Uploaded by andi.ad216

TUGAS KAYU ANDI

advertisement
STRUKTUR KAYU
“IDENTIFIKASI KAYU”
DISUSUN OLEH :
ANDI SAPUTRA SIREGAR
(1507111898)
JURUSAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS RIAU
2018
A. Pengertian Kayu
Kayu adalah bagian batang atau cabang serta ranting tumbuhan yang mengeras karena
mengalami lignifikasi (pengayuan). Kayu digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari
memasak, membuat perabot (meja, kursi), bahan bangunan (pintu, jendela, rangka atap),
bahan kertas, dan banyak lagi. Kayu juga dapat dimanfaatkan sebagai hiasan-hiasan rumah
tangga
dan
sebagainya.
Penyebab
terbentuknya
kayu
adalah
akibat
akumulasi selulosa dan lignin pada dinding sel berbagai jaringan di batang. Ilmu kayu (wood
science) mempelajari berbagai aspek mengenai klasifikasi kayu serta sifat-sifat kimia, fisika,
dan mekanika kayu dalam berbagai kondisi penanganan.Kayu mempunyai 4 unsur esensial
bagi manusia antara lain:
1. Selulosa,
Unsur ini merupakan komponen terbesar pada kayu, meliputi 70 % berat kayu.
2.
Lignin,
Merupakan komponen pembentuk kayu yang meliputi 18% - 28% dari berat kayu.
Komponen tersebut berfungsi sebagai pengikat satuan srtukturil kayu dan memberikan
sifat keteguhan kepada kayu.
3. Bahan-bahan ekstrasi
Komponen ini yang memberikan sifat pada kayu, seperti : bau, warna, rasa, dan
keawetan. Selain itu, karena adanya bahan ekstrasi ini, maka kayu bisa didapatkan hasil
yang lain misalnya: tannin, zat warna, minyak, getah, lemah, malam, dan lain sebagainya.
4. Mineral pembentuk abu,
Komponen ini tertinggal setelah lignin dan selulosa terbakar habis. Banyaknya komponen
ini 0.2% - 1% dari berat kayu.
B. Bagian – Bagian Kayu
1. Kulit luar
Lapisan yang berada paling luat dalam keadaan kering berfungsi sebagai pelindung
bagian-bagian yang lebih dalam pada kayu.
2. Kulit dalam
Lapisan yang berada di sebelah dalam kulit luar yang bersifat basah dan lunak, berfungsi
mengangkut bahan makanan dari daun ke bagian lain.
3. Cambium
Lapisan yang berada di sebelah kulit, jaringan ini ke dalam membentuk kayu baru,
sedangkan ke luar membentuk sel-sel jangat (kulit).
4. Kayu gubal
Berfungsi sebagai pengangkut air berikut zat bahan makanan ke bagian-bagian pohon
yang lain.
5. Kayu teras
Berasal dari kayu gubal, biasanya bagian-bagian sel yang sudah tua dan kosong ini terisi
zat-zat lain yang berupa zat ekstrasi.
6. Galih/hati,
Bagian ini mempunyai umur paling tua, karena galih (hati) ini ada dari sejak permulaan
kayu itu tumbuh.
C. Sifat Fisik Kayu
1. Berat dan Berat Jenis
Berat suatu kayu tergantung dari jumlah zat kayu, rongga sel, kadar air dan zat ekstraktif
didalamnya. Berat suatu jenis kayu berbanding lurus dengan BJ-nya. Kayu mempunyai
berat jenis yang berbeda-beda, berkisar antara BJ minimum 0,2 (kayu balsa) sampai BJ
1,28 (kayu nani). Umumnya makin tinggi BJ kayu, kayu semakin berat dan semakin kuat
pula.
2. Keawetan
Keawetan adalah ketahanan kayu terhadap serangan dari unsur-unsur perusak kayu dari
luar seperti jamur, rayap, bubuk dll. Keawetan kayu tersebut disebabkan adanya zat
ekstraktif didalam kayu yang merupakan unsur racun bagi perusak kayu. Zat ekstraktif
tersebut terbentuk pada saat kayu gubal berubah menjadi kayu teras sehingga pada
umumnya kayu teras lebih awet dari kayu gubal.
3. Warna
Kayu yang beraneka warna macamnya disebabkan oleh zat pengisi warna dalam kayu
yang berbeda-beda.
