Broadband Access Network

advertisement
BROADBAND
ACCESS NETWORK
Definisi
• Jaringan Akses (access network): Jaringan transmisi
antara sentral lokal dan terminal pelanggan
• Jaringan Lokal Akses adalah saluran yang
menghubungkan antara sentral (Access Node) dengan
pesawat terminal (End User) pada wilayah tertentu.
MODEL REFERENSI JARINGAN AKSES
TMN
Q3-T SNI
SN
Keterangan:
AN
SN
UN
TMN
SNI
UNI
Q3-T
Interface
Q3-T
AN
UNI
UN
: Access Network
: Service Node
: User Node
: Telecommunication Management Network
: Service Node Interface
: User Network Interface
: Q3 Telkom / Network Management
Antara Service Node dan jaringan akses menggunakan interface layanan (SNI) dan
antara jaringan akses dan User Node menggunakan interface pengguna (UNI)
Fungsi AN (spesifik)
•
•
•
•
•
UPF (User Port Function)
CF (Core Function)
TF (Transmission Function)
SPF (Service Port Function)
AN-SMF (AN System Management Function)
Pemodelan Jaringan Akses
Review
Pemodelan Jaringan Akses (1)
• Telekomunikasi merupakan proses switching, transmisi dan jaringan
(trunk dan akses).
• Jaringan Akses menghubungkan LE (Local Exchange) dengan
pelanggan.
• Fungsi mentransmisikan service ke pelanggan.
Review
Pemodelan Jaringan Akses (2)
• Ruang Lingkup untuk semua peralatan dan media transmisi antara SN
(Service Node) dan Subscriber Terminal.
• Tidak Berbatas pada tipe dan jumlah UNI dan SNI dalam jaringan.
Review
Pemodelan Jaringan Akses (3)
•
•
•
•
User  AN via UNI
AN  SN via SNI
AN dan SN  TMN via Q3
Maka . . . AN = UNI, SNI dan Q3
Teknologi Access Network
1.
Berbasis Copper (Jarlokat)
_ Jarlokat Murni
- Jarlokat + xDSL
2.
Berbasis Fiber optic(Jarlokaf)
- MSOAN/OAN
- Metro Access Network (Ethernet)
3.
4.
Berbasis HFC
Berbasis Radio/Wireless(Jarlokar)
-
WLL
Fixed Wireless
5. Hybrid Access
• Berbagai teknologi jaringan akses
Satellite
Public
switch
Subscriber
Concentration
Distribution point
Copper (n pairs)
ir
r pa
Fiber
Coax.
Coax.
Fiber
pe
Cop
CP /
DP
Microwave
Fixed
Radio
RBS
Radio
base station
Distribution Network
Access Network
Konfigurasi AN Berdasarkan
Teknologi Media Transmisi
• Meliputi konfigurasi :
– Jaringan akses berbasis kabel (wireline access)
– Jaringan akses berbasis radio (wireless access)
Serat Optik vs Tembaga
Kisaran Frekuensi
Redaman
Delay
Jarak Antar
Repeater
Twisted pair (dengan
loading)
0 – 3,5 kHz
0,2 dB/km pada 1 kHz
50 s/km
2 km
Twisted pair (kabel multipair)
0 – 1 MHz
3 dB/km pada 1 kHz
5 s/km
2 km
Kabel koaksial
0 – 500 MHz
7 dB/km pada 10 MHz
4 s/km
1 – 9 km
Serat optik
180 – 370 THz
0,2 – 0,5 dB/km
5 s/km
40 km
Jarlokat
Jarlokat adalah jaringan akses yang konfigurasinya dimulai
dari terminal blok vertikal sampai pada kotak terminal batas
dan menggunakan tembaga sebagai media aksesnya.
Dimana :
1.
2.
3.
4.
Sentral Telepon
Kabel Primer
Rumah Kabel
Kabel Sekunder
5.
6.
7.
8.
Kotak Pembagi
Kabel / Saluran Penanggal
Teminal Batas
Kabel Rumah
9.
10.
11.
Daerah Catuan Langsung
MDF
Terminal Pelanggan.
Infrastruktur Jarlokat
Peningkatan Kemampuan Akses
JARLOKAT
• JARLOKAT Murni
– operasionalnya tidak menggunakan tambahan perangkat aktif.
• JARLOKAT Tidak Murni
– operasionalnya menggunakan tambahan teknologi/perangkat lain
untuk meningkatkan performasinya,
Misal : Penggandaan Saluran Digital (Pair Gain), HDSL, ADSL,
VDSL
Kondisi Riil
Konfigurasi umum xDSL
Konfigurasi dasar x-DSL terdiri dari sepasang modem, satu
terletak pada sisi sentral dan satu lagi pada sisi pelanggan
Jarlokaf
Contoh Konfigurasi Jarlokaf
Jarlokaf (1)
• Berkecepatan tinggi dan memungkinkan transmisi
layanan-layanan broadband.
• Mengatasi batasan yang ada pada Jarlokat.
• SDH (Synchronous Digital Hierarchy), cocok
mendistribusikan bandwidth transmisi dan kapasitas
sesuai dengan kebutuhan  STM.
• PON (Passive Optical Network)
– Topologi jaringan mengadopsi Jarlokat
– TDM, passive splitting, ranging technology, fast synchronization.
– Akses layanan narrowband.
Jarlokaf (2)
• AON (Active Optical Network)
– Secara topologi dan fungsi sama dengan PON.
– Perbedaan pada splitter yang menggunakan tipe aktif.
• Teknologi Hybrid
– Jaringan utama  optik  kapasitas besar dan kualitas transmisi.
– Ke subscriber  kabel tembaga atau radio.
Teknologi JARLOKAF
No
1
Teknologi
Digital Loop Carrier
(DLC)
Konfigurasi Dasar
IS-A
•Next Generation DLC
Passive Optical Network
(PON)
Point to Multipoint
Pencabangan sinyal
optik pasif
3
Active Optical Network
(AON)
Keterangan
Point to Point
•DLC konvensional
2
Tipe Jenis
Jasa
Point to multipoint
melalui perangkat
pencabangan aktif
Banyak digunakan di
dunia
IS-A dan IS-B
Relatif baru
IS-A dan IS-B
Mulai dioperasikan
secara komersial th 74
DS
IS-A dan IS-B
Konfigurasi sama,
perangkat berbeda
Belum banyak
digunakan
Jenis Jasa JARLOKAF
Arah Informasi
Skalabilitas
Narrowband
Broadband
Klasifikasi berdasarkan
Lebar bandwidth
Retrieve
Interaktif
(IS)
Interaktif
Simetris
Distributif
(DS)
Interaktif
Asimetris
Klasifikasi berdasarkan
Sifat interaksi komunikasi
Jarlokar
Jarlokar
 Jaringan akses antara Terminal Pelanggan dan Sentral Lokal (PSTN
atau ISDN) melalui gelombang radio yang dipancarkan ke udara
 Tidak menggunakan konduktor fisik dalam membawa
(unguided).Menggunakan radiasi gelombang radio.
sinyal
 Menggunakan energi elektromagnetik dalam bentuk cahaya atau
radio.
Jarlokar
• Keuntungan
– Fleksibilitas pemasangan (feasible)
– Biaya rendah (low cost)
– Lebih cepat dalam implementasi (speed of deployment)
• Kekurangan
– Kompleksitas Regulasi (licensed and regulation)
– Kurang aman (inherently not secure)
– Jarak terbatas (distance limited)
Contoh Konfigurasi Jarlokar
CDMA Fixed Wireless PhoneInfrastructure & Services
Interconnections to Other Networks
Fixed Wireless Access
( Main Product )
BSS
Fixed Wireline
(TELKOM or others)
BSS
NSS
Transmission /
Transport Layer
GSM Mobile Operator
(Telkomsel or others)
KONFIGURASI RADIO ACCESS NETWORK
Core
Network
Access Network
Customer Premises
Network
SNI
NN
I
TS
TE
TS
TE
TS
TE
TS
TE
TS
TE


