Uploaded by kamino_megumi

[MAKALAH] ANALISA PENGARUH AFTA PADA INDONESIA

advertisement
ANALISA PENGARUH AFTA (ASEAN FREE TRADE AREA)
PADA INDONESIA
MerupakanTugasMakalahMatakuliahEkonomian
IndonesiapadaFakultasEkonomiJurusanManajemenKeuangan
Disusunoleh:
Daya Savira
2011050026
Reni Astuti
2011050397
Ermawati
2011050439
Thia Rizky Amalia
2010050783
Yuliandini
2011050325
FAKULTAS EKONOMI PROGRAM STUDI MANAJEMEN KEUANGAN
UNIVERSITAS PAMULANG-TANGERANG SELATAN
2014
Ekonomi Internasional - AFTA
1
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas Rahmat
dan Ridho-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugaskelompok ini tepat pada
waktunya.
DalampenulisantugasmandiriinipenulismembahastentangPENGARUH
AFTA
(ASEAN FREE TRADE AREA) PADA INDONESIA.
Adapun maksud dan tujuan dari penulisan tugasmandiri ini adalah sebagai salah
satu tugas semester VII (Tujuh) matakuliahPerekonomianInternasional.
Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak yang
telah memberikan dukungan, bantuan, bimbingan dan nasehat dalam penulisan
tugasmandiriini, yaitu:
-
DewiNariRatihPermadaselaku dosen matakuliahEkonomianInternasional atas
bimbingannya yang telah diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan
Tugasini.
-
Kedua
orang
tua
tercinta
yang
selalumemberikansegala
dukungan
dalampenulisan tugasmandiri.
-
Sahabatdanreken-rekan
atasbantuan
yang
diberikan
dalam
penulisantugasmandiriini.
Penulisantugaskelompok ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, atas
segala saran dan kritik yang dapat membangun tugaskelompok ini agar menjadi lebih
baik.
Akhir kata semoga tugaskelompok ini dapat bermanfaat tidak hanya untuk penulis
tapi juga pembacanya.
Tangerang, Mei 2014
Ekonomi Internasional - AFTA
2
Penulis,
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .......................................................................................................... i
KATA PENGANTAR....................................................................................................... ii
DAFTAR ISI..................................................................................................................... iii
BAB I
PENDAHULUAN ................................................................................... 1
1.1. LantarBelakangdanMasalah ..................................................................................... 1
1.2. TujuandanKegunaanPenelitian................................................................................. 2
1.3. IdentifikasiMasalah .................................................................................................. 3
1.4. Hipotesa.................................................................................................................... 3
1.5. MetodePenelitian...................................................................................................... 4
BAB II LANDASAN TEORI ........................................................................................... 5
2.1 PengertianPerdaganganBebas (AFTA) .................................................................. 5
2.2 Anggota.................................................................................................................. 6
2.3 MengenaiSkema CEPT-AFTA .............................................................................. 6
2.4 TujuandanManfaat AFTA.................................................................................... 11
BAB III
PEMBAHASAN .................................................................................... 12
3.1. Perkembangan AFTA di Indonesia...................................................................... 12
3.2. Pengaruh AFTA Bagi Indonesia .......................................................................... 18
3.3. Manfaat AFTA Bagi Indonesia............................................................................ 20
3.4. HambatandanPengaruhBuruk AFTA BagiIndonesi............................................. 21
3.5. StrategiMenghadapi AFTA.................................................................................. 22
BAB IV
PENUTUP.............................................................................................. 23
4.1. Kesimpulan .......................................................................................................... 23
4.2. Saran ................................................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................... 24
Ekonomi Internasional - AFTA
3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Lantar Belakang dan Masalah
Pada
prinsipnya
manusia
merupakan
produsen
sekaligus
konsumen dari setiap produk yang diciptakannya.Karena kebutuhan
manusia yang tidak terbatas, maka manusia tidak pernah berhenti
melakukan produksi suatu barang dan menggunakan produk yang
dibutuhkannya. Namun, segala sarana dan prasarana yang dibutuhkan demi
pemenuhan kebutuhan manusia yang tidak terbatas ini rupanya mengalami
kekurangan sehingga barang yang diperlukan kerap kali tidak terdapat di
sekitar wilayahnya, keadaan ini memaksa manusia untuk melakukan
hubungan kerja sama antar manusia-manusia lainnya baik dalam pengadaan
sumberdaya, maupun hanya untuk saling menukarkan barang kebutuhannya.
Kerja sama yang dilakukan manusia dengan manusia lainnya
dengan cara melakukan transaksi kita sebut dengan nama perdagangan.
Perdagangan erat kaitannya dengan permintaan dan penawaran yaitu usaha
seseorang untuk menawarkan produk kepada seseorang lainnya demi
memperoleh keuntungan.Dalam hukum ekonomi kita mengenal adanya
kaitan antara “penawaran/ supplay” dan “permintaan/ demand”. Hukum ini
menyatakan “Bila penawaran terhadap suatku produk tetap/ turun sementara
permintaan naik, maka harga produk akan naik/ mahal. Sebaliknya bila
penawaran naik sementara permintaan turun, maka harga produk akan
turun/ murah”. Sebagai contoh misalkan stok sebuah kerudung Muslimah di
pasaran terbatas sementara banyak konsumen yang menyukai kerudung
tersebut dan ingin membelinya, maka harga kerudung tersebut akan
melonjak tinggi. Tetapi jika kehadiran kerudung Muslimah tidak terbatas
dan diproduksi dalam jumlah besar sementara peminatnya kurang maka
kerudung tersebut akan mengalam penurunan harga demi mengimbangi agar
lakunya kerudung tersebut.
Ekonomi Internasional - AFTA
4
perdagangan pun dilakukan dalam hubungan regional antar
negara yang umumnya kita mengenal dengan kegiatan ekspor impor barang.
