Uploaded by Beben Graha Putra

TEKNOLOGI GEOSPATIAL UNTUK INVESTIGASI PENYERANGAN RATTUS ARGENTIVENTER, SEBAGAI UPAYA MITIGASI LAHAN PERTANIAN

advertisement
ISSN 2621-9883
ELIPSOIDA Vol 01 No 02, Juni 2019 (1-10)
@Departemen Teknik Geodesi UNDIP
TEKNOLOGI GEOSPATIAL UNTUK INVESTIGASI PENYERANGAN RATTUS
ARGENTIVENTER, SEBAGAI UPAYA MITIGASI LAHAN PERTANIAN
Beben Graha Putra1, Robet Tri Arjunet2, Rizki Atthoriq Hidayat3
Program studi Geografi -Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang
Jl.Prof.Dr.Hamka, Kampus UNP Air Tawar, Padang-25171 Telp./Faks: (0751) 7055671,
e-mail: [email protected]
1
ABSTRAK
Rattus argentiventer atau Tikus Sawah merupakan salah satu hama yang cukup merugikan para petani. Hal ini
didasari oleh sifat Tikus Sawah yang Nocturnal sehingga sulit untuk diamati pergerakannya, bahkan tikus dalam
semalam dapat menghabiskan Padi sebanyak 11-176 batang. Dengan melihat Landscape Ekologi dan fisiologis dari
Tikus Sawah dapat menjadikan hubungan indikator dalam penyerangan hama. Tikus Sawah menyukai tempat yang
kotor serta dipenuhi oleh semak belukar, karena merupakan tempat favorit dalam berkembang biak. Batas ruang
gerak tikus apabila cukup tersedia makanan dan perlindungan, biasanya tidak lebih dari 100 m dengan menyerang
padi dimulai dari tengah sawah, tetapi apabila makanan tidak cukup maka tikus akan mengembara dan dapat
mencapai jarak 700 m. Tujuan penelitian untuk mengetahui distibusi titik lokasi penyerangan Hama Tikus Sawah,
menentukan tingkat bahaya dan persentasi gagal panen, memahami hubungan bahaya penyerangan hama tikus
dengan kondisi landscape ekologi pada lahan pertanian. Metode yang digunakan yaitu Kernel Density Estimation dan
ditambah dengan metode Overlay. Berdasarkan hasil pengolahan dengan menggunakan GIS didapatkan persentase
luas kerugian sebesar 46,258%. Selain luas, didapatkan pula indikator yang menyebabkan terjadi nya kegagalan
panen yaitu daerah yang berada didekat Irigasi serta pematang yang kotor tingkat kerusakan nya lebih tinggi.
Kata kunci : Kernel Density Estimation, Rattus Argentiventer, Zona Ancaman
ABSTRACT
Rattus argentiventer is one pest that is quite detrimental to farmer. This is based on the nature of the
Rice Fields rat that are Nocturnal so that it is difficult to observe their movements, even mice overnight can
spend as much as 11-176 stems of Rice. By looking at the Ecological and Physiological Landscape of the
Rice field Rat, it can make the indicator relationship in pest attacks. Rice field rat likes dirty places and is
filled with shrubs, because it is a favorite place in breeding. The limit of movement of mice when enough
food is available and protection, usually not more than 100 m by attacking the rice starts from the middle
of the rice fields, but if food is not enough the rats will wander and can reach a distance of 700 m. The aim
of the study was to determine the distribution of the location of paddy rat pest attacks, determine the level
of danger and percentage of crop failures, to understand the relationship between the danger of pest attack
and ecological landscape conditions on agricultural land. The method used is the Kernel Density
Estimation and added with the Overlay method. Based on the results of processing using GIS, the total
area of loss is 46.258%. In addition to the area, there are also indicators that cause crop failures, namely
areas near irrigation and dirty embankments with higher levels of damage.
Keywords : Kernel Density Estimation, Rattus Argentiventer, Threat Zone.
