Uploaded by Vinka Tiara Aliyya

352768 387463 BAB I-III

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Melakukan penelitian bagi mahasiswa merupakan hal yang sudah biasa
dilakukan di semua universitas, baik itu universitas negri ataupun swasta.
Penelitian berguna untuk memenuhi atau menyelesaikan tugas yang diminta oleh
dosen sebagai tugas akhir dari mata kuliahnnya ataupun untuk mencari kebenaran
akan suatu hal yang belum diteliti sebelumnya. Melakukan penelitian tidak
semudah yang diperkirakan, banyak prosedur yang harus diketahui supaya
penelitian yang digarap bisa sepenuhnya lengkap dan akurat. Seluruh prosedur
yang harus diikuti berupa teknik, objek, data, serta metode haruslah dimengerti
dengan sebaik-baiknya.
Hilway (1956) menyatakan bahwa research (penelitian) tidak lain dari
suatu metode studi yang dilakukan seseorang melalui penyelidikan yang hati-hati
dan sempurna terhadap suatu masalah, sehingga diperoleh pemecahan yang tepat
terhadap masalah-masalah tersebut.
Dalam melaksanakan penelitian, terdapat dua metode pendekatan yang
dapat digunakan yaitu kuantitatif dan kualitatif. Di dalam metode pendekatan
tersebut terdapat teknik-teknik yang harus dilaksanakan oleh para peneliti, salah
satunya adalah teknik pengumpulan data.
Sebelum membahas teknik
pengumpulan data tersebut, perlu terlebih dahulu mengetahui arti dari data itu
sendiri.
Data artinya informasi yang didapat melalui pengukuran tertentu, untuk
digunakan sebagai landasan dalam menyusun argumentasi logis menjadi fakta.
Sedangkan fakta itu sendiri adalah kenyataan yang telah diuji kebenarannya
secara empirik, melalui analisis data (Abdurrahmat, 2006).
Dalam pembahasan kali ini, penyusun akan membahas tentang teknik
pengumpulan data penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data ini banyak
digunakan oleh para peneliti lainnya, yaitu berupa observasi, wawancara dan
dilengkapi dengan analisis, kelebihan dan kekurangan dari teknik pengumpulan
1
data. Hal ini penting diketahui oleh para peneliti agar mudah mengaplikasikan
pengumpulan data kualitatif saat meneliti di lapangan.
Menurut Sugiyono (2015) menjelaskan bahwa teknik pengumpulan data
merupakan langkah utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian
adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka
peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar yang ditetapkan.
Sugiyono (2015) menjelaskan Pengumpulan data dapat dilakukan dalam
berbagai setting, berbagai sumber, dan berbagai cara. Bila dilihat dari setting-nya,
data dapat dikumpulkan pada setting alamiah (natural setting), pada laboratorium
dengan metode eksperimen, di sekolah dengan tenaga pendidikan dan
kependidikan, di rumah dengan berbabagai responden, pada suatu seminar,
diskusi, di jalan dan lain-lain. Bila di lihat dari sumber datanya, maka
pengumpulan data dapat menggunakan sumber primer, dan sumber sekunder.
Sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada
pengumpul data, dan sumber sekunder merupakan sumber yang tidak langsung
memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau lewat
dokumen. Selanjutnya bila dilihat dari segi cara atau teknik pengumpulan data,
maka teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan observasi (pengamatan),
interview
(wawancara),
kuisioner
(angket),
dokumentasi
dan
gabungan
keempatnya.
Sugiyono (2015) menyatakan bahwa terdapat dua hal yang mempengaruhi
kualitas hasil penelitian, yaitu, kualitas instrumen penelitian dan kualitas
pengumpulan data. Dalam penelitian kualitatif, yang menjadi instrumen atau alat
penelitian adalah peneliti itu sendiri, namun selanjutnya setelah fokus penelitian
menjadi jelas, maka kemungkinan akan dikembangkan instrumen penelitian
sederhana, yang diharapkan dapat melengkapi data dan membandingkan dengan
data yang telah ditemukan melalui observasi dan wawancara. Peneliti akan terjun
ke lapangan sendiri, baik pada grandtour question, tahap focused and selection,
melakukan pengumpulan data, analisis dan membuat kesimpulan.
