248595157-Laporan-Emulsi-Paraffin-Liquid

advertisement
EMULSI PARAFFIN LIQUID 30%
I.
TUJUAN PERCOBAAN
1. Menentukan formulasi yang tepat dalam pembuatan emulsi yang mengandung
bahan aktif Paraffin Liquid 30%.
2. Mengetahui permasalahan pada sediaan dan menentukan penyelesaian yang
diambil untuk sediaan.
3. Mengetahui efek farmakologi dan kegunaan dari bahan aktif dan bahan tambahan
lain.
4. Menentukan hasil evaluasi dari sediaan yang telah dibuat.
II.
PENDAHULUAN
Emulsi adalah sistem dua fase, yang salah satu cairannya terdispersi dalam
cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil. ( FI IV, 1995)
Tipe emulsi ada 2 yaitu oil in water (o/w) dan water in oil (w/o). Emulsi dapat
distabilkan dengan penambahan bahan pengemulsi yang disebut emulgator
(emulsifying agent) atau surfaktan yang dapat mencegah koalesensi, yaitu penyatuan
tetesan kecil menjadi tetesan besar dan akhirnya menjadi satu fase tunggal yang
memisah. Surfaktan menstabilkan emulsi dengan cara menempati antar-permukaan
tetesan dan fase eksternal, dan dengan membuat batas fisik di sekeliling partikel yang
akan berkoalesensi. Surfaktan juga mengurangi tegangan permukaan antar fase
sehingga meningkatkan proses emulsifikasi selama pencampuran.
Komponen Emulsi
Komponen emulsi dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu :
1. Komponen dasar, yaitu bahan pembentuk emulsi yang harus terdapat di dalam
emulsi, terdiri dari :
a. Fase dispers/ fase internal/ fase diskontinu/ fase terdispersi/ fase dalam,
yaitu zat cair yang terbagi- bagi menjadi butiran kecil di dalam zat cair
lain.
b. Fase eksternal/ fase kontinu/ fase pendispersi/ fase luar, yaitu zat cair
dalam emulsi yang berfungsi sebagai bahan dasar emulsi tersebut.
c. Emulgator, adalah bagian dari emulsi
yang berfungsi
untuk
menstabilkan emulsi.
2. Komponen tambahan, adalah bahan tambahan yang sering ditambahkan ke
dalam emulsi untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
Tipe Emulsi
Berdasarkan macam zat cair yang berfungsi sebagai fase internal ataupun
eksternal, emulsi digolongkan menjadi 2 macam yaitu:
1. Emulsi tipe O/W (Oil in Water) atau M/A (minyak dalam air) adalah emulsi
yang terdiri atas butiran minyak yang tersebar atau terdispersi kedalam air. Minyak
sebagai fase internal dan air sebagai fase eksternal.
2. Emulsi tipe W/O (Water in Oil) atau A/M (air dalam minyak) adalah emulsi
yang terdiri atas butiran air yang tersebar atau terdispersi kedalam minyak. Air
sebagai fase internal dan minyak sebagai fase eksternal.
Tujuan Pemakaian Emulsi
Emulsi dibuat untuk mendapatkan preparat atau sediaan yang stabil dan
merata atau homogen dari campuran 2 cairan yang saling tidak bisa tercampur.
Tujuan pemakaian emulsi adalah
1. Untuk dipergunakan sebagai obat dalam atau per oral. Umumnya emulsi tipe
O/W.
2. Untuk dipergunakan sebagai obat luar. Bisa tipe O/W maupun W/O,
tergantung pada banyak faktor, misalnya sifat zat nya atau efek terapi yang
dikehendaki.
3. Mendapat sediaan yang stabil.
4. Memperlambat efek obat karena ukuran sangat kecil.
5. Menutup rasa minyak.
6. Memperbaiki penampilan karena merupakan campuran yang homogen.
Teori Terbentuknya Emulsi
A. Teori Tegangan Permukaan (Surface Tension)
Molekul memiliki daya tarik menarik antara molekul yang sejenis yang
disebut daya kohesi. Selain itu, molekul juga memiliki daya tarik menarik antar
molekul yang tidak sejenis yang disebut daya adhesi.
Daya kohesi suatu zat selalu sama sehingga pada permukaan suatu zat cair
akan terjadi perbedaan tegangan karena tidak adanya keseimbangan daya kohesi.
Tegangan yang terjadi pada permkaan disebut “Tegangan Permukaan”.
Semakin tinggi perbedaan tegangan, maka semakin sulit kedua zat cair untuk
bercampur. Dalam teori ini dikatakan bahwa penambahan emulgator akan
menurunkan atau menghilangkan tegangan yang terjadi, sehingga kedua zat cair
akan mudah bercampur.
B. Teori Orientasi Bentuk Baji (Oriented Wadge)
Teori ini menjelaskan fenomena terbentuknya emulsi berdasarkan adanya
kelarutan selektif dari bagian molekul emulgator. Setiap emulgator dibagi
menjadi 2 kelompok yaitu:
a. Kelompok Hidrofilik
 bagian emulgator yang suka air.
b. Kelompok Lipofilik
 bagian emulgator yang suka minyak.
Masing- masing kelompok akan bergabung dengan zat cair yang disenanginya.
Dengan demikian, emulgator seolah- olah menjadi tali pengikat antara air dan
minyak dan akan membuat suatu keseimbangan.
Setiap jenis emulgator memiliki harga keseimbangan yang besarnya tidak
sama. Harga keseimbangan ini disebut dengan Hydrophyl Lipophyl Balance atau
“HLB” yaitu angka yang menunjukkan perbandingan antara kelompok hidrofil
dengan kelompok lipofil. Semakin besar harga HLB, berarti semakin banyak
kelompok yang suka air, artinya emulgator tersebut lebih mudah larut dalam air
dan demikian sebaliknya.
