Tesis - Program Pasca Sarjana Universitas Udayana

advertisement
2
BAB I
Pendahuluan
1.1
Latar belakang masalah
Perkembangan ilmu kedokteran semakin mengalami kemajuan, termasuk ilmu
kedokteran anti penuaan atau Anti Aging Medicine (AAM) yang membawa paradigma baru
dalam dunia kedokteran. Paradigma tersebut yakni dengan ilmu pengetahuan dan teknologi
kedokteran terkini, penuaan dapat dideteksi lebih dini, dicegah, diobati dan diperbaiki ke
keadaan semula. Dengan adanya AAM ini, setiap orang dapat tetap hidup sehat dan berada
dalam kualitas hidup yang optimal meskipun dengan bertambahnya usia. Proses penuaan
dapat diperlambat, ditunda atau dihambat dan usia harapan hidup akan meningkat disertai
kesehatan dan kebugaran tubuh serta kualitas hidup yang baik.
Terdapat berbagai faktor yang menyebabkan orang menjadi tua melalui proses
penuaan, yang kemudian menyebabkan sakit dan berakhir dengan kematian. Di antaranya
adalah faktor radikal bebas, hormon yang berkurang, polusi lingkungan, stres dan gaya
hidup tidak sehat. Jika faktor-faktor ini dibiarkan saja tanpa ada usaha untuk mencegah atau
menanggulanginya, maka proses penuaan akan terjadi lebih cepat, bahkan angka morbiditas
dan mortalitas akan ikut meningkat pula. Gaya hidup tak sehat seperti diet tinggi
karbohidrat dan lemak, serta pola hidup sedentari dimana aktivitas fisik sehari-hari sangat
minimal, akan menyebabkan terjadinya kelebihan lemak tubuh, terutama timbunan lemak
abdomen. Penumpukan lemak abdomen, khususnya lemak viseral merupakan salah satu
penyebab meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas (Pangkahila, 2007).
3
Kelebihan lemak tubuh atau obesitas saat ini merupakan sebuah epidemi yang muncul di
seluruh dunia, termasuk di negara-negara yang sedang berkembang. Di Indonesia,
walaupun masalah nutrisi yang lebih diprioritaskan berhubungan dengan
defisiensi nutrisi seperti Protein Energy Malnutrition (PEM), anemia, defisiensi vitamin
1
dan mikronutrien, namun kelebihan dan ketidakseimbangan asupan gizi yang berhubungan
dengan pola hidup yang sedentary kini perlu diperhatikan karena meningkatnya angka
kelebihan berat badan dan obesitas (Atmarita, 2005).
Interaksi dari berbagai faktor seperti faktor genetik, lingkungan, dan psikososial
berpengaruh terhadap timbulnya obesitas (Molina, 2006). Namun secara sederhana,
obesitas terjadi karena ketidakseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran energi antara
lain yang diakibatkan oleh pola hidup tidak sehat seperti diet tinggi karbohidrat, lemak
jenuh, kurang serat, serta aktivitas fisik yang sedikit (Wilborn et al., 2005).
Peningkatan prevalensi obesitas menarik perhatian baik peneliti maupun masyarakat
luas oleh karena kelebihan lemak tubuh dihubungkan dengan berbagai penyakit kronik dan
degeneratif (Popkin, 2006), yakni penyakit-penyakit ko-morbid obesitas seperti diabetes
mellitus tipe 2, hipertensi, hiperkolesterolemia, penyakit jantung koroner, penyakit batu
empedu, dan osteoartritis (Turk et al., 2009).
Obesitas diyakini dapat meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas (McPhee dan
Ganong, 2005). Ada kemungkinan generasi mendatang akan menua dalam kondisi kurang sehat
dikarenakan meningkatnya prevalensi obesitas (Byles, 2009). Terdapatnya kelebihan lemak tubuh
akan mengancam tingkat kesehatan, kualitas hidup dan usia harapan hidup (Olshansky et al.,
2005). Pada negara maju seperti Amerika Serikat, diramalkan akan terjadi penurunan usia harapan
hidup akibat bertambahnya penduduk yang masuk ke dalam kelompok obesitas (Olshansky et al.,
2005). Jika peningkatan angka penderita obesitas tidak dicegah, peningkatan usia harapan hidup
yang mulai stabil di era modern ini, dapat segera berakhir dan masyarakat akan hidup dalam
4
kondisi yang kurang sehat, dengan kualitas hidup yang kurang baik bahkan berusia lebih pendek
daripada generasi sebelumnya (Stein, 2005).
Masalah yang dibawa obesitas bukan saja merupakan masalah kesehatan namun juga
merupakan masalah beban ekonomi. Hal ini diakibatkan meningkatnya biaya medis, seperti jasa
dokter, biaya pemeriksaan laboratorium, rawat inap, dan obat-obatan (Turk, 2009). Dampak dari
obesitas pada kondisi kesehatan, ekonomi dan usia harapan hidup amatlah besar (Byles, 2009).
Dengan demikian telah banyak ditujukan perhatian untuk mencari suatu strategi untuk mencegah
kenaikan berat badan dan penumpukan lemak tubuh, baik lewat intervensi medis, olahraga,
nutrisi, dan suplementasi (Wilborn, 2005; Turk, 2009).
Terdapat banyak sekali suplemen yang dikatakan dapat membantu menurunkan berat
badan. Ekstrak teh hijau merupakan salah satu suplemen yang dipercaya dapat membantu
menurunkan berat badan serta mencegah penumpukan lemak tubuh. Teh hijau adalah minuman
yang cukup popular di seluruh dunia. Di India, Cina, Jepang dan Thailand minuman teh telah
dikonsumsi sejak lama. Pada kedokteran tradisional India dan Cina, praktisi kesehatan
menggunakan teh hijau sebagai stimulan, diuretik (meningkatkan ekskresi urin), astringent
(mengontrol perdarahan dan membantu penyembuhan luka), dan meningkatkan kesehatan
jantung. Pengobatan tradisional lainnya menggunakan teh hijau untuk mengobati flatulens,
mengatur suhu tubuh dan menurunkan kadar gula darah, membantu pencernaan dan
meningkatkan proses berpikir (Nagle et al., 2006; Velayutham et al., 2008; Chako et al., 2010).
Kegunaan teh hijau bagi kesehatan seperti perlindungan terhadap kanker, penyakit
kardiovaskular, hati, telah dilaporkan. Efek baik dari teh hijau ini berhubungan dengan
kandungannya,
yakni
(–)-epigallocatechin-3-gallate
(EGCG)
adalah
komponen
polyphenolic utama yang ditemukan pada teh hijau. Beberapa komponen polyphenolic
yang dikenal dengan nama catechin juga ditemukan dalam jumlah yang lebih sedikit pada
teh hijau, yakni (–)-epicatechin-3-gallate (ECG), (–)-epigallocatechin (EGC), (–)epicatechin (EC) and (-)-catechin (Nagle et al., 2006).
5
Konsumsi teh hijau untuk jangka waktu yang lama dapat bermanfaat terhadap
obesitas yang diakibatkan oleh diet tinggi lemak, diabetes mellitus tipe 2 dan dapat
mengurangi risiko dari penyakit jantung koroner (Maki et al., 2009; UMMC, 2010).
Ekstrak teh hijau juga dilaporkan dapat menurunkan kadar lipid darah, merelaksasi otot
polos vaskular, meningkatkan pengeluaran energi dan oksidasi lemak. Lebih jauh lagi,
konsumsi minuman yang kaya akan catechin menunjukkan dapat mengurangi lemak tubuh,
kolesterol total dan tekanan darah sistolik pada subjek dengan obesitas lemak viseral.
Sehingga minuman yang kaya akan catechin dianggap bermanfaat untuk pencegahan dan
pengobatan gangguan kesehatan akibat pola hidup yang sedentari (Nagao et al., 2009).
Catechin pada teh hijau dilaporkan dapat menghambat enzim Catechol-O-methyltransferase (COMT), yakni enzim yang mendegradasi norepinefrin. Dengan terhambatnya
enzim COMT oleh catechin, terjadi reduksi degradasi norepinefrin yang akan menghasilkan
penambahan waktu kerja norepinefrin pada sistem saraf simpatis. Aktivasi sistem saraf
simpatis ini akan menstimulasi pengeluaran energi di antaranya dengan meningkatkan
termogenesis dan oksidasi lemak (Diepvens et al., 2007; Belza et al., 2009).
Beberapa laporan juga menyatakan EGCG dapat menghambat proliferasi adiposit dan
mengurangi viabilitas adiposit lewat aktivasi adenosine monophosphate-activated protein kinase
(AMPK). AMPK merupakan target dari fitokimia ini dalam fungsi teh hijau sebagai anti obesitas.
Secara umum AMPK diaktivasi oleh berbagai rangsangan seperti olahraga, heat shock, dan
Reactive Oxygen Species (ROS). Aktivasi AMPK merupakan faktor penting dalam penghambatan
adipogenesis oleh EGCG (Moon et al., 2007).
Berbagai penelitian yang dilakukan di luar negeri melaporkan pemberian ekstrak teh
hijau baik pada hewan coba ataupun manusia dapat menurunkan berat badan, mengurangi
kadar lemak tubuh, dan meningkatkan termogenesis serta oksidasi lemak (Klaus et al.,
2005; Maki et al., 2009). Data dari hasil penelitian yang dilakukan di Indonesia juga
menunjukkan hasil serupa. Yakni pemberian ekstrak teh hijau menurunkan berat badan,
lingkar perut, dan persentase lemak tubuh pada wanita obesitas (Adriani, 2010).
6
Meski demikian terdapat laporan yang menyebutkan konsumsi teh hijau tak
berkhasiat terhadap kesehatan. Bahkan juga terdapat keraguan bahwa penambahan teh hijau
ke dalam diet dapat mengakibatkan efek samping yang buruk bagi kesehatan, di antaranya
insomnia, palpitasi jantung, sakit kepala, dan menurunkan bioavailibilitas zat besi dari diet
(Chako et al., 2010).
Dari uraian latar belakang di atas, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk
mengetahui efek dari teh hijau, apakah ekstrak teh hijau memiliki pengaruh baik bagi
kesehatan khususnya bagi penurunan berat badan dan lemak abdominal. Pada penelitian ini
digunakan dua dosis perlakuan, yang lebih besar dibandingkan yang pernah diteliti
sebelumnya. Diharapkan dengan semakin besar dosis, penurunan berat badan dan berat
lemak abdominal akan semakin besar pula.
1.2
Rumusan Masalah
Memperhatikan latar belakang yang disebutkan di atas, maka disusunlah perumusan
masalah sebagai berikut:
1. Apakah ekstrak teh hijau dapat menurunkan berat badan tikus wistar jantan yang diberi
diet tinggi karbohidrat dan lemak?
2. Apakah ekstrak teh hijau dapat menurunkan berat lemak subkutan abdomen pada tikus
wistar jantan yang diberi diet tinggi karbohidrat dan lemak?
3. Apakah ekstrak teh hijau dapat menurunkan berat lemak viseral abdomen pada tikus
wistar jantan yang diberi diet tinggi karbohidrat dan lemak?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui pengaruh ekstrak teh hijau terhadap berat badan dan timbunan lemak
tubuh.
7
1.3.2 Tujuan khusus
Untuk mengetahui :
1. Untuk mengetahui pemberian ekstrak teh hijau dapat menurunkan berat badan tikus
wistar jantan yang diberi diet tinggi karbohidrat dan lemak.
2. Untuk mengetahui pemberian ekstrak teh hijau dapat menurunkan berat lemak
subkutan abdomen tikus wistar jantan yang diberi diet tinggi karbohidrat dan lemak.
3. Untuk mengetahui pemberian ekstrak teh hijau dapat menurunkan berat lemak
viseral abdomen tikus wistar jantan yang diberi diet tinggi karbohidrat dan lemak.
1.4. Manfaat Penelitian
1. Manfaat ilmiah
- Hasil penelitian dapat merupakan tambahan pengetahuan dalam metode penurunan berat
badan dan lemak tubuh.
- Hasil penelitian akan membuktikan bahwa ekstrak teh hijau bermanfaat untuk
menurunkan berat badan.
- Hasil penelitian akan membuktikan bahwa ekstrak teh hijau bermanfaat untuk
menurunkan penumpukan lemak subkutan abdomen dan lemak viseral abdomen.
2. Manfaat praktis
- Diharapkan suatu saat ekstrak teh hijau akan terus diberikan sebagai salah satu cara untuk
menurunkan berat badan dan penumpukan lemak abdominal.
3. Untuk penelitian
- Penelitian diharapkan dapat menambah informasi mengenai pengaruh ekstrak teh hijau
bermanfaat untuk menurunkan berat badan dan penumpukan lemak abdomen.
- Hasil penelitian dapat menjadi dasar untuk dilakukannya penelitian lebih lanjut.
8
BAB II
Tinjauan Pustaka
2.1 Penuaan (Aging) dan Anti Penuaan (Anti Aging)
Setelah mencapai usia dewasa, secara alami seluruh komponen tubuh tidak dapat
berkembang lagi. Sebaliknya terjadi penurunan akibat proses penuaan. Pada umumnya
menjadi tua dianggap hal yang lumrah sehingga semua masalah yang muncul dianggap
memang seharusnya dialami. Padahal terdapat banyak faktor yang berpengaruh terhadap
proses penuaan. Faktor-faktor ini dapat dibagi menjadi faktor internal dan faktor eksternal.
Beberapa faktor internal adalah radikal bebas, hormon yang berkurang, dan genetik. Faktor
eksternal yang utama adalah pola hidup yang tidak sehat, polusi lingkungan dan stres.
Faktor-faktor ini dapat dicegah, diperlambat bahkan mungkin dihambat sehingga kualitas
hidup dapat dipertahankan. Lebih jauh lagi usia harapan hidup dapat lebih panjang dengan
kualitas hidup yang baik (Pangkahila, 2007).
Usia harapan hidup yang lebih panjang disertai kualitas hidup yang optimal inilah konsep
baru dari ilmu kedokteran anti penuaan atau Anti Aging Medicine (AAM). AAM ini
didefinisikan sebagai bagian ilmu kedokteran yang didasarkan pada penggunaan ilmu
pengetahuan dan teknologi kedokteran terkini untuk melakukan deteksi dini, pencegahan,
pengobatan, dan perbaikan ke keadaan semula berbagai disfungsi, kelainan, dan penyakit
yang berkaitan dengan penuaan, yang bertujuaan untuk memperpanjang hidup dalam
keadaan sehat. Dengan definisi AAM tersebut, tampak bahwa terdapat paradigma yang
baru. Yakni di antaranya manusia bukanlah orang terhukum yang terperangkap dalam takdir
genetik dan penuaan dapat dianggap sama dengan penyakit yang dapat dicegah, diobati
bahkan dikembalikan ke keadaan semula (Pangkahila, 2007).
7
9
Dengan mengingat faktor-faktor yang berpengaruh dalam proses penuaan, dapatlah
ditentukan faktor mana yang perlu dihindari atau diatasi sehingga proses penuaan dapat
dicegah atau dihambat. Bermodalkan kesadaran tentang pentingnya menjaga kesehatan dan
menghindari berbagai faktor penyebab proses penuaan dilengkapi dengan pengobatan,
masyarakat memiliki kesempatan untuk hidup lebih sehat dan berusia lebih panjang dengan
kualitas hidup yang baik (Pangkahila, 2007).
Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menghambat proses penuaan antara
lain adalah menjaga kesehatan tubuh dan jiwa dengan pola hidup sehat meliputi
berolahraga teratur, makanan sehat dan cukup, atasi stres; jangan merasa sehat dan normal
hanya karena tidak ada keluhan serius; melakukan pemeriksaan kesehatan berkala yang
diperlukan dan disesuaikan dengan kondisi; menggunakan obat dan suplemen yang
diperlukan sesuai petunjuk ahli untuk mengembalikan fungsi berbagai organ tubuh yang
menurun. Namun, terdapat pula hambatan atau kesulitan melakukan upaya menghambat
proses penuaan, antara lain karena lingkungan tidak sehat, pengetahuan rendah dan budaya
yang tidak benar. Yang juga termasuk hambatan adalah adanya pola hidup yang tidak sehat
seperti diet yang tinggi karbohidrat dan lemak jenuh (Pangkahila, 2007).
2.2 Diet Tinggi Karbohidrat dan Lemak Jenuh
Sesungguhnya makanan yang sehat dapat memenuhi kebutuhan tubuh agar tetap
dapat berfungsi normal. Pada dasarnya nutrisi sehat dan seimbang terdiri dari komposisi
sebagai berikut : 50% karbohidrat dengan glycemic index yang rendah, 30% lemak dimana
60% berupa monounsaturated fatty acids dan 10% polyunsaturated fatty acids dan 20%
protein. Namun yang seringkali terjadi adalah konsumsi makanan tidak seimbang, bahkan
mengandung terlalu banyak karbohidrat terutama dengan glycemic index yang tinggi seperti
gula, roti-rotian, makanan penutup, lemak hewani, dan terlalu sedikit makanan berserat dan
buah (Pangkahila, 2007).
10
Energi dikonsumsi dalam diet lewat masukan karbohidrat, protein dan lemak. Jika
terdapat kelebihan kalori, yakni antara lain dari asupan tinggi karbohidrat dan lemak jenuh,
yang melebihi takaran komposisi nutrisi yang sehat dan seimbang, maka tubuh akan
mengubah dan menyimpan nutrien energi ini sebagai trigliserida dalam jaringan adiposa.
Seiring berjalannya waktu jika kelebihan kalori ini dikonsumsi terus tanpa ada peningkatan
pengeluaran energi maka kelebihan lemak tubuh akan disimpan dan dapat berkembang
menjadi obesitas (Wilborn et al., 2005).
2.3 Obesitas
Obesitas telah mencapai proporsi epidemik global, dengan lebih dari 1 milyar orang
dewasa mengalami kelebihan berat badan (overweight) – dimana 300 juta diantaranya
mengalami obesitas. Hal ini merupakan penyumbang yang besar terhadap beban global
penyakit kronik dan disabilitas. Epidemi obesitas tidaklah terbatas pada negara-negara maju
saja, peningkatan angka penderita obesitas terkadang lebih cepat di negara berkembang
daripada negara maju (WHO, 2003).
Adanya transisi nutrisi menyebabkan negara-negara berkembang untuk mengalami
peningkatan prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas, dan juga penyakit-penyakit yang
dihubungkan dengan obesitas. Hal ini diakibatkan oleh perubahan nutrisi yang dicirikan dengan
diet tinggi lemak jenuh dan karbohidrat serta pola hidup sedentari yang menyebabkan tubuh
membutuhkan lebih sedikit energi untuk aktivitas sehari-hari. Perubahan nutrisi ini terjadi oleh
karena adanya globalisasi kebudayaan dan kebiasaan dari negara-negara maju yang masuk ke
negara berkembang (Popkin, 2006).
Pada
negara-negara
sedang
berkembang,
selain
masalah
kelebihan
dan
ketidakseimbangan nutrisi juga ditemui keadaan kurang gizi. Obesitas dapat ditemukan
pada semua kelompok usia dan sosioekonomi (WHO, 2003). Indonesia sebagai negara
11
dengan populasi keempat terbesar di dunia setelah Cina, India dan Amerika Serikat
diwarnai dengan kontras. Sekitar 50% atau lebih dari 100 juta penduduknya tergolong pada
kelompok defisiensi nutrisi, dan 15% populasi dewasa termasuk kelebihan berat badan
sehingga angka penyakit ko-morbid yang dihubungkan dengan kelebihan berat badan turut
meningkat (Atmarita, 2005).
Obesitas didefinisikan sebagai kelebihan jaringan adiposa. Kuantifikasi yang akurat
dari lemak tubuh membutuhkan peralatan canggih seperti Computed Tomography (CT)
Scan dan Magnetic Resonance Imaging (MRI) yang biasanya tidak tersedia pada tempat
praktek dokter. Pemeriksaan fisik umumnya cukup memadai untuk menentukan adanya
kelebihan lemak tubuh. Metode yang paling sering digunakan untuk evaluasi kuantitatif
adalah Indeks Massa Tubuh (IMT). IMT dikalkulasikan dengan cara membagi berat badan
tubuh yang terukur dalam kilogram dengan tinggi badan dalam meter kuadrat (Thierney et
al., 2005).
The National Institute of Health (NIH) mendefinisikan IMT yang normal yakni
18,5-24,9. Kelebihan berat badan didefinisikan sebagai IMT 25-29,9. Obesitas Kelas I
adalah 30-34,9 Obesitas Kelas II adalah 35-39,9 dan Kelas III >40 (Thierney et al., 2005).
Organisasi kesehatan dunia (WHO) telah menentukan nilai IMT untuk daerah Asia Pasifik.
Untuk orang Asia, dianggap overweight bila IMT > 23 dan dianggap obesitas bila IMT >
25. Revisi ini didasarkan pada kenyataan bahwa morbiditas dan mortalitas orang Asia
cenderung terjadi pada IMT yang lebih rendah (Pangkahila, 2007).
Selain berat badan, terdapat faktor lain yang juga tidak kalah penting. Obesitas
tubuh bagian atas (kelebihan berat badan di daerah pinggang) merupakan risiko kesehatan
yang lebih besar dibandingkan obesitas tubuh bagian bawah (lemak di paha bagian atas dan
pantat) (Thierney et al., 2005). Sekarang diketahui bahwa, dimana lemak berada lebih
penting daripada berapa banyak lemak yang terakumulasi. Obesitas sentral atau viseral,
merupakan faktor risiko yang lebih penting untuk morbiditas dan mortalitas yang
12
berhubungan dengan obesitas, dibandingkan dengan lemak sub-kutan (Thierney et al.,
2005; Molina, 2006).
Tingkat keparahan komplikasi medis lebih berhubungan dengan distribusi lemak
tubuh, khususnya obesitas tubuh bagian atas, dibandingkan lemak tubuh total. Obesitas
abdominal atau tubuh bagian atas direfleksikan melalui rasio pinggang-pinggul yang tinggi,
sebuah indeks yang digunakan untuk memprediksi risiko yang berhubungan dengan
akumulai lemak (Molina, 2006).
