Kuliah 6
KOMUNIKASI KELOMPOK
KOMUNIKASI ORGANISASI
KOMUNIKAS MASSA
BAGIAN I
KOMUNIKASI KELOMPOK
Bab 1. Memahami Komunikasi
Kelompok
• Mengapa kita bergabung dengan kelompok?
• Inclusion; the need to establish identity with others
• Manusia sebagai mahluk sosial, The Robinson Crusoe
story.
• Masing-masing dari kita mempunyai kebutuhannya
sendiri dan masing-masing dari kita memerlukan orang
lain untuk membantu kita memenuhi kebutuhan tersebut.
• Control; The need to exercise leadership and prove
one's abilities.
Mengapa orang bergabung dengan
kelompok?
• Fungsi kelompok bagi perseorangan:
 Membantu individu dalam memenuhi tujuantujuan yang ingin dicapainya. Termasuk
sosialisasi (socializing) dan pertemanan
(companionship).
 Mendukung perkembangan atau perubahan
seseorang.
 Sebagai sarana bagi pertumbuhan secara
spiritual (spiritual growth).
 Mencapai tujuan-tujuan ekonomis.
 Faktor-faktor yang mempengaruhi individu untuk memilih
kelompoknya:
 Ketertarikan atas siapa-siapa yang bergabung pada kelompok
tersebut seperti ketertarikan fisik/penampilan, sosialitas yang
muncul dalam kelompok tersebut, atau pekerjaan yang
dilakukan.
 Ketertarikan terhadap kegiatan dan tujuan yang dilakukan.
 Ketertarikan terhadap keanggotaan kelompok itu sendiri.
 Ketertarikan interpersonal; inclusion, control, effection.
(Schultz, William. C.(1958). FIRO: A three-dimensional theory
of interpersonal behavior. New York: Holt, Rinehart, and
Winston)
Pengertian Komunikasi
Kelompok
 Kita semua paham apa itu komunikasi (right??!).
 Apa itu kelompok?
 Sekumpulan orang yang mengerjakan atau
mempunyai tujuan yang sama. (Berapa jumlah
sekumpulan orang tersebut?)
 Secara psikologis, ditandai:
 Kesadaran akan keterikatan diantara
anggotanya.
 Adanya saling ketergantungan sehingga hasil
setiap orang terkait secara tertentu dengan
hasil yang lain.
Apa itu kelompok?
•
•
•
•
Size?
Interactions?
Goals?
The complexity of the communication
dynamics result?
Kalau begitu, apa yang disebut
sebagai komunikasi kelompok?
• Proses komunikasi yang terjadi diantara
sekelompok orang dalam melakukan
tugas dan mencapai tujuannya.
• Tugas: buatlah sebuah kelompok yang
terdiri dari 4 orang (maks.). Diskusikan,
menurut anda apakah yang dimaksud
sebagai komunikasi kelompok? Waktu 15
menit.
Types of Groups
 Group by it’s task and social dimensions; social group
and working group.
 Social Group; membangun moral positif anggotanya.
Contoh: kelompok pengajian.
 Work Group; ditekankan pada tugas yang harus
dilakukannya/task-oriented groups.
 Duplicated activity group. Contoh: kelompok penanam
pohon, kelompok baca.
 Assembly line group. Contoh: kelompok penghijauan,
sukarelawan bencana.
 Judgement, problem-solving and decision-making
group. Contoh: kelompok peneliti, pansus.
Group Developments
• Memahami komunikasi kelompok
berdasarkan perkembangan kelompok itu
sendiri.
• Tahap perkembangan kelompok;
 Menurut Ruben & Stewart (1998):
1.Tahap Orientasi
2.Tahap konflik
3.Tahap kemunculan kembali
4.Tahap penguatan
Tahap perkembangan kelompok (Moss
& Tubbs, 2000)
• Tahap 1: Pembentukan; “Apakah saya cocok di
kelompok ini?”, “Apakah saya ingin bergabung atau
keluar dari kelompok ini?”. Komunikasi dilakukan dengan
hati-hati, ditandai oleh bahasa bermakna ganda.
• Tahap 2: Keributan; merupakan respon normal dan
respon yang diharapkan dari tahap pembentukan.
Pernyataan menjadi langsung, tunggal, dan jelas.
• Tahap 3: Penormalan; munculnya keseimbangan
komunikasi dan akomodasi kepentingan. Komunikasi
terjalin dengan hadirnya kesadaran konformitas.
• Tahap 4: Pelaksanaan: periode persetujuan bersama
dan produktivitas maksimum. Semangat kelompok
tinggi, komunikasi terjalin lebih santai
Relationship Within Group
• Potential relationship (PR) yaitu potensi
hubungan komunikasi yang terjadi di antara
anggota kelompok.
• Actual relationship (AR) yaitu hubungan yang
telah terjadi di antara anggota kelompok.
• William M. Kephart. A Quantitative Analysis of
Intragroup Relationships. The American Journal
of Sociology, Vol. 55, No. 6 (May, 1950), pp.
544-549
• Rumus PR Kephart:
Contoh PR:
• Diketahui satu kelompok terdiri dari 4
anggota, hitunglah potential
relationshipnya?
• Diketahui: N = 4
• Ditanya: PR?
• Rumus:
• PR = ((81 – 32) + 1)/2
• PR = 25
Kelompok termediasi
 Teknologi memungkinkan jaring komunikasi dilakukan
dengan perantara (mediated).
 Teknologi seperti Groupware dan VoIP memungkinkan
pertemuan kelompok tidak dibatasi oleh jarak dan
waktu.
 Keuntungan dari penggunaan teknologi ini adalah
efisiensi dalam segi biaya dan efektif dalam
menejemen waktu.
