TUGAS UTS 0106517002 ANISSAH FADILA TAHARANI ROMBEL A 2017

advertisement
BAHAYA LABELING NEGATIF TERHADAP
PEMBENTUKAN KONSEP DIRI PADA ANAK DENGAN
GANGGUAN EMOSIONAL DAN PERILAKU (TUNA LARAS)
DALAM PERSPEKTIF KONSELING LINTAS BUDAYA
Anissah Fadila Taharani
Pascasarjana Universitas Negeri Semarang
[email protected]
Abstract
Negative labeling is a form of identity given by an individual or group to
individuals or other groups through a negative assessment of the deficiencies they
have, labeling tends to be given to people who have behavioral irregularities that
are not in accordance with the norms in society. A person who is labeled will
experience a role change and will likely apply as the label given to him. Selfconcept can be interpreted as a perception or outlook or an individual's
assessment of himself. Tunalaras children are those who experience obstacles in
the development of emotional, social or both aspects, so that behavior tends to be
deviant, not in accordance with age and the demands of social norms that apply
in their environment children with emotional and behavioral disorders
desperately need cross-cultural counseling in order to develop personal, social,
psychological, and spiritual aspects.
Keywords : Negative Labeling, Self Concept, Emotional and Behavior Disorder
Abstrak
Labeling negatif merupakan bentuk identitas yang diberikan oleh individu
atau kolompok pada individu maupun kelompok lain melalui penilaian negative
dari kekurangan yang mereka miliki, Labeling cenderung diberikan pada orang
yang memiliki penyimpangan perilaku yang tidak sesuai dengan norma di
masyarakat. Seseorang yang diberi label akan mengalami perubahan peranan dan
cenderung akan berlaku seperti label yang diberikan kepadanya. Konsep diri dapat
diartikan sebagai persepsi atau pandangan maupun penilaian individu terhadap
dirinya sendiri. Anak tunalaras adalah mereka yang mengalami hambatan dalam
perkembangan aspek emosi, sosial atau keduanya, sehingga dalam berperilaku
cenderung menyimpang, tidak sesuai dengan usia dan tuntutan norma-norma
sosial yang berlaku di lingkungannya anak dengan gangguan emosi dan perilaku
sangat membutuhkan konseling lintas budaya agar dapat mengembangkan aspek
pribadi, sosial, psikologis, dan spiritualnya.
Kata Kunci : Labeling negatif, Konsep diri, Anak Tuna Laras
PENDAHULUAN
Labeling negative merupakan bentuk identitas yang diberikan oleh individu
atau kolompok pada individu maupun kelompok lain melalui penilaian negative
dari kekurangan yang mereka miliki, Labeling cenderung diberikan pada orang
yang memiliki penyimpangan perilaku yang tidak sesuai dengan norma di
masyarakat. Seseorang yang diberi label akan mengalami perubahan peranan dan
cenderung akan berlaku seperti label yang diberikan kepadanya. Ketika seorang
anak yang diberi label negatif berdampak pada ekspektasinya diri bukan hanya
terkait pendidikan namun juga berdampak pada perkembangan psikologisnya dan
konsep dirinya misalnya seorang anak diberi label “nakal” maka ia pada akhirnya
akan menjadi anak yang nakal.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Hurlock (2011) bahwa awal masa kanakkanan dapat dianggap sebagai ‘saat belajar’ untuk diberi keterampilan dan apabila
anak tidak diberi kesempatan mempelajari keterampilan tertentu. Bagi anak yang
masih membutuhkan penguatan dan motivasi dari orang tua tentu menjadikan
modal dia untuk terus berkembang. Sebaliknya anak yang diberi label negatif
menjadikan dirinya persepsi diri akan konsep diri yang lemah. Jacinta F. Rini
(dalam Murmanto,2007) mengartikan konsep diri secara umum sebagai
keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang terhadap dirinya.