HARGA HLB
KEGUNAAN
1 - 3
Anti foaming agent
4 – 6
Emulgator tipe w/o
7 – 9
Bahan pembasah ( wetting agent)
8 – 18
Emulgator tipe o/w
13 – 15
Detergent
10 – 18
Kelarutan (solubilizing agent)
C. Teori Film Plastik
Teori ini mengatakan bahwa emulgator akan diserap pada batas antara air dan
minyak, sehingga terbentuk lapisan film yang akan membungkus partikel fase
dispers atau fase internal. Dengan terbungkusnya partikel tersebut, usaha antara
partikel yang sejenis untuk bergabung menjadi terhalang . Untuk memberikan
stabilitas maksimum pada emulsi, syarat emulgator yang dipakai adalah:
1. Dapat membentuk lapisan film yang kuat tetapi lunak.
2. Jumlahnya cukup untuk menutup semua permukaan fase dispers.
3. Dapat membentuk lapisan film dengan cepat dan dapat menutup semua
partikel dengan segera.
D. Teori Lapisan Listrik Rangkap
Jika minyak terdispersi kedalam air, satu lapis air yang langsung berhubungan
dengan permukaan minyak akan bermuatan sejenis, sedangkan lapisan berikutnya
akan mempunyai muatan yang berlawanandengan lapisan di depannya. Dengan
demikian, seolah- olah tiap partikel minyak dilindungi oleh 2 benteng lapisan
listrik yang saling berlawanan.
Cara membedaka Tipe Emulsi
1. Dengan pengenceran fase
Setiap emulsi dapat diencerkan denan fase eksternalnya. Dengan prinsip
tersebut, emulsi tipe o/w dapat diencerkan dengan air dan tipe w/o dapat
diencerkan dengan minyak.
2. Dengan pengecatan atau pewarnaan
Pemberian zat warna larut air pada tipe O/W  warna akan terlihat merata
Contoh zat warna: metilen blue atau briliant blue.
3. Dengan kertas saring atau kertas tisu
Jika emulsi diteteskan pada kertas saring tersebut terjadi noda minyak, berarti
emulsi tersebut tipe w/o. Tetapi jika terjadi basah merataberarti emulsi tersebut
tipe o/w
4. Dengan konduktivitas listrik
Emulsi tipe o/w dapat menghantarkan arus listrik.
Kestabilan Emulsi
Emulsi dikatakan tidak stabil jika mengalami hal- hal seperti dibawah ini:
1. Creaming yaitu terpisahnya emulsi menjadi 2 lapisan, yaitu satu bagian
mengandung fase disper lebih banyak daripada lapisan yang lain. Creaming
bersifat reversible, artinya jika dikocok perlahan- lahan akan terdispersi
kembali.
2. Koalesensi dan cracking adalah pecahnya emulsi karena film yang meliputi
partikel rusak dan butir minyak berkoalesensi atau menyatu menjadi fase
tunggal yang memisah. Hal ini bersifar irreversible.
3. Inversi fase adalah peristiwa berubahnya tipe emulsi o/w menjadi w/o secara
tiba- tiba atau sebaliknya.
Paraffin Liquidum termasuk salah satu jenis pencahar emolien. Obat yang
termasuk golongan ini memudahkan defekasi (buang air besar) dengan cara
melunakkan tinja tanpa merangsang peristaltik usus (sembelit), baik langsung
maupun tidak langsung. Bekerja sebagai zat penurun tegangan permukaan. Obat
yang termasuk dalam golongan ini adalah dioktilnatrium sulfosukonat dan paraffin
liquidum.
Paraffin Liquidum (Mineral Oil) adalah campuran cairan hidrokarbon yang
diperoleh dari minyak bumi. Setelah meminum obat tinja ini melunak disebabkan
kurangnya reabsorpsi air dari tinja. Paraffin Liquidum tidak dicerna didalam usus
dan hanya sedikit diabsorpsi. Yang diabsorpsi ditemukan pada limfa nodus
mesenteric, hati dan limfa. Kebiasaan menggunakan Paraffin Liquid akan
mengganggu absorpsi zat larut lemak, misalnya absorpsi karoten menurun 50%,
absorpsi vitamin A dan vitamin D juga akan menurun. Absorpsi vitamin K
menurun dengan akibat hipoprotrombinemia dan juga dilaporkan terjadinya
pneumonia lipid. Obat ini menyebabkan pruritus ani, menyulitkan penyembuhan
pasca bedah daerah anorektal dan menyebabkan pendarahan. Jadi untuk
penggunaan kronik jelas obat ini tidak aman. (Farmakologi dan Terapi ed.5 hal.
530)
Paraffin Liquid tidak dicerna dalam saluran lambung-usus dan hanya bekerja
sebagai zat pelican bagi isi usus dan tinja. Gunanya untuk melunakkan tinja,
terutama setelah pembedahan rectal atau pada penyakit wasir. (OOP, 2010)
 Dosis Lazim Anak
Sehari
0,5 mg/ kg
(FI III hal 945)
 Dosis Dewasa
Sehari
15-30 ml
(Farmakologi dan Terapi ed. 5 hal. 475)
Sehingga dosis Paraffin Liquid 30% untuk pemakaian dewasa dan lansia adalah
sebagai berikut:
 Dosis Dewasa
Sehari 2 x 12,5 ml
 Dosis Pemeliharaan
4
 sehari 2 x 10 ml
3
 sehari 2 x 9 ml
60 – 70 tahun = 5 ∗ 25 𝑚𝑙 = 20 𝑚𝑙
70 – 80 tahun = 4 ∗ 25 𝑚𝑙 = 18 𝑚𝑙
2
80 – 90 tahun = 3 ∗ 25 𝑚𝑙 = 16,7 𝑚𝑙  sehari 2 x 8 ml
90 > tahun
1
= 2 ∗ 25 𝑚𝑙 = 12,5 𝑚𝑙  sehari 2 x 6 ml
III.
FORMULASI
1. Bahan aktif
Zat Aktif
Paraffin Liquid
Struktur
Rumus
molekul
Titik lebur
C14-C18 (HOPE 6th 2009, hal. 446)
Cairan kental, transparan, tidak berflouresensi, tidak berwarna,
hampir tidak berbau, hampir tidak mempunyai rasa. (FI III hal.
