Uploaded by aikaikaik116

Resume Akuntansi Manajemen Lanjutan

advertisement
Resume Akuntansi Manajemen Lanjutan
Environmental Management Accounting (EMA)
Disusun Oleh :
Kelompok 9 kelas N
1. Siti Nur Aini
041811333004
2. Sri Nor Reni
041811333021
3. Kukuh Shafira Ulinnuha 041811333025
4. Marita Nur Hidayah
041811333158
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2020
Environmental Management Accounting
Environmental Accounting – Back Ground
Menurut ISO 14001, lingkungan adalah keadaan sekeliling dimana organisasi
beroperasi, termasuk udara, air, tanah, sumber daya alam, flora, fauna, manusia dan
interaksinya.Lingkungan di Indonesia sering disebut lingkungan hidup. Menurut Undangundang no 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, definisi lingkungan hidup
adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk
manusia, dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan peri kehidupan dan
kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Dampak lingkungan adalah perubahan apa
pun pada lingkungan, baik yang merugikan maupun yang bermanfaat, yang keseluruhannya
atau sebagian disebabkan oleh lingkungan dan organisasi.
Pengertian Akuntansi Manajemen Lingkungan
Akuntansi lingkungan diterapkan oleh berbagai perusahaan untuk menghasilkan
penilaian kuantitatif tentang biaya dan dampak perlindungan lingkungan (environmental
protection). Tujuannya adalah meningkatkan efisiensi pengelolaan lingkungan dengan
melakukan penilaian kegiatan lingkungan dari sudut pandang biaya (environmental costs) dan
manfaat atau efek (economic benefit).
Terdapat beberapa alasan perusahaan dalam mempertimbangkan untuk mengadopsi
akuntansi lingkungan sebagai bagian dari sistem akuntansi perusahaan, antara lain:
1. Memungkinkan untuk mengurangi dan menghapus biaya-biaya lingkungan
2. Memperbaiki kinerja lingkungan perusahaan yang selama ini mungkin
mempunyai dampak negatif terhadap kesehatan manusia dan keberhasilan bisnis
perusahaan
3. Diharapkan menghasilkan biaya atau harga yang lebih akurat terhadap produk dari
proses lingkungan yang diinginkan dan memungkinkan pemenuhan kebutuhan
pelanggan yang mengharapkan produk/jasa lingkungan yang lebih bersahabat.
Akuntansi Lingkungan (Environmental Accounting atau EA) merupakan istilah yang
berkaitan dengan dimasukkannya biaya lingkungan (environmental costs) ke dalam praktek
akuntansi perusahaan atau lembaga pemerintah. Biaya lingkungan adalah dampak yang
timbul dari sisi keuangan mampun non-keuangan yang harus dipikul sebagai akibat dari
kegiatan yang mempengaruhi kualitas lingkungan.
Akuntansi Manajemen Lingkungan (Environmental Management Accounting)
merupakan salah satu sub sistem dari Akuntansi Lingkungan yang menjelaskan mengenai
persoalan pengukuran dari dampak-dampak bisnis perusahaan ke dalam sejumlah unit
moneter. Akuntansi Manajemen Lingkungan juga dapat digunakan sebagai suatu tolak ukur
dalam kinerja lingkungan (Rustika, 2011 dalam mardikawati, dkk, 2014).
Menurut EPA (1995), pengertian akuntansi manajemen lingkungan adalah sebagai
proses pengidentifikasian, pengumpulan dan penganalisisan informasi tentang biaya-biaya
dan kinerja untuk membantu pengambilan keputusan organisasi.
Akuntansi manajemen lingkungan sendiri merupakan proses pengidentifikasian,
pengumpulan, perkiraan – perkiraan, analisis, laporan dan pengiriman informasi tentang
informasi berdasarkan arus bahan dan energy, informasi berdasarkan biaya lingkungan,
informasi lainnya yang terukur, dibentuk berdasarkan akuntansi manajemen lingkungan
untuk pengambilan keputusan bagi perusahaan.