Pelaksanaan perdagangan regional antar negara dalam kaitannya masalah
masuknya suatu produk ke suatu negara, tentunya harus melewat
sistematika perizinan yang prosesnya cukup rumit dengan penjagaan yang
ketat dari beberapa instansi yang menangani masalah tersebut.Instansi yang
menangani perizinan masuknya barang dari pelabuhan ialah Bea
Cukai.Namun pada kenyataannya akhir-akhir ini banyak produk luar yang
masuk ke negara kita dengan bebas tanpa melewati izin lagi.
Pasti kita sudah mengetahui Indonesia secara geografis terletak di
Asia Tenggara bersama dengan sembilan negara lainnya.Atas dasar
kesamaan letak geografis maka dibentuklah suatu organisasi bernama
ASEAN (Asosiation South East Asia Nation).Dalam organisasi tersebut
terjalinlah suatu kerjasama dagang dalam wadah AFTA (Asean Free Trade
Area).
Demi
menangani
globalisasi
perdagangan
bebas,
sudah
selayaknya warga negara Indonesia mengubah kebasan sifat konsumtifnya
dengan
menanamkan
jiwa
wirausaha
pada
setiap
dirinya
untuk
meningkatkan kesejahteraan diri dan lingkungannya. Masyarakat juga harus
mampu memanfaatkan sumberdaya yang melimpah ruah ini menjadi produk
yang berdaya guna untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat, sehingga tidak
ada ruang untuk produk ilegal luar negeri yang tidak berkualitas dan
membawa dampak yang buruk bagi kelangsungan konsumennya
1.2.
Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Adapun tujuan dari makalah ini adalah :
1.
Untuk mengetahui berbagai strategi dalam menghadapi perdagangan
bebas (AFTA).
2.
Untuk mengetahui dampak yang akan terjadi bila perdagangan bebas
terjadi di Indonesia.
Ekonomi Internasional - AFTA
5
Adapun manfaat dari makalah ini adalah kita sebagai mahasiswa
hendaknya membuka cakrawala dan mencoba untuk berpikir luas ternyata
perdagangan pun dilakukan dalam hubungan regional antar negara yang
umumnya kita mengenal dengan kegiatan ekspor impor barang.Selain itu,
dengan mempelajari isi dari makalah ini diharapkan generasi muda bangsa
mampu menjadi makhluk sosial yang mengerti cara meningkatkan daya
saing ekonomi di Indonesia, setidaknya dapat mengerti dalam lingkup
sederhana dan dapat bermanfaat bagi masyarakat.
1.3.
Identifikasi Masalah
1. Apa yang dimaksud perdagangan bebas ?
2. Apa arti AFTA itu ?
3. Apa keuntungan dan kerugian yang ditimbulkan oleh AFTA?
4. Strategi apa yang dilakukan dalam menghadapi AFTA ?
5. Bagaimana mengantisipasi dampak perdagangan bebas ?
1.4.
Hipotesa
Menurut The New Lexicon Webster’s Dictionary of The English
Language, hipothesa adalah sebuah ide atau proposisi yang tidak didasarkan
pada fakta dan pengalaman. Akan tetapi, hipothesa dibuat untuk
menjelaskan suatu fakta atau menyediakan sebuah landasan dan asumsi
dasar dari sebuah argument.
Begitu pula pengertian hipotesa dalam Scope and Methods of
Political Science, An Introduction to The Methodology of Political Inquiry.
Hipotesa adalah suatu perkiraan mengenai hubungan antara konsep-konsep.
Hipotesa dapat diuji berdasarkan fakta-fakta yang didapatkan dengan
menggunakan prinsip-prinsip metode ilmiah. Sehingga hipotesa dapat
ditolak
Ekonomi Internasional - AFTA
atau
diterima.
6
Dalam hipotesa ini, penulis akan mengajukan asumsi dasar secara kualitatif.
Pendekatan kualitatif ini digunakan untuk mengkuantifikasi proses
implementasi AFTA sejak 1992 serta untuk menjelaskan permasalahan
yang melatarbelakangi dinamika pemberlakuan AFTA hubungannya dengan
proses
integrasi
ekonomi
1.5.
Metode Penulisan
serta
pengaruh
AFTA
di
Indonesia.
Metode penulisan menggunakan cara pengumpulan data yang
diambil dari berbagai macam sumber di buku dan internet. Setelah
dikumpulkan, data-data tersebut di seleksi dan di pilih untuk memperkuat
materi.
Ekonomi Internasional - AFTA
7
B A B II
LANDASAN TEORI
2.1.
Pengertian Perdagangan Bebas (AFTA)
Perdagangan bebas adalah sebuah konsep ekonomi yang mengacu
kepada penjualan produk antar negara tanpa pajak ekspor impor atau
hambatan perdagangan lainnya.Perdagangan bebas juga dapat didefinisikan
sebagai tidak adanya hambatan buatan (hambatan yang dibuat pemerintah)
dalam perdagangan antar individual-individual dan perusahaan-perusahaan
yang berada di negara yang berbeda.
ASEAN Free Trade Area (AFTA) merupakan wujud dari
kesepakatan dari negara-negara ASEAN untuk membentuk suatu kawasan
bebas perdagangan dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi
kawasan regional ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagai basis
produksi dunia serta serta menciptakan pasar regional bagi 500 juta
penduduknya. ASEAN Free Trade Area (AFTA) adalah kawasan
perdagangan bebas ASEAN dimana tidak ada hambatan tarif (bea masuk 05%) maupun hambatan non tarif bagi negara-negara anggota ASEAN.
AFTA Sendiri dibentuk pada waktu Konferensi Tingkat Tinggi
(KTT) ASEAN ke IV di Singapura tahun 1992. Pada pelaksanaan
perdagangan bebas khususnya di Asia Tenggara yang tergabung dalam
AFTA proses perdagangan tersebut tersistem pada skema CEPT-AFTA.
