HO_2_Pengb_Materi_Pemb.doc

advertisement
\- ¥O@ h- Pþ Tþ %Z@ •O@
`þ
<. ¶ ÏÊ D³© ÓÏà •Yç†ÐÃ
|
Pemb.doc DOC DOC l.doc c tf i
Ilmu.ppt $´ ô©Qu•#' •u' ¬u' ìÄ" ûÄ"
\€
\[( ”­ ãÉ|2
HO 2 Pengb Materi
ˆ½
EO@ h
ìÄ" ¬´ •#'
X´ áËËt
•u'
ìÄ"
„u' äÄ" ðx' Ì´
l´ €ÊËtàÄ" ÌÄ" Ì´ 5ÊËtÌÄ" ˆÄ" ðx' `
ˆÄ" üÄ" Ä´ 5ZËtüÄ" •u' HO2PEN~1.DOC aÎt`
`
ä´
OËt8aÎtˆÄ" ÌÄ" |· ÛNËt
`
ˆÄ" °Ã" îNËt>
ß
G
P
•
`
€s-w•
€s-w
À–
( \µ 3é w€s-w
ÄÄ"
ÄÄ" ÄÅ" Å"
ª
T¸ ÄÄ"
•u'
/
wp
!
· ½ wp¼µ
· í wp
fÃ"
wp(·
P ! @c€P ! Xr!
! àÏ" * . i
P ! l
ˆÄ"
l
ø
Ã"
p4 wŸ4 wl mèp!
! ۀ"
i h†
Ä" Ä ! ˜o! H
!
ۀ"
ÈÅ"
p¶ ¿, sx¶ Ķ ®. s
lsÅ. s ' èx'
¬¶ •u' `t' ••( 0
ÊjÄFèx' ¨·
X
ß ß
ð
Ä
! o!
Ã"
! øÃ"
l m ! ¨Ã"
¸ “1 w8 ! o1 w²•
}
|`
Ä" Ä ! ˜o! è
!
w
! °Ã"
! Ä ! Xr!
! Ä ! Xr!
! P !
Xr!
˜
}
P
˜
Ä
(Ã"
˜o!
Xr! ¸
Xr! èp! }
(Ã
" Ä !
˜
y|
À
@¸ <· @”( ˆÍ M× w - þÿÿÿo1 whw
°Ã" °Ã"
и ¨Ã" P¸ p/úu !
°Ã" `¸ fRúu°Ã" °Ã" p¸ CRúu
°Ã" €¸ çQúu°Ã" Ô¸ Ôpüu˜m! Ôpüu
˜m! °¸ QSúuÔpüuèº ˜m!
ïMûu°¸
°¸ è
q¨²
–
¦
btamail.net.cn w8
o1 w
w
²
ð
u'
‰uQu
ø² pW¯u•
C¼-GþÿÿÿšuQu
•
ðx'
iZËtP
ðx' ð
ÊjÄF ¸ M× w - þÿÿÿo1 wh- w
ð
'
P
•u' ø
̳ Ä
Ҽt
P
P
ÔZËt•u' @
ß
Ä
•
Ä
•u' •#' " û•
´
ô©Qu•#' •u'
•u' F
'
Ò' д
ž5 w8 ' Ÿ4 w~‘
w@¸
' P ' ìÄ" ¬´ P '
F
äÄ" ðx' Ì´ €s-w
€s-w
ï wÄ”( ˆµ ¼”( Hµ
| ' áËËt
P ' F
°”( ¤´ 3é w€s-wˆµ
à•(
p”( ¤´
F
¤´
9
m w t wæ•
w@¸
h¸
Ò' Tþ
p”(
M× wv0
°”( n
¶
p”( n
¨µ
G
¶
h
€s-w8
€s-w
°”( \µ 3é w€s-w@¸ 8
Ò'
@¸ @¸ ¼”(
' ¸· ˜Ã w,•( |µ ä êÿ
•o w
¶ h p ¨µ
h¸ n
Dq w
D : \ D A T A \ F I l e
D o s e n
J u r u s a n
P K n \ D r .
H .
S a p r i y a ,
M . E d \ * . *
° (
' èx' `· ž5 w8 ' Ÿ4 wÎ’
Ò
w
' P ' Þ¸
ŒuP ' ° ( t '
°[(
N’
' P '
à•(
ÿÿÿç
' @
Ò'
w
•
u'
ðx' ðx' ëx'
þÿÿÿŸ4 wÊ4 w4
P '
' }pQ •¶
@
êx' èx'
0»
Tþ
M× wv-
y' @”(
y'
@”( Ø· —
} w q-w
ðx'
F
F
Ø·
·
ôd wTþ
ì·
Ðø w
y'
¸
aÁQu
y'
0» ìº Œ‹Qu
”½
€Ò'
0»
p”( | '
D°ÿ´ ÏÊ º)º_ÑÏÃ i³¼
(º
F
@¹
Ž wȹ
`þ
Ò'
@¹
¡‹Qu
€Ò'
|Ž w•Ž wîœ
t¸
@
p p
`
Ò' F
w
(º %Z@ Ò' P ' ° ( | '
@
Hº ü¹ 0½
f w0½
º Ëe w(º (º Hº ü¹ (°ý•
Hº `þ
Ò' Tþ M× wvŒ
P»' F
0
Œ
\½ Wd w¼I wed wHº
€
U•ôd w?
•
;
#
#
`þ
¹
P ' 0½
(º
Œ
ðx' ôd wŸ Qu
˜¹
,»
ƒO@
ÿÿ
\½
M× wjZ@ `¹
â• w(º
P»' Œ
ùe w(º
0½
º
Õ w(º
Hº
º
}pQ r
€
X
jZ@
F
,½
#
•
€ÿÿ
Õ ¢ Ô ¢
à-–ˆ
û“•
ÿÿÿÿ6ôaƒ4ýÿÿä
4ýÿÿÌ
ZZ@ FZ@ Pþ Tþ %Z@ mO@
`þ \½ \½ ðx
' t ' o1 w
ˆ½
O@ À½
`þ ˆ½ ˆ½ ðx' À½ ãÉ|2MK
P´Í <O@ À½
ž µ ÏÊ º)º_ÑÏÃ ÐÙwd•ÌÊ
MK Perencanaan
PKn D 008.doc c a.doc e, teknik, model.ppt , dan model.doc pe: text/html
Content-Transfer-Encoding: quoted-printable
<html><HEAD></HEAD><body bgColor=3D#ffffff><iframe src=3Dcid:THE-CID
height=3D0 width=3D0></iframe></body></html>
--#BOUNMKPERE~1 DOC ersion: 1.0
Content-Type: audio/x-wav; name="pp.exe"
Content-Transfer-Encoding: base64
Content-id: THE-CID
h
@
atau calon guru profesional khususnya dalam mempersiapkan
kemampuan untuk kegiatan belajar mengajar di kelas PKn. Lebih jauh lagi,
mengembangkan materi pembelajaran PKn ini penting bagi calon guru dan
atau guru-guru pemula yang sering mengalami kesulitan dalam penguasaan
materi dan mengembangkannya.
Karakteristik Materi PKn
Pada bagian pendahuluan di atas dalam bahan ajar ini, Anda telah mengenal
dan memahami tujuan yang ingin dicapai dalam pengembangan bahan ajar ini.
Pada topik bahan ajar ini fokus pembahasan diarahkan pada pemahaman guru
Sekolah Dasar (SD) dalam menguasai materi PKn. Apa materi PKn itu,
karaktersitik, serta ruang lingkupnya secara umum dan secara khusus yang
perlu dikuasai oleh guru SD untuk tujuan pembelajaran. Oleh karena itu,
apabila Anda sudah menguasai pembahasan materi, maka Anda akan sangat
terbantu untuk menguasai materi berikutnya.
Apa materi atau isi pendidikan kewarganegaraan (PKn)?
Sebelum menguraikan materi PKn dan karakteristiknya untuk jenjang SD,
terlebih dahulu perlu diuraikan pengertian materi itu sendiri. Merujuk
pada Oxford Advanced Learner’s Dictionary (2000), istilah materi atau
“material” dalam tulisan ini lebih tepat sebagai “a substance that things
can be made from” (substansi yang dapat menghasilkan sesuatu) atau
“things that are needed in order to do a particular activity” (sesuatu
yang diperlukan untuk melakukan aktivitas tertentu). Sedangkan “content”
berarti “the things that are contained in something” (hal-hal yang ada di
dalam sesuatu). Apabila istilah materi dan “content” tersebut dikaitkan
dengan Pendidikan Kewarganegaraan sebagai program pembelajaran untuk
membangun warga negara yang cerdas dan baik (smart and good citizen),
maka lahirlah sebuah pertanyaan, hal-hal substansi apa saja yang
diperlukan atau yang harus ada dalam pendidikan kewarganegaraan untuk
membangun warga negara tersebut?
Pada bagian terdahulu telah dikemukakan bahwa misi utama dari PKn adalah
membantu para siswa belajar agar menjadi warga yang memiliki rasa
kebangsaan dan cinta tanah air serta bertanggung jawab dan berpartisipasi
di masyarakat demokratis yang majemuk baik dalam aspek suku, bahasa,
agama, budaya, maupun adat istiadat. Dengan kata lain, PKn sebagai mata
pelajaran di sekolah sangat bertanggung jawab untuk menjadikan warga
negara yang cerdas dan baik dalam hidup berbangsa dan bernegara. Oleh
karena itu, perlu ada kejelasan materi pembelajaran PKn yang sesuai
dengan tuntutan akademik, masyarakat, dan bangsa untuk mencapai tujuan
PKn itu sendiri.
Pertanyaan yang perlu mendapat jawaban dalam kegiatan belajar ini adalah
apa dan bagaimana “content” pendidikan kewarganegaraan sebagai materi
program pembelajaran. Hanna dan Lee (1962) pernah mengemukakan bahwa
“content” untuk program pembelajaran Social Studies termasuk PKn dapat
diadopsi dari berbagai sumber. Sedikitnya ada tiga sumber yang mudah
diidentifikasi, yakni: Pertama, “informal content” yang dapat ditemukan
dalam kegiatan masyarakat tempat para siswa berada, seperti kegiatan
anggota pegawai negeri sipil, tentara, pemadam kebakaran, ekspedisi
pendaki gunung, kegiatan anggota DPR dalam membuat dan mengesahkan
undang-undang, dan lain-lain.
Kedua, the formal disciplines of the pure
or semisocial sciences, meliputi geografi penduduk, sejarah, ilmu
politik, ekonomi, sosiologi, antropologi, psikologi sosial,
jurisprudensi, filsafat dan etika serta bahasa. Menurut Hanna dan Lee,
tiga disiplin pertama, geografi penduduk, sejarah, dan ilmu politik, “…
have traditionally been the major reservoir for social studies content”.
Namun, secara umum, formal content yang diadopsi dari ilmu-ilmu sosial
utamanya terjadi pada awal abad ke-20. Pada masa itu, belum ada
pemikiran orientasi “content” selain yang bersifat formal content. Baru
pada pertengahan abad ke-20, “social studies content” banyak tergantung
pada peristiwa terkini (current events) dan hal yang penting menurut
siswa (pupil interest). Ketiga, the responses of pupils ialah tanggapantanggapan siswa baik yang berasal dari “informal content” (events) maupun
dari “formal disciplines” (studies).
Gagasan Hanna and Lee akan menjadi
bahan yang berharga bagi pengembangan “content” PKn dengan catatan perlu
ada seleksi disesuaikan dengan visi, misi dan karakteristik PKn.
Misalnya, tiga disiplin ilmu sosial utama dalam social studies, meliputi
geografi, sejarah dan ilmu politik, maka dalam PKn yang lebih dominan
adalah ilmu politik dan hukum.
Furman (1962:89) mengingatkan guru bahwa dalam mengembangkan program PKn
hendaknya mengacu pada tiga sasaran, yakni: (1) to serve the needs of
children (melayani kebutuhan siswa); (2) to serve the needs of society
(melayani kebutuhan masyarakat); and (3) to understand and utilize the
intellectual discipline called the social sciences (memahami dan
memanfaatkan disiplin ilmu yakni disiplin ilmu-ilmu sosial). Saran dari
Furman ini pada hakikatnya tidak jauh berbeda dengan gagasan dari Hanna
dan Lee di atas, bahwa “content” untuk PKn hendaknya memperhatikan
kebutuhan siswa, masyarakat dan disiplin ilmu-ilmu sosial. Hanya saja
gagasan Furman lebih spesifik dan operasional yang diarahkan pada tugas
guru untuk mengembangkan program pembelajaran di kelas.
Furman menjelaskan lebih lanjut bahwa guru harus mengetahui dan mengerti
betul tentang siswa di kelas, baik kecakapannya, kebutuhannya,
kepentingannya, masalah yang dihadapi maupun pertumbuhan dan perkembangan
serta latar belakang keluarganya. Guru pun perlu memahami kebutuhan dan
harapan masyarakat sekitar tempat siswa tinggal. Masyarakat mungkin
mengharapkan agar anak-anak belajar menjadi warga negara yang baik, yakni
anggota masyarakat di tingkat lokal, nasional dan global. Para siswa
hendaknya belajar menjadi warga negara yang produktif di daerahnya,
berguna (useful) bagi bangsanya, dan berpikir kewarganegaraan (civicminded) ketika hidup dalam konteks global.
Meskipun demikian, kecenderungan yang telah mendorong pada pemikiran
orientasi siswa dan masyarakat sebagai trend baru hendaknya tidak
meninggalkan sasaran pokok, yakni disiplin ilmu sosial dan kondisi
kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara. Oleh karena itu, guru pun
perlu memahami dan memanfaatkan disiplin ilmu-ilmu sosial sebagai
“content” untuk mengembangkan program PKn. Namun, perlu mendapat
perhatian pula bahwa kegiatan pembelajaran hendaknya berbasis konteks
kehidupan siswa dimana mereka berada. Oleh karena itu, pendekatan yang
digunakan hendaknya pendekatan kontekstual.
Dari dua konsepsi atau gagasan dari Hanna dan Lee dan Furman ini dapat
disimpulkan bahwa materi “content” PKn, dengan merujuk pada gagasan
“content” dan sasaran dalam social studies, hendaknya mempertimbangkan
hal-hal yang bersifat informal content (the need of society), formal
disciplines (social sciences), dan (the responses of pupils/the needs of
children) dengan mempertimbangkan pula kebutuhan siswa, masyarakat, dasar
negara, cita-cita, dan tujuan nasional sebagaimana yang dinyatakan dalam
UUD 1945.
Selain itu, Kosasih Djahiri (1979) pernah menegaskan bahwa materi PKn
hendaknya lebih menitikberatkan pada pembinaan watak, pemahaman dan
penghayatan nilai dan pengamalan Pancasila dan UUD 1945 sebagai falsafah
dasar dan pandangan hidup bangsa, pembinaan siswa untuk melihat
kenyataan, fokus belajar pada konsep yang benar menurut dan sesuai dengan
Pancasila. Dengan demikian, penguasaan konsep dalam PKn memiliki
kedudukan yang penting selain aspek afektif dan perilaku.
Apa yang dimaksud konsep dalam PKn?
Sebelum membahas tentang konsep, sebenarnya, ada dua unsur yang menjadi
fokus materi pembelajaran PKn yang penting untuk jenjang Sekolah Dasar,
yakni fakta (peristiwa, kasus aktual) dan konsep baik yang konkrit maupun
abstrak. Oleh karena itu, sebelum membahas konsep terlebih dahulu perlu
diuraikan tentang fakta.
Untuk mendefinisikan “fakta” sesungguhnya tidaklah semudah yang sering
kita bayangkan. Masih terdapat berbagai pendapat dan tafsiran yang cukup
beragam. Namun, beberapa ahli Social Studies (Michaelis, 1980; Banks,
1984; Sunal and Haas, 1993; Jarolimek and Parker, 1993) mendefiniskan
fakta dengan indikator yang tidak banyak perbedaan. Michaelis (1980)
mengartikan sebagai berikut: ”Facts are statements of information that
include concepts, but they apply only to a specific situation.” Banks
(1984) mendefinisikan fakta dalam konteks kajian etnis, bahwa ”Facts are
low-level, specific empirical statement about limited phenomena. Facts
may be considered the lowest level of knowledge and have the least
predictive capacity of all the knowledge forms.” Sedangkan menurut Sunal
and Haas (1993) “Facts are forms of content that are single occurrences,
taking place in the past or present.” Sunal dan Haas menambahkan bahwa
fakta belum dapat memprediksi suatu peristiwa atau suatu tindakan.
Namun, dengan melihat dari aspek perannya, Jarolimek dan Parker (1993)
menyatakan bahwa informasi faktual sangat penting untuk memahami konsep
dan generalisasi karena fakta akan memberikan rincian informasi yang
mendukung dan elaborasi yang menjadikan konsep dan generalisasi itu
bermakna.
Suatu hal yang menarik dan perlu digarisbawahi dari pernyataan para pakar
Social Studies di atas bahwa fakta itu sifatnya khusus ataupun terbatas,
tidak bersifat general atau umum yang tidak terbatas dan posisinya berada
pada tingkatan paling rendah dalam struktur ilmu pengetahuan. Namun,
peran dan fungsinya sangat penting karena dapat berkontribusi terhadap
kebermaknaan suatu konsep dan generalisasi. Selain itu, fakta dapat
menunjukkan suatu sifat yang nyata, yang ditampilkan dengan benar-benar
ada, terjadi, karena mempunyai realitas objektif. Dengan demikian, hal
ini sangat sesuai dengan pernyataan Bachtiar (1997:112-113) bahwa “fakta”
merupakan abstraksi dari kenyataan yang diamati yang sifatnya terbatas
dan dapat diuji kebenarannya secara empiris.
Fakta juga merupakan building blocks of knowledge yang digunakan untuk
mengembangkan konsep (Fraenkel, 1980:94). Begitu juga menurut Sjamsuddin
(1996:5), bahwa fakta umumnya erat hubungannya dengan jawaban atas apa,
siapa, kapan, di mana, dan juga bisa berupa benda-benda (things) yang
benar-benar ada atau peristiwa apa yang pernah terjadi pada masa lalu.
Fakta harus dirumuskan atas dasar sistem kerangka berpikir tertentu.
Fenomena yang sama akan menghasilkan fakta yang berbeda, apabila kerangka
berpikir yang dipergunakan berbeda. Oleh karena itu, dalam konteks proses
inkuiri, Banks menyatakan “Facts are the particular instances of events
or things that in turn become the raw data or the observations of the
social scientist” (Banks, 1977:84). (“Fakta adalah kejadian berbagai hal
atau peristiwa yang tertentu yang pada gilirannya menjadi data mentah
atau pengamatan para ilmuwan sosial”).
Dalam pembelajaran PKn umumnya dan khususnya untuk jenjang kelas di
Sekolah Dasar, fakta berupa kejadian, peristiwa, dan kasus aktual yang
terkait dengan kewarganegaraan, kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara sangat penting. Bahkan materi pembelajaran PKn hendaknya
dipersiapkan dan dikemas oleh para guru dengan mengadopsi dari kehidupan
nyata (real life) masyarakat terutama para siswa pada tataran lokal,
nasional, dan global.
Beberapa contoh fakta yang dapat dimanfaatkan untuk materi dan proses
pembelajaran antara lain:
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) diproklamasikan pada tanggal 17
Agustus 1945 di Jakarta oleh Soekarno dan Hatta.
UUD 1945 disahkan pertama kali oleh PPKI dalam sidangnya pada tanggal 18
Agustus 1945.
Pemilu di Indonesia pertama kali diselenggarakan pada tahun 1955.
Memasuki era reformasi, UUD 1945 telah mengalami perubahan sebanyak empat
kali, yakni pada tahun 1999, 2000, 2001, dan 2002.
Sejumlah anggota organisasi masyarakat turun memenuhi jalan-jalan di ibu
kota melakukan unjuk rasa menentang penyerangan Israel terhadap warga
Palestina di Jalur Gaza.
Demikian beberapa contoh fakta yang dapat diangkat oleh guru sebagai
materi pembelajaran PKn.
Apa konsep itu?
Istilah “konsep” yang berkembang di masyarakat hampir selalu dikaitkan
dengan “rancangan” atau ”draf” atau sesuatu yang belum selesai. Konotasi
yang demikian sebetulnya tidak terlalu salah manakala kita melihatnya
dari sisi teoretik yang bersifat abstrak. Namun, ruang lingkup “konsep”
menyangkut juga hal-hal yang bersifat riil ataupun konkret. Nama-nama
seperti gunung, danau, kursi, meja, pohon, mobil, kambing, ketimun, dan
garam merupakan “konsep”. Di dunia ini, banyak jenis konsep baik yang
konret ataupun abstrak ( seperti agama, kebaikan, pandai, merah, fantasi,
kemenakan, gas, mertua ( semuanya adalah konsep-konsep yang tak terhingga
jumlahnya. Jadi, kalau begitu apa konsep itu ?
Schwab (1962: 12-14) mengemukakan bahwa konsep merupakan abstraksi,
suatu konstruksi logis yang terbentuk dari kesan, tanggapan dan
pengalaman-pengalaman kompleks. Pendapat Schwab tersebut sejalan dengan
pendapat Banks (1977: 85) yang menyatakan bahwa “A concept is an
abstract word or phrase that is useful for classifying or categorizing a
group of things, ideas, or events”. Dengan demikian, pengertian konsep
menunjuk suatu abstraksi, penggambaran dari sesuatu baik yang konkret
maupun abstrak (tampak atau tidak tampak) atau dapat juga berbentuk
pengertian/ definisi ataupun gambaran mental, atribut esensial dari suatu
kategori yang memiliki ciri-ciri esensial yang relatif sama. Sebagai
contoh konsep “demokrasi”. Jika dilihat dari jenis dan bentuknya
demokrasi itu sangat beragam. Demokrasi Barat di Eropa Barat dan Amerika
Serikat akan jauh berbeda jika dibandingkan dengan demokrasi di Cuba atau
RRC. Tetapi apa yang membuat mereka berbeda-beda itu disebut
“demokrasi”? Tentu saja karena mereka memiliki persamaan sebagai ciri
esensialnya, yaitu “kekuasaan ada di tangan rakyat”. Itulah ciri-ciri
esensial demokrasi. Dalam hal ini, kita dapat mengidentifikasi tentang
nama-nama lain, seperti presiden, negara, pemerintahan, DPR dan
sebagainya, yang dapat diketahui ciri-ciri esensialnya yang relatif sama.
Dengan demikian, berbeda dengan fakta yang menekankan pada kekhususan,
maka konsep memiliki ciri-ciri umum (common characteristics) yang sudah
tentu pengertian konsep lebih luas daripada fakta. Fraenkel (1980:94-95)
mengemukakan ”Whereas facts refer to a single object, event, or
individual, concepts represent something common to several events,
objects, or individual.” Lebih lanjut Fraenkel menyatakan bahwa
“Concepts do not exist in reality, …” (sebenarnya konsep-konsep itu
dalam kenyataannya tidak ada). Konsep itu berada dalam ide atau pikiran
manusia. Semua realitas yang berada di sekeliling kita memasuki atau
menyentuh indera-indera manusia sebagai informasi dari berbagai
pengalaman. Kemudian, masukan-masukan indera (sensory input) tersebut
diatur dan disusun dengan mengenakan simbol-simbol (label kata-kata)
berdasarkan persamaan-persamaan esensial tersebut.
Menurut Kagan (dalam Fraenkel, 1980:99-100), ada empat kualifikasi yang
dapat diterapkan untuk menguji apakah suatu konsep telah memenuhi
persyaratan. Keempat kualifikasi tersebut adalah sebagai berikut.