474)
Pemerian
Tidak berwarna, transparan, cairan berminyak, hampir tidak
berflouresensi, tidak berasa dan tidak berbau. (Japan
Pharmacopoeia hal. 966)
Praktis tidak larut dalam air dan etanol 95%, larut dalam
kloroform dan eter. (FI III hal. 474)
Kelarutan
Praktis tidak larut dalam air, tidak larut dalam etanol 96%,
merupakan campuran dengan golongan hidrokarbon. (British
Pharmacopoeia hal. 4502)
Mengalami oksidasi bila terkena panas dan cahaya. Harus
Stabilitas
disimpan dalam wadah kedap udara, terlindung dari cahaya, di
tempat yang sejuk dan kering. (HOPE 6th 2009, hal. 446)
Inkompabilitas
Keterangan
lain
Tidak tahan dengan oksidator kuat. (HOPE 6th 2009, hal. 446)
Kegunaan: Laksativum/ obat pencahar. (FI III hal. 475)
Stabil dalam wadah tertutup baik dan terlindung dari cahaya.
Penyimpanan
(FI III hal. 475)
Terlindung dari cahaya. (British Pharmacopoeia hal. 4503)
Penggunaan
30%
2. Tween 80 (Polysorbate 80)
Zat
Tween 80 (Polysorbate 80)
Atlas E; Armotan PMO 20; Capmul POE-O; Cremophor PS
80; Crillet 4; Crillet 50; Drewmulse POE-SMO; Drewpone
80K; Durfax 80; Durfax 80K;E433; Emrite 6120; Eumulgin
SMO; Glycosperse O-20;Hodag PSMO-20;Liposorb O-20;
Sinonim
Liposorb O-20K; Montanox 80; polyoxyethylene 20 oleate;
polysorbatum 80; Protasorb O-20; Ritabate 80; (Z)-sorbitan
mono-9-octadecenoate poly (oxy1,2-ethanediyl) derivatives;
Tego SMO 80; Tego SMO 80V; Tween 80.
(HOPE 6th 2009, hal. 550)
Struktur
(HOPE 6th 2009, hal. 549)
Rumus
molekul
Titik lebur
C64H124O26. (HOPE 6th 2009, hal. 549)
Polisorbat memiliki bau yang khas dan hangat, rasanya agak
Pemerian
pahit. Warna dan bentuk fisik pada 250C adalah cairan minyak
berwarna kuning. (HOPE 6th 2009, hal. 550)
Kelarutan
Sangat mudah larut dalam air; larut dalam etanol; tidak larut
dalam minyak mineral. (HOPE 6th 2009, hal. 551)
Stabilitas
Stabil pada elektrolit, asam lemah,dan basa lemah. (HOPE 6th
2009, hal. 551)
Perubahan warna dan / atau pengendapan terjadi dengan
Inkompabilitas
berbagai zat, khususnya fenol, tanin, tar, dan bahan tarlike.
Aktivitas antimikroba pengawet paraben berkurang dengan
adanya polisorbat. (HOPE 6th 2009, hal. 551)
Penyimpanan
Kadar
penggunaan
Wadah tertutup rapat terlindung dari cahaya, sejuk dan kering.
(HOPE 6th 2009, hal. 551)
1-15% sebagai emulgator tipe o/w. (HOPE 6th 2009, hal. 550)
3. Span 80 (Sorbitan Monooleate)
Zat
Span 80 (Sorbitan Monooleate)
Ablunol S-80; Arlacel 80; Armotan MO; Capmul O; Crill
4;Crill 50; Dehymuls SMO; Drewmulse SMO; Drewsorb 80K;
E494; Glycomul O;Hodag SMO;Lamesorb SMO;Liposorb
Sinonim
O;Montane 80;Nikkol SO-10;NissanNonionOP-80R;Norfox
Sorbo S-80;Polycon S80 K;Proto-sorb SMO;Protachem
SMO;S-Maz 80K;Sorbester P17;Sorbirol O; sorbitan oleate;
sorbitani oleas;Sorgen 40;Sorgon S-40-H; Span 80; Tego SMO
(HOPE 6th 2009, hal. 676)
Struktur
(HOPE 6th 2009, hal. 675)
Rumus
molekul
Titik lebur
C24H44O6. (HOPE 6th 2009, hal. 675)
Ester sorbitan adalah krim cair atau padat dengan warna
Pemerian
kekuningan dengan bau khas dan rasa. (HOPE 6th 2009, hal.
676)
Kelarutan
Sorbitan ester pada umumnya larut di minyak, dalam pelarut
organik lain. Tidak larut di air. (HOPE 6th 2009, hal. 676)
Stabilitas
Inkompabilitas
Penyimpanan
Kadar
penggunaan
Sorbitan ester stabil dalam asam lemah atau basa. (HOPE 6th
2009, hal. 677)
Wadah tertutup rapat terlindung dari cahaya, sejuk dan kering.
(HOPE 6th 2009, hal. 677)
1-15% sebagai emulgator tipe o/w. (HOPE 6th 2009, hal. 676)
4. Methylparaben
Zat
Methylparaben
Aseptoform M; CoSept M; E218; 4-hydroxybenzoic acid
methyl ester; metagin; Methyl Chemosept; methylis
parahydroxybenzoas; methyl p-hydroxybenzoate; Methyl
Sinonim
Parasept; Nipagin M; Solbrol M; Tegosept M; Uniphen P-23.
Methyl-4-hydroxybenzoate, Methyl Hydroxybenzoate, Methyl
Parahydroxybenzoate, Methylparaben. (HOPE 6th 2009, hal.
441)
Struktur
(HOPE 6th 2009, hal. 441)
Rumus
molekul
Titik lebur
C8H8O3. (HOPE 6th 2009, hal. 443)
125–128oC (HOPE 6th 2009, hal. 443)
Serbuk hablur halus, putih, hampir tidak berbau, tidak
Pemerian
mempunyai rasa, kemudian agak membakar diikuti rasa tebal.