Pasien obesitas dengan lingkar perut yang meningkat (>102 cm pada pria dan
>88cm pada wanita) atau dengan rasio pinggang-pinggul yang tinggi (>1,0 pada pria dan
>0,85 pada wanita) memiliki risiko yang lebih besar akan diabetes mellitus, stroke,
penyakit jantung koroner, kematian yang lebih dini dibandingkan pasien obesitas dengan
rasio yang lebih rendah (Thierney et al., 2005). Rekomendasi WHO untuk daerah Asia
Pasifik ialah batas atas lingkar pinggang (waist circumference) bagi pria >90 cm dan bagi
wanita >80 cm. Rekomendasi ini dibuat karena orang Asia cenderung mengalami
akumulasi lemak viseral tanpa obesitas secara umum (Pangkahila, 2007). Diferensiasi yang
lebih lanjut akan lokasi dari kelebihan lemak menunjukkan lemak viseral dalam kavitas
abdomen lebih berbahaya bagi kesehatan daripada lemak subkutan di daerah abdomen
(Thierney et al., 2005).
Rasio lingkar pinggang dan pinggul atau Waist to Hip circumference Ratio (WHR)
merupakan metode yang sederhana dan nyaman digunakan untuk penelitian epidemiologis
dan memberikan estimasi yang berguna akan proporsi abdomen atau lemak tubuh bagian
atas, namun WHR tidak dapat membedakan akumulasi dari lemak abdominal viseral
dengan lemak abdominal subkutan (Wajchenberg, 2000). Penanda adanya jaringan
adiposa seperti indeks massa tubuh, lingkar pinggang, dan rasio pinggang dan pinggul
secara umum mudah untuk dilakukan namun tidak secara konkret membedakan abdomen
yang besar akibat penumpukan jaringan adiposa subkutan atau lemak viseral (Levy, 2010).
Teknik pencitraan, terutama CT Scan, yang dapat secara jelas membedakan lemak dari
13
jaringan lainnya, dapat digunakan untuk mengukur lemak abdominal, baik yang viseral
maupun yang subkutan (Wajchenberg, 2000).
Lemak viseral lebih sensitif terhadap katekolamin dan kurang sensitif terhadap
insulin, membuatnya menjadi penanda dari resistensi insulin. Temuan ini konsisten dengan
pengamatan pada individu obese yang melakukan aktivitas fisik berat dimana obesitasnya
disebabkan karena masukan kalori yang tinggi, seperti pada pesumo, memiliki lemak
subkutan lebih banyak daripada lemak viseral dan tidak menunjukkan peningkatan
resistensi insulin yang substansial. Secara kontras, obesitas yang disebabkan oleh pola
hidup sedentari, diduga sebagian besar merupakan obesitas viseral dan dihubungkan
dengan resistensi insulin dengan derajat yang lebih berat pada pasien baik dengan atau
tanpa diagnosis diabetes melitus (McPhee dan Ganong, 2005).
Meningkatnya epidemi obesitas menggambarkan perubahan pada masyarakat dan
pada pola tingkah laku dari komunitas dalam beberapa dekade terakhir (WHO, 2003).
Obesitas terjadi sebagai akibat dari pola hidup yang sedentari ditambah dengan konsumsi
kelebihan kalori dalam jangka waktu yang lama (Thierney et al., 2005), khususnya diet
tinggi lemak jenuh dan karbohidrat (Popkin, 2006). Konsumsi yang meningkat dari
makanan yang mengandung kalori tinggi, rendah nutrisi dengan kadar gula dan lemak
jenuh yang tinggi, dikombinasikan dengan aktivitas fisik yang berkurang, mengakibatkan
angka penderita obesitas meningkat sampai dengan tiga kali lipat atau bahkan lebih sejak
tahun 1980 di beberapa daerah di Amerika Utara, Inggris, Eropa Timur, Timur Tengah,
Australia dan Cina (WHO, 2003).
Meski demikian obesitas yang ditemukan pada manusia tanpa diragukan merupakan
hasil dari interaksi berbagai gen, faktor fisiologik, faktor lingkungan dan kebiasaan
(Thierney et al., 2005; Wilborn et al., 2005). Walaupun faktor genetik berperan dalam
menentukan kerentanan seseorang terhadap peningkatan berat badan, keseimbangan energi
ditentukan dengan masukan kalori dan aktivitas fisik. Perubahan sosial, pertumbuhan
14
ekonomi, modernisasi, urbanisasi dan globalisasi merupakan beberapa hal yang mendorong
terjadinya epidemi ini (WHO, 2003; Byles, 2009).
Kelebihan masukan energi daripada pengeluaran energi akan mengarah menjadi
akumulasi lemak. Massa lemak sendiri ditentukan oleh keseimbangan antara pemecahan
(lipolisis) dan sintesis (lipogenesis). Sistem saraf simpatis adalah perangsang utama dari
lipolisis, yang akan menyebabkan berkurangnya deposit lemak, terutama jika penggunaan
energi individu meningkat. Jika masukan melebihi penggunaan energi, akan terjadi
lipogenesis di hati dan jaringan adiposa. Lipogenesis dipengaruhi oleh diet (meningkat oleh
asupan kaya karbohidrat) dan hormon (terutama Growth Hormone (GH), insulin dan
leptin). Hormon utama yang terlibat dalam penyimpanan lemak adalah insulin (akan
menstimulasi lipogenesis), GH, leptin (yang akan mengurangi lipogenesis). Hormon lain
yang terlibat dalam regulasi lemak tubuh termasuk hormon seks seperti testosteron (Molina,
2006).
Kelebihan lemak tubuh dihubungkan dengan meningkatnya morbiditas dan
mortalitas. Lebih banyak kelainan muncul dengan frekuensi yang lebih besar pada
penderita obesitas. Yang paling penting dan umum ditemui adalah hipertensi, diabetes
mellitus tipe 2, hiperlipidemia, penyakit jantung koroner, penyakit sendi degeneratif, dan
disabilitas psikososial. Sebanyak 60% individu dengan obesitas di Amerika Serikat juga
terkena sindrom metabolik. Sindrom metabolik ini ditandai dengan adanya tiga atau lebih
faktor berikut : meningkatnya lingkar perut, tekanan darah, trigliserida darah, glukosa darah
puasa, dan rendahnya kadar kolesterol High Density Lipoprotein (HDL). Beberapa jenis
kanker (seperti kolon, rektum, prostat pada pria; uterus, payudara dan ovarium pada
wanita), kelainan tromboemboli, penyakit traktus digestivus (batu empedu, refluks
esofagitis) dan kelainan kulit lebih banyak ditemukan pada penderita obesitas. Risiko
pembedahan dan obstetrik lebih besar. Penderita obesitas juga memiliki risiko yang lebih
besar akan gangguan paru-paru fungsional, abnormalitas endokrin, proteinuria, dan
meningkatnya konsentrasi hemoglobin. Pada dewasa muda dan paruh baya, kematian akibat
15
alasan apapun dan kematian dari penyakit kardiovaskular meningkat dalam proporsi tingkat
obesitas (Thierney et al., 2005). Konsekuensi kesehatan bervariasi dari meningkatnya risiko
kematian sampai ke kondisi kronik yang serius yang mengurangi kualitas hidup (WHO,
2003).
Penurunan berat badan dan menjaga agar berat badan tidak naik kembali dapat
memperbaiki atau bahkan mencegah faktor risiko untuk penyakit kardiovaskular dan
penyakit ko-morbid lain yang berhubungan dengan obesitas. Penurunan berat badan yang
sedang (5-10% dari berat badan awal) dihubungkan dengan perbaikan dalam beberapa
faktor risiko yang telah ditetapkan untuk penyakit kardiovaskular, seperti hipertensi,
dislipidemia, dan berkurangnya insiden diabetes mellitus tipe 2 dan perbaikan dalam
kontrol diabetes. Sebuah meta-analisis dari 25 randomized controlled trials yang
memeriksa tekanan darah menunjukkan bahwa penurunan berat badan sebesar 5,1 kilogram
menghasilkan penurunan tekanan darah sistolik sebesar 4,44 mmHg dan penurunan tekanan
darah diastolik sebesar 3,57 mmHg. Penurunan yang lebih bermakna dari tekanan darah
terlihat jika rata-rata penurunan berat badan lebih besar lagi. Meski demikian pengaruh
baik dari penurunan berat badan terhadap faktor risiko dari penyakit kardiovaskular tidak
akan bertahan kecuali penurunan berat badan dipertahankan. Hal ini menunjukkan betapa
pentingnya untuk mengurangi berat badan atau bahkan mencegah kenaikan berat badan
(Turk et al., 2009).
2.4 Lemak Abdominal pada Obesitas
Jaringan adiposa abdominal adalah organ yang kompleks dan terdiri dari beberapa
kompartemen dan subkompartemen, termasuk lemak subkutan dan lemak intra-abdominal,
yang dapat dibagi menjadi lemak retroperitoneal dan intraperitoneal, yang dapat dibagi lagi
menjadi massa lemak mesenterik dan omental. Lemak intraperitoneal juga dikenal sebagai
jaringan adiposa viseral (visceral adipose tissue) dianggap sebagai penanda risiko
16
metabolik (Klein, 2010). Lemak abdominal terdiri dari lemak subkutan abdomen dan lemak
intraabdomen, yang secara jelas nampak lewat CT Scan dan MRI. Jaringan adiposa
intraabdomen terdiri dari lemak viseral atau intraperitoneal yang terdiri dari lemak omental
dan mesenterik dan massa lemak retroperitoneal yang dibatasi oleh batas dorsal dari intestin
dan bagian ventral dari ginjal (Wajchenberg, 2000).
Dua kompartemen intraabdominal dapat dipisahkan pada MRI menggunakan titik
anatomis, seperti kolon ascendens dan descendens, aorta dan vena cava inferior, suatu
prosedur yang telah divalidasi pada kadaver manusia. Pada kadaver, massa jaringan adiposa
intraperitoneal dan retroperitoneal yang diukur setelah diseksi adalah 61-71% dan 29-33%,
secara berurutan, dari massa jaringan adiposa intraabdominal (Wajchenberg, 2000).
Penelitian-penelitian epidemiologis dan fisiologis menunjukkan hubungan yang
kuat antara kelebihan jaringan adiposa abdomen dengan faktor risiko metabolik untuk
penyakit jantung koroner, termasuk resistensi insulin, toleransi glukosa terganggu, diabetes
mellitus tipe 2, dislipidemia, dan meningkatnya protein inflamasi yang bersirkulasi dalam
darah (Klein, 2010). Penelitian epidemiologis yang ada melaporkan hubungan antara
obesitas yang berat dengan mortalitas akibat meningkatnya penyakit kardiovaskular dan
serebrovaskular serta diabetes mellitus. Pada obesitas tingkat sedang, distribusi regional
nampaknya merupakan indikator yang penting akan perubahan metabolik dan
kardiovaskular, terutama sejak ditemukan korelasi yang tidak konstan antara indeks massa
tubuh dan perubahan-perubahan ini. Obesitas bukanlah kondisi yang homogen, serta
distribusi regional dari jaringan adiposa penting untuk diketahui untuk memahami
hubungan antara obesitas dengan gangguan metabolisme glukosa dan lipid (Wajchenberg,
2000).
Penyebab fundamental obesitas adalah ketidakseimbangan jangka panjang akan masukan
dan pengeluaran energi yang akan meningkatkan massa tubuh termasuk akumulasi lemak
subkutan dan viseral. Walaupun obesitas secara umum adalah faktor risiko untuk berbagai
penyakit, beberapa penelitian pada manusia telah menunjukkan bahwa penumpukan lemak
17
viseral, yakni lemak yang berlokasi pada viseral, sebagai yang paling berpengaruh pada berbagai
kondisi kesehatan termasuk penyakit serebrovaskular, resistensi insulin dan diabetes mellitus tipe
2 (Huffman and Barzilai, 2009). Lokasi regional dari lemak tubuh pada obesitas adalah perkiraan
yang lebih baik akan risiko kesehatan jika dibandingkan dengan total lemak tubuh (Wajchenberg,
2000).
Walaupun hubungan sebab-akibat belum dapat ditetapkan secara pasti, bukti-bukti
yang ada mengindikasikan bahwa lemak viseral merupakan salah satu faktor risiko yang
penting akan berbagai tampilan sindrom metabolik: intoleransi glukosa, hipertensi,
dislipidemia, resistensi insulin. Namun, adanya heterogenitas metabolik pada penderita
obesitas dengan jaringan adiposa viseral yang hampir serupa, diduga kerentanan genetik
juga berperan dalam memodulasi risiko yang diasosiasikan dengan kelebihan jaringan
adiposa viseral. Dalam hal ini obesitas viseral sebaiknya dianggap sebagai faktor yang
memperparah kerentanan genetik individual terhadap komponen sindrom metabolik.
(Wajchenberg, 2000).
Mekanisme yang menghubungkan lemak viseral dengan sindom metabolik belum
sepenuhnya dimengerti, namun diduga berhubungan dengan lokasi anatomis yang menghasilkan
efek portal dari pelepasan asam lemak bebas dan gliserol. Bukti-bukti yang didapat dari penelitian
yang baru menunjukkan jaringan adiposa merupakan organ endokrin yang aktif, yang mampu
mensekresi berbagai macam sitokin, yang sering disebut dengan adiponektin, yang dapat
menyebabkan inflamasi dan menggangu aksi insulin. Lebih jauh lagi, penelitian dari beberapa
kelompok menunjukkan lemak viseral memiliki karakteristik pro-inflamasi yang lebih besar
dibandingkan lemak subkutan (Huffman and Barzilai, 2009).
Adanya peningkatan pada jaringan adiposa viseral, asam lemak bebas secara mudah
mengarah ke hati dan meningkatkan produksi glukosa, trigliserida dan lipoprotein VLDL
very low density lipoprotein (VLDL), serta menurunkan kadar kolesterol HDL
(Wajchenberg, 2000; Levy, 2010). Sel lemak juga mengalami perubahan metabolik yang
dapat menjelaskan efek sistemiknya. Sebagai contoh, glucose transporters secara signifikan
18
berkurang pada adiposit omental manusia, yang dapat menerangkan resistensi insulin.
Lebih jauh lagi adipokin lemak viseral dari pasien-pasien obese yang sangat berat diukur
sewaktu menjalani pembedahan bariatrik, yakni pembedahan yang dilakukan pada
penderita obesitas untuk mengurangi berat badan dengan jalan mengurangi ukuran lambung
dengan implantasi alat kesehatan (gastric banding) atau lewat pemotongan sebagian dari
lambung atau penjahitan usus halus ke bagian dari lambung (gastric bypass surgery).
Konsentrasi Interleukin-6 dari Vena portal meningkat secara substansial dan berhubungan
erat dengan inflamasi sistemik, yang diindikasikan dengan tingginya kadar C-Reactive
Protein (CRP). Tidak mengherankan jika infiltrasi makrofag yang merangsang molekul dan
jalur inflamasi meningkat pada lemak omental jika dibandingkan dengan lemak subkutan
pada individu obesitas (Levy,2010).
Distribusi lemak tubuh berbeda antara pria dan wanita, dimana hal ini merupakan salah
satu tanda khas maskulinitas dan femininitas. Jika dibandingkan dengan pria, maka wanita
premenopause memiliki lebih banyak lemak subkutan, dan lemak tubuhnya cenderung
diakumulasi di payudara, pinggul dan paha atas (Pangkahila, 2007). Regio khas untuk penyimpanan
lemak wanita ini umumnya disebut sebagai gynoid (Wajchenberg, 2000). Pada pria, lemak secara
dominan berakumulasi di depot subkutan abdomen dan viseral (Pangkahila, 2007), dengan lebih
sedikit akumulasi lemak pada daerah pinggul dan paha atas jika dibandingkan dengan wanita,
dimana distribusi lemak ini disebut sebagai sentral atau android (Wajchenberg, 2000).
Pria secara umum memiliki area lemak viseral yang lebih besar dibandingkan wanita,
dimana hal ini diduga berhubungan dengan perbedaan faktor risiko jenis kelamin pada penyakit
kardiovaskular. Oleh karena distribusi lemak tubuh merupakan salah satu karakteristik seks
sekunder, dapat dilihat bahwa hormon seks merupakan salah satu faktor
penting dalam
menentukan deposisi lemak regional. Bukti-bukti menunjukkan hormon seks wanita berhubungan
dengan akumulasi lemak subkutan di regio bawah tubuh. Penyimpanan lemak khas wanita ini
penting dalam fungsi reproduksi. Obesitas abdominal pada pria ditemukan berhubungan dengan
19
rendahnya kadar testosteron pada pria dan terapi sulih hormon testosteron menghasilkan
pengurangan lemak abdominal (Wajchenberg, 2000).
Distribusi lemak regional pada manusia secara jelas diatur oleh hormon, walaupun
faktor-faktor lain ikut berperan penting. Tidak hanya hormon steroid seks saja yang
berperan, namun kortikosteroid dari kelenjar adrenal juga memainkan peran yang besar.
Hormon peptida seperti insulin dan GH merupakan faktor yang penting dalam distribusi
jaringan adiposa (Wajchenberg, 2000).
Distribusi lemak gluteo-femoral yang tipikal untuk wanita dibedakan dengan
distribusi lemak abdominal pada pria dengan pengukuran rasio pinggang dan pinggul
dimana terdapat titik cutoff untuk pria dan wanita yang dapat diterima (Levy, 2010).
Kelebihan lemak pada tubuh bagian atas (sentral atau abdominal) yang juga dikenal sebagai
obesitas tipe pria atau android lebih sering dihubungkan dengan meningkatnya mortalitas
dan risiko akan penyakit seperti diabetes, hiperlipidemia, hipertensi, dan aterosklerosis dari
pembuluh darah koroner, serebral dan perifer dibandingkan dengan obesitas tipe gynoid
atau distribusi lemak tipe wanita (tubuh bagian bawah atau area gluteo-femoral)
(Wajchenberg, 2000).
Perbedaan antara pria dan wanita setelah pubertas tidak hanya pada distribusi
lemak, melainkan juga pada metabolisme dan ukuran sel lemak. Sel lemak di bagian glutea
dan femur lebih besar daripada di bagian abdomen. Aktivitas lipase lipoprotein, yaitu enzim
yang bertanggungjawab bagi akumulasi trigliserida di dalam sel lemak, ternyata lebih tinggi
di bagian gluteo-femoral daripada di bagian abdomen (Pangkahila, 2007).
Individu dengan massa lemak viseral yang lebih besar, baik lewat peningkatan berat
badan atau penumpukan lemak pada depot viseral, akan kehilangan lebih banyak lemak
viseral jika disesuaikan dengan hilangnya lemak tubuh, terlepas dari metode intervensi
yang dilakukan (restriksi kalori, terapi farmakologis, atau olahraga) karena adiposit viseral
memiliki tingkat lipolitik yang lebih tinggi pada keadaan tetap (steady state)
(Wajchenberg, 2000).
20
Berkurangnya lemak abdominal akan menjadi sangat bermakna, dikarenakan
kelebihan lemak di bagian abdomen merupakan salah satu faktor risiko dari penyakit
kardiovaskular. Lemak intraabdominal (viseral) memiliki kadar turnover trigliserida yang
tertinggi dan kelebihan adiposit viseral adalah hal yang paling berkaitan dengan gangguan
metabolik terutama resistensi insulin dan hipertrigliseridemia. Lemak subkutan pada bagian
tubuh atas adalah yang berikutnya, sedangkan lemak subkutan pada bagian tubuh bawah
memiliki tingkat turnover trigliserid yang paling rendah, sehingga kelebihan lemak
subkutan pada bagian tubuh bawah adalah yang paling kecil membawa dampak metabolik.
Pada keadaan postabsorbtive, adiposit yang teregang akan melepaskan lebih banyak jumlah
asam lemak ke dalam sirkulasi. Meningkatnya kadar asam lemak bebas yang berada di
sirkulasi akan meningkatkan sintesis hepar dan sekresi VLDL yang kaya akan trigliserida
(Maki et al., 2009). Sehingga dengan demikian perlu dicari suatu metode untuk dapat
mengurangi bahkan mencegah penumpukan lemak abdominal pada umumnya, dan
terutama lemak viseral.
2.5 Hubungan Obesitas, Proses Penuaan dan Usia Harapan Hidup
Terdapatnya lemak tubuh yang berlebihan merupakan ancaman terhadap kualitas
hidup dan usia harapan hidup. Kecenderungan bertambahnya jumlah penduduk yang
obesitas nampaknya akan memperburuk kondisi kesehatan, menurunkan kualitas hidup dan
mengurangi usia harapan hidup dari generasi yang akan datang. Obesitas memiliki
pengaruh yang negatif terhadap proses penuaan dan umur panjang, dimana pada orangorang dengan tingkat obesitas yang parah usia harapan hidupnya berkurang 5 sampai
dengan 20 tahun (Olshansky et al., 2005).
Proses penuaan itu sendiri dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dapat
dikelompokkan menjadi faktor internal dan eksternal. Faktor internal berupa radikal bebas,
menurunnya kadar hormon, terjadinya proses glikosilasi, metilasi, apoptosis, menurunnya
sistem imunitas dan faktor genetik. Faktor eksternal diantaranya adalah gaya hidup yang
21
tidak sehat, diet yang tidak sehat, kebiasaan yang salah, polusi lingkungan, dan stres
(Pangkahila, 2007).
Penelitian pada mencit menunjukkan adanya obesitas meningkatkan formasi radikal
bebas di dalam sel lemak, sehingga terjadi inflamasi dan menjadi cikal bakal terjadinya
resistensi insulin (Ahima, 2009).
Anak-anak yang kelebihan berat badan meningkat risiko kematiannya ketika
dewasa nanti, baik kematian oleh karena penyakit kardiovaskular ataupun oleh penyebab
lainnya, selain itu juga meningkat risikonya akan penyakit kardiovaskular pada pria dan
wanita. Risiko terkena diabetes mellitus pada orang-orang yang lahir di Amerika Serikat
meningkat 30-40%, dimana hal ini dihubungkan dengan epidemi obesitas. Orang dewasa
dengan diabetes mellitus meningkat risikonya untuk terkena serangan jantung sebesar orang
yang telah mengalami serangan jantung sebelumnya, dan perlu diketahui diabetes mellitus
mengurangi usia harapan hidup sebanyak 13 tahun (Olshansky et al., 2005).
