآت ُ ُه َما َو‬
َ ‫فَدَ َّل ُه َما بهغُ ُرورِ ِۚ فَلَ َما ذَاقَا ال‬
ِ‫ق ْال َجنَ هة‬
ِ‫علَ ْي هه َما همن َو َر ه‬
ِ‫صفَ ه‬
ِْ َ‫ش َج َرِة َ بَد‬
َ ‫ان‬
‫ط هفقَا َي ْخ ه‬
َ ‫ت لَ ُه َما‬
َ ‫ش ْي‬
َ ‫ن ال‬
َ ‫عن ته ْل ُك َما ال‬
ِ‫عد ُوِ ُّم هبين‬
َِ ‫طانَِ لَ ُك َما‬
َِ ‫ش َج َرةهِ َوأَقُل لَ ُك َما هإ‬
َ ‫ِۚ َونَادَا ُه َما َربُّ ُه َما أَلَ ِْم أ َ ْن َه ُك َما‬
Setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala
keduanya telah merasakan buah pohon itu, tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan
mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Rabb mereka menyeru
mereka, “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan Aku katakan
kepadamu, ‘Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?’.” (QS alA’raf: 22).
3.
Akhlak terhadap Manusia
a) Husnuzhan
Husnuzhan kepada sesama manusia adalah sikap yang selalu berpikir dan berprasangka
baik kepada sesama manusia. Sikap ini ditunjukkan dengan rasa senang, berpikir positif, dan
sikap hormat kepada orang lain tanpa ada rasa curiga, dengki, dan perasaan tidak senang
tanpa alasan yang jelas.
Nilai dan manfaat dari sikap husnuzan kepada manusia adalah:
17
• Hubungan persahabatan dan persaudaraan menjadi lebih baik.
• Terhindar dari penyesalan dalam hubungan dengan sesama.
• Selalu senang dan bahagia atas kebahagiaan orang lain.
b) Dermawan
Dermawan adalah suatu perilaku sesorang yang selalu berusaha ingin menolong dan
meringankan bebang orang lain yang membutuhkan bantuan, baik diminta maupun tidak,
baik berupa harta, tenaga, pikiran, dan lain-lain dengan penuh kasih sayang dan hati yang
ikhlas. Manfaat Dermawan:
• Membagi kegembiraan kepada orang lain
• Lebih disukai orang lain yang ada di sekitarnya
• Menghilangkan kesenjangan sosial di lingkungannya
Allah SWT berfirman pada surat Al-Maidah [5] / 2: “Hendaklah kamu tolong menolong
dalam mengerjakan kebaikan dan takwa dan janganlah kamu tolong menolong dalam
perbuatan dosa dan pelanggaran”
Sungguh besar balasan dari Allah SWT bagi orang yang dermawan: “Perumpamaan
orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah SWT adalah serupa dengan 1 benih
yang menumbuhkan 7 butir, pada tiap-tiap butir seratus biji (1x7x100 = 700), Allah swt.
melipat gandakan/pahala bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah SWT Maha luas /
karunia- Nya lagi maha mengetahui” (Al Baqarah : 261).
c) Tawadhu’
Ini lawan dari kata sombong. Sikap tawadhu’ tampak ada perilaku rendah hati seseorang,
baik ucapan maupun perbuatan. Orang yang tawadhu’ akan mendapatkan beberapa
hikmah:
• Dihormati orang lain
• Lebih mudah mendapatkan ilmu
2.
Akhlak Madzmumah (Akhlak Tercela)
Akhlak madzmumah adalah tingkah laku yang tercela atau perbuatan jahat yang
merusak iman seseorang dan menjatuhkan martabat manusia. Sifat yang termasuk akhlak
mazmumah adalah segala sifat yang bertentangan dengan akhlak mahmudah
Jenis Akhlak Mazmumah (Akhlak Tercela)
Adapun macam-macam akhlak tercela dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian
sebagai berikut:
a.
Akhlak Mazmumah terhadap Allah SWT
•
Syirik (Mempersekutukan Sesuatu dengan Allah)
Syirik merupakan bahaya yang terbesar dan penyakit yang paling berbahaya.
pembahasan syirik dalam pembahasan penyakit hati ini karena sumber kesyirikan bermula
dari keyakinan (i’tiqad) yang ada di dalam hati. Perlu pembaca ketahui bahwa ulama
membagi jenis syirik menjadi dua bagian:
a) Syirik Akbar (besar)
18
Syirik akbar merupakan dosa yang terbesar yang tidak akan diampuni oleh Allah apabila
tidak bertaubat. Diharamkan baginya Surga, kekal di dalam neraka dan membatalkan semua
amalan-amalan yang lalu. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni
dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang
dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh ia telah berbuat
dosa yang besar.” (QS. An-Nisa’ : 48).
b) Syirik Ashghar (kecil)
Di bawah kehendak Allah. Kalau Allah mengampuni pelakunya maka tidak diadzab dan
kalau tidak diampuni, pelakunya masuk terlebih dahulu di neraka meskipun setelah itu
dimasukkan ke dalam Surga, tidak kekal dalam neraka (kalau dia dimasukkan ke dalam
neraka), tidak membatalkan semua amalan tetapi sebatas yang dilakukan dan tidak
diharamkan baginya Surga.
•
Takabbur (sombong)
Takabbur yaitu membesarkan diri atau berkelakuan sombong dan bongkak. Orang yang
takabbur itu memandang dirinya lebih mulia dan lebih tinggi pangkatnya daripada orang lain
serta memandang orang lain itu hina dan rendah pangkat. Sifat takabbur ini tiada sebarang
faedah malah membawa kepada kebencian Allah dan juga manusia dan kadangkala
membawa kepada keluar daripada agama kerana enggan tunduk kepada kebenaran.
•
‘Ujub (bangga diri)
‘Ujub yaitu merasa atau menyangka dirinya lebih sempurna. Orang yang bersifat ‘ujub
adalah orang yang timbul dalam hatinya sangkaan bahwa dia lebih sempurna dari semua sisi.
Dengan demikian, maka timbullah perasaan menghina dan memperkecil-kecilkan orang lain
dan lupa bahwa tiap-tiap sesuatu itu ada kelebihannya.
•
Hasad (dengki)
Hasad yaitu menginginkan nikmat yang diperolehi oleh orang lain hilang atau berpindah
kepadanya. Seseorang yang bersifat dengki tidak ingin melihat orang lain mendapat nikmat
atau tidak ingin melihat orang lain menyerupai atau lebih daripadanya dalam sesuatu
perkara yang baik. Orang yang bersifat demikian seolah-olah membangkang kepada Allah
kerana mengurniakan sesuatu nikmat kepada orang lain. Orang yang berperangai seperti itu
juga senantiasa dalam keadaan berdukacita dan iri hati kepada orang lain yang akhirnya
menimbulkan fitnah dan hasutan yang membawa kepada bencana dan kerusakan.
•
Hubbud dunya (cinta dunia)
Yang dimaksud cinta dunia yaitu mencintai perkara-perkara yang berbentuk keduniaan
yang tidak membawa kebaikan untuk akhirat. Banyak kesenangan dan kemewahan dunia
yang diingini manusia. Di antara perkara-perkara tersebut ada yang tidak dituntut oleh
agama dan tidak menjadi kebajikan di akhirat. Karena itu, cintailah dunia sekadarnya.
Seandainya kita harus mengambil kebaikan dunia, kita harus pastikan bahwa hal itu ada
manfaatnya untuk akhirat. Jadikan dunia untuk menanam kebaikan di akhirat.
•
Nifaq
Nifaq menurut syara’ (terminologi) berarti menampakkan keIslaman dan kebaikan tetapi
menyembunyikan kekufuran dan kejahatan. Dinamakan demikian karena dia masuk pada
19
syari’at dari satu pintu dan keluar dari pintu yang lain. Karena itu Allah memperingatkan
dengan firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang munafiq itu mereka adalah orang-orang
yang fasiq.” (QS At-Taubah: 67).
Menurut al-Hafizh Ibnu Katsir mereka adalah orang-orang yang keluar dari jalan
kebenaran masuk ke jalan kesesatan. Allah menjadikan orang-orang munafiq lebih jelek dari
orang-orang kafir.
Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan
yang paling bawah dari Neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang
penolong pun bagi mereka.” (QS an-Nisaa’: 145).
Nifaq ada dua jenis:
a. Nifaq I’tiqadi (Keyakinan)
Yaitu nifaq besar, di mana pelakunya menampakkan keIslaman, tetapi menyembunyikan
kekufuran. Jenis nifaq ini menjadikan pelakunya keluar dari agama dan dia berada di dalam
kerak Neraka. Allah menyifati para pelaku nifaq ini dengan berbagai kejahatan, seperti
kekufuran, ketiadaan iman, mengolok-olok dan mencaci agama dan pemeluknya serta
kecenderungan kepada musuh-musuh untuk bergabung dengan mereka dalam memusuhi
Islam. Orang-orang munafiq jenis ini senantiasa ada pada setiap zaman. Lebih-lebih ketika
tampak kekuatan Islam dan mereka tidak mampu membendungnya secara lahiriyah. Dalam
keadaan seperti itu, mereka masuk ke dalam agama Islam untuk melakukan tipu daya
terhadap agama dan pemeluknya secara sembunyi-sembunyi, juga agar mereka bisa hidup
bersama ummat Islam dan merasa tenang dalam hal jiwa dan harta benda mereka. Karena
itu, seorang munafiq menampakkan keimanannya kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya,
Kitab-Kitab-Nya dan Hari Akhir, tetapi dalam batinnya mereka berlepas diri dari semua itu
dan mendustakannya. Nifaq jenis ini ada empat macam, yaitu:
• Mendustakan Rasulullah saw atau mendustakan sebagian dari apa yang beliau bawa.
• Membenci Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam atau membenci sebagian apa yang
beliau bawa.
• Merasa gembira dengan kemunduran agama Islam.
• Tidak senang dengan kemenangan Islam
b.
Nifaq ‘Amali (Perbuatan)
Yaitu melakukan sesuatu yang merupakan perbuatan orang-orang munafiq, tetapi masih
tetap ada iman di dalam hati. Nifaq jenis ini tidak mengeluarkannya dari agama, tetapi
merupakan wasilah (perantara) kepada yang demikian. Pelakunya berada dalam iman dan
nifaq. Lalu jika perbuatan nifaqnya banyak, maka akan bisa menjadi sebab terjerumusnya dia
ke dalam nifaq sesungguhnya, berdasarkan sabda Nabi saw:
ٌ‫اق َحّت‬
ٌِ ‫ َو َم ٌْن ََكن َتٌْ ِف ْي ٌِه خ َْص ٌَل ِمْنْ ُنٌ ََكن َتٌْ ِف ْي ٌِه خ َْص َلٌ ِم ٌَن النِِّ َف‬،‫َأ ْربَعٌ َم ٌْن ُكنٌ ِف ْي ٌِه ََك ٌَن ُمنَا ِفقاٌ خَا ِلصا‬
.‫َاصٌ فَ َج ٌَر‬
ٌَ ‫ َوا َذا َحد‬،‫ ا َذا ْاؤتُ ِم ٌَن خ ََان‬،‫يَدَ َعهَا‬
َ َ ‫ َوا َذا خ‬،‫ َوا َذا عَاهَدٌَ غَدَ َر‬،‫ث َك َذ َب‬
ِ
ِ
ِ
ِ
“Ada empat hal yang jika terdapat pada diri seseorang, maka ia menjadi seorang munafiq
sejati, dan jika terdapat padanya salah satu dari sifat tersebut, maka ia memiliki satu
karakter kemunafikan hingga ia meninggalkannya: 1) jika dipercaya ia berkhianat, 2) jika
berbicara ia berdusta, 3) jika berjanji ia memungkiri, dan 4) jika bertengkar ia melewati
batas.”
20
Terkadang pada diri seorang hamba terkumpul kebiasaan-kebiasaan baik dan kebiasaankebiasaan buruk, perbuatan iman dan perbuatan kufur dan nifaq. Karena itu, ia
mendapatkan pahala dan siksa sesuai konsekuensi dari apa yang ia lakukan, seperti malas
dalam melakukan shalat berjama’ah di masjid. Ini adalah di antara sifat orang-orang
munafik. Sifat nifaq adalah sesuatu yang buruk dan sangat berbahaya, sehingga para Sahabat
Radhiyallahu anhum begitu sangat takutnya kalau-kalau dirinya terjerumus ke dalam nifaq.
c.
Akhlak Mazmumah terhadap Manusia
•
Al-Ghibah
Yaitu menggunjing atau mengumpat. Menggunjing adalah mengatakan keadaan orang
lain dibelakangnya dengan celaan kepada orang-orang yang ada dimukanya, dengan tujuan
untuk menjatuhkan nama orang tersebut atau tujuan lain, meskipun memang sebenarnya
keburukan itu ada pada orang yang digunjingnya. Bila tidak ada, hal itu merupakan fitnah.
Firman Allah dalam surat al-Hujurat ayat 12 yang artinya, “Hai orang-orang yang
beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sebagian kecurigaan itu dosa. Dan
janganlah mencari-cari keburukan orang, dan janganlah mempergunjingkan orang satu
sama lain.”
•
Al-Bukhlu
Yaitu kikir. Orang yang kikir, tidak mau membelanjakan hartanya, baik untuk dirinya,
misalnya biar makan tidak baik dan bergizi, padahal uang ada, baik untuk kepentingan
keluarganya, maupun untuk kepentingan orang banyak, yang merupakan zakat, infak atau
sadakah. Bagi orang yang kikir, mendengar istilah-istilah tersebut bagaikan petir di siang hari.
Sifat kikir ini dapat mempersempit pergaulan, sering menuduh orang tama’ (ingin diberi).
Kemudian orang yang kikir itu apabila hartanya telah berkumpul, ia merasa kaya dan tidak
lagi memerlukan bantuan orang lain yang juga lupa kepada pemberinya.
Allah berfirman dalam surat al-Lail ayat 8-10 yang artinya, “Tetapi orang yang kikir dan
merasa dirinya serba cukup, dan mendustakan yang baik, akan kami mudahkan baginya
(jalan) kesukaran.”
•
Ghadab
Ghadhab (pemarah) berarti sifat pemarah, yaitu marah yang bukan pada menyeru
kebaikan atau mendekati kejahatan. Sifat pemarah adalah senjata bagi yang menjaga hak
dan kebenaran. Oleh karena itu, seseorang yang tidak mempunyai sifat pemarah akan
dizalimi dan akan dicerobohi hak-haknya. Sifat pemarah yang dicela ialah marah yang bukan
pada tempatnya dan tidak dengan sesuatu sebab yang benar.
•
al-Ananiah
Yaitu sifat egois, tidak memperhatikan kepentingan orang lain. Manusia sebagai
makhluk pribadi dan sekaligus makhluk sosial. Oleh karenanya, dalam mengejar kepentingan
pribadi, hendaknya memperhatikan kepentingan orang lain janganlah boros dan juga kikir,
namun hendaknya berada di antaranya yaitu pemurah.
Firman Allah Swt dalam surat Al-Isra ayat 29 yang artinya: “Dan janganlah engkau
jadikan tanganmu terbelenggu ke kuduk, dan janganlah pula engkau kembangkan seluasluasnya, nanti engkau duduk tercela dan sengsara.”
21
Nabi  Terjaga dari Dosa, tapi Banyak Beristigfar
Perlu diingat selalu, bahwa Nabi kita Muhammad , pemimpinnya anak manusia,
menggucapkannya istigfar lebih banyak dari 70 kali di dalam sehari.
ِ‫اّلل‬
ِ‫ل َه‬
َِ ‫سو‬
َ ‫ َيقُو ُلِ « َو‬- ‫ صلى هللا عليه وسلم‬- ‫اّلل‬
ُ ‫س هم ْعتُِ َر‬
َ َ ‫عن أَبُي ُه َري َْرِة‬
َ َ ِ‫اّللِه هإ هنى ِل َ ْستَ ْغ هف ُر‬
» ً ‫س ْب هعينَِ َم َرِة‬
ِْ ‫وب هإلَ ْي هِه هِفى ْال َي ْو هِم أَ ْكث َ َِر هم‬
ُِ ُ ‫َوأَت‬
َ ‫ن‬
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah saw
bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar beristighfar kepada Allah dan
bertobat kepada-Nya, lebih banyak dari 70 kali dalam sehari.” (HR. Bukhari).
Perlu diingat selalu, bahwa Rasulullah  yang selalu diberi petunjuk, jika mendapati
sesuatu menghalau di dalam hatinya, beliau mengucapkannya sebanyak 100 kali dalam
sehari.
ِ‫ل « هإنَ ِهُ لَيُغَا ُن‬
َِ ‫ قَا‬-‫صلى هللا عليه وسلم‬- ‫اّلل‬
ِ‫ل َه‬
َِ ‫سو‬
َِ َ ‫ أ‬- ِ‫ص ْح َبة‬
ِْ ‫ َو َكان‬- ‫ى‬
ِ‫ن اِلَغ هَرِ ْال ُمزَ نه ه‬
ِ‫ع ه‬
ُ ‫ن َر‬
ُ ُ‫َت لَ ِه‬
َ
ْ
ْ
َ
َ
ِ‫اّلل فهى اليَ ْو هِم همائ َ ِة َم َرة‬
ََِ ‫علَى قَل هبى َو هإنهى ِل ْستَ ْغ هف ُِر‬
َ
Artinya: “Al-Agharr Al-Muzani, beliau memiliki pershahabatan dengan Rasulullah saw,
beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya benar-benar
terhalang atas hatiku dan sungguh aku benar-benar berisatighfar kepada Allah di dalam
sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim)
Lalu bagaimanakah dengan kita yang hatinya tidak selalu terjaga dan tidak selalu
mendapat petunjuk? Bukankah lebih harus banyak beristighfar?
Perlu diingat selalu, bahwa Rasulullah  seorang yang diampuni dosa yang telah lalu dan
yang akan datang, beliau mengucapkannya setiap kali duduk bermajelis sebanyak 100 kali.
« ِ‫اح هِد همائ َ ِةَ َم َرة‬
ِ ‫ فهى ْال َم ْج هل ه‬-‫صلى هللا عليه وسلم‬- ‫اّلل‬
ِ‫ل َه‬
ِ‫سو ه‬
ِْ ‫ل هإ‬
َِ ‫ع َم َِر قَا‬
ِ‫ن اب ه‬
ِ‫ع ه‬
‫س ْال َو ه‬
ُ ‫ْن‬
ُ ‫ن ُكنَا لَنَعُ ِدُّ هل َر‬
َ
.» ‫الر هحي ُِم‬
ُِ ‫ت الت َ َو‬
َِ ‫ك أ َ ْن‬
َِ َ‫ى هإن‬
َِ َ‫عل‬
ِ‫َر ه‬
َ ‫اب‬
َ ِْ‫ب ا ْغ هف ِْر هلى َوتُب‬
Artinya: “Abdullah bin Umar berkata: “Sungguh kami dulu benar-benar menghitung
dari Rasulullah  di dalam satu majelis sebanyak 100 kali beliau mengucapkan: Rabbighfir lii
wa tub ‘alayya, innaka Anta at-tawwabu ar-rahim.” (HR Abu Daud).
22
Materi X
ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI DALAM ISLAM
Islam sangat memperhatikan pentingnya ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dalam
kehidupan umat manusia. Martabat manusia disamping ditentukan oleh ibadahnya kepada
Allah, juga ditentukan oleh kemampuannya mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi
dan seni. Bahkan di dalam al-Quran sendiri Allah menyatakan bahwa hanya orang yang
berilmulah yang benar-benar takut kepada Allah.
Dialog antara Allah dengan malaikat ketika Allah akan menciptakan manusia, dan
malaikat mengatakan bahwa manusia akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah,
Allah membuktikan keunggulan manusia daripada malaikat dengan kemampuan manusia
menguasai ilmu melalui kemampuan menyebutkan nama-nama.
Seni Islam murni melahirkan bentuk praktik yang dapat membuat manusia merenungkan
keesaan Ilahi. Begitu pula dengan semua ilmu yang bersifat Islami menunjukkan
kesatupaduan dan saling berhubungan dari segala yang ada. Kedua hal ini, seni dan ilmu
pengetahuan yang bersifat Islami, menjadikan manusia dapat menuju ke arah perenungan
keagungan dan keesaan Ilahi.
Ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dalam praktek mampu mengangkat harkat dan
martabat manusia karena malalui ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, manusia mampu
melakukan eksplorasi kekayaan alam yang disediakan oleh Allah. Karena itu dalam
pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, nilai-nilai Islam tidak boleh diabaikan
agar hasil yang diperoleh memberikan kemanfaatan sesuai dengan fitrah hidup manusia.
Perbedaan antara Ilmu dan Pengetahuan
Banyak orang menganggap bahwa antara ilmu dan pengetahuan adalah dua hal yang
sama, padahal sebenarnya antara keduanya berbeda. Ditinjau dari segi pengertiannya, Ilmu
atau sains adalah pengetahuan tentang fakta, baik itu yang bersifat natural maupun sosial
yang berlaku umum dan sistematis atau pengetahuan yang sudah diatur menurut urutan
dan arti serta menyeluruh dan sistematis.
Sedangkan, pengetahuan adalah informasi yang diketahui atau disadari oleh
Pengertian dan Perbedaan Ilmu dan Pengetahuan seseorang/kelompok dan belum dapat
dipelajari oleh umum.
Pengetahuan bisa menjadi ilmu apabila telah dikaji dan diuji sehingga bisa tersedia
untuk umum. Pengetahuan termasuk, tetapi tidak dibatasi pada deskripsi, hipotesis, konsep,
teori, prinsip dan prosedur yang secara Probabilitas Bayesian adalah benar atau berguna.
Berdasarkan sudut pandang filsafat ilmu, Pengetahuan adalah segala sesuatu yang
diketahui manusia melalui pancaindra. Sedangkan ilmu adalah pengetahuan yang telah
disusun, diklasifikasikan, dan diverifikasi sehingga menghasilkan kebenaran objektif dan
dapat diuji ulang secara ilmiah. Dalam Al-Quran ilmu digunakan dalam proses pencapaian
pengetahuan dan objek pengetahuan sehingga memperoleh kejelasan.
Jadi, antara ilmu dan pengetahuan tidak dapat disamakan. Secara garis perbedaan
antara ilmu dan pengetahuan adalah sebagai berikut:
a) Ilmu bersifat umum, sedangkan pengetahuan bersifat individual atau kelompok
Guru dari suatu ilmu adalah ilmu itu sendiri, orang yang berperan dalam
penyampaian ilmu hanyalah pengajar/pengampu, sedangkan guru dari pengetahuan
adalah orang yang memiliki pengetahuan itu.
b) Ilmu telah diuji dan dikaji, sedangkan pengetahuan belum.
23
Ilmu adalah pengetahuan yang telah disusun secara sistematis dan berlaku
umum, sedangkan pengetahuan belum disusun secara sistematis karena belum dicoba
dan diuji.
Fungsi Kemajuan Teknologi
Kemajuan IPTEK yang telah dicapai sekarang benar-benar telah diakui dan dirasakan
memberikan banyak kemudahan dan kenyamanan bagi kehidupan umat manusia.
Sumbangan IPTEK terhadap peradaban dan kesejahteraan manusia tidaklah dapat
dipungkiri. Dampak positif dan dampak negative dari perkembangan teknologi dilihat dari
berbagai bidang:
1. Bidang Informasi dan komunikasi
Dalam bidang informasi dan komunikasi telah terjadi kemajuan yang sangat pesat.
Dari kemajuan dapat kita rasakan dampak positifnya antara lain:
• Kita akan lebih cepat mendapatkan informasi-informasi yang akurat dan terbaru di
bumi bagian manapun melalui internet
• Kita dapat berkomunikasi dengan teman, maupun keluarga yang sangat jauh hanya
dengan melalui handphone
• Kita mendapatkan layanan bank yang dengan sangat mudah.
Disamping keuntungan-keuntungan yang kita peroleh ternyata kemajuan kemajuan
teknologi tersebut dimanfaatkan juga untuk hal-hal yang negatif, antara lain:
• Pemanfaatan jasa komunikasi oleh jaringan teroris (Kompas).
• Penggunaan informasi tertentu dan situs tertentu yang terdapat di internet yang bisa
disalah gunakan fihak tertentu untuk tujuan tertentu.
• Kerahasiaan alat tes semakin terancam Melalui internet kita dapat memperoleh
informasi tentang tes psikologi, dan bahkan dapat memperoleh layanan tes psikologi
secara langsung dari internet.
• Kecemasan teknologi.
2. Bidang Ekonomi dan Industri
Dalam bidang ekonomi teknologi berkembang sangat pesat. Dari kemajuan teknologi
dapat kita rasakan manfaat positifnya antara lain:
• Pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi
• Terjadinya industrialisasi
• Produktifitas dunia industri semakin meningkat.
• Persaingan dalam dunia kerja sehingga menuntut pekerja untuk selalu menambah
skill dan pengetahuan yang dimiliki.
• Di bidang kedokteran dan kemajauan ekonomi mampu menjadikan produk
kedokteran menjadi komoditi.
Meskipun demikian, ada pula dampak negatifnya antara lain:
1. Terjadinya pengangguran bagi tenaga kerja yang tidak mempunyai kualifikasi yang
sesuai dengan yang dibutuhkan.
2. Sifat konsumtif sebagai akibat kompetisi yang ketat pada era globalisasi akan juga
melahirkan generasi yang secara moral mengalami kemerosotan: konsumtif, boros
dan memiliki jalan pintas yang bermental “instant”.
3. Bidang Sosial dan Budaya.
24
Akibat kemajuan teknologi bisa kita lihat:
a) Perbedaan kepribadian pria dan wanita. Banyak pakar yang berpendapat bahwa kini
semakin besar porsi wanita yang memegang posisi sebagai pemimpin, baik dalam
dunia pemerintahan maupun dalam dunia bisnis.
b) Meningkatnya rasa percaya diri. Kemajuan ekonomi di negara-negara Asia
melahirkan fenomena yang menarik.
c) Tekanan, kompetisi yang tajam di berbagai aspek kehidupan sebagai konsekuensi
globalis.
4. Bidang Pendidikan
Teknologi mempunyai peran yang sangat penting dalam bidang pendidikan antara
lain:
a) Munculnya media massa, khususnya media elektronik sebagai sumber ilmu dan pusat
pendidikan.
b) Munculnya metode-metode pembelajaran yang baru, yang memudahkan siswa dan
guru dalam proses pembelajaran.
c) Sistem pembelajaran tidak harus melalui tatap muka.
5. Bidang politik
• Timbulnya kelas menengah baru Pertumbuhan teknologi dan ekonomi di kawasan ini
akan mendorong munculnya kelas menengah baru.
• Proses regenerasi kepemimpinan.
• Di bidang politik internasional, juga terdapat kecenderungan tumbuh
berkembangnya regionalisme.
Bukti Kejayaan Umat Islam di Bidang Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Dalam zaman Daulah Abbasiyah, masa meranumlah kesusasteraan dan ilmu
pengetahuan, disalin ke dalam bahasa Arab, ilmu-ilmu purbakala. Lahirlah pada masa itu
sekian banyak penyair, pujangga, ahli bahasa, ahli sejarah, ahli hukum, ahli tafsir, ahli hadits,
ahli filsafat, thib, ahli bangunan dan sebagainya. Zaman ini adalah zaman keemasan Islam,
demikian Jarji Zaidan memulai lukisannya tentang Bani Abbasiyah. Dalam zaman ini,
kedaulatan kaum muslimin telah sampai ke puncak kemuliaan, baik kekayaan, kemajuan,
ataupun kekuasaan.
Dalam zaman ini telah lahir berbagai ilmu Islam, dan berbagai ilmu penting telah
diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Masa Daulah Abbasiyah adalah masa di mana umat
Islam mengembangkan ilmu pengetahuan, suatu kehausan akan ilmu pengetahuan yang
belum pernah ada dalam sejarah.Kesadaran akan pentingnya ilmu pengetahuan
merefleksikan terciptanya beberapa karya ilmiah seperti terlihat pada alam pemikiran Islam
pada abad ke-8 M. yaitu gerakan penerjemahan buku peninggalan kebudayaan Yunani dan
Persia.
Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu hal yang sangat mulia dan berharga. Para
khalifah dan para pembesar lainnya membuka kemungkinan seluas-luasnya untuk kemajuan
dan perkembangan ilmu pengetahuan. Pada umumnya khalifah adalah para ulama yang
mencintai ilmu, menghormati sarjana dan memuliakan pujangga.
25
Kegemilangan Iptek di Masa Kejayaan Islam
Kekhilafahan Abbasiyah tercatat dalam sejarah Islam dari tahun 750-1517 M/132-923
H. Diawali oleh khalifah Abu al-’Abbas as-Saffah (750-754) dan diakhiri Khalifah alMutawakkil Alailah III (1508-1517). Dengan rentang waku yang cukup panjang, sekitar 767
tahun, kekhilafahan ini mampu menunjukkan pada dunia ketinggian peradaban Islam
dengan pesatnya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di dunia Islam.
Di era ini, lahir ilmuwan-ilmuwan Islam dengan berbagai penemuannya yang
mengguncang dunia. Antara lain:
• Al-Khawarizmi (780-850) yang menemukan angka nol dan namanya diabadikan
dalam cabang ilmu matematika, Algoritma (logaritma).
• Ibnu Sina (980-1037) yang membuat termometer udara untuk mengukur suhu udara.
Bahkan namanya tekenal di Barat sebagai Avicena, pakar Medis Islam legendaris
dengan karya ilmiahnya Qanun (Canon) yang menjadi referensi ilmu kedokteran para
pelajar Barat.
• Al-Biruni (973-1048) yang melakukan pengamatan terhadap tanaman sehingga
diperoleh kesimpulan kalau bunga memiliki 3, 4, 5, atau 18 daun bunga dan tidak
pernah 7 atau 9.
• Ar-Razi. Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi dikenali Rhazes di dunia barat,
seorang pakar sains Iran (864 – 930), Lahir di Rayy, Teheran. Sejak muda
mempelajari filsafat, kimia, matematika dan kesastraan. Ia dipercaya memimpin
rumah sakit di Rayy lalu Muqtadari di Baghdad. Diketahui sebagai ilmuwan serbabisa.
• Az-Zahrawi. Abu Qasim az-Zahrawi (1000 M) (Menemukan teori pembedahan) atTashrif Liman ajiza at-Ta’lif terdiri 30 jilid, berasal Spanyol. Abul Qasim lahir di Zahra,
yang terletak di sekitar Kordoba, Spanyol. Di kalangan bangsa Moor Andalusia, dia
dikenal dengan nama "El Zahrawi". Al-Qasim adalah dokter kerajaan pada masa
Khalifah Al-Hakam II dari kekhalifahan Umayyah.
• Jabir Ibnu Hayyan (815 M). Seorang ilmuwan yang dianggap paling pantas
menyandang gelar ahli kimia Arab pada masa awal perkembangannya. Abu Abdullah
Jabir bin Hayyan al-Kufi as-Sufi adalah nama lengkap Jabir Ibnu Hayyan. Ia lahir pada
tahun 721 dan dibesarkan dalam keluarga dokter. Ada pendapat yang menyatakan
bahwa Jabir adalah keturunan Yunani yang memeluk agama Islam.
• Ibnu Rusyd adalah seorang ilmuwan muslim yang cerdas dan menguasai banyak
bidang ilmu, seperti al-Quran, fisika, kedokteran, biologi, filsafat, dan astronomi. Ibnu
Rusyd lahir pada tahun 1198 di Kordoba, Spanyol. Di Barat, ia dikenal dengan nama
Averroes. Ayah Ibnu Rusyd adalah seorang ahli hukum yang cukup berpengaruh di
Kordoba. Sementara itu, banyak saudaranya menduduki posisi penting di
pemerintahan. Latar belakang keluarganya itulah yang sangat mempengaruhi proses
pembentukan tingkat intelektualitas Ibnu Rusyd di kemudian hari. Ibnu Rusyd adalah
seorang tokoh perintis ilmu jaringan tubuh (histology). Ia pun berjasa dalam bidang
penelitian pembuluh darah dan penyakit cacar.
• Al-Kindi (pengarang 270 buku, ahli music, farmasi dll). Hidup pada masa
penerjemahan besar-besaran karya-karya Yunani ke dalam bahasa Arab. Di samping
menerjemah, al-Kindi juga memperbaiki terjemahan-terjemahan sebelumnya. Karena
keahlian dan keluasan pandangannya, ia diangkat sebagai ahli di istana dan menjadi
guru putra Khalifah al-Mu’tasim, Ahmad.
26
•
Biri Rais nama aslinya Muhyidin Rais (1465-1555 M). Membuat peta dunia terlengkap
dan menemukan benua Amerika. Columbus juga menemukan benua Amerika tahun
1492 M.
Pada abad ke-8 dan 9 M, negeri Irak dihuni oleh 30 juta penduduk yang 80% nya
merupakan petani. Hebatnya, mereka sudah pakai sistem irigasi modern dari sungai Eufrat
dan Tigris. Hasilnya, di negeri-negeri Islam rasio hasil panen gandum dibandingkan dengan
benih yang disebar mencapai 10:1 sementara di Eropa pada waktu yang sama hanya dapat
2,5:1.
Kecanggihan teknologi masa ini juga terlihat dari peninggalan-peninggalan
sejarahnya. Seperti arsitektur Masjid Agung Cordoba, Blue Mosque di Istanbul, menara spiral
di Samara yang dibangun oleh khalifah al-Mutawakkil, Istana al-Hamra (al-Hamra Qasr) yang
dibangun di Seville, Andalusia pada tahun 913 M. Sebuah Istana terindah yang dibangun di
atas bukit yang menghadap ke kota Granada.
Perbedaan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kemajuan Ilmu Pengetahuan
Islam merupakan ajaran agama yang sempurna. Kesempurnaannya dapat tergambar
dalam keutuhan inti ajarannya. Ada tiga inti ajaran Islam, yaitu Iman, Islam dan Ihsan. Ketiga
inti ajaran itu terintegrasi di dalam sebuah sistem ajaran yang disubut Dienul Islam.
Dalam Al-Qur’an surat Ibrahim: 24-25, Allah telah memberikan ilustrasi indah tentang
integrasi antara iman, ilmu dan amal. Ayat tersebut menggambarkan keutuhan antara iman,
ilmu, dan amal atau akidah, syariah dan akhlak dengan menganalogkan bangunan Dinul
Islam bagaikan sebatang pohon yang baik. Iman diidentikan dengan akar sebuah pohon yang
menopang tegaknya ajaran Islam. Ilmu bagaikan batang pohon yang mengeluarkan dahandahan dan cabang-cabang ilmu pengetahuan, sedangkan amal ibarat buah dan pohon
identik dengan teknologi dan seni.
Iptek yang dikembangkan di atas nilai-nilai iman dan ilmu akan menghasilkan amal
saleh. Selanjutnya perbuatan baik, tidak akan bernilai amal saleh apabila perbuatan baik
tersebut tidak dibangun di atas nilai iman dan ilmu yang benar. Iptek yang lepas dan
keimanan dan ketakwaan tidak akan bernilai ibadah serta tidak akan menghasilkan
kemaslahatan bagi umat manusia dan alam lingkungannya bahkan akan menjadi malapetaka
bagi kehidupan manusia.
Keutamaan Orang yang Berilmu dan Beriman
Allah Ta’ala menjanjikan akan mengangkat derajat orang-orang berilmu dan beriman
kepada-Nya. Hal ini senada dengan surat al-Mujaadilah ayat 11.
ْ ‫سحواُ ِف‬
َّ ِ‫سح‬
ُ‫ُۖو ِإذَاُ ِقي َلُانشزوا‬
َُّ َ‫َياُأَيُّ َهاُالَّذِينَ ُآ َمنواُ ِإذَاُ ِقي َلُلَك ْمُتَف‬
َ ‫سحواُ َي ْف‬
َ ‫يُال َم َجا ِل ِسُفَا ْف‬
َ ُ‫ُاَّللُلَك ْم‬
ْ ‫ُوالَّذِينَ ُأوت‬
َّ ‫ُو‬
َّ ِ‫فَانشزواُيَ ْرفَع‬
ُ‫اَّللُ ِب َماُتَ ْع َملونَ ُ َخ ِبير‬
ِ ‫ُاَّللُالَّذِينَ ُآ َمن‬
َ ُ‫واُال ِع ْل َمُدَ َر َجات‬
َ ‫واُمنك ْم‬
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu: ‘Berilah
kelapangan dalam majelis’, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan
untukmu. Dan apabila dikatakan: ‘Berdirilah kamu’, maka berdirilah, niscaya Allah akan
meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu
pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [QS
al-Mujaadilah: 11]
Betapa banyak manusia yang tergiur, silau dan terlena dengan harta, meraihnya
tanpa pernah merasa puas, ketika seseorang merasa kekurangan, maka ia mencarinya dan
setelah tercukupi ia akan terus menuntutnya sampai tiba ajalnya. Begitulah karakter dari
27
sebuah kehidupan dunia yang menawarkan kegemerlapan dan kemewahan yang tak
berujung kepuasan. Makanya ada sebuah untaian doa yang indah “Ya Allah aku berlindung
dari (mengikuti) ajakan nafsu yang sejatinya tidak akan pernah memuaskan.”
Harta benda yang selalu ditumpuk oleh seseorang, pasti akan meninggalkannya cepat
atau lambat dan membiarkan pemiliknya masuk ke dalam liang lahat. Sedangkan para
pencari ilmu, ia akan selalu di jalan Allah Ta’ala dan menemaninya ketika di dunia sampai
dihantarkannya ke dalam kubur serta membawanya kepada tempat yang dirindukan yaitu
Surga.
Di antara keutamaan manusia berilmu sesuai dengan petunjuk al-Qur’an dan sunnah:
1. Dimudahkan jalan menuju surga
Rasulullah saw memuji para penuntut ilmu di dalam sabdanya:
َ ُُ‫ُاَّللُلَه‬
َ ُ‫سلَ َك‬
َّ ‫س َّه َل‬
ُ‫ط ِريقاُإِلَىُال َجنَّ ِة‬
َ ُ‫ط ِريقاُيَ ْلت َ ِمسُفِي ِهُ ِع ْلما‬
َ ُ‫َم ْن‬
“Barang siapa menempuh jalan guna mencari Ilmu, maka Allah memudahkan
baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim)
2. Disejajarkan dalam persaksian dengan para malaikat
Allah berfirman:
ْ ‫ُال َع ِزيز‬
ْ ‫ْطُ َُلُ ِإلَهَُ ِإ َّلُه َو‬
ْ ‫ُوأول‬
َّ َ‫ش ِهد‬
ُ‫ُال َح ِكيم‬
َُ ‫ُاَّللُأَنَّه َُلُ ِإلَهَُ ِإ َّلُه َو‬
َ
ِ ‫وُال ِع ْل ِمُقَا ِئماُ ِب ْالُِقس‬
َ ‫ُو ْال َم َال ِئ َكة‬
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak
disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga
menyatakan yang demikian itu). Tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah),
yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana,” (QS: Ali Imran ayat 18)
3. Menjadi juru bicara untuk membantah para pendosa
“Sesungguhnya kehinaan dan azab hari ini ditimpakan atas orang-orang yang kafir”,
(QS: An Nahl ayat 27).
“dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa; “Mereka
tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat (saja)”. Seperti demikianlah mereka selalu
dipalingkan (dari kebenaran). Dan berkata orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan
keimanan (kepada orang-orang yang kafir): “Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam
kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit; Maka Inilah hari berbangkit itu
akan tetapi kamu selalu tidak meyakini(nya).” (QS: Ar Ruum ayat 55-56)
4. Dibukakan pikiran dan mata hati
“dan orang-orang yang berusaha untuk (menentang) ayat-ayat Kami dengan
anggapan mereka dapat melemahkan (menggagalkan azab kami), mereka itu memperoleh
azab, Yaitu (jenis) azab yang pedih. dan orang-orang yang diberi ilmu (ahli Kitab)
berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu Itulah yang benar dan
menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (QS: Saba’
ayat 5-6)
5. Lebih utama dari ahli ibadah
Rasulullah saw pernah bersabda:
“Keutamaan orang alim atas ahli ibadah adalah seperti keutamaanku atas orang yang
paling rendah dari kalian” (HR. Tirmidzi)
Dalam riwayat lain disebutkan:
“Keutamaan orang ‘alim atas orang ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan pada
malam purnama atas seluruh bintang-bintang.” [Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa’i dan Ibnu
Hibban, dan itu sepotong dari hadits Abu Darda’]
28
6. Didoakan seluruh penduduk langit dan bumi
Rasulullah  bersabda:
“Sesungguhnya Allah dan para Malaikat, serta semua makhluk di langit dan di bumi,
sampai semut dalam lubangnya dan ikan (di lautan), benar-benar bershalawat/mendoakan
kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan (ilmu agama) kepada manusia.” (HR atTirmidzi dan Ath-Thabrani).
7. Takut kepada Allah
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah
ulama.” (QS: Faathir ayat 28)
8. Mengetahui hakikat kehidupan yang beragam
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan
berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benarbenar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS: ar-Ruum ayat 22).
9. Orang Yang Berilmu Dikecualikan dari Laknat Allah
Imam at-Tirmidzi (wafat th. 249 H) meriwayatkan dari Abu Hurairah (wafat th. 57 H),
ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah  bersabda,
.ُ‫ُو َعاُِلـمُأ َ ْوُمت َ َع ِلم‬
َ ‫اُو َاله‬
َ ‫ُو َم‬
َ ِ‫أَلَُ ِإ َّنُالدُّ ْن َياُ َم ْلع ْونَةُ َم ْلع ْونُ َماُ ِف ْي َهاُ ِإ َّلُ ِذ ْكرُهللا‬
“Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu dilaknat dan dilaknat apa yang ada di dalamnya,
kecuali dzikir kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya, orang berilmu, dan orang yang
mempelajari ilmu.’”
10. Menuntut Ilmu dan Mengajarkannya Lebih Utama Daripada Ibadah Sunnah dan
Wajib Kifayah
Nabi  bersabda:
ْ ‫ُو َخيْرُ ِد ْينِكم‬
ْ ‫ض ِل‬
ْ ‫فَضْل‬
.ُ‫ُال َو َرع‬
ْ َ‫ُم ْنُف‬
ِ ‫ُال ِع ْل ِمُ َخيْر‬
َ ِ‫ُال ِعبَادَة‬
“Keutamaan ilmu lebih baik daripada keutamaan ibadah, dan agama kalian yang paling baik
adalah al-wara’ (ketakwaan).”
Ali bin Abi Thalib berkata, “Orang yang berilmu lebih besar ganjaran pahalanya
daripada orang yang puasa, shalat, dan berjihad di jalan Allah.”
Abu Hurairah berkata, “Sungguh, aku mengetahui satu bab ilmu tentang perintah dan
larangan lebih aku sukai daripada tujuh puluh kali melakukan jihad di jalan Allah.”
Aku (Ibnul Qayyim) katakan, “Ini -jika shahih- maknanya adalah: lebih aku sukai daripada
jihad tanpa ilmu, karena amal tanpa ilmu kerusakannya lebih banyak daripada baiknya.”
29
Al-Hasan rahimahullaah berkata, “Orang yang berilmu lebih baik daripada orang yang zuhud
terhadap dunia dan orang yang bersungguh-sungguh dalam beribadah.”
Sufyan ats-Tsauri (wafat th. 161 H) rahimahullaah mengatakan, “Aku tidak
mengetahui satu ibadah pun yang lebih baik daripada mengajarkan ilmu kepada manusia.”
Imam asy-Syafi’i (wafat th. 204 H) rahimahullaah mengatakan, “Tidak ada sesuatu
pun yang lebih baik setelah berbagai kewajiban syari’at daripada menuntut ilmu syar’i.”
Pendapat Imam Al-Ghazali tentang Keutamaan orang berilmu dari Hukum menuntut Ilmu
Dalam Ihya Ulumuddin al-Ghazali menguraikan secara mendalam pentingnya
memahami konsep ilmu dengan baik. Hujjatul Islam imam al-Ghazali pernah mengatakan,
orang yang menuntut ilmu itu ada tiga macam:
• Orang yang menuntut ilmu semata-mata karena ingin mendapatkan bekal pulang
menuju akhirat.
• Orang yang belajar dengan niat mencari sesuatu untuk menopang kehidupan duniawi,
dan memperoleh kemuliaan serta jabatan hormat.
• Orang yang menjadikan ilmunya sebagai sarana memperbanyak harta, bermegahmegahan dengan kedudukan, berbangga-banggahan dengan banyaknya pengikut,
mengaku ulama dan tidak merasa perlu bertaubat, karena menganggap dirinya
muhsinun (orang-orang baik).
Golongan pertama adalah golongan orang-orang yang memahami konsep ilmu
dengan benar. Sehingga tujuan mencari ilmu pun tidak pernah kosong dari niat untuk
menghilangkan kebodohan dalam diri dan mencari ridha Ilahi.
Golongan kedua dan ketiga adalah kelompok penuntut ilmu yang materialis, mencari
ilmu untuk duniawi. Ilmu dan ilmuan dalam hal ini menjadi prioritas paling utama. Karena
sebagaimana dalam hadis: ”Dua macam golongan dari umatku (yang memegang peran
penting). Bila mereka baik, maka baiklah umat manusia, dan bila mereka rusak maka
rusakklah umat manusia. Ingatlah, mereka adalah pemimpin pemerintah dan ulama (HR. Ibn
Abdil Barr dalam Ihya Ulum al-Din).
Imam Hasan al-Bashri mengatakan: ”Barang siapa yang bertambah ilmunya,
kemudian bertambah pula ketamakan kepada dunia, maka tiada yang bertambah kecuali
bertambah jauh dari Allah.”
Imam al-Ghazali membagi hukum menuntut ilmu itu ada dua: fardhu ‘ain dan fardhu
kifayah. Fardhu ain adalah ilmu yang kita gunakan untuk menyembah Allah, seperti tata cara
wudhu, shalat, membaca Qur’an dan tata cara haji dan umrah. Adapun yang fardhu kifayah
seperti ilmu kedokteran, fisika, kimia dan lainnya.
Karena itu, di antara umat Islam harus ada yang mendalami ilmu tertentu. Ketika
masyarakat kagum dengan ilmu umum, harus ada di antara kaum Muslimin yang mendalami
agama. Hal ini diisyaratkan Allah dalam al-Qur’an:
ِ ِ
ِ
ِ
ِ
ِ
ِ
ِ
ِ
ِ
ِ
ِ
ِ
ِ
ِ
ِ
ِ
ِ
ِ
ِ
ِ
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu'min itu pergi semuanya (ke medan perang).
Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk
30
memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada
kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga
dirinya. (QS at-Taubah: 122)
Tanggung Jawab Ilmuan terhadap Lingkungan
Ada dua fungsi utama manusia di dunia, yaitu sebagai ‘abdun (hamba Allah) dan
sebagai khalifah Allah di bumi. Esensi dari abdun adalah ketaatan, ketundukan dan
kepatuhan kepada kebenaran dan keadilan Allah, sedangkan esensi khalifah adalah tanggung
jawab kepada diri sendiri dan alam lingkungannya, baik lingkungan sosial maupun
lingkungan alam.
Khalifah/wakil Allah di muka bumi, ia mempunyai tanggung jawab untuk menjaga
keseimbangan alam dan lingkungannya tempat mereka tinggal. Manusia diberikan
kebebasan untuk mengeksplorasi, menggali sumber-sumber daya serta memanfaatkannya
dengan sebesar-besar kemanfaatan. Karena alam diciptakan untuk kehidupan manusia
sendiri. Untuk menggali potensi dan memanfaatkannya diperlukan ilmu pengetahuan yang
memadai. Hanya orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan yang cukuplah atau para
ilmuwan dan para intelektual yang sanggup mengeksplorasi sumber alam ini.
Ilmuan merupakan sosok manusia yang diberikan kelebihan oleh Tuhan dalam
menguasai sebuah ilmu pengetahuan. Dari kelebihannya ini maka Tuhan mengangkat harkat
dan martabat ilmuan tersebut di tengah-tengah masyarakat, bangsa dan Negara sehingga
mereka disanjung dan dihormati serta menjadi sumber solusi dari situasi-dan kondisi
lingkungan hidup manusia.Karena ilmuwan tersebut telah diberi penghargaan oleh Tuhan
maka peanaghargaan tersebut membawasa kedalam posisi yang tinggi disbanding dengan
manusia yang lain. Dialah menjadi wakil Tuhan di bumi untuk menjadikan lingkungan hidup
manusia terpelihara dan membawa kebaikan kepada manusia itu sendiri. Dengan demikian
dapta diartikan bahwa ilmuan dijadikan Tuhan sebagai pemimmpin kelangsungan lingkungan
hidup manusia di muka bumi ini.
SENI DALAM PANDANGAN ISLAM
Islam memandang seni dengan cara pandang yang bijak. Hal ini dikarenakan seni
masuk dalam kategori muamalah. Oleh karena itu berlaku kaidah atau aturan ‘setiap bentuk
muamalah pada dasarnya adalah boleh, sampai ada dalil yang melarangnya’. Aturan inilah
yang harus kita junjung tinggi dalam penilaian kita tentang seni.
Seni dalam Islam bukanlah sesuatu yang diharamkan secara mutlak. Tapi ada
beberapa seni yang mendapat larangan langsung dari Rasulullah SAW. Seni yang dimaksud
adalah seni musik. Hal ini didasarkan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim
dalam kitab Shahih-nya. Selain itu juga ada pelarangan seni rupa yang menggambarkan
mahluk-mahluk hidup. Rasulullah mengabarkan orang-orang yang menggambar mahluk
hidup akan dimasukkan ke dalam neraka sebelum masuknya pelaku syirik.
SENI YANG DIBOLEHKAN DALAM ISLAM:
• Seni Membaca al-Qur’an (Tilawatil atau Qiro’atil Qur’an)
• Seni Kaligrafi/Tulis
• Seni Beladiri
• Seni Melipat Kertas
• Seni Arsitektur
• Seni Berpidato
31
•
•
Seni Sastra
Seni Merajut
SENI YANG DILARANG DALAM ISLAM
Ada beberapa seni berikut yang dilarang dalam Islam tetapi tidak seluruhnya
haram, tetapi haram dalam kasus-kasus tertentu.
• Seni Rupa
• Menyanyi. Sebagian ulama mengharamkan secara mutlak.
• Musik. Sebagian ulama ada yang membolehkan dengan syarat yang sangat ketat.
• Tarian.
• Vandalisme
• Seni Patung
• Tindik (Body Piercing)
• Operet (Seni Pertunjukan). Sebagian ada yang membolehkan dengan syarat tertentu.
Batasan Seni dalam Islam
Seni dalam Islam terutama yang berkaitan dengan musik, nyanyian, maupun lagu
tidaklah selalu mutlak bahwa itu haram. Dengan catatan, tujuannya untuk kebaikan,
misalnya mengajak jihad fi sabilillah, dan menentang kemungkaran, atau menjauhi zina.
Syair
hendaknya
berisi
tentang
pujian-pujian terhadap Allah dan Rasul-Nya,
menyemangati untuk amar ma’ruf nahi munkar, dan tidak bertentangan dengan prinsip
tauhid dan syara’.
Begitu pula dengan bentuk kesenian lain seperti karya sastra dan arsitektur. Selama
tidak bertentangan dengan syariat dan mengagungkan Allah SWT maka itu diperbolehkan.
Seni menjadi haram jika membuat pelaku maupun penikmatnya menjadi rusak moralnya dan
semakin jauh dari Allah SWT.
Misal tari-tarian yang mengumbar aurat dan membangkitkan syahwat lawan jenis
yang bukan mahramnya, atau seni ritual yang terdapat unsur syirik, yakni
menyekutukan
Allah SWT. Seni seperti ini jelas tidak dibolehkan.
32
Materi XI
KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA
Kerukunan umat beragama adalah suatu bentuk sosialisasi yang damai dan tercipta
berkat adanya toleransi agama. Toleransi agama adalah sikap saling pengertian dan
menghargai tanpa diskriminasi, khususnya masalah agama.
Menurut Syekh Salim bin Hilali, toleransi memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Kerelaan hati karena kemuliaan dan kedermawanan
2. Kelapangan dada karena kebersihan dan ketaqwaan
3. Kelemah lembutan karena kemudahan
4. Muka yang ceria karena kegembiraan
5. Rendah diri di hadapan kaum muslimin bukan karena kehinaan
6. Mudah dalam berhubungan sosial (mu'amalah) tanpa penipuan dan kelalaian
7. Menggampangkan dalam berdakwah ke jalan Allah tanpa basa basi
8. Terikat dan tunduk kepada agama Allah tanpa ada rasa keberatan.
Kerukunan adalah istilah yang memiliki muatan makna “baik” dan “damai”. Intinya,
hidup bersama dalam masyarakat dengan “kesatuan hati” dan “bersepakat” untuk tidak
menciptakan perselisihan dan pertengkaran (Depdikbud, 1985: 850). Bila pemaknaan
tersebut dijadikan pegangan, maka “kerukunan” adalah sesuatu yang ideal yang didambakan
oleh masyarakat manusia.
A. Islam Agama Rahmat bagi Seluruh Alam
Kata Islam berarti damai, selamat, sejahtera, penyerahan diri, taat dan patuh.
Pengertian tersebut menunjukkan bahwa agama Islam adalah agama yang mengandung
ajaran untuk menciptakan kedamaian, keselamatan, dan kesejahteraan hidup umat manusia
pada khususnya dan seluruh alam pada umumnya. Firman Allah,
َُ‫لَّ َر ْح َمةُ ِل ْلعالَ ِمين‬
ُ ِ‫ناك إ‬
َُ ‫س ْل‬
َ ‫َوما أ َ ْر‬
“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi
seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107).
Rahmat dapat diartikan dengan kasih sayang. Jadi, diutusnya Nabi Muhammad saw
adalah bentuk kasih sayang Allah kepada seluruh manusia.
Fungsi Islam sebagai rahmat bagi sekalian alam tidak tergantung pada penerimaan
atau penilaian manusia.
Bentuk-bentuk kerahmatan Allah pada ajaran Islam tersebut adalah:
1. Islam menunjuki manusia jalan hidup yang benar
2. Islam memberikan kebebasan kepada manusia untuk menggunakan potensi yang
diberikan Allah secara bertanggung jawab.
3. Islam menghargai dan menghormati semua manusia sebagai hamba Allah, baik
muslim maupun non muslim.
4. Islam mengatur pemanfaatan alam secara baik dan proporsional.
5. Islam menghormati kondisi spesifik individu dan memberikan perlakuan yang
spesifik pula.
B. Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Insaniyah
33
Dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menyinggung masalah ukhuwah, yaitu
di antaranya:
1) Ukhuwah ‘ubudiyah, yaitu saudara kesemakhlukan dan kesetundukan kepada
Allah.
2) Ukhuwah Insaniyah (basyariyah) dalam arti seluruh umat manusia adalah
bersaudara, karena mereka semua berasal dari seorang ayah dan ibu.
3) Ukhuwah wathaniyah wa an-nasab, yaitu persaudaraan dalam keturunan dan
kebangsaan.
4) Ukhuwah fi din Al-Islam, yaitu persaudaraan antarsesama Muslim. Rasulullah saw
bersabda:
‫انتم اصحابي اخوانناُالذين يأتون بعدى‬
“Kalian adalah sahabat-sahabatku, saudara-saudara kita adalah yang datang
sesudah (wafat)-ku.”
1. Makna Ukhuwah Islamiyah
Kata Ukhuwah berarti persaudaraan. Maksudnya perasaan simpati atau empati
antara dua orang atau lebih. Masing-masing pihak memiliki perasaan yang sama, baik suka
maupun duka. Jalinan perasaan itu menimbulkan sikap timbal balik untuk saling membantu
bila pihak lain mengalami kesulitan. Ukhuwah dan persaudaraan yang berlaku bagi sesama
muslim disebut ukhuwah Islamiyah.
Persaudaraan sesama muslim adalah persaudaraan yang tidak dilandasi oleh
keluarga, suku, bangsa, dan warna kulit, namun karena perasaan seaqidah dan sekeyakinan.
Nabi mengibaratkan antara satu muslim dengan muslim lainnya ibaratkan satu tubuh.
Apabila ada satu bagian yang sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan sakitnya. Rasulullah
SAW juga bersabda: ” tidak sempurna iman salah seorang kamu, sehingga ia mencintai
saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri “. Hadis di atas berarti, seorang muslim harus
dapat merasakan penderitaan dan kesusahan saudara yang lainnya. Ia harus selalu
menempatkan dirinya pada posisi saudaranya.
Antara sesama muslim tidak ada sikap saling permusuhan, dilarang mengolok-olok
saudaranya yang muslim. Tidak boleh berburuk sangka dan mencari kesalahan orang lain (QS
al-Hujurat: 11-12)
Sejarah telah membuktikan bagaimana keintiman persahabatan dan lezatnya
persaudaraan antara kaum muhajirin dan kaum anshar. Kaum muhajirin rela meninggalkan
segala harta, kekayaan, dan keluarganya di kampung halaman. Demikian juga kaum anshar
dengan penuh keikhlasan menyambut dan menjadikan kaum Muhajirin sebagai saudara.
Peristiwa inilah awal bersatunya dua hati dalam bentuk yang teorisentrik dan universal
sebagai hasil dari sebuah persaudaraan yang dibangun Nabi atas dasar kesamaan aqidah.
Dapat disimpulkan bahwa ukhuwah Islamiyah merupakan hal yang pokok dan
mendasar yang harus ditegakkan demi kelangsungan kejayaan umat Islam, maka dari Umat
Islam harus selalu meningkatkan dakwah Islamiah dan Amar Makruf Nahi Mungkar, agar
persatuan dan kesatuan dikalangan umat dapat ditegakkan. Sekaligus umat Islam harus
senantiasa menyadari akan pentingnya Ukhuwah Islamiyah sebagai modal menuju
kemenangan cita-cita Islam. Kemenangan itu tidak akan tercapai tanpa adanya kekuatan.
Dan kekuatan tidak akan terwujud tanpa adanya persatuan. Sedangkan persatuan tidak akan
mungkin tercapai tanpa adanya Ukhuwah Islamiyah.
34
2. Makna Ukhuwah Insaniyah
Persaudaraan sesama manusia disebut ukhuwah insaniyah. Persaudaraan ini
dilandasi oleh ajaran bahwa semua umat manusia adalah makhluk Allah. Perbedaan
keyakinan dan agama juga merupakan kebebasan pilihan yang diberikan Allah. Hal ini harus
dihargai dan dihormati.
Persaudaraan dengan seluruh umat manusia (Ukhuwah Insaniyah) mengandung arti
bahwa seluruh umat manusia adalah saudara karena mereka berasal dari seorang ayah dan
ibu. Manusia mempunyai motivasi dalam menciptakan iklim persaudaraan hakiki yang
tumbuh dan berkembang atas dasar rasa kemanusiaan yang bersifat universal.
Seluruh manusia di dunia adalah saudara. Tata hubungan dalam Ukhuwah Insaniyah
menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan martabat kemanusiaan untuk mencapai
kehidupan yang sejahtera, adil dan damai. Ukhuwah Insaniyah bersifat solidaritas
kemanusiaan. Sedangkan Ukhuwah Wathaniyah yaitu persaudaraan dalam keturunan dan
kebangsaan. Pada diri manusia perlu ditumbuhkan persaudaraan yang berdasarkan atas
kesadaran berbangsa dan bernegara. Seluruh bangsa Indonesia adalah saudara. Tata
hubungan Ukhuwah Wathaniyah menyangkut hal-hal yang bersifat sosial budaya. Ukhuwah
Wathaniyah merupakan spirit bagi kesejahteraan kehidupan bersama serta instrumen
penting bagi proses kesadaran sebuah bangsa dalam mewujudkan kesamaan derajat dan
tanggung jawab.