(HOPE 6th 2009, hal. 442)
Etanol 95% 1 : 3
Kelarutan
Eter
1 : 10
Gliserin
1 : 60
Propilenglikol
Air
1:5
1 : 400
(HOPE 6th 2009, hal. 443)
Larutan metil paraben pH 3-6 dapat disterilkan dan autoclave
Stabilitas
pada 120oC selama 20 menit tanpa penguraian. Pada pH 8
atau lebih mengalami hidrolisis 10%. (HOPE 6th 2009, hal.
443)
Aktifitas antimikroba metilparaben dan paraben lainnya sangat
berkurang dengan adanya surfaktan nonionic. Tidak
Inkompabilitas
kompatibel dengan bahan lain seperti bentonit, magnesium
trisilakat, tragakan metil paraben berubah warna dengan
adanya besi dan terhidrolisis oleh basa lemah dan asam kuat.
(HOPE 6th 2009, hal. 443)
Keterangan
Kegunaan : Sebagai pengawet anti mikroba. (HOPE 6th 2009,
lain
hal. 442)
Penyimpanan
Kadar
penggunaan
Dalam wadah tertutup baik. (FI III hal. 378)
Methylparaben (0,18%) bersama-sama dengan propil paraben
(0,02%) telah digunakan untuk pelestarian berbagai formulasi.
(HOPE 6th 2009, hal. 442)
5. Prophylparaben
Zat
Prophylparaben
Aseptoform P; CoSept P; E216; 4-hydroxybenzoic acid propyl
ester; Nipagin P; Nipasol M; propagin; Propyl Aseptoform;
propyl butex; Propyl Chemosept; propylis
Sinonim
parahydroxybenzoas; propyl phydroxybenzoate; Propyl
Parasept; Solbrol P; Tegosept P; Uniphen P-23; Propyl 4hydroxybenzoate; Propyl Hydroxybenzoate. (HOPE 6th 2009,
hal. 596)
Struktur
(HOPE 6th 2009, hal. 596)
Rumus
molekul
C10H12O3 (HOPE 6th 2009, hal. 596)
Titik lebur
95o-99oC
Pemerian
Serbuk hablur putih, tidak berbau, tidak berasa (FI III hal. 535)
Mudah larut dalam aseton; larut dalam etanol 95% dengan
perbandingan 1:1,1 dan etanol 50% dengan perbandingan
Kelarutan
1:5,6; mudah larut dalam eter 1:10; gliserin 1:250; larut dalam
minyak mineral 1:3330; larut dalam minyak kacang 1:70;
propilenglikol 1:3,9; air 1:2500 dan 1:4350(dalam suhu 15oC)
serta 1:225 (dalam suhu 80oC). (HOPE 6th 2009, hal. 597)
Larutan propel paraben cair pada pH 3-6 dapat disterilkan
dengan autoklaf tanpa dekomposisi. Pada pH 3-6 larutan
Stabilitas
cairnya stabil (kurang dari 10% dekomposisi). Sementara pada
pH 8 atau lebih maka akan cepat mengalami hidrolisis. (HOPE
6th 2009, hal. 597)
Aktifitas propilparaben sebagai akan berkurang dengan
Inkompabilitas
adanya surfaktan non-ionik. Propilparaben berubah warna
dengan adanya besi dan mudah terhidrolisis oleh asam lemah
dan basa kuat. (HOPE 6th 2009, hal. 597)
Keterangan
Kegunaan : Sebagai pengawet anti mikroba. (HOPE 6th 2009,
lain
hal. 596)
Penyimpanan
Dalam wadah tertutup baik. (FI III 1979, hal. 535)
Kadar
penggunaan
Methylparaben (0,18%) bersama-sama dengan propil paraben
(0,02%) telah digunakan untuk pelestarian berbagai formulasi.
(HOPE 6th 2009, hal. 442)
6. Gliserin
Zat
Gliserin
Croderol; E422; glicerol; glycerine; glycerolum; Glycon G-
Sinonim
100; Kemstrene; Optim; Pricerine; 1,2,3-propanetriol;
trihydroxypropane glycerol. Propane-1,2,3-triol. (HOPE 6th
2009, hal. 283)
Struktur
(HOPE 6th 2009, hal. 283)
Rumus
molekul
Titik lebur
C3H8O3 (HOPE 6th 2009, hal. 283)
17.8oC (HOPE 6th 2009, hal. 283)
Pemerian
Putih, tidak berbau, bubuk kristal dengan memiliki rasa manis.
(HOPE 6th 2009, hal.283)
Larut 1:4 dalam air 25oC;
Larut 1:1,5 dalam air 100oC;
Kelarutan
Larut 1:1254 dalam etanol 95%;
Sangat mudah larut dalam eter.
(HOPE 6th 2009, hal. 284)
Stabil pada pH 5,6 - 6,6. (Japan Pharmacopoeia 15th, hal. 719)
Stabilitas
Terurai pada suhu 233oC, harus disimpan dalam wadah
tertutup rapat. (HOPE 6th 2009, hal. 284)
Mengalami reaksi dengan asam amino sehingga menghasilkan
Inkompabilitas
warna yang kekuningan atau kecoklatan. (HOPE 6th 2009, hal.
284)
Berat jenis dari gliserin adalah 1,16
Keterangan
1.2656g/cm3 pada 150C; 1.2636g/cm3 pada 200C; 1.2620g/cm3
lain
pada 250C
Penyimpanan
Kadar
penggunaan
Dalam wadah tertutup baik. (FI III hal. 272)
>30% (HOPE 6th 2009, hal. 283)
7. Propilenglikol
Zat
Propilenglikol
Sinonim
1,2-Dihydroxypropane; E1520; 2-hydroxypropanol; methyl
ethyl-ene glycol; methyl glycol; propane-1,2-diol;
propylenglycolum. (HOPE 6th 2009 hal. 592)
Struktur
(HOPE 6th 2009 hal. 592)
Rumus
molekul
C3H8O2. (HOPE 6th 2009 hal. 592)
Titik lebur
-590C. (HOPE 6th 2009 hal. 592)
Pemerian
Propilenglikol adalah cairan jernih, tidak berwarna, kental,
praktis tidak berbau rasa sedikit tajam menyerupai gliserin.