1.
PENDAHULUAN
Tikus sawah Rattus argentiventer merupakan
salah satu hama mengerat yang seringkali merugikan
manusia, terutama di bidang pertanian salah satunya di
lahan pertanian padi yang dapat menyebabkan tanaman
puso atau gagal panen. Kehilangan hasil gabah akibat
serangan hama itu hampir terjadi setiap musim tanam
,mulai dari proses semai sampai padi akan di panen
bahkan juga di gudang penyimpanan, kerusakan
tanaman padi karena serangan tikus umumnya terjadi
pada fase vegetstif atau pada saat umur padi sewaktu
muda, batang padi tersebut digit atau dipotong karna
pada saat fase ini batang padi lebih cendrung berasa
manis dibandingkan pada saat umur padi sudah tua.
Seekor tikus dapat merusak antara 11-176 batang
padi per malam. Sedangkan pada fase generatif pada
saat tikus bunting kemampuan merusak meningkat,
menjadi 24-246 batang per malam. Hal tersebut
mengakibatkan kerusakan yang berat, Upaya
pengendalikan tikus perlu disusun strategi pengendalian
yang tepat sesuai dengan skala prioritas berdasarkan
kategori serangan.
Dalam rangka menyediakan informasi yang dapat
digunakan sebagai dasar dalam membuat perencanaan
dalam pengambilan kebijakan pengendalian tikus di
Kecamatan Koto Tangah Kota Padang, maka dilakukan
Beben Graha Putra
TEKNOLOGI GEOSPATIAL UNTUK INVESTIGASI PENYERANGAN RATTUS ARGENTIVENTER, SEBAGAI UPAYA MITIGASI LAHAN PERTANIAN
analisis dan identifikasi daerah penyebaran serangan
tikus di Kecamatan Koto Tangah tersebut. Tikus
menyerang padi pada malam hari. Pada siang hari tikus
bersembunyi di dalam lubang pada tanggul tanggul
irigasi, jalan sawah, pematang, dan daerah
perkampungan dekat sawah. Pada periode sawah bera
(setelah panen), sebagian besar tikus bermigrasi ke
daerah perkampungan dekat sawah dan akan kembali
lagi ke sawah setelah pertanaman padi menjelang
generatif.
2.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Taksonomi dan Morfologi
Tikus sawah (R. argentiventer) digolongkan
ke dalam Kelas Mammalia, Ordo Rodentia,
Subordo Myomorpha, Famili Muridae, dan
Subfamili Murinae, Genus Rattus (Robinson &
Kloss 1916) Tikus sawah mempunyai ciri
morfologi yaitu tekstur rambut agak kasar, bentuk
hidung kerucut, bentuk badan silindris, warna
badan dorsal coklat kelabu kehitaman, warna badan
ventral kelabu pucat atau putih kotor, warna ekor
ventral coklat gelap, bobot badan antara 70-300
gram, panjang badan 130-210 mm, panjang ekor
antara 110-160 mm, panjang secara keseluruhan
dari kepala sampai ekor 240-370 mm, lebar daun
telinga 19-22 mm, panjang telapak kaki 32-39 mm,
lebar sepasang gigi seri yang sering digunakan
untuk mengerat 3 mm, formula puting susu 3 + 3
pasang (Priyambodo 2003).
2.2 Bioekologi
Tikus sawah ini adalah jenis hama
pengganggu pertanian utama dan sulit dikendalikan
karena tikus ini mampu ”belajar” dari tindakantindakan yang telah dilakukan sebelumnya. Tikus
menyerang padi pada malam hari, pada siang hari
tikus bersembunyi di dalam lubang pada tanggul
irigasi, jalan sawah, pematang, dan daerah
perkampungan dekat sawah. Pada periode sawah
bera sebagian tikus bermigrasi ke daerah
perkampungan dekat sawah dan akan kembali ke
sawah setelah pertanaman padi menjelang
generatif. Kehadiran tikus di daerah persawahan
dapat dideteksi dengan memantau keberadaan jejak
kaki (foot print), jalur jalan (run way),
kotoran/feses, lubang aktif, dan gejala serangan.