4. Tekstur
Tekstur adalah ukuran relatif sel-sel kayu. Berdasarkan teksturnya, kayu digolongkan
kedalam kayu bertekstur halus (contoh: giam, kulim dll), kayu bertekstur sedang (contoh:
jati, sonokeling dll) dan kayu bertekstur kasar (contoh: kempas, meranti dll).
5. Arah Serat
Arah serat adalah arah umum sel-sel kayu terhadap sumbu batang pohon. Arah serat
dapat dibedakan menjadi serat lurus, serat berpadu, serat berombak, serta terpilin dan
serat diagonal (serat miring).
6. Kesan Raba
Kesan raba adalah kesan yang diperoleh pada saat meraba permukaan kayu (kasar, halus,
licin, dingin, berminyak dll). Kesan raba tiap jenis kayu berbeda-beda tergantung dari
tekstur kayu, kadar air, kadar zat ekstraktif dalam kayu.
7. Bau dan Rasa
Bau dan rasa kayu mudah hilang bila kayu lama tersimpan di udara terbuka. Beberapa
jenis kayu mempunyai bau yang merangsang dan untuk menyatakan bau kayu tersebut,
sering digunakan bau sesuatu benda yang umum dikenal misalnya bau bawang (kulim),
bau zat penyamak (jati), bau kamper (kapur) dsb.
8. Nilai Dekoratif
Gambar kayu tergantung dari pola penyebaran warna, arah serat, tekstur, dan pemunculan
riap-riap tumbuh dalam pola-pola tertentu. Pola gambar ini yang membuat sesuatu jenis
kayu mempunyai nilai dekoratif.
9. Higroskopis
Kayu mempunyai sifat dapat menyerap atau melepaskan air. Makin lembab udara
disekitarnya makin tinggi pula kelembaban kayu sampai tercapai keseimbangan dengan
lingkungannya. Dalam kondisi kelembaban kayu sama dengan kelembaban udara
disekelilingnya disebut kandungan air keseimbangan (EMC = Equilibrium Moisture
Content).
10. Sifat Kayu terhadap Suara,
Sifat akustik, yaitu kemampuan untuk meneruskan suara berkaitan erat dengan elastisitas
kayu.
Sifat resonansi, yaitu turut bergetarnya kayu akibat adanya gelombang
suara. Kualitas keluarkan kayu sangat baik, sehingga kayu banyak dipakai untuk bahan
pembuatan alat musik (kulintang, gitar, biola dll).
11. Daya Hantar Panas
Sifat daya hantar kayu sangat jelek sehingga kayu banyak digunakan untuk membuat
barang-barang yang berhubungan langsung dengan sumber panas.
12. Daya Hantar Listrik
Pada umumnya kayu merupakan bahan hantar yang jelek untuk aliran listrik. Daya hantar
listrik ini dipengaruhi oleh kadar air kayu. Pada kadar air 0 %, kayu akan menjadi bahan
sekat listrik yang baik sekali, sebaliknya apabila kayu mengandung air maksimum (kayu
basah), maka daya hantarnya boleh dikatakan sama dengan daya hantar air.
D. Keuntungan Kayu
a. Murah dan mudah dikerjakan
b. Mempunyai kekuatan yang tinggi dan bobotnya rendah
c. Mempunyai daya penahan tinggi terhadap pegaruh listrik (bersifat isolasi), kimia,.
d. Bila ada kerusakan dengan mudah dapat diganti dan bisa diperoleh dalam waktu singkat.
e. Pembebanan tekan biasanya bersifat elastis.
f. Bila terawat dengan baik akan tahan lama.
E. Kerugian Kayu
a. Kurang homogen ketidaksamaan sebagai hasil alam.
b. Cacat-cacat pada kayu.
c. Mudah terbakar.
d. Dapat memuai dan menyusut dengan perubahan-perubahan kelembaban.
e. Terjadinya lendutan yang cukup besar.
F. Jenis-Jenis Kayu di Indonesia
1. Kayu Jati
Kayu jati sering dianggap sebagai kayu dengan serat dan tekstur paling indah.
Karakteristiknya yang stabil, kuat dan tahan lama membuat kayu ini menjadi pilihan
utama sebagai material bahan bangunan. Termasuk kayu dengan Kelas Awet I, II dan
Kelas Kuat I, II. Kayu jati juga terbukti tahan terhadap jamur, rayap dan serangga lainnya
karena kandungan minyak di dalam kayu itu sendiri. Tidak ada kayu lain yang
memberikan kualitas dan penampilan sebanding dengan kayu jati.