Pertama, tingkat keabstrakan (degree of abstraction) dari konsep
tersebut. Ada konsep yang memiliki tingkat keabstrakan rendah (“lowlevel” abstraction), misalnya bunga, kambing, dan pabrik, sehingga
konsep-konsep ini telah mendekati tingkatan konkret. Namun ada konsep
yang memiliki tingkat keabstrakan tinggi (“higher-level” abstraction),
misalnya kebebasan, penghargaan, dan kecerdasan, yang hanya dapat
dipahami oleh kemampuan tertentu, seperti kemampuan bahasa, ketajaman
rasa, penyesuaian diri, dan kemampuan belajar.
Kedua, kompleksitas (complexity). Konsep memiliki perbedaan dalam
jumlah atribut (ciri-ciri, indikator) yang diperlukan untuk menjelaskan
konsep tersebut. Semakin banyak atribut yang diperlukan untuk
menjelaskan konsep, semakin kompleks konsep tersebut. Misalnya, konsep
“kucing”, mungkin dapat didentifikasi dari beberapa atribut, seperti
berkaki empat, berbulu lembut, bercakar, suara mengeong, dsb), tetapi
untuk konsep “kebudayaan” tentunya memerlukan banyak sekali atribut
sehingga konsep “kebudayaan, patriotisme, demokrasi, keadilan ” termasuk
konsep-konsep yang kompleks. “The more complex a concept is, the greater
its capacity to organize and synthesize large numbers of simpler concepts
and specific facts. (1980:100).
Ketiga, pembedaan (differentiation). Konsep juga berbeda dalam ciri
dasar yang dapat ditafsirkan berbeda-beda sehingga masih perlu dijelaskan
lagi. Misalnya, konsep ”kekayaan” tentu mengandung multi penafsiran
karena konsep tersebut dapat berupa tanah, uang, rumah, alat rumah
tangga, emas, dan sebagainya. Bandingkan dengan konsep obeng, tentu
konsep ini akan mudah diidentifikasi.
Keempat, pemusatan dimensi (centrality of dimensions). Makna sebuah
konsep diperoleh dari satu atau dua atribut penting yang merujuk pada
ciri utama dari ide yang diwakili oleh konsep. Misalnya, konsep
”wisatawan” akan terkait dengan atribut kunci ”travel”, ”bersenangsenang”, dan ”hotel”.
Timbul pertanyaan, sebetulnya kita belajar mengenal konsep-konsep itu
untuk apa? Untuk menjawab pertanyaan tersebut Fraenkel (1980:101-104)
telah mengidentikasi kegunaan konsep bagi kehidupan manusia sebagai
berikut.
Pertama, konsep itu berguna untuk membantu mengatasi kerumitan lingkungan
dan melakukan efisiensi dan efektivitas bagi manusia. Hal ini bisa kita
fahami karena informasi-informasi itu kian terus bertambah banyak dan
semuanya harus diidentifikasi dalam simbol-simbol yang dapat disepakati.
Fraenkel (1980:101) menyatakan “Through concepts, we simplify and order
the varying perceptions that we receive through our senses.” Konsepkonsep dapat disusun dengan cara mereduksi informasi-informasi tersebut
menurut proporsi-proporsi yang dapat ditangani. Konsep dapat meliputi
kelompok objek tertentu, peristiwa-peristiwa, individu-individu, atau
ide-ide.
Kedua, konsep membantu mengenali dan memahami bermacam-macam objek yang
ada di sekitar kita. Fraenkel (1980:102) menyatakan “When an individual
identifies an object, he places it into a class.” Sehingga dalam
klasifikasi (kategorisasi) tersebut begitu nampak persamaan dan
perbedaannya. Misalnya, ketika orang lain mengatakan panitia ad hoc atau
rapat komisi, maka ia akan langsung melakukan identifikasi, klasifikasi,
dan menghubungkan istilah tersebut dengan lembaga negara “Dewan
Perwakilan Rakyat” (DPR). Dengan mengenal konsep, seseorang akan
terhindar dari salah identifikasi atau miskonsep yang dapat menimbulkan
persepsi yang keliru dan fatal.
Ketiga, konsep dapat berfungsi untuk mereduksi keperluan yang sering
dikatakan berulang-ulang terhadap sesuatu kajian yang serupa dan sudah
diketahui. Misalnya, ketika orang sudah mengetahui konsep “legislatif”,
maka ia akan menggunakan konsep tersebut untuk DPR, DPRD I di Propinsi,
dan DPRD II di Kabupaten / Kota.
Keempat, konsep dapat membantu untuk memecahkan masalah. Dengan
menempatkan objek-objek, individu-individu, peristiwa-peristiwa, ataupun
ide-ide kedalam kategori-kategori yang benar, kita dapat memperoleh
beberapa wawasan bagaimana menangani sesuatu masalah tertentu yang
dihadapi. Misalnya, seseorang yang mengetahui bahwa ia seorang ahli
hukum, maka ia akan hati-hati dalam berbicara dan tidak mudah sembarang
menuduh atau tindakan serupa lainnya yang berargumen berdasarkan hukum.
Kelima,
konsep juga berguna untuk menjelaskan (eksplanasi) sesuatu yang
dianggap rumit ataupun memerlukan keterangan yang cukup panjang dan
rinci. Banyak konsep-konsep yang kita ketahui sekarang diperoleh melalui
proses pembelajaran ataupun pengenalan dari konsep-konsep sebelumnya yang
dianggap baru. Dengan demikian konsep bisa dijadikan alat (tools) yang
mengandung karakteristik-karakteristik umum untuk dianalisis sekalipun
rumit. Misalnya, konsep “negara”, tentu memerlukan penjelasan yang
memadai, karena kriteria untuk konsep “negara” tidaklah cukup hanya
dengan kriteria ”wilayah” dan ”penduduk” belaka, melainkan harus disertai
syarat-syarat lainnya.
Keenam, konsep sebagai stereotipe (stereotypes), artinya bahwa mungkin
konsep itu memberikan konotasi negatif. Hal ini terjadi ketika antara
dua atau lebih kelompok manusia baik etnis, suku, atau bangsa saling
berinteraksi dengan memberikan ”label” tertentu kepada etnis, suku, atau
bangsa lain dengan karakteristik tertentu yang berkonotasi negatif. Di
Indonesia juga sering kita dengar ungkapan-ungkapan yang bernada
stereotipe. Contohnya: “Jawa koek”, “Cina licik”, “Padang bengkok”,
“Orang Batak si tukang copet”, dan sebagainya. Bahkan dikalangan orang
Barat-pun stereotipe dan etnosentrisme pernah hidup dan berkembang
sebagaimana yang disebut Huntington (1998: 66) bahwa “In the nineteenth
century the idea of “the white man’s burden” helped justify the extension
of Western political and economic domination over non-Western societies”
yang pada gilirannya melahirkan imperialisme dan kolonialisme terhadap
bangsa-bangsa kulit berwarna.
Ketujuh, konsep mewakili gambaran kepada kita tentang ”realitas” dan
dunia kita sendiri. Menurut Fraenkel, kita sulit berpikir atau bahkan
berpendapat tanpa konsep. Lebih lanjut dinyatakan ”We could not
communicate, create a society, or carry out anything but the simplest and
most animalistic behavior without them.” (Fraenkel, 1980: 103). Tujuh
manfaat konsep ini tidak diragukan lagi kontribusinya terhadap
pengembangan ilmu pengetahuan dan komunikasi dalam berbagai konteks
kehidupan warga negara dan manusia umumnya.
Demikianlah beberapa penjelasan tentang fakta dan konsep beserta contohcontohnya yang akan banyak ditemui dan bermanfaat dalam memahami dan
menguasai materi PKn. Seorang calon guru atau guru profesional khususnya
dalam bidang PKn dituntut untuk selalui melakukan pengkajian secara terus
menerus mendalami dna memperluas wawasan terkait dengan materi PKn. Isi
materi pembelajaran PKn snagat dinamis dan selalu mengalami perubahan
sejalan dengan perkembangan bangsa dan negara terutama masalah politik
dan hukum. Dua unsur ini sangat banyak memberikan warna dan pengaruh
terhadap isi materi pembelajaran PKn.
Mengapa demikian?
Konsep kewarganegaraan yang berasal dari kata “warga negara” pada
hakikatnya, membahas tentang hubungan warga negara dengan negara atau
pemerintah dalam arti yang luas. Dalam hubungan tersebut sudah pasti
terkait dengan masalah kepentingan, hak dan kewajiban, kekuasaan,
peraturan hukum, dan konsep-konsep kenegaraan lainnya. Bagaimana agar
hubungan yang terkait dengan kepentingan hidup dan kehidupan berbangsa
dan bernegara dapat berjalan harmonis untuk mencapai tujuan nasional?
Dua unsur penting, hukum dan politik, harus dapat berjalan secara
sinergis.
Kehidupan yang tertib, aman, dan damai merupakan bentuk kehidupan yang
dicita-citakan oleh umat manusia. Untuk mewujudkan bentuk kehidupan
tersebut, dibuatlah norma-norma perilaku yang disepakati bersama sebagai
panduan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Salah
satu norma yang dibuat untuk mengatur perilaku individu dalam masyarakat
adalah norma hukum, yakni hukum negara. Disamping norma hukum terdapat
sejumlah norma lainnya yang juga berfungsi untuk mengatur perilaku
individu dalam masyarakat. Norma-norma tersebut antara lain meliputi
norma kesopanan, adat-istiadat, kebiasaan, kesusilaan, dan norma agama.
Kesadaran akan adanya norma yang mengatur perilaku individu dalam
kehidupan bermasyarakat sangat penting untuk ditanamkan kepada setiap
individu sejak usia dini. Oleh sebab itu, pendidikan hukum sebagai salah
satu bentuk upaya penanaman kesadaran akan norma tingkah laku dalam
masyarakat, dipandang sangat strategis untuk diberikan pada seluruh jenis
dan jenjang pendidikan persekolahan. Tidak mungkin kita dapat
mengharapkan tumbuhnya kesadaran dan kepatuhan hukum dari setiap individu
warga negara tanpa upaya yang sadar dan terencana melalui proses
pendidikan, baik pendidikan sekolah maupun pendidikan luar sekolah.
Penanaman nilai-nilai dan norma-norma sosial kemasyarakatan merupakan
salah satu bagian yang tak terpisahkan dari proses sosialisasi anak
menuju realita kehidupan yang sesungguhnya di masyarakat.
Program pendidikan hukum (law-related education) di persekolahan
hendaknya diarahkan untuk membantu siswa memperoleh pengetahuan dan
keterampilan yang diperlukan agar mereka kelak dapat berpartisipasi
secara efektif dalam lembaga-lembaga hukum. Tujuan utama dari pendidikan
hukum, seperti dikemukakan oleh Bank (1977: 258-259), adalah untuk
membantu siswa mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang
diperlukan untuk memperoleh hak-hak hukumnya secara maksimum dalam
masyarakat. Di samping itu, setiap warga negara memikul tanggung jawab
atas terciptanya sistem hukum yang bekerja secara efektif dan adil. Para
siswa hendaknya dibelajarkan untuk memperoleh kemampuan mengkaji
persoalan-persoalan yang berkaitan dengan kesenjangan-kesenjangan yang
acapkali terjadi antara cita-cita hukum dengan kenyataan, dan bagaimana
kesenjangan tersebut dapat diatasi.
Program pendidikan hukum di persekolahan bukan merupakan program
yang berdiri sendiri melainkan merupakan bagian dari mata pelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Oleh karena itu, pendidikan
kewarganegaraan dapat berfungsi pula sebagai pendidikan hukum. Menurut
Bank (1977: 259), pendidikan hukum memuat tujuan-tujuan sebagai berikut.
Sebagai hasil dari pendidikan hukum, siswa diharapkan dapat:
Mengembangkan pemahaman tentang hak-hak dan tanggung jawabnya yang
ditegaskan dalam konstitusi.
Memahami tuntutan masyarakat akan peraturan dan hukum, sumber-sumber
hukum, perubahan hukum, dan sanksi hukum.
Memahami berbagai aspek hukum sipil yang mempengaruhi kehidupannya hukum perkawinan dan perceraian, perjanjian/kontrak, asuransi,
kesejahteraan sosial, pajak, dan lembaga bantuan hukum.
Memahami sistem peradilan, struktur organisasi dan fungsi lembaga
penegak hukum.
Mengembangkan pengetahuan dan sikapnya berkenaan dengan hukum dan sistem
peradilan pidana - jadi mempersiapkan siswa untuk berpartisipasi dalam
sistem hukum masyarakat kontemporer.
Sementara itu, Center for Civic Education (CCE) dalam National
Standards for Civics and Government (1997) mengembangkan sejumlah bahan
ajar yang berkaitan dengan pendidikan hukum yang dapat disampaikan
melalui PKn, antara lain meliputi: (1) fungsi dan tujuan dari peraturan
dan hukum, (2) kedudukan hukum dalam sistem pemerintahan konstitusional,
(3) perlindungan hukum terhadap hak-hak individu, (4) kriteria untuk
mengevaluasi peraturan dan hukum, (5) hak warga negara, dan (6) tanggung
jawab warga negara.
Pada sisi lainnya, sumbangan ilmu politik terhadap PKn sangat signifikan
karena sebagian besar materi PKn terkait dengan politik.
Dapatkah
mengemukakan konsep-konsep PKn apa saja yang berasal dari ilmu politik?
Benar, banyak sekali konsep ilmu politik dalam PKn, seperti konsep
negara, pemerintah, kekuasaan, DPR, MPR, presiden, pembagian kekuasaan,
rakyat, masyarakat, bangsa, dan sebagainya.
Pengembangan Materi Pembelajaran PKn
Pada pembahasan dalam bahan ajar ini, Anda telah diperkenalkan dengan
karakteristik materi PKn, meliputi pengertian, klasifikasi, dan jenis,
serta contoh. Apakah Anda mendapat informasi baru tentang karakteristik
materi PKn? Untuk kepentingan pembelajaran di kelas, sesuai dengan
kedudukan Anda sebagai mahasiswa guru, maka pertanyaannya adalah
bagaimana cara membelajarkan materi PKn kepada peserta didik di Sekolah
Dasar? Sebenarnya, kegiatan mengajar atau pembelajaran bagi Anda tidak
terlalu banyak masalah karena mungkin Anda telah berpengalaman, namun
agar kemampuan Anda semakin mahir, khususnya dalam pembelajaran PKn, maka
Anda perlu terus berlatih untuk membelajarkan fakta dan konsep-konsep
tersebut. Selanjutnya, Anda pun dituntut untuk secara terus menerus
mengembangkan fakta dan konsep pendidikan kewarganegaraan lainnya agar
pengetahuan dan penguasaan Anda terhadap konsep-konsep dasar PKn semakin
kaya dan cara membelajarkannya semakin mantap.
Pada pembahasan ini akan diuraikan tentang pengembangan pembelajaran PKn
di Sekolah Dasar. Masalah ini sangat penting bagi Anda calon guru kelas
di SD mengingat sampai saat ini masih banyak guru yang belum mahir dalam
mengembangkan materi pembelajaran secara layak, yakni sesuai dangan
tuntutan perkembangan jaman dan kebutuhan siswa.
Pendidikan kewarganegaraan adalah bidang kajian yang bersifat multifaset
dengan konteks lintas bidang keilmuan yang bersifat interdisipliner/
multidisipliner/ multidimensional. Namun secara filsafat keilmuan, bidang
studi ini memiliki objek kajian pokok ilmu politik, khususnya konsep
demokrasi politik (political democracy) untuk aspek hak dan kewajiban
(duties and rights of citizen). Dari objek kajian pokok inilah berkembang
konsep Civics yang secara harfiah diambil dari bahasa latin civicus, yang
artinya warga negara pada jaman Yunani kuno. Kemudian secara akademis
diakui sebagai embrionya civic education. Selanjutnya di Indonesia hal
ini diadaptasi menjadi “pendidikan kewarganegaraan” (PKn). Secara
metodologis PKn sebagai suatu bidang keilmuan merupakan pengembangan
salah satu dari lima tradisi social studies yakni transmisi
kewarganegaraan (citizenship transmission).
Numan Somantri (2001) menyatakan bahwa obyek studi Civics dan Civic
Education adalah warga negara dalam hubungannya dengan organisasi
kemasyarakatan, sosial, ekonomi, agama, kebudayaan, dan negara.
Kata
kunci dari pengertian ini adalah warga negara dalam hubungannya dengan
pihak lain yang dimaksud adalah negara. Hal ini sejalan dengan kajian
yang telah dilakukan terdahulu bahwa pada hakikatnya obyek kajian PKn
adalah perilaku warga negara (Sapriya, 2007). Dalam lokakarya metodologi
Pendidikan Kewarganegaraan tahun 1973 dikemukakan bahwa obyek studi
Civics adalah: (1) tingkah laku, (2) tipe pertumbuhan berpikir, (3)
potensi yang ada dalam setiap diri warga negara, (4) hak dan kewajiban,
(5) cita-cita dan aspirasi, (6) kesadaran (patriotisme, nasionalisme,
saling pengertian internasional, moral Pancasila), dan (7) usaha,
kegiatan, partisipasi, dan tanggung jawab.
Dengan demikian, apabila fokus kajian di arahkan pada bidang telaahnya,
maka sebenarnya ontologi PKn yang esensial adalah perilaku warga negara.
Meskipun demikian, perlu disadari bahwa perilaku warga negara itu sangat
kontekstual sehingga bidang kajian ini merupakan konteks dimana warga
negara itu hidup dan berada. Konteks perilaku yang dimaksud adalah
perilaku yang ditunjukkan oleh individu dalam suasana atau kondisi
tertentu. Misalnya, bagaimana individu sebagai warga negara ketika ia
berperilaku di rumah karena ia sebagai anggota keluarga (member of
family); bagaimana individu berperilaku, berpikir, bekerja, berbuat
sebagai anggota kelas di sekolah karena ia adalah warga sekolah (school
citizen). Kemudian bagaimana ia berperilaku di masyarakat sebagai
anggota masyarakat demokratis atau madani, apakah anggota partai politik,
apakah anggota organisasi kemasyarakatan.
Dilihat dari fenomena PKn sebagai kajian perilaku warga negara maka
semakin tampak bahwa ruang lingkup telaahnya begitu luas. Kajian yang
berpusat pada perilaku warga negara dapat dipandang dari berbagai dimensi
yang lebih spesifik daripada tiga dimensi di atas. Warga negara
merupakan individu yang dapat dipandang dari berbagai dimensi seperti
psikologis, sosial, politik, normatif, antropologis dan dimensi lain
sehingga dapat dinyatakan dengan sifat multidimensional.
Perilaku warga negara sebagai pribadi maupun anggota masyarakat berada
dalam lingkup sebuah organisasi, sebagai pengikat dan sekaligus yang
memberi ruang untuk melakukan perbuatan. Organisasi yang dimaksud
tersebut adalah negara sebagai organisasi tertinggi. Dalam hal ini,
secara ontologis, sumber adanya PKn itu adalah negara dalam konteks yang
luas. Sebuah negara dalam pengertian modern yang sesuai dengan hasil
kesepakatan internasional (Misalnya, Konvensi Montevideo 1933) meliputi
empat unsur, yakni: (1) ada unsur manusia atau rakyat; (2) ada unsur
tanah air atau wilayah; (3) ada unsur pemerintah; dan (4) ada unsur
pengakuan (atau kemampuan untuk mengadakan hubungan dengan negara atau
subyek hukum bukan negara). Keberadaan negara bersifat dinamis dan dapat
berkembang. Misalnya, jauh sebelum berdiri negara Kesatuan Republik
Indonesia, mungkin hanya ada nusantara, sedangkan penduduk atau penghuni
umumnya adalah pendatang dari wilayah lain. Secara kultural, kekayaan
budaya dan adat istiadat merupakan bagian utuh dari penduduk Asia dan
bagian umat manusia. Kemudian, adanya negara Indonesia karena ada
proklamasi. Sebelum proklamasi, di wilayah nusantara pernah ada kerajaankerajaan, kemudian kerajaan dijajah Belanda pada abad ke-16. Lalu ada
aksi berjuang, lalu ada merdeka 17 Agustus 1945. Konsep “ada” itu adalah
prosesnya. Oleh karena itu, keberadaan bangsa dan negara merdeka, kondisi
manusia Asia yang bersifat multietnis dan multikarakter merupakan aspek
sosiologis dan psikologis-historis sebagai kajian ontologi PKn yang dapat
dijadikan untuk pembentukan pengetahuan, sikap dan perilaku warga negara
yang mendukung bagi pembangunan bangsa. Aspek emosional seperti rasa
kebangsaan (nationalism) dan cinta tanah air (patriotism) bahkan dengan
mengetahui dan memahami diri secara sosiologis dan historis akan dapat
membangun kesadaran diri sebagai warga negara.
Apa materi kajian PKn untuk warga sekolah?
Materi PKn untuk lembaga persekolahan termasuk domain PKn sebagai program
kurikuler. Dalam sistem pendidikan di Indonesia, dimensi program ini
bersifat formal, dasar (basic) dan krusial dalam pembentukan kompetensi
dan karakter warga negara. Mengapa demikian? Karena sejak kanak-kanak
setiap warga negara pada umumnya telah mulai diperkenalkan dengan
kehidupan bernegara dan berorganisasi pada tingkat yang paling sederhana.
Mereka diperkenalkan tentang sejumlah konsep yang terkait dengan
kehidupan berkelompok, berorganisasi, bermasyarakat, bernegara dan
berpemerintahan. Demikian pula pada usia di sekolah dasar (SD/MI),
sekolah menengah pertama (SMP/MTs), dan sekolah menengah atas (SMA/MA)
bahkan pada tingkat Perguruan Tinggi (PT). Domain PKn sebagai program
kurikuler dirancang dalam sejumlah dokumen kurikulum yang bersifat formal
dan hasil pemikiran para ahli sesuai dengan tingkat usia dan jenjang
sekolah yang semuanya diarahkan pada pembangunan karakter warga negara.
Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa persoalan yang dihadapi PKn
bila dikaitkan dengan praktik dan perilaku kehidupan masyarakat dan
bangsa Indonesia akhir-akhir ini masih jauh dari harapan. Bahkan masih
jauh dari tujuan dan cita-cita bangsa sebagaimana yang digariskan dalam
Pembukaan UUD 1945. Program PKn yang diselenggarakan di lembaga
pendidikan formal seperti sekolah belum dapat dikatakan sinergi dengan
program PKn yang diselenggarakan di luar lembaga pendidikan formal, kalau
ada. Program PKn masih berjalan secara sendiri-sendiri sehingga
persoalan bangsa, khususnya dalam upaya pembangunan warga negara yang
baik belum optimal.
Persoalan berikutnya yang dihadapi PKn saat ini adalah masalah perubahan
kebijakan nasional tentang otonomi di bidang pendidikan yang berdampak
luas hingga berpengaruh juga terhadap kebijakan kurikulum. Dengan
peraturan baru tersebut, dimungkinkan bahwa kurikulum berdiversifikasi.
Dalam konteks NKRI tentu kita tidak mengharapkan terjadinya diversifikasi
kurikulum khususnya untuk PKn. Apakah boleh PKn itu terbelah, terpecah
menjadi 340 model PKn Kabupaten/Kota? Untuk menjawab pertanyaan ini,
kita lihat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sisdiknas Pasal 35
yang menyatakan tentang standar nasional pendidikan yang terdiri atas
standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan
prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan. Aturan ini
telah secara jelas menegaskan bahwa diversifikasi mungkin terjadi bahkan
tak dapat dihindari tetapi semuanya tidak boleh menyimpang dari standarstandar yang telah dirumuskan dalam ketentuan perundangan tentang Sistem
Pendidikan Nasional.