C. Tri Kerukunan Umat Beragama
Pemerintah RI melalui Departemen Agama RI, menteri Agama RI, H. Alamsya Ratu
Perwira Negara telah membentuk Wadah Musyawarah Antar Umat Beragama (WMAUB)
dengan SK. MENAG RI No. 35 tahun 1980 tanggal 30 Juni 1980 setelah 13 tahun diadakan
musyawarah antar umat beragama yang pertama tahun 1967.
Dalam terminologi yang digunakan pemerintah secara resmi, konsep kerukunan
hidup beragama mencakup 3 kerukunan (Tri Kerukunan), yang terdiri dari:
1. Kerukunan intern umat beragama
2. Kerukunan antar umat berbeda agama
3. Kerukunan antar umat beragama dengan pemerintah
Dalam praktek, ketegangan yang sering timbul intern umat beragama dan antar umat
beragama disebabkan oleh:
1. Sifat dari masing-masing agama yang mengandung tugas dakwah atau misi.
2. Kurangnya pengetahuan para pemeluk agama akan agamanya sendiri dan
agama lain. Arti keberagamannya lebih kepada sikap fanatisme dan kepicikan
(sekadar ikut-ikutan).
3. Para pemeluk agama tidak mampu menahan diri, sehingga kurang menghormati
bahkan memandang rendah agama lain.
4. Kaburnya batas antara sikap memegang teguh keyakinan agama dan toleransi
dalam kehidupan bermasyarakat.
5. Kecurigaan masing-masing akan kejujuran pihak lain, baik intern umat beragama
maupun antar umat beragama.
6. Kurangnya saling pengertian dalam menghadapi masalah perbedaan pendapat.
Dalam pergaulan antar agama, semakin hari kita merasakan intensnya pertemuan
agama-agama itu. Walaupun kita juga semakin menyadari bahwa pertemuan itu kurang diisi
segi-segi dialogis antar imannya.
35
Dalam pembinaan umat Beragama, para pemimpin dan tokoh agama mempunyai
peranan yang besar, yaitu:
1. Menterjemahkan nilai-nilai dan norma-norma agama ke dalam kehidupan
bermasyarakat.
2. Menerjemahkan gagasan-gagasan pembangunan ke dalam bahasa yang
dimengerti oleh masyarakat.
3. Memberikan pendapat, saran dan kritik yang sehat terhadap ide-ide dan cara-cara
yang dilakukan untuk suksesnya pembangunan.
4. Mendorong dan membimbing masyarakat dan umat beragama untuk ikut serta
dalam usaha pembangunan.
5. Meredamkan api-api konflik yang ada dan berusaha mencari titik temu dan solusi.
Untuk menghindari perpecahan di kalangan umat Islam dan memantapkan ukhuwah
Islamiyah para ahli menetapkan tiga konsep, yaitu:
1. Konsep tanawwul al ’ibadah (keragaman cara beribadah). Konsep ini mengakui
adanya keragaman yang dipraktekkan Nabi dalam pengamalan agama yang
mengantarkan kepada pengakuan akan kebenaran semua praktek keagamaan
selama merujuk kepada Rasulullah. Keragaman cara beribadah merupakan hasil
dari interpretasi terhadap perilaku Rasul yang ditemukan dalam riwayat (hadits).
2. Konsep al-mukhtiu fi al-ijtihadi lahu ajrun (yang salah dalam berijtihad pun
mendapatkan ganjaran). Konsep ini mengandung arti bahwa selama seseorang
mengikuti pendapat seorang ulama, ia tidak akan berdosa, bahkan tetap diberi
ganjaran oleh Allah, walaupun hasil ijtihad yang diamalkannya itu keliru. Di sini
perlu dicatat bahwa wewenang untuk menentukan yang benar dan salah bukan
manusia, melainkan Allah SWT yang baru akan kita ketahui di hari akhir. Kendati
pun demikian, perlu pula diperhatikan orrang yang mengemukakan ijtihad maupun
orang yang pendapatnya diikuti, haruslah orang yang memiliki otoritaskeilmuan
yang disampaikannya setelah melalui ijtihad.
3. Konsep la hukma lillah qabla ijtihadi al-mujtahid (Allah belum menetapkan suatu
hukum sebelum upaya ijtihad dilakukan seorang mujtahid). Konsep ini dapat kita
pahami bahwa pada persoalan-persoalan yang belum ditetapkan hukumnya
secara pasti, baik dalam al-quran maupun sunnah Rasul, maka Allah belum
menetapkan hukumnya. Oleh karena itu umat Islam, khususnya para mujtahid,
dituntut untuk menetapkannya melalui ijtihad. Hasil dari ijtihad yang dilakukan itu
merupakan hukum Allah bagi masing-masing mujtahid, walaupun hasil ijtihad itu
berbeda-beda.
D. Hal yang Tidak Boleh Dilakukan dalam Bekerjasama Antar Umat Berbeda Agama
Hubungan antara muslim dengan penganut agama lain tidak dilarang oleh syariat
Islam, kecuali bekerja sama dalam persoalan aqidah dan ibadah (contoh : menikah dengan
bukan muslim). Kedua persoalan tersebut merupakan hak intern umat Islam yang tidak
boleh dicamputi pihak lain, tetapi aspek sosial kemasyarakatan dapat bersatu dalam kerja
sama yang baik.
Kerja sama antar umat bergama merupakan bagian dari hubungan sosial antar
manusia yang tidak dilarang dalam ajaran Islam. Hubungan dan kerja sama dalam bidang-
36
bidang ekonomi, politik, maupun budaya tidak dilarang, bahkan dianjurkan sepanjang
berada dalam ruang lingkup kebaikan.
Menurut Prof. Dr. H Muchoyar H.S, MA dalam menyikapi perbedaan agama terkait
dengan toleransi antar umat beragama agar dialog antar umat beragama terwujud
memerlukan 3 konsep yaitu :
1.
Setuju untuk tidak setuju, maksudnya setiap agama memiliki akidah masingmasing sehingga agama saling bertoleransi dengan perbedaan tersebut.
2.
Setuju untuk setuju, konsep ini berarti meyakini semua agama memiliki
kesamaan dalam upaya peningkatan kesejahteraan dan martabat umatnya.
3.
Setuju untuk berbeda, maksudnya dalam hal perbedaan ini disikapi dengan
damai bukan untuk saling menghancurkan.
E. Kerja sama antar umat beragama
Memahami dan mengaplikasikan ajaran Islam dalam kehidupan masyarakat tidak
selalu hanya dapat diharapkan dalam kalangan masyarakat muslim. Islam dapat diaplikasikan
dalam masyarakat manapun, sebab secara esensial ia merupakan nilai yang bersifat
universal. Kendatipun dapat dipahami bahwa Islam yang hakiki hanya dirujukkan kepada
konsep al-quran dan As-sunnah, tetapi dampak sosial yanag lahir dari pelaksanaan ajaran
isalam secara konsekwen ddapat dirasakan oleh manusia secara keseluruhan.
Demikian pula pada tataran yang lebih luas, yaitu kehidupan antar bangsa, nilai-nilai
ajaran Islam menjadi sangat relevan untuk dilaksanakan guna menyatukan umat manusia
dalam suatu kesatuan kebenaran dan keadilan.
Dominasi salah satu etnis atau negara merupakan pengingkaran terhadap makna
Islam, sebab ia hanya setia pada nilai kebenaran dan keadilan yang bersifat universal.
Universalisme Islam dapat dibuktikan antara lain dari segi, dan sosiologi. Dari segi
agama, ajaran Islam menunjukkan universalisme dengan doktrin monoteisme dan prinsip
kesatuan alamnya. Selain itu tiap manusia, tanpa perbedaan diminta untuk bersama-sama
menerima satu dogma yang sederhana dan dengan itu ia termasuk ke dalam suatu
masyarakat yang homogin hanya denga tindakan yang sangat mudah, yakni membaca
syahadat. Jika ia tidak ingin masuk Islam, tidak ada paksaan dan dalam bidang sosial ia tetap
diterima dan menikmati segala macam hak kecuali yang merugikan umat Islam.
Ditinjau dari segi sosiologi, universalisme Islam ditampakkan bahwa wahyu ditujukan
kepada semua manusia agar mereka menganut agama Islam, dan dalam tingkat yang lain
ditujukan kepada umat Islam secara khususu untuk menunjukan peraturan-peraturan yang
harus mereka ikuti. Karena itu maka pembentukan masyarakat yang terpisah merupakan
suatu akibat wajar dari ajaran Al-Qur’an tanpa mengurangi universalisme Islam.
Melihat Universalisme Islam di atas tampak bahwa esensi ajaran Islam terletak pada
penghargaan kepada kemanusiaan secara univarsal yang berpihak kepada kebenaran,
kebaikan, dan keadilan dengan mengedepankan kedamaian, menghindari pertentangan dan
perselisian, baik ke dalam intern umat Islam maupun ke luar. Dengan demikian tampak
bahwa nilai-nilai ajaran Islam menjadi dasar bagi hubungan antar umat manusia secara
universal dengan tidak mengenal suku, bangsa dan agama.
Cara Menjaga Kerukunan Hidup Antar Umat Beragama
Menghilangkan perasaan curiga atau permusuhan terhadap pemeluk agama lain
yaitu dengan cara mengubah rasa curiga dan benci menjadi rasa penasaran yang positf dan
mau menghargai keyakinan orang lain.
37
•
•
•
Jangan menyalahkan agama seseorang apabila dia melakukan kesalahan tetapi
salahkan orangnya. Misalnya dalam hal terorisme.
Biarkan umat lain melaksanakan ibadahnya jangan olok-olok mereka karena ini
bagian dari sikap saling menghormati.
Hindari diskriminasi terhadap agama lain karena semua orang berhak mendapat
fasilitas yang sama seperti pendidikan, lapangan pekerjaan dan sebagainya.
38
Materi XII
Masyarakat Madani dan Kesejahteraan Umat
A. Konsep Masyarakat Madani
Masyarakat madani memiliki banyak pengertian yang dikemukakan oleh beberapa
pakar di berbagai negara yang mengaji dan mempelajari tentang fenomena masyarakat
madani, antaranya:
Pertama, definisi yang dikemukakan oleh Zbigniew Rau dengan latar belakang
kajiannya pada kawasan Eropa Timur dan Uni Soviet. Ia mengatakan bahwa yang dimaksud
masyarakat madani merupakan suatu masyarakat yang berkembang dari sejarah, yang
mengandalkan ruang di mana individu dan perkumpulan tempat mereka bergabung,
bersaing satu sama lain guna mencapai nilai-nilai yang mereka yakini.
Kedua, yang digambarkan oleh Han Sung-joo yang belatar belakang kasus Korea
Selatan. Ia mengatakan bahwa masyarakat madani merupakan sebuah kerangka hukum yang
melindungi dan menjamin hak-hak dasar individu, perkumpulan sukarela yang terbebas dari
Negara, suatu ruang publik yang mampu mengartikulasi isu-isu politik, gerakan warga
Negara yang mampu mengendalikan diri dan independen, yang secara bersama-sama
mengakui norma-norma dan budaya yang menjadi identitas dan solidaritas yang terbentuk
serta pada akhirnya akan terdapat kelompok inti dalam civil society ini.
Ketiga, definisi yang dikemukakan oleh Kim Sunhyuk, juga dalam konteks Korea
Selatan. Ia mengatakan bahwa yang dimaksud dengan masyarakat madani adalah suatu
satuan yang terdiri dari kelompok-kelompok yang secara mandiri menghimpun dirinya dan
gerakan-gerakan dalam masyarakat yang secara relative otonom dari Negara, yang
merupakan satuan-satuan dasar dari (re) produksi dan masyarakat politik yang mampu
melakukan kegiatan politik dalam suatu ruang public, guna menyatakan kepedulian mereka
dan memajukankepentingan–kepentingan mereka menurut prinsip-prinsip pluralisme dan
pengelolaan yang mandiri.
Masyarakat madani diistilahkan pertama kali oleh mantan Wakil Perdana Menteri
Malaysia, Anwar Ibrahim. Menurut Anwar Ibrahim, masyarakat madani merupakan sistem
sosial yang subur berdasarkan prinsip moral yang menjamin keseimbanganan taraf
kebebasan individu dengan kestabilan masyarakat.
Masyarakat madani adalah masyarakat yang beradab, menjunjung tinggi nilai-nilai
kemanusiaan, yang maju dalam penguasaan ilmu pengetahuan, dan teknologi. Allah SWT
memberikan gambaran dari masyarakat madani dengan firman-Nya dalam Q.S. Saba‟ ayat
15:
ُۚ ُ‫ق َر ِبك ُْم َوا ْشكروا لَه‬
ُِ ‫ن ِر ْز‬
ُْ ‫ۚ كلوا ِم‬
ُۖ ُ‫ن يَ ِمينُ َو ِش َمال‬
ُْ ‫ع‬
ُِ َ ‫ۚ َجنَّت‬
ُۖ ُ‫سبَإُ فِي َم ْس َكنِ ِه ُْم آيَة‬
َ ‫ان‬
َ ‫لَقَ ُْد َكانَُ ِل‬
َ ُ‫بَ ْلدَة‬
ُ‫ط ِيبَةُ َو َربُ غَفور‬
“Sesungguhnya bagi kaum Saba´ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman
mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka
dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah
kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang
Maha Pengampun".
Pemaknaan civil society sebagai masyarakat madani merujuk pada konsep dan
bentuk masyarakat Madinah yang dibangun Nabi Muhammad. Masyarakat Madinah
dianggap sebagai legitimasi historis ketidakbersalahan pembentukan civil society dalam
masyarakat muslim modern.
39
Makna Civil Society “Masyarakat sipil” adalah terjemahan dari civil society. Konsep
civil society lahir dan berkembang dari sejarah pergumulan masyarakat. Cicero adalah orang
Barat yang pertama kali menggunakan kata “societies civilis” dalam filsafat politiknya.
Konsep civil society pertama kali dipahami sebagai negara (state). Secara historis, istilah civil
society berakar dari pemikir Montesque, JJ. Rousseau, John Locke, dan Hubbes. Ketiga orang
ini mulai menata suatu bangunan masyarakat sipil yang mampu mencairkan otoritarian
kekuasaan monarchi-absolut dan ortodoksi gereja (Larry Diamond, 2003: 278).
Antara Masyarakat Madani dan Civil Society sebagaimana yang telah dikemukakan di
atas, masyarakat madani adalah istilah yang dilahirkan untuk menerjemahkan konsep di luar
menjadi “Islami”. Menilik dari subtansi civil society lalu membandingkannya dengan tatanan
masyarakat Madinah yang dijadikan pembenaran atas pembentukan civil society di
masyarakat Muslim modern akan ditemukan persamaan sekaligus perbedaan di antara
keduanya.
Perbedaan lain antara civil society dan masyarakat madani adalah civil society
merupakan buah modernitas, sedangkan modernitas adalah buah dari gerakan Renaisans;
gerakan masyarakat sekuler yang meminggirkan Tuhan. Sehingga civil society mempunyai
moral-transendental yang rapuh karena meninggalkan Tuhan. Sedangkan masyarakat
madani lahir dari dalam buaian dan asuhan petunjuk Tuhan.
Jelasnya: Civil Society hanya berlandaskan pada sisi kemanusiaan. Standar
kemajuannya hanya bersifat materi. Sedangkan masyarakat madani berlandaskan pada
konsep wahyu. Dengan demikian, standar kemajuannya bukan hanya materi tapi juga
spiritual.
Dari alasan ini Syafii Maarif mendefinisikan masyarakat madani sebagai sebuah
masyarakat yang terbuka, egalitar, dan toleran atas landasan nilai-nilai etik-moral
transendental yang bersumber dari wahyu Allah (A. Syafii Maarif, 2004: 84).
Ada dua masyarakat contoh madani dalam sejarah yang terdokumentasi sebagai
masyarakat madani, yaitu:
1) Masyarakat Saba’, yaitu masyarakat di masa Nabi Sulaiman. Keadaan masyarakat
saba’ mendiami negri yang baik, subur, dan nyaman. Di tempat itu terdapat kebun dengan
tanamannya yang subur, yang menyediakan rizki, memenuhi kebutuhan masyarakatnya.
Negeri yang indah itu merupakan wujud dai kasih sayang Allah yang disediakan bagi
masyarakat tersebut. Allah juga maha pengampun apabila terjadi kealpaan pada masyarakat
tersebut. Karena itu, Allah memerintahkan masyarakat Saba’ untuk bersyukur kepada Allah
yang telah menyediakan kebutuhan hidup mereka. Kisah keadaan masyarakat Saba’ ini
sangat populer dengan ungkapan Al-Qur’an Baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafuur.
2) Masyarakat Madinah setelah terjadi traktat, perjanjjian Madinah antara Rasullullah
SAW beserta umat Islam dengan penduduk Madinah yang beragama Yahudi dan beragama
Watsani dari kaum Aus dan Khazraj. Perjanjian Madinah berisi kesepakatan ketiga unsur
masyarakat untuk saling menolong, menciptakan kedamaian dalam kehidupan sosial,
menjadikan Al-Qur’an sebagai konstitusi, menjadikan Rasullullah SAW sebagai pemimpin
dengan ketaatan penuh terhadap keputusan-keputusannya, dan memberikan kebebasan
bagi penduduknya untuk memeluk agama serta beribadah sesuai dengan ajaran agama yang
dianutnya.
B.
Karakteristik Masyarakat Madani
40
Terdapat empat empat ciri utama dari masyarakat madani yaitu :
1. Kesukarelaan
Artinya suatu masyarakat madani bukanlah merupakan suatu masyarakat paksanan
atau karena indokrinasi. Keanggotaan masyarakat madani adalah keanggotaan dari pribadi
yang bebas, yang secara sukarela membentuk suatu kehidupan bersama dan oleh sebab itu
mempunyai komitmen bersama yang sangat besar untuk mewujudkan sita-cita bersama.
Dengan sendirinya tanggungjawab pribadi sangat kuat karena diikat oleh keinginan bersama
untuk mewujudkan keinginan tersebut. Karena itu, di zaman Nabi saw sebagian besar
mereka yang diberikan sanksi, bukan karena laporan orang lain tapi dirinya sendiri yang
melapor dan minta dihukum.
2. Keswasembadaan
Seperti kita lihat keanggotaan yang suka rela untuk hidup bersama tentunya tidak
akan menggantungkan kehidupannya kepada orang lain. Dia tidak tergantung kepada
negara, juga tidak tergantung kepada lembaga-lembaga atau organisasi. Setiap anggota
mempunyai harga diri yang tinggi, yang percaya akan kemampuan sendiri untuk berdiri
sendiri bahkan untuk dapat membantu yang berkekurangan. Keanggotaan yang penuh
percaya diri tersebut adalah anggota yang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan
terhadap masyarakatnya.
3. Kemandirian tinggi terhadap Negara
Berkaitan dengan ciri yang kedua tadi, para anggota masyarakat madani adalah
manusia-manusia yang percaya diri sehingga tidak tergantung kepada perintah orang lain
termasuk negara. Bagi mereka, negara adalah kesepakatan bersama sehingga tanggung
jawab yang lahir dari kesepakatan tersebut adalah juga tuntutan dan tanggung jawab dari
masing-masing anggota. Inillah negara yang berkedaulatan rakyat.
4. Keterkaitan pada nilai-nilai hukum yang disepakati bersama
Hal ini berarti suatu masyarakat madani adalah suatu masyarakat yang berdasarkan
hukum dan bukan negara kekuasaan. Dengan demikian, masyarakat disebut ideal jika
perilaku masyarakatnya sama persis dengan ideologi yang mereka anut.
Secara umum masyarakat yang beradab berciri;
1. Kemanusiaan
2. Saling menghargai sesama manusia
3. Sebagai makhluk Ilahi dalam kehidupan bersama dalam masyarakat yang warga
(civitasnya) pluralistic
4. Memiliki berbagai perbedaan, akan tetapi mengembangkan kehidupan individu yang
demokratis
5. Pemimpin yang mengayomi warga
6. Masyarakat merasa dilindungi oleh sesama warga karena penghargaan hak-hak dan
kewajiban masing-masing.
Masyarakat ideal menurut Islam adalah masyarakat yang taat pada aturan Ilahi yang
hidup dengan damai dan tenteram yang tercukupi kebutuhan hidupnya. Dalam Al-Qur’an
kondisi masyarakat seperti itu digambarkan dengan “baldatun Tayyibatun Warabbun Gafur.”
Negara yang baik, yang berada dalam lindungan ampunan-Nya. Realisasi dari masyarakat
41
ideal tersebut pada masa Nabi Muhammad saw. dicontohkan pada masa kehidupan rasul di
kota Madinah, dimana masyarakatnya memberikan kepercayaan dan mewujudkan ketaatan
pada kepemimpinan Rasulullah saw. Hidup dalam kebersamaan dan Al-Qur’an sebagai
landasan hidupnya.
Masyarakat madani dalam pandangan Islam adalah masyarakat yang beradab,
menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang maju dalam penguasaan iptek. Karena itu
dalam sejarah filsafat, sejak filsafat Yunani sampai masa filsafat Islam dikenal istilah Madinah
atau polis yang berarti kota yaitu masyarakat yang berperadaban. Masyarakat madani yang
menjadi sentral idealisme yang diharapkan oleh masyarakat seperti yang tercantum
dalam QS. Saba’/34:15. Masyarakat yang sejahtera, bahagia itulah yang oleh Allah dijadikan
negara ideal bagi ummat Islam dimana pun dan yang hidup di abad mana pun, mempunyai
cita-cita untuk hidup dalam negara yang baik dan sejahtera, bertaqwa kepada Allah swt.
Piagam Madinah sebagai rujukan pembinaan masyarakat madani, yang merupakan
perjanjian antara Rasul beserta ummat Islam dengan penduduk Madinah yang beragama
Yahudi dan kaum aus dan khazraj yang beragama watsani. Perjanjian Madinah ini berisi
kesepakatan ketiga unsur masyarakat untuk saling tolong-menolong, menciptakan
kedamaian dalam kehidupan sosial, menjadikan Al-Qur’an sebagai konstitusi, menjadikan
rasul sebagai pemimpin dengan ketaatan penuh terhadap keputusannya dan memberi
kebebasan bagi penduduk untuk memeluk agama sesuai dengan ajaran agama yang
dianutnya.
Istilah “Civil Society” bisa disepadankan dengan istilah “masyarakat madani”, acuan
nya adalah masyarakat demokratis di Madinah pada masa Nabi Muhammad Saw yang diatur
dalam Piagam Madinah. Menurut Sukidi yang dikutip oleh H.A.R Tilaar (1999:160) terdapat
sepuluh prinsip dasar yang tercantum dalam Piagam Madinah, yaitu :
1.Prinsip kebebasan beragama
2. Prinsip persaudaraan seagama
3. Prinsip persatuan politik dalam meraih cita-cita bersama
4. Prinsip saling membantu yatu setiap orang mempunyai keududkan yang sama
sebagaiangoota masyarakat
5. Prinsip persamaan hak dan kewajiban warga negara terhadap negara
6. Prinsip persamaan di depan hukum bagi setiap warga negara
7. Prinsip penegakan hukum demi tegaknya keadilan dan kebenaran tanpa pandang bulu
8. Prinsip pemberlakuan hukum adat yang tetap berpedoman pada keadilan dan kebenaran
9. Prinsip perdamaian dan kedamaian. Hal ini berarti pelaksanaan prinsip-prinsip masyarakat
madaniah tersebut tidak boleh mengorbankan keadilan dan kebenaran
10. Prinsip pengakuan hak atas setiap orang atau individu. Prinsip ini adalah pengakuan
terhadap penghormatan atas hak asasi setiap manusia.
Masyarakat Madani sebagai masyarakat yang paling ideal memiliki identitas khusus
yaitu; bertuhan, damai, tolong menolong, toleran, keseimbangan antara hak dan kewajiban
sosial, berpandangan tinggi dan berakhlak mulia.
C. Peran Umat Islam dalam Mewujudkan Masyarakat Madani
42
Mewujudkan masyarakat madani merupakan cita-cita yang amat mulia untuk
dipraktekkan dalam kehidupan masyarakat. Model masyarakat madani pernah dicontohkan
pada masa Rasullullah SAW di Madinah. Pada masa itu kota Madinah dipimpin oleh
Rosullullah SAW setelah terjadi perjanjian yang disebut Piagam Madinah. Piagam Madinah
adalah kesepakatan antara Rosullullah SAW dan umat muslim lainnya beserta penduduk
Yahudi. Di dalam perjanjian tersebut berisi untuk setiap masyarakat untuk saling tolongmenolong dan menciptakan kedamaian dalam kehidupan social, menjadikan Al-Quran
sebagai landasan konstitusi, mengangkat Rosullullah menjadi peminpin, dan juga dalam
piagam tersebut memberikan kebebasan untuk memeluk agama dan beribadah dengan
kepercayaan mereka masing-masing. Dalam kepemimpinan Rosullullah SAW, masyarakat
madinah yang sebelumnya sering terjadi konflik berubah menjadi masyarakat yang damai
dan saling tolong-menolong satu sama lain.
-
-
-
Umat Islam di Indonesia merupakan komponen mayoritas bangsa Indonesia. Sebagai
komponen terbesar penyusun bangsa ini, umat Islam dituntut untuk berpartisipasi secara
aktif dalam kehidupan bernegara ini. Umat Islam di Indonesia yang sebagai mayoritas
bertanggung jawab atau berperan sangat besar dalam mewujudkan masyarakat madani. Di
negeri ini akan tergantung oleh bagaimana cara umat Islam dalam menjalani kehidupannya.
Maka dari itu umat Islam memiliki tiga peran yang nyata yaitu ;
Sebagai Warga Negara
sebagai warga Negara hendaknya umat Islam memenuhi kewajibannya sesuai pada
peraturan-peraturan nagara yang telah dibuat.
Sebagai Pengembang Kehidupan Bangsa
Dalam hal ini, umat Islam diharapkan dapat menawarkan dirinya sebagai sumber
pengembangan dalam segala aspek kehidupan seperti, ekonomi, sosial, pendidikan, politik
dan budaya.Dalam melaksanakan perannya, segala tindakan harus didasari pada nilai-nilai
yang Islami.
Sebagai Penata Kehidupan Bangsa dan Negara
Dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk karena Negara ini memiliki
berbagai macam ras, suku, agama, etnik dan lain-lain. Maka umat Islah harus bener-benar
pandai menerapkan gagasan Islami yang ke-Indonesia-an. Hal ini karena untuk terciptannya
kedamaian dan ketentraman, seperti yang diajarkan oleh Rasullullah SAW bahwa umat
muslim adalah umat yang penuh kasih sayang, keadilan, dan kearifan yang sesuai dengan
perintah Allah SWT. Dasar-dasar inilah yang dijadikan oleh umat Islam dalam kehidupan
bermasyarakat. Jika setiap orang memiliki rasa toleransi dan menghormati, maka kehidupan
masyarakat madani akan tercapai.
Dalam melakukan perannya hendaknya umat Islam didasari pada pengetahuan dan
wawasan yang meliputi:
a) Wawasan KeIslaman
b) Wawasan atau pemahaan secara utuh tentang ajaran-ajaran Islam
c) Wawasan Kebangsaan
d) Merupakan peningkatan rasa nasionalisme.
e) Wawasan Kecendikian
f) Peningkatan dalam kualitas kecendikian.
g) Wawasan Kepemimpinan
43
Meliputi usaha dalam peningkatan dan pengembangan jati diri dan kepemimpinan umat
serta wawasan kesejahteraan guna meningkatkan kegiatan ekonomi kerakyatan.
Banyak yang sudah dilakukan umat Islam dalam menunjukan perannya dalam
membangun masyarakat madani. Tapi akhir-akhir ini pandangan Islam buruk karena banyak
umat Islam di Indonesia yang bersikap dan bertindak tanpa wawasan keIslaman yang benar.
Mereka bertindak atas nama umat Islam, oleh karena ini yang memperburuk pandangan
masyarakan tentang Islam.
D. Ekonomi Islam
❖ Definisi Ekonomi Islam
Sisi terpenting untuk mewujudkan masyarakat Madani adalah sisi ekonomi. Ahli
memberi definisi Ekonomi Islam adalah merupakan madzhab ekonomi Islam, yang terjelma
di dalamnya bagaimana cara Islam mengatur kehidupan perekonomian, dengan apa yang
dimiliki dan ditujukan oleh madzhab ini tentang ketelitian cara berfikir yang terdiri dari nilainilai moral Islam dan nilai-nilai ilmu ekonomi, atau nilai-nilai sejarah yang ada hubungannya
dengan masalah-masalah siasat perekonomian maupun yang ada hubungannya dengan
uraian sejarah masyarakat manusia.
Sebagian lagi lainnya berpendapat bahwa ekonomi Islam merupakan sekumpulan
dasar-dasar umum ekonomi yang kita simpulkan dari Al-Quran dan As-Sunnah, dan
merupakan bangunan perekonomian yang kita dirikan di atas landasan dasar-dasar tersebut
sesuai dengan tiap lingkungan dan masa.
Sementara lainnya mendefinisikan sebagai ilmu yang mengarahkan kegiatan ekonomi
dan mengaturnya, sesuai dengan dasar-dasar dan siasat ekonomi Islam. Ekonomi Islam
terdiri dari dua bagian: salah satu diantaranya tetap, sedang yang lain dapat berubah-ubah.
Yang pertama adalah yang diistilahkan dengan “sekumpulan dasar-dasar umum ekonomi
yang disimpulkan dari Al-Quran dan As-Sunnah”, yang ada hubungannya dengan urusanurusan ekonomi. Yang kedua “bangunan perekonomian yang kita dirikan di atas landasan
dasar-dasar tersebut sesuai dengan tiap lingkungan dan masa”.
❖ Tujuan Ekonomi Islam
Adapun tujuan Ekonomi Islam berpedoman pada: Segala aturan yang diturunkan
Allah swt dalam sistem Islam mengarah pada tercapainya kebaikan, kesejahteraan,
keutamaan, serta menghapuskan kejahatan, kesengsaraan, dan kerugian pada seluruh
ciptaan-Nya. Demikian pula dalam hal ekonomi, tujuannya adalah membantu manusia
mencapai kemenangan di dunia dan di akhirat.
Seorang fuqaha asal Mesir bernama Prof.Muhammad Abu Zahrah mengatakan ada
tiga sasaran hukum Islam yang menunjukan bahwa Islam diturunkan sebagai rahmat bagi
seluruh umat manusia, yaitu:
1. Penyucian jiwa agar setiap muslim bisa menjadi sumber kebaikan bagi masyarakat dan
lingkungannya.
2. Tegaknya keadilan dalam masyarakat. Keadilan yang dimaksud mencakup aspek
kehidupan di bidang hukum dan muamalah.[10]
3. Tercapainya maslahah (merupakan puncaknya). Para ulama menyepakati bahwa masalah
yang menjad puncak sasaran di atas mencakup lima jaminan dasar:
4. keselamatan keyakinan agama ( al din)
44
5.
6.
7.
8.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
kesalamatan jiwa (al nafs)
keselamatan akal (al aql)
keselamatan keluarga dan keturunan (al nasl)
keselamatan harta benda (al mal)
❖ Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam
Secara garis besar ekonomi Islam memiliki beberapa prinsip dasar:
Berbagai sumber daya dipandang sebagai pemberian atau titipan dari Allah swt kepada
manusia.
Islam mengakui pemilikan pribadi dalam batas-batas tertentu.
Kekuatan penggerak utama ekonomi Islam adalah kerja sama.
Ekonomi Islam menolak terjadinya akumulasi kekayaan yang dikuasai oleh segelintir
orang saja.
Ekonomi Islam menjamin pemilikan masyarakat dan penggunaannya direncanakan
untuk kepentingan banyak orang.
Seorang muslim harus takut kepada Allah swt dan hari penentuan di akhirat nanti.
Zakat harus dibayarkan atas kekayaan yang telah memenuhi batas (nisab)
Islam melarang riba dalam segala bentuk.
Banyak pihak beranggapan mewujudkan cita-cita kesejahteraan masyarakat sebagai
manusia yang saling bersaudara dan sama-sama diciptakan oleh satu Tuhan, saat ini,
hanyalah sebuah impian. Hal itu terjadi karena adanya penolakan menggunakan mekanisme
filter yang disediakan oleh penilaian berbasis moral, di samping makin melemahnya
perasaan sosial yang diserukan agama. Peningkatan moral dan solidaritas sosial tidak
mungkin dapat dilakukan tanpa adanya kesakralan moral yang diberikan oleh agama. Para
ahli mengakui, bahwa agama-agama cenderung memperkuat rasa kewajiban sosial dalam
diri pemeluknya daripada menghancurkan. Sepanjang sejarah umat manusia tidak
ditemukan contoh signifikan yang menunjukkan, bahwa suatu masyarakat yang berhasil
memelihara kehidupan moral tanpa bantuanagama.
Ajaran ekonomi yang dilandaskan nilai-nilai agama akan menjadikan tujuan
kesejahteraan kehidupan yang meningkatkan jiwa dan rohani manusia menuju kepada
Tuhannya.
Menurut Yusuf Qardhawi (1994), sesungguhnya manusia jika kebutuhan hidup
pribadi dan keluarganya telah terpenuhi serta merta merasa aman terhadap diri dan
rezekinya, maka mereka akan hidup dengan penuh ketenangan, beribadah dengan khusyu’
kepada Tuhannya yang telah memberi mereka makan, sehingga terbebas dari kelaparan dan
memberi keamanan kepada mereka dari rasa takut. Dibutuhkan sebuah kesadaran, bahwa
manusia diciptakan bukan untuk keperluan ekonomi, tetapi sebaliknya masalah ekonomi
yang diciptakan untuk kepentingan manusia. Islam, sebagai ajaran universal, sesungguhnya
ingin mendirikan suatu pasar yang manusiawi, di mana orang yang besar mengasihi orang
kecil, orang yang kuat membimbing yang lemah, orang yang bodoh belajar dari yang pintar,
dan orang-orang bebas menegur orang yang nakal dan zalim sebagaimana nilai-nilai utama
yang diberikan Allah kepada umat manusia berdasarkan Al Qur’an Surah al-Anbiyaa ayat
107.
Berbeda dengan pasar yang Islami, menurut Qardhawi (1994), pasar yang berada di
bawah naungan peradaban materialisme mencerminkan sebuah miniatur hutan rimba, di
mana orang yang kuat memangsa yang lemah, orang yang besar menginjak-injak yang kecil.
45
Orang yang bisa bertahan dan menang hanyalah orang yang paling kuat dan kejam, bukan
orang yang paling baik dan ideal. Dengan demikian sulit membayangkan bahwa
kesejahteraan akan dapat diperoleh dari sistem pasar dalam peradaban materialisme.
Untuk mewujudkan kesejahteraan ekonomi yang berkeadilan harus ada suatu sistem
pasar yang sehat. Pasar itu sebenarnya adalah sebuah mekanisme yang canggih, namun
gampang dirusak, untuk menata kehidupan ekonomi, sehingga setiap pribadi memberikan
sumbangannya bagi keseluruhan dan juga memenuhi kebutuhannnya sendiri dengan
kebebasan penuh untuk melakukan pilihan pribadinya. Pasar yang sehat menggalakkan
keragaman, prakarsa dan kreativitas pribadi, dan upaya-upaya yang produktif (Korten, 2002).
Pasar yang sehat sangat tergantung pada kesadaran para pesertanya, sehingga harus
ada persyaratan agar masyarakat umum menjatuhkan sanksi terhadap orang yang tidak
menghormati hak dan kebutuhan orang lain, serta mengekang secara sukarela dorongan
pribadi mereka untuk melampaui batas. Apabila tidak ada suatu budaya etika dan aturanaturan publik yang memadai, maka pasar gampang sekali dirusak. Pasar yang sehat, tidak
berfungsi dengan paham individualisme ekstrem dan kerakusan kapitalisme yang semenamena, dan juga tidak berfungsi lewat penindasan oleh hierarki dan yang tidak
mementingkan diri sama sekali, seperti dalam komunisme. Kedua faham tersebut
merupakan penyakit yang amat parah.
Kesejahteraan dalam pembangunan sosial ekonomi, tidak dapat didefinisikan hanya
berdasarkan konsep materialis dan hedonis, tetapi juga memasukkan tujuan-tujuan
kemanusiaan dan keruhanian. Tujuan-tujuan tersebut tidak hanya mencakup masalah
kesejahteraan ekonomi, melainkan juga mencakup permasalahan persaudaraan manusia
dan keadilan sosial-ekonomi, kesucian kehidupan, kehormatan individu, kehormatan harta,
kedamaian jiwa dan kebahagiaan, serta keharmonisan kehidupan keluarga dan masyarakat.
Ajaran Islam, sama sekali, tidak pernah melupakan unsur materi dalam kehidupan
dunia. Materi penting bagi kemakmuran, kemajuan umat manusia, realisasi kehidupan yang
baik bagi setiap manuisa, dan membantu manusia melaksanakan kewajibannya kepada
Tuhan. Namun demikian, walaupun kehidupan ekonomi yang baik merupakan tujuan Islam
yang dicita-citakan, bukan merupakan tujuan akhir. Kehidupan ekonomi yang baik, pada
hakikatnya merupakan sarana untuk mencapai tujuan yang lebih besar dan lebih jauh. Hal ini
merupakan perbedaan yang sangat esensial antara ajaran Islam dengan faham materialisme
yang dianut oleh kaum Komunis ataupun para Sekuleristik.
Menurut Qardhawi, ideologi-ideologi materialisme bertumbuh kepada pemenuhan
nafsu yang tidak terlepas dari ruang lingkup kepentingan ekonomi yang rendah. Kesenangan
materi menjadi tujuan akhir dan merupakan surga yang dicita-citakan. Berbeda dengan
ekonomi yang dilandasi moral agama, kesejahteraan kehidupan menjadikan tujuan untuk
meningkatkan jiwa dan ruhani manusia menuju Tuhannya. Materi digunakan untuk
mempersiapkan diri untuk menghadapi kehidupan yang lebih baik dan lebih kekal.
Ajaran Islam mengakui kebebasan pemilikan. Hak milik pribadi menjadi landasan
pembangunan ekonomi, namun harus diperoleh dengan jalan yang telah ditentukan oleh
Allah. Pemilikan harus melalui jalan halal yang telah disyariahkan. Demikian pula
mengembangkan kepemilikan harus dengan cara-cara yang dihalalkan dan tidak dilarang
oleh syariah. Islam melarang pemilik harta menggunakan kepemilikannya untuk membuat
kerusakan di muka bumi atau melakukan sesuatu yang membahayakan manusia. Di samping
itu dilarang pula mengembangkan kepemilikan dengan cara merusak nilai dan moral
(akhlak), misalnya dengan menjual-belikan benda-benda yang diharamkan dan segala yang
46
merusak kesehatan manusia baik akal, agama maupun akhlaknya. Dengan demikian, sebuah
pasar yang sehat berlandaskan nilai-nilai moralitas keagamaan sangat diperlukan dalam
sebuah sistem distribusi kepemilikan.
❖ Etos Kerja Islam
Ethos berasal dari bahasa Yunani yang berarti sikap, kepribadian, watak, karakter
serta keyakinan atas sesuatu. Sedangkan kerja dalam pengertian luas adalah semua bentuk
usaha yang dilakukan manusia, baik dalam hal materi maupun non-materi, intelektual atau
fisik maupun hal-hal yang berkaitan dengan masalah keduniawian atau keakhiratan. Kamus
besar bahasa Indonesia susunan WJS Poerdarminta mengemukakan bahwa kerja adalah
perbuatan melakukan sesuatu. Pekerjaan adalah sesuatu yang dilakukan untuk mencari
nafkah. Lebih lanjut dikatakan bekerja adalah aktivitas dinamis dan mempunyai tujuan untuk
memenuhi kebutuhan tertentu (jasmani dan rohani) dan di dalam mencapai tujuannya
tersebut dia berupaya dengan penuh kesungguhan untuk mewujudkan prestasi yang optimal
sebagai bukti pengabdian dirinya kepada Allah SWT.
Etos kerja dalam arti luas menyangkut akan akhlak dalam pekerjaan. Untuk bisa
menimbang bagaimana akhlak seseorang dalam bekerja sangat tergantung dari cara melihat
arti kerja dalam kehidupan, cara bekerja dan hakikat bekerja. Dalam Islam, iman banyak
dikaitkan dengan amal. Dengan kata lain, kerja yang merupakan bagian dari amal tak lepas
dari kaitan iman seseorang.
Menurut Geertz Etos adalah sikap yang mendasar terhadap diri dan dunia yang
dipancarkan hidup. Etos adalaha aspek evaluatif yang bersifat menilai. Maka dalam hal ini
bisa dinyatakan apakah kerja, dalam hal yang lebih khusus, usaha komersial, dianggap
sebagai suatu keharusan demi hidup, atau sesuatu imperatif dari diri, ataukah sesuatu yang
terikat pada identitas diri yang telah bersifat syakral? Identitas diri dalam hal ini adalah suatu
yang telah diberikan oleh agama.
Sehingga dapat dikatakan bahwa ethos kerja seorang muslim ialah semangat
menapaki jalan lurus, mengharapkan ridha Allah SWT. berdasarkan al-Qur’an dan al-Hadits
sebagai tuntunan dan pegangan bagi mereka karena Al-Qur’an dan Al-Hadits mempunyai
fungsi tidak hanya mengatur dalam segi ibadah saja melainkan juga mengatur umat dalam
memberikan tuntutan dalam masalah yang berkenaan dengan kerja.
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri
akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni'matan) duniawi dan berbuat
baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah
kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang berbuat kerusakan (QS. Al-Qashash:77).
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri
yang mengubah apa apa yang pada diri mereka.” (QS:Ar-Ra’d : 11)
Rasulullah SAW bersabda: “bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup
selamanya, dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati besok.”
Etika kerja dalam Islam yang perlu diperhatikan adalah:
a) Adanya keterkaitan individu terhadap Allah sehingga menuntut individu untuk bersikap
cermat dan bersungguh-sungguh dalam bekerja, berusaha keras memperoleh keridhaan
Allah dan mempunyai hubungan baik dengan relasinya.
47
b) Berusaha dengan cara yang halal dalam seluruh jenis pekerjaan.
c) Tidak memaksakan seseorang, alat-alat produksi atau binatang dalam bekerja, semua
harus dipekerjakan secara professional dan wajar.
d) Tidak melakukan pekerjaan yang mendurhakai Allah yang ada kaitannya dengan minuman
keras, riba dan hal-hal lain yang diharamkan Allah.
e) Professionalisme dalam setiap pekerjaan.
Berikut ini merupakan penjelasan tentang ciri-ciri etos kerja muslim tersebut adalah
kutipan dari buku Memperdayakan Etos Kerja Islam yang ditulis oleh K.H.Toto Tasmara. Ada
25 ciri etos kerja Islam itu adalah sebagai berikut:
1. Mereka kecanduan terhadap waktu
2. Mereka memiliki moralitas yang bersih (ikhlas)
3. Mereka kecanduan kejujuran
4. Mereka memiliki komitmen
5. Istiqomah Kuat Pendirian
6. Mereka kecanduan disiplin
7. Konsekuan dan berani menghadapi tantangan
8. Mereka memiliki sikap percaya diri
9. Mereka orang yang kreatif
10. Mereka tipe orang yang bertanggung jawab
11. Mereka bahagia karena melayani
12. Mereka memiliki harga diri
13. Memiliki jiwa kepemimpinan
14. Mereka berorientasi ke masa depan
15. Hidup berhemat dan efisien
16. Memiliki jiwa wiraswasta
17. Memiliki insting bertanding
18. Keinginan untuk mandiri
19. Mereka kecanduan belajar dan haus ilmu
20. Memiliki semangat perantauan
21. Mempertahankan kesehatan dan gizi
22. Tangguh dan pantang menyerah
23. Berorientasi pada produktivitas
24. Memperkaya jaringan silaturahmi
25. Mereka memiliki semangat perubahan
E. Pandangan Islam Terhadap Harta
Islam mempunyai pandangan yang jelas mengenai harta dan kegiatan ekonomi.
Pandangan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.
Pertama, pemilik mutlak terhadap segala sesuatu yang ada di muka bumi ini,
termasuk harta benda adalah Allah SWT. Kepemilikan oleh manusia hanya bersifat, sebatas
untuk melaksanakan amanah mengelola dan memanfaatkan sesuai dengan ketentuan-Nya
(QS.al-Hadid: 7).
Kedua, status harta yang dimiliki manusia adalah sebagai berikut:
48
1.
Harta sebagai amanah atau titipan dari Allah SWT. Manusia hanyalah
pemegang amanah karna memang tidak mampu mengadakan benda dari
tiada.
2. Harta sebagai perhiasan hidup yang memungkinkan manusia bisa
menikmatinya dengan baik dan tidak berlebih-lebihan. Manusia memiliki
kecendrungan yang kuat untuk memiliki, menguasai, dan menikmati harta.
(QS Al-imran : 14).
3. Harta sebagai ujian keimanan. Hal ini terutama menyangkut soal cara
mendapatkan dan memanfaatkannya, apakah sesuai dengan ajaran Islam
ataukah tidak (QS Al-anfal:28).
4. Harta sebagai bekal ibadah, yakni untuk melaksanakan perintah-Nya dan
melaksanakan muamalah diantara sesama manusia, melalui kegiatan zakat,
infak, dan sedekah (QS At-taubah:41)
Ketiga, pemilikan harta dapat dilakukan antara lain melalui usaha (a`mal) atau mata
pencaharian (ma`isyah) yang halal dan sesuai dengan aturan. (QS Al-Mulk: 15)
Keempat, dilarang mencari harta, berusaha, atau bekerja yang dapat melupakan
kematian (QS At-Takaatsur: 1-2), melupakan dzikrullah ( tidak ingat kepada Allah SWT
dengan segala ketentuan-Nya) (Qs Al-Munafiquun : 9), melupakan solat dan zakat (QS AnNur : 37), dan memusatkan kekayaan hanya pada sekelompok orang kaya saja (QS AlHasyr:7).
Kelima, dilarang menempuh usaha yang haram, seperti melalui riba (QS Al-Baqarah:
273-281), perjudian, berjual beli barang yang dialarang atau haram (QS Al-Maidah: 90-91),
mencuri, merampok, penggasaban, curang dalam takaran dan timbangan, melalui cara-cara
yang bathil dan merugikan, dan melalui suap-menyuap ( HR. Imam Ahmad).
F. Mengapa Umat Islam Tidak Boleh Miskin?
Dalam paradigma Islam, kekayaan merupakan suatu cobaan, bahkan suatu bencana
yang hanya dengan pertolongan Allah ia dapat dihindari, demikian pendapat Dr. Yusuf alQardhawi dalam bukunya Musykilatul Faqri wa kaifa ‘Aalajahal Islam. Dalam buku itu, beliau
juga menegaskan bahwa kemikiskinan merupakan persoalan yang harus dapat diatasi karena
kemiskinan dapat membawa dampak pengaruh yang negatif dan amat berbahaya, baik bagi
si miskin sendiri maupun bagi masyarakatnya.
Selanjutnya beliau membeberkan sekurang-kurangnya lima pengaruh negatif atau
bahaya dari kemiskinan itu:
Pertama, ‫خطر على العقيدة‬
Bahaya kemiskinan terhadap aqidah, yakni dapat membuat manusia ragu akan
keadilan Allah apabila dia hanya melihat orang yang kaya raya, apalagi kalau orang itu
sombong dengan kekayaan yang dimilikinya. Dalam kehidupan kita tidak sedikit orang yang
keluar dari aqidah Islam yang benar lalu memilih agama lain yang bathil karena kemiskinan
yang menghimpun dirinya.
Karena begitu bahaya kemiskinan terhadap aqidah, maka Rasulullah mengajarkan
kepada kita disamping dengan usaha yang maksimal untuk mengatasi kemiskinan itu, juga
mengajarkan dengan do'a memohon perlindungan kepada Allah dari kondisi yang demikian.
Doa' itu berbunyi : ”Ya Tuhanku, aku berlindung kepadamu dari kekufuran dan kemelaratan”
(HR. Abu Daud).
49
Kedua, ‫خطر على األخالق والسلوك‬
Kedua yang menjadi bahaya dari kemiskinan adalah terhadap etika dan moral,
pengaruh terhadap etika dan moral ini sebenarnya seiring dengan pengaruh terhadap
aqidah, hal ini nampak dengan banyaknya kasus-kasus kerusakan moral yang terjadi pada
mereka yang didera oleh kemiskinan; mulai dari berbicara yang bohong sampai pada
pembunuhan terhadap manusia, begitulah memang yang selama ini banyak terjadi padahal
itu merupakan sesuatu yang selama ini dianggap sebagai tidak mungkin dilakukan olehnya,
misalnya anak membunuh orang tua, orang tua membunuh anak dan sebagainya. Rasulullah
SAW bersabda: ”Ketahuilah, manakala seseorang itu ditekan oleh utang, maka apabila
berkata ia berdusta dan apabila berjanji ia mengingkari” (HR. Bukhari, Muslim dan Nasa'i) .
Ketiga: ‫خطر على الفكر اإلنساني‬
Bahaya kemiskinan yang ketiga adalah terhadap pemikiran, hal ini karena orang yang
didera oleh kemiskinan amat sulit berfikir secara sehat, apalagi bila tetangga atau orang yang
berada di sekitarnya memperlihatkan kemewahan hidup atau membicarakannya. Oleh
karena itu, Imam Abu Hanifah pernah menyatakan: ”Janganlah kalian minta fatwa kepada
orang yang di dalam rumahnya tidak ada gandum”. Apa yang dikatakan Abu Hanifah itu
benar, karena orang yang kekurangan membuat fikiranya tidak menentu, bingung dengan
urusan ”dapurnya” dan ini dapat mengakibatkan fatwa atau pendapat yang tidak lurus dan
tidak tepat. Dari kondisi yang kepepet itu, seringkali seseorang yang dilanda kemiskinan itu
mengakibatkan emosi yang tidak terkendali.
Keempat, ‫خطر على األسرة‬
Bahaya kemiskinan yang keempat adalah terhadap rumah tangga, ini merupakan
sesuatu yang sudah banyak terjadi, misalnya begitu banyak pemuda yang takut untuk
menikah atau memasuki jenjang kehidupan rumah tangga, karena takut tidak mampu
memikul tanggung jawab ekonomi sesudah menikah, disamping itu orang tua dari wanita
yang hendak dinikahinya juga tidak mau menikahkan anaknya, karena pemuda yang hendak
menikahinya belum memiliki kemapanan dari segi ekonomi, padahal sebenarnya hal itu tidak
perlu terjadi karena nanti Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka. Disamping
itu dalam kaitan bahaya terhadap kehidupan keluarga, kemiskinan juga seringkali menjadi
salah satu faktor utama terjadinya perceraian antara suami dan isteri, baik karena isteri tidak
diberi nafkah secara wajar sehingga mengajukan gugatan cerai dan hakim agama
memutuskan perceraian itu, atau karena suami menghalalkan segala cara dalam mencari
nafkah dengan sebab kesulitannya itu sehingga dia ditangkap polisi dan dijebloskan ke
penjara yang membuat isteri minta cerai, atau juga karena isteri tidak sanggup menghadapi
kemiskinan yang menderanya sehingga dia mencari harta dengan cara melacur dan
suaminya marah hingga menceraikannya, dan sebagainya.
Kemudian kemiskinan juga dapat menimbulkan noda dalam kehidupan rumah tangga
dalam bentuk pembunuhan terhadap anak, karena orang tua takut tidak bisa memberi
makan kepada mereka, dan begitulah yang pernah terjadi pada masyarakat jahiliyah yang
bisa jadi sekarang inipun masih banyak terjadi dengan corak yang yang lain, karenanya Allah
SWT melarang keras hal ini dalam firman-Nya: ”Janganlah kamu sekalian membunuh anakanak kamu karena takut kemiskinan, Kamilah yang akan memberikan rezeki kepadamu dan
kepada mereka” (QS. Al-An’am: 151).
Kelima: ‫خطر على المجتمع واستقراره‬
50
Bahaya Kelima dari kemiskinan adalah terhadap masyarakat dalam arti sangat sulit
terciptanya keamanan dan stabilitas yang terkendali dalam suatu masyarakat, karenanya
kenyataan menunjukan sulitnya orang-orang yang dilanda kemiskinan untuk mengendalikan
dirinya karena tuntutan perut, apalagi kalau kemiskinan itu disebabkan oleh ketidakadilan
penguasa, perampasan hak manusia, konglomerasi sekelompok kecil masyarakat dengan
mengeksploitir sebagian besar masyarakat dan sebagainya. Kondisi semacam itu sangat
besar menjadi penyebab timbulnya kecemburuan sosial yang mengakibatkan gejolak sosial
hingga tindakan-tindakan kriminal yang mengerikan.
Oleh karena itu menjadi tanggung jawab kita bersama untuk mengatasi kemiskinan
secara nyata karena dengan itu kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat dapat
berlangsung secara baik. Kita berharap agar saudara-saudara kita yang masih dilanda
kemiskinan untuk terus memperkokoh kesabaran karena hal itu merupakan ujian dari Allah
SWT yang harus dihadapi secara baik sehingga kemiskinan dan kesulitan hidup tidak
membuat kita putus asa hingga menghalalkan segala cara, apalagi harus kita sadari bahwa
kemiskinan dan kesulitan hidup yang kita alami tidak pernah sesulit yang dialami oleh
generasi terdahulu.
Kiat Islam Mengatasi Kemiskinan
Kemiskinan dan kehidupan dibawah garis kemiskinan merupakan sesuatu yang masih
begitu banyak terjadi di sekitar kita.Yang satu berhasil mengatasi kemiskinan, tetapi muncul
lagi penduduk miskin yang baru dengan sebab-sebab tertentu.Karena itu kepedulian kita
terhadap upaya mengatasi kemiskinan merupakan sesuatu yang sangat penting. Islam
merupakan agama yang amat menekankan kepada kita untuk bisa mengatasi kemiskinan,
bahkan ada banyak petunjuknya di dalam Al Qur'an dan hadits-hadits, bahkan para ulama
terus mencurahkan kemampuan berfikir untuk menggali ajaran Islam dalam konteks
mengatasi kemiskinan, sementara kaum muslimin juga terus berusaha dari tahun ke tahun
dengan usaha yang maksimal guna mengatasi kemiskinan.
Salah seorang ulama yang terus mencurahkan pemikirannya dalam masalah ini
adalah Dr. Yusuf Qardhawi yang dalam kitabnya Musykilatul Faqri Wa Kaifa 'Aalajahal
Islam menyebutkan kiat-kiat Islam dalam mengatasi kemiskinan. Menurut beliau sekurangkurangnya ada enam kiat yang bisa kita lakukan dalam upaya mengatasi kemiskinan
berdasarkan petunjuk Al Qur'an dan Hadits.
Pertama adalah bekerja yang merupakan keharusan bagi setiap muslim agar
memperoleh rezeki yang Allah sediakan, bahkan kalau perlu seorang muslim berjalan di
muka bumi ini hingga ke penjuru dunia guna meraih rezeki yang halal. Allah berfirman:
"Dialah yang menjadikan buni itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya
dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya (QS. 67:15).
Karena itu seorang muslim harus memiliki ilmu yang banyak dan ketrampilan yang
bervariasi agar bisa bekerja dan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain, hal ini karena
bekerja merupakan sesuatu yang sangat mulia dalam pandangan Islam, Rasulullah SAW
bersabda: "Barangsiapa yang menjadi payah pada sore hari karena kerja tangannya, maka
terampuni dosanya (HR. Thabrani).
Kedua yang harus dilakukan adalah dengan mencukupi keluarga yang lemah, mereka
tidak bisa bekerja bukan karena malas, tapi karena mereka lemah dan kaum muslimin
memang harus memenuhi kebutuhannya. Mereka itu misalnya janda yang ditinggal mati
suaminya tanpa harta, anak-anak yatim yang masih kecil sehingga belum bisa mandiri, orang
51
yang lanjut usia, orang yang berpenyakit menahun, orang yang cacat dan sebagainya.
Keharusan keluarga yang lain untuk memenuhi kebutuhan anggota keluarganya yang lemah
telah difirmankan oleh Allah: "Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan
haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan: dan janganlah kamu
menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu
adalah saudaranya syaitan dan syaitan adalah sangat ingkar kepada Tuhannya (QS. 17: 2627)
Ketiga yang merupakan upaya untuk mengatasi kemiskinan adalah dengan
menunaikan kewajiban zakat. Apalagi zakat itu merupakan kewajiban yang kedudukannya
sama dengan kewajiban menunaikan shalat, karenanya dalam banyak ayat dan hadits,
perintah shalat dirangkai dengan perintah zakat, misalnya dalam firman Allah: "Dan
dirikanlah shalat, tunaikan zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku (QS. 2: 43)
Karena zakat merupakan upaya mengatasi kemiskinan, maka sedapat mungkin dana
zakat itu tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya konsumtif bagi
fakir kecuali zakat fitrah, karena kalau demikian dikhawatirkan mereka hanya
menggantungkan harapannya dari zakat yang membuat mereka tambah malas untuk
berusaha. Maka dana zakat bisa digunakan untuk orang miskin seperti biaya pendidikan
(beasiswa), modal usaha dan sebagainya. Meskipun demikian, kebutuhan awal untuk makan
tetap harus dipenuhi, apalagi bagi mereka yang berpenyakit menahun, cacat dan
sebagainya.
Karena itu, bagi yang tidak menunaikan zakat; bukan hanya tidak sempurna
keIslamannya, tapi termasuk orang yang tidak beruntung, tidak baik dan tidak menunjukkan
kebajikan dan ketaqwaan, sama saja dengan orang-orang musyrik, tidak memperoleh
rahmat Allah, bahkan tidak berhak memperoleh pertolongan-Nya.
Keempat untuk bisa mengatasi kemiskinan menurut DR. Yusuf Qardhawi adalah
melalui dana bantuan perbendaharaan Islam yang diperoleh dari berbagai sumber dana
oleh Baitul Maal. Karena itu kekayaan umum pada suatu negara harus diarahkan kepada
upaya mengatasi kemiskinan dan karenanya jangan sampai hal itu dikuasai oleh satu atau
sekelompok orang. Disamping itu aset negara, dana perbendaharaan Islam juga bisa
diperoleh dari ghanimah (harta rampasan perang), fa'i (harta yang ditinggal musuh) dan
sebagainya.
Karena itu seluruh potensi negara semestinya dapat dimanfaatkan untuk mengatasi
kemiskinan dengan berbagai cara dan negara kita termasuk negara yang masih memiliki
penduduk miskin dalam jumlah yang banyak, mereka tidak boleh kita biarkan saja tanpa ada
usaha yang sungguh-sungguh untuk mengatasi kemiskinan mereka.
Kelima yang merupakan upaya untuk bisa mengatasi kemiskinan adalah dengan
keharusan memenuhi hak-hak selain zakat yang harus diperoleh seorang muslim dari muslim
lainnya. Hak-hak yang dapat diperoleh itu misalnya dari tetangga yang mampu, karena itu
orang yang beriman bisa dianggap tidak beriman apabila dia kenyang sementara
tetangganya lapar, hal lainnya adalah qurban yang juga untuk fakir miskin, kafarat dari
seorang muslim yang melanggar sumpah, fidyah, hadiah dan sebagaainya.