Akuntansi Manajemen Lingkungan merupakan pengembangan dari Manajemen
Lingkungan dan seluruh kinerja ekonomi perusahaan serta implementasi dari lingkungan
yang tepat dalam hubungan antara Sistem Akuntansi dan praktiknya (Mardikawati, dkk,
2014). Badan Perlindungan Amerika Serikat atau United States Environment Protection
Agency (EPA) menambahkan lagi bahwa istilah akuntansi lingkungan dibagi menjadi dua
dimensi utama. Pertama, akuntansi lingkungan merupakan biaya yang secara langsung
berdampak pada perusahaan secara menyeluruh (dalam hal ini disebut dengan istilah “biaya
pribadi”). Kedua, akuntansi lingkungan juga meliputi biaya-biaya individu, masyarakat
maupun lingkungan suatu perusahaan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Sistem akuntansi lingkungan terdiri atas lingkungan akuntansi konvensional dan
akuntansi ekologis. Akuntansi lingkungan konvensional mengukur dampak-dampak dari
lingkungan alam pada suatu perusahaan dalam sitilah-istilah keuangan. Sedangkan akuntansi
ekologis mencoba untuk mengukur dampak suatu perusahaan berdasarkan lingkungan, tetapi
pengukuran dilakukan dalam bentuk unit fisik (sisa barang produksi dalam kilogram,
pemakaian energi dalam kilojoules, dll), akan tetapi standar pengukuran yang digunakan
bukan dalam bentuk satuan keuangan.
Sedangkan lingkup akuntansi lingkungan dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama
didasarkan pada kegiatan akuntansi lingkungan suatu perusahaan baik secara nasional
maupun regional. Bagian kedua berkaitan dengan akuntansi lingkungan untuk perusahaanperusahaan dan organisasi lainnya. Pada dasarnya penjelasan mengenai konsep akuntansi
lingkungan mengikuti beberapa faktor, antara lain:
1. Biaya konservasi lingkungan (diukur dengan menggunakan nilai satuan uang).
2. Keuntungan konservasi lingkungan (diukur dengan unit fisik).
Keuntungan ekonomi dari kegiatan konservasi lingkungan (diukur dengan nilai satuan
uang/rupiah).
Tujuan Akuntansi Manajemen Lingkungan
1. Pemonitoran dan pengevaluasian informasi yang terukur dari keuangan maupun
manajemen
2. Pemonitoran arus data tentang bahan dan energi yang saling berhubungan secara
timbal balik guna meningkatan efisiensi pemanfaatan bahan-bahan maupun energi
3. Mengurangi dampak lingkungan dari operasi perusahaan, produk-produk dan jasa
4. Mengurangi risiko-risiko lingkungan
5. Memperbaiki hasil-hasil dari manajemen perusahaan
Peran dan Fungsi Akuntansi Lingkungan
SFAC No. 1 menjelaskan bahwa pelaporan keuangan memberikan informasi yang
bermanfaat bagi investor dan kreditor, dan pemakai lainnya dalam mengambil keputusan
investasi, kredit dan yang serupa secara rasional.
Fungsi dan peran akuntansi lingkungan dibagi ke dalam dua bentuk.
1. Fungsi Internal
Fungsi internal merupakan fungsi yang berkaitan dengan pihak internal perusahaan.
Pihak internal adalah pihak yang menyelenggarakan usaha, seperti rumah tangga
konsumen dan rumah tangga produksi maupun jasa lainnya. Pimpinan perusahaan
merupakan orang yang bertanggungjawab dalam setiap pengambilan keputusan maupun
penentuan setiap kebijakan internal perusahaan. Sebagaimana hanya dengan sistem
informasi lingkungan perusahaan, fungsi internal memungkinkan untuk mengukur biaya
konservasi lingkungan dan menganalisis biaya dari kegiatan-kegiatan konservasi
lingkungan yang efektif dan efisien serta sesuai dengan pengambilan keputusan.
2. Fungsi Eksternal
Fungsi ekternal merupakan fungsi yang berkaitan dengan aspek pelaporan keuangan.