Anak tunalaras adalah mereka yang mengalami hambatan dalam
perkembangan aspek emosi, sosial atau keduanya, sehingga dalam berperilaku
cenderung menyimpang, tidak sesuai dengan usia dan tuntutan norma-norma
sosial yang berlaku di lingkungannya, hal ini yang menjadi permasalahan dalam
masyarakat saat ini, seringkali masyarakat memberikan labeling negatif , respon
negative bahkan penolakan pada anak yang mengalami gangguan sehingga
bukannya masalah pada anak akan terselesaikan namun akan bertambah parah
karena akan mengganggu proses pembentukan konsep dirinya, untuk itu anak
dengan gangguan emosi dan perilaku sangat membutuhkan konseling lintas
budaya dimana konseling lintas budaya berperan untuk membantu proses
mendefinisikan tujuan yang konsisten dengan pengalaman hidup dan nilai-nilai
budaya klien, mengenali Identitas klien untuk memasukkan dimensi individu,
kelompok, dan universal, mendukung penggunaan universal dan strategi dan
peran khusus budaya dalam proses penyembuhan, dan menyeimbangkan
pentingnya individualisme dan kolektivisme dalam penilaian, diagnosis, dan
perawatan klien dan sistem klien (D. W. Sue & Torino, 2005).
PEMBAHASAN
LABELLING NEGATIF
Labeling negative merupakan bentuk identitas yang diberikan oleh individu
atau kolompok pada individu maupun kelompok lain melalui penilaian negative
dari kekurangan yang mereka miliki, hal ini serupa dengan Mullen (dalam
Galinsky, 2013) yang menjelaskan bahwa labeling negatif diungkapkan dalam
bentuk penghinaan dan cemoohan, dan sebagai pemberi stigma mereka mewakili
kelompok yang memiliki keadaan mekanisme kontrol sosial yang kuat dari pada
kelompok yang tidak diberdayakan (minoritas). Sedangkan menurut Sujono
(dalam psychologymania, 2013) definisi labeling adalah identitas yang diberikan
oleh kelompok kepada individu berdasarkan ciri-ciri yang dianggap minoritas oleh
suatu kelompok masyarakat.
Labeling cenderung diberikan pada orang yang memiliki penyimpangan
perilaku yang tidak sesuai dengan norma di masyarakat. Seseorang yang diberi
label akan mengalami perubahan peranan dan cenderung akan berlaku seperti
label yang diberikan kepadanya. Ketika seorang anak yang diberi label negatif
berdampak pada ekspektasinya diri bukan hanya terkait pendidikan namun juga
berdampak pada perkembangan psikologisnya dan konsep dirinya misalnya
seorang anak diberi label “nakal” maka ia pada akhirnya akan menjadi anak yang
nakal. Pada umumnya pemberian label negatif pada umumnya menyimpulkan
secara umum bahwa sosok orang yang diberi label memiliki gambaran diri yang
negatif, padahal stigma tersebut tidak sepenuhnya benar karena ada alasan tertentu
mengapa seseorang anak bisa mengalami gangguan tersebut. Hal ini sesuai
dengan pernyataan Hurlock (2011) bahwa awal masa kanak-kanan dapat dianggap
sebagai ‘saat belajar’ untuk diberi keterampilan dan apabila anak tidak diberi
kesempatan mempelajari keterampilan tertentu. Bagi anak yang masih
membutuhkan penguatan dan motivasi dari orang tua tentu menjadikan modal dia
untuk terus berkembang. Sebaliknya anak yang diberi label negatif menjadikan
dirinya persepsi diri akan konsep diri yang lemah.
KONSEP DIRI
Konsep diri dapat diartikan sebagai persepsi atau pandangan maupun
penilaian individu terhadap dirinya sendiri, Jacinta F. Rini (dalam
Murmanto,2007) mengartikan konsep diri secara umum sebagai keyakinan,
pandangan atau penilaian seseorang terhadap dirinya. Burns (dalam Anissa, 2012)
konsep diri adalah suatu gambaran campuran dari apa yang kita pikirkan, orangorang lain berpendapat mengenai diri kita, dan seperti apa diri yang kita inginkan.
Hal ini sesuai dengan Hurlock (2011) yang menjelaskan bahwa konsep diri adalah
konsep seseorang dari siapa dan apa dia itu. Konsep ini merupakan bayangan
cermin, ditentukan sebagian besar oleh peran dan hubungan dengan orang lain,
dan apa yang kiranya reaksi orang lain terhadapnya. Konsep diri mencakup citra
diri fisik dan psikologis. Citra diri fisik biasanya berkaitan dengan penampilan,
sedangkan citra diri psikologis berdasarkan atas pikiran, perasaan, dan emosi.
