FILSAFAT, AGAMA, ETIKA, DAN HUKUM TUGAS MATA KULIAH ETIKA BISNIS DAN PROFESI Oleh : SALSABELA ALMIRA ( 200810301069 ) TYAS ROSYDAH ( 200810301114 ) PUTRI AYU A.F. ( 200810301116 ) PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS JEMBER 2021 KATA PENGANTAR Syukur alhamdulillah, merupakan satu kata yang pantas kami panjatkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul “ Filsafat, Agama, Etika, dan Hukum”. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas dalam mata kuliah Etika Bisnis dan Profesi. Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terimakasih kepada : 1. Ibu Septarina Prita Dania S., S.E., M.SA, Ak. selaku dosen mata kuliah Etika Bisnis dan Profesi yang telah memberikan petunjuk dan bimbingan dalam penyusunan makalah ini. 2. Keluarga dan teman–teman yang telah memberikan dukungan dalam penyelesaian makalah ini 3. Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang telah membantu dalam penyelesaiaan makalah ini. Kami menyadari masih banyak kesalahan dalam pembuatan makalah ini, oleh karena itu kami mengundang pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kemajuan ilmu pengetahuan ini. Terimakasih dan semoga makalah ini bisa memberikan banyak manfaat positif bagi kita semua Jember, 6 September 2021 Penulis i DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ..................................................................................................... i DAFTAR ISI ................................................................................................................. ii BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................... 1 A. LATAR BELAKANG ...................................................................................... 1 B. RUMUSAN MASALAH................................................................................... 2 C. TUJUAN PENULISAN ................................................................................... 2 BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................ 3 A. HAKIKAT FILSAFAT ..................................................................................... 3 B. HAKIKAT AGAMA.......................................................................................... 4 C. HAKIKAT ETIKA ............................................................................................ 6 D. HAKIKAT NILAI ............................................................................................. 7 E. HUBUNGAN AGAMA,ETIK dan NILAI........................................................... 8 F. HUKUM, ETIKA, DAN ETIKET ....................................................................... 9 G. PARADIGMA MANUSIA UTUH ................................................................... 10 1. Karakter dan Kepribadian .......................................................................... 10 2. Kecerdasan, Karakter dan Etika ................................................................ 11 3. Karakter dan Proses Transformasi Kesadaran Spiritual ......................... 12 4. Karakter dan Paradigma Pribadi Utuh....................................................... 12 5. Pikiran, Meditasi, dan Gelombang Otak .................................................... 13 6 Model Pembangunan Manusia Utuh.......................................................... 14 BAB III PENUTUP ...................................................................................................... 15 A. KESIMPULAN .............................................................................................. 15 B. SARAN ......................................................................................................... 