 Kekurangan dari penggunaan teknologi adalah
butuhnya penyesuaian untuk mempelajari teknologi
tersebut. Selain itu, kurangnya non verbal dan
perasaan kehadiran (presence) membuat kurangnya
ikatan yang lahir diantara anggota kelompok.
Konflik dalam kelompok
• Smith dan Berg (1987, dalam Moss & Tubbs, 2000: 98)
mendefinisikan konflik kelompok sebagai “pertentangan
kekuatan-kekuatan yang berlawanan, yang meliputi
gagasan, sumber daya kepentingan, harapan, atau
motivasi.”
• Konflik tidak selamanya membawa dampak negatif,
sebaliknya kelompok tanpa konflik adalah kelompok
yang tidak akan pernah berkembang.
• Konflik tidak identik dengan masalah (problems).
• Berdasarkan dimensinya, konflik dalam kelompok
dibedakan berdasarka: ketegasan (assertiveness) dan
kerjasama (cooperativeness)
Tingkatan konflik (Phillips, 1988 dalam Moss
& Tubbs, 2000: 100)
 Tingkat 1: Perbedaan. Tujuan para pihak adalah
menyelesaikan konflik.
 Tingkat 2: Perselisihan. Tujuan berubah menjadi rugi
sesedikit mungkin. Suasana emosional menjadi
kesopanan yang dipaksakan dan ketidaksabaran.
 Tingkat 3: Pernyataan. Tujuan untuk kesepahaman
berubah menjadi tujuan akan kemenangan.
 Tingkat 4: Pertarungan terbatas. Mulai ingin
mengurangi kekuatan lawan. Mulai munculnya sekutu
politis.
 Tingkat 5: Perang sebenarnya. Tujuannya adalah
melenyapkan pihak lain dengan resiko apapun.
Model penanganan konflik
(managemen)
•
Ruble, T.L. & Thomas, K.W. (1976). Support for a two-dimensional model of conflict
behavior. Organizational Behavior and Human Performance, 16, 143-155.
1. Competitive: high in assertiveness, low in cooperativeness.
Competitive people want to win the conflict.
2. Accommodative: low in assertiveness and high in
cooperativeness. These group members are easy going and
willing to follow the group.
3. Avoiding: low in assertiveness, low in cooperativeness.
Avoiding people are detached and indifferent to conflict.
4. Collaborative: high assertiveness, high in cooperativeness.
These group members are active and productive problem
solvers.
5. Compromising: moderate in assertiveness, moderate in
cooperativeness. Compromisers are willing to "give and take"
to resolve conflict.
Managemen konflik di tingkat
individu
 Bedakan antara penentang pribadi dan penentang
gagasan.
 Gagasan setiap orang cenderung mendorong
munculnya gagasan orang lain. Gagasan tersebut
disempurnakan melalui kondisi oposisi gagasan.
 Oposisi gagasan merupakan persyaratan dasar
untuk pemecahan masalah.
 Kadang-kadang kita menjadi defensif dan
menganggap penentang gagasan, yang dapat
membantu dan membangun, sebagai penentang
pribadi, yang dapat merusakkan kelompok
maupun kita secara pribadi.
Perilaku efektif untuk
menyelesaikan konflik
• Kita harus mencoba untuk sepakat dalam
mendefinisikan masalah yang dihadapi. Jangan debat
kusir!
• Kita harus menelusuri wilayah kesepakatan yang
mungkin untuk disepakati bersama.
• Kita dapat menentukan perubahan spesifik yang harus
dilakukan setiap pihak untuk menyelesaikan masalah
dengan memuaskan.
• Kita tidak boleh menyerang pribadi, tetapi harus tetap
mengarahkan konflik langsung pada masalahnya.
Sistem Komunikasi Kelompok
 Paradigma sistem pada komunikasi kelompok
 A System is a set of things that relate to one
another and form a whole. (Littlejohn, 1996)
 Sistem komunikasi kelompok adalah segala
sesuatu yang berhubungan dengan terjadinya
proses komunikasi kelompok sebagai suatu
kesatuan.
 Diskusikan pada kelompok anda, waktu 15 menit!
Menurut anda, kelompok apa sajakah yang ada di
sekeliling anda? Apakah ada kesamaan antara
kelompok anda dengan kelompok anggota
kelompok yang lain?
Klasifikasi Kelompok (sosiopsikologis)
• Kelompok primer dan kelompok sekunder.
• Kelompok primer adalah kelompok inti dari hubungan
sosial yang kita jalankan sehari-hari.
• Interaksi tatap muka dan tingkat kedekatan (intim) yang
tinggi pada kelompok primer sehingga umumnya
keanggotaan kelompok ini bersifat unik dan tidak dapat
dipindahkan.
• Kelompok sekunder adalah kebalikan dari kelompok
primer. Hubungan kita dengannya tidak akrab, tidak
personal, dan tidak menyentuh hati kita.
Perbedaan antara kel. primer dan kel.
sekunder
1. Kualitas komunikasi pada kelompok primer bersifat
dalam dan meluas. Sedangkan pada kelompok
sekunder, komunikasi yang terjalin bersifat dangkal
dan terbatas.
2. Komunikasi pada kel. Primer bersifat personal.
Komunikasi yang terjalin lebih karena what I am dan
bukan who I am. Hal yang sebaliknya pada kel.
Sekunder.
3. Pada kel. Primer, komunikasi lebih menekankan
aspek hubungan daripada aspek isi.
4. Pada kel. Primer komunikasi bersifat ekspresif dan
informal, sedangkan pada kel. Sekunder bersifat
instrumental dan formal.
Ingroup-Outgroup.
 Ingroup adalah kelompok-kita. Sedangkan Outgroup
adalah kelompok-mereka.
 Ingroup dapat berupa kelompok primer maupun
sekunder. Contoh: keluarga adalah ingroup kita yang
primer dan fakultas dimana kita belajar adalah ingroup
kita yang sekunder.