Keenam yang dapat dilakukan untuk mengatasi kemiskinan menurut beliau adalah
dengan shadaqah suka rela dan kebajikan individu, ini merupakan rangsangan yang
diberikan Allah kepada kaum muslimin yang memiliki kemampuan untuk ditunaikannya,
diantara bentuknya adalah waqaf dan hibah terhadap harta yang dimilikinya seperti rumah,
tanah, kendaraan dan sebagainya. Rangsangan dari Allah yang akan diberikan kepadanya
52
adalah dengan memperoleh pahal yang terus menerus mengalir meskipun dia telah
meninggal.
Akhirnya harus kita sadari bahwa kemiskinan memang selalu menghantui kita
sepanjang zaman, kemiskinan bisa saja akan terus terjadi, meskipun usaha mengatasinya
terus kita lakukan. Kemiskinan bisa datang secara tiba-tiba, terhadap orang kaya sekalipun,
misalnya dengan terjadinya bencana, peperangan dan sebagainya. Karena itu selagi kita kaya
dan berkecukupan, maka Islam menghendaki agar kita ingat pada yang miskin sehingga pada
saat membutuhkan bantuan orang lain, insya Allah kita akan memperoleh bantuan yang kita
butuhkan itu.
G. Urgensi Bisnis dalam Islam
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa bisnis merupakan amaliyah yang memiliki
banyak keutamaan. Begitu besar keutamaan bisnis ini, hingga Allah SWT ketika
menggambarkan tentang keutamaan kehidupan akhirat, Allah SWT menggambarkannya
dengan bisnis (QS. As-Shaf/ 61: 10 – 13):
ُ‫اَّلل َو َرسو ِل ِه‬
َُِّ ‫عذَابُ أ َ ِليمُ *تؤْ ِمنونَُ ِب‬
ُْ ‫ارةُ ت ْن ِجيك ُْم ِم‬
ُْ ‫َياأَيُّ َها الَّذِينَُ َءا َمنوا ه‬
َ ‫ن‬
َ ‫َل أَدلُّك ُْم‬
َ ‫علَى ِت َج‬
‫ن ك ْنت ُْم ت َ ْع َلمونَُ * َي ْغ ِف ُْر لَك ُْم ذنو َبك ُْم‬
ُْ ‫اَّللِ ِبأ َ ْم َوا ِلك ُْم َوأَ ْنفسِكُ ُْم ذَ ِلك ُْم َخيْرُ لَك ُْم ِإ‬
َُّ ‫ل‬
ُِ ‫س ِبي‬
َ ‫َوت َجا ِهدونَُ فِي‬
َ َُ‫سا ِكن‬
* ُ‫ك ْالفَ ْوزُ ْال َع ِظيم‬
َُ ‫عدْنُ ذَ ِل‬
ُِ ‫ط ِي َبةُ فِي َجنَّا‬
ُْ ‫َويد ِْخ ْلك ُْم َجنَّاتُ ت َ ْج ِري ِم‬
َ ‫ت‬
َ ‫ن ت َ ْح ِت َها ْاْل َ ْن َهارُ َو َم‬
*َُ‫ِر ْالمؤْ ِمنِين‬
ُِ ‫اَّللِ َوفَتْحُ قَ ِريبُ َوبَش‬
َُّ َُ‫صرُ ِمن‬
ْ َ‫َوأ ْخ َرى ت ِحبُّو َن َها ن‬
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan
(bisnis) yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman
kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang
lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya. niscaya Allah akan mengampuni dosadosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,
dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga `Adn. Itulah
keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu)
pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita
gembira kepada orang-orang yang beriman.”
Selain keutamaan binsis sebagaimana dalam gambaran di atas, bisnis juga memiliki
keutamaan lain, diantaranya adalah:
(1) Bisinis merupakan pekerjaan yang paling mulia. Dalam hadits diriwayatkan:
‫ل ِبيَ ِد ُِه )رواه‬
ُِ ‫الرج‬
َُ ‫ب فَقَا‬
ُِ ‫ل ْال َك ْس‬
ُِ ‫ض‬
ُْ ‫ع‬
َُّ ‫صلَّى‬
ُُّ ‫ل النَّ ِب‬
َُ ِ‫سئ‬
َّ ُ‫ل بَيْعُ َمبْرورُ َو َع َمل‬
َ ‫ن أ َ ْف‬
َ ‫سلَّ َُم‬
َ ‫اَّلل‬
َ ‫علَ ْي ُِه َو‬
َ ‫ي‬
(‫أحمد‬
Dari Hani' bin Nayar bin Amru ra berkata, bahwa Nabi Muhammad SAW ditanya mengenai
pekerjaan yang paling mulia. Beliau menjawab, 'Jual beli (bisnis) yang mabrur (sesuai syariat
dan tidak mengandung unsur tipuan dan dosa) dan pekerjaan yang dilakukan seseorang
dengan kedua tangannya." (HR. Ahmad)
(2) Mendatangkan keberkahan. Artinya cara mencari rizki dengan berbisnis merupakan cara
yang mendapatkan keberkahan dari Allah SWT. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW
bersabda;
53
ُ‫ار َما لَ ْم‬
ُِ ‫ان ِب ْال ِخ َي‬
ُِ ‫ل ْال َب ِي َع‬
َُ ‫سلَّ َُم قَا‬
َُّ ‫صلَّى‬
ُْ ‫ع‬
َُّ ‫ي‬
َُ ‫ض‬
ُِ ‫ن َح ِكيمُ ب‬
ُْ ‫ع‬
َ ‫اَّلل‬
َ ُ‫ع ْنه‬
َ ‫اَّلل‬
ِ ‫ْن ِحزَ امُ َر‬
َ
َ ‫علَ ْي ُِه َو‬
َ ِ ُ‫ن النَّ ِبي‬
َ
‫ت بَ َر َكةُ َُب ْي ِع ِه َما (رواه‬
ُْ َ‫ن َكذَبَا َو َكتَ َما م ِحق‬
ُْ ‫ك له َما فِي َب ْي ِع ِه َما َو ِإ‬
َُ ‫ور‬
ُْ ِ ‫يَتَفَ َّرقَا فَإ‬
َ ‫ن‬
ِ ‫صدَقَا َوبَيَّنَا ب‬
)‫البخاري ومسلم‬
Dari Hakim bin Hizam ra, dari Nabi Muhammad SAW bersabda; "Penjual dan pembeli
keduanya bebas memilih selagi keduanya belum berpisah. Maka jika keduanya jujur dan
saling menjelaskan dengan benar, maka akan diberkahi pada bisnis keduanya. Namun jika
menyembunyikan cacat dan dusta, maka terhapuslah keberkahan jual beli tersebut. (HR.
Bukhari – Muslim)
3. Pelaku bisnis yang jujur dan amanah akan dikumpulkan kelak di akhirat bersama para
nabi, shiddiqin dan syuhada'. Sedang mereka semua di akhirat tidak memiliki tempat
melainkan di surga. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda:
َّ ‫صلَّى‬
َُ‫صدوقُ اْْل َ ِمينُ َم َعُ النَّ ِب ِيين‬
َُ ‫سلَّ َُم قَا‬
ُْ ‫ع‬
ُْ ‫ع‬
َّ ‫اج ُر ال‬
َ ُ‫اَّلل‬
َ ُ‫س ِعيد‬
َ
َ ‫علَ ْي ِهُ َو‬
َ ‫ن أ َ ِبي‬
ِ َّ ‫ل الت‬
َ ِ ُ‫ن النَّ ِبي‬
ُّ ‫الصدِي ِقينَُ َوال‬
(‫اء )رواه الترمذي‬
ُِ َ‫ش َهد‬
ِ ‫َو‬
Dari Abu Sa'id ra, dari Nabi Muhammad SAW bersabda, "Seorang pebisnis yang jujur lagi
amanah, maka ia akan bersama para nabi, shiddiqin dan syuhada'. (HR. Turmudzi)
(4) Dalam beberapa kitab sirah nabawiyah bahkan digambarkan bahwa masyarakat Mekah
tidak dianggap sebagai orang yang terhormat dan memiliki "mahabah' (baca ; kewibawaan),
kecuali jika ia merupakan seorang pebisnis.
(5) Banyak ulama yang mengatakan, bahwa orang yang berbisnis lebih dapat mengatur
waktu dan kehidupannya secara baik. Seperti lebih dapat meluangkan waktu untuk
berda'wah, mengarahkan umat dsb. Oleh karenanya tidak heran jika ulama-ulama besar
umat ini, mereka juga adalah pengusaha besar. Sebut saja nama Imam Malik, Imam AlKhattabi dsb.
Beginilah Rasulullah Berbisnis
1. Jujur di dalam Bisnisnya, Kejujuran adalah syarat fundamental dalam berbisnis yang
dilakukkan oleh RasullAllah Muhammad SAW. Beliau pernah melarang para
pedagang untuk meletakkan barang Busuk/jelek di dalam dagangannya. dan beliau
selalu memberikan barang sesuai dengan seadannya dan terbaik bagi Konsumennya.
2. Berprinsip pada nilai Illahi, Bisnis yang di lakukkan tidak terlepas dari pengawasan
Tuhan. Dan menyadarkan manusia sebagai makluk Illahiyah (berTuhan).
3. Prinsip kebebasan Individu yang bertanggung Jawab, Bukan bisnis hasil dari Paksaan
atau Riba. Yang menjerat kebebasan Individu.
4. Bertanggung Jawab, Bertanggung Jawab moral kepada Tuhan atas perilaku Bisnisnya
maupun Orang lain/Partner Bisnisnya maupun Konsumennya.
5. Keadilan dan Keseimbangan, Keadilan dan keseimbangan sosial, bukan hanya
keuntungan semata tetapi Kemitraan/bantu membantu di dalam bisnisnya (Win-WinSolution)
54
6. Tidak hanya mengejar keuntungan, dan berorientasi untuk menolong orang lain,
Atau WIN Win Solution.
7. Berniat baik di Bisnisnya, berniat baik adalah Aset Paling berharga oleh pelaku Bisnis
selain untuk menjadi terbaik tapi bermanfaat bagi orang lain.
8. Berani mewujudkan Mimpi, RasullAllah dari seorang penggembala Kambing, berniat
untuk mengubah hidupnya menjadi lebih baik lagi, menjadi pedagang, lalu Manager
hingga beliau mewujudkan cita-citanya menjadi Owner (Pemilik perusahaan) dengan
menikahi Siti Khadijah. Beliau adalah Enterprenur Cerdas.
9. Branding/Menjaga nama baik, RasullAllah selalu menggunakan cara ini sebagai
Modal Utama, Track Record sebagai orang Terpercaya (Al Amin), Justru paling di cari
dan siapapun ingin bekerja sama dengannya. (Lebih detil, cek di buku Beginilah
Rasulullah Berbisnis karya Hepi Andi Bastoni, Pustaka al-Bustan).
Cara Merintis Bisnis:
• Fokus dan Konsentrasi, RasulAllah selalu Fokus terhadap bisnis yang beliau tekuni,
Tidak mengerjakan bisnis yang satu ke satunya lagi sebelum beliau
menyelesaikannya...
• Mempunyai Goal dan rencana yang jelas
• Merintis Bisnis Dari NOL, kesuksesan beliau tidak datang dalam satu malam
walaupun seorang RasullAllah, tetapi harus dimulai dari langkah-langkah kecil. Dari
seorang Karyawan/Salles hingga jadi Owner. Dan semua tanpa ada praktek KKN.
• Tidak Mudah Putus Asa, beliau berkata: Janganlah kamu berdua putus asa dari rizky
selama kepalamu masih bergerak. Karena manusia dilahirkan ibunya dalam keadaan
merahtidak mempunyai baju, Kemudian Allah SWTmemberikan rizky kepadanya (HR.
Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya)
• Berusaha Menjadi Trend Center
• Inovatif, Semua barang yang di Jual Rasul selalu berbeda dari kompetitornya, dengan
harga murah tetapi Hight Quality.
• Memahami kondisi dan analisa Pasar
• Kemampuan merespon strategi Pesaingnya
• Belajar menguasai pasar,
Dikisahkan Ketika beliau di Mekkah para pedagang dari kaum Quraisy yang ingin
menjatuhkan Bisnisnya, dengan menjatuhkan Harga dengan tidak Wajar. Tetapi beliau
menerapkan Hukum Suply&Demand, beliau menyiasati dan bersabar. Hingga semua
dagangan para Kompetitornya habis semua.
Rasul baru menjual dagangannya karena Rasul percaya kalau jumlah Permintaan
(Demand) jauh lebih tinggi dari jumlah Penawaran (Supply) di Kota itu. Tak lama kemudian
Rakyat Kota tersebut membeli Barang Dagangan Rasul dengan Harga Normal, ketika
rombongan Pedagang itu pulang Mekkah gempar. Semua pedagang Rugi akibat banting
harga kecuali Nabi Muhammad SAW yang untung besar. Itulah kejelian melihat,
menganalisis, dan memahami Pasar. Hingga menguasai Pasar yang ada.
• Mampu Memanagement Organisasi secara Efektif
• Bisa menghilangkan Mental Blocking, Atau juga yang di sebut dengan Ketakutan yang
Berlebihan dalam menghadapi kegagalan usaha. Rasul selalu bisa mengalahkan diri
sendiri dari hal-hal Negatif (mujahadah).
55
•
Mampu menarik dan meyakinkan pemilik Modal untuk ikut serta dalam bisnis yang
dilaksanakannya.
Cara Menjalankan Bisnisnya :
1. Bekerja Sama (bersinergi), Beliau bersabda "Keberkahan sesungguhnya berada dalam
Jamaah. Dan, tangan Allah sesungguhnya bersama Jamaah"
2. Kerja Pintar, Kreatif dan Visioner
3. Menerapkan kesepakatan Win-Win-Solution (Saling menguntungkan, dan tidak ada
yang dirugikan)
4. Bekerja dengan Prioritas
5. Tidak melakukan Monopoli
6. Selalu berusaha dan Tawakal
7. Tepat Waktu
8. Berani ambil Resiko
9. Tidak menimbun barang dagangan (ihtikar), Rasul melarang Keras pelaku Bisnis dan
menyimpan barang pada massa tertentu, hanya untuk keuntungan semata. Rasul
bersabda bahwa pedagang yang mau menjual barang dagangannya dengan spontan
akan di beri kemudahan. Tapi penjual yang sering menimbun dagangannya akan
mendapat kesusahan (Dalam HR Ibnu Majah dan Thusiy).
10. Profesional di Bisnis yang Di kelolannya
11. Selalu Bersyukur di Segala Kondisi
12. Berusaha dengan Mandiri, Tekun dan Tawakal
13. Menjaga nilai-nilai harga diri, kehormatan, dan kemuliaan dalam proses interaksi
bisnis
14. Melakukan bisnis berdasarkan Cinta (Passion).
15. Tidak MenZhalimi (Merugikan Orang lain)
16. Rajin Bersedekah
Cara memasarkan Produk :
1. Memasarkan Produk yang Halal dan Suci
2. Tidak melakukan Sumpah Palsu,
3. Tidak merpura-pura menawar dengan harga tinggi, Agar orang lain tertarik
4. Melakukan timbangan dengan benar
5. Tidak menjelekkan bisnis Orang lain, Beliau bersabda " Janganlah seseorang di antara
kalian menjual dengan maksud untuk menjelekkan apa yang dijual oleh orang lain"
(HR. Muttafaq ‘alaih)
6. Pintar beriklan/Promosi, Rasul hafal betul dimana ada Bazaar di suatu tempat
tertentu. Sehingga makin banyak orang mengenal beliau dan barang dagangannya.
7. Transparansi (keterbukaan), Beliau bersabda "Tidak dibenarkan seorang Muslimin
menjual satu-satu jualannya yang mempunyai aib, sebelum dia menjelaskan aibnya"
(HR. Al-Quzuwaini)
8. Mengutamakan pelanggan (Customer Satisfaction)
9. Networking (Jejaring) di wilayah lain
10. Cakap dalam berkomunikasi dan bernegosiasi (tabligh)
11. Tidak mengambil Untung yang berlebihan
12. Mengutamakan penawar pertama
13. Menawar dengan harga yang di inginkan
56
14. Melakukan perniagaan sepagi mungkin, RasulAllah mendoakan orang-orang yang
pagi-pagi dalam bekerja. "Ya Allah, berkahilah umatku dalam berpagi-paginya
mereka" (HR.Shahr Al Ghamidi)
15. Menjaga Kepercayaan pelanggan
16. Mewujudkan Win-Win Solution
17. Barang Niaga harus bermutu, Murah, Bermanfaat, Mutakhir dan Berkualitas
18. Kemudahan dalam hal transaksi dan pelayanan
19. Menentukan Harga dengan jelas ketika akad (Deal)
Cara berhubungan dengan Karyawan :
1. Berbagi perhatian kepada karyawan, Tidak memilih-milih karyawan Istimewa semua
sama.
2. Bermitra Bisnis, Karyawan dan Majikan seperti hubungan kekeluargan yang kental.
Bukan seperti Tuan dan Budak.
3. Memberi gaji yang Cukup kepada Karyawannya
4. Memberi gaji tepat Waktu kepada Karyawannya, Sebelum keringat karyawan kering
5. Tidak membebani Karyawan dengan tugas diluar kemampuannya
6. Karyawan di Wajibkan kerja sungguh-sungguh dengan seluruh kekuatannya
7. Sering memberikan Bonus-bonus tambahan di luar gaji pokok
8. Contoh di Atas adalah sebagian kecil dari sifat-sifat Suri tauladan Rasul Allah
Muhammad SAW yang bisa kita Contoh dalam membangun Kerajaan Bisnis Kita, jauh
lebih Sukses, berakhlak dan membantu terhadap sesamanya.
H. Peran Zakat dalam Islam
•
•
•
•
•
•
Zakat merupakan ibadah wajib dengan ketentuan yang telah ditetapkan syariah,
sebagaimana tercantum dalam QS. Al-Taubah (9:60)
Zakat mewujudkan keseimbangan antara pemilik harta yang berlebih dengan mereka
yang membutuhkan (DHU’AFA)
Zakat membantu kehidupan mereka yang kekurangan (lemah secara ekonomi) untuk
bertahan hidup dan menjadi lebih berdaya dengan program pengembangan zakat
secara produktif.
Zakat digunakan sebagai sumber dana untuk program-program pmbangunan
ekonomi, sosial, pertahanan keamanan, pnyebaran fikrah Islam, dan programprogram pembangunan lainnya sesuai kebutuhan negara.
Zakat menumbuhkan rasa kemanusiaan yang tinggi. Kesadaran untuk berbagi
teradap mereka yang membutuhkan akan membentuk rasa kepedulian sosial yang
tinggi, sehingga dengan sendirinya peran zakat dalam pembangunan masyarakat
dapat berjalan.
Zakat dapat digunakan untuk menjalankan program-program produktif yang dapat
mengubah tingkat ekonomi seseorang menjadi lebih baik, seperti zakat untuk
program pemberdayaan ekonomi.
I. Managemen Zakat dan Wakaf
Manajemen zakat
57
Zakat adalah memberikan harta yang telah mencapai nisab dan haul kepada orang
yang berhak menerimanya dengan syarat-syarat tertentu. Nisab adalah ukuran tertentu dari
harta yang dimiliki yang mewajibkan dikeluarkannya zakat, sedangkan haul adalah berjalan
genap satu tahun. Zakat juga berarti kebersihan, setiap pemeluk Islam yang mempunyai
harta cukup banyaknya menurut ketentuan (nisab) zakat, wajiblah membersihkan hartanya
itu dengan mengeluarkan zakatnya.
Dari sudut bahasa, kata zakat berasal dari kata “zaka” yang berarti berkah, tumbuh,
bersih, dan baik. Segala sesuatu yang bertambah disebut zakat. Menurut istilah fikih zakat
berarti sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah untuk diserahkan kepada yang berhak.
Orang yang wajib zakat disebut “muzakki”, sedangkan orang yang berhak menerima zakat
disebut ”mustahiq”.Zakat merupakan pengikat solidaritas dalam masyarakat dan mendidik
jiwa untuk mengalahkan kelemahan dan mempraktikan pengorbanan diri serta kemurahan
hati.
Zakat ada dua macam yaitu zakat mal dan zakat fitrah. Zakat mal adalah bagian dari
harta kekayaan seseorang atau badan hukum yang wajib diberikan kepada mustahiknya
setelah mencapai nisab zakat, dan setelah dimiliki selama jangka tertentu pula. Sedangkan
zakat fitrah adalah zakat yang diwajibkan atas setiap orang muslim, laki-laki, perempuan,
budak atau merdeka, pada akhir puasa Ramadahan (Yusuf al-Qaradhawi).
Zakat bentuk distribusi dari si kaya kepada si miskin agar tidak terjadi jurang pemisah
antara keduanya. Pengelolaan diatur berdasarkan prinsip-prinsip yang baik dan benar. Jelas
akan lebih baik meningkatkan manfaat yang nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
Sehubungan dengan pengelolaan zakat yang kurang optimal. Pada tanggal 23
september 1999 ppresiden RI BJ Habibie mengesahkan UU No. 38 tahun 1999 tentang zakat
untuk melaksanakan UU tersebut Mentri Agama RI menetapkan KPTS Mentri Agama RI
No.581 tahun 1999. Berhasilnya pengelolaan zakat tidak hanya bergantung pada banyaknya
zakat yang terkumpul tetapi sangat bergantung pada dampak dan pngelolaan zakat tersebut
dalam masyarakat dan zakat tersebut benar-benar dapat mewujudkan kesejahteraan dan
keadilan sosial dalam masyarakat. Keadaan demikian sangat bergantung dari manajemen
yang diterapkan oleh BAZ (Badan Amal Zakat) dan dari pemerintah.
Mustahiq Zakat ada delapan sebagaimana dijelaskan Allah dalam firman-Nya:
ُ
ُ
ُ
ُ
.
ُ
ُ
ُ
ُ
ُ
ُ
ُ
ُ
ُ
ُ
ُ
ُ
ُ
ُ
ُ
ُ
ُ
Artinya: “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orangorang miskin, pengurus-pengurus zakat (amil), para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk
(memerdekaan) budak, orang yang terbelit utang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang
sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; Dan Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS at-Taubah: 60).
Manajemen wakaf
Wakaf adalah salah satu bentuk dari lembaga ekonomi Islam.Ia merupakan lembaga
Islam yang satu sisi berfungsi sebagai ibadah kepada Allah, sedangkan di sisi lain wakaf juga
berfungsi sosial. Wakaf muncul dari satu pernyataan dan perasaan iman yang mantap dan
solidaritas yang tinggi antara sesama manusia. Dalam fungsinya sebagai ibadah ia
58
diharapkan akan menjadi bekal bagi si wakif di kemudian hari, karena ia merupakan suatu
bentuk amalan yang pahalanya akan terus menerus mengalir selama harta wakaf itu
dimanfaatkan. Sedangkan dalam fungsi sosialnya, wakaf merupakan aset amat bernilai
dalam pembangunan umat.
Istilah wakaf beradal dari “waqf” artinya menahan. Menurut H. Moh. Anwar
disebutkan bahwa wakaf ialah menahan sesuatu barang daripada dijual-belikan atau
diberikan atau dipinjamkan oleh yang empunya, guna dijadikan manfaat untuk kepentingan
sesuatu yang diperbolehkan oleh Syara’ serta tetap bentuknya dan boleh dipergunakan
diambil manfaatnya oleh orang yang ditentukan (yang menerima wakafan), perorangan atau
umum.
59
Materi XIII
KEBUDAYAAN DAN PERADABAN ISLAM
Secara harfiah "kebudayaan" berasal dari kata "budi" dan "daya" ditambah awalan
"ke" dan akhiran "an". Budi berarti akal dan daya berarti kekuatan. Dengan demikian
kebudayaan Islam berarti segala sesuatu yang dihasilkan oleh kekuatan akal manusia.
Sedangkan peradaban berasal dari kata arab "adab" berarti bernilai tinggi. Dengan demikian
peradaban Islam adalah kebudayaan Islam yang bernilai tinggi.
Jadi, peradaban Islam adalah “sekumpulan pandangan tentang kehidupan menurut
sudut pandang Islam”. Atau dengan pengertian yang lain, peradaban Islam adalah
pencapaian hasil budi kaum muslimin dalam sejarah.
Istilah peradaban ini sering dipakai untuk menunjukkan pendapat dan penilaian kita
terhadap perkembangan kebudayaan. Pada waktu perkembangan kebudayaan mencapai
puncaknya yang berwujud unsur-unsur budaya yang halus, indah, tinggi, sopan, luhur, dan
sebagainya, maka masyarakat pemilik kebudayaan tersebut dikatakan telah memiliki
peradaban yang tinggi.
Dilihat dari pengertian dari “Kebudayaan” dan “Peradaban” secara umum maka
keduanya adalah hampir mirip akan tetapi sebenarnya memiliki makna berbeda.
Kebudayaan melahirkan peradaban dan peradaban lahir dari kebudayaan, dan tidak ada
manusia yang tidak berbudaya karena tidak ada manusia yang hidup sendirian. Karena itulah
maka sekelompok manusia yang membentuk masyarakat pasti melahirkan sebuah
kebudayaan yang berkembang menjadi peradaban.
Adapun yang menjadi orientasi kebudayaan di dunia Islam adalah perbedaan antara
alam kosmis, transendental, tatanan keduniaan, serta kemungkinan untuk mengatasi
ketegangan yang inheren dalam perbedaan ini berdasarkan ketaatan sepenuhnya pada
Tuhan dan kegiatan keduniaan –terutama sekali, kegiatan politik dan militer; unsur
universirtas yang kuat dalam definisi tentang komunitas Islam; pemberian akses otonom
bagi seluruh warga komunitas untuk memperoleh atribut-atribut tatanan transendental
dean keselamatan (salvation) melaljui ketaatan terhadap Tuhan; cita-cita ummah, komunitas
politik-keagamaan dari setiap pemeluknya, dan gambaran mengenai penguasa sebagai
penegak cita-cita Islam, mengenai kemurnian ummah, dan kehidupan komunitas.
Berangkat dari pengertian “peradaban Islam” di atas maka berbeda dengan Islam
yang skaral, tetap dan abadi, peradaban Islam betapapun besar dan hebatnya, adalah
bersifat profan, berkembang dan tidaklah suci. Peradaban Islam, tetaplah seperti peradaban
lain, yakni tidak bebas dari kelemahan.
Namun demikian, seiring dengan pasang surutnya sebuah peradaban, peradaban
Islam pun pernah mengalami masa-masa kejayaan meskipun kemudian mengalami masa
kemunduran. Jika pada zaman Abbasiyah umat Islam mampu menjadi sumber ilmu
pengetahuan serta menjadi kiblat dunia, termasuk Barat, maka saat ini umat Islam hanya
menjadi konsumen dari ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan masyarakat
Barat. Peradaban Baratlah yang saat ini memberikan kontribusi besar bagi kehidupan
manusia secara umum dan bahkan cenderung menghegemoni peradaban lainnya, termasuk
Islam.
A.
PUNCAK KEJAYAAN ISLAM
Seorang pemikir Prancis bernama Dr. Gustave Le Bone mengatakan, “Dalam satu
abad atau 3 keturunan, tidak ada bangsa-bangsa manusia dapat mengadakan perubahan
60
yang berarti. Bangsa Perancis memerlukan 30 keturunan atau 1000 tahun baru dapat
mengadakan suatu masyarakat yang bercelup Perancis. Hal ini terdapat pada seluruh
bangsa dan umat, tak terkecuali selain dari umat Islam, sebab Muhammad El-Rasul sudah
dapat mengadakan suatu masyarakat baru dalam tempo satu keturunan (23 tahun) yang
tidak dapat ditiru atau diperbuat oleh orang lain.”
Masa kerasulan Muhammad saw pada akhir periode Madinah merupakan puncak
(kulminasi) peradaban Islam, karena disitulah sistem Islam disempurnakan dan ditegakkan
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Kaum muslimin, pernah memiliki kejayaan di masa lalu. Masa di mana Islam menjadi
trendsetter sebuah peradaban modern. Peradaban yang dibangun untuk kesejahteraan
umat manusia di muka bumi ini.
Masa kejayaan itu bermula saat Rasulullah mendirikan pemerintahan Islam, yakni
Daulah Khilafah Islamiyah di Madinah. Tongkat kepemimpinan bergantian dipegang oleh Abu
Bakar as-Shiddiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, dan seterusnya.
Di masa Khulafa as-Rasyiddin ini Islam berkembang pesat. Perluasan wilayah menjadi bagian
tak terpisahkan dari upaya penyebarluasan Islam ke seluruh penjuru dunia.
Pembebasan (futuhat) wilayah-wilayah, adalah sebagai bagian dari upaya untuk
menyebarkan Islam, bukan menjajahnya. Itu sebabnya, banyak orang yang kemudian tertarik
kepada Islam. Satu contoh menarik adalah tentang Futuh Makkah (Pembebasan Makkah),
Rasulullah saw dan sekitar 10 ribu pasukannya memasuki kota Makkah. Kaum Quraisy
menyerah dan berdiri di bawah kedua kakinya di pintu Ka’bah. Mereka menunggu hukuman
Rasul setelah mereka menentangnya selama 21 tahun. Namun, ternyata Rasulullah justru
memaafkan mereka.
Sejarawan Barat beraliran konservatif, W Montgomery Watt menganalisa tentang
rahasia kemajuan peradaban Islam. Ia mengatakan bahwa Islam tidak mengenal pemisahan
yang kaku antara ilmu pengetahuan, etika, dan ajaran agama. Satu dengan yang lain,
dijalankan dalam satu tarikan nafas. Pengamalan syariat Islam, sama pentingnya dan
memiliki prioritas yang sama dengan riset-riset ilmiah.
Perpustakaan umum banyak dibangun di masa kejayaan Islam. Perpustakaan alAhkam di Andalusia misalnya, merupakan perpustakaan yang sangat besar dan luas. Buku
yang ada di situ mencapai 400 ribu buah. Uniknya, perpustakaan ini sudah memiliki katalog.
Sehingga memudahkan pencarian buku.
Perpustakaan umum Tripoli di daerah Syam, memiliki sekitar tiga juta judul buku,
termasuk 50.000 eksemplar al-Quran dan tafsirnya. Dan masih banyak lagi perpustakaan
lainnya. Tapi naas, semuanya dihancurkan Pasukan Salib Eropa dan Pasukan Tartar ketika
mereka menyerang Islam.
Itu sebabnya menurut Montgomery, tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi
‘dinamo’nya, Barat bukanlah apa-apa. Wajar jika Barat berhutang budi pada Islam.
Umat Islam menghidupkan ilmu, mengadakan penyelidikan-penyelidikan. Fakta
sejarah menjelaskan antara lain, bahwa Islam pada waktu pertama kalinya memiliki
kejayaan, bahwa ada masanya umat Islam memiliki tokoh-tokoh seperti Ibnu Sina di bidang
filsafat dan kedokteran, Ibnu Khaldun di bidang Filsafat dan Sosiologi, Al-jabar dll. Islam telah
datang ke Spanyol memperkenalkan berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti ilmu ukur,
aljabar, arsitektur, kesehatan, filsafat dan masih banyak cabang ilmu yang lain lagi.
61
PERIODESASI KEJAYAAN ISLAM
1. Masa Nabi saw era Madinah 622 M - 632 M (10 th)
2. Masa Khulafaur Rasyidin 632M- 661 M (30 th)
3. Masa Bani Umayyah 661 M - 750 M (90 th). Selain berpusat di Damaskus, Bani
Ummayah juga sempat jaya di Spanyol.
4. Masa Bani Abbasiyah 750 M - 1258 M (508 th) yang berpusat di Baghdad dan sempat
juga melanjutkan pemerintahannya di Mesir.
5. Masa Turki Utsmani 1258 M – 1924 (666 th) berpusat di Istanbul, Turki.
Jadi, total masa kejayaan Islam sekitar 13 abad
1. Era Rasulullah saw (622-632M) dan Khulafaur Rasyidin (632-661 M)
Kesuksesan Rasulullah Muhammad Saw dalam membangun peradaban Islam yang
tiada taranya dalam sejarah dicapai dalam kurun waktu 23 tahun, 13 tahun langkah
persiapan pada periode Makkah (Makiyyah) dan 10 tahun periode Madienah (Madaniyah).
Periode 23 tahun merupakan rentang waktu kurang dari satu generasi, dimana beliau Saw
telah berhasil memegang kendali kekuasaan atas bangsa-bangsa yang lebih tua
peradabannya saat itu khususnya Romawi, Persia dan Mesir.
Generasi masa itu merupakan generasi terbaik sebagaimana firman Alloh Swt:“Kamu
adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf,
dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Alloh”. (QS. Ali Imran ayat 110).
2. Periode Daulat Umayyah (661-750M)
Awal berlangsungya periode Daulat Umayyah lebih memprioritaskan pada perluasan
wilayah kekuasaan. Dengan keberhasilan ekspansi ke beberapa daerah, baik di timur
maupun barat, wilayah kekuasaan Islam masa Bani Umayyah ini betul-betul sangat luas.
Daerah-daerah itu meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arabia, Irak,
sebagian Asia Kecil, Persia, Afganistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan, Purkmenia,
Uzbek, dan Kirgis di Asia Tengah.
Disamping ekspansi kekuasaan Islam, Bani Umayyah juga banyak berjasa dalam
pembangunan di berbagai bidang. Pada bidang pengembangan keilmuan.Dia juga berusaha
menertibkan angkatan bersenjata dan mencetak mata uang.Peradaban Islam telah
menguasai dunia perdagangan sejak permulaan Daulat Umayyah (661-750M).
3. Periode Daulat Abbasiyah (132H/750M s.d. 656H/1258 M)
Masa Kedaulatan Abbasiyah berlangsung selama 508 tahun. Periode pertama Daulat
Abbasiyah lebih memprioritaskan pada penekanan pembinaan peradaban dan kebudayaan
Islam.Masa Kedaulatan Abbasiyah merupakan pencapaian cemerlang di dunia Islam pada
bidang sains, teknologi dan filsafat.
Masa sepuluh Khalifah pertama dari Daulat Abbasiyah merupakan masa kejayaan
(keemasan) peradaban Islam.Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi
perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam.Pada masa pemerintahan
Abbasiyah pertama juga lahir para imam mazhab hukum yang empat hidup Imam Abu
Hanifah (700-767 M); Imam Malik (713-795 M); Imam Syafi'i (767-820 M) dan Imam Ahmad
bin Hanbal (780-855 M).
Pencapaian prestasi yang gemilang sebagai implikasi dari gerakan terjemahan yang
dilakukan pada zaman Daulat Abbasiah sangat jelas terlihat pada lahirnya para ilmuwan
62
muslim yang mashur dan berkaliber internasional seperti : Al-Biruni (fisika, kedokteran);
Jabir bin Hayyan (Geber) pada ilmu kimia; Al-Khawarizmi (Algorism) pada ilmu matematika;
Al-Kindi (filsafat); Al-Farazi, Al-Fargani, Al-Bitruji (astronomi); Abu Ali Al-Hasan bin Haythami
pada bidang teknik dan optik; Ibnu Sina (Avicenna) yang dikenal dengan Bapak Ilmu
Kedokteran Modern; Ibnu Rusyd (Averroes) pada bidang filsafat; Ibnu Khaldun (sejarah,
sosiologi).
Periode Setelah Daulat Abbasiyah Sampai Tumbangnya Kekhilafahan Turki Utsmani
Pada masa Khilafah Utsmani, para ahli sejarah sepakat bahwa zaman Khalifah
Sulaiman Al-Qanuni (1520-1566 M) merupakan zaman kejayaan dan kebesaran yang pada
masanya telah jauh meninggalkan negara-negara Eropa di bidang militer, sains dan politik.
Menyimak betapa besar kontribusi Islam terhadap lahirnya peradaban Islam berskala
dunia terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi, sesungguhnya kemajuan yang
dicapai Barat pada mulanya bersumber dari peradaban Islam.
Kejayaan Islam Masa Dinasti Abbasiyah
Dinasti Abbasiyah adalah suatu dinasti (Bani Abbas) yang menguasai daulat (negara)
Islamiah pada masa klasik dan pertengahan Islam. Lahirlah pada masa itu sekian banyak
penyair, pujangga, ahli bahasa, ahli sejarah, ahli hukum, ahli tafsir, ahli hadits, ahli filsafat,
thib, ahli bangunan dan sebagainya.
Periode pertama Daulat Abbasiyah lebih memprioritaskan pada penekanan
pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. Di era ini, telah
lahir ilmuwan-ilmuwan Islam dengan berbagai penemuannya yang mengguncang dunia.
Dinasti Abbasiyiah membawa Islam ke puncak kejayaan. Saat itu, dua pertiga bagian
dunia dikuasai oleh kekhalifahan Islam.
Beberapa ilmuwan muslim lainnya pada masa Daulat Abbasiyah yang karyanya diakui
dunia di antaranya:
1) Al-Razi (guru Ibnu Sina), berkarya dibidang kimia dan kedokteran, menghasilkan
224 judul buku, 140 buku tentang pengobatan, diterjemahkan ke dalam Bahasa
Latin. Bukunya yang paling masyhur adalah Al-Hawi Fi ‘Ilm At Tadawi (30 jilid,
berisi tentang jenis-jenis penyakit dan upaya penyembuhannya). Buku-bukunya
menjadi bahan rujukan serta panduan dokter di seluruh Eropa hingga abad 17. AlRazi adalah tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan
measles. Dia juga orang pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran
anak. Sesudahnya, ilmu kedokteraan berada di tangan Ibnu Sina;
2) Al-Battani (Al-Batenius), seorang astronom. Hasil perhitungannya tentang bumi
mengelilingi pusat tata surya dalam waktu 365 hari, 5 jam, 46 menit, 24 detik,
mendekati akurat. Buku yang paling terkenal adalah Kitab Al Zij dalam bahasa
latin: De Scienta Stellerum u De Numeris Stellerumet Motibus, dimana
terjemahan tertua dari karyanya masih ada di Vatikan;
3) Al Ya’qubi, seorang ahli geografi, sejarawan dan pengembara. Buku tertua dalam
sejarah ilmu geografi berjudul Al Buldan (891), yang diterbitkan kembali oleh
Belanda dengan judul Ibn Waddih qui dicitur al-Ya’qubi historiae;
4) Al Buzjani (Abul Wafa). Ia mengembangkan beberapa teori penting di bidang
matematika (geometri dan trigonometri).
Bermula dari dunia Islamlah ilmu pengetahuan mengalami transmisi (penyebaran,
penularan), diseminasi dan proliferasi (pengembangan) ke dunia Barat yang sebelumnya
63
diliputi oleh masa ‘the Dark Ages’ mendorong munculnya zaman renaissance atau
enlightenment (pencerahan) di Eropa.
Melalui dunia Islam-lah mereka mendapat akses untuk mendalami dan
mengembangkan ilmu pengetahuan modern. Menurut George Barton, ketika dunia Barat
sudah cukup masak untuk merasakan perlunya ilmu pengetahuan yang lebih dalam,
perhatiannya pertama-tama tidak ditujukan kepada sumber-sumber Yunani, melainkan
kepada sumber-sumber Arab.
Dunia Barat sekarang sejatinya berterima kasih kepada umat Islam. Akan tetapi pada
kenyataannya pihak Barat (non-Muslim) telah sengaja menutup-nutupi peran besar atas
jasa para pejuang dan ilmuwan muslim tersebut yang pada akhirnya terabaikan bahkan
sampai terlupakan.
1. Keruntuhan Kejayaan Islam
Setelah berhasil membangun kejayaan selama 14 abad lebih, akhirnya peradaban
Islam jatuh tersungkur. Serangan pemikiran dan militer dari Barat bertubi-tubi menguncang
Islam. Akibatnya, kaum muslimin mulai goyah. Puncaknya, adalah tergusurnya Khilafah
Islamiyah di Turki dari pentas perpolitikan dunia.
Berikut adalah faktor-faktor penting yang menyebabkan kemunduran Bani Abbas
pada masa ini, sehingga banyak daerah memerdekakan diri, adalah:
1.
Luasnya wilayah kekuasaan daulah Abbasiyyah sementara komunikasi pusat
dengan daerah sulit dilakukan. Bersamaan dengan itu, tingkat saling percaya
di kalangan para penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah.
2.
Dengan profesionalisasi angkatan bersenjata, ketergantungan khalifah kepada
mereka sangat tinggi.
3.
Keuangan negara sangat sulit karena biaya yang dikeluarkan untuk tentara
bayaran sangat besar.
Di samping itu, ada pula faktor-faktor eksternal yang menyebabkan khilafah
Abbasiyah lemah dan akhirnya hancur.
1.
Perang Salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode dan
menelan banyak korban.
2.
Serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam.
B.
MENGAPA UMAT ISLAM KINI TERTINGGAL?
Tidak dapat dipungkiri bahwa era sekarang adalah Era Amerika Serikat. Nyaris
seluruh dunia memiliki ketergantungan yang sangat besar terhadap AS, Israel dan sekutunya.
AS dan Eropa yang beragama Nashrani dan Israel yang Yahudi sangat kuat mencengkeram
dunia Islam. Bahkan sebagiannya dibawah kendali langsung mereka seperti Arab Saudi,
Kuwait, Mesir, Irak dan lain-lain.
Realitas yang buruk ini telah diprediksikan oleh Rasulullah saw. dalam haditsnya: Dari
Said Al-Khudri, dari Nabi saw bersabda:" Kamu pasti akan mengikuti sunah perjalanan orang
sebelummu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta hingga walaupun mereka
masuk lubang biawak kamu akan mengikutinya". Sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah saw
apakah mereka Yahudi dan Nashrani". Rasul saw menjawab, "Siapa lagi!" (H.R. Bukhari dan
Muslim)
Beginilah nasib dunia Islam di akhir zaman yang diprediksikan Rasulullah saw. Mereka
akan mengikuti apa saja yang datang dari Yahudi dan Nashrani, kecuali sedikit diantara
64
mereka yang sadar. Prediksi tersebut sekarang benar-benar menimpa sebagian besar umat
Islam dan dunia Islam.
1. Segi sosial
Dari segi kehidupan sosial, sebagian besar umat Islam hampir sama dengan mereka.
Hiburan yang disukai, mode pakaian yang dipakai, makanan yang dinikmati, film-film yang
ditonton, bebasnya hubungan lawan jenis dan lain-lain. Pola hidup sosial Yahudi dan
Nashrani melanda kehidupan umat Islam dengan dipandu media massa khususnya televisi.
2. Segi Ekonomi
Dalam kehidupan ekonomi, sistem bunga atau riba mendominasi persendian
ekonomi dunia dimana dunia Islam secara terpaksa atau sukarela harus mengikutinya. Riba'
yang sangat zhalim dan merusak telah begitu kuat mewarnai ekonomi dunia, termasuk dunia
Islam. Lembaga-lembaga ekonomi dunia seperti IMF, Bank Dunia, WTO dll mendikte semua
laju perekonomian di dunia Islam. Akibatnya krisis ekonomi dan keuangan disebabkan utang
dan korupsi menimpa sebagian besar dunia Islam.
3. Segi Politik
Begitu juga pengekoran umat Islam terhadap Yahudi dan Nashrani terjadi dalam
kehidupan politik. Politik dibangun atas dasar nilai-nilai sekuler, mencampakkan agama dan
moral dalam dunia politik, bahkan siapa yang membawa agama dalam politik dianggap
mempolitisasi agama. Begitu buruknya kehidupan politik umat Islam, sampai departemen
yang mestinya mencerminkan nilai-nilai Islam, yaitu departemen agama, menjadi
departemen yang paling buruk dan sarang korupsi.
Buruknya realitas sosial politik umat Islam di akhir zaman disebutkan dalam sebuah
hadits Rasulullah saw., beliau bersabda: Dari Tsauban berkata, Rasulullah saw. bersabda,
"Hampir saja bangsa-bangsa mengepung kamu, seperti kelompok orang lapar siap melahap
makanan". Berkata seorang sahabat, "Apakah karena jumlah kami sedikit pada waktu itu?"
Rasul saw. menjawab, "Jumlah kalian pada saat itu banyak, tetapi kualitas kalian seperti
buih ditengah lautan. Allah mencabut rasa takut dari musuh terhadap kalian, dan
memasukkan kedalam hati kalian penyakit Wahn". Berkata seorang sahabat, "Wahai
Rasulullah saw., apa itu Wahn?" Rasul saw. berkata, "Cinta dunia dan takut mati." (H.R.
Ahmad dan Abu Daud)
Inilah sebab utama dari realitas umat Islam, yaitu wahn. Penyakit cinta dunia dan
takut mati sudah menghinggapi mayoritas umat Islam, sehingga mereka tidak ditakuti lagi
oleh musuh, bahkan menjadi bulan-bulanan orang kafir. Banyak umat Islam yang berkhianat
dan menjadi kaki-tangan musuh Islam, hanya karena iming-iming dunia. Bangsa Amerika,
Israel dan sekutunya menjadi kuat di negeri muslim, karena di setiap negeri muslim banyak
agen dan boneka AS dan Israel. Bahkan yang lebih parah dari itu, bahwa agen AS dan Israel
itu adalah para penguasa negeri muslim sendiri atau kelompok yang dekat dengan penguasa.
Dunia dengan segala isinya seperti harta, tahta dan wanita sudah sedemikian kuatnya
memperbudak sebagian umat Islam sehingga mereka menjadi budak para penjajah, baik AS
Nashrani dan Israel Yahudi. Dan pada saat mereka begitu kuatnya mencintai dunia dan
diperbudak oleh dunia, maka pada saat yang sama mereka takut mati. Takut mati karena
takut berpisah dengan dunia dan takut mati karena banyak dosa. Demikianlah para
penguasa dunia Islam diam, pada saat AS membantai rakyat muslim Irak, dan Israel
membantai rakyat muslim Palestina. Kecenderungan yang kuat terhadap dunia atau wahn,
65
menyebabkan umat Islam mengekor dan tunduk patuh kepada dunia barat yang
notabenenya dikuasi Yahudi dan Nashrani. Dan ketika umat Islam mengikuti Yahudi dan
Nashrani, maka banyak sekali kemiripan dengan meraka.
C.
FUNGSI MASJID DI MASA RASULULLAH SAW
Ketika Rasulullah Saw. berhijrah ke Madinah, langkah pertama yang beliau lakukan
adalah membangun masjid kecil yang berlantaikan tanah, dan beratapkan pelepah kurma.
Dari sana beliau membangun masjid yang besar, membangun dunia ini, sehingga kota
tempat beliau membangun itu benar-benar menjadi Madinah, (seperti namanya) yang arti
harfiahnya adalah 'tempat peradaban', atau paling tidak, dari tempat tersebut lahir benih
peradaban baru umat manusia.
Masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah saw adalah Masjid Quba', kemudian
disusul dengan Masjid Nabawi di Madinah. Terlepas dari perbedaan pendapat ulama tentang
masjid yang dijuluki Allah sebagai masjid yang dibangun atas dasar takwa (QS Al-Tawbah [9]:
108), yang jelas bahwa keduanya--Masjid Quba dan Masjid Nabawi-- dibangun atas dasar
ketakwaan, dan setiap masjid seharusnya memiliki landasan dan fungsi seperti itu. Itulah
sebabnya mengapa Rasulullah Saw meruntuhkan bangunan kaum munafik yang juga mereka
sebut masjid, dan menjadikan lokasi itu tempat pembuangan samph dan bangkai binatang,
karena di bangunan tersebut tidak dijalankan fungsi masjid yang sebenarnya, yakni
ketakwaan.
Al-Quran melukiskan bangunan kaum munafik itu sebagai berikut,
Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk
menimbulkan
kemudharatan
(pada
orang
Mukmin)
dan
karena
kekafiran-(nya), dan untuk memecah belah antara orang-orang Mukmin, serta
menunggu/mengamat-amati kedatangan orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya
sejak dahulu (QS Al-Tawbah [9]: 107).
Masjid Nabawi di Madinah telah menjabarkan fungsinya sehingga lahir peranan
masjid yang beraneka ragam. Sejarah mencatat tidak kurang dari sepuluh peranan yang
telah diemban oleh Masjid Nabawi, yaitu sebagai:
1)
Tempat ibadah (shalat, zikir).
2)
Tempat konsultasi dan komunikasi (masalah ekonomi-sosial budaya).
3)
Tempat pendidikan.
4)
Tempat santunan sosial.
5)
Tempat latihan militer dan persiapan alat-alatnya.
6)
Tempat pengobatan para korban perang.
7)
Tempat perdamaian dan pengadilan sengketa.
8)
Aula dan tempat menerima tamu.
9)
Tempat menawan tahanan, dan
10)
Pusat penerangan atau pembelaan agama.
Agaknya masjid pada masa silam mampu berperan sedemikian luas, disebabkan antara lain
oleh:
1)
Keadaan masyarakat yang masih sangat berpegang teguh kepada
nilai, norma, dan jiwa agama.
2)
Kemampuan pembina-pembina masjid menghubungkan kondisisosial dan kebutuhan
masyarakat dengan uraian dan kegiatan masjid.
66
Manifestasi pemerintahan terlaksana di dalam masjid, baik pada pribadi-pribadi
pemimpin pemerintahan yang menjadi imam/khatib maupun di dalam ruangan-ruangan
masjid yang dijadikan tempat-tempat kegiatan pemerintahan dan syura (musyawarah).
Bersamaan dengan perkembangan zaman, terjadi ekses-ekses dimana bisnis dan
urusan duniawi lebih dominan dalam pikiran dibanding ibadah meski di dalam masjid, dan
hal ini memberikan inspirasi kepada Umar bin Chattab untuk membangun fasilitas di dekat
masjid, dimana masjid lebih diutamakan untuk hal-hal yang jelas makna ukhrawinya,
sementara untuk berbicara tentang hal-hal yang lebih berdimensi duniawi, Umar membuat
ruang khusus di samping masjid. Itulah asal usulnya sehingga pada masa sejarah Islam klassik
(hingga sekarang), pasar dan sekolahan selalu berada di dekat masjid.
Apabila masjid dituntut berfungsi membina umat, tentu sarana yang dimilikinya
harus tepat, menyenangkan dan menarik semua umat, baik dewasa, kanak-kanak, tua,
muda, pria, wanita, yang terpelajar maupun tidak, sehat atau sakit, serta kaya dan miskin.
Di dalam Muktamar Risalatul Masjid di Makkah pada 1975, hal ini telah didiskusikan
dan disepakati, bahwa suatu masjid baru dapat dikatakan berperan secara baik apabila
memiliki ruangan, dan peralatan yang memadai untuk:
1)
Ruang shalat yang memenuhi syarat-syarat kesehatan.
2)
Ruang-ruang khusus wanita yang memungkinkan mereka keluar masuk tanpa
bercampur
dengan
pria
baik
digunakan
untuk
shalat,
maupun untuk Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK).
3)
Ruang pertemuan dan perpustakaan.
4)
Ruang poliklinik, dan ruang untuk memandikan dan mengkafankan mayat.
5)
Ruang bermain, berolahraga, dan berlatih bagi remaja.
Semua hal di atas harus diwarnai oleh kesederhanaan fisik bangunan, namun harus
tetap menunjang peranan masjid ideal termaktub.
Teori Masuknya Islam ke Indonesia
1. Gujarat – Abad 12. Pendapat ini dibantah karena pada 1297 raja Samudera Pasai
wafat, sedangkan Gujarat masih Hindu.
2. Bangladesh- Bangladesh bermazhab Hanafi. Indonesia mayoritas Syafii.
3. India. Islam datang ke Indonesia abad 13. Padahal banyak bukti, Islam sudah ada
sebelum abad 13.
4. Persia. Persia beraliran Syiah, Indonesia Sunni.
5. China. Ditemukan makam keluarga Saad bin Abi Waqqash di Ghuang Zho Cina.
6. Jazirah Arab- Abad 7. Banyak bukti sisa pelayaran bangsa Arab ke Nusantara.
D.
KEBUDAYAAN ISLAM DI INDONESIA
Indonesia merupakan negara Muslim terbesar di seluruh dunia. Muslim di Indonesia
juga dikenal dengan sifatnya yang moderat dan toleran. Sejarah awal penyebaran Islam di
sejumlah daerah yang sekarang dikenal sebagai Indonesia sangatlah beragam. Penyebaran
Islam di tanah Jawa sebagian besar dilakukan oleh walisongo (sembilan wali).
Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya
Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran
Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun
peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga
pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung,
membuat "sembilan wali" ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.
67
Masing-masing tokoh tersebut mempunyai peran yang unik dalam penyebaran Islam.
Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai "tabib" bagi Kerajaan
Hindu Majapahit; Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai "paus dari Timur" hingga
Sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat
dipahami masyarakat Jawa -yakni nuansa Hindu dan Budha
Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya
pemerintahan-pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan
kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke
Nusantara juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut,
Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar
sepanjang sejarah Hadramaut.
❖ TEKNOLOGI DALAM PERADABAN ISLAM
Dengan rentang waku yang cukup panjang, sekitar 767 tahun, Kekhilafahan
Abbasiyahmampu menunjukkan pada dunia ketinggian peradaban Islam dengan pesatnya
perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di dunia Islam.Di era ini, telah lahir
ilmuwan-ilmuwan Islam dengan berbagai penemuannya yang mengguncang dunia.Sebut
saja, al-Khawarizmi (780-850) yang menemukan angka nol dan namanya diabadikan dalam
cabang ilmu matematika, Algoritma (logaritma).Ada Ibnu Sina (980-1037) yang membuat
termometer udara untuk mengukur suhu udara.Bahkan namanya tekenal di Barat sebagai
Avicena, pakar Medis Islam legendaris dengan karya ilmiahnya Qanun (Canon) yang menjadi
referensi ilmu kedokteran para pelajar Barat.Tak ketinggalan al-Biruni (973-1048) yang
melakukan pengamatan terhadap tanaman sehingga diperoleh kesimpulan kalau bunga
memiliki 3, 4, 5, atau 18 daun bunga dan tidak pernah 7 atau 9.
Pada abad ke-8 dan 9 M, negeri Irak dihuni oleh 30 juta penduduk yang 80% nya
merupakan petani. Hebatnya, mereka sudah pakai sistem irigasi modern dari sungai Eufrat
dan Tigris. Hasilnya, di negeri-negeri Islam rasio hasil panen gandum dibandingkan dengan
benih yang disebar mencapai 10:1 sementara di Eropa pada waktu yang sama hanya dapat
2,5:1. Kecanggihan teknologi masa ini juga terlihat dari peninggalan-peninggalan sejarahnya.
Lain lagi pada masa pemerintahan dinasti Usmaniyah, kekuatan militer laut Usmaniyah
sangat ditakuti Barat saat itu, apalagi mereka menguasai Laut Tengah.
Kejatuhan Islam ke tangan Barat dimulai pada awal abad ke-18. Umat Islam mulai
merasa tertinggal dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi setelah masuknya
Napoleon Bonaparte ke Mesir.Saat itu Napoleon masuk dengan membawa mesin-mesin dan
peralatan cetak, ditambah tenaga ahli.
Dinasti Abbasiyah jatuh setelah kota Baghdad yang menjadi pusat pemerintahannya
diserang oleh bangsa Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan. Di sisi lain, tradisi keilmuan
itu kurang berkembang pada kekhalifahan Usmaniyah.
Sebab-Sebab Kemunduran Umat Islam dalam Pengetahuan dan Teknologi
a. Eksternal
Kondisi dan citra ummat dan ilmuwan Muslim saat ini sama sekali berbeda
jauh dengan zaman keemasan Islam dulu. Hal ini merupakan perwujudan dari
proses eksternal dan buah kelemahan internal yang cukup kompleks yang sampai
saat ini masih sering diseminarkan.
68
Sains Islam mulai terlihat kemunduran yang signifikan adalah setelah tahun
1800 disebabkan faktor eksternal seperti pengaruh penjajahan yang dengan
sengaja menghancurkan sistem ekonomi lokal yang menyokong kegiatan sains dan
industri lokal. Contohnya seperti apa yang terjadi di Bengali, India, saat sistem
kerajinan industri dan kerajinan lokal dihancurkan demi mensukseskan revolusi
industri di Inggris.
b. Internal
Banyak ilmuwan, pakar sains dan teknologi Islam mencoba untuk mencari
akar permasalahan kemunduran sains ummat ini dan kemudian mencoba untuk
mencari solusi. Diantaranya, Prof. Dr. Abdus Salam, Ilmuwan Muslim yang
mendapatkan Nobel pada tahun 1978, mengutarakan bahwa umat Islam tertinggal
dalam bidang sains dan teknologi karena beberapa faktor diantaranya:
a. Tidak mempunyai komitmen terhadap sains, baik sains terapan maupun sains
murni.
b. Tidak memiliki hasrat yang kuat untuk mengusahakan tercapainya
kemandirian sains dan teknologi (self reliance).
c. Tidak membangunkan kerangka institutional dan legal yang cukup untuk
mendukung perkembangan sains.
d. Menerapkan cara yang tidak tepat dalam menjalankan manajemen kegiatan
di bidang sains dan teknologi.
Langkah-langkah menuju kebangkitan sains dan teknologi umat:
a. Reorientasi Motivasi
b. Integrasi sains dan Islam
c. Dukungan Pemerintah dan masyarakat
d. Kolaborasi dan soliditas
e. Intensif menterjemahkan rujukan untuk kemudian dikembangkan lebih lanjut
oleh para saintis muslim
f. Upaya serius menciptakan stabilitas ekonomi dan politik yang lebih baik.
g. Bila ilmu diamalkan, maka Allah akan beri lagi dia bermacam-macam ilmu
yang dia belum ketahui. Sabda Rasulullah saw: Barang siapa yang
mengamalkan apa yang dia tahu niscaya Allah akan berikan ilmu yang dia
tidak tahu... (Riwayat Abu Naim).
Ada tiga upaya konkret yang bisa dilakukan umat untuk mengembalikan
kejayaan Islam di masa lampau. Yang pertama adalah merapatkan barisan.
Allah berfirman dalam QS Ali Imran ayat 103 yang isinya “Dan berpeganglah
kalian semuanya dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai
berai.”
Kedua, upaya lainnya adalah kembali kepada tradisi keilmuan dalam
agama Islam. Dalam Islam, jelasnya, ada dua jenis ilmu, yaitu ilmu fardhu ‘ain
dan fardhu kifayah. Yang masuk golongan ilmu fardhu ‘ain adalah Al-Quran,
hadis, fikih, tauhid, akhlaq, syariah, dan cabang-cabangnya. Sedangkan yang
masuk ilmu fardhu kifayah adalah kedokteran, matematika, psikologi, dan
cabang sains lainnya. Sementara upaya ketiga adalah dengan mewujudkan
sistem yang berdasarkan syariah Islam.
69
❖ BENTUK BUDAYA ISLAM YANG MASUK KE BUDAYA INDONESIA
Menurut para ahli kebudayaan, cakupan budaya adalah spiritual (pengalaman
rohani), intelektual (wawasan keilmuan), sikap artistik (rasa keindahan) yang dihasilkan oleh
masyarakat, termasuk tradisi, kebiasaan, adat, moral, hukum dan hubungan sosial. Dari
pemaparan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa kebudayaan Islam adalah spiritual,
intelektual, sikap artistik, tradisi, kebiasaan, adat, moral, hukum, dan hubungan sosial yang
dihasilkan oleh Nabi Muhammad saw. dan masyarakat Islam dari waktu ke waktu.
Dari uraian tersebut jika kita bahasakan dalam istilah sehari-hari yang sudah biasa
kita kenal, maka bentuk atau wujud kebudayaan Islam itu dapat berupa sebagai berikut.
1. Bidang politik dan pemerintahan
Pola kepemimpinan dalam Islam baik ketika rasulullah masih hidup maupun
ketika beliau sudah meninggal terus berkembang, hal ini melandasi dasar
keimanan seseorang terhadap Allah dan rasulnya. Corak kepemimpinan pada
masa Khullafaaurrasyidin, pasti berbeda dengan corak kepemimpinan pada masa
Dinasti Bani Ummayyah, dan pada masa Dinasti Abbasiyah.