Dalam makalah ini, penyusun akan membahas lebih lanjut mengenai halhal tersebut sehingga diharapkan pembaca dapat memahami tentang teknik
pengumpulan data kualitatif.
2
1.2 Rumusan Masalah
Ada beberapa rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu
sebagai berikut:
1.2.1
Apa itu pengertian teknik pengumpulan data?
1.2.2
Bagaimana pengumpulan data kualitatif dengan observasi?
1.2.3
Bagaimana pengumpulan data kualitatif dengan wawancara?
1.2.4
Bagaimana instrumen kunci, kelebihan dan kekurangan dari pengumpulan
data kualitatif?
1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan yang akan di bahas, tujuan yang ingin dicapai dari
makalah ini adalah sebagai berikut:
1.3.1
Untuk mengetahui penjelasan mengenai pengertian pengumpulan data.
1.3.2
Untuk mengetahui pengumpulan data kualitatif dengan observasi.
1.3.3
Untuk mengetahui pengumpulan data kualitatif dengan wawancara.
1.3.4
Untuk mengetahui instrumen kunci, kelebihan dan kekurangan dari
pengumpulan data kualitatif.
3
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Teknik Pengumpulan Data
Menurut Sugiyono (2015), teknik pengumpulan data merupakan langkah yang
paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah
mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti
tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan.
Menurut Sugiyono (2015), pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai
setting, berbagai sumber, dan berbagai cara. Bila dilihat dari setting-nya, data
dapat dikumpulkan pada setting alamiah (natural setting), pada laboratorium
dengan metode eksperimen, di sekolah dengan tenaga pendidikan dan
kependidikan, di rumah dengan berbabagai responden, pada suatu seminar,
diskusi, di jalan dan lain-lain. Bila di lihat dari sumber datanya, maka
pengumpulan data dapat menggunakan sumber primer, dan sumber sekunder.
Sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada
pengumpul data, dan sumber sekunder merupakan sumber yang tidak langsung
memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau lewat
dokumen. Selanjutnya bila dilihat dari segi cara atau teknik pengumpulan data,
maka teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan observasi (pengamatan),
interview
(wawancara),
kuisioner
(angket),
dokumentasi
dan
gabungan
keempatnya.
2.2 Pengumpulan Data Kualitatif dengan Observasi
1. Pengertian Observasi
Observasi
dalam arti sempit merupakan proses penelitian mengamati
situasi dan kondisi (Sugiyono, 2015).
Observasi merupakan teknik pengumpulan data dengan cara melakukan
pengamatan secara langsung dengan menggunakan alat indra untuk
mengetahui data yang terdapat dalam objek penelitian (Arikunto, 2000).
Jadi, observasi adalah salah satu teknik pengumpulan data dengan cara
melihat dan mendengarkan peristiwa yang akan diteliti atau tindakan yang
4
dilakukan oleh orang-orang yang diamati, kemudian merekam hasil
pengamatannya dengan catatan atau alat bantu lainnya.
a. Macam-macam Observasi
Menurut
Sanafiah
mengklarifikasikan
Faisal,
observasi
dalam
menjadi
Sugiyono
observasi
(2015)
berpatisipasi
(participant observation), observasi secara terang-terangan dan
tersamar (overt observation dan covert observation), dan observasi
yang tak berstruktur (unstructured observation). Selanjutnya, Spardley,
dalam Sugiyono (2015) membagi observasi berpatisipasi menjadi
empat, yaitu pasive participation, moderate participation, active
participation, dan complete participation.
1) Observasi Partisipatif
Menurut Sugiyono (2015) dalam observasi ini, peneliti terlibat
dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang
digunakan sebagai sumber data penelitian. Sambil melakukan
pengamatan, peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh
sumber data, dan ikut merasakan suka dukanya. Dengan observasi
partisipan ini, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam,
dan sampai mengetahui pada tingkat mana dari setiap perilaku
yang tampak.