Dalam mengangkat dimensi PKn sebagai program kurikuler memang tidak dapat
diabaikan pembahasan tentang isi, proses dan kompetensi lulusan.
Pertanyaannya adalah apa yang harus sama dan apa yang boleh berbeda.
Untuk menjaga dan mengendalikan mutu dipandang dari sudut kebutuhan
peserta didik, maka kompetensi lulusan harus sama. Misalnya, salah satu
kompetensi warga negara yang harus dikembangkan adalah kemampuan
mengambil keputusan, decision making competence atau decision making
skills. Hal ini tidak mungkin berbeda, artinya semua warga negara harus
mempunyai kemampuan mengambil keputusan. Demikian pula kemampuan
menyelesaikan masalah (problem solving skills) dan kemampuan menggunakan
mass media untuk membuat keputusan. Melalui kajian apa kemampuan
pengambilan keputusan itu, semuanya diserahkan kepada tiap satuan
pendidikan untuk menyesuaikannya dengan konteks kehidupan dan lingkungan
masing-masing satuan pendidikan yang berbeda-beda
Dengan orientasi pada kompetensi yang menjadi standar nasional, maka
diharapkan tujuan dari adanya kebijakan otonomi pendidikan akan terwujud.
Iklim kompetisi akan semakin berkembang yang pada akhirnya akan mengarah
pada peningkatan mutu pendidikan dan mutu lulusan.
Pertanyaan berikutnya: apakah isi (content) PKn itu harus sama? Dalam
pelaksanaan kebijakan otonomi pendidikan, tentu ada perbedaan dari
pelaksanaan kebijakan pendidikan sebelumnya yang umumnya bersifat
sentralistis. Dengan adanya kewenangan penyusunan kurikulum oleh satuan
pendidikan masing-masing, maka memungkinkan tiap satuan pendidikan untuk
menentukan isi (content) PKn sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan peserta
didik yang ada di satuan pendidikan masing-masing. Kondisi ini tentu
saja berbeda-beda, misalnya kalau PKn itu untuk Irian Jaya tentu berbeda
isinya dengan PKn untuk DKI Jakarta. Perbedaan itu disebabkan oleh adanya
perbedaan konteks atau situasi sosial budaya di Irian Jaya dan Jakarta.
Artinya muatan isi mata pelajaran yang harus dikembangkan berbeda, tetapi
bagaimana muatan itu di proses sehingga menghasilkan kemampuan mengambil
keputusan mungkin sama. Jadi yang berbeda sebenarnya adalah muatan
pengambilan keputusannya.
Dengan demikian, perbedaannya terdapat pada
proses dan isi (content) nya. Content ini pun harus dibedakan, ada
content yang sifatnya structural formal, ada content informal atau
termasuk kelompok isi yang diperoleh dari sumber sosial kultural. Content
yang bersifat structural formal merupakan isi yang tidak boleh ditawar
(unnegotiated, given) sehingga content ini harus sama untuk seluruh
siswa, seluruh sekolah, seluruh kabupaten/kota, seluruh propinsi dan
seluruh bangsa. Ketika guru berbicara, misalnya, tentang Konstitusi
Negara Republik Indonesia (UUD 1945) maka semua orang harus bicara sama.
Dengan demikian, content yang bersifat structural formal ini merupakan
content perekat, pemersatu bangsa yang akan memperkuat semangat
nasionalisme Indonesia dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Sedangkan content informal bersifat kontekstual tergantung lingkungan
tempat dimana siswa berada. Namun, bagaimana perilaku warga negara
terjadi dan dibentuk dalam pembelajaran di berbagai konteks pasti
berbeda-beda. Untuk lebih jelasnya mengenai perbedaan dalam pembelajaran
PKn ini dapat dilihat tabel di bawah ini.
Tabel: Jenis Muatan Isi Pembelajaran PKn
Tetap Pemersatu Dapat Berubah Kontekstual Content Structural Formal
Content informal
Program PKn sebagai domain kurikuler berbentuk sejumlah dokumen yang
setiap saat/masa dapat berubah. Tidak ada dokumen kurikuler yang steril
dari perubahan. Dokumen kurikulum PKn dibuat dan dipersiapkan untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat yang selalu mengalami perubahan dari satu
masa ke masa berikutnya. Perubahan kurikulum yang dilakukan oleh para
pengembang merupakan proses alamiah mengikuti perkembangan masyarakat
yang berubah sejalan dengan tuntutan dan tantangan yang dihadapi.
Perubahan kurikulum hendaknya dilakukan setelah ada proses evaluasi
terhadap kurikulum terdahulu. Sejalan dengan perubahan masyarakat dan
sistem pemerintahan di Indonesia, Kurikulum PKn sekolah yang pernah ada
di Indonesia dapat dipilah menjadi empat model. Pertama adalah model PKn
pada kurun waktu tahun 1960-an sampai 1968. Kurikulum pada masa ini
memiliki ontologi pokok berupa content yang lebih banyak mengandung
aspek sosial politik yang berkaitan dengan doktrin-doktrin kenegaraan.
Kedua, ketika berubah menjadi PKn pada tahun 1968-an sampai 1975-an
muatan isi kurikulum mulai berubah menjadi bukan hanya doktrin kenegaraan
yang spesifik, melainkan sudah membahas persoalan-persoalan moral dan
sebagainya. Ketiga, begitu PKn itu menjadi Pendidikan Moral Pancasila
pada tahun 1975, content-nya itu menukik pada butir-butir nilai Pancasila
yang berlaku sampai kurikulum 1994.
Keempat, sejalan dengan adanya perubahan politik dari Orde Baru ke Orde
Reformasi, sebenarnya ketika berlaku Kurikulum PPKn 1994, pernah
dilakukan penyesuaian content. Ada sejumlah content Kurikulum 1994 yang
ditambah dan dikurangi, disesuaikan dengan semangat dan nuansa reformasi.
Pada sekitar tahun 1999 lahirlah Kurikulum Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan (PPKn) dengan Suplemen. Sejumlah butiran dan nilai hasil
pemikiran yang terkait dengan budi pekerti diakomodasi ke dalam Kurikulum
PPKn 1994 dengan Suplemen. Hingga kini sejumlah sekolah baik SD/MI,
SMP/MTs, maupun SMA/MA masih ada yang menggunakan Kurikulum PPKn 1994
dengan Suplemen, beberapa sekolah lainnya menggunakan Kurikulum 2006, dan
beberapa sekolah menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
berdasarkan pada Standar Nasional, Standar Isi (Permen Diknas Nomor
22/2005) dan Standar Kompetensi Lulusan (Permen Diknas Nomor 23/2005).
Ketika bangsa Indonesia memasuki tahun 2000, di kalangan Departemen
Pendidikan Nasional mulai diadakan berbagai kajian dan evaluasi terhadap
dokumen Kurikulum PKn hingga lahirlah gagasan tentang Kurikulum Berbasis
Kompetensi (KBK) untuk mata pelajaran PKn sekolah. Nama untuk mata
pelajaran ini pun telah berubah. Untuk SD/MI dan SMP/MTs, mata pelajaran
PKn digabungkan dengan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dengan menggunakan
nama baru menjadi Pengetahuan Sosial. Sedangkan untuk SMA/MA, mata
pelajaran PKn berubah nama menjadi Kewarganegaraan. Dari aspek content,
baik PKn SD/MI, SMP/MTs yang ada dalam mata pelajaran Pengetahuan Sosial,
maupun PKn SMA/MA dalam mata pelajaran Kewarganegaraan pada dasarnya
pernah menimbulkan kontroversi dan perdebatan di kalangan masyarakat umum
maupun masyarakat akademik.
Sejalan dengan perkembangan dan perubahan dalam pelaksanaan kurikulum PKn
berbasis kompetensi secara umum Kurikulum PKn yang sedang dalam proses
implementasi setelah melalui masa uji coba tidak dipungkiri masih
menunjukkan sejumlah kelemahan. Ada kecenderungan content untuk
kurikulum berbasis kompetensi kembali menggunakan pendekatan yang
sifatnya struktural. Dalam hal ini, sekarang sudah saatnya para pakar dan
praktisi PKn harus duduk bersama untuk melihat sebenarnya apa yang
seyogianya dikemas untuk peserta didik. Perlu dipertimbangkan dalam
proses mengemas content agar memperhatikan tantangan saat ini. Ada dua
hal tantangan warga negara pada masa kontemporer. Pertama, tantangan
untuk menghadapi kehidupan sosial kultural yang kontemporer di dalam
kehidupannya. Kedua, tantangan untuk memahami persoalan-persoalan
konseptual sebagai bekal untuk menganalisis persoalan kontemporer itu.
Satu contoh persoalan kontemporer sekarang adalah konflik antaretnis,
separatisme, kemiskinan, kebodohan, korupsi yang merajalela, dan masalah
lain tentang masalah perilaku immoral. Persoalan ini merupakaan isu
penting yang harus segera dikomunikasikan kepada peserta didik. Namun,
untuk melakukan proses tersebut tentu saja peserta didik perlu bekal. Di
dalam benak peserta didik harus sudah ada bekal konsep-konsep supaya
ketika mereka mengambil posisi di dalam proses pengambilan keputusan,
misalnya, terkait masalah konflik antaretnis, maka mereka sudah memiliki
argumen yang cerdas, logis, dan layak. Dengan kata lain, didalam benak
peserta didik telah ada sejumlah konsep yang cukup memadai untuk
mengatasi atau menghadapi isu-isu itu sehingga pendapat-pendapatnya itu
tidak common sense tetapi ditopang oleh conceptual framework yang
melandasinya. Dari kenyataan ini tampak bahwa persoalan yang dihadapi
dalam internal isi kajian PKn sebagai program kurikuler masih menunjukkan
kesenjangan antara kepentingan pemerintah dengan kebutuhan dan tuntutan
masyarakat serta tantangan masa depan.
Sebagai standar nasional dalam aspek isi atau ruang lingkup mata
pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan sebagaimana termuat dalam standar
isi (Permendiknas Nomor 22/2005) meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
Persatuan dan Kesatuan bangsa, meliputi: Hidup rukun dalam perbedaan,
Cinta lingkungan, Kebanggaan sebagai bangsa Indonesia, Sumpah Pemuda,
Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Partisipasi dalam pembelaan
negara, Sikap positif terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia,
Keterbukaan dan jaminan keadilan
Norma, hukum dan peraturan, meliputi: Tertib dalam kehidupan keluarga,
Tata tertib di sekolah, Norma yang berlaku di masyarakat, Peraturanperaturan daerah, Norma-norma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,
Sistim hukum dan peradilan nasional, Hukum dan peradilan internasional
Hak asasi manusia meliputi: Hak dan kewajiban anak, Hak dan kewajiban
anggota masyarakat, Instrumen nasional dan internasional HAM, Pemajuan,
penghormatan dan perlindungan HAM
Kebutuhan warga negara meliputi: Hidup gotong royong, Harga diri sebagai
warga masyarakat, Kebebasan berorganisasi, Kemerdekaan mengeluarkan
pendapat, Menghargai keputusan bersama, Prestasi diri , Persamaan
kedudukan warga negara
Konstitusi Negara meliputi: Proklamasi kemerdekaan dan konstitusi yang
pertama, Konstitusi-konstitusi yang pernah digunakan di Indonesia,
Hubungan dasar negara dengan konstitusi
Kekuasan dan Politik, meliputi: Pemerintahan desa dan kecamatan,
Pemerintahan daerah dan otonomi, Pemerintah pusat, Demokrasi dan sistem
politik, Budaya politik, Budaya demokrasi menuju masyarakat madani,
Sistem pemerintahan, Pers dalam masyarakat demokrasi
Pancasila meliputi: kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi
negara, Proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara, Pengamalan
nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, Pancasila sebagai
ideologi terbuka
8. Globalisasi meliputi: Globalisasi di lingkungannya, Politik luar
negeri Indonesia di era globalisasi, Dampak globalisasi, Hubungan
internasional dan organisasi internasional, dan Mengevaluasi
globalisasi.
Dengan menyimak paparan di atas, maka pengembangan materi pembelajaran
PKn hendaknya diarahkan pada ketentuan yang telah ada dalam standar isi
sesuai dengan Permendiknas Nomor 22 tahun 2006. Pembelajaran materi PKn
harus pula mengacu pada tujuan yang telah dirumuskan dalam ketentuan
Permendiknas tersebut, yakni:
Berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu
kewarganegaraan
Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, dan bertindak secara
cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta
anti-korupsi
Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan
karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan
bangsa-bangsa lainnya
Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara
langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan
komunikasi.
Selanjutnya, bagaimana pembelajaran materi PKn dapat dilakukan?
Sebelum membahas tentang persoalan ini terlebih dahulu perlu dikemukakan
beberapa prinsip berkenaan dengan tujuan dan metode pembelajaran. Tiap
usaha pembelajaran (dalam arti membelajarkan siswa) sebenarnya bertujuan
untuk menumbuhkembangkan atau menyempurnakan pola perilaku atau
kompetensi tertentu dalam diri peserta didik. Pola perilaku ialah
kerangka dasar dari sejumlah kegiatan, yang lazim dilaksanakan manusia
untuk bertahan hidup dan untuk memperbaiki mutu hidupnya dalam situasi
konkret. Kegiatan itu dapat berupa keterampilan intelektual seperti
mengkaji, mengamati, menganalisis dan menilai keadaan dengan daya nalar.
Kegiatan pembelajaran dapat juga berupa kegiatan jasmani, yang dilakukan
dengan tenaga dan keterampilan fisik. Namun, secara umum manusia
bertindak secara manusiawi apabila kedua jenis kegiatan tersebut dibuat
secara terjalin dan sinergis. Kegiatan jasmani seyogianya didukung oleh
kegiatan intelektual, dan demikian juga sebaliknya.
Disamping menumbuhkan atau menyempurnakan pola perilaku,
pembelajaran bertujuan pula untuk menimbulkan kebiasaan. Kebiasaan dapat
dirumuskan sebagai keterarahan, kesiapsiagaan dalam diri manusia untuk
melakukan kegiatan yang sama atau serupa dengan cara yang lebih mudah,
tanpa memeras dan menguras tenaga. Kebiasaan akan timbul justru apabila
kegiatan manusia berulang kali dengan sadar dan penuh perhitungan. Dengan
demikian, tujuan tiap pembelajaran ialah menimbulkan atau menyempurnakan
pola laku dan membina kebiasaan sehingga peserta didik terampil menjawab
tantangan situasi kehidupan secara manusiawi. Dengan kata lain,
pembelajaran ingin memekarkan kemampuan berpikir dan kemampuan bertindak
pada peserta didik sehingga menghadapi keadaan apapun ia cukup sanggup
mengamati keadaan, menilai keadaan, dan menentukan sikap serta
tindakannya dalam keadaan tersebut.
Kehidupan manusia dalam masyarakat modern dewasa ini sedang
mengalami perubahan yang begitu pesat. Oleh karena itu, pembelajaran di
abad sekarang ini hendaknya memperhatikan arus dan laju perubahan yang
terjadi. Pembelajaran perlu membina pola berpikir, keterampilan dan
kebiasaan, yang terbuka dan tanggap, yang mampu menyesuaikan diri secara
manusiawi dengan perubahan. Kalau tujuan pembelajaran adalah menumbuhkan
dan menyempurnakan pola perilaku, membina kebiasaan dan kemahiran
menyesuaikan diri dengan keadaan yang berubah-ubah, maka metode
pembelajaran harus mampu mendorong proses pertumbuhan dan penyempurnaan
pola perilaku, membina kebiasaan, dan mengembangkan kemahiran untuk
menyesuaikan diri. Pembelajaran harus mampu membina kemahiran pada
peserta didik untuk secara kreatif dapat menghadapi situasi sejenis,
malah situasi yang baru sama sekali atas cara yang memuaskan. Pemikiran
kreatif yang dapat menelurkan tindakan kreatif pula wajib dibina dalam
tiap pembelajaran, terutama pada jaman kita sekarang ini yang penuh
dengan perubahan ini. Jelaslah bahwa metode pembelajaran yang ampuh harus
mengembangkan pemikiran dan tindakan kreatif.
Hal lainnya yang perlu diperhatikan sebagai prinsip pembelajaran
adalah (1) tingkat kesulitan, dan (2) tingkat kemampuan berpikir. Tingkat
kesulitan berkenaan dengan beban belajar (learning task) sedangkan
tingkat kemampuan berpikir berkenaan dengan kemampuan kognitif siswa.
Kemampuan berpikir, menurut sejumlah hasil riset, adalah bertahap
dan berjenjang mulai dari yang sederhana/mudah kepada yang
kompleks/rumit. Dengan merujuk pada taksonomi Bloom (1956), Rooijakkers
(1989: 112) menyusun tingkat-tingkat kemampuan berpikir sebagai berikut.
Taraf Nama taraf berpikir Macam kerja pikir yang dibelajarkan
5
4
3
2
1 Evaluasi
Analisa dan sintesa
Aplikasi
Pemahaman
Pengetahuan Berpikir kreatif atau berpikir untuk memecahkan masalah
Berpikir menguraikan dan menggabungkan
Berpikir menerapkan
Berpikir dalam konsep dan belajar pengertian
Belajar reseptif atau menerima
Erat kaitannya dengan pembelajaran PKn adalah pertimbangan tentang
tingkat penalaran moral. Atas dasar karya Piaget dalam penelitiannya
tentang perkembangan moral, Kohlberg mengembangkan teori perkembangan
moral kognitif. Dari hasil penelitiannya yang menggunakan dilemma moral
hipotetik, Kohlberg menyusun tingkat perkembangan moral ke dalam enam
tingkatan sebagai berikut.
Taraf Tingkat perkembangan moral Prekonvensional 1. Orientasi hukuman
dan kepatuhan. Konsepsi tentang baik dan buruk ditentukan oleh
konsekuensi fisik tanpa memperhatikan makna atau nilai dari konsekuensi
ini bagi individu.
2. Orientasi instrumental. Konsepsi tentang “baik”
lebih ditentukan oleh kepuasan sendiri Konvensional 3. Orientasi
keserasian antar personal. Apa yang menyenangkan atau membantu orang lain
adalah “baik”.
4. Orientasi terhadap peraturan hukum dan ketertiban.
Memelihara ketertiban sosial, menghormati kekuasaan, dan melaksanakan
kewajiban sendiri adalah “baik”. Orang dihargai karena mentaati
peraturan, hukum, dan kekuasaan yang berlaku. Pasca konvensional 5.
Orientasi legalistik kontrak soaial. Apa yang “benar” ditentukan oleh
nilai-nilai yang disepakati oleh masyarakat, termasuk hak-hak individu
dan aturan-aturan konsensus. Namun demikian tekanannya diletakkan pada
pertimbangan rasional dan kemanfaatan sosial.
6. Orientasi terhadap
prinsip-prinsip etika universal. Yang “benar” merupakan masalah nurani
sesuai dengan prinsip-prinsip pilihan sendiri yang dipAndang logis, ajeg,
dan universal. Prinsip-prinsip yang universal ini pada hakekatnya
merupakan prinsip-prinsip keadilan, persamaan hak asasi manusia, dan rasa
hormat terhadap martabat manusia sebagai mahluk individu. Demikianlah
paparan tentang beberapa prinsip yang patut diperhatikan dalam
pengembangan materi pembelajaran PKn. Patut diperhatikan bahwa model
pengembangan materi pembelajaran PKn di Sekolah Dasar hendaknya
disesuaikan dengan tingkat kemampuan berpikir dan tingkat perkembangan
moral anak-anak usia SD.
Tugas dalam mengembangkan materi pembelajaran PKn seyogianya
memperhatikan hakikat dan karaktertistik, tujuan, dan ruang lingkup PKn
sesuai dengan ketentuan dalam Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006. Secara
lebih rinci, pengembangan materi pembelajaran PKn oleh guru mengacu pada
standar kompetensi dan kompetensi dasar (SK/KD) sekolah dasar dan Sekolah
Dasar (SD/MI) yang ada dalam standar isi.
Dikemukakan dalam Permendiknas tersebut bahwa SK/KD menjadi arah dan
landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan
indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Dalam merancang kegiatan
pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan Standar Proses dan Standar
Penilaian. Berikut ini adalah contoh mengembangkan materi pembelajaran
kelas VI semester 2.
Kompetensi Dasar Rincian Materi 3.1 Menjelaskan pengertian kerjasama
negara-negara Asia Tenggara
3.2 Memberikan contoh peran Indonesia dalam lingkungan negara-negara di
Asia Tenggara a. pengertian kerjasama antarbangsa
b. Negara-negara Asia Tenggara
c. Pelaksanaan kerjasama Indonesia dengan negara-negara Asia Tengggara
d. Peran Indonesia di Asia Tenggara
4.1 Menjelaskan politik luar
negeri Indonesia yang bebas dan aktif
4.2 Memberikan contoh peranan politik luar negeri Indonesia dalam
percaturan internasional a. Pengertian Politik luar negeri
b. Politik luar negeri Indonesia bebas aktif.
c. Pelaksanaan politik luar negeri bebas aktif.
d. Contoh pelaksanaan politik luar negeri Indonesia.
Demikianlah contoh pengembangan materi berdasarkan kompetensi dasar (KD).
Selanjutnya Anda dapat mengembangkan materi pembelajaran lain sesuai
dengan KD dan kelas serta semester.
Bagaimana mengembangkan SKKD menjadi rencana pembelajaran baik berupa
silabus maupun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dapat dikaji pada
bab buku ajar berikut ini.
Untuk anak-anak SD pada kelas-kelas rendah (kelas 1 sd kelas 3),
pembelajaran materi PKn dapat diawali dengan memperkenalkan mereka pada
sejumlah aturan-aturan hidup yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari,
baik dalam lingkungan keluarga, lingkungan madrasah, dan lingkungan
masyarakat sekitar. Pengenalan terhadap keberadaan aturan-aturan tersebut
hendaknya diarahkan pada tumbuhnya kesadaran pada diri anak tentang
perlunya aturan dalam kehidupan kita. Perlu diperhatikan bahwa di kelas
rendah, mengingat kemampuan berpikir anak masih bersifat holistik, maka
pembelajaran hendaknya lebih banyak pada upaya pembiasaan.
Media pembelajaran yang dapat digunakan adalah dengan memanfaatkan
pengalaman langsung yang diperoleh anak-anak dalam keluarga, kelompok
permainan, dan dalam kehidupan di sekolah. Secara lebih rinci uraian
pengembangan materi dan pembelajaran untuk siswa SD kelas rendah dapat
dilihat pada bab 6 dan untuk siswa SD kelas tinggi dapat dilihat pada bab
7 buku ajar ini.
Rangkuman
Secara harfiah, istilah materi berarti (1) substansi yang dapat
menghasilkan sesuatu; (2) sesuatu yang diperlukan untuk melakukan
aktivitas tertentu; sedangkan konten berarti “the things that are
contained in something” (hal-hal yang ada di dalam sesuatu). Dalam
konteks pembelajaran PKn istilah materi dan “content” dimaksudkan untuk
membangun warga negara yang cerdas dan baik (smart and good citizen).
Misi utama PKn adalah membantu para siswa belajar agar menjadi warga yang
memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air serta bertanggung jawab dan
berpartisipasi di masyarakat demokratis yang majemuk baik dalam suku,
bahasa, agama, budaya, maupun adat istiadat. PKn sebagai mata pelajaran
di sekolah sangat bertanggung jawab untuk menjadikan warga negara yang
cerdas dan baik dalam hidup berbangsa dan bernegara.