Common Effective Preferential Tarif Scheme (CEPT) adalah program
tahapan penurunan tarif dan penghapusan hambatan non-tarif yang
disepakati bersama oleh negara-negara ASEAN sehingga dalam melakukan
perdagangan sesama anggota, biaya operasional mampu di tekan sehinnga
akan menguntungkan.
Dalam skema CEPT-AFTA barang – barang yang termasuk dalam
tarif scheme adalah semua produk manufaktur, termasuk barang modal dan
produk pertanian olahan, serta produk-produk yang tidak termasuk dalam
Ekonomi Internasional - AFTA
8
definisi produk pertanian. (Produk-produk pertanian sensitive dan highly
sensitive dikecualikan dari skemaCEPT).
Dalam skema CEPT, pembatasan kwantitatif dihapuskan segera
setelah suatu produk menikmati konsesi CEPT, sedangkan hambatan nontarif dihapuskan dalam jangka waktu 5 tahun setelah suatu produk
menikmati konsensi CEPT.
2.2.
Anggota
Ketika persetujuan AFTA ditandatangani resmi, ASEAN memiliki
enam anggota, yaitu, Brunei, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan
Thailand. Vietnam bergabung pada 1995, Laos dan Myanmar pada 1997
dan Kamboja pada 1999. AFTA sekarang terdiri dari sepuluh negara ASEAN.
Keempat pendatang baru tersebut dibutuhkan untuk menandatangani
persetujuan AFTA untuk bergabung ke dalam ASEAN, namun diberi
kelonggaran waktu untuk memenuhi kewajiban penurunan tarif AFTA.
Sebagai Contoh : Vietnam menjual sepatu ke Thailand, Thailand
menjual radio ke Indonesia, dan Indonesia melengkapi lingkaran tersebut
dengan menjual kulit ke Vietnam. Melalui spesialisasi bidang usaha, tiap
bangsa
akan
mengkonsumsi
lebih
banyak
dibandingyang
dapat
diproduksinya sendiri. Namun dalam konsep perdagang tersebut tidak ada
hambatan tarif (bea masuk 0-5%) maupun hambatan non-tarif bagi negara –
negara ASEAN melalui skema CEPT-AFTA.
2.3.
Mengenai Skema CEPT-AFTA
Common Effective Preferential Tarif Scheme (CEPT) adalah
program tahapan penurunan tarif dan penghapusan hambatan non-tarif yang
disepakati bersama oleh negara-negara ASEAN.
Kriteria untuk menikmati produk Skema CEPT:
a. Produk terdapat dalam Inclusion List (IL) baik di Negara tujuan maupun
di negara asal, dengan prinsip timbal balik (reciprosity). Artinya suatu
Ekonomi Internasional - AFTA
9
produk dapat menikmati preferensi tarif di negara tujuan ekspor (yang
tentunya di negara tujuan ekspor produk tersebut sudah ada dalam IL),
maka produk yang sama juga harus terdapat dalam IL dari negara asal.
b. Memenuhi ketentuan asal barang (Rules of Origin), yaitu cumulative
ASEAN Content lebih besar atau sama dengan 40%.
c. Perhitungan ASEAN Content adalah sebagai berikut :
Value of Undetermined Origin
Value of Imported Non-ASEAN
+
Materials, Parts of Produce
Material, Parts of Produce
X100<60%
FOB Price
d. Produk harus disertai Certificate of Origin Form D, yang dapat diperoleh
pada Kantor Dinas atau Suku Dinas Perindustrian dan Perdagangan di
seluruh Indonesia.
Istilah Schema CEPT:
a. Fleksibilitas adalah suatu keadaan dimana ke-6 negara anggota ASEAN
apabila belum siap untuk menurunkan tingkat tarif produk menjadi 0-5%
pada 1 Januari 2002, dapat diturunkan pada 1 Januari 2003. Sejak saat itu
tingkat tarif bea masuk dalam AFTA sebesar maksimal 5%.
b. CEPT Produk List

Inclusion List (IL) : daftar yang memuat cakupan produk yang
harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
o
Produk tersebut harus disertai Tarif Reduction Schedule.
o
Tidak boleh ada Quantitave Restrictions (QRs).
Ekonomi Internasional - AFTA
10
o
Non-Tarif Barriers (NTBs) lainnya harus dihapuskan dalam
waktu 5 tahun.

Temporary Exclusion (TEL) : daftar yang memuat cakupan
produk yang sementara dibebaskan dari kewajiban penurunan tarif,
penghapusan QRs dan NTBs lainnya serta secara bertahap harus
dimasukkan ke dalam IL.

Sensitive List (SL) : daftar yang memuat cakupan produk yang
diklasifikasikan sebagai Unprocessed Agricultural Products.
Contohnya beras, gula, produk daging, gandum, bawang putih, dan
cengkeh, serta produk tersebut juga harus dimasukkan ke dalam
CEPT Scheme tetapi dengan jangka waktu yang lebih lama.
Contohnya Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Philipina,
Thailand harus telah memasukkan produk yang ada dalam SL ke
dalam IL pada tahun 2010, Vietnam pada tahun 2013, Laos dan
Myanmar pada tahun 2015, serta Kamboja pada tahun 2017.

General Exception (GE) List : daftar yang memuat cakupan
produk yang secara permanen tidak perlu untuk dimasukkan ke
dalam
CEPT
Scheme
dengan
alasan
keamanan
nasional,
keselamatan/kesehatan umat manusia, binatang dan tumbuhan,
serta pelestarian objek arkeologi, dan sebagainya (Article 9b of
CEPT Agreement). Contohnya antara lain senjata, amunisi, da
narkotika. Produk Indonesia dalam GE List hingga saat ini
Ekonomi Internasional - AFTA
11
sebanyak 96 pos tarif.
Beberapa protocol untuk melindungi produk Indonesia:

Protocol Regarding the Implementation of the CEPT Scheme Temporary
Exclusion List
Dapat digunakan sebagai acuan untuk menarik kembali produk
industri yang telah dimasukkan ke dalam IL terakhir tahun 2000
atau Last Tranche. Konsekuensi penarikan kembali suatu produk
dari IL harus disertai dengan kompensasi.