Susan Stainback, dalam Sugiyono (2015) menyatakan “in
participant observatio, the researcher observes what people do,
listent to what they say, and participates in theri activities” Dalam
observasi partisipatif, peneliti mengamati apa yang dikerjakan
orang, mendengarkan apa yang mereka ucapkan, dan berpatisipasi
dalam aktivitas mereka.
a) Partisipasi Pasif (passive participation)
Peneliti datang di tempat kegiatan orang yang diamati,
tetapi tidak ikut terlibat dalam kegiatan tersebut.
b) Partisipasi Moderat (moderat participation)
Dalam observasi ini terdapat keseimbangan antara
peneliti menjadi orang dalam dan orang luar. Peneliti dalam
5
mengumpulkan data ikut observasi partisipatif dalam
beberapa kegiatan, tetapi tidak semuanya.
c) Partisipasi Aktif (active participation)
Dalam observasi ini peneliti ikut melakukan apa yang
dilakukan oleh narasumber, tetapi belum sepenuhnya
lengkap.
d) Pastisipasi Lengkap (complete participation)
Dalam melakukan pengumpulan data, peneliti sudah
terlibat sepenuhnya terhadap apa yang dilakukan sumber
data. Jadi, suasanya sudah natural, peneliti tidak terlihat
seperti melakukan penelitian.
2) Observasi Terus Terang dan Tersamar
Menurut Sugiyono (2015) dalam hal ini, peneliti dalam
melakukan pengumpulan data menyatakan terus terang kepada
sumber data, bahwa ia sedang melakukan penelitian. Jadi mereka
yang diteliti mengetahui sejak awal sampai akhir tentang aktivitas
peneliti. Tetapi dalam suatu saat peneliti juga tidak terus terang
atau tersamar dalam observasi, hal ini untuk menghindari kalau ada
suatu data yang dicari merupakan data yang masih dirahasiakan.
Kemungkinan kalau dilakukan dengan terus terang, maka peneliti
tidak akan diijinkan untuk melakukan observasi.
3) Observasi Tak Berstruktur
Menurut Sugiyono (2015) Observasi tidak berstruktur adalah
observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa
yang akan di observasi. Hal ini dilakukan karena peneliti tidak tahu
secara pasti apa yang akan diamati. Dalam melakukan pengamatan
peneliti tidak menggunakan instrumen yang telah baku, tetapi
hanya rambu-rambu pengamatan.
b. Manfaat Observasi
Menurut Patton dalam Sugiyono (2015), manfaat observasi adalah
sebagai berikut.
6
1) Dengan observasi di lapangan peneliti akan lebih mampu
memahami konteks data dalam keseluruhan situasi sosial, jadi
akan memperoleh pandangan yang menyeluruh.
2) Dengan observasi maka akan diperlohe pengalaman langsung,
sehingga memungkinkan peneliti menggunakan pendekatan
induktif, jadi tidak dipengaruhi oleh konsep atau pandangan
sebelumnya.
3) Dengan observasi, peneliti dapat melakukan hal-hal yang kuran
atau tidak diamati oleh orang lain, khususnya orang yang
berada dalam lingkungan itu, karena telah dianggap “biasa”
dan karena itu tidak akan terungkap dari wawancara.
4) Dengan observasi, peneliti dapat menemukan hal-hal yang
sedianya tidak akan terungkapkan oleh responden saat
wawancara karena bersifat sensitif atau ingin ditutupi karena
dapat merugikan nama lembaga.
5) Dengan observasi, peneliti dapat menemukan hal-hal yang
diluar persepsi responden, sehingga peneliti memperoleh
gambaran yang lebih komprehensif.
6) Melalui pengamatan di lapangan, peneliti tidak hanya
mengumpulkan daya yang kaya, tetapi juga memperoleh kesankesan pribadi, dan mearasakan suasana situasi sosial yang
diteliti.
c. Obyek Observasi
Menurut Spradley dalam Sugiyono (2015) menyatakan bahwa
obyek penelitian dalam penelitian kualitatif yang diobservasi
dinamakan situasi sosial, yang terdiri atas tiga komponen yaitu place
(tempat), actor (pelaku) , dan activities ( aktivitas)
1) Place, atau tempat dimana interaksi dalam situasi sosial sedang
berlangsung. Dalam pendidikan bisa di ruang kelas.