Core
Network
Local
CS
Switchin
g
RS
RS





CS
: Central Station, merupakan unit yang
terpisah atau gabungan antara unit :CCS
(Central Controller
Station)/exchange unit
dan CRS (Central Radio Station) / radio unit.
TS
:
Terminal
Station
(outstasion),
melayani satu atau lebih TE
RS
: Repeater Station (radio repeater
station), melayani satu atau lebih TS atau
terhubung dengan RS lain
NNI
: Network Node Interface
SNI
: Service Node Interface
UNI
: User Network Interface
TE
: Terminal Equipment
KLASIFIKASI KOMUNIKASI WIRELESS
Fixed
Wireless
Non
Cellular
Point to Point Communication,
Infra Red Communication,
LMDS, Microwave
Communication
Wireless
Communication
Cellular
Mobile
Wireless
Non
Cellular
Cellular
PHS, CT2, PACS, DCS1800,
DECT
Paging system (ERMES, NTT,
NEC), dispatching system,
PAMR (Public Mobile Radio)
AMPS, GSM, CDMA2000,
UMTS, PHS, DCS, NMT450,
TACS, DCS1800, IS-95, C-450
WIRELESS LOCAL LOOP [ WLL ]


Wireless Local Loop (WLL): salah satu bentuk fixed
wireless communication, dimana daerah cakupan
(coverage) berbentuk sel
Konfigurasi umum Wireless Local Loop (WLL):



 Point to Point/Point to Multipoint to Point
 Point to Point/Point to Multipoint to Point +
 Cordless
 Cordless

Pembagian berdasarkan jumlah kanal per carrier:
 Multi Channel per Carrier (MCPC)
Dalam satu frekuensi pembawa terdapat lebih dari satu kanal
 Single Channel per Carrier (SCPC)
Dalam satu frekuensi pembawa terdapat satu kanal
Sentral local dengan Pembagian berdasarkan cakupan
(coverage):

Single Cell, daerah cakupannya (daerah
layanan) hanya terdiri dari satu sel
Multi Cell, daerah cakupannya (daerah
layanan) dibagi-bagi menjadi beberapa sel
Pembagian berdasarkan topologi:

Point to point atau Dedicated Channel Mode
Menghubungkan pelanggan dengan sentral local menggunakan
system radio point to point. Setiap kanal dialokasikan pada
pelanggan secara tetap (arah dan tujuannya sudah tertentu)