16 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................... iii ii BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Istilah filsafat sudah cukup dikenal sejak zaman dahulu. Meski begitu, untuk mulai mendefinisikannya ternyata bukan perkara mudah, bilah dilihat dari arti katanya, filsafat berasal dari dua kata yunani philo dan shopia. Philo berarti cinta, sedangkan shopia berarti bijaksana. Dengan demikian philoshopia berarti cinta terhadap kebijaksanaan, namun untuk membuka pemahaman lebih lanjut tentang filsafat, ada baiknya dimulai dengan mengutik pertanyaan suryasumantri yang membedakan antara pengetahuan (ilmu) dengan filsafat. Pengetahuan dimulai dari rasa ingin tahu, kepastian dimulai dari rasa raguragu, dan filsafat di mulai dari keduanya. Selanjutnya, suryasumantri mengutik pertanyaan will duranp yang mengumpamakan filsafat sebagai pasukan mariner yang merebut pantai untuk pendaratan pasukan infanteri (mewakili ilmu pengetahuan). Filsafatlah yang memenangkan tempat berpijak bagi kegiatan keilmuan. Setelah pantai dapat direbut oleh pasukan marinir (filsafat) sedangkan maka pasukan marinir akan pergi dan selanjutnya tugas pasukan infanteri (ilmu pengetahuan untuk menyempurnakan tempat yang telah direbut tersebut. Untuk dapat lebih memperjelas perbedaan filsafat dengan ilmu pengetahuan, atau untuk membedakan suatu cabang ilmu dengan cabang ilmu lainnya, dapat dilihat dari tiga aspek, yaitu (a) objek yang dikaji (ontologis), (b) prosedur / metode untuk mengkajinya (epistemologis), (c) tujuan penggunaan filsafat / ilmu itu sendiri (oksiologis). 1 B. RUMUSAN MASALAH 1. Apakah yang dimaksud dengan hakikat filsafat? 2. Apakah yang dimaksud dengan hakikat agama? 3. Apakah yang dimaksud dengan hakikat etika? 4. Apakah yang dimaksud dengan hakikat nilai? 5. Bagaimanakah hubungan antara agama, etika, dan etiket? 6. Apakah yang dimaksud dengan hukum, etika, dan etiket? 7. Bagaimanakah paradigma manusia utuh? C. TUJUAN PENULISAN 1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan hakikat filsafat? 2. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan hakikat agama? 3. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan hakikat etika? 4. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan hakikat nilai? 5. Untuk mengetahui bagaimana hubungan antara agama, etika, dan etiket? 6. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan hukum, etika, dan etiket? 7. Untuk mengetahui apa bagaimana paradigma manusia utuh? 2 BAB II PEMBAHASAN A. HAKIKAT FILSAFAT Filsafat berasal dari dua kata Yunani: philo dan sophio. Philo berarti cinta, sedangkan sophio berarti sederhana. Dengan demikian, philosophio berarti cinta terhadap kebijaksanaan. Karakteristik utama berpikir filsafat adalah sifatnya yang menyeluruh, sangat mendasar dan spekulatif. Sifatnya yang menyeluruh artinya mempertanyakan hakikat keberadaan dan kebenaran tentang keberadaan itu sendiri sebagai satu kesatuan secara keseluruhan, bukan dari perspektif bidang per bidang atau sepotong-sepotong. Menurut Suriasumantri pokok permasalah yang dikaji filsafat mencakup tiga segi yaitu: apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah (logika), mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk (etika), serta apa yang dianggap indah dan apa yang dianggap jelek (estetika). Itulah sebabnya filsafat dikatakan sebagai induk dari seluruh cabang ilmu pengetahuan dan seni. Ilmu pengetahuan merupakan cabang yang sudah terspesialisasi, melihat hakikat kebenaran dari sudut pandang yang berbedabeda atas suatu objek keberadaan yang tunggal. Sifatnya yang mendasar berarti bahwa filsafat tidak begitu saja percaya bahwa ilmu itu adalah benar. Sifatnya yang spekulatif karena filsafat ingin selalu