Bukti-bukti juga menunjukkan bahwa dengan meningkatnya angka obesitas,
disabilitas juga meningkat dan tingkat kebugaran menurun di Amerika Serikat (Olshansky
et al., 2005). Bila muncul berbagai kemunduran fungsi tubuh, baik karena penyakit atau
proses penuaan yang dibiarkan, maka kualitas hidup akan menurun (Pangkahila, 2007).
Jika tidak segera diatasi, semakin bertambahnya angka kelebihan berat badan dan
obesitas akan meningkatkan risiko terjadinya kondisi kesehatan yang fatal dan non fatal
dengan bertambahnya usia, diantaranya gangguan pernapasan, masalah muskulo-skeletal,
gout, gangguan tidur, infertilitas, penyakut kardiovaskular, kondisi yang dihubungan
dengan resistensi insulin seperti diabetes mellitus tipe 2, beberapa jenis kanker terutama
yang berhubungan dengan hormonal dan kanker usus besar, dan penyakit batu empedu
(Thierney et al., 2005). Prevalensi obesitas yang kian meningkat terutama pada usia yang
lebih muda akan memberikan pengaruh negatif pada kesehatan dan umur panjang di masa
yang akan datang. Obesitas yang terjadi pada usia lebih dini, akan menyebabkan anak-anak
dan dewasa muda membawa risiko akan penyakit-penyakit yang dihubungkan dengan
22
obesitas lebih lama dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Hal ini mengakibatkan
menurunnya kualitas hidup dan usia harapan hidup dari generasi mendatang lebih pendek
daripada yang ada sekarang (Olshansky et al., 2005).
Penurunan usia harapan hidup sebenarnya dapat dihindari. Temuan-temuan baru
pada pengobatan medis untuk penyakit-penyakit termasuk komplikasi dari obesitas terus
dikembangkan. Namun besar harapan agar komunitas kesehatan masyarakat dan para
pembuat kebijakan merespon terhadap bahaya yang dibawa oleh obesitas terhadap kualitas
dan usia harapan hidup (Olshanksy et al., 2005). Intervensi untuk mencegah dan
mengurangi angka obesitas teramat perlu dikembangkan.
Jika tidak, peningkatan usia
harapan hidup yang mulai stabil teramati di era modern ini dapat segera berakhir, dan
generasi muda saat ini hidup kurang sehat, dengan kualitas hidup yang lebih rendah dan
bahkan berusia lebih pendek dibandingkan orang tua mereka (Olshansky, 2005; Stein,
2005).
2.6 Teh Hijau
Bukti-bukti menunjukkan India dan Cina adalah negara-negara pertama yang
menanam teh. Teh yang diseduh dari daun tanaman Camellia sinensis yang dikeringkan,
adalah salah satu minuman yang paling banyak dikonsumsi di seluruh dunia (UMMC,
2010). Teh secara tradisional digunakan sebagai pengobatan berdasarkan pengalaman
dimana aktivitas fisiologis dari komponen-komponen di dalam teh telah digambarkan pada
negara-negara Asia terutama Jepang dan Cina (Nagao et al., 2007). Ratusan juta orang di
dunia meminum teh, dan terdapat penelitian yang melaporkan bahwa teh hijau (Camellia
sinensis) banyak memiliki kegunaan di bidang kesehatan (UMMC, 2010).
Dalam istilah kekerabatan dunia tumbuh-tumbuhan, teh digolongkan kedalam:
Kingdom
: Plantae
Divisio
: Spermatophyta
23
Sub Divisio
: Angiospermae
Class
: Dicotiledoneae
Ordo
: Guttiferales
Famili
: Tehaceae
Genus
: Camelia
Spesies
: Camelia sinensis (Setyaamidjaja, 2000).
Terdapat tiga variasi utama dari teh, yakni teh hijau, teh hitam dan teh oolong,
dimana semua ini didapatkan dari daun-daun tanaman Camellia sinensis tergantung pada
derajat oksidasinya. Perbedaan dari variasi teh tersebut adalah pada pemrosesannya. Proses
pembuatan teh diatur untuk mencegah atau membiarkan polifenol yang terdapat dalam teh
untuk teroksidasi secara alami oleh polyphenol oxidase yang terdapat pada daun teh. Teh
hijau diproses dengan cara menginaktivasi polyphenol oxidase pada daun yang masih segar
dengan cara dipanaskan atau diuapkan, yang akan mencegah oksidasi catechin, yakni
komponen flavonoid terbanyak pada ekstrak teh hijau. Teh oolong dioksidasi parsial atau
sebagian sementara teh hitam sepenuhnya dioksidasi (Velayutham et al., 2008). Semakin
besar tingkat fermentasi daun-daun teh, maka kandungan polifenol-nya akan semakin
sedikit dan kadar kafeinnya akan semakin banyak (UMMC, 2010). Sebagai hasil, teh hijau
yang diproses untuk mencegah fermentasi dan oksidasi, mengandung kadar yang lebih
tinggi akan polifenol yang merupakan antioksidan jika dibandingkan dengan teh hitam
(Shrubsole, 2009), sementara itu teh hitam memiliki kadar kafein 2-3 kali lebih banyak
daripada teh hijau. (UMMC, 2010)
Daun teh yang baru dipetik mengandung air 75 % dari berat daun dan sisanya
berupa padatan dan terdiri dari bahan-bahan organik dan anorganik. Bahan organik yang
penting dalam pengolahan antara lain polifenol, karbohidrat dan turunannya, ikatan
nitrogen, pigmen, enzim dan vitamin. Bahan-bahan kimia dalam daun teh dikelompokkan
menjadi 4 kelompok besar, yaitu:
24
a. Substansi fenol : tanin / katekin, flavanol (querecetin, kaemferol dan myricetin)
b. Substansi bukan fenol : karbohidrat (sukrosa, glukosa, fruktosa), substansi pektin
(pektin dan asam pektat), alkaloid (kafein, teobromin, teofilin), protein, substansi
resin, vitamin (vitamin C, K, A, B1, B2, asam nikotinat dan asam pantotenat ), serta
substansi mineral
c. Substansi aromatis : fraksi karboksilat, fenolat, karbonil, netral bebas karbonil
(sebagian besar terdiri atas alkohol).
d. Enzim : Invertase, amilase, glukosidase, oximetilase, protease, dan peroksidase.
Keempat kelompok tersebut bersama-sama mendukung terjadinya sifat-sifat yang baik
pada teh (Setyamidjaja, 2000).
Tahapan pengolahan teh hijau terdiri dari pelayuan, penggulungan, pengeringan,
sortasi kering, serta pengemasan.
a. Pelayuan
Pelayuan bertujuan untuk menginaktifkan enzim polifenol oksidase dan
menurunkan kandungan air dalam pucuk, agar menjadi lentur dan mudah
digulung. Pelayuan dilaksanakan dengan cara mengalirkan sejumlah pucuk
secara berkesinambungan kedalam alat pelayuan Rotary Panner dalam keadaan
panas dengan suhu pelayuan 80-100oC. Selama proses pelayuan berlangsung
dalam rotary panner, terjadi proses penguapan air baik yang terdapat di
permukaan maupun yang terdapat didalam daun. Uap air yang terjadi harus
secepatnya dikeluarkan dari ruang roll rotary panner, untuk mencegah
terjadinya hidrolisa klorofil oleh uap asam-asam organik.
b. Penggulungan
Penggulungan bertujuan membentuk mutu secara fisik, karena selama
penggulungan, pucuk teh akan dibentuk menjadi gulungan-gulungan kecil dan
terjadi pemotongan. Proses ini harus segera dilakukan setelah pucuk layu keluar
25
mesin rotary panner. Penggulungan dilakukan satu kali agar tidak terjadi
penghancuran daun teh terlalu banyak, yang dapat meningkatkan jumlah bubuk
dengan mutu yang kurang menguntungkan. Lama penggulungan sebaiknya tidak
lebih dari 30 menit dihitung sejak pucuk layu masuk mesin penggulung.
c. Pengeringan
Pengeringan pada teh hijau bertujuan menurunkan kadar air dari pucuk yang
digulung hingga 3-4%, memekatkan cairan sel yang menempel di permukaan
daun sampai berbentuk seperti perekat, dan memperbaiki bentuk gulungan teh
jadi. Untuk mencapai tujuan tersebut, dilaksanakan dua tahap pengeringan,
masing-masing menggunakan mesin yang berbeda.
Mesin pengering pertama disebut Endless Chain Pressure (ECP) Dryer. Pada
mesin pengering ini, suhu diatur supaya suhu masuk 130-135oC dan suhu keluar
50-55oC dengan lama pengeringan 25 menit. Pada pengeringan pertama ini,
jumlah air yang diuapkan mencapai 50% dari bobot pucuk, sehingga hasilnya
baru setengah kering dengan tingkat kekeringan 30-35%.
Pada pengeringan tahap kedua digunakan mesin pengering Rotary Dryer tipe
Repeat Rool. Maksud pengeringan kedua adalah untuk menurunkan kadar air
sampai 3-4% serta memperbaiki bentuk gulung teh kering. Pengeringan dalam
rotary dryer menggunakan suhu tidak lebih dari 70oC dengan lama pengeringan
80-90 menit, dan putaran rotary dryer 17-19 rpm. Untuk memperoleh hasil
pengeringan yang baik selain ditentukan oleh suhu dan putaran mesin juga
ditentukan oleh kapasitas mesin pengering. Kapasitas per batch mesin pengering
ditentukan oleh diameter mesin itu. Rotary dryer yang rollnya berdiameter 70
cm, mempunyai kapasitas pengeringan 40-50 kg teh kering, dan untuk roll yang
berdiameter 100 cm kapasitasnya 60-70 kg teh kering.
d. Sortasi Kering
26
Sortasi kering bertujuan memisahkan, memurnikan dan membentuk atau
mengelompokkan jenis mutu teh hijau dengan bentuk ukuran yang spesifik
sesuai dengan standar teh hijau. Hal ini terjadi oleh karena teh yang berasal dari
pengeringan masih bercampur, baik bentuk maupun ukuran. Pada prinsipnya,
sortasi kering teh hijau adalah :
1.
memisahkan keringan teh hijau yang banyak mengandung jenis mutu
ekspor
2.
memisahkan partikel-partikel yang mempunyai bentuk dan ukuran
yang relatif sama kedalam beberapa kelompok, kemudian memisahkannya
dari tulang-tulang daunnya
3.
melakukan pemotongan dengan tea cutter bagian-bagian teh yang
ukurannya masih lebih besar dari jenis mutu yang dikehendaki
4.
setelah hasil sortasi teh hijau terkumpul menjadi beberapa jenis
dilakukan polishing dengan menggunakan mesin polisher
5.
hasil sortasi ini dikelompokkan kedalam jenis-jenis mutu teh hijau
sesuai dengan mutu yang ada.
e. Penyimpanan dan Pengemasan
Pengemasan teh hijau dilakukan dengan bahan pembungkus kantong kertas
yang didalamnya dilapisi aluminium foil. Untuk memasarkannya teh hijau biasa
dikemas dalam kantong kertas atau kantong plastik dengan ukuran kemasan
bervariasi (Setyamidjaja, 2000).
27
Senyawa
Flavonol (Catechin, termasuk EGCG)
Flavonol dan flavonol hidroksida
Asam polifenol dan depsida
Polifenol lain
Kafein
Theobromin dan theofilin
Asam amino
Asam organik
Monosakarida
Polisakarida
Protein
Selulosa
Lignin
Lemak
Klorofil dan pigmen lain
Abu
Volatil
% Berat
25
3
5
3
3
0,2
4
0,5
4
14
15
7
6
2
0,5
5
<0,1
Tabel 2.1. Komposisi kimia bubuk teh kering
28
Sumber : Setyamidjaja, 2000
Fungsi kesehatan dari teh hijau dihubungkan dengan kandungan polifenol-nya,
suatu kimia dengan fungsi antioksidan. Teh hijau mengandung catechin, sebagai zat
aktifnya, yang merupakan polifenol dengan berat molekul rendah yang terdiri dari
monomer flavan-3-ol; catechin terutama terdiri dari EGCG, EGC, ECG, EC. Daun teh hijau
mengandung polifenol sampai dengan 30% berat kering, dimana catechin dari teh hijau
merupakan 80-90% flavonoid total, dan EGCG adalah catechin yang terbanyak (48-55%),
diikuti EGC (9-12%), ECG (9-12%), dan EC (5-7%) (Velayutham et al., 2008).
Kandungan catechin dari ekstrak teh hijau dipengaruhi oleh beberapa faktor dalam
metode persiapan ekstrak seperti kondisi pengeringan dan derajat fermentasi dari daun teh.
Kadar catechin juga bervariasi pada daun teh itu sendiri yang diakibatkan perbedaanperbedaan seperti perbedaan varietas, asal dan kondisi tumbuhnya tanaman (Velayutham et
al., 2008; Chacko et al., 2010).
Daun teh hijau mengandung 10-20% catechin, terutama EGCG (Nagao et al., 2007).
EGCG adalah komponen polifenol pada teh hijau yang paling banyak dipelajari dan
merupakan zat yang paling aktif. Polifenol lainnya pada teh hjau termasuk flavanol dan
glikosida serta depsides seperti chlorogenic acid, quinic acid, karotenoid, trigalloyglucose,
lignin, protein, klorofil, mineral (aluminium atau mangan tergantung kandungan mineral
dalam tanah) (Velayutham et al., 2008). Teh hijau juga mengandung alkaloid termasuk
kafein, teobromin dan teofilin. Alkaloid ini memberikan efek stimulan dari teh hijau. Ltheanine, sebuah asam amino yang ditemukan pada teh hijau, telah dilaporkan memberikan
efek relaksasi pada sistem saraf (UMMC, 2010).
29
Gambar 2.1. Struktur kimia dari tulang punggung catechin
Sumber : Velayutham et al., 2008
Seperti terlihat pada gambar 2.1, catechin merupakan komponen polifenolik dengan
kerangka diphenyl propane. Struktur kimianya terdiri dari cincin polifenolik (A) yang
terkondensasi dengan six-membered oxygen yang mengandung cincin heterosiklik (C) yang
membawa cincin polifenolik lainnya (B) pada posisi 2. Catechin dicirikan dengan banyak
kelompok hidroksil pada cincin A dan B. EC adalah sebuah epimer yang mengandung dua
kelompok hidroksil pada posisi 3’ dan 4’ dari cincin B dan sebuah kelompok hidroksil pada
posisi 3 dari cincin C (Gambar 2). Satu-satunya perbedaan struktural antara EGC dan EC
adalah EGC memiliki tambahan kelompok hidroksil pada posisi 5‘ dari cincin B. ECG dan
EGCG adalah derivat ester dari EC dan EGC secara respektif, melalui esterifikasi pada
posisi 3 hidroksil dari cincin C dengan gallate moeity (Velayutham et al., 2008).
Berbagai
penelitian
mengenai
fungsi
antioksidan,
antikarsinogenik,
antihiperkolesterol dan anti kanker serta pengaruh pencegahan terhadap penyakit jantung
iskemik dari catechin telah menarik perhatian yang besar akan ekstrak teh hijau (Klaus et
al., 2005; Nagao et al., 2007). Konsumsi teh hijau dapat bermanfaat bagi kesehatan karena
diantaranya telah ditunjukkan berkurangnya insidens kanker pada berbagai model
penelitian (Kao et al., 2000).
30
Gambar 2.2. Struktur kimia dari catechin
Sumber : Velayutham et al., 2008
Catechin juga dilaporkan dapat memperbaiki lipid darah, kolesterol serum,
merelaksasi otot polos vaskular, meningkatkan pengeluaran energi dan oksidasi lemak,
meningkatkan beta oksidasi lemak di hati, mengurangi lemak tubuh dan mengurangi
tekanan darah sistolik. Sehingga diduga catechin dapat bermanfaat sebagai pengobatan
untuk gangguan kesehatan yang disebabkan pola hidup yang sedentari (Kao et al., 2000;
Klaus et al., 2005; Nagao et al., 2009).
2.7 Teh hijau sebagai Anti Obesitas
Diperlukan metode yang mudah dan aman untuk menurunkan berat badan (Belza et
al., 2009). Secara mendasar terdapat 2 cara untuk mencegah atau mengobati obesitas, yakni
mengurangi masukan energi atau meningkatkan pengeluaran energi (Belza et al., 2009).
31
Sistem saraf simpatis terlibat dalam regulasi lipolisis (Diepvens et al., 2007), di antaranya
termogenesis dan oksidasi lemak berada di bawah pengaruh sistem saraf simpatis (Belza et
al., 2009). Dengan demikian pendekatan yang menyerupai atau mempengaruhi sistem saraf
simpatis dan neurotransmiter norepinefrin menawarkan suatu harapan untuk mengurangi
atau bahkan mencegah terjadinya obesitas (Belza et al., 2009).
Sejumlah penelitian telah menunjukkan pengaruh bahan-bahan makanan terhadap
aktivitas sistem saraf simpatis dengan tujuan mencegah keseimbangan energi positif pada
manusia. Aktivasi sistem saraf simpatis akan menurunkan rasa lapar, memperlama rasa
kenyang dan menstimulasi pengeluaran energi, diantaranya dengan meningkatkan oksidasi
lemak (Belza et al., 2009).
Meskipun belum dapat diketahui secara persis mekanisme yang tepatnya, dari
berbagai hasil penelitian didapatkan beberapa mekanisme yang diduga merupakan cara
kerja ekstrak teh hijau dalam menurunkan berat badan dan kadar lemak tubuh :
(1) Menghambat enzim catechol O-methyl-transferase
Teh hijau mengandung kadar yang tinggi dari komponen polifenol, seperti EC,
ECG, EGC, dan yang terbanyak serta diduga merupakan yang paling aktif secara
farmakologis, EGCG (Diepvens et al., 2007). Catechin pada teh hijau telah ditunjukkan
secara invitro dapat menghambat enzim catechol O-methyl-transferase (COMT), enzim
yang mendegradasi norepinefrin (Belza et al., 2009). Dengan terhambatnya enzim
COMT oleh catechin, terjadi reduksi degradasi norepinefrin yang akan menghasilkan
penambahan waktu kerja norepinefrin pada sistem saraf simpatis. Aktivasi sistem saraf
simpatis ini akan menstimulasi pengeluaran energi di antaranya dengan meningkatkan
termogenesis dan oksidasi lemak (Diepvens et al., 2007; Belza et al., 2009).
Pemeriksaan katekolamin urin pada penelitian pada manusia menunjukkan ekskresi 24
jam norepinefrin yang lebih tinggi pada subjek-subjek yang diberikan ekstrak teh hijau.
Pengamatan ini konsisten dengan terhambatnya COMT oleh teh hijau, sehingga terjadi reduksi
degradasi norepinefrin, bertambahnya kadar norepinefrin ke dalam sirkulasi, dan
32
meningkatnya ekskresi norepinefrin di urin. Efek-efek ini menghasilkan bertambahnya waktu
kerja norepinefrin pada celah sinaps simpatik, serta dapat menjelaskan pengaruh ekstrak teh
hijau pada termogenesis dan oksidasi lemak (Belza et al., 2009).
Catechin dari teh ditunjukkan dapat meningkatkan oksidasi lemak, terutama
dalam periode postprandial, Peningkatan oksidasi lemak dapat disebabkan oleh
bertambahnya oksidasi lemak hepar yang diaktivasi secara simpatik. Sistem saraf
simpatis diduga berperan dalam mobilisasi lipid dari depot adiposa. Sehingga, ada
kemungkinan bahwa catechin, dengan meningkatkan pengaruh simpatik, dapat
memiliki pengaruh pada penyimpanan lemak di berbagai depot lemak. Hasil dari
beberapa penelitian pada hewan menunjukkan bahwa akumulasi lemak hepar dan
mesenterik berkurang dengan pemberian catechin (Maki et al., 2009).
(2) Menghambat enzim fosfodiesterase
Penelitian Dullo et al menunjukkan ekstrak teh hijau meningkatkan pengeluaran
energi dan oksidasi lemak dalam jangka pendek (Diepvens et al., 2007).
Signal
intraseluler, menghasilkan lipolisis yang meningkat, produksi panas di otot skeletal,
yang tergantung pada produksi cyclic Adenosine Monophosphate (cAMP). Respon
cAMP singkat saja, karena cAMP secara cepat didegradasi oleh fosfodiesterase. Signal
intraseluler dapat dipertahankan lebih lama dengan menghambat fosfodiesterase dengan
metilxantin, contohnya kafein (Belza et al., 2009).
Teh hijau selain mengandung catechin, juga mengandung kafein, yang
menghambat fosfodiesterase, dimana akan memperlama kerja cAMP di dalam sel,
menghasilkan peningkatan dan efek yang lebih lama dari norepinefrin pada
termogenesis (Belza et al., 2009). Fakta bahwa ekstrak teh hijau menstimulasi
termogenesis tidak dapat dihubungkan dengan kandungan kafein pada ekstrak teh hijau
oleh karena efek termogenesis dari teh hijau lebih besar dibandingkan kadar equivalen
dari kafein. Dengan demikian teh hijau yang mengandung catechin dan kafein bekerja
33
pada jalur modulasi yang berbeda yang saling sinergis menghasilkan efek antiobesitas
(Diepvens et al., 2007).
(3) Aktivasi termogenesis brown adipose tissue
Telah ditunjukkan secara in vitro dan in vivo bahwa ekstrak teh hijau yang
diperkaya dengan catechin meningkatkan termogenesis yang dimediasi oleh persarafan
simpatis pada brown adipose tissue (Klaus et al., 2005).
Ekstrak teh hijau ditemukan dapat meningkatkan pengeluaran energi dengan
cara mengaktivasi termogenesis brown adipose tissue. Pada mencit yang diberi makan
diet tinggi lemak, catechin dari teh menghasilkan efek antiobesitas dan menstimulasi
katabolisme lemak pada hati (Klaus et al., 2005).
(4) Menurunkan absorbsi energi
Penyelidikan aksi antiobesitas dari EGCG telah difokuskan pada fakta bahwa
EGCG menurunkan absorbsi energi. Klaus et al tahun 2005 melaporkan bahwa
kandungan energi pada feces meningkat secara signifikan dengan suplementasi EGCG,
dan jika dosis ditingkatkan akan didapatkan kandungan energi pada feces juga
mengalami peningkatan. Beberapa penelitian lainnya melaporkan bahwa teh hijau atau
EGCG menghambat absorbsi intestinal lipid dari diet dengan jalan mengganggu
emulsifikasi dan solubilisasi miselar dari lipid, yang merupakan langkah penting dalam
absorbsi intestinal akan lemak dari diet, kolesterol dan lipid lainnya (Lee et al., 2009).