 Perasaan ingroup kita ungkapkan dengan kesetiaan,
solidaritas, kesenangan, dan kerja sama.
 Untuk membedakan ingroup dan outgroup, kita
membuat batasan-batasan (boundaries) seperti: letak
geografis, suku bangsa, ideologi, profesi, atau
kekerabatan. Dapatkah anda sebutkan contohcontohnya?
Rujukan-keanggotaan.
 Kelompok rujukan (reference group) adalah kelompok
yang digunakan sebagai alat ukur (standar) untuk
menilai diri sendiri atau untuk membentuk sikap.
 Jika kita menggunakan kel. itu sebagai teladan
bagaimana seharusnya bersikap, maka kel. itu menjadi
kel. rujukan positif (positive reference group). Jika kita
menggunakannya sebagai teladan bagaimana
seharusnya kita tidak bersikap, kel. itu menjadi kel.
rujukan negatif (negative reference group).
 Kelompok yang terikat dengan kita secara nominal
adalah kelompok keanggotaan kita, sedangkan yang
memberikan kepada kita identifikasi psikologis adalah
kelompok rujukan.
Fungsi-fungsi kelompok rujukan
• Fungsi komparatif; Kita menggunakan kel. tsb untuk
mengukur dan menilai keadaan dan status kita.
• Fungsi normatif; Kel. tsb memberikan kita tuntunan
bagaimana harus berperilaku dan bertindak dengan
menyadari akan norma-norma yang ada serta
menunjukkan kepada kita apa yang kita harus capai.
• Fungsi perspektif; Kel. tsb memperkaya pandangan kita,
bahkan sebagai petunjuk pertama kita, dalam melihat
diri, sekeliling, dan dunia.
Cara menggunakan kel. rujukan dalam
persuasi
 Jika kita sudah mengetahui kel. rujukan khalayak kita,
hubungakanlah pesan kita dengan kel. rujukan itu dan
fokuskanlah perhatian mereka kepadanya.
 Setiap kel. rujukan mempunyai nilai yang bermacam-macam.
Karena itu dalam merancang pesannya, komunikator harus
memperhitungkan relevansi dan nilai kel. rujukan yang lebih
tepat bagi kel. tertentu.
 Gunakan standar perilaku yang ada sebagai media pesan.
 Suasana fisik komunikasi menentukan kel. rujukan mana yang
pantas didahulukan atau digunakan.
 Kadang-kadang kelompok rujukan yang positif dapat dikutip
langsung dalam pesan, untuk mendorong respon positif dari
khalayak.
Deskriptif-preskriptif.
 John F. Cragan & David W. Wright (1980, dalam
Rakhmat, 2001: 147) membagi kelompok
berdasarkan proses pembentukannya.
 Kelompok yang terbentuk, terlihat dari tujuannya,
secara alamiah disebut sebagai kel. Deskriptif.
Contohnya adalah kel. tugas (panitia kampanye),
kel. pertemuan (kel. terapi).
 Kelompok yang harus menempuh langkah-langkah
rasional untuk mencapai tujuannnya (ilmiah)
disebut sebagai kel. Preskriptif. Contoh:
simposium, diskusi panel, atau kolokium.
Pengaruh kelompok pada perilaku
komunikasi
 Konformitas (conformity); adalah perubahan
perilaku atau kepercayaan menuju norma
kelompok sebagai akibat tekanan kelompok—
yang real atau yang dibayangkan.
 Pengaruh sosial normatif; kita sepakat
karena kita merasa tidak enak dengan
‘mereka’. Kita tidak ingin melanggar
ekspektasi mereka.
 Pengaruh sosial informasional; kita
mengikuti kelompok karena menganggap
kelompok sebagai petunjuk untuk memilih
alternatif yang tidak jelas.
Faktor-faktor yang mempengaruhi
konformitas
 Faktor situasional; kejelasan situasi, konteks situasi,
cara penyampaian penilaian, karakteristik sumber
pengaruh, ukuran kelompok, dan tingkat kesepakatan
kelompok.
 Faktor personal; usia, jenis kelamin, stabilitas
emosional, otoritarianisme, kecerdasan, motivasi
(affiliation, achievement, power), dan harga diri.
 Kedua faktor tersebut berpengaruh dalam menentukan
konformitas dan tidak bisa dinilai dari satu sisi saja.
 Konformitas tidak selamanya baik. Dalam bidang
penelitian, konformitas tidak diharapkan. Sebaliknya,
kemandirian (independence)-lah yang harus
dimajukan.
Fasilitasi Sosial
• Faktor fasilitas sosial merujuk pada
kelancaran atau peningkatan kualitas kerja
karena ditonton kelompok. Kelompok
mempengaruhi pekerjaan sehingga terasa
menjadi lebih “mudah”.
• Kehadiran ‘orang lain’ dianggap
menimbulkan efek pembangkit energi
(energizing effect) pada perilaku individu.
• Munculnya respon yang dominan, yaitu
perilaku yang kita kuasai. Jika respon
dominan tersebut adalah respon yang tepat
maka akan terjadi peningkatan prestasi, dan
sebaliknya.
Polarisasi
 Geseran resiko (risky shift); orang cenderung
membuat keputusan yang lebih berani ketika
mereka berada dalam kelompok daripada ketika
mereka sendiri.
 Geseran resiko menimbulkan
polarisasi/keberagaman yang sirkulasinya
mengikuti cybernetic.
 Beberapa implikasi negatif polarisasi:
 Kecenderungan ke arah ekstremisme
menyebabkan peserta komunikasi menjadi lebih
jauh dari dunia nyata.
Polarisasi akan mendorong ekstrimisme dalam
kelompok gerakan sosial atau politik.