Point to Multipoint atau Multi access Menghubungkan
pelanggan menggunakan system radio point to multipoint. Kanalkanal yang tersedia tidak dialokasikan kepada setasiun pelanggan
secara tetap (arah dan tujuannya tidak ditentukan)
BroadBand Access Network:
What & Why
Access network/node:
 A system where the end users terminal equipment –phones, PCs, …- are connected, via copper or
fiber and wireless.
 The point that links these terminal equipment with the different telecom networks
 The interface between the end users and the CO/backbone telecom networks.
CO/Backbone
Simplify Network Hierarchy
Scenarios / Services
Multi-services
Less-uncertainty
Residential
Multi-vendor
Voice
Mixed
Data
Copper Re-use
Multi scenario of Customers
Video and NGN
Business
We think EVDO is strong candidate
Access Network Evolution
Going Broadband
Network Evolution
Voice as an add-on to
rich applications
Voice as an Application
Communities formed by social software applications
Shopping Blogging ‘Phoning
Gaming
Googling
Skyping
Talk to your
Quake team...
Click to call
an interesting
link
Change an IM Click to call an
session into a
seller about
voice call
an item
Call in to
a podcast
”Voice – the
underlay
network
”
Voice applications
Streaming applications
Voice is just one (software) add-on to rich social software applications
”Phoning is
something you do to
reach people not
belonging to any of
your communities”
UserAccess - Find - AppsAccess-independent,
in-control, Cheap, Free,
Ad-driven
Apps
P2T
MM Telephony
IMS Msg
Find&
Connect IMS
Access
WCDMA
HSDPA
ADSL
WiFi
Cable
In addition to FMS, a new threat is emerging…….
If this how the operators map their business, ”they” are already in the core...
Characteristics and Solutions
SERVICES
Locations Type:
Customer
Type:
•Residential
•Business
•Mix
Voice
1.
USO
2.
Rural
3.
Rural High Density
LL
Multimedia
Video
4.
Urban
5.
Urban High
Density
VoIP/NGN
HC/LL (>E1)
Ethernet
Traditional-AN
SOLUTIONS:
NG-AN
HFC
PON/E-PON
MAN
The Access Network Concept
Copper
The recent past
Voice
Access Network
F.O, Copper, HFC, radio
Now
Data
Internet
Others
CO/Backbone
Access Network
End-users
TYPE
POTENTIAL
DISTANCE (KM)
BANDWIDTH (MHz)
Copper
10
Coax
1,000
Fiber
25,000,000
1-2
1 - 10
100
Konfigurasi Implementasi
Konfigurasi menggunakan Jarlokat secara menyeluruh
(end-to-end)
Konfigurasi Hybrid Jarlokaf dan
Jarlokat
TYPICAL WIRELINE ACCESS
CONFIGURATION
Access Network QE
RK
MDF

PERUBAHAN FUNDAMENTAL ARSITEKTUR AKSES
dari
all Copper Access Network, Narrowband menuju ke jaringan Hybrid Fiber – Copper, dengan
perangkat aktif pada last mile, Broadband untuk membawa berbagai trafik (voice, data, video and
multimedia)

PERUBAHAN FUNDAMENTAL PENGELOLAAN DAN KOMPETENSI SDM
dari organisasi terbatas, kompetensi Copper Access Network, Narrowband menuju organisasi
khusus Access Network Planning & Performansi, kompetensi jaringan Hybrid, Broadband untuk
mengelola akses multiservice (e.g. PSTN voice vs. VoIP and Multimedia)
TYPICAL WIRELINE ACCESS
CONFIGURATION
Insert Node R-DSLAM
IP network
R-DSLAM
RK
MDF
POOR, >3 – 4 KM

PENEMPATAN R-DSLAM BERDAMPINGAN DGN RK dan DLC
diarea
dengan akses kurang baik dan panjang > 3 Km atau menggunakan pada area dengan akses DLC
(OAN/MSOAN), atau meng-optimalkan MSOAN yang mampu broadband access
TYPICAL WIRELINE ACCESS
CONFIGURATION
Insert Node R-DSLAM
IP network
V5.2
ROT
COT
RK R-DSLAM
DDF
MDF
IP DSLAM

tie line
X
PENEMPATAN R-DSLAM BERDAMPINGAN DGN DLC (OAN/MSOAN)
diarea dengan akses yang menggunakan DLC (OAN/MSOAN), atau meng-optimalkan MSOAN
yang mampu broadband access
TYPICAL WIRELINE ACCESS
CONFIGURATION
Media GW/ MSAN
APP
SERVER
SGW
SSW
DDF
Media GW
/ MSAN
IP network

TRANSFORMASI LE MENJADI MEDIA GATEWAY / MSAN
diarea dengan lokasi LE yang sudah mencapai kapasitas maksimum dan akan ditransformasi
ke NGN

PENINGKATAN KUALITAS DAN PENAMBAHAN KEMAMPUAN
ditempatkan
di sentral untuk akses < 3 Km, atau ditempatkan berdampingan dengan RK untuk akses yang
kurang baik dan > 3 KM
MGW & MSAN ACCESS NODE AS
SERVICE NODE
MGW & MSAN sebagai Access Node yang menjadi node
penyediaan multi-services untuk multi segment
1. Pelanggan dengan layanan POTS
2. Layanan voice VoIP over Broadband atau 2nd Voice Line
3. High Speed Internet Access dan layanan Interactive Broadband lain
seperti IPTV, games online
1. Untuk area pelayanan dengan demand broadband
2. Memiliki potensi demand layanan berbasis NGN
3. Lokasi LE yang sudah mencapai kapasitas maksimum, akan
ditransformasi ke NGN
4. Ditempatkan di sentral untuk akses < 3 Km, atau ditempatkan
berdampingan dengan RK untuk akses yang kurang baik dan > 3 KM
MEDIA GATEWAY & MSAN – NGN BASED NW APPROACH
Transformasi bertahap menuju ke jaringan berbasis NGN
TELKOM, MGW sbg Host DLC eksisting berbasis V5.2 dan
sekaligus me-enable NGN based services
ENABLING NGN
BASED
SERVICES
1.Penetrasi dgn penggelaran MGW / MSAN pada area pelanggan
HEM (HRB, CAMPUS, Community, Class-A Residential baru)
2.Penyediaan layanan VoIP & VAS berbasis protokol SIP dengan
menempatkan Access Network Node TELKOM pada Corporate
Premises Network
TDM BASED DLC
PRODUCT
SUBSTITUTE
1.Re-hosting DLC berbasis V5.2 ke MGW sebagai tahapan migrasi
ke NGN TELKOM
2.Opsi pengganti produk DLC diskontinu dan tidak bisa
dikembangkan lebihlanjut
COST EFFECTIVE
CAPACITY
EXPANSION
1.Penggelaran MGW / MSAN untuk memenuhi demand dan
mendapat keuntungan dari penghematan CAPEX dan OPEX
2.Ditempatkan pada CPN dengan topologi FTTB +MGW+ LAN
WiMAX DEPLOYMENT as BB ACCESS COMPLEMENT
Pemilihan teknologi WiMAX antara Fixed WiMAX dan Mobile
WiMAX dilakukan secara specific per-area sesuai dengan
demand dan businness plan di area bersangkutan.
BROADBAND
WIRELINE
COMPLEMENT
CORPORATE
ACCESS &
BACKUP
SOLUTION
SCATTERED AND
FAST SOLUTION
1. Teknologi WiMAX untuk aplikasi Fix Broadband Wireless Access
berbasis WiMAX sudah ready dan mature
2. Regulasi BWA pada fase Public Consultation dan pematangan
3. BWA – WiMAX di-implementasikan sebagai complement dari
broadband wireline access
1. Penetrasi ke pelanggan korporasi melalui penawaran layanan
Broadband Wireless Access dengan QoS
2. Untuk meningkatkan availability dan reliability layanan, BWA –
WiMAX menjadi pilihan solusi backup pelanggan korporasi
1. Meningkatkan kecepatan merespond pasar dengan solusi BWA
– WiMAX untuk area yang scattered
2. Sebagai solusi antara dan cepat jika kebutuhan wireline belum
bisa dipenuhi
BROADBAND WIRELESS ACCESS – TOTAL SOLUTION
TOTAL SOLUTION WiMAX