Article 6 (1) dari CEPT Agreement
Dapat digunakan sebagai acuan untuk menarik kembali produk
yang telah dimaukkan ke dalam Skema CEPT-AFTA, karena
adanya lonjakan impor dari negara anggota ASEAN lainnya yang
menyebabkan atau mengancam kerugian yang serius terhadap
industri dalam negeri.

Protocol on Special Arrangement for Sensitive and Highly Sensitive
Products.
Dapat digunakan sebagai acuan untuk memasukkan produk yang
diklasifikasikan ke dalam Highly Sensitive (seperti beras dan gula
bagi Indonesia).
Ekonomi Internasional - AFTA
12
Jadwal Penurunan dan atau Penghapusan Tarif Bea Masuk
a. Inclusion List
Negara Anggota AFTA
Jadwal Penurunan/Penghapusan
1. Tahun 2003 : 60% produk dengan tarif 0%
ASEAN -6
2. Tahun 2007 : 80% produk dengan tarif 0%
3. Tahun 2010 : 100% produk dengan tarif 0%
1. Tahun 2006 : 60% produk dengan tarif 0%
Vietnam
2. Tahun 2010 : 80% produk dengan tarif 0%
3. Tahun 2015 : 100% produk dengan tarif 0%
1. Tahun 2008 : 60% produk dengan tarif 0%
Laos dan Myanmar
2. Tahun 2012 : 80% produk dengan tarif 0%
3. Tahun 2015 : 100% produk dengan tarif 0%
1. Tahun 2010 : 60% produk dengan tarif 0%
Kamboja
2. Tahun 2015 : 100% produk dengan tarif 0%
b. Non Inclusion list

TEL harus dipindah ke IL

GEL dapat dipertahankan apabila konsisten dengan artikel 9
CEPT Agreement, yaitu untuk melindungi :Keamanan Nasional,
Moral, Kehidupan Manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan
dan kesehatan, Benda-benda seni, bersejarah dan purbakala.
2.4.
Tujuan dan Manfaat AFTA
Tujuan AFTA adalah meningkatkan daya saing ekonomi negara-
Ekonomi Internasional - AFTA
13
negara ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagai basis produksi pasar
dunia, untuk menarik investasi dan meningkatkan perdagangan antar
anggota ASEAN.
Menurut Douglas irwin, seorang ekonomi terkemuka menyatakan
bahwa manfaat perdagangangan bebas ada tiga yaitu :
1. Manfaat langsung,
Manfaat langsung lain dari perdagangan bebas adalah
tersedianya barang yang lebih beragam. Kesejahteraan sebuah
masyarakat akan meningkat bila mereka memiliki beragam jenis barang
untuk dipilih. Selain itu, keragaman jenis barang juga menguntungkan
produsen karena ia membuka kesempatan bagi tumbuhnya produksi
barang-barang yang dibutuhkan untuk memproduksi jenis barang yang
lebih beragam dan lebih murah ongkos produksinya.
2. Manfaat tidak langsung,
Manfaat
tak
langsung
dari
perdagangan
bebas
adalah
memperbesar dan memperluas cakupan bebas pasar, dan karena itu
produktivitas pun meningkat.Dengan meningkatnya produktivitas,
meningkat pula standar hidup warga sebuah negara.Inilah manfaat tak
langsung dari perdagangan.
3. Manfaat moral dan intelektual
Sejumlah manfaat tersebut, diantaranya potensi perdagangan
bebas
untuk
membawa
perdamaian
dengan
menciptakan
kesalingtergantungan antar negara, dan juga kesalingpemahaman dan
kerjasama.Bagi
negara
berkembang,
perdagangan
internasional
nampaknya bisa mendorong tumbuhnya rezim dan lembaga negara
yang demokratis.Meski manfaat-manfaat ini sulit untuk diukur secara
kuantitatif, semakin banyak kajian kreatif yang menunjukkan manfaat
non-materil dari perdagangan bebas.
Ekonomi Internasional - AFTA
14
B A B III
PEMBAHASAN
3.1.
Perkembangan AFTA di Indonesia
Sejak tahun 1980an, terjadi serangkaian perubahan fundamental di
dunia, antara lain :
a. Munculnya lingkungan ekonomi dunia yang kompetitif dan terjadinya
perubahan cepat menuju ekonomi berorientasi pasar khususnya di
Eropa eks-sosialis dan juga di Asia yang ditandai dengan adanya
reformasi ekonomi melalui privatisasi,deregulasi dan liberalisasi.
b. Terjadinya
revolusi
teknologi
informasi
yang
memungkinkan
peningkatan secara luar biasa traksaksi perdagangan dan saling
ketergantungan antar negara di dunia.
c. Meningkatnya
regionalisasi
yang
ditandai
dengan
munculnya
pengaturan perdagangan dan investasi dalam lingkup regional di
berbagai belahan dunia.
Pada saat yang sama, negara-negara Asia pada umumnya mulai
menerima prinsip-prinsip liberalisasi yang disertai dengan meningkatnya
tekanan strategi pembangunan yang berbasis daya tarik bagi investasi asing
langsung serta munculnya kesadaran di kalangan para pemimpin ASEAN
untuk memperkuat kerja sama ekonomi guna menghadapi tekanan
komparatif dari luar kawasan.