2. Bidang sosial dan ekonomi
Islam mengajarkan umatnya untuk memiliki etos kerja yang tinggi. Ekonomi
adalah modal dasar untuk membangun umat agar tetap melanjutkan nilai-nilai
perjuangan menegakkan syariat Islam. Rasulullah adalah seorang pedagang yang
jujur, beliau telah mencontohkan kepada kita bagaimana cara mengembangkan
wawasan perekonomian pada waktu di Mekkah dan Madinah.
3. Bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan
Rasulullah mengajarkan bahwa menuntut ilmu hukumnya wajib bagi lakilaki dan perempuan, dalam Islam pendidikan merupakan hal yang sangat penting.
Masa keemasan pada Dinasti Abbasiyah telah menunjukkan betapa Islam telah
mampu memberikan sumbangan berharga untuk kemajuan pengetahuan
peradaban manusia.
4. Bidang seni (seni suara, seni musik, seni tari, seni rupa, dan seni arsitektur).
Kebudayaan manusia akan terus berkembang dari waktu ke waktu, bukan
dalam bidang seni membaca Al-Qur’an saja yang masuk dalam kategori seni
suara, seni musik pun berkembang pesat seperti rebana, kasidah, nasid. Seni tari
seperti tara ala Sufi, tari Saman dan seni rupa seperti kaligrafi Al-Qur’an dan seni
arsitektur atau seni bangunan.
70
Materi XIV
Sistem Politik dalam Islam
A. Pengertian Politik
Perkataan politik berasal dari bahasa Latin, politicus dan bahasa Yunani politicos,
artinya (sesuatu yang) berhubungan dengan warga negara atau warga kota. Kedua kata itu
berasal dari kata polis maknanya kota.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989), pengertian politik sebagai kata benda
ada tiga. Jika dikaitkan dengan ilmu artinya (1) pengetahuan mengenai kenegaraan (tentang
sistem pemerintahan, dasar-dasar pemerintahan), (2) segala urusan dan tindakan
(kebijaksanaan, siasat dan sebagainya) mengenai pemerintahan atau terhadap negara lain;
dan (3) kebijakan, cara bertindak (dalam menghadapi atau menangani suatu masalah).
B. Politik dalam Islam
Dalam Islam kekuasaan politik kait mengait dengan al-hukm, perkataan al-hukm dan
kata-kata yang terbentuk dari kata tersebut dipergunakan 210 kali dalam Al-Qur’an.
Dalam bahasa Indonesia, perkataan al-hukm yang telah-dialih bahasakan menjadi
hukum intinya adalah peraturan, undang-undang, patokan atau kaidah, dan keputusan atau
vonis (pengadilan).
C. Politik Islam = Fiqh Siyasah
Secara bahasa, Fiqh adalah mengetahui hukum-hukum Islam yang bersifat amali
melalui dalil-dalil yang terperinci. Sedangkan Siyasah secara harfiyah, dapat diartikan
dengan: mengurus, mengendali atau memimpin sebagaimana sabda Rasulullah saw:
“Adapun Bani Israil dipimpin oleh para nabi mereka.”
Dalam Islam, bukan masalah ubudiyah dan Ilahiyah saja yang dibahas, tetapi tentang
kemaslahatan umat juga dibahas dan diatur dalam Islam, dalam kajian ini salah satunya
adalah Politik Islam yang dalam bahasa agamanya disebut Fiqh Siyasah. Fiqh Siyasah dalam
koteks terjemahan diartikan sebagai materi yang membahas mengenai ketatanegaraan Islam
(Politik Islam).
Sedangkan Ibnu Qayyim al-Jauziyah mengartikan fiqh siyasah adalah segala
perbuatan yang membawa manusia lebih dekat kepada kemaslahatan dan lebih jauh dari
kemudharatan, sekalipun Rasulullah tidak menetapkannya dan bahkan Allah
menetapkannya pula.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Fiqh Siyasah adalah hukum yang
mengatur hubungan penguasa dengan rakyatnya. Pembahasan di atas dapat diartikan
bahwa Politik Islam dalam kajian Islam disebut Fiqh Siyasah.
D. Bagian-bagian Fiqh Siyasah
Setelah kita mengetahui tentang pengertian dan penamaan Politik Islam dalam Islam
adalah Fiqh Siyasah, maka dalam kajian kali ini akan dibahas mengenai bidang-bidang Fiqh
Siyasah. Fiqh Siyasah ini menurut Pulungan (2002, hal: 39) terbagi menjadi empat bagian,
yaitu:
1. Siyasah Dusturiyah
Siyasah Dusturiyah menurut tata bahasanya terdiri dari dua suku kata yaitu Siyasah
itu sendiri serta Dusturiyah. Arti Siyasah dapat kita lihat di pembahasan di atas. Sedangkan
71
Dusturiyah adalah undang-undang atau peraturan. Secara pengertian umum Siyasah
Dusturiyah adalah keputusan kepala negara dalam mengambil keputusan atau undangundang bagi kemaslahatan umat.
Sedangkan menurut Pulungan (2002, hal: 39) Siyasah Dusturiyah adalah hal yang
mengatur atau kebijakan yang diambil oleh kepala negara atau pemerintah dalam mengatur
warga negaranya. Hal ini berarti Siyasah Dusturiyah adalah kajian terpenting dlam suatu
negara, karena hal ini menyangkut hal-hal yang mendasar dari suatu negara. Yaitu
keharmonisan antara warga negara dengan kepala negaranya.
Fiqih Siyasah Dusturiyah mencakup bidang kehidupan yang sangat luas dan
kompleks, secara umum meliputi hal-hal sebagai berikut:
a) Persoalan dan ruang lingkup (pembahasan)
Membahas tentang imam, rakyat, hak dan kewajibanya, permasalahan Bai‟at,
Waliyul Ahdi, perwakilan dan persoalan Ahlul Halli Wal Aqdi.
b) Persoalan imamah, hak dan kewajibannya.
Imamah atau imam dalam Al-Qur’an pada umumnya, kata-kata imam
menunjukan kepada bimbingan kepada kebaikan. Firman Allah:
Artinya: dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada
kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan
jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”
c) Persoalan rakyat, statusnya dan hak-haknya
Rakyat terdiri dari Muslim dan non Muslim, adapun hak-hak rakyat, Abu A‟la alMaududi menyebutkan bahwa hak-hak rakyat adalah sebagai berikut:
1) Perlindungan terhadap hidupnya, hartanya dan kehormatannya.
2) Perlindungan terhadap kebebasan pribadi.
3) Kebebasan menyatakan pendapat dan keyakinan.
4) Terjamin kebutuhan pokok hidupnya, dengan tidak membedakan kelas
dan kepercayaan.
Abdul Qadir Audah menyebutkan dua hak, yaitu: hak persamaan dan hak
kebebasan, beraqidah, berbicara, berpendidikan dan memiliki. Sedangkan
kewajiban rakyat adalah taat dan membantu serta berperan serta dalam
program-program yang digariskan untuk kemaslahatan bersama. Apabila kita
sebut hak imam adalah ditaati dan mendapatkan bantuan serta partisipasi secara
sadar dari rakyat, maka kewajiban dari rakyat untuk taat dan membantu serta
dalam program-program yang digariskan untuk kemaslahatan bersama.
d) Persoalan Bai’at
Bai’at (Mubaya’ah), pengakuan mematuhi dan mentaati imam yang dilakukan
oleh Ahl Al-Hall Wa Al-Aqd dan dilaksanakan sesudah permusyawaratan. Diaudin
Rais mengutip pendapat Ibnu Khaldun tentang bai‟at ini, dan menjelaskan:
“Adalah mereka apabila membai’atkan seseorang amir dan mengikat perjanjian,
mereka meletakkan tangan-tangannya untuk menguatkan perjanjian
e) Persoalan Waliyul Ahdi
Imamah itu dapat terjadi dengan salah satu cara dari dua cara: Pertama
dengan pemilihan Ahl Al-Hall Wa Al-Aqdi dan Kedua dengan janji (penyerahan
kekuasaan) imam yang sebelumnya. Cara yang kedua yang dapat dimaksudkan
dengan waliyul ahdi. Hal ini didasarkan pada: Abu Bakar yang menunjuk Umar.
72
Yang kemudian kaum Muslimin menetapkan Umar dengan penunjukan Abu
Bakar.
f) Persoalan perwakilan dan Ahlul Halli Wal Aqdi
g) Persoalan Wuzarah (Kementerian) dan Perbandinganya
Ulama mengambil dasar-dasar adanya kementerian (Wuzarah) dengan dua
alasan, Pertama: firman Allah dalam surat At-Thaha 29-32, “Dan jadikanlah
untukku seorang wazir dari keluargaku, yaiut harun, saudaraku. Teguhkanlah
kekuatanku dengan dia, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku.”
2. Siyasah Maliyah
Arti kata Maliyah bermakna harta benda, kekayaan, dan harta. Karena itu Siyasah
Maliyah secara umum yaitu pemerintahan yang mengatur mengenai keuangan negara.
Djazuli (2003) mengatakan bahwa Siyasah Maliyah adalah hak dan kewajiban kepala negara
untuk mengatur dan mengurus keungan negara guna kepentingan warga negaranya serta
kemaslahatan umat. Lain halnya dengan Pulungan (2002, hal: 40) yang mengatakan bahwa
Siyasah Maliyah meliputi hal-hal yang menyangkut harta benda negara (kas negara), pajak,
serta Baitul Mal.
Dari pembahasan di atas dapat kita lihat bahwa siyasah maliyah adalah hal-hal yang
menyangkut kas negara serta keuangan negara yang berasal dari pajak, zakat baitul mal
serta pendapatan negara yang tidak bertentangan dengan syari‟at Islam.
Dasar-Dasar Fiqih Siyasah Maliyah, di antaranya sebagai berikut:
a) Beberapa prinsip tentang harta, antara lain:
➢ Masyarakat tidak boleh menggangu dan melarang pemilikan mamfaat selama
tidak merugikan orang lain atau masyarakat itu sendiri.
➢ Karena pemilikan mamfaat berhubungan dengan hartanya, maka boleh bagi
pemilik memindahkan hak miliknya kepada pihak lain, misalnya dengan jalan
menjualnya, mewasiatkannya, menghibahkannya, dan sebagainya.
➢ Pada pokoknya pemilikan mamfaat itu kekal tidak terikat oleh waktu.
b) Dasar-dasar keadilan sosial
Diantara landasan yang menjadi landasan keadilan social di dalam Islam:
a. Kebebasan rohani yang mutlak.
Yakni kebebasan rohania yang di dasarkan kepada kebebasan rohania
manusia dari tidak beribadah kecuali kepada Allah, tidak ada yang kuasa
kecuali daripada Allah.
b. Persamaan kemanusian yang sempurna.
Yakni prinsip-prinsip persamaan di dalam Islam yang di dasarkan
kepada kesatuan jenis manusia di dalam kejadiannya dan di dalam
tempat kembalinya, di dalam kehidupannya, di dalam matinya, di dalam
hak dan kewajibannya di hadapan undang-undang, di hadapn allah, di
dunia dan di akhirat.
c) Tanggung jawab sosial yang kokoh
Di antaranya meliputi:
➢ Tanggung jawab terhadap diri sendiri.
➢ Tanggung jawab terhadap keluarganya.
➢ Tanggung jawab individu terhadap masyarakat dan sebaliknya.
73
d) Hak milik
Islam telah menetapkan adanya hak milik perseorangan terhadap harta yang
di hasilkan dengan cara-cara yang tidak melanggar hukum syara‟. Hanya Islam
memberikan batasanbatasan tentang hak milik perseorangan ini agar manusia
mendapat kemaslahatan dalam pengembangan harta dalam menafkahkan dan
dalam perputarannya.
1) Bahwa hakikatnya harta itu adalah milik Allah.
2) Harta kekayaan jangan sampai hanya ada/dimiliki oleh segolongan kecil
masyarakat.
3) Ada barang-barang yang untuk kepentingan masyarakat seluruhnya,
seperti jalan-jalan, irigasi, tempat-tempat peribadatan.
e) Zakat
Beberapa bentuk zakat, di antaranya:
1) Zakat hasil bumi (Usyur)
2) Zakat emas, ternak, dan zakat fitrah.
3) Kanz dan harta karun
f) Jizyah
Adalah iuran Negara (Dharibah) yang diwajibkan atas orangorang ahli kitab sebagai imbangan bagi usaha membela mereka dan
melindungi mereka atau sebagai imbangan bahwa mereka
memperoleh apa yang di peroleh orang-orang Islam sendiri, baik
dalam kemerdekaan diri, pemeliharan harta, kehormatan.
3. Siyasah Dauliyah
Dauliyah bermakna tentang daulat, kerajaan, kekuasaan, wewenang, serta
kekuasaan. Sedangkan Siyasah Dauliyah bermakna sebagai kekuasaan kepala negara untuk
mengatur negara dalam hal hubungan internasional, masalh territorial, nasionalitas,
ekstradisi tahanan, pengasingan tawanan politik, pengusiran warga negara asing. Selain itu
juga mengurusi masalah kaum Dzimi, perbedaan agama, akad timbal balik dan sepihak
dengan kaum Dzimi, hudud, dan qishash (Pulungan, 2002. hal: 41).
Dari pengertian di atas dapat dilihat bahwa Siyasah Dauliyah lebih mengarah pada
pengaturan masalah kenegaraan yang bersifat luar negeri, serta kedaulatan negara. Hal ini
sangat penting guna kedaulatan negara untuk pengakuan dari negara lain.
Dasar-dasar Siyasah Dauliyah, di antaranya sebagai berikut:
1) Kesatuan umat manusia
Meskipun manusia ini berbeda suku berbangsa-bangsa, berbeda warna kulit, berbeda
tanah air bahkan berbeda agama, akan tetapi merupakan satu kesatuan manusia karena
sama-sama makhluk Allah, sama bertempat tinggal di muka bumi ini.
2) Al-Adalah (Keadilan)
Ajaran Islam mewajibkan penegakan keadilan baik terhadap diri sendiri, keluarga,
tetangga, bahkan terhadap musuh sekalipun kita wajib bertindak adil. Banyak ayat-ayat yang
berbicara tentang keadilan antara lain:
Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan,
memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan
74
permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil
pelajaran.(QS. An-Nisa : 135).
3) Al-Musawah (persamaan)
Manusia memiliki hal-hal kemanusian yang sama, untuk mewujudkan keadilan adalah
mutlak mempersamakan manusia dihadapan hokum kerjasama internasional sulit
dilaksanakan apabila tidak di dalam kesederajatan antar Negara dan antar Bangsa.
4) Karomah Insaniyah (Kehormatan Manusia)
Karena kehormatan manusia inilah, maka manusia tidak boleh merendahkan
manusia lainnya. Kehormatan manusia ini berkembang menjadi kehormatan terhadap satu
kaum atau komunitas dan bisa di kembangkan menjadi suatu kehormatan suatu bangsa atau
negara.
5) Tasamuh (Toleransi)
Dasar ini tidak mengandung arti harus menyerah kepada kejahatan atau memberi
peluang kepada kejahatan. Allah mewajibkan menolak permusuhan dengan tindakan yang
lebih baik, penolakan dengan lebih baik ini akan menimbulkan persahabatan bila dilakukan
pada tempatnya setidaknya akan menetralisir ketegangan.
Hal-hal yang diperhatikan dalam fiqih siyasah dauliyah meliputi;
a. Persoalan internasional.
b. Persoalan teritorial.
c. Persoalan nasionality dalam fiqih Islam.
d. Masalah penyerahan penjahat.
e. Masalah pengasingan dan pengusiran.
f. Masalah perwakilan, tamu-tamu Negara, orang-orang dzimi
Hubungan Internasional dibagi menjadi dua yaitu hubungan Internasional
dalam waktu damai yang di dalamnya mengenai politik, ekonomi, kebudayaan,
dan kemasyarakata, dan hubungan internasional dalam waktu perang.
Hubungan internasional dalam waktu damai:
a. Damai adalah asas hubungan internasional yaitu perang hanya bila keadaan
darurat, segera berhenti perang jika cenderung damai, dan memperlakukan
tawanan secara manusiawi.
b. Kewajiban suatu Negara terhadap Negara lain, yakni tentang menghormati
hak-hak negara lain yang bertetangga dengan negara yang di tempati.
c. Mengadakan perjanjian-perjanjian Internasional.
Hubungan internasional dalam waktu perang
Sebab terjadinya perang:
a. Memepertahankan diri
b. Dalam rangkah dakwah
Etika perang dalam Islam:
a. Dilarang membunuh anak.
b. Dilarang membunuh wanita yang tidak berperang.
c. Dilarang membunuh orang tua yang tidak ikut perang.
d. Tidak memotong dan merusak tanaman.
e. Tidak membunuh binatang ternak.
75
f.
g.
h.
i.
j.
Tidakmenghancurkan tempat ibadah.
Dilarang mencincang mayat musuh.
Dilarang membunuh pendeta dan pekerja.
Bersabar, berani dan ikhlas.
Tidak melampaui batas.
4. Siyasah Harbiyah
Harbiyah bermakna perang, secara kamus Harbiyah adalah perang, keadaan darurat
atau genting. Sedangkan makna Siyasah Harbiyah adalah wewenang atau kekuasaan serta
peraturan pemerintah dalam keadaan perang atau darurat.
Dalam kajian Fiqh Siyasah, Siyasah Harbiyah adalah pemerintah atau kepala negara
mengatur dan mengurusi hala-hal yang berkaitan dengan perang, kaidah perang, mobilisasi
umum, hak dan jaminan keamanan perang, perlakuan tawanan perang, harta rampasan
perang, dan masalah perdamaian (Pulungan, 2002. hal: 41). Konsekuensi dari asas bahwa
hubungan Internasional dalam Islam adalah perdamaian saling membantu dalam kebaikan,
maka:
1. Perang tidak dilakukan kecuali dalam keadaan darurat. Sesuai dengan persyaratan
darurat hanya dilakukan seperlunya.
2. Orang yang tidak ikut berperang tidak boleh diperlakukan sebagai musuh.
3. Segera menghentikan perang apabila salah satu pihak cenderung kepda damai.
4. Memperlakukan tawanan perang dengan cara manusiawi.
E. Kontribusi Umat Islam Terhadap Kehidupan Politik dan Kekuasaan di Indonesia
Islam sebagai sebuah ajaran yang mencakup persoalan spiritual dan politik telah
memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap kehidupan politik di Indonesia.
Sebagaimana di bidang lain, kaum Muslimin telah memberikan kontribusi yang sangat besar
bagi Indonesia, tak terkecuali di bidang politik.
1. Di era kerajaan-kerajaan Islam
Ditandai dengan berdirinya berbagai macam kesultanan di berbagai wilayah Indonesia,
antara lain:
• Di Sumatera ada Kesultanan Perlak (abad ke-9 s/d abad ke-13), Kesultanan
Samudera Pasai (abad ke-13 - abad ke-16), Kesultanan Malaka (abad ke-14 - abad
ke-17) dan Kerajaan Melayu Jambi.
• Di Jawa: Kesultanan Demak (1500 - 1550), Kesultanan Banten (1524 -1813),
Kesultanan Pajang (1568 - 1618), Kesultanan Mataram (1586 - 1755), Kesultanan
Cirebon (sekitar abad ke-16).
• Di Kalimantan: Kesultanan Pasir (1516), Kesultanan Banjar (1526-1905),
Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura, Kesultanan Berau (1400),
Kesultanan Pontianak (1771), Kerajaan Tidung, Kesultanan Bulungan (1731).
• Di Maluku: Kesultanan Ternate (1257 - 1583), Kesultanan Tidore (1110 - 1947)
Kesultanan Jailolo, Kesultanan Bacan, Kerajaan Tanah Hitu (1470-1682).
• Di Sulawesi: Kesultanan Gowa (awal abad ke-16 - 1667), Kesultanan Buton (1332 1911) dan Kesultanan Bone (abad 17).
2. Di era kolonialisme atau masa penjajahan
76
Hal ini ditandai dengan perjuangan para santri melawan penjajah. Terdapat nama seperti
Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Si Singamangaraja, Cut Nyak Dhien dan lainnya.
Umat Islamlah yang sangat berperan dalam mempertahankan negeri ini dari kungkungan
penjajah. Ironisnya, kita lebih kenal dengan RA Kartini daripada Cut Nyak Dhien. Padahal,
peran Cut Nyak Dhien jauh lebih besar, baik secara fisik maupun non fisik.
3. Di era setelah kemerdekaan di Masa Orde Lama
Hal ini ditandai dengan munculnya partai-partai berasaskan Islam serta partai
nasionalis berbasis umat Islam dan kedua dengan ditandai sikap pro aktif tokohtokoh politik Islam dan umat Islam terhadap keutuhan negara kesatuan Republik
Indonesia, sejak proses awal kemerdekaan sampai jaman reformasi. Berkaitan
dengan keutuhan negara, misalnya Muhammad Natsir pernah menyerukan umat
Islam agar tidak mempertentangkan Pancasila dengan Islam. Mosi Integral yang
digagas M Natsir menyelamatkan NKRI dari pecah belah.
4. Di era Orde Baru
Ditandai dengan keterlibatan umat Islam dalam berpolitik melalui berbagai partai.
Meski di era 1970-awal 1990, peran umat Islam sedikit termarjinalkan oleh Orde
Baru, tapi berbagai prestasi sudah ditorehkan dengan lahirnya berbagai kebijakan
yang berpihak pada penerapan nilai-nilai Islam.
5. Di era Reformasi
Tumbangnya Orde Baru tak mungkin dilepaskan dengan kontribusi umat Islam. Kaum
Musliminlah yang menarik gerbong reformasi. Hadirnya berbagai tokoh dari kalangan
Islam menandai hal itu. Selain dari ormas besar seperti Amin Rais (Muhammadiyah)
dan Abdurahman Wahid (NU), juga dari kalangan anak-anak muda seperti KAMMI,
BEM-BEM berbagai Perguruan Tinggi yang mayoritas digerakkan oleh aktivis-aktivis
Islam. Sulit dibayangkan reformasi akan bergulir jika tidak didukung umat Islam.
F. Mengapa Umat Islam Menerima Pancasila?
Dalam pandangan Islam, perumusan Pancasila bukan merupakan sesuatu yang
bertentangan dengan ajaran Qur’an, karena nilai-nilai yang terdapat dalam Pancasila juga
merupakan bagian dari nilai-nilai yang sebagian terdapat dalam Qur’an. Pascakemerdekaan,
demi keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa, umat Islam rela menghilangkan tujuh kata
dari sila pertama pancasila yaitu kata-kata “kewajiban melaksanakan syariat Islam bagi para
pemeluknya.”
Umat Islam Indonesia dapat menyetujui Pancasila dan UUD 1945, selain menjaga
keutuhan bangsa, setidak-tidaknya atas dua pertimbangan:
Pertama, nilai-nilai Pancasila dianggap tidak bertentangan dengan ajaran Islam
secara umum.
Kedua, fungsinya sebagai nuktah-nuktah kesepakatan antar berbagai golongan untuk
mewujudkan kesatuan politik bersama. Umat Islam mengedepankan keutuhan NKRI dan tak
menginginkan perpecahan.
Meskipun demikian, dalam perjalanannya banyak kalangan yang salah menafsirkan
Pancasila sehingga dianggap bertentangan dengan Islam.
77
MAKALAH
ETIKA, MORAL, DAN AKHLAK
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Agama Islam
Diampu oleh Hepi Andi Bastoni, MA.
Oleh Kelompok 1 :
Adiskha Dwi Putri
2140128
Anna Pratiwi Nur Hasanah
2140137
Dila Siti Aisyah
2140140
Maelani Samudra
2140150
Mochammad Ilham Prihandika
2140154
Muhamad Noviar Ramadhan
2140157
Muhammad Arrafi
2140158
Muhammad Hilmi Fadillah
2140160
Nindita Eluavita Artanti
2140164
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK AKA BOGOR
PROGRAM STUDI ANALIS KIMIA
2021
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ............................................................................................................................ 1
KATA PENGANTAR ............................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................................... 3
A.
Latar Belakang .............................................................................................................. 3
B.
Rumusan Masalah.......................................................................................................... 3
C.
Tujuan ........................................................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN............................................................................................................ 5
A.
Pengertian Etika, Moral dan Akhlak............................................................................... 5
B.
Karakteristik Etika Islam (Akhlak)................................................................................. 8
C.
Pengertian Tasawuf .......................................................................................................10
D.
Hubungan Antara Tasawuf dan Islam............................................................................11
E.
Etika Islam Terhadap Diri Sendiri (Menurut Abu Bakar al-Jazairi) ...............................12
BAB III SIMPULAN DAN SARAN ..........................................................................................15
A.
Simpulan ......................................................................................................................15
B.
Saran ............................................................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................................................17
1
KATA PENGANTAR
Puji syukur diucapkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat-Nya sehingga makalah ini
dapat tersusun dengan baik. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih terhadap bantuan dari
pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik pikiran maupun materinya.
Penulis sangat berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi pembaca. Bahkan kami berharap lebih jauh lagi agar makalah ini bisa
dipraktikkan oleh pembaca dalam kehidupan sehari-hari.
Penyusun merasa bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini karena
keterbatasan pengetahuan dan pengalaman. Untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan
saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Bogor, Juni 2021
Penyusun
2
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sejarah Agama menunjukkan bahwa kebahagiaan yang ingin dicapai dengan
menjalankan syariah agama itu hanya dapat terlaksana dengan adanya akhlak yang baik.
Kepercayaan yang hanya berbentuk pengetahuan tentang keesaan Tuhan, ibadah yang
dilakukan hanya sebagai formalitas belaka, muamalah yang hanya merupakan peraturan
yang tertuang dalam kitab saja, semua itu bukanlah merupakan jaminan untuk tercapainya
kebahagiaan tersebut.
Timbulnya kesadaran akhlak dan pendirian manusia terhadap-Nya adalah pangkalan
yang menentukan corak hidup manusia. Akhlak, moral, atau susila adalah pola tindakan
yang didasarkan atas nilai mutlak kebaikan. Hidup susila dan tiap-tiap perbuatan susila
adalah jawaban yang tepat terhadap kesadaran akhlak, sebaliknya hidup yang tidak
bersusila dan tiap-tiap pelanggaran kesusilaan adalah menentang kesadaran itu.
Kesadaran akhlak adalah kesadaran manusia tentang dirinya sendiri, dimana manusia
melihat atau merasakan diri sendiri sebagai berhadapan dengan baik dan buruk. Disitulah
membedakan halal dan haram, hak dan bathil, boleh dan tidak boleh dilakukan, meskipun
dia bisa melakukan.Itulah hal yang khusus manusiawi. Dalam dunia hewan tidak ada hal
yang baik dan buruk atau patut tidak patut, karena hanya manusialah yang mengerti dirinya
sendiri, hanya manusialah yang sebagai subjek menyadari bahwa dia berhadapan pada
perbuatannya itu, sebelum, selama dan sesudah pekerjaan itu dilakukan. Sehingga sebagai
subjek yang mengalami perbuatannya dia bisa dimintai pertanggungjawaban atas
perbuatannya itu.
B. Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi fokus permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini dapat
dirumuskan sebagai berikut:
1) Konsep Etika, Moral dan Akhlak
2) Karakteristik Etika Islam (Akhlak)
3) Hubungan Tasawuf dengan Akhlak
4) Etika dan penerapannya untuk diri sendiri
3
C. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1) Untuk mengetahui pengertian dan perbedaan dari Etika, Moral dan Akhlak
2) Untuk mengetahui karakteristik Etika, Moral dan Akhlak
3) Untuk mengetahui hubungan Tasawuf dengan Akhlak
4) Untuk mengetahui penerapan etika untuk diri sendiri
4
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Etika, Moral dan Akhlak
1. Pengertian Akhlak
Kata akhlaq berasal dari bahasa Arab, yakni jama‟ dari “khuluqun” yang berarti
budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat, tata krama, sopan santun, adab, dan
tindakan. Kata akhlak juga berasal dari kata khalaqa atau khalaqun artinya kejadian,
serta erat hubungan dengan “Khaliq'' yang artinya menciptakan, tindakan, atau
perbuatan, sebagaimana terdapat kata al-khaliq yang artinya pencipta dan makhluq yang
artinya diciptakan.
Akhlak terdiri dari akhlaqul karimah (akhlak yang baik) dan akhlaqul mazmumah
(akhlak yang buruk). Maka dapat disimpulkan bahwa akhlak adalah sifat bawaan dari
manusia apakah dia baik atau tidak baik. Akhlak adalah tingkah laku seseorang yang
didorong oleh sesuatu keinginan secara mendasar untuk melakukan suatu perbuatan.
Semua definisi akhlak secara substansi tampak saling melengkapi, dengan lima ciri
akhlak, yaitu sebagai berikut.
1) Akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang sehingga
telah menjadi kepribadiannya.
2) Akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah tanpa pemikiran. Ini tidak
berarti bahwa saat melakukan perbuatan, orang yang bersangkutan dalam keadaan
tidak sadar, hilang ingatan, tidur atau gila.
3) Akhlak adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya,
tanpa paksaan atau tekanan dari luar. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang
dilakukan atas dasar kemauan, pilihan, dan keputusan yang bersangkutan.
4) Akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan sesungguhnya, bukan main-main
atau karena bersandiwara, perbuatan yang dilakukan ikhlas semata-mata karena
Allah, bukan karena ingin dipuji orang atau karena ingin mendapatkan pujian.
2. Pengertian Etika
Etika adalah suatu ajaran yang berbicara tentang baik dan buruknya yang menjadi
ukuran baik buruknya atau dengan istilah lain ajaran tentang kebaikan dan keburukan,
yang menyangkut peri kehidupan manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, sesama
manusia, dan alam.
Dari segi etimologi, etika berasal dari bahasa Yunani “ethos” yang berarti watak
kesusilaan atau adat. Dalam kamus umum bahasa Indonesia, etika diartikan ilmu
5
pengetahuan tentang azaz-azaz akhlak (moral).Dari pengertian kebahasaan ini terlihat
bahwa etika berhubungan dengan upaya menentukan tingkah laku manusia.
Menurut para ulama‟ etika adalah ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk,
menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia, menyatakan tujuan yang
harus dituju oleh manusia di dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk
melakukan apa yang seharusnya diperbuat.
Sebagai cabang pemikiran filsafat, etika bisa dibedakan menjadi dua yaitu:
1) Obyektivisme
Berpandangan bahwa nilai kebaikan suatu tindakan bersifat obyektif, terletak
pada substansi tindakan itu sendiri. Faham ini melahirkan apa yang disebut faham
rasionalisme dalam etika. Suatu tindakan disebut baik, kata faham ini, bukan karena
kita senang melakukannya, atau karena sejalan dengan kehendak masyarakat,
melainkan semata keputusan rasionalisme universal yang mendesak kita untuk
berbuat begitu.
2) Subyektivisme
Berpandangan bahwa suatu tindakan disebut baik manakala sejalan dengan
kehendak atau pertimbangan subyek tertentu.Subyek disini bisa saja berupa
subyektifisme kolektif, yaitu masyarakat, atau bisa saja subyek Tuhan.
Macam-Macam Etika
1) Etika deskriptif
Etika yang berbicara mengenai suatu fakta yaitu tentang nilai dan pola perilaku
manusia terkait dengan situasi dan realitas yang membudaya dalam kehidupan
masyarakat.
2) Etika Normatif
Etika yang memberikan penilaian serta himbauan kepada manusia tentang
bagaimana harus bertindak sesuai norma yang berlaku. Mengenai norma norma
yang menuntun tingkah laku manusia dalam kehidupan sehari hari.
Selanjutnya Hamzah Mahmud yang merujuk kepada beberapa pendapat para ahli
menyebutkan pengertian etika secara terminologis.
1) Etika adalah ilmu tentang tingkah laku manusia, prinsip-prinsip yang disistematisasi
tentang tindakan moral yang betul.
2) Etika merupakan bagian dari filsafat yang mengembangkan teori tentang tindakan,
hujah-hujahnya dan tujuan yang diarahkan kepada makna tindakan.
3) Etika merupakan ilmu tentang filsafat moral, tidak mengenai fakta tetapi tentang
nilai-nilai, tidak mengenai sifat tindakan manusia tetapi tentang idenya, karena itu
bukan ilmu positif tetapi ilmu yang formatif.
4) Ilmu tentang moral atau prinsip-prinsip kaidah moral tentang tindakan dan kelakuan
6
3. Pengertian Moral
Adapun arti moral dari segi bahasa berasal dari bahasa latin “mores” yaitu jamak
dari kata “mos” yang berarti adat kebiasaan. Dalam kamus umum bahasa Indonesia
dikatakan bahwa moral adalah penentuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan.
Selanjutnya moral dalam arti istilah adalah suatu istilah yang digunakan untuk
menentukan batas-batas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang
secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik atau buruk.
Berdasarkan kutipan tersebut diatas, dapat dipahami bahwa moral adalah istilah
yang digunakan untuk memberikan batasan terhadap aktivitas manusia dengan nilai
(ketentuan) baik atau buruk, benar atau salah.
Apabila moral diartikan sebagai tindakan baik atau buruk dengan ukuran adat,
konsep moral berhubungan pula dengan konsep adat yang dibagi pada dua macam adat,
yaitu:
1) Adat Shahihah, yaitu adat yang merupakan moral masyarakat yang sudah lama
dilaksanakan secara turun temurun dari berbagai generasi, nilai-nilainya telah
disepakati secara normatif dan tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran yang berasal
dari agama Islam, yaitu Alquran dan As-Sunnah;
2) Adat fasidah, yaitu kebiasaan yang telah lama dilaksanakan oleh masyarakat, tetapi
bertentangan dengan ajaran Islam, misalnya kebiasaan melakukan kemusyrikan,
yaitu memberi sesajen di atas.
Moralitas manusia dibagi menjadi dua, yaitu moralitas yang baik dan moralitas
yang buruk.Contohnya moralitas yang berkaitan dengan pola makan yang dianjurkan Al
Qur‟an surat Al-Baqarah ayat 168. Ayat tersebut adalah perintah yang hukumnya wajib
bagi seluruh umat Islam untuk memakan harta yang halal dan bergizi. Pada ayat di atas
terdapat kalimat: Ayat itu adalah larangan maka haram hukumnya bagi orang yang
beriman mengikuti pola hidup dengan sistem yang dibangun dan dibentuk oleh setan.
Kaitannya dengan makanan yang dimaksud dengan pola hidup setan adalah menikmati
harta benda hasil korupsi, manipulasi, hasil menipu, merampok, dan bentuk kejahatan
lainnya.
4. Perbedaan antara Etika, Moral, dan Akhlak
Akhlak
Etika
Moral
Menggunakan akal dan
agama (Wahyu)
Menggunakan penilaian akal Menggunakan penilaian
(filsafat)
akal sehat (daerah sekitar)
Bersifat mutlak universal
Tidak mutlak dan universal
7
Bersifat lokal
Menjurus pada praktek
Menjurus kepada teori
Menjurus kepada praktek
Bagaimana seharusnya dan
adanya
Membicarakan bagaimana
seharusnya
Bagaimana adanya
Objeknya manusia dan
Tuhan
Objeknya sesama manusia
Objeknya sesama manusia
B. Karakteristik Etika Islam (Akhlak)
Akhlak merupakan ilmu yang menentukan batas antara baik dan buruk, terpuji atau
tercela menyangkut perilaku manusia yang meliputi perkataan, pikiran, dan perbuatan
manusia lahir batin. Akhlak secara substansial adalah sifat hati, bisa baik bisa buruk yang
tercermin dalam perilaku. Jika sifat hatinya baik yang muncul adalah perilaku yang baik
(akhlaq al-mahmudah) dan jika sifat hatinya buruk, yang akan muncul adalah perilaku
buruk (al-akhlaq al-madzmumah). Menurut Ibnu Arabi, di dalam diri manusia ada tiga
nafsu, yaitu:
1) Nafsu Syahwaniyah, ialah nafsu yang ada pada manusia dan binatang. Nafsu ini
cenderung kepada kelezatan jasmaniyah, misalnya makan, minum dan nafsu seksual.
2) Nafsu Ghodlobiyah, nafsu ini juga ada pada manusia dan binatang, yaitu nafsu yang
cenderung pada amarah, merusak, dan senang menguasai serta mengalahkan yang lain.
3) Nafsu Nathiqah, ialah nafsu yang membedakan manusia dan hewan. Dengan nafsu ini
manusia mampu berpikir dengan baik, berdzikir, mengambil hikmah, dan memahami
fenomena alam.
Apabila manusia dapat mengoptimalkan nafsu nathiqah untuk mengendalikan nafsu
syahwaniyah dan nafsu ghodlobiyah, manusia akan dapat menjadi lebih unggul dan mulia.
Pada akhirnya lahirlah manusia-manusia yang berakhlak al karimah.
Begitu pentingnya kedudukan akhlak dalam islam sehingga Al-Qur‟an bukan hanya
memuat ayat-ayat tentang akhlak secara spesifik, melainkan selalu mengaitkan ayat-ayat
yang berbicara tentang hukum dengan masalah akhlak pada ujung ayat. Ayat-ayat yang
berbicara tentang shalat, puasa, haji, zakat, dan muamalah selalu dikaitkan dan diakhiri
dengan pesan-pesan perbaikan akhlak. (Al-Baqarah: 183, 197).
Seorang Muslim memiliki keterkaitan terhadap hukum Allah, karena Islam melalui
sumber Al Qur‟an dan Hadis mengatur secara global semua hal dan perbuatan yang
berkaitan dengan perbuatan manusia. Allah telah menjadikan Islam agama yang memiliki
ajaran secara sempurna, berskala internasional, manusiawi dan autentik. Kepatuhan
terhadap ikatan hukum syara‟ tersebut dapat mendatangkan rahmatan lil‟alamin,
kedamaian, ketentraman dan kebahagiaan dunia dan di akhirat (Haris, 2010).
8
Sebaliknya, sifat yang menentang syara‟ dapat mendatangkan laknat, siksaan dan azab
Allah, seperti kerusakan (individu dan sosial), kegelisahan bathin dan berbagai kerugian
lainnya. Untuk mencari kebahagiaan dan tujuan-tujuan baik lainnya, harus menggunakan
jalan baik dan benar, yaitu jalan yang hanya ditempuh manusia dengan mengikuti aturanaturan dan ketentuan-ketentuan yang digariskan oleh Allah, aturan-aturan tersebut sesuai
dengan akal manusia, dan tidak berlawanan dengannya, karena akal turut menentukan baik
dan buruknya suatu perbuatan. Menurut Al-Ghazali, “Perbuatan yang disebut baik apabila
sesuai dengan akal dan syara‟, perbuatan yang tidak baik apabila bertentangan dengan akal
dan syara‟.”
Menurut ajaran Islam yang menentukan baik dan buruknya perbuatan pertama kali
adalah nash, yaitu Al-Qur‟an yang berisi aturan dan ketentuan Allah, kemudian hadis Nabi
yang berfungsi sebagai penjelas, akal yang mendapat bimbingan Allah dan niat baik
seseorang dalam melakukannya
Lima karakter etika Islam yang dapat membedakannya dengan etika lain. Karakteristik
etika Islam yang dimaksud, yaitu:
1) Etika Islam mengajarkan dan menuntun manusia kepada tingkah laku yang baik dan
menjauhkan diri dari tingkah laku yang buruk.
2) Etika Islam menetapkan bahwa yang menjadi sumber moral, ukuran baik buruknya
perbuatan, didasarkan kepada ajaran Allah SWT, yaitu ajaran yang berasal dari AlQur‟an dan al-Hadis.
3) Etika Islam bersifat universal dan komprehensif, dapat diterima oleh seluruh umat
manusia di segala waktu dan tempat.
4) Ajaran-ajarannya yang praktis dan tepat, cocok dengan fitrah (naluri) dan akal pikiran
manusia (manusiawi), maka etika Islam dapat dijadikan pedoman oleh seluruh
manusia.
5) Etika Islam mengatur dan mengarahkan fitrah manusia ke jenjang akhlak yang luhur
dan meluruskan perbuatan manusia di bawah pancaran petunjuk Allah SWT menuju
keridhaan-Nya.
Selain karakteristiknya, etika Islam dapat dinyatakan dengan membuat aksioma atau
menyatakannya dengan berbagai indikator kehidupan, diantaranya:
1) Etika Islam bersifat unitas, yaitu berkaitan dengan konsep tauhid atau ketuhanan.
2) Etika Islam bersifat equilibrium dengan konsep „adl (keadilan) merupakan suasana
keseimbangan di antara berbagai aspek kehidupan manusia.
3) Etika Islam bersifat kehendak bebas.
4) Etika Islam bersifat tanggung jawab.
5) Etika Islam bersifat ihsan yang merupakan suatu tindakan yang menguntungkan orang
lain.
9
Dari karakteristik dan aksioma etika Islam ini, dapat membantu kita dalam memahami
bagaimana konsep etika Islam. Untuk itu sumber etika dalam Islam juga dapat membentuk
manusia insan kamil.
C. Pengertian Tasawuf
Tasawuf secara etimologis berasal dari bahasa Arab, yaitu tashawwafa, yatashawwafu,
tashawwufan. Ada yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata shuf yang berarti
bulu domba, maksudnya adalah bahwa para penganut tasawuf ini hidupnya sederhana,
tetapi berhati mulia serta menjauhi pakaian sutra dan memakai kain dari bulu domba yang
kasar.
Kata tasawuf juga berasal dari kata shaff, yaitu barisan, yang makna ini dinisbahkan
kepada para jamaah yang selalu berada di barisan terdepan ketika sholat. Tasawuf juga
berasal dari kata shafa, yaitu jernih, bersih, atau suci. Adapun tasawuf berasal dari kata
shuffah, yaitu serambi Masjid Nabawi yang ditempati sebagian sahabat Rasulullah.
Tasawuf secara terminologi terdapat pengertian tasawuf menurut beberapa ahli.
Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, tasawuf adalah mensucikan hati dan melepaskan
nafsu dari pangkalnya dengan khalwat, riyadh, taubat, dan ikhlas.
Karena banyaknya definisi tentang tasawuf yang dirumuskan oleh para ahli
menyebabkan tasawuf tersebut sulit didefinisikan secara lengkap, sehingga untuk
mengetahui seseorang sedang bertasawuf, dapat dilihat dari ciri umum yang dirumuskan
oleh seorang peneliti tasawuf yaitu Abu Al-Wafa‟ Al-Ghanimi At-Taftazani dalam
bukunya Madkhal Ila at-Tasawwuf al-Islam yang menyebutkan lima ciri umum tasawuf:
1) Memiliki nilai-nilai moral.
2) Pemenuhan fana dalam realitas mutlak
3) Pengetahuan intuitif langsung
4) Timbulnya rasa kebahagiaan sebagai karunia Allah SWT dalam diri sufi karena
tercapainya maqamat atau yang biasa disebut tingkatan, dan
5) Penggunaan simbol-simbol pengungkapan yang biasanya mengandung pengertian
harfiah dan tersirat.
Pengertian tasawuf secara umum dapat diartikan sebagai suatu upaya yang dilakukan
seseorang untuk mensucikan dirinya dengan cara menjauhkan pengaruh kehidupan yang
bersifat duniawi dan akan memusatkan seluruh perhatiannya kepada Allah.
Tasawuf terbagi atas tiga bagian, yaitu:
1. Tasawuf akhlaki
10
2.
3.
Tasawuf akhlaki merupakan ajaran tasawuf yang membahas tentang
kesempurnaan dan kesucian jiwa yang dirumuskan pada pengaturan sikap mental dan
kedisiplinan perilaku yang ketat sehingga mencapai kebahagiaan yang optimum.
Tasawuf amali
Tasawuf amali merupakan ajaran tasawuf yang lebih menekankan amalan-amalan
rohaniah dibandingkan teori.
Tasawuf falsafi
Tasawuf falsafi adalah ajaran tasawuf yang memadukan antara visi mistis dan
rasional dengan penggagasnya.
D. Hubungan Antara Tasawuf dan Islam
Islam sangat luas cakupannya dan semua itu memiliki hubungan dengan tasawuf.
Muara dari semua tujuan itu tidak lain adalah menjadi hamba Allah yang mulia di sisi-Nya.
Islam mengantarkan pada pemahaman yang komprehensif menuju manusia seutuhnya
sebagai hamba-Nya sedangkan tasawuf penghambaan yang murni dengan kesucian hati.
Tidak ada penghambaan yang murni tanpa pemahaman agama yang baik, dan belum
dikatakan baik pemahaman keagamaan bila belum menghambakan diri dengan cara yang
baik, di sinilah hubungan antar keduanya.
Tasawuf identik dengan sikap rohani suci yang selalu ingin dekat dengan Tuhan.
Apabila dihubungkan dengan agama Islam khususnya dalam bidang syari‟at, maka harus
meliputi seluruh aspek hidup dan kehidupan manusia, baik melalui hablum minallah,
hablum minannas, maupun hablum minal „alam, mempunyai hubungan yang sangat erat
dan saling mengisi antara satu dengan yang lainnya. Untuk mencapai kemaslahatan dunia
dan akhirat dalam arti hakiki harus sepadan, simultan dengan tujuan tasawuf, yaitu
melaksanakan hakikat ubudiyah guna memperoleh tauhid yang haqqul yaqin dan
makrifatullah yang tahqiq.
Untuk mencapai tujuan tasawuf, seluruh aktivitas syari‟at harus digerakkan oleh hati
nurani yang suci. Pendidikan Islam menjadi salah satu perantara pemahaman hati memberi
kontribusi besar terhadap realisasi ajaran tasawuf.
Syari‟at dilaksanakan oleh anggota tubuh manusia melalui ketentuan-ketentuan yang
berlaku, sedangkan kekuatannya melalui rohani batin yang datang langsung dari Allah
SWT. Persis kalau dicontohkan ibarat listrik, kabel adalah syariat-syariat lahirnya yang
dikenalkan melalui Agama Islam, sedangkan setrum adalah power melewati kabel yang
bersumber dari central dynamo dan tidak bisa dilihat dengan pandangan mata yang zhahir
namun bisa dirasakan keberadaannya.
Dengan mengetahui dan menyadari adanya korelasi antara tasawuf dan Islam,
diharapkan tidak ada upaya untuk memisahkan secara paksa antar masing-masing disiplin
ilmu itu. Baik tasawuf, Islam sama-sama memiliki objek kajian yang sama yaitu manusia.
Diberikannya pendidikan agama Islam adalah untuk mewujudkan manusia yang
berkepribadian mulia. Tasawuf juga memiliki tujuan sama yaitu menjadi manusia yang
11
mulia di sisi-Nya. Kemuliaan itu, tidak akan pernah tercapai kalau tidak membumikan
pesan-pesan moral yang ada dalam pendidikan agama Islam. Maka diperlukan kejernihan
hati untuk mengamalkan semua itu.
Sehingga dapat disimpulkan hubungan antara tasawuf dan islam sebagai berikut:
1. Sebagai metode atau jalan untuk mendapatkan kelezatan dalam beribadah, karena
tasawuf dipandang sebagai salah satu metode untuk mendapatkan hal tersebut.
2. Sebagai metode untuk mencapai derajat ihsan, karena tasawuf mempunyai sumber dan
landasan yang kokoh, kuat dari ajaran Islam.
3. Tasawuf sebagai sarana memperkuat mental, ketabahan dalam beribadah.
4. Tasawuf sebagai landasan dalam mengaplikasikan rasa syukur baik syukur secara
lisan, tingkah laku atau kemantapan hati dalam melaksanakan segala perintah Allah
dan menjauhi segala larangan Allah.
5. Tasawuf sebagai ruang untuk menilai dan mempelajari serta menelaah kelemahan diri
didalam melaksanakan kewajiban atau perbuatan baik dan kesukaran dalam menjauhi
serta meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Islam.
E. Etika Islam Terhadap Diri Sendiri (Menurut Abu Bakar al-Jazairi)
Seorang muslim meyakini kebahagiaannya ada di dunia dan di akhirat sangat
ditentukan oleh sejauh mana pembinaan terhadap dirinya, perbaikan, dan penyucian
dirinya. Selain itu, ia meyakini bahwa kecelakaan dirinya sangat ditentukan oleh sejauh
mana kerusakan dirinya.
Itu semua karena dalil-dalil berikut, Firman Allah, “Sesungguhnya beruntunglah orang
yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS
asy-Syams: 9-10).
“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan
diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak
(pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum, demikianlah Kami
memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. Mereka mempunyai
tikar tidur dari api neraka dan diatas mereka ada selimut (api neraka), demikianlah Kami
memberi balasan kepada orang-orang yang zalim. Dan orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal shalih, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seorang
melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal
di dalamnya,” (QS Al-A‟raaf: 40-42).
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya
menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS Al-„ashr 1-3).
Sabda Rasulullah saw., “dan kalian masuk surga, kecuali orang-orang yang tidak
mau.” Para sahabat bertanya,”Siapa yang tidak mau masuk surga, wahai Rasulullah?”
12
Rasulullah saw. bersabda, ”Barangsiapa taat kepadaku, ia masuk surga. Dan barangsiapa
bermaksiat kepadaku, ia tidak mau (masuk surga).” (HR Bukhari).
“Semua manusia beramal, dan menjual dirinya memperbaiki dirinya, atau
membinasakannya.” (HR Muslim).
Muslim meyakini bahwa sesuatu yang bisa membersihkan dirinya, dan mensucikan
ialah iman yang baik dan amal shaleh. Ia juga meyakini, bahwa sesuatu yang mengotori
dirinya, dan merusaknya ialah keburukan kekafiran dan kemaksiatan, berdasarkan dalildalil berikut:
1) Firman Allah Ta‟ala, “Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan
petang) dan pada sebagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatanperbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah
peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS Huud:114).
2) “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu
menutup hati mereka.” (QS Al-Muthaffifin:14).
3) Sabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya jika seorang Mukmin mengerjakan dosa, maka
ada noda hitam di hatinya. Jika ia bertaubat, berhenti (dari dosa tersebut), dan
beristighfar, maka hatinya bersih. Jika dosanya bertambah, bertambah pula noda hitam
dihatinya, hingga menutupi hatinya.” (HR An-Nasa'i dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi
berkata bahwa hadits ini adalah shahih).
4) Noda hitam tersebut tidaklah lain adalah tutupan hati yang disebutkan Allah Ta‟ala
dalam surah Al-Muthaffifin di atas.
5) “Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan tindak lanjutilah
kesalahan dengan kebaikan niscaya kebaikan tersebut menghapus kesalahan tersebut,
serta bergaulah dengan manusia dengan akhlak baik.” ( At-Tirmidzi dan Al- Hakim).
Oleh karena itulah, orang muslim tidak henti-hentinya membina dirinya,
menyucikannya, dan membersihkannya. Sebab, ia orang yang paling layak membinanya,
kemudian ia memperbaikinya dengan etika-etika yang membersihkannya, dan
membersihkan kotoran-kotorannya. Ia menjauhkan diri dari apa saja yang mengotorinya,
dan merusaknya seperti keyakinan-keyakinan yang rusak, ucapan-ucapan yang rusak, dan
amal perbuatan yang rusak. Ia melawan dirinya siang malam, mengevaluasi setiap saat,
membawanya kepada perbuatan-perbuatan yang baik, mendorongnya kepada ketaatan,
menjauhkan dari segala keburukan dan kerusakan.
Adab ma‟a nafsi (etika terhadap diri sendiri). Ada empat upaya yang perlu
diperhatikan dalam memperbaiki dan mendidiknya agar dia menjadi suci dan bersih, yakni:
1. Taubat, yakni melepaskan diri dari semua dosa dan perbuatan maksiat, menyesali
semua dosa-dosa di masa lalunya, dan bertekad tidak kembali lagi kepada dosa-dosa
tersebut di sisa umurnya.
2. Muraqabah yakni keyakinan senantiasa (hati kita) diawasi (oleh Allah), diketahui (hati
kita oleh Allah) dan diperhatikan hati kita oleh Allah.
3. Muhasabah yakni proses introspeksi diri kita sendiri.
13
4.
5.
Mujahadah yakni upaya kerja keras untuk meraih yang kita cita-citakan.
Muaaqabah yakni mengganti kesalahan yang dilakukan dengan amalan lain.
14
BAB III
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Timbulnya kesadaran akhlak dan pendirian manusia terhadap-Nya adalah pangkalan
yang menentukan corak hidup manusia. Akhlak, moral, atau susila adalah pola tindakan
yang didasarkan atas nilai mutlak kebaikan.
Akhlak adalah tingkah laku seseorang yang didorong oleh sesuatu keinginan secara
mendasar untuk melakukan suatu perbuatan. Kemudian, etika adalah suatu ajaran yang
berbicara tentang baik dan buruknya yang menjadi ukuran baik buruknya atau dengan
istilah lain ajaran tentang kebaikan dan keburukan, yang menyangkut peri kehidupan
manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Sedangkan, moral
adalah penentuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan.
Etika dalam Islam dapat dibedakan menjadi lima karakter, yaitu etika dalam
bertingkah laku, etika didasarkan pada Al-Qur‟an dan Hadis, bersifat universal dan dapat
diterima oleh seluruh masyarakat, ajarannya manusiawi, serta etika mengatur dan
meluruskan perbuatan manusia di bawah petunjuk Allah SWT.
Adapun pengertian tasawuf secara umum yaitu suatu upaya yang dilakukan seseorang
untuk mensucikan dirinya dengan cara menjauhkan pengaruh kehidupan yang bersifat
duniawi dan akan memusatkan seluruh perhatiannya kepada Allah SWT.
Tasawuf identik dengan sikap rohani suci yang selalu ingin dekat dengan Tuhan.
Apabila dihubungkan dengan agama Islam khususnya dalam bidang syari‟at, maka harus
meliputi seluruh aspek hidup dan kehidupan manusia, baik melalui hablum minallah,
hablum minannas, maupun hablum minal „alam, mempunyai hubungan yang sangat erat
dan saling mengisi antara satu dengan yang lainnya.
Seorang muslim meyakini kebahagiaannya ada di dunia dan di akhirat sangat
ditentukan oleh sejauh mana pembinaan terhadap dirinya, perbaikan, dan penyucian
dirinya. Selain itu, ia meyakini bahwa kecelakaan dirinya sangat ditentukan oleh sejauh
mana kerusakan dirinya. Muslim meyakini bahwa sesuatu yang bisa membersihkan dirinya,
dan mensucikan ialah iman yang baik dan amal shaleh. Ia juga meyakini, bahwa sesuatu
yang mengotori dirinya, dan merusaknya ialah keburukan kekafiran dan kemaksiatan
15
B. Saran
Hendaknya kita sebagai muslim dapat menerapkan etika, moral, dan akhlak ke dalam
kehidupan sehari-hari sesuai dengan syariat islam. Agar hidup kita aman, tentram, bahagia
di dunia maupun akhirat.
16
DAFTAR PUSTAKA
Alba, Cecep. 2012. Tasawuf dan Tarekat, Dimensi Esoteris Ajaran Islam. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
Amin, Samsul Munir. 2012. Ilmu Tasawuf. Jakarta: Amzah.
Haris, Abd. 2010. Etika Hamka Konstruksi Berbasis Rasional Religius. Yogyakarta: LkiS
Kartanegara, Mulyadi. 2006. Menyelami Lubuk Tasawuf. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Maulina, I. et al. 2019. “Makalah Etika, Moral, dan Akhlak I”. Makalah. https://www.
researchgate.net/publication/335867889_MAKALAH_ETIKA_MORAL_DAN_AKHLAK
. Diakses pada 26 Juni 2021 pukul 14.50 WIB.
Permadi. 2004. Pengantar Ilmu Tasawuf. Jakarta: Rineka Cipta.
Rochmat, Shobirin. 2020. Hubungan Tasawuf Dengan Pendidikan Agama Islam. TIMES
Indonesia.
17
MAKALAH
JENIS-JENIS AKHLAK
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Agama Islam
Dosen Bidang Studi
Hepi Andi Bastoni, MA.
Disusun oleh Kelompok 2 :
Adinda Siti Nuralfi Syahrina
2140127
Bintang Rizki Ramadan
2140139
Indhira Oliffia Prameswari
2140144
Muhammad Grage Aurell Sanu
2140159
Muhammad Satrianur Arfandi
2140155
Nada Diani Khairunnisa
2140161
Rafi’ud Darojat
2140172
Salwa Zahira
2140179
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK AKA BOGOR
PROGRAM STUDI ANALIS KIMIA
2021/2022
KATA PENGANTAR
Segala puji hanya bagi Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Berkat limpahan karunia nikmat-Nya saya dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul “Jenis-Jenis Akhlak” dengan lancar. Penyusunan makalah ini dalam rangka
memenuhi tugas Mata Pelajaran Agama Islam yang diampu oleh Pak Hepi Andi
Bastoni, MA.
Dalam proses penyusunannya tak lepas dari bantuan, arahan dan masukan dari
berbagai pihak. Untuk itu saya ucapkan banyak terima kasih atas segala partisipasinya
dalam menyelesaikan makalah ini.
Meski demikian, penulis menyadari masih banyak sekali kekurangan dan
kekeliruan di dalam penulisan makalah ini, baik dari segi tanda baca, tata bahasa
maupun isi. Sehingga penulis secara terbuka menerima segala kritik dan saran positif
dari pembaca.
Demikian apa yang dapat saya sampaikan. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat untuk masyarakat umumnya, dan untuk saya sendiri khususnya.
Kelompok 2
1
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Rumusan Masalah
Tujuan
3
3
3
3
BAB II PEMBAHASAN
Akhlak Mahmudah
Akhlak Mahmudah Para Nabi dan Rasul
Akhlak Mahmudah Terhadap Manusia
Akhlak Mazmumah
Akhlak Mazmumah Terhadap Allah
Akhlak Madzmumah Terhadap Manusia
Nabi saw orang yang terjaga dari dosa, tapi berapa kali beliau beristighfar?
4
4
8
13
14
14
18
19
BAB III PENUTUP
Kesimpulan
21
21
Saran
DAFTAR PUSTAKA
21
22
2
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Secara historis dan teologis, akhlak dapat memandu perjalanan hidup manusia
agar selamat di dunia dan akhirat. Tidakkah berlebihan bila misi utama kerasulan
Muhammad SAW. adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Sejarah pun
mencatat bahwa faktor pendukung keberhasilan dakwah beliau itu antara lain karena
dukungan akhlaknya yang prima, hingga hal ini dinyatakan oleh Allah dalam
Al-Qur’an kepada umat manusia, khususnya yang beriman kepada Allah diminta agar
akhlak dan keluhuran budi Nabi Muhammad SAW itu dijadikan contoh dalam
kehidupan di berbagai bidang. Mereka yang mematuhi permintaan ini dijamin
keselamatan hidupnya di dunia dan akhirat. Setiap muslim meyakini, bahwa Allah
adalah sumber segala sumber dalam kehidupannya. Allah adalah Pencipta dirinya,
pencipta jagad raya dengan segala isinya, Allah adalah pengatur alam semesta yang
demikian luasnya. Allah adalah pemberi hidayah dan pedoman hidup dalam
kehidupan manusia, dan lain sebagainya. Sehingga manakala hal seperti ini mengakar
dalam diri setiap muslim, maka akan terimplementasikan dalam realita bahwa Allah
lah yang pertama kali harus dijadikan prioritas dalam berakhlak. Jika kita perhatikan,
akhlak terhadap Allah ini merupakan pondasi atau dasar dalam berakhlak terhadap
siapapun yang ada di muka bumi ini. Jika seseorang tidak memiliki akhlak positif
terhadap Allah, maka ia tidak akan mungkin memiliki akhlak positif terhadap
siapapun. Demikian pula sebaliknya, jika ia memiliki akhlak yang karimah terhadap
Allah, maka ini merupakan pintu gerbang untuk menuju kesempurnaan akhlak
terhadap orang lain.