Harga kayu jati banyak dipengaruhi dari asal, ukuran dan kriteria batasan kualitas
kayu yang ditoleransi, seperti: ada mata sehat, ada mata mati, ada doreng, ada putih.
Penentuan kualitas kayu jati yang diinginkan seharusnya mempertimbangkan type
aplikasi finishing yang dipilih. Selain melindungi kayu dari kondisi luar, finishing pada
kayu tersebut diharapkan dapat memberikan nilai estetika pada kayu tersebut dengan
menonjolkan kelebihan dan kekurangan kualitas kayu tersebut.
2. Kayu Mahoni
Butuh kayu untuk di bengkok-kan (bend) dan mampu bertahan lama dalam bentuk
tertentu serta sangat baik difinishing duco atau alami maka Kayu Mahoni merupakan
kayu yang tepat. Baik secara vertikal maupun secara horizontal Kayu Mahoni cukup baik
dalam uji tekan sehingga dapat diaplikasikan penggergajian dari berbagai arah dengan
baik. Karna kayu ini lebih lunak dibandingkan Kayu Jati, Kayu ini cukup mudah untuk di
ukir dan dibentuk sesuai keinginan.
Kayu Mahoni cukup tahan terhadap serangan hama kayu, dan ketika di proses seperti
pemotongan atau dipaku tidak mudah retak, dan cukup mudah untuk diampelas. Kayu ini
tahan terhadap keretakan saat di steam pada proses pembengkokan. Kayu Mahoni
memiliki ciri fisik berwarna merah pada bagian dalamnya, berpori-pori kecil dan plain
(coraknya tidak terlalu kelihatan).
Pohon Kayu Mahoni dapat dipanen pada umur 7 hingga 15 tahun, dan dapat tumbuh
dengan baik di daerah tropis. Penggunaan Kayu Mahoni cukup luas karna kekuatan dan
ketersediaanya yang cukup banyak sehingga banyak digunakan didunia konstruksi dan
pertukangan. Pohon Kayu Mahoni dapat tumbuh hingga berdiameter 125cm dengan
tinggi 35-45 m. Pohon ini sering ditanam dipinggir jalan karna ditengari dapat
mengurangi polusi udara hingga 69% dan membantu penangkapan air serta berdaun lebat
sehingga menjadi peneduh dipinggir jalan.
3. Kayu Trembesi
Kayu Trembesi mudah tumbuh diberbagai daerah Tropis dan curah hujan yang
tinggi mulai dari Pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi, Maluku hingga Nusa Tenggara. Kayu
Trembesi dapat tumbuh hingga mencapai 40m dengan diameter hingga 4.5 meter. Kayu
Trembesi yang juga disebut Kayu Meh di daerah Jawa yang berarti “hampir menyerupai
Kayu Jati ini sering diubah menjadi furniture indoor yang tebal-tebal dan lebar hingga
1.5meter, hal ini disebabakan kekuatannya yang kurang dan cukup lentur sehingga
pengolahan kayu ini lebih condong dipotong lebih besar. Kepadatan atau Density Kayu
Trembesi yang kurang membuatnya kurang cocok dijadikan bahan baku furniture
outdoor. Selain menjadi bahan baku Furniture, Kayu Trembesi juga sering digunakan
sebagai bahan pembuat veneer.
Kayu Trembesi memiliki berat jenis 0.60 dengan tingkat keawetan kelas IV dan
Kelas Kuat III. Pohon Kayu. Kayu Trembesi kurang awet karna menghasilkan minyak
kayu yang membuatnya tahan terhadap serangan rayap lebih sedikit dibandingkan dengan
Kayu Jati.
4. Kayu Sonokeling
Ini dia Rosewood-nya Indonesia, Sonokeling, Sonobrit, Sonosungu atau
Sanakeling merupakan kayu yang memiliki corak yang indah, bewarna coklat gelap
dengan alur-alur berwarna hitam membuat kayu ini terlihat sangat eksotis. Pohon Kayu
Sonokeling dapat tumbuh hingga 40 meter dengan diameter mencapai 2 meter. Pohon ini
dapat ditemui di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur terutama didaerah-daerah yang
berbatu dan agak kering.