Berbagai kecenderungan tersebut kemudian mendorong para
pemimpin negara Asia, khususnya negara-negara anggota ASEAN, untuk
mendirikan suatu organisasi ekonomi regional di Asia tenggara. Setelah
melalui serangkaian negosiasi dan perdebatan yang panjang, pada
Millenium Summit ke-4 ASEAN di Singapura tahun 1992, ASEAN yang
saat itu masih beranggotakan 6 negara (Brunei, Indonesia, Malaysia,
Filipina,
Singapura,
Ekonomi Internasional - AFTA
dan
Thailand)
sepakat
membentuk
kawasan
15
perdagangan bebas ASEAN (AFTA) dalam rentang waktu 15 tahun dimulai
sejak 1 Januari 1993. Dengan adanya kawasan perdagangan bebas tersebut
maka seluruh negara anggota ASEAN akan mengurangi hambatan arus
perdagangan dan investasi antar mereka secara bertahap hingga tahun 2008
yang diletakkan dalam skema Common Effective Preferential Tariff
(CEPT). Vietnam yang bergabung dengan ASEAN pada tahun 1995 disusul
oleh Laos dan Myanmar dua tahun kemudian serta Kamboja pada tahun
1999 secara otomatis tergabung dalam keanggotaan AFTA bersamaan
dengan masuknya mereka ke organisasi regional tersebut.
Melihat latar belakang dibentuknya kawasan perdagangan bebas
ASEAN, oleh karenanya, dapat disimpulkan bahwa keberadaan AFTA lebih
dilandasi oleh tujuan ekonomi dan bukan tujuan lain seperti keamanan
ataupun politik, di mana main goals-nya adalah guna menarik investasi
asing langsung dalam rangka menopang pertumbuhan ekonomi di kawasan,
mempertahankan keunggulan komparatif, serta untuk menjaga hubungan
ekonomi dengan Negara-negara partner utama Asia yaitu Amerika Serikat,
Jepang dan Eropa. Disamping itu, seperti halnya organisasi serupa di
kawasan lain, terdapat tujuan lain yang lebih spesifik yakni guna
menggairahkan hubungan ekonomi dan perdagangan antar sesama anggota
ASEAN yang sebelumnya menunjukkan level kurang menggembirakan
(grafik 2).
Sekedar ilustrasi, sebagai sebuah kawasan ekonomi strategis,
ASEAN pada tahun 1995 (sebelum bergabungnya Laos, Myanmar dan
Kamboja) memiliki pangsa pasar lebih dari 420 juta jiwa, namun
perdagangan antar anggotanya tidak pernah melampaui angka 20%.
Sebaliknya, hubungan perdagangan negara-negara ASEAN justru lebih
dominan dijalin secara unilateral dengan negara-negara partner di luar Asia
tenggara, sehingga AFTA pada dasarnya dapat dilihat sebagai stimulus yang
dimaksudkan guna mengintensifkan perdagangan internal antar anggota
ASEAN.
Ekonomi Internasional - AFTA
16
Bergabungnya Cina dalam perdagangan bebas Asean atau Asean
Free Trade Arean atau AFTA mulai 1 Januari 2010, mengkhawatirkan
banyak pihak terutama kalangan produsen tekstil di dalam negeri, karena
merasa tidak akan kuat bersaing dengan produk Cina yang harganya lebih
murah. Pemerintah diharapkan mengambil langkah, agar industri tekstil dan
produk tekstil dalam negeri tidak kolap di buatnya.
Perdagangan bebas ASEAN sudah diputuskan berlaku 1 Januari
2010. Dan Cina dipastikan bergabung, lewat apa yang disebut dengan Asean
Cina Free Trade Agreement atau ACFTA. Masuknya Cina dalam
perdagangan bebas Asean ini meresahkan kalangan produsen tekstil dalam
negeri, karena bisa dipastikan semua produk Cina bebas masuk ke pasar
Asean, termasuk Indonesia. Para produsen pesimis produk mereka akan
mampu bersaing dengan produk Cina yang harganya jauh lebih murah.
Dampaknya perdagangan bebas ini sudah mulai dirasakan.Beberapa
bulan terakhir, banyak produsen tekstil dalam negeri, terutama di Jawa
Barat dan Jawa Tengah, mulai mengurangi kegiatan produksinya, dan
merumahkan ribuan buruhnya.Beberapa produsen bahkan memilih menjadi
pedagang, karena lebih menguntungkan, dan minim resiko.
Karena itu kalangan produsen tekstil minta pemerintah menunda
pemberlakuan perjanjian perdagangan bebas dengan Cina ini.Keresahan
para produsen ini, menurut para wakil rakyat di DPR sangat wajar, dan
perlu menjadi perhatian pemerintah.
Menurut Anggota Komisi VI, komisi yang membidangi perdagangan
dan industri, pihaknya sudah mengusulkan penundaan ini kepada
pemerintah, karena faktanya, menurut Anggota Komisi VI DPR, Hendrawan
Supratikno, Indonesia memang belum siap untuk bersaing dengan Cina, dan
mengancam meningkatnya angka pengangguran di dalam negeri.
Bagaimana sikap pemerintah? Menteri Koordinator Perekonomian
Hatta Rajasa, kepada wartawan Senin (04/01/10) kemarin mengatakan,
mengahadapi ancaman Cina dalam pemberlakuan perdagangan bebas ini,
Ekonomi Internasional - AFTA
17
pemerintah telah mengambil langkah, salah satunya dengan meninjau lagi
pos-pos tarif yang selama ini menjadi kendala peningkatan daya saing
industri tekstil di tanah air.Pemerintah, menurut Hatta, juga telah meminta
masukan kalangan dunia usaha, agar antara pemerintah sebagai regulator
dan kalangan dunia usaha dapat melakukan langkah bersama, menghadapi
era persaingan bebas di kawasan Asean itu.
Sebagai gambaran, selama ini daya saing industri tekstil dan produk
tekstil domestik sangat lemah, karena beberapa faktor, terkait kebijakan
pemerintah Indonesia, yang di sisi lain, justru menjadi kekuatan Cina dalam
memasuki persaingan di pasar bebas Asean yaitu:
a. tingginya suku bunga komersial yang menapai 14 persen,
padahal di Cina hanya 6 persen.
b. krisis energi yang sampai kini masih berlangsung di Indonesia,
berdampak langsung pada mahalnya harga listrik.
c. Masih rendahnya produktifitas ketenagakerjaan yang ada. Badan
tenaga kerja PBB-ILO mencatat, produktifitas kerja Indonesia
berada di peringkat ke-59 dunia, sedangkan Cina di posisi ke-31.
d. Tingginya
biaya
pelabuhan
di
Indonesia
dan
masih
menggunakan mata uang dollar Amerika, padahal di negara
pesaing, dapat menggunakan mata uang setempat.