Faktor-faktor yang mempengaruhi
keefektifan kelompok
 Keefektifan kelompok adalah pencapaian tujuan yang
dikehendaki melalui tindakan-tindakan kooperatif oleh
kelompok.
 Kerjasama dalam kelompok ditujukan pada dua hal:
 Melaksanakan tugas kelompok. Diukur dari hasil
kerja kelompok—disebut prestasi (perfomance).
 Memelihara moril anggota-anggotanya. Diketahui
dari tingkat kepuasan (satisfaction).
• Berdasarkan tujuan tersebut maka faktor-faktor yang
mempengaruhi keefektifan kelompok dapat dilacak
pada karakteristik kelompok (faktor situasional) dan
karakteristik anggotanya (faktor personal).
Faktor situasional
 Ukuran kelompok; “two heads more than one”, “too
many cooks spoil the broth”. Hubungan prestasi
dan ukuran kelompok yaitu:
 Tugas koaktif-interaktif
 Tujuan kelompok yang konvergen-divergen
 Distribusi partisipasi anggota kelompok
 Semua hubungan tersebut bersifat kurvilinear.
 Rumus alur transaksional: N/2 (N-1)
 Kohesi kelompok (group cohesiveness).
 Kepemimpinan (leadership).
Jaring komunikasi pada
kelompok
Model Rantai
Model Roda
Model Y
Model Lingkaran
All channels (comcon)
Faktor Personal
• Kebutuhan interpersonal; meliputi keterbukaan
(disclosure), percaya (trust), dan empati. Kebutuhan
interpersonal terkait erat dengan teori FIRO
(Fundamental Interpersonal Relations Orientation) oleh
William C. Schultz.
• Proses interpersonal; lebih mengarah pada faktor
psikologis interpersonal seseorang.
• Tindak komunikasi, disebut pula Interaction Process
Analysis (IPA). Tindakan dibagi dua yaitu; hubungan
tugas dan hubungan sosial-ekonomi.
Budaya kelompok
 Raymond Williams dalam In Long Revolution
(2001) mengatakan budaya, dalam pengertian
sosialnya, is a description of a particular way of
life, which expresses certain meanings and
values and not only in art and learning but also in
institutions and ordinary behavior.
 Budaya terlihat dari ekspresi, sebagaimana
eksistensi mendahului esensi sejarah.
 Dalam kelompok manusia, budaya terlihat dari
ekspresi sistematik simbol-simbol, aturan-aturan,
dan kode-kode.
Budaya kelompok
• Budaya memfasilitasi anggota kelompok untuk
menyadari identitas diri dan kelompoknya dan pada saat
yang bersamaan berkontribusi terhadap sistem.
• Simbol dan aturan diciptakan oleh kelompok untuk
memberikan kelompok itu sendiri identitas,
membedakannya dari kelompok yang lain, atau untuk
membedakan bagian tertentu dari keseluruhan.
• Aspek-aspek dari budaya pada kelompok antara lain:
nilai-nilai, kepahlawanan (heroes),upacara (rites) dan
ritual-ritual.
Nilai-nilai kelompok (group
values)
 Nilai kelompok adalah konsep dasar dan sesuatu
yang harus dipercayai oleh anggota kelompok.
 Nilai kelompok membentuk inti dari budaya
kelompok dan menyediakan standar yang harus
dicapai oleh kelompok (standards of achievement).
 Anggota kelompok yang mendukung nilai
kelompok akan lebih berhasil dibandingkan
anggota kelompok yang justru bertindak
sebaliknya.
 Contoh nilai tersebut seperti: ramah kepada klien
atau pelanggan, berpikir optimis, atau “first come
first serve”.
Heroes, Rites & Rituals
• Setiap kelompok butuh pahlawan (fiksi atau nyata).
• Pahlawan menyediakan keteladanan yang bisa diikuti
semua anggota kelompok.
• Pahlawan bisa seseorang yang telah sukses atau
berhasil melewati masa-masa sulit.
• Yang dimaksud sebagai upacara dan ritual dalam
kelompok adalah tradisi keseharian yang dilakukan di
antara anggota-anggota di dalam kelompok.
• Tradisi tersebut bisa berupa cara berjabat tangan atau
cara memperkenalkan diri.
Pengambilan keputusan
• Proses pengambilan keputusan memegang peranan
yang penting dalam perjalanan perkembangan
kelompok.
• Pengambilan keputusan (decision making) terkait pula
dengan aturan-aturan dalam berinteraksi di kelompok.
• Beberapa metode yang dapat digunakan sebagai
panduan untuk memperlancar proses pengambilan
keputusan yaitu: konsensus, kompromi, majority vote,
keputusan ketua, dan arbitrasi.
Konsensus
• Konsensus adalah sebuah proses dimana kelompok tiba
pada keputusan bersama yang disetujui semua anggota
kelompok.
• “Aturan-aturan” dalam konsensus:
 Setiap anggota kelompok jangan hanya
mempertahankan “proposal”-nya sendiri.
 Kelompok harus menghindari pernyataan “kita lawan
mereka”, sehingga tidak hanya soal menang atau kalah
 Anggota kelompok jangan hanya mengikuti suara
terbanyak, hanya karena tidak ingin ada konflik.
 Di tingkat kelompok, menghindari konflik juga
seharusnya tidak dilakukan untuk pembenaran.
 Setiap perbedaan pendapat harus dilihat sebagai hal
yang wajar dan membantu.
 Jangan hanya puas pada kesepakatan awal.
Beberapa metode konsensus
lainnya…
 Kompromi; adalah sebuah proses negosiasi, ‘give and
take’, sehingga kelompok tiba pada posisi yang
memperhitungkan keinginan semua anggotanya.
 Voting mayoritas; adalah sebuah metode untuk
mencapai keputusan kelompok secara matematis.