SFAC No. 1 menjelaskan bahwa pelaporan keuangan memberikan informasi yang
bermanfaat bagi investor dan kreditor, dan pemakai lainnya dalam mengambil keputusan
investasi, kredit dan yang serupa secara rasional. Informasi tersebut harus tersebut harus
bersifat komprehensif bagi mereka yang memiliki pemahaman yang rasional tentang
kegiatan bisnis dan ekonomis dan memiliki kemauan untuk mempelajari informasi dengan
cara yang rasional. SFAC No. 1 menjelaskan bahwa pelaporan keuangan memberikan
informasi yang bermanfaat bagi investor dan kreditor, dan pemakai lainnya dalam
mengambil keputusan investasi, kredit dan yang serupa secara rasional.
Aspek-Aspek yang Menjadi Bidang Akuntansi Lingkungan:
1) Pengakuan dan identifikasi pengaruh negatif aktifitas bisnis perusahaan terhadap
lingkungan dalam praktek akuntansi konvensional.
2) Identifikasi, mencari dan memeriksa persoalan bidang garap akuntansi konvensional yang
bertentangan dengan kriteria lingkungan serta memberikan alternatif solusinya.
3) Melaksanakan langkah-langkah proaktif dalam menyusun inisiatif untuk memperbaiki
lingkungan pada praktik akuntansi konvensional.
4) Pengembangan format baru sistem akuntansi keuangan dan nonkeuangan, sistem
pengendalian pendukung keputusan manajemen ramah lingkungan.
5) Identifikasi biaya-biaya (cost) dan manfaat berupa pendapatan (revenue) apabila
perusahaan lebih peduli terhadap lingkungan dari berbagai program perbaikan lingkungan.
6) Pengembangan format kerja, penilaian dan pelaporan internal maupun eksternal
perusahaan.
7) Upaya perusahaan yang berkesinambungan, akuntansi kewajiban, resiko, investasi biaya
terhadap energi, limbah dan perlindungan lingkungan.
8) Pengembangan teknik-teknik akuntansi pada aktiva, kewajiban dan biaya dalam konteks
non keuangan khususnya ekologi.
Alasan Environmental Management Accounting Sangat Bermanfaat Bagi Industri
1) Kemampuan secara akurat meneliti dan mengatur penggunaan bahan-bahan, termasuk
polusi/sisa volume, jenis-jenis lain dan sebagainya.
2) Kemampuan mengidentifikasi, mengestimasi, mengalokasikan, mengatur atau mengurangi
biaya-biaya, khususnya biaya yang berhubungan dengan lingkungan.
3) Informasi yang lebih akurat dan lebih menyeluruh dalam mendukung penetapan dari dan
keikutsertaan di dalam program-program sukarela, penghematan biaya untuk memperbaiki
kinerja lingkungan. Bukan malah makin mencemarkan lingkungan.
4) Informasi yang menyelruh untuk mengukur dan melaporkan kinerja lingkungan, seperti
meningkatkan citra perusahaan pada stakeholder, pelanggan, masyarakat lokal, karyawan,
pemerintah dan penyedia keuangan.
Dampak Lingkungan Sebelum Diterapkannya Akuntansi Manajemen Lingkungan
dalam Perusahaan
1) Adanya permasalahan pencemaran lingkungan yang dilakukan oleh perusahaan
manufaktur. Permasalahan lingkungan akibat proses produksi perusahaan banyak
ditemukan misalnya pada kasus pencemaran lingkungan yang menyebabkan menurunnya
kadar kualitas air di sekitar industry yang berdekatan dengan rumah penduduk.
2) Ketidaktepatan alokasi biaya lingkungan sebagai biaya tetap. Karena secara biaya
lingkungan tersembunyi dalam biaya umum, pada saat diperlukan, akan menjadi sulit
untuk menelusuri biaya sebenarnya dari proses, produk atau lini produksi tertentu. Jika
biaya umum dianggap tetap, biaya limbah sesungguhnya merupakan biaya variabel yang
mengikuti volume limbah yang dihasilkan berbanding lurus dengan tingkat produksi.
3) Ketidaktepatan perhitungan atas volume (dan biaya) atas bahan baku yang terbuang.