Tikus betina mengalami masa bunting sekitar 2123 hari dan mampu beranak rata-rata sejumlah 10
ekor. Tikus dapat berkembang biak apabila
makanannya banyak mengandung zat tepung.
Populasi tikus sawah sangat ditentukan oleh
ketersediaan makanan dan tempat persembunyian
Jurnal “ELIPSOIDA”, Volume 1 Nomor 02, Juni 2019
yang memadai. Tempat persembunyian tikus antara
lain tanaman, semak belukar, rumpun bambu,
pematang sawah yang ditumbuhi gulma, dan kebun
yang kotor (Sudarmaji 2005).
2.3 Kernel Density Estimation (KDE)
Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan
sistem yang dirancang untuk bekerja dengan data
yang tereferensi secara spasial atau koordinatkoordinat geografi. Sistem informasi geografis
adalah bentuk sistem informasi yang menyajikan
informasi
dalam
bentuk
grafis
dengan
menggunakan peta sebagai antar muka. SIG
tersusun atas konsep beberapa lapisan (layer) dan
relasi. KDE adalah suatu pendekatan statistika
untuk mengestimasi fungsi distribusi probabilitas
dari suatu variabel acak jika diasumsikan bentuk
atau model distribusi dari variabel acak tersebut
tidak diketahui,
Karnel Density Estimation Merupakan jenis
density yang pengertiannya ialah salah satu
formula
statistik
non
parametrik
untuk
mengestimasi kerapatan yang dapat diaplikasikan
pada ArcGIS 10.2 Dalam konteks spasial, kernel
density banyak digunakan untuk menganalisis pola
persebaran kerapatan dalam suatu area, salah
satunya adalah kerawanan kejahatan. Fungsi
matematika dalam perhitungan kernel density pada
prinsipnya bertujuan mengestimasi persebaran
intensitas suatu titik dalam bidang dengan radius
tertentu (Silverman, B.W, 1986). Konsep ini akan
diilustrasikan oleh gambar di bawah ini.
Gambar 1.
Cara Kerja Kernel Density
Dalam ilustrasi di atas, sel raster ditunjukkan
dengan lingkungan yang melingkar. Garis L1 dan L2
merupakan panjang bagian dari setiap baris yang ada di
dalam lingkaran.
3.
METODE PENELITIAN
Beben Graha Putra
TEKNOLOGI GEOSPATIAL UNTUK INVESTIGASI PENYERANGAN RATTUS ARGENTIVENTER, SEBAGAI UPAYA MITIGASI LAHAN PERTANIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif
kuantitatif, dengan menggunakan data primer yang
diambil survey lapangan, studi literatur, dan di
analisis secara spasial.
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kelompok Tani
Bungo Padi Rimbun, Kecamatan Koto Tangah,
Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat.
3.3 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam mengolah data yaitu
menggunakan perangkat keras dan lunak.
Perangkat keras seperti GPS, Laptop dan perangkat
lunak menggunakan software Arcgis 10.2.
3.4 Teknik Analisis Data
4.
1.
Analisis Deskripsi
Analisis ini digunakan untuk melihat sebaran
titik tikus yang melakukan penyerangan.
2.
Analisis Spasial Statistik Kernel
Membahas indeks bahaya penyerangan hama
tikus yang diperoleh dari hasil pengolahan
Kernel Density.
3.
Overlay Peta
Analisis hubungan indeks bahaya dengan
kenampakan citra kondisi eksisting dan data
observasi lapangan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dalam kasus ini menerapkan statistik GIS
dalam pemahaman fenomena Spasial, Ekologi,
terutama ekosistem Sawah, Dengan ketentuan
variabel seperti Fisiologi tikus sawah, Pola
penyerangan, Indikator lingkungan, habitat untuk
kamuflase. Kondisi ini saling bersinergi dalam
Jaringan ekosistem terhadap Pola penyerangan
Tikus.