Benarkah bergabungnya Cina dalam perdagangan pengangguran di
dalam negeri?Tak semua sependapat dengan hipotesis itu.Kepala Badan
Pusat Statistik Rusman Heriawan, Indonesia masih punya peluang untuk
bersaing dengan Cina. Kinerja perdagangan Indonesia dengan 10 negara
Asean selama ini menunjukkan, Indonesia masih memiliki kekuatan daya
saing.
Karena itu menurut Rusman, masuknya Cina dalam perdagangan
bebas ini, harus dilihat dari dua sisi, ancaman juga sebagai peluang.
Merujuk kinerja ekonomi tahun 2009, pemerintah memang optimis, laju
perekonomian nasional akan mampu menghadapi goncangan ekonomi
Ekonomi Internasional - AFTA
18
global. Kinerja ralisasi APBN 2009, mencatat prestasi luar biasa.Realisasi
defisit APBN 2009 mencapai 1,6 persen terhadap pendapatan domestik
bruto, melampaui target sebelumnya 2,4 persen, dengan membukukan
kelebihan pembiayaan anggaran sebesar 38 triliun rupiah. Capaian prestasi
ini, menurut Hatta Rajasa, tidak lepas dari perkembangan kondisi ekonomi
makro dan langkah kebijakan fiskal selama tahun 2009.
Karena itu Hatta yakin, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2009
mencapai 4,3 sampai 4,4 persen, yang merupakan peringkat ketiga dunia,
dan akan meningkat lagi di tahun 2010. Demikian juga dengan inflasi, di
mana selama 2009 dapat dikendalikan hingga 3 persen, yang merupakan
inflasi terendah dalam 10 tahun terakhir. Optimisme inilah yang juga
disuarakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, saat membuka sesi
perdagangan bursa pasar modal tahun 2010 di Bursa Efek Indonesia.
Bursa Efek Indonesia, menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, saat
ini menjadi yang terbaik di antara negara-negara yang tergabung dalam G20, bahkan yang terbaik se-Asia Tengara, dan nomor dua se Asia Pasifik.
Atas semua capaian di tahun 2009 inilah, Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono optimis, tahun 2010 dan di tahun-tahun mendatang,
perekonomian Indonesia akan terus mengalami kemajuan, termasuk
mencapai target-target pertumbuhan ekonomi. Karena itu, kalangan dunia
usaha tak perlu pesimis, apalagi bersikap cengeng. Sikap optimis harus
ditumbuhkan, karena seperti kata Kepala BPS Rusman Heriawan, berbagai
ancaman, termasuk masuknya Cina dalam perdagangan bebas, harus pula
dilihat sebagai tantangan untuk maju, dengan memaksimalkan semua
peluang yang ada.
Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono di
Makassar, Sabtu (2/1/2010), menyatakan kekhawatirannya terhadap
pemberlakuan perdagangan bebas ASEAN-China (ASEAN FTA-China).
Sebab, kemungkinan itu akan mengganggu perdagangan domestik. "Mudahmudahan perdagangan domestik yang kuat tidak terganggu dengan AFTA,
Ekonomi Internasional - AFTA
19
saya harap bisa ditunda karena bisa mengancam juga, mudah-mudahan bisa
bertahap," ujarnya.
Seperti diberitakan, ASEAN FTA-China akan diberlakukan sejak 1
Januari 2010. Dengan demikian, semua produk China bebas masuk ke pasar
ASEAN.Sejumlah kekhawatiran sudah disampaikan para produsen tekstil
dan produk tekstil yang kemungkinan besar tidak mampu bersaing dengan
produk China yang harganya murah.
Pada 2010, pihaknya diminta untuk melakukan koordinasi dengan
seluruh departemen untuk melakukan pengendalian dan pengawasan pada
program penurunan tingkat kemiskinan. "Pada 2009, tingkat kemiskinan
nasional 14,5 persen, ditargetkan dalam lima tahun penurunan tingkat
kemiskinan bisa ditekan hingga delapan atau 10 persen sesuai standar
Milenium Development Goal Strategy (MDGS)," ujarnya. Pihaknya
mengapresiasi Pemerintah Sulsel yang dapat menekan angka kemiskinan
jauh lebih rendah dari angka nasional. Menteri berharap, daerah juga
mampu melakukan koordinasi dengan seluruh pihak untuk mengurangi dan
jika memungkinkan menghilangkan kemiskinan.
Pengentasan kemiskinan merupakan kesepakatan global dari 190
kepala pemerintahan yang menyepakati bahwa era pembangunan milenium
angka kemiskinan pengangguran dan kelaparan di dunia dapat ditekan
hingga 7,5 persen. Fokus program kesejahteraan rakyat lainnya adalah
peningkatan sumber daya manusia dan menghadapi penanggulangan
bencana dan penyakit.
AFTA-CHINA 2010 benar-benar menimbulkan banyak pertentangan
dari banyak kalangan, khususnya mereka para pelaku Usaha Kecil dan
Menengah (UKM).Ini dikarenakan Usaha Kecil dan Menengah merupakan
salah satu pihak yang paling di rugikan dengan adanya AFTA-CHINA
ini.Hal ini di karenakan para pelaku usaha kecil dan menengah di Indonesia
belum semuanya siap “bertarung” dalam kancah dunia pasar bebas ini.