B. Rumusan Masalah
1. Jenis-jenis akhlak
2. Pengertian akhlak mahmudah dan jenisnya
3. Pengertian akhlak mazmumah dan jenisnya
4. Nabi saw orang yang terjaga dari dosa, tapi berapa kali beliau beristighfar?
C. Tujuan
1. Dapat mengetahui jenis-jenis akhlak
2. Dapat mengimplementasikan akhlak mahmudah
3. Dapat menghindari akhlak mazmumah
4. Dapat mengetahui berapa kali Nabi Muhammad SAW beristighfar
3
BAB II PEMBAHASAN
A. Akhlak Mahmudah
Akhlak mahmudah yaitu segala tingkah laku yang terpuji (yang baik) yang
biasa juga dinamakan “fadilah” (kelebihan). Menurut Imam al- Ghazali, akhlak yang
baik adalah yang menurut atau sesuai dengan akal dan syara. Menurut Zulkarnain
dalam “Transformasi Nilai - Nilai Pendidikan Islam” menjelaskan bahwa akhlak
terpuji yaitu akhlak yang senantiasa berada dalam kontrol ilahiyah yang dapat
membawa nilai - nilai positif dan kondusif bagi kemaslahatan umat.
Adapun akhlak yang harus dimiliki oleh seorang kaum muslimin terhadap
Allah SWT, yaitu:
1. Taubat
Secara etimologi taubat merupakan masdar dari ‫ تاب‬- ‫ يتاب‬yang bermakna
kembali. Taubat secara terminologi syariat adalah menyesal dengan sepenuh hati atas
dosa yang telah lalu, memohon ampunan (istighfar) dengan lisan, menghentikan
kemaksiatan dari badan, bertekad untuk tidak mengulangi lagi di masa depan. Secara
Syar’i, taubat adalah meninggalkan dosa karena takut pada Allâh, menganggapnya
buruk, menyesali perbuatan maksiatnya, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya,
dan memperbaiki apa yang mungkin bisa diperbaiki kembali dari amalnya. Sayyidina
‘Ali menuturkan bahwa taubat itu terhimpun dari enam unsur, yaitu:
● Penyesalan terhadap dosa di masa lalu atau melaksanakan hal-hal yang
fardhu (jika taubat dari meninggalkan fardhu),
● Mengembalikan harta benda yang dizalimi pada pemiliknya
● Meminta maaf pada pihak yang dizalimi
● Bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan dosa itu lagi
● Berkomitmen untuk mendidik nafsu dalam ketaatan pada Allah sebagaimana
pernah menggiring nafsu pada kemaksiatan.
Dalam al-Qur’an disebutkan dalam surah An-Nahl ayat 119:
‫ك ِم ۢ ْن‬
َ َّ‫ك َواَصْ لَح ُْٓوا اِ َّن َرب‬
َ ِ‫ك لِلَّ ِذي َْن َع ِملُوا الس ۤ ُّْو َء بِ َجهَالَ ٍة ثُ َّم تَاب ُْوا ِم ۢ ْن بَ ْع ِد ٰذل‬
َ َّ‫ثُ َّم اِ َّن َرب‬
١١٩ - ࣖ ‫َّح ْي ٌم‬
ِ ‫بَ ْع ِدهَا لَ َغفُ ْو ٌر ر‬
4
“Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) orang yang mengerjakan
kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertobat setelah itu dan
memperbaiki (dirinya), sungguh, Tuhanmu setelah itu benar-benar Maha Pengampun,
Maha Penyayang”.
2. Syukur
Syukur berasal dari bahasa arab dengan kata dasar “syakara” yang artinya
berterima kasih. Secara bahasa syukur adalah pujian kepada yang telah berbuat baik
atas apa yang dilakukan kepadanya. Syukur adalah kebalikan dari kufur. Hakikat
syukur adalah menampakkan nikmat, sedangkan hakikat kekufuran adalah
menyembunyikannya. Syukur kepada Allah adalah memuji Allah atas nikmat dengan
mengakui dalam hati, memuji dengan lisan, serta memanfaatkan nikmat untuk
beribadah dan bukan untuk bermaksiat. Dalam al-Qur’an disebutkan dalam surah An
Naml Ayat 40:
‫ك فَلَ َّما َر ٰاهُ ُم ْستَقِ ًّرا‬
َ ۗ ُ‫ك طَرْ ف‬
َ ‫ك بِ ٖه قَ ْب َل اَ ْن يَّرْ تَ َّد اِلَ ْي‬
َ ‫ب اَنَ ۠ا ٰاتِ ْي‬
ِ ‫قَا َل الَّ ِذيْ ِع ْن َد ٗه ِع ْل ٌم ِّم َن ْال ِك ٰت‬
‫ِع ْن َد ٗه قَا َل ٰه َذا ِم ْن فَضْ ِل َرب ۗ ِّْي لِيَ ْبلُ َونِ ْٓي َءاَ ْش ُك ُر اَ ْم اَ ْكفُ ۗ ُر َو َم ْن َش َك َر فَاِنَّ َما يَ ْش ُك ُر لِنَ ْف ِس ٖ ۚه‬
٤٠ - ‫َو َم ْن َكفَ َر فَاِ َّن َرب ِّْي َغنِ ٌّي َك ِر ْي ٌم‬
“Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa
singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat
singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku
untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan
barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan)
dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha
Kaya lagi Maha Mulia.""
3. Ikhlas
Secara etimologi makna ikhlas adalah jujur, tulus dan rela. Dalam bahasa
Arab, kata ikhlas merupakan bentuk mashdar dari “akhlasa” berasal dari akar kata
“khalasha”. Kata khalasha mengandung beberapa makna sesuai dengan konteks
kalimatnya. Ia biasa berarti shafaa (jernih), najaa wa salima (selamat), washala
(sampai) dan I’tazala (memisahkan diri). Atau berarti perbaikan dan pembersihan
sesuatu. Ikhlas adalah menyengajakan suatu perbuatan karena Allah SWT dan
5
mengharapkan ridha-Nya serta memurnikan dari segala macam kotoran dan godaan
seperti keinginan terhadap popularitas, simpati orang lain, kemewahan, kedudukan,
harta, pemuasan hawa nafsu dan penyakit hati lainnya. Dalam al-Qur’an disebutkan
dalam surah Al-An'am Ayat 162:
‫ي َو َم َماتِ ْي هّٰلِل ِ َربِّ ْال ٰعلَ ِمي ۙ َْن‬
َ ‫صاَل تِ ْي َونُ ُس ِك ْي َو َمحْ يَا‬
َ ‫قُلْ اِ َّن‬
“Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku
hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.”
4. Sabar
Sabar, yang menurut Al-Naisaburi Al-Qusyairi artinya menjauhkan diri dari
hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Allah, tetap tenang ketika mendapatkan
cobaan, dan menampakkan sikap cukup walaupun sebenarnya berada dalam kefakiran
dalam bidang ekonomi. Quraish Shihab, dalam Tafsir Al-Mishbah, menjelaskan
bahwa sabar artinya menahan diri dari sesuatu yang tidak berkenan di hati. Ia juga
berarti ketabahan. Selain itu, ia menjelaskan bahwa kesabaran secara umum dibagi
menjadi dua. Pertama, sabar jasmani yaitu kesabaran dalam menerima dan
melaksanakan perintah-perintah keagamaan yang melibatkan anggota tubuh seperti
sabar dalam menunaikan ibadah haji yang menyebabkan keletihan. Termasuk pula,
sabar dalam menerima cobaan jasmaniyah seperti penyakit, penganiayaan dan
sebagainya. Kedua, sabar rohani menyangkut kemampuan menahan kehendak nafsu
yang dapat mengantar kepada kejelekan semisal sabar dalam menahan marah, atau
menahan nafsu seksual yang bukan pada tempatnya. Dalam al-Qur’an disebutkan
dalam surah Al-Baqarah Ayat 45:
۟ ُ‫َوٱ ْستَ ِعين‬
َّ ‫صب ِْر َوٱل‬
َّ ‫وا بِٱل‬
‫ين‬
َ ‫صلَ ٰو ِة ۚ َوِإنَّهَا لَ َكبِي َرةٌ ِإاَّل َعلَى ْٱل ٰ َخ ِش ِع‬
" Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian
itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu."
5. Tawakal
Dalam pengertian yang sederhana, tawakal artinya “mewakilkan”, sedangkan
secara lebih luas, tawakal artinya menyerahkan segala permasalahan kepada Allah
swt. Dengan sepenuh hati dan berpegang teguh kepada-Nya serta tetap berusaha
semaksimal mungkin sehingga tidak merasa sedih dan kecewa terhadap apapun
6
keputusan
yang
diberikan-Nya.
Menurut
Imam
al-Ghazali Tawakal
ialah
menyandarkan kepada Allah swt tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar
kepada-Nya dalam waktu kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa
yang tenang dan hati yang tenteram. Dalam al-Qur’an disebutkan dalam surah
Ath-Thalaq ayat 3:
ُ‫َو َم ْن يَتَ َو َّكلْ َعلَى هَّللا ِ فَهُ َو َح ْسبُه‬
“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan
(keperluan)nya.”
6. Zuhud
Secara etimologis, zuhud berarti ragaba ‘an syai’in wa tarakahu, artinya tidak
tertarik terhadap sesuatu dan meninggalkannya. Sedangkan Zahada fi al-dunya,
berarti mengosongkan diri dari kesenangan dunia untuk hal ibadah. Orang yang
melakukan zuhud disebut zahid, zuhhad atau zahidun. Zuhud secara terminologis,
maka tidak bisa dilepaskan dari dua hal. Pertama, zuhud sebagai ajaran tasawuf.
Kedua, zuhud sebagai moral (akhlak) Islam. Zuhud sebagai ajaran tasawuf adalah
adanya kesadaran dan komunikasi langsung antara manusia dengan Tuhan sebagai
perwujudan ihsan dan merupakan suatu tahapan (maqam) menuju ma’rifat kepada
Allah SWT. Kemudian, zuhud sebagai akhlak Islam yaitu sikap hidup yang
seharusnya dilakukan oleh seorang muslim dalam memahami dan menyikapi urusan
dunia. Imam al-Ghazali mengartikan zuhud adalah sebagai maqam orang orang yang
menempuh jalan akhirat. Orang tersebut tidak tertarik dengan sifat duniawi, dan lebih
tertarik dengan kepentingan akhirat. Dalam al-Qur’an disebutkan dalam surah
Al-Hadid ayat 20:
‫ال َواَْأل ْوالَ ِد‬
ِ ‫ا ْعلَ ُموا َأنَّ َما ْال َحيَاةُ ال ُّد ْنيَا لَ ِعبُُ َولَ ْه ُُو َو ِزينَةٌ َوتَفَا ُخ ُُر بَ ْينَ ُك ْم َوتَ َكاثُ ُُر فِي اَْأل ْم َو‬
ُ ‫ب ْال ُكفَّا َر نَبَاتُهُ ثُ َّم يَ ِهي ُج فَتَ َراهُ ُمصْ فَ ًّرا ثُ َّم يَ ُك‬
‫ون ُحطَا ًما َوفِي اَْأل ِخ َر ِة‬
ٍ ‫َك َمثَ ِل َغ ْي‬
َ ‫ث َأ ْع َج‬
ُُ ‫َع َذابُُ َش ِدي ُُد َو َم ْغفِ َرةٌ ِّم َن هللاِ َورضْ َو‬
ْ ‫ان َو َم‬
ُ ‫اال َحيَاةُ ال ُّد ْنيَآ ِإالَّ َمتَا‬
‫ُور‬
ِ
ِ ‫ع ْال ُغر‬
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan, sesuatu yang
melalaikan, perhiasan, ajang berbangga-banggaan di antara kamu dan ajang
berbanyak-banyakan dalam harta dan anak. Laksana hujan yang tanam-tanamannya
membuat kagum para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering, dan kamu lihat
7
warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada azab yang keras
dan ada ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain
hanyalah kesenangan yang menipu.”
7. Wara
Wara’ berasal dari bahasa arab yang memiliki arti shaleh atau menjauhkan diri
dari perbuatan dosa. Dalam kamus munawir wara’ artinya menjauhkan diri dari dosa,
maksiat dan perkara syubhat. Dalam istilah wara’ adalah menjauhi perkara yang
syubhat karena takut terjatuh dalam perkara yang haram. syubhat dibagi menjadi tiga
macam, yaitu:
● Sesuatu yang asalnya haram kemudian timbul keraguan mengenai sebab
kehalalannya.
● Sesuatu yang asalnya halal kemudian timbul keraguan mengenai sebab
keharamannya.
● Sesuatu yang tidak jelas asalnya.
Ibnul Qayyim berkata bahwa Nabi SAW telah merangkum pengertian wara’ dalam
satu kalimat di sebuah hadis yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi yaitu :
‫ِم ْن ُحس ِْن ِإ ْسالَ ِم ْال َمرْ ِء تَرْ ُكهُ َما الَ يَ ْعنِ ْي ِه‬
Artinya : “Dari baiknya keislaman seseorang itu adalah meninggalkan apa yang bukan
urusannya (dikuasainya).” (HR. at-Tirmidzi).
B. Akhlak Mahmudah Para Nabi dan Rasul
1. Teladan dari Nabi Nuh AS.
Nabi Nuh adalah salah satu Nabi yang masuk dalam golongan Ulul Azmi,
artinya memiliki ketegaran. Sifat terpuji Nabi Nuh merupakan sifat-sifat yang patut
dimiliki oleh seorang nabi, yaitu fasih dan tegas dalam kata-katanya, bijaksana, dan
sabar dalam segala tindakannya ketika melaksanakan tugas dari Allah. Beliau penuh
kesabaran dan kebijaksanaan dengan cara yang lemah lembut mengetuk hati nurani,
tapi juga tegas dengan kata-kata yang tajam menghadapi pembesar-pembesar
kaumnya yang keras kepala.
8
Selama berdakwah, Nabi Nuh menerima banyak tantangan dan penolakan.
Dakwah tauhid Nabi Nuh banyak ditentang oleh kaumnya. Namun, beliau tetap
berjuang untuk mengajak kaumnya untuk menyembah Allah SWT. bukan patung
berhala walaupun hanya sedikit saja kaumnya yang mengikuti jejaknya. Selama 950
tahun, Nabi Nuh tetap bersabar dalam menyebarkan dakwahnya. Beliau telah
berdakwah siang dan malam secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, beliau
terus berdakwah tanpa merasa bosan dan penat, menghadapi tulinya telinga dan
kerasnya hati mereka. Allah lalu mewahyukan pada beliau :
ٰ
‫ك اِاَّل َم ْن قَ ْد ٰا َم َن فَاَل تَ ْبتَ ِٕىسْ بِ َما َكانُ ْوا يَ ْف َعلُ ْو ۖ َن‬
َ ‫ح اَنَّهٗ لَ ْن يُّْؤ ِم َن ِم ْن قَ ْو ِم‬
ٍ ‫َواُ ْو ِح َي اِلى نُ ْو‬
"Diwahyukan kepada Nuh, 'Ketahuilah, tidak akan beriman di antara kaummu,
kecuali orang yang benar-benar beriman (saja), sebab itu janganlah engkau bersedih
hati tentang apa yang mereka perbuat," [QS. Hud (11) : 36].
2. Teladan dari Nabi Ibrahim AS.
Nabi Ibrahim merupakan salah satu Nabi yang kisahnya banyak diceritakan
dalam Al-Qur’an. Ada tiga sifat Nabi Ibrahim yang bisa kita tiru. Terlebih bagi orang
yang ditimpa musibah dan mengharap jalan keluar dari Allah, termasuk juga bagi
yang berharap memiliki keturunan namun tak kunjung diberi, seperti kisah Nabi
Ibrahim. Nabi Ibrahim begitu menanti memiliki seorang anak. Ketika malaikat datang
kepadanya untuk mengabarkan akan kelahiran putranya, Ishaq, ia begitu kaget. Begitu
pula dengan istrinya, karena istrinya sudah divonis mandul sedangkan Nabi Ibrahim
pun sudah tua. Allah lantas menyifati Ibrahim dengan tiga sifat sebagaimana
disebutkan dalam ayat berikut :
ٌ‫ِإ َّن ِإ ْب َرا ِهي َم لَ َحلِي ٌم َأ َّواهٌ ُمنِيب‬
“Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi pengiba dan
suka kembali kepada Allah.” [QS. Hud (11) : 75].
Sifat Nabi Ibrahim yang dimaksud dalam ayat tersebut dan patut ditiru adalah :
1. Beliau sangat berakhlak mulia dan begitu berlapang dada. Beliau tidak marah
ketika menghadapi orang-orang yang tidak tahu, bahkan beliau ingin agar
hukuman yang menimpa suatu kaum bisa ditunda (Kaum Luth).
2. Beliau begitu sangat tunduk pada Rabbnya dengan tak pernah putus dalam
beribadah dan berdo’a.
9
3. Beliau juga seorang hamba yang terus ingin bertaubat kepada Allah dengan
mengenal dan mencintai Allah serta berpaling dari selain Allah.
3. Teladan Nabi Musa AS.
Kisah-kisah di dalam Al-Qur'an mempunyai tujuan pendidikan, yaitu
membentuk individu-individu atau masyarakat manusia dengan nilai keislaman. Salah
satunya, kisah Nabi Musa yang dapat dijadikan teladan. Misalnya, sikap
kepemimpinan, kesabaran, tegas, tanggung jawab serta kejujuran yang dapat diambil
nilai-nilainya berdasarkan dialog dalam kisah Nabi Musa AS yang termaktub pada
Al-Qur'an. Selain itu, dalam kisah Nabi Musa AS terdapat banyak ayat-ayat yang
mengandung nilai pendidikan keimanan, yang menjelaskan tentang sifat-sifat
kesempurnaan Allah SWT, sebagai Tuhan Semesta Alam.
4. Teladan Nabi Isa AS.
Berkenaan dengan sebagian keutamaan akhlak dan ucapan Nabi Isa a.s. terdapat
banyak riwayat yang dinukil melalui jalur Ahlul Bait a.s., di antaranya dapat kita
sebutkan sebagai berikut:
1)
Zuhud
Tentang kezuhudan Nabi Isa a.s. ini, Imam Ali a.s. dalam Nahjul Balaghah berkata,
“Isa putra Maryam a.s. menggunakan sebongkah batu untuk bantalnya, memakai
pakaian kasar dan memakan makanan kasar, bumbunya adalah lapar, lampunya di
malam hari adalah bulan, tempat berteduhnya di musim dingin hanyalah hamparan
bumi timur dan barat, buah-buahan dan bunga-bunganya hanyalah yang tumbuh dari
bumi bagi ternak. Ia tidak mempunyai istri untuk menggodanya dan tidak pula putra
untuk memberikan kepedihan kepadanya. Tidak ada kekayaan untuk memalingkan
(perhatiannya) dan tidak ada keserakahan untuk menghinakannya. Kedua kakinya
adalah kendaraannya dan kedua tangannya adalah pelayannya.
2)
Seimbang dalam ‘takut dan berharap’
Salah satu sifat yang harus dimiliki oleh seorang mukmin adalah rasa takut terhadap
azab Ilahi dan mengharapkan rahmat Allah. Sebagian hamba Allah yang mukhlis
senantiasa merasa takut karena keimanan penuh mereka terhadap neraka dan azab
Ilahi, namun di antara mereka tedapat orang-orang yang lebih tinggi kedudukannya,
yaitu orang-orang yang seimbang dalam rasa takut dan harapan.
10
3)
Berkhidmat kepada makhluk
Dalam hal ini diriwayatkan bahwa dalam suatu perjalanan ketika Nabi Isa a.s.
bersama hawariyun sampai di pantai, beliau melemparkan sepotong roti ke laut. Salah
seorang sahabat bertanya kepada beliau, “Wahai Ruhullah! Kenapa Anda berbuat
demikian? Roti tersebut adalah makanan Anda.” “Potongan roti itu aku lemparkan ke
laut untuk santapan salah satu binatang laut. Pahala perbuatan tersebut sangat besar,”
jawab Nabi Isa a.s
4)
Mengetahui dampak sifat tercela
Para nabi utusan Allah swt. bertugas memberikan petunjuk kepada umat manusia.
Salah satu tugas mereka adalah menjelaskan dampak negatif dari sifat tercela dan
perbuatan buruk. Berkenaan dengan hal ini, sebuah riwayat dinukil dari Nabi Isa a.s.,
“Barangsiapa banyak bersedih, badannya akan sakit, barangsiapa akhlaknya buruk, ia
menyiksa diri sendiri, barangsiapa banyak berbicara, kesalahannya akan banyak,
barangsiapa banyak berdusta, tidak akan nilai, dan barangsiapa yang suka cekcok,
kewibawaannya akan lenyap.”
5)
Mengenal hakikat dunia
Kebanyakan manusia hanya melihat lahiriah dunia saja dan melalaikan hakikatnya.
Nabi Isa a.s. menjelaskan batin (hakikat) dunia kepada hawariyun tentang dunia,
“Dunia adalah jembatan, maka jadikanlah tempat berlalu, bukan tempat tinggal tetap
yang harus dimakmurkan.”[6]
6)
Mengenal karakter sahabat
Salah satu faktor yang berpengaruh besar terhadap seseorang adalah keberadaan
orang-orang yang bergaul dengannya. Ketika hawariyun bertanya kepada beliau,
“Dengan siapa kita harus bergaul?” Nabi Isa a.s. menjawab, “Bergaullah dengan
orang yang bila kalian melihatnya akan mengingatkan kepada Tuhan, pembicaraannya
akan menambah ilmu kalian dan perbuatannya akan mendorong kalian beramal untuk
akhirat.”
7)
Tentang banyak bicara
Ulama senantiasa memberikan dampak negatif dari banyak bicara. Dalam hal ini,
Imam Ja’far Shadiq a.s. berkata, “Nabi Isa a.s. selalu berkata, “Jangan berbicara selain
untuk mengingat Allah swt. Orang-orang yang banyak berbicara, hati mereka akan
mengeras, namun mereka tidak sadar.”
11
5. Teladan dari Nabi Muhammad SAW.
Rasulullah adalah sosok yang sangat penyayang. Kepada putra-putrinya
Rasulullah tidak segan dalam menunjukkan cinta kasihnya, Pun kepada
cucu-cucunya. Hasan dan Husein. Pernah suatu hari Rasulullah menjadi imam shalat.
Saat itu para makmum heran karena sujud beliau jauh lebih lama daripada biasanya.
Mereka mengira tengah terjadi sesuatu kepada Rasulullah , ternyata alasan beliau
tidak segera menyudahi sujudnya itu karena keberadaan salah satu cucunya di
punggung Rasulullah. Beliau tidak menurunkan atau menyingkirkannya, tapi justru
membiarkan sang cucu mau turun sendiri.
Akhlak mulia lain yang dimiliki Rasulullah, di antaranya adalah beliau
bukanlah sosok yang tamak. Kita pasti mengetahui bahwa Rasulullah menikah dengan
Khadijah, saudagar yang kaya raya pada masa itu. Di mana harta itu kemudian
Khadijah berikan pada Rasulullah untuk dikelola. Akan tetapi meski sudah menjadi
sosok yang kaya. Rasulullah tetap rajin dan tekun bekerja. Beliau mengelola harta
khadijah dengan sebaik-baiknya hingga berkembang pesat. Beliau tidak pernah
menggunakan harta itu untuk berfoya-foya atau melakukan hal yang merugikan
Rasulullah juga memiliki jiwa penolong yang tinggi. Ketika beliau melihat
orang lain kesulitan, Rasulullah akan cepat-cepat membantunya. Diceritakan, suatu
hari Rasulullah pergi ke pasar dengan membawa delapan dirham. Tiba-tiba di sudut
pasar beliau melihat seorang wanita sedang menangis, karena kehilangan uang. Maka
tanpa segan Rasulullah pun memberikan dua dirham uangnya untuk menolong wanita
tersebut.Selain beberapa sikap yang sudah dipaparkan, tentu saja masih banyak akhlak
mulia Rasulullah yang patut kita teladani. Seperti akhkal Rasulullah yang selalu
pemaaf, selalu sabar dalam berdakwah, selalu bersikap adil dan lain sebagainya.
Dikutip dalam buku "Keagungan Mukjizat Nabi Muhammad" oleh Syaikh
Said Abdul Azhim disebutkan bahwa sifat-sifat Nabi Muhammad SAW, antara lain
yaitu:
1) Dia sangat elok,
12
2) Dia sebagai manusia paling mulia,
3) Kata-kata yang lembut dan fasih selalu menghiasi bibirnya,
4) Dia diberkati oleh Allah SWT selama-lamanya,
5) Mengikatkan pedang pada pinggangnya,
6) Tubuhnya sangat kuat,
7) Benar, jujur dan amanah,
8) Tangan kanannya yang menakjubkan,
9) jatuhnya bangsa-bangsa di bawah kekuasaannya,
10) Sangat menyenangi kebaikan dan membenci kefasikan,
11) Di antara keturunannya menjadi pemimpin bangsa-bangsa,
12) Namanya selalu disebut-sebut untuk seterusnya dan selamanya,
13) Bangsa-bangsa selalu memujinya untuk selama-lamanya.
C. Akhlak Mahmudah Terhadap Manusia
1. Husnuzhan
Husnuzan adalah salah satu perilaku mulia, yakni berbaik sangka. Sikap ini
merupakan cara pandang seseorang melihat sesuatu secara positif sehingga hati dan
pikirannya bersih dari prasangka yang belum tentu kebenarannya. Husnuzan kepada
sesama adalah sifat terpuji yang harus diterapkan dengan lahir dan batin, ucapan dan
sikap, agar apa yang kita jalani selalu diridhoi oleh Allah. Karena sikap suudzon itu
ibarat “manusia yang memakan daging manusia yang sudah meninggal”.Sebagaimana
firman Allah : [QS. Al-Hujurat (49) : 12]
2. Dermawan
Sifat dermawan adalah akhlak terpuji dan sangat mulia. Orang yang dermawan
ialah orang yang senantiasa mencurahkan kebaikan kepada siapa pun yang
membutuhkan uluran tangannya tanpa ada niat untuk mencari atau mendapatkan
sesuatu apapun dari manusia, bahkan tidak berharap sekalipun untuk mendapatkan
ucapan terima kasih dari orang yang telah ditolongnya. Allah SWT. berfirman : [QS.
Al-Insan (76) : 8-9]
13
3. Tawadhu
Salah satu akhlak terpuji yang diajarkan di dalam Islam dan harus dimiliki
adalah tawadhu. Tawadhu adalah bentuk sikap rendah hati, namun tanpa merasa
dirinya hina dan rendah. Orang yang bertawadhu menyadari bahwa dirinya adalah
manusia biasa sekalipun ia memiliki kelebihan.
D. Akhlak Mazmumah
Akhlak Mazmumah adalah segala bentuk perbuatan yang dapat mendatangkan
kemudharatan bagi diri sendiri dan orang lain, serta membahayakan iman dan dapat
mendatangkan dosa. Selain menjaga akhlak mahmudah, seorang muslim juga harus
menghindari akhlak mazmumah (akhlak tercela). Akhlak mazmumah meliputi
meliputi tergesa-gesa, riya (melakukan sesuatu dengan tujuan ingin menunjukkan
kepada orang lain), dengki, takabur (membesarkan diri), ujub (kagum dengan diri
sendiri), bakhil (menahan apa yang seharusnya tidak ditahan), buruk sangka, tamak,
pemarah, dan akhlak tercela lainnya. Akhlak mazmumah terbagi menjadi dua, yaitu
Akhlak Madzmumah terhadap Allah SWT dan Akhlak Madzmumah terhadap
manusia.
E. Akhlak Mazmumah Terhadap Allah
1. Syirik
Kebanyakkan manusia di dunia ini bertuhan lebih dari satu. Al-Qur’an
menamakan mereka ini musyrik, yaitu orang yang syirik. Kata syirik ini berasal dari
"syaraka" yang berarti mencampurkan dua atau lebih benda, hal yang tidak sama
seolah-olah sama. Syirik dalam arti mempersekutukan Tuhan dengan menjadikan
sesuatu, sebagai objek pemujaan, dan atau tempat menggantungkan harapan dan
dambaan termasuk dalam kategori kufr. Sebagaimana Firman Allah SWT yang
berbunyi: [Qs. an-Nisa (4) : 48]
2. Takabur
Takabur adalah salah satu sifat yang dibenci oleh Allah SWT. Secara bahasa,
takabur berasal dari kata kabura yang berarti besar. Hal ini dapat diartikan jika orang
yang takabur adalah orang yang merasa dirinya besar atau lebih dari segala-galanya
dari orang lain. Sifat takabur sangat dibenci dalam Islam karena, membuat seseorang
berkeinginan untuk terus menampakkan dirinya di hadapan orang lain sebagai orang
14
yang paling hebat dibandingkan lainnya dan memandang derajat orang lebih rendah.
Allah SWT pernah berfirman: [Q.S Luqman (31): 18].
3. Ujub
Dalam Islam, sifat ujub adalah sifat yang senang membanggakan diri sendiri.
Sifat ini termasuk sifat tercela dan merupakan penyakit hati yang harus dihindari oleh
umat Islam. Sebab, ujub dapat memunculkan sifat riya dan sombong. Imam Al
Ghazali menyebutkan, ujub adalah kecintaan seseorang akan suatu karunia yang
merasa hanya dirinya yang memiliki tersebut, serta melupakan bahwa karunia tersebut
adalah pemberian Allah SWT. Allah SWT. berfirman : [Ali-Imran (3) : 109]
4. Nifaq
Munāfiq atau Munafik adalah terminologi dalam Islam untuk merujuk pada
mereka yang berpura-pura mengikuti ajaran agama namun sebenarnya tidak mengakui
dalam hatinya. Munafik adalah orang yang nifaq. Nifaq menurut syara’ (terminologi)
berarti menampakkan keislaman dan kebaikan tetapi menyembunyikan kekufuran dan
kejahatan. Dinamakan demikian karena dia masuk pada syariat dari satu pintu dan
keluar dari pintu yang lain. Karena itu Allah memperingatkan dengan firman-Nya:
‫ون‬
َ ُ‫اسق‬
َ ِ‫ِإ َّن ْال ُمنَافِق‬
ِ َ‫ين هُ ُم ْالف‬
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu mereka adalah orang-orang yang fasik.”
[At-Taubah: 67]
Yaitu mereka adalah orang-orang yang keluar dari syari’at. Menurut al-Hafizh
Ibnu Katsir mereka adalah orang-orang yang keluar dari jalan kebenaran masuk ke
jalan kesesatan. Allah menjadikan orang-orang munafik lebih jelek dari orang-orang
kafir. Allah berfirman:
‫صيرًا‬
َ ِ‫ِإ َّن ْال ُمنَافِق‬
ِ َ‫ار َولَن تَ ِج َد لَهُ ْم ن‬
ِ َّ‫ين فِي ال َّدرْ ِك اَأْل ْسفَ ِل ِم َن الن‬
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling
bawah dari Neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun
bagi mereka.” [An-Nisa’: 145]
a. Jenis Nifaq
● Nifaq I’tiqadi (Keyakinan)
15
Yaitu nifaq besar, di mana pelakunya menampakkan keislaman,
tetapi menyembunyikan kekufuran. Jenis nifaq ini menjadikan pelakunya
keluar dari agama dan dia berada di dalam kerak Neraka. Allah menyifati
para pelaku nifaq ini dengan berbagai kejahatan, seperti kekufuran,
ketiadaan iman, mengolok-olok dan mencela agama dan pemeluknya serta
kecenderungan kepada musuh-musuh untuk bergabung dengan mereka
dalam memusuhi Islam. Nifaq jenis ini ada empat macam, yaitu:
1) Mendustakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau
mendustakan sebagian dari apa yang beliau bawa.
2) Membenci Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau membenci
sebagian apa yang beliau bawa.
3) Merasa gembira dengan kemunduran agama Islam.
4) Tidak senang dengan kemenangan Islam.
● Nifaq ‘Amali (Perbuatan)
Yaitu melakukan sesuatu yang merupakan perbuatan orang-orang
munafik, tetapi masih tetap ada iman di dalam hati. Nifaq jenis ini tidak
mengeluarkannya dari agama, tetapi merupakan wasilah (perantara) kepada
yang demikian. Pelakunya berada dalam iman dan nifaq. Lalu jika
perbuatan nifaqnya banyak, maka akan bisa menjadi sebab terjerumusnya
dia ke dalam nifaq sesungguhnya, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam:
ْ َ‫ َو َم ْن َكان‬،‫ان ُمنَافِقا ً َخالِصًا‬
‫ت فِ ْي ِه خَصْ لَةٌ ِم ْنه َُّن‬
َ ‫َأرْ بَ ٌع َم ْن ُك َّن فِ ْي ِه َك‬
ْ َ‫َكان‬
َ ‫ َوِإ َذا َح َّد‬،‫ان‬
،‫ب‬
َ ‫ ِإ َذا اْؤ تُ ِم َن َخ‬،‫اق َحتَّى يَ َد َعهَا‬
َ ‫ث َك َذ‬
ِ َ‫ت فِ ْي ِه خَصْ لَةٌ ِم َن النِّف‬
‫ص َم فَ َج َر‬
َ ‫ َوِإ َذا َخا‬،‫َوِإ َذا َعاهَ َد َغ َد َر‬
“Ada empat hal yang jika terdapat pada diri seseorang, maka ia menjadi
seorang munafik sejati, dan jika terdapat padanya salah satu dari sifat
tersebut, maka ia memiliki satu karakter kemunafikan hingga ia
meninggalkannya: 1) jika dipercaya ia berkhianat, 2) jika berbicara ia
berdusta, 3) jika berjanji dia memungkiri, dan 4) jika bertengkar ia
melewati batas.”
16
b. Perbedaan Nifaq besar dan Nifaq kecil
● Nifaq besar mengeluarkan pelakunya dari agama, sedangkan nifaq kecil
tidak mengeluarkannya dari agama.
● Nifaq besar adalah berbedanya yang lahir dengan yang batin dalam hal
keyakinan, sedangkan nifaq kecil adalah berbedanya yang lahir dengan
yang batin dalam hal perbuatan bukan dalam hal keyakinan.
● Nifaq besar tidak terjadi dari seorang Mukmin, sedangkan nifaq kecil
bisa terjadi dari seorang Mukmin.
● Pada umumnya, pelaku nifaq besar tidak bertaubat, seandainya pun
bertaubat, maka ada perbedaan pendapat tentang diterimanya taubatnya
di hadapan hakim. Lain halnya dengan nifaq kecil, pelakunya terkadang
bertaubat kepada Allah, sehingga Allah menerima taubatnya. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
‫ُون‬
ُ
َ ‫ي فَهُ ْم اَل يَرْ ِجع‬
ٌ ‫ص ٌّم بُ ْك ٌم ُع ْم‬
“Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan
yang benar).” [Al-Baqarah: 18]
Juga firman-Nya:
‫ُون‬
َ ‫ُون َواَل هُ ْم يَ َّذ َّكر‬
َ ‫ون فِي ُكلِّ َع ٍام َّم َّرةً َأ ْو َم َّرتَي ِْن ثُ َّم اَل يَتُوب‬
َ ُ‫َأ َواَل يَ َر ْو َن َأنَّهُ ْم يُ ْفتَن‬
“Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka
diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat
dan tidak (pula) mengambil pelajaran” [At-Taubah: 126]
5. Hasad
Kata hasad berasal dari bahasa Arab yang artinya adalah iri hati, atau dengki.
Iri dengki adalah sebuah emosi yang timbul karena merasa kurang senang, kurang
bersyukur dengan apa yang dimilikinya dan cemburu dengan apa yang didapatkan
atau dimiliki oleh orang lain karena dianggap hal tersebut lebih dari apa yang
dimilikinya. Iri dengki merupakan sebuah sifat yang termasuk kedalam salah satu
penyakit hati menurut Islam. Dalam sebuah ayat, Allah SWT berfirman :
17
َّ َ‫َواَل تَتَ َمنَّ ْوا َما ف‬
ۖ ‫صيبٌ ِم َّما ا ْكتَ َسبُوا‬
َ ‫ض َل هَّللا ُ بِ ِه بَ ْع‬
ِ َ‫ال ن‬
ِ ‫ْض ۚ لِلرِّ َج‬
ٍ ‫ض ُك ْم َعلَ ٰى بَع‬
ِّ‫ان بِ ُكل‬
َ ‫صيبٌ ِم َّما ا ْكتَ َسب َْن ۚ َوا ْسَألُوا هَّللا َ ِم ْن فَضْ لِ ِه ۗ ِإ َّن هَّللا َ َك‬
ِ َ‫َولِلنِّ َسا ِء ن‬
‫َش ْي ٍء َعلِي ً‍م‍ا‬
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada
sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang
laki-laki ada bagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun)
ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian
dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [QS.
An-Nisa (4) : 32]
6. Cinta dunia
Salah satu hal yang paling dirisaukan oleh Rasulullah SAW adalah ketika
umat Islam sudah terjebak ke dalam cinta berlebih-lebihan kepada dunia. Dalam
kamus Islam, kondisi ini dikenal dengan istilah hubbud dunya atau gila dunia. Ketika
seseorang menjadikan dunia ini sebagai tujuan, maka cintanya kepada dunia akan
melebihi cintanya kepada Allah. Dia bakal lalai mengingat Allah. Padahal, dalam
prinsip aqidah Mukmin, dunia ini bukanlah tujuan. Melainkan hanya alat untuk
mencapai kebahagiaan di akhirat kelak. Dalam Alquran Allah SWT berfirman :
‫ك ِم َن ال ُّد ْنيَا ۖ َوَأحْ ِس ْن‬
َ َ‫صيب‬
َ ‫َوا ْبتَ ِغ فِي َما آتَا‬
َ ‫ك هَّللا ُ ال َّدا َر اآْل ِخ َرةَ ۖ َواَل تَ ْن‬
ِ َ‫س ن‬
ُّ‫ض ۖ ِإ َّن هَّللا َ اَل ي ُِحب‬
َ ‫َك َما َأحْ َس َن هَّللا ُ ِإلَ ْي‬
ِ ْ‫ك ۖ َواَل تَب ِْغ ْالفَ َسا َد فِي اَأْلر‬
‫ين‬
َ ‫ْال ُم ْف ِس ِد‬
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan)
negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan)
duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat
baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” [QS
al-Qashash (28) : 77]
F. Akhlak Madzmumah Terhadap Manusia
1. Mudah marah (Al-Ghadhab) : Yaitu kondisi emosi yang tidak bisa terkontrol yang
mengakibatkan perilaku yang tidak menyenangkan orang lain.
18
2. Iri Hati atau dengki (Al-Hasadu) : Yaitu sikap seseorang yang ingin menghilangkan
kebahagian / kenikmatan orang lain dan rasa ingin menggagalkan kebaikan orang lain
karena berhasil menjadi lebih baik dan sukses.
3. Mengumpat (Al-Ghiiba) : Yaitu perilaku seseorang yang menghasut orang lain untuk
tidak suka kepada seseorang dan membicarakan keburukannya.
4. Berbuat aniaya (Al-Zhulmu) : Yaitu perbuatan yang akan merugikan orang lain baik
materi maupun non-materi. Dan sebagian mengatakan, seseorang yang mengambil
hak orang lain.
5. Kikir (Al-bukhlu) : Yaitu sikap seseorang yang tidak mau membantu orang lain, baik
dalam hal jasa maupun materi.
G. Nabi saw orang yang terjaga dari dosa, tapi berapa kali beliau beristighfar?
-
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Demi
Allah, sesungguhnya aku beristighfar (meminta ampunan) dan bertobat kepada Allah
dalam satu hari lebih dari tujuh puluh kali.” (H.R. Al-Bukhari)
-
Di dalam riwayat lain disebutkan tidak hanya 70, tetapi 100 kali dalam sehari Nabi
saw. membaca istighfar.
‫ « إنه‬: ‫ أن رسول هللا صلى هللا عليه وسلم قال‬: ‫عن األغر المزني رضي هللا عنه‬
‫ رواه مسلم‬. » ‫ وإني ألستغفر هللا في اليوم مائة مرة‬، ‫ليغان على قلبي‬.
Dari
Al-Aghar
Al-Muzanni
r.a.
bahwasannya
Rasulullah
saw.
bersabda,
“Sesungguhnya hatiku tidak pernah lalai dari dzikir kepada Allah, sesungguhnya Aku
beristighfar seratus kali dalam sehari.” (H.R. Muslim)
-
Adapun salah satu bacaan istighfar yang diucapkan Nabi saw. adalah sebagaimana di
dalam hadis berikut.
‫ « إن كنا لنعد لرسول هللا صلى هللا عليه وسلم في‬: ‫عن ابن عمر رضي هللا عنهما قال‬
‫ رواه أبو‬. » ‫ إنك أنت التواب الرحيم‬، ‫ رب اغفر لي وتب علي‬: ‫المجلس الواحد مائة مرة‬
‫داود والترمذي‬.
Dari Ibnu Umar r.a., ia berkata, “Sungguh kami telah menghitung ucapan Rasulullah
saw. dalam satu majelis sebanyak seratus kali : rabbighfirlii wa tub ‘alayya innaka
antat tawwaburrahiim (Ya Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah taubatku,
19
sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang Maha Menerima taubat lagi Maha
Penyayang)”. (H.R. Abu Daud dan At-Tirmidzi).
20
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Dapat mengetahui jenis-jenis akhlak
2. Dapat mengimplementasikan akhlak mahmudah
3. Dapat menghindari akhlak mazmumah
4. Dapat mengetahui berapa kali Nabi Muhammad SAW beristighfar
B. Saran
Demikian makalah ini kami buat, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca.
Apabila ada kritik atau saran silahkan sampaikan kepada kami. Apabila
terdapat kesalahan mohon dapat memaafkan dan memakluminya, karena kami
adalah hamba Allah yang tidak luput dari salah khilaf dan lupa.
21
DAFTAR PUSTAKA
-
https://moslemlifestyle.com/id/article/sifat-terpuji-nabi-nuh.html
https://rumaysho.com/12855-3-sifat-nabi-ibrahim-yang-patut-ditiru.html
https://news.detik.com/berita/d-5365977/hikmah-dan-manfaat-husnuzan-kepada-allah
-beserta-contohnya
https://www.gramedia.com/literasi/pengertian-akhlak/
https://www.rbs.or.id/2019/06/hikmah-menjadi-dermawan.html
https://kumparan.com/berita-hari-ini/tawadhu-pengertian-ciri-ciri-dan-keutamaannyabagi-umat-islam-1v8YUW2TZPF/full
https://www.merdeka.com/jatim/syirik-adalah-perbuatan-menyekutukan-tuhan-yangwajib-dihindari-ini-lengkapnya-kln.html?page=all
https://www.merdeka.com/trending/takabur-adalah-sifat-yang-harus-dihindari-ini-cara
nya-kln.html?page=all
https://www.popbela.com/career/inspiration/niken-ari/pengertian-ujub-dalam-islam/3
https://www.merdeka.com/jatim/nifaq-adalah-sifat-munafik-pahami-pengertiannya-da
lam-agama-islam-kln.html?page=all
https://dalamislam.com/akhlaq/iri-dengki-dalam-islam
https://bincangmuslimah.com/ibadah/berapa-kali-sehari-rasulullah-mengucapkan-istig
hfar-30272/
https://www.republika.co.id/berita/n6l0zd/hubbud-dunya
https://almanhaj.or.id/3164-nifaq-definisi-dan-jenisnya.html
22
MAKALAH
ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI DAN SENI
DALAM ISLAM
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam
Diampu oleh Hepi Andi Bastoni, MA.
Oleh :
Kelompok 3
1. Andieni Maharani Tandi
2140136
2. Kadri R Lawa
2140147
3. Maudi Rahim
2140151
4. Mishbah Nurul Fajri Surgani
2140153
5. Muh.Alfath Alfathair Hasanuddin
2140156
6. Natasya Widyaningtyas
2140162
7. Nur Hikmah Ramadhani Basri
2140165
8. Nur Wulan Ramadhany Darman
2140166
9. Nurfizaky Tazkiyah Umar
2140167
PROGRAM STUDI ANALISIS KIMIA
POLITEKNIK AKA BOGOR
2021
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya dan tidak lupa pula sholawat serta salam
kami panjatkan kepada Nabi Besar kita Muhammad SAW yang telah membawa
umatnya dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang seperti saat
ini.
Makalah ini disusun dengan tujuan memenuhi tugas dari bapak Hepi Andi
Bastoni MA. selaku dosen mata kuliah Pendidikan Agama Islam. Selain
itu,makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan mengenai Ilmu
Pengetahuan, Teknologi dan Seni dalam Islam bagi para pembaca dan penulis.
Semoga makalah yang kami buat ini bisa menambah pengetahuan kita mengenai
Tauhid menjadi lebih luas lagi.
Tidak lupa kami mengucapkan terimakasih kepada bapak Hepi Andi
Bastoni MA. Selaku dosen mata kuliah Pendidikan Agama Islam yang telah
memberikan tugas ini sehingga kami dapat menggali dan menambah pengetahuan
serta wawasan. Kami juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak dan
rekan-rekan yang telah membantu serta membagi ilmunya kepada kami.
Wassalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Makassar, Juni 2021
Kelompok 3
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................. i
DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
A. Latar Belakang ............................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .......................................................................................... 2
C. Tujuan Pembahasan ....................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ 3
A. Perbedaan antara Ilmu dan Pengetahuan ....................................................... 3
B. Fungsi Kemajuan Teknologi ......................................................................... 4
C. Bukti Kejayaan Umat Islam di Bidang Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi ....................................................................................................... 6
D. Perbedaan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kemajuan Ilmu Pengetahun .......... 9
E. Keutamaan Orang yang Berilmu dan Beriman ............................................ 11
F. Pendapat Imam Al-Ghazali tentang Keutamaan orang berilmu dari Hukum
menuntut Ilmu .............................................................................................. 15
G. Tanggung Jawab Ilmuan terhadap Lingkungan ........................................... 16
H. SENI DALAM PANDANGAN ISLAM ..................................................... 17
I. Batasan Seni dalam Islam ............................................................................ 18
BAB III SIMPULAN ............................................................................................ 19
A. Kesimpulan .................................................................................................. 19
B. Saran ............................................................................................................ 20
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 21
ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Islam sangat memperhatikan pentingnya ilmu pengetahuan, teknologi, dan
seni dalam kehidupan umat manusia. Martabat manusia disamping ditentukan
oleh
ibadahnya
kepada
Allah,
juga
ditentukan
oleh
kemampuannya
mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Bahkan di dalam alQuran sendiri Allah menyatakan bahwa hanya orang yang berilmulah yang benarbenar takut kepada Allah.
Dialog antara Allah dengan malaikat ketika Allah akan menciptakan manusia,
dan malaikat mengatakan bahwa manusia akan berbuat kerusakan dan
menumpahkan darah, Allah membuktikan keunggulan manusia daripada malaikat
dengan kemampuan manusia menguasai ilmu melalui kemampuan menyebutkan
nama-nama.
Seni Islam murni melahirkan bentuk praktik yang dapat membuat manusia
merenungkan keesaan Ilahi. Begitu pula dengan semua ilmu yang bersifat Islami
menunjukkan kesatupaduan dan saling berhubungan dari segala yang ada. Kedua
hal ini, seni dan ilmu pengetahuan yang bersifat Islami, menjadikan manusia dapat
menuju ke arah perenungan keagungan dan keesaan Ilahi.
Ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dalam praktek mampu mengangkat
harkat dan martabat manusia karena malalui ilmu pengetahuan, teknologi, dan
seni, manusia mampu melakukan eksplorasi kekayaan alam yang disediakan oleh
Allah. Karena itu dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni,
nilai-nilai Islam tidak boleh diabaikan agar hasil yang diperoleh memberikan
kemanfaatan sesuai dengan fitrah hidup manusia.
1
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan
masalah sebagai berikut:
1. Apa perbedaan ilmu dan pengetahuan ?
2. Apa fungsi kemajuan teknologi ?
3. Apa saja bukti dalam sejarah tentang kejayaan umat Islam di bidang
kemajuan teknologi ?
4. Apa perbedaan iman, Islam dan Ihsan dalam kemajuan ilmu pengetahuan?
5. Apa saja keutamaan orang berilmu dan beriman beserta dalilnya?
6. Apa pendapat Imam al-Ghazali tentang keutamaan orang berilmu dan
hukum menuntut ilmu?
7. Apa tanggung jawab ilmuan terhadap lingkungan?
8. Bagaimana Islam memandang kesenian?
9. Apa saja batasan seni dalam Islam?
C. Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan dari makalah ini, yaitu :
1. Untuk mengetahui perbedaan ilmu dan pengetahuan
2. Untuk mengetahui fungsi kemajuan teknologi
3. Untuk mengetahui apa saja bukti dalam sejarah tentang kejayaan umat
Islam di bidang kemajuan teknologi
4. Untuk mengetahui perbedaan iman, Islam dan Ihsan dalam kemajuan ilmu
pengetahuan
5. Untuk mengetahui apa saja keutamaan orang berilmu dan beriman beserta
dalilnya
6. Untuk mengetahui pendapat Imam al-Ghazali tentang keutamaan orang
berilmu dan hukum menuntut ilmu
7. Untuk mengetahui apa tanggung jawab ilmuan terhadap lingkungan?
8. Untuk mengetahui bagaimana Islam memandang kesenian?
9. Untuk mengetahui apa saja batasan seni dalam Islam?
2
BAB II PEMBAHASAN
A. Perbedaan antara Ilmu dan Pengetahuan
Banyak orang menganggap bahwa antara ilmu dan pengetahuan adalah
dua hal yang sama, padahal sebenarnya antara keduanya berbeda. Ditinjau dari
segi pengertiannya, Ilmu atau sains adalah pengetahuan tentang fakta, baik itu
yang bersifat natural maupun sosial yang berlaku umum dan sistematis atau
pengetahuan yang sudah diatur menurut urutan dan arti serta menyeluruh dan
sistematis.
Sedangkan, pengetahuan adalah informasi yang diketahui atau disadari
oleh Pengertian dan Perbedaan Ilmu dan Pengetahuan seseorang/kelompok dan
belum dapat dipelajari oleh umum.
Pengetahuan bisa menjadi ilmu apabila telah dikaji dan diuji sehingga bisa
tersedia untuk umum. Pengetahuan termasuk, tetapi tidak dibatasi pada deskripsi,
hipotesis, konsep, teori, prinsip dan prosedur yang secara Probabilitas Bayesian
adalah benar atau berguna.
Berdasarkan sudut pandang filsafat ilmu, Pengetahuan adalah segala
sesuatu yang diketahui manusia melalui pancaindra. Sedangkan ilmu adalah
pengetahuan yang telah disusun, diklasifikasikan, dan diverifikasi sehingga
menghasilkan kebenaran objektif dan dapat diuji ulang secara ilmiah. Dalam AlQuran ilmu digunakan dalam proses pencapaian pengetahuan dan objek
pengetahuan sehingga memperoleh kejelasan.
Jadi, antara ilmu dan pengetahuan tidak dapat disamakan. Secara garis
perbedaan antara ilmu dan pengetahuan adalah sebagai berikut:
1. Ilmu bersifat umum, sedangkan pengetahuan bersifat individual atau
kelompok Guru dari suatu ilmu adalah ilmu itu sendiri, orang yang
berperan
sedangkan
dalam
penyampaian
guru dari
ilmu
hanyalah
pengetahuan adalah
pengajar/pengampu,
orang
yang memiliki
pengetahuan itu.
2. Ilmu telah diuji dan dikaji, sedangkan pengetahuan belum.
3
Ilmu adalah pengetahuan yang telah disusun secara sistematis dan
berlaku umum, sedangkan pengetahuan belum disusun secara sistematis karena
belum dicoba dan diuji.
B. Fungsi Kemajuan Teknologi
Kemajuan IPTEK yang telah dicapai sekarang benar-benar telah diakui dan
dirasakan memberikan banyak kemudahan dan kenyamanan bagi kehidupan umat
manusia. Sumbangan IPTEK terhadap peradaban dan kesejahteraan manusia tidaklah
dapat dipungkiri. Dampak positif dan dampak negative dari perkembangan teknologi
dilihat dari berbagai bidang:
1. Bidang Informasi dan komunikasi
Dalam bidang informasi dan komunikasi telah terjadi kemajuan yang
sangat pesat. Dari kemajuan dapat kita rasakan dampak positifnya antara
lain:
a. Kita akan lebih cepat mendapatkan informasi-informasi yang akurat dan
terbaru di bumi bagian manapun melalui internet.
b. Kita dapat berkomunikasi dengan teman, maupun keluarga yang sangat jauh
hanya dengan melalui handphone.
c. Kita mendapatkan layanan bank yang dengan sangat mudah.
Disamping keuntungan-keuntungan yang kita peroleh ternyata
kemajuan kemajuan teknologi tersebut dimanfaatkan juga untuk hal-hal
yang negatif, antara lain:
a. Pemanfaatan jasa komunikasi oleh jaringan teroris (Kompas).
b. Penggunaan informasi tertentu dan situs tertentu yang terdapat di internet
yang bisa disalah gunakan fihak tertentu untuk tujuan tertentu.
c. Kerahasiaan alat tes semakin terancam melalui internet kita dapat
memperoleh informasi tentang tes psikologi, dan bahkan dapat memperoleh
layanan tes psikologi secara langsung dari internet.
d. Kecemasan teknologi.
4
2. Bidang Ekonomi dan Industri
Dalam bidang ekonomi teknologi berkembang sangat pesat. Dari
kemajuan teknologi dapat kita rasakan manfaat positifnya antara lain:
a. Pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi
b. Terjadinya industrialisasi
c. Produktifitas dunia industri semakin meningkat.
d. Persaingan dalam dunia kerja sehingga menuntut pekerja untuk selalu
menambah skill dan pengetahuan yang dimiliki.
e. Di bidang kedokteran dan kemajauan ekonomi mampu menjadikan
produk kedokteran menjadi komoditi.
Meskipun demikian, ada pula dampak negatifnya antara lain:
a. Terjadinya pengangguran bagi tenaga kerja yang tidak mempunyai
kualifikasi yang sesuai dengan yang dibutuhkan.
b. Sifat konsumtif sebagai akibat kompetisi yang ketat pada era
globalisasi akan juga melahirkan generasi yang secara moral
mengalami kemerosotan: konsumtif, boros dan memiliki jalan pintas
yang bermental “instant”.
c. Bidang Sosial dan Budaya.
Akibat kemajuan teknologi bisa kita lihat:
a. Perbedaan kepribadian pria dan wanita. Banyak pakar yang
berpendapat bahwa kini semakin besar porsi wanita yang memegang
posisi sebagai pemimpin, baik dalam dunia pemerintahan maupun
dalam dunia bisnis.
b. Meningkatnya rasa percaya diri. Kemajuan ekonomi di negara-negara
Asia melahirkan fenomena yang menarik.
c. Tekanan, kompetisi yang tajam di berbagai aspek kehidupan sebagai
konsekuensi globalis.
3. Bidang Pendidikan
Teknologi mempunyai peran yang sangat penting dalam bidang pendidikan
antara lain:
5
a. Munculnya media massa, khususnya media elektronik sebagai sumber
ilmu dan pusat pendidikan.
b. Munculnya
metode-metode
pembelajaran
yang
baru,
yang
memudahkan siswa dan guru dalam proses pembelajaran.
c. Sistem pembelajaran tidak harus melalui tatap muka.
4. Bidang politik
a. Timbulnya kelas menengah baru Pertumbuhan teknologi dan ekonomi
di kawasan ini akan mendorong munculnya kelas menengah baru.
b. Proses regenerasi kepemimpinan.
c. Di bidang politik internasional, juga terdapat kecenderungan tumbuh
berkembangnya regionalisme.
5. Bidang Kesehatan
Manfaat teknologi informasi yang pertama bisa kamu rasakan
dalam bidang kesehatan. Bisa dibilang teknologi amat sangat berjasa
dalam perbaikan manajemen di klinik atau rumah sakit. Jika dulu
pencatatan riwayat kesehatan pasien hanya ditulis dalam sebuah berkas,
sekarang pencatatan juga dilakukan dan diarsipkan di komputer. Hal ini
akan sangat memudahkan petugas untuk mengetahui rekam medis pasien
dengan cepat. Rekam medis berbasis komputer ini meliputi data klinis
pasien dari hasil pemeriksaan dokter ataupun hasil laboratorium.
C. Bukti Kejayaan Umat Islam di Bidang Kemajuan Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi
Dalam zaman Daulah Abbasiyah, masa meranumlah kesusasteraan
dan ilmu pengetahuan, disalin ke dalam bahasa Arab, ilmu-ilmu purbakala.
Lahirlah pada masa itu sekian banyak penyair, pujangga, ahli bahasa, ahli
sejarah, ahli hukum, ahli tafsir, ahli hadits, ahli filsafat, thib, ahli bangunan
dan sebagainya. Zaman ini adalah zaman keemasan Islam, demikian Jarji
Zaidan memulai lukisannya tentang Bani Abbasiyah. Dalam zaman ini,
kedaulatan kaum muslimin telah sampai ke puncak kemuliaan, baik
kekayaan, kemajuan, ataupun kekuasaan.
6
Dalam zaman ini telah lahir berbagai ilmu Islam, dan berbagai ilmu
penting telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Masa Daulah Abbasiyah
adalah masa di mana umat Islam mengembangkan ilmu pengetahuan, suatu
kehausan akan ilmu pengetahuan yang belum pernah ada dalam
sejarah.Kesadaran
akan
pentingnya
ilmu
pengetahuan
merefleksikan
terciptanya beberapa karya ilmiah seperti terlihat pada alam pemikiran Islam
pada abad ke-8 M. yaitu gerakan penerjemahan buku peninggalan
kebudayaan Yunani dan Persia.
Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu hal yang sangat mulia dan
berharga. Para khalifah dan para pembesar lainnya membuka kemungkinan
seluas-luasnya untuk kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Pada
umumnya khalifah adalah para ulama yang mencintai ilmu, menghormati
sarjana dan memuliakan pujangga
Kegemilangan Iptek di Masa Kejayaan Islam
Kekhilafahan Abbasiyah tercatat dalam sejarah Islam dari tahun 7501517 M/132-923 H. Diawali oleh khalifah Abu al-’Abbas as-Saffah (750754) dan diakhiri Khalifah alMutawakkil Alailah III (1508-1517). Dengan
rentang waku yang cukup panjang, sekitar 767 tahun, kekhilafahan ini
mampu menunjukkan pada dunia ketinggian peradaban Islam dengan
pesatnya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di dunia Islam.
Di
era
ini,
lahir
ilmuwan-ilmuwan
Islam
dengan
berbagai
penemuannya yang mengguncang dunia. Antara lain:
a. Al-Khawarizmi (780-850) yang menemukan angka nol dan namanya
diabadikan dalam cabang ilmu matematika, Algoritma (logaritma).
b. Ibnu Sina (980-1037) yang membuat termometer udara untuk
mengukur suhu udara. Bahkan namanya tekenal di Barat sebagai
Avicena, pakar Medis Islam legendaris dengan karya ilmiahnya
Qanun (Canon) yang menjadi referensi ilmu kedokteran para pelajar
Barat.