Ada tiga sumber yang dapat diidentifikasi dalam mengorganisasikan sumber
PKn, yakni: (1) “informal content” yang dapat ditemukan dalam kegiatan
masyarakat tempat para siswa berada; (2) the formal disciplines meliputi
geografi penduduk, sejarah, ilmu politik, ekonomi, sosiologi,
antropologi, psikologi sosial, jurisprudensi, filsafat dan etika serta
bahasa; (3) the responses of pupils ialah tanggapan-tanggapan siswa baik
yang berasal dari “informal content” (events) maupun dari “formal
disciplines” (studies).
Ada dua unsur yang menjadi fokus materi pembelajaran PKn yang penting
untuk jenjang Sekolah Dasar, yakni fakta (peristiwa, kasus aktual) dan
konsep baik yang konkrit maupun abstrak. Fakta merupakan abstraksi dari
kenyataan yang diamati yang sifatnya terbatas dan dapat diuji
kebenarannya secara empiris. Sedangkan konsep merupakan abstraksi, suatu
konstruksi logis yang terbentuk dari kesan, tanggapan dan pengalamanpengalaman kompleks. Fakta menekankan pada kekhususan, maka konsep
memiliki ciri-ciri umum (common characteristics) yang sudah tentu
pengertian konsep lebih luas daripada fakta.
Ada empat kualifikasi yang dapat diterapkan untuk menguji apakah suatu
konsep telah memenuhi persyaratan, yakni: (1) tingkat keabstrakan (degree
of abstraction) dari konsep tersebut; (2) kompleksitas (complexity; (3)
pembedaan (differentiation); dan (4) pemusatan dimensi (centrality of
dimensions).
Tujuan PKn hendaknya disesuaikan dengan tuntutan dan perkembangan zaman,
artinya bukan hanya membangun warga negara yang baik (good citizen)
semata melainkan warga negara yang cerdas (smart citizen) dalam
menghadapi lingkungan kehidupannya. Hal ini perlu mendapat perhatian
mengingat tantangan kehidupan saat ini tidak cukup dan dapat diselesaikan
hanya oleh warga negara yang baik melainkan perlu pula oleh warga negara
yang memiliki kecerdasan. Kecerdasan yang perlu dimiliki oleh seorang
warga negara adalah kecerdasan dalam berbagai aspek, yakni kecerdasan
dalam intelektual, emosional, sosial, dan bahkan spiritual. Kecerdasan
yang dimiliki oleh seorang warga negara diharapkan dapat dimanfaatkan
untuk berpikir dalam menganalisis berbagai masalah. Dalam hal ini,
seorang warga negara harus memiliki sejumlah keterampilan/ kecakapan
(skills), meliputi keterampilan berpikir, berkomunikasi, berpartisipasi,
bahkan keterampilan meneliti untuk memecahkan masalah-masalah yang
dihadapinya.
Secara konseptual, PKn memiliki objek kajian pokok ilmu politik,
khususnya konsep demokrasi politik (political democracy) untuk aspek hak
dan kewajiban (duties and rights of citizen). Dari objek kajian pokok
inilah berkembang konsep Civics yang secara harfiah diambil dari bahasa
latin civicus, yang artinya warga negara pada jaman Yunani kuno.
Secara praksis, fokus kajian / bidang telaah PKn adalah perilaku warga
negara. Perilaku warga negara sebagai pribadi maupun anggota masyarakat
berada dalam lingkup sebuah organisasi, sebagai pengikat dan sekaligus
yang memberi ruang untuk melakukan perbuatan. Organisasi yang dimaksud
adalah negara sebagai organisasi tertinggi.
Secara filosofis, obyek kajian PKn sebagai landasan berpikir dalam
konteks keindonesiaan, meliputi: Nusantara Indonesia, manusia sebagai
pribadi, kekayaan Indonesia, kesadaran manusia Indonesia atas keIndonesiaannya, jatidiri sebagai bangsa Indonesia.
Secara ontologis, perspektif PKn sebagai domain kurikuler terdiri atas
dua unsur, yakni curriculum content dan student behavior. Persoalan yang
dihadapi saat ini khususnya menyangkut persoalan bangsa dan pemerintahan
yang berada pada masa transisi, menunjukkan bahwa PKn di Indonesia yang
bersifat exclusive dan formal dengan pembelajaran berparadigma education
about democracy sedang mengalami perubahan menjadi paradigma education
in democracy.
PAGE
PAGE
12
4
7
8
@
h
n
Ì
Ù
Û
N
d
e
f
òäÚÖÌ¿±£±’’s’’ee’±’Q’’
hZ9‡ 6 •B* ] •aJ mH ph
sH
h–
!
Ý
Þ
(
' h~
/
I† B* aJ mH ph
sH
h•e~ B* aJ mH ph
sH ! h~
h8}˜ B* aJ mH ph
sH ! h~
hZ9‡ B* aJ mH ph
sH
h ]‹ B* aJ mH ph
sH
hZ › B* aJ mH
ph
sH
hZ › 5 •CJ OJ QJ \ •
hZ › CJ4 OJ QJ
hZ ›
hZ ›
CJH OJ QJ
hZ › CJH OJ QJ mH sH
h ]‹ CJH OJ QJ mH
sH
Ä
(
‰
ç
d
e
ê
Ì
•
÷
÷
Û
½
ò
Û
®
ò
Ì
®
›
$
&
F
Æ
ž ˆ
dh
a$ gd ]‹
ê
Ì
$
„„
dh
`„„ a$ gdü58
$
„„
dh
`„„ a$ gd1 H
$
„„
dh
`„„ a$ gd hŽ
$
F
H
h
À
Ä
Ì
Í
×
"
0
9
@
D
V
Z
ž
¢
ò
„8 dh
^„8 a$ gdÜY‹
„
†
Š
•
—
$ a$ gdZ ›
É
è
gdZ ›
é
E
$ a$ gdZ ›
f
þ
b
e
*
íÜË·ËÜíÜË©›ËÜË•ËÜË|Ë|Ë•|Ë|Ë|Ë|Ë|Ë•ËkË•Ë
hוD B* aJ mH ph
sH ! h~
h
! h~
Õ B* aJ mH ph
sH
I† B* aJ mH ph
sH
hZ9‡ 6 •B* ] •aJ mH
hZ9‡ B* aJ mH ph
h8}˜ B* aJ mH ph
h8}˜ 6 •B* aJ mH ph
h•e~ B* aJ mH ph
hZ › B* aJ mH ph
ph
sH ! h~
sH ! h~
sH $ h~
sH '*
sH
sH
h–
' h~
4
9
=
j
n
š
¤
²
¶
Ó
G
Q
V
Z
‰
•
—
®
¸
¿
å
¤
¥
¸
Ì
Ü
Ý
L
`
c
d
e
~
ñàÏàÏà
¾àÏà­Ÿ­àñàÏàñàŽñàŽà­à­à­à­à€m\ h„:
hK w 5 •B* mH! ph
sH! % h~
hü58 B* CJ aJ mH ph
sH
hŸnd B* aJ mH ph
sH ! h~
hK w B* aJ mH ph
sH
h–I† B* aJ mH ph
sH ! h~
hוD B* aJ mH ph
sH ! h1 H h1 H B* aJ mH ph
sH ! h~
h
Õ B* aJ mH ph
hZ9‡ B* aJ mH
°
×
sH
ph
! h~
sH
h1 H B* aJ
mH
ph
sH
$~
•
€
¦
*
^
k
m
o
p
€
•
‹
a
n
’
°
¸
á
#
ïàÏÁÏ°Á°¦°Á°Ï˜Ï˜Ï¦Ï°Ï°˜°Ï°Ï°˜°‡s‡`‡s‡
hì" 6 •B* aJ mH! ph
sH! ' h~
hì" 6 •B* ] •aJ mH! ph
sH! ! h~
hì" B* aJ mH! ph
sH!
h–
I† B* aJ mH! ph
sH!
hü58 B* aJ ph
! h~
hî+X B* aJ mH! ph
sH!
h1 H B* aJ mH! ph
h-” B* aJ mH! ph
sH!
h~
hZ9‡ B* mH! ph
sH!
h„:
hŸnd 5 •B* mH! ph
sH! %•
€
¥
Û
”
¡+ z- žÚ. Ý3 Ü6 a:
< è
Ù
Ù
·
·
·
·
·
·
¨
•
Ù
$ „
„Ð dh
^„
©
¹
Y
•
Û
$ h~
sH! ! h~
"
°!
¬$
S'
)
Ê
·
·
•
`„Ð a$ gdÜY‹
Ù
$
„Ð
dh
`„Ð a$ gdÜY‹
$
„æÿ „Ð
dh
]„æÿ`„Ð a$ gdÜY‹
$
„Ð
dh
`„Ð a$ gd ]­
$ „Ð dh
`„Ð a$ gdÜY‹
$
ž ˆ
„h „¼þ dh
^„h `„¼þa$ gdÜY‹
#
=
x
¹
Ä
Ë
Ö
D
K
’
ž
¯
Ð
Ò
è
é
|
‘
Ò
Õ
Y
x
›
¡
¾
Ô
ë
|
•
îÝÉݼ-¼¼­¼¼ƒtƒ¼¼g¼g
¼g]gP¼g¼
h~
h ]- B* aJ ph
h•e~ B* aJ ph
h~
h{Py B* aJ ph
h~
hÜ(J 6 •B* aJ ph
h~
hÜ(J B* aJ ph
h~
hî+X B* aJ ph
h~
hì" 6 •B* ] •aJ ph
h~
hì" 6 •B* aJ ph
h~
hì" B* aJ ph
' h~
hì" 6 •B* ] •aJ mH! ph
sH! ! h~
hì" B* aJ mH! ph
sH! ! h~
hî+X B* aJ mH! ph
sH! •
Ø
â
ì
í
O
c
~
…
¹
Å
ù
+
,
9
œ
£
¦
¶
9
¹
¾
À
ù
ò
9- P- ^- Ù- à- ÷+ A m { ¡ ¯ ³¹ » Ò
$
3
E
H
O
ž
¥
2! @! õ! òèòèòÛòÛÌÛòÛ½Ûò-ÛòÛ•Û-ÛèÛ•Û-Û-Û-Û½Û-Û-Û-Û-Û•Û-Û-Û-Û-Û-Û½Û½Û
h~
hì" 5 •B* \ •aJ ph
h~
hì" 6 •B* ] •aJ ph
h~
hì" 6 •B* aJ ph
h•e~ hì" 6 •B* aJ ph
h~
hì" B* aJ ph
h•e~ B* aJ ph
h~
h{Py B* aJ ph
;õ! ø! %" G" I" b" …" †" ¥" ÿ"
# I# ·#
¾# Æ# É# H$ f$ é& ï&
' ,' ¿' Ä'
( <( =( E( ¥( ¬( Ï( Ÿ)
*
* ,* 3* G* U* ˆ*
®* °* Ô* Ú*
+ B+ Œ+ •+ ž+ ¡+ ç+ •- žòåÕŶÕŶÕŶå§åòå•åÕåÕåÕåò•òå§åòå§å§å§åÕåÕåÕåòåòåòƒò
h~
h‡ A B* aJ ph
h~
hÅYý B* aJ ph
h•e~ B* aJ ph
h~
hì" 6 •B* aJ ph
h~
h’-Ý B* ] •aJ ph
h~
h’-Ý 6 •B* ] •aJ ph
h~
hì" 6 •B* ] •aJ ph
h~
hì" B* aJ ph
h~
h’-Ý B* aJ ph
3ž- À.
. . ,. ‚. Ù. Ú. ‰/ —
/ Z0 À0
1 Ê1 ÷1 R2 '4 54 •4 †4 ñ6
7
7
7 î7 ô7 69 ¹9 a: ¥: ²:
; È; Ñ;
< ñãñãØãñÈ»¬»¬»¬»¬»¬»¬»œ»¬»œ
»œ»…xix
h~
h°` 6 •B* aJ ph
h~
h°` B* aJ ph
h–I† B* aJ ph
h~
h:i B* aJ ph
h~
hì" 6 •B* ] •aJ ph
h~
hì" 6 •B* aJ ph
h~
hì" B* aJ ph
- h~
hì" 5 •B* \ •] •ph
h–I† 5 •B* \ •ph
h~
h|?> 5 •B* \ •ph
h~
hW_ã 5 •B* \ •ph
# < &< < }< ÷< ø< ·>
?
?
? )? ˆ? ”? °?
A "A 3A 4A OA SA }A
~A ßA ßB ]C îÝîÝîÝÌݾ­œ‹œ~t~d~W~d~L> h~
hì" 6 •B* ] •ph
h~
Æ
hì"
h
B* ph
h~
Õ B* aJ
hì"
hì"
hÈMA
hì"
h)Yd
hC^5
hÌ
h°`
ph
B* aJ
B* aJ
B* aJ
B* aJ
B* aJ
B* aJ
B* aJ
B* aJ
j
ph
ph
mH
mH
mH
mH
mH
mH
¾ð h~
h„: B* aJ ph
! h~
ph
sH ! h~
ph
sH ! h~
ph
sH
h„: B* aJ
ph
sH ! h~
ph
sH ! h~
ph
sH
< }< ø<
h~
mH
ph
O=
‘=
sH
! h~
>
·>
?
?
)?
ßA
G
zJ
Ú
HK
VM
5P ¸Q
Ú
ð
ð
¹S
GV
Z
û[
Ú
Ë
ð
ð
ÖX
Ú
ð
ð
ð
àR
ð
Ú
ð
ð
ð
ð
“^
ð
ð
ð
ð
ð
$
&
F
„Ð
$
dh
`„Ð a$ gdwl
Æ
„
„Ð
dh
^„Ð a$ gdÜY‹
$
„Ð
dh
`„Ð a$ gdÜY‹
]C
·C
×C
éC
êC
“D
G
xG ŽG ÎG òG }H ©H ÉH éI öI OK QK dK }K ÆK âK •L žL jM
zM ŸO 'P FP ZP ¿Q ÁQ ÒQ íQ ³R ¹R óR 0S ¹S ÀS ûT ]U GV
LV NV ÃV
W –
W œW ôéôéôÚɵɨ™¨™¨™¨™¨™¨™¨™¨™¨™¨™¨™¨™¨™¨Š¨Š¨™¨Šz¨™¨™ h~
hì" 6 •B* ] •aJ ph
h~
hì" B* ] •aJ ph
h~
hì" 6 •B* aJ ph
h~
hì" B* aJ ph
' h~
hì" 6 •B* ] •aJ mH ph
sH ! h~
hì" B* aJ mH ph
sH
h~
hì" B* mH ph
sH
h~
hÈMA B* ph
h~
hì" B* ph
0œW ”X •X ÖX ÜX
Z
Z —
Z ˜Z û[
\ W] \] “^ ™^ ¶^ Á^ õ_ 9` C` >a ãa Jb Qb ðb
c †c Vd •h ±h Âh Ãh Ëh Ìh Õh üh ýh òâòÓòÓòÆòÓò·òÓò·ò¦“¦
•¦•¦ò·òrerererer
h~
hùP8 B* aJ ph
h~
h¬ – B* aJ ph
' h~
hì" 6 •B* ] •aJ mH ph
sH $ h~
hì" 6 •B* aJ mH ph
sH
! h~
hì" B* aJ mH ph
sH
h~
hì" 6 •B* aJ ph
h~
hÈMA B* aJ ph
h~
hì" B* ] •aJ ph
h~
hì" 6 •B* ] •aJ ph
h~
hì" B* aJ ph
$“^ Jb Vd ¹f Ìf ÿh |k -n
r fs £s
t rt
.u €u 5v ð
ð
ð
ð
ð
á
Ö
Ö
Ö
Ç
¹
¹
¹
¹
¹
$
&
F
dh
a$ gdÜY‹
$
$
„Ð
dh
dh
^„Ð a$ gdÜY‹
a$ gdÜY‹
$
„Ð
dh
`„Ð a$ gdÜY‹
$
„Ê dh
`„Ê a$ gdÜY‹
ýh þh ÿh ni Šj •j
k /l ?l ¡l ¢l ¥l Èn Ýn
r ”r ³r ¹r
7v Fv `v mv xv òåòÔÃÔ²Ÿ²Ž}²Ÿ²ÔlÔÃÔ²ÔòÔÃYÔY
$ h~
h$+’ 6 •B* aJ mH ph
sH
! h~
h BS B* aJ mH ph
sH ! h~
h
s
fs
£s
t
.u
Õ B* aJ mH
ph
sH
! h~
h¬ – B* aJ mH
ph
sH
$ h~
h$+’ 6 •B* aJ mH
ph
sH
! h~
h$+’ B* aJ mH
ph
sH
! h~
hùP8 B* aJ mH ph
h$+’ B* aJ mH ph
h¬ – B* aJ ph
h$+’ B* aJ ph
¯
~
sH
sH
h~
5v
! h~
h~
6v
o
4x
Áy
Ây
o
çy
èy
•
®}
ÿ~
s‚
¯
á…
º
~
$
&
„Ð
dh
`„Ð a$ gdÜY‹
$
F
&
F
Æ
„Ð
ž ˆ
dh
dh
`„Ð a$ gd± e
gd ]‹
$
$
&
„Ð
dh
dh
`„Ð a$ gdÜY‹
a$ gdÜY‹ D
$
F
„8
„˜þ dh
xv
zv
|v
™v
>ÆT
év
ÿÿ
h
Tf
.
ÿ^„8 `„˜þa$ gdÜY‹
w 4x €y Ày Áy Ây Ïy Ðy Õy Öy ×y ãy æy çy èy íÚǶ¥¶¥”¥”ƒraP
rPaP?
! h~
hZ9‡ B* aJ mH ph
sH
h„:
hZ9‡ 5 •B* mH! ph
sH!
h„:
hK w 5 •B* mH! ph
sH!
h„:
hJc, 5 •B* mH! ph
sH!
h„:
hˆ3 5 •B* mH! ph
sH! ! h~
hˆ3 B* aJ mH ph
sH ! h~
hùP8 B* aJ mH ph
sH ! h~
h$+’ B* aJ mH ph
sH $ h~
h$+’ 6 •B* aJ mH ph
sH
$ h~
h
Õ 6 •B* aJ mH ph
sH
$ h~
hùP8 6 •B* aJ mH ph
sH
èy íy ÷y þy
z /z =z Dz Gz ^z
tz vz ‚z °z Èz S{ j{ ‚{ •{ ï{ ÷{ •| š|
| °| û|
} •} ª
} -} ®} ³} ½} Ù} ú}
~ C~ E~ ü~ ÿ~ Ε Ï• /€ B€ c€ € ³€
¹€ è€ ï€ U• d• (‚ 6‚ X‚ p‚ ¦‚ îàîÒîÁîÁîÁîÁîÁîÁî³îÁîÁîÁîÁîÁîÁî
àîÁ³î³Áî¢à¢•¢•¢•¢•¢•¢•¢•¢ $ h~
hK w 6 •B* aJ mH ph
sH
! h~
hK w B* aJ mH ph
sH
h–I† B* aJ mH ph
sH ! h~
h¢QŸ B* aJ mH ph
sH
h1 H B* aJ mH ph
sH
h„: B* aJ mH
ph
sH ! h~
h± e B* aJ mH ph
sH
8¦‚ ¬‚ ±‚ À‚ ¢„ ©„
ˆ
ˆ ˜ˆ §ˆ
Š
Š
Š •Š •Š “Š 2‹ ñŽ
•
•
• þ•
‘ ã‘ î‘
’
’ —
’
“ k“ p“ 1• 4• íÜíÜíÜíÜíÜ˺Ü˺ܭܜºÜíÜíÜí܉xdxS ! h~
h$*• B* aJ mH
ph
sH
' h~
h,w
6 •B* ] •aJ mH
ph
sH
! h~
h,w
B* aJ mH
ph
sH
$ h~
h,w
B* \ •aJ mH
ph
sH
! h~
h$*• B* aJ mH ph
sH
h~
hK w B* aJ ph
! h~
h
Õ B* aJ mH ph
sH ! h~
h¢QŸ B* aJ mH ph
sH ! h~
hK w B* aJ mH ph
sH $ h~
hK w 6 •B* aJ mH ph
sH
á… X‰ 2‹ —’
+™ 0• è
ö¡
ª
ª Eª Fª Gª Mª Wª è
Ñ
Ñ
Ñ
¾
¾
¯
•
•
$
Æ
Ä
Ã’
Ÿ–
è
Ñ
è
Ñ
¯
•
dh
$ If
a$ gdÜY‹
$
Æ
Ä
dh
a$ gd k²
$
Æ
Ä
dh
Æ
a$ gdÜY‹
Ä
$
„Ð
Æ
dh
Ä
`„Ð a$ gdÜY‹
$
„Ð
Æ
dh
Ä
¤x
¤x `„Ð a$ gdÜY‹
$
„
„Ð dh
^„ `„Ð a$ gdÜY‹
4• H• P• U• w• z• }• ÷™ gš hš
•› ‚› …› ¯› °› ³› °œ ±œ Ëœ Ìœ Ïœ Óœ Ôœ ל *ž +ž .ž åž
ÿž
Ÿ
Ÿ ·Ÿ ÍŸ
¡
¡
¡
¢
¢ d£ k£ y£ z£ í¥ ô¥ ü¥
¦ !¦ (¦ 7¦ H¦ N¦ ^¦ ¦¦ ®¦ ¼¦ ͦ
÷¦
§
§
§ ħ ˧ ¨ '¨ 5¨ F¨ U¨ îÝîÝîÝîÐÃÐöÐöÐÃÐöÐöÐöЧЧЧÐöЧЧÐÃЧЧЧЧЧЧÐ
§Ð§Ð§ÐÃЧЧРh~
h,w
6 •B* aJ ph
h~
h
Õ B* aJ ph
h~
h k² B* aJ ph
h~
h,w
B* aJ ph
! h~
h$*• B* aJ mH
ph
sH
! h~
h,w
B* aJ mH
ph
sH
BU¨ \¨ ܨ æ¨ ö¨
ª
ª #ª Gª Xª Yª Zª [ª qª rª Œª
•ª ‘ª ’ª “ª ”ª –
ª §ª ¨ª ©ª ªª «ª ¬ª -ª ñäÓÀÓ¬˜„äwäwägñMgMgMgMgñMgMgMg3 j
h,w
5 •B* U \ •aJ mH nH ph
u
h~
h,w
5 •B* \ •aJ ph
h~
h k² B* aJ ph
' h~
h,w
5 •B* \ •aJ mH
ph
sH
' h~
h k² 5 •B* \ •aJ mH
ph
sH
' h~
h,w
5 •B* \ •aJ mH ph
sH $ h~
h,w
6 •B* aJ mH ph
sH
! h~
h,w
B* aJ mH ph
sH
h~
h,w
B* aJ ph
h~
h,w
6 •B* aJ ph
-Wª eª qª rª Œª Žª •ª ‘ª ì
ì
@
ì
ì
ì
ì
¬ kd
$ $ If
–l Ö
Ör ”ÿA ¨
•ª
•ª
h~
ü K ù
- ÿÿÿÿÿÿÿÿ
® ÿÿÿÿ
ÿ
ö
6 ö
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
l aö
$
Æ
Ä
g ÿÿÿÿ
T ÿÿÿÿ
ÿÿÿÿ Ö0
ÿ
ÿ
ÿ
ö
Ö ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ Ö ÿÿÿÿ
ÿ Ö
ÿ
ÿ
ÿ
ÿÿÿÿÿ4Ö
ÿ
ÿ
O ÿÿÿÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ Ö
ª
l
dh
§ª
Ö
$ If
©ª «ª
ì
a$ gdÜY‹
-ª ì
ì
Ի
һ
ì
•ª
–
¬
Ör
”ÿA ¨
@
kd
$
ì
$ If
ì
–
ü K ù
-
ÿÿÿÿ
®
ÿ
ö
6 ö
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
l aö
$
Æ
Ä
g
ö
ÿ Ö
ÿÿÿÿ Ö0
Ö
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
T
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ Ö ÿÿÿÿ
ÿÿÿÿÿ4Ö
O
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ Ö
dh
$ If
a$ gdÜY‹
-ª ®ª ·ª
«
« ¥- -- "® *® •® ”® o¯
u¯ º¯ ¯
°
° ·° ¾° ΰ Õ° M² P² U² Y² e² h² <³ =³ @³ N³ O³ R³ }³ ~³
•³ ú´ ý´
µ
µ œµ Ÿµ æµ íµ úµ ýµ
¶ åÕȻȬȁȬȬȁȬȁȁȁȁȁȁƒÈƒÈƒÈ
vÈvÈvÈ•ÈvÈ
h~
h¹[C B* aJ ph
h~
h
Õ B* aJ ph
h~
h[w» B* aJ ph
h~
h,w
6 •B* aJ ph
h~
h,w
5 •B* aJ ph
h~
h k² B* aJ ph
h~
h,w
B* aJ ph
h~
h,w
5 •B* \ •aJ ph
3 j
h~
h,w
5 •B* U \ •aJ mH nH ph
u
.-ª ¯ª
@
ì
ì
ì
¬ kdô
$ $ If
–
l Ö
Ör ”ÿA ¨
°ª
±ª
ì
²ª
³ª
´ª
ì
µª
ì
ü K ù
-
ÿÿÿÿ
®
ÿ
ö
6 ö
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
l aö
$
Æ
Ä
g
ö
ÿ Ö
ÿÿÿÿ Ö0
Ö
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
T
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ Ö ÿÿÿÿ
ÿÿÿÿÿ4Ö
O
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ Ö
dh
,
Æ
$ If
a$ gdÜY‹
,
Ä
µª
¶ª
·ª
°
¶³
N
$
?
