58756 prosedur hplc

advertisement
No.
Prosedur
Hasil
6.1 Preparasi Larutan Buffer (Fase Gerak-A)
1.
Melarutkan 1,36 gram mg dalam 1 L akuabides,
lalu menyaring larutan dengan kertas saring 0,45
mikron (Narayanan & Austin, 2016).
6.2 Preparasi larutan standar
1.
Membuat larutan stok standar parasetamol dan
kafein dengan konsentrasi 100 ppm dengan cara
melarutkan masing-masing 10 mg standar dalam
100 mL fase gerak
2.
Mengencerkan
larutan
standar
parasetamol
sehingga didapat larutan standar konsentrasi 250,
200, 150, 100 dan 50 ppm. Mengencerkan larutan
standar kafein sehingga didapat larutan standar
konsentrasi 25, 20, 15, 10 dan 5 ppm (Sharma et
al., 2011)
6.3 Preparasi Sampel
1.
Menggerus 20 tablet hingga homogen lalu
menimbang bobotnya.
2.
Menimbang serbuk tablet sehingga ekuivalen
dengan 500 mg parasetamol dan 65 mg kafein
(panadol merah), lalu melarutkannya dalam 250
mL metanol (HPLC grade). Mensonikasi larutan
sampel selama 30 menit.
3.
Mengencerkan
larutan
sampel
menjadi
konsentrasi 50 ppm parasetamol dan 20 ppm
kafein. Menyaring larutan dengan kertas saring
0,45 mikron (Sharma et al., 2011)
6.4 Validasi linearitas
1.
Menginjeksikan seri konsentrasi larutan standar
parasetamol (50 sampai 250 ppm) dan kafein (5
sampai 25 ppm) yang telah dibuat pada sistem
KCKT.
2.
Membuat plot garis hubungan antara AUC
terhadap konsentrasi dan melihat hasil koefisien
korelasinya (Sharma et al., 2011)
6.5 Validasi akurasi
1.
Mengukur larutan standar parasetamol pada
konsentrasi 150, 100 dan 50 ppm dengan 3 kali
pengulangan. Mengukur larutan standar kafein
pada konsentrasi 15, 10 dan 5 ppm dengan 3 kali
pengulangan.
2.
Memasukkan data AUC yang diperoleh ke
persamaan regresi yang didapat dari kurva
kalibrasi
sehingga
Menghitung
hasil
didapat
konsentrasinya.
perolehan
kembali
(%
recovery) dengan rumus :
%  =
 
 
 100%
6.6 Validasi presisi
1.
Menginjeksikan larutan standar parasetamol pada
konsentrasi 50 ppm (n=6) dan standar kafein pada
konsentrasi 5 ppm (n=6) pada sistem KCKT.
Pengujian dilakukan secara intraday (pada hari
yang sama) dan interday (pada hari yang berbeda,
selama 3 hari) (Sharma et al., 2011)
2.
Menghitung standar deviasi relatif (%RSD)
dengan rumus :
%  =

̅
 100%
6.7 Validasi LOD
1.
LOD dihitung berdasarkan pendekatan standar
deviasi (SD) dan slope dari hasil kurva kalibrasi
menggunakan rumus  =
3,3  

(ICH, 2005)
6.8 Validasi LOQ
1.
LOQ dihitung berdasarkan pendekatan standar
deviasi (SD) dan slope dari hasil kurva kalibrasi
menggunakan rumus  =
10  

(ICH, 2005)
6.9 Validasi spesifisitas
1.
Menginjeksikan larutan blanko (tanpa sampel)
pada sistem KCKT untuk melihat ada atau
tidaknya interference yang ditimbulkan.
Menginjeksikan larutan obat 20 ppm pada sistem
KCKT
untuk
melihat
keterpisahan
puncak
parasetamol dan kafein dari impurities jika ada
2.
Jika tidak ada interference dan perubahan waktu
retensi maka metode dapat dikatakan spesifik
(Sharma et al., 2011)
6.10 Validasi ketegaran/robustness
1.
Uji ketegaran dilakukan dengan mengubah
komposisi, pH dan laju alir fase gerak, lalu
mengevaluasi karakteristik kromatogram seperti
waktu retensi, tailing factor, faktor kapasitas,
jumlah plat teoritis dan resolusi (Sharma et al.,
2011)
6.11 Penetapan kadar parasetamol dan kafein dalam tablet
1.
Menginjeksikan larutan sampel tablet yang
disiapkan pada sistem KCKT (n=3) (Sharma et
al., 2011)
2.
Menghitung kadar parasetamol dan kafein dalam
sampel dengan substitusi nilai AUC sampel pada
persamaan kurva kalibrasi yang telah didapat
Download
Related flashcards
Create Flashcards