2) Actor,atau pelaku yang sedang memaikan peran tertentu,
seperti guru, kepala sekolah, pengawas, murid, orang tua murid
dan lain sebagainya.
7
3) Activity , atau kegiatan yang dilakukan oleh aktor dalam situasi
sosial yang sedang berlangsung, seperti kegiatan belajar
mengajar.
d. Tahapan Observasi
Menurut Spradley dalam Sugiyono (2015) tahapan observasi
ditunjukan seperti gambar berikut.
2
1
3
TAHAP DESKRIPSI
TAHAP REDUKSI
TAHAP SELEKSI
Memasuki
situasi
sosial: ada tempat,
aktor, aktivitas.
Menentukan
Fokus:
memilih diantara yang
telah di deskripsikan.
Mengurai
fokus:
menjadi
komponen
yang lebih rinci.
Qsxhsavxhvshxvdvcvseh
vcbvzvdvhc vcvsvcn
ewfhv132><U*Y$#[email protected]#(
*&%$~hahs,m:’)|L%&*(
><:_+ijikhndshdjwdbnw
bc a%
QYDFDWBBVGVRS
Wynvsenckybssu
3453679495635
Kesimpulan 2
Bceknsuw
345679
Kesimpulan 3
Kesimpulan 1
Gambar 2.1 Tahap Observasi
Berdasarkan gambar 1 diatas terlihat bahwa, tahapan
observasi ada tiga yaitu 1) observasi deskriptif, 2) observasi
terfokus, 3) observasi terseleksi.
8
1) Observasi Deskriptif
Observasi deskriptif dilakukan peneliti pada saat memasuki
situasi sosial tertentu sebagai obyek penelitian. Pada tahap ini
peneliti belum membawa masalah yang akan diteliti, maka
peneliti melakukan penjelajahan umum, dan menyeluruh
melakukan deskripsi terhadap semua yang dilihat, didengar,
dan dirasakan. Semua data direkam. Oleh karena itu hasil dari
observasi ini disimpulkan dalam keadaan belum tertata.
Observasi tahap ini sering disebut grabdtour observation, dan
peneliti menghasilkan kesimpulan pertama. Bila dilihat dari
segi analisis maka peneliti melakukan analisis domain,
sehingga mampu mendeskripsikan terhadap semua yang
ditemui.
Analisis domain dalam penjelasan Sugiyono (2012: 256)
dilakukan untuk memperoleh gambaran yang umum dan
menyeluruh tentang siatuasi sosial yang diteliti atau obyek
penelitian. Data diperoleh dari grandtour observation dan
minitour questions. Hasilnya adalah gambaran umum yang
sebelumnya belum pernah diketahui. Dalam analisis ini
informasi
yang
diperoleh
belum
mendalam,
masih
dipermukaan, namun sudah menemukan kategori dari situasi
yang diteliti.
2) Observasi Terfokus
Menurut Sugiyono (2015: 316) pada tahap ini peneliti sudah
melakukan minitour observation, yaitu suatu observasi yang telah
dipersempit untuk difokuskan pada aspek tertentu. Observasi ini
juga dinamakan observasi terfokus, karena pada tahap inipeneliti
melakukan analisis taksonomi sehingga dapat menemukan fokus.
Analisis taksonomi dalam penjelasan Sugiyono (2012: 261)
adalah kelanjutan dari
analisis domain. Domain-domain yang
dipilih oleh peneliti, perlu diperdalam lagi melalui pengumpulan
data di lapangan. Pengumpulan data dilakukan dengan terus
9
menerus
melalui,
pengamatan,
wawancara
mendalam
atau
dokumentasi sehingga data yang terkumpul menjadi banyak.
3) Observasi Terseleksi
Menurut Sugiyono (2015, hlm. 316) Pada tahap observasi ini
peneliti telah menguraikan fokus yang ditemukan sehingga datanya
lebih rinci. Dengan melakukan analisis komponensial terhadap
fokus, maka pada tahap ini peneliti telah menemukan karakteristik,
perbedaan dan persamaan antar kategori, serta menemukan
hubungan antara satu kategori dengan kategori yang lain. Pada
tahap ini diharapkan peneliti telah menemukan pemahaman
mendalam atau hipotesis.