4.1 Sebaran Titik Penyerangan Hama Tikus
Dari hasil survey lapangan dengan
pengumpulan data primer lapangan dalam dua kali
survey ke lokasi penelitian, pengumpulan titik
koordinat penyerangan hama tikus di peroleh
sebaran titik penyerangan seperti gambar peta di
bawah ini.
Jurnal “ELIPSOIDA”, Volume 1 Nomor 02, Juni 2019
Gambar 2. Peta persebaran Hama bulan Januari dan
Februari
Dari peta diatas menjelaskan persebaran
penyerangan hama tikus dengan riwayat kejadian.
Pengambilan titik diambil 2 kali yaitu pada tanggal 4
Januari dan 28 Februari, dari 2 data ini terlihat
perbedaan yaitu terjadi penambahan lokasi baru
serangan hama tikus sehingga kerusakan yang terjadi
semakin besar.
Pengambilan titik koordinat pada padi yang rusak
karena serangan hama diolah menggunakan GIS
dengan prinsip Kernel Density sehingga hasil dari
pengolahan tersebut dapat menggambarkan bagaimana
serangan hama tikus sawah (Rattus argentiventer) dari
titik yang mengelompok tersebut akan tergambarkan
pula intesitas penyerangan. Tikus sawah yang
menyerang dimulai dari bagian tengah dan bergerak
hingga padi pada sawah tersebut rusak. Tikus sawah
aktif dimalam hari (nocturnal) dan pada siang hari
mereka berlindung didalam lubang atau semak.
Sehingga untuk mengamati penyerangannya secara
langsung cukup sulit maka diperlukan peta hasil
pengolahan Kernel Density agar dapat melihat daerah
yang terdampak serta pola penyerangan.
Serangan tikus ini membentuk pola-pola tersendiri
tergantung kondisi padi di sekitarnya. Pada kasus
ini,terdapat perbedaan waktu panen yang menyababkan
adanya sawah yang sudah dipanen letaknya berdekatan
dengan sawah yang belum dipanen sehingga tikus
sawah tersebut terus mencari padi-padi yang belum
dipanen untuk merka makan. Apabila area padi yang
merupakan sumber makanan mereka sudah habis, maka
mereka akan mencari area lainnya sebagai tempat baru
untuk memperoleh makanan, begitu seterusnya
sehingga terbentuknya pola-pola penyerangan akibat
aktivitas tikus sawah.
4.2 Tingkat Persentase Gagal Panen dan Penyerangan
Hama Tikus Sawah
Persebaran kerusakan dari hama tikus dianalisis
menggunakan metode kernel density. Kernel density
merupakan fungsi matematika yang kemudian
dikembangkan dalam fungsi spasial untuk mengukur
persebaran intensitas suatu titik dalam bidang dengan
Beben Graha Putra
TEKNOLOGI GEOSPATIAL UNTUK INVESTIGASI PENYERANGAN RATTUS ARGENTIVENTER, SEBAGAI UPAYA MITIGASI LAHAN PERTANIAN
radius tertentu. Dari peta hasil pengolahan Kernel
Density menghasilkan persebaran serta tingkat
kerusakan yang terjadi. Pengamatan dilakukan selama 1
bulan dimulai dari Januari sampai Februari sehingga
pola penyerangan bisa analisis pergerakannya. Dari pola
penyerangan tersebut dapat memahami bagaimana arah
pergerakan penyerangan nya seperti titik-titik kecil
kerusakan menggambarkan lokasi penyerangan
selanjutnya. Jika dilihat titik tersebut tidak lah jauh dari
daerah yang mengalami kerusakan paling parah itu
sesuai dengan fisiologis tikus sawah yang telah
dijelaskan sebelumnya.
Gambar 3.