mencari jawab bukan saja pada suatu yang sudah diketahui, tetapi juga segala sesuatu yang belum diketahui. Theo Hujibers (dalam Abdulkadir Muhammad,2006) menjelaskan filsafat sebagai kegiatan intelektual yang metodis, sistematis dan secara reflektif menangkap makna hakiki keseluruhan yang ada. Abdulkadir Muhammad menjelaskan pendapat dengan melihat unsur-unsurnya sebagai berikut: 3 a. Kegiatan intelektual (pemikiran) b. Mencari makna yang hakiki (interpretasi ) c. Segala fakta dan gejala (objek) d. Dengan cara refleksi, metodis, dan sistematis (metode) e. Untuk kebahagiaan manusia (tujuan) Untuk dapat memperjelas perbedaan filsafat dengan ilmu pengetahuan, atau untuk membedakan suatu cabang ilmu dengan cabang ilmu lainnya, dapat dilihat dari tiga aspek, yaitu: 1. Objek yang dikaji (ontologis) FILSAFAT : segala sesuatu yg bersifat fisik dan nonfisik, baik yg dapat direkam melalui indra maupun tidak ILMU : Segala sesuatu yang bersifat fisik dan yang dapat direkam melalui indra 2. Prosedur atau metode untuk mengkajinya (epistemologis) FILSAFAT : Pendekatan yang bersifat reflektif atau rasional – deduktif ILMU : Pendekatan ilmiah, menggunakan dua pendekatan yaitu deduktif dan induktif saling melengkapi 3. Tujuan penggunaan filsafat atau ilmu itu sendiri (aksiologis) FILSAFAT : Sangat abstrak, bermanfaat tetapi tidak secara langsung bagi umat manusia ILMU : Sangat konkret, langsung dapat dimanfaatkan bagi kepentingan umat manusia B. HAKIKAT AGAMA Untuk memperoleh pemahaman tentang agama, di bawah ini dikutip beberapa pengertian dan definisi tentang agama : 1. Agus M.Harjana (2005) megutip pengertian agama dari Ensiklopedi Indonesia karangan Hassan Shadily. Agama berasal dari bahasa sansekerta :a berarti tidak, gam berarti pergi, dan a berarti bersifat atau keadaan. Jadi istilah agama berarti: bersifat tidak pergi, tetap lestari, kekal dan tidak berubah. Dengan demikian agama adalah pegangan atau pedoman bagi manusia untuk mencapai hidup kekal. 4 2. Fuad Fahri Ismail dan Abdul Hamid Mutawalli (2003) menjelaskan bahwa agama adalah satu bentuk terhadap ketetapan ketetapan Illahi yang mengarahkan mereka yang berakal –dengan pilihan mereka sendiri terhadap ketetapan Illahi tersebut-kepada kebaikan hidup didunia dan kebaikan hidup di akhirat. 3. Abdulkadir Muhammad (2006) memberikan dua rumusan agama, yaitu (a) menyangkut hubungan antara manusia dengan suatu kekuasaan luar yang laindan lebih dari pada apa yang dialami oleh manusia, dan (b) apa yang diisyaratkan Allah dengan perantara para nabi-Nya, berupa perintah dan larangan serta petunjuk untuk kebaikan manusia di dunia dan di akhirat. Dari beberapa definisi di atas, dapat dirinci rumusan agama berdasarkan unsur - unsur penting sebagai berikut : 1. Hubungan manusia dengan sesuatu yang tak terbatas, yang transcendental yang Illahi-Tuhan Yang Maha Esa. 2. Berisi pedoman tingkah laku (dalam bentuk larangan dan perintah ) nilainilai dan norma-norma yang diwahyukan langsung oleh Illahi melalui nabinabi. 3. Untuk kebahagiaan hidup manusia didunia dan hidup kekal diakhirat. Dalam pengertian agama tercakup unsur-unsur utama sebagai berikut : 1. Ada kitab suci. 2. Kitab suci yang dituliskan oleh Nabi berdasarkan wahyu langsung dari Tuhan. 3. Ada suatu lembaga yang membina, menuntun umat manusia, dan menafsirkan kitab suci bagi kepentingan umatnya. 