Menurut
Sugiyono
Komponensial,
yang
(2012,
dicari
hlm.
untuk
264)
pada
diorganisasikan
Analisis
adalah
perbedaan dalam domain atau kesenjangan yang kontras dalam
domain. Data ini dicari dengan observasi, wawancara mendalam,
dan dokumentasi terseleksi. Dengan teknik pengumpulan data
triangulasitersebut, sejumlah dimensi yang spesifik dan berbeda
pada setiap elemen akan ditemukan.
Setelah ditemukan kesamaan ciri atau pola dari data analisis
taksonomi, selanjutnya peneliti melakukan pengamatan yang lebih
dalam untuk mengungkapkan gambaran atau pola-pola tertentu
dalam data. Dalam hal ini peneliti melakukannya dengan merekareka data dengan rasio-rasio yang digunakan dan hal-hal lain.
Setelah ditemuka gambaran tertentu dari data, selanjutnya peneliti
melanjutkan
pembuatan
pedoman
wawancara
dengan
menambahkan beberapa pertanyaan yang mampu mengkonfirmasi
temuan peneliti dalam analisis komponensial.
2.3 Pengumpulan Data Kualitatif dengan Wawancara
Wawancara adalah proses tanya-jawab dalam penelitian yang berlangsung
secara lisan dalam mana dua orang atau lebih bertatap muka mendengarkan secara
langsung informasi-informasi atau keterangan-keterangan (Narbuko, 2009: 83).
10
Tujuan wawancara ialah untuk mengumpulkan informasi dan bukannya untuk
merubah ataupun mempengaruhi pendapat responden (Narbuko, 2009: hlm. 86).
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin
melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti,
dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih
mendalamdan jumlah respondennya sedikit / kecil.
Sutrisno Hadi (1986) mengemukakan bahwa anggapan yang perlu dipegang
oleh peneliti dalam menggunakan teknik interview dan juga kuesioner adalah
sebagai berikut:
1. Bahwa subjek (responden) adalah orang yang paling tahu tentang dirinya
sendiri.
2. Bahwa apa yang dinyatakan oleh subjek kepada peneliti adalah benar dan
dapat dipercaya.
3. Bahwa interpretasi subjek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan
peneliti kepadanya adalah sama dengan apa yang dimaksudkan si peneliti.
Wawancara dapat dilakukan secara terstruktur maupun tidak terstruktur, dan
dapat dilakukan dengan tatap muka maupun lewat telepon.
1. Wawancara Terstruktur
Wawancara terstruktur digunakan sebagai teknik pengumpulan data, bila
peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti informasi apa
yang akan diperoleh. Oleh karena itu dalam melakukan wawancara,
pengumpul data telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaanpertanyaan tertulis yang alternatif jawabannya pun sudah disiapkan. Dengan
wawancara terstruktur ini setiap responden diberi pertanyaan yang sama, dan
pengumpul data mencatatnya.
Dalam melakukan wawancara, selain harus membawa instrumen sebagai
pedoman untuk wawancara, maka pengumpul data juga dapat menggunakan
alat bantu seperti tape recorder, gambar, brosur dan material lain yang dapat
membantu
pelaksanaan
wawancara
berjalan
lancar.
Adapun
contoh
wawancara terstruktur tentang tanggapan mahasiswa terhadap pelayanan
Kampus IAIN Syekh Nurjati Cirebon:
11
a. Bagaimanakah tanggapan Saudara/i terhadap pelayanan yang ada di
PBA?
1) Sangat bagus
2) Bagus
3) Tidak bagus
4) Sangat tidak bagus
b. Bagaimanakah tanggapan Saudara/i terhadap pelayanan administrasi di
IAIN Syekh Nurjati?
1) Sangat bagus
2) Bagus
3) Tidak bagus
4) Sangat tidak bagus
2. Wawancara Tidak Terstruktur
Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas dimana
peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun
secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman
wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan
yang akan ditanyakan. Adegan contohnya adalah sebagai berikut:
“Bagaimanakah pendapat Saudara terhadap kebijakan-kebijakan Rektor
terhadap UKM-UKM yang ada di IAIN Syekh Nurjati Cirebon? Dan
bagaimana dampaknya terhadap mahasiswa?”