7
c. Al-Biruni (973-1048) yang melakukan pengamatan terhadap
tanaman sehingga diperoleh kesimpulan kalau bunga memiliki 3, 4,
5, atau 18 daun bunga dan tidak pernah 7 atau 9.
d. Ar-Razi. Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi dikenali Rhazes
di dunia barat, seorang pakar sains Iran (864 – 930), Lahir di Rayy,
Teheran. Sejak muda mempelajari filsafat, kimia, matematika dan
kesastraan. Ia dipercaya memimpin rumah sakit di Rayy lalu
Muqtadari di Baghdad. Diketahui sebagai ilmuwan serbabisa. • AzZahrawi. Abu Qasim az-Zahrawi (1000 M) (Menemukan teori
pembedahan) atTashrif Liman ajiza at-Ta’lif terdiri 30 jilid, berasal
Spanyol. Abul Qasim lahir di Zahra, yang terletak di sekitar Kordoba,
Spanyol. Di kalangan bangsa Moor Andalusia, dia dikenal dengan
nama "El Zahrawi". Al-Qasim adalah dokter kerajaan pada masa
Khalifah Al-Hakam II dari kekhalifahan Umayyah.
e.
Jabir Ibnu Hayyan (815 M). Seorang ilmuwan yang dianggap
paling pantas menyandang gelar ahli kimia Arab pada masa awal
perkembangannya. Abu Abdullah Jabir bin Hayyan al-Kufi as-Sufi
adalah nama lengkap Jabir Ibnu Hayyan. Ia lahir pada tahun 721 dan
dibesarkan dalam keluarga dokter. Ada pendapat yang menyatakan
bahwa Jabir adalah keturunan Yunani yang memeluk agama Islam.
f.
Ibnu Rusyd adalah seorang ilmuwan muslim yang cerdas dan
menguasai banyak bidang ilmu, seperti al-Quran, fisika, kedokteran,
biologi, filsafat, dan astronomi. Ibnu Rusyd lahir pada tahun 1198 di
Kordoba, Spanyol. Di Barat, ia dikenal dengan nama Averroes. Ayah
Ibnu Rusyd adalah seorang ahli hukum yang cukup berpengaruh di
Kordoba. Sementara itu, banyak saudaranya menduduki posisi
penting di pemerintahan. Latar belakang keluarganya itulah yang
sangat mempengaruhi proses pembentukan tingkat intelektualitas
Ibnu Rusyd di kemudian hari. Ibnu Rusyd adalah seorang tokoh
perintis ilmu jaringan tubuh (histology). Ia pun berjasa dalam bidang
penelitian pembuluh darah dan penyakit cacar.
8
g. Al-Kindi (pengarang 270 buku, ahli music, farmasi dll). Hidup pada
masa penerjemahan besar-besaran karya-karya Yunani ke dalam
bahasa Arab. Di samping menerjemah, al-Kindi juga memperbaiki
terjemahan-terjemahan sebelumnya. Karena keahlian dan keluasan
pandangannya, ia diangkat sebagai ahli di istana dan menjadi guru
putra Khalifah al-Mu’tasim, Ahmad
h. Biri Rais nama aslinya Muhyidin Rais (1465-1555 M).
Membuat peta dunia terlengkap dan menemukan benua Amerika.
Columbus juga menemukan benua Amerika tahun 1492 M.
Pada abad ke-8 dan 9 M, negeri Irak dihuni oleh 30 juta
penduduk yang 80% nya merupakan petani. Hebatnya, mereka sudah
pakai sistem irigasi modern dari sungai Eufrat dan Tigris. Hasilnya,
di negeri-negeri Islam rasio hasil panen gandum dibandingkan
dengan benih yang disebar mencapai 10:1 sementara di Eropa pada
waktu yang sama hanya dapat 2,5:1.
Kecanggihan
teknologi
masa
ini
juga
terlihat
dari
peninggalan-peninggalan sejarahnya. Seperti arsitektur Masjid Agung
Cordoba, Blue Mosque di Istanbul, menara spiral di Samara yang
dibangun oleh khalifah al-Mutawakkil, Istana al-Hamra (al-Hamra
Qasr) yang dibangun di Seville, Andalusia pada tahun 913 M. Sebuah
Istana terindah yang dibangun di atas bukit yang menghadap ke kota
Granada.
D. Perbedaan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kemajuan Ilmu
Pengetahun
Islam merupakan ajaran agama yang sempurna. Kesempurnaannya
dapat tergambar dalam keutuhan inti ajarannya. Ada tiga inti ajaran Islam,
yaitu Iman, Islam dan Ihsan. Ketiga inti ajaran itu terintegrasi di dalam
sebuah sistem ajaran yang disubut Dienul Islam.
Dalam Al-Qur’an surat Ibrahim: 24-25, Allah telah memberikan
ilustrasi indah tentang integrasi antara iman, ilmu dan amal. Ayat tersebut
9
menggambarkan keutuhan antara iman, ilmu, dan amal atau akidah, syariah
dan akhlak dengan menganalogkan bangunan Dinul Islam bagaikan sebatang
pohon yang baik. Iman diidentikan dengan akar sebuah pohon yang
menopang tegaknya ajaran Islam. Ilmu bagaikan batang pohon yang
mengeluarkan dahandahan dan cabang-cabang ilmu pengetahuan, sedangkan
amal ibarat buah dan pohon identik dengan teknologi dan seni.
Iptek yang dikembangkan di atas nilai-nilai iman dan ilmu akan
menghasilkan amal saleh. Selanjutnya perbuatan baik, tidak akan bernilai
amal saleh apabila perbuatan baik tersebut tidak dibangun di atas nilai iman
dan ilmu yang benar. Iptek yang lepas dan keimanan dan ketakwaan tidak
akan bernilai ibadah serta tidak akan menghasilkan kemaslahatan bagi umat
manusia dan alam lingkungannya bahkan akan menjadi malapetaka bagi
kehidupan manusia.
Disamping adanya hubungan diantara ketiganya, juga terdapat
perbedaan diantaranya sekaligus merupakan identitas masing-masing. Iman
lebih menekankan pada segi keyakinan dalam hati. Islam merupakan sikap
untuk berbuat dan beramal.Sedangkan Ihsan merupakan pernyataan dalam
bentuk tindakan nyata. Dengan ihsan, seseorang bisa diukur tipis atau tebal
iman dan islamnya.
Iman dan islam bila disebutkan secara bersamaan, maka yang
dimaksud dengan Islam adalah amal perbuatan yang nampak, yaitu rukun
Islam yang lima, dan pengertian iman adalah amal perbuatan yang tidak
nampak, yaitu rukun iman yang enam. Dan bila hanya salah satunya (yang
disebutkan) maka maksudnya adalah makna dan hukum keduanya.
Ruang lingkup ihsan lebih umum daripada iman, dan iman lebih
umum daripada Islam. Ihsan lebih umum dari sisi maknanya; karena ia
mengandung makna iman. Seorang hamba tidak akan bisa menuju martabat
ihsan kecuali apabila ia telah merealisasikan iman dan ihsan lebih spesifik
dari sisi pelakunya; karena ahli ihsan adalah segolongan ahli iman. Maka,
setiap muhsin adalah mukmin dan tidak setiap mukmin adalah muhsin.
10
E. Keutamaan Orang yang Berilmu dan Beriman
Allah Ta’ala menjanjikan akan mengangkat derajat orang-orang
berilmu dan beriman kepada-Nya. Hal ini senada dengan surat al-Mujaadilah
ayat 11.
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu:
‘Berilah kelapangan dalam majelis’, maka lapangkanlah niscaya Allah akan
memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: ‘Berdirilah kamu’,
maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman
di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [QS alMujaadilah: 11]
Betapa banyak manusia yang tergiur, silau dan terlena dengan harta,
meraihnya tanpa pernah merasa puas, ketika seseorang merasa kekurangan,
maka ia mencarinya dan setelah tercukupi ia akan terus menuntutnya sampai
tiba ajalnya. Begitulah karakter dari 28 sebuah kehidupan dunia yang
menawarkan kegemerlapan dan kemewahan yang tak berujung kepuasan.
Makanya ada sebuah untaian doa yang indah “Ya Allah aku berlindung dari
(mengikuti) ajakan nafsu yang sejatinya tidak akan pernah memuaskan.”
Harta
benda
yang
selalu
ditumpuk
oleh
seseorang,
pasti
akan
meninggalkannya cepat atau lambat dan membiarkan pemiliknya masuk ke
dalam liang lahat. Sedangkan para pencari ilmu, ia akan selalu di jalan Allah
Ta’ala dan menemaninya ketika di dunia sampai dihantarkannya ke dalam
kubur serta membawanya kepada tempat yang dirindukan yaitu Surga.
11
Di antara keutamaan manusia berilmu sesuai dengan petunjuk alQur’an dan sunnah:
1. Dimudahkan jalan menuju surga
Rasulullah saw memuji para penuntut ilmu di dalam sabdanya:
“Barang siapa menempuh jalan guna mencari Ilmu, maka Allah memudahkan
baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim).
2. Disejajarkan dalam persaksiandengan para malaikat
Allah berfirman:
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang
berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orangorang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada Tuhan
melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana,” (QS: Ali Imran ayat 18)
3. Menjadi juru bicara untuk membantah para pendosa
“Sesungguhnya kehinaan dan azab hari ini ditimpakan atas orangorang yang kafir”, (QS: An Nahl ayat 27).
“dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang
berdosa; “Mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat (saja)”.
Seperti demikianlah mereka selalu dipalingkan (dari kebenaran). Dan berkata
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada orangorang yang kafir): “Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur)
menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit; Maka Inilah hari berbangkit
itu akan tetapi kamu selalu tidak meyakini(nya).” (QS: Ar Ruum ayat 55-56)
4. Dibukakan pikiran dan mata hati
“dan orang-orang yang berusaha untuk (menentang) ayat-ayat Kami
dengan anggapan mereka dapat melemahkan (menggagalkan azab kami),
mereka itu memperoleh azab, Yaitu (jenis) azab yang pedih. dan orang-orang
yang diberi ilmu (ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan
12
kepadamu dari Tuhanmu Itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada
jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (QS: Saba’ ayat 5-6)
5.
Lebih utama dari ahli ibadah
Rasulullah saw pernah bersabda:
“Keutamaan orang alim atas ahli ibadah adalah seperti keutamaanku
atas orang yang paling rendah dari kalian” (HR. Tirmidzi)
Dalam riwayat lain disebutkan:
“Keutamaan orang ‘alim atas orang ahli ibadah adalah seperti
keutamaan bulan pada malam purnama atas seluruh bintang-bintang.” [Abu
Dawud, At Tirmidzi, An Nasa’i dan Ibnu Hibban, dan itu sepotong dari hadits
Abu Darda’]29
6.
Didoakan seluruh penduduk langit dan bumi
Rasulullah  bersabda: “Sesungguhnya Allah dan para Malaikat, serta
semua makhluk di langit dan di bumi, sampai semut dalam lubangnya dan
ikan (di lautan), benar-benar bershalawat/mendoakan kebaikan bagi orang
yang mengajarkan kebaikan (ilmu agama) kepada manusia.”
(HR at-Tirmidzi dan Ath-Thabrani).
7.
Takut kepada Allah
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya,
hanyalah ulama.” (QS: Faathir ayat 28)
8.
Mengetahui hakikat kehidupan yang beragam
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit
dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya
pada yang demikan itu benarbenar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang
yang mengetahui.” (QS: ar-Ruum ayat 22).
9.
Orang Yang Berilmu Dikecualikan dari Laknat Allah
Imam at-Tirmidzi (wafat th. 249 H) meriwayatkan dari Abu Hurairah
(wafat th. 57 H), ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda,
“
13
Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu dilaknat dan dilaknat apa yang ada di
dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya, orang
berilmu, dan orang yang mempelajari ilmu.’”
10. Menuntut Ilmu dan Mengajarkannya Lebih Utama Daripada Ibadah
Sunnah dan Wajib Kifayah
Nabi bersabda:
“Keutamaan ilmu lebih baik daripada keutamaan ibadah, dan agama kalian
yang paling baik adalah al-wara’ (ketakwaan).”
Ali bin Abi Thalib berkata, “Orang yang berilmu lebih besar ganjaran
pahalanya daripada orang yang puasa, shalat, dan berjihad di jalan Allah.”
Abu Hurairah berkata, “Sungguh, aku mengetahui satu bab ilmu
tentang perintah dan larangan lebih aku sukai daripada tujuh puluh kali
melakukan jihad di jalan Allah.”
Aku (Ibnul Qayyim) katakan, “Ini -jika shahih- maknanya adalah:
lebih aku sukai daripada jihad tanpa ilmu, karena amal tanpa ilmu
kerusakannya lebih banyak daripada baiknya.”
Al-Hasan rahimahullaah berkata, “Orang yang berilmu lebih baik
daripada orang yang zuhud terhadap dunia dan orang yang bersungguhsungguh dalam beribadah.”
Sufyan ats-Tsauri (wafat th. 161 H) rahimahullaah mengatakan, “Aku
tidak mengetahui satu ibadah pun yang lebih baik daripada mengajarkan ilmu
kepada manusia.”
Imam asy-Syafi’i (wafat th. 204 H) rahimahullaah mengatakan,
“Tidak ada sesuatu pun yang lebih baik setelah berbagai kewajiban syari’at
daripada menuntut ilmu syar’i.”
14
F. Pendapat Imam Al-Ghazali tentang Keutamaan orang berilmu
dari Hukum menuntut Ilmu
Dalam Ihya Ulumuddin al-Ghazali menguraikan secara mendalam
pentingnya memahami konsep ilmu dengan baik. Hujjatul Islam imam alGhazali pernah mengatakan, orang yang menuntut ilmu itu ada tiga macam:
1. Orang yang menuntut ilmu semata-mata karena ingin mendapatkan bekal
pulang menuju akhirat.
2. Orang yang belajar dengan niat mencari sesuatu untuk menopang
kehidupan duniawi, dan memperoleh kemuliaan serta jabatan hormat.
3. Orang yang menjadikan ilmunya sebagai sarana memperbanyak harta,
bermegah-megahan dengan kedudukan, berbangga-banggahan dengan
banyaknya pengikut, mengaku ulama dan tidak merasa perlu bertaubat,
karena menganggap dirinya muhsinun (orang-orang baik).
Golongan pertama adalah golongan orang-orang yang memahami konsep
ilmu dengan benar. Sehingga tujuan mencari ilmu pun tidak pernah kosong dari
niat untuk menghilangkan kebodohan dalam diri dan mencari ridha Ilahi.
Golongan kedua dan ketiga adalah kelompok penuntut ilmu yang
materialis, mencari ilmu untuk duniawi. Ilmu dan ilmuan dalam hal ini menjadi
prioritas paling utama. Karena sebagaimana dalam hadis: ”Dua macam golongan
dari umatku (yang memegang peran penting). Bila mereka baik, maka baiklah
umat manusia, dan bila mereka rusak maka rusakklah umat manusia. Ingatlah,
mereka adalah pemimpin pemerintah dan ulama (HR. Ibn Abdil Barr dalam Ihya
Ulum al-Din).
Imam Hasan al-Bashri mengatakan: ”Barang siapa yang bertambah
ilmunya, kemudian bertambah pula ketamakan kepada dunia, maka tiada yang
bertambah kecuali bertambah jauh dari Allah.”
Imam al-Ghazali membagi hukum menuntut ilmu itu ada dua: fardhu ‘ain
dan fardhu kifayah. Fardhu ain adalah ilmu yang kita gunakan untuk menyembah
Allah, seperti tata cara wudhu, shalat, membaca Qur’an dan tata cara haji dan
umrah. Adapun yang fardhu kifayah seperti ilmu kedokteran, fisika, kimia dan
lainnya.
15
Karena itu, di antara umat Islam harus ada yang mendalami ilmu tertentu.
Ketika masyarakat kagum dengan ilmu umum, harus ada di antara kaum
Muslimin yang mendalami agama. Hal ini diisyaratkan Allah dalam al-Qur’an:
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu'min itu pergi semuanya (ke
medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka
beberapa orang untukmemperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan
untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali
kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS at-Taubah: 122).
G. Tanggung Jawab Ilmuan terhadap Lingkungan
Ada dua fungsi utama manusia di dunia, yaitu sebagai ‘abdun (hamba
Allah) dan sebagai khalifah Allah di bumi. Esensi dari abdun adalah ketaatan,
ketundukan dan kepatuhan kepada kebenaran dan keadilan Allah, sedangkan
esensi khalifah adalah tanggung jawab kepada diri sendiri dan alam
lingkungannya, baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam.
Khalifah/wakil Allah di muka bumi, ia mempunyai tanggung jawab untuk
menjaga keseimbangan alam dan lingkungannya tempat mereka tinggal. Manusia
diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi, menggali sumber-sumber daya serta
memanfaatkannya dengan sebesar-besar kemanfaatan. Karena alam diciptakan
untuk kehidupan manusia sendiri. Untuk menggali potensi dan memanfaatkannya
diperlukan ilmu pengetahuan yang memadai. Hanya orang-orang yang memiliki
ilmu pengetahuan yang cukuplah atau para ilmuwan dan para intelektual yang
sanggup mengeksplorasi sumber alam ini.
Ilmuan merupakan sosok manusia yang diberikan kelebihan oleh Tuhan
dalam menguasai sebuah ilmu pengetahuan. Dari kelebihannya ini maka Tuhan
mengangkat harkat dan martabat ilmuan tersebut di tengah-tengah masyarakat,
bangsa dan Negara sehingga mereka disanjung dan dihormati serta menjadi
sumber solusi dari situasi-dan kondisi lingkungan hidup manusia.Karena ilmuwan
16
tersebut telah diberi penghargaan oleh Tuhan maka peanaghargaan tersebut
membawasa kedalam posisi yang tinggi disbanding dengan manusia yang lain.
Dialah menjadi wakil Tuhan di bumi untuk menjadikan lingkungan hidup manusia
terpelihara dan membawa kebaikan kepada manusia itu sendiri. Dengan demikian
dapta diartikan bahwa ilmuan dijadikan Tuhan sebagai pemimmpin kelangsungan
lingkungan hidup manusia di muka bumi ini.
H. SENI DALAM PANDANGAN ISLAM
Islam memandang seni dengan cara pandang yang bijak. Hal ini
dikarenakan seni masuk dalam kategori muamalah. Oleh karena itu berlaku kaidah
atau aturan ‘setiap bentuk muamalah pada dasarnya adalah boleh, sampai ada dalil
yang melarangnya’. Aturan inilah yang harus kita junjung tinggi dalam penilaian
kita tentang seni.
Seni dalam Islam bukanlah sesuatu yang diharamkan secara mutlak. Tapi
ada beberapa seni yang mendapat larangan langsung dari Rasulullah SAW. Seni
yang dimaksud adalah seni musik. Hal ini didasarkan dengan hadis yang
diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya. Selain itu juga ada
pelarangan seni rupa yang menggambarkan mahluk-mahluk hidup. Rasulullah
mengabarkan orang-orang yang menggambar mahluk hidup akan dimasukkan ke
dalam neraka sebelum masuknya pelaku syirik.
SENI YANG DIBOLEHKAN DALAM ISLAM:
1. Seni Membaca al-Qur’an (Tilawatil atau Qiro’atil Qur’an)
2. Seni Kaligrafi/Tulis
3. Seni Beladiri
4. Seni Melipat Kertas
5. Seni Arsitektur
6. Seni Berpidato
7. Seni Sastra
8. Seni Merajut
17
SENI YANG DILARANG DALAM ISLAM
Ada beberapa seni berikut yang dilarang dalam Islam tetapi tidak
seluruhnya haram, tetapi haram dalam kasus-kasus tertentu.
1. Seni Rupa
2. Menyanyi. Sebagian ulama mengharamkan secara mutlak.
3. Musik. Sebagian ulama ada yang membolehkan dengan syarat yang sangat
ketat.
4. Tarian.
5. Vandalisme
6. Seni Patung
7. Tindik (Body Piercing)
8. Operet (Seni Pertunjukan). Sebagian ada yang membolehkan dengan syarat
tertentu.
I. Batasan Seni dalam Islam
Seni dalam Islam terutama yang berkaitan dengan musik, nyanyian,
maupun lagu tidaklah selalu mutlak bahwa itu haram. Dengan catatan, tujuannya
untuk kebaikan, misalnya mengajak jihad fi sabilillah, dan menentang
kemungkaran, atau menjauhi zina. Syair hendaknya berisi tentang pujian-pujian
terhadap Allah dan Rasul-Nya, menyemangati untuk amar ma’ruf nahi munkar,
dan tidak bertentangan dengan prinsip tauhid dan syara’.
Begitu pula dengan bentuk kesenian lain seperti karya sastra dan
arsitektur. Selama tidak bertentangan dengan syariat dan mengagungkan Allah
SWT maka itu diperbolehkan. Seni menjadi haram jika membuat pelaku maupun
penikmatnya menjadi rusak moralnya dan semakin jauh dari Allah SWT.
Misal tari-tarian yang mengumbar aurat dan membangkitkan syahwat
lawan jenis yang bukan mahramnya, atau seni ritual yang terdapat unsur syirik,
yakni menyekutukan Allah SWT. Seni seperti ini jelas tidak dibolehkan.
18
BAB III SIMPULAN
A. Kesimpulan
Ilmu dan pengetahuan merupakan dua hal yang berbeda. Ilmu merupakan
pengetahuan tentang fakta sedangkan pengetahuan bisa menjadi ilmu apabila telah
dikaji dan diuji sehingga bisa tersedia untuk umumtetapi tidak dibatasi pada
deskripsi, hipotesis, konsep, teori, prinsip dan prosedur yang secara Probabilitas
Bayesian adalah benar atau berguna. Adanya kemajuan teknologi benar-benar
memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi kehidupan umat manusia dari
berbagai bidang, salah satu contohnya ialah kita lebih cepat memperoleh
informasi yang terbaru dan akurat, tetapi juga memiliki dampak negative yaitu
bila adanya peretasan informasi secara illegal, hal ini biasa disebut
penyalahgunaan informasi.
Tidak hanya perkembangan informasi, tetapi majunya ilmu pengetahuan
dan teknologi juga dapat membuktikan bahwa umat islam mengalami kejayaan
olehnya. Salah satu bukti kejayaan umat islam ialah lahirnya ilmuan-ilmuan islam
dengan berbagai penemuannya yang mengguncang dunia baik dalam bidang
kesehatan, sains, tanaman serta makhluk hidup, kimia, filsafat dan lain-lain
dimana karya-karyanya dikenal seluruh dunia dan terus dikembangkan hingga
sekarang.
Islam merupakan ajaran agama yang sempurna. Iman lebih menekankan
pada segi keyakinan dalam hati. Islam merupakan sikap untuk berbuat dan
beramal.Sedangkan Ihsan merupakan pernyataan dalam bentuk tindakan nyata.
Dengan ihsan, seseorang bisa diukur tipis atau tebal iman dan islamnya.
Berdasarkan petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah terdapat beberapa keutamaan
manusia berilmu, diantaranya yaitu dimudahkan jalan menuju surga, disejajarkan
dalam persaksian dengan para malaikat, dan dibukakan pikiran dan mata hati.
Imam al-Ghazali membagi hukum menuntut ilmu itu ada dua: fardhu ‘ain
dan fardhu kifayah. Fardhu ain adalah ilmu yang kita gunakan untuk menyembah
Allah, seperti tata cara wudhu, shalat, membaca Qur’an dan tata cara haji dan
umrah. Adapun yang fardhu kifayah seperti ilmu kedokteran, fisika, kimia dan
lainnya.
19
Seni dalam Islam bukanlah sesuatu yang diharamkan secara mutlak sebab
islam memandang seni dengan cara pandang yang bijak. Terdapat beberapa seni
yang dilarang adapun seni yang diperbolehkan.
B. Saran
Kita sebagai generasi masa kini hendaklah memperhatikan dan memahami
perkembangan teknologi dari berbagai sisi, serta lebih meningkatkan pengetahuan
mengenai ilmu islam agar tidak terjerumus ke hal-hal yang negatif.
Demikian makalah ini kami buat, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca.
Apabila ada kritik atau saran silahkan sampaikan kepada kami. Apabila terdapat
kesalahan mohon dapat dimaafkan dan memakluminya, karena kami adalah
hamba Allah yang tidak luput dari salah dan lupa.
20
DAFTAR PUSTAKA
Hepi Andi Bastoni.Materi X Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Islam.Modul
Pendidikan Agama Islam Akademi Kimia Analisis Jilid 2 : Hal 24 - 33
https://m.merdeka.com/jabar/manfaat-teknologi-informasi-di-berbagai
bidang-
memudahkan-kehidupan-manusia-kln.html
https://www.kompasiana.com/merinda91176/5fa3ba3df5f3295f142a8a03/perbeda
n-pengetahuan-dan-ilmu-pengetahuan?page=2
https://paudit.alhasanah.sch.id/tahukah-anda/apa-perbedaan-islam-iman-danihsan/
https://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/islamfutura/article/view/3049
https://m-republika-coid.cdn.ampproject.org/v/s/m.republika.co.id/amp/q78uid320?amp_js_v=a6
&amp_gsa=1&usqp=mq331AQKKAFQArABIIACAw%3D%3D#aoh=16
253196386593&csi=1&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&a
mp_tf=Dari%20%251%24s&ampshare=https%3A%2F%2Fwww.republik
a.co.id%2Fberita%2Fq78uid320%2Fpesanpesan-bijak-al-ghazali-bagipara-penuntut-ilmu
https://unimus.ac.id/?p=8226
http://ngampusbarengimron.blogspot.com/2017/05/iman-islam-danihsan.html?m=1
21
MAKALAH
KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA
Oleh Kelompok 4 :
1.
Afifah Harni
2140129
2.
Afniyuastuti Samde Putri
2140130
3.
Alief Nur Jannah
2140134
4.
Alim Haq Ilham
2140135
5.
Nurhidayah
2140169
6.
Putri Aliah
2140170
7.
Raihan Achmad Hidayat
2140173
8.
Riska Adira
2140177
9.
Zakia Mega Fikrah
2140187
POLITEKNIK AKA BOGOR
MARTIKULASI AKSELERASI
2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur diucapkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat-Nya sehingga
makalah ini dapat tersusun dengan baik. Tidak lupa kami mengucapkan terima
kasih terhadap bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan
baik pikiran maupun materinya.
Penulis
sangat
berharap
semoga
makalah
ini
dapat
menambah
pengetahuan dan pengalaman bagi pembaca. Bahkan kami berharap lebih jauh lagi agar
makalah ini bisa dipraktikkan oleh pembaca dalam kehidupan sehari- hari.
Penyusun merasa bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini
karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman. Untuk itu kami sangat mengharapkan
kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Bogor, Juli 2021
Kelompok IV
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kerukunan umat beragama adalah hal yang sangat penting untuk mencapai
sebuah kesejahteraan hidup
di negeri
ini. Seperti yang kita ketahui, Indonesia
memiliki keragaman yang begitu banyak. Tak hanya masalah
adat istiadat atau
budaya seni, tapi juga termasuk agama.
Masyarakat
Indonesia
merupakan
dari beragam agama. Kemajemukan
masyarakat
majemuk yang terdiri
yang ditandai dengan keanekaragaman agama
itu mempunyai kecenderungan
kuat terhadap identitas agama masing- masing dan
berpotensi konflik. Indonesia
merupakan
salah
satu
contoh masyarakat
yang
multikultural. Multikultural masyarakat Indonesia tidak saja kerena keanekaragaman
suku, budaya, bahasa, ras tapi juga dalam hal agama. Agama yang diakui oleh
pemerintah Indonesia adalah agama Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha
dan Kong Hu Chu.
Dari agama-agama
masing- masing masyarakat
tersebut
terjadilah perbedaan
agama
yang dianut
Indonesia. Dengan perbedaan tersebut apabila tidak
terpelihara dengan baik bisa menimbulkan
konflik
bertentangan dengan nilai dasar agama itu sendiri
antar umat beragama
yang
yang mengajarkan kepada kita
kedamaian, hidup saling menghormati, dan saling tolong menolong.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa maksud Islam rahmatan lil alamin QS 21: 107?
2.
Apa maksud ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah insaniyah?
3.
Bagaimana tahapan ukhuwah yang dijalin oleh Nabi saw ketika berada di
Madinah?
4.
Berikan beberapa contoh bentuk ukhuwah!
5.
Apa yang dimaksud tri kerukunan umat beragama?
6.
Dalam hal apa saja kita boleh bekerja sama dengan antar sesama manusia berbeda
agama?
7.
C.
Dalam hal apa saja kita tidak boleh bekerja sama antar umat berbeda agama?
Tujuan
1.
Untuk mengetahui definisi dan makna dari kerukunan hidup antar umat beragama
2.
Untuk mengetahui maksud dari Islam rahmatan lil alamin QS 21: 107
3.
Untuk mengetahui maksud ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah insaniyah beserta
contohnya
4.
Untuk mengetahui definisi tri kerukunan umat beragama
5.
Untuk mengetahui hal apa saja yg boleh dan tidak boleh kita kerjakan bersama
antar umat berbeda agama.
BAB II
PEMBAHASAN
Kerukunan umat beragama adalah suatu bentuk sosialisasi yang damai dan tercipta berkat
adanya toleransi agama. Toleransi agama adalah sikap saling pengertian dan menghargai
tanpa diskriminasi, khususnya masalah agama.
Menurut Syekh Salim bin Hilali, toleransi memiliki karakteristik sebagai berikut:
1.
Kerelaan hati karena kemuliaan dan kedermawanan
2.
Kelapangan dada karena kebersihan dan ketaqwaan
3.
Kelemah lembutan karena kemudahan
4.
Muka yang ceria karena kegembiraan
5.
Rendah diri di hadapan kaum muslimin bukan karena kehinaan
6.
Mudah dalam berhubungan sosial (mu'amalah) tanpa penipuan dan kelalaian
7.
Menggampangkan dalam berdakwah ke jalan Allah tanpa basa basi
8.
Terikat dan tunduk kepada agama Allah tanpa ada rasa keberatan.
Kerukunan adalah istilah yang memiliki muatan makna “baik” dan “damai”. Intinya,
hidup bersama dalam masyarakat dengan “kesatuan hati” dan “bersepakat” untuk tidak
menciptakan
perselisihan
dan
pertengkaran
(Depdikbud,
1985:
850). Bila pemaknaan
tersebut dijadikan pegangan, maka “kerukunan” adalah sesuatu yang ideal yang didambakan
oleh masyarakat manusia.
A.
Islam Agama Rahmat bagi Seluruh Alam
Kata Islam berarti damai, selamat, sejahtera, penyerahan diri, taat dan patuh.
Pengertian tersebut menunjukkan bahwa agama Islam adalah agama yang mengandung
ajaran untuk menciptakan kedamaian, keselamatan, dan kesejahteraan hidup umat manusia
pada khususnya dan seluruh alam pada umumnya. Firman Allah,
‫رمحة للعالمين‬
‫إل‬
‫و ما رأسلناك‬
“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh
manusia” (QS. Al Anbiya: 107).
Rahmat dapat diartikan dengan kasih sayang. Jadi, diutusnya Nabi Muhammad
saw adalah bentuk kasih sayang Allah kepada seluruh manusia.
Fungsi Islam sebagai rahmat bagi sekalian alam tidak tergantung pada penerimaan
atau penilaian manusia.
Bentuk-bentuk kerahmatan Allah pada ajaran Islam tersebut adalah:
1.
Islam menunjuki manusia jalan hidup yang benar
2.
Islam memberikan kebebasan kepada manusia untuk menggunakan potensi yang
diberikan Allah secara bertanggung jawab.
3.
Islam menghargai dan menghormati semua manusia sebagai hamba Allah, baik
muslim maupun non muslim.
4.
Islam mengatur pemanfaatan alam secara baik dan proporsional.
5.
Islam menghormati kondisi spesifik individu dan memberikan perlakuan yang
spesifik pula.
B.
Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwa Insaniya
Dalam Al-Qur‟an banyak sekali ayat-ayat yang menyinggung masalah ukhuwah, yaitu
di antaranya:
1.
2.
Ukhuwah „ubudiyah, yaitu saudara kesemakhlukan dan kesetundukan kepada Allah.
Ukhuwah
Insaniyah
(basyariyah)
dalam
arti
seluruh
umat
manusia
adalah
bersaudara, karena mereka semua berasal dari seorang ayah dan ibu.
3.
Ukhuwah
wathaniyah
wa an-nasab,
yaitu
persaudaraan
dalam
keturunan
dan
kebangsaan.
4.
Ukhuwah fi din Al-Islam, yaitu persaudaraan antarsesama Muslim. Rasulullah saw
bersabda:
‫نتم اصحا ي ب اخوان انالذين يأتون د عبى‬
“Kalian adalah
(wafat)-ku.”
sahabat-sahabatku,
saudara-saudara
kita
adalah
yang
datang sesudah
1.
Makna Ukhuwah Islamiyah
Kata Ukhuwah berarti persaudaraan. Maksudnya perasaan simpati atau empati antara
dua orang atau lebih. Masing-masing pihak memiliki perasaan yang sama, baik suka maupun duka.
Jalinan perasaan itu menimbulkan sikap timbal balik untuk saling membantu bila pihak lain
mengalami kesulitan. Ukhuwah dan persaudaraan yang berlaku bagi sesama muslim disebut
ukhuwah Islamiyah.
Persaudaraan
sesama
muslim
adalah
persaudaraan
yang
tidak
dilandasi
oleh keluarga, suku, bangsa, dan warna kulit, namun karena perasaan seaqidah dan sekeyakinan.
Nabi mengibaratkan antara satu muslim dengan muslim lainnya ibaratkan satu tubuh. Apabila
ada satu bagian yang sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan sakitnya. Rasulullah SAW
juga
bersabda: ” tidak sempurna iman salah seorang kamu, sehingga ia mencintai saudaranya
seperti ia mencintai dirinya sendiri “. Hadis di atas berarti, seorang muslim harus dapat
merasakan
penderitaan
dan
kesusahan
saudara
yang
lainnya.
Ia
harus
selalu
menempatkan dirinya pada posisi saudaranya. Antara sesama muslim tidak ada sikap saling
permusuhan, dilarang mengolok-olok saudaranya yang muslim. Tidak boleh berburuk sangka dan
mencari kesalahan orang lain (QS al-Hujurat: 11-12)
Sejarah
telah
membuktikan
bagaimana
keintiman
persahabatan
dan
lezatnya
persaudaraan antara kaum muhajirin dan kaum anshar. Kaum muhajirin rela meninggalkan segala
harta, kekayaan, dan keluarganya di kampung halaman. Demikian juga kaum anshar dengan
penuh keikhlasan menyambut dan menjadikan kaum Muhajirin sebagai saudara. Peristiwa inilah
awal bersatunya dua hati dalam bentuk yang teorisentrik dan universal sebagai hasil dari
sebuah persaudaraan yang dibangun Nabi atas dasar kesamaan aqidah.
Dapat disimpulkan bahwa ukhuwah Islamiyah merupakan hal yang pokok dan mendasar
yang harus ditegakkan demi kelangsungan kejayaan umat Islam, maka dari Umat Islam harus selalu
meningkatkan dakwah Islamiah dan Amar Makruf Nahi Mungkar, agar persatuan dan kesatuan
dikalangan umat dapat ditegakkan. Sekaligus umat Islam harus senantiasa menyadari akan
pentingnya
Ukhuwah
Islamiyah
sebagai
modal
menuju
kemenangan
cita-cita Islam.
Kemenangan itu tidak akan tercapai tanpa adanya kekuatan. Dan kekuatan tidak akan
terwujud tanpa adanya persatuan. Sedangkan persatuan tidak akan mungkin tercapai
tanpa adanya Ukhuwah Islamiyah.
2.
Makna Ukhuwah Insaniyah
Persaudaraan
sesama
manusia
disebut
ukhuwah
insaniyah.
Persaudaraan
ini
dilandasi oleh ajaran bahwa semua umat manusia adalah makhluk Allah. Perbedaan keyakinan dan
agama juga merupakan kebebasan pilihan yang diberikan Allah. Hal ini harus dihargai dan
dihormati.
Persaudaraan dengan seluruh umat manusia (Ukhuwah Insaniyah) mengandung arti
bahwa seluruh umat manusia adalah saudara karena mereka berasal dari seorang ayah dan ibu.
Manusia mempunyai
motivasi
dalam
menciptakan
iklim
persaudaraan
hakiki
yang
tumbuh dan berkembang atas dasar rasa kemanusiaan yang bersifat universal.
Seluruh manusia di dunia adalah saudara. Tata hubungan dalam Ukhuwah Insaniyah
menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan martabat kemanusiaan untuk mencapai kehidupan
yang sejahtera, adil dan damai. Ukhuwah Insaniyah bersifat solidaritas kemanusiaan. Sedangkan
Ukhuwah Wathaniyah yaitu persaudaraan dalam keturunan dan kebangsaan. Pada diri manusia
perlu ditumbuhkan persaudaraan yang berdasarkan atas kesadaran berbangsa dan
Seluruh
bangsa
Indonesia
adalah
saudara.
Tata
hubungan
bernegara.
Ukhuwah Wathaniyah
menyangkut hal-hal yang bersifat sosial budaya. Ukhuwah Wathaniyah merupakan spirit
bagi kesejahteraan kehidupan bersama serta instrumen penting bagi proses kesadaran sebuah
bangsa dalam mewujudkan kesamaan derajat dan tanggung jawab.
C.
Tahapan Ukhuwah yg dijalin Oleh Nabi SAW ketika berada Dimadinah
Senin, 22 September 622 M menjadi hari yang bersejarah bagi umat Islam. Hari dimana
Rasulullah tiba di Madinah dalam rangka hijrah, setelah menempuh perjalanan berpuluh hari dari
Makkah. Bak kedatangan „sang juru selamat‟, Masyarakat Madinah menyambut Rasulullah dengan
penuh suka cita. Maklum, Madinah dihuni masyarakat yang beragam. Mulai dari beda suku, etnis,
hingga agama. Sehingga mereka kerap kali berperang. Kedatangan Rasulullah di Madinah
diharapkan bisa menjadi penengah atau pemersatu diantara mereka.
Sebagaimana diuraikan dalam buku Madinah: Kota Suci, Piagam Madinah, dan Teladan
Muhammad saw., setidaknya ada tiga hal dasar yang dilakukan Rasulullah pada fase Madinah. Tiga
hal dasar itu sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat Madinah sehingga mereka hidup aman,
tenteram, saling menghargai, dan dalam kesejahteraan.
Pertama, menjadikan masjid sebagai pusat semua kegiatan (center of activities). Usai tiba di
Madinah, Rasulullah membangun sebuah masjid, Masjid Nabi (Nabawi). Masjid ini memiliki
bangunan yang sangat sederhana; atapnya dari daun pohon kurma, pilarnya dari batang pohon
kurma, lantainya kerikil dan berpasir, dan bangunannya dari batu bata. Akan tetapi, bangunan itu
bukan sekedar bangunan biasa. Sebuah bangunan yang menjadi penanda kebangkitan peradaban
Islam. Karena Rasulullah memfungsikan masjid ini untuk semua kegiatan. Mulai dari mengajarkan
ajaran Islam, hikmah, proses belajar mengajar baca-tulis hingga menyusun strategi perang atau
politik. Semua diadakan di Masjid Nabi, bukan hanya untuk shalat saja. Singkatnya, Rasulullah
menggunakan masjid sebagai tempat pertemuan dan pembinaan umat.
Kedua, membangun persaudaraan antar sesama Muslim (ukhuwah islamiyah). Pada fase
Madinah, ada dua kelompok umat Islam yakni kaum Muhajirin (umat Islam Makkah yang hijrah ke
Madinah) dan kaum Anshar (umat Islam yang asli penduduk Madinah). Rasulullah
mempersaudarakan mereka satu persatu, satu Muhajirin dengan satu Anshar. Rasulullah juga selalu
menegaskan bahwa sesama Muslim itu bersaudara. Tidak lain, ini dilakukan Rasulullah untuk
memperkuat solidaritas dan kohesivitas sosial antar sesama umat Islam. Sehingga mereka tidak
mudah bertikai dan berperang, sebagaimana watak Arab Jahiliyah. Bagi seorang Muslim,
persaudaraan bukan saja didasarkan pada darah, tapi juga keimanan yang sama.
Ketiga, membangun persaudaraan dengan umat agama lain (ukhuwan insaniyah).
Rasulullah sadar betul bahwa Madinah memiliki masyarakat yang majemuk. Ada umat Islam, ada
umat Nasrani, ada umat Yahudi, dan yang lainnya. Untuk membangun sebuah kota yang kuat dan
damai, tidak ada jalan bagi Rasulullah kecuali „mempersatukan‟ masyarakat yang berbeda itu.
Akhirnya Rasulullah mencetuskan sebuah kesepakatan bersama, Piagam Madinah
(Constitution of Medina). Piagam ini menjadi titik temu (kalimatun sawa‟) bagi masyarakat
Madinah yang beragam. Dengan Piagam Madinah, Rasulullah berhasil mempersatukan masyarakat
Madinah yang selama itu tidak mungkin dipersatukan. Piagam Madinah menjadi konstitusi pertama
dalam membangun masyarakat yang bhineka berdasarkan nilai-nilai kesetaraan dan keadilan
bersama. Tiga pondasi dasar itulah yang dilakukan Rasulullah selama fase Madinah. Sehingga
Madinah menjadi sebuah kota yang berperadaban dan diperhitungkan di jazirah Arab pada saat itu.
(A Muchlishon Rochmat)
D.
Beberapa Contoh Bentuk Ukhuwah
Berikut beberapa contoh ukhuwah:
1.
Ikut Serta Kegiatan Gotong-royong
Kegiatan gotong royong merupakan contoh sikap ukhuwah akan membuat persaudaraan
semakin kuat. Karena gotong royong membuat orang berkumpul bersama untuk menyelesaikan
sebuah kebutuhan yang tidak bisa dilakukan sendiri. Misalnya saja membersihkan selokan.
Kegiatan ini sudah jarang ditemukan di kota. Namun, untuk masyarakat pedesaan masih banyak
yang melakukannya. Kebanyakan orang yang melakukan kegiatan ini adalah mereka yang
mempunyai rasa empati dan ukhuwah yang kuat.
2.
Menjenguk Kerabat yang Sakit
Saat Anda menjenguk orang yang sakit tidak ada jaminan orang tersebut sembuh. Namun,
orang sakit ini akan merasa puas dan bahagia melihat Anda memperhatikannya. Hal sepele ini akan
membuat persaudaraan akan bertambah kuat. Jika orang sakit tersebut tidak memiliki uang yang
cukup, maka bantulah. Dengan membantu, akan memberikan sedikit keringanan namun
mempunyai manfaat yang besar. Orang sakit cenderung membutuhkan perawatan yang lebih.
3.
Saling Menghormati
Sesama umat muslim ataupun non muslim tentunya harus saling menghormati. Hal ini akan
menciptakan sebuah hubungan yang harmonis dan langgeng. Tidak ada kriminalisai,
diskriminalisasi dan hal lain yang dapat merugikan. Saling menghormati tentunya harus Anda
lakukan kapan saja dan dimana saja. Apalagi kalau orang tersebut lebih tua. Perlu kiranya menjaga
sopan santun. Namun, jangan semena-mena dengan orang yang lebih kecil.
4.
Membantu Orang Lain
Kesulitan hidup merupakan contoh masalah yang sering dihadapi manusia. Baik berupa
hutang ataupun susah mencari uang. Dengan membantunya, akan menimbulkan rasa kasih sayang
yang membuat ukhuwah semakin kuat. Dengan meringankan beban orang lain, berarti Anda telah
melakukan salah satu contoh ukhuwah dalam kehidupan. Membantu tidak harus dengan hal yang
berat, bisa juga melalui hal yang kecil. Hal kecil inilah yang mengakibatkan menguatnya nilai
ukhuwah dalam masyarakat.
5.
Ikut Melakukan Donasi Sumbangan
Jika ada pembangunan di tempat Anda, tentunya harus menyisihkan sebagian hartanya.
Dalam Islam semakin banyak bersedekah maka semakin banyak pula rezeki yang didapatkan.
Jangan perhitungan dengan harta yang dimiliki. Karena sesungguhnya harta yang dimiliki adalah
titipan dari Allah dan semua itu akan kembali kepada-Nya. Selain melakukan donasi juga harus
melakukan zakat apabila telah melebihi nasab yang ditentukan.
6.
Ikut Serta Pembangunan Masjid
Membangun masjid merupakan penerapan contoh menjalin ukhuwah Islamiyah dan
merupakan perbuatan yang mulia. Membangun sebuah masjid tidak harus mengeluarkan uang,
namun bisa dengan tenaga ataupun memberikan makanan kepada orang yang bekerja disana.
Karena membangun masjid merupakan amal yang tidak akan terputus sampai akhir zaman. Anda
harus ikhlas saat melakukan pembangunan masjid. Jangan sampai ada rasa riya‟ ataupun
memberitahu apa saja yang dilakukan kepada orang lain.
7.
Menjaga Silaturahmi Antar Tetangga
Tetangga merupakan orang terdekat dalam kehidupan. Oleh karena itu, penting kiranya
menjaga hubungan agar tetap harmonis. Jika mereka dalam kesulitan, maka tolonglah. Nanti saat
Anda kesusahan mereka akan memberi pertolongan. Contoh ukhuwah ini bisa dilakukan untuk
menumbuhkan rasa ukhuwah yang baik dengan tetangga. Misalnya saja Anda memberikan
makanan walaupun dengan jumlah yang tidak pantas. Hal kecil ini akan menimbulkan rasa sayang
yang lebih.
8.
Mendamaikan Saudara yang Berselisih
Contoh ukhuwah persaudaraan berikutnya adalah mendamaikan saudara. Saat melihat
saudara yang sedang berselisih. Tentunya jangan dibiarkan saja. Anda harus mendamaikannya.
Dengan begitu tidak ada perselisihan diantara hubungan tersebut. Persaudaraanpun akan tetap
terjaga. Dengan persudaraan yang kuat akan menimbulkan sebuah kekompakan dalam melakukan
kebaikan. Saat Anda mengalami kesudahan tentunya orang tersebut akan setia menolong dengan
ikhlas.
E.
Tri Kerukunan Umat Beragama
Pemerintah RI melalui Departemen Agama RI, menteri Agama RI, H. Alamsya Ratu
Perwira Negara telah membentuk Wadah Musyawarah Antar Umat Beragama (WMAUB) dengan
SK. MENAG RI No. 35 tahun 1980 tanggal 30 Juni 1980 setelah 13 tahun diadakan musyawarah
antar umat beragama yang pertama tahun 1967.
Dalam terminologi yang digunakan pemerintah secara resmi, konsep kerukunan
hidup beragama mencakup 3 kerukunan (Tri Kerukunan), yang terdiri dari:
1.
Kerukunan intern umat beragama
2.
Kerukunan antar umat berbeda agama
3.
Kerukunan antar umat beragama dengan pemerintah
Dalam praktek, ketegangan yang sering timbul intern umat beragama dan antar umat
beragama disebabkan oleh:
1.
Sifat dari masing-masing agama yang mengandung tugas dakwah atau misi.
2.
Kurangnya pengetahuan para pemeluk agama akan agamanya sendiri dan agama lain. Arti
keberagamannya lebih kepada sikap fanatisme dan kepicikan (sekadar ikut-ikutan).
3.
Para pemeluk agama tidak mampu menahan diri, sehingga kurang menghormati bahkan
memandang rendah agama lain.
4.
Kaburnya batas antara sikap memegang teguh keyakinan agama dan toleransi dalam
kehidupan bermasyarakat.
5.
Kecurigaan masing-masing akan kejujuran pihak lain, baik intern umat beragama maupun
antar umat beragama.
6.
Kurangnya saling pengertian dalam menghadapi masalah perbedaan pendapat.
Dalam pergaulan antar agama, semakin hari kita merasakan intensnya pertemuan agamaagama itu. Walaupun kita juga semakin menyadari bahwa pertemuan itu kurang diisi segi-segi
dialogis antar imannya
Dalam pembinaan umat Beragama, para pemimpin dan tokoh agama mempunyai peranan
yang besar, yaitu:
1.
Menterjemahkan
nilai-nilai
dan
norma-norma
agama
ke
dalam kehidupan
bermasyarakat.
2.
Menerjemahkan
gagasan-gagasan
pembangunan
ke
dalam
bahasa yang
dimengerti oleh masyarakat.
3.
Memberikan pendapat, saran dan kritik yang sehat terhadap ide-ide dan cara- cara
yang dilakukan untuk suksesnya pembangunan.
4.
Mendorong dan membimbing masyarakat dan umat beragama untuk ikut serta
dalam usaha pembangunan.
5.
Meredamkan api-api konflik yang ada dan berusaha mencari titik temu dan solusi.
Untuk menghindari perpecahan di kalangan umat Islam dan memantapkan ukhuwah
Islamiyah para ahli menetapkan tiga konsep, yaitu:
1.
Konsep
tanawwul
’ibadah
al
(keragaman
cara
beribadah).
Konsep
ini
mengakui adanya keragaman yang dipraktekkan Nabi dalam pengamalan agama yang
mengantarkan kepada
keagamaan selama
merupakan
pengakuan
akan
merujuk kepada
kebenaran
Rasulullah.
Keragaman
semua
praktek
cara
beribadah
hasil dari interpretasi terhadap perilaku Rasul yang ditemukan dalam riwayat
(hadits).
2.
Konsep
al-mukhtiu
pun mendapatkan
fi
ganjaran).
seseorang mengikuti
tetap
itu
diberi ganjaran
keliru.
benar
dan
al-ijtihadi
pendapat
oleh
Di sini perlu
lahu
Konsep
seorang
Allah,
dicatat
ajrun
ini
salah
mengandung
ulama,
walaupun
bahwa
(yang
ia
tidak
hasil
wewenang
dalam
berijtihad
arti
bahwa
selama
akan
berdosa,
bahkan
ijtihad
untuk
yang
diamalkannya
menentukan
yang
salah bukan manusia, melainkan Allah SWT yang baru akan kita
ketahui di hari akhir. Kendati pun demikian, perlu pula diperhatikan orrang yang
mengemukakan ijtihad maupun orang
3.
yang
pendapatnya
orang
yang
Konsep
la hukma lillah qabla ijtihadi al-mujtahid
diikuti,
haruslah
memiliki otoritaskeilmuan yang disampaikannya setelah melalui ijtihad.
(Allah
belum menetapkan
suatu hukum sebelum upaya ijtihad dilakukan seorang mujtahid). Konsep ini dapat
kita pahami bahwa
hukumnya secara
pada
pasti, baik
persoalan-persoalan
dalam
Allah belum menetapkan hukumnya.
al-quran
Oleh
karena
yang
maupun
itu
belum
sunnah
umat
ditetapkan
Rasul,
Islam,
maka
khususnya
para mujtahid, dituntut untuk menetapkannya melalui ijtihad. Hasil dari ijtihad yang
dilakukan itu merupakan
hukum
Allah bagi masing-masing mujtahid, walaupun hasil
ijtihad itu berbeda-beda.
F.
Hal yang Tidak Boleh Dilakukan dalam Bekerjasama Antar Umat Berbeda
Agama
Hubungan antara muslim dengan penganut agama lain tidak dilarang oleh syariat
Islam, kecuali bekerja sama dalam persoalan aqidah dan ibadah (contoh : menikah dengan
bukan muslim). Kedua persoalan tersebut merupakan hak intern umat Islam yang tidak boleh
dicamputi pihak lain, tetapi aspek sosial kemasyarakatan dapat bersatu dalam kerja sama yang
baik. Kerja sama antar umat bergama merupakan bagian dari hubungan sosial antar manusia yang
tidak dilarang dalam ajaran Islam. Hubungan dan kerja sama dalam bidang-bidang ekonomi,
politik, maupun budaya tidak dilarang, bahkan dianjurkan sepanjang berada dalam ruang lingkup
kebaikan.
Menurut Prof. Dr. H Muchoyar H.S, MA dalam menyikapi perbedaan agama terkait dengan
toleransi antar umat beragama agar dialog antar umat beragama terwujud memerlukan 3 konsep
yaitu :
1.
Setuju untuk tidak setuju, maksudnya setiap agama memiliki akidah masing-masing
sehingga agama saling bertoleransi dengan perbedaan tersebut.
2.
Setuju untuk setuju, konsep ini berarti meyakini semua agama memiliki kesamaan
dalam upaya peningkatan kesejahteraan dan martabat umatnya.
3.
Setuju untuk berbeda, maksudnya dalam hal perbedaan ini disikapi dengan damai bukan
untuk saling menghancurkan.
G.
Kerja Sama Antar Umat Beragama
Memahami dan mengaplikasikan ajaran Islam dalam kehidupan masyarakat tidak
selalu hanya dapat diharapkan dalam kalangan masyarakat muslim. Islam dapat diaplikasikan
dalam masyarakat manapun, sebab secara esensial ia merupakan nilai yang bersifat universal.
Kendatipun dapat dipahami bahwa Islam yang hakiki hanya dirujukkan kepada konsep al-quran
dan As-sunnah, tetapi dampak sosial yanag lahir dari pelaksanaan ajaran islam secara konsekwen
didapat dirasakan oleh manusia secara keseluruhan.
Demikian pula pada tataran yang lebih luas, yaitu kehidupan antar bangsa, nilai-nilai ajaran
Islam menjadi sangat relevan untuk dilaksanakan guna menyatukan umat manusia dalam suatu
kesatuan kebenaran dan keadilan.
Dominasi salah satu etnis atau negara merupakan pengingkaran terhadap makna Islam,
sebab ia hanya setia pada nilai kebenaran dan keadilan yang bersifat universal.
Universalisme Islam dapat dibuktikan antara lain dari segi, dan sosiologi. Dari segi agama,
ajaran Islam menunjukkan universalisme dengan doktrin monoteisme dan prinsip kesatuan
alamnya. Selain itu tiap manusia, tanpa perbedaan diminta untuk bersama-sama menerima satu
dogma yang sederhana dan dengan itu ia termasuk ke dalam suatu masyarakat yang homogin
hanya denga tindakan yang sangat mudah, yakni membaca syahadat. Jika ia tidak ingin masuk
Islam, tidak ada paksaan dan dalam bidang sosial ia tetap diterima dan menikmati segala macam
hak kecuali yang merugikan umat Islam.
Ditinjau dari segi sosiologi, universalisme Islam ditampakkan bahwa wahyu ditujukan
kepada semua manusia agar mereka menganut agama Islam, dan dalam tingkat yang lain ditujukan
kepada umat Islam secara khususu untuk menunjukan peraturan-peraturan yang harus mereka ikuti.
Karena itu maka pembentukan masyarakat yang terpisah merupakan suatu akibat wajar dari
ajaran Al-Qur‟an tanpa mengurangi universalisme Islam.
Melihat Universalisme Islam di atas tampak bahwa esensi ajaran Islam terletak pada
penghargaan kepada kemanusiaan secara univarsal yang berpihak kepada kebenaran, kebaikan, dan
keadilan dengan mengedepankan kedamaian, menghindari pertentangan dan perselisian, baik ke
dalam intern umat Islam maupun ke luar. Dengan demikian tampak bahwa nilai-nilai ajaran Islam
menjadi dasar bagi hubungan antar umat manusia secara universal dengan tidak mengenal suku,
bangsa dan agama.
H.
Cara Menjaga Kerukunan Hidup Antar Umat Beragama
Menghilangkan perasaan curiga atau permusuhan terhadap pemeluk agama lain yaitu
dengan cara mengubah rasa curiga dan benci menjadi rasa penasaran yang positf dan mau
menghargai keyakinan orang lain.
•
Jangan menyalahkan agama seseorang apabila dia melakukan kesalahan tetapi
salahkan orangnya. Misalnya dalam hal terorisme.
•
Biarkan umat lain melaksanakan ibadahnya jangan olok-olok mereka karena ini bagian
dari sikap saling menghormati.
•
Hindari diskriminasi terhadap agama lain karena semua orang berhak mendapat
fasilitas yang sama seperti pendidikan, lapangan pekerjaan dan sebagainya.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Dari
pembahasan dalam makalah
ini,
dapat
disimpulkan
bahwa
kerukunan umat bragama yaitu hubungan sesama umat beragama yang dilandasi
dengan toleransi, saling pengertian, saling menghormati,
saling menghargai dalam
kesetaraan pengamalan ajaran agamanya
sama
masyarakat dan bernegara. berbagai
dalam
kehidupan
yang
dihadapi
dalam
antar
menghadapi
umat beragama di Indonesia ada beberapa sebab, antara lain; rendahnya
sikap toleransi, kepentingan
menghadapinya, adalah
menanamkan
kerja
macam bahasan mengenai kerukunan
umat beragama, yaitu: Kendala-kendala
kerukunan
dan
politik dan sikap fanatisme. Adapun
dengan
melak:ukan dialog
antar pemeluk
solusi untuk
agama
dan
sikap optimis terhadap tujuan untuk mencapai kerukunan antar umat
beragama.
B.
SARAN
Sudah
saatnya
bukan
perbedaan
lagi
yang
kita bicarakan,
tapi
persamaanlah yang seharusnya kita earl karena dari persamaanlah hidup ini akan
saling menghargai,
menghormati
jalin persaudaraan
dan mempererat tali silahturahim, dengan begitu akan tercipta
kerukunan dengan sendirinya.
dan
selaras.
Lewat
persamaan
kita
bisa
DAFTAR PUSTAKA
Dr. Ali Masrur, M.Ag.,2004,Problem dan Prospek Dialog Antaragama. Artikel. Cfm
Koran bali post cetak 29/12/2003.
Ansari, Zafar Ishaq & John L. Esposito, eds., 2001, Muslims and the West:
Encounter and Dialogue, Islamabad & Washington DC., Islamic Research Institute,
International Islamic University & Center for Muslim-Christian Understanding,
Georgetown University Koran bali post cetak 29/12/2003/. Him 3
Dr. Ali Masrur, M.Ag.Problem dan Prospek Dialog Antaragama. Artikel. Islamic
University & Center for Muslim-Christian Understanding, Georgetown University.
Him 57-58
Dr. Ali Masrur, M.Ag. Op. Cit. Ash-Shiddiqieqy, Hasbi TM, Sejarah Pertumbuhan
dan Perkembangan Hukum Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1997.
Al-Faruqi, Ismail. Atlas Budaya Islam, Menjelajah Khazanah Peradaban Gemilan,
Cet. III, Mizan : Bandung, 2001.
Cuolson, N.J. A. History Oflslamic Law. Edinburg_: Edinburg University, Press.
1994.
MAKALAH
MASYARAKAT MADANI DAN KESEJAHTERAAN UMAT
Disusun untuk memenuhi tugas pada bidang studi Agama Islam
Dosen Bidang Studi
Hepi Andri Bastoni, MA.
Disusun Oleh Kelompok 5 :
Akmal Dzaki
2140133
Annisa Nurjanati
2140138
Faratusyah
2140141
Felli Ladesra Zulmi
2140142
Fithri Annisa
2140143
M. Khernanda Nukhza
2140150
M. Ilham Ramadhan
2140148
Meli Puspita Sari
2140152
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK AKA BOGOR
PROGRAM STUDI ANALISIS KIMIA
2021/2022
KATA PENGANTAR
Assalamu‟alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Atas rahmat dan
hidayah-Nya, penulis bisa menyelesaikan karya ilmiah yang berjudul "Masyarakat
Madani dan Kesejahteraan Umat."
Tak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Hepi Andi Bastoni,
MA selaku Dosen Mata Kuliah Agama Islam yang telah membantu penulis dalam
mengerjakan karya ilmiah ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada temanteman yang telah berkontribusi dalam pembuatan karya ilmiah ini.
Penulis menyadari ada kekurangan pada karya ilmiah ini. Oleh sebab itu, saran
dan kritik senantiasa diharapkan demi perbaikan karya penulis. Penulis juga berharap
semoga makalah ini mampu memberikan pengetahuan tentang masyarakat madani
dan kesejahteraan umat.
Padang, 07 Juli 2021
Kelompok 5
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ....................................................................................
i
DAFTAR ISI...................................................................................................
ii
BAB I PENDAHULUAN ...............................................................................