(HOPE 6th 2009 hal. 592)
Kelarutan
Larut dengan aseton, kloroform, etanol (95%), gliserin, dan
air; larut pada 1: 6 bagian eter. (HOPE 6th 2009 hal. 592)
Stabilitas
Stabil saat dicampur dengan etanol 95%, gliserin, higroskopis,
terlindung dari cahaya. (HOPE 6th 2009 hal. 592)
Inkompabilitas
Tidak kompatibel dengan reagen oksidasi seperti kalium
permanganat. (HOPE 6th 2009 hal. 593)
Keterangan
lain
Kegunaan: Pengawet anti mikroba, desinfektan, ko-solven.
Penyimpanan
Stabil dalam wadah tertutup, di tempat dingin dan bila
(HOPE 6th 2009 hal. 592)
terbuka, cenderung teroksidasi. (HOPE 6th 2009 hal. 593)
Kadar
penggunaan
10-25% sebagai kosolven pada sediaan oral. (HOPE 6th 2009
hal. 592)
8. BHT
Zat
Butil Hidroksi Toluen
Sinonim
Agidol; BHT; 2,6-bis(1,1-dimethylethyl)-4-methylphenol;
butyl-hydroxytoluene; butylhydroxytoluenum; Dalpac;
dibutylated hydroxytoluene; 2,6-di-tert-butyl-p-cresol; 3,5-ditert-butyl-4-hydroxytoluene; E321; Embanox BHT; Impruvol;
Ionol CP;Nipanox BHT;OHS28890;Sustane;Tenox
BHT;Topanol;Vianol.(HOPE 6th 2009 hal. 75)
Struktur
(HOPE 6th 2009, hal. 75)
Rumus
molekul
C15H24O. (HOPE 6th 2009, hal. 75)
Titik lebur
700C. (HOPE 6th 2009, hal. 75)
Pemerian
Butylated hydroxytoluene merupakan kristal padat berwarna
kuning putih atau pucat dengan bau fenolik yang samar.
(HOPE 6th 2009, hal. 75)
Kelarutan
Praktis tidak larut dalam air, gliserin, propilenglikol, solusi
hidroksida alkali, dan asam mineral berair. Bebas larut dalam
aseton, benzena, etanol (95%), eter, methanol, toluene, minyak
tetap, dan minyak mineral. Lebih larut dari butylated
hydroxyanisole dalam minyak dan lemak makanan. (HOPE 6th
2009, hal. 75)
Stabilitas
Paparan cahaya, kelembaban, dan panas menyebabkan
perubahan warna dan hilangnya aktivitas. (HOPE 6th 2009, hal.
76)
Inkompabilitas
Butylated hydroxytoluene adalah fenolik dan mengalami
reaksi karakteristik fenol. Hal ini tidak kompatibel dengan
oksidator kuat seperti peroksida dan permanganates. Kontak
dengan agen oksidasi dapat menyebabkan pembakaran
spontan. Garam besi menyebabkan perubahan warna dengan
hilangnya aktivitas. Pemanasan dengan jumlah katalitik asam
menyebabkan dekomposisi yang cepat dengan rilis dari
isobutene gas yang mudah terbakar. (HOPE 6th 2009, hal. 76)
Keterangan
lain
Kegunaan: antioksidan. (HOPE 6th 2009, hal. 75)
Penyimpanan
Butylated hydroxytoluene harus disimpan dalam wadah
tertutup baik, terlindung dari cahaya, di tempat yang sejuk dan
kering. (HOPE 6th 2009, hal. 76)
Kadar
penggunaan
0,5-1,0% (HOPE 6th 2009, hal. 75)
9. Sirupus Simpleks
Zat
Sirupus simplex
Sinonim
Beet sugar; cane sugar; a-D-glucopyranosyl-b-D
fructofuranoside; refined sugar; saccharose; saccharum;
sugar. (HOPE 6th 2009 hal. 703)
Struktur
Rumus
molekul
Titik lebur
C12H22O11. (HOPE 6th 2009 hal. 703)
1600–1860C (dengan dekomposisi). (HOPE 6th 2009 hal.
704)
Pemerian
Gula yang bersal dari Saccharum oficinarum Linne, Beta
vulgaris Linne. Berbentuk kristal tak berwarna, massa
kristal atau blok, bubuk kristal putih, tidak berbau, dan
memiliki rasa manis. (HOPE 6th 2009 hal. 703)
Kelarutan
Kelarutan dalam air 1 : 0,2 pada suhu 1000C, 1 : 400 dalam
etanol pada suhu 200C, 1 : 170 dalam etanol 95% pada suhu
200C, 1 : 400 dalam propan-2-ol, tidak larut dalam
kloroform. (HOPE 6th 2009 hal. 703)
Stabilitas
Stabilitas baik pada suhu kamar dan pada kelembaban yang
rendah. Sukrosa akan menyerap 1% kelembaban yang akan
melepaskan panas pada 90oC. Sukrosa akan menjadi
karamel pada suhu di atas 160oC. Sukrosa yang encer dapat
terdekomposisi dengan keberadaan mikroba. (HOPE 6th
2009 hal. 703)
Inkompabilitas
Bubuk sukrosa dapat terkontaminasi dengan adanya logam
berat yang akan berpengaruh terhadap zat aktif seperti
asam askorbat. Sukrosa dapat terkontaminasi sulfit dari
hasil penyulingan. Dengan jumlah sulfit yang tinggi, dapat
terjadi perubahan warna pada tablet yang tersalut gula.
Selain itu, sukrosa dapat bereaksi dengan tutup aluminium.