Peta Kernel Density
Hasil analisis Spasial kernel density diperoleh
sebuah zona bahaya serangan hama tikus. Didalam
pengolahan menghasilkan indeks tingkat kerusakan.
Sehingga pergerakan serangan hama tikus bisa dilihat
secara jelas dengan radius serangan 100m .
Dari peta di atas dijelaskan bahwa Indeks bewarna
merah merupakan daerah yang tingkat kerusakan paling
tinggi atau inti, nilai didapat dari perhitungan statistik
non parametrik atau dari titik kejadian dan tingkat
kerusakan rendah bewarna hijau. Titik kerusakan kecil
yang berada disekitar kawasan kerusakan inti
merupakan titik selanjutnya serangan hama tikus sawah.
Jika dilihat pergerakan nya tidak lah jauh dari kerusakan
inti. Sehingga jika dibandikan antar 2 bulan kejadian
akan terlihat jelas kerusakan semakin melebar.
Dari perhitungan luas kerusakan didapatkan
persentase kerugian :
4.3 Hubungan Tingkat Bahaya dengan Kondisi
Landscape Ekologi
Tikus sawah diketahui lebih suka menyerang
tanaman padi yang sedang bunting, sehingga pada
umumnya padi stadium bunting akan mengalami
kerusakan yang paling tinggi. Berdasarkan pengamatan
dari malai padi yang dipotong, ternyata hanya beberapa
malai saja yang dimakan (Rochman & Toto, 1976).
Kebutuhan pakan tikus setiap hari hanya seberat kurang
lebih 10% dari bobot tubuhnya, sedangkan daya
rusaknya terhadap malai padi 5 kali lebih besar dari
bobot malai padi yang dikonsumsi.
Jika dihubungkan dengan fisiologis dan tingkah
laku dari Tikus Sawah (Rattus argentiventer) maka
akan didapatkan pola persebaran kerusakan serangan
hama. Ruang gerak setiap hari tikus menempuh
perjalanan secara teratur untuk mencari pakan,
pasangan, sekaligus orientasi kawasan sekitarnya.
Perjalanan harian tersebut menempuh jalan yang sama
hingga terbentuk lintasan tetap (run ways). Rentang
lintasannya ditentukan oleh jarak pakan, tempat
bersembunyi atau lubang. Batas ruang gerak tikus
apabila cukup tersedia makanan dan perlindungan,
biasanya tidak lebih dari 100 m dengan menyerang padi
dimulai dari tengah sawah, tetapi apabila makanan tidak
cukup maka tikus akan mengembara dan dapat
mencapai jarak 700 m.
Dari peta dapat disimpulkan bahwa pengaruh
ekosistem disekitar sawah sangat berpengaruh seperti,
irigas dan pematang. Sawah yang paling tinggi tingkat
kerusakan nya adalah Sawah yang berada didekat irigasi
kotor serta pematang yang penuh ditumbuhi
rerumputan. Dari indikator tersebut dapat dilihat
fisiologis tikus yang menyenangi daerah tertutup serta
kotor sehingga tikus sawah membuat sarang disekitar
pematang dan irigasi yang kotor.
∑
= 46,258 %
.
Luas daerah yang mengalami kerusakan dihitung
dari hasil zona Kernel Density sehingga dapat melihat
luasan daerah dalam satuan meter dan dibandingkan
dengan luas sawah kelompok tani Bungo Padi Rimbun.
Sehingga diketahui luas kerusakan oleh hama tikus
sawah adalah 46,258 %.