1
A. Latar Belakang ..............................................................................
1
B. Rumusan Masalah ..........................................................................
2
C. Tujuan ............................................................................................
2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................
3
A. Apa yang Dimaksud dengan Masyarakat Madani (QS 34 : 15)
dan Civil Society? Dan Apa Perbedaan Keduannya? .....................
3
B. Karakteristik Masyarakat Madani ..................................................
4
C. Peran Umat Islam dalam Mewujudkan Masyarakat Madani .........
8
D. Apa yang Dimaksud dengan Ekonomi Islam? ...............................
8
E. Pandangan Islam Terhadap Harta ..................................................
10
F. Mengapa Umat Islam Tak Boleh Miskin? .....................................
12
G. Apa Saja Urgensi Bisnis dalam Islam? Bagaimana Rasulullah
Berbisnis? .......................................................................................
15
H. Peran Zakat dalam Islam ................................................................
18
I. Manajemen Zakat dan Wakaf ........................................................
20
BAB III PENUTUP ........................................................................................
25
A. Kesimpulan ....................................................................................
25
B. Saran ...............................................................................................
26
DAFTAR KEPUSTAKAAN .........................................................................
27
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Akhir-akhir ini sering muncul ungkapan dari sebagian pejabat pemerintah,
politisi, cendekiawan, dan tokoh-tokoh masyarakat tentang masyarakat madani.
Tampaknya, semua potensi bangsa Indonesia dipersiapkan dan diberdayakan
untuk menuju masyarakat madani yang merupakan cita-cita dari bangsa ini.
Masyarakat madani diprediski sebagai masyarakat yang berkembang sesuai
dengan potensi budaya, adat istiadat, dan agama. Bangsa Indonesia pada era
reformasi ini diarahkan untuk menuju masyarakat madani, untuk itu kehidupan
manusia Indonesia akan mengalami perubahan yang fundamental yang tentu akan
berbeda dengan kehidupan masayakat pada era orde baru.
Masyarakat madani merupakan konsep yang mengalami proses yang sangat
panjang. Masyarakat madani muncul bersamaan dengan adanya proses
modernisasi, terutama pada saat transformasi menuju masyarakat modern. Dalam
mendefinisikan masyarakat madani ini sangat bergantung pada kondisi sosiokultural suatu bangsa. Dalam islam masyarakat yang ideal adalah masyarakat
yang taat pada aturan Allah SWT, hidup dengan damai dan tentram, dan yang
tercukupi kebutuhan hidupnya.
Semua orang mendambakan kehidupan yang aman, damai dan sejahtera
sebagaimana yang dicita-citakan masyarakat Indonesia, yaitu adil dan makmur
bagi seluruh lapisan masyarakat. Untuk mencapainya berbagai sistem kenegaraan
muncul, seperti demokrasi.
Cita-cita suatu masyarakat tidak mungkin dicapai tanpa mengoptimalkan
kualitas sumber daya manusia. Namun masih banyak permasalahan bagi bangsa
Indonesia, permasalahan yang timbul tersebut mengakibatkan banyaknya konflik
ataupun kekacauan yang terjadi dimasyarakat. Permaalahan ini tidak bisa
dibiarkan lebih lanjut karena akan sangat berakibat buruk bagi kelangsungan
hidup berbangsa dan bernegara. Masih adanya budaya KKN dan budaya malas
mungkin menjadi masalah yang utama di negeri ini.
1
Bangsa Indonesia belum terlambat mewujudkan masyarakat madani asalkan
semua potensi sumber daya manusia mendapat kesempatan berkembang dan
dikembangkan. Mewujudkan masyarakat madani banyak tantangan yang harus
dilalui. Untuk itu perlu adanya strategi peningkatan peran dan fungsi masyarakat
dalam mengangkat martabat manusia menuju masyarakat madani itu sendiri.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan masyarakat madani (QS 34: 15) dan civil
society? Apa beda keduanya?
2. Sebutkan karakteristik masyarakat madani
3. Apa saja peran umat Islam dalam mewujudkan masyarakat madani
4. Apa yang dimaksud dengan ekonomi Islam?
5. Pandangan Islam terhadap harta?
6. Mengapa umat Islam tak boleh miskin? Jelaskan berdasarkan ayat dan
hadits serta logika!
7. Apa saja urgensi bisnis dalam Islam? Bagaimana Rasulullah Berbisnis?
8. Apa saja peran zakat dalam Islam?
9. Jelaskan manajemen zakat dan wakaf?
C. Tujuan
1. Untuk memahami masyarakat madani (QS 34: 15) dan civil societys serta
perbedaan antara keduanya
2. Untuk memahami karakteristik masyarakat madani
3. Untuk memahami peran umat Islam dalam mewujudkan masyarakat
madani
4. Untuk memahami yang dimaksud dengan ekonomi Islam
5. Untuk memahami pandangan Islam terhadap harta
6. Untuk memahami mengapa umat Islam tak boleh miskin?
7. Untuk memahami apa saja urgensi bisnis dalam Islam dab bagaimana
Rasulullah berbisnis
8. Untuk memahami apa saja peran zakat dalam Islam
9. Untuk memahami manajemen zakat dan wakaf
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Apa yang Dimaksud dengan Masyarakat Madani (QS 34 : 15) dan Civil
Society? Dan Apa Perbedaan Keduannya?
Masyarakat madani adalah masyarakat yang beradab, menjunjung tinggi
nilai-nilai kemanusiaan, yang maju dalam penguasaan ilmu pengetahuan, dan
teknologi. Allah SWT memberikan gambaran dari masyarakat madani dengan
firman-Nya dalam Q.S. Saba' ayat 15 yang berbunyi “ Sesungguhnya bagi kaum
Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah
kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan):
"Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah
kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah
Tuhan yang Maha Pengampun".
Masyarakat madani, konsep ini merupakan penerjemahan istilah dari
konsep civil society yang pertama kali digulirkan oleh Dato Seri Anwar Ibrahim
dalam ceramahnya pada simposium Nasional dalam rangka forum ilmiah pada
acara festival istiqlal, 26 September 1995 di Jakarta.
Konsep yang diajukan oleh Anwar Ibrahim ini hendak menunjukkan bahwa
masyarakat yang ideal adalah kelompok masyarakat yang memiliki peradaban
maju. Lebih jelas Anwar Ibrahim menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan
masyarakat madani adalah sistem sosial yang subur yang diasaskan kepada prinsip
moral yang menjamin keseimbangan antara kebebasan perorangan dengan
kestabilan masyarakat.
Perbedaan konsep masyarakat Madani dan civil society. Civil society
merupakan buah modernitas, sedangkan modernitas adalah buah gerakan
Renaisans. Yaitu, gerakan masyarakat sekuler yang meminggirkan Tuhan.
Sehingga civil society mempunyai moral-transendental yang rapuh karena
meninggalkan Tuhan. Sedangkan masyarakat madani lahir dari dalam buaian dan
asuhan petunjuk Tuhan.
Dari alasan ini Maarif mendefinisikan masyarakat madani sebagai sebuah
masyarakat yang terbuka, egaliter, dan toleran atas landasan nilai-nilai etik-moral
3
transendental yang bersumber dari wahyu Allah. Konsep masyarakat madani atau
disepadankan dengan istilah civil society menurut Nurcholish Madjid dapat
dirunut dari makna Madinah berarti kota. Seakar dengan Madaniyah dan
Tamaddun yang berarti peradaban (civilization). Maka, secara harfiyah Madinah
adalah
tempat
peradaban,
atau
lingkungan
hidup
yang
beradab
(kesopanan/civility), dan tidak liar.
Padanan kata Madaniyah dalam Bahasa Arab adalah “hadlarah” yang berarti
pola hidup menetap di suatu tempat (sedentary). Pengertian ini amat erat
kaitannya dengan istilah tsaqāfah, suatu padanan dalam bahasa Arab untuk
budaya (culture), tapi sesungguhnya juga mengisyaratkan pola kehidupan yang
menetap di suatu tempat tertentu.
Menurut perspektif Islam, civil society mengacu pada penciptaan peradaban.
Kata al-din (agama) memiliki kaitan dengan makna al-tamaddun (peradaban).
Kedua kata ini menyatu dalam pengertian al-Madinah (kota). Makna civil society
diterjemahkan sebagai masyarakat madani, mengandung tiga hal yakni agama,
peradaban, dan perkotaan. Konsep ini dapat dipahami bahwa masyarakat madani
berlandaskan agama sebagai sumbernya, peradaban sebagai prosesnya dan
masyarakat kota adalah hasilnya.
B. Karakteristik Masyarakat Madani
Masyarakat Madani yang dikehendaki al-Qur‟an memiliki beberapa
karakteristik, di antaranya adalah (1) ketaatan kepada Allah (ummah muslimah),
(2) Persaudaraan, (3) Demokratis, (4) toleransi, (5) Pluralisme, (6) Keadilan, dan
(7) Beretika. Ketujuh pointers ini sesung-guhnya relevan dengan karakteristik
yang telah dikemukakan pada kajian teoritis dimuka. Untuk memudahkan
pemahaman pembaca di dalam ka-jian bab ini akan dipaparkan berikut secara
detail :
1. Ketaatan kepada Allah (Ummah Muslimah)
Masyarakan Madani adalah suatu masyarakat yang secara sub-stansial
patuh dan tunduk kepada Allah, hal ini ditegaskan al-Qur‟an, surat alBaqarah: 128 ber-bunyi: : “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang
yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami
4
umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami caracara dan tempat ibadah haji kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha
Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. (QS. al-Baqarah : 128).”
2. Persaudaraan (ukhuwwah)
Persaudaraan dalam konteks masyarakat madani sangat diuta-makan, dan
bahkan diikat dengan ikatan yang kokoh. Ikatan format ini yang
membedakannya dengan masyarakat lain, dimana dalam hal apapun
kepentingan ikatan persaudaraan sangat diprioritaskan. Per-saudaraan model
ini dalam bahasa Islam adalah persaudaraan sesama muslim atau
persaudaraan seagama. Konteks ini ditegaskan dalam al-Qur‟an, surat alHujurat: 10 ber-bunyi : “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah
bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah
kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”. (QS. al-Hujarat : 10).”
3. Demokrasi
Demokrasi adalah salah satu karakteristik masayarakat madani, berbicara
tentang demokrasi, maka sadar atau tidak, kita selalu mengaitkannya dengan
keterbukaan atau pun pembaharuan politik. Upaya menghubungkan
demokrasi dengan keterbukaan politik yang lebih besar dan akselarasi
pembaharuan politik yang lebih cepat, tentu saja tidak ada salahnya. Sebab
bagaimana pun pembaharuan dan keterbukaan politik itu merupakan watak
dari demokrasi.
Rasulullah, ketika membangun masyarakat Madinah dalam menuntaskan
persoalan-persoalan yang mun-cul melalui proses demokratis. Hal ini
ditegaskan dalam al-Qur‟an (Surat Ali Imran: 159) ber-bunyi : “Maka
disebabkan rahmat dari Allah, engkau bersikap lemah lembut terhadap
mereka. Seandainya engkau bersikap kasar dan berhati keras, niscaya mereka
akan menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, ma‟afkanlah mereka,
mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka
dalam urusan (tertentu). Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad,
berta-wakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang
yang bertawakal kepada-Nya” (Ali Imran: 159).”
5
Ayat di atas dari segi redaksional ditujukan kepada Nabi Muham-mad
Saw. Agar memusyawarahkan persoalan-persoalan tertentu dengan sahabat
atau anggota masyarakatnya.
4. Toleransi
salah satu karakteristik masyarakat madani adalah eksisnya toleransi.
Toleransi dimaksud suatu sikap menghargai, mem-biarkan, membolehkan
pendirian,
pendapat,
pandangan,
kepercayaan,
kebiasaan,
kelakuan,
tingkahlaku yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri,
sehingga terwujud suatu masyarakat yang penuh ke-damaian, keadilan dan
sejahtera, merupakan masyarakat ideal sesuai de-ngan isyarat al-Qur‟an.
Hal ini ditegaskan Allah dalam al-Qur‟an, surat (al-Maidah: 2) ber-bunyi :
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa,
dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran, dan
bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat sisksa-Nya, (QS.
al-Maidah : 2).”
5. Pluralisme
Kemajemukan (pluralitas) adalah sunnatullah yang tidak mungkin dapat
dielakkan manusia. Diciptakannya manusia dari berbagai suku bangsa, dengan
berbagai ragam ras dan warna kulitnya, mengandung hik-mah yang sangat
besar bagi kelangsungan hidup manusia. Yaitu agar mereka mengenal
sesamanya. Faktualitas eksisnya pluralitas ini dite-gaskan Allah dalam Al Qur‟an, surat al-Hujurat: 13 yang ber-bunyi : “Hai manusia, sesungguhnya
Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan
menjadikan kamu berbangsa- 63 bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
kenal-mengenal”. (QS. alHujurat: 13).”
Mencermati ayat di atas bahwa Allah menciptakan manusia dalam
kelompok-kelompok suku dengan tendensi keragaman suku dan bangsa
dimaksud manusia dapat saling mengenal dan saling membutuhkan. Sungguh
pun manusia terdiri dari berbagai suku dan bangsa, berbicara dengan berbagai
bahasa, dengan warna kulit yang berbeda, mereka semua pada hakikatnya
berasal dari sumber yang satu, jiwa yang satu (nafs wahidah). Inilah salah satu
6
dari format toleransi dalam tatanan masyarakat madani, sebagaimana yang
telah disinggung dimuka dalam konteks mu‟amalat.
6. Keadilan
Karakteristik masyarakat madani berikutnya adalah keadilan. Keadilan
adalah kata jadian dari bahasa Arab “adl” yang berarti “sama”. Persamaan
tersebut sering dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat imma-terial. Persamaan
yang merupakan makna asal kata “adil” itulah yang menjadikan pelakunya
“tidak berpihak”, dan pada dasarnya pula seorang yang adil “berpihak kepada
yang benar”, karena baik yang benar maupun yang salah sama-sama harus
memperoleh haknya.
Konteks keadilan dalam al-Qur.an amat beragam, tidak hanya pada proses
penetapan hukum atau terhadap pihak yang berselisih, melainkan al-Qur‟an
juga menuntut keadilan terhadap diri sendiri-baik ketika berucap, menulis dan
bersikap bathin. Ketiga term keadilan di atas dapat dikonkritkan oleh alQur‟an berikut ini. “Sesungguhnya Allah memerintahkan berlaku adil dan
berbuat ihsan (kebajikan)”. (QS. al-Nahl: 90). “Katakanlah,Tuhanku
memerintahkan menjalankan keadilan”. (QS. al-A‟raf: 29). “Dan langit
ditegakkan dan Dia menetapkan neraca (keadilan)”. (al-Rahman: 7).
7. Beretika (Berakhlak)
Terminologis Akhlak (etika) tidak dijumpai dalam al-Qur‟an. Yang
ditemukan hanyalah format tunggal kata tersebut yaitu “khuluq” yang
tercantum dalam surat al-Qalam ayat: 4. Ayat dimaksud nilai sebagai
konsideran pengangkatan nabi Muham-mad Saw sebagai Rasulullah.
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang agung”.
(QS. al-Qalam: 4). Ayat al-Qur‟an ini dipertegas hadits Rasul yang sangat
populer sebagai berikut : “Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak
yang mulia”. (HR. Malik).
Mencermati ayat dan hadits Rasul di atas, dapat dipahami bahwa dalam
konteks masyarakat madani harus memiliki etika atau akhlak karena ia
merupakan salah satu dari kandungan Islam yang harus diaktua-lisasikan
dalam kehidupan masyarakat yang mengaktualisasikan nilai-nilai agamis.
7
C. Peran Umat Islam dalam Mewujudkan Masyarakat Madani
Peranan umat islam dalam mewujudkan masyarakat madani adalah dengan
menerapkan lima prinsip dasar yaitu muakkah, ikatan iman, ikatan cinta,
persamaan si kaya dan si miskin dan toleransi umat beragama :
1. Muakhah atau persaudaran, yaitu mmemandang seluruh orang muslim
sebagai suadara, sebagaimana perintah ALLAH dalam surah al hujurat
ayat
10.
Dimana
telah
dicontohkan
Rasulullah
dengan
memepersaudarakan orang-orang muhajirin dan orang-orang anshor.
2. Ikatan iman, yaitu menjadikan ikatan keimanan sebagai dasar yang paling
kuat dalam membentuk keharmonisan dalam masyarakat. Sehingga setipa
warga negara diikat oleh kalimat yang sama yaitu kalimat syahadat,
bahkan diharamkan darah , harta dan menganggu kehormatan diantara
orang-orang islam.
3. Ikatan cinta, yaitu memupukkan paham nasionalisme, dimana kepahaman
akan cinta tanah air merupakan bagian dari iman. Maka setiap warga
masyarakat
punya
ras
memiliki
terhadapat
masayrakat
tersebut.
sebagaimana Rasulullah memimpin madinah berlandaskan cinta dan rasa
tolong – menolong
4. Persamaan si kaya dan si miskin, yaitu menyempitkan jurang pembatas
antara si kaya dan si miskin, berdasrkan ikatan iman dengan cara
menerapkan zakat, sehingga masyarakat menjadi sejahtera karena harta
tiap orang dapt digunakan untuk orang lain yang membutuhkan.
5. Toleransi umat beragama, yaitu menerapkan hukum islam sebagai
landasan toleransi, dimana rasulullah begitu menekankan untuk berbuat
baik kepada orang-orang kafir yang tidak melawan atau dalam
perlindungan negara, bahkan memberi ancaman yang berat bagi orangorang islam yang mendzolimi orang kafir.
D. Apa yang Dimaksud dengan Ekonomi Islam?
Ekonomi adalah kebutuhan yang mendasar dalam kehidupan manusia untuk
bisa hidup dan berkembang dalam kehidupan sehari-hari, tanpa adanya ekonomi
maka aktivitas dan proses kehidupan manusia akan terganggu. Ekonomi islam
8
yaitu suatu ilmu pengetahuan sosial yang didalamnya mempelajari tentang
masalah-masalah ekonomi masyarakat yang berbasis islam dan didasari empat
pengetahua yaitu Al-qur‟an,sunnah,ijmak,dan qiyas.maka dari itu masyarakat
akan di kendalikan bagaimana cara memenuhi kebutuhan dan menggunakannya
sesuai dengan ajaran islam. Islam adalah salah satu agama yang
mengajari
manusia untuk melakukan kebaikan dan berbuat adi.
Prinsip inilah yang diterapkan islam dalam hal ekonomi. Islam juga mengatur
tentang ekonomi diantaranya yaitu:
1. Kewajiban zakat,infaq, dan shodaqoh
2. Larangan berjudi dan mengundi nasib dengan panah
3. Membayar pajak
4. Dan lain sebagainya.
Ekonomi islam bertujuan agar dapat terpenuhinya semua kebutuuhan manusia,
bukan hanya satu orang melainkan semua umat manusia di muka bumi ini,agar
supaya mencapai kesejahteraan sosial.norma-norma seperti ini sangat berkaitan
dengan tanggung jawab manusia terhadap allah SWT.
Maka dari itu umat manusia dianjurkan untuk jujur dengan sesama dan saling
menjaga sehingga tercipta keadilan dalam umat manusia, dalam hal ini posisi
islam dalam ekonomi yaitu untuk memenah kebutuhan dasar anggota masyarakat
dan masyarakat tidak boleh berlebih-lebihan atau pemborosan baik individu
ataupun masyarakat karena dilarang oleh islam, islam juga memberikan jaminan
sosial yang didasarkan pada dua basis doktrin ekonomi islam yang pertama yaitu
wajibnya timbal balik masyarakat dan yang kedua yaitu hak manusia terhadap
sumber daya yang meliputi kekayaan yang dikuasai negara.
Negara sendiri memiliki fungsi dalam mengaplikasikan prinsip kewajiban
timbal balik dengan cara mengatur warganya supaya mematuhi hukum-hukum
yang sudah diatur oleh islam sehingga terciptanya kesejahteraan bagi umat
manusia. Ekonomi islam juga mempunyai tujuan yang mengarahkan pada sistem
individu dan kolektif sehingga tercapai tujuan-tujuan yang menyeluruh, tujuantujuan tersebut diantaranya yaitu:
1. Menyediakan dan menciptakan peluang peluang bagi semua orang dalam
kegiatan-kegiatan ekonomi.
9
2. Memberantas kemiskinan dan memenuhi kebutuhan dasar bagi semua
individu umat manusia
3. Meningkatkan kesejateraan ekonomi islam.
Dengan pemaparan diatas akan terciptanya pertumbuhan ekonomi islam
secara cepat karena teciptanya lapangan kerja serta adanya kejujuran dan keadilan
dalam setiap individu masyarakat,sehingga masyarakat bisa hidup sejahtera.
E. Pandangan Islam Terhadap Harta
Kedudukan manusia sebagai khalifah Allah dalam harta, pada hakikatnya
menunjukan bahwa manusia merupakan wakil atau petugas yang bekerja kepada
Allah. Oleh karena itu, menjadi kewajiban manusia sebagai khalifah Allah untuk
merasa terikat dengan perintah-perintah dan ajaran-ajaran Allah tentang harta.
Inilah landasan syariat yang mengatur harta, hak dan kepemilikan. Kesemuanya
harus sesuai dengan aturan yang memiliki harta tersebut, yaitu aturan Allah (AlAssal, 1999, p. 44).
Pandangan Islam terhadap harta adalah pandangan yang tegas dan bijaksana,
karena Allah menjadikan harta sebagai hak milik-Nya, kemudian harta ini
diberikan kepada orang yang dikehendakinya untuk dibelanjakan pada jalan
Allah. Oleh karena itu, Islam mempunyai pandangan yang pasti tentang harta.
Pandangan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Mengenai kepemilikan mutlak harta/segala sesuatu yang ada di muka
bumi ini adalah milik Allah. Kepemilikan oleh manusia adalah hanya
bersifat relatif, sebatas untuk menjalankan amanah mengelola dan
memanfaatkan sesuai dengan ketentuan-Nya (Mardani, 2013, p. 61).
Firman Allah dalam QS. Toha ayat 6: “Kepunyaan-Nya lah semua yang
ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya, dan
semua yang di bawah tanah.” (QS. Toha [20]: 6)
2. Status harta yang dimiliki manusia adalah:
a. Harta merupakan amanah (titipan) dari Allah. Manusia hanyalah
pemegang amanah karena memang tidak mampu mewujudkan harta
dari yang tidak ada. Dalam bahasa Enstein, manusia itu tidak mampu
menciptakan energi, tetapi yang mampu manusia lakukan adalah
10
mengubah dari suatu bentuk ke bentuk energi lain. Penciptaan awal dari
segala energi adalah Allah. Sebagaimana firman Allah dalam QS. alMaidah ayat 18: “... Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan antara
keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu).” (QS. alMaidah [5]: 18)
b. Harta sebagai perhiasan hidup yang memungkinkan manusia dapat
menikmatinya dengan baik dan tidak berlebih-lebihan. Manusia
mempunyai kecenderungan yang kuat untuk memiliki, menguasai, dan
menikmati harta. Firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 14:
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa
yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari
jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah
ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat
kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran [3]: 14) Namun, terkait
dengan fungsi harta sebagai perhiasan dalam kehidupan manusia,
seringkali manusia terlupa akan kedudukan harta untuk mendekatkan
diri semata kepada Allah. Oleh karena itu, sering harta ini membuat
manusia menjadi sombong dan berbangga diri, sehingga lupa kepada
Allah sebagai pemberi harta tersebut.
c. Harta sebagai ujian keimanan (Antonio, 2015, p. 9). Hal ini terutama
menyangkut tentang cara mendapatkan dan memanfaatkannya, apakah
sesuai dengan ajaran Islam atau tidak. Hal ini sesuai frman Allah dalam
QS. al-Anfal ayat 28: “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anakanakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah
pahala yang besar.” (QS. al-Anfal [8]: 28)
d. Harta sebagai bekal ibadah, yakni untuk melaksanakan perintah-Nya
dan melaksanakan muamalah di antara sesama manusia, melalui
kegiatan zakat, infak dan sedekah. Hal ini sesuai firman Allah dalam
QS. Ali Imran ayat 134: “Yaitu orang-orang yang menafkahkan
(hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang
menahan amarahnya dan mema‟afkan (kesalahan) orang. Allah
11
menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran [3]:
134)
e. Cara memperoleh harta juga diatur sedemikian rupa, sehingga ada
beberapa etika dan hukum yang patut diperhatikan di saat mencari
nafkah ataupun bekerja. Pemilikan harta dapat dilakukan dengan
berbagai macam, antara lain melalui usaha (amal) atau mata
pencaharian (ma‟isyah) yang halal dan sesuai dengan aturan Allah
(Djamil, 2013, pp. 183–184). Sebagaimana firman Allah dalam QS. alMulk ayat 15: “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu,
maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari
rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah)
dibangkitkan.” (QS. al-Mulk [67]: 15)
Dari uraian di atas, seharusnya harta itu diperoleh melalui cara halal yang
telah diatur secara jelas di berbagai ayat-ayat dalam al-Quran. Demikian pula
dalam menggunakan atau membelanjakan harta harus pula dengan cara yang baik
demi memperoleh ridha Allah serta tercapainya distribusi kekayaan yang adil di
tengah-tengah masyarakat.
Penggunaan atau pembelanjaan harta wajib dibatasi pada sesuatu yang halal
dan sesuai syariah. Dengan demikian, harta itu jangan sampai digunakan untuk
perjudian, membeli minuman keras dan barang-barang yang diharamkan, atau apa
saja yang dilarang oleh syariah.
F. Mengapa Umat Islam Tak Boleh Miskin?
Bila kita kaji lebih dalam, meski agama tidak mencela atau menghina orang
orang miskin, namun Islam mendorong ummatnya untuk memiliki harta yang
memadai (kaya). Hal ini dapat dilihat dari :
1. Islam memerintahkan memperhatikan keluarga (ahli waris) yang akan
ditinggalkan, supaya mereka jangan sampai hidup melarat yang
menadahkan
tangannya
kepada
manusia.
Kita
perhatikan
sabda
Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam : “Sesungguhnya engkau tinggalkan
ahli warismu dalam keadaan kaya (cukup) lebih baik daripada engkau
12
tinggalkan mereka hidup melarat/miskin yang menadahkan tangan-tangan
mereka kepada manusia (meminta-minta)”. (Hadits Riwayat Bukhari
3:186 dan Muslim 5:71 dan lain-lain). Hadits ini menyatakan bahwa
meninggalkan ahli waris dalam kondisi yang kaya adalah lebih baik bila
dibandingkan dengan kondisi yang miskin. Dengan demikian, hadist ini
memotivasi kita untuk produktif dalam mencari nafkah, sehingga ahli
waris kita dapat ditinggali dengan harta warisan yang memadai.
2. Dalam Al-Qur‟an, Allah SWT. Memotivasi hambanya untuk mencari
rezeki dan melarang hambanya untuk meninggalkan keturunan dalam
keadaan dhoif (miskin/lemah). Salah satu perintah mencari rezeki,
termaktub dalam QS Al-Jumu‟ah ayat 10 yang ber-bunyi : “Apabila telah
ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah
karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”
(QS. Jumu‟ah: 10). Dalam ayat diatas, Allah SWT tidak hanya
memerintahkan hambanya untuk mendirikan sholat, namun juga umat
Islam harus berusaha dan bekerja mencari karunia (rezeki) dari Allah
SWT. Perintah Sholat disejajarkan dalam ayat yang sama tentang perintah
mencari rezeki, karena itu sebagai muslim hendaknya kita menyadari
bahwa orang Islam sangat tidak diperbolehkan hidup miskin.
3. Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam memohon perlindungan kepada Allah
Subhanahu wa ta‟ala dari hidup dalam kefakiran dan kelaparan
a. Dari Aisyah (ia berkata) : Bahwa Rasulullah Shallallahu „alaihi wa
sallam biasa berdo‟a dengan do‟a-doa ini : Allahumma … (Ya Allah,
sesungguh-nya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari fitnah
neraka dan azab neraka, dan dari fitnah kubur dan azab kubur, dan
dari kejahatan fitnah (cobaan) kekayaan, dan dari kejahatan fitnah
(cobaan) kefakiran ….” (Shahih Riwayat Bukhari 7/159, 161. Muslim
8/75 dan ini lafadznya, Abu Dawud No. 1543, Ibnu Majah No. 3838,
Ahmad 6/57, 207. Tirmidzi, Nasa‟i, Hakim 1/541 dan Baihaqi 7/12).
b. Hadits Abi Hurairah : “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu „alaihi wa
sallam berdo‟a : Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan
kepada-Mu dari kefakiran, dan aku memohon perlindungan kepada-Mu
13
dari kekurangan dan kehinaan, dan aku memohon perlindungan kepadaMu dari menganiaya atau dianiaya”. (Shahih Riwayat Abu Dawud No.
1544, Ahmad 3/305,325. Nasa‟i, Ibnu Hibban No. 2443. Baihaqi 7/12).
Dua hadits di atas, menunjukkan bahwa kefakiran adalah hal yang
kurang baik.
Karena merupakan hal yang kurang baik, maka
Rasulullah memohon perlindungan dari Allah SWT. Karena do‟a di
atas juga merupakan suatu keteladanan yang perlu kita ikuti, maka
secara esensi pun, berlindung (menghindari) dari kefakiran adalah hal
yang perlu kita lakukan sebagai pengamalan kita atas keteladanan
Rasulullah SAW.
4. Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam pernah mendo‟akan Anas bin Malik
:“Ya Allah ! Banyakkanlah hartanya dan anak-anaknya serta berikanlah
keberkahan apa yang Engkau telah berikan kepadanya“. (Hadits Riwayat
Bukhari 7/152, 154,161-162. dan lain-lain). Pada hadits ini Rasulullah
SAW mendo‟akan agar sahabatnya memiliki harta yang banyak. Bila
memiliki harta yang banyak suatu hal yang kurang baik, maka tentu
Rasulullah SAW tidak akan mendo‟akan seperti itu.
5. Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam pernah bersabda kepada sahabatnya
Hakim bin Hizaam :“Wahai Hakim! Sesungguhnya harta ini indah (dan)
manis, maka barang siapa yang mengambilnya dengan jiwa yang baik,
niscaya mendapat keberkahan, dan barang siapa yang mengambilnya
dengan jiwa yang tamak, niscaya tidak mendapat keberkahan, dan ia
seperti orang yang makan tetapi tidak pernah kenyang, dan tangan yang di
atas (yang memberi) lebih baik dari tangan yang di bawah (yang
meminta)”. (Hadits Riwayat Bukhari 7/176 dan Muslim 3/94). Hadits ini
termasuk memotivasi untuk memiliki harta yang memadai. Pertama karena
dinyatakan bahwa harta itu indah dan manis, serta dinyatakan bahwa
tangan di atas (memberi) lebih baik dari tangan yang di bawah (menerima
bantuan). Meski untuk menjadi dermawan tidak harus kaya raya dan
belum tentu juga orang yang kaya raya otomatis dermawan, namun dengan
menjadi kaya maka bila orang tersebut dermawan akan banyak harta yang
dapat ia dermakan. Dengan demikian, menjadi orang kaya akan memiliki
14
kesempatan yang lebih besar untuk beramal dan memberi manfaat bagi
orang lain dengan hartanya.
Sebenarnya, dalam mencari harta, sudah banyak yang termotivasi untuk
melakukannya.
Namun dalil-dalil di atas perlu dikemukakan untuk lebih
memahamkan kita, bahwa ibadah (agama) dan mencari harta bukan sesuatu yang
terpisah.
Agama pun memotivasi untuk melakukan itu.
Hanya saja, Islam
memberikan tuntunan mencari harta dan mengelola harta yang benar.
Untuk itu, pada tulisan-tulisan selanjutnya kita akan membahas tentang
bagaimana kita mengelola harta kita berlandaskan Islam. Kajian terutama pada
pokok bahasan yang menurut penulis sering disalahfahami sehingga seolah kita
tidak diperkenankan kaya seperti tentang zuhud, qonaah, tawakal dan sebagainya.
G. Apa Saja Urgensi Bisnis dalam Islam? Bagaimana Rasulullah Berbisnis?
Pada dasarnya ajaran Islam yang tertuang dalam Al - Qur‟an dan As-Sunnah
juga ijma‟ lama banyak mengajarkan tentang kehidupan yang serba terarah dan
teratur. Dalam pelaksanaan shalat yang menjadi icon paling sakral dalam Islam
merupakan contoh konkrit adanya manajemen yang mengarah kepada keteraturan.
Puasa, haji dan amaliyah lainnya merupakan pelaksanaan manajemen yang
monomintal. Rasul Muhammad SAW Sebegai interpretasiriil Al - Qur‟an adalah
sosok manajer yang handal, mengimplementasikan nilainilai manajemen modern
dalam kehidupan dan praktik bisnis yang mendahului masanya.
Jauh sebelum para ahli bisnis modern seperti Frederick W. Taylor dan Henry
Fayol pada abad ke-19 mengangkat prinsip manajemen sebagai sebuah disiplin
ilmu, Berdasarkan prinsip-prinsip manajemen modern, Rasulullah SAW telah
dengan sangat baik mengelola proses transaksi dan hubungan bisnis dengan
seluruh elemen bisnis serta pihak yang terlihat di dalamnya.
Sebelum Dunia Barat menyebarkan ilmu manajemen yang mereka temukan
terlebih dahulu Islam sudah menjelaskan manajemen bisnis yang baik yang telah
diimplementasikan oleh baginda Rasullullah. Kesuksesan Rasulullah SAW itu
sudah banyak dibahas dan diulas oleh para ahli sejarah Islam maupun Barat.
Padahal manajemen bisnis yang dijalankan Rasulullah SAW hingga kini maupun
di masa mendatang akan selalu relevan diterapkan dalam bisnis modern.
15
Setelah kakeknya yang merawat Muhammad SAW sejak bayi wafat, seorang
pamannya yang bernama Abu Thalib lalu merawatnya. Abu Thalib yang sangat
menyayangi Muhammad SAW sebagaimana anaknya sendiri adalah seorang
pedagang. Tidak heran jika beliau telah pandai berdagang sejak berusia belasan
tahun. Kesuksesan Rasulullah SAW dalam bisnis tidak terlepas dari kejujuran
yang mendarah daging dalam sosoknya.
Selain itu, Muhammad SAW juga dikenal sangat teguh memegang
kepercayaan (amanah) dan tidak pernah sekali-kali mengkhianati kepercayaan itu.
Menurut sejarah, telah tercatat bahwa Muhammad SAW melakukan lawatan
bisnis ke luar negeri sebanyak 6 kali di antaranya ke Syam (Suriah).
Teori dan konsep manajemen yang digunakan saat ini sebenarnya bukan hal
yang baru dalam perspektif Islam. Manajemen itu telah ada paling tidak ketika
Allah menciptakan alam beserta isinya. Unsur-unsur manajemen dalam
pembuatan alam serta makhluk- makhluknya lainnya tidak terlepas dengan
manajemen langit. Ketika Nabi Adam sebagai khalifah memimpin alam raya ini
telah melaksanakan unsur-unsur manajemen tersebut.
Bisnis dalam Islam bertujuan untuk mencapai empat hal utama yaitu :
1. Target hasil: profit-materi dan benefit-nonmateri, artinya bahwa bisnis
tidak hanya untuk mencari profit (qimahmadiyah atau nilai materi)
setinggi-tingginya, tetapi juga harus dapat memperoleh dan memberikan
benefit (keuntungan atau manfaat) nonmateri kepada internal organisasi
perusahaan dan eksternal (lingkungan), seperti terciptanya suasana
persaudaraan, kepedulian sosial dan sebagainya.
2. Benefit, yang dimaksudkan tidaklah semata memberikan manfaat
kebendaan, tetapi juga dapat bersifat nonmateri. Islam memandang bahwa
tujuan suatu amal perbuatan tidak hanya berorientasi pada qimahmadiyah.
Masih ada tiga orientasi lainnya, yakni qimahinsaniyah, qimahkhuluqiyah,
dan qimahruhiyah Dengan qimahinsaniyah, berarti pengelola berusaha
memberikan manfaat yang bersifat kemanusiaan melalui kesempatan
kerja, bantuan sosial (sedekah), dan bantuan lainnya. Qimahkhuluqiyah,
mengandung pengertian bahwa nilai-nilai akhlak mulia menjadi suatu
kemestian yang harus muncul dalam setiap aktivitas bisnis sehingga
16
tercipta hubungan persaudaraan yang Islami, bukan sekedar hubungan
fungsional atau profesional. Sementara itu qimahruhiyah berarti aktivitas
dijadikan sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.
3. Pertumbuhan, jika profit materi dan profit non materi telah diraih,
perusahaan harus berupaya menjaga pertumbuhan agar selalu meningkat.
Upaya peningkatan ini juga harus selalu dalam koridor syariah, bukan
menghalalkan segala cara. Keberlangsungan, target yang telah dicapai
dengan pertumbuhan setiap tahunnya harus dijaga keberlangsungannya
agar perusahaan dapat exis dalam kurun waktu yang lama.
4. Keberkahan, semua tujuan yang telah tercapai tidak akan berarti apa-apa
jika tidak ada keberkahan di dalamnya. Maka bisnis Islam menempatkan
berkah sebagai tujuan inti, karena ia merupakan bentuk dari diterimanya
segala aktivitas manusia. Keberkahan ini menjadi bukti bahwa bisnis yang
dilakukan oleh pengusaha muslim telah mendapat ridla dari Allah Swt.,
dan bernilai ibadah.
Konsep bisnis dalam Islam banyak dijelaskan dalam al-Qur‟an dengan
menggunakan
beberapa
terma,
seperti; tijarah,
al-bai,
isytara dan tadayantum. Dari kesemua term tersebut menunjukkan bahwa bisnis
dalam perspektif Islam pada hakikatnya tidak semata-mata bersifat material yang
tujuannya
hanya
semata-mata
bersifat immaterial yang
mencari
tujuannya
keuntungan duniawi,
mencari
tetapi
keuntungan
juga
dan
kebahagiaan ukhrawi.
Untuk itu bisnis dalam Islam disamping harus dilakukan dengan cara
profesional yang melibatkan ketelitian dan kecermatan dalam proses manajemen
dan administrasi agar terhindar dari kerugian, ia juga harus terbebas dari unsurunsur penipuan (gharar), kebohongan, riba dan praktek-praktek lain yang
dilarang oleh syariah.
Karena pada dasarnya aktivitas bisnis tidak hanya dilakukan antar sesame
manusia tetapi juga dilakukan antara manusia dengan Allah. Dalam konteks inilah
al-Qur‟an menawarkan keuntungan dengan suatu bisnis yang tidak pernah
mengenal kerugian yang oleh al-Qur‟an diistilahkan dengan “tijaratan lan
17
tabura”. Karena walaupun seandainya secara material pelaku bisnis Muslim
merugi, tetapi pada hakikatnya ia tetap beruntung karena mendapatkan pahala atas
komitmenya dalam menjalankan bisnis yang sesuai dengan syariah.
H. Peran Zakat dalam Islam
Dalam pengertian Bahasa Arab, zakat berarti kebersihan, perkembangan dan
berkah. Dengan kata lain kalimat zakat bisa diartikan bersih, bisa bertambah, bisa
bertambah, dan juga bisa diartikan diberkahi. Makna-makna tersebut diakui dan
dikehendaki dalam Islam.
Oleh karena itu barangsiapa yang mengeluarkan zakat berarti ia
membersihkan dirinya dan mensucikan hartanya, sehingga diharapkan pahalanya
bertambah dan hartanya diberkahi.1 Menurut Sayyid Sabiq kata zakat merupakan
nama dari sesuatu hak Allah yang dikeluarkan seseorang kepada fakir miskin.
Dinamakan zakat dikarenakan mengandung harapan untuk mendapatkan
berkah, membersihkan dan memupuk jiwa dengan berbagai kebaikan2 . Adapun
asal makna kata zakat itu adalah tumbuh, suci, dan berkah.3 Allah SWT
berfirman, “ambillah (sebagian) dari harta mereka menjadi sedekah (zakat),
dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka…”(QS 9:103).
Menurut Imam An Nawawi zakat mengandung makna kesuburan. Kata zakat
dipakai untuk dua arti : subur dan suci. Zakat digunakan untuk sedekah yang
wajib, sedekah sunat, nafakah, kemaafan dan kebenaran. Demikianlah Ibnul
„Arabi menjelaskan pengertian kata zakat. Abu Muhammad Ibnu Qutaibah
mengatakan, bahwa: “lafadh zakat diambil dari kata zakah- yang berarti
“kesuburan dan penambahan”.
Harta yang dikeluarkan disebut zakat, karena menjadi sebab bagi kesuburan
harta. Abul Hasan Al Wahidi mengatakan bahwa zakat mensucikan harta dan
memperbaikinya, serta menyuburkannya, menurut pendapat yang lebih nyata,
zakat itu bermakna kesuburan dan penambahan serta perbaikan. Asal maknanya,
penambahan kebajikan.
Zakat itu memiliki banyak hikmah dan pengaruh-pengaruh positif yang jelas,
baik bagi harta yang dizakati, bagi orang yang mengeluarkannya, dan bagi
18
masyarakat Islam. Dengan berzakat berarti seseorang telah mensyukuri nikmat
harta yang telah diberikan oleh Allah SWT.
Difardlukan zakat terhadap harta-harta orang kaya, tidak saja untuk
mewujudkan belas kasihan kepada orang fakir, tetapi juga untuk melindungi dari
bencana kelaparan dan kepaan. Menumpuk-numpuk kekayan oleh orang-orang
hartawan denagn tidak memikirkan nasib peruntungan kaum fuqara, adalah peran
yang besar sekali dalam menanam benih-benih yang mengganggu keamanan
dalam hidup masyarakat.
Zakat adalah faktor yang terbesar untuk memerangi kefakiran yang menjadi
sumber segala rupa malapetaka, baik perseorangan maupun masyarakat.
Kefakiran yang diakui oleh salah seorang hukama‟, pokok segala bencana, pokok
kebencian orang menjadi sumber tindakan jahat dan buruk sangka. Yang menjadi
musuh masyarakat banyak ialah kefakiran dan kerakusan serta kebakhilan yang
mengeluarkan harta pada jalan Allah SWT.
Sekiranya orang-orang kaya mengeluarkan zakat yang difardlukan atas
mereka yang diurusi zakat itu oleh badan yang ahli dan cakap, tentulah zakat
dapat menanggulangi kemiskinan. Bagi harta yang dikeluarkan zakatnya, bisa
menjadikannya bersih, berkembang penuh dengan berkah, terjaga dari berbagai
bencana, dan dilindungi oleh Allah dari kerusakan, keterlantaran, dan kesia-siaan.
Apabila kesadaran umat Islam untuk menunaikan zakat semakin besar.
Maka zakat kini tidak dipandang sebagai suatu bentuk ibadah ritual semata,
tetapi lebih dari itu, zakat juga merupakan institusi yang akan menjamin
terciptanya keadilan ekonomi bagi masyarakat secara keseluruhan. Jadi dimensi
zakat tidak hanya bersifat ibadah ritual saja, tetapi mencakup juga dimensi sosial,
ekonomi, keadilan dan kesejahteraan.
Zakat juga merupakan institusi yang menjamin adanya distribusi kekayaan
dari golongan atas kepada golongan bawah. Kekhawatiran dan ketakutan bahwa
zakat akan mengecilkan dan mereduksi capital formation masyarakat sangat tidak
beralasan.7 Dengan adanya zakat dapat mengurangi pengangguran dan menambah
lapangan pekerjaan.
Contohnya apabila seseorang yang menerima zakat tidak memiliki pekerjaan,
setelah ia menerima zakat ia kelola untuk masa yang akan datang dengan
19
membuka usaha baru. Sehingga ia nantinya tidak akan tergantung lagi kepada
orang lain.
I.
Manajemen Zakat dan Wakaf
Pelaksanaan zakat didasarkan pada firman Allâh SWT yang terdapat dalam
al-Qur`ân surat at-Taubah ayat 60 yang menjelaskan tentang kelompok yang
berhak menerimanya (mustahiq) dan ayat 103 yang menjelaskan tentang
pentingnya zakat untuk diambil (dijemput) oleh para petugas (amil) zakat.
Demikian pula petunjuk yang diberikan oleh Rasulullah SAW kepada Muadz
Ibn Jabal ketika diutus ke Yaman, beliau mengatakan: “.....jika mereka telah
mengucapkan dua kalimat syahadat dan melaksanakan salat, maka beritahukanlah
bahwasanya Allâh SWT telah mewajibkan zakat yang diambil dari harta mereka
dan diberikan kepada orangorang fakirnya....”
Seperti telah dikemukakan di atas dan juga berdasarkan petunjuk al-Qur`ân,
hadis Nabi dan pelaksanaannya di zaman Khulafa‟ al-Rasyidin, bahwa
pelaksanaan zakat bukanlah sekedar amal karitatif (kedermawanan), tetapi
merupakan kewajiban bersifat otoritatif (ijbari).
Jadi zakat tidaklah seperti shalat, shaum, dan ibadah haji yang
pelaksanaannya diserahkan kepada individu masing-masing (sering disebut
sebagai masalah dayyani), tetapi juga disertai keterlibatan aktif dari para petugas
yang amanat, jujur, terbuka, dan profesional yang disebut amil zakat (sering
disebut sebagai masalah qadha‟i).
Pengelolaan zakat melalui lembaga amil zakat, menurut Didin (2002),
didasarkan pada beberapa pertimbangan. Pertama, untuk menjamin kepastian dan
disiplin pembayaran zakat. Kedua, menjaga perasaan rendah diri para mustahiq
apabila berhadapan langsung untuk menerima haknya dari para muzakki.
Ketiga, untuk mencapai efisiensi, efektifitas, dan sasaran yang tepat dalam
penggunaan harta zakat menurut skala prioritas yang ada di suatu tempat.
Misalnya, apakah disalur-kan dalam bentuk konsumtif ataukah dalam bentuk
produktif untuk meningkatkan kegiatan usaha para mustahiq.
Keempat, untuk memperlihatkan syi‟ar Islam dan semangat penyelenggaraan
negara dan pemerintahan yang Islami. Sebaliknya, jika penyelenggaraan zakat itu
20
begitu saja diserahkan kepada para muzzaki, maka nasib dan hak-hak orang
miskin dan para mustahiq lainnya terhadap orang-orang kaya tidak memperoleh
jaminan yang pasti.
Asas operasional dan pelaksanaan zakat seperti dikemukakan di atas tidak
mengabaikan sifat dan kedudukan zakat itu sendiri sebagai ibadah mahdhah yang
harus dilaksanakan atas dasar kesadaran, keikhlasan, dan ketaqwaan seseorang
kepada Allâh SWT.
Manajemen Zakat
 Sejarah Pelaksanaan Zakat di Indonesia
Sejak Islam memasuki Indonesia, zakat, infak, dan sedekah merupakan
sumber-sumber dana untuk pengembangan ajaran Islam. Pemerintah Belanda
khawatir dana tersebut akan digunakan untuk melawan mereka jika masalah zakat
tidak diatur. Pada tanggal 4 Agustus 1938 pemerintah Belanda mengeluarkan
kebijakan pemerintah untuk mengawasi pelaksanaan zakat dan fitrah yang
dilakukan oleh penghulu atau naib. Untuk melemahkan kekuatan rakyat yang
bersumber dari zakat itu, pemerintah Belanda melarang semua pegawai dan priyai
pribumi ikut serta membantu pelaksanaan zakat. Hal itu memberikan dampak
yang sangat negatif bagi pelakasanaan zakat di kalangan umat Islam. Hal inilah
yang tampaknya diinginkan Pemerintah Belanda.
Setelah Indonesia merdeka, di Aceh satu-satunya badan resmi yang
mengurus masalah zakat. Pada masa orde baru barulah perhatian pemerintah
terfokus pada masalah zakat, yang berawal dari anjuran Presiden Soeharto untuk
melaksanakan zakat secara efektif dan efisien serta mengembangkannya dengan
cara-cara yang lebih luas dengan pengarahan yang lebih tepat. Anjuran presiden
inilah yang mendorong dibentuknya badan amil di berbagai provinsi.
 Manajemen Pengelolaan Zakat Produktif
Sehubungan pengelolaan zakat yang kurang optimal, sebagian masyarakat
yang tergerak hatinya untuk memikirkan pengelolaan zakat secara produktif, Pada
tahun 1990-an, beberapa perusahaan dan masyarakat membentuk Baitul Mal atau
lembaga yang bertugas mengelola zakat, infak dan sedekah dari karyawan
21
perusahaan yang bersangkutan dan masyarakat. Sementara pemerintah juga
membentuk Badan Amil Zakat Nasional.
Dalam pengelolaan zakat diperlukan beberapa prinsip, antara lain:
a. Pengelolaan harus berlandasakn al Quran dan as Sunnah.
b. Keterbukaan.
c. Menggunakan manajemen dan administrasi yang tepat.
d. Badan/lembaga amil zakat harus mengelolah zakat dengan sebaik-baiknya.
Dan amil harus berpegang teguh pada tujuan pengelolaan zakat, yaitu:
a. Mengangkat harkat dan martabat fakir miskin dan membantunya keluar dari
kesulitan dan penderitaan.
b. Membantu pemecahan masalah yang dihadapi oleh para mustahik
c. Menjembatani antara yang kaya dan yang miskin dalam suatu masyarakat.
d. Meningkatkan syiar Islam
e. Mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negara.
f. Mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial dalam masyarakat.
Manajemen Wakaf
Wakaf di satu sisi berfungsi sebagai ibadah kepada Allah, sedangkan di
sisi lain wakaf juga berfungsi sosial. Dalam fungsinya sebagai ibadah ia
diharapkan akan menjadi bekal bagi si wakif di kemudian hari, sedangkan dalam
fungsi sosialnya, wakaf merupakan aset amat bernilai dalam pembangunan umat.
 Pengertian Wakaf
Istilah wakaf beradal dari “waqb” artinya menahan. Sedangkan menurut
istilah wakaf ialah memberikan sesuatu barang guna dijadikan manfaat untuk
kepentingan yng disahkan syara‟ serta tetap bentuknya dan boleh dipergunakan
diambil manfaatnya oleh orang yang ditentukan (yang meneriman wakaf).
Sebagaimana hadits: Abu Hurairah r.a. menceritakan, bahwa Rasullullah SAW
bersabda, “Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah masa ia
melanjutkan amal, kecuali mengenai tiga hal, yaitu: Sedekah jariyah (waqafnya)
22
selama masih dipergunakan, ilmunya yang dimanfaatkan masyarakat, dan anak
salehnya yang mendo‟akannya.” (Riwayat Muslim).
 Rukun Wakaf
a. Yang berwakaf, syaratnya: berhak berbuat kebaikan dan kehendak sendiri
b. Sesuatu yang diwakafkan, syaratnya: kekal dan milik sendiri.
c. Tempat berwakaf (yang berhak menerima hasil wakaf itu).
d. Lafadz wakaf.
 Syarat Wakaf
a. Ta‟bid, yaitu untuk selama-lamanya/tidak terbatas waktunya.
b. Tanjiz, yaitu diberikan waktu ijab kabul.
c. Imkan-Tamlik, yaitu dapat diserahkan waktu itu juga.
 Hukum Wakaf
Pemberian wakaf tidak dapat ditarik kembali sesudah diamalkannya. Dan
pemberian harta wakaf yang ikhlas karena Allah akan mendapatkan ganjaran
terus-menerus selagi benda itu dapat dimanfaatkan oleh umum.
Jika dilihat secara historis, para penguasa Dinasti Abbasiyah kerap mendorong
pengembangan wakaf sebagai sumber pendapatan dan sekaligus pembiayaan
untuk pembangunan, seperti biaya pendidikan.
Cara inilah yang tetap abadi, karena tetap dilanjutkan oleh negara-negara
Islam saat ini, seperti Saudi Arabia, Mesir, Turki dan Yordania, melalui lembagalembaga wakafnya. Wakaf bagi negara ini, tidak saja untuk biaya pendidikan, dan
kesehatan
masyarakat,
melainkan
juga
dapat
membangkitkan
ekonomi
masyarakat, karena menurut hemat mereka wakaf dapat dikelola dalam bentuk
saham, usaha-usaha produktif, seperti real estate, pertanian, dsbnya, yang dikelola
oleh lembaga-lembaga ekonomi yang profesional. (Budi Setyanto, 2003).
Hanya saja di samping dikelola oleh lembaga yang amanah, menurut Didin
(2004), kerjasama dengan Lembaga Keuangan Syariah, seperti Bank Syariah
merupakan suatu keniscayaan. Bagaikan yang terdapat pada negara Mesir. Badan
23
Wakaf yang dibentuk oleh pemerintah Mesir, ,emitipkan hasil harta wakaf di
bankbank islam.
Bahkan Badan Wakaf turut berpartisipasi mendirikan bank-bank Islam,
bekerja sama dengan beberapa perusahaan, membeli saham dan obligasi
perusahaan penting, di samping juga memanfaatkan lahan kosong agar produktif.
Hasil pengembangan wakaf dimanfaatkan untuk membantu kehidupan masyarakat
miskin, anak yatim, mengangkat kehidupan pedagang kecil dan kaum dhuafa.
Dana hasil pengembangan wakaf digunakan juga untuk mendirikan masjid,
sekolah dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bagaikan juga di
negara Bangladesh, menurut Budi, wakaf dikelola oleh lembaga keuangan
syariah,
yakni
melalui
Social
Investment
Bank
Ltd.
(SIBL),
dengan
mengembangkan Pasar Modal Sosial (the Voluntary Capital Market).
Walaupun sangat disadari bahwa pemahaman umumnya masyarakat tentang
wakaf mempengaruhi terhadap kelambanan terbentuknya lembaga wakaf ini
secara konkrit. Dalam pemahaman umat yang telah terpatri bertahun-tahun, wakaf
hanyalah berbentuk tanah dan hanya diperuntukkan untuk rumah ibadah atau
lembaga-lembaga sosial.
Untuk itu suatu hal yang sangat perlu dan mendesak (urgen) dalam
pemahaman yang sama adalah, peningkatan kekuatan ekonomi umat melalui
manajemen zakat dan wakaf yang baik akan terjadi, bila dilakukan secara sinergis
dan koordinatif antara lembaga yang dimiliki umat.
Zakat dan wakaf dapat pula dimanfaatkan untuk kepentingan peningkatan
SDM, seperti pemberian beasiswa bagi para pelajar, santri, dan mahasiswa dalam
hal orang tua mereka termasuk dalam kategori mustahiq zakat. Singkatnya, para
pengelola zakat dan wakaf harus memiliki program dan skala prioritas yang jelas.
Demikian pula pelaporan (pemasukan dan pengeluaran) harus disampaikan secara
terang dan jelas agar kepercayaan muzakki dan waqif akan semakin bertambah.
24
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Masyarakat madani merupakan systems sosial yang subur berdasarkan
prinsip moral yang menjamin keseimbanganan taraf kebebasan individu dengan
kesetabilan masyarakat. Masyarakatat madani tidak muncul dengan sendirinya. Ia
membutuhkan unsur-unsur sosial yang menjadi prasyarat terwujudnya tatanan
masyarakat madani. Faktor-faktor tersebut merupakan satu kesatuan yang saling
mengikat dan menjadi karakter khas masyarakat madani.
Karakteristik dari masayarakat madani yaitu Wilayah Pubilik yang Bebas,
Demokrasi, Toleransi, Pliralisme, Keadilan. Dalam sejarah Islam, realisasi
keunggulan normatif atau potensial umat Islam terjadi pada masa Abbassiyah.
Pada masa itu umat Islam menunjukkan kemajuan di bidang kehidupan seperti
ilmu pengetahuan dan teknologi, militer, ekonomi, politik dan kemajuan bidangbidang lainnya. Umat Islam menjadi kelompok umat terdepan dan terunggul.
Nama-nama ilmuwan besar dunia lahir pada masa itu, seperti Ibnu Sina, Ubnu
Rusyd, Imam al-Ghazali, al-Farabi, dan yang lain.
Tujuan-tujuan tersebut tidak hanya mencakup masalah kesejahteraan
ekonomi, melainkan juga mencakup permasalahan persaudaraan manusia manusia
dan keadilan sosial-ekonomi, kesucian kehidupan, kehormatan individu,
kehormatan harta, kedaimanan jiwa dan kebagiaan, serta keharmonisan kehidupan
keluarga dan masyarakat. Ajaran Islam, sama sekali tidak pernah melupakan
unsur materi dalam kehidupan dunia. Materi penting dalam kemakmuran,
kemajuan umat islam, realisasi kehidupan yang baik bagi setiap manusia, dan
membantu manusia melaksanakan kewajibannya kepada Tuhan.
Manajemen zakat yang baik adalah suatu keniscayaan. Dalam UndangUndang (UU) No.38 Tahun 1999 dinyatakan bahwa “Pengelolaan zakat adalah
kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan terhadap
pengumpulan dan pendistribusian serta pendayagunaan zakat”. Kualitas
manajemen suatu lembaga pengelola zakat harus dapat diukur. Untuk itu, ada tiga
kata kunci yang dapat dijadikan sebagai alat ukurnya. Pertama, amanah. Sifat
25
amanah merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki oleh setiap amil zakat.
Tanpa adanya sifat ini, hancurlah semua sitem yang dibangun. Kedua, sikap
profesional.
Sifat
amanah
belumlah
cukup.
Harus
diimbangi
dengan
profesionalitas pengelolaannya. Ketiga, transparan. Dengan transparannya
pengelolaan zakat, maka kita menciptakan suatu sistem kontrol yang baik, karena
tidak hanya melibatkan pihak intern organisasi saja, tetapi juga akan melibatkan
pihak eksternal. Dan dengan transparansi inilah rasa curiga dan ketidakpercayaan
masyarakat akan dapat diminimalisasi.
wakaf adalah menyediakan suatu harta benda yang dipergunakan hasilnya
untuk kemasalahatan umum (Abdoerraoef,1986: 146). Harta yang dijadikan wakaf
tidak habis karena dipakai , dengan arti biarpun faedah harta itu diambil, tubuh
benda itu masih tetap ada (Abdoerraoef, 1986: 147).
B. Saran
Untuk mewujudkan masyarakat madani dan kesejahteraan umat, maka
berusahalah
untuk
mewujudkan
karakteristik
masyarakat
madani
dan
kesejahteraan umat yang telah disebutkan di atas. Selain itu, kita juga harus
meningkatkan kualitas sumber daya manusia, potensi, perbaikan sistem ekonomi,
serta menerapkan prinsip-prinsip yang ditekankan dalam kesejahteraan umat.
26
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Efendy, Bahtiar. 2001. Masyarakat Agama dan Pluralisme keagamaan.
Yogyakarta : Galang Pres.
Furqan, Arief. 2002. Islam untuk Disiplin Ilmu Ekonomi. Jakarta : Direktorat
Jenderal Kelembagaan Agama Islam.
Furqan, Arief. 2002. Islam untuk Disiplin Ilmu Hukum. Jakarta : Direktorat
Jenderal Kelembagaan Agama Islam.
Kahf,Monzer. 1979. Ekonomi Islam (telaah Analitik terhadap Fungsi Sistem
Ekonomi Islam). Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Lubis,Suhrawardi K. 2000. Hukum Ekonomi Islam. Jakarta : Sinar Grafika.
TIM ICCE UIN. 2003. Demokrasi, Hak Asasi Manusia Masyarakat Madani.
Jakarta : Prenada Media.
TIM ICCE UIN. 2010. Demokrasi, Hak Asasi Manusia, & Masyarakat Madani.
Jakarta : Prenada Media.