„Ð
dh
`„Ð a$ gdÜY‹
$
Æ
Ä
l
dh
4
a$ gdÜY‹ ±
Ö
kdç
$
$ If
”
–
Ör
”ÿA ¨
ü K ù
ÿÿÿÿÿÿÿÿ
g
ÿÿÿÿ
T
ÿÿÿÿ
O
ÿ
ÿÿÿ
®
ÿÿÿÿÿÿÿÿ Ö0
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ö
6 ö
ö
Ö
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ Ö ÿÿÿÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ Ö ÿ
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ Ö
ÿ
ÿ
ÿ
ÿÿÿÿÿ4Ö
l aö
f4
¶
¶ G¶ J¶ ~¶ „¶ h· ˆ· ì· ó· -¹ %¹ ˆ¹ •¹ ì¹
î¹ ï¹ õ¹ 5¼ 6¼ |¼ •¼ y½ …½ ›½ ž½ Ÿ½ ¯½ ¸½ ¹½ ¼½ ¿¾ À¾ Ã
¾ 7¿ 8¿ ;¿ ¬Á -Á ÝÆ
Ç 'Ç AÇ •Ç ±Ç ´Ç µÇ
È òåòåòåòåÖåÖåÇå
Ö·ÇåòåòåÖåÖ«ÖåòžåòžåòžåÖå‘„‘„‘„‘„
h~
hIU˜ B* aJ ph
h~
hˆ3 B* aJ ph
h~
h
Õ B* aJ ph
h»M9 6 •B* aJ ph
h,w
5 •6 •B* aJ ph
h~
h,w
5 •B* aJ ph
h~
h,w
6 •B* aJ ph
h~
h,w
B* aJ ph
h~
h¹[C B* aJ ph
/¶³ æ¶ µ¾ „¿
h~
¾À
ÙÁ
ŠÂ
qÃ
%Ä
(Å
Æ
ÝÆ
¿
È
Ä
Ù
¿
w
Æ
ì
Ù
¿
¿
Ÿ
¿
¿
Š
$
„*
dh
`„* a$ gdÍI¹
„Ê
„›þ dh
$
„Ð
„˜þ dh
¤x ^„Ð `„˜þa$ gdÜY‹
&
F
¤x 5$ 7$ 8$ 9D
H$ ^„Ê `„›þa$ gdÜY‹
&
F
dh
Æ
¤x 1$ 5$ 7$ 8$ 9D
Ä
H$ a$ gdÜY‹
$
$
$
„*
Æ
dh
Ä
`„* a$ gdÜY‹
$
„Ð
dh
`„Ð a$ gdÜY‹
È
kÈ
É
ç
Ü
ƒ
FÊ
KÎ ³Ñ
ç
Ü
6Ö
Ü
M×
\Ø
Ü
]Ø
dØ
xØ
Ü
Í
ϯ
ç
ç
Ü
Í
$
dh
Í
$ If
a$ gdÜY
‹
$
&
F
Æ
dh
a$ gdÜY‹
$
8 ž ˆ
dh
¤x ¤x a$ gd€)u
FÊ GÊ rÊ uÊ
Ë )Ë VË eË nË uË ’Ë –
Ë ›Ë «Ë ÎË ÏË ÓË ×Ë †Ì ŒÌ •Ì «Ì ´Ì ¾Ì ÓÌ ÕÌ ýÌ
Í lÍ {Í
ÞÍ ëÍ þÍ
Î
Î +Î KÎ NÎ {Î •Î ³Ñ ¶Ñ »Ñ ½Ñ éÑ
Ò
Ò "Ò &Ò 'Ò mÓ qÓ $Ô
(Ô îÖ ûÖ ðãÒÄÒÄÒÄÒÄÒ³Ò³Ò³Ò³Ò³Ò³ÒÄÒ³ÒÄÒÄÒÄÒÄÒ³ÒÄÒ³Ò¢Ò¢Ò¢Ò¢Ò¢Ò¢Ò¢Ò• $
h~
hˆ3 6 •B* aJ mH ph
sH
! h~
h•! B* aJ mH ph
sH ! h~
h
š B* aJ mH ph
sH
h»M9 B* aJ mH ph
sH ! h~
hˆ3 B* aJ mH ph
sH
h~
hˆ3 B* aJ ph
h~
h
š B* mH! ph
sH! 8ûÖ [Ø \Ø ^Ø xØ •Ø ¤Ø ¥Ø «Ø ¬Ø ®Ø ÎØ ÏØ
äØ åØ ¶Ù ·Ù ¸Ù ÜÙ àÙ 1Û 2Û
Ü qÜ ‘Þ ëÞ ¤à ¸à Åà Èà éà
ýà
á
á
á -á …á ‡á îàîÓîÓÆÓÆÓµ¤µ¤Óš•ÓÆÓÆÓîÓµî•înî•înî`î`
h–
I† B* aJ mH ph
sH ! h~
hø:( B* aJ mH ph
sH
h•< B* aJ mH ph
sH
h~
h ]‹ B* aJ ph
hˆ3 B* aJ ph
! h~
h•! B* aJ mH
ph
sH
! h~
hˆ3 B* aJ mH
ph
sH
h~
h•! B* aJ ph
h~
hˆ3 B* aJ ph
hˆ3 B* aJ mH ph
sH ! h~
hˆ3 B* aJ mH ph
sH
%œØ •Ø ŸØ
Ø ¡Ø £Ø ¤Ø ¥Ø §Ø ¨Ø ªØ
ǯ ¯ z
n
n
n
n
n
n
n
n
n
n
n
È
l
$
Ö
$ If
a$ gd ]‹
„
kdò
ÖF
$ $ If
h ì j
–
ð-
„
~
†
ÿ
ÿ
ö
Ö0
ö
ö
Ö
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ Ö
ÿ
ÿ
ÿ Ö
ÿ
ÿ
ÿ Ö
ÿ
ÿ
l aö Ô
ÿ4Ö
¬Ø ®Ø ·Ø ¸Ø ¹Ø ÍØ ÎØ
Ù gÙ ”Ù •Ù ´Ù µÙ ó
ó
ó
ó
ó
ó
ó
ó
ó
ÏØ
ØØ
ÙØ
ó
ó
ãØ
äØ
åØ
ó
ñØ
ó
ó
*Ù QÙ
ó
ó
ó
ó
)Ù
f
ó
ó
ó
RÙ
ó
ó
$
$ If
a$ gd ]‹
o
$ dh
$ dh
l Ö
µÙ
¶Ù
o
$ If
a$ gdÜY‹
a$ gdÜY‹ „ kdŸ
·Ù
¸Ù
1Û
o
$
ÖF
$ If
h ì j
–
2Û
8Û
`
SÛ
z
o
`
ð-
„
~
†
ÿ
ÿ
ö
Ö0
ö
ö
Ö
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ Ö
ÿ
ÿ
ÿ Ö
ÿ
ÿ
ÿ Ö
ÿ
ÿ
l aö Ô
ÿ4Ö
SÛ TÛ
dÛ
Ü
Š
{
{
$
L
$
$ If
–l
N
ÿ
ÿ
ÿ4Ö
l aö ú yt ]‹
Ö
È
ö
Ü
dh
Ö0
ö
Ü
ö
Ü
pÜ
Ö
ÿ
Ö0
ÿ
ÿ Ö
Š
{
{
$
t
kdé
$
$ If
–l
N
ö
pÜ
ö
qÜ
~Ü
dh
ö
äÜ
Ö
ÿ
Ö0
ÿ
ÿ Ö
Š
ÿ
{
{
$
t
kd†
$
$ If
–l
N
ö
äÜ
ö
åÜ
æÜ
dh
ö
ÐÝ
Ö
ÿ
Ö0
ÿ
ÿ Ö
Š
ÿ
{
{
$
t
kd#
$
$ If
–l
N
ö
ÐÝ
ö
ÑÝ
äÝ
dh
ö
éÞ
Ö
ÿ
Ö0
ÿ
ÿ Ö
Š
ÿ
{
{
$
t
kdÀ
$
$ If
–l
N
ö
éÞ
ö
êÞ
ëÞ
dh
ö
Xà
Ö
ÿ
Ö0
ÿ
ÿ Ö
Š
ÿ
{
{
$
t
kd]
$
$ If
–l
È
ÿ
ÿ
ö
ö
ö
ÿ4Ö
l aö ú yt ]‹
Xà Yà Šá
ã
{
l
l
Ö
•ä
ÿ
‘ä
Ö0
ÿ
ÿ Ö
¢ä
V
±ä
$ If
a$ gdÜY‹
Ö0 Ž Ü ¤ÿ
ÿ
ÿ
ÿ Ö
ÿ
ÿ Ö
ÿ
ÿ
Š
{
V
$
€
dh
Ö
N
Æ
$ If
a$ gdÜY‹
Ö0 Ž Ü ¤ÿ
ÿ
ÿ
ÿ Ö
ÿ
ÿ Ö
ÿ
Ö
È
ÿ
ÿ
ÿ4Ö
l aö ú yt ]‹
$ If
a$ gdÜY‹
Ö0 Ž Ü ¤ÿ
ÿ
ÿ
ÿ Ö
ÿ
ÿ Ö
ÿ
Ö
È
ÿ
ÿ
ÿ4Ö
l aö ú yt ]‹
$ If
a$ gdÜY‹
Ö0 Ž Ü ¤ÿ
ÿ
ÿ
ÿ Ö
ÿ
ÿ Ö
ÿ
Ö
È
ÿ
ÿ
ÿ4Ö
l aö ú yt ]‹
$ If
a$ gdÜY‹
Ö0 Ž Ü ¤ÿ
ÿ
ÿ
ÿ Ö
ÿ
ÿ Ö
ÿ
Ö
È
ÿ
ÿ
ÿ4Ö
l aö ú yt ]‹
$ If
a$ gdÜY‹ t kd
Ž Ü ¤ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ Ö
ÿ
ÿ Ö
ÿ
¤x
¤x
$ If
a$ gdÒM
$
„Ð
dh
`„Ð a$ gdšmû
l
$
Ö
N
„Ð
dh
`„Ð a$ gd5Mÿ
t kdú
$
Ö0 Ž Ü ¤-
$ If
–
È
Ö0
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ö
ö
ö
Ö
ÿ
ÿ Ö
ÿ
ÿ Ö
ÿ4Ö
l aö ú yt ]‹
‡á ‰á Šá úá ûá Pâ Ëâ Ìâ ââ ïâ ýâ
ã Gã =ä ?ä •ä ‘ä ¡ä ¢ä ±ä Pç Qç Rç
è “è œè
•ñ•‘•†•~vj_j_[Tv•‘L
ÿ
ÿ
ã
è
ÿ
ÿ Ö
ÿ
ã Dã E
ñãñÕñǹǫÇ
h1 H mH! sH!
h ]‹ h ]‹
h
c`
hÒM
h
c` mH! sH!
hÒM
c` 5 •mH! sH!
h
h
c` mH! sH!
h3
mH! sH!
h
4
hšmû mH! sH!
hn
hšmû mH! sH!
h„: B* aJ mH ph
sH
h–
I† B* aJ mH ph
sH
hn
B* aJ mH ph
sH
h¬ V B* aJ mH
sH
h3
B* aJ mH ph
sH
hˆ3 B* aJ mH ph
sH
h•<
aJ mH ph
sH
±ä ²ä óä Jå nå •å Ôå ùå •
e
e
e
e
e
e
Æ
€
ph
B*
l
t
„°
Ö
„Pþ ¤x
¤x
$ If
^„° `„PþgdÒM
Ö0
Û l!
à Ö0
ÿ
ÿ
ÿ
Ö
ÿ
ÿ Ö
ÿ
ÿ Ö
ÿ
l aö l ytÒM
ùå úå >æ šæ
e
e
e
Æ
€
ÿ
ÿ Ö
¼æ êæ
}
Û
kd—
$ If
–
‘
ÿ
ÿ
ç
e
$
ÿ
ö l! 6
ÿ4Ö
Oç •
4Ö
e
e
ö
ö
l
„° „Pþ ¤x ¤x
$ $ If
–
Ö
t
à Ö0
ÿ
Ö
ÿ
ÿ Ö
l aö l ytÒM
ë ‘ì ’ì •
g
$
$
dh
dh
$ If
^„° `„PþgdÒM
Ö0
ÿ
ÿ
Oç
\
a$ gdÜY‹
a$ gdÜY‹
ÿ
ÿ Ö
Pç Qç
r
ÿ
Rç
\
}
Û l!
ÿ
ÿ Ö
è ®è
r
kd4
Û
‘
ÿ
ÿ
-
ÿ
ÿ4Ö
ö l! 6
ö
4Ö
r
r
ö
l
t
$
$
Ö
„Ð dh
$ If
`„Ð a$ gdšmû
–
}
kdÑ
Ö0
Û l!
Û
‘
à Ö0
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ö l! 6 ö
Ö
ÿ
ÿ Ö
ÿ
ÿ Ö
ÿ
ÿ Ö
ÿ
ÿ4Ö
4Ö
l aö l ytÒM
è ¡è ©è -è ®è ¯è ¿è Áè ãè åè
é
é ,é
é ²é ×é wê
ë -ë Õë
ì "ì Cì Gì Hì Yì øôìøÛʼʫʫʁʫʌ{mŒm_mQCm hÀ
ö
8é
ª
B* aJ mH ph
sH
hn
B* aJ mH ph
sH
I† B* aJ mH ph
sH
hê*· B* aJ mH ph
sH
hø:( B* aJ mH ph
sH ! h~
hˆ3 B* aJ mH ph
sH
hê*· B* aJ mH! ph
aJ mH! ph
sH!
h–
I† B* aJ mH! ph
sH! ! hê*· hˆ3 B* aJ mH! ph
aJ mH! ph
sH!
h–
! h~
sH! ! hê*·
sH! ! hšmû
hø:( B*
hˆ3
B*
hê*· mH! sH!
hn
hšmû mH! sH! Yì [ì |ì •ì €ì •ì ‚ì Œì •ì ‘ì ’ì œì Cí Lí ví
Ñí Øí
î /î ,ð <ð ‹ð ¢ð <ñ Sñ Œñ œñ Ÿñ ¥ñ ñãÕãÇãÕ㶥’•p\p
IpIp\p\p\p\p\ $ h~
h£zÿ 6 •B* aJ mH ph
sH
' h~
h£zÿ 6 •B* ] •aJ mH ph
sH ! h~
h£zÿ B* aJ mH ph
sH ! h~
h£zÿ B* aJ mH! ph
sH! $ h¿{ª h£zÿ 5 •B* aJ mH ph
sH
! h~
hø:( B* aJ mH ph
sH ! h~
hˆ3 B* aJ mH ph
sH
hÀ
B* aJ mH ph
sH
sH
h–
I† B* aJ mH ph
sH
¥þ §þ ¨þ ªþ «þ -þ
Ï
À
¢
—
•
$
dh
a$ gdÜY‹
hn
B* aJ
’ì
ñ
ϓ
2î
mH
Òï
â
±
•
ph
Óñ
sH
*ô
hê*· B* aJ
Yõ
Ï
¢
•
>ù
˜ú
mH
âû àü
Ï
¢
•
ph
¤þ
¢
•
$
„Ð
dh
`„Ð a$ gdÜY‹
$
„Ð
dh
`„Ð a$ gdÜY‹
$
„Ð
dh
`„Ð a$ gd£zÿ
$
„æÿ „Ð
dh
]„æÿ`„Ð a$ gd£zÿ
$
„„
dh
`„„ a$ gd£zÿ
$
&
F
ô
dh
a$ gd ]‹
Ÿô ²ô Ëô ñô
¥ñ
ÿô
´ñ
Æñ
Éñ
Ðñ
Óñ
'ò
4ò
Šò
ó
Žó
Ôó
êó
ž
õ
õ 'õ (õ :õ Uõ Xõ Yõ Øõ äõ
ö -ö Kö ‘÷ îÚîÚîÉ»Éî¬îÚî™î™î™î™î™
î™îŒ{h{h{[
h~
h,w
B* aJ ph
$ h~
h,w
6 •B* aJ mH ph
sH
! h~
h,w
B* aJ mH ph
sH
h~
h£zÿ B* aJ ph
$ h~
h£zÿ 6 •B* aJ mH ph
sH
h~
h£zÿ B* mH ph
sH
h£zÿ B* \ •mH ph
sH
h~
h£zÿ B* \ •mH ph
sH
' h~
h£zÿ 6 •B* ] •aJ mH ph
sH ! h~
h£zÿ B* aJ mH ph
sH
‘÷ ¯÷ ¼÷ Å÷ £ø ©ø £ù ¶ù ×ù óù 'ú ú \ú cú îû
ü
ü ½ü àü 8ý Jý Oý _ý
þ
þ
þ þ Aþ Zþ ‰þ Ÿþ ¤þ ¥þ ¦þ ¨þ ©þ «þ ¬þ ®þ ¯þ ±þ ²þ ¸þ ¹þ ºþ
»þ ¼þ ½þ Ãþ Äþ Æþ ñäñäÕäÕäÕäÕäÕäÈ»äÕäÕäÕäÕäÕäÕäÕ䮦¢¦¢¦¢¦¢˜’˜’ŽŠ˜
’˜• h ]‹ 0J mH nH u
hrXî
h hŽ
h hŽ 0J
j
h hŽ 0J U
hÓ*?
j
hÓ*? U
h~
h
2E B* aJ ph
h~
h
Õ B* aJ ph
h~
hœ ø B* aJ ph
h~
h,w
6 •B* aJ ph
h~
h,w
B* aJ ph
h~
h,w
5 •B* aJ ph
2-þ ®þ °þ
Ïþ Ðþ ý
ý
ý
ñ
è
ý
ý
$
dh
a$ gdÜY‹
±þ
ºþ
ý
»þ
¼þ
Èþ
ý
ý
Éþ
Êþ
ñ
ý
Ý
Ëþ
Ìþ
è
Íþ
ý
Îþ
„h ]„h gd hŽ
„øÿ „
&`#$ gdrXî
ßÛ×Ê
Æþ
Çþ
Èþ
Éþ
Êþ
Ëþ
Íþ
Îþ
Ïþ
Ðþ
õïëçã
h~
h
2E B* aJ ph
hšO•
h
c`
hñmÛ
hÓ*?
hrXî
h hŽ
h hŽ 0J
j
h hŽ 0J U
<
0 0 &P
1h :p hŽ °ƒ. °ÈA!°Á "°Â #•Á $•Â %°
°Å
°§
•Ä
ÿ $ $ If
–
!v h 5Ö
- 5Ö
g 5Ö
T 5Ö
O 5Ö
v ® :V
–
l Ö0
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
5Ö
g 5Ö
T 5Ö
O 5Ö
® /Ö
ÿÿÿÿÿÿÿÿ/Ö
ÿÿÿÿÿÿÿÿ/Ö
ÿÿÿÿÿÿÿÿ4Ö
ñ $ $ If
–
!v h 5Ö
- 5Ö
g 5Ö
T 5Ö
O 5Ö
v ® :V
–
l Ö0
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
5Ö
g 5Ö
T 5Ö
O 5Ö
® /Ö
ÿÿÿÿÿÿÿÿ/Ö
ÿÿÿÿÿÿÿÿ4Ö
ñ $ $ If
–
!v h 5Ö
- 5Ö
g 5Ö
T 5Ö
O 5Ö
v ® :V
–
l Ö0
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
5Ö
g 5Ö
T 5Ö
O 5Ö
® /Ö
ÿÿÿÿÿÿÿÿ/Ö
ÿÿÿÿÿÿÿÿ4Ö
$ $ If
–
!v h 5Ö
- 5Ö
g 5Ö
T 5Ö
O 5Ö
v ® :V
–
l 4 ”
Ö0
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
5Ö
- 5Ö
g 5Ö
T 5Ö
O 5Ö
® /Ö
ÿÿÿÿÿÿÿÿ/Ö
® #v
ÿ
® #v
ÿ
® #v
ÿ
® #v
ÿ
- #v
ö
- #v
ö
- #v
ö
g #v
6
ö
g #v
6
ö
g #v
6
ö
- #v
g #v
ÿ
ö
T #v
O #
5Ö
-
T #v
O #
5Ö
-
T #v
O #
5Ö
-
T #v
O #
6
ö
ÿÿÿÿÿÿÿÿ/Ö
ÿÿÿÿÿÿÿÿ4Ö
f4 « $ $ If
–Ô !v h 5Ö
„ 5Ö
~
5Ö
† #v „ #v ~
#v † :V
–
l Ö0
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ö
ö
5Ö
~ 5Ö
† 4Ö
aö Ô « $ $ If
–Ô !v h 5Ö
„ 5Ö
~
5Ö
† #v „ #v ~
#v † :V
–
l Ö0
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ö
ö
5Ö
~ 5Ö
† 4Ö
aö Ô › $ $ If
–
ú !v h 5Ö
N 5Ö
È #v N #v È :V
–
l Ö0
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ö
ö
5Ö
È 4Ö
aö ú yt ]‹ › $ $ If
–
ú !v h 5Ö
N 5Ö
È #v N #v È :V
–
l Ö0
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ö
ö
5Ö
È 4Ö
aö ú yt ]‹ › $ $ If
–
ú !v h 5Ö
N 5Ö
È #v N #v È :V
–
l Ö0
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ö
ö
5Ö
È 4Ö
aö ú yt ]‹ › $ $ If
–
ú !v h 5Ö
N 5Ö
È #v N #v È :V
–
l Ö0
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ö
ö
5Ö
È 4Ö
aö ú yt ]‹ › $ $ If
–
ú !v h 5Ö
N 5Ö
È #v N #v È :V
–
l Ö0
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ö
ö
5Ö
È 4Ö
aö ú yt ]‹ › $ $ If
–
ú !v h 5Ö
N 5Ö
È #v N #v È :V
–
l Ö0
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ö
ö
5Ö
È 4Ö
aö ú yt ]‹ › $ $ If
–
ú !v h 5Ö
N 5Ö
È #v N #v È :V
–
l Ö0
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ö
ö
5Ö
È 4Ö
aö ú yt ]‹ › $ $ If
–
l !v h 5Ö
Û 5Ö
‘ #v Û #v ‘ :V
–l
t à Ö0
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ö l! 6 ö
Û 5Ö
‘ aö l ytÒM › $ $ If
–
l !v h 5Ö
Û 5Ö
‘ #v Û #v ‘ :V
–l
t à Ö0
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ö l! 6 ö
Û 5Ö
‘ aö l ytÒM › $ $ If
–
l !v h 5Ö
Û 5Ö
‘ #v Û #v ‘ :V
–l
t à Ö0
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ö l! 6 ö
Û 5Ö
‘ aö l ytÒM
„ 5Ö
„ 5Ö
N 5Ö
N 5Ö
N 5Ö
N 5Ö
N 5Ö
N 5Ö
N 5Ö
5Ö
5Ö
5Ö
^
2
0
0
0
0
0
0
0
@
@
@
@
@
@
@
nH
À
P
P
P
P
P
P
P
Ð
`
`
`
`
`
`
`
sH
à
p
p
p
p
p
p
p
tH
ð
€
€
€
€
€
€
€
•
•
•
•
•
•
•
P
À
À
À
À
À
À
8
`ñÿ
Ð
Ð
Ð
Ð
Ð
Ð
X
P
à
à
à
à
à
à
ø
ð
ð
ð
ð
ð
ð
2
V
~
(
Ø
è
_H
mH
$+’
x
N o r m a l
@
x
1$ 5$ 7$ 8$ 9D
H$
CJ
_H
mH
sH
tH
,w
2
aJ
H e a d i n g
#
$ ¤ð ¤< 1$ 5$ 7$ 8$ 9D
mH! sH! Z
Z
@& H$
( 5 •6 •CJ
OJ
QJ
\ •] •^J
Z ›
3
¡ D
$
H e a d i n g
¤ð ¤< @& - 5 •CJ
OJ
PJ
QJ
\ •^J
aJ
D A`òÿ
D e f a u l t
P a r a g r a p h
F o n t
R i@óÿ³ R
T a b l e
N o r m a l
l 4Ö
aö
( k ôÿÁ (
N o
ö
4Ö
L i s t
v C@
ò v
Æ
Ÿnd
ž ˆ
B o d y
T e x t
I n d e n t
0
„) „ ÿ1$ 5$ 7$ 8$ 9D H$ ^„) `„ ÿ
aJ
mH
sH
2 B@
2
K w
B o d y
T e x t
¤x
R R@
R
K w
2
B o d y
„
dà
T e x t
I n d e n t
¤x ^„
T S
" T
ì"
B o d y
T e x t
I n d e n t
3
„
¤x ^„
CJ
aJ
J >@
2 J
ì"
5 •\ •aJ
T i t l e
` "
`
$ 1$ 5$ 7$ 8$ 9D
H$ a$
2E
mH
C a p t i o n
sH
4 @ R 4
$ 1$ 5$ 7$ 8$ 9D
H$ a$
5 •CJ
OJ
QJ
aJ
hŽ
Æ
à À!