2.4 Instrumen Kunci, Kelebihan dan Kekurangan Pengumpulan Data
Kualitatif
Ada dua hal utama yang mempegaruhi kualitas hasil penelitian, yaitu
kualitas instrumen penelitian dan kualitas pengumpulan data (Sugiyono, 2015:
hlm. 305). Dalam penelitian kualitatif, instrumen utamanya adalah peneliti itu
sendiri, namun setelah fokus penelitan sudah jelas, akan dikembangkan menjadi
instrumen penelitian sederhana, melalui observasi dan wawancara. Kemudian
melakukan pengumpulan data, analisis dan membuat kesimpulan. Berdasarkan
manfaat empiris, metode pengumpulan data kualitatif yang paling independen
terhadap semua metode pengumpulan data dan teknik analisis data adalah metode
12
wawancara mendalam, observasi partisipasi, bahan dokumenter, serta metodemetode baru seperti metode bahan visual dan metode penelusuran bahan internet
(Bungin, 2007: hlm. 110).
Menurut Nasution (1988) dalam Sugiyono (2015: hlm. 306) menyatakan,
“Dalam penelitian kualitatif, tidak ada pilihan lain daripada menjadikan manusia
sebagai instrumen penelitian utama. Alasannya ialah bahwa, segala sesuatunya
belum mempunyai bentuk yang pasti. Masalah, fokus penelitian, prosedur
penelitian, hipotesis yang digunakan, bahkan hasil yang diharapkan, itu semuanya
tidak dapat ditentukan secara pasti dan jelas sebelumnya. Segala sesuatu masih
perlu dikembangkan sepanjang penelitian itu. Dalam keadaan yang serba tidak
pasti dan tidak jelas itu, tidak ada pilihan lain dan hanya peneliti itu sendiri
sebagai alat satu-satunya yang dapat mencapainya”. Jadi, instrumen yang telah
teruji kebenarannya, belum tentu dapat menghasilkan data yang valid dan reliabel,
apabila instrumen tersebut tidak digunakan secara tepat dalam pengumpulan
datanya.
1. Ciri-Ciri Peneliti sebagai Instrumen
Menurut Nasution (1988) dalam Sugiyono (2015: hlm. 307), peneliti
sebagai instrumen penelitian serasi untuk penelitian serupa karena memiliki
ciri-ciri sebagai berikut:
a. Peneliti sebagai alat peka dan dapat bereaksi terhadap segala stimulus
dari lingkungan yang harus diperkirakannya bermakna atau tidak bagi
penelitian.
b. Peneliti sebagai alat dapat menyesuaikan diri terhadap semua aspek
keadaan dan dapat mengumpulkan aneka ragam data sekaligus.
c. Tiap situasi merupakan keseluruhan. Tidak ada suatu instrumen berupa
tes atau angket yang dapat menangkap keseluruhan situasi, kecuali
manusia.
d. Suatu situasi yang melibatkan interaksi manusia, tidak dapat difahami
dengan pengetahuan semata. Untuk memahaminya kita perlu sering
merasakannya, menyelaminya, berdasarkan pengetahuan kita.
e. Peneliti sebagai instrumen dapat segera menganalisis data yang
diperoleh. Ia dapat menafsirkannya, melahirkan hipotesis dengan
13
segera untuk menentukan arah pengamatan, untuk mentes hipotesis
yang timbul seketika.
f. Hanya manusia sebagai instrumen dapat mengambil kesimpulan
berdasarkan data yang dikumpulkan pada suatu saat dan menggunakan
segera sebagai balikan untuk memperoleh penegasan, perubahan,
perbaikan atau pelakan.