Berapa sebenarnya biaya limbah? Sebelum diterapkannya akuntansi manajemen
lingkungan akan menghitungnya sebagai biaya pengelolaannya, yaitu biaya pembuangan
atau pengolahan. Tetapi setelah menerapkan EMA, EMA akan menghitung biaya limbah
sebagai biaya pengolahan ditambah biaya pembelian bahan baku. Sehingga biaya limbah
yang dikeluarkan lebih besar (sebenarnya) daripada biaya yang selama ini diperhitungkan.
Cara Meminimalisirkan Permasalahan Lingkungan yang Diakibatkan oleh Perusahaan
Perusahaan dapat menghitung biaya limbah sebagai biaya pengolahan ditambah biaya
pembelian bahan baku. Sehingga biaya limbah yang dikeluarkan lebih besar (sebenarnya)
daripada biaya yang selama ini diperhitungkan. Dan dapat meminimalisirkan pemakaian
bahan agar tidak terbuang percuma dan akhirnya menjadi limbah. Biaya lingkungan dalam
perusahaan sangat perlu di perhatikan untuk meminimalisirkan permasalahan lingkungan
yang berakibat juga terhadap perusahaan. Biya lingkungan berhubungan dengan kreasi,
deteksi, perbaikan, dan pencegahan degradasi lingkungan.
Dengan definisi ini, biaya lingkungan dapat diklasifikasikan mnjadi empat kategori:
1. Biaya Pencegahan (Prevention Cost)
Adalah biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan untuk mencegah diproduksinya limbah
dan/atau sampah yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan. Contoh-contoh aktivitas
pencegahan adalah evaluasi dan pemilihan pemasok, evaluasi dan pemilihan alat untuk
mengendalikan polusi, desain proses dan produk untuk mengurangi atau menghapus
limbah, melatih pegawai, mempelajari dampak lingkungan, pelaksanaan penelitian
lingkungan, pengembangan sistem manajemen lingkungan, daur ulang produk, dan
pemerolehan sertifikasi ISO 14001.
2. Biaya Deteksi (Detection Cost)
Adalah biayabiaya untuk aktivitas yang dilakukan untuk menentukan apakah produk,
proses dan aktivitas lainnya di perusahaan telah memenuhi standar lingkungan yang
berlaku atau tudak. Standard lingkungan dan prosedur yang diikuti oleh perusahaan
didefinisikan dalam tiga cara yaitu peratuan pemerintah, standar sukarela (ISO 14001)
yang dikembangkan oleh International Standards organization, dan kebijakan lingkungan
yang dikembangkan oleh manajemen. Contoh-contoh aktivitas deteksi adalah audit
aktivitas lingkungan, pemeriksaan produk dan proses agar ramah lingkungan,
pengembangan ukuran kinerja lingkngan, pelaksanaan pengujian pencemaran, verifikasi
kinerja lingkungan dari pemasok, dan pengukuran tingkat pencemaran.
3. Biaya Kegagalan Internal (Internal Failure Cost)
Adalah biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan karena diproduksinya limbah dan
sampah, tetapi tidak dibuang ke lingkungan luar. Jadi, biaya kegagalan internal terjadi
untuk menghilangkan dan mengolah limbah dan sampah ketika diproduksi. Aktivitas
kegagalan internal bertujuan untuk memastikan bahwa limbah dan sampah yang
diproduksi tidak dibuang ke lingkungan luar dan untuk mengurangi tingkat limbah yang
dibuang sehingga jumlahnya tidak melewati standar lingkungan. Aktivitas kegagalan
internal misalnya pengoperasian peralatan ntuk mengurangi atau menghilangkan polusi,
pengolahan dan pembuangan limbah beracun, pemeliharaan peralatan polusi, lisensi
fasilitas untuk memproduksi limbah, dan daur ulang sisa bahan.
4. Biaya Kegagalan Eksternal (External Failure Cost)
Adalah biaya biaya untk aktivitas yang dilakukan setelah melepas limbah atau sampah ke
dalam lingkungan.
Pendekatan dalam Merumuskan Environmental Management Accounting
Terdapat dua pendekatan dalam merumuskan EMA :
1) Monetary
Accounting
(berbasis
pada
monetary
procedure)
merupakan
upaya
mengidentifikasi, mengukur dan mengalokasikan biaya lingkungan berdasarkan perilaku
aliran keuangan dalam biaya tersebut.