4. Setiap agam berisi ajaran dan pedoman tentang : a. Tagwa, dogma, doktrin, atau filsafat tentang ketuhanan b. Susila, moral atau etika. C. Ritual, upacara, atau tata cara beribadat d. Tujuan agama 5 C. HAKIKAT ETIKA Etika barasal dari kata yunani yaitu berasal dari kata ethos (bentuk tunggal) yang berarti tempat tinggal, padang, rumput, kadang, kebiasaan, adat, watak, perasaan, sikap, cara berpikir, bentuk jamaknya adalah ta etha, yang berarti adat istiadat. Dalam hal ini kata etika sama dengan moral. Moral berasal dari kata latin: mos ( bentuk tunggal ), atau mores ( bentuk jamak ) yang berarti adat istiadat, kebiasaan, kelakuan, watak, tabiat, akhalk, cara hidup, (Kanter, 2001). Untuk memperoleh pemahaman lebih lanjut mengenai etika , dibawah ini dikutip beberapa pengertian etika: 1. Ada dua pengertian etika; sebagai praksis dan sebagai refleksi. Sebagai praksis etika berarti nilai-nilai dan norma-norma moral baik yang diperaktikan atau justru tidak diperaktekan, walaupun seharusnya diperaktikan. Tidak boleh dilakukan, pantas dilakukan, dan sebagainya. Etika sebagai refleksi adalah pemikiran moral (Bartnes, 2001 ). 2. Etika secara etimologis dapat diartikan sebagai ilmu tentang apa yang dilakukan, atau tentang adat istiadat yang berkenaan dengan hidup yang baik dan yang buruk ( kanter,2001 ). 3. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbitan Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan (1988), etika dirumuskan dalam pengertian sebagai berikut : a. Ilmu tentang apa yang baik dan yang buruk, dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak); b. Kupulan asas atau nilai yang berkenan dengan akhlak; c. Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat. 6 Dari uraian diatas, dapat diketahui bahwa ternyata etika mempunyai banyak arti. Namun demikian, setidaknya arti etika dapat dilihat dari dua hal berikut: a. Etika sebagai peraksis; sama dengan moral atau moralitas yang berarti adat istiadat, kebiasaan, nilai-nilai, dan norma-norma yang berlaku dalam kelompok atau masyarakat. b. Etika sebagai ilmu atau tata susila adalah pemikiran/penilaian moral. Etika sebagai pemikiran moral bisa saja mencapai taraf ilmiah bila proses penalaran terhadap moralitas tersebut bersifat kritis, metodis, dan sistematis. D. HAKIKAT NILAI Istilah nilai bukan hal yang asing bagi hampir setiap orang dalam kehidupan sehari-hari. Bagi setiap ibu rumah tangga yang berbelanja ke pasar tahu persis berapa nilai (uang) dari setiap barang yang dibeli di pasar. Dalam hal ini, nilai barang sama pengertiannya dengan harga barang yang dibayar. Nilai (uang) harga yang dibayar untuk memperoleh barang tersebut sering disebut sebagai nilai ekonomis. sesuatu mempunyai nilai ekonomis karena sesuatu tersebut dapat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan hidup secara fisik atau memberi kenikmatan rasa dan fisik atau untuk meningkatkan Citra atau gengsi para akuntan pelaku bisnis ibu rumah tangga tukang becak paham betul cara hitung dan melakukan dan melaporkan nilai uang atau nilai ekonomis dari harta kekayaan yang dimilikinya dari kegiatan bisnis atau dari pekerjaan yang dilakukan Untuk memahami pengertian nilai secara lebih mendalam, dibawah ini dikutip beberapa definisi tentang nilai. 1. Doni Koesoema A. (2007) mendefinisikan nilai sebagai kualitas suatu hal yang menjadikan hal itu dapat disukai, diinginkan, berguna, dan dihargai sehingga dapat menjadi semacam objek bagi kepentingan tertentu. Nilai juga merupakan sesuatu yang memberi makna dalam hidup, yang berikan titik tolak, isi, dan tujuan dalam hidup. 