2. Prosedur-Prosedur untuk Menentukan Informan
Dalam penelitian sebuah penelitian, sangat penting dalam menentukan
informan. Maka menurut Bungin (2007: hlm. 107), dalam penelitian kualitatif
untuk menentukan dan menemuman informan dimungkinkan menggunakan
prosuder-prosedur berikut:
a. Prosedur Purposif
Prosedur Purposif adalah sebuah strategi untuk menentukan kelompok
peserta yang menjadi informan sesuai dengan kriteria terpilih yang relevan
dengan masalah penelitian tertentu (Bungin, 2007: hlm.107). Ukuran
seberapa banyak individu atau informan yang mungkin atau tidak mungkin
ditunjuk sudah ditetapkan sebelum pengumpulan data, tergantung pada
sumber daya dan waktu yang tersedia, serta tujuan penelitian. Namun
informan berikutnya akan ditentukan bersamaan dengan perkembangan
review dan analisis hasil penelitian saat pengumpulan data berlangsung,
b. Prosedur Kuota
Dalam Prosedur Kuota, peneliti memutuskan saat merancang
penelitian, berapa banyak orang dengan karaktertistik yang diinginkan
untuk dimasukkan sebagai informan (Bungin, 2007: hlm. 108).
Karakteristik bisa termasuk usia, tempat tinggal, jenis kelamin, kelas,
profesi, status perkawinan, dll. Kriteria yang dipilih memungkinkan
peneliti untuk fokus pada orang yang peneliti perkirakan akan paling
mungkin memiliki pengalaman, tahu tentang, atau memiliki wawasan ke
dalam topik penelitian.
c. Prosedur Snowball
Dalam prosedur bola salju (snawball) yang juga dikenal sebagai
“rantai rujukan” atau juga prosedur networking, dengan siapa peserta atau
14
informan pernah dikontak atau pertama kali bertemu dengan peneliti
adalah penting untuk menggunakan jaringan sosial mereka untuk merujuk
peneliti
kepada
orang
lain
yang
berpotensi
berpartisipasi
atau
berkontribusi dan mempelajari atau memberi informasi kepada peneliti
(Bungin, 2007: 109).
Terdapat beberapa persyaratan yang perlu diperhatikan dalam prosedur
snawball, yaitu: apabila informan dengan karakter tertentu sulit ditemukan,
informan yang ditemui bersedia merujuk peneliti ke informan lain,
memungkinkan perkembangan mata rantai rujukan sampai pada snowball
yang memadai sebagai informan penelitian yang dibutuhkan peneliti.
Namun peneliti harus memverifikasi kelayakan setiap informan, untuk
memastikan informasi yang diberikan adalah informasi yang akurat dan
karena informan benar-benar memahami masalah penelitian yang
diperlukan peneliti.
Ada beberapa model snawball yang dapat digunakan di dalam
penelitian (Bungin: 2007, hlm. 109), yaitu:
1) Linear Snowball Modle
Gambar 2.2 Linear Snowball Modle
Model
ini
memungkinkan
peneliti
bergerak
linier
untuk
menemukan informan baru, dari satu informan ke informan lain, dan
membentuk bola salju yang besar secara linier.
2) Exponential Non-Discriminate Snowball Modle
15
Gambar 2.3 Exponential Non-Discriminate Snowball modle
Model ini adalah model komposit tanpa diskriminasi terhadap
informan. Artinya, semua informan yang dirujuk oleh informan
sebelumnya diambil sebagai informan, sehingga perkembangan
komposit menjadi akar rumput yang besar dan biasanya berimbang dan
subur.
3) Exponential Discriminative Snowball Modle
Gambar 2.4 Exponential Discriminative Snowball Modle
Model ini adalah model selektif yang dikembangan oleh peneliti di
lapangan. Artinya, berdasarkan beberapa pertimbangan dan tindakan
selektif peneliti, maka tidak semua informan yang dirujuk oleh
informan sebelumnya dipilih oleh peneliti karena peneliti diberi hak
untuk menyeleksi informan yang berikutnya, sehingga perkembangan
jaringan snawball menunjukkan ada bagian jaringan yang berkembang
subur, namun ada bagian lain yang mati atau tidak banyak
berkembang.
3. Kelebihan dan Kekurangan dari Pengumpulan Data
a. Observasi
Berikut adalah kelebihan dan kekurangan pengumpulan data dengan
observasi (Narbuko, 2009: hlm.75).
1) Kelebihan:
a) Observasi merupakan alat yang langsung untuk meneliti
bermacam-macam gejala. Banyak aspek-aspek tingkah laku
manusia yang hanya dapat diamati melalui observasi langsung.