(5) Aktivasi Adenosine monophosphate-activated protein kinase
Selain bekerja dengan jalan menghambat enzim COMT, EGCG dihubungkan
dengan kemampuannya memodulasi berbagai jalur signal, terutama yang mengatur
proliferasi dan hidup sel. Namun, target utama dari fungsi ini masih belum dapat
ditentukan. EGCG dinyatakan dalam beberapa jurnal dapat menghambat proliferasi
adiposit dan mengurangi viabilitas adiposit lewat aktivasi Adenosine monophosphateactivated protein kinase (AMPK). Hasil dari beberapa penelitian menyatakan AMPK
dapat merupakan target utama dari EGCG dalam hal fungsi anti obesitasnya. Secara
34
umum, AMPK diaktivasi oleh berbagai rangsangan termasuk olahraga, heat shock, dan
Reactive Oxygen Species (ROS) (Moon et al., 2007).
AMPK adalah suatu protein kinase yang memiliki homologi sekuen asam amino
dengan sukrosa ragi yang tidak berfermentasi. AMPK diketahui memainkan peran
penting dalam homesostasis energi dengan mengatur sejumlah respon adaptasi pada
keadaan metabolik yang menghabiskan adenosine triphosphate (ATP) seperti iskemia
atau reperfusi, hipoksia, heat shock, stres oksidatif dan olahraga. Kaskade dari AMPK
ini diduga sebagai target penting dalam penanganan obesitas (Moon et al., 2007).
Kaskade AMPK disebutkan bereaksi terhadap kadar intrasel dari adenosine
monophosphate (AMP) atau rasio AMP:ATP dan teramat sensitif terhadap stres oksidatif.
Sebagai tambahan, ROS diduga merupakan stimulator yang kuat untuk aktivasi AMPK. Dimana
aktivasi AMPK ini penting dalam penghambatan adipogenesis oleh EGCG (Moon et al., 2007).
Berdasarkan pengaruh in vivo dari EGCG pada penurunan berat badan, lemak
tubuh, lipid serum, termogenesis, oksidasi lemak dan juga pengaruh in vitro dari EGCG
pada sel lemak, serta bukti yang menunjukkan EGCG berperan dalam aktivasi AMPK yang
dapat menghambat adipogenesis, maka konsumsi teh hijau dalam jangka panjang dapat
menurunkan insidens obesitas dan komponen dari teh hijau seperti EGCG dapat berguna
untuk mengobati obesitas (Kao et al., 2000).
2.8 Penelitian Ekstrak Teh Hijau Untuk Pengaturan Berat Badan
Penggunaan ekstrak teh hijau untuk pengaturan berat badan didukung oleh berbagai
penelitian pada mencit dan tikus yang menunjukkan peningkatan berat badan yang lebih
sedikit jika ekstrak teh ditambahkan pada diet tinggi lemak (Fallon et al., 2008).
Pada tahun 1999, Dulloo et al menemukan bahwa pemberian ekstrak teh hijau
secara bermakna meningkatkan pengeluaran energi dan oksidasi lemak pada sekelompok
pria dewasa muda. Sejak saat itu, beberapa uji klinis melaporkan hasil bahwa sediaan teh
35
meningkatkan pengeluaran energi, oksidasi lemak, penurunan berat badan, massa lemak,
dan rumatan berat badan setelah penurunan berat badan. Beberapa penelitian pada mencit
dan tikus menunjukkan ekstrak teh hijau menurunkan kenaikan berat badan dan lemak
tubuh. Pada 2005, dilaporkan bahwa terapi dengan TEAVIGO, suatu ekstrak teh hijau yang
mengandung 94% EGCG and 0.1% kafein, secara bermakna menurunkan berat badan
dan lemak tubuh pada berbagai turunan mencit yang diberi diet tinggi lemak (Bose et al.,
2008).
Penelitian pada tikus menunjukkan catechin pada teh menghasilkan peningkatan
yang akut pada oksidasi lemak dan mengurangi peningkatan berat badan yang disebabkan
oleh diet tinggi lemak (Maki et al., 2009).
Juga terdapat penelitian pada tikus Wistar jantan
yang menunjukkan bahwa
konsumsi teh hijau dalam waktu 6 bulan secara bermakna mengurangi peningkatan berat
badan jika dibandingkan dengan kontrol (Monteiro et al., 2008).
Pada suatu penelitian yang dilakukan pada mencit, mencit diberi diet tinggi lemak
(60% energi dalam bentuk lemak), suplementasi dengan EGCG dalam diet (3,2g/kg diet)
selama 16 minggu mengurangi kenaikan berat badan, persentase lemak tubuh dan berat
lemak viseral jika dibandingkan dengan mencit yang tidak diberikan ECGC pada dietnya.
Penurunan berat badan dihubungkan dengan meningkatnya lipid fekal pada kelompok yang
diberi diet tinggi lemak. Analisis histologis dari sampel hepar menunjukkan penurunan
akumulasi lemak pada hepatosit mencit yang diberikan EGCG jika dibandingkan dengan
mencit yang hanya diberikan diet tinggi lemak dan tidak diberikan EGCG (Bose et al.,
2008).
Mencit yang diberikan diet yang disuplementasikan dengan 0,2-0,5% EGCG selama
8 minggu secara signifikan berkurang berat badannya 14 atau 20% secara respektif, jika
dibandingkan dengan kelompok kontrol. EGCG dalam diet dapat mengurangi kenaikan
berat badan secara signifikan setelah intervensi 5 minggu jika dibandingkan kelompok yang
menerima diet tinggi lemak saja. Dalam periode ini tidak ada perbedaan masukan energi
36
untuk semua kelompok. Untuk memeriksa efek EGCG pada akumulasi lemak adiposa,
distribusi lemak dari 4 bantalan lemak individual diperiksa. Dibandingkan dengan
kelompok kontrol, suplementasi 0,5% EGCG secara signifikan mengurangi berat dari depot
adipose epididimal (berkurang 23%), subkutan (berkurang 65%), viseral (berkurang 45,5%)
dan retroperitoneal (34,8%) (Klaus et al., 2005).
Obesitas yang diinduksi pada mencit dengan diet tinggi lemak selama 4 minggu,
meningkatkan lemak tubuh sebanyak 200%. Namun pada kelompok perlakuan yang selain
mendapatkan diet tinggi lemak juga mendapatkan EGCG 0,5% dan 1% selama 4 minggu
pada dietnya, terbukti kadar lemak tubuhnya berkurang (Klaus et al., 2005).
Pemberian EGCG jangka pendek (3,2 g/kg selama 4 minggu) pada mencit berusia 3
bulan yang obese oleh karena diet tinggi lemak (60% energi dalam bentuk lemak)
mengurangi berat lemak mesenterik dan glukosa darah jika dibandingkan kelompok kontrol
yang hanya mendapatkan diet tinggi lemak saja (Bose et al., 2008).
Pemberian EGCG baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang memperbaiki
ke keadaan semula kelainan/patologi yang timbul oleh karena induksi lemak tinggi dan
mengurangi pembentukan obesitas serta gejala-gejala yang dihubungkan dengan sindrom
metabolik, dan perlemakan hati (Bose et al., 2008).
Injeksi intraperitoneal dari EGCG (>98% murni), menyebabkan turunnya berat
badan secara akut pada tikus Sprague-Dawley jantan dan betina dalam 2-7 hari perlakuan.
EGCG juga secara signifikan mengurangi atau mencegah kenaikan berat badan pada tikus
Zucker jantan dan betina yang kurus dan obese. Dosis EGCG yang digunakan pada
awalnya 30-50mg/kg berat badan, namun setelah 1 minggu dibutuhkan dosis EGCG yang
lebih tinggi (sekitar 100mg/kg berat badan) untuk mengurangi atau mencegah kenaikan
berat badan. Turunnya berat badan ternyata reversibel, ketika pemberian EGCG dihentikan
maka binatang-binatang tersebut naik lagi berat badannya. Tikus Zucker yang diinjeksikan
EGCG 70-90 mg/kg berat badan/hari mengalami penurunan berat badan 10-13% dari berat
awalnya dan 25% dari tikus-tikus kontrol setelah 8 hari perlakuan. Turunnya berat badan
37
pada tikus-tikus yang diberikan EGCG dapat terjadi oleh karena berkurangnya masukan
makanan. Tikus Sprague-Dawley yang diberikan EGCG secara oral, mengkonsumsi
makanan 15% lebih sedikit dibandingkan kontrol dan mengalami penurunan 5% dari berat
badan awal. Tikus Sprague-Dawley dan Zucker yang diberikan EGCG lewat injeksi
peritoneal mengkonsumsi makanan 50-60% lebih sedikit dibandingkan kontrol (Kao et al.,
2000).
Data dari berbagai penelitian pada manusia terbatas, namun hasil-hasil yang ada
menunjukkan bahwa konsumsi catechin dari teh (375-612 mg /hari dari teh oolong, teh
hijau atau ekstrak teh hijau) dengan kafein sebesar 150-270 mg/hari dapat meningkatkan
pengeluaran energi 24 jam (Maki et al., 2009).
Catechin pada teh memiliki pengaruh pada komposisi tubuh manusia. Pada suatu
penelitian yang dilakukan pada pria dengan kelebihan berat badan, konsumsi catechin teh
dengan dosis 483 mg/hari dibandingkan dengan dosis lebih rendah (118,5 mg/hari)
dihubungkan dengan penurunan yang bermakna pada berat badan, lemak tubuh dan area
lemak viseral (Maki et al., 2009).
Pada penelitian yang dilakukan Maki et al pada tahun 2009 pada pria dan wanita
dengan kelebihan berat badan dan obese, ditunjukkan bahwa konsumsi minuman yang
mengandung catechin dari teh hijau (625 mg catechin / hari, yang mengandung 214 mg
EGCG) dapat meningkatkan berkurangnya lemak abdominal (yang diukur lewat Dual
energy X-ray absorptiometry (DXA) dan CT scan abdomen) yang digabungkan dengan
olahraga serta memperbaiki kadar asam lemak bebas dan trigliserida (Maki et al., 2009).
Sebanyak 270 pria dan wanita Jepang berusia 25-55 tahun yang termasuk obesitas
tipe viseral dan memiliki pola hidup sedentari diberikan perlakuan selama 12 minggu
dengan minuman yang mengandung tinggi catechin, yakni
600 mg catechin/340 mL dan
70 mg kafein/340 mL, dibandingkan dengan kelompok kontrol yang mendapatkan dosis
100 mg of catechins/340 mL dan 70 mg of caffeine/340 mL. Pengaruh catechin dengan
38
dosis tinggi pada lemak tubuh hendak diperiksa, tanpa mengubah pola hidup subjek
perlakuan. Konsumsi ekstrak teh hijau dengan kadar catechin tinggi selama 12 minggu
menghasilkan berkurangnya secara signifikan berat badan, IMT, rasio lemak tubuh (diukur
dengan bioelectrical impedance analysis), massa lemak tubuh, lingkar pinggang, lingkar
pinggul, area lemak total (Total Fat Area / TFA), area lemak viseral (Visceral Fat Area /
VFA) dan area lemak subkutan Subcutaneous Fat Area / SFA) (TFA, VFA dan SFA diukur
dengan CT Scan) (Nagao, 2007).
Selain penelitian yang dilakukan di luar negri, juga terdapat penelitian mengenai
konsumsi ekstrak teh hijau yang dilakukan di Indonesia. Dilaporkan konsumsi ekstrak teh
hijau 690 mg/hari disertai pola makan seimbang dan olahraga pada wanita obesitas selama
8 minggu terbukti menurunkan berat badan, lingkar perut dan prosentase lemak tubuh
(Adriani, 2010).
Penelitian yang telah dilakukan memberikan hasil bahwa konsumsi catechin dari teh
untuk jangka waktu yang lama bermanfaat mengurangi obesitas yang diakibatkan diet
tinggi lemak yakni dengan cara memodulasi metabolisme lemak. Dengan demikian teh
hijau dapat mengurangi risiko timbulnya penyakit yang dihubungkan dengan kelebihan
lemak di tubuh, seperti diabetes dan penyakit jantung koroner (Crespy dan Williamson,
2004).
2.9 Dosis Penggunaan Ekstrak Teh Hijau
Ekstrak teh hijau yang terkonsentrasi dapat dijumpai di pasaran sebagai suplemen
untuk penurunan berat badan. Ekstrak teh hijau ini diformulasikan untuk mendapatkan
konsentrasi EGCG yang lebih tinggi (Sarma et al., 2008).
Minuman teh yang umum, yang disiapkan dari 1 gram daun-daun teh yang diseduh
dengan 100 mL air mendidih selama 3 menit mengandung 250-350 mg berat kering yang
terdiri dari 30-42% catechin dan 3-6% kafein (Velayutham et al., 2008). Secangkir teh hijau
39
mengandung 80-106 mg polifenol. Konsumsi 1-3 cangkir teh per hari adalah takaran yang
umum di Amerika Serikat, namun di Jepang, konsumsi sebanyak 9 cangkir teh termasuk
wajar, hal ini menurut penelitian epidemiologis (Sarma et al., 2008).
Ekstrak teh hijau distandardisasi untuk mencapai kadar polifenol yang bervariasi
dari 25%-97%. Sebagai contoh, sebuah ekstrak yang distandardisasi menjadi 25% catechin
(Exolise®, satu kapsul tiga kali sehari) menyediakan 375 mg catechin per hari, dimana 270
mg-nya adalah EGCG. Ini secara kasar sebanding dengan tiga cangkir teh. Produk lain
(Tegreen 97®) distandardisasi mengandung 97% polifenol. Dosis yang disarankan
mengandung hampir 600 mg polifenol per hari (Sarma et al., 2008). Pendapat lain
mengatakan dosis ekstrak teh hijau yang disarankan untuk dikonsumsi per harinya adalah
100-800 mg atau sebanding dengan 2-3 gelas teh hijau per harinya (Kluwer, 2009; UMCC,
2010).
Beberapa studi klinis menyediakan informasi mengenai farmakokinetik dari
konstituen teh hijau. Sebuah uji klinis selama 8 minggu pada 49 pasien kanker
menunjukkan bahwa dosis maksimal yang dapat ditoleransi (maximum tolerated dose) dari
ekstrak teh hijau adalah 4,2 g/m² satu kali sehari atau 1,0 g/m² tiga kali sehari. Toksisitas
yang dapat diamati bervariasi dari ringan sampai berat, tergantung dari dosis, dan termasuk
di antaranya keluhan gastrointestinal (perut kembung, flatulen dan nausea), neurologis
(insomnia, sakit kepala, nyeri, perestesi, tremor) dan kardiovaskular (palpitasi). Waktu
untuk mencapai konsentrasi maksimal (tmax) untuk EGCG adalah 1-3 jam dan konsentrasi
plasma maksimum dari EGCG adalah 100-225 ng/ml setelah pemberian 4,2 g/m² satu kali
sehari (Sarma et al., 2008).
Studi klinis lain dengan lima subjek per kelompok menunjukkan bahwa EGCG dan
Polyphenon® E (ekstrak teh hijau decaffeinated yang mengandung 60% EGCG)
menghasilkan konsentrasi plasma yang serupa pada kadar dosis yang diperiksa (200-800
mg EGCG). Pada penelitian dosis tunggal ini dilaporkan bahwa availibilitas sistemik dari
EGCG meningkat dengan meningkatnya dosis, hal ini dimungkinkan terjadi oleh karena
40
elimiasi presistemik saturable (saturable presystemic elimination). Efek samping yang
dapat diamati oleh para peneliti hanyalah sakit kepala ringan dan rasa lelah (Sarma et al.,
2008).
Sebuah penelitian dengan kontrol plasebo yang diacak (randomized, placebocontrolled study) pada sukarelawan sehat (delapan subjek pada tiap kelompok)
menunjukkan bahwa ekstrak teh hijau yang diberikan dengan dosis 800 mg per hari selama
4 minggu aman dan dapat ditoleransi dengan baik (Sarma et al., 2008).
Penelitian pada sukarelawan sehat (sepuluh subjek pada tiap kelompok) juga
menunjukkan bahwa ekstrak teh hijau yang diberikan dalam dosis 800 mg sebagai dosis
tunggal dapat ditoleransi dengan baik jika dikonsumsi dengan makanan. Konsentrasi
plasma maksimum dari EGCG bebas dalam kondisi puasa lebih besar 5 kali dibandingkan
dosis yang sama yang dikonsumsi bersamaan dengan makanan (Sarma et al., 2008).
Sebuah penelitian randomized, double-blind, placebo controlled memeriksa
keamanan dan tolerabilitas dari dosis tunggal ekstrak teh hijau dosis 50 mg, 100 mg, 200
mg, 400 mg, 800 mg dan 1600 mg pada 60 subjek sehat. Hasilnya menunjukkan bahwa
dosis tinggi dari ekstrak teh hijau ini dapat ditoleransi dengan baik. Dosis tunggal ekstrak
teh hijau sampai dengan 1600 mg ditoleransi dengan baik dan tidak terdapat efek samping
(Ullmann et all, 2003). Terdapat jurnal lain yang juga menyatakan dosis ekstrak teh hijau
sampai dengan 1600 mg itu secara umum dapat ditoleransi dengan baik, dimana hanya
menimbulkan efek samping gastrointestinal ringan saja, sehingga disarankan untuk
mengkonsumsi ekstrak teh hijau bersamaan dengan makanan atau setelah makan (Nagle et
al., 2006).
2.10 Efek Samping dari Teh Hijau
Penggunaan herbal dipercaya dapat memperkuat tubuh dan mengobati penyakit
secara alami, namun perlu diingat bahwa herbal mengandung berbagai zat aktif yang dapat
41
memicu efek samping dan dapat berinteraksi dengan zat-zat lainnya seperti dari herbal lain,
suplemen, obat-obatan, dan lain sebagainya. Dengan demikian konsumsi herbal harus
dilakukan dengan hati-hati, dalam pengawasan praktisi yang memiliki pengetahuan dalam
bidang botani kesehatan (Chako et al., 2010; UMMC, 2010).
Walaupun teh hijau memiliki beberapa pengaruh yang baik bagi kesehatan, efek teh
hijau dan konstituennya bermanfaat sampai pada dosis tertentu, dimana dosis yang lebih
besar dapat menyebabkan efek samping yang buruk. Lebih jauh lagi, efek catechin dari teh
hijau mungkin bervariasi pada tiap individu. Terdapat penelitian yang menyebutkan ekstrak
EGCG dari teh hijau bersifat sitotoksik, dan bahwa konsumsi teh hijau yang berlebihan
dapat menyebabkan sitotiksisitas akut pada sel hepar. Sebuah penelitian lain menyebutkan
konsumsi
teh
hijau
yang
berlebihan
dapat
mengakibatkan
kerusakan
asam
deoksiribonukleat (DNA) oksidatif pada pankreas dan hati dari hamster. Yun et al
menyebutkan bahwa EGCG justru bersifat sebagai pro-oksidan dan bukan sebagai
antioksidan pada sel beta pankreas in vivo. Mengingat hal tersebut konsumsi teh hijau
secara berlebihan dapat berbahaya bagi kesehatan (Chako et al., 2010).
Mereka yang mengkonsumsi kafein dalam jumlah tinggi, termasuk kafein dalam teh
hijau untuk periode waktu yang lama dapat mengalami iritabilitas, insomnia, palpitasi
jantung, pusing. Kelebihan dosis dari kafein dapat menyebabkan nausea, muntah, diare,
sakit kepala dan hilangnya nafsu makan. Juga penting dilakukan pengaturan konsumsi teh
hijau bersamaan dengan obat-obatan karena efek diuretik dari kafein (Chako et al., 2010).
Beberapa penelitian menunjukkan kemampuan tanaman teh untuk mengakumulasi
kadar aluminium yang tinggi. Aspek ini penting bagi pasien dengan gagal ginjal karena
alminium dapat diakumulasi dalam tubuh menyebabkan penyakit nefrologis. Sama halnya
catechin teh hijau memiliki afinitas untuk besi, dan infusi teh hijau dapat menurunkan
bioavailibitas zat besi dari diet (Chako et al., 2010).
42
BAB III
KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS
PENELITIAN
3.1 Kerangka Berpikir
Meskipun terdapat berbagai faktor seperti genetik, psikososial, hormonal dan
lingkungan yang saling berinteraksi dan berpengaruh terhadap terjadinya obesitas, secara
sederhana obesitas terjadi oleh karena terdapatnya ketidakseimbangan antara pemasukan
dan pengeluaran energi. Meningkatnya masukan makanan yang mengandung kadar tinggi
karbohidrat dan lemak jenuh serta berkurangnya aktivitas fisik akibat pola hidup yang
sedentari dapat menyebabkan tubuh mengalami kelebihan energi oleh karena dibutuhkan
lebih sedikit energi untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Jika kelebihan energi terus
menerus dikonsumsi tanpa ada peningkatan pengeluaran energi maka akan terjadi kelebihan
berat badan bahkan dapat berlanjut menjadi kelebihan lemak tubuh atau obesitas.
Masalah kesehatan yang dihubungkan dengan obesitas bervariasi dari yang nonfatal sampai dengan yang fatal, di antaranya gangguan pernapasan, masalah muskuloskeletal, gout, gangguan tidur, infertilitas, resistensi insulin, bahkan dapat sampai terjadi
kematian mendadak. Kelebihan berat badan dan kelebihan lemak tubuh atau obesitas
merupakan risiko yang besar akan penyakit ko-morbid yang kronik yang berhubungan
dengan diet, termasuk di antaranya adalah diabetes mellitus tipe 2, penyakit kardiovaskular,
hipertensi, stroke dan beberapa bentuk kanker, dengan demikian tak dapat dibantah jika
dikatakan obesitas dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas.