ANAK TUNA LARAS
Anak tunalaras adalah mereka yang mengalami hambatan dalam
perkembangan aspek emosi, sosial atau keduanya, sehingga dalam berperilaku
cenderung menyimpang, tidak sesuai dengan usia dan tuntutan norma-norma
sosial yang berlaku di lingkungannya, hal ini sesuai dengan Lynch dan lewis
(dalam Putra dkk, 2011) yang menyatakan bahwa anak tunalaras adalah individu
yang mempunyai tingkah laku yang menyimpang/berkelainan, tidak memiliki
sikap, melakukan pelanggaran terhadap peraturan dan norma-norma sosial dengan
frekuensi yang cukup besar, tidak/kurang mempunyai toleransi terhadap
kelompok dan orang lain, serta mudah terpengaruh oleh sesuana, sehingga
membuat kesulitan bagi diri sendiri maupun orang lain. Anak tunalaras menurut
Kauffman (dalam Hanif, 2010) adalah anak-anak yang mengalami gangguan
perilaku sebagai anak yang secara nyata dan menahun merespon lingkungan tanpa
ada kepuasan pribadi namun masih dapat diajarkan perilaku-perilaku yang dapat
diterima oleh masyarakat dan dapat memuaskan pribadinya.
Salah satu kriteria untuk mengidentifikasi seorang anak memiliki emosi
dan perilaku Gangguan (EBD) adalah apakah dia memiliki ketidakmampuan
untuk belajar yang tidak dapat dijelaskan oleh faktor-faktor lain (Individu dengan
Disabilities Education Act [IDEA] dalam Trout, 2003 ).
Sedangkan Hallahan dan Kauffman (dalam Mahabbati, 2010) menjelaskan
bahwa gangguan tuna laras adalah gangguan emosi dan perilaku dan dapat
dimulai dari tiga ciri khas kondisi emosi dan perilaku, yaitu:
1. Tingkah laku yang sangat ekstrim dan bukan hanya berbeda dengan
tingkah laku anak lainnya
2. Suatu problem emosi dan perilaku yang kronis, yang tidak muncul secara
langsung
3. Tingkah laku yang tidak diharapkan oleh lingkungan karena bertentangan
dengan harapan sosial dan kultural.
BAHAYA LABELING NEGATIF TERHADAP PEMBENTUKAN KONSEP
DIRI PADA ANAK DENGAN GANGGUAN EMOSIONAL DAN
PERILAKU (TUNA LARAS) DALAM PERSPEKTIF KONSELING
LINTAS BUDAYA
Labeling cenderung diberikan pada orang yang memiliki penyimpangan
perilaku yang tidak sesuai dengan norma di masyarakat. Seseorang yang diberi
label akan mengalami perubahan peranan dan cenderung akan berlaku seperti
label yang diberikan kepadanya,
Salah satu contoh masalahnya adalah tuna laras, tuna laras adalah mereka
yang mengalami hambatan dalam perkembangan aspek emosi, sosial atau
keduanya, sehingga dalam berperilaku cenderung menyimpang, tidak sesuai
dengan usia dan tuntutan norma-norma sosial yang berlaku di lingkungannya. hal
ini yang menjadi permasalahan dalam masyarakat saat ini, seringkali masyarakat
memberikan labeling negatif , respon negative bahkan penolakan pada anak yang
mengalami gangguan sehingga bukannya masalah pada anak akan terselesaikan
namun akan bertambah parah karena akan mengganggu proses pembentukan
konsep dirinya, hal ini sesuai dengan yang dijelaskan oleh Hallahan dan
Kauffman (dalam Hanif, 2010) bahwa gangguan sosial, emosi dan karakteristik
tuna laras akan mengakibatkan penolakan sosial dalam masyarakat karena
perilakunya yang tidak sesuai dengan norma-norma yang ada pada masyarakat,
penolakan ini bisa terjadi mulai dari orang tuanya, teman sebaya atau bahkan guru
disekolah yang pada akhirnya mengakibatkan terganggunya proses pembentukan
konsep diri anak, anak akan menjadi merasa bersalah dan semakin menutup diri
dari lingkungan, anak tidak menjadi tau dimana letak kesalahan dan bagaimana
perilaku yang seharusnya atau perilaku mana yang dapat diterima masyarakat