16
b) Bagi seseorang yang selalu sibuk, lebih tidak berkeberatan
untuk diamat-amati, daripada mengisi jawaban-jawaban dalam
kuesioner.
c) Dapat mencatat secara serempak dengan terjadinya sesuai
gejala.
2) Kekurangan:
a) Banyak kejadian-kejadian yang tidak dapat dicapai dengan
observasi langsung, misalnya kehidupan pribadi seseorang
yang sangat rahasia.
b) Bila observer tahu bahwa dia sedang diteliti, maka mereka akan
menunjukkan sikap, atau sengaja menimbulkan kesan yang
lebih baik ataupun lebih jelek terhadap observer.
c) Setiap kejadian tidak selalu dapat diramalkan sebelumnya
sehingga
menyulitkan
observer.
Demikian
pula
untuk
menunggu timbulnya reaksi yang dibuat seringkali tidak dapat
secara spontan, bahkan kadang-kadang harus menunggu waktu
yang panjang sekali, sehingga membosankan.
d) Seringkali tugas observasi terganggu, karena adanya peristiwaperistiwa yang tidak diduga-duga terlebih dahulu.
e) Observasi
seringkali
mengalami
kesulitan
di
dalam
mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan, karena kejadiankejadian itu ada kalanya berlangsung bertahun-tahun, tetapi ada
kalanya sangat pendek waktu berlangsungnya kejadian itu,
bahkan ada pula yang terjadi serempak di beberapa tempat.
b. Wawancara
Menurut Narbuko (2009: hlm. 97), kelebihan dan kekurangan dari
pengumpulan data dengan wawancara adalah:
1) Kelebihan:
a) Sebagai salah satu metode yang terbaik untuk menilai keadaan
pribadi.
17
b) Tanpa mengenal batas umur dan pendidikan subyek, selama
dapat memberi jawaban.
c) Hampir seluruh penelitian sosial, selalu digunakan sebagai
metode pelengkap.
d) Karena sifat keluwesan, metode interview cocok untuk dipakai
sebagai alat verifikasi data yang diperoleh dengan jalan
observasi dan kuesioner.
2) Kekurangan:
a) Kurang efisien, memboroskan waktu, tenaga dan biaya.
b) Tergantung kepada kesediaan, kemampuan, dan keadaan
subyek.
c) Jalan dan isi interview sangat mudah dipengaruhi oleh
keadaan-keadaan sekitar yang memberikan tekanan-tekanan
yang mengganggu.
d) Perannya haruslah benar-benar menguasai bahasa subyek.
18
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam
penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa
mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data
yang memenuhi standar data yang ditetapkan.
Dalam penelitian kualitatif, instrumen utamanya adalah peneliti itu sendiri,
namun setelah fokus penelitan sudah jelas, akan dikembangkan menjadi instrumen
penelitian sederhana, melalui observasi dan wawancara. Kemudian melakukan
pengumpulan data, analisis dan membuat kesimpulan.
3.2 Saran
Dalam penyusunan makalah ini kami menyadari masih banyak kekeliruan dan
kesalahan di berbagai aspek. Walaupun begitu kami berharap makalah ini dapat
memberikan manfaat pada pembaca terutama pada kami sebagai penyusun. Maka
dari itu kami menerima saran dan kritik dari semua pihak demi kesempurnaan di
masa yang akan datang.
19
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT.
Rineka Cipta.
Bungin, Burhan. 2007. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana.
Faisal, Sanafiah. 1990. Penelitian Kualitatif, Dasar dan Aplikasi. Malang: YA3.
Fathoni, Abdurrahmat.
2006. Metodologi Penelitian dan Teknik Penyusunan
Skripsi. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Gunawan, Imam. 2013. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Sutrisno, Hadi. 1986. Metodologi Research. Yogyakarta: Andi Offset.
Narbuko, Cholid dan Abu Achmadi. 2009. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT
Bumi Aksara.
Spradley James. 1980. Participant Observation. Holt, Rinehart and Winston.
Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Susan Stainback, William Stainback. 1980. Understanding & Conducting
Qualitative Research. Dubuque, Lowa: Kendall/Hunt Publishing Company.
T. Hilway. 1956. Introduction to Research. Houghton Miffin Company.
20