Kelebihan lemak tubuh dianggap sebagai ancaman terhadap kualitas hidup dan usia
harapan hidup. Kecenderungan bertambahnya penduduk yang mengalami kelebihan lemak
tubuh akan memperburuk kondisi kesehatan dan kebugaran, menurunkan kualitas hidup
bahkan dapat mengurangi usia harapan hidup. Jika tidak segera dilakukan upaya
41
43
pencegahan atau intervensi untuk mengurangi jumlah angka penderita obesitas maka
peningkatan usia harapan hidup yang mulai stabil dapat segera berakhir, serta generasi
mendatang akan hidup dalam kondisi kurang sehat dan kurang bugar dengan kualitas hidup
yang lebih rendah dan usia lebih pendek dibandingkan orang tua mereka. Oleh sebab itu,
perlu dicari dan dilakukan strategi yang ampuh dan bermanfaat untuk dapat membantu
menurunkan berat badan dan penumpukan lemak abdominal.
Ekstrak teh hijau dilaporkan dari berbagai penelitian yang telah dilakukan, baik di
luar maupun di dalam negeri, baik pada hewan coba ataupun manusia dapat membantu
menurunkan berat badan, menurunkan massa jaringan adiposa, membantu rumatan setelah
penurunan berat badan, sehingga suplementasi dengan herbal ini dapat memiliki pengaruh
untuk membantu menurunkan berat badan dan penumpukan lemak abdominal.
Teh hijau mengandung kadar polifenol yang tinggi, dimana hal ini dihubungkan
dengan pengaruh yang baik bagi kesehatan. Kandungan polifenol terutama catechin di
dalam teh hijau adalah zat aktif yang dipercaya bermanfaat bagi berbagai kondisi
kesehatan seperti yang telah dilaporkan dalam jurnal-jurnal penelitian. Di antaranya adalah
sebagai anti obesitas,
meskipun mekanisme yang pasti bagaimana teh hijau dapat
melakukan efek ini belum sepenuhnya dimengerti. Pemberian ekstrak teh hijau secara
signifikan dilaporkan meningkatkan pengeluaran energi lewat aktivasi persarafan simpatis,
yakni meningkatkan termogenesis dari brown adipose tissue, meningkatkan oksidasi lemak
dan menurunkan kandungan lemak tubuh.
Catechin pada teh hijau bekerja dengan menghambat enzim COMT, yakni enzim
yang mendegradasi norepinefrin. Dengan terhambatnya enzim COMT oleh catechin, terjadi
reduksi degradasi norepinefrin yang akan menghasilkan penambahan waktu kerja
norepinefrin pada sistem saraf simpatis. Aktivasi sistem saraf simpatis ini akan
menstimulasi pengeluaran energi di antaranya dengan meningkatkan termogenesis dan
oksidasi lemak. Selain bekerja dengan jalan menghambat COMT, EGCG dinyatakan dalam
beberapa jurnal dapat menghambat proliferasi adiposit dan mengurangi viabilitas adiposit
44
lewat aktivasi AMPK. Hasil dari beberapa penelitian menyatakan AMPK dapat merupakan
target utama dari EGCG dalam hal fungsi anti obesitasnya.
Jadi suplementasi dengan ekstrak teh hijau yang mengandung polifenol catechin
sebagai zat aktifnya dihubungkan dengan penurunan berat badan dan penumpukan lemak
abdominal yang akan bermanfaat terutama bagi individu dengan pola hidup sedentari yang
memiliki diet tinggi karbohidrat dan lemak jenuh serta aktivitas fisik yang sedikit atau
bahkan tidak ada.
3.2
Konsep
Faktor Internal:
-Genetik
-Usia
-Jenis Kelamin
-Hormon
Konsumsi EkstrakFaktor
Teh Hijau
Eksternal:
- Sedentary lifestyle - Diet tinggi karbohidrat dan lemak jenuh
- Kurang aktivitas fisik
- Lingkungan
-Radikal Bebas
Tikus Wistar Jantan
Diet tinggi karbohidrat dan lemak
45
-Berat badan
-Berat lemak viseral abdomen
- Berat lemak subkutan abdomen
Gambar 3.1 Konsep
3.2 Hipotesis Penelitian
1. Pemberian ekstrak teh hijau dapat menurunkan berat badan tikus jantan yang diberi diet
tinggi karbohidrat dan lemak.
2. Pemberian ekstrak teh dapat menurunkan berat lemak subkutan abdomen tikus jantan
yang diberi diet tinggi karbohidrat dan lemak.
3. Pemberian ekstrak teh hijau dapat menurunkan berat lemak viseral abdomen tikus jantan
yang diberi diet tinggi karbohidrat dan lemak.
46
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Rancangan Penelitian
47
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan rancangan
Pretest-Posttest Control Group Design (Pocock, 2008). Dengan rancangan sebagai berikut:
Tikus dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 8 tikus.
1.
Kelompok pertama merupakan kelompok kontrol.
Kelompok ini hanya diberi diet tinggi karbohidrat dan lemak dan plasebo berupa
aquadest.
2.
Kelompok kedua yang merupakan kelompok perlakuan 1
Kelompok ini diberikan diet tinggi karbohidrat dan lemak dan ekstrak teh hijau yang
mengandung EGCG 14,4 mg.
3.
Kelompok ketiga merupakan kelompok perlakuan 2
Kelompok ini diberikan diet tinggi karbohidrat dan lemak dan ekstrak teh hijau yang
mengandung EGCG 28,8 mg. Pemberian dosis lebih besar dari dosis yang
direkomendasikan dimaksudkan untuk melihat apakah dengan dosis tersebut akan didapat
penurunan berat badan dan penumpukan lemak viseral dan subkutan abdomen yang lebih
bermakna pada tikus wistar jantan yang diberikan diet tinggi karbohidrat dan lemak.
Perlakuan pada ketiga kelompok harus sama, kecuali terhadap pemberian obat yang
diteliti untuk menghindari variasi biologis. Percobaan dilakukan selama 28 hari.
Dosis ekstrak teh hijau yang diberikan disesuaikan dengan dosis yang dikonsumsi oleh
manusia. Sediaan yang digunakan adalah ekstrak teh hijau yang dibuat di Pusat Penelitian
Teh dan Kina (PPTK), Gambung-Bandung Selatan, unit kerja yang berada di bawah
Lembaga Riset Perkebunan Indonesia, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian,
Kementrian Pertanian Indonesia. Penetapan dosis didapat dari hasil konversi dosis satu hari
pemberian terhadap manusia dengan menggunakan tabel konversi Laurence dan Bacharach
45
dikalikan faktor konversi manusia ke tikus yaitu 0,018. Berdasarkan pada penelitian
sebelumnya dosis ekstrak teh hijau yang digunakan adalah 800 mg (dosis yang disarankan
untuk dikonsumsi per hari-nya) dan 1600 mg (dosis tunggal per hari.yang dinyatakan aman
untuk dikonsumsi dan dapat ditoleransi dengan baik).
Maka dosis yang digunakan untuk tikus adalah sebagai berikut :
48
0,018 x 800 mg = 14,4 mg.
0,018 x 1600 mg = 28,8 mg.
Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan menggunakan rancangan
Pretest-Posttest Control Group Design (Pocock, 2008)
P0
O1
O2
P1
Pļƒ Sļƒ R
O3
O4
P2
O5
O6
Bagan 4.1. Rancangan Penelitian
Keterangan :
P = Populasi
S = Sampel
R = Random
O1 = Data sebelum perlakuan pada kelompok kontrol ( pretest).
O3 = Data sebelum perlakuan pada kelompok uji I (pretest).
O5 = Data sebelum perlakuan pada kelompok uji II (pretest).
P0= Perlakuan pada kelompok kontrol yang diberikan diet tinggi karbohidrat dan
lemak serta plasebo yang berupa aquadest.
P1= Perlakuan pada kelompok perlakuan I yang diberikan diet tinggi karbohidrat dan
lemak serta ekstrak teh hijau dengan dosis 14,4 mg
P2= Perlakuan pada kelompok perlakuan II yang diberikan diet tinggi karbohidrat dan
lemak serta ekstrak teh hijau dengan dosis 28,8 mg
O2 = Data sesudah perlakuan pada kelompok kontrol (posttest).
O4 = Data sesudah perlakuan pada kelompok perlakuan I (posttest).
49
O6 = Data sesudah perlakuan pada kelompok perlakuan II (posttest).
4.2 Tempat dan Waktu Penelitian
a. Tempat penelitian : Laboratorium Farmakologi Universitas Udayana, Denpasar.
b. Waktu penelitian
: Penelitian dilakukan dalam waktu 40 hari dengan perincian:
1. Dua puluh delapan hari untuk pemberian diet tinggi karbohidrat dan lemak + ekstrak teh
hijau.
2. Satu hari untuk penimbangan berat badan, berat lemak viseral dan subkutan abdomen
tikus.
3. Sebelas hari untuk analisis data dan penyusunan laporan.
4.3 Populasi dan Kriteria Sampel Penelitian
4.3.1 Populasi Penelitian
Tikus wistar jantan jenis Rattus norvegicus berumur 3 – 4 bulan, berat 120-130 gram, sehat.
4.3.2 Kriteria Sampel :
4.3.2.1 Kriteria Penerimaan :
1 Tikus putih jantan yang sehat.
2 Jenis Rattus norvegicus, galur wistar.
3 Umur 3 – 4 bulan.
4 Berat tikus 120-130 gram.
4.3.2.2 Kriteria drop out sampel penelitian :
1. Tikus mati ketika sedang penelitian.
4.4. Penentuan Besar dan Cara Pengambilan Sampel
4.4.1 Penentuan Besar Sampel Minimal
Besar sampel dihitung dengan menggunakan rumus Pocock (2008) :
2 σ²
50
n = ----------------- X ƒ (α,β )
(μ2 - μ1)²
Keterangan :
n = Besar sampel
μ2 = Rerata hasil pada kelompok perlakuan
μ1 = Rerata hasil pada kelompok kontrol
σ = Simpangan baku kontrol
ƒ (α,β) = Besarnya dilihat pada Tabel Pocock
Berdasarkan data penelitian yang sudah ada diperoleh data (Klaus et al., 2005) :
1. Untuk pencegahan kenaikan berat badan:
Rerata berat badan kelompok kontrol = 44,2
Simpangan baku kontrol = 0,74
Rerata berat badan kelompok perlakuan = 37,8
n
=
2 x (0,74)² x 10,5
(37,8-44,2)²
=
0,27 dibulatkan menjadi 1 ekor
2. Untuk berat lemak viseral abdomen :
Rerata berat lemak viseral abdomen kelompok kontrol = 1,91
Simpangan baku kontrol = 0,30
Rerata berat lemak viseral kelompok perlakuan = 1,08
n
=
2 x (0,30)² x 10,5
(1,08-1,91)²
=
2,74 dibulatkan menjadi 3 ekor
3. Untuk berat lemak subkutan abdomen :
Rerata berat lemak subkutan abdomen kelompok kontrol = 4,16
Simpangan baku kontrol = 0,50
Rerata berat lemak subkutan kelompok perlakuan = 3,08
51
n
=
2 x (0,50)² x 10,5
(3,08-4,16)²
=
4,50 dibulatkan menjadi 5 ekor
Pada penelitian digunakan sampel yang paling banyak, yakni 5 (lima) ekor, dan untuk
cadangan bila terjadi kematian saat dilakukan penelitian, maka jumlah sampel ditambah
minimal 20 persen, serta ditambah 2 (dua) ekor untuk pretest, sehingga masing-masing
kelompok digunakan sampel 8 (delapan) ekor.
4.4.2 Cara Pengambilan Sampel
Diambil 24 (duapuluh empat) ekor tikus wistar jantan jenis Rattus norvegicus berumur 3 –
4 bulan dengan berat 120-130 gram, kemudian dikelompokkan menjadi 3 kelompok secara
random.
4.5 Variabel Penelitian
4.5.1 Identifikasi Variabel
a. Variabel bebas : Ekstrak teh hijau.
b. Variabel tergantung : berat badan, berat lemak viseral abdomen, berat lemak subkutan
abdomen tikus wistar jantan.
c. Variabel kendali : diet tinggi karbohidrat dan lemak, jenis kelamin, galur, usia, berat
badan.
4.5.2 Definisi Operasional Variabel
a. Ekstrak teh hijau adalah ekstrak yang terbuat dari teh hijau yang mengandung
Epigallocatechin gallate (EGCG) ~30%, dalam sediaan serbuk yang dikemas dalam
bentuk puyer. Ekstrak dibuat di PPTK. Ekstrak kemudian dilarutkan dalam air dengan
perbandingan 1 mg ekstrak dalam 0,25 cc air matang.
b. Berat badan, diukur dengan timbangan tikus merk Tanita.
52
c. Berat lemak abdomen adalah berat lemak viseral dan berat lemak subkutan abdomen.
d. Berat lemak viseral abdomen adalah lemak yang terdapat di daerah intraperitoneal,
mencakup lemak omental dan mesenterik, diukur dengan timbangan merk Sartorius yang
memiliki kepekaan sampai dengan 0,0001.
e. Berat lemak subkutan abdomen adalah lemak yang terdapat di lapisan subkutan di daerah
di antara ruas tulang punggung thoracalis dan ruas tulang punggung coccygeal, diukur
dengan timbangan merk Sartorius yang memiliki kepekaan sampai dengan 0,0001.
f. Plasebo yang digunakan pada kelompok kontrol adalah aquadest.
g. Tikus wistar jantan adalah hewan percobaan tikus jenis Rattus norvegicus, galur wistar,
jenis kelamin jantan, yang sehat, berusia 3-4 bulan dengan berat 120-130 gram.
h. Diet tinggi karbohidrat dan lemak adalah diet yang terdiri dari karbohidrat 55%, lemak
35%, protein 10% yang didapat dari Laboratorium Farmakologi Universitas Udayana,
Denpasar, Bali.
4.6 Bahan dan Alat Penelitian
Bahan Penelitian yang digunakan adalah :
1. Ekstrak teh hijau yang mengandung EGCG ~30% yang dibuat di Pusat Penelitian Teh
dan Kina, Gambung, Bandung Selatan dengan 2 dosis : 14,4 mg dan 28,8 mg.
2. Aquadest
3. Diet tinggi karbohidrat dan lemak yang terdiri dari: karbohidrat 55%, lemak 35%, protein
10% yang didapat dari Laboratorium Farmakologi Universitas Udayana, Denpasar, Bali.
4. Sonde
5. Timbangan tikus merk Tanita dan Timbangan merk Sartorius
4.7 Prosedur Penelitian
1. Dipilih 24 ekor tikus wistar jantan jenis Rattus norvegicus yang berumur 3-4 bulan
dengan berat sekitar 120-130 gram.
53
2. Tikus dibagi menjadi tiga kelompok secara random. Ketiga kelompok tikus diukur berat
badan awal sebagai data pretest dan diambil sampel 2 (dua) ekor dari tiap kelompok
secara random untuk dibunuh dengan cara disuntik penthotal untuk dapat dilakukan
pembedahan, dimana rongga perut dibuka, dicari dan dipisahkan lemak viseral dan
subkutan abdomennya, kemudian ditimbang berat lemak viseral dan subkutan
abdomennya sebagai data pretest.
3. Tikus dipelihara dalam kandang individual yang berukuran 30 x 20 x 20 cm.
4. Setelah itu diberikan perlakuan :
a. P0 : Perlakuan pada kelompok kontrol yang diberi diet tinggi karbohidrat dan lemak
dan plasebo yang berupa aquadest selama 28 hari.
b. P1 : Perlakuan pada kelompok perlakuan I yang diberi diet tinggi karbohidrat dan
lemak dan ekstrak teh hijau dosis 14,4 mg melalui sonde selama 28 hari.
c. P2 : Perlakuan pada kelompok perlakuan II yang diberi diet tinggi karbohidrat dan
lemak dan ekstrak teh hijau dengan dosis 28,8 mg melalui sonde selama 28 hari.
5. Setelah 28 hari ketiga kelompok tikus ditimbang kembali berat badannya, dan kemudian
dibunuh dengan cara disuntik dengan pentothal untuk dapat dilakukan pembedahan,
dimana rongga perut dibuka, dicari dan dipisahkan lemak viseral dan subkutan
abdomennya sehingga dapat ditimbang berat lemak viseral dan subkutan abdomennya
sebagai data posttest.
4.8 Alur Penelitian
Tikus
54
Berat Badan (Seluruh Subjek)
Berat Lemak Viseral Abdomen(Sampel)
Berat Lemak Subkutan Abdomen (Sampel)
Pretest
Kelompok 1
Kelompok 2
Kelompok 3
Diet tinggi karbohidrat & lemak
Diet tinggi karbohidrat & lemakDiet tinggi karbohidrat & lemak
+
+
+
Plasebo (Aquadest)
Ekstrak Teh Hijau
Ekstrak Teh Hijau
Dosis 14,4 mg
Dosis 28,8 mg
55
Berat Badan
Berat Lemak Viseral Abdomen
Berat Lemak Subkutan Abdomen
AbdomenAbdomen
Posttest
Analisis Data
Laporan
Bagan 4.2 Alur Penelitian
4.9 Analisis Data
Data yang diperoleh akan dianalisis dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Analisis Desriptif
56
Analisis deskriptif dilakukan sebagai dasar untuk statistik analitis (uji hipotesis)
untuk mengetahui karakteristik data yang dimiliki. Analisis deskriptif dilakukan
dengan program SPSS. Pemilihan penyajian data dan uji hipotesis tergantung dari
normal tidaknya distribusi data.
2. Analisis normalitas data
Uji normalitas data dilakukan dengan uji Shapiro-Wilk oleh karena data kurang dari
50. Data berat badan baik sebelum perlakuan maupun sesudah perlakuan, data berat
lemak subkutan abdomen dan berat lemak viseral sesudah perlakuan pada masingmasing kelompok menunjukkan data berdistribusi normal (p>0,05), disajikan pada
Lampiran 1. Untuk data berat lemak subkutan pre dan berat lemak viseral sebelum
perlakuan tidak berdistribusi normal.
3. Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan dengan Uji Levene. Data berat badan, berat lemak
subkutan abdomen dan lemak viseral antar kelompok baik sebelum perlakuan
maupun sesudah perlakuan menunjukkan data homogen (p>0,05), disajikan pada
lampiran 2.
4. Uji Komparasi
Uji komparasi antar ketiga kelompok dilakukan dengan Uji Anova jika data normal dan
homogen, yakni data berat badan baik sebelum maupun sesudah perlakuan, berat lemak
subkutan abdomen dan berat lemak viseral sesudah perlakuan. Jika tidak normal atau tidak
homogen maka digunakan Uji Kruskal Wallis, yakni data berat lemak subkutan pre dan
berat lemak viseral sebelum perlakuan.
5. Uji efek perlakuan dilakukan dengan Least Significant Difference Test (LSD test).
BAB V
HASIL PENELITIAN
57
Dalam penelitian ini digunakan sebanyak 24 ekor tikus jantan jenis Wistar (rattus
norvegicus) yang diberikan diet tinggi karbohidrat dan lemak, yang terbagi menjadi 3 (tiga)
kelompok masing-masing berjumlah 8 ekor tikus, yaitu kelompok kontrol (P0) yang
diberikan diet tinggi karbohidrat dan lemak dan plasebo, kelompok perlakuan 1 (P1) yang
diberikan diet tinggi karbohidrat dan lemak dan ekstrak teh hijau dengan dosis 14,4 mg, dan
kelompok perlakuan 2 (P2) yang diberikan diet tinggi karbohidrat dan tinggi lemak dan
ekstrak teh hijau dengan dosis 28,8 mg. Dalam pembahasan ini akan diuraikan uji
normalitas data, uji homogenitas data, uji komparabilitas, dan uji efek perlakuan.
5.1 Uji Normalitas Data
Data berat badan baik sebelum perlakuan maupun sesudah perlakuan, data berat
lemak subkutan abdomen dan berat lemak viseral sesudah perlakuan pada masing-masing
kelompok diuji normalitasnya dengan menggunakan uji Shapiro-Wilk. Hasilnya
menunjukkan data berdistribusi normal (p>0,05), disajikan pada Lampiran 1. Untuk data
berat lemak subkutan pre dan berat lemak viseral sebelum perlakuan tidak berdistribusi
normal.
5.2 Uji Homogenitas Data antar Kelompok
Data berat badan baik sebelum perlakuan maupun sesudah perlakuan, data berat
lemak subkutan abdomen dan lemak viseral antar kelompok baik sebelum perlakuan
maupun sesudah perlakuan diuji homogenitasnya dengan menggunakan uji Levene’s test.
Hasilnya menunjukkan data homogen (p>0,05), disajikan pada lampiran 2.
54
5.3 Berat Badan
5.3.1 Uji komparabilitas
58
Uji Komparabilitas bertujuan untuk membandingkan rerata berat badan antar
kelompok sebelum diberikan perlakuan, yakni diet tinggi karbohidrat dan lemak dan
ekstrak teh hijau. Hasil analisis kemaknaan dengan uji One Way Anova disajikan pada
Tabel 5.1 berikut.
Tabel 5.1
Rerata Berat Badan antar Kelompok Sebelum diberikan Perlakuan
Rerata
Kelompok Subjek
N
Berat Badan
SB
F
P
0,194
0,825
(gram)
P0
6
125,33
2,73
P1
6
124,83
2,56
P2
6
125,67
1,51
Tabel 5.1 di atas, menunjukkan bahwa rerata berat badan kelompok P0 adalah
125,33±2,73, rerata kelompok
P1 adalah 124,83±2,56, dan kelompok P2 adalah
125,67±1,51. Analisis kemaknaan dengan uji One Way Anova menunjukkan bahwa nilai F
= 0,194 dan nilai p = 0,825. Hal ini berarti bahwa ketiga kelompok sebelum diberikan
perlakuan, rerata berat badannya tidak berbeda secara bermakna (p > 0,05).
5.3.2 Analisis efek perlakuan
59
Analisis efek perlakuan diuji berdasarkan rerata berat badan antar kelompok
sesudah diberikan diet tinggi karbohidrat dan tinggi lemak dan ekstrak teh hijau. Hasil
analisis kemaknaan dengan uji One Way Anova disajikan pada Tabel 5.2 berikut.
Tabel 5.2
Rerata Berat Badan antar Kelompok Sesudah Diberikan Perlakuan
Rerata
Kelompok Subjek
n
Berat Badan
SB
F
P
25,72
0,001
(gram)
P0
6
165,33
4,27
P1
6
157,17
2,48
P2
6
152,50
2,26
Tabel 5.2 di atas, menunjukkan bahwa rerata berat badan kelompok P0 adalah
165,33±4,27, rerata kelompok P1 adalah 157,17±2,48, dan kelompok P2 adalah
152,50±2,26. Analisis kemaknaan dengan uji One Way Anova menunjukkan bahwa nilai F
= 25,72 dan nilai p = 0,001. Hal ini berarti bahwa rerata berat badan pada ketiga kelompok
sesudah diberikan perlakuan berbeda secara bermakna (p<0,05).