Kayu Sonokeling dimanfaatkan untuk membuat berbagai jenis produk, mulai dari
furniture, alat musik, hingga alat-alat olah raga. Dengan Berat jenis 0.77-0.86 dengan
kadar air 15%, Kayu ini juga termasuk kayu indah kelas 1, kelas awet I dan kelas kuat II.
Karna Sonokeling termasuk kayu keras, maka kayu ini dahulunya sering digunakan
sebagai bahan konstruksi dan bahan pembuat kusen-kusen mewah yang kuat. Kayu
Sonokeling yang juga memiliki kadar air yang rendah serta cukup menghasilkan minyak
kayu juga terkenal tahan akan serangan rayap dan jamur pembusuk kayu.
5. Kayu Sungkai
Kayu berwarna terang ini merupakan material Kayu yang sering digunakan oleh
pengrajin untuk membuat furniture indoor. Kayu Sungkai juga diolah oleh industri
menjadi veneer yang warna dan coraknya banyak diminati oleh pasar. Dengan corak
Kayu perpaduan antri warna kuning, coklat muda dan kuning setelah kuning, Kayu
Sungkai dapat mempertegas kesan segar dan compact pada furniture indoor.
Dipasaran harga Kayu Sungkai jelasnya lebih murah di bandingkan harga Kayu
Jati atau Sonokeling, oleh karna itu pemakaiannya juga lebih luas dibandingkan Kayu
Jati, Sonokeling atau Ulin yang kelasnya lebih tinggi. Dari segi kualitas, meskipun
coraknya cukup menawan, kayu ini hanya termasuk kayu Kelas Kuat II dan III dan Kelas
Awet II dan III juga. Massa jenis dan bobot Kayu Sungkai apalagi jika telah melalui
proses Kiln atau pengeringan akan lebih berat sedikit di bandingkan Kayu Pinus, Oleh
karna itu, penggunaannya disarankan bukan untuk keperluan outdoor kecuali
dengan treatment khusus.
6. Kayu Akasia
Kayu Akasia (acacia mangium), mempunyai berat jenis rata-rata 0,75 berarti poripori dan seratnya cukup rapat sehingga daya serap airnya kecil. Kelas awetnya II, yang
berarti mampu bertahan sampai 20 tahun keatas, bila diolah dengan baik. Kelas kuatnya
II-I, yang berarti mampu menahan lentur diatas 1100 kg/cm2 dan mengantisipasi kuat
desak diatas 650 kg/cm2. Berdasarkan sifat kembang susut kayu yang kecil, daya
retaknya rendah, kekerasannya sedang dan bertekstur agak kasar serta berserat lurus
berpadu, maka kayu ini mempunyai sifat pengerjaan mudah, sehingga banyak diminati
untuk digunakan sebagai bahan konstruksi maupun bahan meibel-furnitur.
7. Kayu Albasia
Kayu Sengon atau Albasia merupakan kayu khas daerah tropis dan dapat dengan
mudah ditemui diberbagai toko material dalam bentuk kaso atau papan. Kayu Albasia
termasuk kayu yang lunak dan sulit untuk langsung di finishing, karakternya yang
berbulu dan berpori-pori besar dan mudah patah membuat Kayu ini tidak dapat langsung
dijadikan material pembuat produk. Meskipun demikian permintaan Albasia yang
meningkat dari tahun ketahun memberikan bukti bahwa penggunaan dan manfaat yang
disadari produsen atas kayu ini juga semakin luas. Kenyataannya kayu yang mudah untuk
di oleh ini dipergunakan sebagai bahan utama pembuatan kayu olahan seperti triplex dan
blockboard, stick ice cream, pensil, korek api hingga bahan baku untuk kertas.
Papan dan balok Kayu Albasia sering kita temukan menjadi material bangunan
penyangga dan sementara, digunakan untuk packing pada shipping atau pallet untuk
barang. Warna nya putih kotor bercampur coklat tampa urat, berpori-pori besar dan
lunak.
8.
Kayu Cendana
Wangi, itulah kesan pertama yang anda dapatkan pada kayu Cendana. Kayu yang
sering digunakan sebagai bahan baku dupa dan produk-produk kerajinan ini sebenarnya
bukan merupakan golongan pohon yang tinggi bahkan bisa disebut sebagai parasit. Pohon
Cendana hanya tumbuh hingga 15 meter dengan diameter batang hanya 30 cm, sulit
dibudidayakan dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat dipanen namun
sangat diminati dipasaran menjadikan kayu ini relatif cukup mahal, bahkan dijual dengan
takaran kilogram. di Indonesia Kayu Cendana putih dapat tumbuh subur di daerah NTT
(Nusa Tenggara Timur) dan telah menjadi komoditas eksport sejak lama.