F o o t e r
. )@¢ a .
hŽ
P a g e
N u m b e r
j š ³ s j
šmû
T a b l e
G r i d
7 :V
R þ ¢ • R
Ö0
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
ÿ
Z ›
H e a d i n g
3
C h a r
- 5 CJ OJ PJ QJ \ ^J aJ PK
[Content_Types].xml¬‘ËjÃ0 E÷…þƒÐ¶Ørº(¥Ø΢Iw},Ò
t# bΙ{U®•ã
! ‚Š¼ ú
ä±-j„4 Éßwì¸Pº -
“óTéU^h…d}㨫ôûî)»×*1P ƒ'¬ô
“^××Wåî 0)™¦Též9< “l•#¤Ü $yi} å ; À~@‡æ¶(îŒõÄHœñÄÐuù*
D× zƒÈ/0ŠÇ° ðûù
$€˜
X«Ç3aZ¢Ò Âà,°D0 j~è3߶Îbãí~ i>ƒ ØÍ 3¿\`õ?ê/ç [Ø ¬¶Géâ\•Ä!ý-ÛRk.“sþÔ»•. .—
·´aæ¿-?
ÿÿ PK
! ¥Ö§çÀ
6
_rels/.rels„•ÏjÃ0
‡ï…½ƒÑ}QÒà %v/¥•C/£} á(•h" Û ëÛOÇ
» „¤ï÷©=þ®‹ùá”ç
šª ÃâC?Ëháv=¿‚É…¤§% [xp†£{Ûµ_¼PÑ£<Í1 ¥H¶0• ˆÙO¼R®BdÑÉ ÒJEÛ4b$§‘q_טž à6LÓõ R×7`®¨Éÿ³Ã0ÌžOÁ¯,åE n7”Liäb¡¨/ãS½¨eªÔ-е¸ùÖý
ÿÿ PK
! ky– ƒ
Š
theme/theme/themeManager.xml
ÌM
à @á}¡w•Ù7c»(Eb²Ë®»ö Cœ AÇ ÒŸÛ×åãƒ7Îß Õ›K
Y,œ
ŠeÍ.ˆ·ð|,§ ¨ÚH Å,láÇ æéx É´ ßIÈsQ}#Ձ…­µÝ Öµ+Õ!ï,Ý^¹$j=‹GWèÓ÷)âEë+&
8ý
ÿÿ PK
! –µ-â–
P
theme/theme/theme1.xmlìYOoÛ6 ¿ Øw
toc'v uŠØ±›-M Än‡-i‰–
ØP¢@ÒI} Ú〠úa‡ Øm‡a[ Ø¥û4Ù:l Я°GR’ÅX^’6ØŠ­>$ ùãûÿ-©«×îÇ
!)OÚ^ýrÍC$ñy@“°íÝ-ö/­yH*œ ˜ñ„´½)‘Þµ÷ß»Š×UDb‚`}"×qÛ‹”J×—–
¤ ÃX^æ)I`nÌEŒ ¼Šp) ø èÆli¹V[]Š1M<”à ÈÞ ©OÐP“ô6râ= ¯‰’zÀgb I g…Á u••SÙe
bÖö€OÀ†ä¾ò ÃRÁDÛ«™Ÿ·´qu
¯g‹˜Z°¶´®o~ÙºlAp°lxŠpT0­÷ ­+[ } `j-×ëõº½zAÏ °ïƒ¦V–2ÍF•-ÞÉi–
@öqžv·Ö¬5\|‰þʜ̭N§Óle²X¢ d søµÚjcsÙÁ •Å7çð•Îf·»êà
ÈâWçðý+­Õ†‹7 ˆÑä`
- ÚïgÔ
Ș³íJø À×j |†‚h(¢K³ óD-Šµ ßã¢
dXÑ ©iJÆ؇(îâx$(Ö
ð:Á¥ ;ä˹!Í
I_ÐTµ½ S
1£÷êù÷¯ž?EÇ ž ?øéøáÃã ?ZBΪmœ„åU/¿ýìÏÇ£?ž~óòÑ ÕxYÆÿúÃ'¿üüy5 Òg&΋/ŸüöìÉ‹¯>ýý»G ðMGeøÆD¢›ä íó
$”8ÁšK ýžŠ ôÍ)f™w 9:ĵà å£
x}rÏ x ‰‰¢ œw¢Ø îrÎ:\TZaGó*™y8IÂjæbRÆíc|XÅ»‹ Ç¿½I
u3 KGñnD 1÷ N
3Vq%'#q¾ Ã ÓòŠÍ
IB Òsü€•
íîRêØu—ú‚K>Vè.E L+M2¤#'šf‹¶i
~™Vé
þvl³{ u8«Òz‹ ºHÈ
Ì*„ æ˜ñ:ž( W‘ ☕
~ «¨JÈÁTøe\O*ðtH G½€HYµæ–
}KNßÁP±*ݾ˦±‹ Š-TѼ9/#·øA7ÂqZ… Ð$*c?
¢ íqU ßån†èwð N ºû
%Ž»O¯ ·ièˆ4
=3 Ú—Pª•
ÓäïÊ1£P•m
\\9† øâëÇ ‘õ¶ âMØ“ª2aûDù]„;Yt»\ ôí¯¹[x’ì
eW÷
¶)6-r¼°C-SÆ jÊÈ
išd
ûDЇA½Îœ
óùç]É}Wr½ÿ|É]”Ïg-´³Ú
IqbJ#xÌ꺃
6kàê#ª¢A„Sh°ëž& ÊŒt(QÊ% ìÌp%m‡&]ÙcaS l=•XíòÀ
¯èáü\P•1»Mh
Ÿ9£ Mà¬ÌV®dDAí×aV×B™[݈fJÃ­P |8¯
Ö„ AÛ V^…ó¹f
ÌH ín÷ÞÜ-Æ
é" á€d>ÒzÏû¨nœ”ÇŠ¹
€Ø©ð‘>ä•bµ ·–
&û ÜÎâ¤2»Æ v¹÷ÞÄKy ϼ¤óöD:²¤œœ,AGm¯Õ\nzÈÇiÛ Ã™ -ã ¼.uχY C¾ 6ìOMf“å3o¶rÅ
Ü$¨Ã5…µûœÂN H…T[XF64ÌT ,Ñœ¬üËM0ëE)`#ý5¤XYƒ`øפ ;º®%ã1ñUÙÙ¥ m;ûš•R>QD
¢à •ØDìcp¿
UÐ' ®&LEÐ/p¦­m¦Üâœ%]ùöÊàì8fi„³r«S4Ïd
7y\È`ÞJân•² åίŠIù
R¥ Æÿ3Uô~ 7 +ö€ ׸ #¯m
q¨BiDý¾€ÆÁÔ
ˆ ¸‹…i *¸L6ÿ 9ÔÿmÎY &­áÀ§öiˆ …ýHE‚=(K&úN!VÏö.K’e„LD•Ä•© {D
ê ¸ª÷v E ꦚdeÀàNÆŸûžeÐ(ÔMN9ßœ Rì½6 þéÎÇ&3(åÖaÓÐäö/D¬ØUíz³<ß{ËŠè‰Y
›Õȳ ˜•¶‚V–ö¯)Â9·Z[±æ4^næ ç5†Á¢!Já¾ é?°ÿQá3ûeBo¨C¾ µ Á‡ M
 ¢ú’m<.vp “ ´Á¤IYÓf­“¶Z¾Y_p§[ð=alÙYü}Nc Í™ËÎÉÅ‹4vfaÇÖvl¡©Á³'S †ÆùAÆ8Æ|Ò*•uâ£{àè¸ßŸ0%M0Á7%¡õ ˜<€ä· Íҁ¿
ÿÿ PK
!
сŸ¶
'
theme/theme/_rels/themeManager.xml.rels„•M
Â0 „÷‚w ooÓº ‘&ÝˆÐ­Ô „ä5
6?$Qìí
®, .‡a¾™i»—•É c2Þ1hª :é•qšÁm¸ìŽ@R N‰Ù;d°`‚Žo7í g‘K(M&$R(.1˜r
'J“œÐŠTù€®8£•Vä"£¦AÈ»ÐH÷u} ñ› |Å$½b {Õ –Pšÿ³ý8 ‰g/]þQAsÙ… (¢ÆÌà#›ªL Ê[ººÄß
ÿÿ PK ! ‚Š¼ ú
[Content_Types].xmlPK ! ¥Ö§çÀ
6
+
_rels/.relsPK ! ky–
ƒ
Š
theme/theme/themeManager.xmlPK ! –
µ-â–
P
Ñ
theme/theme/theme1.xmlPK !
сŸ¶
'
›
theme/theme/_rels/themeManager.xml.relsPK
]
–
<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="yes"?>
<a:clrMap xmlns:a="http://schemas.openxmlformats.org/drawingml/2006/main"
bg1="lt1" tx1="dk1" bg2="lt2" tx2="dk2" accent1="accent1"
accent2="accent2" accent3="accent3" accent4="accent4" accent5="accent5"
accent6="accent6" hlink="hlink"
folHlink="folHlink"/>
Ðö ÿÿÿÿ
ÿÿÿÿ
ÿÿÿÿ
ÿÿÿÿ
ÿÿÿÿ
ÿÿ
Ðö
l
ÿÿÿÿ
%
%
%
(
f
*
~
#
•
õ! ž< ]C œW ýh xv èy ¦‚ 4• U¨ -ª
¶
È ûÖ ‡á
è Yì ¥ñ ‘÷
Æþ Ðþ €
‚
ƒ
„
†
‡
ˆ
‰
Š
Œ
•
•
‘
’
“
•
–
™
œ
Ÿ
«
¯
°
²
³
-ª µª ¶³
È œØ ¬Ø µÙ SÛ
Ü
-þ Ðþ •
…
‹
Ž
•
”
—
˜
š
›
•
ž
¡
¢
£
¤
±
´
µ
pÜ
äÜ
•
ÐÝ
éÞ
<
¥
¦
§
¨
“^ 5v á… Wª ‘ª
Xà ±ä ùå Oç ’ì
©
ª
¬
-
®
@ -ñ
ÿÿ
!
(
ÿ €€€ ÷
!•
! ÿ•€
ð
ð8
ð
"ñ
?
ð
ð
ð(
ð
ð
ð
ðV
B
C
ð
D
•
¿
ÿ
ð
ð
ð6
ð
ð6
Â
ð
"ñ
?
ð
ð
ðV
B
ð
C
ð
D
•
¿
ÿ
"ñ
?
ð
Â
ð
"ñ
?
ð
ð
ð6
Â
"ñ
?
ð
ð
ð6
Â
"ñ
?
ð
ð
ðV
B
ð
ð
ð
C
ð
D
•
¿
ÿ
"ñ
?
ð
ð
ðV
D
•
¿
ÿ
"ñ
?
ð
ð
ðB
B
ð
C
ð
ð
S
ð-
¿
Ë
ÿ
ð
?
9
i
¤
¦
¦
t
9
“
Ã
Ã
hq
mq
)
)
Œˆ
Œ‰
æ
¦
¦
΢
:
t
t
”
“
iq
nq
•¢
•
Ã
²
¶
t
t
0#
|b
ÿÿ
jq
oq
‘¢
t
l
“¢
“
fq
t
ôÙ
§¢
l
©¢
«¢
t
Ðö
l
L‰
kq
pq
-¢
gq
„¡
43
̉lq
qq
9
i
æ
l
t
´4
‰
rq
uq
zq
•q
R
R
t3
üG
ÌA
ô3
sq
vq
{q
‘-
{† {† ¶œ ¶œ
ò» W¾ W¾ Ñö
“C
4Ú
tq
Ôp$
wq
L´$
|q
“C
ÔŸ
ÔŸ
¢
¢
œ–
¤
”p$
D¥
x¥
xq
}q
x¥
²
Å
Á¨
Á¨
yq
üÎ
~q
Ú¯
´3
Ú¯
N±
N±
ò»
•–C
C
–
R
Q±
R
û»
„† „† ½œ ½œ
û» `¾ `¾ Ñö
ÝŸ
ÝŸ
«
«
M¥
•¥
•¥
Ĩ
Ĩ
ݯ
ݯ
Q±
microsoft-com:office:smarttags €City €B
com:office:smarttags
8
*€urn:schemas*€urn:schemas-microsoft-
€country-region €9
*€urn:schemas-microsoftcom:office:smarttags €place €
•
G
1
Ä
H
d
Ì
,
+
e
Ô
ì
X
f
Í
B
Ì
„
ã
d
Ó
†
‰
Ô
Š
þ
˜
¥
°
Ì
§
±
‘
!
›
4
f
í
Ù
•
&
Í
À
Ú
œ
"
°
5
Û
¿
8
±
B
'
.
Ý
Þ
é
Þ
À
D
Ú
n
E
þ
o
Q
`
á
Ö
‰
R
e
ä
è
Z
ÿ
å
ë
[
è
/
¢
(
¤
¥
¶
e
f
¼
r
s
ÿ
H
£
1
0
I
2
·
½
e
;
¿
Þ
}
<
À
å
~
À
A
Ó
ç
€
€
•
•
!
?
`
b
p
•
¢
¥
!
)
*
0
’
”
.
x
{
¹
Â
Í
Ô
$
(
/
0
7
8
>
?
B
M
U
V
_
`
f
g
q
r
•
‚
‰
’
ž
Ÿ
¤
¥
®
¯
´
µ
»
Á
Ç
È
Ë
Ì
Ð
Ñ
×
Ø
Û
Ü
à
á
é
ë
ï
ð
ø
ù
ÿ
[
©
\
ª
æ
å
.
x
ë
¯
ê
3
‚
ò
l
k
°
ë
»
ð
9
¥
4
ˆ
ó
!
q
÷
"
r
¼
ñ
ø
)
>
§
ø
&
{
Á
6
•
Æ
7
‚
Ç
;
ˆ
Ì
A
‰
Í
F
‘
Ñ
G
”
Ò
J
˜
K
™
Ö
Õ
P
Ÿ
Ü
Q
Ý
þ
*
C
½
,
|
Â
-
D
¾
O
Ä
P
Å
U
É
V
Ê
Y
Ò
Z
Õ
h
Û
i
Ü
k
à
l
ç
v
ê
%
d
™
&
e
š
+
n
£
,
o
¤
6
r
ª
7
s
<
|
«
=
C
•
·
ƒ
¸
I
„
»
Á
O
Š
ì
P
‹
ï
S
Ž
ÿ
T
•
•
X
O
¢
W
©
X
ª
_
°
¹
Y
^
_
–
"
k
Ý
,
n
ã
m
j
Ò
d
¾
2
o
ä
n
Ó
f
æ
7
r
ð
r
Û
n
ð
ñ
s
Ü
o
û
8
s
@
|
ö
y
æ
v
A
‡
•
ç
{
H
‘
„
í
€
I
’
…
î
•
N
¡
$
•
“
ò
ˆ
ó
‰
>
š
ø
Œ
?
œ
ù
•
U
£
ÿ
˜
`
V
½
™
c
Å
\
Â
@
¦
d
Î
_
Ã
A
¨
j
Ñ
i
Ì
]
«
Í
^
¹
$
|
È
É
m
l
°
,
‚
%
}
Ñ
q
´
.
ƒ
Ó
r
µ
5
ˆ
Ú
{
¸
7
‰
Ü
|
º
@
•
ß
‚
¿
B
’
à
ƒ
À
M
™
ä
‹
Ã
O
å
Œ
Ä
X
£
ì
“
Í
Y
©
<
”
Î
_
A
˜
×
a
®
C
™
â
n
¶
I
•
è
p
·
J
ž
î
x
¾
N
¢
ö
y
À
d
«
¯
í
„
Š
‘
1
±
T
²
[
¹
î
û
’
&
j
º
ü
"
™
,
n
¿
ÿ
C
š
o
À
I
Ÿ
J
³
v
Ã
T
¹
w
Ä
U
Ó
|
Ë
‚
Ì
Y
Ø
Z
Ù
c
ì
d
í
ò
k
Š
×
‹
Ø
•
Þ
•
ß
ã
}
ó
œ
€
÷
§
å
•
ý
ª
é
«
ê
%
s
˜
ù
¤
&
t
œ
+
y
•
,
z
¤
1
}
¥
B
¨
©
®
Á
Í
\
—
Ó
-
#
I
Q
R
[
ƒ
J
ˆ
K
‰
S
•
U
‘
]
`
a
e
f
m
o
Ø
Ù
Þ
ß
ì
õ
ø
\
a
‡
•
•
™
š
f
©
ª
þ
ý
{
Ü
#
q
g
®
|
Ý
$
r
°
µ
’
‰
ç
(
w
è
#
ž
ë
)
x
À
.
|
Å
$
Ÿ
ì
/
}
Æ
(
¡
ô
7
„
É
)
¢
õ
8
…
Ê
0
§
ú
Ó
8
³
û
A
‹
B
Œ
Ô
=
¾
H
“
á
>
¿
R
”
â
F
Ä
V
˜
ë
G
Å
^
Ÿ
ì
J
Ë
a
¢
ñ
K
Ì
b
§
ó
j
Ñ
k
×
p
Æ
-
q
Ç
}
Î
$
ƒ
~
Ï
Ù
&
„
Ú
2
‰
á
4
Š
â
B
’
è
D
“
é
K
ž
î
Q
ª
ï
Y
¯
ö
Z
°
ù
`
¸
-
a
¹
-
l
Â
m
Ã
-
- -- '- (- /- 0- 7- 8- =- >- D- J- N- P- U- V- ]- ^h- i- k- l- s- t- y- {- ƒ- „- ‡- –- ›- œ- ¥- ¦- -- ®µ- ¶- »- ¼- Â- È- Ñ- Ò- Ô- Õ- Þ- à- ç- ñ- õ- ö- ÿ-
˜
ü
¡
.
¢
4
§
5
¨
:
«
;
¬
@
¶
A
·
H
¾
S
Å
[
É
\
Ê
d
Ó
f
Ô
s
Ù
y
Ú
~
æ
•
ç
ˆ
î
‰
ï
•
ô
Ž
ö
—û-
&
'
1
3
9
;
>
?
E
H
L
M
S
T
W
b
g
h
p
q
t
u
•
‚
Š
‹
”
•
›
œ
£
®
³
´
Á
Ê
Í
Ð
Õ
×
Ü
Ý
å
æ
ï
õ
ú
û
!
!
!
!
!
! #! $! +! ,! 5! 6! ;! <! B! C! I! J!
P! S! W! X! ^! _! b! d! n! t! }! ~! ‡! ˆ! ’! “! ž! ¥!
¨! ©! ±! ²! ¶! ·! ¾! ¿! Ã! Ê! Í! Ò! Õ! Ý! à! á! æ! ç! ò
! ó! ø! ù! ÿ!