selain itu anak juga butuh penerimaan dan rasa aman dari orang disekitarnya.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa labeling dari
masyarakat dapat bedampak negative pada perkembangan psikologis pada anak
yang jika tidak ditangani secara tepat. Jika permasalahan tersebut dipandang
melalui perspektif konseling lintas budaya labeling merupakan sebuah tindakan
yang dapat menimbulkan kesenjangan secara sosial, untuk itu anak dengan
gangguan emosi dan perilaku sangat membutuhkan konseling lintas budaya
dimana konseling lintas budaya berperan untuk membantu proses mendefinisikan
tujuan yang konsisten dengan pengalaman hidup dan nilai-nilai budaya klien,
mengenali Identitas klien untuk memasukkan dimensi individu, kelompok, dan
universal, mendukung penggunaan universal dan strategi dan peran khusus
budaya dalam proses penyembuhan, dan menyeimbangkan pentingnya
individualisme dan kolektivisme dalam penilaian, diagnosis, dan perawatan klien
dan sistem klien (D. W. Sue & Torino, 2005). Selain itu D'Andrea dan Daniels
(1995) mendefinisikan tentang konseling lintas budaya lebih spesifik yaitu
sebuah proses di mana seorang profesional terlatih dari satu latar belakang budaya
/ etnis / ras berinteraksi dengan klien dari latar belakang budaya / etnis / ras yang
berbeda untuk tujuan mempromosikan pengembangan kognitif, emosional,
psikologis, dan / atau spiritual klien. Adapun kompetensi yang harus dimiliki oleh
konselor multicultural adalah :
1. Kesadaran Terapis tentang Asumsi, Nilai, dan Bias
Konselor profesional yang kompeten secara budaya adalah orang yang aktif
dalam proses menjadi sadar akan anggapannya sendiri tentang perilaku
manusia, nilai, bias, prasangka yang terbentuk sebelumnya, keterbatasan
pribadi, dan sebagainya.
2. Memahami Pandangan tentang Klien yang Beragam Budaya
3.
Sangat penting bahwa konselor dan terapis memahami dan dapat berbagi
pandangan dunia dari klien mereka yang beragam secara budaya. Pernyataan
ini tidak berarti bahwa penyedia harus memegang pandangan dunia ini
sebagai milik mereka sendiri, tetapi lebih bahwa mereka dapat melihat dan
menerima pandangan dunia lainnya dengan cara yang tidak menghakimi.
Mengembangkan Strategi dan Teknik Intervensi yang Tepat
Efektivitas kemungkinan besar ditingkatkan ketika terapis menggunakan
modalitas terapeutik dan mendefinisikan tujuan yang konsisten dengan
pengalaman hidup dan nilai-nilai budaya klien.
Transaksi interpersonal antara konselor dan klien memerlukan berbagai
pendekatan yang konsisten dengan pengalaman hidup seseorang (Sue et al.,
1996)
Selain itu dalam proses pemberian bantuan seorang konselor harus dapat
berlaku adil dan tidak memihak serta Untuk terjadinya terapi yang efektif, terapis
dan klien harus dapat mengirim dan menerima pesan baik verbal dan nonverbal
secara tepat dan akurat. Sementara kerusakan dalam komunikasi sering terjadi
antara orang-orang yang berbagi budaya yang sama, masalah menjadi diperburuk
antara orang-orang dari latar belakang ras atau etnis yang berbeda.
Kesalahpahaman yang timbul dari variasi budaya dalam komunikasi dapat
menyebabkan keterasingan atau ketidakmampuan untuk mengembangkan
kepercayaan dan hubungan.
Sue & Sue (2008) menyebutkan tiga karakteristik utama dari konseling dan
psikoterapi dapat bertindak sebagai hambatan untuk konseling yang efektif
1. Nilai yang terkait budaya
Nilai yang terkait budaya menjadi salah satu hambatan dalam konseling
karena terkait dengan bentuk respon emosional, perilaku, komunikasi, pola
hubungan (keintiman dan keterbukaan) serta perbedaan pandangan yang
kentara.