SOLUSI TOTAL BWA – WiMAX
pemanfaatan untuk memenuhi demand dan pembangunan jaringan komunikasi broadband di
area-area baru maupun area yang sulit untuk dijangkau (special terrain) seperti di area rural,
pegunungan, perkebunan, pertambangan, offshore dll.

PENGEMBANGAN BWA - WiMAX “Hot Zone”
untuk perluasan coverage dari “Hotspot” ke dense area (outdoor) sebagai dukungan layanan
WiFi Hotspot dan mengcover komunikasi di area blank spot Hotspot.
METRO ETHERNET ACCESS ABOUT TO FTTH
Dengan penggelaran jaringan Metro Ethernet pada layer
transport dan access, dimungkinkan memberi layanan
berbasis Metro Ethernet dengan dukungan QoS untuk
memenuhi SLG kepada pelanggan
COPPER TO
FIBER
TRANSITION
HEM CLUSTERED
AND COMMUNITY
SOLUTION
IP BASED
SERVICES
1. Penggelaran Metro Ethernet Access ke pelanggan, sebagai
bagian strategi transisi mendekatkan fiber ke pelanggan
2. Di tempatkan pada CPN dengan topologi FTTB + LAN/Ethernet
1. Metro Ethernet Access, sebagai solusi total bagi pelanggan
HEM
2. Target pelanggan : HRB, APARTMENT, CAMPUS, HOTEL
1. Penyediaan layanan berbasis Ethernet ke End Customer
2. Layanan memiliki QoS dan untuk memenuhi SLG ke pelanggan
TYPICAL CONFIGURATION – METRO ETHERNET ACCESS HRB
Softswitch
App. Server
AP
OSS
SIP-Phone Ethernet Switch
Core Router
Intranet
Ethernet Switch
Router
IP-PABX
CPE/
Terminal
Metro Ethernet
Access
Network
Transport
Network
TYPICAL CONFIGURATION – METRO ETHERNET ACCESS CAMPUS
IP
CORE
Metro
Access
AP
Intranet
AP
Intranet
Eth.Switch
Local Server
Eth.Switch
SIP-Phone
Local Server
PEMETAAN JARAKSES SESUAI TIPE NODE
Analog Switch
Digital TDM Switch
Service Network
ISDN Switch
Analog Head End
Softswitch
Application server
Digital HE/IP TV SVR
CMTS/Router/Internet gateway
Copper (CAN)
OAN CB
Access Network
OAN V5.2
MSOAN
MSOAN (NGN ready)
Access gateway
HFC + Packet cable
xDSL (ATM based)
xDSL (IP based)
Metro Access
PERKEMBANGAN LAYANAN
BROADBAND
BANDWIDTH
PRESENT
EMERGING
FUTURE
Mobile BWA
Strategi Penetrasi
basis pelanggan
layanan baru BB
critical milestone
IP ViConf
Speedy
Digital TV
Real VOD
Portable
BWA
WEB based
Fix BWA
ViConf
Video multicast
Near VOD
Online Gaming
IVAS
2006
IPTV
EVDO
2007
2008
2009
2010
TAHUN
MSOAN/OAN based Access
Network
R-DSLAM
splitter
B-RAS
Data Network
Modem DSL
OLT
Ethernet
F/O
ONU
PSTN/ISDN
Network
V5.2
Global
Internet
splitter
ONU
Modem DSL
XDSL/IP DSLAM based Access Network
splitter
BRAS
Data Network
IP DSLAM
Copper pair
Modem DSL
OAN
PSTN/ISDN
Copper pair
Network
Internet
Remote- DSLAM
Modem DSL
Access Gateway based Access Network
Softswitch
SGW
Internet
PSTN/ISDN
Network
Managed IP Backbone
TGW
Data/IP
Network
Access Gateway
Access
Gateway
Enterprise
LAN
SIP-Phone
Access
Gateway
Access
Gateway
Residential
OAN
Campus, Hotel,
Apartement,
MSAN / MSPP based Access Network
MSAN / MSPP
MSAN / MSPP
MSAN / MSPP
IP RAN based Access Network
•
Positioning CPE dalam jaringan berdasarkan arsitektur lapis
jaringan
• Positioning CPE dalam jaringan berdasarkan jenis CPE
Signaling
Gateway
IP Appliance
SS7/C7
SS7/C7
Media
Gateway
xDSL
Circuit
Circuit
Packet
Packet
PBX
Concentrator
Cable
PBX
Wireless
CU
ST
O
PBX
M
ER
C
P
E
PREMISES EQUIPMENT
Small business
CPE HFC
Home
STB
CM
500-2000
homes
CM
125-500
homes
upstream
downstream
PSTN
LE/
EO
Video
server
Modulator
CMTS
Frequency
Translator
Fiber Node
Combiner
&
Filters
O/E
CABLE HEADEND
GW
Internet
Bidirectional Amplifier
O/E : Optical/electrical converter
CM : Cable Modem
Coax
distribution
cable
CMTS : Cable Modem Termination System
STB : Setop Box
LE/EO : Local Exchange/ End Office
Fiber trunk cable
(analog transmission)
STB
CMTS (Cable Modem Termination System)
PSTN
LE/
EO
Telephony
(H323)
gateway
Local
Server
Internet
Internet
access
gateway
Fast
Ethernet
Switch
Modulator
Downstream
channel
Demodulator
Upstream
channel
CMTS
CPE ADSL
Local Echange
(a)
POTS
transmission
&
switching