2. Faud Farid Ismail dan Abdul Hamid Mutawalli (2003) merumuskan nilai sebagai standar atau ukuran (norma) yang kita gunakan untuk mengukur segala sesuatu. Ada nilai materialis yang berkaitan dengan ukuran harta pada diri 7 kita, ada nilai kesehatan yang mengungkapkan tentang siknifikasi kesehatan dalam pandangan kita, ada nilai ideal yang mengungkapkan kedudukan keadilan dan kesetiaan dalam hati kita, serta ada nilai sosiologis yang menunjukan signifikasi kesuksesan dalam kehidupan praktis, dan nilai-nilai yang lain. Dari penjelasan tetang nilai tersebut, sebenarnya dapat disimpulakn tiga hal, yaitu: a. Nilai selalu dikaitkan dengan sesuatu (benda, orang, hal). b. Ada bermacam-macam (gugus) nilai selain nilai uang (ekonomis) yang sudah cukup dikenal. c. Gugus-gugus nilai membentuk semacam heararki dari yang terendah sampai yang tertinggi. E. HUBUNGAN AGAMA,ETIK dan NILAI Semua agama melalui kitab sucinya masing-masing mengajarkan tentang tiga hal pokok yaitu : 1. Hakikat Tuhan (God, Allah, Gusti Allah, Budha, Brahman, Kekuatan yang tidak terbata, dan lain-lain). 2. Etika, tata susila. 3. Ritual, tata cara beribadat. Jelas sekali bahwa antara agama dan etika tidak dapat dipisahkan. Tidak ada agama yang tidak mengajarkan etika/moralitas. Kualitas keimanan (spiritualitas) seseorang ditentukan bukan saja oleh kualitas peribadatan (kualitas hubungan manusia dengan manusia lain dalam masyarakat dan dengan alam). Dapat dikatakan bahwa nilai ibadah menjadi sia-sia tanpa dilandasi oleh nilai-nilai moral. Tingkat keyakinan dan kepasrahan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, tingkat/kualitas peribadatan, dan tingkat kualitas moral seseorang akan menentukan gugus/hierarki nilai kehidupan yang telah dicapai. Tujuan semua agama adalah untuk merealisasikan nilai tertinggi, yaitu hidup kekal di akhirat. Dari sudut pandang semua agama, pencapaian nilai-nilai kehidupan duniawi (nilai-nilai yang lebih rendah) bukan merupakan tujuan 8 akhir, tetapi hanya merupakan tujuan sementara atau tujuan antara, dan dianggap hanya sebagai media atau alat (means) untuk mendukung pencapain tujuan akhir (nilai tertinggi kehidupan). F. HUKUM, ETIKA, DAN ETIKET Hukum, etika dan etiket merupakan istilah yang sangat berdekatan dan mempunyai arti yang hampir sama walaupun terdapat juga perbedaaan. No Hukum 1. Persamaan: sama-sama mengatur prilaku manusia 2. Perbedaan A Sumber hokum: Sumber etika: Sumber etiket: Negara, pemerintah Masyarakat Golonganmasyarakat Sifat pengaturan: Sifat pengaturan: Sifat pengaturan : B Etika Etiket Tertulis berupa undang- Ada undang, yang lisan Lisan (berupa Peraturan pemerintah, dan sebagainya. adat kebiasaan) dan ada yang tertulis (berupa kode etik) C Objek yang diatur : Objek yang diatur: Objek yang diatur : Bersifat Bersifat Bersifat (misalnya warisan, lahiriah : rohaniah, hokum misalnya: prilaku etis, hokum (jujur, tidak agrarian, hokum tata bertanggung Negara) dan rohaniah (misalnya: pidana) misalnya: tata menipu, berpakaian, cara (untuk jawab) pesta,sekolah, dan prilaku tidak etis hokum (korupsi,mencuri, bersina) lahiriah, pertemuan resmi,berkabung dan lain-lain) cara tatab menerima tamu, tatar cara berbicara dengan orang lain, sebagainya. 9 dan G. PARADIGMA MANUSIA UTUH Perlu dipahami pengertian beberapa konsep dan atau hubungan antar berbagai konsep penting yang terkait dengan pembangunan manusia seutuhnya, antara lain: karakter, kepribadian, kecerdasan, etika, gelombang otak, tujuan hidup, agama, dan meditasi/zikir. 1. Karakter dan Kepribadian Soedarsono (2002) mendefinisikan kepribadian sebagai totalitas kewajiban seseorang yang menampilkan sisi yang didapat dari keturunan (orang tua, leluhur)dan sisi yang didapat dari pendidikan, pengalaman hidup serta lingkungannya. Karakter adalah sisi kepribadian yang didapat dari pengalaman, pendidikan, dan lingkungan sehingga bisa dikatakan bahwa karakter adalah bagian dari kepribadian. Cloud (2007) menegaskan bahwa karakter seseorang akan sangat menetukan apakah ia akan berhasil dalam menghadapi tuntutan kenyataan dalam situasi tertentu, sementara tuntutan tersebut sangat banyak dan beragam. Ezra (2006) mengatakan bahwa karakter adalah cilture untuk sebuah kesuksesan yang langgeng