 Keputusan ketua (decision by leader); pada prinsipnya
proses pengambilan keputusan kelompok didasarkan
pada pernyataan ketua kelompok sepihak.
 Arbitrasi; adalah proses kesepakatan melalui negosiasi
formal diantara pihak-pihak yang tidak dapat mencapai
kata sepakat, biasanya melibatkan pihak ketiga.
Beberapa metode konsensus
lainnya...
• Jabat tangan (handsclasping) atau memasangkan
(pairing); Metode ini diterapkan bila berbagai anggota
minoritas dalam kelompok membentuk koalisi untuk
saling bantu mencapai tujuan bersama yang
menguntungkan.
• Railroading; terjadi bila seorang atau beberapa anggota
kelompok memaksakan kehendak mereka kepada
kelompok. Teknik ini paling sering digunakan oleh
seorang pemimpin atau anggota kelompok yang
berpengaruh, dan ini paling sering menghasilkan
kegelisahan dan pertentangan di dalam kelompok.
Peran dan tanggung jawab
 Dalam suatu kelompok terdapat tiga peran
dan tanggung jawab yang membentuk pola
hubungan anggota-kelompok, yaitu:
1. Peran yang berhubungan dengan kinerja
penyelesaian tugas kelompok
2. Peran yang berkaitan dengan hal-hal
yang mendukung dan membangun
kelompok
3. Peran-peran individu dalam kelompok
Peranan tugas kelompok
 Mengawali-berkontribusi
 Mencari informasi
 Mencari pendapat
 Memberi informasi
 Memberi pendapat
 Menguraikan
 Mengkoordinasikan
 Mengarahkan
 Mengevaluasi
 Memberdayakan
 Membantu prosedur
 Mencatat
Pembentukan-kelompok dan peranan
pemeliharaan
•
•
•
•
•
•
•
Mendorong (encourager)
Menyelaraskan (harmonizer)
Berkompromi (compromiser)
Gatekeeper/expediter
Standard setter
Group observer
Follower
Peranan individual dalam
kelompok
•
•
•
•
•
•
•
Menyerang (aggressor)
Menutup (blocker)
Mencari pengakuan (recognition seeker)
Pengakuan-diri (self-confessor)
Dominator
Mencari bantuan (help seeker)
Membela kepentingan khusus (special
interest pleader).
Kepemimpinan
• Merupakan aspek terpenting dalam keberadaan
kelompok dan komunikasi kelompok.
• Pemimpin dan kepemimpinan harus dilihat sebagai
serangkaian fungsi yang harus dilaksanakan kelompok
tidak sebagai suatu kualitas. Kelompok dengan
kepemimpinan yang baik adalah kelompok yang berhasil
melaksanakan fungsi-fungsinya, bukan karena
pemimpinnya.
• Dua fungsi utama kepemimpinan dalam kelompok, yaitu
fungsi tugas dan fungsi pertimbangan.
Fungsi tugas
(Group achievement functions)
• Berkaitan dengan kegiatan-kegiatan yang
membantu kelompok mencapai tujuannya, yaitu;
 Informing
 Planning
 Orienting
 Integrating
 Representing
 Coordinating
 Clarifying
 Evaluating
 Stimulating
Fungsi pertimbangan
(Group maintenance functions)
 Fungsi yang menjaga iklim emosional dan
kepuasan perseorangan para anggota kelompok.
 Promoting participation
 Regulating interaction
 Promoting need satisfaction
 Promoting cooperation
 Arbitrating conflict
 Protecting individual rights
 Providing exemplary behavior
 Assuming responsibility for group failure
 Promoting group development
Beberapa pendekatan
kepemimpinan
• Good-leaders-are-born
Pendekatan tradisional ini mengasumsikan pemimpin itu
dilahirkan dan merupakan keturunan.
• One-best-style
Pendekatan ini disesuaikan dengan budaya dari
kelompok sendiri. Model kepemimpinannya antara lain:
otokrasi, demokrasi/partisipatoris, dan bebas (laissezfaire).
• Contextual
Pendekatan ini mendasarkan pola kepemimpinan
berdasarkan konteks dimana kelompok tersebut berada.
Pemimpin adalah gabungan dari kemampuan pribadi
dan hasil belajar seseorang.
Kohesifitas (Cohesiveness)
• Kohesifitas atau kepaduan di definisikan sebagai
wilayah total kekuatan yang mempengaruhi para
anggota untuk tetap dalam kelompok. Secara singkat
dapat diartikan sebagai loyalitas kelompok.
• All for one and one for all atau esprit de corps.
• Kohesifitas kelompok mempengaruhi kualitas
komunikasi dan konformitas dalam kelompok.
• Faktor yang mempengaruhi kohesifitas kelompok antara
lain: penyingkapan-diri, feedback, latihan pra-kelompok,
dan kecocokan kepribadian anggota.
Kohesifitas rendah-tinggi
 Kohesiftas kelompok rendah; Simptomnya antara
lain kurang keterlibatan anggota terhadap kegiatan
kelompok, tidak entusiasme, pertanyaan minim.
Rapat kelompok “sunyi”, membosankan, ingin
selesai secepatnya.
 Kohesifitas kelompok tinggi; kohesiftas yang terlalu
tinggi juga tidak baik, karena akan melahirkan
pemikiran-kelompok (groupthink). Pemikiran
kelompok ditandai oleh:
Overestimation of the group’s power and morality.
Close-mindedness.
Pressures toward conformity.
Tugas Kelompok!
• Tugas dikerjakan berdasarkan susunan
anggota kelompok yang sudah terbentuk
sebelumnya.
• Tugasnya adalah mengerjakan resume
dan presentasi resume dari artikel jurnal
yang dapat diunduh di:
• http://ahmadriza.wordpress.com/
• Tugas dikumpulkan 2 minggu dari tanggal
pemberian tugas.