Gambar 5.1 Grafik Penurunan Berat badan setelah Pemberian ekstrak teh hijau
60
Gambar 5.1 di atas menggambarkan bahwa pemberian ekstrak teh hijau dengan
dosis 14,4 mg dan 28,8 mg dapat menurunkan berat badan dibandingkan dengan plasebo.
Serta pemberian ekstrak teh hijau dosis 28,8 mg dapat menurunkan berat badan lebih
banyak dibandingkan dengan dosis 14,4 mg.
Untuk mengetahui kelompok yang berbeda dengan kelompok kontrol perlu dilakuan uji
lanjut dengan Least Significant Difference – test (LSD). Hasil uji disajikan di bawah ini.
Tabel 5.3
Analisis Komparasi Berat badan Sesudah Perlakuan antar Kelompok
Kelompok
P0 dan P1
P0 dan P2
P1 dan P2
Beda Rerata
8,17
12,83
p
0,001
0,001
4,66
0,021
Interpretasi
Berbeda
Berbeda
Berbeda
Hasil uji lanjutan di atas menunjukan bahwa:
1. Rerata berat badan kelompok P0 berbeda bermakna dengan kelompok P1 (rerata
kelompok P1 lebih rendah daripada rerata kelompok P0).
2. Rerata berat badan kelompok P0 berbeda secara bermakna dengan kelompok P2
(rerata kelompok P2 lebih rendah daripada rerata kelompok P0).
3. Rerata berat badan kelompok P1 berbeda secara bermakna dengan kelompok P2
(rerata kelompok P2 lebih rendah daripada rerata kelompok P1).
5.4 Berat Lemak Subkutan Abdomen
5.4.1 Uji komparabilitas
61
Uji Komparabilitas bertujuan untuk membandingkan rerata berat lemak subkutan
abdomen antar kelompok sebelum diberikan perlakuan, yakni diet tinggi karbohidrat dan
lemak dan ekstrak teh hijau. Hasil analisis kemaknaan dengan uji Kruskal-Wallis disajikan
pada Tabel 5.4 berikut:
Tabel 5.4
Rerata Berat Lemak Subkutan Abdomen antar Kelompok Sebelum Perlakuan
Rerata
Kelompok Subjek
N
Berat Lemak
SB
χ2
P
2,57
0,276
(gram)
P0
2
1,19
0,12
P1
2
1,38
0,04
P2
2
1,26
0,16
Tabel 5.4 di atas, menunjukkan bahwa rerata berat lemak subkutan abdomen
kelompok P0 adalah 1,19±0,12, rerata kelompok P1 adalah 1,38±0,04, dan kelompok P2
adalah 1,26±0,16. Analisis kemaknaan dengan uji Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa
nilai χ2 = 2,57 dan nilai p = 0,276. Hal ini berarti bahwa ketiga kelompok sebelum
diberikan perlakuan, rerata berat lemak subkutan abdomennya tidak berbeda secara
bermakna (p > 0,05).
5.4.2 Analisis efek perlakuan
62
Analisis efek perlakuan diuji berdasarkan rerata berat lemak subkutan antar
kelompok sesudah diberikan perlakuan. Hasil analisis kemaknaan dengan uji One Way
Anova disajikan pada Tabel 5.5 berikut.
Tabel 5.5
Rerata Berat lemak subkutan abdomen antar kelompok sesudah diberikan perlakuan
Rerata
Kelompok Subjek
N
Berat lemak
subkutan
SB
F
P
21,07
0,001
abdomen (gram)
P0
6
2,76
0,23
P1
6
1,42
0,23
P2
6
0,69
0,16
Tabel 5.5 di atas, menunjukkan bahwa rerata berat lemak subkutan abdomen
kelompok P0 adalah 2,76±0,23, rerata kelompok P1 adalah 1,42±0,23, dan kelompok P2
adalah 0,69±0,16. Analisis kemaknaan dengan uji One Way Anova menunjukkan bahwa
nilai F = 21,07 dan nilai p = 0,001. Hal ini berarti bahwa sesudah diberikan perlakuan
rerata berat lemak subkutan abdomen pada ketiga kelompok berbeda secara bermakna.
Gambar 5.2 Grafik Penurunan berat lemak subkutan setelah Pemberian Teh Hijau
63
Gambar 5.2 di atas menggambarkan bahwa pemberian ekstrak teh hijau 14,4 mg
dan ekstrak teh hijau 28,8 mg menurunkan Berat lemak subkutan dibandingkan dengan
plasebo. Serta pemberian ekstrak teh hijau dosis 28,8 menurunkan lemak subkutan
abdomen lebih besar dibandingkam dosis 14,4 mg.
Uji lanjut dengan Least Significant Difference – test (LSD) digunakan untuk
mengetahui beda nyata terkecil berat lemak subkutan. Hasil uji disajikan di bawah ini.
Tabel 5.6
Analisis Komparasi Berat lemak subkutan Sesudah Perlakuan antar Kelompok
Kelompok
Beda Rerata
p
Interpretasi
P0 dan P1
1,33
2,06
0,001
0,001
Berbeda
0,73
0,039
P0 dan P2
P1 dan P2
Berbeda
Berbeda
Hasil uji lanjutan di atas menunjukan bahwa:
1. Rerata berat lemak subkutan abdomen kelompok P0 berbeda bermakna dengan
kelompok P1 (rerata kelompok P1 lebih rendah daripada rerata kelompok P0).
2. Rerata berat lemak subkutan abdomen kelompok P0 berbeda secara
bermakna
dengan kelompok P2 (rerata kelompok P2 lebih rendah daripada rerata kelompok
P0).
3. Rerata berat lemak subkutan abdomen kelompok P1 berbeda secara bermakna
dengan kelompok P2 (rerata kelompok P2 lebih rendah daripada rerata kelompok
P1).
64
5.5 Berat Lemak Viseral
5.5.1 Uji komparabilitas
Uji Komparabilitas bertujuan untuk membandingkan rerata berat lemak viseral
antar kelompok sebelum diberikan perlakuan. Hasil analisis kemaknaan dengan uji
Kruskal-Wallis disajikan pada Tabel 5.7 berikut:
Tabel 5.7
Rerata Berat Lemak Viseral antar Kelompok Sebelum Perlakuan
Rerata
Kelompok Subjek
n
Berat Lemak
Viseral
SB
χ2
P
0,286
0,867
(gram)
P0
2
0,50
0,07
P1
2
0,53
0,06
P2
2
0,51
0,01
Tabel 5.7 di atas, menunjukkan bahwa rerata berat lemak viseral kelompok P0
adalah 0,50±0,07, rerata kelompok P1 adalah 0,53±0,06, dan kelompok P2 adalah
0,51±0,01. Analisis kemaknaan dengan uji Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa nilai χ2 =
0,286 dan nilai p = 0,867. Hal ini berarti bahwa ketiga kelompok sebelum diberikan
perlakuan, rerata berat lemak viseralnya tidak berbeda secara bermakna (p > 0,05).
65
5.5.2 Analisis Efek Perlakuan
Analisis efek perlakuan diuji berdasarkan rerata berat lemak viseral antar kelompok
sesudah diberikan perlakuan. Hasil analisis kemaknaan dengan uji One Way Anova
disajikan pada Tabel 5.8 berikut.
Tabel 5.8
Rerata Berat Lemak Viseral antar kelompok sesudah diberikan perlakuan
Rerata
Kelompok Subjek
N
Berat lemak
Viseral
SB
F
P
73,04
0,001
(gram)
P0
6
0,76
0,26
P1
6
0,49
0,21
P2
6
0,22
0,10
Tabel 5.8 di atas, menunjukkan bahwa rerata berat lemak viseral kelompok P0
adalah 0,76±0,26, rerata kelompok P1 adalah
0,49±0,21, dan kelompok P2 adalah
0,22±0,10. Analisis kemaknaan dengan uji One Way Anova menunjukkan bahwa nilai F =
66
73,04 dan nilai p = 0,001. Hal ini berarti bahwa sesudah diberikan perlakuan rerata berat
lemak viseral pada ketiga kelompok berbeda secara bermakna.
Gambar 5.3 Grafik Penurunan Berat lemak Viseral setelah Pemberian Teh hijau
Gambar 5.3 di atas menggambarkan bahwa pemberian ekstrak teh hijau 14,4 mg
dan ekstrak teh hijau 28,8 mg menurunkan berat lemak viseral dibandingkan dengan
plasebo. Serta pemberian ekstrak teh hijau dosis 28,8 mg menurunkan berat lemak viseral
lebih besar dibandingkan dosis 14,4 mg.
Uji lanjut dengan Least Significant Difference – test (LSD) digunakan untuk
mengetahui beda nyata terkecil berat lemak viseral, yang disajikan pada Tabel 5.9.
Tabel 5.9
Analisis Komparasi Berat Lemak Viseral Sesudah Perlakuan antar Kelompok
Kelompok
Beda Rerata
p
Interpretasi
1,07
1,34
0,001
0,001
Berbeda
0,27
0,035
Kontrol dan Ekstrak teh hijau 14,4 mg
Kontrol dan Ekstrak teh hijau 28,8 mg
Ekstrak teh hijau 14,4 mg dan 28,8 mg
Berbeda
Berbeda
Hasil uji lanjutan di atas menunjukan bahwa:
1. Rerata berat lemak viseral kelompok P0 berbeda bermakna dengan kelompok P1
(rerata kelompok P1 mg lebih rendah daripada rerata kelompok P0).
67
2. Rerata berat lemak viseral kelompok P0 berbeda secara
bermakna dengan
kelompok P2 (rerata kelompok P2 lebih rendah daripada rerata kelompok P0).
3. Rerata berat lemak viseral kelompok P1 berbeda secara bermakna dengan kelompok
P2 (rerata kelompok P2 lebih rendah daripada rerata kelompok P1).
68
BAB VI
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
6.1. Subyek Penelitian
Untuk menguji pemberian ekstrak teh hijau terhadap penurunan kenaikan berat
badan dan berat lemak abdominal tikus wistar jantan, maka dilakukan penelitian pada tikus
wistar jantan sehat yang diberikan diet tinggi karbohidrat dan lemak dan ekstrak teh hijau.
Sebagai hewan coba digunakan tikus wistar jantan sehat berumur 4 bulan, dengan
berat badan 124 - 126 gram. Tikus yang dipergunakan dalam penelitian ini berjumlah 24
ekor, dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok kontrol (P0) yang diberikan diet tinggi
karbohidrat dan lemak dan placebo, kelompok perlakuan 1 (P1) yang diberikan diet tinggi
karbohidrat dan lemak dan ekstrak teh hijau dengan dosis 14,4 mg, dan kelompok
perlakuan 2 (P2) yang diberikan diet tinggi karbohidrat dan lemak dan ekstrak teh hijau
dengan dosis 28,8 mg. Penelitian ini dilakukan selama 28 hari.
6.2. Distribusi dan Varian Data Hasil Penelitian
Data hasil penelitian berupa data berat badan dan berat lemak sebelum dianalisis
lebih lanjut, terlebih dahulu diuji distribusi dan variannya. Untuk uji distribusi digunakan
uji Shapiro Wilk, yaitu untuk mengetahui normalitas data dan uji homogenitas dengan uji
Levene test . Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa untuk kelompok pre dan post-test
masing-masing kelompok berdistribusi normal dan homogen (p > 0,05).
6.3. Pengaruh Ekstrak Teh hijau terhadap Berat Badan dan Berat Lemak
Uji perbandingan sebelum diberikan perlakuan antara ketiga kelompok menggunakan uji
One Way Anova. Rerata berat badan kelompok kontrol adalah 125,33±2,73, rerata
kelompok ekstrak teh hijau 14,4 mg adalah 124,83±2,56, dan kelompok ekstrak teh hijau
28,8 mg adalah 125,67±1,51. Uji perbandingan pre test antara ketiga kelompok dengan
66
69
One Way Anova menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna berat badan antara
kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan 1 (P1) maupun kelompok perlakuan 2 (P2) (
p > 0,05). Hal ini berarti bahwa berat badan pada ketiga kelompok adalah sama atau dengan
kata lain ketiga kelompok sebelum diberikan perlakuan berat badannya tidak berbeda (p >
0,05). Uji perbandingan berat lemak subkutan abdomen dan berat lemak viseral sebelum
diberikan perlakuan antara ketiga kelompok menggunakan uji Kruskal-Wallis. Rerata berat
lemak subkutan kelompok kontrol adalah 1,19±0,12, rerata kelompok ekstrak teh hijau 14,4
mg adalah 1,38±0,04, dan kelompok ekstrak teh hijau 28,8 mg adalah 1,26±0,16; Rerata
berat lemak visceral kelompok kontrol adalah 0,50±0,07, rerata kelompok ekstrak teh hijau
14,4 mg adalah 0,53±0,06, dan kelompok ekstrak teh hijau 28,8 mg adalah 0,51±0,01. Uji
perbandingan pre test antara ketiga kelompok dengan Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa
tidak terdapat perbedaan bermakna berat lemak subkutan dan berat lemak viseral antara
kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan 1 (P1) maupun kelompok perlakuan 2 (P2) (
p > 0,05). Hal ini berarti bahwa berat lemak abdominal pada ketiga kelompok adalah sama
atau dengan kata lain ketiga kelompok sebelum diberikan perlakuan berat lemak
abdominalnya tidak berbeda secara bermakna (p > 0,05).
Uji perbandingan sesudah diberikan diet tinggi karbohidrat dan lemak + ekstrak teh
hijau antara ketiga kelompok menggunakan One Way Anova. Rerata berat badan kelompok
Kontrol adalah 165,33±4,27, rerata kelompok Ekstrak teh hijau 14,4 mg adalah
157,17±2,48, dan kelompok Ekstrak teh hijau 28,8 mg adalah 152,50±2,26; rerata berat
lemak subkutan abdomen kelompok Kontrol adalah 2,76±0,23, rerata kelompok Ekstrak
teh hijau 14,4 mg adalah 1,42±0,23, dan kelompok Ekstrak teh hijau 28,8 mg adalah
0,69±0,16; rerata berat lemak viseral kelompok Kontrol adalah 0,76±0,26, rerata kelompok
Ekstrak teh hijau 14,4 mg adalah 0,49±0,21, dan kelompok Ekstrak teh hijau 28,8 mg
adalah 0,22±0,10. Uji perbandingan post test antara ketiga kelompok dengan One Way
Anova menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna perubahan berat badan dan berat
lemak abdominal antara kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan 1 (P1), antara
kontrol dengan kelompok perlakuan 2 (P2), dan juga antara kelompok P1 dengan kelompok
P2. Hal ini berarti bahwa terjadi perubahan berat badan dan berat lemak abdominal secara
bermakna pada ketiga kelompok sesudah diberikan perlakuan selama 28 hari (p < 0,05).
70
Terlihat dari hasil penelitian ini bahwa baik kelompok P1 yang diberi ekstrak teh
hijau dengan dosis 14,4 mg dan kelompok P2 yang diberi ekstrak teh hijau 28,8 mg
menunjukkan perubahan yang bermakna dari berat badan, berat lemak viseral dan berat
lemak subkutan abdomen. Namun perlu diperhatikan bahwa hasil yang didapat pada
kelompok P2 lebih baik jika dibandingkan dengan kelompok P1. Sehingga pemberian
ekstrak teh hijau dosis 28,8 memberikan hasil yang lebih baik bagi penurunan berat badan,
berat lemak viseral dan berat lemak subkutan abdomen dibandingkan ekstrak teh hijau
dosis 14,4 mg.
Berdasarkan hasil penelitian di atas, menunjukkan terjadinya perubahan bermakna
berat badan, berat lemak viseral dan subkutan abdomen pada kelompok P1 yang diberi
ekstrak teh hijau per oral dosis 14,4 mg, kelompok P2 yang diberi ekstrak teh hijau per oral
dosis 28,8 mg, selama 28 hari. Hal ini disebabkan karena ekstrak teh hijau mengandung
catechin yang dapat menghambat enzim COMT, dimana telah ditunjukkan dari penelitian in
vitro dan in vivo, enzim COMT ini yakni suatu enzim yang mendegradasi norepinefrin.
Dengan terhambatnya enzim COMT oleh catechin, terjadi reduksi degradasi norepinefrin
yang akan menghasilkan penambahan waktu kerja norepinefrin pada sistem saraf simpatis.
Aktivasi sistem saraf simpatis ini akan menstimulasi pengeluaran energi di antaranya
dengan meningkatkan termogenesis dan oksidasi lemak (Diepvens et al., 2007; Belza et al.,
2009).
Catechin dari teh ditunjukkan dapat meningkatkan oksidasi lemak, terutama dalam
periode postprandial, Peningkatan oksidasi lemak dapat disebabkan oleh bertambahnya
oksidasi lemak hepar yang diaktivasi secara simpatik. Sistem saraf simpatis diduga
berperan dalam mobilisasi lipid dari depot adiposa. Sehingga, ada kemungkinan bahwa
catechin, dengan meningkatkan pengaruh simpatik, dapat memiliki pengaruh pada
penyimpanan lemak di berbagai depot lemak. Hasil dari beberapa penelitian pada hewan
menunjukkan bahwa akumulasi lemak hepar dan mesenterik berkurang dengan pemberian
catechin (Maki et al., 2009).
71
Penelitian Dullo et al menunjukkan ekstrak teh hijau meningkatkan pengeluaran
energi dan oksidasi lemak dalam jangka pendek (Diepvens et al., 2007). Signal intraseluler,
menghasilkan lipolisis yang meningkat, produksi panas di otot skeletal, yang tergantung
pada produksi cAMP. Respon cAMP singkat saja, karena cAMP secara cepat didegradasi
oleh fosfodiesterase. Signal intraseluler dapat dipertahankan lebih lama dengan
menghambat fosfodiesterase dengan metilxantin, contohnya kafein (Belza et al., 2009).
Teh hijau selain mengandung catechin, juga mengandung kafein, yang menghambat
fosfodiesterase, dimana akan memperlama kerja cAMP di dalam sel, menghasilkan
peningkatan dan efek yang lebih lama dari norepinefrin pada termogenesis (Belza et al.,
2009). Fakta bahwa ekstrak teh hijau menstimulasi termogenesis tidak dapat dihubungkan
dengan kandungan kafein pada ekstrak teh hijau oleh karena efek termogenesis dari teh
hijau lebih besar dibandingkan kadar equivalen dari kafein. Dengan demikian teh hijau
yang mengandung catechin dan kafein bekerja pada jalur modulasi yang berbeda yang
saling sinergis menghasilkan efek antiobesitas (Diepvens et al., 2007).
Hasil penelitian ini juga didukung oleh pernyataan di beberapa penelitian yang
menyatakan bahwa EGCG dapat menghambat proliferasi adiposit dan mengurangi viabilitas
adiposit lewat aktivasi AMPK. AMPK merupakan target dari fungsi teh hijau sebagai anti obesitas.
Secara umum AMPK diaktivasi oleh berbagai rangsangan seperti olahraga, heat shock, dan ROS.
Aktivasi AMPK merupakan faktor penting dalam penghambatan adipogenesis oleh fitokimia
seperti EGCG (Moon et al., 2007).
Penyelidikan aksi antiobesitas dari EGCG telah difokuskan pada fakta bahwa
EGCG menurunkan absorbsi energi. Klaus et al tahun 2005 melaporkan bahwa kandungan
energi pada feces meningkat secara signifikan dengan suplementasi EGCG, dan jika dosis
ditingkatkan akan didapatkan kandungan energi pada feces juga mengalami peningkatan.
Dimana hal ini berarti dengan dosis lebih besar, semakin besar pula aksi EGCG sebagai anti
obesitas. Beberapa penelitian lainnya melaporkan bahwa teh hijau atau EGCG menghambat
absorbsi intestinal lipid dari diet dengan jalan mengganggu emulsifikasi dan solubilisasi
72
miselar dari lipid, yang merupakan langkah penting dalam absorbsi intestinal akan lemak
dari diet, kolesterol dan lipid lainnya (Lee et al., 2009).
Hasil penelitian ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan di luar negeri
yang melaporkan bahwa pemberian ekstrak teh hijau baik pada hewan coba ataupun
manusia menurunkan berat badan, mengurangi kadar lemak tubuh, dan meningkatkan
termogenesis serta oksidasi lemak (Klaus et al., 2005; Maki et al., 2009). Data yang didapat
dari hasil penelitian yang dilakukan di Indonesia juga menunjukkan hasil yang serupa,
yakni pemberian ekstrak teh hijau menurunkan berat badan, lingkar perut, dan persentase
lemak tubuh pada wanita obesitas (Adriani, 2010).
Konsumsi teh hijau untuk jangka waktu yang lama dapat bermanfaat terhadap
obesitas yang diakibatkan oleh diet tinggi lemak, diabetes mellitus tipe 2 dan dapat
mengurangi risiko dari penyakit jantung koroner (Maki et al., 2009 dan UMMC 2010).
Ekstrak teh hijau juga dilaporkan dapat menurunkan kadar lipid darah, merelaksasi otot
polos vaskular, meningkatkan pengeluaran energi dan oksidasi lemak. Lebih jauh lagi,
konsumsi minuman yang kaya akan catechin menunjukkan dapat mengurangi lemak tubuh,
kolesterol total dan tekanan darah sistolik pada subjek dengan obesitas lemak viseral.
Sehingga minuman yang kaya akan catechin dianggap bermanfaat untuk pencegahan dan
pengobatan gangguan kesehatan akibat pola hidup yang sedentari (Nagao et al., 2009).