2) Physical Accounting (berbasis pada material flow balance procedure) adalah suatu
pendekatan untuk mengidentifikasi berbagai perilaku sumber biaya lingkungan. Hal ini
akan berguna bagi manajemen untuk dasar alokasi biaya lingkungan yang terjadi.
Manfaat dari Mngadopsi Akuntasi Lingkungan
1. Perkiraan yang lebih baik dari biaya sebenarnya pada perusahaan untuk memproduksi
produk atau jasa
2. Mengidentifikasi biaya-biaya sebenarnya dari produk,proses,system,atau fasilitas dan
menjabarkan biaya-biaya tersebutpada tanggung jawab manajer
3. Membantu manajer untuk menargetkan area operasi bagi pengurangan biaya dan
perbaikan dalam ukuran lingkungan dan kualitas
4. Membantu dengan penanganan keefektifan biaya lingkungan atau ukuran perbaikan
kualitas
5. Memotivasi staf untuk mencari cara yang kreatifuntuk mengurangi biaya-biaya lingkungan
6. Mendorong perubahan dalam proses untuk mengurangi penggunaan sumber daya dan
mengurangi, mendaur ulang,atau mengidentifikasi pasar bagi limbah
7. Peningkatan kepedulian staf terhadap isu-isu lingkungan, kesehata, dan keselamatan kerja
8. Meningkatkan penerimaan konsumen pada produk atau jasa perusahaandan sekaligus
meningkatkan daya kompetitif
Akuntansi Lingkungan Dapat Mendukung Pembuatan Keputusan di Perusahaan
dalam Hal :
1. Penganggaran modal adalah proses menganalisis alternative investasi dan memutuskan
investasi
mana
yang
akan
digunakan
dalam
standar
keungan
yang
mana
mempertimbangkan aliran pendapatan dan biaya-biaya dihasilkan dari sepanjang waktu
investasi
2. Pemilihan produk – perusahaan secara rutin membuat keputusan mengenai produk mana
untuk dapat didasarkan pada pertimbangan biaya mereka. Biaya-biayanya termasuk tidak
hanya biaya pembelian, namun biaya yang terjadi karena menggunakan dan membuang
produk pada akhir masa penggunaannya.
3. Manajemen limbah – perusahaan menghasilkan sejumlah besar limbah yang pilihan
pengolahan dan pembuangannya ditentukan oleh komposisi aliran limbah. Karena biayabiaya pembuangan adalah biaya-biaya lingkungan,mencoba untuk meminimalkan biayabiaya ini akan mendapat manfaat dari akuntansi lingkungan
Hambatan dalam Penerapan Akuntansi Lingkungan:
1. Sistem pendukung informasi akuntansi yang kurang/tidak cukup. Informasi mengenai
biaya lingkungan sangat kurang.sistem akuntansi- idealnya informasi sumber biaya-
umumnya tidak cukup untuk kebutuhan akuntansi lingkungan,diman manfaat-manfaatnya
dari memisahkan biaya-biaya lingkungan dari pos overhead dalam rangka untuk
menelusuri biaya ke produk atau aktivitas yang menyebabkan biaya tersebut rancuh.
2. Hubungan yang kurang antara bidang pembelian dan bagian sumber daya. Hubungan
institusional antara pembeliah atau usaha mendapatkan dan fungsi-fungsinya sumber daya
sangat lemah. Ketika penggunaan tim pendapatan produk antar fungsi terlihat
meningkat,hal ini cenderung difokuskan pada mengintegrasi secara efektif criteria klinis
ke dalam keputusan pembelian, terutama usaha-usaha standarisasi. Input sumber daya
cenderung secara spesifik diminta hanya bagi keputusan dengan aspek lingkungan yang
jelas- seperti kontrak manajemen limbah.
3. Halangan pembelian. Seperti fasilitas di banyak sector lain, fasilitas penjagaan kesehatan
seringkali merupakan subyek pada halangan pembelian yang cenderung mengurangi
alternative-alternatif produk dari mana mereka mungkin dipilih secara efektif.
Download