• Tugas diketik rapih.
Teknologi untuk komunikasi
kelompok
• Komunikasi kelompok terdistribusi dan
tatap muka.
• Kendala ruang-waktu dalam komunikasi
kelompok terdistribusi diatasi dengan
hadirnya teknologi yang memediasi.
• Karena melibatkan teknologi, maka
komunikasi kelompok tidak lagi
sesederhana perpanjangan dari
kemampuan interpersonal.
• Penelitian maupun pengembangan
CMC dan komunikasi kelompok
 Computer-mediated communication atau CMC
pada prinsipnya adalah segala komunikasi yang
dilakukan dengan perantara komputer. Contohnya
mulai percakapan dengan handphone hingga
teleconference via VoIP.
 Teknologi komunikasi memungkinkan kelompok
melakukan pertemuan dengan perantara software.
 Hubungan CMC dan komunikasi kelompok
didasarkan pada pengembangan software yang
dapat mempermudah komunikasi kelompok.
 Beberapa isu terkini berkaitan dengan CMC dan
komunikasi kelompok, yaitu:
Groupware
• Groupware can be summarized as software
that makes the process of people working
together more effective.
• Tantangan pengembangannya antara lain
pada aspek kolaborasi, distribusi informasi,
dan skalabilitas sistem.
• Lebih dari sekedar menyediakan fungsi
komunikasi dan kolaborasi, groupware juga
membantu klien pada Electronic-Document
Management dan Knowledge Basing.
Contoh: Lotus Note, Microsofot Sharepoint.
• Tantangan penelitian di bidang sosial antara
lain, kemudahan menggunakan groupware
peningkatan fasilitas interaksi.
Computer-supported cooperative work
(CSCW)
 A workshop by Irene Greif (MIT) & Paul Cashman
(DEC) in 1984.
 CSCW adalah bidang kajian yang secara khusus
mempelajari penerapan teknologi yang mendukung
kerja kelompok terutama tentang aspek koordinasi dan
kolaborasi. Pengembangannya meliputi jaringan,
software, hardware, services, dan teknis.
 Sinonim dengan groupware, CSCW lebih menekankan
pada fungsi manusia pengguna aplikasinya. Contoh:
SkyRoom, Skype teleconference.
 CSCW will only work if they reflect and augment the
way people actually talk, work, and live together.
(Wilson, 1991)
BAGIAN II.
KOMUNIKASI ORGANISASI
Komunikasi Organisasi; Pengantar
Model Proses Komunikasi
Prentice Hall Inc,2003
Inside Communication
Posisi
Yang terjadi dlm
Komunikasi
• Penciptaan pesan
• Penafsiran pesan
Pace & Paules,2005
Orang
Menciptakan
pertunjukan
pesan
Menafsirkan
pertunjukan
pesan
Komunikasi
Seperangkat perilaku pesan
Suatu Unit Komunikasi
(Pace&Paules,2005)
Definisi Organisasi
Pandangan Objektif
Pandangan Subjektif
Sebuah wadah yg
menampung orang –orang &
objek-objek;orang dlm
organisasi yg berusaha
mencapai tujuan bersama.
Mendefinisikan organisasi
sebagai perilaku
pengorganisasian, tindakan
yg dilakukan orang-orang
-sesuatu yg nyata
merangkum orang -orang
hubungan2 dan
tujuan2.Dipandang sebagai
suatu struktur
- tindakan-tindakan,interaksi
& transaksi yg melibatkan
orang- orang. Dipandang
sebagai suatu proses
Persepsi Komunikasi Organisasi
 Redding & Sanborn
- Pengiriman & penerimaan informasi dlm
organisasi yg kompleks
 Pace & Faules
Definisi fungsional : sebagai pertunjukan &
penafsiran pesan diantara unit-unit komunikasi
yang merupakan bagian dari suatu organisasi
tertentu
Definisi interpretatif : proses penciptaan
makna atas interaksi yg menciptakan,memelihara
& mengubah organisasi
Situasi & Kondisi Nyata,,
 Pekerjaan semakin kompleks ---- koordinasi dan
interaksi yang lebih baik
 Dinamika pekerjaan semakin cepat
 Karyawan semakin banyak (perbedaan latar
belakang, posisi, motivasi dsb)
 Sinkronisasi, distribusi pekerjaan menjadi semakin
umum
 Pengetahuan & inovasi---competitive advantage
 Teknologi informasi semakin berkembang
Komunikasi Organisasi : Penting??
Karena :
 Komunikasi mampu membangun iklim & budaya
organisasi
 Komunikasi mengurangi kesalahpahaman &
menciptakan suatu pengertian
Komunikasi yang efektif akan menjamin
tercapainya tujuan organisasi
Individu & Organisasi
4 lapisan dr keragaman
Kreitner & Kinicki
Personality
Functional Level/
Classification
Division/Dept
Internal Dimension
Eksternal Dimension
Management Sta Geographic Location
Parental Sta
Union Affiliation
Age Physical Ablitity
Income
Etnic
Work exp
Race
Work Content/field
Personal habit
Sexual Orientation
Marital Sta
Work Location
Organizational Dimension
Edu Back
Seniority
Studi Kom Or & Dunia Kerja
• mempelajari komunikasi organisasi berarti
mempelajari bagaimana cara beradaptasi dengan
lingkungan dimana dia berada
• memberikan pengetahuan mengenai bagaimana
menjadi seorang pembicara yang efektif serta
mempunyai kemampuan komunikasi interpersonal
yang baik
• mendukung kemampuan mahasiswa dalam bersikap
dan membuat keputusan yang akan memberikan
kontribusi positif bagi organisasinya dan tanpa
mengabaikan berbagai aspek penting lain seperti
etika, keadilan dan lainnya
BAGIAN III
KOMUNIKASI MASSA
Pengertian
• Breitner :
Pesan yang dikomunikasikan lewat media
massa
• Jalaludin Rahmat
Jenis komunikasi yang ditujukan kepada
sejumlah khalayak
• Pool
Komunikasi yang berlangsung interposed
ketika sumber dan penerima tidak terjadi
kontak secara langsung, pesan komunikasi
melalui media massa
Unsur komunikasi massa
• Who
Komunikator : Lembaga, organisasi, instituzionalized
person
• Says what
Publicy, rapid, transient
• Which channel
media
• To whom
Komunikan : intended audience, un intended
audience
Karakter : large, heterogen, anonim
• With what effect
Respon audience, delayed
Fungsi komunikasi massa
Wilbur Shramm
.