(HOPE 6th 2009 hal. 706)
Keterangan
Kegunaan: Pemanis, coating agent, granulating agent,
lain
suspending agent, tablet binder, sugar coating adjust,
peningkat viskositas. (HOPE 6th 2009 hal. 704)
Penyimpanan
Harus disimpan di tempat yang sejuk dan kering. (HOPE
6th 2009 hal. 704)
Kadar
Sebagai pembawa oral sirup digunakan dengan kadar 20-
penggunaan
60%. (HOPE 6th 2009 hal. 704)
10. Aquadest
Zat
Aquadest
Sinonim
Aqua; aqua purificata; hydrogen oxide.{HOPE 6th 2009}
Struktur
Rumus
molekul
H2O {HOPE 6th 2009}
Titik lebur
00C. {HOPE 6th 2009}
Pemerian
Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai
rasa.{FI III hal. 96}
Kelarutan
Dapat bercampur dengan pelarut polar lainnya. {HOPE 6th
2009}
Stabilitas
Stabilitas baik pada keadaan fisik (padat, cair, gas). {HOPE 6th
2009}
Inkompabilitas Air dapat bereaksi dengan obat-obatan dan bahan tambahan
lain yang rentan terhadap hidrolisis (dekomposisi dalam
adanya air atau uap air) pada suhu yang tinggi. Air juga dapat
bereaksi dengan logam alkali seperti kalsium oksida dan
magnesium oksida. Selain itu air juga bereaksi dengan garam
anhidrat untuk membentuk hidrat dari berbagai komposisi, dan
dengan bahan organik tertentu dan kalsium karbida.{HOPE 6th
2009}
Keterangan
Kegunaan: Pelarut untuk pembuatan produk obat-obatan dan
lain
sediaan farmasi, tidak cocok untuk digunakan dalam
pembuatan produk parenteral. {HOPE 6th 2009}
Penyimpanan
Wadah yang dapat membatasi pertumbuhan mikroorganisme
dan mencegah kontaminasi kegunaan pelarut. {HOPE 6th
2009}
11. Pasta Melon
Pemerian
Cair, berwarna hijau muda, aroma melon, rasa manis.
Kelarutan
Larut dalam air.
Kegunaan
Flavouring agent dan Pewarna.
IV.
PERMASALAHAN FARMASETIK DAN PENYELESAIAN
No. Permasalahan
Penyelesaian
Maka perlu ditambahkan emulgator
Zat aktif merupakan minyak mineral sebanyak 5% untuk menyatukan/
1
dan akan dibuat sediaan cair,
menurunkan tegangan permukaan
sediaan harus stabil.
antara air dan minyak mineral yaitu
Tween 80 dan Span 80.
2
Dibuat sediaan cair yang ditujukan
Maka perlu ditambahkan pemanis
untuk dewasa dan lansia, sediaan
yaitu sirupus simplex sebanyak
dibuat manis.
22,5%.
Sediaan dibuat untuk multiple dose
3
dan pembawanya cair, mka rentan
terhadap pertumbuhan
Sediaan mengandung sejumlah
pemanis dari gulasehingga dapat
menyebabkan pengkristalan pada
leher botol.
5
campuran antara metilparaben
(sebanyak 0,08%) dan
propilparaben(sebanyak 0,02%).
mikroorganisme.
4
Maka ditambahkan pengawet
Sediaan harus menarik
Maka perlu ditambahkan
anticaplocking agent yaitu gliserin
sebanyak 10%.
Maka ditambahkan perasa melon.
Maka ditambahkan antioksidan
6
Sediaan mudah terurai dan tidak
BHT sebanyak 0.001% serta
tahan cahaya.
dikemas dengan botol berwarna
coklat.
Karena zat aktif bersifat minyak dan
7.
dibuat di fase dalam karena harus
Maka suspense dibuat tipe o/w.
terlindung dari cahaya.
V.
PENDEKATAN FORMULA
No. Nama Bahan
Jumlah
Kegunaan
1.
Paraffin Liquid
30%
Zat aktif
2.
Span 80 & Tween 80
5%
Emulgator
3.
Metilparaben
0,08%
Pengawet, anti mikroba
4.
Propilparaben
0,02%
Pengawet, anti mikroba
5.
Gliserin
10%
Anticaplocking agent
6.
Propilenglikol
10%
Pengental
7.
BHT
0.75%
Antioksidan
8.
Sirupus simpleks
22,5%
Pemanis
9.
Aquadest
47,1%
Pelarut
10.
Pasta melon
160 tetes
Perasa, pewarna dan pengaroma
VI.
PENIMBANGAN
Dibuat sediaan 8 botol (@ 60 ml) = 480 ml
No. Nama Bahan
Jumlah yang Ditimbang
1.
Paraffin Liquid
150 gram
2.
Tween 80
0,18 gram
3.
Span 80
0,07 gram
4.
Methylparaben
0,4 gram
5.
Prophylparaben
0,1 gram
6.
Gliserin
63
7.
Propilenglikol
51,9 gram
8.
BHT
3,75 gram
9.
Sirup Simplex
112,5 gram
10.
Aquadest
108,25 ml
11.
Pasta Melon
160 tetes
VII.
gram
PROSEDUR PEMBUATAN
A. Kalibrasi beaker glass utama
1. Diukur air sebanyak 500 ml ke dalam beaker glass 500 ml.
2. Dituang ke dalam beaker glass utama.
3. Diberi tanda batas air di permukaan beaker glass.
4. Dikeluarkan air dari beaker glass, lalu keringkan.
B. Kalibrasi botol
1. Diukur air sebanyak 62 ml dengan menggunakan gelas ukur 100 ml,
tuangkan air ke dalam botol.
2. Diberi tanda batas kalibrasi pada botol, lalu keluarkan air dan keringkan.
C. Menimbang bahan yang diperlukan
1. Paraffin liquidum
= 150 gram
2. Tween 80
= 18 gram
3. Span 80
= 7 gram
4. Gliserin
= 63 gram
5. Propilenglikol
= 51,9 gram
6. Butilhidroksi Toluen
= 3,75 gram
7. Methylparaben
= 0,4 gram
pelarut propilenglikol 1 : 5
= 0,4 gram x 5 = 2 gram
2 gram x 1,038 (BJ)
8. Prophylparaben
= 2,076 gram
= 0,1 gram
pelarut propilenglikol 1 : 3,9 = 0,1 gram x 3,9 = 0,39 gram
0,39 gram x 1,038 (BJ)
= 0,4 gram
9. Sirupus simpleks
= 112,5 gram + 30% = 146,25 gram
10. Pasta Melon
= 160 tetes
11. Aquadest
= 108,25 ml
D. Pembuatan sirupus simpleks
1. Ditimbang sebanyak 95 gram Sakarum Album dalam cawan porselen atau
beaker glass 100 ml
2. Dipanaskan Aquadest sebanyak 51,25 ml hingga mendidih kedalam
beaker glass dengan menggunakan kompor listrik
3. Lalu dimasukan Sakarum Album kedalam beaker glass, aduk hingga larut
lalu serkai dengan kain batis, diamkan hingga dingin.