dan tahan uji. Lilik Agung mendefinisikan karakter sebagai kompetensi yang harus dimiliki seseorang berkaitan dengan kinerja terbaik agar ia mampu menghadapi tantangan realita/kenyataan yang selalu berubah dan mampu meraih kesuksesan yang bersifat langgeng. Dari berbagai definisi karakter tersebut di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: a. Karakter adalah kompetensi yang harus dimiliki oleh seseorang. Kompetensi ini mencakup pengembangan secara seimbang dan utuh ketiga lapisan yaitu: fisik (body), pikiran (mind), dan jiwa/roh (spiritual). b. Karakter menentukan keberhasilan seseorang. c. Karakter dapat diubah, dibentuk, dipelajari melalui pendidikan, dan pelatihan tiada henti serta melalui pengalaman hidup. d. Tingkat keberhasilan seseorang ditentukan olehtingkat kecocokan karakter yang dimilikinya dengan tuntutan kenyataan. Chopra menyebutkan ada 10 karakter sel seharusnya dapat dijadikan sebagai karakter manusia. 10 (10C) yang 1. Ada maksud yang lebih tinggi 2. Kesatuan (keutuhan) 3. Kesadaran 4. Penerimaan 5. Kreatifitas 6. Keberadaan 7. Efisiensi 8. Pembentukan ikatan 9. Memberi 10. Keabadian 2. Kecerdasan, Karakter dan Etika Melalui pemahaman Wahyuni Nafis (2006) atas pemikiran/ajaran tradisional islam dan diinspirasi oleh beberapa pemikiran Stephen R. Covey, ia menyebut tiga jenis kecerdasan dengan tiga golongan etika, yaitu: 1) psiko etika, 2) sosio etika, dan 3) teo etika. Psiko etika merupakan masalah aku dengan aku, sosio etika menyangkut masalah aku dengan orang lain, dan teo etika menyangkut masalah aku dengan Tuhan. Hubungan antara pemikiran kecerdasan Covey, karakter/sifat-sifat sel, dan golongan Empat Kecerdasan Sepuluh Sifat / karakter sel chopra Etika Nafis Covey PQ Efisiensi (setiap sel menerima energi/makanan untuk Psiko Etika mempertahankan hidup, tidak mau menimbun makanan/energi) IQ Kesadaran (Kemampuan beradaptasi) Keabadian (Meneruskan pengetahuan dan talenta kepada Psiko Etika sel – sel generasi berikutnya) EQ Penerimaan (menerima kehadiran dan ketergantungan Sosio Etika dengan sel – sel lainnya) Memberi (memberi/membantu integritas sel – sel lainnya) Pembentukan ikatan 11 (kesadaran bahwa keunikan/perbedaan fungsi setiap sel tidaklah meniadakan kesamaan identitas mereka) SQ Maksud yang lebih tinggi (mengabdi kepada kepentingan Teo Etika tubuh/sesuatu yang lebih besar, lebih luas, lebih tinggi, serta tidak mementingkan diri sendiri) Kesatuan (semua sel menyadari kesatuan/kebersamaan mereka) Kreatifitas (menemukan cara – cara baru, tidak berpegang pada perilaku lama) Keberadaan (semua sel patuh pada siklus hidup universal) 3. Karakter dan Proses Transformasi Kesadaran Spiritual Belum banyak ilmu pengetahuan dan teknologi yang mampu mengkaji ranah spritual melalui pendekatan rasional / ilmiah. Ilmu psikologi mencoba memasuki ranah kejiwaan, namun dalam perkembanganya ilmu ini justru membatasi kajianya hanya pada lapisan pikiran (mental/emotional) dan tidak ada upaya untuk masuk lebih dalam ke ranah roh (kesadaran spritual/transdental). Sementara ajaran agama yang seharusnya dapat di jadikan panduan dan pengembangan /olahan batin, dalam perjalananya sering kali pengajaranya lebih bersifat indoktrinasi, sekedar menjalankan praktik berbagai ritul, serta kurang mengedepankan pendekatan melalui proses nalar, pengalaman, dan pengalaman langsung melalui refleksi diri. Akibatnya, ajaran agama yang mulia itu tiidak mampu memberikan pencerahan kepada umatnya. 