Usman, Rachmadi. 2009. Hukum Perwakafan di Indonesia. Jakarta : Sinar
Grafika Offset.
http://ebookbrowse.com/7-masyarakat-madani-dan-kesejahteraan-umat makalahpdf-d245510227 (Diakses pada tanggal 07 Juli 2021). Padang
http://quran.ittelkom.ac.id/?sid=16&aid=97&pid=arabicid (Diakses pada tanggal
07 Juli 2021). Padang
27
MAKALAH
“Kebudayaan dan Peradaban dalam Islam”
Diampu oleh Ust. Hepi Andi Bastoni, MA
Disusun Oleh :
KELOMPOK VI
1. Naufal Ikram Z.S
2140163
2. Nurhafiz Syahputra
2140168
3. Rani Ramadhani
2140175
4. Rejmi Fanesha
2140176
5. Salsabilla Pramesti Rahayu
2140178
6. Siltiva Herdiana
2140181
7. Stevany Oktavia Burhan
2140182
8. Syifa Mardhatillah
2140183
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK AKA BOGOR
MATRIKULASI AKSELERASI
2021
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Puji syukur diucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat
dan karunia-Nya kepada penulis sehingga bisa menyelesaikan makalah ini dengan baik
dan tanpa kendala yang berarti. Sholawat dan salam kita hadiahkan kepada Nabi
Muhammad SAW yang telah membawa umatnya dari alam kegelapan sampai alam
yang bersinar terang seperti yang dirasakan sekarang.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas dari Bapak Hepi Andi Bastoni
selaku dosen mata kuliah Pendidikan Agama Islam. Disamping itu, juga dapat
menambah wawasan dan pengetahuan terkait dengan bagaimana kebudayaan dan
peradaban dalam islam, runtuh dan jayanya peradaban, akulturasi serta budaya Islam
dan sebagainya. .
Penulis merasa bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah
ini karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman. Untuk itu penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan
makalah ini.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Padang, Juli 2021
Kelompok VI
I
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ....................................................................................
i
DAFTAR ISI ...................................................................................................
ii
BAB 1 PENDAHULUAN...............................................................................
1
1.1 Latar Belakang .................................................................................
1
1.2 Rumusan Masalah.............................................................................
1
1.3 Tujuan ...............................................................................................
2
1.4 Manfaat .............................................................................................
2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................
3
2.1 Pengertian Kebudayaan dan Peradaban dalam Islam .......................
3
2.2 Puncak Kejayaan Islam dalam Peradaban ........................................
4
2.3 Faktor Runtuhnya Kejayaan Islam ................................................... 10
2.4 Para Ilmuan dan Karyanya dalam Peradaban Islam ......................... 12
2.5 Alasan Umat Islam Tertinggal dalam Teknologi dan Peradaban ..... 14
2.6 Fungsi Masjid pada Zaman Rasulullah SAW................................... 16
2.7 Bentuk Budaya Islam di Indonesia................................................... 18
2.8 Proses Akulturasi Islam Terhadap Kebudayaan Indonesia .............. 20
BAB III PENUTUP ........................................................................................ 24
3.1 Kesimpulan....................................................................................... 24
3.2 Saran ................................................................................................. 24
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 25
II
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Islam sesungguhnya lebih dari sekedar sebuah agama, ia adalah suatu
peradaban yang sempurna. Hal tersebut dikarenakan yang menjadi pokok kekuatan
dan sebab timbulnya kebudayaan adalah agama Islam, maka kebudayaan yang
ditimbulkan dinamakan kebudayaan atau peradaban Islam. Perkembangan Islam ke
berbagai penjuru dunia dapat meninggalkan sejarah kebudayaan dan peradaban
seperti perkembangan kebudayaan di Indonesia.
Kedatangan Islam ke Nusantara membawa aspek-aspek peradaban dalam
dimensi yang sangat luas, mulai dari sistem politik, ekonomi, budaya, bahasa,
sampai sistem aksara. Mengikuti pendapat Koentjaraningrat, yang diikuti pula oleh
Badri Yatim, peradaban sering dipakai untuk menyebut suatu kebudayaan yang
mempunyai sistem teknologi, seni bangunan, seni rupa, sistem kenegaraan dan ilmu
pengetahuan yang maju, kompleks dan terus berkembang.
Peradaban Islam adalah peradaban umat Islam yang lahir dari ajaran Islam
dan mewujud dalam berbagai bentuk. Landasan peradaban Islam adalah kebudayaan
Islam, terutama wujud idealnya, sehingga aspek-aspek yang dijangkau oleh
peradaban Islam pun meliputi tujuh aspek kebudayaan. Ketujuh aspek tersebut ialah
sistem religi, sistem ilmu pengetahuan, organisasi kemasyarakatan, bahasa,
kesenian, sistem mata pencaharian, serta sistem teknologi dan peralatan.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, diperoleh rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan kebudayaan dan peradaban dalam Islam?
2. Kapan puncak kejayaan Islam dalam peradaban?
3. Apa faktor runtuhnya kejayaan Islam?
4. Siapa saja ilmuan dan apa karyanya dalam peradaban Islam?
5. Apa alasan umat Islam tertinggal dalam teknologi dan peradaban?
6. Apa saja fungsi masjid pada zaman Rasulullah SAW?
7. Apa saja bentuk budaya Islam di Indonesia?
8. Bagaimana proses akulturasi Islam terhadap kebudayaan Indonesia?
1
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini, antara lain :
1. Mengetahui apa itu kebudayaan dan peradaban dalam Islam
2. Mengetahui kapan puncak kejayaan Islam dalam peradaban
3. Mengetahui faktor runtuhnya kejayaan Islam
4. Mengetahui para ilmuan dan apa karyanya dalam peradaban Islam
5. Mengetahui alasan umat Islam tertinggal dalam teknologi dan peradaban
6. Mengetahui fungsi masjid pada zaman Rasulullah SAW
7. Mengetahui bentuk budaya Islam di Indonesia
8. Memahami proses akulturasi Islam terhadap kebudayaan Indonesia
1.4 Manfaat
Adapun tujuan dari makalah ini, antara lain :
1. Dapat mengaplikasikan pemahaman terkait kebudayaan dan peradaban Islam
dalam kehidupan sehari-hari
2. Dapat berbagi ilmu dan pengetahuan tentang kebudayaan dan peradaban
Islam kepada oranglain.
3. Dapat mengingatkan segala sesuatu tentang kebaikan sesama manusia.
2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Kebudayaan dan Peradaban dalam Islam
Islam dalam arti sesungguhnya lebih dari sekedar sebuah agama, ia merupakan
suatu peradaban yang sempurna. Hal tersebut dikarenakan yang menjadi pokok
kekuatan dan sebab timbulnya kebudayaan adalah agama Islam, maka kebudayaan
yang ditimbulkan dinamakan kebudayaan atau peradaban Islam.
Istilah mengenai ‘kebudayaan’ dan‘peradaban’ merupakan sesuatu yang tidak
asing lagi dalam sejarah manusia. Kebudayaan dapat diartikan sebagai segala tentang
masyarakat yang mengacu pada pengetahuan dan ciri-ciri kelompok orang tertentu
yang tinggal di suatu wilayah. Di sisi lain, peradaban adalah terobosan dari manusia
yang berarti bahwa peradaban adalah tingkat lanjutan dari perkembangan
manusiauntuk lebih maju. Meskipun peradaban itu sendiri bukan budaya, objek dari
setiap peradaban mungkin memiliki aspek budaya. Budaya saja tidak dapat
menemukan ekspresi tanpa media, dan peradaban menjadi medium ekspresinya.
Beberapa pengertian dari kebudayaan dan peradaban menurut para ahli :
1. Abion Small
Menurutnya peradaban adalah kemampuan manusia dalam mengendalikan
dorongan dasar kemanusiaannya untuk meningkatkan kualitas hidupnya.
Sementara itu, kebudayaan mengacu pada kemampuan manusia dalam
mengendalikan alam yang melalui ilmu pengetahuan dan teknologi.
2. Alfred Weber
Menurutnya pengertian peradabaan adalah mengacu pada pengetahuan
praktis dan intelektual, serta sekumpulan cara yang bersifat teknis yang
digunakan untuk mengendalikan alam. Adapun kebudayaan terdiri atas
serangkaian nilai, prinsip, normative dan ide yang bersifat unik.
3. Dr. Koentjaningrat
Menurutnya peradabaan mengacu pada pengetahuan praktis dan intelektual,
serta sekumpulan cara bersifat teknis yang digunakan untuk mengendalikan
alam. Adapun kebudayaan terdiri atas serangkaian nilai, prinsip, normative
dan ide yang bersifat unik.
3
Kebudayaan Islam adalah kebiasaaan sekelompok orang yang menjadi hasil
perkembangan kebudayaan yang dilandasi oleh nilai-nilai ketuhanan dari syariat Islam.
Sedangkan Peradaban Islam adalah kejadian-kejadian atau peristiwa yang terjadi di
masa silam yang diabadikan di mana pada saat itu Islam merupakan pokok kekuatan
dan sebab timbulnya suatu kebudayaan yang mempunyai sistem teknologi, seni,ilmu
pengetahuan yang maju dan kompleks.
Agama Islam tidak lahir dari peradaban atau kebudayaan tetapi membentuk
dan menciptakan peradaban yang berbasis wahyu. Dengan kata lain sejarah peradaban
islam adalah keterangan mengenai pertumbuhan dan perkembangan peradaban Islam
dari satu waktu ke waktu lain, sejak zaman lahirnya Islam sampai sekarang.
2.2 Puncak Kejayaan Islam dalam Peradaban
Berbicara tentang peradaban, Islam pernah mencapai puncak kejayaannya. Ada
empat kronologis penting dalam perkembangan Islam, yaitu pada masa Rasulullah pada
era Madinah, masa Khulafaur Rayidin, masa Bani Umayyah, dan Bani Abbassiyah.
A. Masa Rasulullah pada Era Madinah (622-632 M)
Nabi Muhammad Saw. telah melaksanakan dakwah di Mekkah selama kurang
lebih 13 tahun, akan tetapi yang beriman di antara mereka hanya beberapa saja.
Beberapa tempat pernah dicoba untuk berhijrah, dan ternyata Yatsrib (Madinah)
merupakan alternatif yang paling baik untuk dijadikan pusat kegiatan dakwah Islam.
Nabi Muhammad Saw. tiba di kota Madinah pada tanggal 16 Rabi’ul Awwal,
bertepatan dengan 2 Juli 622 M. Nabi dan pengikutnya disambut baik oleh para
penduduk Madinah. Adapun beberapa faktor yang menyebabkan penduduk Madinah
mudah menerima Rasulullah dan agama Islam yaitu :
1. Bangsa Madinah telah lebih dulu memahami agama-agama ketuhanan, karena
mereka sering mendengar tentang Allah, wahyu, alam kubur, hari berbangkit,
surga dan neraka dan lain-lain.
2. Sering terjadi peperangan di antara penduduk Madinah menyebabkan hubungan
antar masyarakat kurang harmonis.
3. Penduduk
Madinah
memerlukan
seorang
pemimpin
mempersatukan suku-suku yang saling bermusuhan.
4
yang
mampu
Seiring dengan hijrah Nabi Muhammad Saw. ke Madinah, perkembangan Islam
dan peradaban mengalami kemajuan. Kesuksesan Nabi Saw. dalam mengembangkan
Islam dan peradaban di Madinah, meliputi :
1. Nabi Muhammad Saw. mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan Anshar,
karena ia senantiasa menganjurkan persaudaraan antara kedua kaumnya itu
sehingga menjadi kesatuan yang kokoh.
2. Membentuk sistem pemerintahan untuk mengatur tatanan kota Madinah.
3. Meletakkan dasar-dasar politik dan tatanan sosial masyarakat Nabi juga
mempersatukan antara golongan Yahudi dari Bani Qoinuqo, Bani Nadhir dan
Bani Quraidah. Terhadap golongan Yahudi, Nabi membentuk suatu perjanjian
yang melindungi hak-hak azasi manusia, yang dikenal dengan piagam Madinah.
4. Di Madinah Rasulullah Saw. banyak mendirikan Masjid. Tujuan membangun
masjid adalah sebagai tempat ibadah, belajar, pertemuan, memecahkan masalahmasalah yang berhubungan dengan masyarakat strategi dakwah.
5. Menciptakan kesejahteraan umum. Nabi Muhammad Saw. selalu menganjurkan
kepada pengikutnya bekerja dengan tekun untuk meningkatkan taraf hidupnya
yang lebih sejahtera. Di bidang sosial Nabi Muhammad Saw. mewajibkan orang
kaya agar mengeluarkan zakat untuk diberikan kepada fakir miskin, agar kaum
muslimin saling menolong dan membantu.
6. Mengembangkan pendidikan dan dakwah. Dalam melaksanakan syiar Islam
dibutuhkan orang-orang yang pandai membaca dan menulis. Oleh karena itu
Nabi Muhammad Saw. sangat memperhatikan masalah pendidikan.
Masa perkembangan Islam di Madinah berlangsung lebih kurang 10 tahun (622632 M). Pada tahun terakhir dakwah beliau di Madinah yaitu 632 M, beliau wafat dan
menyisakan kesedihan yang mendalam bagi seluruh umatnya di dunia.
B. Masa Khulafaur Rayidin (632-661 M)
Pada masa dipenghujung peradaban Islam yang mulai maju, setelah sepeninggal
Rasulullah, ada empat pengganti beliau dalam mengurus pengembangan dakwah dan
penyiaran agama Islam telah dipimpin oleh pemimpin yang adil dan benar. Dalam
perkembangan dan pemerintahan Agama Islam dipimpin oleh empat sahabat terdekat
selama 30 tahun.
5
Dalam bidang pemerintahan, 4 Khalifah ini telah memberikan suatu pengaruh
yang besar bagi perkembangan peradaban Agama Islam. Kemajuan dan perkembangan
Agama Islam yang pesat ini ditandainya dengan perluasan dan penyebaran Agama Islam
hingga mencapai keseluruh wilayah negara Islam. Dalam perjalanannya dijalan Allah
untuk menegakkan Agama Islam, keempat khalifah ini bisa dibilang telah berhasil
dalam menorehkan tinta emas didalam perjuanganya.
Kepemimpinan tersebut adalah periode empat Khalifah atau disebut sebagai alKhulafa al-Rasyidun, yaitu :
1. Abu Bakar Ash-Shiddiq 11-13 H/632-634 M
Khalifah Abu Bakar, dalam perjuangannya yang telah memberikan perubahan
besar bagi Agama Islam, ia juga telah berhasil menetralisir keadaan dikalangan
yang hampir bersitegang dalam perihal pengganti Rasulullah.
2. Umar Bin Khaththab 13-23 H/634-644 M
Khalifah Umar bin Khattab dalam perjuanganya telah berhasil mengembalikan
stabilitas pemerintahan
Islam
yang bahkan penguatan negara hingga
disemenanjung jazirah Arabia, telah berhasil mengubah komunitas marginal
padang pasir menjadi pejuang yang gigih sehingga membuat imperium Persia
dan Byzantium menyerah.
3. Utsman Bin Affan 23-36 H/644-656 M
Khalifah Utsman bin Affan telah memberikan kontribusi yang besar terhadap
perkembangan Agama Islam dan perluasaan Agama Islam. Perkembangan
agama Islam pada masa Khalifah Utsman salah satu bentuk kemajuan peradaban
Islam, dalam kebijakan perkembangannya langkah yang diambil oleh Khalifah
Utsman adalah untuk menuju peradaban Agama Islam yang lebih maju.
4. Ali Bin Abi Thalib 36-41 H/656-661 M
Ali bin Abu Thalib adalah seorang perwira yang tangkas, cerdas, tegas teguh
pendirian dan pemberani. Tak ada yang meragukan keperwiraannya. Berkat
keperwiraannya tersebut Ali mendapatkan julukan Asadullah, yang artinya singa
Allah. Karena ketegasannya, ia tidak segan-segan menggati pejabat gubernur
yang tidak becus mengurusi kepentingan umat Islam. Ia juga tidak segan-segan
memerangi mereka yang melakukan pemberontakan. Di antara peperangan itu
adalah Perang Jamal dan Perang Siffin.
6
C. Masa Daulah Umayyah (661-750 M)
Masa kejayaan Islam terjadi pada sekitar tahun 650‒1250. Periode ini disebut
Periode Klasik. Pada kurun waktu itu, terdapat dua kerajaan besar, yaitu Daulah
Umayyah dan Daulah Abbasiyah.
Bani umayyah adalah kekhalifahan Islam pertama setelah masa khulafaur
rasyidin yang memerintah dari 661-750 M di jazirah Arab yang berpusat di Damaskus,
Syiria yang berkuasa selama 91 tahun. Bani Umayyah didirikan oleh Muawiyah bin
Abu Sufyan yang merupakan Gubenur Syam pada masa pemerintahan Umar bin
Khattab dan Utsman bin Affan.
Ada 14 khalifah yang memerintah selama dinasti bani Umayyah. Kemajuan
Dinasti Umayyah terdapat di masa Muawiyyah bin abi Sofyan sampai pemerintahannya
Hisyam bin Abdul Malik 661 M/ 41 H. Pusat pemerintahanya berpusat di Damaskus,
hal ini di maksudkan agar lebih mudah dalam memerintah, karena Muawiyyah sudah
begitu lama berkuasa di wilayah tersebut serta ekspansi teritorial sudah begitu luas.
Adapun kemajuan yang dicapai pada masa Bani Umayyah ini adalah, :
1. Puncak kejayaannya yaitu berhasil menguasai hampir seluruh wilayah andalusia
(semenanjung liberia) ,sekarang portugis dan spanyol dan menaklukkan berbagai
kota dan daerah di bagian selatan prancis.
2. Bidang astronomis : yaitu pembagian kekuasaan wilayah dalam 10 provinsi,
yaitu : Syiria dan Palestina, Kuffah dan Irak, Basrah, Persia, Sijistan, Khurasan,
Bahrain, Oman, Najd dan Yamamah, Arenia, Hijaz, Karman dan India.
3. Bidang ekonomi keuangan : berpusat pada baitulmaal yang asetnya diperoleh
dari pajak tanah, perorangan bagi non muslim. Pencetakan uang dilakukan pada
masa khalifah Abdul Malik ibn Marwan.
4. Bidang politik dan militer : mengganti sistem pemerintahan menjadi kerajaan,
membentuk dewan, bidang militer mewajibkan laki-laki dewasa menjadi tentara.
5. Bidang sosial : pembangunan masjid dan fasilitas umum lain, perubahan
Katedral St. Jhon menjadi masjid, perbaikan masjidil haram dan nabawi.
6. Bidang budaya : membuka aktivitas kontak antar bangsa Arab dan negeri
takluan sehingga umayyah mulai memproduksi kertas dan kompas.
7. Bidang seni dan arsitektur : berdirinya Masjid Damaskus yang dindingnya penuh
ukiran halus dan batu warna-warni.
7
8. Bidang pendidikan :
a. Ilmu agama, seperti : al-Qur’an, Hadits, dan Fiqih. Proses pembukuan hadits
terjadi pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz ( 99-10 H ) sejak saat
itulah hadits mengalami perkembangan pesat.
b. Ilmu sejarah dan geografi, yaitu segala ilmu yang membahas tentang
perjalanan hidup, kisah dan riwayat Ubaid ibn Syariyah Al- Jurhumi berhasil
menulis berbagai peristiwa sejarah.
c. Ilmu pengetahuan di bidang bahasa, yaitu segala ilmu yang mempelajari
bahasa, nahu, saraf, dll.
d. Bidang filsafat, yaitu segala ilmu yang pada umumnya berasal dari bangsa
asing, seperti ilmu mantik, kimia, astronomi, ilmu hitung dan ilmu yang
berhubungan dengan itu, serta ilmu kedokteran.
Daulah Umayyah berkembang selama lebih kurang 91 tahun. Kemunduran
Dinasti Umayyah berawal dari menurunnya akhlak para pemimpin Dinasti Bani
Umayyah. Empat pengganti khalifah setelah Muawiyah dan Abd. Malik kecuali
Marwan yang menjadi khalifah terakhir terbukti tidak cakap atau bisa dikatakan tidak
bermoral. Bahkan para khalifah sebelum Hisyam pun, yang dimulai oleh Yazid I lebih
suka berburu, pesta minum, tenggelam dalam alunan musik dan puisi ketimbang
membaca Alquran atau mengurus persoalan Negara.
.
C. Masa Daulah Abbasiyah (750-1258 M)
Daulah Abbasiyah didirikan oleh abu Abbas as-saffah pada tahun 750 M atau
132 H setelah memenggal keturunan terakhir dari bani Umayyah yaitu khalifah Marwan
bin Muhammad bin Marwan. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik
para sejarawan membagi masa pemerintahan daulah Abbasiyah menjadi lima periode :
1. Periode Pertama (132 H / 750 M-232 H / 847 M) Persia Pertama
2. Periode Kedua (232 H / 847 M-334 H / 945 M) Turki Pertama
3. Periode Ketiga (334 H / 945 M-447 H /1055 M) Bani Wuaihi Persia Pertama
4. Periode Keempat (447 H / 1055 M-590 H / 1194 M) Turki Kedua
5. Periode Kelima (590 H / 1194 M-656 H / 1258 M) masa khalifah bebas dari
pengaruh dinasti lain.
8
Daulah Abbasiyah mencapai puncak kejayaaan saat dipimpin oleh 5 khalifah :
1. Abu Abbas As-Saffah
Abu Abbas As-Saffah merubah Selat Hormuz menjadi Bandar Abbas yang
merupakan kota yang terletak di sebelah selatan Iran yang kini penduduknya
berjumlah 352000 jiwa dan termasuk pelabuhan paling sibuk hingga hari ini.
2. Abu Ja'far Al-Mansur
Abu Ja'far Al-Mansur memiliki pemikiran ‘sesungguhnya saya adalah kekuasaan
Tuhan di bumi-Nya’ sehingga dirinya bebas membuat seperti apa wilayah
kekuasaannya. Abu Ja'far Al-Mansur menggeser pusat pemerintahan dari
Damaskus (Suriah) ke Baghdad (Irak) dan membangun Istana dengan nama
Madinahtussalam di tepi barat sungai Tigris tidak jauh dari kanal barat saringan
saluran air yang menghubungkan Tigris dan sungai Eufrat sungai sepanjang
2870 KM yang memanjang dari anatolia Turki ke teluk Persia melewati 3 negara
yaitu Turki, Suriah dan Irak karena itu cukup dalam untuk mengakomodasi lalu
lintas kembar sial meramalkan bahwa ibukota barunya akan diposisikan dengan
sempurna untuk mengeksploitasi Tigris dan Eufrat.
3. Harun ar-rasyid
Pada masa pemerintahan Harun ar-rasyid, Daulah Abbasiyah mencapai puncak
kejayaannya. Karyanya yang paling dikenang adalah mendirikan Baitul Hikmah
yang berfungsi sebagai perguruan tinggi, tempat penelitian, lembaga penerjemah
dan perpustakaan yang memiliki 10.000 koleksi. Di masa ini juga dikenal
dengan kisah 1001 Malam dan kisah Abu Nawas, serta menunjuk abu Yusuf
menulis kitab Al kharaj yaitu kitab yang membahas mekanisme pajak tanah
dengan sistem seadil-adilnya
4. Al Makmun
Pada masa Al Makmun banyak bermunculan ilmuwan terkenal untuk saling
berbagi informasi pandangan dan budaya di Baitul hikmah. Dengan latar
belakang Persia maupun Kristen yang ikut ambil bagian pada penelitian dan
pendidikan di lembaga ini, selain menerjemahkan buku-buku asing ke dalam
bahasa Arab para ilmuwan juga banyak membuat kontribusi asli yang besar di
berbagai bidang meliputi matematika (Al-khwarizmi), kedokteran (Ibnu Sina),
media (Al-Zahwari), kimia, astronomi, biologi, geografi dan kartografi.
9
5. Al mu'tashim
Al Muntasir membangun dan memindahkan ibu kota Bani Abbasiyah di
Baghdad ke sebuah kota indah yang dikenal dengan nama Sarromanroa yang
artinya menggembirakan orang yang melihatnya, atau dikenal dengan nama
samaran. Alasan dipindahkannya ibukota adalah keberadaan pasukan militer di
dalam jumlah yang sangat besar. Kota Samara berada 125 km Utara Baghdad di
kota ini mereka mendirikan kota besar yang membentang 50 km di sepanjang
sungai Tigris dengan meliputi daerah seluas 150 km2. Di kota baru ini terdapat
sejumlah istana megah, jalan raya besar, taman rindang, juga Masjid Agung
Samaroh yang kala itu merupakan masjid terbesar di dunia.
Walaupun sudah berdiri lama yaitu lebih kurang lima abad (500 tahun), Daulah
Abbasiyah pada tahun 1258 M mengalami kemunduran karena kekhalifahan sudah
mulai melemah, kekuasaan sudah terbagi menjadi dinasti-dinasti kecil sehingga dengan
mudah diserang oleh bangsa Mongolia.
2.3 Faktor Runtuhnya Kejayaan Islam
Penyerangan Kota Baghdad oleh Bangsa Mongolia yang dipimpin oleh
Hulaghu Khan, merupakan awal kemunduran peradaban Islam. Setelah menakhlukan
Baghdad, Bangsa Mongolia juga menakhlukan kerajaan Islam lainnya, seperti Nablus,
Gaza, Syria, dan wilayah lainnya.
Ibnu Khaldun, pakar sejarahdan sosiologi klasik menjelaskan bahwa kemunduran
peradaban Islam disebabkanoleh faktor internal dan eksternaldi pemerintahan Islam :
1. Faktor internal muncul dari menguatnya materialisme, yaitu kegemaran
penguasa untuk menerapkan gaya hidup bermewah-mewahan, perebutan
kekuasaan, perenutan kekuasaan adanya konflik keagamaan, terjadinya korupsi,
kolusi, nepotisme, dan dekadensi moral tumbuh subur di badan pemerintahan.
2. Faktor eksternal muncul seperti pemberontakan terhadap pemerintahan oleh
bangsa lain, tingginya invansi kristen di Eropa khususnya Spanyol. Ada
juga ketidakpuasan tokoh dan intelektual di negaranya. Akibatnya, mereka
yang punya kapabilitas dan integritas pindah ke negara lain (braindrain) yang
mengurangi SDM terampil di negara Islam.
10
Kemunduran dapat diakibatkan juga dari orang yang mengisi posisi
pemerintahan bukanlah
orang
yang mampu dan menyebabkan
menurunnya
produktivitas. Jangka panjangnya, pengembangan sistem politik dan pengetahuan juga
turut menurun.
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda sebagai berikut:
Faktor-faktor lainnya yang menyebabkan kemunduran adalah karena umat
Islam mulai meninggalkan ajara nIslam, larut dalam kesenangan duniawi. Dari para
elite sampai masyarakat tenggalam dalam kubangan syahwat hedonisme dan
materialisme. Pelanggaran terhadap syariat Islam menjadi sesuatu yang lumrah
sehingga membuka pintu merebaknya aliran sesat, bid’ah, syirik, dan khurafat. Oleh
sebab maksiat dan pelanggaran syariat Islam yang merajalela, loyalitas kepada Allah,
lalu berubah menjadi disloyalitas.
Efek fondasi peradaban dari semua sebab dan akibat diatas adalah runtuhnya
fondasi peradaban, sehingga kemudian goncangan yang datang dari eksternal
secepatnya
mampu merobohkan sisa-sisa peradaban Islam yang memang pada
awalnya dibangun atas fondasi syariat Islam.
Kondisi seperti itu, persis seperti diingatkan Rasulullah saw dalam satu hadis,
“Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang
memperebutkan makanannya. Maka seseorang bertanya: Apakah karena sedikitnya
jumlah kita? Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah
telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Da nAllah telah
menanamka ndalam hati kalian penyakit al- wahan. Seseorang bertanya:
YaRasulullah, apakahal-wahanitu? Nabisaw bersabda: (Wahan itu adalah) Cinta
dunia dan takut akan kematian.”(HR. Abu Dawud).
11
2.4 Para Ilmuan dan Karyanya dalam Peradaban Islam
Adapun berikut para Ilmuan dalam peradaban Islam dan karyanya :
a. IbnuSina
Dia adalah seorang filsuf yang terkenal di dunia medis. Dia bahkan dijuluki
sebagai bapak Kedokteran Modern. Dua karyanya yang paling berpengaruh
adalah ensiklopedia filsafat Kitab al-Shifa (The Book of Healing) dan The
Canon of Medicine. Keduanya kini dipakai sebagai rujukan standar ilmu
medis di seluruh dunia.
b. Al – Zahrawi
Sama seperti Ibnu Sina, Al – Zahrawi juga berkutat dibidang medis. Dia
adalah Bapak ilmu bedah modern. Dia berhasil mengenalkan catgut (benang)
sebagai alat untuk menutup luka. Selain itu, dia juga menyusun buku At-Tasrif
liman Ajiza an at-Ta’lif yang menjadi rujukan para dokter hingga sekarang. Di
dalamnya, Al – Zahrawi menuliskan hal-hal yang terkait tentang bedah,
penyakit, dan temuan-temuannya berupa alat kedokteran.
c. Al – Khawarizmi
Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi adalah ahli matematika Islam yang
dikenal sebagai penemu aljabar. Selain itu, ilmuwan asal Persia ini juga
menemukan algoritma dan sistem penomoran. Al-Khawarizmi juga dikenal
ahli di berbagai bidang, seperti astrologi dan astronomi.
d. Abbas ibn Firnas
Selama ini mungkin kita hanya mengenal Wright bersaudara sebagai orang
pertama penemu pesawat terbang dan manusia pertama yang berhasil terbang.
Padahal pada 9 Masehi, Abbas ibn Firnas sudah berhasil mendesain alat yang
memiliki sayap untuk terbang. Pada waktu percobaannya, ia berhasil terbang
cukup jauh hingga kemudian jatuh dan mematahkan tulang belakangnya. Ia
kemudian menginspirasi ilmuwan barat untuk mengembangkan pesawat.
e. Ibnu Al Haytham
Ia dikenal sebagai Bapak Optik Modern. Karyanya yang terkenal adalah Kitab
al-Manazir (Book of Optics) yang hingga kini diakui sebagai rujukan ilmu
optik. Al Haytham berhasil menjelaskan bagaimana cara kerja optik mata
manusia dalam menangkap gambar secara detail.
12
f. Jabir ibn Hayyan
Jabir Ibn Hayyan adalah seorang ahli kimia yang berasal dari Iran. Ia berhasil
melarutkan emas dan menemukan asam kuat seperti asam sulfat, hidroklorik
dan nitrat. Untuk menetralisir “monster” yang ia ciptakan, yaitu asam, ia
kemudian memproduksi alkali. Karya-karyanya yang berupa buku adalah
Kitab Al-Kimya, Kitab Al-Sab’een, Kitab Al-Rahmah, dan lain-lain
g. Ahmad ibn Tulun
Ia adalah orang pertama yang mencetuskan perawatan medis modern berupa
rumah sakit Al - Fustat di Kairo, Mesir. Tulun yang saat itu menjabat sebagai
gubernur menyediakan layanan kesehatan yang gratis untuk semua orang
membutuhkannya.Rumah sakit yang dibangun pada abad ke-9 tersebut sudah
memiliki manajemen perawatan yang modern, rinci, dan maju. Al- Fustat juga
menyediakan perawatan untuk pasien gangguan jiwa.
h. Al – Battani
Al – Battani merupakan seorang astronom yang berhasil menemukan hitungan
dalam satu tahun terdapat 365 hari, 5 jam, 46 menit, dan 24 detik. Al-Harrani
as-Sabi al-Battani ini juga menemukan sejumlah persamaan trigonometri.
i.
Ibnu Khaldun
Dia merupakan salah satu ilmuan islam popular di dunia yang berasal dari
Tunisia. Dia dikenal sebagai bapak pendiri ilmu historiografi, sosiologi, dan
ekonomi. Adapun karya-karyanya yang paling dikenal yaitu Muqadimmah.
Terlebih, dia sudah hafal Al-Quran sejak dini. Pemikiran- pemikiran Ibnu
Khaldun tentang teori ekonomi yang logis dan realistis sudah ada lebih dulu,
sebelum Adam Smith dan David Ricardo mengemukaakan teori-teori
ekonominya. Ketika usia remaja, tulisan-tulisan Ibnu Khaldun dengan studi
dan pengamatan yang sangat mendalam, sudah menyebar ke mana-mana.
j.
Al-Jazari
Abu al-Iz ibn Ismail ibn al-Razaz al-Jazari ilmuan penulis buku Pengetahuan
Ilmu Mekanik tahun 1206, dimana ia menjelaskan lima puluh peralatan
mekanik berikut instruksi tentang bagaimana cara merakitnya. Dia mendapat
julukan sebagai bapak Modern Engineering berkat temuannya yang banyak
mempengaruhi rancangan mesin modern seperti combustion engine.
13
2.5 Alasan Umat Islam Tertinggal dalam Teknologi dan Peradaban
Salah satu unsur kejayaan peradaban Islam adalah sains dan teknologi.Bidang
ini mengalami beberapa fase, mulai dari kemunculannya, penyebaran, kemajuan, hingga
kemunduran.Untuk menunjukkan kemajuan sains dan teknologi Islam pada masa
keemasannya, cukuplah kiranya menyebut nama-nama, seperti Jabir bin Hayyan, alKindi, al-Khawarizmi, ar-Razi, al-Farabi, at-Tabari, al-Biruni, Ibnu Sina, dan Umar
Khayyam.Tak seorang pun yang meragukan kualitas keilmuan mereka.
Alasan umat Islam tertinggal dalam teknologi dan peradaban saat ini adalah :
1. Kritik dari Al Ghazali yang menentang pengaruh dari filsafat Yunani yang
menjunjung tinggi logika dan penalaran ilmu dalam peradaban dunia islam.
Kendati Ibnu rus bersikeras bahwa tidak ada kontradiksi antara filsafat
avisena dan al-farabi dengan ajaran agama. Namun, Al Ghazali tetap
menyatakan perang terhadap pengaruh filsafat Yunani dan menginginkan ke
pemurnian ajaran agama Islam. Sejak perubahan filosofi itulah zaman
keemasan Islam mengalami kemunduran danjarang ilmuwan besar muncul.
2. Karakteristik pendidikan masyarakat muslim yang yang kurang tanggap
terhadap perkembangan zaman membuat umat muslim sangat sukar
mengembangkan sains. Akibat dari pendidikan yang terbelakang ini ialah
kualitas pendidikannya yang juga lebih rendah yang pada gilirannya
menghasilkan sumber daya manusia yang kurang dan ditambah dengan
ketidakpedulian pemerintah dan masyarakat muslim pada perkembangan
pendidikan. Peningkatan sains di negara-negara muslim sudah bukan
prioritas utama lagi karena kualitas pendidikan yang memprihatinkan ini
menjadi tugas besar bagi umat muslim sebab belum ada upaya
berkesinambungan untul mengatasi tujuan tersebut.
3. Pintu ijtihad yang kebanyakan tertutup pengaruh negatif tarekat dan
kurangnya perhatian terhadap ilmu pengetahuan.
4. Produksi-produksi sains di tengah umat muslim cuma diperuntukan dalam
tingkatan elit saja. Orang di dalam kelompok eksklusif cuma segelintir saja
dibandingkan umat yang banyak. Padahal jika ingin lebih cepat maju
seharusnya semua muslim kompak dan bersatu memajukan sains tanpa
memperdulikan sekat elitis.
14
5. Adanya perbedaan hak kaum hawa dalam menuntut ilmu yang tidak setara
dengan laki-laki ikut membuat perkembangan ilmu pengetahuan di kalangan
muslim rendah. Hal itu dikarenakan wanita-wanita juga tiang umat dan juga
pemberi pendidikan anak-anak mereka yang pertama dan utama. Di sinilah
letak kelemahan alasan kemunduran itu ada.
Banyak cendekiawan Islam yang mencoba untuk “mengingatkan” kembali
bahwa peradaban dunia modern saat ini sebetulnya berhutang banyak terhadap era emas
peradaban Islam sehingga jangan melupakan kontribusi era emas peradaban
Islam.dengan mengetahui pemicu jatuh-bangunnya sebuah era emas, kita bisa banyak
belajar untuk membangun kembali hal yang sama serta belajar dari kesalahan masa lalu
untuk tidak mengulanginya kembali.
Upaya agar Islam kembali menguasai Ilmu Teknologi dan Peradaban ialah
sebagai berikut :
1. Melakukan evaluasi sekaligus refleksi terhadap apa yang selama ini menjadi
faktor kemunduran teknologi dan peradapan dalam Islam. salah satunya adalah
karena kita jauh dari moral pengetahuan dan ke-Islam-an yang dianjurkan oleh
Alquran dan sunah Nabi. Ini sebagai modal utama.
2. Menghilangkan pertentangan-pertentangan ideologis dan politik di antara
sesama manusia dari berbagai bangsa dan negara.
3. Mengembangkan tradisi berpikir, bebas, dan independen. Tradisi ini bisa
memicu orang untuk mencari dan menggali informasi dalam rangka membentuk
ilmu pengetahuan yang kita kehendaki.
4. Mengembangkan ilmu agama dengan berijtihad, ilmu pengetahuan umum
dengan mempelajarai ilmu filsafat Yunani. Maka, pada saat itu banyak
bermunculan ulama fiqh, tauhid (kalam), tafsir, hadis, ulama bidang sains (ilmu
kedokteran, matematika, optik, kimia, fisika, geografi), dan lain-lain
5. Membangun integritas pendidikan (ilmu yangmapan) di umat islam dengan
pemerintah yang berpihak pada ilmu pengetahuan dan meningkatkan riset
penelitian terutama riset teknologi sehingga umat muslim dapat kembali meraih
masa keemasan dengan menguasai teknologi.
15
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (Swt) :
‫ ﻋﻠﻢ اﻹﻧﺴﺎن‬، ‫ اﻟﺬي ﻋﻠﻢ ﺑﺎﻟﻘﻠﻢ‬، ‫ اﻗﺮأ ورﺑﻚ اﻷﻛﺮم‬، ‫ ﺧﻠﻖ اﻹﻧﺴﺎن ﻣﻦ ﻋﻠﻖ‬، ‫اﻗﺮأ ﺑﺎﺳﻢ رﺑﻚ اﻟﺬي ﺧﻠﻖ‬
‫ﻣﺎ ﻟﻢ ﯾﻌﻠﻢ‬
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah
menciptakan manusia dari segumpal darah.Bacalah, dan Tuhanmulah yang
Maha Pemurah.Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.Dia
mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”(QS.Al-Alaq [96]: 1).
6. Membangun iman yang mendalam dan Membangun ukhuwah yang kokoh
Dengan iman, kehadiran manusia di dunia menjadi sesuatu yang bermakna.
Yaitu menyembah kepada Allah dan menjadi wakil-Nya dalam mengurus
kehidupan dunia dan tanpa membangun persaudaraan akan menambah krisis
terhadap umat islam dan membuat umat islam bertikai. Allah berfirman:
‫واﻋﺘﺼﻤﻮا ﺑﺤﺒﻞ ﷲ ﺟﻤﯿﻌﺎ وﻻ ﺗﻔﺮﻗﻮا واذﻛﺮوا ﻧﻌﻤﺖ ﷲ ﻋﻠﯿﻜﻢ إذ ﻛﻨﺘﻢ أﻋﺪاء ﻓﺄﻟﻒ ﺑﯿﻦ ﻗﻠﻮﺑﻜﻢ‬
‫ﻓﺄﺻﺒﺤﺘﻢ ﺑﻨﻌﻤﺘﮫ إﺧﻮاﻧﺎ وﻛﻨﺘﻢ ﻋﻠﻰ ﺷﻔﺎ ﺣﻔﺮة ﻣﻦ اﻟﻨﺎر ﻓﺄﻧﻘﺬﻛﻢ ﻣﻨﮭﺎ ﻛﺬﻟﻚ ﯾﺒﯿﻦ ﷲ ﻟﻜﻢ آﯾﺎﺗﮫ ﻟﻌﻠﻜﻢ‬
‫ﺗﮭﺘﺪون‬
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah
kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu
dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan
hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang
bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah
menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayatayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS.Ali Imran [3]: 103)
2.6 Fungsi Masjid pada Zaman Rasulullah SAW
Fungsi masjid pada zaman Rasulullah SAW adalah bukan hanya sebagai pusat
ibadah melainkan juga sebagai tempat untuk bermusyawarah, tempat Rasulullah SAW
mempersatukan umat, tempat umat muslim mengkaji ilmu serta berfungsi sebagai pusat
pemerintahan di Madinah ketika Rasulullah SAW terpilih menjadi pemimpin. Masjid
juga dibangun tak jauh dari lokasi aktivitas sosial umat. Masjid di samping tempat
menyelesaikan berbagai persoalan umat juga menjadi pusat pemberdayaan masyarakat.
16
Masjid digunakan sebagai tempat membangun ekonomi dan kesejahteraan
melalui baitulmal, dari masjid dikembangkan berbagai kegiatan yang mengarah pada
terwujudnya masyarakat madani. Singkatnya, masjid difungsikan sebagai pusat segala
kegiatan yang bermanfaat dan berfaedah bagi manusia.
Adapun fungsi masjid zaman Rasulullah SAW dirincikan sebagai berikut:
1. Sebagai tempat berlangsungnya ibadah umat muslim. Ibadah yang dimaksud
adalah shalat, dzikir dan lain sebagainya.
2. Sebagai tempat dalam menuntut ilmu baik ilmu agama maupun ilmu yang
sifatnya umum. Disebutkan bahwa Rasulullah SAW mengajar dalam bentuk
halaqah, di mana para sahabat mengelilinginya sambil memberikan pengajaran.
3. Masjid di zaman rasulullah SAW juga berfungsi selayaknya asrama. Terdapat
ruangan bernama Al-Suffah tempat di mana sahabat yang miskin dan tak
mempunyai rumah tinggal.
4. Sebagai tempat memerikan fatwa. Umat muslim akan datang ke masjid dan
mengadukan masalahnya ke Rasulullah SAW lalu diberikan ketatapan atas
masalah tersebut.
5. Masjid berfungsi sebagai tempat menerima tamu.
6. Masjid berfungsi sebagai tempat berlangsungnya pernikahan.
7. Sebagai tempat layanan sosial, hal ini terlihat ketika Madinah banjir dan mereka
yang kehilangan tempat tinggal pun menempati wilayah masjid yang dinamakan
Ashabush-Shuffah.
8. Sebagai tempat berlangsungnya latihan perang.
9. Sebagai tempat pelayanan medis juga kesehatan.
10. Sebagai tempat beristirahat.
11. Sebagai tempat tahanan bagi kaum musyrikin, dengan tujuan agar mereka
mendapat hidayah keislaman
Pada intinya masjid bukan sekedar tempat beribadah melainkan juga ramai
dengan urusan duniawi. Masjid adalah pusat seluruh kehidupan umat di zaman
Rasulullah SAW.
17
2.7 Bentuk Budaya Islam di Indonesia
Seni budaya, adat, dan tradisi yang bernapaskan Islam tumbuh dan berkembang
di Nusantara. Tradisi ini sangat bermanfaat bagi penyebaran Islam di Nusantara. Untuk
itulah, kita sebagai generasi muda Islam harus mampu merawat, melestarikan,
mengembangkan dan menghargai hasil karya para ulama terdahulu
Para ulama dan wali pada zaman dahulu tentu telah mempertimbangkan tradisitradisi tersebut dengan sangat matang baik dari segi madharatmafsadat maupun halalharamnya. Mereka sangat paham hukum agama, sehingga tidak mungkin mereka
menciptakan tradisi tanpa pertimbanganpertimbangan tersebut.Banyak sekali tradisi
atau budaya Islam yang berkembang hingga saat ini. Semuanya mencerminkan
kekhasan daerah atau tempat masingmasing.
Berikut ini adalah beberapa tradisi atau budaya Islam dimaksud :
1. Tradisi Halal Bihalal
Halal bihalal dilakukan pada Bulan Syawal, berupa acara saling bermaafmaafan. Setelah umat Islam selesai puasa ramadhan sebulan penuh maka dosa-dosanya
telah diampuni oleh Allah Swt. Namun, dosa kepada sesama manusia belum akan
diampuni Allah Swt. jika belum mendapat kehalalan atau dimaafkan oleh orang
tersebut. Oleh karena itu tradisi halal bihalal dilakukan dalam rangka saling memaafkan
atas dosa dan kesalahan yang pernah dilakukan agar kembali kepada !trah (kesucian).
Tradisi ini erat kaitannya dengan perayaan Idul Fitri. Tujuan halal bihalal selain saling
bermaafan adalah untuk menjalin tali silaturahim dan mempererat tali persaudaraan.
Bahkan acara halal bihalal sudah menjadi tradisi nasional yang bernafaskan Islam.
2. Tradisi Tabot atau Tabuik
Tabot atau Tabuik, adalah upacara tradisional masyarakat Bengkulu untuk
mengenang kisah kepahlawanan dan kematian Hasan dan Husein bin Ali bin Abi
Thalib, cucu Nabi Muhammad saw. Kedua cucu Rasulullah saw. ini gugur dalam
peperangan di Karbala, Irak pada tanggal 10 Muharam 61 Hijriah (681 M). Perayaan di
Bengkulu pertama kali dilaksanakan oleh Syaikh Burhanuddin yang dilaksanakan dari 1
sampai 10 Muharram (berdasar kalendar Islam) setiap tahun.
18
3. Tradisi Kupatan (Bakdo Kupat)
Di Pulau Jawa bahkan sudah berkembang ke daerah-daerah lain terdapat tradisi
kupatan. Tradisi membuat kupat ini biasanya dilakukan seminggu setelah hari raya Idul
Fitri. Biasanya masyarakat berkumpul di suatu tempat seperti mushala dan masjid untuk
mengadakan selamatan dengan hidangan yang didominasi kupat (ketupat). Kupat ialah
makanan yang terbuat dari beras dan dibungkus anyaman (longsong) dari janur kuning
(daun kelapa yang masih muda). Sampai saat ini ketupat menjadi maskot Hari Raya Idul
Fitri. Tradisi membuat kupat itu dijadikan sebagai sarana untuk syiar agama.
4. Tradisi Sekaten di Surakarta dan Yogyakarta
Tradisi Sekaten dilaksanakan setiap tahun di Keraton Surakarta Jawa Tengah
dan Keraton Yogyakarta. Tradisi ini dilaksanakan dan dilestarikan sebagai wujud
mengenang jasa-jasa para Walisongo yang telah berhasil menyebarkan Islam di tanah
Jawa. Peringatan yang lazim dinamai Maulud Nabi itu, oleh para wali disebut Sekaten,
yang berasal dari kata Syahadatain (dua kalimat Syahadat).
5. Tradisi Grebeg
Tradisi untuk mengiringi para raja atau pembesar kerajaan. Grebeg pertama kali
diselenggarakan oleh keraton Yogyakarta oleh Sultan Hamengkubuwono ke-1. Grebeg
dilaksanakan saat Sultan memiliki hajat dalem berupa menikahkan putra mahkotanya.
Grebek di Yogyakarta di selenggarakan 3 tahun sekali yaitu tanggal 1 Syawal bertujuan
untuk menghormati Bulan Ramadhan dan Lailatul Qadr, tanggal 10 dzulhijjah untuk
merayakan hari raya kurban dan tanggal 12 Rabiul awwal untuk memperingati hari
Maulid Nabi Muhammad saw. Selain kota Yogyakarta yang menyelenggarakan pesta
grebeg adalah kota Solo, Cirebon dan Demak.
6. Tradisi Kerobok Maulid di Kutai dan Pawai Obor di Manado
Di kawasan Kedaton Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur, juga
diselenggarakan tradisi yang dinamakan Kerobok Maulid. Istilah Kerobok berasal dari
Bahasa Kutai yang artinya berkerubun atau berkerumun oleh orang banyak. Tradisi
Kerobok Maulid dipusatkan di halaman Masjid Jami’ Hasanuddin, Tenggarong. Tradisi
ini untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw. yang mana dilaksanakan
tanggal 12 Rabiul Awal.
19
7. Tradisi Dugderan di Semarang
Tradisi dugderan merupakan tradisi khas yang dilakukan oleh masyarakat
Semarang, Jawa Tengah. Tradisi Dugderan dilakukan untuk menyambut datangnya
bulan puasa. Dugderan biasanya diawali dengan pemberangkatan peserta karnaval dari
Balaikota Semarang.
8. Tradisi atau Budaya Tumpeng
Tumpeng adalah cara penyajian nasi beserta lauk-pauknya dalam bentuk
kerucut. Nasi tumpeng umumnya berupa nasi kuning, atau nasi uduk. Cara penyajian
nasi ini khas Jawa atau masyarakat Betawi keturunan Jawa, dan biasanya dibuat pada
saat kenduri atau perayaan suatu kejadian penting.
2.8 Proses Akulturasi Islam Terhadap Budaya Indonesia
Secara etimologi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, akulturasi adalah
percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan saling memengaruhi
atau proses masuknya pengaruh kebudayaan asing dalam suatu masyarakat, sebagian
menyerap secara selektif sedikit atau banyak unsur kebudayaan asing itu.7 Secara
terminologi, pengertian akulturasi banyak dikemukakan oleh para ahli, di antaranya:
Menurut Diaz dan Greiner dalam Nugroho dan Suryaningtyas, “akulturasi merupakan
suatu tingkat dimana seorang individu mengadopsi nilai, kepercayaan, budaya dan
praktik-praktik tertentu dalam budaya baru”.
Akulturasi bisa terjadi melalui kontak budaya yang bentuknya bermacammacam, antara lain sebagai berikut.
a. Kontak sosial pada semua lapisan masyarakat, sebagian masyarakat, atau bahkan
antar individu dalam dua masyarakat.
b. Kontak budaya dalam situasi bersahabat atau situasi bermusuhan.
c. Kontak budaya antara kelompok yang menguasai dan dikuasai dalam seluruh
unsur budaya, baik dalam ekonomi, bahasa. teknologi. kemasyarakatan. agama,
kesenian, maupun ilmu pengetahuan.
d. Kontak budaya antara masyarakat yang jumlah warganya banyak atau sedikit.
e. Kontak budaya baik antara sistem budaya, sistem sosial, maupun unsur budaya
fisik.
20
Kedatangan Islam di Indonesia telah membawa tamaddun (kemajuan) dan
kecerdasan. Islam telah banyak mengubah kehidupan-kehidupan sosial budaya dan
tradisi kerohanian di masyarakat Indonesia. Dengan pengaruh ajaran Islam, Indonesia
menjadi lebih maju dalam bidang perdagangan terutama dalam hubungannya dengan
perdagangan internasional dengan Timur Tengah. Khususnya bangsa Arab, Persia,
Gujarat, India dan lainnya. Datangnya para pedagang Timur Tengah mengakibatkan
terjadinya akulturasi atau pencampuran budaya dengan Indonesia, sehingga budaya
Islam tersebut banyak berkembang di Indonesia sampai saai ini.
Pada perkembangan budaya Islam di Indonesia, terjadi akulturasi budaya dalam
berbagai bentuk seperti berikut :
1. Seni bangunan
Perpaduan antara seni budaya Indonesia dan budaya Islam dalam bangunan
dapat dilihat melalui bangunan masjid, makam dan bangunan yang lainnya.
a. Masjid
Dapat dilihat dari sudut arsitekturnya, masjid-masjid yang terdapat di Indonesia
terutama pada masjid-masjid kuno berbeda dengan masjid di negara lain. Khususnya
gaya arsitektur ini terlihat dari bentuk atapnya yang bertingkat, denahnya bujur sangkar
dan biasanya ditambah dengan bangunan serambi di depan maupun di samping,
pondasinya sangat kuat dan agak tinggi di bagian depan, seperti Masjid Demak.
b. Makam
Ciri-ciri dari wujud akulturasi pada bangunan makam terlihat dari:
1.
Makam-makam kuno dibangun di atas bukit atau tempat-tempat yang tinggi.
2.
Makamnya terbuat dari bangunan batu yang disebut dengan Jirat atau Kijing,
nisannya juga terbuat dari batu.
3.
Diatas jirat biasanya didirikan rumah tersendiri yang disebut dengan cungkup.
4.
Dilengkapi dengan tembok atau gapura yang menghubungkan antara makam
dengan makam atau kelompok-kelompok makam.
5.
Di dekat makam biasanya dibangun masjid, maka disebut masjid makam dan
biasanya makam tersebut adalah makam para wali atau raja, seperti makam
Sendang Duwur di Tuban.
21
2. Tradisi daerah
Akulturasi lainnya adalah adanya kesenian yang bertujuan menyampaikan ajaran
Islam. Kesenian tersebut, misalnya sebagai berikut :
a. Permainan debus, yaitu tarian yang pada puncak acara para penari menusukkan
benda tajam ke tubuhnya tanpa meninggalkan luka. Tarian ini diawali dengan
pembacaan ayat-ayat dalam Al Quran dan salawat nabi. Seudati, sebuah bentuk
tarian dari Aceh. Seudati berasal dan kata syaidati yang artinya permainan
orang-orang besar. Seudati sering disebut saman artinya delapan. Tarian ini
aslinya dimainkan oleh delapan orang penari. Para pemain menyanyikan lagu
yang isinya antara lain salawat nabi.
b. Wayang, termasuk wayang kulit, Pertunjukan wayang sudah berkembang sejak
zaman Hindu, akan tetapi, pada zaman Islam terus dikembangkan Kemudian
berdasarkan cerita Amir Hamzah dikembangkan pertunjukan wayang golek.
3. Seni Aksara
Tersebarnya Islam di Indonesia membawa pengaruh dalam bidang aksara atau
tulisan. Abjad atau huruf-huruf Arab sebagai abjad yang digunakan untuk menulis
bahasa Arab mulai digunakan di Indonesia. Bahkan huruf Arab digunakan di bidang
seni ukir. Berkaitan dengan itu berkembang seni kaligrafi.
3. Seni Sastra
Akulturasi antara sastra Islam dengan sastra di zaman Islam terutama
berkembang di Melayu dan Jawa dilihat dan corak dan isinya, ada beberapa jenis seni
sastra seperti berikut :
a. Hikayat : merupakan karya sastra yang berisi cerita sejarah ataupun dongeng
yang kadang tidak masuk akal. Contohnya : Hikayat Sultan Zulkarnain, Hikayat
1001 Malam, Hikayat Raja Pasai, Hikayat Si Miskin dan sebagainya.
b. Babad : hampir sama dengan hikayat, tetapi isinya kadang tidak sesuai dengan
kejadian. Contohnya : Babad Tanah Jawi, Babad Cirebon.
c. Syair berasal dari perkataan Arab untuk menamakan karya sastra berupa sajaksajak yang terdiri atas empat baris setiap baitnya. Contoh syair sangat tua adalah
syair yang tertulis pada batu nisan makam putri Pasai di Minye Tujoh.
22
4. Sistem Pemerintah atau Politik
Pada zaman awal, budaya yang kental adalah budaya kerajaan dimana rakyat
menghormati raja. Kemudian masuk beberapa agama seperti hindu dan budha,
sehingga rakyat juga menghormati brahmana dan juga biksu. Juga menganggap raja
adalah titisan atau reinkarnasi dewa. Sehingga harus diakamkan di candi atau pura.
Selanjutnya muncul ajaran agama islam, yang juga mempengaruhi budaya kerajaan.
Dimana raja dan para pejabat kerajaan tidak boleh disembah, hanya boleh di hormati
saja.Ketika meninggal maka dikubur berdasarkan cara islam. Kemudian zaman
kerajaan runtuh, digantikan oleh sistem
pemerintahan
republik.
Dimana
pemimpinnya adalah presiden, hal ini terjadi setelah adanya pengaruh budaya eropa
setelah masa penjajahan.
5. Sistem Penanggalan atau Kalender
Menjelang tahun ketiga pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, beliau
berusaha membenahi kalender Islam. Perhitungan tahun yang dipakai atas dasar
peredaran bulan (komariyah). Umar menetapkan tahun 1 H bertepatan dengan
tanggal 14 September 622 M, sehingga sekarang kita mengenal tahun Hijriyah.
Sistem kalender itu juga berpengaruh di Nusantara. Bukti perkembangan sistem
penanggalan (kalender) yang paling nyata adalah sistem kalender yang diciptakan
oleh Sultan Agung.Ia melakukan sedikit perubahan, mengenai nama-nama bulan
pada tahun Saka. Misalnya bulan Muharam diganti dengan Sura dan Ramadan
diganti dengan Pasa. Kalender tersebut dimulai tanggal 1 Muharam tahun 1043 H.
Kalender Sultan Agung dimulai tanggal 1 Sura tahun 1555 Jawa (8 Agustus 1633).
6.
Bidang Ekonomi
Islam sangat memiliki pengaruh dalam sistem perekonomian Indonesia. Para
pedagang Islam kala itu memasarkan dagagannya di tepi laut atau pantai. Sehingga,
menarik perhatian para masyarakat untuk berdagang, dan mempelajari kemaritiman.
Contoh perubahannya sata ini masyarakat Indonesia gencar mendalami ekonomi
maritim dan perdagangan dalam meningkatkan pendapatan nasional. Juga penerapan
ekonomi banyak menggunakan tata cara Islam, seperti kesesuaian takaran,
pembayaran zakat, dan sebagainya.
23
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan diatas maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Islam dalam arti sesungguhnya lebih dari sekedar sebuah agama, ia merupakan
suatu peradaban yang sempurna. Hal tersebut dikarenakan yang menjadi pokok
kekuatan dan sebab timbulnya kebudayaan adalah agama Islam, maka
kebudayaan yang ditimbulkan dinamakan kebudayaan atau peradaban Islam.
2. Ada empat kronologis penting dalam perkembangan peradaban Islam, yaitu pada
masa Rasulullah pada era Madinah (10 tahun), masa Khulafaur Rayidin (30
tahun), masa Daulah Umayyah di Damaskus (91 tahun), dan Daulah
Abbassiyah. Dimana (500 tahun).
3. Puncak kejayaan Islam terjadi pada masa Daulah Umayyah dan Abbassiyah.
4. Akulturasi budaya Islam dengan Indonesia terjadi diberbagai bidang yaitu seni
bangunan, seni sastra, aksara, tradisi daerah, sistem pemerintahan dan juga
sistem penanggalan.
3.2 Saran
Peradaban Islam haruslah diperjuangkan kembali setelah mengalami
kemunduran yang cukup lama agar Islam seolah tidak tertinggal lagi dari ilmu
pengetahuan dan teknologi.
24
DAFTAR PUSTAKA
Achmadi, Wahid dkk. 2003. Menjelajahi Peradaban Islam. Yogyakarta: Pustaka Insan
Madani.2006. Al-’Usairy, Ahmad. Sejarah Islam. Jakarta: Akbar Media Eka Sarana
Hasan, Ibrahim. 2006. Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta: Kalam Mulia
Jamil, A. dkk. Sejarah Kebudayaan Islam. Semarang: CV. Toha Putra
Nasution,Harun. 1985. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya . Jakarta: UI Press.
Sya’labi, Ahmad, Sejarah Kebudayaan Islam I. Jakarta: Pustaka al-Husna. 1979.
Wakhid, Achmadi dkk. 2008. Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XII. Yogyakarta:
Pustaka Insan Madani
http://pendis.kemenag.go.id/file/dokumen/bukupaiarab/buku_ski_MA_10_siswa.pdf
(diakses pada 12 Juli 2021 pukul 17.00 WIB)
https://mpikelasa.files.wordpress.com/2018/05/s-p-i-dinasti-umayyah.pdf (diakses pada
12 Juli 2021 pukul 17.15 WIB)
https://www.bacaanmadani.com/2018/02/10-contoh-tradisi-islam-di-nusantara.html
(diakses pada 12 Juli 2021 pukul 20.00 WIB)
25
Download