Jurnal “ELIPSOIDA”, Volume 1 Nomor 02, Juni 2019
Gambar 4. Peta indikator lingkungan dan ekosistem
hama Tikus Sawah
Sistem pematang sawah sangat berdampak
terhadap pertumbuhan populasi tikus sawah karena
pematang merupakan tempat untuk tinggal dan
berlindung bagi tikus sawah. Pematang yang lebar,
tinggi, dan bersemak merupakan tempat yang paling
Beben Graha Putra
TEKNOLOGI GEOSPATIAL UNTUK INVESTIGASI PENYERANGAN RATTUS ARGENTIVENTER, SEBAGAI UPAYA MITIGASI LAHAN PERTANIAN
disukai tikus sawah karena di tempat-tempat
demikianlah tikusa sawah bersembunyi, melahirkan,
dan menyusui anaknya sehingga potenssi pertumbuhan
populasi tikus sawah tergantung oleh pematangnya.
Kondisi pematang yang ditumbuhi semak tak beraturan
dan kotor, mendukung pertambahan populasi tikus
sawah dengan sangat peasat.
Irigasi atau pengairan merupakan indikator yang
harus diperhatikan karena hal ini berkaitan dengan
mobilitas dan tempat bersarangnya tikus di sawah.
Sistem irigasi di sawah termasuk sistem irigasi
permukaan penggenangan secara terkendali dan melalui
Irigasi yang baik akan memberikan dampak yang naik
pula terhadap pertumbuhan padi, hal ini mengakibatkan
tikus sawah kesulitan utuk mencapai padi. Apabila
pematang yang seperti ini terus dibiarkan, maka jumlah
tikus sawah akan terus bertambah diiringi dengan
pertambahan julah pasokan makannya, yaitu padi,
sehingga padi-padi akan terus diserang dan
pertumbuhan padi sangat lambat. Hal ini lah yang
menyebabkan gagal panen.
Jarak waktu panen, kegiatan panen dilakukan
dengan cara yang tidak serempak mengakibatkan
ruginya petani yang melaksanakan kegiatan panen yang
terlambat. Dengan ketidak samaan waktu panen inilah
yang nantinya akan membentu pola-pola penyerangan
hama tikus. Sebelum masa panen, tikus sawah
menyerang padi-padi yang terdapat disekitarnya.
Namun apabila padi-padi yang ada di sekitar sarang
tikus sawah ini dipanen, maka pasokan makanan tikus
sawah pun habis sehingga terjadilah pergerakan untuk
mencari titik dimana masih terdapat padi yang belum
dipanen. Hal ini mengakibatkan adanya pola-pola
penyerangan hama tikus.
Terhambatnya
pertumbuhan
padi
yang
diakibatkan rusaknya batang padi di bagian pangkalnya.
Salah satu tanda yang sangat jelas adalah dengan
melihat warna padi yang masih hijau saat musim panen
yang mana padi-padi yang lain di sekitarnya sudah
menguning. Saat awal menanam atau pertumbuhan
awal padi, tikus sawah tersebut juga dapat memakan
bibit-bibit padi yang baru ditanam atau padi-padi yang
baru menunjukkan pertumbuhan awalnya, dan bahkan
menyerang padi yang ada di dalam gudang
penyimpanan sehingga sangat memungkinkan gagal
panen dapat terjadi saat baru menenanam padi. Salah
satu hal yang membuat sangat sulitnya pembasmian
hama ini karena tikus aktif menyerang padi pada malam
hari.
Pola penanaman juga menjadi indikator yang
sangat besar karena apabila tidak kompak dalam
menanam dan memanen tentu pasokan makanan untuk
tikus selalu tersedia. Sawah yang terakhir memanen
akan menjadi bulan bulanan serangan tikus sawah
karena itu lah sisa terakhir dari makanan nya. Inilah
yang perlu ditekankan kepada para petani untuk lebih
kompak dalam waktu penanaman maupun waktu
panen.
Jurnal “ELIPSOIDA”, Volume 1 Nomor 02, Juni 2019
Dengan adanya peta ini sawah yang rusak
diserang hama tikus sawah (Rattus argentiventer) dapat
diketahui sehingga bisa diantisipasi kedepannya dengan
mitigasi yang baik. Dan memberikan edukasi kepada
para petani agar kedepannya serangan hama tikus dapat
di minimalisir sekecil mungkin.