Kekhawatiran para pelaku usaha kecil dan menengah sangatlah
Ekonomi Internasional - AFTA
20
beralasan, ini disebabkan dengan adanya pasar bebas ini dipastikan produk
China akan membanjiri pasar di seluruh Indonesia, dan itu artinya produkproduk dari dalam negeri khususnya produk-produk usaha kecil dan
menengah ini akan dipaksa untuk bersaing dengan produk-produk China
yang terkenal dengan harga yang sangat murah dengan kwalitas yang
lumayan bagus.
Dengan adanya AFTA-CHINA ini nantinya akan menimbulkan dua
pandangan yang berbeda. Di sisi lain hal ini bisa menjadi ancaman akan
tetapi disisi yang lain ini bisa dijadikan sebagai sebuah tantangan untuk
dunia usaha di Indonesia untuk meningkatkan kwalitas dan harga yang
ditawarkan dalam dunia usaha.
3.2.
Pengaruh AFTA Bagi Indonesia
AFTA bagi Indonesia adalah pisau bermata ganda. Di satu sisi,
perdagangan bebas menyediakan sederet peluang dan harapannamun di
sisi lain berpotensi menggilas yang tidak siap melalui persaingan tanpa
ampun. Beberapa hal, oleh karenanya perlu ditekankan kembali agar setiap
kebijakan ekonomi ke depan dapat selalu diproyeksikan pada peningkatan
daya saing sembari memperhatikan ketahanan ekonomi nasional, yaitu
bahwa:
a. Ketergantungan antar berbagai kekuatan ekonomi di kawasan
akan semakin besar dan berpengaruh langsung terhadap
perekonomian domestik Indonesia, khususnya yang paling
perlu diwaspadai adalah transaksi perdagangan dan arus
investasi asing langsung.
b. Melihat berbagai indikator yang ada, Indonesia tidak dapat
berharap terlalu banyak dari AFTA kecuali Indonesia dapat
menciptakan terobosanterobosan di bidang perdagangan secara
cukup spektakuler. Keunggulan komparatif yang relatif rendah,
kemiripan produk-produk ekspor andalan di antara sesama
Ekonomi Internasional - AFTA
21
anggota AFTA.
c. Indonesia masih cukup dapat berharap banyak dari transaksi
perdagangan unilateral maupun perdagangan melalui media
lain seperti APEC, dimana partner-partner dagang tradisional
Indonesia berada. Namun hal ini bukan berarti Indonesia harus
meninggalkan AFTA karena bagaimanapun AFTA adalah
fenomena
regional
yang
menyiratkan
lebih
banyak
ketidakpastian apabila dihindari. Belajar dari pengalaman
Inggris dalam konteks masyarakat ekonomi eropa, yang
kiranya perlu dilakukan adalah menyiasati agar lahan yang
sebenarnya “menjanjikan” tersebut dapat bermanfaat seoptimal
mungkin bagi perekonomian nasional.
d. Dibidang investasi, keberadaan AFTA menjadi penting bagi
Indonesia untuk menarik kembali sepenuhnya capital flight
yang terjadi selama periode krisis ekonomi. Oleh karenanya,
disamping perlu menciptakansuasana kondusif di dalam
negeri, Indonesia juga perlu semakin aktif melakukan promosi
keluar.
Meskipun faktor kekayaan alam yang melimpah serta jumlah pasar
yang besar (210 juta orang) secara natural akan memposisikan Indonesia
sebagai lahan subur bagi investasi, namun perlu diingat bahwa investasi
selalu bergerak berdasarkan motivasi profit dari revenue. Perlu diingat
bahwa negaranegara lain seperti China, India, Thailand, Vietnam, dan
bahkan Kamboja dapat menjadi lebih menarik di mata investor jika
Indonesia tidak jeli menangkap peluang yang ada.
Dalam rangka ini AFTA tampaknya akan dapat diandalkan sebagai
mediator yang efektif. Akhir kata, impian untuk menjadi kekuatan
ekonomi yang solid di kawasan Asia Tenggara dengan berbasis pada
kekayaan sumber daya alam, jumlah penduduk (pasar) yang besar, dan
pertumbuhan ekonomi yang stabil tampaknya masih memerlukan kerja
Ekonomi Internasional - AFTA
22
keras dan kecerdasan extra. Menurut teori pembangunan terencana Suharto
dan berbagai
fakta pertumbuhan selama masa
pemerintahannya,
semestinya Indonesia sudah berada dalam tahap tinggal landas dalam
artian telah lepas dari berbagai bentuk keterbelakangan ekonomi sekaligus
confident dalam mengantisipasi fenomenafenomena strategis semisal
perdagangan bebas.
Namun kenyataannya, memasuki tahun kesepuluh millenium kedua
ini Indonesia masih berjuang dengan krisis-krisis multidimensi yang tidak
hanya cenderung melemahkan performance ekonomi melainkan juga
meniadakan kemampuan untuk memanfaatkan setiap peluang yang ada
sekaligus menyisakan perasaan khawatir akan terlindas roda ekonomi
global yang semakin hari semakin berputar cepat.
3.3.
Manfaat AFTA Bagi Indonesia
Adapun AFTA juga bermanfaat bagi Indonesia, yaitu:
a. Indonesia bisa memasukkan barang dagangan ke negara lain tanpa
syarat yang susah
b. Peluang pasar yang semakin besar dan luas bagi produk Indonesia,
dengan penduduk sebesar ± 500 juta dan tingkat pendapatan
masyarakat yang beragam
c. Biaya
produksi
yang
semakin
rendah
dan
pasti
bagi
pengusaha/produsen Indonesia yang sebelumnya membutuhkan barang
modal dan bahan baku/penolong dari negara anggota ASEAN lainnya
dan termasuk biaya pemasaran
d. Pilihan konsumen atas jenis/ragam produk yang tersedia di pasar
domestik semakin banyak dengan tingkat harga dan mutu tertentu;
e. Kerjasama dalam menjalankan bisnis semakin terbuka dengan
beraliansi dengan pelaku bisnis di negara anggota ASEAN lainnya.
Ekonomi Internasional - AFTA
23
3.4.