network
POTS
LTU
04
Hz
NT
Low Pass POTS
splitter
Filter
0-4 25
1100 Hz
High Pass
Filter
High Pass
Filter
ADSL
modem
Low Pass
Filter
25
1100 Hz
ADSL
modem
STB of TV
or PC
(b)
POTS
LTU
Video server
Low Pass
Filter
0 4 25
500
NT
High Pass
Filter
ADSL
termination
network
The Internet
STB
ADSL
modem
High Pass Filter
POTS=Plain Old Telephone Service
NT = Network Terminal
ADSL = Asymetric Digital Subscriber Line
Jaringan HFC
KOAKSIAL
FIBER OPTIK
FIBER OPTIK
Trunk Feeder Center
1 2 3
4 5 6
7 8 9
*
8 #
Cable
Telephony
Modem
Combiner
Distribution Centre
Splitter
Tap
Amplifier
Set
Top
Box
O/E
E/O
E/O
O/E
TALK / DATA
TALK
RS CS TR RD TD CD
Cable Modem
PC
Cable Premises Equipment
Fiber Node
Splitter
TV
O/E
Video
Interactive
Headend
Cable
Modem
Termination
System
Cable
Telephony
Headend
E/
O
Video
broadcast
Headend
Jaringan
ATM
Jaringan Data/
Internet
PSTN / ISDN
Video
server
Infrastruktur Jaringan HFC
Secara umum infrastruktur jaringan HFC terbagi menjadi
jaringan trunk dan jaringan akses, seperti terlihat pada
gambar di bawah ini :
DH
= Distribution Hub
FN
= Fiber Node
PS
= Passive Splitter
HE
= Head End
F
N
STB = Set Top Box
Mod = Modem
CIU
= Customer Interface Unit
H
E
DH
F
N
PS
TAP
TAP
TAP
Mod PC
F
N
Jaringan Trunk
Jaringan
Distribusi
Fiber
STB TV
CIU
Jaringan Distribusi Koaksial
Jaringan Akses
Satelit
PSTN
Broadcast
TV
Service
Provider
Headend
TV Studio
ITEM
ADSL
HFC
FTTH
Beaya perangkat
Relatif tinggi
Relatif murah
Tinggi
Beaya penggelaran
Relatif Murah
Tinggi
Sangat tinggi
Time to Market
Paling cepat
Lama
Lama
Kemudahan migrasi
(antisipasi
kebutuhan BW)
Terbatas sampai 8
Mbps
Lebih fleksibel (10
Mbps) dan dapat
bermigrasi ke FTTH
Sangat fleksibel
dengan BW yang
sangat lebar
Kesesuaian dengan
layanan saat ini
Sesuai
Sesuai
Berlebihan
Kemudahan
operasional
Paling mudah
Sulit
Sulit
ITEM
WIRED
WIRELESS
(HFC, XDSL, FTTH)
(SATELLITE, LMDS, MMDS
Kemampuan mendukung
layanan broadcast seperti
TV Cable
Ya, untuk FTTH dan HFC
Ya, untuk satelit, LMDC dan
MMDS
Kemampuan mendukung
layanan interaktif seperti
VOD
Ya, untuk FTTH dan HFC
dan xDSL
Tidak untuk MMDS sedangkan
untuk satelit terbatas
Kualitas transmisi dan
gambar
Sangat baik tidak
tergantung cuaca
Baik, kondisi cuaca sangat
mempengaruhi kualitas
Kecepatan penggelaran
jaringan
XDSL/FTTH dapat
menggunakan jaringan
yang sudah ada,
sedangkan HFC perlu
waktu.
Cepat
Ya untuk LMDS namun belum
field proven
Access Network: Operator Concern
Current
Access Network
Ready for NGN
Ready for –
New Services
Current
Revenue
Stream
Revenue
Opportunities
New Revenue
Stream
Future Proof
Next
Generation
Access
Network
Current Services
Scalable (invest
as growing)
Capital
Equipment
Cost Reduction
Operations
and
Manpower
ACCESS NETWORK take major part of Telco Investment
14
PF
Challenge: Cost Reduction
NG-AN
RO
HOW TO REDUCE COST?
Capex?
(Total Cost of Ownership) TCO?
(Risk of) Investment over its LIFETIME?
Readiness for New Services?
Weighting depends on:
-Type of customer
-Operator business strategy
CR
PF
NG-AN
Challenge: New Services, What
PSTN
Multiservice Access Platform
V5
LL/TDM
Star,
Ring,
Tree,
(mixed)
Data
Network Management
IP
Multiservice
Multi-vendor/Multi-topologies
RO
POTS
ISDN BA
ISDN PRA
2 Mb/s
Nx64 kb/s
< 64 kb/s
Analog LL
HDSL
ADSL
SHDSL
VoDSL
NGN/VoIP
Video
Ethernet
...
Multiservice
CR
PF
Challenge:
Convergence and New Services: How
NG-AN
RO
Universal slot
tributaries
Smooth evolution
From TDM to Video/NGN
Front Access Panel
locals
4/16 x 2Mb/s optical LT
HDSL LT
=< 64 kb/s local interfaces
Other LIMs
BB controller
NB controller
Flexibility
For the access network
For the specific node
BB controller
Building blocks
Modular for any application
customer/
linecards
SHDS (TDM) L LIM
SHDSL (ATM) LIM
servers
2 M ATM IMA LT
2 M / n x 64 k LIM
Add New CARD?
POTS LIM
ISDN BA LIM
ISDN PRA LIM
HDB3 transmission
STM1/4
PDH (copper/optical)
ADSL LIM