4. Ditimbang sebanyak 112,5 gram dengan menggunakan beaker glass
E. Pembuatan Emulsi Paraffin Liquidum
Berdasarkan Metode Kontinental / Kering :
a. Pembuatan fase luar
1. Dilarutkan Methylparaben 0,4 gram dengan Propilenglikol sebanyak
2,076 gram dan Prophylparaben 0,1 gram ke dalam Propilenglikol
sebanyak 0,4 gram, aduk sampai larut, kemudian campurkan kedua
zat tersebut kedalam beaker glass utama, aduk sampai homogen.
2. Lalu ditambahkan Sirupus Simpleks sebanyak 112,5 gram kedalam
beaker glass utama, aduk hingga homogen.
3. Dimasukkan Tween 80 sebanyak 18 gram kedalam aquadest sebanyak
54 ml di beaker glass 100 ml. Dipanaskan dengan suhu 600C dan
diaduk sampai homogen.
4. Kemudian campuran Tween 80 dan Aquadest, dimasukkan ke dalam
beaker glass utama. Diaduk hingga homogen.
5. Ditambahkan Gliserin sebanyak 63 gram kedalam beaker glass utama,
diaduk hingga homogen.
b. Pembuatan fase dalam
1. Dilarutkan Butil Hidroksi Toluen sebanyak 3,75 gram dengan
Paraffin Liquid sebanyak 75 gram di dalam beaker glass, aduk sampai
larut. (Campuran 1)
2. Dimasukkan Span 80 sebanyak 7 gram kedalam Paraffin Liquid
sebanyak 75 gram. Dipanaskan dengan suhu 600C dan diaduk sampai
homogen, sebagai fase dalam / minyak. (Campuran 2)
3. Dimasukkan campuran 1 dan campuran 2 kedalam beaker glass
utama, kemudian aduk hingga homogen. (Campuran 3)
c. Pembuatan Emulsi Paraffin Liquid 30%
1. Dimasukkan fase dalam kedalam fase luar yang ada di beaker glass
utama. Diaduk hingga homogen.
2. Kemudian ditambahkan sisa Aquadest sebanyak 54,25 ml. Diaduk
homogen.
3. Ditambahkan pasta melon sebanyak 160 tetes kedalam beaker glass
utama. Diaduk hingga homogen.
4. Dimasukkan emulsi ke dalam botol coklat yang telah ditara sebanyak
62 ml, tutup rapat.
5. Diberi etiket dan kemas.
IX. PEMBAHASAN
Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat atau larutan obat,
terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan
yang cocok. Emulsi merupakan termodinamika stabil, dimana suatu sistem
heterogen yang terdiri dari paling sedikit 2 cairan yang tidak saling bercampur,
dimana salah satunya sebagai fase dalam fase terdispersi (fase internal) terdispersi
secara seragam dalam bentuk tetesan-tetesan kecil pada medium pendispersi ( fase
eksternal) yang distabilkan dengan emulgator yang cocok.
.
Parafin liquid 30 % sebagai zat aktif dalam sediaan ini dibuat dalam bentuk
emulsi untuk digunakan secara oral yang fungsinya sebagai laksativ (obat pencahar).
Parafin terdiri atas campuran senyawa hidrokarbon cair jenuh yang diperoleh dari
minyak bumi.
Pada percobaan sediaan emulsi ini, emulgator yang digunakan pada formula
adalah gabungan Tween 80 dan Span 80 sebanyak 5% dimana berfungsi untuk zat
pengemulsi serta meningkatkan viskositas agar didapat sediaan dengan viskositas
yang baik dan untuk menstabilkan sediaan (emulsi). Emulgator yang digunakan pada
formula ini merupakan surfaktan nonionic. Surfaktan nonionic merupakan surfaktan
yang tidak membentuk ion negatif maupun positif sehingga bersifat netral.
Emulsi yang baik adalah emulsi yang berwarna seperti putih susu, dan jika
dikocok atau diberi gaya dan tekanan, viskositasnya akan bertambah kecil sehingga
emulsi tersebut mudah dituang.
Dalam pembuatan sediaan emulsi ini ada yang dinamakan fase dalam dan ada
juga yang namanya fase luar. Dalam sediaan yang kami buat, kami mencampurkan
fase dalam ke fase luar. Fase dalamnya sendiri terdiri atas Butil Hidroksi Toluen dan
Span 80 yang dicampurkan dengan fase minyak yaitu Paraffin Liquid. Sedangkan fase
luarnya terdiri atas Methylparaben dan Prophylparaben yang dilarutkan kedalam
Propilenglikol, Tween 80 yang dilarutkan kedalam aquadest, Sirupus Simplex dan
Gliserin. Setelah semua dilarutkan di masing- masing fase, kemudian dibuatlah emulsi
Paraffin Liquid.
Untuk menstabilkan sediaan emulsi dalam jangka waktu yang lama
dikarenakan kemungkinan adanya kontaminasi bakteri dan jamur, ditambahkan bahan
pengawet Methylparaben 0,08% dan Prophylparaben 0,02% ke dalam sediaan.
Pemilihan bahan pengawet ini harus selektif dan hati-hati dalam sediaan emulsi. Perlu
diperhatikan masalah kelarutan pengawet dalam kedua fase, karena jika koefisien
partisinya kurang ataupun lebih dari 1, maka bahan pengawet hanya akan larut dan
bekerja pada fase terlarutnya.
Zat aktif Parafin Liquid mempunyai inkompabilitas dengan zat oksidator yang
akan membuat sediaan kurang stabil seperti : minyak menjadi mudah bebau tengik.