• - Decoder komunikasi massa mengawasi kemungkinan timbulnya
bahaya, mengawasi terjadinya persetujuan dan juga efek dari
hiburan.
• Komunikasi massa menginterpretasikan hal-hal yang didecode
sehingga dapat mengambil kebijakan thd efek, menjaga
berlangsungnya interaksi serta membantu anggota masyarakat
menikmati kehidupan.
• -Komunikasi masasa juga mengencode pesan yang memelihara
hubungan antara komunikator dengan audience.
Harold D. Lasswell
• a.
Survillance of the environtment
• Fungsinya sebagai pengamat lingkungan yang dapat disebut sebgai
fungsi watcher
• b.
Correlation of the parts of society in
responding to environtment.
• Fungsinya menghubungkan bagian – bagian masyarakat agar sesuai
dengan lingkungannya yang oleh Schramm disebut berfungsi
interpreter (the forum).
• c.
Transmission of the social heritage from
one generation to the next
• Fungsinya meneruskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya
yang oleh Scramm disebut sebagai fungsi encoder yang
menjalankan fungsi the teacher.
Charles Wright
• a.
Surveillance
• Menunjukkan pada fungsi pengumpulan dan penyebaran
informasi mengenai kejadian-kejadian dalam lingkungan, baik di
luar.
• b.
Correlation
• Meliputi fungsi interpretasi pesan yang berkaitan dengan
lingkunagnnya
• c.
Transmission
• Menunjuk pada fungsi mengkomunikasikan informasi nilai dan
norma sosial dari satu generasi ke generasi lain atau dari
anggota masyarakat kepada pendatang baru. Fungsi ini
diidentifikasikan sebagai fungsi pendidikan.
• d.
Entertaintment
• Menunjuk pada kegiatan komunikatif yang dimaksudkan untuk
memberikan hiburan tanpa mengharap efek tertentu.
Perbandingan saluran komunikasi
interpersonal dan komunikasi massa
Karakteristik
Media massa
Interpersonal
Arus pesan
one way
interactive
Konteks komunikasi
interposed
Face to face
Jumlah feedback
rendah
tinggi
Kemampuan
mengatasi
seleksi
Rendah
tinggi
Kecepatan
mencapai
yang luas
proses
dalam tinggi
audience
Efek (possible effect)
Perubahan
pengetahuan
rendah
Perubahan sikap dan
perilaku
Proses Komunikasi Massa
• Lasswell menggambarkan komunikasi
massa dengan unsur-unsur :
- who says
- what in
- which channel
- to whom and
- what effect.
Model-model proses komunikasi massa
• 1.
• 2.
• 3.
• 4.
Hypodermic Needle Model
Two step flow model
One Step flow models
Multi step flow model
Hypodermic needle model
• dari media massa langsung kepada mass
audience.
• Media massa diibaratkan sebagai sebuah jarum
suntik besar yang memilki kapasitas sebagai
Stimulus yang amat kuat dan menghasilkan
response yang kuat, spontan, otomatis serta
reflektif
• Model ini disebut juga sebagai bullet theory
yang tidak melihat adanya intervening variable
 Media massa memiliki kekuatan yang laur
biasa dapat mempengaruhi ide ke dalam ornag
yang tidak berdaya.
• Mass audience dianggap sebagai atom yang
satu sama lain tidak saling berhubungan dan
hanya berhubungan dnegan media massa
• Model ini timbul pada tahun 1930 an dan
puncaknya menjelang PD II yang mana
kehadiran media cetak
Two step flow model
• Model ini menyatakan bahwa pesan media massa
tidak seluruhnya mencapai mass audience secara
langsung tetapi sebagian besar secara bertahap.
• Tahap pertama dari media massa kepada orang-oang
tertentu diantara mass audience (opinion leaders)
yang bertindak selaku gate keepers.
• Kemudian ia akan menyampaikan pesan kepada
anggota mass audience yang lain.
• Opinion leaders dan follower secara keseluruhan
adalah mass audience
• Model ini terutama dikembangkan sebagai studi
klasik tentang perilaku memilih dalam kasus
pemilihan Presiden AS tahun 1940an.
Kelebihan model
• Model ini banyak membantu
memahami bahwa massa terdiri dari individuindividu yang saling berinteraksi.
• Adanya peranan aktif dari opinion
leader dan cara face-to-face communication
tetap dipandang mempunyai peran yang
penting.
• Dipandang sebagai framework dalam
meneliti gejala komunikasi massa yang
kompleks.
• Model in mendorong model lain tentang alir
komunikasi.
Kekurangan Model Alir Dua
Tahap
• 1. Opinion leader dituntut untuk aktif, tetapi pada
kenyataannya bisa aktif dan bisa pasif.
• 2. Proses komunikasi tidak hanya two steps saja tetapi
dapat multi steps.
• 3. Peranan opinion leader yang terlalu ditekankan, pada
ada saluran-saluran lain seperti initiating force.