Hambatan dan Pengaruh Buruk AFTA Bagi Indonesia
Dalam setiap hubungan kerjasama pasti terdapat hambatan-
hamatan yang dihadapi.Hambatan tersebut biasanya muncul saat
pengaplikasian perjanjian.Dalam penerapan AFTA banyak hambatan yang
dihadapi saat pertama kali diterapkan.ASEAN-6 merupakan negara
anggota ASEAN yang pertama kali menerapkan usaha pengaplikasian
AFTA. ASEAN-6 menjadi contoh bagi empat negara ASEAN lain.
a. Negara-negara di ASEAN sebenarnya memiliki perbedaan tinggat
perekonomian. Hal itu terlihat pada pendapatan perkapita masingmasing negara anggota ASEAN. Beberapa negara memiliki
pendapatan perkapita lebih tinggi dari pada negara lainnya. Belum
lagi ketidak stabilan politik dalam negeri yang juga mempengaruhi
perekonomian di negara-negara anggota ASEAN.Sehingga sulit
bagi untuk menurunkan tarif bagi barang yang dianggap sensitif
bagi kepentingan dalam negerinya termasuk Indonesia.
b. Kualitas barang yang rendah dan tidak dapat bersaing membuat
ambruknya industri kecil di beberapa Negara. Indonesia sendiri
harus menghadapi kenyataan bahwa industri kecil di negaranya
harus mengalami guncangan karena tidak dapat bersaing dengan
barang komoditas yang masuk ke negaranya diakibatkan kurang
memenuhi standar yang ditetapkan, hal ini mengakibatkan
banyaknya industri-industri kecil dan menengah di Indonesia
mengalami kerugian yang besar.
c. Bahkan banyak anggapan bahwa AFTA hanya menghasilkan
persaingan yang tidak seimbang bagi negara anggota ASEAN itu
sendiri. Penurunan tarif barang bagi barang yang masuk dari negara
anggota ASEAN menimbulkan kerugian. Ketidak siapan pasar
industri lokal juga yang menjadi kendala bagi berjalannya AFTA
dan penerapan penurunan tarif.
Ekonomi Internasional - AFTA
24
d. Kendala lain yang tengah dihadapi adalah masalah infrastruktur di
Indonesia yang kurang mendukung.
3.5.
Strategi Menghadapi AFTA
Dalam banyak hal, AFTA dapat efektif dan menguntungkan
Indonesia jika para pengusaha dan pemerintah Indonesia bekerja sama.
Solusi yang jelas bagi para pengusaha di Indonesia akan membantu
Indonesia dalam menghadapi pasar bebas yang diberlakukan.
a. Pemerintah melindungi para pengusaha kecil dan menengah
dengan cara bantuan modal untuk melakukan produksi agar para
pengusaha kecil dan menengah di Indonesia dapat membuat suatu
produk yang memiliki daya saing yang tinggi saat dipasarkan.
b. Pemerintah juga sepatutnya menyediakan infastruktur yang
memadai, seperti jalanan yang rusak akan menghambat proses
distribusi barang dan dapat merugikan.
c. Mengharuskan setiap barang impor yang masuk ke Indonesia harus
lolos verifikasi Sucofindo.
d. SNI harus diberlakukan terhadap produk-produk buatan pabrik
milik perusahaan luar yang ada di Indonesia.
e. Indonesia harus mulai mencintai produk dalam negeri.
f. Pengusaha-pengusaha industry kreatif harus lebih kreatif lagi
dalam meningkatkan produk yang berkualitas.
Ekonomi Internasional - AFTA
25
B A B IV
PENUTUP
4.1.
KESIMPULAN
a. Perdagangan bebas adalah sebuah konsep ekonomi yang mengacu
kepada penjualan produk antar negara tanpa pajak ekspor impor
atau hambatan perdagangan lainnya.
b. AFTA Sendiri dibentuk pada waktu Konferensi Tingkat Tinggi
(KTT) ASEAN ke IV di Singapura tahun 1992.
c. Tujuan AFTA adalah meningkatkan daya saing ekonomi negaranegara ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagai basis
produksi pasar dunia, untuk menarik investasi dan meningkatkan
perdagangan antar anggota ASEAN.
d. Keuntungan adanya AFTA yaitu Indonesia bisa memasukkan
barang dagangan ke negara lain tanpa syarat- syarat yang susah,
Peluang pasar yang semakin besar dan luas bagi produk Indonesia
dan Kerjasama dalam menjalankan bisnis semakin terbuka dengan
beraliansi dengan pelaku bisnis di negara anggota ASEAN lainnya.
e. Kerugian adanya AFTA yaitu sulit bagi untuk menurunkan tarif
bagi barang yang dianggap sensitif bagi kepentingan dalam negeri,
barang dari luar negeri terutama China lebih murah sehingga dapat
menyebabkan barang domestik tidak dibeli. Ujung-ujungnya PHK
tenaga kerja dan penggangguran meningkat.
4.2.
SARAN
Negara kita, Indonesia merupakan salah satu anggota ASEAN
dan termasuk kedalam AFTA yang dibentuk oleh ASEAN sendiri. Untuk
itu, kita harus membantu mewujudkan cita-cita atau tujuan dari
AFTA
itu
sendiri. Karena
bagaimanapun, tujuan tersebut akan
membantu memajukkan ekonomi dari perdagangan dari luar maupun
dalam Indonesia.
Ekonomi Internasional - AFTA
26
DAFTAR PUSTAKA
Dr. Hamdy Hady, Ekonomi Internasional, Teori dan Kebijakan Perdagangan
Internasional, GHALIA, Indonesia 2001.
Winarno Surachmad, Dasar-Dasar dan Teknik Riset : Pengantar Metodologi
Ilmiah, CV Tarsito, Bandung, 1978.
Jennifer Pedussel Wu, Measuring and Explaining the level of Regional Economic
Integration, 2004.
www.wikipedia.com
www.google.com
www.kompas.com
Ekonomi Internasional - AFTA
27
Download