Pada penelitian ini berat badan sesudah perlakuan (pemberian diet tinggi
karbohidrat dan lemak dan ekstrak teh hijau) menunjukkan kenaikan jika dibandingkan
dengan sebelum perlakuan, namun pada kelompok yang diberikan ekstrak teh hijau
(kelompok P1 dan P2), kenaikan berat badan lebih sedikit dibandingkan kelompok yang
mendapatkan plasebo (kelompok P0). Sementara itu berat lemak abdomen, yakni berat
lemak subkutan abdomen dan berat lemak viseral sesudah perlakuan menunjukkan
penurunan jika dibandingkan dengan sebelum perlakuan pada kelompok yang diberikan teh
hijau (kelompok P1 dan P2), pada kelompok yang diberikan plasebo (P0) justru terlihat
73
kenaikan berat lemak abdomen. Dari hasil penelitian ini dapat terlihat bahwa meskipun
berat lemak abdominal menunjukkan penurunan setelah diberikan perlakuan, seperti yang
terlihat pada kelompok P1 dan P2, data berat badan menunjukkan terdapat kenaikan pada
kedua kelompok ini. Kenaikan berat badan pada kedua kelompok ini dapat disebabkan oleh
menumpuknya lemak di jaringan subkutan lain selain abdomen serta di organ tubuh lain.
Dengan demikian diperlukan penelitian lain untuk mengetahui pengaruh ekstrak teh hijau
terhadap lemak di jaringan atau organ tubuh yang lain.
6.4 Penelitian tentang Peranan Ekstrak Teh Hijau dalam Pengaturan Berat Badan
Penggunaan ekstrak teh hijau untuk pengaturan berat badan didukung oleh berbagai
penelitian pada mencit dan tikus yang menunjukkan peningkatan berat badan yang lebih
sedikit jika ekstrak teh ditambahkan pada diet tinggi lemak (Fallon et al., 2008). Penelitian
pada tikus menunjukkan catechin pada teh menghasilkan peningkatan yang akut pada
oksidasi lemak dan mengurangi peningkatan berat badan yang disebabkan oleh diet tinggi
lemak (Maki et al., 2009). Beberapa penelitian pada mencit dan tikus menunjukkan bahwa
pemberian ekstrak teh hijau dapat menurunkan kenaikan berat badan dan berat lemak
tubuh. Pada 2005, dilaporkan bahwa terapi dengan menggunakan TEAVIGO, yaknin suatu
ekstrak teh hijau yang mengandung 94% EGCG and 0.1% kafein, secara bermakna dapat
menurunkan berat badan dan berat lemak tubuh pada berbagai hewan percobaan seperti
tikus dan mencit yang diberikan perlakuan berupa diet tinggi lemak. (Bose et al., 2008).
Mencit yang diberikan diet yang disuplementasikan dengan 0,2-0,5% EGCG selama 8
minggu secara signifikan berkurang berat badannya 14 atau 20% secara respektif, jika
dibandingkan dengan kelompok kontrol. EGCG dalam diet dapat mengurangi kenaikan
berat badan secara signifikan setelah intervensi 5 minggu jika dibandingkan kelompok yang
menerima diet tinggi lemak saja. Dalam periode ini tidak ada perbedaan masukan energi
untuk semua kelompok. Untuk memeriksa efek EGCG pada akumulasi lemak adiposa,
distribusi lemak dari 4 bantalan lemak individual diperiksa. Dibandingkan dengan
74
kelompok kontrol, suplementasi 0,5% EGCG secara signifikan mengurangi berat dari depot
adipose epididimal (berkurang 23%), subkutan (berkurang 65%), viseral (berkurang 45,5%)
dan retroperitoneal (34,8%) (Klaus et al., 2005).
Obesitas yang diinduksi pada mencit dengan diet tinggi lemak selama 4 minggu,
meningkatkan lemak tubuh sebanyak 200%. Namun pada kelompok perlakuan yang selain
mendapatkan diet tinggi lemak juga mendapatkan EGCG 0,5% dan 1% selama 4 minggu
pada dietnya, terbukti kadar lemak tubuhnya berkurang (Klaus et al., 2005). Pemberian
EGCG jangka pendek (3,2 g/kg selama 4 minggu) pada mencit berusia 3 bulan yang obese
oleh karena diet tinggi lemak (60% energi dalam bentuk lemak) mengurangi berat lemak
mesenterik dan glukosa darah jika dibandingkan kelompok kontrol yang hanya
mendapatkan diet tinggi lemak saja (Bose et al., 2008). Pemberian EGCG baik untuk
jangka pendek maupun jangka panjang memperbaiki ke keadaan semula kelainan/patologi
yang timbul oleh karena induksi lemak tinggi dan mengurangi pembentukan obesitas serta
gejala-gejala yang dihubungkan dengan sindrom metabolik, dan perlemakan hati (Bose et
al., 2008). Injeksi intraperitoneal dari EGCG (>98% murni), menyebabkan turunnya berat
badan secara akut pada tikus Sprague-Dawley jantan dan betina dalam 2-7 hari perlakuan.
EGCG juga secara signifikan mengurangi atau mencegah kenaikan berat badan pada tikus
Zucker jantan dan betina yang kurus dan obese. Dosis EGCG yang digunakan pada
awalnya 30-50mg/kg berat badan, namun setelah 1 minggu dibutuhkan dosis EGCG yang
lebih tinggi (sekitar 100mg/kg berat badan) untuk mengurangi atau mencegah kenaikan
berat badan. Turunnya berat badan ternyata reversibel, ketika pemberian EGCG dihentikan
maka binatang-binatang tersebut naik lagi berat badannya. Tikus Zucker yang diinjeksikan
EGCG 70-90 mg/kg berat badan/hari mengalami penurunan berat badan 10-13% dari berat
awalnya dan 25% dari tikus-tikus kontrol setelah 8 hari perlakuan. Turunnya berat badan
pada tikus-tikus yang diberikan EGCG dapat terjadi oleh karena berkurangnya masukan
makanan. Tikus Sprague-Dawley yang diberikan EGCG secara oral, mengkonsumsi
makanan 15% lebih sedikit dibandingkan kontrol dan mengalami penurunan 5% dari berat
75
badan awal. Tikus Sprague-Dawley dan Zucker yang diberikan EGCG lewat injeksi
peritoneal mengkonsumsi makanan 50-60% lebih sedikit dibandingkan kontrol (Kao et al.,
2000).
Data dari berbagai penelitian pada manusia terbatas, namun hasil-hasil yang ada
menunjukkan bahwa konsumsi catechin dari teh (375-612 mg /hari dari teh oolong, teh
hijau atau ekstrak teh hijau) dengan kafein sebesar 150-270 mg/hari dapat meningkatkan
pengeluaran energi 24 jam (Maki et al., 2009).
Catechin pada teh memiliki pengaruh pada komposisi tubuh manusia. Pada suatu
penelitian yang dilakukan pada pria dengan kelebihan berat badan, konsumsi catechin teh
dengan dosis 483 mg/hari dibandingkan dengan dosis lebih rendah (118,5 mg/hari)
dihubungkan dengan penurunan yang bermakna pada berat badan, lemak tubuh dan area
lemak viseral (Maki et al., 2009).
Pada penelitian yang dilakukan Maki et al pada tahun 2009 pada pria dan wanita
dengan kelebihan berat badan dan obese, ditunjukkan bahwa konsumsi minuman yang
mengandung catechin dari teh hijau (625 mg catechin / hari, yang mengandung 214 mg
EGCG) dapat meningkatkan berkurangnya lemak abdominal (yang diukur lewat Dual
energy X-ray absorptiometry (DXA) dan computed tomography (CT) scan abdomen) yang
digabungkan dengan olahraga serta memperbaiki kadar asam lemak bebas dan trigliserida
yang berada di sirkulasi (Maki et al., 2009).
Sebanyak 270 pria dan wanita Jepang berusia 25-55 tahun yang termasuk obesitas
tipe viseral dan memiliki pola hidup sedentari diberikan perlakuan selama 12 minggu
dengan minuman yang mengandung tinggi catechin, yakni
600 mg catechin/340 mL dan
70 mg kafein/340 mL, dibandingkan dengan kelompok kontrol yang mendapatkan dosis
100 mg of catechins/340 mL dan 70 mg of caffeine/340 mL. Pengaruh catechin dengan
dosis tinggi pada lemak tubuh hendak diperiksa, tanpa mengubah pola hidup subjek
perlakuan. Konsumsi minuman yang mengandung ekstrak teh hijau dengan kadar catechin
76
tinggi selama 12 minggu menghasilkan berkurangnya secara signifikan berat badan, IMT,
rasio lemak tubuh, massa lemak tubuh, lingkar pinggang, lingkar pinggul, area lemak total,
area lemak visceral, dan area lemak subkutan (Nagao, 2007).
Penelitian yang telah dilakukan memberikan hasil bahwa konsumsi catechin dari teh
untuk jangka waktu yang lama dapat bermanfaat untuk mengurangi obesitas yang
diakibatkan diet tinggi lemak yakni dengan cara memodulasi metabolisme lemak. Dengan
demikian teh hijau dapat mengurangi risiko timbulnya penyakit yang dihubungkan dengan
kelebihan lemak di tubuh, seperti diabetes dan penyakit jantung koroner (Crespy dan
Williamson, 2004).
6.5. Peranan Teh Hijau dalam Anti Aging Medicine
Dalam rentang usia kehidupan manusia, dapat muncul penyakit yang berhubungan
dengan pola hidup yang tidak sehat yang dapat dicegah dengan nutrisi alami. Teh hijau
adalah salah satu cara pencegahan penyakit yang paling praktis, seperti yang ditunjukkan
dari hasil berbagai penelitian in vitro dan in vivo, termasuk juga penelitian epidemiologis
(Sueoka et al., 2006). Teh adalah minuman yang paling banyak dikonsumsi di dunia setelah
air. Sebanyak 3 miliar kilogram teh diproduksi di seluruh dunia. Secara umum, teh yang
dikonsumsi adalah teh hijau, oolong, dan teh hitam, yang semuanya berasal dari daun-daun
tanaman Camelia sinensis. Dari sekian banyak varian teh, polifenol dari teh hijau adalah
yang paling banyak diteliti akan kegunaannya sebagai perlindungan dan pencegahan
terhadap penyakit kardiovaskular dan kanker (Kuriyama et al., 2006).
Selain hasil penelitian yang dilakukan pada hewan coba yang menunjukkan terdapat
hubungan antara konsumsi teh hijau dengan perlindungan terhadap inisiasi dan
terbentuknya kanker, penelitian epidemiologis telah mengkonfirmasi pengaruh pencegahan
teh hijau terhadap kanker dan penyakit yang berhubungan dengan pola hidup tidak sehat
pada manusia, seperti obesitas, hipertensi, hiperkolesterolemia, diabetes mellitus dan
penyakit kardiovaskular. Hasil dari penelitian kohort prospektif di Saitama Prefecture,
77
Jepang menyebutkan bahwa teh hijau memiliki pengaruh pencegahan terhadap penyakit
inflamasi kronik seperti rheumatoid arthritis dan multiple sclerosis serta penyakit yang
berhubungan dengan pola hidup tidak sehat termasuk penyakit kardiovaskular dan kanker,
menghasilkan perpanjangan rentang usia (Sueoka et al., 2006).
Penelitian kohort prospektif tersebut dilakukan pada sebanyak 8.552 individu di
kota Yoshimi di Saitama Prefecture, Jepang pada awal tahun 1986. Para responden dibagi
menjadi tiga kelompok tergantung pada konsumsi teh hijau sehari-hari : di bawah 3 cangkir,
4-9 cangkir, dan lebih dari 10 cangkir. Setelah pemantauan selama 11 tahun didapatkan
hasil individu yang mengkonsumsi lebih dari 10 cangkir teh hijau seharinya menunjukkan
penurunan risiko relatif akan kanker paru-paru, kolon, hati; risiko relatif akan kanker
lambung juga berkurang, namun tidak bermakna secara statistik. Selain pengaruh
pencegahan terhadap kanker, data-data dari penelitian tersebut menunjukkan hasil bahwa
konsumsi teh hijau berhubungan dengan penurunan total kolesterol serum, kadar
trigliserida, dan indeks atherogenik. Lebih jauh lagi, angka prevalensi penyakit
kardiovaskular dan diabetes mellitus secara bermakna lebih rendah pada populasi yang
mengkonsumsi lebih dari 10 cangkir teh hijau sehari. Oleh karena teh hijau nampaknya
membantu mencegah terjadinya kanker dan penyakit kardiovaskular, diabetes mellitus dan
penyakit yang berhubungan dengan pola hidup tidak sehat lainnya, maka pada penelitian ini
juga dibandingkan rata-rata usia kematian yang terjadi oleh karena penyebab apapun pada
konsumsi teh hijau.
Didapatkan hasil rata-rata usia kematian yang lebih tinggi pada
populasi yang mengkonsumsi teh hijau lebih banyak. Pada populasi wanita didapat hasil
populasi yang mengkonsumsi lebih dari 10 cangkir teh hijau sehari, rata-rata usia
kematiannya adalah 81 tahun, yakni 6 tahun lebih lambat dibandingkan populasi yang
mengkonsumsi teh hijau kurang dari 3 cangkir. Kecenderungan yang sama juga terjadi
pada populasi pria. Dari data ini jelas ditunjukkan bahwa konsumsi teh hijau mengurangi
risiko terjadinya penyakit yang berhubungan dengan pola hidup tidak sehat, yang akan
menambah usia harapan hidup (Sueoka et al., 2006).
78
Sebuah penelitian lain yang dilakukan di Miyagi Prefecture, Jepang, hendak meneliti pula
hubungan antara konsumsi teh hijau dan kematian akan penyebab apapun, kardiovaskular dan
kanker dalam populasi besar yakni sebanyak 40.530 orang. Di Miyagi Prefecture ini teh hijau secara
luas dikonsumsi, sebanyak 80% populasi mengkonsumsi teh hijau setiap hari, dan lebih dari 50%
dari populasi mengkonsumsi lebih dari 3 cangkir per hari. Penelitian kohort prospektif ini
menunjukkan hasil yang bermakna bahwa terdapat hubungan berbanding terbalik antara
konsumsi teh hijau dan kematian akan penyebab apapun dan kematian akibat penyakit
kardiovaskular. Dibandingkan responden yang mengkonsumsi kurang dari 1 cangkir teh hijau per
hari, mereka yang mengkonsumsi lebih atau sama dengan 5 cangkir per harinya memiliki risiko
kematian akan penyebab apapun dan kardiovaskular lebih rendah 16% (dalam pemantauan 11
tahun) dan 26% (dalam pemantauan 7 tahun). Berbeda dengan penelitian yang dilakukan di
Saitama Prefecture, pada penelitian ini tidak didapatkan hubungan antara konsumsi teh hijau
dengan kematian akibat kanker (Kuriyama et al., 2006).
Penelitian-penelitian yang telah ada sebelumnya menyatakan teh hijau bermanfaat bagi
penderita hipertensi dan obesitas dalam menurunkan risiko penyakit kardivaskular. Namun pada
penelitian yang dilaukan di Miyagi Prefecture ini menunjukkan hasil bahwa hubungan berbanding
terbalik antara konsumsi teh hijau dan kematian akibat penyakit kardivaskular juga terlihat pada
responden yang langsing dan mereka yang tidak memiliki risiko hipertensi (Kuriyama et al., 2006).
Penelitian yang dilakukan oleh Sato et al tahun 1989 menunjukkan hubungan berbanding
terbalik antara konsumsi teh hijau dan kematian akibat stroke pada 5.910 partisipan dalam 4
tahun penelitian. Terdapat pula laporan oleh Nakachi et al tahun 2000 yang menyatakan
hubungan antara meningkatnya konsumsi teh hijau dan penurunan yang bermakna akan risiko
kematian akibat penyakit kardivaskular pada 8.552 individu dalam pemantauan 11-13 tahun.
Penelitian yang dilakukan oleh Nakachi et al ini juga menunjukkan konsumsi teh hijau
berhubungan dengan berkurangnya kematian akibat kanker (Kuriyama et al., 2006).
Polifenol dari teh hijau, terutama (-)-epigallocatechin-3-gallate (EGCG), merupakan zat
aktif yang dipercaya berhubungan dengan berkurangnya kematian akibat penyebab apapun dan
akibat penyakit kardiovaskular serta akibat kanker. Sejumlah mekanisme biologis dari EGCG telah
79
disebutkan diantaranya termasuk aktivitas anti oksidan dan “menangkap” radikal bebas (Kuriyama
et al., 2006) serta pengaruh inhibisi pada ekspresi gen Tumor Necrosis Factor – Alfa (TNF – α),
dimana TNF-α ini dikenal sebagai mediator penyakit inflamasi kronik seperti rheumatoid athritis
dan multiple sclerosis (Sueoka et al., 2006).
Berbeda dengan konsumsi teh hijau, konsumsi teh oolong dan teh hitam tidak
memiliki atau memiliki hubungan yang lemah dengan angka kematian. Perbedaan ini dapat
disebabkan oleh kandungan zat aktif yang lebih banyak terdapat pada teh hijau, dimana zat
aktif ini memainkan peran dalam pengaruh perlindungan teh hijau terhadap kematian
(Kuriyama et al., 2006).
Penyakit kardiovaskular dan kanker adalah dua penyebab kematian terbesar di
dunia. Dari hasil berbagai penelitian yang telah dilakukan disebutkan konsumsi teh hijau
dapat memberikan perlindungan terhadap kematian akibat penyakit kardiovaskular dan
kanker, dan bahkan juga dapat mencegah timbulnya penyakit-penyakit lain yang
berhubungan dengan pola hidup tidak sehat, termasuk hipertensi, diabetes mellitus, dan
obesitas (Sueoka et al., 2006).
Obesitas sendiri merupakan faktor risiko dari berbagai penyakit ko-morbid lainnya
seperti hipertensi, diabetes mellitus, hiperkolesterolemia, penyakit jantung koroner, dan lain
sebagainya (Turk et al., 2009). Sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis,
yang didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Klaus (2005), Bose (2008) dan Maki
(2009), didapatkan bahwa konsumsi ekstrak teh hijau dapat menurunkan kenaikan berat
badan serta menurunkan penumpukan lemak abdominal, baik lemak viseral ataupun
subkutan abdomen. Sehingga dengan turunnya berat badan dan berkurangnya penumpukan
lemak viseral khususnya dan lemak subkutan abdomen, terjadinya obesitas dapat dicegah
atau dikurangi, maka risiko terjadinya penyakit-penyakit ko-morbid obesitas pun juga dapat
dicegah atau dikurangi.
Konsumsi teh hijau dapat berkontribusi untuk memperpanjang usia harapan hidup
manusia dan menjaga kualitas hidup tetap optimal (Kuriyama et al., 2006). Dengan
80
demikian konsumsi ekstrak teh hijau merupakan suatu langkah anti-aging medicine dalam
mencegah, menghambat bahkan memperlambat proses penuaan. Diharapkan lewat antiaging medicine ini, masyarakat dapat hidup lebih sehat, memiliki kualitas hidup yang lebih
baik, serta usia harapan hidup yang lebih panjang.
Gambar 6.1 Lemak Omentum Kelompok Kontrol
81
Gambar 6.2 Lemak Omentum Kelompok Perlakuan 1
Gambar 6.3 Lemak Omentum Kelompok Perlakuan 2
Gambar 6.4 Lemak Mesenterik Kelompok Kontrol
82
Gambar 6.5 Lemak Mesenterik Kelompok Perlakuan 1
Gambar 6.6 Lemak Mesenterik Kelompok Perlakuan 2
83
Gambar 6.7 Lemak Subkutan Abdomen Kelompok Kontrol
Gambar 6.8 Lemak Subkutan Abdomen Kelompok Perlakuan 1
Gambar 6.9 Lemak Subkutan Abdomen Kelompok Perlakuan 2
84
BAB VII
SIMPULAN DAN SARAN
7.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian pemberian ekstrak teh hijau pada tikus wistar jantan
didapatkan simpulan sebagai berikut:
1. Konsumsi ekstrak teh hijau dapat menurunkan kenaikan berat badan pada tikus
jantan yang diberi diet tinggi karbohidrat dan lemak.
2. Konsumsi ekstrak teh hijau dapat menurunkan berat lemak subkutan abdomen pada
tikus jantan yang diberi diet tinggi karbohidrat dan lemak.
3. Konsumsi ekstrak teh hijau dapat menurunkan berat lemak viseral abdomen pada
tikus jantan yang diberi diet tinggi karbohidrat dan lemak.
4. Semakin besar dosis ekstrak teh hijau, semakin besar pengaruhnya dalam
menurunkan berat badan dan berat lemak abdominal.
7.2 Saran
Sebagai saran dalam penelitian ini adalah:
1.
Perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui dosis optimal ekstrak teh hijau
terhadap penurunan berat badan dan berat lemak abdomen.
2.
Konsumsi ekstrak teh hijau mengandung EGCG 30% dosis 800 mg atau 1600 mg
dapat digunakan untuk menurunkan berat badan dan berat lemak abdominal.
Oleh karena salah satu mekanisme kerja ekstrak teh hijau dalam menurunkan berat badan
dan berat lemak abdominal adalah dengan aktivasi sistem saraf simpatis, yakni
memperlama waktu kerja norepinefrin, maka penderita hipertensi diharapkan lebih berhatihati dan merujuk ke dokter atau ahli gizi jika akan mengkonsumsi ekstrak teh hijau
DAFTAR PUSTAKA
82
85
Adriani, F. 2010. Pemberian Ekstrak Teh Hijau Menurunkan Berat Badan, Lingkar Perut,
dan Prosentase Lemak Tubuh pada Wanita Obesitas. Tesis Program Magister
Program Studi Ilmu Biomedik Program Pascarsarjana Universitas Udayana,
Denpasar.
Ahima, R.S. 2009. Connecting obesity, aging and diabetes. Nature Medicine 15, 996-997.
Available from : http://www.nature.com/nm/journal/v15/n9/full/nm.2014.html.
Accesed January 17th, 2011
Atmarita. 2005. Nutrition Problems in Indonesia. The article for An Integrated
International Seminar and Workshop on Lifestyle – Related Diseases. Gajah Mada
University,
19
–
20
March,
2005.
Available
from:
http://www.gizi.net/download/nutrition%20problem%20in%20Indonesia.pdf.
Accesed November 3rd, 2010.
Belza, A., Toubro, S., Astrup, A. 2009. The effect of caffeine, green tea and tyrosine on
thermogenesis and energy intake. European Journal of Clinical Nutrition 63, 57-64.
Macmillan Publishers Limited. Available from: http://proquest.umi.com/pqdweb?
index=2&did=1622618041&SrchMode=1&sid=3&Fmt=6&VInst=PROD&VType=P
QD&RQT=309&VName=PQD&TS=1296616266&clientId=74186.
Accesed
:
st
February 1 , 2011.