Aggregate Transmission
Server
Voice over IP server
Add New SHELF?
Transmission
NB controller
Aggregate Transmission
Add New RACK?
CR
PF
Challenge:
Map to NGN architecture
Legacy Network
Signalling/Service
RO
Softswitch
Network Service
Layer
SGW
Legacy Network
Media
AGW = Access Gateway
RGW = Residential Gateway
WGW = Wireless Gateway
TGW = Trunking Gateway
SGW = Signalling Gateway
NG-AN
Network
Independent
Services
Control Layer
TGW
Media Layer
RGW
AGW
WGW
Access and Transport
Layer
Enterprise Customers
Remote Office/SOHO
Residential Users
CR
PF
NG-AN
Bridge to NGN
RO
 Decentralized access gateway, bridge TDM to IP
 Multi-protocol with TDM, ATM and ATM/IP on a single platform.
 First multiservice access gateway integrating broadband and narrowband
access and decentralised access gateway.
H.248
Megaco
IP/ATM
H.248
Megaco
NG-AN
V5
DSLAM
PSTN/ISDN
Edge Switch
Trunk Gateway
Core Switch
Softswitch
Local
Exchange
CPE
VoIP
DSL
DSL
CR
PF
Challenge: Class5 replacement,
evolution to NGN
NG-AN
RO
CR
1, Voice Networks Today: PSTN and Data Backbones
ATM/IP
ATM/IP core
Access Node
Leased Lines
POTS/
ISDN
V5
SpeedTouch xDSL
PSTN Core
Class5
2, Voice Networks Tomorrow: Voice / Data Convergence with NGN
Alcatel 5000
SoftSwitch
VoIP gateway card
POTS/
ISDN
ATM/IP
ATM/IP core
NG-Access Network
Voice
switch
PSTN
V5.2
Leased Lines
SpeedTouch xDSL
PF
NG-AN
Challenge: Video Services
Satellite
content
feed
RO
VoD
server
Video
encoders
DSL
CPE
Voice
switch
OC-12/STM-4
LL/VPN
PSTN
NG-AN
V5.2
Backbone
Broadband Access
Server
DSL
CPE
Multicast
ATM or IP or
SDH/SONET
NG-AN
Central office
Multicast
Internet
IGMP: Internet Group Management Protocol
POTS DSL
splitter enabled
set-top
box
CR
Conclusion
NG-Access Network: Deliver More for Le$$
More:
Revenue Opportunities:
•Retain current revenue
•Create new revenue (Multimedia,
TV)
Future Proof:
•Convergence to NGN
•Easy migrate to Video & VoIP
•Maintain Scalability of traditional AN
Le$$:
Cost:
•Risk of Investment over its lifetime
•Complexity (Complexity, Services Upgrade)
Additional Slides: NG-AN Demo
Configuration
WELCOME TO ALCATEL BOOTH (C-6)
Tekom’s Network
ISDN-BRAx2
POTSx2
LITESPAN 1540
ISDN-PRA
HDSLx2
Video Streaming
+ HDSL
Loop-back x 2
V5.2
ADSL
High Speed Internet
STM-1
HDSL
ADSL
PABX
A4400
INTERNET
Video Streaming
LAN Switch
Analog
Digital
Video Server
BOOTH SITE
Common Channel Signaling
#7
Definisi : Signaling[FTP’2000]
1.
Pertukaran informasi
Antar perangkat dalam jaringan
Dalam bentuk kode tertentu (standar)
Berfungsi untuk :
Pembangunan hubungan (call set-up)
Pengawasan hubungan (supervision)
Pembubaran hubungan (clear down)
Telecom
Network
p
tu al
se i g n
s
setup
signal
A
(calling party)
se
signtuap
l
releasael
sign
B
re l e a
(called party)
a) call setup
A
se s
igna
(calling party)
speech
spee
c) clear down
A
spe
Telecom
Network
ech
B
node (exchange)
b) conversation
l
re l e
signase
al
B
(called party)
ch
(calling party)
speech path
signaling path
Telecom
Network
e
as l
le na
re sig
se
signtup
al
(called party)
CASR2
Bdsk. PEMAK.
KANAL
CCSC7
(kanal voice/sig)
2. Klasifikasi
signaling
(CCS7/SS7)
Line Sig
Bdsk. FUNGSI
Decadic pulse
Register Sig
Full MFC
Compelled
MFC
Semi MFC (CAS)
Not Compelled
- End-to-end
- Link-by-link (CAS)
Bdsk. METODA PENYALURAN
- Enblock
- Overlap (CCS)
Klasifi
kasi
Pensi
nyalan
Bdsk. ARAH
PEMB HUB
Forward
Backward
- DC
Single freq
Inband : 2600Hz, DTMF, MFC
Multi freq
Outband : 50Hz, 16KHz, 3825Hz
- AC
Bdsk. KARAKT
- Analog
- Dijital
Bdsk. RUAS JAR
Suscriber Sig
- Z-Interface (analog sub)
- DSS1 (digital sub)
Inter-exchange
Sig
Regional  seri R1, R2
Bdsk. LINGKUP GEOGRAFIS
International  seri C1, C2, … C7
a. Prinsip Dasar CAS & CCS