Kayu Cendana yang diubah menjadi produk kerajinan dan furniture sebaiknya
tidak di coating, tapi justru dibiarkan polos agar wangi dari Kayu Cendana ini dapat
dinikmati saat berinteraksi dengan produk tersebut. Kayu ini sangat baik dan kokoh untuk
dijadikan furniture dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi baik didalam maupun diluar
negeri.
9. Kayu Eboni
Kayu yang memiliki nama latin Diospyros Celebica ini, kini sudah cukup langka.
Perpaduan warna hitam dan coklat dengan urat yang kontras pada kayu yang terkenal
dengan nama Macassar Ebony dan Black Ebony ini membuatnya menjadi kayu yang
sangat diburu oleh bangsa Jepang, Eropa dan Amerika. Kegiatan eksport kayu ini
mencapai puncaknya pada tahun 1973 dengan jumlah mencapai 26.000 m3 dan terus
menurun hingga kini ditetapkan oleh IUCN dan 2000 WCN (World Conservation Union)
Red List of Threatened Species sebagai kayu yang dilindungi.
Pohon Kayu Eboni dapat tumbuh hingga 40m dengan diameter hingga 1 meter
dan merupakan kayu kelas awet 1 dan kelas kuat 1 dengan berat jenis rata-rata 1.05
(0.90-1.14), dengan berat jenis ini kayu Eboni tergolong berat dan tidak dapat
mengapung di air.
Kayu dengan urat yang eksotis ini kerap dijadikan bahan baku pembuatan alat
musik seperti gitar, piano hingga biola. Kayu ini juga digunakan sebagai tongkat, ukirukiran, patung dan juga perhiasan.
10. Kayu Merbau
Kayu Merbau termasuk salah satu jenis kayu yang cukup keras dan stabil sebagai
alternatif pembanding dengan kayu jati. Merbau juga terbukti tahan terhadap serangga.
Warna kayu merbau coklat kemerahan dan kadang disertai adanya highlight kuning.
Merbau memiliki tekstur serat garis terputus putus. Pohon merbau termasuk pohon hutan
hujan tropis. Termasuk kayu dengan Kelas Awet I, II dan Kelas Kuat I, II. Merbau juga
terbukti tahan terhadap serangga. Warna kayu merbau coklat kemerahan dan kadang
disertai adanya highlight kuning. Kayu merbau biasanya difinishing dengan melamin
warna gelap / tua. Merbau memiliki tekstur serat garis terputus putus. Pohon merbau
termasuk pohon hutan hujan tropis. Pohon Merbau tumbuh subur di Indonesia, terutama
di pulau Irian / Papua. Kayu merbau kami berasal dari Irian / Papua.
11. Kayu Bangkirai
Kayu Bangkirai termasuk jenis kayu yang cukup awet dan kuat. Termasuk kayu
dengan Kelas Awet I, II, III dan Kelas Kuat I, II. Sifat kerasnya juga disertai tingkat
kegetasan yang tinggi sehingga mudah muncul retak rambut dipermukaan. Selain itu,
pada kayu bangkirai sering dijumpai adanya pinhole. Umumnya retak rambut dan pin
hole ini dapat ditutupi dengan wood filler. Secara struktural, pin hole ini tidak
mengurangi kekuatan kayu bangkirai itu sendiri. Karena kuatnya, kayu ini sering
digunakan untuk material konstruksi berat seperti atap kayu. Kayu bangkirai termasuk
jenis kayu yang tahan terhadap cuaca sehingga sering menjadi pilihan bahan material
untuk di luar bangunan / eksterior seperti lis plank, outdoor flooring / decking, dll. Pohon
Bangkirai banyak ditemukan di hutan hujan tropis di pulau Kalimantan. Kayu berwarna
kuning dan kadang agak kecoklatan, oleh karena itulah disebut yellow balau. Perbedaan
antara kayu gubal dan kayu teras cukup jelas, dengan warna gubal lebih terang. Pada saat
baru saja dibelah/potong, bagian kayu teras kadang terlihat coklat kemerahan.