4. Karakter dan Paradigma Pribadi Utuh Covery telah mengingatkan bahwa untuk membangun manusia berkarakter, di perlukan pengembangan kompetensi secara utuh dan seimbang terhadap empat kemampuan manusia yaitu : tubuh (PQ), intelektual (IQ), hati (EQ), dan jiwa (SQ). Sementara cloud (2007) mengatakan bahwa kunci pembangunan karakter adalah integritas. Pemahaman atas integritas tidak sekedar berarti jujur atau mempunyai prinsip moral, tetapi terkandan juga pengertian : utuh dan tidak terbagi, menyatu, berkonsentrasi kukuh, serta mempunyai konsistensi. 12 5. Pikiran, Meditasi, dan Gelombang Otak Olah pikir (brainware management) adalah suatu konsep dan keterampilan untuk mengatur gelombang otak manusia yang paling sesuai dengan aktivitasnya sehingga bisa mencapai hasil optimal (sentanu, 2007). Otak akan memancarkan gelombang sesuia dengan tingkat keadaan pikiran/kejiwaan seseorang. Ada empat golongan gelombang otak, yaitu: Kognitif, analisis, logika, otak kiri, konsentrasi, prasangka, pikiran Beta (14 – 100 Hz) sadar, aktif, cemas, was-was, khawatir, stres, fight or flight, disease, cortisol, norepinephrine Alpha (8 – 13,9 Hz) Khusyuk, relaksasi, meditatif, focus-alertness, superlearning, akses nurani bawah sadar, ikhlas, nyaman, tenang, santai, istirahat, puas, segar, bahagia, endorphine, serotonin Sangat khusyuk, deep-meditation, problem solving, mimpi, intuisi, Theta (4 – 7,9 Hz) nurani bawah sadar, ikhlas, kreatif, integratif, hening, imajunatif, catecholamines, AVP Tidur lelap, non physical state, nurani bawah sadar kolektif, tidak Delta(0,1 – 3,9 Hz) ada pikiran dan perasaan, cellular regeneration, HGH Kunci untuk membangun karakter adalah melatih pikiran untuk memasuki gelombang alpha. Latihan meditasi, yoga, zikir, retret, dan sejenisnya sangat efektif untuk memasuki gelombang alpha. Penelitian ilmiah telah berhasil membutikkan bahwa praktik meditasi dan sejenisnya mampu membantu melakukan transformasi diri menuju ke arah pengembangan karakter-karakter positif secara efektif. Meditasi adalah upaya untuk mendiamkan suara percakapan dalam pikiran dan menemukan ruang yang tenang (Rodenbeck. 2007). 13 6 Model Pembangunan Manusia Utuh Berdasarkan konsep yang dibahas sebelumnya dapat dibuat dua model tentang hakikat keberadaan manusia, yaitu: a. Model hakikat manusia tidak utuh (paradigma materialisme) Model ini menjelaskan bahwa tujuan manusia hanya mengejar kekayaan, kesenangan, dan kekuasaan duniawi. Kecerdasan yang dikembangkan hanya IQ dan kesehatan fisik sehingga praktis kurang atau bahkan lupa mengembangkan EQ dan SQ. Sebagai konsekuensinya, walaupun dengan kemajuan iptek manusia telah berhasil meningkatkan produksi barang dan jasa, namun berbagai persoalan muncul sebagai akibat dari tindakan yang tidak etis atau kealpaan mengembangkan EQ dan SQ tersebut, antara lain: meluasnya korupsi dan kejahatan, melebarnya kesenjangan orang kaya dan miskin, meningkatnya berbagai konflik, kegelisahan, ketakutan, kemarahan, depresi, anarkisme, dan sebagainya. b. Model hakikat manusia utuh (paradigma manusia utuh) Pengembangan model hakikat mansia utuh perlu untuk mengatasi hal-hal yang terjadi berkaitan dengan hakikat manusia tidak utuh. Paradigma hakikat manusia seutuhnya mengembangkan sikap dan perilaku hidup etis dalam arti luas, yaitu dengan memadukan dan menyeimbangkan kualitas kesehatan fisik, pengetahuan intelektual, kematangan emosional dan kerukunan sosial, dan kesadaran spiritual. Meditasi, zikir, retret, dan sejenisnya terbukti dapat melengkapi praktik keagamaan guna meningkatkan kecerdasan emosional dan spiritual. Pelatihan dan praktik meditasi, zikir dan retret akan mengembangkan lapisan emosional dan spiritual serta melengkapi pengembangan intelektual melalui iptek kesehatan fisik melalui olahraga dan makanan sehat. 