Pd CAS : tiap kanal voice memiliki 1 kanal signaling masing-masing secara exclusive
(associated), dengan menggunakan kanal fisik yang sama tetapi terpisah secara
logika/timing berbeda

Pada CCS : sejumlah (kecil) kanal signaling digunakan oleh banyak kanal voice secara
bersama (common). Umumnya secara fisik terpisah
signaling channel =
voice/data channel =n
a.
CAS :
1
2
Exchange A
Exchange B
n
n voice/data channel
b.
CCS :
1
2
Exchange A
Exchange B
n
m
signaling channel
m << n
5. Standarisasi signaling R1/2 dan C5-7 (Rek. ITU-T)
Sistem
Seri
Rec ITU-T
Line Sig
Reg Sig
2400/2600 Hz
Compelled
C5
CAS
R1
R2
C6
Q.140-164
Q.310-331
Q.400-490
Q.251-297
CCS
C7
Q.701-795
2600 Hz
Continuous
Tone-on-idle
MFC 2/6
Non compelled
Link-by-link
MFC 2/6
Non compelled
Link-by-link
2850 Hz
Continuous
Tone-on-idle
(S)MFC 2/6
Compelled
End-to-end
Data Link
Medium (2400 bps)
Data Link
Medium (64 Kbps)
Gambaran konfigurasi/jaringan CCS7
a.
Dengan jaringan PSTN
PSTN
TE2A
LEA
1
42
53
6
7
*80 9#
TE2B
TE1A
TE1B
TE
LEB
3
62
51
4
9
#8
07
*
TE
1
42
53
6
7
*80 9#
A
3
62
51
4
9
#8
07
*
15
26
3
4
78
09
#
3
62
51
4
9
#8
07
*
*
STP
STP
SS7
Network
STP
STP
B
Ket :
Speech path
Signaling path
A : Calling party
B : Called party
LE : Local Exchange
TE : Trunk Exchange
STP : Signaling Transfer Point
b.
Dengan jaringan PLMN
VLR
VLR
PLMN
MSCA
MSCB
BTS
BSC
BTS
BSC
MSC
MSC
MS
MSB
BTS
MSA
VLR
BTS
VLR
MS
Ket :
STP
HLR
STP
STP
SS7
Network
STP
Speech path
Signaling path
MS : Mobile Station
BTS : Base Transceiver Station
BSC : Base System Controller
MSC : Mobile Switching Center
VLR : Visitor Location Register
HLR : Home Location Register
STP : Signaling Transfer Point
PSTN
Pada jaringan
interkoneksi
PSTN-PLMN
TE2B
TE2A
TE1B
LEB
3
62
51
4
9
#8
07
*
15
26
3
4
78
09
#
*
A
35
24
1
6
9
#8
07
*
1
42
53
6
7
*08 #9
35
24
1
6
9
#8
07
*
1
Ket :
STP
Speech path
Signaling path
MS : Mobile Station
BTS : Base Transceiver Station
BSC : Base System Controller
MSC : Mobile Switching Center
VLR : Visitor Location Register
HLR : Home Location Register
STP : Signaling Transfer Point
LE : Local Exchange
TE ; Trunk Exchange
SS7
Network
STP
STP
STP
4
5
3
VLR
VLR
6
BTS
BTS
MS
BSC
MSC
PLMN
MSC
BSC
BTS
BSC
MS
MS
BSC
BTS
BTS
BTS
MS
HLR
2
c.
TE1A
LEA
1
42
53
6
7
*08 #9
BTS
BTS
MS
MS
MS
MSB
Proses signaling SS7 :
a.
Pembangunan hubungan
STP-1
STP-3
STP-2
4
2 1
4 3
1
1
4 3
2 1
1
2
2
3
2
off-hook
4
TE1
LEA
A
2 1
4 3
3
4
LE
3
TE2
LEB
B
LE
TE3
LE
LE
LE
LE
speech path
signaling path
b.
Kondisi bicara
4 3
2 1
s peec
2 1
4 3
h
3 4
1 2
TE1
1 2
3 4
4
TE3
2
1
A
Selama bicara :
· Time slot digenggam (tdk dishare)
· Nomor time slot tetap (tdk brubah)
3
LE2
speech
1
2
3
4
LE1
B
c.
Pembubaran
STP-1
STP-3
STP-2
3
4 3
2 1
2
1
1
2
2
1
3
4
on-hook
4 3 2 1
4
2 1
4 3
4
3
TE1
on-hook
LEA
TE2
A
LEB
B
1.
Terminologi
link set
signalling link
link group
STP
SP
link group
Signalling link, link group dan link set
2.
Mode rute signaling
SP
SP
Associated
Ket :
Signalling
Speech
Mode Associated
SP
SP
Quasi Associated
STP
SP
SP
Quasi Associated
STP
Mode Quasi Associated
STP
SP
STP
SP
STP
SP
STP
SP
STP
STP
suatu saat
di saat lain
Mode Fully Non Associated
3.
Rute signaling
DP
OP
STP
STP
Ket :
Speech/data channel
Signalling Route
Rute Signalling
STP
5.
Rute signaling
Associated
SPA
STPB
Quasi Associated
Associated
SPC
Contoh Mode Associated dan Quasi Associated
5.
Jaringan overlay
CONTROL PLANE
SS7
STP
STP
SP
SP
User
STP
STP
SP
SP
SP
SP
SP
SP = Signalling Point
STP = Signalling Transfer Point
Control Plane
User
INFORMATION PLANE
LE
User
User
LE
TC
TC
LE = Local Exchange
TC = Transit Center
Information Plane
6. Standarisasi jaringan SS7 (Rek ITU-T)
(untuk reliabilitas)
STP
STP
STP
STP
SP
SP
STP
STP
STP
STP
STP
STP
STP
STP
STP
Higher level
SP
SP
SP
SP
Struktur Hirarki Network Signalling dengan
Level STP Tunggal
Lower level
STP
SP
SP
SP
SP
SP
SP
Struktur Hirarki Network Signalling dengan
Dua Level STP
Struktur jaringan SS7 di Indonesia