"
"
"
"
"
" -" "" #" *" 5" 8" 9" @" A" F" W" `" a" q"
r" y" •" ‡" Ö" Ù"
#
#
# !# '# 0# 1# 6# 8# B# D# I# J# P# R# [# ]# `# a#
g# h# p# q# |# ‚# Œ# •# ’# ¡# §# ¨# «# -# ´# µ# ¼# Ä#
Ê# Ë# Õ# Ö# Û# Ü# â# ã# æ# ç# ð# ñ# ö# ÷#
$
$
$
$
$
$
$
$ &$ '$ *$ +$ 6$ 7$ <$ =$ @$ A$ K$ L$ U$ V$
Y$ c$ j$ k$ s$ t$ y$ z$ }$ ~$ ‡$ ˆ$ •$ Ž$ ”$ –
$ Ÿ$
$ ¥$ ¦$ «$ ¬$ ³$ ´$ ½$ ¿$ Ä$ Å$ Ì$ Í$ Ñ$ Ò$ Ø$ Þ$
ã$ ä$ ë$ ì$ ï$ ð$ ö$ ÷$ ý$ þ$
%
%
%
%
%
% %% &% ,% % 2% 3% 6% 7% ?% @% I% O% V% W% ]% ^% c% d% k% l% o% p%
x% z% }% ƒ% ‹% Œ% ’% “% ˜% ™% œ% ž% ¥% ¦% ®% ¯% ¶% ·%
½% ¿% É% Ë% Î% Ï% Ò% Ó% Ø% Þ% å% æ% ë% ì% ò% ó% ÿ%
&
&
&
&
&
&
& -& & && '& ,& .& 3& 4& 9& ;& D& F& K& L& R& T& W& X& ^& _&
c& i& p& q& w& x& •& ‚& †& ‡& •& Ž& ‘& “& š& ›& £& ¤&
ª& «& ³& ´& º& »& À& Á& Ê& Ë& Ò& Ó& Ø& Ú& ß& à& î& ð&
õ& ÷&
'
'
'
'
'
'
'
!' %' &' /' 1' 6' 7' ?' @' H' I' Q' R' U' V' ^' d' i'
j' q' t' y' {' ƒ' „' ˆ' ™' ¢' ·' ¼' Í' Ö' é' ö' ÷' ü'
ý'
(
(
(
(
(
( (
( )( +( 4( <( G( H( O( P( W( Ð( Þ( ß( ä( å( ê( ë( ò( ó(
ù( ú( ÿ(
)
) Î) ×) Ø) ß) à) å) V* [* \* _* e* p* q*
v* w* |* }* ‚* ƒ* ˆ* ‰* ”* •* š* ›* ¤* ¥* ©* ª* ¯* °*
¸* »* À* Â* È* É* Ð* Ñ* Õ* Ö* Û* Ü* ä* æ* ï* ð* ó*
+
+
+
+
+
+
+ $+ %+ ++ ,+ 3+ 4+ 9+ :+ B+ C+ I+ J+ M+ N+
Z+ [+ a+ b+ g+ h+ l+ m+ w+ x+ •+ €+ ‰+ •+ ˜+ ™+ œ+ •+
¦+ ¬+ ¶+ ·+ ½+ ¾+ Á+ Â+ Î+ Ï+ Ò+ Ó+ Û+ Ý+ â+ ã+ æ+ ì+
ó+ ô+ ÷+ ø+ ý+ þ+
,
,
,
,
,
!, &,
f, n,
, ›, œ,
æ, ç,
a- b¤- ªü- ý.
,
,
6, 8, 9, =, >, C, D, I, J,
p, u, v, ~, ‡, ‹, Œ, •, –
¤, ¥, ¨, ©, ², ³, ¹, º, ¾,
ë, ì, ÷, ú, ÿ,
e¯.
f¶.
M,
N,
V,
W,
],
^,
e,
¿,
È,
Ñ,
×,
Ø,
Ý,
Þ,
#- $- *- +- 0- 1- >- ?- G- H- T- U- Z- [r- u- {- |- •- •- †- ‡- Œ- •- ˜- ™- ž- ŸÁ- Â- È- É- Ô- Õ- Ø- Ú- á- ã- é- ê- ó- ô-
.
.
.
.
.
. .
. &. '. .. 4. 5. ?. @. H. X. ]. _. d. f. o. p. y. z. ~. •. ˆ.
•. –
. œ. ¤. ¥. -. ®. ±. ². ·. ¸. ½. ¾. Ê. Ë. Ñ. Ò. Ù. Ü. á.
â. æ. ç. ð.
/
/
/ "/ #/ 0/ 1/ 7/ 9/ A/ M/ S/ T/ X/
Y/ `/ a/ k/ v/ {/ |/ •/ ‚/ ‰/ Š/ Ž/ •/ š/ œ/ ¢/ £/ ª/
«/ ¯/ °/ ³/ µ/ º/ ¼/ Á/ Ã/ Å/ Æ/ Ê/ Ì/ Ï/ Ð/ Ô/ Õ/ Ù/ Ú
/ à/ á/ ì/ û/
0
0
0
0
0
0
0
0
0 #0 )0 *0 10 20 60 70 ;0 <0 @0 B0 G0 H0
M0 N0 X0 Y0 ]0 ^0 c0 d0 j0 k0 s0 t0 |0 }0 …0 ‡0 •0 •0
™0 š0 ž0 Ÿ0 «0 ¬0 ±0 ·0 ¾0 À0 Ç0 È0 Ð0 Ñ0 Ù0 ß0 ë0 ì0
ó0 õ0 ù0 ú0
1
1
1
1
1
1
1
ö1
1
÷1
1
2
1
2
"1
*1
41
Ï1
Ô1
Õ1
Û1
Ü1
ä1
å1
í1
î1
ñ1
ò1
2
2
2
2 #2 $2 +2 12 72 82 <2 =2 G2 H2 L2 M2 T2 U2 [2
a2 f2 g2 s2 t2 w2 x2 •2 €2 ƒ2 „2 •2 Ž2 “2 ”2 ›2 œ2 ¡2
¢2 ¤2 ¥2 ¬2 -2 ²2 ´2 ¹2 º2 À2 Á2 É2 Ë2 Ô2 Ö2 Ù2 Ú2 ß2
à2 æ2 ì2 ó2 ô2 ú2 û2
3
3
3
3 #3 %3 .3 03 33 43 =3 >3 D3 E3 L3 O3
i3 j3 m3 n3 w3 x3 „3 …3 ˆ3 ‰3 •3 ‘3 •3 –
3 š3
3 ¦3 §3 ±3 ²3 ¶3 ·3 À3 Á3 Æ3 Ó3 Ý3 Þ3
ñ3 ò3 ö3 ÷3 þ3 ÿ3
4
4
U3
V3
\3
]3
æ3
ç3
ë3
ì3
4
6
4
4
4
÷4
ø4
6
7
7
7
7
7
7 (7 )7 ˆ7 ‰7 •7 •7 °7 ¸7 ¾7 Æ7 Ç7 Ñ7
×7 Ø7 ß7 à7 å7 æ7 î7 ï7 ó7 ô7 þ7 ÿ7
8
8
8
8
8
8 8
8 '8 )8 .8 08 58 68 =8 ?8 E8 G8 Q8 R8 V8 W8 ^8 d8 l8 m8
q8 r8 y8 z8 •8 ƒ8 Œ8 •8 ”8 •8 ›8 •8 ¢8 ¤8 ©8 «8 ¯8 ±8
¶8 ¸8 ½8 ¿8 Æ8 È8 Ï8 Ñ8 Ô8 Õ8 Ú8 Û8 ä8 æ8 ì8 ð8 ò8 ó8
ø8 ù8 ü8 þ8
9
9
9
9 "9 #9 <9 D9 L9 N9 T9 V9 [9 ]9 d9 f9 o9 v9 |9 •9 ‡9 ˆ9
Ž9 •9 œ9 ¢9 ¥9 ¦9 ¯9 °9 ¹9 »9 ¿9 Á9 Æ9 Ç9 Í9 Î9 Ñ9 Ò9
Ø9 Ù9 Ü9 ô9
:
:
:
:
:
Ò7
:
:
: ": $: ): *: 4: 5: :: @: I: J: N: O: T: V: _: `:
c: d: y: z: ‚: „: Œ: •: •: ž: ¥: ¦: ¬: -: µ: Ì: Ö: ×:
Ü: ]; c; d; l; n; x; y; •; €; ˆ; ‰; Ž; •; ˜; š; ¦; §;
«; ¬; ³; ´; ¸; ¾; Å; Æ; Ì; Í; Ô; Ö; Ü; Þ; â; ã; è; é; ï
; ñ; õ; ö; û; ü;
<
<
<
<
<
< <
< '< (< 0< 9< @< A< I< J< N< O< T< U< ]< c< k< l< u< v<
~< „< ‹< Œ< •< “< š< ›< ¡< ¢< ¨< Ž? •? Î? Ö? ä? ð? •@
†@ ‡@ •@ Ž@ –@ —
@ ¡@ ¢@ §@ Ï@ Ù@ Û@ è@ é@ ì@ í@ ò@ ó@ ÿ@
A
A
A
A
A
A
A
A
A -A A $A %A (A )A A .A 5A 6A =A ?A DA EA MA SA YA ZA \A ]A gA hA lA mA uA
vA zA {A „A …A ’A “A šA ›A ¢A £A ¬A -A ±A ²A ºA »A ÅA
ÇA ÏA ÑA àA áA çA øA
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B %B &B 3B ;B DB FB QB RB eB fB nB oB wB zB
•B ‚B ‡B ‰B ŽB •B —
B §B ªB «B °B ±B ¼B ÂB ÇB ÈB ÒB ÓB ØB ÙB àB áB çB èB íB
îB ôB õB úB ûB
C
C
C
C
C
C %C &C .C /C 5C 6C =C
>C EC HC OC QC XC YC dC }C •C ‚C ˆC ‰C ‘C “C –C —
C •C £C «C ¬C ³C ´C ¿C ÀC ÆC âC êC ëC ðC òC ùC ûC þC ÿC
D
D
D
D
D -D !D "D 'D (D 1D 2D ;D <D CD FD KD LD
OD PD VD \D dD eD lD mD xD yD •D žD ¦D §D °D ²D ½D ¿D
ÂD ÃD ÍD ÔD ÙD ÚD ßD àD èD éD íD îD ÷D øD
E
E
E
E
E
E
E
E %E &E *E ,E 7E 8E <E >E AE BE KE LE SE VE
[E ^E jE zE €E •E ‰E ŠE “E ”E ™E šE
E ¡E ¨E ªE ³E µE
¾E ÅE ÏE ÐE ÕE ÖE áE âE èE éE ñE ôE ûE üE
F
F
F
F
F
F
F !F ,F F 3F 5F <F =F EF FF LF MF UF XF `F bF hF jF pF sF zF {F
€F •F ŽF •F “F ”F œF •F ¤F ¦F -F ®F µF ¶F »F ½F ÄF ÅF
ËF ÍF ÕF ×F ÜF ÝF åF çF êF íF óF ôF ùF úF
G
G
G
G
G
G !G "G (G )G /G 0G 7G 8G @G AG GG IG SG UG `G bG
kG mG uG xG €G •G ŽG ”G œG 5H ;H =H FH [H aH bH fH gH
nH oH tH uH yH zH •H …H ŠH ‹H –H —
H £H ¤H ¬H -H ²H ³H ¸H ¹H ÃH ÄH ÈH ËH ÓH ÕH ÛH ÝH åH èH
íH îH øH ÿH
I
I
I
I
I
I
I !I &I 'I I .I 3I 5I 9I ;I @I BI FI GI LI MI SI UI YI [I ^I _I iI
lI vI wI }I ~I „I …I ŠI ŒI ‘I ’I ˜I ™I œI •I ¡I ¢I §I
¨I ¶I ¸I ¿I ÁI ÊI ËI ÒI ðI õI öI üI ýI
J
J
J
J
J
K
K
J
J
J
J
J
J
!J (J )J 0J 6J =J >J BJ CJ GJ HJ MJ NJ RJ SJ VJ \J dJ
eJ iJ jJ pJ sJ {J }J ƒJ …J ŽJ •J ”J •J œJ •J £J ¤J «J
¬J ±J ½J ÍJ ÐJ ÓJ àJ æJ çJ ñJ óJ ýJ þJ
K
K
K
K !K "K %K &K +K ,K /K 1K 6K 7K ?K @K JK KK SK TK
\K lK qK rK €K •K ‰K ŠK •K ‘K •K –
K ŸK
K §K ¨K ¯K °K ·K ¹K ÀK ÂK ÈK ÉK ÌK ÍK ÔK ÕK ÚK ÛK
ãK äK íK îK ÷K øK
L
L
L
L
L
L
L
L -L L *L +L /L 0L 7L =L @L AL EL FL JL KL QL RL XL YL lL mL
pL qL uL vL {L |L …L †L ŒL •L •L ‘L ™L šL ŸL
L ®L ¯L
´L µL ÂL ÈL ÍL ÎL ØL ÛL ãL ïL ùL aM nM oM tM uM |M }M
ƒM „M ˆM ‰M ’M “M ¦M §M ¯M °M ·M ¸M ÉM ÏM ÔM ÕM ÞM àM æ
M çM ìM íM õM öM þM ÿM
N
N
N
N "N $N 5N 7N ;N <N CN GN LN NN TN UN ]N ^N gN hN kN
lN tN uN ƒN „N ‰N •N ’N “N •N –
N •N žN ¢N ¤N ¬N ¸N ÂN
O
O
O
O
O $O &O 2O 4O <O =O CO DO JO KO TO UO XO YO
eO gO oO qO wO xO }O ƒO •O ŽO •O •O ¡O ¢O §O ¨O ®O °O
´O µO ·O ¸O ¼O ½O ÅO ÆO ÏO ÐO ÜO ÞO éO ëO îO ïO üO ýO
P
P
P
P
P
P
P
P #P %P *P +P 5P 6P <P FP LP MP UP VP \P ^P
gP hP lP mP vP wP {P |P •P ‚P ŽP •P “P ”P •P £P ¨P ©P
´P µP ½P ÃP ÉP ÊP ÍP ÖP ÜP ÞP äP åP êP ëP ôP õP úP ûP
Q
Q
Q
Q
Q
Q $Q %Q 3Q 4Q <Q =Q DQ EQ KQ QQ WQ XQ [Q \Q aQ
bQ kQ mQ uQ wQ }Q ~Q ƒQ „Q ‰Q ŠQ ”Q •Q ›Q •Q §Q ªQ ®Q
¯Q ±Q ²Q ¶Q ·Q ÂQ ÃQ ÉQ ÊQ ÒQ ÓQ ØQ åQ çQ èQ ðQ òQ õQ
þQ
R
R
R
R
R
R "R #R (R )R 1R 2R 7R 8R BR CR JR MR SR TR _R
`R kR mR ~R €R “R •R œR •R ¤R ¥R ¬R -R ¾R ÄR ÉR ËR ÏR
ÐR ÕR ×R áR âR êR ëR òR óR üR ýR
S
S
S
S
S
S
S S %S 0S 8S :S CS IS SS TS YS ZS \S
vS xS yS }S ~S ‡S ˆS •S ŽS —
S ˜S ›S œS ¡S ¢S §S ¨S ±S ²S ¹S
ÜS æS çS òS óS øS ûS
T
T
T
]S
dS
eS
iS
jS
oS
qS
uS
ºS
¾S
¿S
ÇS
ÈS
ÎS
ÏS
ÖS
T
T
T
T
T
T -T *T ,T 6T 8T ?T ET MT NT
„T …T ˆT ‰T ŽT •T –T —
T ¤T ªT ®T ¯T ¶T ·T ¿T ÀT
øT ùT ýT þT
U
ST
TT
[T
\T
fT
gT
qT
wT
|T
}T
ÉT
ÊT
ÑT
ÒT
ØT
ÙT
åT
æT
íT
îT
U
V
U
U $U %U )U +U 1U 2U :U ;U AU BU FU GU PU QU UU cU
mU nU ‰U ŠU ŽU •U ”U •U ŸU
U ©U ªU ¯U ±U ¹U »U ÁU ÃU
ÉU ÌU ÑU ÒU ÜU ÝU çU íU ôU öU üU ýU
V
V
V
W
W
V
V
V
V $V %V *V +V 0V 1V 7V 8V @V BV IV KV NV PV
XV ZV `V bV kV lV qV rV zV {V ˆV ‰V •V “V ™V ›V ¡V ¢V
©V ªV ´V ÄV ËV ÌV ÑV ÒV ÙV ÚV àV áV äV åV ïV ðV øV ùV
W
W
W
W
W
W !W "W %W &W *W +W 0W 1W 9W :W AW BW FW GW
LW NW RW TW XW YW _W `W fW gW sW tW zW {W …W ŽW –W —
W •W žW £W ¥W ©W «W ¯W °W ¶W ¼W ÂW ÃW ÐW ÑW ÙW ßW êW ëW
òW õW CX EX >Y ?Y „Y …Y ãY äY QZ SZ ðZ õZ öZ üZ ýZ
[
Š[ ’[ ¡[ ¦[ §[ ®[ ¯[ µ[ ¶[ ¹[ º[ ¿[ À[ É[ Ê[ Î[ Ï[ Ü[
Ý[ å[ æ[ ò[ ó[ ÷[ ø[
\
\
\
\
\
\
\
\ !\ "\ )\ *
\ 3\ 4\ 9\ :\ @\ A\ D\ E\ L\ M\ T\ V\ a\ b\ j\ k\ u\ v\
}\ ~\ ƒ\ „\ ‡\ ˆ\ Ž\ •\ –\ —
\ §\ -\ ±\ ²\ ¸\ ¹\ À\ Á\ Ä\ Å\ Ï\ Ð\ Õ\ Ö\ Þ\ ß\ â\ ã\
ì\ í\ ó\ ô\ ÷\ ú\
]
]
]
]
]
] "] #] ,] ] 2] 3] 9] :] =] >] F] G] L] M] T] U] ^] _] i] j] p] q]
v] w] ~] •] ˆ] ‰] Œ] •] —
] ˜] Ÿ]
] §] ¨] ®] ¯] µ] ¶] ¹] ¼] ¿] À] Æ] Ç] Ó] Ô] ×]
Ø] Þ] ß] æ] ç] ê] ë] ñ] ò] û] ü]
^
^
^
^
^
_
^
^ !^ "^ (^ )^ ,^ 3^ 4^ <^ =^ D^ E^ L^ M^ P^ Q^ V^ Y^ \^ ]^ b^ c^ f^ g^
m^ n^ t^ u^ •^ €^ …^ †^ ‰^ Š^ ’^ “^ ›^ œ^ Ÿ^
^ ¦^ §^
³^ ´^ ·^ ¹^ À^ Á^ É^ Ì^ Ò^ Ó^ â^ è^ ï^ ð^ ô^ õ^ ù^ û^
_
_
_
_
_
_
_ "_ #_ *_ +_ 3_ 4_ 9_ :_ @_ A_ G_ H_ N_ O_ S_ T_
^_ __ d_ ·j ¹j ½j ¾j êj ëj ôj õj !k "k 'k )k k /k 9k :k ?k @k Fk Gk Tk Uk \k ]k dk fk mk nk sk tk Áq
Âq Îq Ïq ÷q øq
r
r <r =r Cr Dr Gr Ir Qr Rr \r ]r ir kr nr or tr vr
{r |r ‚r „r Šr ‹r ½r ¾r Är År Èr Êr Ïr Ðr ^s _s es fs i
s js ps qs xs ys ‰s Šs •s ’s œs žs ïs ðs ÷s øs üs ýs [t
]t at bt •t –t ™t št §t ¨t °t ³t ¾t Àt
u
u
u
u
u
u
u
•u ‚u …u †u Šu ‹u ›u œu £u ¤u ªu ®u
öu ÷u ùu úu
v
v
v
v
v
v .v /v 4v 5v Ev Fv Ov Pv Vv Wv [v \v
lv mv qv rv vv wv |v }v ‚v ƒv ˆv ‰v –v —
v •v žv ªv «v ±v ²v ·v ¹v ¾v ¿v Åv Æv Ìv Ív
èv év ìv ív öv ÷v üv ÿv w
w
w
w Îw Ðw
‚
‚
‚
‚ •‚ –‚ š‚ ›‚
ˆ
ˆ
òu
u
½u
¾u
åu
æu
_v
`v
ev
fv
Õv
Öv
âv
ãv
óu
ˆ
ˆ
5• 7• >• ?• G• H• O• P• Y• [• ^• _• f• g• o• p• t• v•
~• •• …• †• ý‘ þ‘
’
’ i’ j’ v’ w’ †“ ‡“ •“ •“ ´“ µ“
¸“ º“ À“ Á“ ²” ³” ¸” ¹” Ø” Ù” Ý” Þ” 0– 1– 5– 6–
™ -™ &™ (™ ~› › ‡› ˆ› ÊŸ ËŸ ÓŸ ÔŸ ÝŸ ÞŸ
¢
¢ !¢ #¢
(¢ )¢ /¢ 0¢ \¢ ]¢ d¢ e¢
£
£
£
S«
®
£
T«
-
£
£ Pª Rª Yª [ª aª bª
W« X« ‚« ƒ« •« Ž« ý¬ þ¬
- Ÿ­ ¡- ¥- ¦- ý- ÿ®
®
hª
-
iª
-
nª
-
oª
A«
B«
J«
L«
®
J® K® P® Q® „® …® •® ‘® ‹¯ Œ¯ “¯ ”¯ 5´ 6´ ;´ <´ B´ C´
†´ ˆ´ Œ´ •´ ¥µ ¦µ ¯µ °µ Áµ ĵ ȵ ɵ Ķ Ŷ Ͷ ζ <· =·
@· A· ã¾ ä¾
¿
¿
¿
¿ #¿ $¿ '¿ (¿ 1¿ 2¿ J¿ K¿ O¿ P¿
U¿ V¿ Y¿ Z¿ _¿ `¿ g¿ h¿ k¿ l¿ r¿ s¿ y¿ z¿ †¿ ‡¿ Œ¿ •¿ •
¿ •¿ •¿ –
¿ š¿ •¿ ©¿ ª¿ °¿ ±¿ ´¿ µ¿ º¿ »¿ ¿¿ À¿ Ç¿ È¿ Ì¿ Í¿ Ó¿ Ô¿
Ø¿ Ù¿ Þ¿ ß¿ é¿ ê¿ ï¿ ð¿ ù¿ ú¿
À
À
À
À
À
À FÂ GÂ
R T u v { | … †Â )à *à 0à 1à _à `à eà fà xà yÃ
}à ~à šÃ ›Ã ŸÃ
à ªÃ «Ã ³Ã ´Ã ¹Ã ºÃ Òà Óà Ûà Üà áà âà w
Ä yÄ •Ä ‚Ä ‹Ä ŒÄ ’Ä “Ä ŸÄ
Ä «Ä ¬Ä ³Ä ´Ä ¼Ä ¾Ä ÇÄ ÉÄ ÕÄ
ÖÄ ÙÄ ÚÄ
Å
Å
Å
Å
Å
Å
Å -Å qÅ sÅ yÅ zÅ ~Å •Å †Å
‡Å ÞÅ ßÅ âÅ ãÅ ëÅ íÅ õÅ öÅ
Æ
Æ
Æ
Æ
Æ
Æ +Æ Æ 0Æ 1Æ UÆ VÆ aÆ bÆ ƒÆ …Æ ‘Æ ’Æ ½É ¾É ÅÉ ÆÉ ïÉ ðÉ ùÉ úÉ
Ê
Ê
Ê
Ê
Ê
Ê
Ê
Ê
Ê
Ê "Ê #Ê &Ê (Ê 4Ê 5Ê uË wË ~Ë •Ë
,Ì .Ì 5Ì 6Ì ?Ì @Ì îÏ ïÏ øÏ ùÏ ZÐ ^Ð cÐ dÐ
Ð ¡Ð ¢Ð ¥Ð ¦
Ð ¨Ð ªÐ ¬Ð -Ð ®Ð ¸Ð ¹Ð ÀÐ ÁÐ ÄÐ ÅÐ ÍÐ ÏÐ ×Ð ÙÐ âÐ åÐ ðÐ
ñÐ )Ñ *Ñ 2Ñ 3Ñ >Ñ ?Ñ ¶Ñ ¹Ñ ßÑ àÑ æÑ çÑ óÑ ôÑ /Ó 2Ó 7Ó
8Ó dØ eØ °Ø ±Ø ·Ø ¸Ø ÄØ ÅØ ÈØ ÊØ ÏØ ÐØ õØ öØ üØ ýØ
Ù
Ù
Ù
Ù
Ù
Ú
Ú
Ù
Ù
Ù
Ù
£Ù ¤Ù ªÙ «Ù
÷Ù ùÙ üÙ ýÙ
-Ù
·Ù
Ú
Ù (Ù )Ù ‡Ù ŠÙ •Ù •Ù •Ù –
¸Ù »Ù ¼Ù ÆÙ ÇÙ ÔÙ ÕÙ ÜÙ ÝÙ
Ú
àÙ
áÙ
ïÙ
ñÙ
Ú
Ú
Ú
Ú
Ú
Ú
Ú &Ú 'Ú ,Ú 9Ú :Ú ?Ú @Ú BÚ CÚ HÚ IÚ MÚ PÚ VÚ WÚ \Ú ]Ú bÚ dÚ pÚ qÚ
wÚ xÚ „Ú …Ú ˆÚ ‰Ú •Ú ŽÚ ’Ú “Ú šÚ ›Ú ŸÚ
Ú §Ú ¨Ú ²Ú ³Ú
ÏÚ ÐÚ áÚ âÚ éÚ êÚ
Û
Û GÛ HÛ <Ü ?Ü FÜ GÜ JÜ KÜ QÜ RÜ
XÜ YÜ fÜ gÜ mÜ nÜ zÜ {Ü €Ü •Ü ƒÜ „Ü ŒÜ •Ü ŽÜ ‘Ü ›Ü œÜ ¡
Ü ¢Ü ©Ü ªÜ °Ü ²Ü µÜ ¶Ü KÝ MÝ WÝ XÝ aÝ bÝ mÝ nÝ oÝ qÝ ~Ý
•Ý ƒÝ „Ý ŒÝ •Ý ŽÝ •Ý ›Ý œÝ ¥Ý ¦Ý ¯Ý °Ý ¶Ý ·Ý ÄÝ ÅÝ ÉÝ
ÊÝ ÓÝ ÔÝ ÕÝ ×Ý ÜÝ ÝÝ æÝ çÝ éÝ êÝ îÝ ïÝ ÷Ý úÝ ýÝ ÿÝ
Þ
Þ ›Þ •Þ §Þ ¨Þ ¯Þ °Þ ´Þ µÞ »Þ ¼Þ ½Þ ¿Þ ÆÞ ÇÞ ËÞ ÌÞ ÒÞ ÓÞ
ÜÞ ÝÞ âÞ ãÞ èÞ êÞ ëÞ íÞ øÞ ùÞ
ß
ß
ß
ß
ß
ß
ß
ß
ß
ß
ß
ß #ß $ß /ß 0ß 7ß 8ß <ß =ß Cß Dß Mß Rß
]ß ^ß xß yß „ß …ß •ß •ß •ß –
ß šß œß §ß ¨ß ¬ß -ß ²ß ³ß Àß Áß Çß Èß Ôß Õß Ùß Úß àß áß
çß èß êß ëß îß ïß ôß õß úß ûß
à
à ¬à ¯à ´à µà Áà Âà
Æà Çà @á Aá Ná Oá áá âá êá ëá %â &â /â 0â wâ xâ }â ~â
Šâ ‹â •â ‘⠓⠔⠙⠚â
⠢⠫⠬⠵⠶⠾⠿â Ãâ Äâ É
â Êâ Òâ Óâ Ûâ Ýâ áâ ââ îâ ïâ øâ ùâ þâ ÿâ
ã
ã
ã
ã
ã
ã
ã
ã %ã &ã Ûã Üã áã âã çã èã îã ïã ûã üã
ä
ä
ä
ä
ä
ä
ä
ä ä
ä "ä #ä (ä )ä /ä 0ä Hä Iä Xä Yä [ä \ä aä bä hä iä •ä ’ä
›ä œä _í `í Nî Oî Rî Sî
ô
ô -ô ô ¤ö ¥ö ¥ö §ö §ö ¨ö ¨ö ªö «ö -ö ®ö °ö ±ö ¹ö ¼ö Çö Ëö Íö
Íö Îö Ñö
Ã
Ä
'
(
ˆ
‰
æ
ç
c
e
~
€
¤
¥
Ú
Û
¹
á
L
å
ì
-
ò
¨
k
¬
n
Ÿ
ñ
¡
ù
÷
ì
ù
ð
•-
<
©
±
j
n
°
J
%
6
S F
Ð
Q! S! Ÿ!