12. Kayu Kamper
Kayu kamper telah lama menjadi alternatif bahan bangunan yang harganya lebih
terjangkau. Meskipun tidak setahan lama kayu jati dan sekuat bangkirai, kamper
memiliki serat kayu yang halus dan indah sehingga sering menjadi pilihan bahan
membuat pintu panil dan jendela. Karena tidak segetas bangkirai, retak rambut jarang
ditemui. Karena tidak sekeras bangkirai, kecenderungan berubah bentuk juga besar,
sehingga, tidak disarankan untuk pintu dan jendela dengan desain terlalu lebar dan tinggi.
Termasuk kayu dengan Kelas Awet II, III dan Kelas Kuat II, I. Pohon kamper banyak
ditemui di hutan hujan tropis di kalimantan. Samarinda adalah daerah yang terkenal
menghasilkan kamper dengan serat lebih halus dibandingkan daerah lain di Kalimantan.
13. Kayu Kelapa
Kayu kelapa adalah salah satu sumber kayu alternatif baru yang berasal dari
perkebunan kelapa yang sudah tidak menghasilkan lagi (berumur 60 tahun keatas)
sehingga harus ditebang untuk diganti dengan bibit pohon yang baru. Sebenarnya pohon
kelapa termasuk jenis palem. Semua bagian dari pohon kelapa adalah serat /fiber yaitu
berbentuk garis pendek-pendek. Anda tidak akan menemukan alur serat lurus dan serat
mahkota pada kayu kelapa karena semua bagiannya adalah fiber. Tidak juga ditemukan
mata kayu karena pohon kelapa tidak ada ranting/ cabang. Pohon kelapa tumbuh subur di
sepanjang pantai Indonesia. Namun, yang paling terkenal dengan warnanya yang coklat
gelap adalah dari Sulawesi. Pohon kelapa di jawa umumnya berwarna terang. Kayu
Kelapa tergolong kayu Kelas Kuat II dan III dengan berat jenis dari 0,5 hingga 0,9
tergantung umur dari pohon tersebut. Densitas Kayu Kelapa rata-rata 400 kg/m3 dengan
diameter batang hingga 50cm dan hampir lurus keatas.
Kayu ini dapat diolah dengan baik menggunakan mesin-mesin namun sulit untuk
diberi bahan pengawet karna termasuk kayu yang padat. Kayu Sonokeling sejak tahun
1998 dicatat sebagai kayu yang dilindungi karna sudah terancam punah, oleh karna itu
bijak menggunakannya dan memanfaatkannya secara efektif dan efisien adalah keharusan
bagi pengguna nya.
karet dapat digunakan sebagai substitusi alternatif kayu alam untuk bahan konstruksi.
14. Kayu Gelam
Kayu gelam sering digunakan pada bagian perumahan, perahu, Kayu bakar,
pagar, atau tiang tiang sementara. Kayu gelam dengan diameter kecil umumnya dikenal
dan dipakai sebagai steger pada konstruksi beton, sedangkan yang berdiameter besar
biasa dipakai untuk cerucuk pada pekerjaan sungai dan jembatan. Kayu ini juga dapat
dibuat arang atau arang aktif untuk bahan penyerap.
15. Kayu Ulin
Kayu ini banyak digunakan untuk bahan bangunan rumah, kantor, gedung, serta
bangunan lainnya. Berdasarkan catatan, kayu ulin merupakan salah satu jenis kayu hutan
tropika basah yang tumbuh secara alami di wilayah Sumatera Bagian Selatan dan
Kalimantan. Jenis ini dikenal dengan nama daerah ulin, bulian, bulian rambai, onglen,
belian, tabulin dan telian.
Pohon ulin termasuk jenis pohon besar yang tingginya dapat mencapai 50 m
dengan diameter samapi 120 cm, tumbuh pada dataran rendah sampai ketinggian 400 m.
Kayu Ulin berwarna gelap dan tahan terhadap air laut.
Kayu ulin banyak digunakan sebagai konstruksi bangunan berupa tiang bangunan,
sirap (atap kayu), papan lantai,kosen, bahan untuk banguan jembatan, bantalan kereta api
dan kegunaan lain yang memerlukan sifat-sifat khusus awet dan kuat. Kayu ulin termasuk
kayu kelas kuat I dan Kelas Awet I.
Download