Struktur jaringan SS7 di Indonesia
Struktur jaringan SS7 di Indonesia
Struktur jaringan SS7 di Indonesia
Struktur jaringan SS7 di Indonesia
Kapasitas STP
SP
Link level (standar
Amerika)
A
STP
SP
E
STP
D
A
E
F
D
A
STP
B
STP
STP
D
B
A
A
D
C
C
A
SP
B
STP
STP
B
STP
SP
Link
Interkoneksi
Signalling Point (=Switching
Office)
Penggunaan/Fungsi
A
(Access)
SP-STP
Akses dari Switching Office ke Network Sig-nalling
B
(Bridge)
STP-STP selevel
Penghubung antara dua STP pada wilayah yang berbeda
C
(Cross)
STP-STP pasangan
Sebagai rute alternatif jika link B gagal
D
STP-STP lain level
Ruting ke level lebih rendah / lebih tinggi
E
SP-STP
Rute langsung SP  STP non-home
F
SP-SP
Akses langsung antar Switching Office
Sistem penomoran
signaling point (SP)
Konfigurasi Kemampuan SS7
International Network
National Network
IN komponen
Mobile user
ISDN subscriber
PSTN subscriber
PBX
Switch
SS7 link
Non SS7 link
Konfigurasi Kemampuan
SS7
Konsep layering pada SS6
Arsitektur SS7
Common Channel Signalling No. 7
•
Arsitektur fungsional CCS no. 7
Aplication Part
(AP)
7
6
Application
Presentation
5
Session
4
Transport
Transaction
Capabilities
(TCAP)
Data
User
Part
(DUP)
ISDN
User
Part
(ISUP)
Telephone
User
Part
(TUP)
4
Signalling Connection
Control Part (SCCP)
3
Network
2
Data Link
1
Physical
Message
Transfer Part
(MTP)
Network Function
3
Link Function
2
Data Link Function
1
Network Service Part (NSP)
catatan
1. Signalling data link CCs no. 7 setingkat dengan physical layer di OSI (Open System Interfacing).
2. Signalling Link di CCS no. 7 = Message Transfer Part (MTP) = Layer 2 , merupakan protocol pengaturan dasar dari
data atau
paket atau sel dari CCS no. 7, setingkat data link layer 3 OSI
Perbandingan 7 layer OSI dengan SS7
Contoh implementasi (dalam sentral EWSD)
Signaling Unit
spare
Signaling Unit
Flag
CK
SIO
8
16
8
2
Flag
CK
SIF
SIO
8
16
8n, 2n 272
8
LI
F
I
B
FSN
B
I
B
BSN
Flag
6
1
7
1
7
8
2
6
CK : Check bit
SIF : Signaling Information Field
SIO : Service Information Octet
LI : Length Indicator
B
I BSN
B
1
7
Flag
CK
SIO
8
16
8
CK
SIF
SIO
8
16
8n, 2 n272
8
Information message
OPC
DPC
2
Address
SLS
OPC
DPC
LI
F
I
B
FSN
B
I
B
BSN
Flag
6
1
7
1
7
8
Subservice field
NI
D
C
8
FIB : Forward Indicator Bit
FSN : Forward Serial Number
BIB : Backward Indicator Bit
BSN : Backward Serial Number
2
SF
LI
F
I
B
FSN
B
I
B
BSN
Flag
8
6
1
7
1
7
8
Link Status Signal Unit (LSSU)
MSU
Flag
Flag
Gbr. 3.18 Format Message Signal Unit (MSU)
Format Fill In Signal Unit (FISU)
CIC
F
I FSN
B
1
7
LI
Service ndicator
Spare
B
A
9. Error control
MTP-Level 3
MTP Level-3
(Network
Function)
Soal
•
•
•
Panggilan dilakukan oleh pelanggan di Surabaya (031)
3539200 ke Thailand (+66 2) 5730044 dengan signaling
sebagai berikut:calling1222221calledcallingLE Tanjung
PerakToll SurabayaSGI SurabayaSGI ThailandLE Chaeng
wattanaToll Bangkok
Gambarkan diagram pensinyalan dari LE Tanjungperak ke LE
Chaengwattana dan hitunglah waktu untuk pembangunan
hubungan (call setup). Diketahui bahwa pada signaling
R2/SMFC, waktu transmisi 40 ms untuk sepasang sinyal
forward dan backward
Soal
•
Panggilan dilakukan oleh pelanggan di Solo (0271 353900) ke USA (+1 661 2580049) dengan skema
signaling sebagai berikut:
Jika diketahui:
•
–
–
–
•
waktu transmisi R2/SMFC 50 ms untuk sepasang sinyal forward dan backward,
kecepatan bit link SS7 64 kbps dan setiap panggilan membutuhkan transmisi 8 MSU dan 20 FISU dengan
panjang MSU rata-rata 30 oktet
saat itu ternyata nomor yang dipanggil sedang sibuk (off hook)
Maka:
–
–
–
Gambarkan diagram pensinyalan dari LE originating ke LE terminating
Hitunglah jumlah pesan R2 dan SS7
Hitunglah waktu total yang diperlukan untuk call setup
LE
originating
1
calling
2
3
Toll
Solo
SGI 3
Indosat
3
SGI
USA
Keterangan:
1
signaling pelanggan
2
E&M, R2/SMFC
3
SS7 (signaling system #7)
Toll
California
2
LE
terminating
1
called
BROADBAND
ACCESS NETWORK
THANK YOU.
Download