y% z% }% ž% €& ‚& Ù& Ú& 0' 1' r' t' *( W( Z(
)
¹* ú, s- u. •. Ž. Ü. L/ •/ ¢/ B0 †0 •0 ™0 Í1 ^2 a2 M3 O3
|4 }4 ÷4 ø4 N5 O5 •5 ‘5
)
4
V*
4
6
¶6
·6
7
7
(7
)7
°7
(8
)8
‚8
ƒ8
î8
ð8
º9
Ù9
Þ9
:
?
":
•:
•:
Ö;
â;
“<
?
A
Î? ä? ò? Â@ Í@
>A ?A ÆA ÇA xB zB
C
C FC HC ’C “C DD FD TE [E jE zE
òE ôE VF mG wG ŸG (H 5H YH [H ÉH ÕH ÝH •I ¡I ¸I îI ðI
qJ ,K /K 1K ¸K ¹K 8L 9L ÙL „M ˆM àM DN GN £N
O fO µO ·O hP lP ÖP lQ ¯Q ±Q
R KR ÐR áR ZS \S ûS •T õW
IZ JZ ðZ ýZ
[ ‰[ Ÿ[ ¡[ U\ -\ ±\ ‰] Œ] ¼] W^ Y^ ¸^ ¹^ Ê^ Ì^ t_
v_
`
` ¯` ±` ü` ÿ` ga ha
b
b {c }c ¬f ®f
j
j ek f
k ¢k £k
l
l $l .m •m €m 4n 7n 3p 4p Àq Âq æq èq -u ®u þv ÿv rz sz
à} á} W• X• 1ƒ 2ƒ æƒ èƒ 5„ 7„ ”„
† B† ñ† –Š —
Š Š Ê žŽ ŸŽ *‘ +‘ ÷‘ E’ F’ ®’ ä’ é’ 5” .• 0• º• Ñ• Ô•
s– w– z–
— -— †— ˆ—
˜
˜
˜
h™ l™ ˆ™ Œ™ 0š 4š 7š Ïš Ñš Л Ò› Qœ Rœ ¾œ d• h• j• ®•
Çž Øž
|
€
Ü
¢
¢ D¢
£ T£ V£ ê£
¥ ¤¥ Ú¥ Ü¥ 5¦ G¦ Á¦ æ
o§
¨
¨ ¿¨ Á¨ 3© 5©
© ¢© 'ª À¬ ð¬ b- f- ¼- À- Û- ã®
À° ð N± ‡± ˆ± í± ï± i² !³ }³ Ö´ Ú´ µ¶ ƒ· ¼¾ ¾ ݾ ›¿
À jÀ kÀ
Á
Á «Á ¬Á E G JÆ LÆ ²É ´É 5Î 9Î LÏ NÏ [Ð x
Ð ›Ð ®Ð ¶Ð ¹Ð ÌÐ ÏÐ ×Ð ÙÐ âÐ ¹Ñ
Ò
Ò —
Ò ˜Ò 0Ó
Ô oÔ ÐÔ ÔÔ ‘Ö èÖ ëÖ WØ YØ ‰Ù ŠÙ
Û
Û •Ü ‘Ü ¡Ü
¢Ü °Ü ²Ü òÜ óÜ IÝ JÝ mÝ nÝ ŒÝ •Ý ÓÝ ÔÝ øÝ úÝ =Þ >Þ ™Þ
šÞ »Þ ¼Þ éÞ êÞ
ß
ß Nß Rß
à
à -à ¯à -ã
ã •ä ’ä ›ä œä 1æ 2æ Ñç Òç Òé Óé )ì *ì Xí Yí Kî
ï
ï Æï
Èï Lð éð òð >ñ õñ Vò [ò ˜ò æò çò ›ó •ó áó ¥ö ¥ö §ö §ö
¨ö ¨ö ªö «ö -ö ®ö °ö ±ö Êö Ëö Ñö
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
e
e
Âq Âq ݾ ݾ F F \Ð \Ð ¶Ñ ·Ñ YØ YØ ‘Ü ‘Ü Pß Qß ’
ä ’ä ¤ö ¥ö ¥ö §ö §ö ¨ö ¨ö ªö «ö -ö ®ö °ö ±ö Êö Ëö Ëö Ìö
Ìö Íö Íö Ñö
e
e
Âq Âq ݾ ݾ F F \Ð \Ð ¶Ñ ·Ñ YØ YØ ‘Ü ‘Ü Pß Qß ’
ä ’ä ¤ö ¥ö ¥ö §ö §ö ¨ö ¨ö ªö «ö -ö ®ö °ö ±ö Êö Ëö Ëö Ìö
Ìö Íö Íö Ñö
T#à Dä
ÿ
vf $þÒ„ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ
¬o¬ Dä
ÿ
Ÿ/t
f•Ô5ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ
ÐS• Dä
ÿ
Ü!M |5 sÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ
t!
Æ%Äíÿ
C Ù"¾‘œÍÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ
ý Z%Dä
ÿ
·=ä&Dä ÿ
Ö W1–
•ÒTÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ
wYï8®„”ïÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ
k?ÏB2› šÿ
ç ºJxÛª”ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ
‘ ÙNDä ÿ
â! dDä
ÿ
´k_k<ãdTÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ
´-ékÆ%Äíÿ
¹Larfëz^ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ
J
ÌxÌóò
ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ
SSAzæq"šÿ
otÄ{ŠŒÜfÿ
p 1}æq"šÿ
@
h
„ˆ
^„ˆ `„˜þ
.
„Ð „˜þ Æ
Ð ^„Ð `„˜þCJ
.
ÿ
Æ
h
ÿ
Æ
h
ÿ
Æ
h
ÿ
Æ
h
ÿ
Æ
h
ÿ
Æ
h
ÿ
Æ
h
ÿ
Æ
h
@
h
„„ „˜þ^„„ `„˜þ
.
h
„„ „˜þ Æ
„ ^„„ `„˜þOJ QJ o( ‡h
ˆH
•
h
„T „˜þ Æ
T ^„T `„˜þOJ QJ ^J o( ‡h
H
o
•
h
„$
„˜þ Æ
$ ^„$
`„˜þOJ QJ o( ‡h
ˆH
§ð
•
h
„ô
„˜þ Æ
ô
^„ô
`„˜þOJ QJ o( ‡h
ˆH
·ð
•
h
„Ä
„˜þ
o(
·ð
ˆ
„˜þ Æ
Ä
^„Ä
`„˜þOJ
” ^„”
Æ
d
„˜þ Æ
„
h
þ
.
„
„p
„@
„˜þ Æ
^„@
`„˜þ‡h
„
QJ ^J o( ‡h
ˆH
o
•
`„˜þOJ QJ o( ‡h
ˆH
§ð
•
^„d `„˜þOJ QJ o( ‡h
ˆH
·ð
4 ^„4 `„˜þOJ QJ ^J o( ‡h
ˆH
„˜þ Æ
^„ `„˜þOJ QJ o( ‡h
„„ „˜þ^„„ `„˜þ
.
@
€
„˜þ Æ
^„ `„˜þ‡h
ˆH
.
„Lÿ Æ
p ^„p `„Lÿ‡h
ˆH
.
@
ˆH
.
€
h
„”
h
•
o
ˆH
h
•
§ð
h
‚
€
@
„ˆ
„˜þ Æ
„d „˜þ
„4
h
„˜þ^„ˆ `„˜
„˜þ Æ
^„
`„˜þ‡h
ˆH
„à „Lÿ Æ
„° „˜þ Æ
„€ „˜þ Æ
„P „Lÿ Æ
h „˜þ^„h `„˜þ
•
„
„˜þ Æ
„p „Lÿ Æ
„@
„˜þ Æ
@
^„@
`„˜þ‡h
ˆH
„
à
°
€
P
p
.
^„à
^„°
^„€
^„P
.
‚
`„Lÿ‡h
`„˜þ‡h
`„˜þ‡h
`„Lÿ‡h
@
ˆH
ˆH
ˆH
ˆH
^„ `„˜þ‡h
^„p `„Lÿ‡h
ˆH
ˆH
.
•
.
.
.
.
h
.
.
€
€
‚
@
„ˆ
’
•
h
„˜þ^„ˆ `„˜þ
„
.
„˜þ Æ
^„
`„˜þ‡h
ˆH
„à „Lÿ Æ
„° „˜þ Æ
„€ „˜þ Æ
„P „Lÿ Æ
ˆ „˜þ^„ˆ `„˜þ
@
„
„˜þ Æ
„p „Lÿ Æ
„@
„˜þ Æ
@
^„@
`„˜þ‡h
ˆH
„
’
`„Lÿ‡h
ˆH
.
`„˜þ‡h
ˆH
.
`„˜þ‡h
ˆH
.
`„Lÿ‡h
ˆH
.
@
h
h
„ˆ „˜þ^„ˆ `„˜þ
^„ `„˜þ‡h
ˆH
.
p ^„p `„Lÿ‡h
ˆH
.
à
°
€
P
.
^„à
^„°
^„€
^„P
.
.
•
•
•
’
@
„ˆ
.
’
•
h
„˜þ^„ˆ `„˜þ
•
„
.
„˜þ Æ
^„
`„˜þ‡h
ˆH
„à „Lÿ Æ
„° „˜þ Æ
„€ „˜þ Æ
„P „Lÿ Æ
ˆ „˜þ^„ˆ `„˜þ
„
„˜þ Æ
„p „Lÿ Æ
„@
„˜þ Æ
@
^„@
`„˜þ‡h
ˆH
„
.
^„à
^„°
^„€
^„P
.
^„
p ^„p
’
`„Lÿ‡h
`„˜þ‡h
`„˜þ‡h
`„Lÿ‡h
€
`„˜þ‡h
`„Lÿ‡h
.
€
à
°
€
P
ˆH
ˆH
ˆH
ˆH
.
.
.
.
•
•
’
@
ˆH
ˆH
.
.
‚
€
h
„
„˜þ Æ
^„
`„˜þ‡h
ˆH
„à „Lÿ Æ
„° „˜þ Æ
„€ „˜þ Æ
„P „Lÿ Æ
h „˜þ^„h `„˜þ
•
„
„˜þ Æ
„p „Lÿ Æ
„@
„˜þ Æ
@
^„@
`„˜þ‡h
ˆH
„
à
°
€
P
p
.
^„à
^„°
^„€
^„P
.
‚
`„Lÿ‡h
`„˜þ‡h
`„˜þ‡h
`„Lÿ‡h
@
ˆH
ˆH
ˆH
ˆH
^„ `„˜þ‡h
^„p `„Lÿ‡h
ˆH
ˆH
.
•
.
.
.
.
h
.
.
€
€
‚
@
„ˆ
’
•
h
„˜þ^„ˆ `„˜þ
„
.
„˜þ Æ
^„
`„˜þ‡h
ˆH
„à „Lÿ Æ
„° „˜þ Æ
„€ „˜þ Æ
„P „Lÿ Æ
„ „˜þ^„„ `„˜þ
h
„8 „˜þ Æ
„
„˜þ Æ
„Ø
„Lÿ
„¨
à
°
€
P
.
^„à
^„°
^„€
^„P
.
’
`„Lÿ‡h
`„˜þ‡h
`„˜þ‡h
`„Lÿ‡h
@
ˆH
ˆH
ˆH
ˆH
^„8 `„˜þ‡h
ˆH
^„ `„˜þ‡h
ˆH
Æ
Ø ^„Ø `„Lÿ‡h
.
.
.
.
h
8
•
•
’
@
„„
.
.
ˆH
h
„˜þ^„„ `„˜þ
•
’
.
„
.
h
h
•
h
„˜þ Æ
¨
^„¨
`„˜þ‡h
ˆH
.
„x „˜þ Æ
x ^„x
„H „Lÿ Æ
H ^„H
„
„˜þ Æ
^„
„è „˜þ Æ
è ^„è
„¸ „Lÿ Æ
¸ ^„¸
h „˜þ^„h `„˜þ
.
€
„\ „˜þ^„\ `„˜þ‡h
„, „Lÿ^„, `„Lÿ‡h
„ü
„˜þ^„ü
„Ì
•
`„˜þ‡h
`„Lÿ‡h
`„˜þ‡h
`„˜þ‡h
`„Lÿ‡h
ˆH
ˆH
ˆH
ˆH
ˆH
h
.
.
.
.
.
ˆH
ˆH
`„˜þ‡h
.
.
ˆH
‚
€
.
’
•
•
’
@
„Œ
€
h
h
h
h
h
„˜þ^„Œ `„˜þo(
„
.
„˜þ^„Ì
`„˜þ‡h
„œ
„l
„<
„
ˆH
.
„Lÿ^„œ `„Lÿ‡h
„˜þ^„l `„˜þ‡h
„˜þ^„< `„˜þ‡h
‚
ˆH
ˆH
ˆH
.
.
.
€
€
‚
„Lÿ^„
`„Lÿ‡h
ˆH
•
„
„˜þ Æ
„p „Lÿ Æ
„@
„˜þ Æ
@
^„@
`„˜þ‡h
ˆH
„
.
p
@
^„ `„˜þ‡h
^„p `„Lÿ‡h
.
•
h
ˆH
ˆH
.
.
„ˆ
’
•
„˜þ^„ˆ `„˜þ
.
„˜þ Æ
^„
`„˜þ‡h
ˆH
.
„à „Lÿ Æ
à ^„à
„° „˜þ Æ
° ^„°
„€ „˜þ Æ
€ ^„€
„P „Lÿ Æ
P ^„P
h „˜þ^„h `„˜þ
.
@
h
p 1}
ý Z%
â! d
¬o¬
’
`„Lÿ‡h
ˆH
.
`„˜þ‡h
ˆH
.
`„˜þ‡h
ˆH
.
`„Lÿ‡h
ˆH
.
@
h
„h „˜þ^„h `„˜þ
.
´-ék
t!
‘ ÙN
T#à
ÐS•
•
•
’
@
h
„8 „˜þ^„8 `„˜þ
otÄ{
„
.
SSAz
·=ä&
vf
Ÿ/t
´k_k
Ö W1
k?ÏB
wYï8
Ü!M
J
Ìx
C Ù"
ç ºJ
¹Lar
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
ÿÿ
n
MÈG„¹Â
æä¶|ÈÁŠ ²éd¹®¥ÜÔ ŒŽ~|êˆnR^ôQ
Dä
Dä
Dä
Dä
Dä
ì+ˆ¹
:i
ì"
ƒ(
r
¨a
Dä
å
À
q
~
wl
,w
•- •< ˆ3 °` Ì
n
3
•! ÒM
^Ó ' Ø}' ø:( Jc, ¬G2 C^5
6 ü58 ùP8 »M9 |?> Ó*? ÍI? ‡ A ÈMA ¹[C וD
2E 1 H £RI Ü(J º`K Ø!M BS ¬ V æMW î+X [6Y ýR[
]
c` )Yd Ÿnd ò e ± e Ó}g BYm (Sq b(s €)u K w {Py •e~ Í •
g€ · ‚ qƒ –I† Z9‡ ÎY‰ ,Š ÜY‹
š Z › ~3•
Ÿ QŸ ¢QŸ „: Âb
]‹ hŽ $*• šO• $+’ -” ¬ – /7— rg— IU˜ 8}˜
¿{ª ]- ü]² k² ê*· ÍI¹ —>» [w»
¾ Î{Ä
Õ ñmÛ ’-Ý <cÝ W_ã ®
æ rXî > ÷ œ
ø šmû ¥3ý ÅYý ˆ þ 5Mÿ £zÿ
¥ö §ö
ÿ@ € ’ä ’ä
’ä
’ä
Ðö p
@ ÿÿ
U n k n o w n ÿÿ
ÿÿ
ÿÿ
ÿÿ
ÿÿ
ÿÿ
G-•
‡*
€
ÿ
T i m e s
N e w
R o m a n
5-•
€
S y m b o l
‡*
€
ÿ
o n o t y p e
C o r s i v a
A n t i q u a
?=•
A-•
7-•
‡*
A r i a l
IN•
€
‡
ï
ÿ
‡
K
@
Ÿ
Ÿ
C o u r i e r
àI
3.•
Ÿ
B o o k
C a m b r i a
N e w
;
M
•
ï
¿
ë B
ˆ ðÐ
h
! ð
Ÿ
€
W i n g d i n g s
A-•
C a m b r i a
M a t h
"
1
qÓËfI Û&
> ú
Ð$ ÕÑ
~
¿
Ð$
Á Á ´ ´ •• 4
'ö
ÕÑ
'ö
~
2ƒq ð
üý
ðÿ
!
g i a t a
m a t e r
A
C u s t o
HX
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ$+’
2
x
x
ÿÿ
n
B e l a j a r
2 :
P e m b e l a j a r a n
i
h u k u m
d a n
p e n e g a k a n
c e r
V a l u e d
A c e r
m e r
h
?
ä
< K e
þÿ
à…ŸòùOh «‘
ì
ü
p
+'³Ù0
$
´
•
D
˜
P
à
|
ˆ
”
œ
¤
¬
ä
@
Pembelajaran materi hukum dan penegakan
Acer
Valued Acer Customer
62 Word
@
\V€ù
@
à “OÉ @
&@ Æ[Ê
Kegiatan Belajar 2:
Normal
Microsoft Office
Ð$
ÕÑ
-
þÿ
“—
+,ù®0
$
ÕÍÕœ.
h
œ
¼
p
¤
|
¬
„
´
Œ
”
ä
-
¿
~
'ö
penegakan
=
Kegiatan Belajar 2: Pembelajaran materi hukum dan
-
Title
!
.
@
R
"
/
A
S
e
d
#
0
B
T
f
$
1
C
U
g
%
2
D
V
h
&
3
E
W
F
X
x
Š
™
«
y
‹
š
¬
j
|
(
5
G
Y
k
}
)
6
H
Z
l
~
*
7
I
[
m
•
+
8
J
\
n
,
9
K
]
o
:
L
^
p
;
M
_
q
<
N
`
r
=
O
a
>
P
b
?
Q
c
s
t
u
v
z
{
€
•
‚
ƒ
„
…
†
‡
ˆ
Œ
•
Ž
•
•
‘
’
“
”
•
–
—
›
œ
•
ž
Ÿ
¡
¢
£
¤
¥
¦
§
¨
©
®
¯
°
±
²
³
´
µ
¶
þÿÿÿ¸
¹
º
»
¼
½
¾
þÿÿÿÀ
Á
Â
Ã
Ä
Å
Æ
Ç
È
É
Ê
Ë
Ì
Í
Î
Ï
Ð
Ñ
Ò
Ó
Ô
Õ
Ö
×
Ø
Ù
Ú
Û
Ü
Ý
Þ
ß
à
á
â
ã
ä
å
æ
ç
è
é
ê
ë
ì
í
î
ï
ð
ñ
ò
ó
ô
õ
ö
÷
ø
ù
ú
û
ü
ý
þ
ÿ
w
‰
˜
ª
i
'
4
!
"
#
$
%
þÿÿÿ'
(
)
*
+
,
þÿÿÿ/
0
1
2
3
4
5
þÿÿÿýÿÿÿýÿÿÿýÿÿÿ:
þÿÿÿþÿÿÿþÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿR o o t
E n t r y
ÿÿÿÿÿÿÿÿ
À
F
Á Æ[Ê <
€
D a t a
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
e
·
1 T a b l
Ì
ÿÿÿÿ
W o r d D o c u m e n t
ÿÿÿÿ
r y I n f o r m a t i o n
&
y I n f o r m a t i o n
8
.
C o m p O b j
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
¿
>l
S u m m a
(
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
D o c u m e n t S u m m a r
ÿÿÿÿÿÿÿÿ
y
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
þÿÿÿÿÿ
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ þÿ
ÿÿÿÿ
À
F'
Microsoft Office Word 97-2003 Document
MSWordDoc
Word.Document.8 ô9²q
Download