Oleh karena sifatnya yang mudah teroksidasi, ditambahkan zat antioksidan Butil
Hidroksi Toluen sebanyak 0,75%. Syarat bahan antioksidan salah satunya adalah
harus efektif pada konsentrasi rendah, maka dari itu ditambahkan BHT dengan kadar
0,75 %.
Kedalam formula juga ditambahkan Sirup Simplex sebanyak 22,5%.
Ditambahkannya zat ini agar sediaannya mudah diterima pasien, khususnya untuk
lansia sesuai yang kita tujukan. Karena jika tidak ditambahkan pemanis, ditakutkan
rasanya tidak enak yang akhirnya tidak bias diterima oleh pasien.
Selain itu, karena kelompok kami menggunakan pemanis Sirupus Simplex
yang tidak sedikit, maka ditambahkan pula Gliserin 10% yang fungsinya sebagai
anticaplocking agent yaitu mencegah terjadinya kristalisasi gula di leher botol, apalagi
pemakaiannya multiple dose.
Propilenglikol 10% pun ditambahkan kedalam sediaan emulsi yang kami buat
untuk pengental, agar sediaan tidak terlalu encer.
Setelah sediaan selesai dibuat, kemudian dilanjutkan dengan evaluasi yang
bertujuan untuk mengetahui apakah sediaan yang kita buat itu baik atau masih banyak
kekurangannya. Yang pertama adalah uji volume terpindahkan. Uji volume
terpindahkan dalam emulsi berbeda dengan pengujian dalam larutan. Dalam emulsi
ini, untuk melakukan uji volume terpindahkan yaitu pertama kita harus menimbang
botol yang berisi sediaan (W1). Setelah itu isi didalam botol dituang ke beaker glass,
lalu botolnya dicuci dan di keringkan kemudian ditimbang kembali botol yang sudah
dicuci kering tersebut (W0). Untuk mendapat berat sediaan, yaitu dengan cara W1 - W0
dan diambil rata- ratanya dari 3 botol yang diuji.
Uji selanjutnya adalah uji organoleptik meliputi pengamatan warna, bau dan
rasa terhadap campuran larutan sebelum penggenapan volume. Dari hasil evaluasi uji
organoleptik ini ternyata terdapat rasa pahit yang berasal dari pengawet
Methylparaben. Namun untuk bau dan warna sudah cukup stabil. Setelah itu kita
melakukan uji pH. Sebelum tiba waktunya dilakukan evaluasi terhadap sediaan, kita
harus menghitung pH nya terlebih dahulu agar mengetahui apakah sediaan yang
dibuat stabil atau tidak dan pH awalnya adalah 6. Setelah diuji didapatkan bahwa pH
nya stabil selama penyimpanan yaitu 6.
Tidak hanya itu, kami pun melakukan uji penetapan bobot jenis dengan
menggunakan piknometer. Sama seperti halnya uji volume terpindahkan. Kita harus
menimbang piknometer kosong (W0) terlebih dahulu lalu diisi sediaan yang akan diuji
dan ditimbang kembali (Ws). Dan untuk menghitung berat jenis nya adalah BJ = Ws /
10 ml. Sehingga kita mengetahui BJ sediaan, BJ air dan BJ relatif sesuai yang
tercantum pada hasil evaluasi.
Selanjutnya adalah uji viskositas dengan metode falling ball yaitu dengan
menggunakan kelereng yang sebelumnya telah dihitung beratnya. Lalu kelereng
tersebut dijatuhkan kedalam gelas ukur dan dihitung berapa waktu yang diperlukan
kelereng untuk sampai di bawah gelas ukur. Waktu ini akan menunjukkan seberapa
kentalnya sediaan yang dibuat. Setelah didapat barulah kita membandingkannya
dengan viskositas Paraffin Liquid atau Sorbitol. Hasil pengamatan seperti yang
terlihat pada tabel hasil evaluasi.
Uji yang terakhir adalah uji sedimentasi. Untuk uji ini diperlukan waktu yang
cukup lama untuk melihat sedimentasi yang terbentuk. Dari mulai 10 menit, 20 menit,
30 menit, 1 jam, 2 jam, 1 hari, 3 hari dan 7 hari.
X. KESIMPULAN
Formulasi yang tepat untuk sediaan yang dibuat adalah sebagai berikut.
No. Nama Bahan
Jumlah
Kegunaan
1.
Paraffin Liquid
30%
Zat aktif
2.
Span 80 & Tween 80
5%
Emulgator
3.
Metilparaben
0,08%
Pengawet, anti mikroba
4.
Propilparaben
0,02%
Pengawet, anti mikroba
5.
Gliserin
10%
Anticaplocking agent
6.
Propilenglikol
10%
Pengental
7.
BHT
0.75%
Antioksidan
8.
Sirupus simpleks
22,5%
Pemanis
9.
Aquadest
47,1%
Pelarut
10.
Pasta melon
160 tetes
Perasa, pewarna dan pengaroma
XI. DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1995. Farmakope Indonesia edisi IV. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta.
Anonim. 1979. Farmakope Indonesia edisi III. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta.
Rowe, Raymond C; Sheskey, Paul J; Quinn, Marian E. 2009. Handbook of
Pharmaceutical Excipients 6th ed. London: Pharmaceutical Press.
The Departement Of Health British. 2009. British Pharmacopoeia Volume I & II.
London: The Stationery Office
Tjay, Than Hoan dan Kirana Rahardja. 2007. Obat-Obat Penting edisi VI, Jakarta:
Elex Media Komputindo.
H.A.Syamsuni, Drs. 2005. Ilmu Resep. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC .
Anief,Moh. 2010. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta : Gadjah Mada University
Press.
Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran UI. 2009.
Farmakologi dan Terapi edisi V. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
Ministry of Health, Labour and Walfare. 2001. Japanese Pharmacopoeia ed. 15th
XII. LAMPIRAN
LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNOLOGI SEDIAAN LIQUIDA DAN SEMISOLIDA
“Emulsi Paraffin Liquid”
Disusun oleh:
NISA FITRIANI AR-RIFA
P17335113020
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANDUNG
JURUSAN D3 FARMASI
2014
Jl. Prof. Eyckman 24 Bandung
Download