5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari hasil pengolahan Kernel memunculkan zona
bahaya hama tikus yang dilihat dari indeks bahaya nya,
seperti pada peta sebelumnya dijelaskan bahwa warna
merah merupakan daerah tingkat kerusakan paling
tinggi dan yang bewarna hijau adalah daerah kerusakan
kecil hasil, dari perhitungan luas kerusakan didapatkan
persentase kegagalan panen sebesar 46,258% . Dengan
adanya peta zona serangan hama tikus petani dapat
melihat penyebab tinggi nya serangan hama tikus
seperti pematang dan irigasi yang kotor belukar maupun
penanaman dan pemanenan yang tidak kompak
sehingga membuat pasokan makanan bagi hama tikus
sawah selalu terjaga.
5.2 Saran
Penanganan hama tikus di lapangan harus
dilakukan dengan strategi atau teknis khusus dan
relative untuk mendapatkan hasil yang maksimal . Di
antaranya teknik pengendalian tikus sawah yang cukup
efektif untuk mengendalikan tikus di lapangan. yaitu
Dengan melakukan pengaturan pola tanam dan panen
serentak, Pengaturan Jarak Tanam/Tata Tanam Legow,
Sanitasi Habitat tikus, Pengemposan Massal (Fumigasi),
dan Penerapan TBS (Trap Barrier System/Sistem Bubu
Perangkap).
DAFTAR PUSTAKA
Setiawan, Erwan. 2016. Analisis Penggunaan
Metode Kernel Density Estimation pada Loss
Distribution
Approach
untuk
Risiko
Operasional. Jurnal Matematika Integratif
ISSN 1412-6184 Volume 12 No 1, April
2016, pp 11 – 18. Universitas Indonesia
Manueke1, Jusuf. 2017. PESTS ON RICE FIELD
CROPS (Oryza sativa L.) IN THE
MAKALONSOW VILLAGE OF EAST
TONDANO DISTRICT IN MINAHASA
REGENCY . Eugenia Volume 23 No. 3
Oktober 2017. Manado
Beben Graha Putra
TEKNOLOGI GEOSPATIAL UNTUK INVESTIGASI PENYERANGAN RATTUS ARGENTIVENTER, SEBAGAI UPAYA MITIGASI LAHAN PERTANIAN
Flint, M.L. and van den Bosch. 1981. Introduction
to Integrated Pest Management. Plenom
Pre4ss. New York. 240 hlm.
Zambom, A. Z. dan Dias, R. 2012. A review of
Kernel Density Estimation with Applications
to
Econometrics.
arXiv:1212.2812v1
[stat.ME]. diunduh pada: 26 Oktober 2018.
Shevchenko, P.V. 2009. Implementing Loss
Distribution Approach for Operational Risk.
Applied Stochastic Models in Business and
Industry, vol. 26(3), pages 277–307.
Southwood, T.R.E. and M.J Woy. 1970.
Ecologycal Background to Pest management
in R.I. Rabb and E.E Guthrie (eds) Concep of
Pest management North Caroline State
University Releigh North Caroline.
Untung, K. 1993. Pengantar Pengelolaan Hama
Terpadu. Gadjah Mada University Press,
Roja, A. 2009. Pengendalian Hama dan Penyakit
Secara Terpadu pada Tanaman Padi Sawah.
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian
Sumatera
Barat.
Padang.
Sudarmaji. 2017. Perkembangan Populasi Tikus
Sawah pada Lahan Sawah Irigasi dalam Pola
Indeks Pertanaman Padi 300. Balai
Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta.
Sudarmaji. 2007. Pengendalian Hama Tikus
Secara Terpadu Pada Ekositem sawa Irigasi.
Risalah Seminar 2006. Penelitian dan
Pengembangan
Tanaman
Pangan.
Puslitbangtan Bogor.p. 129-144
Jurnal “ELIPSOIDA”, Volume 1 Nomor 02, Juni 2019
Download