• 4. Penelitian difusi dan inovasi menunjukkan bahwa early
adopters dan early knowers ternyata orang yang lebih
banyak memanfaatkan jasa media massa daripada late
knowers dan late adopters., sehingga peran opinion
leaders hanyalah sebagai early knowers atau early
adopters.
Kekurangan Model Alir Dua
Tahap
• 5. Media massa lebih berperan sebagai kreator
pengetahuan, sedangkan saluran antar pribadi berperan
dalam membentuk, mempengaruhi, mengubah sikap dan
perilaku. Troldahl dengan Balance Theory menyatakan
bahwa bila pesan-pesan media massa yang diterima
bertentangan dengan predisposisinya maka ia akan
berkomunkasi secara antar pribadi dengan opinion
leader guna mengurangi keraguan.
• 6.
Dalam kenyataannya untuk meneliti ini perlu
menggunakan leaders-follower sociometric dyads dalam
menganalisa mass audience.
3.
One Step flow models
Model ini merupakan bentuk revisi terhadap two-steps
model dan merupakan hasil pemurnian hypodermic
needle sbb :
a. One step flow models mengakui bahwa media massa
bukanlah all powerfull dan tidak setiap media massa
mempunyai kekuatan yang sama.
b. Aspek
seleksi
penyaringan
dari
audience
mempengaruhi dampak pesan.
c. Ada kemungkinan timbulnya reaksi atau efek yang
berbeda di audience penerima terhadap pesan media
yang sama.
d. Pada model ini diakui adanya heterogenitas mass
audience.
4.
Multi step flow model
• Model merupakan gabungan dari semua model.
• Model ini menyatakan bahwa audience bisa
memperoleh pesan secara langsung dari media
massa ataupun dari sumber yang lain sebagai
tangan kedua, ketiga dst.
• Model ini yang paling sedikit keterbatasannya
bila dibanding model lain.
Efek Komunikasi Massa
• Efek komunikasi massa adalah setiap perubahan yang
terjadi pada komunikan atau penerima pesan akibat
menerima pesan dari suatu sumber.
• Perubahan ini diketahui dari tanggapan-tanggapan yang
diberikan komunikan sebagai umpan balik.
• Dalam komunikasi massa, ketika komunikator tidak
bertatap muka secara langsung dengan komunikannya,
umpan balik menjadi sulit diperoleh langsung, ada
penundaan respon, pengetahuana masscomunicator
terhadap mass audience menjadi kurang.
Berelson menyebutkan beberapa faktor yang
mempengaruhi efek komunikasi massa,yaitu :
Jenis saluran komunikasi yang digunakan
dan isi pesan
Jenis persoalan
Jenis publik
Jenis kondisi
Efek komunikasi dapat dilihat dari
beberapa perspektif
Model-model tentang efek komunikasi
massa
• Werner Severin dan James Tankard Jr
Model teori peluru (bullet theory model)
Model effek terbatas (limited effects model)
Model efek moderat (moderate effects model)
Model efek kuat
1.
Model teori peluru (bullet theory model)
• Teori ini dikenal dengan teori hypodermic
needleatau Stimulus Respons yang
mekanistis, media massa memilki
pengaruh besar atas mass audience.
Model efek terbatas (limited effects model)
• Model ini muncul sekitar tahun 1940 an.
• Menurut model ini komunikasi massa hanya
akan efektif apabila dikombinasikan
penggunaannya dengan komunikasi antar
pribadi antara opinion leader dengan
followernya.
• Komunikasi hanya efektif dalam informasi
pengetahuandan kesadaran dasar, tetapi kurang
efektif untukmengubah opini khusus atau untuk
mengubah sikap dan perilaku.
Model efek moderat (moderate
effects model)
• Model ini hasil riset pada tahun 1960 –
1970 an yang menggunakan pendekatan
pada posisi audiens dan
polakomunkasinya.
Ada beberapa pendekatan
a. The Information-Seeking Paradigm
• Ada kecenderungan audience untuk secara aktif mencari
informasi dan tidak semata-mata pasif menerima informasi dari
opinion leader.
b. The Uses and Gratification Approach
• Komunikasi menawarkan sejumlahpesan yang dapat
dimanfaatkan oleh komunikannya untuk memuaskan
kebutuhannya. Orang yang berbeda dapat menggunakan pesan
media yang sama untuk maksud yang berbeda.
c. The Agenda-Setting Function
• Media memilih materi atau isi pesan bagi komunikannya. Hal ini
menunjukkan peranan dan fungsi media dalam pembentukan
efeksecara berkesinambungan.
d. The Cultural Norms Theory
• Melvin de Fleur menyatakan bahwapenyajian media massa
bertindak secara tidak lengsung ikut membentuk norma atau
Model efek kuat
• Komunikasi dapat mewujudkan powerfull effect
apabila digunakan dalam program-program yang
terencana dengan menggunakan prinsip-prinsip
komunikasi sbb
a. Prinsip mengulang-ulang (redudancy)
b. Memfokuskan pada audience yang ditargetkan,
tujuan komunikasi dirumuskan secara khusus.
Opinion leaders
• Para pemuka masayarakat mempunyaikapasitas
mempengaruhisecara ionformal atas followernya dengan
menerjemahkan pesan-pesan media bagi audoencenya.
• Posisi opinion leaders bisa berfungsi sebagai opinion giving yang
aktif memberikan menerusakan informasi atau bisa pula pasif dicari
oleh pengikutnya (opinion seeking).
• Opinion leaders dibedakan antara lead polymorphic yaitu yang
mempunyai fungsi leader pada beberapa topik atau monomorpic
leader yang hanyauntuk satu topik persoalan. Semakin kompleks
suatu sitem, opinion leaders cenderung monomorphic.
Download

Kuliah6=Komunikasi kel, organisasi dan massa