Beberapa karakteristik nilai terkait budaya yang bertanggung jawab untuk ini
keyakinan negatif
2. Nilai yang terkait kelas sosial
Bentuk karakteristik hambatan dalam konseling karena nilai yang terkait
sosial adalah mengenai kepatuhan yang ketat terhadap jadwal konseling,
pendekatan yang ambigu atau tidak terstruktur untuk masalah, dan solusi
mencari tujuan jangka panjang
3. Hambatan bahasa
Bahasa merupakan alat yang digunakan individu untuk dapat bertukar
informasi secara verbal. Melalui bahasa maka individu dapat bertukar sikap,
nilai, keyakinan, dan perilaku sehingga dapat terus diwariskan dari satu
generasi kegenerasi berikutnya. Akan terjadi bias dalam konseling
multikultural
PENUTUP
Kesimpulan
Labeling negative merupakan bentuk identitas yang diberikan oleh
individu atau kolompok pada individu maupun kelompok lain melalui penilaian
negative dari kekurangan yang mereka miliki, Labeling cenderung diberikan pada
orang yang memiliki penyimpangan perilaku yang tidak sesuai dengan norma di
masyarakat. Seseorang yang diberi label akan mengalami perubahan peranan dan
cenderung akan berlaku seperti label yang diberikan kepadanya. Anak tunalaras
adalah mereka yang mengalami hambatan dalam perkembangan aspek emosi,
sosial atau keduanya, sehingga dalam berperilaku cenderung menyimpang, tidak
sesuai dengan usia dan tuntutan norma-norma sosial yang berlaku di
lingkungannya anak dengan gangguan emosi dan perilaku sangat membutuhkan
konseling lintas budaya agar dapat mengembangkan aspek pribadi, sosial,
psikologis, dan spiritualnya.
REFERENSI
Galinsky, A. D., Wang, C. S., Whitson, J. A., Anicich, E. M., Hugenberg, K., &
Bodenhausen, G. V. 2013. The Reappropriation of Stigmatizing Labels.
Psychological Science, 24(10), 2020–2029.
https://doi.org/10.1177/0956797613482943
Hanif, Achmad Sofyan. 2010. Program Layanan Bimbingan Konsep Diri (Self
Concept) Pada Siswa Tunalaras. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol.
16, Edisi Khusus.
Hurlock Elizabeth (2011). Psikologi Perkembangan, suatu pendekatan sepanjang
rentang kehidupan. Edisi Kelima. Jakarta : Erlangga
https://www.psychologymania.com/2013/08/pengertian-labeling.html diakses
pada hari senin tanggal 01 Oktober 2018 pukul 23.43.
Mahabbati, Aini. 2010. Pendidikan Inklusif Untuk Anak Dengan Gangguan
Emosi dan Perilaku (Tuna Laras). Jurnal Pendidikan Khusus Vol 7. No. 2.
Murmanto, Melanie D. 2007. Pembentukan Konsep Diri Siswa melalui
Pembelajaran Partisipatif. Jurnal Pendidikan Penabur Vo. VI, No.08
Putra, Fariz Perdana., Irdamurni., Amsyarudin. 2014. Reinforcement Merupakan
Salah Satu Alternatif Untuk Mengurangi Perilaku Negatif Bagi Anak
Tunalaras. E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)
Volume 3 Nomor 3 Halaman : 332-343.
http://ejournal.unp.ac.id/index.php/jupekhu
Ratts, Manivong J and Pedersen, Paul B. 2014. Counseling For Multiculturalism
and Social Justice Integration, Theory, and Application. Alexandria, VA:
American Counseling Association.
Sue, Deral, Wing, Jhon, David, Sue, 2008. Counseling the Culturally: Diverse
Theoy and Practce (5th Ed.).New jersey. JhonWiley & Sons, Inc
Trout, Alexandra L, et.al. 2003. Research on the Academic Status of Children
with Emotional and Behavioral Disorders: A Review of the Literature
From 1961 to 2000. Journal Emotional and Behavioral Disorders, Vol.11,
No. 4 Pages 198-210
Download
Related flashcards
Create Flashcards