14 dan BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Filsafat adalah hasil pemikiran manusia yang menempati posisi sebagai induk pengetahuan. Filsafat juga diartikan mencari sebuah kebenaran, karakteristik utama berfikir filsafat adalah sifatnya yang menyeluruh, sangat mendasar, dan spekulatif. Sifatnya menyeluruh artinya mempertanyakan hahekat keberadaan, dan kebenaran tentang keberadaan itu sendiri sebagai satu kesatuan secara keseluruhan, bukan persektif dari bidang perbidang atau sepotong-sepotong. Sifatnya yang mendasar berarti bahwa filsafat tidak begitu saja percaya bahwa ilmu itu benar. Sifatnya yang spekulatif karna filsafat selalu ingin mencari jawab bukan bukan saja pada suatu hal yang sudah diketahui, tetapi segalah sesuatu belum diketahui. Agama adalah satu bentuk ketetapan ilahi yang mengarahkan mereka yang berakal dengan pilihan mereka sendiri terhadap ketetapan ilahi itu tersebut kepada kebaikan hidup didunia dan kabahagian hidup di akhirat. Agama berdasar unsur-unsur penting sebagai berikut : Hubungan manusia degan suatu yang tak terbatas, yang transcendental,yang ilahi ( tuhan yang maha esa ); Berisi pedoman dan tingka laku ( dalam bentuk larangan dan perintah ),nilai-nilai dan norma-norma yang diwahyukan langsung oleh ilahi melalui nabi-nabi; Untuk kebahagian hdup manusia di dunia dan hidup kekal di akhirat. Etika sama dengan moral. Moral berasal dari kata latin: mos ( bentuk tunggal ), atau mores ( bentuk jamak ) yang berarti adat istiadat, kebiasaan, kelakuan, watak, tabiat, akhalk, cara hidup. Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) terbitan departemen pendidikan dan kebudayaan (1988), etika dirumuskan dalam pengertian sebagai betrikut :Ilmu tentang apa yang baik dan yang buruk, dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak); Kumpulan asas atau nilai yang berkenan dengan akhla; Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat 15 Faud farid ismail dan abdul hamid mutawalli (2003) merumuskan nilai sebagai standar atau ukuran (norma) yang kita gunakan untuk mengukur segala sesuatu. Ada nilai materialis yang berkaitan dengan ukuran harta pada diri kita, ada nilai kesehatan yang mengungkapkan tentang siknifikasi kesehatandalam pandangan kita. Nilai selalu dikaitkan dengan sesuatu (benda, orang, hal). Ada bermacam-macam (gugus) nilai selain nilai uang (ekonomis) yang sudah cukup dikenal. Gugus-gugus nilai membentuk semacam heararki dari yang terendah sampai yang tertinggi. Tidak ada agama yang tidak mengajarkan etika/moralitas. Kualitas keimanan (spritualitas) seseorang ditentukan bukan saja oleh kualitas peribadatan (kualitas hubungan manusia dengan tuhan), tetapi juga oleh kulaitas moral/etika (kualitas hubungan manusia dangan manusia lain dalam masyarakat dan dengan alam). Dapat dikatakan bahwa niali ibadah menjadi sia-sia tampa dilandasi oleh nilai-nilai moral. Tujuan agama untuk merealisasikan nilai tertinggi, yaitu hidup kekal diakhirat (agama hindu menyebut moksa, agama budha menyebut nirwana). Dari sudut pandang semua agama, pencapain nilai-nilai kehidupan duniawi (nilai-nilai yang lebih rendah) bukan merupakan tujuan akhir. Hukum, etika dan etiket merupakan istilah yang sangat berdekatan dan mempunyai atri yang hampir sama walaupun terdapat juga perbedaaan. B. SARAN Dengan kita mempelajari filsafat, agama, etika, dan nilai, semoga kita menjadi orang yang kritis, berpikir yang benar dalam berbagai hal, dan semoga kita menjadi manusia yang bermoral dan berahlak mulia untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada tuhan yang maha Esa dan semoga kita dapat mencapai hakekat kehidupan yang sesungguhnya yaitu surga. 16 DAFTAR PUSTAKA Agoes Sukrisno & I Cenik Ardana. 2009. Etika Bisnis dan Profesi Tantangan Membangun Manusia Seutuhnya. Jakarta: Salemba Empat Heizer, Jay & Rander, Barry. 2005. Etika bisnis dan profesi Edisi ke 7. Jakarta. Salembat Embat. iii