Bose, M., Lambert, J.D., Ju, J., Reuhl, K.R., Shapses, S.A., Yang, C.S. 2008. The Major
Green Tea Polyphenol, (-)-Epigallocatechin-3-Gallate, Inhibits Obesity, Metabolic
Syndrome, and Fatty Liver Disease in High-Fat–Fed Mice. The Journal of Nutrition.
138 (9): 1677. Available from: http://jn.nutrition.org/cgi/reprint/138/9/1677.
Accesed October 14th, 2010.
Byles, J. 2009. Obesity: The new global threat to healthy ageing and longevity. Volume:
18, Issue: 4 Ageing, Anti-ageing and Globalization: Transitions and limits in the
governance of ageing. Available from : http://hsr.econtentmanagement.com/archives/vol/18/issue/4/article/3200/obesity. Accesed
January 17th, 2011
Chacko, S., Thambi, P., Kuttan, R., Nishigaki, I. 2010. Beneficial effects of green tea: A
literature
review.
Chinese
Medicine.
5:
13.
Available
from:
86
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2855614/pdf/1749-8546-5-13.pdf.
Accesed October 12th, 2010.
Crespy, V. and Williamson, G. 2004. A Review of the Health Effects of Green Tea Catechins
in In Vivo Animal Models. The Journal of Nutrition. 134 (12): 3431S-3440S.
Available
from:
http://jn.nutrition.org/cgi/reprint/134/12/3431S?
maxtoshow=&hits=10&RESULTFORMAT=&searchid=1&FIRSTINDEX=0&minsc
ore=5000&resourcetype=HWCIT. Accesed October 12th, 2010.
Diepvens, K., Westerterp, K.R., Westerterp-Platenga, M.S. 2007. Obesity and
thermogenesis related to the consumption of caffeine, ephedrine, capsaicin, and
green tea. AJP - Regu Physiol January 2007 vol. 292 no. 1 R77-R85. Available from
: http://ajpregu.physiology.org/content/292/1/R77.full. Accesed January 20th, 2011.
Fallon, E., Zhong, L., Furne, J.K., Levitt., M.D. 2008. A Mixture of Extracts of Black and
Green Teas and Mulberry Leaf Did Not Reduce Weight Gain in Rats Fed a High-fatDiet. Alternative Medicine Review. Voulme 13, Number 1. Available from:
http://www.thorne.com/altmedrev/.fulltext/13/1/43.pdf. Accesed October 14th, 2010.
Huffman, D.M and Barzilai, N. 2009. Role of Visceral Adipose Tissue in Aging. Biochim Biophys Acta
1790(10): 1117–1123. Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2779572/?tool=pubmed. Accessed
November 19th, 2010.
Kao, Y.H., Hiipakka, R.A., Liao, S. 2000. Modulation of obesity by a green tea catechin.
American Journal of Clinical Nutrition, Vol. 72, No. 5, 1232-1233. Available from :
http://www.ajcn.org/content/72/5/1232.full. Accessed January 20th, 2011.
Klaus, S., Pültz, S., Thöne-Reineke, C., Wolfram, S. 2005. Epigallocatechin gallate attenuates dietinduced obesity in mice by decreasing energy absorption and increasing fat oxidation. Int J
Obes (Lond). 29(6):615-23. Available from: http://proquest.umi.com/pqdweb?
index=200&did=971699171&SrchMode=1&sid=1&Fmt=6&VInst=PROD&VType=PQD&RQT=
309&VName=PQD&TS=1288336313&clientId=74186. Accesed October 30th, 2010
Klein, S. 2010. Is Visceral Fat Responsible for the Metabolic Abnormalities Associated
With Obesity? Implications of omentectomy. Diabetes Care Vol. 33 No. 7:16931694. Available from: http://care.diabetesjournals.org/content/33/7/1693.long.
Accessed November 18th, 2010.
87
Kluwer, W. 2009. Green Tea. Wolter Kluwers Health. Drugs Information Online. Available
from : http://www.drugs.com/npc/green-tea.html. Accessed February 22nd, 2011.
Kuriyama, S., Shimazu, T., Ohmori, K., Kikuchi, N., Nakaya, N., Nishino, Y., Tsubono, Y.,
Tsuji, I. 2006. Green Tea Consumption and Mortality Due to Cardiovascular Disease,
Cancer, and All Causes in Japan. JAMA 2006, 296 (10) : 1255-1265. Available
from : http://jama.ama-assn.org/content/296/10/1255.full. Accesed May 4th 2011.
Lee, M.K., Kim, C.T., Kim, Y.H. 2009. Green Tea (–)-Epigallocatechin-3-Gallate Reduces
Body Weight with Regulation of Multiple Genes Expression in Adipose Tissue of
Diet-Induced Obese Mice. Ann Nutr Metab. 54:151–157. Available from:
http://proquest.umi.com/pqdweb?
index=3&did=1722580181&SrchMode=1&sid=2&Fmt=6&VInst=PROD&VType=P
QD&RQT=309&VName=PQD&TS=1288367643&clientId=74186.
Accesed
October 29th, 2010.
Levy, Y. 2010. It's not only the Overweight: It's the Visceral Fat. IMAJ Vol 12. Available
from : http://www.ima.org.il/imaj/ar10apr-10.pdf. Accesed November 18th, 2010.
Maki, K.C., Reeves, M.S., Farmer, M., Yasunaga, K., Matsuo, N., Katsuragi, Y., Komikado,
M., Tokimitsu, I., Wilder, D., Jones, F., Blumberg, J.B., Cartwright, Y. 2009. Green
Tea Catechin Consumption Enhances Exercise-Induced Abdominal Fat Loss in
Overweight and Obese Adults. Journal of Nutrition. Vol. 139, No. 2, 264-270.
Available from : http://jn.nutrition.org/cgi/reprint/139/2/264. Accesed October 14th,
2010.
McPhee, S.J and Ganong, W.F. 2005. Pathophysiology of diseases : An introduction to
Clinical Medicine 5th edition. International ed. Lange. Halaman 391-408,554-556.
Molina, P.E. 2006. Lange physiology series, endocrine physiology. International edition.
2nd
edition.
McGraw
Hill.
Halaman
247-262.
Monteiro, R., Assuncao, M., Andrade, J.P., Neves, D., Calhau, C., Azevedo, I. 2008.
Chronic Green Tea Consumption Decreases Body Mass, Induces Aromatase
Expression, and Changes Proliferation and Apoptosis in Adult Male Rat Adipose
Tissue. The Journal of Nutrition. 138 (11): 2156-2163. Available from:
http://jn.nutrition.org/cgi/reprint/138/11/2156. Accesed October 12th, 2010.
Moon, H.S., Chung, C.S., Lee, H.G., Kim, T.G., Choi, Y.J., Cho, C.S. 2007. Inhibitory
Effect of (- )-Epigallocatechin-3-Gallate on Lipid Accumulation of 3T3-L1 Cells.
88
Obesity
(2007)
15
:
2571-2582.
Available
from
:
http://www.nature.com/oby/journal/v15/n11/full/oby2007309a.html. Accesed April
11th 2011.
Nagao, T., Hase, T., Tokimitsu, I. 2007. A Green Tea Extract High in Catechins
Reduces Body Fat and Cardiovascular Risks in Humans. Obesity (2007) 15, 1473–
1483. Available from :
http://www.nature.com/oby/journal/v15/n6/full/oby2007176a.html. Accessed
January 17th , 2011.
Nagao, T., Meguro, S., Hase, T., Otsuka, K., Komikado, M., Tokimitsu, I., Yamamoto, T.,
Yamamoto, K. 2009. A Catechin-rich Beverage Improves Obesity and Blood
Glucose Control in Patients With Type 2 Diabetes. Obesity (2009) 17 2, 310–317.
Available from :
http://www.nature.com/oby/journal/v17/n2/full/oby2008505a.html. Accessed January
17th, 2011.
Nagle, D.G., Ferreira, D., Zhou, Y.D. 2006. Epigallocatechin-3-gallate (EGCG): Chemical
and biomedical perspectives. Phytochemistry. 67(17): 1849–1855. Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2903211/pdf/nihms-216834.pdf.
Accesed October 11th, 2010.
Olshansky, S.J., Passaro, D.J., Hershow, R.C., Layden, J., Carnes, B.A., Brody, J., Hayflick,
L., Butler, R.N., Allison, D.B., Ludwig, D.S. 2005. A Potential Decline in Life
Expectancy in the United States in the 21st Century. N Engl J Med 2005; 352:11381145. Available from : http://www.nejm.org/doi/pdf/10.1056/NEJMsr043743. Accesed
January 17th, 2011.
Pangkahila, W. 2007. Anti Aging Medicine: Memperlambat Penuaan Meningkatkan
Kualitas Hidup. Penerbit buku Kompas. Halaman 94-99.
Popkin, B.M. 2005. Global nutrition dynamics: the world is shifting rapidly toward a diet
linked with noncommunicable diseases. American Journal of Clinical Nutrition, Vol.
84, No. 2, 289-298. Available from : http://www.ajcn.org/content/84/2/289.full?
sid=c587e903-7369-4a7e-a348-a1c7ed678643. Accessed January 17th , 2011.
89
Riemersma, R.A., Riceā€Evans, C.A., Tyrrell, R.M., Clifford, M.N., Lean, M.E.J. 2001. Tea
Flavonoids and Cardiovascular Health. QJM. 94 (5): 277-282. Available from:
http://qjmed.oxfordjournals.org/content/94/5/277.full. Accesed October 14th, 2010.
Sarma, D.N., Barrett, M.L., Chavez, M.L., Gardiner, P. 2008. Safety of Green Tea Extracts:
A Systematic Review by the US Pharmacopeia. Drug Safety. Auckland. Vol. 31, Iss.
6;
pg.
469.
Available
from:
http://proquest.umi.com/pqdweb?
index=0&sid=3&srchmode=1&vinst=PROD&fmt=4&startpage=1&vname=PQD&did=1525118521&scaling=FULL&pmid=86204&vtype=PQD&fil
einfoindex=%2Fshare3%2Fpqimage%2Fpqirs101v
%2F201011010414%2F57660%2F5043%2Fout.pdf&source=
%24source&rqt=309&TS=1288599299&clientId=74186. Accesed November 1st ,
2010
Setyamidjaja, D. 2000. Teh, Budidaya dan Pengolahan Pasca Panen. Kanisius.
Yogyakarta.
Shrubsole, M.J. 2009. Drinking Green Tea Modestly Reduces Breast Cancer Risk. The
Journal
of
Nutrition.
139(2):
310–316.
Available
from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2646205/. Accesed October 11th,
2010.
Stein, Rob. 2005. Obesity May Stall Trend of Increasing Longevity. The Washington Post,
March 17, 2005, Page A02. Available from:
http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/articles/A41324-2005Mar16.html. Accesed
January 18th , 2011.
Sueoka, N., Suganuma, M., Okabe, S., Matsuyama, S., Imai, K., Nakachi, K., Fujiki, H. 2006. A New
Function of Green Tea : Prevention of Lifestyle-related Disease. Annals of the New York
Academy
of
Sciences.
Volume
928.
Article
1.
Available
from:
http://www.numen.com.tw/img/record/20090306103419.pdf. Accesed May 4th, 2011.
Thierney Jr, L.M., McPhee, S.J., Papadakis, M.A. 2005. Obesity. 2005 Lange Current Medical
Diagnosis and Treatment. 44th Edition. McGraw Hill.
Turk, M.W., Yang, K., Hravnak, M., Sereika, S.M., Ewing, L.J., Burke, L.E. 2009.
Randomized Clinical Trials of Weight-Loss Maintenance: A Review. J Cardiovasc
90
Nurs.
24(1):
58–80.
Available
from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2676575/pdf/nihms100183.pdf.
Accesed October 11th , 2010.
Ullmann, U., Haller, J., Decourt, J.P., Girault, N., Girault, J., Richard-Caudron, A.S.,
Pineau, B., Weber, P. 2003. A Single Ascending Dose Study of Epigallocatechin
Gallate in Healthy Volunteers. The Journal of International Medical Research; 31 :
88-101.
Available
from
:
http://docserver.ingentaconnect.com/deliver/connect/field/03000605/v31n2/s5.pdf?
expires=1298307348&id=61331328&titleid=75001442&accname=Guest+User&che
cksum=A0829EEB978A4587D90558479E12758D. Accessed February 22nd, 2011.
University of Maryland Medical Center (UMMC). 2010. Green Tea. Available at:
http://www.umm.edu/altmed/articles/green-tea-000255.htm. Accesed October 11th ,
2010.
Velayutham, P., Babu, A., Liu, D. 2008. Green Tea Catechins and Cardiovascular Health:
An Update. Curr Med Chem. 15(18): 1840–1850. Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2748751/pdf/nihms145237.pdf.
Accesed October 11th , 2010.
Wajchenberg, B.L., 2000. Subcutaneous and Visceral Adipose Tissue: Their Relation to
the Metabolic Syndrome, Endocrine Reviews 21 (6):697-738. Available from :
http://edrv.endojournals.org/cgi/content/full/21/6/697. Accesed November 18th ,
2010.
Wikipedia. 2011. Overweight. Available at : http://en.wikipedia.org/wiki/Overweight.
Accessed January 10th , 2011.
Wilborn, C., Beckham, J., Campbell, B., Harvey, T., Galbrath, M., La Bounty, P., Nassar,
E., Wismann, J.,Kreider, R. 2005. Obesity: Prevalence, Theories, Medical
Consequences, Management, and Research Directions. Journal of the International
Society
of
Sports
Nutrition.
2(2):
4–31.
Available
from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2129146/pdf/1550-2783-2-2-4.pdf.
Accesed October 11th , 2010.
Wolfram, S., Raederstorff, D., Wang, Y., Teixeira, S.R., Elste, V., Weber, P. 2005. TEAVIGO
(epigallocatechin gallate) supplementation prevents obesity in rodents by reducing adipose
91
tissue
mass.
Ann
Nutr
Metab.
49(1):54-63.
Available
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15735368. Accesed October 29th, 2010.
World
from:
Health Oganization. 2003. Obesity and Overweight. Available at :
http://www.who.int/dietphysicalactivity/media/en/gsfs_obesity.pdf. Accesed October
11th, 2010.
92
Lampiran 1. TABEL KONVERSI PERHITUNGAN DOSIS
(LAURENCE & BACHARACH, 1964)
Mencit
20 gr
Tikus
200 gr
Marmot
400 gr
Kelinci
1,5 kg
Kucing
2 kg
Kera
4 kg
Anjing
12 kg
Manusia
70 kg
Mencit
20 gr
1.0
Tikus
200 gr
7.0
Marmot
400 gr
12.25
Kelinci
1,5 kg
27.8
Kucing
2 kg
29.7
Kera
4 kg
64.1
Anjing
12 kg
124.2
Manusia
70 kg
387.9
0.14
1.0
1.74
3.9
4.2
9.2
17.8
56.0
0.08
0.57
1.0
2.25
2.4
5.2
10.2
31.5
0.04
0.25
0.44
1.0
1.08
2.4
4.5
14.2
0.03
0.23
0.41
0.92
1.0
2.2
4.1
13.0
0.016
0.11
0.19
0.42
0.45
1.0
1.9
6.1
0.008
0.06
0.1
0.22
0.24
0.52
1.0
3.1
0.0026
0.018
0.031
0.07
0.076
0.16
0.32
1.0
Lampiran 2
Uji Normalitas Data
93
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova
Viseral Post
Kelompok
Kontrol
Subkutan Post
Perlakuan 1
Perlakuan 2
Kontrol
Berat Badan Pre
Perlakuan 1
Perlakuan 2
Kontrol
Berat Badan Post
Perlakuan 1
Perlakuan 2
Kontrol
Perlakuan 1
Perlakuan 2
a. Lilliefors Significance Correction
Statistic
df
Shapiro-Wilk
Sig.
Statistic
*
df
Sig.
.260
.272
.183
.323
6
6
6
6
.200
.188
.200*
.050
.830
.774
.942
.756
6
6
6
6
.107
.114
.674
.133
.188
.216
6
6
.200*
.200*
.902
.869
6
6
.388
.224
.146
.342
.312
.318
6
6
6
6
.200*
.027
.069
.057
.988
.780
.767
.824
6
6
6
6
.985
.139
.229
.096
.153
.199
6
6
.200*
.200*
.957
.869
6
6
.794
.221
*. This is a lower bound of the true significance.
Lampiran 3
Uji Homogenitas dan One Way ANOVA
94
Descriptives
N
Viseral
Post
Kontrol
Perlakuan 1
Perlakuan 2
Total
Subkutan Kontrol
Post
Berat
Badan
Pre
Berat
Badan
Post
6
6
6
18
Std.
Mean Deviation
.7633
.26417
.4917
.21245
.2183
.09806
.7578
.62718
Std.
Error
.10785
.08673
.04003
.14783
95% Confidence
Interval for Mean
Lower
Upper
Minimu Maximu
Bound
Bound
m
m
1.2861
1.8406
1.14
1.78
.2687
.7146
.22
.67
.1154
.3212
.08
.34
.4459
1.0697
.08
1.78
6 2.7550
.22535 .37777
1.7839
3.7261
2.09
4.55
Perlakuan 1
Perlakuan 2
Total
Kontrol
6 1.4233
6 .6933
18 1.6239
.22993 .09387
.15616 .06375
.20271 .24106
1.1820
.5295
1.1153
1.6646
.8572
2.1325
1.17
.54
.54
1.71
.98
4.55
6 125.33
2.733
1.116
122.47
128.20
121
129
Perlakuan 1
Perlakuan 2
Total
Kontrol
6 124.83
6 125.67
18 125.28
2.563
1.506
2.218
1.046
.615
.523
122.14
124.09
124.17
127.52
127.25
126.38
120
124
120
127
127
129
6 165.33
4.274
1.745
160.85
169.82
160
170
Perlakuan 1
Perlakuan 2
Total
6 157.17
6 152.50
18 158.33
2.483
2.258
6.202
1.014
.922
1.462
154.56
150.13
155.25
159.77
154.87
161.42
153
150
150
160
155
170
Test of Homogeneity of Variances
Viseral Post
Subkutan Post
Berat Badan Pre
Berat Badan Post
Levene Statistic
3.951
2.933
.452
2.826
df1
df2
2
2
2
2
15
15
15
15
Sig.
.062
.084
.645
.091
95
ANOVA
Sum of
Squares
Viseral Post
Between
Groups
Within Groups
Total
Subkutan Post
Between
Groups
Within Groups
Total
Berat Badan Pre Between
Groups
Within Groups
Total
Berat Badan
Post
Between
Groups
Within Groups
Total
Post Hoc Tests
df
Mean Square
6.064
2
3.032
.042
.623
15
6.687
17
13.113
2
6.557
.311
4.668
15
17.781
17
2.111
2
1.056
81.500
15
5.433
83.611
17
506.333
2
253.167
147.667
15
9.844
654.000
17
F
Sig.
73.042
.000
21.071
.000
.194
.825
25.717
.000
96
Multiple Comparisons
LSD
Dependent
Variable
Viseral Post
Mean
(I)
Difference
Kelompok (J) Kelompok
(I-J)
Kontrol
Perlakuan 1
1.07167*
Std.
Error
Sig.
95% Confidence Interval
Lower
Upper
Bound
Bound
.11763
.000
.8209
1.3224
Perlakuan 2
Perlakuan Kontrol
1
Perlakuan 2
Perlakuan Kontrol
2
Perlakuan 1
Subkutan Post Kontrol
Perlakuan 1
1.34500*
-1.07167*
.27333*
-1.34500*
-.27333*
.11763
.11763
.11763
.11763
.11763
.000
.000
.035
.000
.035
1.0943
-1.3224
.0226
-1.5957
-.5241
1.5957
-.8209
.5241
-1.0943
-.0226
1.33167*
.32206
.001
.6452
2.0181
Perlakuan 2
Kontrol
Perlakuan 2
Kontrol
Perlakuan 1
Perlakuan 1
*
2.06167
-1.33167*
.73000*
-2.06167*
-.73000*
.32206
.32206
.32206
.32206
.32206
.000
.001
.039
.000
.039
1.3752
-2.0181
.0435
-2.7481
-1.4165
2.7481
-.6452
1.4165
-1.3752
-.0435
8.167*
1.811
.000
4.31
12.03
*
1.811
1.811
1.811
1.811
1.811
.000
.000
.021
.000
.021
8.97
-12.03
.81
-16.69
-8.53
16.69
-4.31
8.53
-8.97
-.81
Berat Badan
Post
Perlakuan
1
Perlakuan
2
Kontrol
Perlakuan 2
12.833
Perlakuan Kontrol
-8.167*
1
Perlakuan 2
4.667*
Perlakuan Kontrol
-12.833*
2
Perlakuan 1
-4.667*
*. The mean difference is significant at the 0.05 level.
Lampiran 4
Uji Kruskal-wallis Data Berat Lemak Subkutan dan Viseral Pre
97
N
Subkutan Kontrol
Pre
Perlakuan 1
Perlakuan 2
Total
Viseral Kontrol
Pre
Perlakuan 1
Perlakuan 2
Total
Subkutan Pre
Viseral Pre
2
2
2
6
2
2
2
6
Ranks
kelompok
Kontrol
Perlakuan 1
Perlakuan 2
Total
Kontrol
Perlakuan 1
Perlakuan 2
Total
Std.
Mean Deviation
1.1850
.12021
1.3800
.04243
1.2550
.16263
1.2733
.12785
.5000
.07071
.5300
.05657
.5100
.01414
.5133
.04320
N
2
2
2
6
2
2
2
6
Std.
Error
.08500
.03000
.11500
.05220
.05000
.04000
.01000
.01764
Mean Rank
2.00
5.00
3.50
Test Statisticsa,b
Subkutan Post Viseral Post
Chi-Square
2.571
.286
df
2
2
Asymp. Sig.
.276
.867
a. Kruskal Wallis Test
3.00
4.00
3.50
95% Confidence
Interval for Mean
Lower
Upper
Bound
Bound
.1050
2.2650
.9988
1.7612
-.2062
2.7162
1.1392
1.4075
-.1353
1.1353
.0218
1.0382
.3829
.6371
.4680
.5587
98
Test Statisticsa,b
Subkutan Post Viseral Post
Chi-Square
2.571
.286
df
2
2
Asymp. Sig.
.276
.867
b. Grouping Variable: kelompok
Download